Sudahkah kita diselamatkan?

Sakramen baptis Pendahuluan

Pernahkah anda ditanya, "Apakah anda sudah diselamatkan?" atau "Apakah anda sudah menerima Yesus Kristus sebagai Penyelamat anda secara pribadi?" Sebagai orang Katolik mungkin saja kita tidak terbiasa untuk menanyakan hal-hal di atas kepada orang lain, tetapi bukan berarti kita sebaiknya mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, karena umumnya mereka yang bertanya demikian mempunyai motif kasih yang berkobar kepada Yesus dan semangat yang besar untuk menyebarkan Injil, yaitu kabar gembira tentang keselamatan. Untuk itu, janganlah kita bersikap negatif terhadap mereka yang bertanya demikian kepada kita. Namun, mari kita belajar dari perkataan Yesus sendiri tentang keselamatan kekal, dan kehendakNya bagi kita untuk mencapai keselamatan itu, sehingga kita dapat menanggapi pertanyaan-pertanyaan seperti di atas dengan sikap yang positif dan dengan iman yang benar.

Pembaptisan: pintu gerbang Keselamatan

Sedikitnya ada tiga kesempatan penting di mana Yesus sendiri menyatakan bahwa Pembaptisan adalah permulaan jalan menuju keselamatan kekal. Pertama, Yesus sendiri memberi diri-Nya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, di awal masa pewartaan Injil dan pernyataan diriNya sebagai Mesias. Pembaptisan Yesus ini bukan berarti penghapusan dosa- karena sebagai Putera Allah, Yesus tidak berdosa- namun Yesus menunjukkan rasa solidaritas kepada kita manusia yang berdosa, dan memberi contoh akan langkah awal yang harus kita ambil untuk dapat mengambil bagian dalam kehidupan Allah. Makna Pembaptisan Yesus ini dinyatakan dengan jelas dalam Misteri Paska. Turunnya Yesus ke dalam air melambangkan kematian-Nya karena menanggung dosa-dosa kita, dan naikNya kembali melambangkan kebangkitan-Nya dari mati, suatu tanda yang nyata bahwa Yesus adalah sungguh Anak Allah, yang kepadaNya Allah berkenan.[1] Solidaritas Yesus ini membawa berkat yang tak terhingga bagi kita, yaitu urapan Roh Kudus yang turun atas-Nya, dan seruan Allah Bapa yang ditujukan kepadaNya itupun ditujukan kepada kita semua yang dibaptis, "Engkaulah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" (Luk 3:22). Yesus telah merendahkan diri untuk mengangkat kita yang berdosa, agar kita digabungkan dengan kematian-Nya supaya kitapun mengambil bagian di dalam kebangkitan-Nya. Maka melalui Pembaptisan, kita pergi ke tempat di mana Yesus menyatakan solidaritasNya sebagai manusia, dan di sana kita menerima rahmatNya yang mengangkat kita menjadi anak-anak Allah. Paus Benedict XVI menuliskannya dengan begitu indah, "To accept the invitation to be baptized… is to go where he identifies himself with us and to receive there our identification with him." [2]

Kedua, dalam pembicaraannya dengan Nikodemus, Yesus menghubungkan keselamatan kekal dengan Kerajaan Allah (lih. Yoh 3:16 dan Yoh 3:3,5).[3] Yesus berkata bahwa seseorang harus dilahirkan kembali di dalam air dan Roh agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (lih. Yoh 3:5). Kelahiran kembali di dalam air dan Roh inilah yang disebut sebagai Pembaptisan. Karena itu, Pembaptisan ini menjadi pintu gerbang kehidupan di dalam Roh dan awal yang memungkinkan kita menerima sakramen-sakramen yang lain, yang menguduskan kita dan mengarahkan kita kepada keselamatan kekal. Melalui Pembaptisan, dosa-dosa kita diampuni; kita dilahirkan kembali sebagai anak-anak angkat Allah, sebagai anggota Kristus dan dipersatukan dengan Gereja-Nya, serta mengambil bagian di dalam misi Gereja.[4]

Ketiga, sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan amanat kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (lih. Mat 28:19-20). Oleh karena Kristus sendiri mengajarkan bahwa Pembaptisan itu diperlukan untuk keselamatan dan kebahagiaan abadi, maka Gereja Katolik juga mengajarkan demikian.[5]

Pembaptisan ini tidak bertentangan dengan pengajaran Rasul Paulus, yang dalam suratnya kepada jemaat di Roma menyebutkan bahwa "dengan hati orang percaya dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan" (Rom 10:10). Karena, Pembaptisan tidak saja merupakan upacara ‘mencelupkan’ seseorang ke dalam air, tetapi juga pengakuan iman dengan perkataan yang diucapkan dengan mulut, yang berdasarkan atas Sabda Tuhan. Gereja Katolik, melalui Roman Cathechism mengajarkan bahwa Pembaptisan merupakan kelahiran kembali oleh air dalam Sabda,[6] berdasarkan atas pengajaran bahwa Kristus mengasihi jemaat-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya untuk menguduskannya, dengan memandikannya dengan air dan firman (Ef 5:26). Pembaptisan sebagai gerbang menuju keselamatan juga diajarkan oleh Rasul Paulus, seperti yang dikatakannya kepada kepala penjaranya di Filipi, "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." Dan seketika itu juga, ia dan keluarganya memberi diri dibaptis (Kis 16:31.33).

Makna Sakramen Pembaptisan

Pembaptisan berasal dari kata "baptizein" (Yunani) yang artinya "mencelup". Pencelupan ke dalam air ini melambangkan dimakamkannya kita sebagai manusia lama ke dalam kematian Kristus, dan keluarnya dari air melambangkan kebangkitan kita bersama dengan Kristus sebagai ‘manusia baru’.[7] Pada saat Pembaptisan inilah, kita dapat berkata, ‘aku yang dulu sudah mati, sekarang aku hidup bersama Kristus dan di dalam Kristus’. Artinya, kita dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus (Yoh 3:5), menjadi ciptaan yang baru (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Gal 4:5-7), mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Ptr 1:4), anggota Kristus (1 Kor 12:27), ahli waris bersama Kristus (Rom 8:17) dan kenisah Roh Kudus (1 Kor 6:19).[8] Oleh rahmat Allah kita dimampukan untuk meninggalkan dosa-dosa dan kebiasaan lama yang buruk, untuk hidup baru seturut dengan ajaran Kristus.

