Darimanakah asalnya perayaan hari Natal?
Pertanyaan:
ku mau tanya, apakah kita boleh merayakan natal dan melakukan tahun baru. apakah itu hanya dilakukan oleh kaum kafir????
Salam – Chandra
Jawaban:
Shalom Chandra.
Memang ada beberapa teori tentang asal mula Natal dan Tahun Baru. Menurut Catholic Encyclopedia, pesta Natal pertama kali di sebut dalam “Depositio Martyrum” dalam Roman Chronograph 354 [edisi Valentini-Zucchetti (Vatican City, 1942) 2:17). Dan karena Depositio Marrtyrum ditulis sekitar tahun 336, maka disimpulkan bahwa perayaan Natal dimulai sekitar pertengahan abad ke-4. Kita juga tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Kristus, yang diperkirakan sekitar 8-6 BC. St. Yohanes Chrysostom berargumentasi bahwa Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria adalah iman agung dan hari Atonement jatuh pada tanggal 24 September, maka Yohanes lahir tanggal 24 Juni dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember. (sumber: New Catholic Encyclopedia, Vol. 3: Can-Col, 2nd ed. (Gale Cengage, 2002), p.655-656.)
Dan banyak orang yang mempercayai bahwa kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember adalah berdasarkan tanggal winter solstice (25 Desember dalam kalendar Julian), karena pada tanggal tersebut, matahari mulai kembali ke utara. Dan pada tanggal yang sama kaum kafir /pagan berpesta “dies natalis Solis Invicti” (perayaan dewa Matahari). Pada tahun 274, kaisar Aurelian menyatakan bahwa dewa matahari sebagai pelindung kerajaan Roma, yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember. Hal ini juga berlaku untuk tahun baru, yang dikatakan berasal dari kebiasaan suku Babilonia. Dan semua itu adalah masih merupakan spekulasi.
Pertanyaannya, anggaplah bahwa data histori tersebut di atas adalah benar, dan pesta Natal diambil dari kebiasaan kaum kafir, apakah kita sebagai orang Kristen boleh merayakannya? Jawabannya YA, dengan beberapa alasan:
- Dari alasan inkulturasi. Kita tidak harus menghapus semua hal di dalam sejarah atau kebiasaan tertentu di dalam kebudayaan tertentu, sejauh itu tidak bertentangan dengan ajaran dan doktrin Gereja dan juga membantu manusia untuk lebih dapat menerima Kekristenan. Essensi dari perayaan Natal ini adalah kita ingin memperingati kelahiran Yesus Kristus, yang menunjukkan misteri inkarnasi. Dan karena Yesus adalah terang dunia (Lih Yoh 8:12; Yoh 9:5), adalah sangat wajar untuk mengganti penyembahan kepada dewa matahari dengan Allah Putera, Yesus, Sang Terang Dunia. Dan karena Yesus adalah “awal dan akhir” dan datang “untuk membuat semuanya baru” (Wah 21:5-6), maka tahun kelahiran Kristus diperhitungkan sebagai tahun 1. Dengan ini, maka orang-orang yang tadinya merayakan dewa matahari, setelah menjadi Kristen, mereka merayakan Tuhan yang benar, yaitu Yesus. Dan orang-orang tersebut akan dengan mudah menerima Kekristenan dan sebaliknya Gereja juga tidak mengorbankan nilai-nilai Kekristenan.
