<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Ekaristi sumber dan puncak Spiritualitas Kristiani</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 11:26:12 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-17511</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Thu, 22 Jul 2010 04:43:30 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-17511</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Jonathan Suryono,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas pertanyaannya tentang Ekaristi. Misa (KGK, 1332) dan Ekaristi (KGK, 1328) adalah dua hal yang sama untuk menekankan aspek yang berbeda. Nama Ekaristi adalah untuk menekankan ucapan syukur atau terima kasih kepada Allah dan nama Misa adalah untuk menekankan pengutusan setelah umat dikuatkan dengan Tubuh Kristus. Kita dapat merujuk kepada Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1328-1333) sebagai berikut:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;1328.    Kekayaan isi Sakramen ini menyata dalam aneka ragam nama. Tiap-tiapnya menunjuk kepada aspek tertentu. Orang menamakannya: &lt;strong&gt;Ekaristi&lt;/strong&gt;, karena ia adalah ucapan terima kasih kepada Allah. Kata-kata &quot;eucharistein&quot; Bdk Luk 22:19; 1 Kor 11:24. dan &quot;eulogein&quot; Bdk. Mat 26:26; Mrk 14:22. mengingatkan pujian bangsa Yahudi, yang - terutama waktu makan - memuliakan karya Allah: penciptaan, penebusan, dan pengudusan.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;1329.    &lt;strong&gt;Perjamuan Tuhan&lt;/strong&gt; Bdk. 1 Kor 11:20., karena ia menyangkut perjamuan malam, yang Tuhan adakan bersama murid-murid-Nya pada malam sebelum sengsara-Nya. Tetapi ia juga menyangkut antisipasi perjamuan pernikahan Anak Domba Bdk. Why 19:9. dalam Yerusalem surgawi.Pemecahan roti, karena ritus yang khas pada perjamuan Yahudi ini, dipergunakan oleh Yesus: pada waktu makan - sebagai kepala persekutuan - Ia memberkati roti dan membagi-bagikan-Nya Bdk. Mat 14:19; 15:36; Mrk 8:6.19.; Ia melakukan ini terutama dalam perjamuan malam terakhir Bdk. Mat 26:26; 1 Kor 11:24.. Dari tindakan ini para murid mengenal-Nya kembali sesudah kebangkitan Bdk. Luk 24:13-35.. Dengan istilah &quot;memecahkan roti&quot; orang Kristen pertama menggambarkan perkumpulan Ekaristi mereka Bdk. Kis 2:42.46; 20:7.11.. Dengan itu, mereka hendak menyatakan bahwa semua orang yang makan satu roti yang dipecahkan - dari Kristus itu - masuk ke dalam persekutuan-Nya dan membentuk di dalam-Nya satu tubuh Bdk. 1 Kor 10:16-17..Perhimpunan Ekaristi (synaxis), karena Ekaristi dirayakan dalam perhimpunan umat beriman, di mana Gereja dinyatakan secara kelihatn Bdk. 1 Kor 11:17-34.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;1330.    &lt;strong&gt;Kenangan akan kesengsaraan dan kebangkitan Tuhan&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;Kurban kudus&lt;/strong&gt;, karena ia menghadirkan kurban tunggal Kristus, Penebus dan mencakup pula penyerahan diri Gereja. Atau juga &lt;strong&gt;kurban misa kudus&lt;/strong&gt;, &quot;Kurban Syukur&quot; (Ibr 13:15) Bdk. Mzm 116:13.17., persembahan rohani Bdk. 1 Ptr 2:5., kurban murni Bdk. Mal 1:11. dan kudus, karena ia menyempumakan dan melebihi segala kurban Perjanjian Lama. &lt;strong&gt;Liturgi kudus dan ilahi&lt;/strong&gt;, karena seluruh liturgi Gereja berpusat dalam perayaan Sakramen ini dan paling jelas terungkap di dalamnya. Dalam arti yang sama orang juga menamakannya perayaan &lt;strong&gt;misteri kudus&lt;/strong&gt;. Juga orang mengatakan Sakramen mahakudus, karena Ekaristi adalah Sakramen segala Sakramen. Disimpan dalam rupa Ekaristi di dalam tabernakel, orang menamakan tubuh Kristus itu Yang Maha Kudus.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;1331.    &lt;strong&gt;Komuni&lt;/strong&gt;, karena didalam Sakramen ini kita menyatukan diri dengan Kristus yang mengundang kita mengambil bagian dalam tubuh dan darah-Nya, supaya kita membentuk satu tubuh Bdk. 1 Kor 10:16-17.. Orang juga menamakan Ekaristi hal-hal kudus [ta hagia; sancta] (const. ap. 8,13,12; Didache 9,5; 10,6) - ini sejajar dengan arti pertama ungkapan &quot;persekutuan para kudus&quot; dalam syahadat apostolik. Nama-nama yang lain adalah: roti malaikat, roti surgawi, &quot;obat kebakaan&quot; (Ignasius dari Antiokia, Eph. 20,2) dan bekal perjalanan.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;1332.    &lt;strong&gt;Misa kudus&lt;/strong&gt;, karena liturgi, dimana misteri keselamatan dirayakan, berakhir dengan pengutusan umat beriman [missio], supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupannya sehari-hari.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga jawaban ini dapat membantu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br&gt;
stef - katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Jonathan Suryono,</p><p>Terima kasih atas pertanyaannya tentang Ekaristi. Misa (KGK, 1332) dan Ekaristi (KGK, 1328) adalah dua hal yang sama untuk menekankan aspek yang berbeda. Nama Ekaristi adalah untuk menekankan ucapan syukur atau terima kasih kepada Allah dan nama Misa adalah untuk menekankan pengutusan setelah umat dikuatkan dengan Tubuh Kristus. Kita dapat merujuk kepada Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1328-1333) sebagai berikut:</p><p
style="padding-left: 40px;">1328.    Kekayaan isi Sakramen ini menyata dalam aneka ragam nama. Tiap-tiapnya menunjuk kepada aspek tertentu. Orang menamakannya: <strong>Ekaristi</strong>, karena ia adalah ucapan terima kasih kepada Allah. Kata-kata &quot;eucharistein&quot; Bdk Luk 22:19; 1 Kor 11:24. dan &quot;eulogein&quot; Bdk. Mat 26:26; Mrk 14:22. mengingatkan pujian bangsa Yahudi, yang &#8211; terutama waktu makan &#8211; memuliakan karya Allah: penciptaan, penebusan, dan pengudusan.</p><p
style="padding-left: 40px;">1329. <strong>Perjamuan Tuhan</strong> Bdk. 1 Kor 11:20., karena ia menyangkut perjamuan malam, yang Tuhan adakan bersama murid-murid-Nya pada malam sebelum sengsara-Nya. Tetapi ia juga menyangkut antisipasi perjamuan pernikahan Anak Domba Bdk. Why 19:9. dalam Yerusalem surgawi.Pemecahan roti, karena ritus yang khas pada perjamuan Yahudi ini, dipergunakan oleh Yesus: pada waktu makan &#8211; sebagai kepala persekutuan &#8211; Ia memberkati roti dan membagi-bagikan-Nya Bdk. Mat 14:19; 15:36; Mrk 8:6.19.; Ia melakukan ini terutama dalam perjamuan malam terakhir Bdk. Mat 26:26; 1 Kor 11:24.. Dari tindakan ini para murid mengenal-Nya kembali sesudah kebangkitan Bdk. Luk 24:13-35.. Dengan istilah &quot;memecahkan roti&quot; orang Kristen pertama menggambarkan perkumpulan Ekaristi mereka Bdk. Kis 2:42.46; 20:7.11.. Dengan itu, mereka hendak menyatakan bahwa semua orang yang makan satu roti yang dipecahkan &#8211; dari Kristus itu &#8211; masuk ke dalam persekutuan-Nya dan membentuk di dalam-Nya satu tubuh Bdk. 1 Kor 10:16-17..Perhimpunan Ekaristi (synaxis), karena Ekaristi dirayakan dalam perhimpunan umat beriman, di mana Gereja dinyatakan secara kelihatn Bdk. 1 Kor 11:17-34.</p><p
style="padding-left: 40px;">1330. <strong>Kenangan akan kesengsaraan dan kebangkitan Tuhan</strong>. <strong>Kurban kudus</strong>, karena ia menghadirkan kurban tunggal Kristus, Penebus dan mencakup pula penyerahan diri Gereja. Atau juga <strong>kurban misa kudus</strong>, &quot;Kurban Syukur&quot; (Ibr 13:15) Bdk. Mzm 116:13.17., persembahan rohani Bdk. 1 Ptr 2:5., kurban murni Bdk. Mal 1:11. dan kudus, karena ia menyempumakan dan melebihi segala kurban Perjanjian Lama. <strong>Liturgi kudus dan ilahi</strong>, karena seluruh liturgi Gereja berpusat dalam perayaan Sakramen ini dan paling jelas terungkap di dalamnya. Dalam arti yang sama orang juga menamakannya perayaan <strong>misteri kudus</strong>. Juga orang mengatakan Sakramen mahakudus, karena Ekaristi adalah Sakramen segala Sakramen. Disimpan dalam rupa Ekaristi di dalam tabernakel, orang menamakan tubuh Kristus itu Yang Maha Kudus.</p><p
style="padding-left: 40px;">1331. <strong>Komuni</strong>, karena didalam Sakramen ini kita menyatukan diri dengan Kristus yang mengundang kita mengambil bagian dalam tubuh dan darah-Nya, supaya kita membentuk satu tubuh Bdk. 1 Kor 10:16-17.. Orang juga menamakan Ekaristi hal-hal kudus [ta hagia; sancta] (const. ap. 8,13,12; Didache 9,5; 10,6) &#8211; ini sejajar dengan arti pertama ungkapan &quot;persekutuan para kudus&quot; dalam syahadat apostolik. Nama-nama yang lain adalah: roti malaikat, roti surgawi, &quot;obat kebakaan&quot; (Ignasius dari Antiokia, Eph. 20,2) dan bekal perjalanan.</p><p
style="padding-left: 40px;">1332. <strong>Misa kudus</strong>, karena liturgi, dimana misteri keselamatan dirayakan, berakhir dengan pengutusan umat beriman [missio], supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupannya sehari-hari.</p><p>Semoga jawaban ini dapat membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; katolisitas.org</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Jonathan Suryono</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-17502</link> <dc:creator>Jonathan Suryono</dc:creator> <pubDate>Wed, 21 Jul 2010 12:45:11 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-17502</guid> <description>Yth. Ibu Inggrid,Saya mohon informasi tentang perbedaan istilah &quot;MISA&quot; dan &quot;PERAYAAN EKARISTI&quot; ? mana yang benar ? juga arti masing-masing. Atau juga kapan kita menggunakan nya istilah Misa atau Perayaan Ekaristi.