Pembaptisan juga dikatakan sebagai Penerangan, karena melalui sakramen ini kita menerima Sabda, yaitu Kristus, Sang Terang dunia. Maka oleh Pembaptisan kita menjadi anak-anak terang (1 Tes 5:5), bahkan menjadi terang itu sendiri (Ef 5:8)[9] yang meneruskan Terang Kristus. Melalui Pembaptisan kita diubah menjadi serupa dengan Kristus, dan kita ditandai dengan meterai rohani yang tak terhapuskan.[10]

Rahmat Pembaptisan: Pembersihan dari dosa dan Pembaharuan dalam Roh

Pencelupan ke dalam air yang melambangkan kematian ‘manusia lama’ di dalam Kristus, membawa dua macam rahmat. Pertama adalah pembersihan dari dosa-dosa, kedua adalah kelahiran kembali dan pembaharuan di dalam Roh Kudus.[11] Dengan demikian rahmat pembaptisan merupakan perwujudan dari firman Tuhan yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, yaitu "jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya… Demikianlah hendaknya… bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus." (Rom 6:6-7, 11)

Melalui pembaptisan, kita dibersihkan dari segala dosa, baik dosa asal (dari Adam) maupun dosa pribadi yang dilakukan sebelum dibaptis. Namun demikian, kita tetap tidak terbebas dari kecondongan kepada dosa, atau yang dikenal sebagai ‘concupiscentia‘ (keinginan tak teratur). Keinginan tak teratur ini ‘tertinggal’ agar kita terus berjuang untuk mengalahkannya, agar kelak kita menerima mahkota (2 Tim 2:5). [12] Itulah sebabnya, pada saat dibaptis, kita memang diubah menjadi kudus, namun selanjutnya, kita harus berjuang mempertahankan kekudusan itu dengan mengalahkan kecondongan berbuat dosa. Bukanlah memang demikian halnya? Setelah dibaptis, contohnya, kita masih saja mengalami godaan untuk marah, malas, berdosa dengan mulut dan pikiran, dst. Namun, kuasa dan rahmat Roh Kudus yang kita terima dalam Pembaptisan memungkinkan kita untuk mengalahkan dorongan tersebut, dan memilih melakukan perintah Tuhan.

Jika kita terus menerus memilih mengikuti kehendak dan perintah Tuhan, maka di akhir nanti kita akan dibenarkan oleh Tuhan. Hal ini yang diartikan sebagai "keselamatan". Namun sebaliknya, jika setelah dibaptis, kita memilih untuk mengikuti kecondongan berbuat dosa dari pada mengikuti perintah Tuhan, maka kita akan ‘kehilangan’ rahmat keselamatan tersebut; bukan karena meterai rohani yang diberikan oleh Allah itu terhapus oleh dosa, ataupun rahmat Tuhan itu kurang ‘berkuasa/powerful‘, tetapi karena kita dapat, oleh kehendak sendiri menolak keselamatan tersebut.[13] Jadi keselamatan bukanlah rahmat yang diperoleh seketika untuk selamanya, melainkan rahmat yang harus selalu kita jaga dan pertahankan, agar kita dapat terus bertumbuh di dalam rahmat itu.

Makna kedua dari Pembaptisan adalah pembaharuan di dalam Roh Kudus, dan ini dinyatakan tidak saja dengan di dalam hidup kita sebagai individual, tetapi juga di dalam kelompok sebagai pengikut Kristus. Melalui Pembaptisan, kita diurapi oleh Roh Kudus, dan digabungkan menjadi anggota dalam Kristus. Urapan Roh Kudus yang mengalir dari Kepala kepada anggota Tubuh-Nya menjadikan kita mengambil bagian di dalam misi Kristus sang Kepala, sebagai imam, nabi dan raja.[14]

Peran kita sesudah dibaptis: sebagai imam, nabi dan raja[15]

Setelah dibaptis, kita menjalani ketiga peran Kristus sebagai imam, nabi dan raja. Peran imam di sini bukan berarti bahwa setelah dibaptis kita semua menjadi pastor/ imam, melainkan bahwa kita mengambil bagian dalam imamat Kristus (Why 1:6) sebagai bangsa pilihan Allah, imamat yang rajani (1 Pet 2:9). Partisipasi dalam imamat Kristus ini diwujudkan dalam dua macam peran yang saling berkaitan, yang pertama adalah imamat bersama/ common priesthood, dan yang kedua adalah imamat jabatan/ hirarchical priesthood.[16] Mereka yang menjabat sebagai imam bertugas melayani umat yang oleh Pembaptisan menerima peran imamat bersama.

Perwujudan peran imamat ini mencapai puncaknya di dalam sakramen-sakramen, terutama perayaan Ekaristi. Para imam mengajar umatNya, dan bertindak atas nama Kristus dalam perayaan Ekaristi, dan mempersembahkan kurban Ekaristi kepada Tuhan atas nama umat. Sedangkan umat menjalankan peran imamat mereka dengan menggabungkan kurban mereka dengan kurban Kristus. Selanjutnya, mereka semua menjalankan peran imamat mereka dengan menerima sakramen-sakramen, dengan doa dan ucapan syukur, dengan hidup kudus melalui mati raga dan berbuat kasih.[17] Jika kita menghayati peran imamat bersama, maka seharusnya kita dapat lebih menghayati keterlibatan kita di dalam sakramen-sakramen, terutama pada perayaan Ekaristi, karena pada saat itulah kita mempersembahkan diri kita sebagai bagian dari persembahan Kristus kepada Allah Bapa. Persembahan kita ini berupa ucapan syukur, segala suka duka dan pergumulan yang sedang kita hadapi, maupun segala pengharapan yang kita miliki. Keterlibatan ini menjadikan kita sebagai bagian dari Sang Pelaku utama yaitu Kristus, dan bukan hanya sebagai ‘penonton’ Misteri Paska.

