<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Adakah Keselamatan di luar Tuhan Yesus/ Gereja Katolik?</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 08:45:03 +0700</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-11574</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Mon, 15 Feb 2010 22:12:19 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1497#comment-11574</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Julius Paulo,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Memang terdapat banyak hal yang tidak dapat kita ketahui secara persis dalam hal mereka yang mempunyai &quot;invincible ignorance&quot; akan kabar keselamatan Kristus dan Gereja-Nya. Justru karena banyak hal yang tidak dapat kita ketahui secara penuh inilah, maka Gereja Katolik &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;tidak pernah &lt;/span&gt;menganjurkan kita untuk berspekulasi mengenai hal ini dan kemudian mengumumkan &quot;hasilnya&quot; bahwa &#039;si ini dan si itu&#039; pasti tidak diselamatkan/ masuk neraka, karena tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebaliknya, istilah &quot;&lt;em&gt;Anonymous Christianity&lt;/em&gt;&quot; seperti yang diajarkan oleh Karl Rahner (bahwa seseorang yang belum pernah mendengar tentang Kristus dan bahkan menolak Kristus dapat diselamatkan melalui Kristus) sebaiknya tidak digunakan, sebab yang diajarkan oleh Gereja adalah kondisi &quot;&lt;em&gt;invincible ignorance&lt;/em&gt;&quot;. Sebab, dari pengertiannya,&lt;em&gt; invincible ignorance&lt;/em&gt; ini mensyaratkan seseorang benar-benar tidak dapat tahu, sedangkan kalau seseorang itu dapat tahu, ia sesungguhnya tidak lagi dapat dikatakan sebagai &lt;em&gt;invincibly ignorant. &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1 &amp; 2. Agama lain memang ada yang menyangkal wafat dan kebangkitan Yesus, dan jika seseorang dibesarkan dan dididik dengan pengetahuan yang demikian, tentu sedikit banyak akan mempengaruhi cara pikir dan hati nuraninya tentang ajaran Kristiani. Jika ia dibesarkan di lingkungan yang begitu ketat, sehingga tidak dapat mengenal kebenaran ajaran Kristiani, maka memang seumur hidupnya ada kemungkinan ia tidak dapat melihat kepenuhan kebenaran yang diajarkan Kristus. Dalam hal ini memang hanya Tuhan yang tahu, apakah orang itu sudah sungguh-sungguh mencari Tuhan, dan dalam kapasitasnya melakukan segala cara untuk melakukan kehendak-Nya namun gagal untuk mengetahui kebenaran dalam Kristus (sehingga ketidaktahuannya dapat termasuk kategori &quot;&lt;em&gt;invicible ignorance&lt;/em&gt;&quot;.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Pada akhirnya kita harus percaya akan belas kasihan Tuhan seperti yang diajarkan-Nya sendiri, &lt;span id=&quot;r&quot;&gt;&quot;barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.&quot; (Luk 12:48)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;Jadi pada akhirnya, Tuhan sendiri yang dapat menilai hati mereka, apakah mereka sudah cukup terbuka untuk memeriksa batin dan pengajaran agama mereka sendiri, dan inilah sebenarnya yang menjadi ajakan dari pengajaran Bapa Paus Benediktus XVI pada saat memberikan kuliah di Regensburg, Sept 12 2006, yang sempat mengundang reaksi keras dari berbagai pihak non- Katolik/ non-Kristen. Padahal sebenarnya maksud Paus hanya sederhana saja, bahwa setiap umat beriman sebenarnya harus dengan jujur merenungkan ajaran agamanya, apakah ada kontradiksi di dalamnya, karena sebenarnya Kebenaran itu tidak membawa kontradiksi. Misalnya di bagian tertentu dikatakan, &quot;Tidak ada pemaksaan di dalam agama&quot;, namun di bagian lain, &quot;Sebarkan iman melalui kekerasan&quot;. Hal inilah yang harus direnungkan bersama, yaitu keselarasan antara iman dan akal budi, sebab tidak mungkin Allah memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan akal budi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;3. Jika seseorang sudah dapat melihat bahwa Allah tidak pernah memerintahkan segala sesuatunya bertentangan dengan akal sehat, baru seseorang dapat melihat bahwa membakar tempat ibadah, dst sebenarnya bukan hal yang dapat dibenarkan, karena bertentangan dengan perintah Allah yang tertulis di dalam setiap hati manusia sebagai hukum kodrat, yaitu kita tidak boleh membunuh. Pelarangan mengucapkan &#039;selamat hari raya&#039; memang mungkin ada, yang semuanya terpulang pada bagaimana mereka dididik dalam agama mereka; yang seolah mengatakan demikian itu adalah dosa, sehingga mereka tidak melakukannya. Namun ini tentu bobotnya tidak sama dengan &#039;membakar tempat ibadah&#039;, sebab untuk hal yang kedua ini, sesungguhnya orang yang menggunakan akal sehatnya, dapat mengetahui bahwa perbuatan ini salah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;4. Apakah seseorang selalu menentang Gereja dapat dikatakan &quot;&lt;em&gt;invincible ignorance&lt;/em&gt;&quot;? &lt;br /&gt;Untuk hal ini, kita dapat melihat contoh nyatanya dalam pribadi Rasul Paulus. Sebelum menjadi murid Kristus, ia banyak menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen, sebab ia berpikir hal itulah yang dikehendaki Allah (Kis 22: 3). Namun kita mengetahui bahwa Kristus menyatakan diri-Nya di perjalanan Paulus ke Damsyik, sehingga ia bertobat (lih. Kis 9:3-. 22: 6-). Dengan melihat kisah Rasul Paulus ini, memang kita tidak dapat menghakimi sesama kita yang melakukan hal yang serupa dengan yang dilakukan oleh Paulus ini sebelum pertobatannya. Singkatnya, kita tidak pernah mengetahui tentang karya Allah dalam diri mereka yang menentang Kristus, sebab dapat saja terjadi mereka mengalami pengalaman seperti Rasul Paulus itu, sebelum mereka wafat. Dan jika mereka sungguh bertobat, seperti halnya Rasul Paulus, maka Tuhan Yesus tetap dapat mengampuni mereka, seperti Ia mengampuni Paulus dan penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;Namun memang masalahnya, tidak semua orang bertobat sebelum wafatnya. Ada juga orang- orang yang seperti Yudas, yang memilih untuk mengkhianati Dia, tidak bertobat dan memilih untuk mengakhiri hidupnya dalam &#039;permusuhan&#039; dengan Tuhan. Orang semacam ini tidak dapat dikatagorikan sebagai &lt;em&gt;invincibly ignorant&lt;/em&gt;. Yesus mengatakan tentang ini demikian, &quot;.... &lt;/span&gt;&lt;span id=&quot;r&quot;&gt;tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia &lt;span id=&quot;w&quot;&gt;tidak&lt;/span&gt; &lt;span id=&quot;w&quot;&gt;dilahirkan&lt;/span&gt;.&quot; (Mat 26:24, Mrk 14:21)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;Jadi, di sini lebih baik kita tidak berspekulasi apakah orang- orang tertentu sempat bertobat atau tidak sebelum wafatnya, sebab memang kita tidak dapat mengetahui secara persis, dan karenanya tidak ada gunanya menduga- duga, apalagi menghakimi. Biarlah Tuhan sendiri yang memutuskan dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;5. Pertanyaan anda ini sungguh sulit dijawab, sebab kembali lagi, kita tidak dapat sepenuhnya memahami keadaan yang sesungguhnya dari mereka yang diindoktrinasi tersebut. Yang mungkin lebih besar tanggungjawabnya adalah mereka yang meng-indoktrinasi, terutama jika mereka sesungguhnya memiliki akal budi yang cukup untuk mempelajari ajaran agamanya, dan merenungkan ajaran kasih dan perdamaian yang pasti ada dalam setiap agama; dan bagaimana mereka memenuhi ajaran ini, jika mereka malah memilih tindakan yang berlawanan dengan kasih dan perdamaian ini. