Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 2) ?
Sakramen Pengakuan Dosa bertentangan dengan Alkitab?
Tulisan bagian pertama Sakramen Pengakuan Dosa telah membahas apa itu dosa, perbedaan dosa, konsekuensi dosa, dan juga tahapan dosa, sehingga kita dapat melihat bahwa Tuhan benar-benar merencanakan Gereja-Nya untuk diberiNya kuasa mengampuni dosa. Namun sayangnya tidak semua orang percaya akan hal ini. Lebih sayang lagi kalau umat Katolik yang diberi berkat yang indah ini tidak menyadari manfaatnya dan menggunakannya.
Mari sekarang kita melihat beberapa keberatan yang diajukan tentang Sakramen Pengakuan Dosa, terutama dari umat Kristen, non-katolik. Mereka mungkin akan mengajukan keberatan-keberatan yang bersumber dari Alkitab, seperti berikut ini:
Keberatan 1: Mengaku dosa hanya kepada Tuhan saja, bukan kepada manusia.
Keberatan pertama ini mengatakan bahwa hanya kepada Tuhan sajalah kita mengakukan dosa kita (Mzm 32:5; Neh 1:4-11; Dan 9:3-19; Ez 9:5-10; Ez 10:11), karena hanya Tuhan saja yang dapat mengampuni dosa (Yes 43:25). Dengan dasar inilah, orang Kristen mengatakan bahwa seharusnya mengakukan dosa secara langsung kepada Tuhan dan tidak perlu untuk mengaku dosa di depan pastor. Mari kita melihat bahwa sebenarnya, ada suatu kesinambungan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yaitu bahwa Tuhan menggunakan perantara untuk mengampuni dosa seseorang.
Pada masa Perjanjian Lama, kalau seseorang melakukan kesalahan, maka dia harus membawa korban tebusan dan seorang imam harus mengadakan perdamaian bagi orang itu dengan Tuhan, sehingga pendosa tersebut dapat memperoleh pengampunan (Im 19:20-22). Musa menjadi perantara antara bangsa Israel yang telah berbuat dosa dengan Tuhan (Kel 32:20). Pertanyaannya, kenapa mereka tidak minta ampun saja kepada Tuhan, namun harus melalui imam dan juga nabi Musa? Bukankah mereka juga bisa minta ampun kepada Tuhan secara langsung? Hal ini disebabkan karena Tuhan seringkali memakai perantara, baik nabi maupun imam untuk menjembatani manusia dengan Tuhan. Yang penting adalah para perantara tersebut benar-benar membawa umat kepada Tuhan.
Namun mungkin ada yang mengatakan bahwa konsep perantara hanya terjadi di Perjanjian Lama, sedang di Perjanjian Baru tidak ada perantara lagi, karena Yesus adalah perantara satu-satunya antara manusia dengan Tuhan (Lih 1 Tim 2:5; Ibr 3:1; Ibr 7:22-27; Ibr 9:15; Ibr 12:24). Mari sekarang kita melihat bukti bahwa Tuhan juga memakai perantara di dalam Perjanjian Baru.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus tidak pernah melarang perantara sejauh perantara tersebut berpartisipasi dalam karya keselamatan Yesus. Pada saat Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, Yesus menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri mereka kepada para imam (Luk 17:12-14) agar para imam dapat menyatakan mereka tahir. Rasul Petrus juga mengajarkan tentang partisipasi dalam karya keselamatan Tuhan, yaitu setiap dari kita menjadi batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi imamat kudus (1 Pet 2:5). Lebih lanjut Rasul Petrus menegaskan bahwa semua umat Allah adalah bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, kepunyaan Allah sendiri (1 Pet 2:9). Pemilihan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan untuk mendatangkan keselamatan pada bangsa-bangsa lain membuktikan bahwa Tuhan menggunakan ‘perantara’ untuk melaksanakan rencana-Nya.