Selain sebagai imam, kita yang sudah dibaptis mengambil bagian di dalam peran Kristus sebagai nabi, dengan cara, berpegang teguh pada iman, memperdalam iman kita, dan menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia.[18] Di sinilah kita dipanggil untuk mewujudkan iman di dalam perbuatan, sehingga dapat menjadi kesaksian yang hidup akan pengajaran Kristus.

Akhirnya, Pembaptisan juga mengakibatkan kita mengambil peran Kristus sebagai raja, yang tidak sama dengan pengertian raja menurut dunia. Sebagai Raja, Kristus menarik manusia kepada-Nya melalui kematian dan kebangkitanNya. Sebagai pengikut Kristus, kitapun dipanggil untuk membawa banyak orang kepada Kristus. Selanjutnya, sebagai Raja, Kristus datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, maka panggilan kita sebagai raja adalah untuk melayani Dia di dalam sesama terutama di dalam mereka yang miskin dan menderita, sebab di dalam merekalah Gereja melihat wajah Sang Kristus, yang menderita.

Hanya ada satu Pembaptisan

Begitu pentingnya makna Pembaptisan, yang meninggalkan pada kita meterai rohani yang tak terhapuskan, maka Gereja Katolik mengajarkan bahwa hanya ada satu Pembaptisan. Kristus sendiri mengajarkan hal ini, saat Ia berkata pada Rasul Petrus yang memohon kepada Yesus untuk mempermandikan dirinya. Yesus berkata, "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi…" (Yoh 13:9-10). Tertullian, mewakili para Bapa Gereja melihat hal ini sebagai tanda bahwa para murid telah menerima baptisan Yohanes, dan karenanya tidak perlu dibaptis lagi oleh Kristus.[19] Dengan demikian Gereja Katolik mengakui satu pembaptisan yang mengukirkan meterai rohani yang tak terhapuskan dan tak dapat diulangi.[20]

‘Satu Baptisan’ ini mempersatukan kita umat Katolik dengan para pengikut Kristus dari gereja lain. "Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibaptis dengan sah (di dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus), berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja Katolik, sungguhpun tidak secara sempurna. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja Katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan." [21]

Sekarang, bagaimana dengan mereka yang menginginkan Pembaptisan, namun sebelum menerima baptisan mereka sudah meninggal, atau para martir yang belum sempat dibaptis? Untuk hal ini Gereja Katolik mengajarkan bahwa, selain Pembaptisan oleh air, dikenal juga Pembaptisan darah, yaitu mereka yang menyerahkan nyawanya sebagai martir untuk membela iman mereka. Para martir ini dibaptis untuk dan bersama Kristus oleh kematiannya.[22] Selanjutnya juga dikenal Pembaptisan oleh keinginan (Baptism of desire), seperti pada para katekumen yang wafat sebelum menerima Pembaptisan. Mereka diselamatkan oleh kerinduan mereka akan Pembaptisan, oleh penyesalan atas dosa-dosanya dan cinta kasih mereka. Juga semua orang yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan, sebab orang-orang semacam itu dapat menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar bahwa baptisan diperlukan untuk mencapai keselamatan.[23] Hal ini dimungkinkan karena "Kristus telah wafat bagi semua orang… dan Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan Misteri Paska itu."[24]

Pembaptisan menurut Para Bapa Gereja

  1. Didache, Pengajaran para Rasul (80-160), mengajarkan untuk "membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus di dalam air … tuangkan tiga kali pada kepala dengan berkata ‘di dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.’ Sebelum Pembaptisan, biarlah yang membaptis dan yang menerima baptisan berpuasa terlebih dahulu, dan yang lain juga, jika sanggup…. Mereka yang dibaptis harus berpuasa sehari atau dua hari sebelum Pembaptisan."[25]
  2. Yustinus Martyr (100- 165), First Apology, menuliskan bahwa pengganti para rasul "berdoa dan memohon pada Tuhan dengan berpuasa untuk mendatangkan penghapusan dosa bagi mereka yang akan dibaptis. Kemudian, mereka dibawa kepada air tempat mereka akan dibaptis, sebagaimana para penerus rasul tersebut-pun dibaptis. Sebab, di dalam nama Allah Bapa Pencipta alam semesta, Allah Putera Penyelamat dunia, dan Roh Kudus, mereka yang dibaptis menerima pembersihan (dari dosa) oleh air… Untuk alasan inilah, kami menerima mandat dari para Rasul."[26]
  3. Tertullian (155-222), melalui tulisannya, On Baptism, menyatakan bahwa melalui Sakramen Permandian kita dibersihkan dari dosa-dosa, dibebaskan (dari kuasa dosa) dan diterima di dalam kehidupan kekal.[27] Tanpa Pembaptisan, orang tidak dapat diselamatkan, berdasarkan atas ajaran Yesus, "Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah"(Yoh 3:5).[28]
  4. Santo Cyril dari Jerusalem (313-386), mengatakan tanpa dibaptis, seorang tidak dapat diselamatkan, kecuali para martir, yang walau tanpa dibaptis dapat mencapai Kerajaan Allah.[29]
  5. Santo Agustinus (354-430), melalui Enchiridion, mengatakan bahwa Sakramen Pembaptisan menunjukkan kematian diri kita terhadap dosa bersama Kristus, dan kebangkitan kita bersama Dia ke dalam kehidupan yang baru.[30]
  6. Santo Ambrosius (338-397), melalui On Repentance, menjelaskan bahwa apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Allah mau dan mampu mengampuni dosa kita, meskipun kita berpikir bahwa dosa tidak dapat diampuni. Sebab kelihatannya mustahil bahwa air dapat menghapuskan dosa, namun hal yang tidak mungkin ini dibuat menjadi mungkin oleh Allah … [31]

Pengajaran Para Bapa Gereja ini menjadi saksi yang nyata bahwa Pembaptisan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Yesus sendiri, dan yang dilaksanakan oleh para rasul dan para penerus mereka sejak jaman abad-abad awal.