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;Di sinilah peran para misionaris dan pewarta iman Kristiani untuk menyampaikan ajaran Kristus; dengan harapan, agar mereka yang belum mengenal Kristus dapat melihat kepenuhan kebenaran  di dalam Kristus melalui pewartaan mereka. Sebenarnya, kitapun mempunyai tugas yang serupa di lingkungan kita masing-masing, walau dengan derajat yang berbeda. Semoga dengan hidup sesuai dengan iman kita, kita dapat membawa terang Kristus kepada mereka yang belum mengenal Kristus, sehingga mereka dapat memperoleh gambaran yang lebih baik akan ajaran Kristiani. Selebihnya kita serahkan kepada Roh Kudus untuk menggerakkan hati mereka untuk bekerjasama dengan rahmat Tuhan yang menyapa dalam hati nurani mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;6. Ya, EENS ini harus dimengerti dalam konteks pengajaran yang disampaikan oleh Gereja Katolik, seperti yang sudah pernah kami sampaikan di artikel di atas, atau juga penjelasan dari Vatikan terhadap kasus Fr. Feeny yang pernah kami tuliskan di sini, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2009/08/04/apakah-yang-diselamatkan-hanya-orang-katolik-dan-yang-lainnya-pasti-masuk-neraka/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dengan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang EENS ini, kita dipanggil untuk tidak acuh tak acuh terhadap misi evangelisasi yang selamanya melekat pada setiap anggota Gereja. Kita harus menyebarkan Kabar Gembira Kristus sampai ke ujung bumi. Dan semoga Tuhan menyertai kita semua, seperti yang dijanjikan-Nya, sampai akhir jaman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati- www.katolisitas.org.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Julius Paulo,</p><p>Memang terdapat banyak hal yang tidak dapat kita ketahui secara persis dalam hal mereka yang mempunyai &#8220;invincible ignorance&#8221; akan kabar keselamatan Kristus dan Gereja-Nya. Justru karena banyak hal yang tidak dapat kita ketahui secara penuh inilah, maka Gereja Katolik <span
style="text-decoration: underline;">tidak pernah </span>menganjurkan kita untuk berspekulasi mengenai hal ini dan kemudian mengumumkan &#8220;hasilnya&#8221; bahwa &#8217;si ini dan si itu&#8217; pasti tidak diselamatkan/ masuk neraka, karena tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya.</p><p>Sebaliknya, istilah &#8220;<em>Anonymous Christianity</em>&#8221; seperti yang diajarkan oleh Karl Rahner (bahwa seseorang yang belum pernah mendengar tentang Kristus dan bahkan menolak Kristus dapat diselamatkan melalui Kristus) sebaiknya tidak digunakan, sebab yang diajarkan oleh Gereja adalah kondisi &#8220;<em>invincible ignorance</em>&#8220;. Sebab, dari pengertiannya,<em> invincible ignorance</em> ini mensyaratkan seseorang benar-benar tidak dapat tahu, sedangkan kalau seseorang itu dapat tahu, ia sesungguhnya tidak lagi dapat dikatakan sebagai <em>invincibly ignorant. <br
/></em></p><p>1 &amp; 2. Agama lain memang ada yang menyangkal wafat dan kebangkitan Yesus, dan jika seseorang dibesarkan dan dididik dengan pengetahuan yang demikian, tentu sedikit banyak akan mempengaruhi cara pikir dan hati nuraninya tentang ajaran Kristiani. Jika ia dibesarkan di lingkungan yang begitu ketat, sehingga tidak dapat mengenal kebenaran ajaran Kristiani, maka memang seumur hidupnya ada kemungkinan ia tidak dapat melihat kepenuhan kebenaran yang diajarkan Kristus. Dalam hal ini memang hanya Tuhan yang tahu, apakah orang itu sudah sungguh-sungguh mencari Tuhan, dan dalam kapasitasnya melakukan segala cara untuk melakukan kehendak-Nya namun gagal untuk mengetahui kebenaran dalam Kristus (sehingga ketidaktahuannya dapat termasuk kategori &#8220;<em>invicible ignorance</em>&#8220;.</p><blockquote><p>Pada akhirnya kita harus percaya akan belas kasihan Tuhan seperti yang diajarkan-Nya sendiri, <span
id="r">&#8220;barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.&#8221; (Luk 12:48)</span></p></blockquote><p><span>Jadi pada akhirnya, Tuhan sendiri yang dapat menilai hati mereka, apakah mereka sudah cukup terbuka untuk memeriksa batin dan pengajaran agama mereka sendiri, dan inilah sebenarnya yang menjadi ajakan dari pengajaran Bapa Paus Benediktus XVI pada saat memberikan kuliah di Regensburg, Sept 12 2006, yang sempat mengundang reaksi keras dari berbagai pihak non- Katolik/ non-Kristen. Padahal sebenarnya maksud Paus hanya sederhana saja, bahwa setiap umat beriman sebenarnya harus dengan jujur merenungkan ajaran agamanya, apakah ada kontradiksi di dalamnya, karena sebenarnya Kebenaran itu tidak membawa kontradiksi. Misalnya di bagian tertentu dikatakan, &#8220;Tidak ada pemaksaan di dalam agama&#8221;, namun di bagian lain, &#8220;Sebarkan iman melalui kekerasan&#8221;. Hal inilah yang harus direnungkan bersama, yaitu keselarasan antara iman dan akal budi, sebab tidak mungkin Allah memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan akal budi.</span></p><p><span>3. Jika seseorang sudah dapat melihat bahwa Allah tidak pernah memerintahkan segala sesuatunya bertentangan dengan akal sehat, baru seseorang dapat melihat bahwa membakar tempat ibadah, dst sebenarnya bukan hal yang dapat dibenarkan, karena bertentangan dengan perintah Allah yang tertulis di dalam setiap hati manusia sebagai hukum kodrat, yaitu kita tidak boleh membunuh. Pelarangan mengucapkan &#8217;selamat hari raya&#8217; memang mungkin ada, yang semuanya terpulang pada bagaimana mereka dididik dalam agama mereka; yang seolah mengatakan demikian itu adalah dosa, sehingga mereka tidak melakukannya. Namun ini tentu bobotnya tidak sama dengan &#8216;membakar tempat ibadah&#8217;, sebab untuk hal yang kedua ini, sesungguhnya orang yang menggunakan akal sehatnya, dapat mengetahui bahwa perbuatan ini salah.<br
/></span></p><p><span>4. Apakah seseorang selalu menentang Gereja dapat dikatakan &#8220;<em>invincible ignorance</em>&#8220;? <br
/>Untuk hal ini, kita dapat melihat contoh nyatanya dalam pribadi Rasul Paulus. Sebelum menjadi murid Kristus, ia banyak menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen, sebab ia berpikir hal itulah yang dikehendaki Allah (Kis 22: 3). Namun kita mengetahui bahwa Kristus menyatakan diri-Nya di perjalanan Paulus ke Damsyik, sehingga ia bertobat (lih. Kis 9:3-. 22: 6-). Dengan melihat kisah Rasul Paulus ini, memang kita tidak dapat menghakimi sesama kita yang melakukan hal yang serupa dengan yang dilakukan oleh Paulus ini sebelum pertobatannya. Singkatnya, kita tidak pernah mengetahui tentang karya Allah dalam diri mereka yang menentang Kristus, sebab dapat saja terjadi mereka mengalami pengalaman seperti Rasul Paulus itu, sebelum mereka wafat. Dan jika mereka sungguh bertobat, seperti halnya Rasul Paulus, maka Tuhan Yesus tetap dapat mengampuni mereka, seperti Ia mengampuni Paulus dan penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan-Nya. </span></p><p><span>Namun memang masalahnya, tidak semua orang bertobat sebelum wafatnya. Ada juga orang- orang yang seperti Yudas, yang memilih untuk mengkhianati Dia, tidak bertobat dan memilih untuk mengakhiri hidupnya dalam &#8216;permusuhan&#8217; dengan Tuhan. Orang semacam ini tidak dapat dikatagorikan sebagai <em>invincibly ignorant</em>. Yesus mengatakan tentang ini demikian, &#8220;&#8230;. </span><span
