<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 3) ?</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 11:26:12 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-16478</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Thu, 10 Jun 2010 21:50:44 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-16478</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Tony D,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas pertanyaanya. Dalam kasus yang anda paparkan, maka anda harus melakukan penitensi tersebut secepatnya begitu anda ingat. Kemudian, pada pengakuan dosa mendatang, katakan kepada pastor bahwa anda telah lupa menjalankan penitensi tersebut selama berapa waktu (ini juga merupakan bentuk dosa kelalaian), dan kemudian lanjutkan dengan pengakuan dosa seperti biasa. Kalau anda tidak menerima absolusi dari imam, maka anda harus minta absolusi kepada imam tersebut, atau kalau sampai anda telah keluar dari kamar pengakuan dan baru ingat kemudian, anda harus mengaku dosa lagi, karena forma dari Sakramen Pengakuan Dosa adalah absolusi dari pastor. Tanpa &lt;em&gt;matter&lt;/em&gt; (dosa dan penyesalan) dan &lt;em&gt;forma&lt;/em&gt; (absolusi) yang benar, maka Sakramen Dosa yang diterima tidaklah &lt;em&gt;valid &lt;/em&gt;atau sah. Mari, kita bersama-sama bertumbuh secara spiritual dengan sakramen-sakramen yang telah diberikan oleh Yesus sendiri, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Semoga dapat membantu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Tony D,</p><p>Terima kasih atas pertanyaanya. Dalam kasus yang anda paparkan, maka anda harus melakukan penitensi tersebut secepatnya begitu anda ingat. Kemudian, pada pengakuan dosa mendatang, katakan kepada pastor bahwa anda telah lupa menjalankan penitensi tersebut selama berapa waktu (ini juga merupakan bentuk dosa kelalaian), dan kemudian lanjutkan dengan pengakuan dosa seperti biasa. Kalau anda tidak menerima absolusi dari imam, maka anda harus minta absolusi kepada imam tersebut, atau kalau sampai anda telah keluar dari kamar pengakuan dan baru ingat kemudian, anda harus mengaku dosa lagi, karena forma dari Sakramen Pengakuan Dosa adalah absolusi dari pastor. Tanpa <em>matter</em> (dosa dan penyesalan) dan <em>forma</em> (absolusi) yang benar, maka Sakramen Dosa yang diterima tidaklah <em>valid </em>atau sah. Mari, kita bersama-sama bertumbuh secara spiritual dengan sakramen-sakramen yang telah diberikan oleh Yesus sendiri, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Semoga dapat membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/>stef &#8211; katolisitas.org</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Tony D</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-16425</link> <dc:creator>Tony D</dc:creator> <pubDate>Wed, 09 Jun 2010 10:22:59 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-16425</guid> <description>Romo, menyambung pertanyaan sdri Sesilia,
Saya pernah mengaku dosa, tapi lalai menjalankan penitensi, apakah yang harus saya lakukan?
mengaku dosa lagi ? atau menjalankan penitensinya?
Satu lagi Romo, bila dalam pengakuan dosa kita tidak menerima absolusi dari imam apa yang sebaiknya kita lakukan?
Terimakasih untuk seluruh team katolisitas, penjelasan dari Katolisitas membuat saya mencintai sakramen tobat dan mendorong saya untuk lebih sering lagi mengakukan dosa.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Romo, menyambung pertanyaan sdri Sesilia,<br
/> Saya pernah mengaku dosa, tapi lalai menjalankan penitensi, apakah yang harus saya lakukan?<br
/> mengaku dosa lagi ? atau menjalankan penitensinya?<br
/> Satu lagi Romo, bila dalam pengakuan dosa kita tidak menerima absolusi dari imam apa yang sebaiknya kita lakukan?<br
/> Terimakasih untuk seluruh team katolisitas, penjelasan dari Katolisitas membuat saya mencintai sakramen tobat dan mendorong saya untuk lebih sering lagi mengakukan dosa.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-13930</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Tue, 13 Apr 2010 19:14:56 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-13930</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Michael,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selamat Paskah dan terima kasih atas pertanyaannya yang bagus. Untuk menjawab hal ini, maka kita dapat melihat Katekismus Gereja Katolik berikut ini:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1472.&lt;/strong&gt; Supaya mengerti ajaran dan  praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai akibat  ganda. Dosa berat merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena  itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini  dinamakan &quot;siksa dosa abadi&quot;. Di lain pihak, setiap dosa, malahan &lt;strong&gt;dosa  ringan&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;mengakibatkan satu hubungan berbahaya dengan makhluk, hal mana  membutuhkan penyucian atau di dunia ini, atau sesudah kematian di dalam  apa yang dinamakan purgatorium [api penyucian]&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;Penyuciaan ini  membebaskan dari apa yang orang namakan &quot;siksa dosa sementara&quot;&lt;/strong&gt;. Kedua  bentuk siksa ini tidak boleh dipandang sebagai semacam dendam yang Allah  kenakan dari luar, tetapi sebagai sesuatu yang muncul dari kodrat dosa  itu sendiri. Satu pertobatan yang lahir dari cinta yang bernyala-nyala,  dapat mengakibatkan penyucian pendosa secara menyeluruh, sehingga tidak  ada siksa dosa lagi yang harus dipikul Bdk. K.Trente: DS  1712-1713; 1820.