Namun di satu sisi, Gereja tidak pernah berkompromi terhadap hari Tuhan, yang kita peringati sebagai hari Minggu. Disini Gereja tahu secara persis, kematian Tuhan di kayu salib jatuh pada hari Jumat dan kebangkitannya adalah hari Minggu. Pada masa gereja awal, ada yang memaksakan untuk mengadakan hari Tuhan pada hari Sabat (mulai hari Jumat sore sampai Sabtu malam). Namun beberapa Santo di abad awal mempertahankan bahwa hari Tuhan harus hari Minggu dengan alasan: 1) Yesus bangkit pada hari Minggu, 2) Yesus memperbaharui hukum dalam Perjanjian Baru dengan hukum yang baru. Dengan dasar inilah Gereja berkeras untuk mempertahankan hari Minggu sebagai hari Tuhan. Namun dalam kasus perayaan Natal, tidak ada yang tahu secara persis hari kelahiran Tuhan Yesus. - Kalau kita amati, manusia dalam relung hatinya, mempunyai keinginan untuk menemukan penciptanya. Penyembahan kepada dewa matahari adalah merupakan perwujudan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada manusia, dalam hal itu adalah matahari, yang dipandang dapat memberikan kehidupan bagi mahluk hidup pada waktu itu. Namun sesuai dengan prinsip “grace perfects nature atau rahmat menyempurnakan sifat alamiah” (lihat St. Thomas Aquinas, ST, I, Q.1, A.8.), maka tidak ada salahnya untuk mengadopsi tanggal yang sama, dengan menyempurnakan konsep yang salah sehingga menjadi benar, dalam hal ini penyembahan terhadap dewa terang/matahari dialihkan penyembahan kepada Yesus, Sang Sumber Terang. Kalau kita perhatikan, tanggal 1 Mei adalah hari buruh sedunia (Labour day) yang disponsori kaum komunis, namun Gereja memperingatinya sebagai hari St. Yosep pekerja (ditetapkan oleh Paus Pius XII, tahun 1955). Gereja ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa St. Yosep seharusnya menjadi figur bagi para buruh, dimana dengan mencontoh figur St. Yosep, maka dunia dapat dibangun dengan lebih adil. Juga permulaan tahun baru, Gereja menjadikan hari tersebut perayaan “Maria, bunda Allah”.
- Adalah baik untuk mempunyai tanggal tertentu (dalam hal ini 25 Desember untuk perayaan Natal), yang setiap tahun diulang tanpa henti sampai pada akhir dunia. Tanggal ini senantiasa akan mengingatkan kita akan kelahiran Yesus Kristus. Kalau kita mengadakan quesioner di seluruh dunia, dengan pertanyaan “Kita memperingati apakah pada tanggal 25 Desember?” saya yakin bahwa hampir semua jawaban akan mengatakan “Natal, atau kelahiran Kristus” dan bukan merayakan dewa matahari.
- Untuk umat Katolik, dengan masa adven, Gereja menginginkan agar seluruh umat Katolik mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Sang Raja. Dari sini kita melihat bahwa Gereja justru menyuruh umat-Nya untuk berpartisipasi dalam persiapan Natal, yang jatuh tanggal 25 Desember.
Semoga uraian singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Chandra.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

















Shalom mbak Ingrid/Mas Stef,
Seorang teman saya menanyakan apakah dasar orang katolik merayakan hari NATAL pada tgl. 25 Desember (mengapa tgl 25 Desember) karena tidak ada tertulis dalam kitab suci? Teman saya itu beragama kristen tetapi saya tidak tahu nama gerejanya (Ia beribadah dalam persekutuan doa di rumah-rumah). Saya sempat dua kali mengucapkan selamat hari natal pada beliau melalui SMS tetapi tidak dibalasnya. Dalam satu kesempatan berjumpa dengan beliau mengatakan bahwa ia tidak membalas ucapan selamat NATAL saya oleh karena ia tidak mengakui adanya hari natal.
Mohon mbak Ingrid/Mas Stef memberi penerangannya.
Terimakasih sebelumnya saya ucapkan atas penerangan2nya.
Salam,
Sonya Natalia
[dari katolisitas: silakan melihat keterangan di atas tentang Natal - silakan klik dan juga tanya jawab ini - silakan klik]
syalom,,
mau tanya apakah boleh merayakan hari natal sebelum tanggal 25 Desember atau sesudah lewat masa natal, seperti yg sering dilakukan oleh Sdr2 kt yg protestan???
Shalom Lian,
Sebenarnya, memang dari pemahaman makna Adven, kita tidak dianjurkan untuk merayakan Natal sebelum hari Natal. Maka kalau anda ingin merayakan Natal bersama keluarga, rayakanlah setelah Malam Natal, setelah hari Natal selama dalm 8 hari (Oktaf Natal). Gereja Katolik memang merayakan Natal dari sejak Malam Natal, sampai hari Epifani (Minggu Pertama setelah Oktaf Natal) dan bahkan gereja-gereja memasang dekorasi Natal sampai perayaan Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis, (hari Minggu setelah tanggal 6 Januari).