Terima kasih atas perhatian Ibu. Tuhan memberkati.Salam,J. Suryono</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Yth. Ibu Inggrid,</p><p>Saya mohon informasi tentang perbedaan istilah &#8220;MISA&#8221; dan &#8220;PERAYAAN EKARISTI&#8221; ? mana yang benar ? juga arti masing-masing. Atau juga kapan kita menggunakan nya istilah Misa atau Perayaan Ekaristi.<br
/> Terima kasih atas perhatian Ibu. Tuhan memberkati.</p><p>Salam,</p><p>J. Suryono</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-12765</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Thu, 25 Mar 2010 16:06:21 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-12765</guid> <description>&lt;p&gt;Penerimaan Komuni&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Shalom Angela Marici,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Justru karena menghayati bahwa jika kita menyambut Ekaristi artinya kita menyambut Kristus sendiri, maka kita harus memeriksa batin sebelum menyambut-Nya. Katekismus mengajarkan demikian:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;KGK 1385     Untuk menjawab undangan ini, &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;kita harus mempersiapkan diri untuk saat  yang begitu agung dan kudus&lt;/span&gt;. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan  pemeriksaan batin: &quot;barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti  atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.  Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru  sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa  makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas  dirinya&quot; (1 Kor 11:27-29) &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;Siapa yang sadar akan sebuah dosa  besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Maka sebelum kita menerima Ekaristi, sebenarnya seseorang harus terlebih dahulu mengimani bahwa yang akan disambutnya adalah Tubuh dan Darah Kristus sendiri; dan ia tidak terhalang menerima-Nya karena berdosa berat. Karena itu sebelum menyembut Kristus selayaknya kita memeriksa batin, apakah kita telah melakukan dosa berat yang belum kita aku-kan dalam Sakramen Tobat. Jika ada, kita perlu mengaku dosa tersebut terlebih dahulu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hal yang menjadi kompleks adalah jika seseorang tahu bahwa ia telah melakukan dosa berat, dan bahkan hidup dalam dosa, yang tidak bertobat dan meninggalkan dosa tersebut, tetapi tetap menerima Komuni. Kasus demikian dapat menjadi batu sandungan bagi umat. Misalnya mereka yang hidup dalam perkawinan yang tidak sah di mata Gereja. Karena maksud persatuan dengan Yesus dalam komuni kudus adalah juga untuk menguduskan kehidupan umat, yang tentu sejalan dengan panggilan hidup mereka, baik menikah atau selibat bagi kerajaan Allah. Komuni itu sendiri melambangkan persatuan Kristus dan Mempelai-Nya yaitu Gereja; dan ikatan ini harus pula digambarkan dengan kesatuan suami istri dalam Perkawinan kudus, karena memang Rasul Paulus menggambarkan ikatan Kristus dan Gereja ini sebagai model ikatan suami dan istri. Jadi jika ternyata seseorang tidak mengindahkan kehendak/ peraturan Tuhan dalam hal ini, maka sebenarnya ia tidak sungguh- sungguh memahami makna Ekaristi dan makna ajaran Rasul Paulus seperti tertulis di atas. Tuhan itu sungguh kudus, sehingga jika kita ingin menyambut-Nya kitapun harus mempersiapkan hati dan batin kita, dan menerima-Nya dalam kondisi rahmat. Dan kondisi rahmat ini kita peroleh jika kita senantiasa bertobat dan mentaati perintah- perintah Allah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati- www.katolisitas.org&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Penerimaan Komuni</p><p>Shalom Angela Marici,</p><p>Justru karena menghayati bahwa jika kita menyambut Ekaristi artinya kita menyambut Kristus sendiri, maka kita harus memeriksa batin sebelum menyambut-Nya. Katekismus mengajarkan demikian:</p><blockquote><p>KGK 1385     Untuk menjawab undangan ini, <span
style="text-decoration: underline;">kita harus mempersiapkan diri untuk saat  yang begitu agung dan kudus</span>. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan  pemeriksaan batin: &#8220;barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti  atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.  Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru  sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa  makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas  dirinya&#8221; (1 Kor 11:27-29) <span
style="text-decoration: underline;">Siapa yang sadar akan sebuah dosa  besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni</span>.</p></blockquote><p>Maka sebelum kita menerima Ekaristi, sebenarnya seseorang harus terlebih dahulu mengimani bahwa yang akan disambutnya adalah Tubuh dan Darah Kristus sendiri; dan ia tidak terhalang menerima-Nya karena berdosa berat. Karena itu sebelum menyembut Kristus selayaknya kita memeriksa batin, apakah kita telah melakukan dosa berat yang belum kita aku-kan dalam Sakramen Tobat. Jika ada, kita perlu mengaku dosa tersebut terlebih dahulu.</p><p>Hal yang menjadi kompleks adalah jika seseorang tahu bahwa ia telah melakukan dosa berat, dan bahkan hidup dalam dosa, yang tidak bertobat dan meninggalkan dosa tersebut, tetapi tetap menerima Komuni. Kasus demikian dapat menjadi batu sandungan bagi umat. Misalnya mereka yang hidup dalam perkawinan yang tidak sah di mata Gereja. Karena maksud persatuan dengan Yesus dalam komuni kudus adalah juga untuk menguduskan kehidupan umat, yang tentu sejalan dengan panggilan hidup mereka, baik menikah atau selibat bagi kerajaan Allah. Komuni itu sendiri melambangkan persatuan Kristus dan Mempelai-Nya yaitu Gereja; dan ikatan ini harus pula digambarkan dengan kesatuan suami istri dalam Perkawinan kudus, karena memang Rasul Paulus menggambarkan ikatan Kristus dan Gereja ini sebagai model ikatan suami dan istri. Jadi jika ternyata seseorang tidak mengindahkan kehendak/ peraturan Tuhan dalam hal ini, maka sebenarnya ia tidak sungguh- sungguh memahami makna Ekaristi dan makna ajaran Rasul Paulus seperti tertulis di atas. Tuhan itu sungguh kudus, sehingga jika kita ingin menyambut-Nya kitapun harus mempersiapkan hati dan batin kita, dan menerima-Nya dalam kondisi rahmat. Dan kondisi rahmat ini kita peroleh jika kita senantiasa bertobat dan mentaati perintah- perintah Allah.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/>Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: angelA MARICI</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-12659</link> <dc:creator>angelA MARICI</dc:creator> <pubDate>Mon, 22 Mar 2010 16:22:46 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-12659</guid> <description>Salam kenal ibu Inggrid..syaloom..Saya sudah sering membaca artikel ibu disini dan sangat bersyukur sekali karena banyak hal yang dapat dipelajari dan dibagikan kepada teman-teman. Kalau boleh saya mau bertanya seputar penerimaan komuni saat misa. ada pengumuman sebelum komuni yang sering kita dengar,bunyinya kira-kira begini: &quot; yang boleh menerima komuni adalah warga gereja ( yang telah dibaptis) katolik  dan telah menerima komuni pertama&quot;. dan &quot; yang tidak berhalangan&quot; Dapatkah ibu menjelaskan hal ini? karena ada saja orang berpendapat &quot;walaupun dia berdosa, tidak ada yang melarang orang tersebut untuk menjawab kerinduannya bertemu dengan Yesus dalam rupa hosti&quot; atau &quot; siapa yang tahu aku berdosa? hanya Tuhan dan aku saja...