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Jadi, siksa dosa sementara adalah suatu pemurnian, yang dapat terjadi di dunia ini maupun di Api Penyucian, yang membuat kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sakramen Tobat dapat mengampuni dosa - baik dosa berat maupun dosa ringan. Namun, karena Yesus mengatakan untuk menjadi sempurna seperti Bapa adalah sempurna (lih. Mt 5:48), maka ketidaksempurnaan kita - termasuk dosa-dosa ringan - dapat menghalangi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah tanpa melewati Api Penyucian. Sakramen Tobat tidak dapat menghapus siksa dosa sementara, karena setelah mendapatkan pengampunan dosa, kita masih tetap berdosa lagi. Kedua, walaupun Sakramen Tobat menghapus dosa berat dan ringan, namun hanya Tuhan yang tahu secara persis apakah seseorang benar-benar terlepas dari dosa ringan dan apakah segala sesuatu yang tidak sempurna dalam diri seseorang telah cukup dimurnikan. Namun, kalau setelah seseorang mendapatkan indulgensi penuh, yang berarti harus mendapatkan pengakuan dosa terlebih dahulu, terlepas dari dosa berat dan dosa ringan, dan langsung meninggal, maka dia dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga secara langsung.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam perumpamaan anak yang hilang, maka proses pemurnian dari anak hilang tersebut adalah pada waktu dia menghadapi kesengsaraan, menyesali dosa secara sempurna. Untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga, seseorang harus menjalankan proses pemurnian (lih. 1 Kor 3:15), yang dapat terjadi di dunia ini maupun di Api Penyucian. Hanya Tuhan sendiri yang tahu, sampai seberapa jauh seseorang dimurnikan sampai akhirnya dapat masuk dalam Kerajaan Allah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Fungsi dari Sakramen Tobat dapat dilihat di sini - &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt; dan rangkaian artikel tentang Sakramen Tobat (bagian &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;1&lt;/a&gt;,   &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;2&lt;/a&gt;,   &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;3&lt;/a&gt;,   &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/27/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-4-selesai/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;4&lt;/a&gt;). Memang Sakramen Tobat dapat mengampuni seseorang akan dosa berat yang dilakukannya, sehingga pada waktu meninggal, orang tersebut tidak masuk dalam siksa dosa selamanya (neraka). Namun, kalau kita mengakukan dosa ringan, maka kita juga memperoleh rahmat agar dimampukan untuk tidak berbuat dosa yang sama dan tidak sampai terjatuh ke dalam dosa berat. Jadi, kebiasaan mengaku dosa-dosa ringan sangat dianjurkan oleh Gereja dan juga oleh para kudus. Dikatakan di KGK:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KGK, 1458&lt;/strong&gt;. Pengakuan kekurangan  sehari-hari, yakni dosa-dosa ringan,  sebenamya tidak perlu, tetapi &lt;strong&gt;sangat dianjurkan oleh Gereja&lt;/strong&gt; Bdk.  Konsili Trente: DS 1680; CIC, can. 988 ?2.. Pengakuan dosa-dosa ringan secara teratur adalah &lt;strong&gt;suatu bantuan  bagi kita, untuk membentuk hati nurani kita melawan kecondongan kita  yang jahat&lt;/strong&gt;, membiarkan kita disembuhkan oleh Kristus dan bertumbuh dalam  hidup rohani. Kalau kita dalam Sakramen ini sering menerima anugerah  belas kasihan Allah, Ia lalu mendorong kita, agar kita sendiri juga  berbelaskasihan seperti Dia Bdk. Luk  6:36.?&lt;br /&gt; &quot;Siapa yang mengakukan dosanya, sudah  bekerja sama dengan Allah. Allah menggugat dosa-dosamu;  kalau engkau juga menggugatnya, engkau bergabung dengan Allah. Manusia  dan pendosa, seakan-akan harus dibedakan: kalau berbicara tentang  manusia, Allahlah yang menciptakannya; kalau berbicara tentang pendosa,  manusialah yang menciptakannya. Robohkanlah apa yang telah engkau  ciptakan, supaya Allah menyelamatkan, apa yang Ia ciptakan... kalau  engkau mulai jijik akan apa yang engkau ciptakan, mulailah karya-karyamu  yang baik, karena engkau menggugat karya-karyamu yang buruk. Pengakuan  akan karya-karyamu yang buruk adalah awal karya-karyamu yang baik.  Engkau melakukan kebenaran dan datang ke dalam terang&quot; (Agustinus, ev.  Jo. 12,13).&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Demikian jawaban yang dapat saya berikan, dan semoga dapat membantu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Michael,</p><p>Selamat Paskah dan terima kasih atas pertanyaannya yang bagus. Untuk menjawab hal ini, maka kita dapat melihat Katekismus Gereja Katolik berikut ini:</p><blockquote><p><strong>1472.</strong> Supaya mengerti ajaran dan  praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai akibat  ganda. Dosa berat merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena  itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini  dinamakan &#8220;siksa dosa abadi&#8221;. Di lain pihak, setiap dosa, malahan <strong>dosa  ringan</strong>, <strong>mengakibatkan satu hubungan berbahaya dengan makhluk, hal mana  membutuhkan penyucian atau di dunia ini, atau sesudah kematian di dalam  apa yang dinamakan purgatorium [api penyucian]</strong>. <strong>Penyuciaan ini  membebaskan dari apa yang orang namakan &#8220;siksa dosa sementara&#8221;</strong>. Kedua  bentuk siksa ini tidak boleh dipandang sebagai semacam dendam yang Allah  kenakan dari luar, tetapi sebagai sesuatu yang muncul dari kodrat dosa  itu sendiri. Satu pertobatan yang lahir dari cinta yang bernyala-nyala,  dapat mengakibatkan penyucian pendosa secara menyeluruh, sehingga tidak  ada siksa dosa lagi yang harus dipikul Bdk. K.Trente: DS  1712-1713; 1820.