Kesimpulan

Berdasarkan pengajaran Yesus sendiri, maka kita mengetahui bahwa Pembaptisan diperlukan supaya kita dapat diselamatkan. Melalui Pembaptisan, kita dibersihkan dari segala dosa dan diperbaharui di dalam Roh Kudus; kita meninggalkan manusia lama beserta dengan dosa-dosa kita, dan mengenakan Kristus, sebagai manusia baru. Dengan perkataan lain, kita digabungkan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama Kristus sebagai ciptaan yang baru, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah, menjadi anggota Kristus dan Gereja-Nya. Dengan demikian kita mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi dan di dalam misi Kristus, sebagai imam, nabi dan raja.

Kembali ke pertanyaan di atas, "Apakah kita sudah diselamatkan?" Maka, jawabannya adalah: jika kita telah dibaptis, kita telah diberi rahmat awal keselamatan itu. Kita telah memasuki pintu gerbang yang membawa kita ke sana. Jika kita terus mempertahankan rahmat itu dengan hidup kudus, menolak dosa dan segala keinginan berbuat dosa, dan terus tinggal di dalam Tuhan, maka kita bertumbuh dan berjalan menuju kepenuhan janji keselamatan itu. Singkatnya, agar kita diselamatkan, kita yang sudah dibaptis harus hidup sesuai dengan janji Pembaptisan kita. Mari kita berjuang dengan bantuan rahmat Tuhan, agar kita bertahan sampai pada kesudahannya, sehingga di akhir nanti kita dapat mendengar suara Allah, "Engkaulah anak-Ku, yang Kukasihi, kepadamu-lah Aku berkenan."(Luk 3:22)


[1] Lihat Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (Double Day, New York, 2007), p. 18, "The Baptism is an acceptance of death for the sins of humanity, and the voice that calls out "This is My beloved Son" over the baptismal waters is an anticipatory reference to the resurrection. This also explains why… Jesus used the word of baptism to refer to his death (cf. Mk 10:38; Lk 12:50)"

[2] Ibid., p. 18

[3] Lihat Katekismus Gereja Katolik 1215

[4] Lihat KGK 1213

[5] Lihat KGK 1257

[6] Lihat Roman Catechism, Part Two, The Sacraments, Baptism, The Definition of Baptism, 5, "Baptism… as the sacraments of regeneration by water and in the word."

[7] Lihat KGK 1214

[8] Lihat KGK 1265

[9] Lihat KGK 1216

[10] Lihat KGK 1272, "Pembaptisan menandai warga Kristen dengan satu meterai (character) rohani yang tidak dapat dihapuskan oleh dosa manapun, meskipun dosa menghalang-halangi Pembaptisan untuk menghasilkan buah keselamatan."

[11] Lihat KGK 1262

[12] Lihat KGK 1264

[13] St. Augustinus, dalam On Rebuke and Grace, Chap. 6:9R, seperti dikutip oleh John Willis, SJ, The Teachings of the Church Fathers, (Ignatius Press, San Francisco, 2002, reprint 1966 Herder and Herder, New York), p. 294.,"If however, being already regenerate and justified (through Baptism), he relapses of his own will into an evil life, assuredly he cannot say, ‘I have not received,’ because of his own free choice to evil he has lost the grace of God, that he had received."

[14] Lihat KGK 1241, KGK 783

[15] Lihat KGK 782, 783, 784, 785, 786.

[16] Lihat Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatic tentang Gereja, 10

[17] Ibid.

[18] Lihat KGK 785

[19] Tertullian (155-222), On Baptism, chap. 9

[20] Lihat KGK 1280.

[21] Unitatis Redintegratio 3, Dokumen Vatikan II, Dekrit tentang Ekumenisme.

[22] Lihat KGK 1258

[23] Lihat KGK 1260

[24] Gaudium et Spes, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Pastoral tentang Gereja di dalam Dunia Modern, 22

[25] Diterjemahkan dari The Didache, Chap. 7

[26] Diterjemahkan dari St. Yustinus Martir, First Apology, Chap. 61.

[27] Tertullian (155-222), On Baptism, Chap. 1

[28] Ibid., Chap. 12

[29] Lihat St. Cyril dari Yerusalem, Catecheses, 3:10

[30] St. Augustinus, Enchiridion 8, chap. 42

[31] Lihat St. Ambrosius, On Repentance, Bk.2, Chap.2.


5 artikel/gambar terakhir di kategori Sakramen


5 artikel/gambar terakhir di kategori Semua Artikel

Tentang Penulis

author photo

Ingrid Listiati sedang menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat. Ingrid telah menyelesaikan 5 semester dari total 6 semester untuk menyelesaikan program studi ini.

Lihat Semua Artikel oleh Penulis Ini

Ada 10 Komentar Sampai Saat Ini. (klik ini untuk menulis pesan "TOPIK BARU")

  1. Sdr. Ingrid Istiani yang dikasihi Tuhan.

    Dengan adanya Kon. Vatikan II ini, banyak kepercayaan diluar Gereja Katolik bahwa Roma seakan-akan telah memberikan lampu hijau bahwa kepercayaan mereka telah diakui kebenarannya oleh Paus, pada hal
    kesesatan muncul dengan mengubah arti dokumen konsili vatikan II yaitu bahwa agama-agama itu mempunyai unsur-unsur kebenaran.
    Ini ajaran konsili tetapi dirubah sedikit demi sedikit, yaitu
    menjadi bahwa agama itu mempunyai unsur keselamatan, dan ini kemudian dirubah sedikit lagi bahwa semua agama mempunyai keselamatan. Kesimpulan terakhir jelas semua agama menyelamatkan.

    Ini bukan ajaran dari Tuhan dan bukan hasil konsili, tetapi ajaran yang sudah diputar balikkan untuk mendukung kepercayaannya.

    Ini pendapat saya, lho. Puji Tuhan.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal October 1st, 2008 12:28 pm:

    Shalom Julius,
    Mengenai adakah kebenaran di agama lain selain Katolik, Vatikan II dalam Lumen Gentium 16, menyatakan:
    Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, Gereja dipandang sebagai persiapan Injil dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan. Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada Sang Pencipta (lih. Rom 1:21 dan 25). Atau mereka hidup dan mati tanpa Allah di dunia ini dan menghadapi bahaya putus asa yang amat berat. Maka dari itu, dengan mengingat perintah Tuhan: “Wartakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15), Gereja dengan sungguh-sungguh berusaha mendukung misi-misi, untuk memajukan kemuliaan Allah dan keselamatan semua orang itu.