Dalam konteks 1 Pet 2:9, kita melihat bahwa rasul Petrus merujuk kepada Kel 19:5-6, yang menyatakan bahwa Tuhan memerintahkan Musa untuk memberitahukan kepada seluruh umat Israel, bahwa kalau mereka berpegang pada perintah Tuhan, mereka akan menjadi umat kesayangan, kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Disamping mengangkat Israel sebagai kerajaan imam, Perjanjian Lama juga mengatakan bahwa suku Lewi dipersiapkan secara khusus sebagai imam (Bil 3:5-13). Apakah kedua ayat di atas bertentangan? Tidak, sebab secara umum memang bangsa Israel dipersiapkan Tuhan menjadi imam dan bangsa yang kudus, namun secara khusus, Tuhan juga menunjuk suku Lewi untuk menjadi imam dan menjalankan tugas yang berhubungan dengan korban dan persembahan. Suku Lewi yang ditunjuk secara khusus oleh Tuhan untuk menjadi imam (imamat jabatan) melayani umat yang lain atau imam secara umum (imamat bersama). Hal yang sama dapat diterapkan di dalam ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik mengenal adanya dua imamat: (1) Imamat jabatan dan (2) imamat bersama. Dimana imamat jabatan melayani imamat bersama.[1]
Kita juga melihat bahwa rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa dia adalah utusan Kristus, dan dengan mendengarkan Rasul Paulus, maka sama saja mereka mendengarkan Kristus, karena Allah menasihati mereka dengan perantaraan para rasul (2 Kor 5:17-21). Rasul Yakobus mengatakan bahwa kita harus saling mendoakan dan mengakukan dosa (Yak 5:16). Dengan ini, maka dapat disimpulkan bahwa mengaku dosa bukan hanya kepada Allah, namun juga melalui perantara yang ditunjuk oleh Allah, seperti Rasul Paulus, Rasul Yakobus, dll.
Keberatan 2: Hanya Yesus yang dapat mendamaikan kita dengan Tuhan, bukan manusia.
Hanya Yesus sendiri yang dapat mendamaikan kita dengan Tuhan atas segala dosa-dosa yang dibuat oleh umat manusia (1 Yoh 2:2; 1 Tim 2:5). Karena hanya ada satu Imam yang benar, yaitu Yesus Kristus (Ibr 3:1; Ibr 7:22-27). Imam atau pastor di Gereja Katolik tidak dapat menggantikan Yesus, satu-satunya Imam besar dan benar.
Namun, sebenarnya, Yesus sendiri yang memberikan kuasa kepada Gereja yang dilaksakan oleh para imam. Mari sekarang kita melihat apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri sebelum Dia naik ke Surga di dalam Yohanes 20:21-23 yang menjadi dasar untuk Sakramen Pengampunan Dosa.[2]
21) Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” 22)Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23)Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
Dari ayat ini, kita dapat menyimpulkan beberapa hal:
- Yesus memberikan pengutusan kepada para murid untuk meneruskan karya keselamatan Allah (ayat 21). Untuk apakah Yesus datang ke dunia ini? Dia datang untuk menjadi perantara antara Allah dan manusia dengan cara: mewartakan kabar gembira (lih. Luk 4:16-21), menjadi Pengantara untuk menyelamatkan semua orang (Ibr 7:25), dengan kuasa-Nya sebagai Raja dari segala raja (Why 19:16). Dan secara khusus tugas perantaraan tersebut dipenuhi dengan cara membebaskan manusia dari belenggu dosa dengan pengampunan dosa (1 Pet 2:21-25; Mrk 2:5-10).[3]
- Namun karya keselamatan ini tidak dapat dijalankan oleh manusia tanpa karya Roh Kudus. Oleh karena itu, Yesus menghembuskan Roh-Nya kepada para murid, sehingga mereka diberi kemampuan untuk menjalankan misi yang dipercayakan oleh Yesus (ayat 22). Dan ini juga merupakan antisipasi untuk hari Pentakosta.
- Dan lebih lanjut, Yesus memberikan penugasan dan otoritas yang begitu penting kepada para murid, yaitu otoritas untuk mengampuni dosa. Memang hanya Tuhan yang mempunyai hak untuk mengampuni dosa manusia. Namun Yesus sendiri yang memberikan kekuasaan ini kepada para murid. Kalau ditanya, apakah para murid mempunyai kemampuan untuk mengampuni dosa? Tidak. Namun ini adalah perintah dari Yesus sendiri. Yesus memberikan Roh KudusNya kepada para murid dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengampuni dosa untuk menguduskan umatNya sampai akhir jaman. Jadi di ayat ini, Yesus, Sang Imam Agung memberikan mandat kepada para murid untuk meneruskan misi keselamatan di dunia ini dengan otoritas untuk mengampuni dosa dalam nama Kristus. Ayat ini juga mengingatkan kita tentang pengakuan Rasul Petrus akan ke-Allahan Yesus Kristus di Kaisarea Filipi, sehingga Yesus memberikan kunci kerajaan surga kepada Rasul Petrus (Mat 16:16-19).
