Mengapa ada nama baptis?

Pertanyaan:

Penulis mungkin bisa membantu saya. 1. Mengapa orang Katolik setelah dibabtis harus mengunakan embel-embel nama babtis yang diabil dari orang-orang suci? Contoh : Nama saya Santoso setelah dibabtis ditambah nama Julius. 2. Sejak kapan pengunaan nama babtis?. 3. Penggunaan nama babtis apakah termasuk tradisi?. 4. Latar belakang pengunaan nama babtis?.
Trima kasih, smg Roh Tuhan berkarya dalam diri kita. – Julius Santoso

Jawaban:

Shalom Santoso,

1. Sebenarnya menurut Hukum Kanonik Gereja 1983 yang berlaku sekarang, orang Katolik tidak diharuskan mempunyai nama baptis yang diambil dari orang kudus.  Kanon #855 berkata:

Hendaknya orangtua, wali baptis dan pastor paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.

Jadi dari pernyataan ini, Hukum Kanonik Gereja tidak mengharuskan nama santo/santa. Yang harus dijaga adalah, jangan sampai dipakai nama yang ‘melawan’ kekristenan, contohnya saja diberi nama ‘Hiltler’ atau ‘Lenin’.

Namun demikian, harus diakui bahwa pemakaian nama orang kudus sebagai nama baptis sangatlah bermakna dalam, dan karenanya sangat baik, untuk beberapa alasan:

  • Pemberian nama baru pada saat pembaptisan sesuai dengan maksud dari Pembaptisan itu sendiri, yaitu ‘lahir’ sebagai manusia baru.
  • Pemberian nama santo/ santa mengingatkan kita akan adanya persekutuan orang kudus sehingga harta rohani mereka dapat mereka bagikan kepada kita. Lihat KGK 947 dan 952.
  • Para orang kudus di surga tidak berpangku tangan saja, melainkan tak henti-hentinya berdoa bagi kita di hadapan Yesus, sehingga kelemahan kita dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara. (Lumen Gentium 49, KGK 956)
  • Santo/ santa pelindung kita yang kita ambil namanya, dapat menjadi teladan bagi kita, sehingga kita dapat meniru contoh kehidupannya dan mereka membantu kita mengamalkan cinta kasih agar kita semakin mendekati Kristus (lihat KGK 957).

2. Sejarah penggunaan nama baptis sesungguhnya telah berlangsung sejak zaman abad pertama. Beberapa contoh yang dapat saya kutip misalnya:

  • Menurut tradisi Gereja awal, Raja Fulvian yang membunuh Rasul Matius, akhirnya menjadi Kristen. Sesaat sebelum dibaptis, konon terdengarlah suara dari langit yang dinyatakan kepada Uskup yang akan membaptisnya, “Jangan memanggil dia Fulvian, tetapi Matius.” Kemudian Raja itu diberi nama baptis, “Matius” yang diambil dari nama Rasul Matius. (Cerita ini dimasukkan olah St. Dmitri Rostov di dalam bukunya, “Collection of the Lives of the Saints, diterbitkan di Moskow 1914).
  • St. Ev(u)stathios, yang sebelumnya bernama Placidas, diberi nama “Evstathios” pada Pembaptisannya pada tahun 80 AD. Ia dibunuh sebagai martir pada tahun 100 AD. Istrinya, Theopiste, juga diberi nama baptis, demikian juga kedua anaknya Agapios dan Theopistos. Cerita ini dikompilasi pada abad ke 11 oleh St. Symeon Metaphrastes.
  • Di buku Ekklesiastike Historia, karangan Eusebius, abad ke 4, kita menemukan sejarah pemberian nama-nama Rasul kepada anak-anak yang dibaptis (Buku ke VII, bab 25).
  • Dalam “Homilia enkomiastike eis ton en Hagiois Patera hemon Meletion…,” St. Yohanes Krisostomus (abad ke 4) mengajarkan agar umat Kristen menamai anak-anak mereka dengan nama para orang kudus (Santo/ Santa).