    Mengenai topik di atas mungkin nanti akan kami tuliskan dalam artikel terpisah. Sementara ini, silakan membaca juga jawaban saya atas pertanyaan Stefana di bawah ini yang pernah saya kirimkan tgl 20 Agustus dan 25 Agustus (silakan klik). Pertanyaan Stefana kira-kira mirip dengan keadaan yang dituliskan oleh Julius mengenai hal ini.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  2. Penulis mungkin bisa membantu saya. 1. Mengapa orang Katolik setelah dibabtis harus mengunakan embel-embel nama babtis yang diabil dari orang-orang suci? Contoh : Nama saya Santoso setelah dibabtis ditambah nama Julius. 2. Sejak kapan pengunaan nama babtis?. 3. Penggunaan nama babtis apakah termasuk tradisi?. 4. Latar belakang pengunaan nama babtis?.
    Trima kasih, smg Roh Tuhan berkarya dalam diri kita.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal September 11th, 2008 8:45 pm:

    Shalom Santoso,

    1. Sebenarnya menurut Hukum Kanonik Gereja 1983 yang berlaku sekarang, orang Katolik tidak diharuskan mempunyai nama baptis yang diambil dari orang kudus.  Kanon #855 berkata:

    Hendaknya orangtua, wali baptis dan pastor paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.

    Jadi dari pernyataan ini, Hukum Kanonik Gereja tidak mengharuskan nama santo/santa. Yang harus dijaga adalah, jangan sampai dipakai nama yang ‘melawan’ kekristenan, contohnya saja diberi nama ‘Hiltler’ atau ‘Lenin’.

    Namun demikian, harus diakui bahwa pemakaian nama orang kudus sebagai nama baptis sangatlah bermakna dalam, dan karenanya sangat baik, untuk beberapa alasan:

    • Pemberian nama baru pada saat pembaptisan sesuai dengan maksud dari Pembaptisan itu sendiri, yaitu ‘lahir’ sebagai manusia baru.
    • Pemberian nama santo/ santa mengingatkan kita akan adanya persekutuan orang kudus sehingga harta rohani mereka dapat mereka bagikan kepada kita. Lihat KGK 947 dan 952.
    • Para orang kudus di surga tidak berpangku tangan saja, melainkan tak henti-hentinya berdoa bagi kita di hadapan Yesus, sehingga kelemahan kita dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara. (Lumen Gentium 49, KGK 956)
    • Santo/ santa pelindung kita yang kita ambil namanya, dapat menjadi teladan bagi kita, sehingga kita dapat meniru contoh kehidupannya dan mereka membantu kita mengamalkan cinta kasih agar kita semakin mendekati Kristus (lihat KGK 957).

    2. Sejarah penggunaan nama baptis sesungguhnya telah berlangsung sejak zaman abad pertama. Beberapa contoh yang dapat saya kutip misalnya:

    • Menurut tradisi Gereja awal, Raja Fulvian yang membunuh Rasul Matius, akhirnya menjadi Kristen. Sesaat sebelum dibaptis, konon terdengarlah suara dari langit yang dinyatakan kepada Uskup yang akan membaptisnya, “Jangan memanggil dia Fulvian, tetapi Matius.” Kemudian Raja itu diberi nama baptis, “Matius” yang diambil dari nama Rasul Matius. (Cerita ini dimasukkan olah St. Dmitri Rostov di dalam bukunya, “Collection of the Lives of the Saints, diterbitkan di Moskow 1914).
    • St. Ev(u)stathios, yang sebelumnya bernama Placidas, diberi nama “Evstathios” pada Pembaptisannya pada tahun 80 AD. Ia dibunuh sebagai martir pada tahun 100 AD. Istrinya, Theopiste, juga diberi nama baptis, demikian juga kedua anaknya Agapios dan Theopistos. Cerita ini dikompilasi pada abad ke 11 oleh St. Symeon Metaphrastes.
    • Di buku Ekklesiastike Historia, karangan Eusebius, abad ke 4, kita menemukan sejarah pemberian nama-nama Rasul kepada anak-anak yang dibaptis (Buku ke VII, bab 25).
    • Dalam “Homilia enkomiastike eis ton en Hagiois Patera hemon Meletion…,” St. Yohanes Krisostomus (abad ke 4) mengajarkan agar umat Kristen menamai anak-anak mereka dengan nama para orang kudus (Santo/ Santa).

    3. Penggunaan nama baptis bukan merupakan Tradisi (dengan huruf besar) yang setara dengan Kitab suci, melainkan hanya tradisi(dengan huruf kecil)kebiasaan Gereja. Tradisi/ Sacred Tradition (dengan huruf besar) yang dimaksud di sini adalah yang berhubungan dengan pengajaran lisan dari Kristus dan Para Rasul-Nya, yang kemudian diturunkan oleh para penerus Para Rasul tersebut oleh tugas wewenang mengajar (Sacred Magisterium). Lebih lanjut tentang Tradisi dan Magisterium silakan baca Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan bagian ke -3.

    4. Latar belakang pemberian nama baptis: saya rasa sudah terjawab dari point 1-2.

    5. Sebagai tambahan, jika St. Julius yang menjadi nama baptis Santoso diambil dari Paus Julius I, berikut ini riwayat singkat hidupnya:

    Paus St. Julius I (337-352). Ia adalah penerus Paus St. Mark Arcus, dan diangkat menjadi Paus pada tanggal 6 Feb 337. Selama tugas pontifikatnya, ia dikenal sebagai Paus yang tegas dalam menolak ajaran sesat Arianisme (ajaran yang mengatakan bahwa Yesus Kristus bukan Allah).

    Ia wafat pada tanggal 12 April, 352, dan dikubur di Katakomb Calepodius, namun kemudian dipindahkan ke gereja St. Maria di Trastevere. Segera setelah wafatnya, ia dinobatkan menjadi Santo. Pesta namanya dirayakan tgl 12 April.