id="r">tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia <span
id="w">tidak</span> <span
id="w">dilahirkan</span>.&#8221; (Mat 26:24, Mrk 14:21)<br
/></span></p><p><span>Jadi, di sini lebih baik kita tidak berspekulasi apakah orang- orang tertentu sempat bertobat atau tidak sebelum wafatnya, sebab memang kita tidak dapat mengetahui secara persis, dan karenanya tidak ada gunanya menduga- duga, apalagi menghakimi. Biarlah Tuhan sendiri yang memutuskan dalam hal ini.<br
/></span></p><p><span>5. Pertanyaan anda ini sungguh sulit dijawab, sebab kembali lagi, kita tidak dapat sepenuhnya memahami keadaan yang sesungguhnya dari mereka yang diindoktrinasi tersebut. Yang mungkin lebih besar tanggungjawabnya adalah mereka yang meng-indoktrinasi, terutama jika mereka sesungguhnya memiliki akal budi yang cukup untuk mempelajari ajaran agamanya, dan merenungkan ajaran kasih dan perdamaian yang pasti ada dalam setiap agama; dan bagaimana mereka memenuhi ajaran ini, jika mereka malah memilih tindakan yang berlawanan dengan kasih dan perdamaian ini. <br
/></span></p><p><span>Di sinilah peran para misionaris dan pewarta iman Kristiani untuk menyampaikan ajaran Kristus; dengan harapan, agar mereka yang belum mengenal Kristus dapat melihat kepenuhan kebenaran  di dalam Kristus melalui pewartaan mereka. Sebenarnya, kitapun mempunyai tugas yang serupa di lingkungan kita masing-masing, walau dengan derajat yang berbeda. Semoga dengan hidup sesuai dengan iman kita, kita dapat membawa terang Kristus kepada mereka yang belum mengenal Kristus, sehingga mereka dapat memperoleh gambaran yang lebih baik akan ajaran Kristiani. Selebihnya kita serahkan kepada Roh Kudus untuk menggerakkan hati mereka untuk bekerjasama dengan rahmat Tuhan yang menyapa dalam hati nurani mereka.<br
/></span></p><p><span>6. Ya, EENS ini harus dimengerti dalam konteks pengajaran yang disampaikan oleh Gereja Katolik, seperti yang sudah pernah kami sampaikan di artikel di atas, atau juga penjelasan dari Vatikan terhadap kasus Fr. Feeny yang pernah kami tuliskan di sini, <a
href="http://katolisitas.org/2009/08/04/apakah-yang-diselamatkan-hanya-orang-katolik-dan-yang-lainnya-pasti-masuk-neraka/" rel="nofollow">silakan klik</a>.</span></p><p><span>Dengan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang EENS ini, kita dipanggil untuk tidak acuh tak acuh terhadap misi evangelisasi yang selamanya melekat pada setiap anggota Gereja. Kita harus menyebarkan Kabar Gembira Kristus sampai ke ujung bumi. Dan semoga Tuhan menyertai kita semua, seperti yang dijanjikan-Nya, sampai akhir jaman. </span></p><p><span>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/>Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a>.<br
/></span></p><p><span><br
/></span></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Julius Paulo</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-11515</link> <dc:creator>Julius Paulo</dc:creator> <pubDate>Sun, 14 Feb 2010 14:17:35 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1497#comment-11515</guid> <description>Dear KatolisitasTerima kasih atas segala pengajaran katekese di website ini, sungguh telah membukakan cakrawala iman Katolik saya dalam mendalami dan mempelajari buku Katekismus Gereja Katolik.Dalam kesempatan ini aku hendak bertanya perihal “Gereja Anonim” dalam kaitannya dengan “kemungkinan keselamatan di luar Gereja fisik di dunia.” Pada pertanyaan yang lalu telah aku cantumkan beberapa kutipan dari para Bapa Gereja perihal “Extra Ecclesiam Nulla Salus” dan dari jawaban komentar pada artikel; http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-239 , sama sekali tidak bertentangan dengan adanya kemungkinan bagi yang tidak mengenal Kristus dan GerejaNya untuk diselamatkan asalkan adanya prinsip “ketidaktahuan yang tidak dapat diatasi”/”Invincible Ignorance”. Dari percakapan dengan seorang romo dan teman yang juga belajar iman Katolik, aku mendapatkan adanya istilah “Gereja Anonim”, yaitu sekumpulan orang yang dengan tulus dan rendah hati mencari kebenaran, hidup seturut perintah Allah, menjalankan hukum kasih, namun belum mengenal Allah atau Kristus atau Gereja secara fisik eksistensial, atau mungkin bisa aku sebut sebagai “mereka yang mengalami baptis rindu.” Kita tentu percaya bahwa kedalaman hati nurani seseorang hanya Allah saja yang mengetahuinya, dan kita tidak dapat berspekulasi dalam hal ini. Yang menggelitik aku untuk bertanya adalah,1.	Bagaimanakah dengan mereka, yang dalam beberapa pemahaman dalam agama lain, secara jelas menyangkal wafat dan kebangkitan Kristus? Bahkan tercantum dalam kitab sucinya?2.	Dan ketika hidup berdampingan dengan anggota Gereja eksistensial yang terus menerus tanpa henti beriman dan mewartakan misteri sengsara, wafat dan bangkit, justru secara terang-terangan menentang dan bahkan melanggar hakikat kodrati manusia menjalankan peribadatan sesuai agamanya? Atau dengan kata lain, menolak segala macam bentuk pewartaan Gereja.3.	Bagaimana menjelaskan sikap-sikap intoleransi yang juga jelas bermanifestasi dari ajaran agama mereka? Seperti membakar tempat peribadatan, melarang mengucapkan “selamat hari raya” kepada yang berkeyakinan berbeda?4.	Akankah mereka yang menolak pewartaan tersebut, yang juga hidup berdampingan dengan Gereja eksistensial dapat dikategorikan sebagai “Invincible Ignorance”? Yang mana dengan demikian memiliki kemungkinan untuk diselamatkan? Mungkin memang jawaban atas pertanyaan ini kembali kepada konsep “Baptis Kerinduan” dan “Invincible Ignorance”, jika dalam sekian per seribu detik menjelang ajal mengalami suatu pertobatan dan kerinduan yang dalam akan kasih, menyadari dan menyesali segala perbuatannya, ia pun masih bisa diselamatkan. Sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu. Tetapi, dalam rangka kehidupan mereka di dunia, apakah hal ini dapat dibenarkan sebagai mereka yang memiliki kemungkinan untuk diselamatkan?Pertanyaanku yang lain lagi adalah,5.	Bagaimana dengan mereka yang terdoktrin untuk membunuh demi membela agamanya, lalu membunuh membabi-buta atas nama tuhannya? Apakah mungkin mereka sungguh tidak tahu bahwa membunuh sesamanya manusia adalah salah dan merupakan larangan dari Allah? Memang dalam hal membunuh untuk membela diri dalam batasan tertentu masihlah mendapat beberapa pembenaran dari segi kesusilaan. Tetapi apakah hal tersebut yaitu membolehkan membunuh sesama atas nama agama dan tuhannya dapat dibenarkan sekalipun pelaku tersebut “tidak tahu” karena doktrin ketat yang mereka peroleh semenjak kecil? Apakah mereka dapat dibenarkan untuk digolongkan sebagai “Invincible Ignorant”?6.	Menanggapi kisah yang dituliskan oleh Sdri.Stefana di atas, aku pun mendapati adanya buku-buku pelajaran agama Katolik yang secara jelas menuliskan; “paham Extra Ecclesiam Nulla Salus telah ditinggalkan.” Aku rasa tulisan ini sungguh tidak tepat untuk diajarkan walau dengan bagaimanapun cara menjelaskannya, karena berupa sintesa kesimpulan yang menentang ajaran semula dan melalui proses yang kurang tepat pula, bukan pertumbuhan alami pemahaman. Lumen Gentium 14 mensyaratkan adanya “Invincible Ignorance” sebagai syarat kemungkinan keselamatan bagi mereka yang belum atau tidak mengenal Kristus melalui Gereja Katolik. Juga dinyatakan di dalam dokumen Nostra Aetate art.1,“...Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh MEMANTULKAN sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. ….” (NA 1)Jika kita memerhatikan, “memantulkan”, ia bukanlah “sumber cahaya kebenaran”, ia hanyalah “memantulkan” apa yang sudah ada dan terpancar. Aku berpendapat, Gereja mengakui adanya kebenaran di luar Gereja, karena kodrat manusia yang sekalipun rusak sebagian akibat dosa asal, masih menyimpan kerinduan akan persatuan kembali dengan Allah yang membimbing manusia tersebut menuju terang kebenaran, maka memang ada nilai-nilai kebenaran untuk menuntun mereka menuju terang kebenaran sejati yaitu Kristus melalui GerejaNya. Hanya saja, kebenaran di luar Gereja tersebut tidaklah sempurna, sehingga tertulis pula dalam Lumen Gentium art.16;“..Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada Sang Pencipta (lih. Rom 1:21 dan 25)... “ (LG 16)Jadi, “kebenaran” yang terkandung dalam agama-agama di luar Gereja, TIDAK bisa diidentikkan dengan “keselamatan” yang memang adalah murni rahmat Allah, diberikan kepada manusia melalui karya penebusan dosa oleh Kristus dengan kerja sama manusia, dan sakramen-sakramen dalam Gereja. Namun “kebenaran-kebenaran” tersebut akan mengantar manusia di luar Gereja kepada Gereja, sumber terang kebenaran sejati yang langsung dari Allah.Konsekuensi yang ditimbulkan jika ada ajaran yang menyatakan; “Extra Ecclesiam Nulla Salus telah ditinggalkan”, yaitu melahirkan sikap ignorance, indifferentisme, ekumenisme yang salah, penyangkalan kesaksian Bapa Gereja, hingga, kematian sia-sia para martir dan misionaris.
Bagaimana menurut pendapat Katolisitas?Terima kasih dan maju terus Katolisitas, dominus vobiscum...Julius Paulo</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Dear Katolisitas</p><p>Terima kasih atas segala pengajaran katekese di website ini, sungguh telah membukakan cakrawala iman Katolik saya dalam mendalami dan mempelajari buku Katekismus Gereja Katolik.</p><p>Dalam kesempatan ini aku hendak bertanya perihal “Gereja Anonim” dalam kaitannya dengan “kemungkinan keselamatan di luar Gereja fisik di dunia.” Pada pertanyaan yang lalu telah aku cantumkan beberapa kutipan dari para Bapa Gereja perihal “Extra Ecclesiam Nulla Salus” dan dari jawaban komentar pada artikel; <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-239" rel="nofollow">http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-239</a> , sama sekali tidak bertentangan dengan adanya kemungkinan bagi yang tidak mengenal Kristus dan GerejaNya untuk diselamatkan asalkan adanya prinsip “ketidaktahuan yang tidak dapat diatasi”/”Invincible Ignorance”. Dari percakapan dengan seorang romo dan teman yang juga belajar iman Katolik, aku mendapatkan adanya istilah “Gereja Anonim”, yaitu sekumpulan orang yang dengan tulus dan rendah hati mencari kebenaran, hidup seturut perintah Allah, menjalankan hukum kasih, namun belum mengenal Allah atau Kristus atau Gereja secara fisik eksistensial, atau mungkin bisa aku sebut sebagai “mereka yang mengalami baptis rindu.” Kita tentu percaya bahwa kedalaman hati nurani seseorang hanya Allah saja yang mengetahuinya, dan kita tidak dapat berspekulasi dalam hal ini. Yang menggelitik aku untuk bertanya adalah,</p><p>1.	Bagaimanakah dengan mereka, yang dalam beberapa pemahaman dalam agama lain, secara jelas menyangkal wafat dan kebangkitan Kristus? Bahkan tercantum dalam kitab sucinya?</p><p>2.	Dan ketika hidup berdampingan dengan anggota Gereja eksistensial yang terus menerus tanpa henti beriman dan mewartakan misteri sengsara, wafat dan bangkit, justru secara terang-terangan menentang dan bahkan melanggar hakikat kodrati manusia menjalankan peribadatan sesuai agamanya? Atau dengan kata lain, menolak segala macam bentuk pewartaan Gereja.</p><p>3.	Bagaimana menjelaskan sikap-sikap intoleransi yang juga jelas bermanifestasi dari ajaran agama mereka? Seperti membakar tempat peribadatan, melarang mengucapkan “selamat hari raya” kepada yang berkeyakinan berbeda?</p><p>4.	Akankah mereka yang menolak pewartaan tersebut, yang juga hidup berdampingan dengan Gereja eksistensial dapat dikategorikan sebagai “Invincible Ignorance”? Yang mana dengan demikian memiliki kemungkinan untuk diselamatkan? Mungkin memang jawaban atas pertanyaan ini kembali kepada konsep “Baptis Kerinduan” dan “Invincible Ignorance”, jika dalam sekian per seribu detik menjelang ajal mengalami suatu pertobatan dan kerinduan yang dalam akan kasih, menyadari dan menyesali segala perbuatannya, ia pun masih bisa diselamatkan. Sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu. Tetapi, dalam rangka kehidupan mereka di dunia, apakah hal ini dapat dibenarkan sebagai mereka yang memiliki kemungkinan untuk diselamatkan?</p><p>Pertanyaanku yang lain lagi adalah,</p><p>5.	Bagaimana dengan mereka yang terdoktrin untuk membunuh demi membela agamanya, lalu membunuh membabi-buta atas nama tuhannya? Apakah mungkin mereka sungguh tidak tahu bahwa membunuh sesamanya manusia adalah salah dan merupakan larangan dari Allah? Memang dalam hal membunuh untuk membela diri dalam batasan tertentu masihlah mendapat beberapa pembenaran dari segi kesusilaan. Tetapi apakah hal tersebut yaitu membolehkan membunuh sesama atas nama agama dan tuhannya dapat dibenarkan sekalipun pelaku tersebut “tidak tahu” karena doktrin ketat yang mereka peroleh semenjak kecil? Apakah mereka dapat dibenarkan untuk digolongkan sebagai “Invincible Ignorant”?</p><p>6.	Menanggapi kisah yang dituliskan oleh Sdri.Stefana di atas, aku pun mendapati adanya buku-buku pelajaran agama Katolik yang secara jelas menuliskan; “paham Extra Ecclesiam Nulla Salus telah ditinggalkan.” Aku rasa tulisan ini sungguh tidak tepat untuk diajarkan walau dengan bagaimanapun cara menjelaskannya, karena berupa sintesa kesimpulan yang menentang ajaran semula dan melalui proses yang kurang tepat pula, bukan pertumbuhan alami pemahaman. Lumen Gentium 14 mensyaratkan adanya “Invincible Ignorance” sebagai syarat kemungkinan keselamatan bagi mereka yang belum atau tidak mengenal Kristus melalui Gereja Katolik. Juga dinyatakan di dalam dokumen Nostra Aetate art.1,</p><p>“&#8230;Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh MEMANTULKAN sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. ….” (NA 1)</p><p> Jika kita memerhatikan, “memantulkan”, ia bukanlah “sumber cahaya kebenaran”, ia hanyalah “memantulkan” apa yang sudah ada dan terpancar. Aku berpendapat, Gereja mengakui adanya kebenaran di luar Gereja, karena kodrat manusia yang sekalipun rusak sebagian akibat dosa asal, masih menyimpan kerinduan akan persatuan kembali dengan Allah yang membimbing manusia tersebut menuju terang kebenaran, maka memang ada nilai-nilai kebenaran untuk menuntun mereka menuju terang kebenaran sejati yaitu Kristus melalui GerejaNya. Hanya saja, kebenaran di luar Gereja tersebut tidaklah sempurna, sehingga tertulis pula dalam Lumen Gentium art.16;</p><p>“..Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada Sang Pencipta (lih. Rom 1:21 dan 25)&#8230; “ (LG 16)</p><p>Jadi, “kebenaran” yang terkandung dalam agama-agama di luar Gereja, TIDAK bisa diidentikkan dengan “keselamatan” yang memang adalah murni rahmat Allah, diberikan kepada manusia melalui karya penebusan dosa oleh Kristus dengan kerja sama manusia, dan sakramen-sakramen dalam Gereja. Namun “kebenaran-kebenaran” tersebut akan mengantar manusia di luar Gereja kepada Gereja, sumber terang kebenaran sejati yang langsung dari Allah.</p><p>Konsekuensi yang ditimbulkan jika ada ajaran yang menyatakan; “Extra Ecclesiam Nulla Salus telah ditinggalkan”, yaitu melahirkan sikap ignorance, indifferentisme, ekumenisme yang salah, penyangkalan kesaksian Bapa Gereja, hingga, kematian sia-sia para martir dan misionaris.<br
