<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Humanae Vitae itu Benar!</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 11:26:12 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-12189</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Fri, 05 Mar 2010 00:41:06 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-12189</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Anonymous,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1. &lt;strong&gt;Penggunaan alat kontrasepsi mengingkari janji perkawinan?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Esensi &quot;kebohongan&quot; dalam hal penggunaan alat kontrasepsi tidak bersifat relatif, atau maksudnya asalkan suami dan istri sama- sama setuju dalam menggunakan alat kontrasepsi, berarti sudah tidak ada kebohongan. Yang ada dalam kondisi ini adalah baik suami dan istri setuju untuk melakukan tindakan yang &quot;saling membohongi&quot;, karena keduanya melakukan sesuatu yang tidak mencerminkan kasih yang total dan tak bersyarat. Maka &quot;kebohongan&quot; di sini sebenarnya bersifat obyektif, yaitu bahwa penggunaan alat kontrasepsi itu tidak sesuai dengan hakekat kasih suami istri yang ingin disampaikan, yaitu kasih yang total, tidak ada yang dibuang, tidak dihalangi, dan tidak pakai persyaratan tertentu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Allah yang menciptakan tubuh sebagai laki- laki dan perempuan, dan yang mempersatukan mereka sebagai suami istri, menghendaki agar hubungan seksual itu mencerminkan kasih yang total dan tak bersyarat tersebut, sebagai gambaran tentang kasih-Nya sendiri kepada umat manusia, seperti kasih Kristus kepada Gereja-Nya (Ef 5:22-33). Maka dengan penggunaan alat kontrasepsi, pasangan tersebut sebenarnya menolak maksud Allah ini, dengan memaknai sendiri hubungan seksual suami istri, sesuai dengan kehendak sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2. &lt;strong&gt;Misal ada kasus keluarga miskin dengan anak 10, KB alamiah gagal terus.... dst terus bagaimana?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Memang orang cenderung mencari contoh yang ekstrim untuk mencari &quot;celah&quot; tentang apakah suatu ajaran Gereja dapat &quot;ditawar.&quot; Namun saya di sini tidak berhak untuk mengubah ajaran Gereja Katolik, yang adalah ajaran Tuhan sendiri. Hal yang perlu ditanyakan adalah, sejauh mana pasangan tersebut telah berusaha menerapkan metoda KB Alamiah yang benar. Di situs ini kami mencoba untuk menuliskan artikel tentang metoda KB Alamiah yang cukup akurat (Metoda Creighton) dan selanjutnya memang diperlukan kerja sama dari pihak-pihak terkait, misalnya di Seksi Kerasulan Keluarga paroki untuk mengadakan pendampingan bagi keluarga- keluarga yang ingin mendapatkan pengajaran tentang metoda KB Alamiah ini. Selanjutnya, sejauh mana para petugas medis di paroki telah memberi penjelasan dan pendampingan yang cukup bagi para calon pangantin dan pasangan muda untuk menerapkan metoda KB Alamiah ini? Atau sejauh mana telah diadakan program anak asuh di paroki/ keuskupan, di mana keluarga yang kaya berpartisipasi membantu keluarga yang kekurangan, misal dalam hal biaya pendidikan?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi menurut saya, prinsipnya jika ada masalah, mari diusahakan jalan pencegahan/ jalan keluarnya, namun bukan dengan merubah aturannya. Sebagai gambaran saja, di Kalkuta, India, salah satu tugas para suster di sana adalah mengajari ibu-ibu tentang metoda KB alamiah. Mereka berhasil menerapkannya, mengapa di Indonesia tidak? Kondisi mereka saya rasa secara umum, lebih miskin dari kondisi keluarga di Indonesia. Ini memang memerlukan perhatian bagi kita semua, pe er bagi semua umat Katolik, terutama yang terpanggil untuk berkarya dalam hal ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;3. &lt;strong&gt;Abstain seksual: bagaimana jika istri minta suami tidak mau atau sebaliknya?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengutip ajaran Rasul Paulus yang mengatakan demikian,&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;&quot;Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.&quot; (1 Kor 7:5)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maka sesungguhnya memang suami dan istri tidak boleh saling menolak, namun abstain itu diperbolehkan dengan persetujuan bersama, misalnya jika ada alasan masuk akal, seperti untuk membatasi jumlah anak. Masa abstain ini hendaknya diisi dengan doa. Maka memang sangat penting adanya kesepakatan antara suami dan istri dalam hal abstain ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;4. &lt;strong&gt;Tidak melakukan union &lt;em&gt;kok&lt;/em&gt; dikatakan tidak apa-apa? Bukankah ini menentang kehendak Tuhan?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Union antara suami istri tidak semata- mata harus diwujudkan dengan hubungan seksual. Komunikasi yang baik dan kebersamaan antara suami istri juga sangat berperan dalam hal ini. Maka walaupun hubungan seksual berperan dalam membangun union suami istri, namun hal itu &lt;em&gt;bukan satu-satunya&lt;/em&gt; cara untuk menyatakan kasih suami istri. Pasangan yang memahami hal ini akan mempunyai kehidupan kasih yang lebih tulus dan lebih hidup. Inilah yang bahkan mempererat kasih antara keduanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu dengan memaksakan kehendak-Nya atas manusia, atau semacam takdir, dan manusia hanya robot saja (seperti ditakdirkan punya anak 10, dst) Ini bertentangan dengan ajaran Kitab Suci dan Gereja Katolik. Maka yang benar adalah Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia, agar manusia bekerjasama dengan kehendak-Nya. Kekerasan hati manusia yang menolak bekerjasama dengan-Nya ini membuat manusia berdosa melawan kehendak Allah. Maka Allah juga tidak menghendaki manusia untuk &quot;punya anak sebanyak- banyaknya&quot; tanpa memikirkan bagaimana membesarkan mereka. Tuhan berkehendak agar manusia selalu mempunyai  sikap &quot;terbuka&quot; terhadap kehidupan namun dapat dengan bijak dan bertanggungjawab merencanakannya, yang melibatkan pengendalian diri di pihak suami dan istri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maka, abstain hubungan seksual dalam periode tertentu, sesungguhnya dapat memurnikan hubungan kasih suami istri, melatih pengendalian diri, mendorong keduanya untuk lebih kreatif dalam mengungkapkan kasih, dan malah meningkatkan kualitas hubungan suami istri. Demikianlah kesaksian dari pasangan- pasangan yang setia menerapkan metoda KB Alamiah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;5. &lt;strong&gt;Apakah Humanae Vitae juga melarang penggunaan alat peningkat kesuburan, seperti pemasukan zat kimia ke tubuh istri supaya cepat punya anak?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Prinsip dasar yang diambil oleh Gereja Katolik adalah, fertilitas (kesuburan) itu adalah berkat untuk disyukuri, dan bukan dianggap sebagai penyakit sehingga perlu ditolak. Kondisi infertilitas (ketidak-suburan) itulah yang memang wajar untuk diobati. Dengan prinsip pengertian ini, maka tidak dilarang bagi wanita untuk minum jamu- jamuan/ obat untuk kesuburan, jika memang kondisinya infertile/ tidak subur.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun kondisi infertilitas ini tidak untuk ditanggapi dengan hal- hal yang bertentangan dengan nilai- nilai moral lainnya, misalnya dengan program bayi tabung. Selanjutnya tentang mengapa Gereja Katolik melarang bayi tabung, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2009/01/22/tentang-bayi-tabung/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik di sini&lt;/a&gt;. Sedangkan tentang diskusi mengenai &lt;em&gt;human intervention&lt;/em&gt; dalam hal infertilitas, sudah pernah dibahas di sini, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-1781&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati- www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Anonymous,</p><p>1. <strong>Penggunaan alat kontrasepsi mengingkari janji perkawinan?</strong></p><p>Esensi &#8220;kebohongan&#8221; dalam hal penggunaan alat kontrasepsi tidak bersifat relatif, atau maksudnya asalkan suami dan istri sama- sama setuju dalam menggunakan alat kontrasepsi, berarti sudah tidak ada kebohongan. Yang ada dalam kondisi ini adalah baik suami dan istri setuju untuk melakukan tindakan yang &#8220;saling membohongi&#8221;, karena keduanya melakukan sesuatu yang tidak mencerminkan kasih yang total dan tak bersyarat. Maka &#8220;kebohongan&#8221; di sini sebenarnya bersifat obyektif, yaitu bahwa penggunaan alat kontrasepsi itu tidak sesuai dengan hakekat kasih suami istri yang ingin disampaikan, yaitu kasih yang total, tidak ada yang dibuang, tidak dihalangi, dan tidak pakai persyaratan tertentu.</p><p>Allah yang menciptakan tubuh sebagai laki- laki dan perempuan, dan yang mempersatukan mereka sebagai suami istri, menghendaki agar hubungan seksual itu mencerminkan kasih yang total dan tak bersyarat tersebut, sebagai gambaran tentang kasih-Nya sendiri kepada umat manusia, seperti kasih Kristus kepada Gereja-Nya (Ef 5:22-33). Maka dengan penggunaan alat kontrasepsi, pasangan tersebut sebenarnya menolak maksud Allah ini, dengan memaknai sendiri hubungan seksual suami istri, sesuai dengan kehendak sendiri.</p><p>2. <strong>Misal ada kasus keluarga miskin dengan anak 10, KB alamiah gagal terus&#8230;. dst terus bagaimana?</strong></p><p>Memang orang cenderung mencari contoh yang ekstrim untuk mencari &#8220;celah&#8221; tentang apakah suatu ajaran Gereja dapat &#8220;ditawar.&#8221; Namun saya di sini tidak berhak untuk mengubah ajaran Gereja Katolik, yang adalah ajaran Tuhan sendiri. Hal yang perlu ditanyakan adalah, sejauh mana pasangan tersebut telah berusaha menerapkan metoda KB Alamiah yang benar. Di situs ini kami mencoba untuk menuliskan artikel tentang metoda KB Alamiah yang cukup akurat (Metoda Creighton) dan selanjutnya memang diperlukan kerja sama dari pihak-pihak terkait, misalnya di Seksi Kerasulan Keluarga paroki untuk mengadakan pendampingan bagi keluarga- keluarga yang ingin mendapatkan pengajaran tentang metoda KB Alamiah ini. Selanjutnya, sejauh mana para petugas medis di paroki telah memberi penjelasan dan pendampingan yang cukup bagi para calon pangantin dan pasangan muda untuk menerapkan metoda KB Alamiah ini? Atau sejauh mana telah diadakan program anak asuh di paroki/ keuskupan, di mana keluarga yang kaya berpartisipasi membantu keluarga yang kekurangan, misal dalam hal biaya pendidikan?</p><p>Jadi menurut saya, prinsipnya jika ada masalah, mari diusahakan jalan pencegahan/ jalan keluarnya, namun bukan dengan merubah aturannya. Sebagai gambaran saja, di Kalkuta, India, salah satu tugas para suster di sana adalah mengajari ibu-ibu tentang metoda KB alamiah. Mereka berhasil menerapkannya, mengapa di Indonesia tidak? Kondisi mereka saya rasa secara umum, lebih miskin dari kondisi keluarga di Indonesia. Ini memang memerlukan perhatian bagi kita semua, pe er bagi semua umat Katolik, terutama yang terpanggil untuk berkarya dalam hal ini.</p><p>3. <strong>Abstain seksual: bagaimana jika istri minta suami tidak mau atau sebaliknya?</strong></p><p>Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengutip ajaran Rasul Paulus yang mengatakan demikian,</p><p