    Semoga teladan St. Julius selalu mendorong Santoso untuk menjadi seorang pembela kebenaran.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org

    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Julius Santoso menjawab pada tanggal September 12th, 2008 9:47 am:

    Puji Tuhan untuk Ingrid Listiati.
    Trima kasih atas jawaban yang sangat bagus dan luar biasa. Saya sangat tersanjung sekali dengan jawaban yang cepat dan mudah dimengerti. Saya jarang sekali mendapatkan jawaban yang memuaskan seperti ini. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
    Kalau boleh saya isi lengkap dalam :KGK 947 dan 952, Lumen Gentium 49, KGK 956 dan KGK 957.
    Tanya jawab atau pesan agar dipertahankan tetap ditampilkan di situs http://www.katolisitas.org/ sehingga pertanyaan dan jawaban dari orang lain juga untuk menambah pengetahuan / wawasan dan sebagai penguat iman saya.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal September 12th, 2008 7:28 pm:

    Shalom Santoso,
    Berikut ini isi lengkap kutipan dari
    KGK 947:
    “Karena semua kaum beriman membentuk satu Tubuh saja, maka harta milik dari yang satu disampaikan kepada yang lain… Dengan demikian orang harus percaya… bahwa di dalam Gereja ada pemilikan bersama… Yang paling utama dari semua anggota Gereja adalah Kristus, karena Ia adalah Kepala… Jadi milik Kristus dibagi-bagikan kepada semua anggota, dan pembagian ini terjadi oleh Sakramen-sakramen Gereja (Thomas Aquinas, symb. 10). “Kesatuan Roh, yang olehnya (Gereja) dibimbing, mengakibatkan bahwa apa yang telah ia terima, menjadi milik bersama semua orang” (Catech. R., 1, 10, 24).

    KGK 952:
    Segala sesuatu adalah milik mereka bersama” (Kis 4:32): “Seorang Kristen yang benar tidak mempunyai sesuatu apa pun, yang tidak ia anggap sebagai milik bersama dari semua orang; karena itu orang-orang Kristen harus selalu rela meringankan kemalangan orang-orang yang berkekurangan” (Catech. R. 1, 10, 27). Seorang Kristen adalah bendahara harta pusaka Tuhan (bdk Luk 16:1,3).

    KGK 956:
    Doa syafaat para kudus. “Sebab karena para penghuni surga bersatu lebih erat dengan Kristus, mereka lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan pelbagai cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya. Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan, karena Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, tidak pernah berhenti menjadi pengantara kita di hadirat Bapa, sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia, melalui Pengantaraan tunggal antara Allah dan manusia yakni: Kristus Yesus. Demikianlah kelemahan kita amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara” (Lumen Gentium 49)

    “Jangan menangis, sesudah saya mati saya akan lebih berguna bagi kamu dan akan menyokong kamu secara lebih baik daripada selama saya hidup” (Dominikus, dalam sakratul maut kepada sama saudara seserikat). Bdk Jordan Sachsen, lib.93.

    “Saya akan mengisi kehidupan saya di surga dengan melakukan yang baik di dunia” (St. Teresia Kanak-kanak Yesus, verba)

    KGK 957:
    Persekutuan dengan para orang kudus. “Kita merayakan kenangan para penghuni surga bukan hanya karena teladan mereka. Melainkan lebih supaya persatuan segenap Gereja dalam Roh diteguhkan dengan mengamalkan cinta kasih persaudaraan. Sebab seperti persekutuan kristiani antara para musafir mengantarkan kita untuk mendekati Kristus, begitu pula keikutsertaan dengan para kudus menghubungkan kita dengan Kristus, yang bagaikan Sumber dan Kepala mengalirkan segala rahmat dan kehidupan Umat Allah sendiri.” (Lumen Gentium 50)

    “Kita menyembah Kristus karena Ia adalah Putera Allah. Tetapi para saksi iman, kita kasihi sebagai murid dan peniru Tuhan dan karena penyerahan diri yang tidak ada tandingannya kepada Raja dan Guru mereka. Semoga kita juga menjadi teman dan sesama murid mereka” (Polikarpus, mart. 17)

    Semoga kutipan teks Katekismus Gereja Katolik di atas dapat menjelaskan kedalaman arti persekutuan kita dengan para orang kudus di surga, sehingga kita semakin terdorong untuk meniru teladan hidup mereka; dan oleh doa-doa mereka kita bertumbuh di dalam iman untuk semakin mendekati Kristus.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  3. Dear Pengasuh,

    Saya akan bertanya mengenai “Sungguh adakah Keselamatan diluar Tuhan Yesus/Gereja ” ?. Apakah pernyataan konsili Vatikan II mengenai hal itu sudah benar dan sesuai terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia ?. Karena kalau saya amati buah2 dari pemahaman pernyataan konsili vatikan II ini menjadi tidak baik yaitu banyak anak2 Tuhan yang sudah dibabtis meninggalkan gereja, karena mereka beranggapan dalam iman yang lainpun orang bisa selamat. Kalau kita menilik Sabda Tuhan sudah sangat jelas ” Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup, tidak ada seorang pun sampai kepada Bapaku kalau tidak melalui Aku.”, “Kalau kamu percaya berikan dirimu dibabtis kalau tidak percaya akan dihukum”. Mohon jawaban karena saya masih bingung dengan hal ini, terima kasih. JBU.
    Stefana

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal August 20th, 2008 9:02 pm:

    Shalom Stefana,

    Mengenai topik, “Adakah Keselamatan di luar Gereja Katolik” sekilas telah disinggung di dalam artikel Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik, di bagian akhir artikel dengan sub-judul, Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal Kristus atau umat yang sudah menjadi anggota gereja lain? Silakan membaca artikel tersebut. Namun untuk lebih jelasnya, topik ini akan ditulis lebih rinci di artikel terpisah.

    Ya, betul, keselamatan hanya ada pada Yesus, Jalan, Kebenaran dan Hidup, dan tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa tanpa melalui Yesus (lih.Yoh 14:6). Namun, jangan lupa, bahwa Allah juga menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2: 3-4). Jadi jika ada orang yang di luar Gereja Katolik dapat diselamatkan, itu hanya terjadi karena jasa Kristus yang telah wafat bagi semua orang. Berikut ini adalah kutipan lengkap dari Katekismus Gereja Katolik 1260:

    “Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk bergabung dengan cara yang diketahui oleh Allah dengan misteri Paska itu (GS 22). Setiap manusia yang tidak mengenal Injil Kristus dan GerejaNya, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah sesuai dengan pemahamannya akan hal itu, dapat diselamatkan. Orang dapat mengandaikan bahwa orang-orang semacam itu memang menginginkan Pembaptisan, seandainya mereka sadar akan perannya demi keselamatan.”