</p></blockquote><p>Jadi, siksa dosa sementara adalah suatu pemurnian, yang dapat terjadi di dunia ini maupun di Api Penyucian, yang membuat kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sakramen Tobat dapat mengampuni dosa &#8211; baik dosa berat maupun dosa ringan. Namun, karena Yesus mengatakan untuk menjadi sempurna seperti Bapa adalah sempurna (lih. Mt 5:48), maka ketidaksempurnaan kita &#8211; termasuk dosa-dosa ringan &#8211; dapat menghalangi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah tanpa melewati Api Penyucian. Sakramen Tobat tidak dapat menghapus siksa dosa sementara, karena setelah mendapatkan pengampunan dosa, kita masih tetap berdosa lagi. Kedua, walaupun Sakramen Tobat menghapus dosa berat dan ringan, namun hanya Tuhan yang tahu secara persis apakah seseorang benar-benar terlepas dari dosa ringan dan apakah segala sesuatu yang tidak sempurna dalam diri seseorang telah cukup dimurnikan. Namun, kalau setelah seseorang mendapatkan indulgensi penuh, yang berarti harus mendapatkan pengakuan dosa terlebih dahulu, terlepas dari dosa berat dan dosa ringan, dan langsung meninggal, maka dia dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga secara langsung.</p><p>Dalam perumpamaan anak yang hilang, maka proses pemurnian dari anak hilang tersebut adalah pada waktu dia menghadapi kesengsaraan, menyesali dosa secara sempurna. Untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga, seseorang harus menjalankan proses pemurnian (lih. 1 Kor 3:15), yang dapat terjadi di dunia ini maupun di Api Penyucian. Hanya Tuhan sendiri yang tahu, sampai seberapa jauh seseorang dimurnikan sampai akhirnya dapat masuk dalam Kerajaan Allah.</p><p>Fungsi dari Sakramen Tobat dapat dilihat di sini &#8211; <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/" rel="nofollow">silakan klik</a> dan rangkaian artikel tentang Sakramen Tobat (bagian <a
href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/" rel="nofollow">1</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/" rel="nofollow">2</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/" rel="nofollow">3</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/27/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-4-selesai/" rel="nofollow">4</a>). Memang Sakramen Tobat dapat mengampuni seseorang akan dosa berat yang dilakukannya, sehingga pada waktu meninggal, orang tersebut tidak masuk dalam siksa dosa selamanya (neraka). Namun, kalau kita mengakukan dosa ringan, maka kita juga memperoleh rahmat agar dimampukan untuk tidak berbuat dosa yang sama dan tidak sampai terjatuh ke dalam dosa berat. Jadi, kebiasaan mengaku dosa-dosa ringan sangat dianjurkan oleh Gereja dan juga oleh para kudus. Dikatakan di KGK:</p><blockquote><p><strong>KGK, 1458</strong>. Pengakuan kekurangan  sehari-hari, yakni dosa-dosa ringan,  sebenamya tidak perlu, tetapi <strong>sangat dianjurkan oleh Gereja</strong> Bdk.  Konsili Trente: DS 1680; CIC, can. 988 ?2.. Pengakuan dosa-dosa ringan secara teratur adalah <strong>suatu bantuan  bagi kita, untuk membentuk hati nurani kita melawan kecondongan kita  yang jahat</strong>, membiarkan kita disembuhkan oleh Kristus dan bertumbuh dalam  hidup rohani. Kalau kita dalam Sakramen ini sering menerima anugerah  belas kasihan Allah, Ia lalu mendorong kita, agar kita sendiri juga  berbelaskasihan seperti Dia Bdk. Luk  6:36.?<br
/> &#8220;Siapa yang mengakukan dosanya, sudah  bekerja sama dengan Allah. Allah menggugat dosa-dosamu;  kalau engkau juga menggugatnya, engkau bergabung dengan Allah. Manusia  dan pendosa, seakan-akan harus dibedakan: kalau berbicara tentang  manusia, Allahlah yang menciptakannya; kalau berbicara tentang pendosa,  manusialah yang menciptakannya. Robohkanlah apa yang telah engkau  ciptakan, supaya Allah menyelamatkan, apa yang Ia ciptakan&#8230; kalau  engkau mulai jijik akan apa yang engkau ciptakan, mulailah karya-karyamu  yang baik, karena engkau menggugat karya-karyamu yang buruk. Pengakuan  akan karya-karyamu yang buruk adalah awal karya-karyamu yang baik.  Engkau melakukan kebenaran dan datang ke dalam terang&#8221; (Agustinus, ev.  Jo. 12,13).</p></blockquote><p>Demikian jawaban yang dapat saya berikan, dan semoga dapat membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/>stef &#8211; katolisitas.org</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Michael</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-13823</link> <dc:creator>Michael</dc:creator> <pubDate>Sat, 10 Apr 2010 02:42:20 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-13823</guid> <description>Salam Stef dan Inggrid,Happy Easter! Langsung kepada pertanyaan yah:
1. Mengapa sakramen tobat tidak serta merta menghilangkan siksa dosa? Sehingga kita harus melakukan berbagai doa khusus pada hari tertentu untuk mendapatkan indulgensi. Bukankah dalam perumpamaan anak hilang, bapa tidak memberikan hukuman apapun kepada anak tsb.