&quot; dan lain sebagainya.. Semoga dengan penjelasan ibu hal ini dapat memberikan betapa kita harus menghormati kesucian hati dan jiwa ..karena tubuh kita adalah bait kudus Allah...dan kita menghormati kehadiran Allah dalam diri kita....Terima kasih sebelumnya,Gbu</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal ibu Inggrid..syaloom..Saya sudah sering membaca artikel ibu disini dan sangat bersyukur sekali karena banyak hal yang dapat dipelajari dan dibagikan kepada teman-teman. Kalau boleh saya mau bertanya seputar penerimaan komuni saat misa. ada pengumuman sebelum komuni yang sering kita dengar,bunyinya kira-kira begini: &#8221; yang boleh menerima komuni adalah warga gereja ( yang telah dibaptis) katolik  dan telah menerima komuni pertama&#8221;. dan &#8221; yang tidak berhalangan&#8221; Dapatkah ibu menjelaskan hal ini? karena ada saja orang berpendapat &#8220;walaupun dia berdosa, tidak ada yang melarang orang tersebut untuk menjawab kerinduannya bertemu dengan Yesus dalam rupa hosti&#8221; atau &#8221; siapa yang tahu aku berdosa? hanya Tuhan dan aku saja&#8230;&#8221; dan lain sebagainya.. Semoga dengan penjelasan ibu hal ini dapat memberikan betapa kita harus menghormati kesucian hati dan jiwa ..karena tubuh kita adalah bait kudus Allah&#8230;dan kita menghormati kehadiran Allah dalam diri kita&#8230;.Terima kasih sebelumnya,Gbu</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-11700</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Thu, 18 Feb 2010 16:27:12 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-11700</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Julius Paulo,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas tanggapannya. Saya coba menjawab diskusi ini. Romo Wanta tahu secara persis bahwa memang Misa Tridentine tidak selalu diidentifikasikan dengan SSPX. Bahkan Paus Benediktus XVI secara khusus dalam surat apostoliknya &quot;&lt;em&gt;Summorum Pontificum&lt;/em&gt;&quot; menegaskan bahwa Roman Missal (tahun 1970) merupakan &quot;&lt;em&gt;ordinary way of Catholic worship&lt;/em&gt;&quot;, sedangkan Roman Missal (tahun 1962 / Tridentine) merupakan &quot;The extraordinary expression of the same law of prayer&quot;, yang dituliskan oleh Paus Benediktus XVI dalam artikel 1. Kemudian dalam artikel 5 dituliskan juga bahwa kalau ada kelompok yang tetap, yang menginginkan misa Tridentine, maka pastor dapat mengadakannya, namun juga harus tetap menjaga kesatuan dari seluruh Gereja. Oleh karena itu, uskup yang bersangkutan harus menganalisa, bahwa dengan diselenggarakan Misa Tridentine, kesatuan umat dalam liturgi tetap terjaga.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Art 1. The Roman Missal promulgated by Paul VI is the&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt; ordinary  		expression&lt;/span&gt; of the &#039;Lex orandi&#039; (Law of prayer) of the Catholic Church  of  		the Latin rite. Nonetheless, the Roman Missal promulgated by St. Pius V   		and reissued by Bl. John XXIII is to be considered as an &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;extraordinary   		expression&lt;/span&gt; of that same &#039;Lex orandi,&#039; and must be given due honour for   		its venerable and ancient usage. These two expressions of the Church&#039;s   		Lex orandi will in no any way lead to a division in the Church&#039;s &#039;Lex  		credendi&#039; (Law of belief). They are, in fact two usages of the one  Roman  		rite.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Art. 5. §1 In parishes, where there   		is a stable group of faithful who adhere to the earlier liturgical  		tradition, &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;the pastor should willingly accept &lt;/span&gt;their requests to  		celebrate the Mass according to the rite of the Roman Missal published   		in 1962, and &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;ensure that the welfare of these faithful harmonises with   		the ordinary pastoral care of the parish&lt;/span&gt;, under &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;the guidance of the  		bishop&lt;/span&gt; in accordance with canon 392, &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;avoiding discord&lt;/span&gt; and &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;favouring  the  		unity of the whole Church&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Dan yang terpenting adalah penyelenggaraan Misa Tridentine &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;bukan dilakukan&lt;/span&gt; dengan dasar bahwa Roman Missal 1970 adalah tidak sah. Namun, penyelenggaraan Misa Tridentine ini harus tetap menjaga kesatuan umat beriman dan membawa umat beriman untuk dapat mempunyai penghayatan yang lebih baik tentang liturgi Ekaristi. Saya rasa, kalau banyak umat, yang merupakan kelompok yang stabil, dan menginginkan penyelenggaraan misa Tridentine ini, maka pihak keuskupan akan menanggapi dengan baik. Pada saat yang bersamaan kita juga menghormati keputusan dari keuskupan. Oleh karena itu, kalau anda mau, silakan datang ke Romo Wanta dan berdiskusi bersama dengan komisi liturgi. Saya pikir, ini adalah cara yang terbaik yang telah ditawarkan oleh Romo Wanta sebelumnya. Semoga dapat diterima dengan baik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Julius Paulo,</p><p>Terima kasih atas tanggapannya. Saya coba menjawab diskusi ini. Romo Wanta tahu secara persis bahwa memang Misa Tridentine tidak selalu diidentifikasikan dengan SSPX. Bahkan Paus Benediktus XVI secara khusus dalam surat apostoliknya &#8220;<em>Summorum Pontificum</em>&#8221; menegaskan bahwa Roman Missal (tahun 1970) merupakan &#8220;<em>ordinary way of Catholic worship</em>&#8220;, sedangkan Roman Missal (tahun 1962 / Tridentine) merupakan &#8220;The extraordinary expression of the same law of prayer&#8221;, yang dituliskan oleh Paus Benediktus XVI dalam artikel 1. Kemudian dalam artikel 5 dituliskan juga bahwa kalau ada kelompok yang tetap, yang menginginkan misa Tridentine, maka pastor dapat mengadakannya, namun juga harus tetap menjaga kesatuan dari seluruh Gereja. Oleh karena itu, uskup yang bersangkutan harus menganalisa, bahwa dengan diselenggarakan Misa Tridentine, kesatuan umat dalam liturgi tetap terjaga.</p><blockquote><p>Art 1. The Roman Missal promulgated by Paul VI is the<span
style="text-decoration: underline;"> ordinary  		expression</span> of the &#8216;Lex orandi&#8217; (Law of prayer) of the Catholic Church  of  		the Latin rite. Nonetheless, the Roman Missal promulgated by St. Pius V   		and reissued by Bl. John XXIII is to be considered as an <span
style="text-decoration: underline;">extraordinary   		expression</span> of that same &#8216;Lex orandi,&#8217; and must be given due honour for   		its venerable and ancient usage. These two expressions of the Church&#8217;s   		Lex orandi will in no any way lead to a division in the Church&#8217;s &#8216;Lex  		credendi&#8217; (Law of belief). They are, in fact two usages of the one  Roman  		rite.</p><p>Art. 5. §1 In parishes, where there   		is a stable group of faithful who adhere to the earlier liturgical  		tradition, <span
style="text-decoration: underline;">the pastor should willingly accept </span>their requests to  		celebrate the Mass according to the rite of the Roman Missal published   		in 1962, and <span
style="text-decoration: underline;">ensure that the welfare of these faithful harmonises with   		the ordinary pastoral care of the parish</span>, under <span
style="text-decoration: underline;">the guidance of the  		bishop</span> in accordance with canon 392, <span
style="text-decoration: underline;">avoiding discord</span> and <span
style="text-decoration: underline;">favouring  the  		unity of the whole Church</span>.</p></blockquote><p>Dan yang terpenting adalah penyelenggaraan Misa Tridentine <span