style="padding-left: 40px;">&#8220;Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.&#8221; (1 Kor 7:5)</p><p>Maka sesungguhnya memang suami dan istri tidak boleh saling menolak, namun abstain itu diperbolehkan dengan persetujuan bersama, misalnya jika ada alasan masuk akal, seperti untuk membatasi jumlah anak. Masa abstain ini hendaknya diisi dengan doa. Maka memang sangat penting adanya kesepakatan antara suami dan istri dalam hal abstain ini.</p><p>4. <strong>Tidak melakukan union <em>kok</em> dikatakan tidak apa-apa? Bukankah ini menentang kehendak Tuhan?</strong></p><p>Union antara suami istri tidak semata- mata harus diwujudkan dengan hubungan seksual. Komunikasi yang baik dan kebersamaan antara suami istri juga sangat berperan dalam hal ini. Maka walaupun hubungan seksual berperan dalam membangun union suami istri, namun hal itu <em>bukan satu-satunya</em> cara untuk menyatakan kasih suami istri. Pasangan yang memahami hal ini akan mempunyai kehidupan kasih yang lebih tulus dan lebih hidup. Inilah yang bahkan mempererat kasih antara keduanya.</p><p>Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu dengan memaksakan kehendak-Nya atas manusia, atau semacam takdir, dan manusia hanya robot saja (seperti ditakdirkan punya anak 10, dst) Ini bertentangan dengan ajaran Kitab Suci dan Gereja Katolik. Maka yang benar adalah Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia, agar manusia bekerjasama dengan kehendak-Nya. Kekerasan hati manusia yang menolak bekerjasama dengan-Nya ini membuat manusia berdosa melawan kehendak Allah. Maka Allah juga tidak menghendaki manusia untuk &#8220;punya anak sebanyak- banyaknya&#8221; tanpa memikirkan bagaimana membesarkan mereka. Tuhan berkehendak agar manusia selalu mempunyai  sikap &#8220;terbuka&#8221; terhadap kehidupan namun dapat dengan bijak dan bertanggungjawab merencanakannya, yang melibatkan pengendalian diri di pihak suami dan istri.</p><p>Maka, abstain hubungan seksual dalam periode tertentu, sesungguhnya dapat memurnikan hubungan kasih suami istri, melatih pengendalian diri, mendorong keduanya untuk lebih kreatif dalam mengungkapkan kasih, dan malah meningkatkan kualitas hubungan suami istri. Demikianlah kesaksian dari pasangan- pasangan yang setia menerapkan metoda KB Alamiah.</p><p>5. <strong>Apakah Humanae Vitae juga melarang penggunaan alat peningkat kesuburan, seperti pemasukan zat kimia ke tubuh istri supaya cepat punya anak?</strong></p><p>Prinsip dasar yang diambil oleh Gereja Katolik adalah, fertilitas (kesuburan) itu adalah berkat untuk disyukuri, dan bukan dianggap sebagai penyakit sehingga perlu ditolak. Kondisi infertilitas (ketidak-suburan) itulah yang memang wajar untuk diobati. Dengan prinsip pengertian ini, maka tidak dilarang bagi wanita untuk minum jamu- jamuan/ obat untuk kesuburan, jika memang kondisinya infertile/ tidak subur.</p><p>Namun kondisi infertilitas ini tidak untuk ditanggapi dengan hal- hal yang bertentangan dengan nilai- nilai moral lainnya, misalnya dengan program bayi tabung. Selanjutnya tentang mengapa Gereja Katolik melarang bayi tabung, <a
href="http://katolisitas.org/2009/01/22/tentang-bayi-tabung/" rel="nofollow">silakan klik di sini</a>. Sedangkan tentang diskusi mengenai <em>human intervention</em> dalam hal infertilitas, sudah pernah dibahas di sini, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-1781" rel="nofollow">silakan klik</a>.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/>Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Anonymous</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-12068</link> <dc:creator>Anonymous</dc:creator> <pubDate>Tue, 02 Mar 2010 06:19:32 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-12068</guid> <description>Salam para pengurus Katolisitas yang baik, saya masih blm mengerti sepenuhnya soal Humanae Vitae ini, ada pikiran2 kritis yang mungkin agak aneh tapi rasanya kl nggak ditanyakan, berasa ada yang ngganjel.Khan disebut soal dengan menggunakan kontrasepsi maka mengingkari janji perkawinan dengan keadaan membohongi pasangan karena nggak seluruh yg ia punya diberikan, kl kedua belah pihak setuju apa masih dibilang pembohongan ?Misal untuk kasus dimana keluarga miskin, anak udah 10, KB alamiah gagal terus... atau keadaan di mana istri abis caesar (dikasih full juga percuma malah membahayakan kesehatan) ini berarti secara maksud dah bisa dilegalkan, at least sekalipun dosa juga bukan dosa beratNah skrg kl memang abstain sexual dihalalkan secara penuh, kl sang istri minta dan suami gak mau memberi atau sebaliknya gimana ?kenapa kok tidak melakukan union dikatakan gak apa2 ya ? khan sama aja dengan menentang kehendak Tuhan juga ? misal Tuhan sbenernya mau kasih sepasang suami istri ini anak 10, tapi sepasang ini cuma mau 3 dan mutusin buat KB alami, tiap kali hasratnya dibangkitkan, mereka bertahan, Tuhan memang nggak akan maksa mreka buat berhubungan seks di masa subur khan ? tapi apa nggak sama2 menentang kehendak Tuhan ?Dgn Humanae Vitae ini juga otomatis berarti pelarangan penggunaan alat2 peningkat kesuburan? (memasukan zat kimia ke tubuh istri dengan tujuan supaya bisa lebih cepat punya anak).</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam para pengurus Katolisitas yang baik, saya masih blm mengerti sepenuhnya soal Humanae Vitae ini, ada pikiran2 kritis yang mungkin agak aneh tapi rasanya kl nggak ditanyakan, berasa ada yang ngganjel.</p><p>Khan disebut soal dengan menggunakan kontrasepsi maka mengingkari janji perkawinan dengan keadaan membohongi pasangan karena nggak seluruh yg ia punya diberikan, kl kedua belah pihak setuju apa masih dibilang pembohongan ?</p><p>Misal untuk kasus dimana keluarga miskin, anak udah 10, KB alamiah gagal terus&#8230; atau keadaan di mana istri abis caesar (dikasih full juga percuma malah membahayakan kesehatan) ini berarti secara maksud dah bisa dilegalkan, at least sekalipun dosa juga bukan dosa berat</p><p>Nah skrg kl memang abstain sexual dihalalkan secara penuh, kl sang istri minta dan suami gak mau memberi atau sebaliknya gimana ?</p><p>kenapa kok tidak melakukan union dikatakan gak apa2 ya ? khan sama aja dengan menentang kehendak Tuhan juga ? misal Tuhan sbenernya mau kasih sepasang suami istri ini anak 10, tapi sepasang ini cuma mau 3 dan mutusin buat KB alami, tiap kali hasratnya dibangkitkan, mereka bertahan, Tuhan memang nggak akan maksa mreka buat berhubungan seks di masa subur khan ? tapi apa nggak sama2 menentang kehendak Tuhan ?</p><p>Dgn Humanae Vitae ini juga otomatis berarti pelarangan penggunaan alat2 peningkat kesuburan? (memasukan zat kimia ke tubuh istri dengan tujuan supaya bisa lebih cepat punya anak).</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-11668</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Thu, 18 Feb 2010 03:46:30 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-11668</guid> <description>Shalom Anonymous,
Jika anda sendiri sudah menerapkan KB Alamiah bersama istri anda, maka anda akan mengetahui bahwa apa yang anda katakan itu tidak benar. Manusia diciptakan tidak untuk dikuasai/ menuruti hawa nafsu. Sebab bukan nafsu yang menguasai manusia dan manusia harus selalu menurutinya, namun sebaliknya manusia dapat mengendalikan hasratnya sendiri. Inilah sebabnya Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa salah satu buah Roh kudus adalah pengendalian diri (Gal 5:23).Sepertihalnya anak- anak yang setiap hari dituruti keinginannya untuk diberi permen atau kue, maka mereka akhirnya menjadi kurang menghargai apa yang selalu didapatnya, dan berpikir bahwa keinginannya itu harus secara otomatis dipenuhi. Tetapi kalau permen/ kue itu diberikan hanya pada kesempatan- kesempatan tertentu/ istimewa, maka mereka akan lebih menghargai dan mensyukurinya. Dengan analogi ini, kita dapat memahami, bahwa hubungan suami istri juga demikian. Mereka yang selalu mengikuti hasratnya lama kelamaan dapat menganggapnya sebagai &#039;hal biasa&#039; yang harus dituruti. Namun jika mereka memahami maknanya dan melakukannya dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan rencana Allah, maka mereka akan dapat semakin menghargainya. Jangan kuatir,  hasrat itu akan timbul dengan sendirinya pada waktunya.Pantang berkala dalam hubungan suami istri, jika disadari bersama maknanya, maka akan mempererat hubungan kasih suami istri. Sebab keduanya akan mencari banyak cara lain untuk mengungkapkan kasih dan pengertian yang tulus, dan inilah yang bahkan lebih mempererat hubungan rohani dan kasih antara suami istri. Di sinilah suami dan istri dapat belajar menerima satu sama lain, mengasihi tidak hanya terbatas pada hubungan jasmani, namun sebagai pasangan jiwa yang dipersatukan oleh Allah untuk saling menguduskan dan mengembangkan buah Roh Kudus di dalam kehidupan suami istri: yaitu kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal 5:22-23)In the end, our sexuality is God&#039;s gift that shall bring us to holiness. Silakan anda mencoba metoda Creighton, yang tertulis juga di situs ini. Jika diterapkan dengan setia, metoda itu tidak &#039;mematikan kehidupan seksual&#039; suami istri, malahan menghidupkannya; karena baik suami maupun istri memperoleh pengertian dan penghargaan yang lebih mendalam akan maknanya.Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Anonymous,<br