2. Kalau dihubungkan dengan ajaran indulgensi, berarti fungsi sederhana dari sakramen tobat adalah mencegah seseorang untuk tidak masuk neraka karena mortal sin? Berarti sebenarnya yg perlu diakukan di sakramen tobat hanyalah dosa berat? Sebab dosa-dosa ringan toh kita akan bayar sendiri di purgatory?Mohon penerangan, xiexie. Besok Minggu Kerahiman pingin dapetin indulgensi penuh nih :)
salam.
Michael</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam Stef dan Inggrid,</p><p>Happy Easter! Langsung kepada pertanyaan yah:<br
/> 1. Mengapa sakramen tobat tidak serta merta menghilangkan siksa dosa? Sehingga kita harus melakukan berbagai doa khusus pada hari tertentu untuk mendapatkan indulgensi. Bukankah dalam perumpamaan anak hilang, bapa tidak memberikan hukuman apapun kepada anak tsb.<br
/> 2. Kalau dihubungkan dengan ajaran indulgensi, berarti fungsi sederhana dari sakramen tobat adalah mencegah seseorang untuk tidak masuk neraka karena mortal sin? Berarti sebenarnya yg perlu diakukan di sakramen tobat hanyalah dosa berat? Sebab dosa-dosa ringan toh kita akan bayar sendiri di purgatory?</p><p>Mohon penerangan, xiexie. Besok Minggu Kerahiman pingin dapetin indulgensi penuh nih :)<br
/> salam.<br
/> Michael</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Christopher</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-13723</link> <dc:creator>Christopher</dc:creator> <pubDate>Wed, 07 Apr 2010 16:51:27 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-13723</guid> <description>dear Katolisitas...saya ingin bertanya apakah boleh umat yang non-Katolik menerima sakramen tobat??Pax Christi...&lt;strong&gt;&lt;em&gt;[dari katolisitas: silakan melihat jawaban Romo Bernardus di sini - &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-12790&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;]&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>dear Katolisitas&#8230;</p><p>saya ingin bertanya apakah boleh umat yang non-Katolik menerima sakramen tobat??</p><p>Pax Christi&#8230;</p><p><strong><em>[dari katolisitas: silakan melihat jawaban Romo Bernardus di sini - <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-12790" rel="nofollow">silakan klik</a>]</em></strong></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Bernardus Boli Ujan SVD</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-12790</link> <dc:creator>Romo Bernardus Boli Ujan SVD</dc:creator> <pubDate>Fri, 26 Mar 2010 13:58:48 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-12790</guid> <description>Chandra Yth,Sakramen Baptis adalah Sakramen yang paling pertama yang membuat seseorang menjadi anggota resmi Gereja dan mempunyai hak untuk menerima Sakramen-sakramen lain seperti Sakramen Tobat, Krisma, Ekaristi dll. Kalau mau terima Sakramen Tobat sebelum Baptis orang itu belum punya hak untuk menerima Sakramen tersebut. Dengan kata lain salah satu syarat untuk menerima Saakramen Tobat adalah kalau sudah dibaptis.Secara pastoral, boleh saja seorang katekumen menceriterakan pengalaman hidup termasuk kesalahan-dosa pada imam dan semangatnya untuk bertobat, tetapi belum mendapat pengampunan sakramental. Nanti pada saat menerima Sakramen Baptis baru ada pengampunan sakramental atas semua dosa. Dengan demikian Sakramen Tobat tidak perlu dimasukkan juga dalam Saakramen Inisiasi.Salam,
Romo Bernardus, SVD</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Chandra Yth,</p><p>Sakramen Baptis adalah Sakramen yang paling pertama yang membuat seseorang menjadi anggota resmi Gereja dan mempunyai hak untuk menerima Sakramen-sakramen lain seperti Sakramen Tobat, Krisma, Ekaristi dll. Kalau mau terima Sakramen Tobat sebelum Baptis orang itu belum punya hak untuk menerima Sakramen tersebut. Dengan kata lain salah satu syarat untuk menerima Saakramen Tobat adalah kalau sudah dibaptis.Secara pastoral, boleh saja seorang katekumen menceriterakan pengalaman hidup termasuk kesalahan-dosa pada imam dan semangatnya untuk bertobat, tetapi belum mendapat pengampunan sakramental. Nanti pada saat menerima Sakramen Baptis baru ada pengampunan sakramental atas semua dosa. Dengan demikian Sakramen Tobat tidak perlu dimasukkan juga dalam Saakramen Inisiasi.</p><p>Salam,<br
/> Romo Bernardus, SVD</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Chandra</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-12755</link> <dc:creator>Chandra</dc:creator> <pubDate>Thu, 25 Mar 2010 08:16:52 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-12755</guid> <description>Shalom Pak Stef / Ibu Ingrid,
saya mau tanya mengenai Sakramen Tobat. Mengapa Gereja mengatur seseorang mendapatkan Sakramen Baptis terlebih dahulu sebelum bisa menerima Sakramen Tobat? Apakah seseorang tidak bisa mengakukan dosa pribadinya kepada seorang imam dan memohon pengampunan jika ia belum dibaptis (hanya bisa ikut ibadat tobat)? Atau paling tidak Sakramen Tobat juga dimasukkan kedalam salah satu sakramen inisiasi?