style="text-decoration: underline;">bukan dilakukan</span> dengan dasar bahwa Roman Missal 1970 adalah tidak sah. Namun, penyelenggaraan Misa Tridentine ini harus tetap menjaga kesatuan umat beriman dan membawa umat beriman untuk dapat mempunyai penghayatan yang lebih baik tentang liturgi Ekaristi. Saya rasa, kalau banyak umat, yang merupakan kelompok yang stabil, dan menginginkan penyelenggaraan misa Tridentine ini, maka pihak keuskupan akan menanggapi dengan baik. Pada saat yang bersamaan kita juga menghormati keputusan dari keuskupan. Oleh karena itu, kalau anda mau, silakan datang ke Romo Wanta dan berdiskusi bersama dengan komisi liturgi. Saya pikir, ini adalah cara yang terbaik yang telah ditawarkan oleh Romo Wanta sebelumnya. Semoga dapat diterima dengan baik.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/>stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Julius Paulo</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-11516</link> <dc:creator>Julius Paulo</dc:creator> <pubDate>Sun, 14 Feb 2010 14:34:33 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-11516</guid> <description>Rm.Wanta, Pr. YthTerima kasih atas jawaban dan kesedian Romo untuk berdiskusi, sungguh sangat saya hargai dan harapkan, mungkin jika ada kesempatan bagi saya untuk bertemu langsung dengan romo perihal diskusi tentang liturgi, akan saya nantikan datangnya waktu itu. Sedikit menanggapi jawaban romo, saya ingin sedikit memberikan tambahan. Yaitu kaitan antara Misa Tridentine dengan kelompok SSPX atau pengikut Mgr.Lefebvre. Seringkali misa Tridentine dikaitkan atau diidentikkan dengan kelompok-kelompok tersebut yang memang saat ini masih dalam proses dialog dengan Tahta Suci akan rekonsiliasinya, tentunya kita mengharapkan kembalinya kelompok tersebut ke dalam pangkuan Bunda Gereja yang Satu dalam Gereja Katolik. Namun hal ini sudah sepatutnyalah diluruskan bahwa Misa Tridentine tidak bisa diidentikan dengan SSPX (NB: kelompok ini ada di Indonesia, di wilayah Keuskupan Bogor, Cinere), sebab misa tersebut adalah sebuah forma liturgi pra-konsili Vatikan II dan memang tidak pernah dilarang penggunaannya, seperti yang ditegaskan oleh Bapa Suci Paus Yohannes Paulus II dalam motu proprio-nya; Ecclesia Dei tahun 1988, dan sekali lagi oleh Bapa Suci Paus Benedictus XVI melalui motu proprio; Summorum Pontificum pada tahun 2007 lalu. Kelompok SSPX memang dikenal akan kelekatannya pada liturgi tersebut, namun karena adanya tindakan yang membahayakan keutuhan Gereja melalui diantaranya penolakan hasil-hasil Konsili Vatikan II dan pentahbisan Uskup tanpa melalui ijin Tahta Suci, maka latae sentenciae ekskomunikasi dijatuhkan. Jadi misa Tridentine adalah berbeda dan tidak bisa dikaitkan dengan SSPX dengan segala konotasi negatifnya.Romo, menanggapi perihal “menambah kacau” jika misa Tridentine diadakan seperti pendapat romo di atas, bisakah untuk dijelaskan akan bentuk dan konsekuensinya? Sebab saya kurang mengerti pada bagian tersebut. Saya berpendapat bahwa misa Tridentine bisa memberikan keselarasan dalam merayakan Ekaristi kudus sebab dalam menjalankannya adalah terikat oleh segala aturan dalam tata caranya, serta tertutup akan segala kemungkinan inovasi yang kurang pantas pada perayaan Misteri Agung, juga terlebih menunjukkan kekayaan dan kedalaman doktrin iman katolik di tengah arus indifferentisme saat ini, suatu misa yang kaya nilai katekese. Mungkin jika aku mengambil beberapa contoh “menambah kacau” menurut pandanganku pribadi, misal, pada perayaan Misa Imlek, di mana gereja seolah disulap seperti klenteng pada hari itu, atau misa gaya Karismatik yang pada saat itu gereja disulap bak diskotik dengan lagu hingar-bingar, serta sikap-sikap umat yang sangat tidak liturgis seperti tertuang dalam buku TPE 2005 edisi Buku Umat, di mana umat diajak untuk bertepuk-tangan, mengangkat tangan, dsb. Semua itu tidak ada dalam bagian Petunjuk Praktis halaman 5-8, juga masuknya lagu-lagu profan dalam perayaan Ekaristi. Yang mana menurut hemat saya pribadi adalah “kekacauan” yang sesungguhnya.Sungguh suatu kabar baik romo bisa mendapatkan teks liturgi Tridentina dari Rm.Bosco, O.Carm, mungkin suatu waktu waktu nanti dapat mempelajarinya atau mungkin juga merayakan Ekaristi dengan liturgi tersebut dan tentunya sungguh suatu kabar yang menggembirakan bagi para pecinta misa Tridentina di Indonesia.Terima kasih, salam dan doakuJulius Paulo</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Rm.Wanta, Pr. Yth</p><p>Terima kasih atas jawaban dan kesedian Romo untuk berdiskusi, sungguh sangat saya hargai dan harapkan, mungkin jika ada kesempatan bagi saya untuk bertemu langsung dengan romo perihal diskusi tentang liturgi, akan saya nantikan datangnya waktu itu. Sedikit menanggapi jawaban romo, saya ingin sedikit memberikan tambahan. Yaitu kaitan antara Misa Tridentine dengan kelompok SSPX atau pengikut Mgr.Lefebvre. Seringkali misa Tridentine dikaitkan atau diidentikkan dengan kelompok-kelompok tersebut yang memang saat ini masih dalam proses dialog dengan Tahta Suci akan rekonsiliasinya, tentunya kita mengharapkan kembalinya kelompok tersebut ke dalam pangkuan Bunda Gereja yang Satu dalam Gereja Katolik. Namun hal ini sudah sepatutnyalah diluruskan bahwa Misa Tridentine tidak bisa diidentikan dengan SSPX (NB: kelompok ini ada di Indonesia, di wilayah Keuskupan Bogor, Cinere), sebab misa tersebut adalah sebuah forma liturgi pra-konsili Vatikan II dan memang tidak pernah dilarang penggunaannya, seperti yang ditegaskan oleh Bapa Suci Paus Yohannes Paulus II dalam motu proprio-nya; Ecclesia Dei tahun 1988, dan sekali lagi oleh Bapa Suci Paus Benedictus XVI melalui motu proprio; Summorum Pontificum pada tahun 2007 lalu. Kelompok SSPX memang dikenal akan kelekatannya pada liturgi tersebut, namun karena adanya tindakan yang membahayakan keutuhan Gereja melalui diantaranya penolakan hasil-hasil Konsili Vatikan II dan pentahbisan Uskup tanpa melalui ijin Tahta Suci, maka latae sentenciae ekskomunikasi dijatuhkan. Jadi misa Tridentine adalah berbeda dan tidak bisa dikaitkan dengan SSPX dengan segala konotasi negatifnya.</p><p>Romo, menanggapi perihal “menambah kacau” jika misa Tridentine diadakan seperti pendapat romo di atas, bisakah untuk dijelaskan akan bentuk dan konsekuensinya? Sebab saya kurang mengerti pada bagian tersebut. Saya berpendapat bahwa misa Tridentine bisa memberikan keselarasan dalam merayakan Ekaristi kudus sebab dalam menjalankannya adalah terikat oleh segala aturan dalam tata caranya, serta tertutup akan segala kemungkinan inovasi yang kurang pantas pada perayaan Misteri Agung, juga terlebih menunjukkan kekayaan dan kedalaman doktrin iman katolik di tengah arus indifferentisme saat ini, suatu misa yang kaya nilai katekese. Mungkin jika aku mengambil beberapa contoh “menambah kacau” menurut pandanganku pribadi, misal, pada perayaan Misa Imlek, di mana gereja seolah disulap seperti klenteng pada hari itu, atau misa gaya Karismatik yang pada saat itu gereja disulap bak diskotik dengan lagu hingar-bingar, serta sikap-sikap umat yang sangat tidak liturgis seperti tertuang dalam buku TPE 2005 edisi Buku Umat, di mana umat diajak untuk bertepuk-tangan, mengangkat tangan, dsb. Semua itu tidak ada dalam bagian Petunjuk Praktis halaman 5-8, juga masuknya lagu-lagu profan dalam perayaan Ekaristi. Yang mana menurut hemat saya pribadi adalah “kekacauan” yang sesungguhnya.</p><p>Sungguh suatu kabar baik romo bisa mendapatkan teks liturgi Tridentina dari Rm.Bosco, O.Carm, mungkin suatu waktu waktu nanti dapat mempelajarinya atau mungkin juga merayakan Ekaristi dengan liturgi tersebut dan tentunya sungguh suatu kabar yang menggembirakan bagi para pecinta misa Tridentina di Indonesia.