    Jadi dalam hal ini, kalimat ‘tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja-Nya’ itu hanya berlaku bagi mereka yang belum dibaptis. Sedangkan bagi yang sudah dibaptis ataupun yang sudah mengerti bahwa Gereja Katolik adalah Sakramen Keselamatan yang telah direncanakan Allah, ketentuannya dapat kita baca pada Lumen Gentium 14,

    “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.”

    Jadi, hal ini sesuai dengan sabda Yesus, bahwa, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut “(Luk 12:48). Kita yang sudah diberi (lebih banyak) karunia iman di dalam Kristus (daripada mereka yang belum mengenal Yesus), dituntut untuk melakukan lebih banyak dan lebih baik, sesuai dengan yang telah diajarkan oleh iman itu kepada kita. Jika tidak, kita akan ‘menerima banyak pukulan’ (lih Luk 12:47). Namun orang yang tetap bertahan di dalam iman sampai kesudahannya akan selamat (lihat Mat 10:22, Mat 24:13).

    Maka, jika seseorang yang sudah dibaptis Katolik betul-betul mempelajari dan mengenal imannya, sesungguhnya ia tidak mungkin pindah ataupun meninggalkan Gereja. Bahwa kenyataannya ada banyak orang pindah/ meninggalkan Gereja, mungkin memang disebabkan karena alasan-alasan tertentu. Namun dari yang saya ketahui, alasan tersebut banyak yang disebabkan karena ketidaktahuan/ kekurangan pengertian akan pengajaran Gereja Katolik yang adalah pengajaran Tuhan Yesus sendiri, atau karena alasan yang lebih bersifat praktis atau berhubungan dengan perasaan, misalnya karena pergaulan, senang dengan musik atau khotbah, atau mendapat kemudahan yang lain, seperti pekerjaan, dll.

    Adalah tantangan bagi kita umat Katolik untuk mempelajari iman kita, agar kita dapat sungguh-sungguh mengenal iman kita ini dan mempraktekkannya (Silakan baca: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, terutama bagian 5). Dengan demikian, kita menjadi saksi iman yang hidup bagi orang-orang di sekitar kita dan dapat membawa mereka agar mempunyai keinginan untuk datang kepada Tuhan dan Gereja-Nya.

    Semoga tulisan di atas menjawab pertanyaan Stefana.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org

    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefana SW menjawab pada tanggal August 22nd, 2008 3:37 am:

    Salam Kasih Dalam Kristus,

    Mba Inggrid yang dikasihi Tuhan Yesus dan Bunda Maria, terima kasih jawabannya dan kutipan katekismus Gereja yang sudah di jelaskan kepada saya, Luar Biasa……, Puji Tuhan saya lebih mengerti dan tidak bingung lagi.
    Berarti dalam memahami ajaran Gereja (terutama Katekismus Gereja Katholik 1260) tidak bisa dong dengan mengambil sebagian/sepenggal kata saja “Diluar Gereja ada Keselamatan”, karena artinya sudah berbeda dengan apa yang sudah tertulis lengkap. Kadang pernyataan itu justru datang dari orang-orang yang berpengaruh di dalam Gereja (pastor, dewan paroki, ketua wilayah atau lingkungan) sehingga kadang sepertinya mereka MENGAMINI Iman atau kepercayaan agama lainpun adalah Kebenaran dan Keselamatan. Seperti anda katakan orang2 yang seperti ini tidak/kurang mempelajari/memahami/mengenal benar2 iman Katholik mereka.
    Pemahaman saya mengenai katekismus Gereja yang lengkap, berarti “Ada keselamatan bagi orang yang tidak mengenal Injil Kristus dan Gereja, tetapi mencari kebenaran dan melakukan kehendak Allah (Yesus Kristus) sesuai dengan pemahamannya, dapat diandaikan bahwa orang2 semacam itu memang menginginkan Pembaptisan “, ini berarti berlaku hanya untuk orang2 yang sudah meninggal dalam Baptis Rindu dan Baptis Darah, tetapi tentu TIDAK berlaku bagi orang2 yang dalam hidupnya selalu berbuat baik, tetapi dengan sadar dia menolak Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat serta menolak ajaranNya atau Menutup Hati bagi Tuhan Yesus.
    Semoga pemahaman saya ini benar, sekali lagi terima kasih, JBU.

    Salam
    Stefana

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal August 25th, 2008 10:58 am:

    Shalom Stefana,

    Ya benar, bahwa kita harus membaca KGK 1260 secara keseluruhan. Dengan demikian kita mengetahui bahwa keselamatan diberikan dalam nama Yesus melalui GerejaNya. Namun, kita juga percaya bahwa karena Allah menghendaki semua orang diselamatkan (1 Tim 2:4) Maka, kita percaya juga bahwa Tuhan sudah menanamkan di dalam hati semua orang suatu hasrat untuk mencari kebenaran. Jadi, jika bukan karena kesalahannya sendiri, dia tidak sampai mengenal Kristus dan GerejaNya, namun dia selalu hidup baik, mencari dan melakukan kehendak Tuhan dengan perbuatan kasih, berdasarkan iman dan pengharapannya, dan ia juga memiliki pertobatan yang sungguh, maka ia-pun dapat diselamatkan. Hal ini kita ketahui dari pengajaran Gereja, khususnya Lumen Gentium 16 dan KGK 1260. Jangan kita lupa firman Tuhan sendiri yang mengatakan “setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah” (1Yoh 4:7). Mungkin berdasarkan pengertian sedemikian maka ada pastor/ pemuka umat mengatakan “di luar Gereja ada keselamatan”. Namun kita perlu menyadari bahwa pernyataan tersebut belum lengkap. Sebab yang dapat diselamatkan di dalam konteks ini adalah orang yang benar-benar tidak tahu, dan yang bukan karena kesalahan sendiri, tidak mengenal Yesus dan Gereja-Nya, misalnya mereka yang di pedalaman China yang tidak tersentuh oleh para misionaris, atau mereka yang secara ketat dibesarkan di lingkungan Yahudi, atau di lingkungan Islam. Nah, sejauh mana mereka benar-benar tidak tahu itu sungguh-sungguh hanya Tuhan yang tahu, maka kita sebaiknya tidak berspekulasi dalam hal ini. Juga perlu diketahui, bahwa perbuatan kasih dan keinginan untuk selalu melakukan kehendak Tuhan sebenarnya secara tidak langsung berkaitan dengan Gereja Katolik, dalam hal ini dengan sakramen Baptis, (Baptism of desire/ Baptis rindu) sebab jika orang-orang ini akhirnya mengetahui bahwa Tuhan menginginkan mereka untuk dibaptis agar mereka dapat selamat, mereka akan mau dibaptis, untuk lebih lagi mengambil bagian dalam hidup Ilahi, yang adalah Kasih.