Terima kasih sebelumnya.
Salam,
Chandra</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Pak Stef / Ibu Ingrid,<br
/> saya mau tanya mengenai Sakramen Tobat. Mengapa Gereja mengatur seseorang mendapatkan Sakramen Baptis terlebih dahulu sebelum bisa menerima Sakramen Tobat? Apakah seseorang tidak bisa mengakukan dosa pribadinya kepada seorang imam dan memohon pengampunan jika ia belum dibaptis (hanya bisa ikut ibadat tobat)? Atau paling tidak Sakramen Tobat juga dimasukkan kedalam salah satu sakramen inisiasi?<br
/> Terima kasih sebelumnya.<br
/> Salam,<br
/> Chandra</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: BM. Wahyu Hajar</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-2845</link> <dc:creator>BM. Wahyu Hajar</dc:creator> <pubDate>Thu, 23 Apr 2009 09:37:43 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-2845</guid> <description>Trimakasih untuk artikel &quot;Masih perlukah Sakramen Pengakuan dosa&quot; dari website ini. karena artikel itu sangat membantu saya dalam membekali para sukarelawan yang mau mengajar para katekumen dan calon penerima komuni pertama. Selanjutnya kami akan berterimakasih bila dikirimi materi untuk &quot;katekese inisiasi&quot; yang akan kami gunakan untuk pembekalan katekis sukarelawan. Trimakasih. Tuhan memberkati. Salam untuk para katekis lulusan dari STkat Pradnyawidya Yogyakarta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Trimakasih untuk artikel &#8220;Masih perlukah Sakramen Pengakuan dosa&#8221; dari website ini. karena artikel itu sangat membantu saya dalam membekali para sukarelawan yang mau mengajar para katekumen dan calon penerima komuni pertama. Selanjutnya kami akan berterimakasih bila dikirimi materi untuk &#8220;katekese inisiasi&#8221; yang akan kami gunakan untuk pembekalan katekis sukarelawan. Trimakasih. Tuhan memberkati. Salam untuk para katekis lulusan dari STkat Pradnyawidya Yogyakarta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Sesilia</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-1493</link> <dc:creator>Sesilia</dc:creator> <pubDate>Wed, 21 Jan 2009 15:08:46 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-1493</guid> <description>trimakasih atas jawaban Rm Wanta
GBu</description> <content:encoded><![CDATA[<p>trimakasih atas jawaban Rm Wanta<br
/> GBu</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-1478</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Tue, 20 Jan 2009 04:53:10 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-1478</guid> <description>Sesilia Yth.
Dalam menentukan penitensi ketika Romo memberikan pelayanan sakramen pertobatan, pegangan yang dipakai adalah berat dan ringannya dosa yang dilakukan oleh si peniten. Setiap Romo memiliki discerment dalam memberi penitensi yang berguna bagi penyembuhan batin si peniten. Kemudian jika peniten tidak melalukan denda (sanksi) yang diberikan kepadanya maka dosa itu tetap melekat pada dirinya. Maksud denda (sanksi) kepada peniten adalah agar dia tersembuhkan dari dosa dan tidak melakukan dosa lagi. Denda kepada peniten sebagai obat agar dia sembuh tapi kalau obat itu tidak diminum (dilakukan) maka dia masih tetap sakit. Demikian analognya Sesilia, semoga menjadi jelas dan paham.
salam
Rm Wanta, Pr</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Sesilia Yth.</p><p>Dalam menentukan penitensi ketika Romo memberikan pelayanan sakramen pertobatan, pegangan yang dipakai adalah berat dan ringannya dosa yang dilakukan oleh si peniten. Setiap Romo memiliki discerment dalam memberi penitensi yang berguna bagi penyembuhan batin si peniten. Kemudian jika peniten tidak melalukan denda (sanksi) yang diberikan kepadanya maka dosa itu tetap melekat pada dirinya. Maksud denda (sanksi) kepada peniten adalah agar dia tersembuhkan dari dosa dan tidak melakukan dosa lagi. Denda kepada peniten sebagai obat agar dia sembuh tapi kalau obat itu tidak diminum (dilakukan) maka dia masih tetap sakit. Demikian analognya Sesilia, semoga menjadi jelas dan paham.</p><p>salam<br
/> Rm Wanta, Pr</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Sesilia</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-1463</link> <dc:creator>Sesilia</dc:creator> <pubDate>Mon, 19 Jan 2009 17:26:49 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-1463</guid> <description>mohon bantuannya, karena saya berada di lingkungan yang kerap diajak &#039;diskusi&#039; oleh kepercayaan lain, dan saya sendiri masih kurang paham dan dlm tahap belajar sehingga masih bingung.. sy pny 2 pertanyaan:
1. dalam menentukan penitensi, pegangan apa yang dipakai oleh pastur?