</p><p>Terima kasih, salam dan doaku</p><p>Julius Paulo</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-10929</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Mon, 01 Feb 2010 18:14:41 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-10929</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Aquilino Amaral,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tentang Perayaan Ekaristi dalam Gereja Timur Orthodox (yang tidak dalam persatuan penuh dengan Gereja Katolik), Katekismus mengajarkan demikian:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;KGK 1399&lt;/strong&gt;     Gereja-gereja Timur, yang tidak berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, merayakan Ekaristi dengan cinta yang besar. &quot;Sungguhpun terpisah, Gereja-gereja Timur mempunyai Sakramen-sakramen yang sejati, terutama berdasarkan suksesi apostolik, imamat dan Ekaristi. Melalui Sakramen-sakramen itu mereka masih berhubungan erat sekali dengan kita&quot;. Dengan demikian semacam persekutuan &quot;in sacris&quot;, jadi dalam Ekaristi, &quot;bila situasi memang menguntungkan dan dengan persetujuan pimpinan Gerejani, bukan hanya mungkin, melainkan juga dianjurkan&quot; (Unitatis Redintegratio 15). (Bdk. CIC, can. 844,  3).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selanjutnya tentang hubungan Gereja Katolik tentang Gereja- gereja Timur Orthodox ini, dapat anda baca di sini, &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/unitatis-redintegratio/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;, terutama pada Bab III tentang Gereja-gereja dan Jemaat-jemaat Gerejawi yang terpisah dari Tahta Apostolik di Roma, Sub Bab 1, Tinjauan khusus tentang Gereja -gereja Timur, nomor 14 sampai dengan 18.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Karena baik Gereja Timur Orthodox maupun Barat (Katolik Roma) bersumber pada Tradisi para rasul, maka perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh keduanya mempunyai kemiripan; dan sakramen Ekaristi yang mereka berikan juga adalah sakramen yang sah. Hanya saja, karena Gereja Timur Orthodox tersebut tidak sepenuhnya berada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik, maka kita sebagai umat yang dibaptis Katolik selayaknya mengikuti perayaan Ekaristi yang diadakan oleh Gereja Katolik. Sebab, makna sakramen Ekaristi juga dalah sebagai sakramen pemersatu/ kesatuan dengan Gereja Katolik sebagai Tubuh Mistik Kristus. Dalam hal ini, kekecualian hanya dapat diberikan pada kondisi-kondisi tertentu/ darurat, seperti misalnya dalam bahaya maut. Ketentuannya dalam Kitab Hukum Kanonik 1983 adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Kan. 844 &#167; 2&lt;/strong&gt; Setiap kali keadaan mendesak atau manfaat rohani benar-benar menganjurkan, dan asal tercegah bahaya kesesatan atau indiferentisme, orang beriman kristiani yang secara fisik atau moril tidak mungkin menghadap pelayan katolik, diperbolehkan menerima sakramen tobat, Ekaristi serta pengurapan orang sakit dari pelayan-pelayan tidak katolik, jika dalam Gereja mereka sakramen-sakramen tersebut adalah sah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perlu juga diketahui bahwa tidak semua Gereja-gereja Timur tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik. Sebab, terdapat 22 Gereja-gereja Timur yang berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, dan daftar nama Gereja tersebut dapat anda baca di sini, &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2009/05/22/apa-saja-yang-termasuk-gereja-timur-katolik/comment-page-1/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Demikian semoga keterangan ini bermanfaat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br&gt;
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Aquilino Amaral,</p><p>Tentang Perayaan Ekaristi dalam Gereja Timur Orthodox (yang tidak dalam persatuan penuh dengan Gereja Katolik), Katekismus mengajarkan demikian:</p><p
style="margin-left: 40px;"><strong>KGK 1399</strong> Gereja-gereja Timur, yang tidak berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, merayakan Ekaristi dengan cinta yang besar. &quot;Sungguhpun terpisah, Gereja-gereja Timur mempunyai Sakramen-sakramen yang sejati, terutama berdasarkan suksesi apostolik, imamat dan Ekaristi. Melalui Sakramen-sakramen itu mereka masih berhubungan erat sekali dengan kita&quot;. Dengan demikian semacam persekutuan &quot;in sacris&quot;, jadi dalam Ekaristi, &quot;bila situasi memang menguntungkan dan dengan persetujuan pimpinan Gerejani, bukan hanya mungkin, melainkan juga dianjurkan&quot; (Unitatis Redintegratio 15). (Bdk. CIC, can. 844,  3).</p><p>Selanjutnya tentang hubungan Gereja Katolik tentang Gereja- gereja Timur Orthodox ini, dapat anda baca di sini, <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/unitatis-redintegratio/" rel="nofollow">silakan klik</a>, terutama pada Bab III tentang Gereja-gereja dan Jemaat-jemaat Gerejawi yang terpisah dari Tahta Apostolik di Roma, Sub Bab 1, Tinjauan khusus tentang Gereja -gereja Timur, nomor 14 sampai dengan 18.</p><p>Karena baik Gereja Timur Orthodox maupun Barat (Katolik Roma) bersumber pada Tradisi para rasul, maka perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh keduanya mempunyai kemiripan; dan sakramen Ekaristi yang mereka berikan juga adalah sakramen yang sah. Hanya saja, karena Gereja Timur Orthodox tersebut tidak sepenuhnya berada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik, maka kita sebagai umat yang dibaptis Katolik selayaknya mengikuti perayaan Ekaristi yang diadakan oleh Gereja Katolik. Sebab, makna sakramen Ekaristi juga dalah sebagai sakramen pemersatu/ kesatuan dengan Gereja Katolik sebagai Tubuh Mistik Kristus. Dalam hal ini, kekecualian hanya dapat diberikan pada kondisi-kondisi tertentu/ darurat, seperti misalnya dalam bahaya maut. Ketentuannya dalam Kitab Hukum Kanonik 1983 adalah sebagai berikut:</p><p
style="margin-left: 40px;"><strong>Kan. 844 &sect; 2</strong> Setiap kali keadaan mendesak atau manfaat rohani benar-benar menganjurkan, dan asal tercegah bahaya kesesatan atau indiferentisme, orang beriman kristiani yang secara fisik atau moril tidak mungkin menghadap pelayan katolik, diperbolehkan menerima sakramen tobat, Ekaristi serta pengurapan orang sakit dari pelayan-pelayan tidak katolik, jika dalam Gereja mereka sakramen-sakramen tersebut adalah sah.</p><p>Perlu juga diketahui bahwa tidak semua Gereja-gereja Timur tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik. Sebab, terdapat 22 Gereja-gereja Timur yang berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, dan daftar nama Gereja tersebut dapat anda baca di sini, <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2009/05/22/apa-saja-yang-termasuk-gereja-timur-katolik/comment-page-1/" rel="nofollow">silakan klik</a>.</p><p>Demikian semoga keterangan ini bermanfaat.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Aquilino Amaral</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-10853</link> <dc:creator>Aquilino Amaral</dc:creator> <pubDate>Fri, 29 Jan 2010 05:01:41 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-10853</guid> <description>Salam Buat Bu Ingrind and Pak Step,Ibu bisa sedikit menjelaskan tentang perayaan ekarisity yang dirayakan oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Timor yang disebut ORTO-DOXA. apa ada perbedaan? dan umat di bagian Asia Timor menganut ORTO-DOXA itu.
Mohon penjelasan dari ibu,Salam Kasih dalam Kristus Tuhan!A. Amaral</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam Buat Bu Ingrind and Pak Step,</p><p>Ibu bisa sedikit menjelaskan tentang perayaan ekarisity yang dirayakan oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Timor yang disebut ORTO-DOXA. apa ada perbedaan? dan umat di bagian Asia Timor menganut ORTO-DOXA itu.<br
/> Mohon penjelasan dari ibu,</p><p>Salam Kasih dalam Kristus Tuhan!</p><p>A. Amaral</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-9908</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Sun, 03 Jan 2010 23:55:32 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-9908</guid> <description>Agnus Dei Yth.
Nama anda kok mengambil ritus liturgi yang disakralkan ya? Terus terang saja tidak apa sama Rama. Saya sependapat bahwa cara berliturgi yang demikian dilakukan rama yang anda ceritakan itu tidak benar karena itu perlu ditertibkan. Kalau boleh sebutkan paroki mana.