/> Jika anda sendiri sudah menerapkan KB Alamiah bersama istri anda, maka anda akan mengetahui bahwa apa yang anda katakan itu tidak benar. Manusia diciptakan tidak untuk dikuasai/ menuruti hawa nafsu. Sebab bukan nafsu yang menguasai manusia dan manusia harus selalu menurutinya, namun sebaliknya manusia dapat mengendalikan hasratnya sendiri. Inilah sebabnya Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa salah satu buah Roh kudus adalah pengendalian diri (Gal 5:23).</p><p>Sepertihalnya anak- anak yang setiap hari dituruti keinginannya untuk diberi permen atau kue, maka mereka akhirnya menjadi kurang menghargai apa yang selalu didapatnya, dan berpikir bahwa keinginannya itu harus secara otomatis dipenuhi. Tetapi kalau permen/ kue itu diberikan hanya pada kesempatan- kesempatan tertentu/ istimewa, maka mereka akan lebih menghargai dan mensyukurinya. Dengan analogi ini, kita dapat memahami, bahwa hubungan suami istri juga demikian. Mereka yang selalu mengikuti hasratnya lama kelamaan dapat menganggapnya sebagai &#8216;hal biasa&#8217; yang harus dituruti. Namun jika mereka memahami maknanya dan melakukannya dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan rencana Allah, maka mereka akan dapat semakin menghargainya. Jangan kuatir,  hasrat itu akan timbul dengan sendirinya pada waktunya.</p><p>Pantang berkala dalam hubungan suami istri, jika disadari bersama maknanya, maka akan mempererat hubungan kasih suami istri. Sebab keduanya akan mencari banyak cara lain untuk mengungkapkan kasih dan pengertian yang tulus, dan inilah yang bahkan lebih mempererat hubungan rohani dan kasih antara suami istri. Di sinilah suami dan istri dapat belajar menerima satu sama lain, mengasihi tidak hanya terbatas pada hubungan jasmani, namun sebagai pasangan jiwa yang dipersatukan oleh Allah untuk saling menguduskan dan mengembangkan buah Roh Kudus di dalam kehidupan suami istri: yaitu kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal 5:22-23)</p><p>In the end, our sexuality is God&#8217;s gift that shall bring us to holiness. Silakan anda mencoba metoda Creighton, yang tertulis juga di situs ini. Jika diterapkan dengan setia, metoda itu tidak &#8216;mematikan kehidupan seksual&#8217; suami istri, malahan menghidupkannya; karena baik suami maupun istri memperoleh pengertian dan penghargaan yang lebih mendalam akan maknanya.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Anonymous</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-11594</link> <dc:creator>Anonymous</dc:creator> <pubDate>Tue, 16 Feb 2010 09:09:51 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-11594</guid> <description>Sebenernya saya merasa agak aneh soal ajaran mengenai anti kontrasepsi ini, kalau KB alamiah berarti kebanyakan seks akan dilakukan pada saat istri dalam keadaan stelah mens, fase kering di mana biasanya di masa itu istri nggak nafsu. Nah sang istri sendiri baru nafsu di saat ada sel telur di rahimnya. In the end seks hanya dilakukan kalau dah mau punya anak donk ? atau dalam hal ini wanita yang dikorbankan, nggak dipenuhi hasratnya sampai waktunya punya anak, kalau anak udah 3, habislah kehidupan seksual pasangan suami istri...</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Sebenernya saya merasa agak aneh soal ajaran mengenai anti kontrasepsi ini, kalau KB alamiah berarti kebanyakan seks akan dilakukan pada saat istri dalam keadaan stelah mens, fase kering di mana biasanya di masa itu istri nggak nafsu. Nah sang istri sendiri baru nafsu di saat ada sel telur di rahimnya. In the end seks hanya dilakukan kalau dah mau punya anak donk ? atau dalam hal ini wanita yang dikorbankan, nggak dipenuhi hasratnya sampai waktunya punya anak, kalau anak udah 3, habislah kehidupan seksual pasangan suami istri&#8230;</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ryan09</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-10035</link> <dc:creator>Ryan09</dc:creator> <pubDate>Thu, 07 Jan 2010 02:30:16 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-10035</guid> <description>Shalom Antonio Tokan,
Kebetulan saya pelanggan majalah tsb. Apakah yg anda maksud artikel di majalah HIDUP no. 32, 10 Agustus 2008 halaman 31 dg judul MELAWAN PENYEBARAN AIDS? Ya, isi artikel tersebut membingungkan,  terjadi banyak kesalahan dan bisa menyesatkan pembaca (umat Katolik). Tampaknya kekeliruan pada proses penerjemahan (note: sumber dari bahasa asing, banyak ditemukan di internet) dan entah kenapa bisa lolos sampai proses percetakan padahal isinya begitu penting. Beberapa pembaca (termasuk saya) menanyakannya lewat surat pembaca. Majalah HIDUP telah memohon maaf atas kekeliruan tersebut dan meralat isinya pada edisi lain (saya lupa pada edisi berapa). Intinya, sikap gereja Katolik adalah seperti yang telah disebutkan dalam Humanae Vitae
Semoga membantu.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Antonio Tokan,<br
/> Kebetulan saya pelanggan majalah tsb. Apakah yg anda maksud artikel di majalah HIDUP no. 32, 10 Agustus 2008 halaman 31 dg judul MELAWAN PENYEBARAN AIDS? Ya, isi artikel tersebut membingungkan,  terjadi banyak kesalahan dan bisa menyesatkan pembaca (umat Katolik). Tampaknya kekeliruan pada proses penerjemahan (note: sumber dari bahasa asing, banyak ditemukan di internet) dan entah kenapa bisa lolos sampai proses percetakan padahal isinya begitu penting. Beberapa pembaca (termasuk saya) menanyakannya lewat surat pembaca. Majalah HIDUP telah memohon maaf atas kekeliruan tersebut dan meralat isinya pada edisi lain (saya lupa pada edisi berapa). Intinya, sikap gereja Katolik adalah seperti yang telah disebutkan dalam Humanae Vitae<br
/> Semoga membantu.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-10033</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Thu, 07 Jan 2010 00:40:13 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-10033</guid> <description>Shalom Antonio Tokan,
Saya tidak mengetahui mengapa majalah Hidup, mengatakan bahwa ada pencabutan larangan penggunaan kontrasepsi, jika benar apa yang anda katakan itu. Silakan anda menyebutkan persisinya bagaimana pernyataannya, pada edisi kapan. Sepanjang pengetahuan saya peraturan Gereja dalam hal kontrasepsi tidak berubah. Silakan anda check di situs- situs Katolik lainnya yang setia kepada pengajaran Magisterium, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris.Jadi yang benar tentu yang telah disebutkan dalam Humanae Vitae, dan bahkan yang baru-baru ini ditegaskan kembali oleh Bapa Paus Benediktus XVI dalam surat ensikliknya yang terbaru, Caritas in Veritate (Kasih dalam kebenaran), yang terjemahannya ada di situs ini: yaitu Gereja Katolik tidak membenarkan penggunaan kontrasepsi.Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Antonio Tokan,<br
/> Saya tidak mengetahui mengapa majalah Hidup, mengatakan bahwa ada pencabutan larangan penggunaan kontrasepsi, jika benar apa yang anda katakan itu. Silakan anda menyebutkan persisinya bagaimana pernyataannya, pada edisi kapan. Sepanjang pengetahuan saya peraturan Gereja dalam hal kontrasepsi tidak berubah. Silakan anda check di situs- situs Katolik lainnya yang setia kepada pengajaran Magisterium, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris.</p><p>Jadi yang benar tentu yang telah disebutkan dalam Humanae Vitae, dan bahkan yang baru-baru ini ditegaskan kembali oleh Bapa Paus Benediktus XVI dalam surat ensikliknya yang terbaru, Caritas in Veritate (Kasih dalam kebenaran), yang terjemahannya ada di situs ini: yaitu Gereja Katolik tidak membenarkan penggunaan kontrasepsi.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Antonio Tokan</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-9930</link> <dc:creator>Antonio Tokan</dc:creator> <pubDate>Mon, 04 Jan 2010 14:28:33 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-9930</guid> <description>Saya pernah baca buku tentang Katolik yang isinya melarang orang Katolik menggunakan kontrasepsi tapi saya juga pernah baca majalah &#039;HIDUP&#039; yang isinya mencabut larangan menggunakan kontrasepsi. Sebenarnya yang benar itu yang mana sih???</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah baca buku tentang Katolik yang isinya melarang orang Katolik menggunakan kontrasepsi tapi saya juga pernah baca majalah &#8216;HIDUP&#8217; yang isinya mencabut larangan menggunakan kontrasepsi. Sebenarnya yang benar itu yang mana sih???</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Irma</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-9891</link> <dc:creator>Irma</dc:creator> <pubDate>Sun, 03 Jan 2010 04:48:03 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-9891</guid> <description>Dear Ingrid,Setahun yang lalu, pada saat saya menuliskan komentar di atas, usia perkawinan kami masih 4 bulan. Selama setahun sesudahnya kami mencoba melakukan KB alamiah dengan metode kalender dan pengamatan lendir (seperti pada artikel katolisitas yang membahas metode Creighton), dan selama setahun itu saya tidak hamil. Dengan kata lain, kombinasi kedua metode di atas itu berhasil dengan baik. Sejak September tahun lalu, kami pun mulai menghentikan pantang pada masa subur, dan kembali menggunakan kedua metode tersebut agar kami dapat memperoleh keturunan. Saat ini, saya sedang hamil memasuki bulan ketiga.Walaupun demikian, kehendak Tuhan tetaplah berada pada yang teratas. Selama melakukan KB alamiah tersebut, kami tetap memohon rahmat agar disposisi hati bahwa biarlah kehendak Tuhan yang terjadi tetap terjaga. Akhirnya, setelah berbagai peristiwa dan perenungan yang membuat saya benar-benar sadar akan arti anugerah anak dalam keluarga, Tuhan memberkati kami dengan kehamilan saya sekarang.Tujuan saya mensharingkan hal ini, semata-mata agar pembaca katolisitas tidak takut untuk taat pada ajaran Tuhan dan gereja, dan tidak takut untuk membiarkan kehendak Tuhan terjadi kepada keluarga kita. Bagaimanapun, Dia akan menjaga kita lebih baik dari kita sendiri, dan rancanganNya di luar batas kemampuan kita untuk memahaminya.Selamat tahun baru dan semoga Tuhan selalu memberikan rahmatNya kepada kita untuk lebih mengasihi Dia.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Dear Ingrid,</p><p>Setahun yang lalu, pada saat saya menuliskan komentar di atas, usia perkawinan kami masih 4 bulan. Selama setahun sesudahnya kami mencoba melakukan KB alamiah dengan metode kalender dan pengamatan lendir (seperti pada artikel katolisitas yang membahas metode Creighton), dan selama setahun itu saya tidak hamil. Dengan kata lain, kombinasi kedua metode di atas itu berhasil dengan baik. Sejak September tahun lalu, kami pun mulai menghentikan pantang pada masa subur, dan kembali menggunakan kedua metode tersebut agar kami dapat memperoleh keturunan. Saat ini, saya sedang hamil memasuki bulan ketiga.