3. Penggunaan nama baptis bukan merupakan Tradisi (dengan huruf besar) yang setara dengan Kitab suci, melainkan hanya tradisi(dengan huruf kecil)kebiasaan Gereja. Tradisi/ Sacred Tradition (dengan huruf besar) yang dimaksud di sini adalah yang berhubungan dengan pengajaran lisan dari Kristus dan Para Rasul-Nya, yang kemudian diturunkan oleh para penerus Para Rasul tersebut oleh tugas wewenang mengajar (Sacred Magisterium). Lebih lanjut tentang Tradisi dan Magisterium silakan baca Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan bagian ke -3.

4. Latar belakang pemberian nama baptis: saya rasa sudah terjawab dari point 1-2.

5. Sebagai tambahan, jika St. Julius yang menjadi nama baptis Santoso diambil dari Paus Julius I, berikut ini riwayat singkat hidupnya:

Paus St. Julius I (337-352). Ia adalah penerus Paus St. Mark Arcus, dan diangkat menjadi Paus pada tanggal 6 Feb 337. Selama tugas pontifikatnya, ia dikenal sebagai Paus yang tegas dalam menolak ajaran sesat Arianisme (ajaran yang mengatakan bahwa Yesus Kristus bukan Allah).

Ia wafat pada tanggal 12 April, 352, dan dikubur di Katakomb Calepodius, namun kemudian dipindahkan ke gereja St. Maria di Trastevere. Segera setelah wafatnya, ia dinobatkan menjadi Santo. Pesta namanya dirayakan tgl 12 April.

Semoga teladan St. Julius selalu mendorong Santoso untuk menjadi seorang pembela kebenaran.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – http://www.katolisitas.org

Ditulis oleh Ingrid Listiati pada 11 09 08 Disimpan dalam TJ: Apologetik Kristen, TJ: Sakramen, Tanya-Jawab. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

8 komentar untuk “Mengapa ada nama baptis?”

  1. 3
    christyanto says:

    Apakah boleh tidak menggunakan santo atau santa untuk anak yang dipermandikan?

    • 3.1

      Shalom Christyanto,
      Saya mengutip kembali apa yang telah saya sampaikan di atas, demikian:
      Sebenarnya menurut Hukum Kanonik Gereja 1983 yang berlaku sekarang, orang Katolik tidak diharuskan mempunyai nama baptis yang diambil dari orang kudus. Kanon #855 berkata:

      Hendaknya orangtua, wali baptis dan pastor paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.

      Jadi dari pernyataan ini, Hukum Kanonik Gereja tidak mengharuskan nama santo/santa. Yang harus dijaga adalah, jangan sampai dipakai nama yang ‘melawan’ kekristenan, contohnya saja diberi nama ‘Hiltler’ atau ‘Lenin’.

      Jadi sebenarnya tidak ada keharusan, tetapi tentu jika diberi nama baptis dari nama Santa/ Santo tentu lebih baik. Silakan membaca kembali artikel di atas, karena saya telah menuliskan alasannya, seperti tertulis pada point 1.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. 2
    Andreas says:

    Hai Pak Stefanus dan Bu Inggrid. Bolehkah umat Katolik menggunakan nama Yesus untuk nama baptis dirinya? Karena saya heran, kok di Filipina dan di Eropa dan di Amerika ada banyak orang bernama “Jesus”. Saya bukan bilang yang di Israel. Di Israel, saya tau bahwa nama Yesus memang banyak dipakai.

    Terima kasih atas jawabannya.

    • 2.1

      Shalom Andreas,
      Sepanjang pengetahuan saya, tidaklah ada ketentuan tertulis untuk menentukan nama baptis. Ketentuan yang ada hanyalah menyebutkan agar nama baptis yang dipilih harus sesuai dengan cita rasa Kristiani. Kanon #855 berkata:

      Hendaknya orangtua, wali baptis dan pastor paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.

      Maka semuanya terpulang kepada kebijaksanaan orang tua, bagaimana menyikapi ketentuan ini.