Mungkin ada yang berkeberatan dengan penafsiran ini. Ada yang mengatakan bahwa di ayat 23, Yesus hanya memberikan doktrin keselamatan dan penghukuman.[4] Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah memberikan mandat kepada manusia untuk mengampuni dosa, karena hanya Tuhan saja yang berhak untuk mengampuni dosa.[5] Ada juga yang mengatakan bahwa perintah ini hanya untuk para rasul dan berhenti setelah para rasul wafat. Di sinilah kita melihat, bahwa ini adalah salah satu dari ayat-ayat di dalam Alkitab yang tidak ditafsirkan secara harafiah oleh orang-orang Kristen non-Katolik yang biasanya menafsirkan ayat-ayat Alkitab secara harafiah.
Kalau kita baca secara lebih teliti, kita tidak dapat menghindari konsekuensi logis dari ayat 21, yang menyatakan relasi antara Allah Bapa dan Allah Putera dan pengutusan para murid, kemudian dilanjutkan dengan Allah Roh Kudus yang terus berkarya di dunia ini membantu para murid untuk menjalankan misi pengampunan dosa (ayat 22). Kemudian diperjelas dengan perintah yang sangat spesifik, yaitu mengampuni atau tidak mengampuni dosa. Dan karena tugas para murid kemudian diteruskan oleh para uskup dan termasuk pembantu uskup, yaitu para pastor, maka kuasa mengampuni dosa yang diberikan oleh Yesus tidak hanya ‘berhenti’ pada para rasul, melainkan diteruskan juga kepada para uskup dan para imam (ayat 23).
Hal ini berkaitan erat dengan amanat yang diberikan Yesus kepada para murid sebelum Ia naik ke surga, yaitu agar para murid pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus … (Mat 28:18-20). Kita tidak dapat mengatakan bahwa ini hanya berlaku untuk para rasul dan murid-murid perdana, namun kita menyimpulkan bahwa amanat agung ini tetap berlaku sampai sekarang. Demikian juga dengan perintah untuk mengampuni dosa. Perintah ini tetap berlaku sampai sekarang, yaitu bahwa para imam Gereja Katolik diberikan kuasa oleh Yesus sendiri untuk mengampuni dosa.
Pertanyaannya, bagaimana para uskup dan imam dapat mengampuni dosa kalau mereka tidak mendengarnya terlebih dahulu? Tentu umat harus terlebih dahulu mengakukan dosanya, dan kemudian para imam dengan hak yang diberikan Yesus melalui Gereja-Nya membuat pertimbangan untuk memberikan pengampunan atau tidak. Hal inilah yang terjadi di dalam Sakramen Pengampunan Dosa.
Bukti Sakramen Pengakuan Dosa dari Bapa Gereja
Pembuktian di atas dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita bahwa ada suatu konsistensi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, bahkan terus berlanjut sampai saat ini.
Mari kita lihat bagaimana para Bapa Gereja pada abad awal menerapkan Sakramen Pengakuan Dosa, yang juga membuktikan bahwa Sakramen ini bukanlah karangan Gereja Katolik, namun berdasarkan Alkitab dan Tradisi suci yang terus berkembang secara konsisten, yang diturunkan sejak dari jaman para rasul.
- Didache (awal abad ke-2) mengatakan pentingnya pertobatan dan mengakuan dosa sebelum menerima Komuni Kudus. (Bab 14)
- St. Clemens dari Roma (+ 96) mengatakan kepada jemaat di Korintus untuk taat kepada para penatua (presbyters) dan untuk menerima disiplin dan melakukan silih dosa dengan sepenuh hati (Cor. 57,1). Karena disebutkan “para penatua,” maka dapat disimpulkan sebagai disiplin dari Gereja.
- St. Ignasius dari Antiokia (+ 107) mengatakan bahwa Tuhan mengampuni mereka yang melakukan penitensi ketika mereka kembali kepada persatuan dengan Tuhan dan kepada persatuan dengan para uskup. (Philad. 8, I; cf. 3,2)
- St. Policarpus, murid rasul Yohanes, (+ 156) mengatakan kepada para penatua untuk lebih lemah lembut dan berbelaskasihan kepada semua, jangan terlalu keras dalam keputusan (catatan penulis: dalam pengakuan dosa), karena tahu bahwa kita semua adalah pendosa. (Phil 6,1)
- St. Irenaeus (+ 202) melaporkan banyak kejadian tentang orang-orang yang melakukan pelanggaran dosa dan kemudian diterima kembali dalam komunitas Gereja setelah mengakukan dosanya secara terbuka, melakukan silih dosa (Adv. Haer. I 6,3; I 13,5,7; IV 40, I).