</p><p>Walaupun demikian, kehendak Tuhan tetaplah berada pada yang teratas. Selama melakukan KB alamiah tersebut, kami tetap memohon rahmat agar disposisi hati bahwa biarlah kehendak Tuhan yang terjadi tetap terjaga. Akhirnya, setelah berbagai peristiwa dan perenungan yang membuat saya benar-benar sadar akan arti anugerah anak dalam keluarga, Tuhan memberkati kami dengan kehamilan saya sekarang.</p><p>Tujuan saya mensharingkan hal ini, semata-mata agar pembaca katolisitas tidak takut untuk taat pada ajaran Tuhan dan gereja, dan tidak takut untuk membiarkan kehendak Tuhan terjadi kepada keluarga kita. Bagaimanapun, Dia akan menjaga kita lebih baik dari kita sendiri, dan rancanganNya di luar batas kemampuan kita untuk memahaminya.</p><p>Selamat tahun baru dan semoga Tuhan selalu memberikan rahmatNya kepada kita untuk lebih mengasihi Dia.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Andry</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-8171</link> <dc:creator>Andry</dc:creator> <pubDate>Thu, 29 Oct 2009 01:23:04 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-8171</guid> <description>Terima kasih banyak bu inggrid ataqs jawabannyaa. Atas jawabannya,akhirnya saya dapat mengerti hal ini. Iman saya mengatakan memang hanya Bunda Maria saja yang dikaruniai oleh Allah,dan dialah yg terpuji diantara wanita..</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih banyak bu inggrid ataqs jawabannyaa. Atas jawabannya,akhirnya saya dapat mengerti hal ini. Iman saya mengatakan memang hanya Bunda Maria saja yang dikaruniai oleh Allah,dan dialah yg terpuji diantara wanita..</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-8159</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Wed, 28 Oct 2009 17:01:14 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-8159</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Andry, &lt;br /&gt;Terus terang, kami tidak dapat memberi komentar lebih lanjut tentang berita ini, karena kami tidak tahu sampai di mana kebenaran data yang disampaikan. Yang dapat kami sampaikan adalah prinsip-prinsipnya saja, berdasarkan akal sehat dan pengetahuan yang diterima oleh umum.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kita mengetahui bahwa secara natural bahwa kehamilan terjadi karena pertemuan sel sperma dengan sel telur. Hal ini umumnya terjadi karena hubungan seksual antara seorang pria dan wanita. Walaupun terdapat juga kekecualian yaitu kehamilan terjadi tanpa hubungan seksual, seperti:&lt;br /&gt;1. Seorang wanita membuat dirinya hamil melalui inseminasi: sperma suaminya atau sperma donor disuntikkan ke sel telur, dan kehamilan terjadi di dalam rahimnya. Atau pembuahan terjadi di dalam tabung, kemudian setelah dibuahi, dimasukkan ke rahim ibu (wanita) itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2. Seorang wanita ditunjuk untuk hamil bagi pasangan yang lain. Sel telur istri dibuahi oleh sel sperma di dalam vitro/ tabung, lalu setelah terjadi pembuahan, &#039;zygote&#039;/ janin itu dimasukkan ke rahim wanita lain yang ditunjuk untuk menjadi &#039;ibu angkat&#039; untuk hamil dan melahirkan bayi itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;3. Seorang wanita dapat hamil tanpa berhubungan seksual/ intercourse, jika karena sesuatu hal sel sperma tetap dapat menembus vagina dan dapat bertemu dengan sel telur. Walaupun kemungkinannya kecil, hal ini tetap dapat terjadi. Kita dapat membacanya di internet mengenai hal ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Nah, namun demikian, kehamilan tidak dapat terjadi tanpa sel sperma. Oleh karena itu, kehamilan Bunda Maria merupakan suatu mukjizat. Jika ada seseorang yang mengklaim hamil tanpa sel sperma, sesungguhnya pernyataan itu yang perlu ditelusuri kebenarannya. Sebab jika demikian halnya, kasus itu dapat dilaporkan kepada the guiness book of record. Namun, tentu, jika kemudian diperiksa lebih lanjut, ternyata yang terjadi sebenarnya adalah kemungkinan point ke 3, maka sesungguhnya itu bukan sesuatu yang aneh/ mukjizat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kesaksian tentang hamil yang membesar selama 3.5 jam, lahir bersih, bayi dapat bergerak-gerak seperti telah berumur 1 tahun, tanda putih di tangan, dst itu tidak terlalu &#039;mengherankan&#039;, jika dibandingkan dengan klaim kehamilan tanpa sperma. Karena pada orang-orang tertentu, kehamilan memang dapat menjadi tidak terlalu &#039;kentara&#039; karena satu dan lain hal. Sedangkan fakta- fakta  lain yang berikutnya bersifat relatif.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Demikian komentar saya tentang pertanyaan anda, maaf jika tidak terlalu membantu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Andry, <br
/>Terus terang, kami tidak dapat memberi komentar lebih lanjut tentang berita ini, karena kami tidak tahu sampai di mana kebenaran data yang disampaikan. Yang dapat kami sampaikan adalah prinsip-prinsipnya saja, berdasarkan akal sehat dan pengetahuan yang diterima oleh umum.</p><p>Kita mengetahui bahwa secara natural bahwa kehamilan terjadi karena pertemuan sel sperma dengan sel telur. Hal ini umumnya terjadi karena hubungan seksual antara seorang pria dan wanita. Walaupun terdapat juga kekecualian yaitu kehamilan terjadi tanpa hubungan seksual, seperti:<br
/>1. Seorang wanita membuat dirinya hamil melalui inseminasi: sperma suaminya atau sperma donor disuntikkan ke sel telur, dan kehamilan terjadi di dalam rahimnya. Atau pembuahan terjadi di dalam tabung, kemudian setelah dibuahi, dimasukkan ke rahim ibu (wanita) itu.</p><p>2. Seorang wanita ditunjuk untuk hamil bagi pasangan yang lain. Sel telur istri dibuahi oleh sel sperma di dalam vitro/ tabung, lalu setelah terjadi pembuahan, &#8216;zygote&#8217;/ janin itu dimasukkan ke rahim wanita lain yang ditunjuk untuk menjadi &#8216;ibu angkat&#8217; untuk hamil dan melahirkan bayi itu.</p><p>3. Seorang wanita dapat hamil tanpa berhubungan seksual/ intercourse, jika karena sesuatu hal sel sperma tetap dapat menembus vagina dan dapat bertemu dengan sel telur. Walaupun kemungkinannya kecil, hal ini tetap dapat terjadi. Kita dapat membacanya di internet mengenai hal ini.</p><p>Nah, namun demikian, kehamilan tidak dapat terjadi tanpa sel sperma. Oleh karena itu, kehamilan Bunda Maria merupakan suatu mukjizat. Jika ada seseorang yang mengklaim hamil tanpa sel sperma, sesungguhnya pernyataan itu yang perlu ditelusuri kebenarannya. Sebab jika demikian halnya, kasus itu dapat dilaporkan kepada the guiness book of record. Namun, tentu, jika kemudian diperiksa lebih lanjut, ternyata yang terjadi sebenarnya adalah kemungkinan point ke 3, maka sesungguhnya itu bukan sesuatu yang aneh/ mukjizat.</p><p>Kesaksian tentang hamil yang membesar selama 3.5 jam, lahir bersih, bayi dapat bergerak-gerak seperti telah berumur 1 tahun, tanda putih di tangan, dst itu tidak terlalu &#8216;mengherankan&#8217;, jika dibandingkan dengan klaim kehamilan tanpa sperma. Karena pada orang-orang tertentu, kehamilan memang dapat menjadi tidak terlalu &#8216;kentara&#8217; karena satu dan lain hal. Sedangkan fakta- fakta  lain yang berikutnya bersifat relatif.</p><p>Demikian komentar saya tentang pertanyaan anda, maaf jika tidak terlalu membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/>Ingrid Listiati &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Andry</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-8052</link> <dc:creator>Andry</dc:creator> <pubDate>Mon, 26 Oct 2009 10:42:30 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-8052</guid> <description>Shalom,
Ibu Inggrid yg baik,saya ingin bertanya mengenai berita yg sedang beredar tentang kelahiran seorang anak yang sangat aneh.
ahir seorang bayi ajaib di Lampung Utara..*******
Peristiwa lahirnya seorang bayi tanpa proses kehamilan normal yang dialami Bekti Wahyuningsih (21) warga Desa Kotanapal Kecamatan Bungamayang Lampung Utara (Lampura) beberapa waktu lalu, sampai kemarin (13/10) masih menjadi topik pembicaraan yang hangat dikalangan masyarakat Lampung Utara.Sebagian besar warga menilai, kelahiran bayi laki-laki dengan berat 2,6 Kg itu merupakan kejadian langkah, hanya membutuhkan proses waktu selama 3,5 jam.“ Proses kelahiran bayi laki-laki normal dalam waktu singkat ini benar-benar ajaib,” ucap Fitri (25), warga Kotabumi yang berstatus sebagai ibu rumah tangga ini.Sementara, dokter spesialis kandungan dr. Salomo Tambunan S.POG menyatakan, terkait peristiwa Bekti yang melahirkan bayi tanpa sebelumnya hamil, dinilai tidak masuk akal dalam ilmu kedokteran. Karena, kejadian seperti itu belum pernah terjadi di wilayah Kabupaten Lampura.“Kejadian itu benar-benar tidak masuk akal. Karena hampir 30 tahun saya menjadi dokter kandungan di Lampura, baru kali ini mendengar adanya peristiwa itu,” kata Salomo.Dia juga menjelaskan, berdasarkan pengamatan medis dalam ilmu kedokteran, peristiwa seseorang yang seketika hamil kemudian melahirkan merupakan kejadian diluar akal sehat, namun bisa saja terjadi.“Seseorang sengaja membuat dirinya hamil karena lantaran suatu kepentingan, itupun didasarkan atas keterangan dokter kandungan. Namun, peristiwa yang dialami Bekti itu merupakan kejadian luar biasa dan sulit dipahami dengan akal sehat,”pungkasnya.Sekedar mengingatkan, Warga Desa Kotanapal, Kecamatan Bungamayang, Lampung Utara (Lampura) geger. Pasalnya, Bekti Wahyuningsih (21) warga desa setempat, setelah merasakan perutnya sakit dan membesar selama 3,5 jam, kemudian langsung melahirkan bayi laki-laki normal. Padahal, wanita itu sebelumnya sama sekali tidak mengandung dan belum pernah berhubungan badan layaknya suami istri.Bayi ajaib tersebut lahir tepat pukul 18.30 WIB Sabtu (10/10). Ketika lahir, di telapak tangan kanan bayi itu sempat muncul bentuk putih seperti tulisan Arab berbunyi Rahmadani. Keajaiban berikutnya, saat lahir tubuh bayi yang memiliki berat 2,6 kilogram itu sangat bersih. Serta, beberapa jam kemudian bayi mungil itu sudah lincah bergerak, ke kanan dan ke kiri layaknya bayi yang sudah berumur lebih dari satu hari.(*)SUmber: http://www.radarkotabumi.com/Demikian berita tersebut saya baca,pertanyaan saya adalah :
Apakah mungkin hal itu terjadi? Sebab iman saya berkata kalau hanya Bunda Maria lah yang mengalami mujizat tersebut untuk kedatang SAng Juru Selamat?