Memang, dalam kenyataannya, misalnya, kita melihat perayaan Natal diadakan misalnya di kantor tempat kita bekerja, yang diadakan sebelum tanggal 25 Desember. Dengan mempertimbangkan semangat ekumene, maka kita dapat menghadirinya, namun jika anda berkesempatan berdialog dengan para penyelenggara, mungkin anda dapat mengusulkannya agar lain kali, dapat diadakan perayaan Natal sesudah hari Natal. Namun jika kita sendiri mau mengadakan perayaan Natal, maka dengan pemahaman makna Adven, mari kita mengadakannya setelah hari Natal.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Salam damai sejahtera dalam nama Kristus,
kepada pak stefanus,
Menurut saya kita boleh saja merayakan natal supaya umat beriman mengingat akan kelahiran Yesus Kristus, mengenai tanggal kapan Yesus lahir ke dunia tidak ada yang tahu kecuali tentu saja keluarga kudus di nasaret ( St. Yosef dan Bunda Maria ), jadi tidak jadi maalah kapan kita merayakan kelahiran Tuhan, contoh gereja roma merayakan tgl 25 des sedangkan gereja2 timur merayakan tanggal 6 januari.
Saya pikir bukan kapan tanggal yang tepat untuk merayakan natal tetapi pemahaman yang tepat akan arti natal adalah lebih penting yaitu merayakan inkarnasi sang sabda yang menjadi manusia yang menjadi titik awal karya penyelamatan Allah akan umat manusia,
sebab barang siapa yang percaya kepadanya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
mengenai dasar alkitabiah tentang perayaan natal memang tidak ada. tetapi gereja semesta tidak melulu mendasarkan ajarannya pada alkitab saja, masih ada pengajaran rasul2 yang terpelihara dalam gerejanya yang rasuliah ( apostolik ), jadi kedudukan alkitab bukan di atas gereja seperti dalam gereja protestan tetapi di dalam gereja ( gerejalah yang meng-kanonkan alkitab ).
mohon diluruskan jika ada yang salah, terima kasih.
Shalom Justin,
Terima kasih atas tanggapannya tentang perayaan Natal. Secara prinsip memang benar, bahwa tidak ada di Alkitab yang mengatakan bahwa kita harus merayakan natal. Namun, prinsip bahwa kita harus mensyukuri akan kedatangan Kristus tentu saja banyak disebutkan di Alkitab. Kalau kita, sebagai manusia sering merayakan hari ulang tahun saudara, keluarga maupun teman, mengapa kita tidak merayakan ulang tahun Yesus Kristus? Kalau kita tahu hari ulang tahun saudara, keluarga dan teman, sebaliknya kita tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Yesus, walaupun ada beberapa teori yang menjelaskan tentang hal ini. Oleh karena itu, adalah baik untuk mempunyai tanggal dan hari yang sama akan kelahiran Yesus Kristus, sehingga seluruh umat Kristiani dapat merayakan hari Natal, sebagai tanda syukur akan karunia Kristus dalam keselamatan umat manusia. Dan seperti yang Justin katakan, bahwa yang terpenting dalam perayaan Natal bukan pada tanggalnya (karena kita tahu secara persis tanggal kelahiran Yesus), melainkan pemahaman serta persiapan hari Natal, sehingga setiap tahun, hati kita dapat diperbaharui dengan Yesus yang juga lahir di hati kita masing-masing.
Gereja Barat dan Gereja Timur sebenarnya merayakan natal pada tanggal yang sama, hanya Gereja Barat memakai kalender Gregorian (kalender yang kita kenal sekarang), sedangkan Gereja Timur memakai kalender Julian. 25 Desember menurut kalendar Julian adalah sama dengan 7 Januari menurut kalender Gregorian.
Mari, dalam masa adven ini, kita bersama-sama mempersiapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Kristus.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Matius 7
7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
oke, terima kasih atas jawabannya. Namun ada hal-hal yang hendak saya pertanyakan disini:
1. Dalam ayat Matius diatas jelas sekali bahwa yang masuk surga adalah orang yang melakukan kehendak Tuhan.
” menurut anda apakah [b]“kehendak Tuhan”[/b] dalam ayat diatas mengandung nilai perintah peribadatan?”