      Mungkin maksud orang tuanya mengambil nama Yesus bagi anaknya adalah supaya ia dapat meneladani Yesus. Namun, kalau menurut saya pribadi, memang lebih bijaksana untuk tidak memakai nama Yesus. Karena walaupun berharap agar anak kita meneladani Yesus itu adalah hal yang baik, tetapi kita harus juga melihat kemungkinan, jika sampai ia gagal melaksanakannya [karena tak seorangpun yang dapat persis mengetahui akan keadaan anaknya kelak] agar jangan sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain, jika ternyata anak tersebut tidak dapat mengikuti teladan Yesus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. 1
    Julius Santoso says:

    Penulis mungkin bisa membantu saya. 1. Mengapa orang Katolik setelah dibabtis harus mengunakan embel-embel nama babtis yang diabil dari orang-orang suci? Contoh : Nama saya Santoso setelah dibabtis ditambah nama Julius. 2. Sejak kapan pengunaan nama babtis?. 3. Penggunaan nama babtis apakah termasuk tradisi?. 4. Latar belakang pengunaan nama babtis?.
    Trima kasih, smg Roh Tuhan berkarya dalam diri kita.

    • 1.1

      Shalom Santoso,

      Telah dijawab di atas – silakan klik.

      Salam kasih dari

      http://www.katolisitas.org

      Ingrid Listiati

      • 1.1.1
        Julius Santoso says:

        Puji Tuhan untuk Ingrid Listiati.
        Trima kasih atas jawaban yang sangat bagus dan luar biasa. Saya sangat tersanjung sekali dengan jawaban yang cepat dan mudah dimengerti. Saya jarang sekali mendapatkan jawaban yang memuaskan seperti ini. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
        Kalau boleh saya isi lengkap dalam :KGK 947 dan 952, Lumen Gentium 49, KGK 956 dan KGK 957.
        Tanya jawab atau pesan agar dipertahankan tetap ditampilkan di situs http://www.katolisitas.org/ sehingga pertanyaan dan jawaban dari orang lain juga untuk menambah pengetahuan / wawasan dan sebagai penguat iman saya.

        • 1.1.1.1

          Shalom Santoso,
          Berikut ini isi lengkap kutipan dari
          KGK 947:
          “Karena semua kaum beriman membentuk satu Tubuh saja, maka harta milik dari yang satu disampaikan kepada yang lain… Dengan demikian orang harus percaya… bahwa di dalam Gereja ada pemilikan bersama… Yang paling utama dari semua anggota Gereja adalah Kristus, karena Ia adalah Kepala… Jadi milik Kristus dibagi-bagikan kepada semua anggota, dan pembagian ini terjadi oleh Sakramen-sakramen Gereja (Thomas Aquinas, symb. 10). “Kesatuan Roh, yang olehnya (Gereja) dibimbing, mengakibatkan bahwa apa yang telah ia terima, menjadi milik bersama semua orang” (Catech. R., 1, 10, 24).

          KGK 952:
          Segala sesuatu adalah milik mereka bersama” (Kis 4:32): “Seorang Kristen yang benar tidak mempunyai sesuatu apa pun, yang tidak ia anggap sebagai milik bersama dari semua orang; karena itu orang-orang Kristen harus selalu rela meringankan kemalangan orang-orang yang berkekurangan” (Catech. R. 1, 10, 27). Seorang Kristen adalah bendahara harta pusaka Tuhan (bdk Luk 16:1,3).

          KGK 956:
          Doa syafaat para kudus. “Sebab karena para penghuni surga bersatu lebih erat dengan Kristus, mereka lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan pelbagai cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya. Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan, karena Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, tidak pernah berhenti menjadi pengantara kita di hadirat Bapa, sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia, melalui Pengantaraan tunggal antara Allah dan manusia yakni: Kristus Yesus. Demikianlah kelemahan kita amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara” (Lumen Gentium 49)

          “Jangan menangis, sesudah saya mati saya akan lebih berguna bagi kamu dan akan menyokong kamu secara lebih baik daripada selama saya hidup” (Dominikus, dalam sakratul maut kepada sama saudara seserikat). Bdk Jordan Sachsen, lib.93.