/> Bagaimana menurut pendapat Katolisitas?</p><p>Terima kasih dan maju terus Katolisitas, dominus vobiscum&#8230;</p><p>Julius Paulo</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-3871</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Sun, 21 Jun 2009 19:34:45 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1497#comment-3871</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Skywalker,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas tanggapannya. Silakan untuk membaca jawaban &quot;Siapa saja yang dapat diselamatkan&quot; (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/12/17/siapa-saja-yang-dapat-diselamatkan/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Silakan klik&lt;/a&gt;).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan terhadap umat non-Katolik yang berbuat baik kepada kita, maka itu adalah suatu tantangan bagi umat Katolik, agar dapat berbuat lebih baik, karena kita telah diberikan Roh Kudus yang memampukan kita untuk hidup dalam kasih. Dan kita berdoa agar kita diberikan kebijaksanaan untuk membagikan iman Katolik kita kepada mereka dengan cara yang baik, sehingga dapat terjadi diskusi yang terbuka dan baik. Urusan mengubah hati adalah urusan Tuhan, yang penting adalah kita menjalankan bagian kita, dan sisanya kita serahkan kepada Tuhan. Mungkin kita hanya menaburkan benih, dan orang lain yang akan menuai. Semoga ini dapat menjadi tantangan bagi kita semua - umat Katolik - untuk dapat membagikan iman Katolik kepada teman-teman di sekitar kita atas dasar kasih kepada Tuhan dan kasih terhadap sesama berdasarkan kasih kita kepada Tuhan.&lt;br&gt;
Semoga dapat memperjelas.&lt;br&gt;
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br&gt;
stef - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Skywalker,</p><p>Terima kasih atas tanggapannya. Silakan untuk membaca jawaban &quot;Siapa saja yang dapat diselamatkan&quot; (<a
href="http://katolisitas.org/2008/12/17/siapa-saja-yang-dapat-diselamatkan/" rel="nofollow">Silakan klik</a>).</p><p>Dan terhadap umat non-Katolik yang berbuat baik kepada kita, maka itu adalah suatu tantangan bagi umat Katolik, agar dapat berbuat lebih baik, karena kita telah diberikan Roh Kudus yang memampukan kita untuk hidup dalam kasih. Dan kita berdoa agar kita diberikan kebijaksanaan untuk membagikan iman Katolik kita kepada mereka dengan cara yang baik, sehingga dapat terjadi diskusi yang terbuka dan baik. Urusan mengubah hati adalah urusan Tuhan, yang penting adalah kita menjalankan bagian kita, dan sisanya kita serahkan kepada Tuhan. Mungkin kita hanya menaburkan benih, dan orang lain yang akan menuai. Semoga ini dapat menjadi tantangan bagi kita semua &#8211; umat Katolik &#8211; untuk dapat membagikan iman Katolik kepada teman-teman di sekitar kita atas dasar kasih kepada Tuhan dan kasih terhadap sesama berdasarkan kasih kita kepada Tuhan.<br
/> Semoga dapat memperjelas.<br
/> Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: skywalker</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-3725</link> <dc:creator>skywalker</dc:creator> <pubDate>Thu, 11 Jun 2009 01:09:06 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1497#comment-3725</guid> <description>[quote] Juga perlu diketahui, bahwa perbuatan kasih dan keinginan untuk selalu melakukan kehendak Tuhan sebenarnya secara tidak langsung berkaitan dengan Gereja Katolik, [unquote]berbuat kasih dan berkendak baik tidak akan ada harganya bagi keselamatan ybs jika ia tidak dibaptis dalam gereja katolik karena at the end of the day [quote]  ‘tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik’ [unquote]terhadap non katolik yang berbuat baik pada kita -orang katolik- kita katakan : terima kasih banyak. Tuhan memakai engkau untuk memberikan yang baik pada ku - tetapi too bad engkau tidak akan Ia selamatkan - so thank you and good byebetapa sia-sia hidup mereka</description> <content:encoded><![CDATA[<p>[quote] Juga perlu diketahui, bahwa perbuatan kasih dan keinginan untuk selalu melakukan kehendak Tuhan sebenarnya secara tidak langsung berkaitan dengan Gereja Katolik, [unquote]</p><p>berbuat kasih dan berkendak baik tidak akan ada harganya bagi keselamatan ybs jika ia tidak dibaptis dalam gereja katolik karena at the end of the day [quote]  ‘tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik’ [unquote]</p><p>terhadap non katolik yang berbuat baik pada kita -orang katolik- kita katakan : terima kasih banyak. Tuhan memakai engkau untuk memberikan yang baik pada ku &#8211; tetapi too bad engkau tidak akan Ia selamatkan &#8211; so thank you and good bye</p><p>betapa sia-sia hidup mereka</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-239</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Mon, 25 Aug 2008 15:58:58 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1497#comment-239</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Stefana,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ya benar, bahwa kita harus membaca KGK 1260 secara keseluruhan. Dengan demikian kita mengetahui bahwa keselamatan diberikan dalam nama Yesus melalui GerejaNya. Namun, kita juga percaya bahwa karena &lt;strong&gt;Allah menghendaki semua orang diselamatkan&lt;/strong&gt; (1 Tim 2:4) Maka, kita percaya juga bahwa Tuhan sudah menanamkan di dalam hati semua orang suatu hasrat untuk mencari kebenaran. Jadi, jika bukan karena kesalahannya sendiri, dia tidak sampai mengenal Kristus dan GerejaNya, namun dia selalu hidup baik, mencari dan melakukan kehendak Tuhan dengan perbuatan kasih, berdasarkan iman dan pengharapannya, dan ia juga memiliki pertobatan yang sungguh, maka ia-pun dapat diselamatkan. Hal ini kita ketahui dari pengajaran Gereja, khususnya Lumen Gentium 16 dan KGK 1260. Jangan kita lupa firman Tuhan sendiri yang mengatakan &#8220;setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah&#8221; (1Yoh 4:7). Mungkin berdasarkan pengertian sedemikian maka ada pastor/ pemuka umat mengatakan &#8220;di luar Gereja ada keselamatan&#8221;. Namun kita perlu menyadari bahwa pernyataan tersebut belum lengkap. Sebab yang dapat diselamatkan di dalam konteks ini adalah orang yang benar-benar tidak tahu, dan yang bukan karena kesalahan sendiri, tidak mengenal Yesus dan Gereja-Nya, misalnya mereka yang di pedalaman China yang tidak tersentuh oleh para misionaris, atau mereka yang secara ketat dibesarkan di lingkungan Yahudi, atau di lingkungan Islam. Nah, sejauh mana mereka benar-benar tidak tahu itu