Mohon komentarnya,saya sangat senang bila komentar ini juga dapat dikirim ke email saya.Terima kasih  banyak,Andry.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom,<br
/> Ibu Inggrid yg baik,saya ingin bertanya mengenai berita yg sedang beredar tentang kelahiran seorang anak yang sangat aneh.<br
/> ahir seorang bayi ajaib di Lampung Utara..</p><p>*******<br
/> Peristiwa lahirnya seorang bayi tanpa proses kehamilan normal yang dialami Bekti Wahyuningsih (21) warga Desa Kotanapal Kecamatan Bungamayang Lampung Utara (Lampura) beberapa waktu lalu, sampai kemarin (13/10) masih menjadi topik pembicaraan yang hangat dikalangan masyarakat Lampung Utara.</p><p>Sebagian besar warga menilai, kelahiran bayi laki-laki dengan berat 2,6 Kg itu merupakan kejadian langkah, hanya membutuhkan proses waktu selama 3,5 jam.</p><p>“ Proses kelahiran bayi laki-laki normal dalam waktu singkat ini benar-benar ajaib,” ucap Fitri (25), warga Kotabumi yang berstatus sebagai ibu rumah tangga ini.</p><p>Sementara, dokter spesialis kandungan dr. Salomo Tambunan S.POG menyatakan, terkait peristiwa Bekti yang melahirkan bayi tanpa sebelumnya hamil, dinilai tidak masuk akal dalam ilmu kedokteran. Karena, kejadian seperti itu belum pernah terjadi di wilayah Kabupaten Lampura.</p><p>“Kejadian itu benar-benar tidak masuk akal. Karena hampir 30 tahun saya menjadi dokter kandungan di Lampura, baru kali ini mendengar adanya peristiwa itu,” kata Salomo.</p><p>Dia juga menjelaskan, berdasarkan pengamatan medis dalam ilmu kedokteran, peristiwa seseorang yang seketika hamil kemudian melahirkan merupakan kejadian diluar akal sehat, namun bisa saja terjadi.</p><p>“Seseorang sengaja membuat dirinya hamil karena lantaran suatu kepentingan, itupun didasarkan atas keterangan dokter kandungan. Namun, peristiwa yang dialami Bekti itu merupakan kejadian luar biasa dan sulit dipahami dengan akal sehat,”pungkasnya.</p><p>Sekedar mengingatkan, Warga Desa Kotanapal, Kecamatan Bungamayang, Lampung Utara (Lampura) geger. Pasalnya, Bekti Wahyuningsih (21) warga desa setempat, setelah merasakan perutnya sakit dan membesar selama 3,5 jam, kemudian langsung melahirkan bayi laki-laki normal. Padahal, wanita itu sebelumnya sama sekali tidak mengandung dan belum pernah berhubungan badan layaknya suami istri.</p><p>Bayi ajaib tersebut lahir tepat pukul 18.30 WIB Sabtu (10/10). Ketika lahir, di telapak tangan kanan bayi itu sempat muncul bentuk putih seperti tulisan Arab berbunyi Rahmadani. Keajaiban berikutnya, saat lahir tubuh bayi yang memiliki berat 2,6 kilogram itu sangat bersih. Serta, beberapa jam kemudian bayi mungil itu sudah lincah bergerak, ke kanan dan ke kiri layaknya bayi yang sudah berumur lebih dari satu hari.(*)</p><p>SUmber: <a
href="http://www.radarkotabumi.com/" rel="nofollow">http://www.radarkotabumi.com/</a></p><p>Demikian berita tersebut saya baca,pertanyaan saya adalah :<br
/> Apakah mungkin hal itu terjadi? Sebab iman saya berkata kalau hanya Bunda Maria lah yang mengalami mujizat tersebut untuk kedatang SAng Juru Selamat?<br
/> Mohon komentarnya,saya sangat senang bila komentar ini juga dapat dikirim ke email saya.</p><p>Terima kasih  banyak,</p><p>Andry.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-7551</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Sun, 11 Oct 2009 22:26:32 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-7551</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Ling,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk mendefinisikan dosa berat, sebenarnya ada 3 hal yang harus dipenuhi yaitu:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi (lihat KGK 1857), yaitu: (1) Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) walaupun tahu itu salah, secara sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain &lt;strong&gt;seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maka dalam kasus kontrasepsi yang anda lakukan sesungguhnya anda sendiri dapat mengkategorikan, apakah ini dosa berat atau tidak. Karena dengan melakukan kontrasepsi sebetulnya anda menutup kemungkinan campur tangan Allah dalam hal penciptaan, dan melakukan perbuatan yang tidak sejalan dengan makna perkawinan yaitu untuk memberikan diri kepada pasangan seutuhnya, tanpa prasyarat. Lalu dalam kondisi demikian, anda menerima Tubuh Kristus dalam Komuni Kudus. Selanjutnya, anda mengetahui bahwa hal ini adalah sesuatu yang salah, dan anda tetap melakukannya meskipun anda tahu itu sesuatu yang salah. (Mungkin dahulu, sebelum anda mengetahuinya, anda tidak melakukan dosa berat, namun ceritanya jadi lain setelah anda mengetahui dan tetap melakukannya).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kalau boleh saya menganjurkan, maka memang silakan anda mendiskusikannya dengan suami anda (setelah berdoa bersama), apa yang sebenarnya menjadi pengajaran Gereja Katolik tentang makna Perkawinan dan bagaimana seharusnya sebagai pasangan, Ling dan suami menerapkannya. Perlu diingat bahwa di dalam hidup perkawinan Katolik, seharusnya Tuhan-lah yang harus ditempatkan di tempat pertama, dan bukan keinginan pasangan sendiri dalam mengatur kehidupan keluarga, dan terutama dalam hal pengaturan kelahiran.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya mengajak anda membaca artikel ini, Indah dan dalamnya makna Sakramen Perkawinan Katolik, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/14/indah-dan-dalamnya-makna-sakramen-perkawinan-katolik/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;, agar anda melihat bahwa sesungguhnya Allah memakai perkawinan sebagai gambaran akan kasih-Nya yang total kepada manusia. Sehingga kalau kita yang berjanji kepada Tuhan ingin hidup sesuai dengan gambaran kasih yang total itu, kemudian ternyata ingkar dengan menerapkan kasih yang &#039;tidak total&#039; dengan memakai kontrasepsi, maka, dapat dikatakan kita tidak hidup sesuai dengan panggilan hidup kita. Apalagi jika secara fakta, sebenarnya anda dan suami mampu, jika Tuhan mengaruniakan seorang anak lagi di dalam keluarga anda.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kita memang tidak boleh menerima Komuni, jika sedang dalam keadaan berdosa berat, namun bukan berarti kesimpulannya lebih baik tetap di dalam dosa berat dan tidak menerima Komuni. Ini sama saja meletakkan dosa di tempat yang lebih utama daripada Tuhan, atau memilih &#039;penyakit&#039; daripada &#039;obat&#039;. Maka, saran saya, sebaiknya anda (dan jika perlu bersama suami) mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan dosa, dan bukannya malah tidak mengikuti Misa. Selanjutnya sebagai langkah tobat, sebaiknya anda membuang spiral itu. Dan mulailah menerapkan KB Alamiah, jika anda memiliki alasan yang kuat untuk sedapat mungkin tidak mempunyai anak lagi. Saya memahami bahwa keputusan ini harus pula didukung oleh suami anda, dan karenanya memang sebaiknya anda mendiskusikannya dengan suami.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya juga menyarankan, agar anda membaca buku &lt;em&gt;Theology of the Body&lt;/em&gt; karangan Paus Yohanes Paulus II, yang telah diterjemahkan oleh Rm. Deshi Ramadhani S.J. agar anda dapat lebih memahami rencana Allah tentang bagaimana anda dapat hidup seturut kehendak Allah dalam mempersembahkan jiwa dan tubuh bagi kemuliaan nama Tuhan, sehingga anda dan suami dapat mengambil sikap yang tepat dalam kehidupan perkawinan anda. Semoga dengan mengikuti kehendak Allah, perkawinan anda sungguh diberkati oleh kebahagiaan, sukacita dan kasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati- www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Ling,</p><p>Untuk mendefinisikan dosa berat, sebenarnya ada 3 hal yang harus dipenuhi yaitu:</p><p>Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi (lihat KGK 1857), yaitu: (1) Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) walaupun tahu itu salah, secara sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain <strong>seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan</strong>.</p><p>Maka dalam kasus kontrasepsi yang anda lakukan sesungguhnya anda sendiri dapat mengkategorikan, apakah ini dosa berat atau tidak. Karena dengan melakukan kontrasepsi sebetulnya anda menutup kemungkinan campur tangan Allah dalam hal penciptaan, dan melakukan perbuatan yang tidak sejalan dengan makna perkawinan yaitu untuk memberikan diri kepada pasangan seutuhnya, tanpa prasyarat. Lalu dalam kondisi demikian, anda menerima Tubuh Kristus dalam Komuni Kudus. Selanjutnya, anda mengetahui bahwa hal ini adalah sesuatu yang salah, dan anda tetap melakukannya meskipun anda tahu itu sesuatu yang salah. (Mungkin dahulu, sebelum anda mengetahuinya, anda tidak melakukan dosa berat, namun ceritanya jadi lain setelah anda mengetahui dan tetap melakukannya).</p><p>Kalau boleh saya menganjurkan, maka memang silakan anda mendiskusikannya dengan suami anda (setelah berdoa bersama), apa yang sebenarnya menjadi pengajaran Gereja Katolik tentang makna Perkawinan dan bagaimana seharusnya sebagai pasangan, Ling dan suami menerapkannya. Perlu diingat bahwa di dalam hidup perkawinan Katolik, seharusnya Tuhan-lah yang harus ditempatkan di tempat pertama, dan bukan keinginan pasangan sendiri dalam mengatur kehidupan keluarga, dan terutama dalam hal pengaturan kelahiran.</p><p>Saya mengajak anda membaca artikel ini, Indah dan dalamnya makna Sakramen Perkawinan Katolik, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/14/indah-dan-dalamnya-makna-sakramen-perkawinan-katolik/" rel="nofollow">silakan klik</a>, agar anda melihat bahwa sesungguhnya Allah memakai perkawinan sebagai gambaran akan kasih-Nya yang total kepada manusia. Sehingga kalau kita yang berjanji kepada Tuhan ingin hidup sesuai dengan gambaran kasih yang total itu, kemudian ternyata ingkar dengan menerapkan kasih yang &#8216;tidak total&#8217; dengan memakai kontrasepsi, maka, dapat dikatakan kita tidak hidup sesuai dengan panggilan hidup kita. Apalagi jika secara fakta, sebenarnya anda dan suami mampu, jika Tuhan mengaruniakan seorang anak lagi di dalam keluarga anda.</p><p>Kita memang tidak boleh menerima Komuni, jika sedang dalam keadaan berdosa berat, namun bukan berarti kesimpulannya lebih baik tetap di dalam dosa berat dan tidak menerima Komuni. Ini sama saja meletakkan dosa di tempat yang lebih utama daripada Tuhan, atau memilih &#8216;penyakit&#8217; daripada &#8216;obat&#8217;. Maka, saran saya, sebaiknya anda (dan jika perlu bersama suami) mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan dosa, dan bukannya malah tidak mengikuti Misa. Selanjutnya sebagai langkah tobat, sebaiknya anda membuang spiral itu. Dan mulailah menerapkan KB Alamiah, jika anda memiliki alasan yang kuat untuk sedapat mungkin tidak mempunyai anak lagi. Saya memahami bahwa keputusan ini harus pula didukung oleh suami anda, dan karenanya memang sebaiknya anda mendiskusikannya dengan suami.</p><p>Saya juga menyarankan, agar anda membaca buku <em>Theology of the Body</em> karangan Paus Yohanes Paulus II, yang telah diterjemahkan oleh Rm. Deshi Ramadhani S.J. agar anda dapat lebih memahami rencana Allah tentang bagaimana anda dapat hidup seturut kehendak Allah dalam mempersembahkan jiwa dan tubuh bagi kemuliaan nama Tuhan, sehingga anda dan suami dapat mengambil sikap yang tepat dalam kehidupan perkawinan anda. Semoga dengan mengikuti kehendak Allah, perkawinan anda sungguh diberkati oleh kebahagiaan, sukacita dan kasih.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/>Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ling</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-7436</link> <dc:creator>Ling</dc:creator> <pubDate>Thu, 08 Oct 2009 15:53:13 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-7436</guid> <description>Shalom Bu Inggrid,Pemakaian kontrasepsi selain KB alamiah, apakah semuanya termasuk dosa berat? Jika demikian, bukankah semua pasangan yang menggunakan kontrasepsi dan berbagai cara pencegahan pembuahan (baik kondom, spiral, coitus interuptus, masturbasi sendiri ataupun  dengan bantuan pasangan) dan menerima komuni malah semakin berdosa (dosa sakrilegi)?Saya selama ini menggunakan kondom dan sebelumnya malah pernah menggunakan spiral tapi sampai sekarang belum mengaku dosa untuk itu. Sudah satu bulan lebih, saya tiap pagi menghadiri misa harian dan menerima komuni. Apakah sebaiknya saya malah harus menghentikan kebiasaan misa harian supaya tidak makin berdosa?
Mohon pencerahan.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Bu Inggrid,</p><p>Pemakaian kontrasepsi selain KB alamiah, apakah semuanya termasuk dosa berat? Jika demikian, bukankah semua pasangan yang menggunakan kontrasepsi dan berbagai cara pencegahan pembuahan (baik kondom, spiral, coitus interuptus, masturbasi sendiri ataupun  dengan bantuan pasangan) dan menerima komuni malah semakin berdosa (dosa sakrilegi)?</p><p>Saya selama ini menggunakan kondom dan sebelumnya malah pernah menggunakan spiral tapi sampai sekarang belum mengaku dosa untuk itu. Sudah satu bulan lebih, saya tiap pagi menghadiri misa harian dan menerima komuni. Apakah sebaiknya saya malah harus menghentikan kebiasaan misa harian supaya tidak makin berdosa?<br
/> Mohon pencerahan.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-6248</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Fri, 04 Sep 2009 20:40:22 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-6248</guid> <description>Shalom Michael,
Terima kasih atas koreksi anda. Memang suara hati tidak menjamin secara pasti mewakili suara Tuhan. Namun &lt;b&gt;suara hati yang &#039;menyalahkan&#039; dalam artian membawa ke arah pertobatan ataupun menghidari dosa itu adalah pasti suara Tuhan&lt;/b&gt;. Sebab adalah tugas dari Roh Kudus adalah &quot;menginsafkan kita akan dosa, kebenaran dan penghakiman.&quot; (Yoh 16:8). Dan sesungguhnya inilah yang saya maksud dalam tulisan saya di atas. Maka saya menuliskan, &quot;Suatu permenungan adalah, pada saat pertama seseorang membeli alat kontrasepsi, adakah hatinya bergumul? Umumnya ya. Kenapa demikian? Karena suara hati mereka &#8211;yang adalah suara Tuhan- melarangnya.......Jika kemudian orang tersebut merasa &#8216;terbiasa&#8217;, hal ini disebabkan karena suara hatinya berangsur &#8216;tumpul&#8217; karena pengaruh media dan dunia....&#8221;
Dengan membaca keseluruhan maka sebenarnya bisa diketahui, karena suara hati bisa &#039;tumpul&#039; dan terpengaruh oleh dunia, maka suara hati memang tidak identik dengan suara Tuhan.