    Mungkin ada baiknya kita melihat ilustrasi berikut, yang memang tidak bisa menggambarkan secara persis, namun dapat membantu kita memahami hal ini: Dalam perziarahan kita di dunia menuju surga, semua orang sesungguhnya telah diberikan ‘peta’. Sebagai orang Katolik, kita mengimani bahwa peta yang kita pegang adalah peta yang lengkap, yaitu iman kepada Kristus melalui Gereja Katolik. Kita yakin dan percaya, seperti yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri, bahwa dengan ‘peta’ tersebut, kita akan sampai ke surga. (Silakan baca seluruhrangkaian artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, bagian 1-5). Nah, banyak orang tidak memiliki peta yang lengkap dan jelas seperti yang kita pegang. Bukannya tidak mungkin mereka akhirnya sampai juga. Tetapi tentu saja tidak semua orang yang demikian sampai ke tujuan. Mereka dapat saja kesasar, dan akhirnya tidak ‘nyampe’. Ilustrasi ini memang sangat disederhanakan, tetapi maksudnya adalah, dengan memegang peta yang tidak lengkap, seseorang mempunyai resiko tidak ’sampai’ ke tujuan Hal ini yang kurang lebih disampaikan oleh surat Paus Pius XII yang memperjelas pernyataan yang dibuatnya tentang ‘tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik’ (‘extram ecclesiam non salus’ yang dinyatakan dalam surat ensiklik, Mystici corporis Christi, 29 Juni 1943)

    Surat penjelasan dari Kongregasi Kepausan (THE SACRED CONGREGATION OF THE HOLY OFFICE) tertanggal 8 Agustus 1949, merupakan surat penjelasan, sekaligus peringatan kepada seorang Pastor di Boston Amerika Serikat yang salah menginterpretasikan ajaran tersebut. Surat ini ditujukan kepada Uskup setempat, yaitu Richard. J Cushing, yang kemudian mendukung isi surat penjelasan tersebut. Surat tersebut dibuat berkaitan dengan Fr. Leonard Feeney yang melalui St. Benedict center dan Boston College, mengajarkan dengan ekstrim bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik.

    Berikut ini adalah beberapa kutipan surat Kongregasi Kepausan tersebut:

    “In His infinite mercy God has willed that the effects, necessary for one to be saved, of those helps to salvation which are directed toward man’s final end, not by intrinsic necessity, but only by divine institution, can also be obtained in certain circumstances when those helps are used only in desire and longing. This we see clearly stated in the Sacred Council of Trent, both in reference to the sacrament of regeneration and in reference to the sacrament of penance (<Denzinger>, nn. 797, 807). The same in its own degree must be asserted of the Church, in as far as she is the general help to salvation. Therefore, that one may obtain eternal salvation, it is not always required that he be incorporated into the Church actually as a member, but it is necessary that at least he be united to her by desire and longing.”

    Terjemahannya adalah sebagai berikut:

    “Di dalam belas kasihanNya yang tak terbatas, Tuhan berkehendak bahwa efek-efek yang diperlukan agar seseorang dapat diselamatkan, yang adalah bantuan untuk mengarahkan seseorang kepada keselamatan yang menjadi tujuan hidupnya, tidak merupakan keharusan yang mutlak, namun merupakan institusi ilahi, (maka) efek tersebut dapat juga diperoleh di dalam keadaan- keadaan di mana bentuan tersebut diperoleh/ digunakan melalui keinginan dan kerinduan. Hai ini jelas diajarkan di dalam Konsili Trente, berkaitan dengan sakramen Pembaptisan dan Pengakuan dosa. Demikianlah dengan derajat yang sama, harus diajarkan bahwa Gereja adalah bantuan umum untuk keselamatan. Maka, bahwa untuk dapat mencapai keselamatan, seseorang tidak harus tergabung di dalam Gereja sebagai anggota secara nyata, tetapi setidak-tidaknya, tergabung dengannya (Gereja) melalui keinginan dan kerinduan.”

    Selanjutnya Paus mengatakan, bahwa orang-orang tersebut, yang tergabung dengan Gereja lewat keinginan dan kerinduan, bukannya tidak mungkin dapat selamat, namun mereka ada di dalam keadaan ’di mana mereka tidak dapat memastikan hal keselamatan mereka’ sebab mereka tetap tidak dapat menerima banyak karunia surgawi dan bantuan-bantuan yang hanya dapat diberikan melalui/ di dalam Gereja Katolik. (..they are in a condition “in which they cannot be sure of their salvation” since “they still remain deprived of those many heavenly gifts and helps which can only be enjoyed in the Catholic Church” (AAS, 1. c., p. 243).

    Paus juga mengatakan tidak cukup bahwa seseorang hanya berkeinginan bergabung dengan Gereja, untuk dapat diselamatkan. Orang itu juga harus melakukan perbuatan-perbuatan kasih, yang didasari oleh ‘supernatural faith’/ iman kepada Tuhan.

    Untuk selengkapnya, surat ini dapat dibaca di link: http://www.ewtn.com/library/CURIA/CDFFEENY.HTM

    Semoga dengan penjelasan di atas ini, kita dapat mendapat pengertian yang benar tentang “tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik”.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org

    Ingrid Listiati.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

Pesan atau Komentar baru