2. Kalau anda jawab [b]‘ya’[/b], maka dalam hal peribadatan itu bersifat mutlak harus diikuti?
kalau anda jawab [b]“tidak”[/b] apakah argumen anda tentang hal tersebut?
3. Jadi sesuai dengan yang anda sampaikan diatas merayakan natal hukumnya adalah “boleh” ataukah harus/mesti/wajib? karena dibagian tulisan anda yang lain mengatakan merayakannya adalah untuk mensukuri kelahiran yesus? sedangkan setiap kristiani harus/mesti/wajib mensukuri kelahiran yesus.
terima kasih kepada
Bapak Stefanus
Shalom Kusno,
Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau Kusno ingin mengetahui konsep keselamatan menurut Gereja Katolik, maka Kusno harus melihat apa yang dikatakan oleh Alkitab secara keseluruhan, dan bukan satu ayat, seperti Mt 7:21 yaitu "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." Karena di dalam Alkitab, juga dikatakan pentingnya iman dalam proses keselamatan, seperti "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah" (Ibr 11:6), dan juga baptisan sebagai sarana keselamatan karena Alkitab mengatakan "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum." (Mk 16:16). Dan di atas semuanya itu, rahmat Allah adalah penggerak utama dalam proses keselamatan. Oleh karena itu, keselamatan menurut konsep Gereja Katolik dapat disarikan:
1) Internal supernatural grace is absolutely necessary for the beginning of faith and salvation.
2) Without the special help of God, the justified cannot persevere to the end in justification.
3) The causes of Justification. (Defined by the Council of Trent) :
a) The final cause is the honour of God and of Christ and the eternal life of men.
b) The efficient cause is the mercy of God.
c) The meritorious cause is Jesus Christ, who as mediator between God and men, has made atonement for us and merited the grace by which we are justified.
d) The instrumental cause of the first justification is the Sacrament of Baptism. Thus it defines that Faith is a necessary precondition for justification (of adults).
e) The formal cause is God’s Justice, not by which He Himself is just, but which He makes us just, that is, Sanctifying Grace.
4) The justification of an adult is not possible without faith.
5) Besides faith, further acts of disposition must be present.
6) Baptism confers the grace of justification.
Mungkin terlalu cepat kalau kita ingin berbicara tentang konsep keselamatan. Namun, kalau Kusno ingin mengadakan perbandingan antara konsep keselamatan menurut Gereja Katolik dan Islam atau agama yang lain, maka kita dapat berdialog tentang hal ini secara lebih mendalam.
Saya pikir untuk mengomentari masalah keselamatan dan dihubungkan dengan hari Natal adalah terlalu dibuat-buat, karena Hari Natal hanyalah ungkapan syukur akan Tuhan Yesus yang hadir di dalam sejarah manusia untuk menyelamatkan manusia. Yang terpenting bagi umat Kristen adalah untuk senantiasa mensyukuri dan mengimani Yesus yang sungguh Allah masuk dalam sejarah manusia untuk menjadi sama seperti manusia (kecuali dalam hal dosa), sehingga terbuka keselamatan bagi seluruh umat manusia. Hal ini sama seperti orang yang senantiasa mensyukuri karunia kehidupan, walaupun dia tidak merayakan hari ulang tahunnya.
Semoga keterangan di atas dapat memperjelas. Agar diskusi kita dapat terfokus, mungkin ada baiknya untuk memberikan argumentasi secara to the point. Terima kasih atas keterbukaan Kusno untuk mau mencoba mengerti apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Kepada Bpk stefanus
Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun I, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2:1 menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus, jadi antara tahun 27 Sebelum Masehi – 14 Sesudah Masehi.** Sedangkan Matius 2:1 menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi – 4 sesudah Masehi.