Terimakasih dan salam
Rm Wanta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Agnus Dei Yth.</p><p>Nama anda kok mengambil ritus liturgi yang disakralkan ya? Terus terang saja tidak apa sama Rama. Saya sependapat bahwa cara berliturgi yang demikian dilakukan rama yang anda ceritakan itu tidak benar karena itu perlu ditertibkan. Kalau boleh sebutkan paroki mana.</p><p>Terimakasih dan salam<br
/> Rm Wanta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Agnus Dei</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-9765</link> <dc:creator>Agnus Dei</dc:creator> <pubDate>Sat, 26 Dec 2009 12:29:32 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-9765</guid> <description>Romo Wanta,ada ganjalan besar sejak mengikuti Misa Natal anak2 di sebuah paroki di JakSel.
Suasana kacau balau bahkan tindakan romo yg memimpin misa justru membuat suasana semakin ricuh.Dalam misa tsb. romo mengajak anak2 (orang2 dewasa juga banyak yg mengikuti) utk mengangkat tangan dan bahkan menggoyangkan badan, bertepuk2 tangan dsb.Bahkan Kemuliaan digantikan oleh nyanyian PS 456, dinyanyikan sambil melambai2kan tangan dan bergoyang2 badan.BAhkan saat konsekrasi pun tubuh romo tsb. masih bergoyang2, sepertinya terhanyut suasana sebelumnya. Sayang sekali saya tdk membawa kamera utk merekam hal tsb.Sebagai Katolik, saya tidak mengenal sikap melambai2 tangan, bergoyang2, tepuk tangan selama misa,
saya merasa berada di sebuah kebaktian Protestan.Peristiwa2 tsb. telah menjadi batu sandungan, karena hilangnya orientasi umat saat datang ke misa.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Romo Wanta,</p><p>ada ganjalan besar sejak mengikuti Misa Natal anak2 di sebuah paroki di JakSel.<br
/> Suasana kacau balau bahkan tindakan romo yg memimpin misa justru membuat suasana semakin ricuh.</p><p>Dalam misa tsb. romo mengajak anak2 (orang2 dewasa juga banyak yg mengikuti) utk mengangkat tangan dan bahkan menggoyangkan badan, bertepuk2 tangan dsb.</p><p>Bahkan Kemuliaan digantikan oleh nyanyian PS 456, dinyanyikan sambil melambai2kan tangan dan bergoyang2 badan.</p><p>BAhkan saat konsekrasi pun tubuh romo tsb. masih bergoyang2, sepertinya terhanyut suasana sebelumnya. Sayang sekali saya tdk membawa kamera utk merekam hal tsb.</p><p>Sebagai Katolik, saya tidak mengenal sikap melambai2 tangan, bergoyang2, tepuk tangan selama misa,<br
/> saya merasa berada di sebuah kebaktian Protestan.</p><p>Peristiwa2 tsb. telah menjadi batu sandungan, karena hilangnya orientasi umat saat datang ke misa.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ign. Fadjar Surjadi</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-9649</link> <dc:creator>Ign. Fadjar Surjadi</dc:creator> <pubDate>Mon, 21 Dec 2009 03:23:24 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-9649</guid> <description>Terima kasih banyak atas penjelasan dari Romo Wanta dan Mbak Inggrid, saya dapat memahami maksud / artinya secara penuh.Salam dalam Kristus,
Ign. Fadjar Surjadi</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih banyak atas penjelasan dari Romo Wanta dan Mbak Inggrid, saya dapat memahami maksud / artinya secara penuh.</p><p>Salam dalam Kristus,<br
/> Ign. Fadjar Surjadi</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-9642</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Sun, 20 Dec 2009 22:47:37 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-9642</guid> <description>Fadjar Yth
Tanda Salib dalam perayaan ekaristi cuma dua kali saja pada awal mulai dan pada akhir berkat penutup. Karena itu saat homili tidak perlu tanda salib, saat pembawa persembahan tak perlu tanda salib, saat pengakuan tidak perlu absolusi dengan tanda salib.  Demikian penjelasan semoga semakin dipahami. Kalau ambil air berkat itu tidak apa mau dua kali atau tiga kali silakan sebab itu di luar tata perayaan ekaristi.
salam
Rm WantaTambahan dari Ingrid:Shalom Fadjar,
Dengan penjelasan dari Romo Wanta, bahwa tanda salib hanya dibuat pada awal mula Misa (bersama dengan Romo pada saat Romo mengawali perayaan Ekaristi) dan pada akhir, saat berkat penutup, maka kita membuat Misa sebagai satu rangkaian doa yang tak terputuskan. Dengan pengertian ini, maka selayaknya kita memusatkan hati pada setiap bagian Misa Kudus, dan menjadikannya doa yang keluar dari hati kita sendiri. Maka jika sungguh menghayatinya, maka kita tidak akan mengobrol di gereja, atau berpikir ataupun melakukan sesuatu yang tidak layak dilakukan dalam keadaan berdoa.Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Fadjar Yth</p><p>Tanda Salib dalam perayaan ekaristi cuma dua kali saja pada awal mulai dan pada akhir berkat penutup. Karena itu saat homili tidak perlu tanda salib, saat pembawa persembahan tak perlu tanda salib, saat pengakuan tidak perlu absolusi dengan tanda salib.  Demikian penjelasan semoga semakin dipahami. Kalau ambil air berkat itu tidak apa mau dua kali atau tiga kali silakan sebab itu di luar tata perayaan ekaristi.</p><p>salam<br
/> Rm Wanta</p><p>Tambahan dari Ingrid:</p><p>Shalom Fadjar,<br
/> Dengan penjelasan dari Romo Wanta, bahwa tanda salib hanya dibuat pada awal mula Misa (bersama dengan Romo pada saat Romo mengawali perayaan Ekaristi) dan pada akhir, saat berkat penutup, maka kita membuat Misa sebagai satu rangkaian doa yang tak terputuskan. Dengan pengertian ini, maka selayaknya kita memusatkan hati pada setiap bagian Misa Kudus, dan menjadikannya doa yang keluar dari hati kita sendiri. Maka jika sungguh menghayatinya, maka kita tidak akan mengobrol di gereja, atau berpikir ataupun melakukan sesuatu yang tidak layak dilakukan dalam keadaan berdoa.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ign. Fadjar Surjadi</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-9610</link> <dc:creator>Ign. Fadjar Surjadi</dc:creator> <pubDate>Sat, 19 Dec 2009 10:41:04 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-9610</guid> <description>Salam Dalam Kristus,Teman saya bertanya, berapa kali kita boleh membuat Tanda Salib dalam suatu ibadat Ekaristi. Katanya ada suatu paroki di Jakarta yang Romo Parokinya menyatakan cukup hanya sekali saja membuat Tanda Salib, yaitu saat memasuki Gereja dan mengambil Air Suci. Setelah itu tidak perlu lagi membuat Tanda Salib sampai keluar dari Gereja.Apakah memang ada tatacara / ketentuan khusus / tertulis mengenai hal ini dan bila ada, dimana saya dapat memperolehnya.Terimakasih atas informasinya.Salam,
Ign. Fadjar Surjadi</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam Dalam Kristus,</p><p>Teman saya bertanya, berapa kali kita boleh membuat Tanda Salib dalam suatu ibadat Ekaristi. Katanya ada suatu paroki di Jakarta yang Romo Parokinya menyatakan cukup hanya sekali saja membuat Tanda Salib, yaitu saat memasuki Gereja dan mengambil Air Suci. Setelah itu tidak perlu lagi membuat Tanda Salib sampai keluar dari Gereja.</p><p>Apakah memang ada tatacara / ketentuan khusus / tertulis mengenai hal ini dan bila ada, dimana saya dapat memperolehnya.</p><p>Terimakasih atas informasinya.</p><p>Salam,<br
/> Ign. Fadjar Surjadi</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-9547</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Thu, 17 Dec 2009 01:56:53 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-9547</guid> <description>Julius Paulo Yth
Benar selama ini yang pernah saya layani missale Romanus Paulus VI sedangkan Missale Tridentinum (SSP X dan pengikut Lefebre) meski Bapa Suci Paus Benediktus XVI memperkenankan misa ritus demikian dan belum pernah dicabut penggunaan misa tersebut di KAJ sejauh yang saya ketahui tidak diperkenankan karena tidak relevan bagi umat mungkin nambah kacau karena sangat berbeda dengan misa yang telah dirayakan selama ini. Demikian keterangan dari Komlit KWI selama ini umat sudah dibiasakan dengan MR Paulus VI yang sudah sangat dihayati dan untuk Misa bahasa Latin seperti dilakukan kelompok kecil di Matraman tetap diperbolehkan. Jika anda sudah pernah bertemu saya silahkan datang ke kantor KWI kita bisa berdikusi apalagi bertetangga dengan komlit tentang apa saja khususnya liturgi. Teks Tridentinum saya akan dapatkan dari rama Bosco O&#039;Carm tapi yang pasti saya belum pernah menggunakan ritus itu. Terimakasih untuk koreksinya.