Jadi terima kasih atas masukan anda, saya telah mengubah kalimat saya dalam artikel tersebut, untuk memperjelas maksud saya, menjadi demikian:
&quot;Suatu permenungan adalah, pada saat pertama seseorang membeli alat kontrasepsi, adakah hatinya bergumul? Umumnya ya. Kenapa demikian? Karena suara hati mereka melarangnya. Dalam kasus ini, suara hati mereka yang &#8216;melarang&#8217; mereka adalah suara Tuhan, karena dalam hal ini Roh Kudus sebenarnya telah mendorong mereka untuk tidak melakukan dosa.&quot;
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org
&#160;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Michael,<br
/> Terima kasih atas koreksi anda. Memang suara hati tidak menjamin secara pasti mewakili suara Tuhan. Namun <b>suara hati yang &#8216;menyalahkan&#8217; dalam artian membawa ke arah pertobatan ataupun menghidari dosa itu adalah pasti suara Tuhan</b>. Sebab adalah tugas dari Roh Kudus adalah &quot;menginsafkan kita akan dosa, kebenaran dan penghakiman.&quot; (Yoh 16:8). Dan sesungguhnya inilah yang saya maksud dalam tulisan saya di atas. Maka saya menuliskan, &quot;Suatu permenungan adalah, pada saat pertama seseorang membeli alat kontrasepsi, adakah hatinya bergumul? Umumnya ya. Kenapa demikian? Karena suara hati mereka &ndash;yang adalah suara Tuhan- melarangnya&#8230;&#8230;.Jika kemudian orang tersebut merasa &lsquo;terbiasa&rsquo;, hal ini disebabkan karena suara hatinya berangsur &lsquo;tumpul&rsquo; karena pengaruh media dan dunia&#8230;.&rdquo;<br
/> Dengan membaca keseluruhan maka sebenarnya bisa diketahui, karena suara hati bisa &#8216;tumpul&#8217; dan terpengaruh oleh dunia, maka suara hati memang tidak identik dengan suara Tuhan.<br
/> Jadi terima kasih atas masukan anda, saya telah mengubah kalimat saya dalam artikel tersebut, untuk memperjelas maksud saya, menjadi demikian:<br
/> &quot;Suatu permenungan adalah, pada saat pertama seseorang membeli alat kontrasepsi, adakah hatinya bergumul? Umumnya ya. Kenapa demikian? Karena suara hati mereka melarangnya. Dalam kasus ini, suara hati mereka yang &lsquo;melarang&rsquo; mereka adalah suara Tuhan, karena dalam hal ini Roh Kudus sebenarnya telah mendorong mereka untuk tidak melakukan dosa.&quot;<br
/> Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> &nbsp;</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Michael Angello</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-6219</link> <dc:creator>Michael Angello</dc:creator> <pubDate>Thu, 03 Sep 2009 20:01:10 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-6219</guid> <description>Syalom..........Tuhan memberkati Indonesia........Berikut ini saya mengutip sebuah kalimat dalam tulisan diatas :
&quot;Suatu permenungan adalah, pada saat pertama seseorang membeli alat kontrasepsi, adakah hatinya bergumul? Umumnya ya. Kenapa demikian? Karena suara hati mereka –yang adalah suara Tuhan- melarangnya.&quot;Comment :
Suara hati adalah bukan suara Tuhan karena suara Tuhan tidak dapat salah sedangkan suara hati bisa keliru. Karena suara hati dibentuk dari pemahaman manusia akan moralitas yg nantinya membentuk sistem keyakinannya sendiri yaitu sistem keyakinan BENAR atau SALAH. Pemahaman manusia ini dibatasi oleh banyak kelemahan manusia sehingga rentan keliru. Maka suara hati dapat keliru. Sedangkan suara Tuhan adalah Tuhan sendiri yg berbicara........karena Tuhan sendiri yg berbicara maka suara-Nya tidak dapat keliru atau salah sebab Dia tidak pernah salah.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Syalom&#8230;&#8230;&#8230;.Tuhan memberkati Indonesia&#8230;&#8230;..</p><p>Berikut ini saya mengutip sebuah kalimat dalam tulisan diatas :<br
/> &#8220;Suatu permenungan adalah, pada saat pertama seseorang membeli alat kontrasepsi, adakah hatinya bergumul? Umumnya ya. Kenapa demikian? Karena suara hati mereka –yang adalah suara Tuhan- melarangnya.&#8221;</p><p>Comment :<br
/> Suara hati adalah bukan suara Tuhan karena suara Tuhan tidak dapat salah sedangkan suara hati bisa keliru. Karena suara hati dibentuk dari pemahaman manusia akan moralitas yg nantinya membentuk sistem keyakinannya sendiri yaitu sistem keyakinan BENAR atau SALAH. Pemahaman manusia ini dibatasi oleh banyak kelemahan manusia sehingga rentan keliru. Maka suara hati dapat keliru. Sedangkan suara Tuhan adalah Tuhan sendiri yg berbicara&#8230;&#8230;..karena Tuhan sendiri yg berbicara maka suara-Nya tidak dapat keliru atau salah sebab Dia tidak pernah salah.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-3900</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Tue, 23 Jun 2009 02:43:42 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-3900</guid> <description>Shalom Skywaker,
1) Sebelum Bapa Paus Paulus VI mengeluarkan ensiklikal Humanae Vitae (HV), beliau sudah mendengarkan pendapat para ahli dari berbagai bidang, dan tentu juga melalui proses doa yang panjang. Jadi pastilah apa yang dituliskannya itu, bukan hanya sekedar &#039;asal&#039; saja, atau didasari observasi pengalaman dari sekelompok orang saja. Data yang saya sampaikan di dalam artikel saya tersebut, tentang hubungan antara angka perceraian dengan penggunaan alat kontrasepsi itu tidak menjadi dasar bagi Bapa Paus untuk mengeluarkan pernyataan dalam Humanae Vitae. Sebab hasil survey itu dilakukan malah setelah satu generasi sesudah Humanae Vitae tersebut ditulis. Jadi survey yang dilakukan di Amerika itu dilakukan setelah HV lama dikeluarkan, dan malah menjadi sejumlah bukti dari apa yang telah dikatakan oleh Bapa Paus, bahwa jika alat kontrasepsi ini digunakan secara luas, maka dapat terjadi peningkatan angka perceraian. Dan ini memang yang terjadi di masa sekarang ini, tidak saja di Amerika tetapi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.2) Mengenai argumen yang ditulis dalam HV 17, &quot;Sebab dengan mental kontraseptif, sedikit demi sedikit suami cenderung menjadikan istri sebagai objek untuk pemuasan diri daripada menghormatinya sebagai pasangan yang terkasih. Lama kelamaan respek kepada istri akan hilang, dan suami akan menjadi kurang/ tidak peduli dengan kesehatan fisik dan mental istri.&quot; Saya percaya, bahwa Bapa Paus menuliskan demikian, bukan untuk membedakan seolah-olah bahwa wanita sama sekali tidak memiliki dorongan seksual ataupun&#160; hanya pria saja yang patut bertanggung jawab dalam hal ini. Tetapi beliau melihat kenyataan bahwa memang secara biologis, pria memang lebih mempunyai kecenderungan dalam dorongan seksual, sebab, tidak seperti wanita, para pria tidak mengalami datang bulan, sehingga secara alamiah, kondisi hormonalnya tentu berbeda dengan wanita. Sehingga tak mengherankan jika secara objektif/ alamiah diperlukan usaha pengendalian diri yang lebih besar dari pihak pria, daripada wanita, untuk mengatur hal ini.3) Mengenai side-effects/ akibat samping dari penggunaan alat kontrasepsi, silakan membaca di link ini (&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;) Ada banyak sekali akibat penyakit yang bisa ditimbulkan, sangat bervariasi, sebagai akibat dari penggunanaan pil, suntik, Spiral (IUD) bahkan kondom.Ini saya hanya menyebutkan sebagian kecil saja.
Contohnya akibat samping dari pil KB:
The birth control pill increases the risk of breast cancer by over 40% if it is taken before a woman delivers her first baby.&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#4&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;4 &lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; This risk increases by 70% if the Pill is used for four or more years before the woman&#8217;s first child is born.&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#5&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;5 &lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;Other side effects that women have experienced include high blood pressure, blood clots, stroke, heart attack, depression, weight gain, and migraines. Diabetics who take oral contraceptives may note increased sugar levels. Some women who stop taking the Pill do not have a return of their fertility (menstrual cycles) for a year, or even longer. Although the Pill decreases ovarian and some uterine cancers, it increases breast, liver, and cervical cancer.&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#4&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;4 &lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; At least three studies have noted that the AIDS virus is transmitted more easily to women who are taking the Pill if their partner(s) have the HIV virus. &lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#6&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;6 &lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#7&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;7 &lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#8&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;8 &lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;Akibat dari sterilisasi yang permanen:
Pada wanita:
Tubal ligation does not always prevent conception. When conception does occur, it is associated with a much higher incidence of ectopic pregnancy,&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#22&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;22&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; which, as was noted, is the leading cause of death in pregnant women. In addition, women who undergo the procedure may experience complications from the anesthesia or from surgery. Complications include bladder puncture, bleeding, and even cardiac arrest after inflation of the abdomen with carbon dioxide.&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#23&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;23&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; Some women who have undergone a tubal ligation experience a syndrome of intermittent vaginal bleeding associated with severe cramping pain in the lower abdomen.&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#24&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;24&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; Reduced intimacy, lower libido, and a greater risk for hysterectomy often follow tubal ligation; deep regret for having been sterilized is common.Pada Pria:
About 50% of men who undergo a vasectomy will develop anti-sperm antibodies.&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#25&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;25&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; In essence, their bodies will come to recognize their own sperm as &#8220;the enemy.&#8221; This could lead to a higher incidence of autoimmune disease. Several studies have noted that men who undergo a vasectomy have a higher incidence of developing prostate cancer, especially 15-20 years after their vasectomy,&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#26&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;26&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#27&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;27&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#28&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;28&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#29&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;29&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; although one large study did not find a link.&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#30&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;30&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;Side- effects/ Akibat penggunaan kondom:
The condom does not adequately stop the transmission of the AIDS virus. CM Rowland, PhD, editor of &lt;em&gt;Rubber Chemistry and Technology&lt;/em&gt;, tells us that electron micrographs (pictures taken with a very powerful microscope) reveal voids (holes) in the condom that are up to 50 times bigger than the HIV particle.&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#16&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;16&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&#160; At least one study has noted that women who use barrier methods such as the diaphragm or condom, or the withdrawal method, had a 137% increased risk of developing preeclampsia.&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#17&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;17&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; Preeclampsia, a complication occurring in some pregnant women, is a syndrome of high blood pressure, fluid retention, and kidney damage, which may eventually lead to prolonged seizures and/or coma. It is theorized that exposure to the male&#8217;s sperm plays a protective role against preeclampsia.