sungguh-sungguh hanya Tuhan yang tahu, maka kita sebaiknya tidak berspekulasi dalam hal ini. Juga perlu diketahui, bahwa perbuatan kasih dan keinginan untuk selalu melakukan kehendak Tuhan sebenarnya secara tidak langsung berkaitan dengan Gereja Katolik, dalam hal ini dengan sakramen Baptis, (&lt;em&gt;Baptism of desire&lt;/em&gt;/ Baptis rindu) sebab jika orang-orang ini akhirnya mengetahui bahwa Tuhan menginginkan mereka untuk dibaptis agar mereka dapat selamat, mereka akan mau dibaptis, untuk lebih lagi mengambil bagian dalam hidup Ilahi, yang adalah Kasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mungkin ada baiknya kita melihat ilustrasi berikut, yang memang tidak bisa menggambarkan secara persis, namun dapat membantu kita memahami hal ini: Dalam perziarahan kita di dunia menuju surga, semua orang sesungguhnya telah diberikan &#8216;peta&#8217;. Sebagai orang Katolik, kita mengimani bahwa peta yang kita pegang adalah peta yang lengkap, yaitu iman kepada Kristus melalui Gereja Katolik. Kita yakin dan percaya, seperti yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri, bahwa dengan &#8216;peta&#8217; tersebut, kita akan sampai ke surga. (Silakan baca seluruh&lt;strong&gt;rangkaian artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan&lt;/strong&gt;, bagian 1-5). Nah, banyak orang tidak memiliki peta yang lengkap dan jelas seperti yang kita pegang. Bukannya tidak mungkin mereka akhirnya sampai juga. Tetapi tentu saja tidak semua orang yang demikian sampai ke tujuan. Mereka dapat saja kesasar, dan akhirnya tidak &#8216;nyampe&#8217;. Ilustrasi ini memang sangat disederhanakan, tetapi maksudnya adalah, dengan memegang peta yang tidak lengkap, seseorang mempunyai resiko tidak &#8217;sampai&#8217; ke tujuan Hal ini yang kurang lebih disampaikan oleh surat Paus Pius XII yang memperjelas pernyataan yang dibuatnya tentang &#8216;tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik&#8217; (&#8216;&lt;em&gt;extram ecclesiam nulla salus&lt;/em&gt;&#8217; yang dinyatakan dalam surat ensiklik, &lt;em&gt;Mystici corporis Christi, &lt;/em&gt;29 Juni 1943)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Surat penjelasan dari Kongregasi Kepausan (THE SACRED CONGREGATION OF THE HOLY OFFICE) tertanggal 8 Agustus 1949, merupakan surat penjelasan, sekaligus peringatan kepada seorang Pastor di Boston Amerika Serikat yang salah menginterpretasikan ajaran tersebut. Surat ini ditujukan kepada Uskup setempat, yaitu Richard. J Cushing, yang kemudian mendukung isi surat penjelasan tersebut. Surat tersebut dibuat berkaitan dengan Fr. Leonard Feeney yang melalui St. Benedict center dan Boston College, mengajarkan dengan ekstrim bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berikut ini adalah beberapa kutipan surat Kongregasi Kepausan tersebut:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&#8220;In His infinite mercy God has willed that the effects, necessary for one to be saved, of those helps to salvation which are directed toward man&#8217;s final end, not by intrinsic necessity, but only by divine institution, can also be obtained in certain circumstances when those helps are used only in desire and longing. This we see clearly stated in the Sacred Council of Trent, both in reference to the sacrament of regeneration and in reference to the sacrament of penance (&lt;Denzinger&gt;, nn. 797, 807). The same in its own degree must be asserted of the Church, in as far as she is the general help to salvation. Therefore, that one may obtain eternal salvation, it is not always required that he be incorporated into the Church actually as a member, but it is necessary that at least he be united to her by desire and longing.&#8221;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terjemahannya adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&#8220;Namun, di dalam belas kasihan-Nya yang tak terbatas, Tuhan berkehendak bahwa efek-efek yang diperlukan agar seseorang dapat diselamatkan, yang adalah bantuan untuk mengarahkan seseorang kepada keselamatan yang menjadi tujuan hidupnya, tidak dengan keharusan yang mutlak, namun dengan institusi ilahi, dapat juga diperoleh di dalam keadaan- keadaan tertentu di mana bentuan tersebut digunakan hanya &lt;b&gt;melalui keinginan dan kerinduan&lt;/b&gt;.  Hai ini jelas diajarkan di dalam Konsili Trente, berkaitan dengan sakramen Pembaptisan dan Pengakuan dosa. Demikianlah dengan derajat yang sama, harus diajarkan bahwa Gereja adalah bantuan umum untuk keselamatan. Maka, bahwa untuk dapat mencapai keselamatan, seseorang tidak harus tergabung di dalam Gereja sebagai anggota secara nyata, tetapi setidak-tidaknya, tergabung dengannya (Gereja) melalui keinginan dan kerinduan.&#8221;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selanjutnya Paus mengatakan, bahwa orang-orang tersebut, yang tergabung dengan Gereja lewat keinginan dan kerinduan, bukannya tidak mungkin dapat selamat, namun mereka ada di dalam keadaan &#8217;di mana mereka tidak dapat memastikan hal keselamatan mereka&#8217; sebab mereka tetap tidak dapat menerima banyak karunia surgawi dan bantuan-bantuan yang hanya dapat diberikan melalui/ di dalam Gereja Katolik. (..they are in a condition &#8220;in which they cannot be sure of their salvation&#8221; since &#8220;they still remain deprived of those many heavenly gifts and helps which can only be enjoyed in the Catholic Church&#8221; (AAS, 1. c., p. 243).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Paus juga mengatakan tidak cukup bahwa seseorang hanya berkeinginan bergabung dengan Gereja, untuk dapat diselamatkan. Orang itu juga harus melakukan perbuatan-perbuatan kasih, yang didasari oleh &#8216;&lt;em&gt;supernatural faith&#8217;&lt;/em&gt;/ iman kepada Tuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk selengkapnya, surat ini dapat dibaca di link: &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://www.ewtn.com/library/CURIA/CDFFEENY.HTM&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;http://www.ewtn.com/library/CURIA/CDFFEENY.HTM&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga dengan penjelasan di atas ini, kita dapat mendapat pengertian yang benar tentang &#8220;tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik&#8221;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://www.katolisitas.org/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;http://www.katolisitas.org&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ingrid Listiati.