2. jikalau ada seorang yang bertobat, trus tidak mau menjalankan penitensi, apakah ia tidak diampuni?makasih sblmnya, GBu &gt;.&lt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>mohon bantuannya, karena saya berada di lingkungan yang kerap diajak &#8216;diskusi&#8217; oleh kepercayaan lain, dan saya sendiri masih kurang paham dan dlm tahap belajar sehingga masih bingung.. sy pny 2 pertanyaan:<br
/> 1. dalam menentukan penitensi, pegangan apa yang dipakai oleh pastur?<br
/> 2. jikalau ada seorang yang bertobat, trus tidak mau menjalankan penitensi, apakah ia tidak diampuni?</p><p>makasih sblmnya, GBu &gt;.&lt;</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: andryhart</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-840</link> <dc:creator>andryhart</dc:creator> <pubDate>Thu, 20 Nov 2008 23:31:51 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-840</guid> <description>Shalom,
Terima kasih atas jawaban Bapak yang tidak menghakimi tetapi memberikan keteduhan. Saya memang pernah membaca buku Cho Thomas yang menemukan ibunya di neraka karena ibunya--sekalipun orangnya sangat baik dan banyak menderita--tidak mengenal Yesus karena memang saat itu  Korsel belum disentuh oleh evangelisasi. Saya kira ajaran gereja Katolik yang menjanjikan keselamatan kepada mereka yang rindu akan Allah sekalipun belum mengenal Kristus akan lebih memberikan keteduhan daripada ajaran yang bersifat menghakimi. Memang kita harus selalu ingat ayat Yohanes 3:17 yang mengatakan, &quot;Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.&quot;Tuhan memberkati,</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom,<br
/> Terima kasih atas jawaban Bapak yang tidak menghakimi tetapi memberikan keteduhan. Saya memang pernah membaca buku Cho Thomas yang menemukan ibunya di neraka karena ibunya&#8211;sekalipun orangnya sangat baik dan banyak menderita&#8211;tidak mengenal Yesus karena memang saat itu  Korsel belum disentuh oleh evangelisasi. Saya kira ajaran gereja Katolik yang menjanjikan keselamatan kepada mereka yang rindu akan Allah sekalipun belum mengenal Kristus akan lebih memberikan keteduhan daripada ajaran yang bersifat menghakimi. Memang kita harus selalu ingat ayat Yohanes 3:17 yang mengatakan, &#8220;Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.&#8221;</p><p>Tuhan memberkati,</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-823</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Wed, 19 Nov 2008 19:29:32 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-823</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Andryhart,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terimakasih atas pertanyaannya. Mari kita bersama-sama melihat pertanyaan ini:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;1) Seseorang yang dibaptis akan menerima keselamatan (KGK, 1277), karena dia menerima &quot;&lt;i&gt;sanctifying grace&lt;/i&gt;&quot; atau rahmat kekudusan, karunia Roh Kudus, dan juga disatukan di dalam Tubuh Mistis Kristus. Dengan bersatu dalam Kristus di dalam Sakramen Baptis, maka jiwa orang tersebut telah dimateraikan oleh suatu tanda abadi, yang menjadikannya kudus dan menjadi anak Allah (KGK, 1272).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;2) Jadi kalau seseorang, sebelum meninggal menerima Sakramen Baptis, walaupun dia orang yang berdosa dalam hidupnya, maka orang tersebut akan masuk surga. Sedangkan Sakramen Tobat hanya diperlukan bagi orang yang telah dibaptis untuk menghapuskan dosa berat, maupun dosa ringan, seperti yang telah saya bahas di artikel &quot;&lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Masih perlukah Sakramen Pengakuan Dosa - Bagian 3&lt;/a&gt;&quot;. Jadi orang yang meninggal setelah menerima Sakramen Baptis akan masuk surga, karena tidak ada kesempatan baginya untuk melakukan dosa berat, kecuali kalau setelah dibaptis, orang tersebut melakukan dosa berat lagi di detik-detik terakhir hidupnya (lihat definisi dosa berat dan ringan &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;di artikel ini&lt;/a&gt;).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;3) Penjahat yang bertobat, yang disalibkan bersama Yesus seperti yang diceritakan di Luk 23:43, dimana Yesus mengatakan &quot;&lt;i&gt;Kata Yesus kepadanya: &quot;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku &lt;u&gt;&lt;b&gt;di dalam Firdaus&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;,&quot; adalah suatu contoh &lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Baptism of desire &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;atau kerinduan untuk menerima pembaptisan, yang diiringi oleh penyesalan atas dosa-dosanya dan juga perbuatan kasih (KGK, 1259). Penyesalan dan perbuatan kasih dari penjahat tersebut diungkapkan dengan perkataanya &quot;&lt;i&gt;Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah...Yesus, &lt;u&gt;&lt;b&gt;ingatlah akan aku&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;, apabila Engkau datang sebagai Raja.