3) Namun, sebenarnya, bukan effek medis yang membuat penggunaan kondom dilarang menurut ajaran HV ini, tetapi secara moral, penggunaan kondom tidak sesuai dengan maksud Allah yang menjunjung tinggi hubungan kasih suami istri yang total. Hal ini sudah pernah dibahas di sini. Silakan membaca tanya jawab di sini (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2009/01/07/tentang-kondom-dan-kb-alamiah/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;)
Penggunaan kondom sebenarnya memisahkan peran pro-union dan pro-creation, sesuatu yang bertentangan dengan hakekat hubungan suami istri sebagaimana telah ditetapkan oleh Tuhan. Pemakaian kondom juga tidak menggambarkan makna persatuan yang total/ total self-giving dari suami dan istri. Jadi singkatnya, hubungan suami istri yang harusnya merupakan bukti kasih yang total, tidak diwujudkan dengan benar sebagaimana seharusnya, karena &#039;total&#039; berarti tidak ada yang dibuang/ ditolak.4) KB Alamiah yang pada prinsipnya tidak melakukan hubungan pada masa subur tidak sama artinya dengan penggunaan alat kontrasepsi. Silakan membaca juga jawaban pada rangkaian tanya jawab yang saya sebutkan pada point 3, di sana saya pernah menuliskan alasannya. Memang mental kontraseptif apalagi yang jelas-jelas menolak keturunan sebenarnya tidak sesuai dengan maksud perkawinan Katolik yang ditujukan untuk kesejahteraan suami istri dan pendidikan anak-anak. Namun demikian, jika pasangan memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, maka, KB alamiah merupakan pilihan yang dapat diterima oleh Gereja Katolik, justru karena pada KB Alamiah, tidak terjadi pemisahan antara fungsi union dan pro-creation. Karena pada saat berpantang, memang tidak ada &lt;em&gt;pro-creation&lt;/em&gt; karena pada saat itu tidak dilakukan &lt;em&gt;union&lt;/em&gt;.
Semoga uraian ini dapat bermanfaat.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Skywaker,<br
/> 1) Sebelum Bapa Paus Paulus VI mengeluarkan ensiklikal Humanae Vitae (HV), beliau sudah mendengarkan pendapat para ahli dari berbagai bidang, dan tentu juga melalui proses doa yang panjang. Jadi pastilah apa yang dituliskannya itu, bukan hanya sekedar &#8216;asal&#8217; saja, atau didasari observasi pengalaman dari sekelompok orang saja. Data yang saya sampaikan di dalam artikel saya tersebut, tentang hubungan antara angka perceraian dengan penggunaan alat kontrasepsi itu tidak menjadi dasar bagi Bapa Paus untuk mengeluarkan pernyataan dalam Humanae Vitae. Sebab hasil survey itu dilakukan malah setelah satu generasi sesudah Humanae Vitae tersebut ditulis. Jadi survey yang dilakukan di Amerika itu dilakukan setelah HV lama dikeluarkan, dan malah menjadi sejumlah bukti dari apa yang telah dikatakan oleh Bapa Paus, bahwa jika alat kontrasepsi ini digunakan secara luas, maka dapat terjadi peningkatan angka perceraian. Dan ini memang yang terjadi di masa sekarang ini, tidak saja di Amerika tetapi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.</p><p>2) Mengenai argumen yang ditulis dalam HV 17, &quot;Sebab dengan mental kontraseptif, sedikit demi sedikit suami cenderung menjadikan istri sebagai objek untuk pemuasan diri daripada menghormatinya sebagai pasangan yang terkasih. Lama kelamaan respek kepada istri akan hilang, dan suami akan menjadi kurang/ tidak peduli dengan kesehatan fisik dan mental istri.&quot; Saya percaya, bahwa Bapa Paus menuliskan demikian, bukan untuk membedakan seolah-olah bahwa wanita sama sekali tidak memiliki dorongan seksual ataupun&nbsp; hanya pria saja yang patut bertanggung jawab dalam hal ini. Tetapi beliau melihat kenyataan bahwa memang secara biologis, pria memang lebih mempunyai kecenderungan dalam dorongan seksual, sebab, tidak seperti wanita, para pria tidak mengalami datang bulan, sehingga secara alamiah, kondisi hormonalnya tentu berbeda dengan wanita. Sehingga tak mengherankan jika secara objektif/ alamiah diperlukan usaha pengendalian diri yang lebih besar dari pihak pria, daripada wanita, untuk mengatur hal ini.</p><p>3) Mengenai side-effects/ akibat samping dari penggunaan alat kontrasepsi, silakan membaca di link ini (<a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php" rel="nofollow">silakan klik</a>) Ada banyak sekali akibat penyakit yang bisa ditimbulkan, sangat bervariasi, sebagai akibat dari penggunanaan pil, suntik, Spiral (IUD) bahkan kondom.Ini saya hanya menyebutkan sebagian kecil saja.<br
/> Contohnya akibat samping dari pil KB:<br
/> The birth control pill increases the risk of breast cancer by over 40% if it is taken before a woman delivers her first baby.<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#4" rel="nofollow">4 </a></strong> This risk increases by 70% if the Pill is used for four or more years before the woman&rsquo;s first child is born.<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#5" rel="nofollow">5 </a></strong>Other side effects that women have experienced include high blood pressure, blood clots, stroke, heart attack, depression, weight gain, and migraines. Diabetics who take oral contraceptives may note increased sugar levels. Some women who stop taking the Pill do not have a return of their fertility (menstrual cycles) for a year, or even longer. Although the Pill decreases ovarian and some uterine cancers, it increases breast, liver, and cervical cancer.<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#4" rel="nofollow">4 </a></strong> At least three studies have noted that the AIDS virus is transmitted more easily to women who are taking the Pill if their partner(s) have the HIV virus. <strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#6" rel="nofollow">6 </a>, <a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#7" rel="nofollow">7 </a>, <a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#8" rel="nofollow">8 </a></strong></p><p>Akibat dari sterilisasi yang permanen:<br
/> Pada wanita:<br
/> Tubal ligation does not always prevent conception. When conception does occur, it is associated with a much higher incidence of ectopic pregnancy,<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#22" rel="nofollow">22</a></strong> which, as was noted, is the leading cause of death in pregnant women. In addition, women who undergo the procedure may experience complications from the anesthesia or from surgery. Complications include bladder puncture, bleeding, and even cardiac arrest after inflation of the abdomen with carbon dioxide.<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#23" rel="nofollow">23</a></strong> Some women who have undergone a tubal ligation experience a syndrome of intermittent vaginal bleeding associated with severe cramping pain in the lower abdomen.<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#24" rel="nofollow">24</a></strong> Reduced intimacy, lower libido, and a greater risk for hysterectomy often follow tubal ligation; deep regret for having been sterilized is common.</p><p>Pada Pria:<br
/> About 50% of men who undergo a vasectomy will develop anti-sperm antibodies.<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#25" rel="nofollow">25</a></strong> In essence, their bodies will come to recognize their own sperm as &ldquo;the enemy.&rdquo; This could lead to a higher incidence of autoimmune disease. Several studies have noted that men who undergo a vasectomy have a higher incidence of developing prostate cancer, especially 15-20 years after their vasectomy,<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#26" rel="nofollow">26</a>, <a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#27" rel="nofollow">27</a>, <a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#28" rel="nofollow">28</a>, <a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#29" rel="nofollow">29</a></strong> although one large study did not find a link.<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#30" rel="nofollow">30</a></strong></p><p>Side- effects/ Akibat penggunaan kondom:<br
/> The condom does not adequately stop the transmission of the AIDS virus. CM Rowland, PhD, editor of <em>Rubber Chemistry and Technology</em>, tells us that electron micrographs (pictures taken with a very powerful microscope) reveal voids (holes) in the condom that are up to 50 times bigger than the HIV particle.<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#16" rel="nofollow">16</a></strong>&nbsp; At least one study has noted that women who use barrier methods such as the diaphragm or condom, or the withdrawal method, had a 137% increased risk of developing preeclampsia.<strong><a
href="http://www.omsoul.com/contraception-side-effects.php#17" rel="nofollow">17</a></strong> Preeclampsia, a complication occurring in some pregnant women, is a syndrome of high blood pressure, fluid retention, and kidney damage, which may eventually lead to prolonged seizures and/or coma. It is theorized that exposure to the male&rsquo;s sperm plays a protective role against preeclampsia.<br
/> 3) Namun, sebenarnya, bukan effek medis yang membuat penggunaan kondom dilarang menurut ajaran HV ini, tetapi secara moral, penggunaan kondom tidak sesuai dengan maksud Allah yang menjunjung tinggi hubungan kasih suami istri yang total. Hal ini sudah pernah dibahas di sini. Silakan membaca tanya jawab di sini (<a
href="http://katolisitas.org/2009/01/07/tentang-kondom-dan-kb-alamiah/" rel="nofollow">silakan klik</a>)<br
/> Penggunaan kondom sebenarnya memisahkan peran pro-union dan pro-creation, sesuatu yang bertentangan dengan hakekat hubungan suami istri sebagaimana telah ditetapkan oleh Tuhan. Pemakaian kondom juga tidak menggambarkan makna persatuan yang total/ total self-giving dari suami dan istri. Jadi singkatnya, hubungan suami istri yang harusnya merupakan bukti kasih yang total, tidak diwujudkan dengan benar sebagaimana seharusnya, karena &#8216;total&#8217; berarti tidak ada yang dibuang/ ditolak.</p><p>4) KB Alamiah yang pada prinsipnya tidak melakukan hubungan pada masa subur tidak sama artinya dengan penggunaan alat kontrasepsi. Silakan membaca juga jawaban pada rangkaian tanya jawab yang saya sebutkan pada point 3, di sana saya pernah menuliskan alasannya. Memang mental kontraseptif apalagi yang jelas-jelas menolak keturunan sebenarnya tidak sesuai dengan maksud perkawinan Katolik yang ditujukan untuk kesejahteraan suami istri dan pendidikan anak-anak. Namun demikian, jika pasangan memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, maka, KB alamiah merupakan pilihan yang dapat diterima oleh Gereja Katolik, justru karena pada KB Alamiah, tidak terjadi pemisahan antara fungsi union dan pro-creation. Karena pada saat berpantang, memang tidak ada <em>pro-creation</em> karena pada saat itu tidak dilakukan <em>union</em>.<br
/> Semoga uraian ini dapat bermanfaat.<br
/> Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-3874</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Sun, 21 Jun 2009 20:44:35 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-3874</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Skywalker,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas pertanyaannya. KHK (Kitab Hukum Kanonik), 332 &#167; 2. mengatakan &quot;&lt;em&gt;Apabila Paus mengundurkan diri dari jabatannya, untuk sahnya dituntut agar pengunduran diri itu terjadi dengan bebas dan dinyatakan semestinya, tetapi tidak dituntut bahwa harus diterima oleh siapapun.&lt;/em&gt;&quot; Jadi mungkin saja seorang Paus mengundurkan diri. Namun dari sejarah kita belajar bahwa pada saat seorang Paus mengundurkan diri/ dipaksa mengundurkan diri, maka akan terjadi kekacauan yang tidak diinginkan. Kita dapat melihat ada beberapa Paus yang mengundurkan diri atau dipaksa mengundurkan diri, seperti: St. Pontian (di asingkan ke Sardinia sampai meninggal di sana), St. Silverius (dipaksa mengundurkan diri oleh ratu Byzantine, Theodora), Paus Martin I, dll. Namun, kalau kita melihat pengunduran diri maupun pemaksaan pengunduran diri terjadi pada waktu kondisi yang kacau.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi, alangkan lebih baik jika seorang Paus dapat meninggal secara normal, sehingga dapat dipilih penggantinya dengan baik. Untuk ini, kita hanya dapat berdoa agar Tuhan memberikan kekuatan kepada Paus dan kalau tiba saatnya pergantian Paus, maka semua proses dapat berjalan dengan baik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br&gt;