          “Saya akan mengisi kehidupan saya di surga dengan melakukan yang baik di dunia” (St. Teresia Kanak-kanak Yesus, verba)

          KGK 957:
          Persekutuan dengan para orang kudus. “Kita merayakan kenangan para penghuni surga bukan hanya karena teladan mereka. Melainkan lebih supaya persatuan segenap Gereja dalam Roh diteguhkan dengan mengamalkan cinta kasih persaudaraan. Sebab seperti persekutuan kristiani antara para musafir mengantarkan kita untuk mendekati Kristus, begitu pula keikutsertaan dengan para kudus menghubungkan kita dengan Kristus, yang bagaikan Sumber dan Kepala mengalirkan segala rahmat dan kehidupan Umat Allah sendiri.” (Lumen Gentium 50)

          “Kita menyembah Kristus karena Ia adalah Putera Allah. Tetapi para saksi iman, kita kasihi sebagai murid dan peniru Tuhan dan karena penyerahan diri yang tidak ada tandingannya kepada Raja dan Guru mereka. Semoga kita juga menjadi teman dan sesama murid mereka” (Polikarpus, mart. 17)

          Semoga kutipan teks Katekismus Gereja Katolik di atas dapat menjelaskan kedalaman arti persekutuan kita dengan para orang kudus di surga, sehingga kita semakin terdorong untuk meniru teladan hidup mereka; dan oleh doa-doa mereka kita bertumbuh di dalam iman untuk semakin mendekati Kristus.

          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          Ingrid Listiati

Menginggalkan pesan

MENDUKUNG KATOLISITAS.ORG

Kalau anda ingin mendukung karya kerasulan ini secara finansial, silakan menghubungi: donation[at]katolisitas.org atau melalui Paypal / Credit Card di bawah ini. Karya kerasulan ini dapat terus berlangsung karena rahmat Tuhan dan juga dukungan dari semuanya. Tuhan memberikati.

TRANSLATE FROM INDONESIAN TO:

KOMENTAR TERAKHIR

  • Shalom Dico Sinuraya,Mungkin yang anda maksudkan di sini adalah gereja... »»
  • Shalom Sang JMV,Jika anda membaca kembali tulisan ulasan di atas, anda... »»
  • Shalom Daniel, Terus terang, saya tidak tahu apakah Romo yang anda seb... »»
  • Shalom Yustinus,1. Benar pengertian anda, bahwa seharusnya seperti dis... »»
  • Shalom Bp. Soenardi,Saya harus berterima kasih kepada Scott Hahn, yang... »»
  • Shalom Roy Hayong,Saya rasa, yang terpenting adalah kita membutuhkan T... »»
  • Shalom Fxe,1. TransubstansiasiPertama- tama, mari kita pahami terlebih... »»
  • Shalom Thomas Vernando,Terima kasih atas pertanyannya tentang Yoh 6. S... »»
  • Shalom Hendro,Terima kasih atas pertanyaannya tentang spiritualitas ka... »»
  • Shalom Endro,Kanon Kitab Suci yang kita peroleh sekarang adalah berdas... »»
  • Shalom Alexander Pontoh,Terima kasih atas pertanyaannya tentang Roh Ku... »»
  • Shalom Henricus Willy,Terima kasih atas pertanyaannya. Memang sebagai ... »»
  • Prayogo ythTradisi budaya setempat yang belum disahkan oleh ordinaris ... »»
  • Shalom Bp. Soenardi,Pertama- tama saya mohon maaf jika saya salah mena... »»
  • Salam dalam X'tusBagaimana dengan tradisi nyekar kemakam leluhur denga... »»

© Copyright katolisitas - 2008 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja.

Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Renungan dan doa diterjemahkan dari: Every Day Is a Gift by Frederick Schroeder, CBPC, 1984.

 

Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, Hari dimana Gereja memperingati  Bunda Maria mengunjungi Elizabeth

Romo pembimbing: Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ.  |  Ahli Hukum Gereja dan Perkawinan: RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. |  Ahli Sakramen dan Liturgi: Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD
Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. |  Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min., Th.M.
Penulis tetap: Romo Bernardus Boli Ujan SVD  |  Romo Wanta, Pr  |  Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
Penanggung jawab situs: Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.