Ternyata antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil, Lukas maupun Matius, tidaklah menunjukkan suatu kepastian, sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka ada yang menyatakan Yesus lahir tahun 8 Sebelum Masehi, tahun 6 Sebelum Masehi, tahun 4 sesudah masehi. Antara lain kita kutip buku tulisan rev. Dr. Charles Franciss Petter, MA., B.D., S.T.M. yang berjudul The Lost Years of Jesus Revealed hal 119 sebagai berikut:
In the nineteehnt century, when it became evident and was finally admitted that Herod died in the year 4 B.C. and it was recalled that, according to story in Matthew’s Gospel (2:16), King Herod, in order to eliminate little Jesus as a possible “King of the Jews”, had ordered all infants of two years old and under to be killed, the birth-date of Jesus 0bviously had to be moved back to 4 B at least. Today, scholars prefer 5 to 6 B as the date best accomodating the indonsistent and even cont5radictory traditions, legens, and gospels, although some historians push the date back to 8 and 10 b.C. The problem of the correct dating of Jesus’ birth, life, and death has now been raised again (due to several statemensin these Essence Scrolls) along with the related question on the deity.
(Pada abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diakui bahwa Herodes telah mati 4 tahun sebelum masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius (2:16) raja Herodes memerintahkan pembunuhan kanak-kanak umur/dibawah umur dua tahun untuk membinasakan Yesus yang masih bayi yang katanya bakal jadi raja orang-orang Yahudi, maka jelaslah tanggal lahir Yesus harus digeser ke belakang, paling sedikit 4 tahun sebelum masehi. Masa kini para sarjana lebih condong menggeserkan tanggal lahirnya Yesus itu 5 sampai 6 tahun ke belakang tahun Masehi. Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya dan kematiannya terpaksa ditimbulkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran) malah soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanannya juga harus dibangkitkan kembali).
Jadi sampai hari inipun tidak ada kejelasan tahun berapa Yesus dilahirkan.
LALU JIKA ANDA BERPENDAPAT BOLEH MERAYAKAN HARI NATAL YANG TIDAK ADA KETERANGANYNYA SAMA SEKALI DI BIBLE BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN BIDAAT DAN MEMBAWA SESUATU YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN YESUS/YESUS TIDAK PERNAH MENGAJARKANNYA, SAMA SAJA DONG ANDA DENGAN SAKSI YEHUWA YANG ANDA ANGGAP BUKAN SAKSI KRISTUS.
Shalom Kusno,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang tahun kelahiran Yesus Kristus. Saya pernah menjawab pertanyaan serupa di sini (silakan klik). Secara prinsip, Dionysius Exiguus, orang yang pertama kali memperkenalkan AD (Anno Domini / the year of hte Lord) membuat kesalahan dalam perhitungan. Jadi, memang benar, bahwa Yesus diperkirakan lahir sekita tahun 3BC – 5BC. Dan mengapa kita merayakan natal tanggal 25 Desember, silakan melihat jawaban ini (silakan klik).
Lebih lanjut Kusno mengatakan “LALU JIKA ANDA BERPENDAPAT BOLEH MERAYAKAN HARI NATAL YANG TIDAK ADA KETERANGANYNYA SAMA SEKALI DI BIBLE BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN BIDAAT DAN MEMBAWA SESUATU YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN YESUS/YESUS TIDAK PERNAH MENGAJARKANNYA, SAMA SAJA DONG ANDA DENGAN SAKSI YEHUWA YANG ANDA ANGGAP BUKAN SAKSI KRISTUS.“
a) Pernyataan ini sama saja dengan mengatakan bahwa kalau umat Kristen percaya akan Trinitas maka mereka melakukan dosa bidaah. Kata Trinitas memang tidak pernah disebutkan secara eksplisit, namun esensi dari Trinitas terlihat dengan jelas di dalam Alkitab. Demikian juga dengan perayaan Natal. Secara esensi, kita ingin mensyukuri kedatangan Kristus ke dunia yang menyelamatkan umat manusia.
b) Apakah kita sebagai orang Kristen boleh merayakannya? Jawabannya YA, dengan beberapa alasan berikut ini: (keterangan di bawah ini adalah dengan asumsi bahwa pesta natal berasal dari kebiasaan kaum kafir, yaitu perayaan dewa matahari).