&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Stefana,</p><p>Ya benar, bahwa kita harus membaca KGK 1260 secara keseluruhan. Dengan demikian kita mengetahui bahwa keselamatan diberikan dalam nama Yesus melalui GerejaNya. Namun, kita juga percaya bahwa karena <strong>Allah menghendaki semua orang diselamatkan</strong> (1 Tim 2:4) Maka, kita percaya juga bahwa Tuhan sudah menanamkan di dalam hati semua orang suatu hasrat untuk mencari kebenaran. Jadi, jika bukan karena kesalahannya sendiri, dia tidak sampai mengenal Kristus dan GerejaNya, namun dia selalu hidup baik, mencari dan melakukan kehendak Tuhan dengan perbuatan kasih, berdasarkan iman dan pengharapannya, dan ia juga memiliki pertobatan yang sungguh, maka ia-pun dapat diselamatkan. Hal ini kita ketahui dari pengajaran Gereja, khususnya Lumen Gentium 16 dan KGK 1260. Jangan kita lupa firman Tuhan sendiri yang mengatakan &ldquo;setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah&rdquo; (1Yoh 4:7). Mungkin berdasarkan pengertian sedemikian maka ada pastor/ pemuka umat mengatakan &ldquo;di luar Gereja ada keselamatan&rdquo;. Namun kita perlu menyadari bahwa pernyataan tersebut belum lengkap. Sebab yang dapat diselamatkan di dalam konteks ini adalah orang yang benar-benar tidak tahu, dan yang bukan karena kesalahan sendiri, tidak mengenal Yesus dan Gereja-Nya, misalnya mereka yang di pedalaman China yang tidak tersentuh oleh para misionaris, atau mereka yang secara ketat dibesarkan di lingkungan Yahudi, atau di lingkungan Islam. Nah, sejauh mana mereka benar-benar tidak tahu itu sungguh-sungguh hanya Tuhan yang tahu, maka kita sebaiknya tidak berspekulasi dalam hal ini. Juga perlu diketahui, bahwa perbuatan kasih dan keinginan untuk selalu melakukan kehendak Tuhan sebenarnya secara tidak langsung berkaitan dengan Gereja Katolik, dalam hal ini dengan sakramen Baptis, (<em>Baptism of desire</em>/ Baptis rindu) sebab jika orang-orang ini akhirnya mengetahui bahwa Tuhan menginginkan mereka untuk dibaptis agar mereka dapat selamat, mereka akan mau dibaptis, untuk lebih lagi mengambil bagian dalam hidup Ilahi, yang adalah Kasih.</p><p>Mungkin ada baiknya kita melihat ilustrasi berikut, yang memang tidak bisa menggambarkan secara persis, namun dapat membantu kita memahami hal ini: Dalam perziarahan kita di dunia menuju surga, semua orang sesungguhnya telah diberikan &lsquo;peta&rsquo;. Sebagai orang Katolik, kita mengimani bahwa peta yang kita pegang adalah peta yang lengkap, yaitu iman kepada Kristus melalui Gereja Katolik. Kita yakin dan percaya, seperti yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri, bahwa dengan &lsquo;peta&rsquo; tersebut, kita akan sampai ke surga. (Silakan baca seluruh<strong>rangkaian artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan</strong>, bagian 1-5). Nah, banyak orang tidak memiliki peta yang lengkap dan jelas seperti yang kita pegang. Bukannya tidak mungkin mereka akhirnya sampai juga. Tetapi tentu saja tidak semua orang yang demikian sampai ke tujuan. Mereka dapat saja kesasar, dan akhirnya tidak &lsquo;nyampe&rsquo;. Ilustrasi ini memang sangat disederhanakan, tetapi maksudnya adalah, dengan memegang peta yang tidak lengkap, seseorang mempunyai resiko tidak &rsquo;sampai&rsquo; ke tujuan Hal ini yang kurang lebih disampaikan oleh surat Paus Pius XII yang memperjelas pernyataan yang dibuatnya tentang &lsquo;tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik&rsquo; (&lsquo;<em>extram ecclesiam nulla salus</em>&rsquo; yang dinyatakan dalam surat ensiklik, <em>Mystici corporis Christi, </em>29 Juni 1943)</p><p>Surat penjelasan dari Kongregasi Kepausan (THE SACRED CONGREGATION OF THE HOLY OFFICE) tertanggal 8 Agustus 1949, merupakan surat penjelasan, sekaligus peringatan kepada seorang Pastor di Boston Amerika Serikat yang salah menginterpretasikan ajaran tersebut. Surat ini ditujukan kepada Uskup setempat, yaitu Richard. J Cushing, yang kemudian mendukung isi surat penjelasan tersebut. Surat tersebut dibuat berkaitan dengan Fr. Leonard Feeney yang melalui St. Benedict center dan Boston College, mengajarkan dengan ekstrim bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik.</p><p>Berikut ini adalah beberapa kutipan surat Kongregasi Kepausan tersebut:</p><p>&ldquo;In His infinite mercy God has willed that the effects, necessary for one to be saved, of those helps to salvation which are directed toward man&rsquo;s final end, not by intrinsic necessity, but only by divine institution, can also be obtained in certain circumstances when those helps are used only in desire and longing. This we see clearly stated in the Sacred Council of Trent, both in reference to the sacrament of regeneration and in reference to the sacrament of penance (&lt;Denzinger&gt;, nn. 797, 807). The same in its own degree must be asserted of the Church, in as far as she is the general help to salvation. Therefore, that one may obtain eternal salvation, it is not always required that he be incorporated into the Church actually as a member, but it is necessary that at least he be united to her by desire and longing.&rdquo;</p><p>Terjemahannya adalah sebagai berikut:</p><p>&ldquo;Namun, di dalam belas kasihan-Nya yang tak terbatas, Tuhan berkehendak bahwa efek-efek yang diperlukan agar seseorang dapat diselamatkan, yang adalah bantuan untuk mengarahkan seseorang kepada keselamatan yang menjadi tujuan hidupnya, tidak dengan keharusan yang mutlak, namun dengan institusi ilahi, dapat juga diperoleh di dalam keadaan- keadaan tertentu di mana bentuan tersebut digunakan hanya <b>melalui keinginan dan kerinduan</b>.  Hai ini jelas diajarkan di dalam Konsili Trente, berkaitan dengan sakramen Pembaptisan dan Pengakuan dosa. Demikianlah dengan derajat yang sama, harus diajarkan bahwa Gereja adalah bantuan umum untuk keselamatan. Maka, bahwa untuk dapat mencapai keselamatan, seseorang tidak harus tergabung di dalam Gereja sebagai anggota secara nyata, tetapi setidak-tidaknya, tergabung dengannya (Gereja) melalui keinginan dan kerinduan.&rdquo;</p><p>Selanjutnya Paus mengatakan, bahwa orang-orang tersebut, yang tergabung dengan Gereja lewat keinginan dan kerinduan, bukannya tidak mungkin dapat selamat, namun mereka ada di dalam keadaan &rsquo;di mana mereka tidak dapat memastikan hal keselamatan mereka&rsquo; sebab mereka tetap tidak dapat menerima banyak karunia surgawi dan bantuan-bantuan yang hanya dapat diberikan melalui/ di dalam Gereja Katolik. (..they are in a condition &ldquo;in which they cannot be sure of their salvation&rdquo; since &ldquo;they still remain deprived of those many heavenly gifts and helps which can only be enjoyed in the Catholic Church&rdquo; (AAS, 1. c., p. 243).</p><p>Paus juga mengatakan tidak cukup bahwa seseorang hanya berkeinginan bergabung dengan Gereja, untuk dapat diselamatkan. Orang itu juga harus melakukan perbuatan-perbuatan kasih, yang didasari oleh &lsquo;<em>supernatural faith&rsquo;</em>/ iman kepada Tuhan.</p><p>Untuk selengkapnya, surat ini dapat dibaca di link: <a
rel="nofollow" href="http://www.ewtn.com/library/CURIA/CDFFEENY.HTM" rel="nofollow">http://www.ewtn.com/library/CURIA/CDFFEENY.HTM</a></p><p>Semoga dengan penjelasan di atas ini, kita dapat mendapat pengertian yang benar tentang &ldquo;tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik&rdquo;.</p><p>Salam kasih dari <a
rel="nofollow" href="http://www.katolisitas.org/" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p><p>Ingrid Listiati.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefana SW</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-234</link> <dc:creator>Stefana SW</dc:creator> <pubDate>Fri, 22 Aug 2008 08:37:32 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1497#comment-234</guid> <description>Salam Kasih Dalam Kristus,Mba Inggrid yang dikasihi Tuhan Yesus dan Bunda Maria, terima kasih jawabannya dan kutipan katekismus Gereja yang sudah di jelaskan kepada saya, Luar Biasa......, Puji Tuhan saya lebih mengerti dan tidak bingung lagi.