salam dan berkat Tuhan
Rm Wanta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Julius Paulo Yth</p><p>Benar selama ini yang pernah saya layani missale Romanus Paulus VI sedangkan Missale Tridentinum (SSP X dan pengikut Lefebre) meski Bapa Suci Paus Benediktus XVI memperkenankan misa ritus demikian dan belum pernah dicabut penggunaan misa tersebut di KAJ sejauh yang saya ketahui tidak diperkenankan karena tidak relevan bagi umat mungkin nambah kacau karena sangat berbeda dengan misa yang telah dirayakan selama ini. Demikian keterangan dari Komlit KWI selama ini umat sudah dibiasakan dengan MR Paulus VI yang sudah sangat dihayati dan untuk Misa bahasa Latin seperti dilakukan kelompok kecil di Matraman tetap diperbolehkan. Jika anda sudah pernah bertemu saya silahkan datang ke kantor KWI kita bisa berdikusi apalagi bertetangga dengan komlit tentang apa saja khususnya liturgi. Teks Tridentinum saya akan dapatkan dari rama Bosco O&#8217;Carm tapi yang pasti saya belum pernah menggunakan ritus itu. Terimakasih untuk koreksinya.</p><p>salam dan berkat Tuhan<br
/> Rm Wanta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Julius Paulo</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-9545</link> <dc:creator>Julius Paulo</dc:creator> <pubDate>Tue, 15 Dec 2009 18:13:38 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-9545</guid> <description>Salam sejahtera,Terima kasih banyak Romo Wanta yang telah meluangkan waktu untuk membahas dan menjawab pertanyaan saya, dalam kesempatan ini sengaja saya tuliskan pertanyaan saya di kolom ini.Romo, dalam balasan terhadap pertanyaan saya yang akhirnya sudah ditampilkan, tertulis;&quot;Di Jakarta ada kelompok yang misa tridentine bahasa Latin tiap bulan di paroki Matraman, Minggu lalu tgl 6 Desember saya mempersembahkan misa Tridintine bersama umat sekitar 30 orang .&quot;Mohon maaf sebelumnya romo, bukankah misa bahasa Latin tersebut yang diadakan di paroki Matraman adalah Missale Romanum Paulus VI? sebab sejauh yang saya pelajari, misa ini memiliki beberapa perbedaan dengan Missale Tridentium, yang dirumuskan oleh St.Pius V. Sebab saya rutin menghadiri misa tersebut di sana, namun kebetulan yang tanggal 6 Desember lalu berhalangan. Saya sangat mencintai Ekaristi, baik itu Missale Romanum maupun Missale Tridentium, hanya saja menurut pribadi saya Missale Tridentium tampak lebih menyuarakan iman katolik secara lebih jelas, namun tetap keduanya adalah setara dan berkesinambungan.Terima kasih, dominus vobiscum pater....</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam sejahtera,</p><p>Terima kasih banyak Romo Wanta yang telah meluangkan waktu untuk membahas dan menjawab pertanyaan saya, dalam kesempatan ini sengaja saya tuliskan pertanyaan saya di kolom ini.</p><p>Romo, dalam balasan terhadap pertanyaan saya yang akhirnya sudah ditampilkan, tertulis;</p><p>&#8220;Di Jakarta ada kelompok yang misa tridentine bahasa Latin tiap bulan di paroki Matraman, Minggu lalu tgl 6 Desember saya mempersembahkan misa Tridintine bersama umat sekitar 30 orang .&#8221;</p><p>Mohon maaf sebelumnya romo, bukankah misa bahasa Latin tersebut yang diadakan di paroki Matraman adalah Missale Romanum Paulus VI? sebab sejauh yang saya pelajari, misa ini memiliki beberapa perbedaan dengan Missale Tridentium, yang dirumuskan oleh St.Pius V. Sebab saya rutin menghadiri misa tersebut di sana, namun kebetulan yang tanggal 6 Desember lalu berhalangan. Saya sangat mencintai Ekaristi, baik itu Missale Romanum maupun Missale Tridentium, hanya saja menurut pribadi saya Missale Tridentium tampak lebih menyuarakan iman katolik secara lebih jelas, namun tetap keduanya adalah setara dan berkesinambungan.</p><p>Terima kasih, dominus vobiscum pater&#8230;.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-9484</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Mon, 14 Dec 2009 17:32:31 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-9484</guid> <description>Julius Paulo Yth
Kasus pelanggaran  kelompok SSPius X (Mgr Levebre dkk) yang telah dicabut, tentu Vatikan juga mengembalikan kewenangannya (facultates), karena bagi saya tidak mungkin seorang imam telah dikembalikan statusnya ke pangkuan Gereja dan telah sah menjadi imam katolik, namun tidak diberikan yuridiksinya. Secara yuridis biasanya kuasa dan yurisdiksi mengikutinya ketika imam telah diterima kembali dari hukuman. Maka seorang imam yang telah dibebaskan dari sangsi kanonik menerima kedua hal ini: officio dan yuridiksi (facultates). Jika terjadi kasus imam yang yurisdiksinya dicabut, imam itu melakukan tindakan sakramen tidak sah seperti perkawinan misalnya. Imam yang merayakan misa illicit bersama umat illicit, adalah tidak layak, namun umat yang menerima komuni kudus tidak kena sangsi berdosa. Pertama karena umat tidak tahu. Kalau umat tahu dia imam illicit sebaiknya tidak ikut serta dalam pelayanan sakramen dan menyampaikan kepada umat yang lain.
Di Jakarta ada kelompok yang misa tridentine bahasa Latin tiap bulan di paroki Matraman, Minggu lalu tgl 6 Desember saya mempersembahkan misa Tridintine bersama umat sekitar 30 orang .