1) Dari alasan inkulturasi. Kita tidak harus menghapus semua hal di dalam sejarah atau kebiasaan tertentu di dalam kebudayaan tertentu, sejauh itu tidak bertentangan dengan ajaran dan doktrin Gereja dan juga membantu manusia untuk lebih dapat menerima Kekristenan. Essensi dari perayaan Natal ini adalah kita ingin memperingati kelahiran Yesus Kristus, yang menunjukkan misteri inkarnasi. Dan karena Yesus adalah terang dunia (Lih Yoh 8:12; Yoh 9:5), adalah sangat wajar untuk mengganti penyembahan kepada dewa matahari dengan Allah Putera, Yesus, Sang Terang Dunia. Dan karena Yesus adalah “awal dan akhir” dan datang “untuk membuat semuanya baru” (Wah 21:5-6), maka tahun kelahiran Kristus diperhitungkan sebagai tahun 1. Dengan ini, maka orang-orang yang tadinya merayakan dewa matahari, setelah menjadi Kristen, mereka merayakan Tuhan yang benar, yaitu Yesus. Dan orang-orang tersebut akan dengan mudah menerima Kekristenan dan sebaliknya Gereja juga tidak mengorbankan nilai-nilai Kekristenan.
2) Namun di satu sisi, Gereja tidak pernah berkompromi terhadap hari Tuhan, yang kita peringati sebagai hari Minggu. Disini Gereja tahu secara persis, kematian Tuhan di kayu salib jatuh pada hari Jumat dan kebangkitannya adalah hari Minggu. Pada masa gereja awal, ada yang memaksakan untuk mengadakan hari Tuhan pada hari Sabat (mulai hari Jumat sore sampai Sabtu malam). Namun beberapa Santo di abad awal mempertahankan bahwa hari Tuhan harus hari Minggu dengan alasan: 1) Yesus bangkit pada hari Minggu, 2) Yesus memperbaharui hukum dalam Perjanjian Baru dengan hukum yang baru. Dengan dasar inilah Gereja berkeras untuk mempertahankan hari Minggu sebagai hari Tuhan. Namun dalam kasus perayaan Natal, tidak ada yang tahu secara persis hari kelahiran Tuhan Yesus.
3) Kalau kita amati, manusia dalam relung hatinya, mempunyai keinginan untuk menemukan penciptanya. Penyembahan kepada dewa matahari adalah merupakan perwujudan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada manusia, dalam hal itu adalah matahari, yang dipandang dapat memberikan kehidupan bagi mahluk hidup pada waktu itu. Namun sesuai dengan prinsip “grace perfects nature atau rahmat menyempurnakan sifat alamiah” (lihat St. Thomas Aquinas, ST, I, Q.1, A.8.), maka tidak ada salahnya untuk mengadopsi tanggal yang sama, dengan menyempurnakan konsep yang salah sehingga menjadi benar, dalam hal ini penyembahan terhadap dewa terang/matahari dialihkan penyembahan kepada Yesus, Sang Sumber Terang. Kalau kita perhatikan, tanggal 1 Mei adalah hari buruh sedunia (Labour day) yang disponsori kaum komunis, namun Gereja memperingatinya sebagai hari St. Yosep pekerja (ditetapkan oleh Paus Pius XII, tahun 1955). Gereja ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa St. Yosep seharusnya menjadi figur bagi para buruh, dimana dengan mencontoh figur St. Yosep, maka dunia dapat dibangun dengan lebih adil. Juga permulaan tahun baru, Gereja menjadikan hari tersebut perayaan “Maria, bunda Allah”.
4) Adalah baik untuk mempunyai tanggal tertentu (dalam hal ini 25 Desember untuk perayaan Natal), yang setiap tahun diulang tanpa henti sampai pada akhir dunia. Tanggal ini senantiasa akan mengingatkan kita akan kelahiran Yesus Kristus. Kalau kita mengadakan quesioner di seluruh dunia, dengan pertanyaan “Kita memperingati apakah pada tanggal 25 Desember?” saya yakin bahwa hampir semua jawaban akan mengatakan “Natal, atau kelahiran Kristus” dan bukan merayakan dewa matahari.
5) Untuk umat Katolik, dengan masa adven, Gereja menginginkan agar seluruh umat Katolik mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Sang Raja. Dari sini kita melihat bahwa Gereja justru menyuruh umat-Nya untuk berpartisipasi dalam persiapan Natal, yang jatuh tanggal 25 Desember.
c) Untuk mensejajarkan antara perayaan Natal (yang tidak bersifat doktrinal) dan Saksi Yehuwa yang salah dalam dokrin-dokrin utama adalah tidak membandingkan apel dengan apel.
Semoga keterangan di atas dapat menjawab keberatan Kusno.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org