Berarti dalam memahami ajaran Gereja (terutama Katekismus Gereja Katholik 1260) tidak bisa dong dengan mengambil sebagian/sepenggal kata saja &quot;Diluar Gereja ada Keselamatan&quot;, karena artinya sudah berbeda dengan apa yang sudah tertulis lengkap. Kadang pernyataan itu justru datang dari orang-orang yang berpengaruh di dalam Gereja (pastor, dewan paroki, ketua wilayah atau lingkungan) sehingga kadang sepertinya mereka MENGAMINI Iman atau kepercayaan agama lainpun adalah Kebenaran dan Keselamatan. Seperti anda katakan orang2 yang seperti ini tidak/kurang mempelajari/memahami/mengenal benar2 iman Katholik mereka.
Pemahaman saya mengenai katekismus Gereja yang lengkap, berarti &quot;Ada keselamatan bagi orang yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah (Yesus Kristus) sesuai dengan pemahamannya, dapat diandaikan bahwa orang2 semacam itu memang menginginkan Pembaptisan &quot;, ini berarti berlaku hanya untuk orang2 yang sudah meninggal dalam Baptis Rindu dan Baptis Darah, tetapi tentu TIDAK berlaku bagi orang2 yang dalam hidupnya selalu berbuat baik, tetapi dengan sadar dia menolak Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat serta menolak ajaranNya atau Menutup Hati bagi Tuhan Yesus.
Semoga pemahaman saya ini benar, sekali lagi terima kasih, JBU.Salam
Stefana</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam Kasih Dalam Kristus,</p><p>Mba Inggrid yang dikasihi Tuhan Yesus dan Bunda Maria, terima kasih jawabannya dan kutipan katekismus Gereja yang sudah di jelaskan kepada saya, Luar Biasa&#8230;&#8230;, Puji Tuhan saya lebih mengerti dan tidak bingung lagi.<br
/> Berarti dalam memahami ajaran Gereja (terutama Katekismus Gereja Katholik 1260) tidak bisa dong dengan mengambil sebagian/sepenggal kata saja &#8220;Diluar Gereja ada Keselamatan&#8221;, karena artinya sudah berbeda dengan apa yang sudah tertulis lengkap. Kadang pernyataan itu justru datang dari orang-orang yang berpengaruh di dalam Gereja (pastor, dewan paroki, ketua wilayah atau lingkungan) sehingga kadang sepertinya mereka MENGAMINI Iman atau kepercayaan agama lainpun adalah Kebenaran dan Keselamatan. Seperti anda katakan orang2 yang seperti ini tidak/kurang mempelajari/memahami/mengenal benar2 iman Katholik mereka.<br
/> Pemahaman saya mengenai katekismus Gereja yang lengkap, berarti &#8220;Ada keselamatan bagi orang yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah (Yesus Kristus) sesuai dengan pemahamannya, dapat diandaikan bahwa orang2 semacam itu memang menginginkan Pembaptisan &#8220;, ini berarti berlaku hanya untuk orang2 yang sudah meninggal dalam Baptis Rindu dan Baptis Darah, tetapi tentu TIDAK berlaku bagi orang2 yang dalam hidupnya selalu berbuat baik, tetapi dengan sadar dia menolak Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat serta menolak ajaranNya atau Menutup Hati bagi Tuhan Yesus.<br
/> Semoga pemahaman saya ini benar, sekali lagi terima kasih, JBU.</p><p>Salam<br
/> Stefana</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-228</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Thu, 21 Aug 2008 02:02:22 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1497#comment-228</guid> <description>&lt;p&gt;[&lt;em&gt;Dari Admin: pertanyaan ini sudah dijawab oleh Ingrid di tulisan di atas&lt;/em&gt;]
&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>[<em>Dari Admin: pertanyaan ini sudah dijawab oleh Ingrid di tulisan di atas</em>]</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefana SW</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/20/adakah-keselamatan-di-luar-tuhan-yesus-gereja-katolik/comment-page-1/#comment-221</link> <dc:creator>Stefana SW</dc:creator> <pubDate>Wed, 20 Aug 2008 08:06:24 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=1497#comment-221</guid> <description>Dear Pengasuh,Saya akan bertanya mengenai &quot;Sungguh adakah Keselamatan diluar Tuhan Yesus/Gereja &quot; ?. Apakah pernyataan konsili Vatikan II mengenai hal itu sudah benar dan sesuai terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia ?. Karena kalau saya amati buah2 dari pemahaman pernyataan konsili vatikan II ini menjadi tidak baik yaitu banyak anak2 Tuhan yang sudah dibabtis meninggalkan gereja, karena mereka beranggapan dalam iman yang lainpun orang bisa selamat. Kalau kita menilik Sabda Tuhan sudah sangat jelas &quot; Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup, tidak ada seorang pun sampai kepada Bapaku kalau tidak melalui Aku.&quot;, &quot;Kalau kamu percaya berikan dirimu dibabtis kalau tidak percaya akan dihukum&quot;. Mohon jawaban karena saya masih bingung dengan hal ini, terima kasih. JBU.
Stefana</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Dear Pengasuh,</p><p>Saya akan bertanya mengenai &#8220;Sungguh adakah Keselamatan diluar Tuhan Yesus/Gereja &#8221; ?. Apakah pernyataan konsili Vatikan II mengenai hal itu sudah benar dan sesuai terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia ?. Karena kalau saya amati buah2 dari pemahaman pernyataan konsili vatikan II ini menjadi tidak baik yaitu banyak anak2 Tuhan yang sudah dibabtis meninggalkan gereja, karena mereka beranggapan dalam iman yang lainpun orang bisa selamat. Kalau kita menilik Sabda Tuhan sudah sangat jelas &#8221; Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup, tidak ada seorang pun sampai kepada Bapaku kalau tidak melalui Aku.&#8221;, &#8220;Kalau kamu percaya berikan dirimu dibabtis kalau tidak percaya akan dihukum&#8221;. Mohon jawaban karena saya masih bingung dengan hal ini, terima kasih. JBU.<br
/> Stefana</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 36/60 queries in 0.058 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-09-10 03:34:06 -->