stef - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Skywalker,</p><p>Terima kasih atas pertanyaannya. KHK (Kitab Hukum Kanonik), 332 &sect; 2. mengatakan &quot;<em>Apabila Paus mengundurkan diri dari jabatannya, untuk sahnya dituntut agar pengunduran diri itu terjadi dengan bebas dan dinyatakan semestinya, tetapi tidak dituntut bahwa harus diterima oleh siapapun.</em>&quot; Jadi mungkin saja seorang Paus mengundurkan diri. Namun dari sejarah kita belajar bahwa pada saat seorang Paus mengundurkan diri/ dipaksa mengundurkan diri, maka akan terjadi kekacauan yang tidak diinginkan. Kita dapat melihat ada beberapa Paus yang mengundurkan diri atau dipaksa mengundurkan diri, seperti: St. Pontian (di asingkan ke Sardinia sampai meninggal di sana), St. Silverius (dipaksa mengundurkan diri oleh ratu Byzantine, Theodora), Paus Martin I, dll. Namun, kalau kita melihat pengunduran diri maupun pemaksaan pengunduran diri terjadi pada waktu kondisi yang kacau.</p><p>Jadi, alangkan lebih baik jika seorang Paus dapat meninggal secara normal, sehingga dapat dipilih penggantinya dengan baik. Untuk ini, kita hanya dapat berdoa agar Tuhan memberikan kekuatan kepada Paus dan kalau tiba saatnya pergantian Paus, maka semua proses dapat berjalan dengan baik.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: skywalker</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-3747</link> <dc:creator>skywalker</dc:creator> <pubDate>Thu, 11 Jun 2009 16:04:54 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-3747</guid> <description>[quote] Fakta bahwa Paus Yohanes Paulus II yang walaupun sudah sangat lemah dan renta karena penyakit Parkinson, dan tetap mau terus mengemban tugasnya sebagai Paus [unquote]apa pernah Paus mengundurkan diri atas alasan kesehatan ? apakah ini dimungkinkan menurut hukum gereja ? gereja yang besar memerlukan pemimpin yang sehat secara fisik bukan ? after all dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Tubuh yang sakit tidak menjamin jiwa yang sehat</description> <content:encoded><![CDATA[<p>[quote] Fakta bahwa Paus Yohanes Paulus II yang walaupun sudah sangat lemah dan renta karena penyakit Parkinson, dan tetap mau terus mengemban tugasnya sebagai Paus [unquote]</p><p>apa pernah Paus mengundurkan diri atas alasan kesehatan ? apakah ini dimungkinkan menurut hukum gereja ? gereja yang besar memerlukan pemimpin yang sehat secara fisik bukan ? after all dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Tubuh yang sakit tidak menjamin jiwa yang sehat</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: skywalker</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-3744</link> <dc:creator>skywalker</dc:creator> <pubDate>Thu, 11 Jun 2009 15:40:29 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-3744</guid> <description>[quote] Sebab dengan mental kontraseptif, sedikit demi sedikit suami cenderung menjadikan istri sebagai objek untuk pemuasan diri daripada menghormatinya sebagai pasangan yang terkasih. Lama kelamaan respek kepada istri akan hilang, dan suami akan menjadi kurang/ tidak peduli dengan kesehatan fisik dan mental istri (HV 17). Hal ini nyata sekali terjadi saat ini, misalnya saja di Amerika, dengan angka perceraian 50% pada pernikahan pertama, 67% pada pernikahan kedua, dan 74% pada pernikahan ketiga.[7] Dan survey mengatakan hampir semua dari pasangan yang bercerai itu menggunakan kontrasepsi. [quote]IMHO argumen yang pertama [quote] Sebab dengan mental kontraseptif, sedikit demi sedikit suami cenderung menjadikan istri sebagai objek untuk pemuasan diri daripada menghormatinya sebagai pasangan yang terkasih [unquote] mengandaikan hanya pria saja yang berminat pada hubungan seksual - apa benar demikian ?
argumen kedua [quote] Lrama kelamaan respek kepada istri akan hilang, dan suami akan menjadi kurang/ tidak peduli dengan kesehatan fisik dan mental istri (HV 17).[unquote] didasarkan pada data angka perceraian di amerika ? pasangan amerika bercerai karena mereka menggunakan kontrasepsi? benarkah demikian ? lalu apakah yang valid untuk amerika juga valid untuk seluruh duniia sehingga Paus mengeluarkan edaran HV ?[quote] meningkatnya jumlah dan jenis penyakit wanita sebagai akibat penggunaan kontrasepsi [unquote]
mohon referensi yang dimaksud “jumlah dan jenis penyakit wanita sebagai akibat penggunaan kontrasepsi”[quote melawan tubuh karena memasukkan benda ataupun ‘racun’ yang merusak tubuh [unquote]
kecuali mungkin : kondom[quote] tidak melakukan hubungan suami istri pada masa subur istri.[unquote] versus [quote] kontrasepsi, (1) melawan kehendak Tuhan yang telah memberi tugas untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan-Nya, sebab sejak awal Allah menjadikan hubungan suami istri sebagai sesuatu yang sakral yang terbuka pada kemungkinan akan kelahiran ciptaan-Nya yang baru [unquote]
dengan sengaja tidak berhubungan seksual maka kita memutuskan untuk tidak mengambil bagian dalam karya penciptaan - bagaimana ?mohon pencerahan</description> <content:encoded><![CDATA[<p>[quote] Sebab dengan mental kontraseptif, sedikit demi sedikit suami cenderung menjadikan istri sebagai objek untuk pemuasan diri daripada menghormatinya sebagai pasangan yang terkasih. Lama kelamaan respek kepada istri akan hilang, dan suami akan menjadi kurang/ tidak peduli dengan kesehatan fisik dan mental istri (HV 17). Hal ini nyata sekali terjadi saat ini, misalnya saja di Amerika, dengan angka perceraian 50% pada pernikahan pertama, 67% pada pernikahan kedua, dan 74% pada pernikahan ketiga.[7] Dan survey mengatakan hampir semua dari pasangan yang bercerai itu menggunakan kontrasepsi. [quote]</p><p>IMHO argumen yang pertama [quote] Sebab dengan mental kontraseptif, sedikit demi sedikit suami cenderung menjadikan istri sebagai objek untuk pemuasan diri daripada menghormatinya sebagai pasangan yang terkasih [unquote] mengandaikan hanya pria saja yang berminat pada hubungan seksual &#8211; apa benar demikian ?<br
/> argumen kedua [quote] Lrama kelamaan respek kepada istri akan hilang, dan suami akan menjadi kurang/ tidak peduli dengan kesehatan fisik dan mental istri (HV 17).[unquote] didasarkan pada data angka perceraian di amerika ? pasangan amerika bercerai karena mereka menggunakan kontrasepsi? benarkah demikian ? lalu apakah yang valid untuk amerika juga valid untuk seluruh duniia sehingga Paus mengeluarkan edaran HV ?</p><p>[quote] meningkatnya jumlah dan jenis penyakit wanita sebagai akibat penggunaan kontrasepsi [unquote]<br
/> mohon referensi yang dimaksud “jumlah dan jenis penyakit wanita sebagai akibat penggunaan kontrasepsi”</p><p>[quote melawan tubuh karena memasukkan benda ataupun ‘racun’ yang merusak tubuh [unquote]<br
/> kecuali mungkin : kondom</p><p>[quote] tidak melakukan hubungan suami istri pada masa subur istri.[unquote] versus [quote] kontrasepsi, (1) melawan kehendak Tuhan yang telah memberi tugas untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan-Nya, sebab sejak awal Allah menjadikan hubungan suami istri sebagai sesuatu yang sakral yang terbuka pada kemungkinan akan kelahiran ciptaan-Nya yang baru [unquote]<br
/> dengan sengaja tidak berhubungan seksual maka kita memutuskan untuk tidak mengambil bagian dalam karya penciptaan &#8211; bagaimana ?</p><p>mohon pencerahan</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/comment-page-1/#comment-1797</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Thu, 12 Feb 2009 18:14:08 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/#comment-1797</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Bernad, &lt;br /&gt;
Terimakasih atas sharing anda. Ya, Tuhan mempunyai banyak cara untuk memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Namun memang sebagai orang Katolik kita sebaiknya tidak menggantungkan pengertian kita kepada mimpi-mimpi, namun lebih kepada hubungan komunikasi kita dengan Tuhan, melalui doa dan sakramen. Jika memang kita mendapat mimpi, maka sebaiknya hal itu kita bawa di dalam doa, agar kita juga mendapat peneguhan di dalam batin, apakah memang itu berasal dari Tuhan, ataukah dari diri sendiri. Jadi hanya dengan hubungan yang akrab dengan Tuhan, maka kita dapat membedakan pesan mimpi ataupun penglihatan, apakah hal itu berasal dari Tuhan dari iblis, atau dari diri sendiri. &lt;br /&gt;
Jika dari Tuhan, maka buahnya adalah damai sejahtera di hati. Memang jika kita tidak ikut Tuhan dan tidak percaya kepada-Nya, maka hidup kita akan sengsara, dalam arti kita tidak punya tujuan hidup, dan kita tidak tahu apa arti hidup ini. Padahal dengan mengikuti Dia dan segala perintah-Nya, maka Tuhan akan membimbing kita menuju kebahagiaan sejati, yang nantinya menghantar kita kepada kehidupan yang kekal. Hidup di duniapun menjadi penuh arti, karena merupakan persiapan kita pada kehidupan kita yang sesungguhnya, saat kita berjumpa dengan-Nya di surga nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, bersyukurlah atas kasih Tuhan dan kesembuhan yang Tuhan berikan kepadamu, dan mohon pada Tuhan agar membimbing dalam perkembangan imanmu selanjutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
Ingrid Listiati&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Bernad, <br
/> Terimakasih atas sharing anda. Ya, Tuhan mempunyai banyak cara untuk memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Namun memang sebagai orang Katolik kita sebaiknya tidak menggantungkan pengertian kita kepada mimpi-mimpi, namun lebih kepada hubungan komunikasi kita dengan Tuhan, melalui doa dan sakramen. Jika memang kita mendapat mimpi, maka sebaiknya hal itu kita bawa di dalam doa, agar kita juga mendapat peneguhan di dalam batin, apakah memang itu berasal dari Tuhan, ataukah dari diri sendiri. Jadi hanya dengan hubungan yang akrab dengan Tuhan, maka kita dapat membedakan pesan mimpi ataupun penglihatan, apakah hal itu berasal dari Tuhan dari iblis, atau dari diri sendiri. <br
/> Jika dari Tuhan, maka buahnya adalah damai sejahtera di hati. Memang jika kita tidak ikut Tuhan dan tidak percaya kepada-Nya, maka hidup kita akan sengsara, dalam arti kita tidak punya tujuan hidup, dan kita tidak tahu apa arti hidup ini. Padahal dengan mengikuti Dia dan segala perintah-Nya, maka Tuhan akan membimbing kita menuju kebahagiaan sejati, yang nantinya menghantar kita kepada kehidupan yang kekal. Hidup di duniapun menjadi penuh arti, karena merupakan persiapan kita pada kehidupan kita yang sesungguhnya, saat kita berjumpa dengan-Nya di surga nanti.</p><p>Maka, bersyukurlah atas kasih Tuhan dan kesembuhan yang Tuhan berikan kepadamu, dan mohon pada Tuhan agar membimbing dalam perkembangan imanmu selanjutnya.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> Ingrid Listiati</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 42/84 queries in 0.042 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-07-30 16:13:39 -->