salam
Rm Wanta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Julius Paulo Yth</p><p>Kasus pelanggaran  kelompok SSPius X (Mgr Levebre dkk) yang telah dicabut, tentu Vatikan juga mengembalikan kewenangannya (facultates), karena bagi saya tidak mungkin seorang imam telah dikembalikan statusnya ke pangkuan Gereja dan telah sah menjadi imam katolik, namun tidak diberikan yuridiksinya. Secara yuridis biasanya kuasa dan yurisdiksi mengikutinya ketika imam telah diterima kembali dari hukuman. Maka seorang imam yang telah dibebaskan dari sangsi kanonik menerima kedua hal ini: officio dan yuridiksi (facultates). Jika terjadi kasus imam yang yurisdiksinya dicabut, imam itu melakukan tindakan sakramen tidak sah seperti perkawinan misalnya. Imam yang merayakan misa illicit bersama umat illicit, adalah tidak layak, namun umat yang menerima komuni kudus tidak kena sangsi berdosa. Pertama karena umat tidak tahu. Kalau umat tahu dia imam illicit sebaiknya tidak ikut serta dalam pelayanan sakramen dan menyampaikan kepada umat yang lain.</p><p>Di Jakarta ada kelompok yang misa tridentine bahasa Latin tiap bulan di paroki Matraman, Minggu lalu tgl 6 Desember saya mempersembahkan misa Tridintine bersama umat sekitar 30 orang .</p><p>salam<br
/> Rm Wanta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Julius Paulo</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-9483</link> <dc:creator>Julius Paulo</dc:creator> <pubDate>Tue, 08 Dec 2009 17:29:34 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-9483</guid> <description>Hi Katolisitas ! salam sejahtera....Dalam kesempatan ini saya hendak menanyakan perihal menghadiri misa yang &#039;illicit&#039;. Seperti yang kita ketahui, ada beberapa hal di mana misa yang dipersembahkan imam adalah valid, sah namun &#039;illicit&#039; atau illegal, misal jika imam tersebut terkena suspensi. Ambilah contoh kasus SSPX, yang mana sekalipun ekskomunikasi terhadap empat uskup nya telah dicabut, namun status yuridis mereka belum mendapat fakultas dari Tahta Suci, ini menyebabkan mereka belum dapat menjalankan fungsi imamat mereka, dan misa yang dipersembahkan mereka adalah &#039;illicit&#039; namun yang menjadi pertanyaan saya, berdosakah kita jika menerima komuni dari misa tersebut? apa konsekuensi atau sanksi dari Gereja menurut KHK?Saya sebagai yang awam dan masih mencari akan kecintaan saya yang mendalam akan misa Tridentina menjadi bingung dan waswas akan fenomena ini. Sungguh saya mengharapkan adanya imam lokal yang jelas status yuridisnya, yang mampu dan bersedia mempersembahkan misa Tridentina ini sehingga tidak perlu bagi saya untuk hadir ke misa SSPX.Terima kasih, Pax Christe.....Julius Paulo</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Hi Katolisitas ! salam sejahtera&#8230;.</p><p>Dalam kesempatan ini saya hendak menanyakan perihal menghadiri misa yang &#8216;illicit&#8217;. Seperti yang kita ketahui, ada beberapa hal di mana misa yang dipersembahkan imam adalah valid, sah namun &#8216;illicit&#8217; atau illegal, misal jika imam tersebut terkena suspensi. Ambilah contoh kasus SSPX, yang mana sekalipun ekskomunikasi terhadap empat uskup nya telah dicabut, namun status yuridis mereka belum mendapat fakultas dari Tahta Suci, ini menyebabkan mereka belum dapat menjalankan fungsi imamat mereka, dan misa yang dipersembahkan mereka adalah &#8216;illicit&#8217; namun yang menjadi pertanyaan saya, berdosakah kita jika menerima komuni dari misa tersebut? apa konsekuensi atau sanksi dari Gereja menurut KHK?</p><p>Saya sebagai yang awam dan masih mencari akan kecintaan saya yang mendalam akan misa Tridentina menjadi bingung dan waswas akan fenomena ini. Sungguh saya mengharapkan adanya imam lokal yang jelas status yuridisnya, yang mampu dan bersedia mempersembahkan misa Tridentina ini sehingga tidak perlu bagi saya untuk hadir ke misa SSPX.</p><p>Terima kasih, Pax Christe&#8230;..</p><p>Julius Paulo</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-7598</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Tue, 13 Oct 2009 02:35:01 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-7598</guid> <description>Shalom Cahyaningtyas,
Memang kondisi anda tidak mudah, dan tidak ideal, ya. Maka di sini saya tidak akan membahas kejadian yang sudah lewat/ terjadi, tetapi lebih baik memikirkan solusi untuk hari ke depannya. Saya mempunyai keponakan juga yang masih kecil- kecil di sini dan kami biasa membawa mereka mengikuti Misa harian dan Misa hari Minggu. Di sini tidak ada sekolah Minggu/ Bina Iman, karena memang anak-anak diajarkan untuk mengikuti Misa Kudus sejak usia kecil. Maka biasanya, kami membawa mereka (7, 5 dan 3 tahun) untuk duduk bahkan di bangku terdepan. Kelihatannya &#039;berbahaya&#039; ya, takut kalau anak-anak ribut di tengah-tengah Misa. Namun kenyataannya malah sebaliknya, karena mereka malah dapat merasa &#039;terlibat&#039;. Mungkin agak sedikit sulit pada awal-awalnya, tetapi lama kelamaan mereka malah dapat mengikuti dan berpartisipasi dengan baik, karena mereka melihat dari dekat apa yang dilakukan di altar. Keponakan kami yang baru berumur hampir 3 tahun ini malah sudah dapat turut berdoa di Misa dan sama sekali tidak mengganggu pada waktu Misa. Ia bahkan menangis kalau tidak bisa mengikuti Misa, karena terlambat bangun pagi. Maka, silakan anda mengikuti tips ini, semoga berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Cahyaningtyas,<br
/> Memang kondisi anda tidak mudah, dan tidak ideal, ya. Maka di sini saya tidak akan membahas kejadian yang sudah lewat/ terjadi, tetapi lebih baik memikirkan solusi untuk hari ke depannya. Saya mempunyai keponakan juga yang masih kecil- kecil di sini dan kami biasa membawa mereka mengikuti Misa harian dan Misa hari Minggu. Di sini tidak ada sekolah Minggu/ Bina Iman, karena memang anak-anak diajarkan untuk mengikuti Misa Kudus sejak usia kecil. Maka biasanya, kami membawa mereka (7, 5 dan 3 tahun) untuk duduk bahkan di bangku terdepan. Kelihatannya &#8216;berbahaya&#8217; ya, takut kalau anak-anak ribut di tengah-tengah Misa. Namun kenyataannya malah sebaliknya, karena mereka malah dapat merasa &#8216;terlibat&#8217;. Mungkin agak sedikit sulit pada awal-awalnya, tetapi lama kelamaan mereka malah dapat mengikuti dan berpartisipasi dengan baik, karena mereka melihat dari dekat apa yang dilakukan di altar. Keponakan kami yang baru berumur hampir 3 tahun ini malah sudah dapat turut berdoa di Misa dan sama sekali tidak mengganggu pada waktu Misa. Ia bahkan menangis kalau tidak bisa mengikuti Misa, karena terlambat bangun pagi. Maka, silakan anda mengikuti tips ini, semoga berguna.<br
/> Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Cahyaningtyas</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-7564</link> <dc:creator>Cahyaningtyas</dc:creator> <pubDate>Mon, 12 Oct 2009 03:41:47 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-7564</guid> <description>Syalom Pak Stef dan Bu Ingrid,
Saya mempunya anak umur 3 tahun yang sedang aktif2nya, sehingga tidak pernah bisa diam barang satu menitpun, dimanapun dan kapanpun kecuali kalau sedang tidur saja. Kalau hari Minggu dia selalu saya ajak ke Gereja, walaupun saya dan suami selalu duduk di luar karena sembari mengawasi anak saya yang tidak pernah mau duduk diam. Saya dan suami bergantian mengikuti anak saya yang lari2an kesana kemari dan dia juga tidak mau mengikuti sekolah Minggu. Pertanyaan saya adalah, pantaskah saya dan suami menerima Komuni padahal kami tidak bisa mengikuti misa dengan khusuk, bahkan bacaan Kitab Suci hari itu ataupun khotbah Pastorpun saya tidak tau. Bagaimana ya Pak, mohon jawabannya.
Terimakasih. GBU</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Syalom Pak Stef dan Bu Ingrid,<br
/> Saya mempunya anak umur 3 tahun yang sedang aktif2nya, sehingga tidak pernah bisa diam barang satu menitpun, dimanapun dan kapanpun kecuali kalau sedang tidur saja. Kalau hari Minggu dia selalu saya ajak ke Gereja, walaupun saya dan suami selalu duduk di luar karena sembari mengawasi anak saya yang tidak pernah mau duduk diam. Saya dan suami bergantian mengikuti anak saya yang lari2an kesana kemari dan dia juga tidak mau mengikuti sekolah Minggu. Pertanyaan saya adalah, pantaskah saya dan suami menerima Komuni padahal kami tidak bisa mengikuti misa dengan khusuk, bahkan bacaan Kitab Suci hari itu ataupun khotbah Pastorpun saya tidak tau. Bagaimana ya Pak, mohon jawabannya.<br
/> Terimakasih. GBU</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/comment-page-1/#comment-7418</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Wed, 07 Oct 2009 22:55:33 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/#comment-7418</guid> <description>Shalom Leon,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang sejarah Protestanism dan soal penjualan surat pengampunan dosa. Untuk sejarah Protestanism, saya minta maaf, karena belum ditulis. Memang rencananya katolisitas.org akan menuliskan tentang sejarah Gereja, namun hal ini memerlukan riset dan waktu yang cukup panjang.
Untuk kesalahpahaman penjualan surat pengampunan dosa, dapat dibaca di sini (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/11/21/katolik-menyalahgunakan-indulgensi-atau-surat-pengampunan-dosa/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;). Dan untuk mengerti apa sebenarnya indulgensi, silakan membaca artikel ini (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;).
Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef - www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Leon,<br
/> Terima kasih atas pertanyaannya tentang sejarah Protestanism dan soal penjualan surat pengampunan dosa. Untuk sejarah Protestanism, saya minta maaf, karena belum ditulis. Memang rencananya katolisitas.org akan menuliskan tentang sejarah Gereja, namun hal ini memerlukan riset dan waktu yang cukup panjang.<br
/> Untuk kesalahpahaman penjualan surat pengampunan dosa, dapat dibaca di sini (<a
href="http://katolisitas.org/2008/11/21/katolik-menyalahgunakan-indulgensi-atau-surat-pengampunan-dosa/" rel="nofollow">silakan klik</a>). Dan untuk mengerti apa sebenarnya indulgensi, silakan membaca artikel ini (<a
href="http://katolisitas.org/2009/07/11/indulgensi-harta-kekayaan-gereja/" rel="nofollow">silakan klik</a>).<br
/> Semoga dapat membantu.<br
/> Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 39/81 queries in 0.053 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-07-30 16:19:32 -->