&lt;/i&gt;&quot;(Luk 23:40-42).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;4) Yesus, di ayat 43 menggunakan kata Firdaus, &lt;i&gt;paradise&lt;/i&gt; atau dalam bahasa Yunani adalah &lt;i&gt;par&#225;deisos&lt;/i&gt;, merupakan suatu tempat bagi orang-orang beriman sebelum kebangkitan Kristus. Ini disebut juga sebagai limbo of the just/the bossom of Abraham (Luk 16:23) atau hades. Semua orang yang ada di tempat ini, akan menuju ke Surga secara langsung setelah kebangkitan Kristus. Kita mengingat apa yang dikatakan di dalam &quot;Doa Aku Percaya&quot; ... disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun &lt;u&gt;&lt;b&gt;ke tempat penantian&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;. Dalam waktu tiga hari setelah kematian-Nya, Yesus datang ke tempat penantian untuk memberitakan wahyu Tuhan secara lengkap, sehingga segala yang ada di langit, di atas bumi, dan yang ada di bawah bumi akan bertekuk lutut dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (lih. Fil 2:10-11). Dan setelah Yesus bangkit dari orang mati, maka tempat penantian ini tidak ada lagi, yang ada hanya surga, api penyucian, neraka.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;5) &lt;u&gt;&lt;b&gt;Pengalaman dari penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus memberikan pengharapan yang besar akan kasih dan belas kasih Allah kepada umat-Nya&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;. Penjahat tersebut hanya berharap untuk diingat, namun Yesus memberikan Surga kepada-Nya, karena Yesus melihat kedalaman hati, yaitu penyesalan dan kasih dari penjahat tersebut. Jadi tentang ibu Andryhart, kita percayakan kepada belas kasih Tuhan. Apalagi ibu Andryhart telah bertobat sebelum kematiannya walaupun belum sampai dibaptis. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di saat-saat terakhir kehidupannya, hanya Tuhan yang tahu. Namun penyesalan, kasih, dan ketidaktahuannya akan pentingnya baptisan bagi keselamatan, membukan suatu harapan untuk keselamatan jiwa seseorang, termasuk jiwa ibu Andryhart. Yang dapat Andryhart lakukan adalah berdoa bagi arwah beliau setiap hari, yang &lt;i&gt;mungkin&lt;/i&gt; masih ada di purgatory atau api penyucian. Persembahkanlah misa bagi arwahnya. November, tahun depan pada saat hari arwah, berdoalah secara khusus untuk arwah ibunda - &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/10/30/pilih-mana-halloween-atau-all-saints-day/#comment-650&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;lihat jawaban ini&lt;/a&gt;.&#160;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Andryhart. Mari kita bersama-sama mewartakan Kristus sampai ke seluruh dunia, mulai dari anggota keluarga kita masing-masing, dan komunitas di sekitar kita, sehingga tidak ada alasan lagi bagi orang-orang untuk tidak mengenal Yesus dan Gereja-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;br&gt;
stef&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Andryhart,</p><p>Terimakasih atas pertanyaannya. Mari kita bersama-sama melihat pertanyaan ini:</p><p
style="margin-left: 40px;">1) Seseorang yang dibaptis akan menerima keselamatan (KGK, 1277), karena dia menerima &quot;<i>sanctifying grace</i>&quot; atau rahmat kekudusan, karunia Roh Kudus, dan juga disatukan di dalam Tubuh Mistis Kristus. Dengan bersatu dalam Kristus di dalam Sakramen Baptis, maka jiwa orang tersebut telah dimateraikan oleh suatu tanda abadi, yang menjadikannya kudus dan menjadi anak Allah (KGK, 1272).</p><p
style="margin-left: 40px;">2) Jadi kalau seseorang, sebelum meninggal menerima Sakramen Baptis, walaupun dia orang yang berdosa dalam hidupnya, maka orang tersebut akan masuk surga. Sedangkan Sakramen Tobat hanya diperlukan bagi orang yang telah dibaptis untuk menghapuskan dosa berat, maupun dosa ringan, seperti yang telah saya bahas di artikel &quot;<a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3" rel="nofollow">Masih perlukah Sakramen Pengakuan Dosa &#8211; Bagian 3</a>&quot;. Jadi orang yang meninggal setelah menerima Sakramen Baptis akan masuk surga, karena tidak ada kesempatan baginya untuk melakukan dosa berat, kecuali kalau setelah dibaptis, orang tersebut melakukan dosa berat lagi di detik-detik terakhir hidupnya (lihat definisi dosa berat dan ringan <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/" rel="nofollow">di artikel ini</a>).</p><p
style="margin-left: 40px;">3) Penjahat yang bertobat, yang disalibkan bersama Yesus seperti yang diceritakan di Luk 23:43, dimana Yesus mengatakan &quot;<i>Kata Yesus kepadanya: &quot;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku <u><b>di dalam Firdaus</b></u></i>,&quot; adalah suatu contoh <u><b><i>Baptism of desire </i></b></u>atau kerinduan untuk menerima pembaptisan, yang diiringi oleh penyesalan atas dosa-dosanya dan juga perbuatan kasih (KGK, 1259). Penyesalan dan perbuatan kasih dari penjahat tersebut diungkapkan dengan perkataanya &quot;<i>Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah&#8230;Yesus, <u><b>ingatlah akan aku</b></u>, apabila Engkau datang sebagai Raja.</i>&quot;(Luk 23:40-42).</p><p
style="margin-left: 40px;">4) Yesus, di ayat 43 menggunakan kata Firdaus, <i>paradise</i> atau dalam bahasa Yunani adalah <i>par&aacute;deisos</i>, merupakan suatu tempat bagi orang-orang beriman sebelum kebangkitan Kristus. Ini disebut juga sebagai limbo of the just/the bossom of Abraham (Luk 16:23) atau hades. Semua orang yang ada di tempat ini, akan menuju ke Surga secara langsung setelah kebangkitan Kristus. Kita mengingat apa yang dikatakan di dalam &quot;Doa Aku Percaya&quot; &#8230; disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun <u><b>ke tempat penantian</b></u>. Dalam waktu tiga hari setelah kematian-Nya, Yesus datang ke tempat penantian untuk memberitakan wahyu Tuhan secara lengkap, sehingga segala yang ada di langit, di atas bumi, dan yang ada di bawah bumi akan bertekuk lutut dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (lih. Fil 2:10-11). Dan setelah Yesus bangkit dari orang mati, maka tempat penantian ini tidak ada lagi, yang ada hanya surga, api penyucian, neraka.</p><p
style="margin-left: 40px;">5) <u><b>Pengalaman dari penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus memberikan pengharapan yang besar akan kasih dan belas kasih Allah kepada umat-Nya</b></u>. Penjahat tersebut hanya berharap untuk diingat, namun Yesus memberikan Surga kepada-Nya, karena Yesus melihat kedalaman hati, yaitu penyesalan dan kasih dari penjahat tersebut. Jadi tentang ibu Andryhart, kita percayakan kepada belas kasih Tuhan. Apalagi ibu Andryhart telah bertobat sebelum kematiannya walaupun belum sampai dibaptis. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di saat-saat terakhir kehidupannya, hanya Tuhan yang tahu. Namun penyesalan, kasih, dan ketidaktahuannya akan pentingnya baptisan bagi keselamatan, membukan suatu harapan untuk keselamatan jiwa seseorang, termasuk jiwa ibu Andryhart. Yang dapat Andryhart lakukan adalah berdoa bagi arwah beliau setiap hari, yang <i>mungkin</i> masih ada di purgatory atau api penyucian. Persembahkanlah misa bagi arwahnya. November, tahun depan pada saat hari arwah, berdoalah secara khusus untuk arwah ibunda &#8211; <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/10/30/pilih-mana-halloween-atau-all-saints-day/#comment-650" rel="nofollow">lihat jawaban ini</a>.&nbsp;</p><p>Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Andryhart. Mari kita bersama-sama mewartakan Kristus sampai ke seluruh dunia, mulai dari anggota keluarga kita masing-masing, dan komunitas di sekitar kita, sehingga tidak ada alasan lagi bagi orang-orang untuk tidak mengenal Yesus dan Gereja-Nya.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: andryhart</title><link>http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/comment-page-1/#comment-813</link> <dc:creator>andryhart</dc:creator> <pubDate>Wed, 19 Nov 2008 06:49:22 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/#comment-813</guid> <description>Shalom,
Jika seseorang sempat dibaptis dalam proses kematiannya tetapi tidak sempat mengaku dosa, apakah dia bisa langsung masuk surga ataukah harus disucikan dahulu di api penyucian? Untuk penjahat yang disalibkan bersama Yesus, dalam Lukas 23:43 Yesus mengatakan kepadanya: &quot;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.&quot; Apakah peristiwa ini merupakan contoh baptisan iman? Apakah penjahat tersebut akan masuk surga atau kah disucikan dahulu di api penyucian? Mengapa Yesus menyebutkan Firdaus dan bukan surga?
Ibu saya menjelang kematiannya karena kecelakaan tidak sempat dibaptis tetapi sempat bertobat dan menerima Yesus. Apakah arwah beliau masih bisa diselamatkan? Apa yang masih dapat kami lakukan untuk menyelamatkannya?
Terima kasih.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom,<br
/> Jika seseorang sempat dibaptis dalam proses kematiannya tetapi tidak sempat mengaku dosa, apakah dia bisa langsung masuk surga ataukah harus disucikan dahulu di api penyucian? Untuk penjahat yang disalibkan bersama Yesus, dalam Lukas 23:43 Yesus mengatakan kepadanya: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.&#8221; Apakah peristiwa ini merupakan contoh baptisan iman? Apakah penjahat tersebut akan masuk surga atau kah disucikan dahulu di api penyucian? Mengapa Yesus menyebutkan Firdaus dan bukan surga?<br
/> Ibu saya menjelang kematiannya karena kecelakaan tidak sempat dibaptis tetapi sempat bertobat dan menerima Yesus. Apakah arwah beliau masih bisa diselamatkan? Apa yang masih dapat kami lakukan untuk menyelamatkannya?<br
/> Terima kasih.</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 41/67 queries in 0.036 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-07-30 16:17:58 -->