- Tertullian (155-222) dalam tulisannya De Poenitentia, mengatakan bahwa ada dua penitensi, yang pertama adalah sebagai persiapan untuk Baptisan (C. I-6), dan yang kedua adalah penitensi setelah Baptisan (C. 7-12).
- St. Klemens dari Aleksandria (150-211) mengatakan bahwa pintu-pintu terbuka untuk semua, di mana dalam kebenaran seluruh hatinya kembali kepada Tuhan, dan Tuhan menerima dengan hati yang penuh kegembiraan anak-anak yang benar-benar melakukan silih dosa (Quis dies salvetur 39, 2; cf. 42). … yang membutuhkan kerja keras adalah pengampunan dosa dengan melakukan silih dosa, dimana diperoleh dari pengakuan dosa di depan “imam dari Tuhan” dan mempraktekan silih dosa yang berat (In Lev. Hom 2, 4). Cf. C. Celsum III-51.
- St. Cyprian (+ 258) mengemukakan bahwa Gereja Katolik mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, termasuk dosa kemurtadan (Ep. 55, 27).
- St. Ambrose (+ 338) mengatakan bahwa dosa diampuni melalui Roh Kudus. Namun manusia memakai para pelayan Tuhan untuk mengampuni dosa, mereka tidak menggunakan kekuatan mereka sendiri. Karena mereka mengampuni dosa bukan atas nama mereka, namun atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Mereka meminta, dan Tuhan memberikannya… (On The Holy Spirit, Bk.3, Chap. 18; ML 16, 808; NPNF X, 154).
- St. Agustinus dari Hippo (+ 354-430) mengatakan bahwa jangan memperdulikan orang-orang yang menolak bahwa Gereja Tuhan mempunyai otoritas untuk mengampuni dosa … (The Christian Combat, Chap. 31:33; ML 40, 308; FC IV, 350).
Dari sini kita melihat bahwa jemaat awal, yang diwakili oleh para Bapa Gereja telah menyatakan bahwa Gereja Katolik sesuai dengan perintah Yesus diberi kuasa untuk mengampuni atau tidak mengampuni dosa. Jadi sampai tahap ini, kita tahu bahwa Alkitab mendukung adanya Sakramen Pengakuan Dosa dan tulisan para Bapa Gereja memperkuat bahwa Sakramen Pengakuan Dosa telah diterapkan pada jemaat awal, walaupun dengan cara yang berbeda dengan sekarang.
Di samping para Bapa Gereja, para pendiri gereja Protestan- pun mengajarkan Pengakuan dosa kepada seorang ‘confessor‘, seperti yang diutarakan oleh Martin Luther:
- Dalam bukunya “Small Catechism” di bagian pengakuan dosa atau “Confession”, Luther mengatakan bahwa pengakuan dosa terdiri dari dua bagian: (1) kita mengakukan dosa kita, (2) kita menerima absolusi, atau pengampunan dosa, dari pemberi pengakuan dosa atau “confessor”, seperti menerimanya dari Tuhan sendiri.[6]
- Luther juga mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan seseorang mengambil pengakuan dosa pribadi darinya, dan dia tidak akan menyerahkan harta yang tak ternilai, karena dia tahu akan kekuataan yang didapatkan dari pengakuan dosa. …. Biarlah setiap orang datang dan mengakukan dosanya kepada yang lain secara rahasia, dan menerima apa yang dia katakan seperti Tuhan sendiri yang berbicara melalui mulut orang tersebut. [7]
Dari sini kita melihat, bahwa pendiri gereja Protestan-pun mempunyai penghargaan yang begitu tinggi terhadap pengakuan dosa. Jadi, kalau kita tetap berprinsip bahwa Sakramen Pengakuan Dosa hanyalah karangan Gereja Katolik semata, maka prinsip ini sama saja dengan mengatakan bahwa semua Bapa Gereja melakukan kesalahan dan tidak tahu apa-apa dalam menafsirkan Alkitab, termasuk di sini adalah Martin Luther. Martin Luther sendiri, walaupun tidak membuat pengakuan dosa sebagai satu sakramen, namun dia mengatakan bahwa dia begitu menghargainya, karena pengakuan dosa memberikan kekuatan. Luther tidak mengatakan - di bagian Confession dari Small Catechism – bahwa kita mengaku secara langsung kepada Tuhan, namun Luther mengaku bahwa diperlukan confessor atau orang yang menerima pengakuan dosa. Pertanyaannya adalah, kenapa begitu banyak gereja yang menghilangkan pengakuan dosa dan mengatakan bahwa cukup untuk mengaku kepada Tuhan secara langsung? Ini adalah bahan permenungan bagi kita.
Perkembangan Sakramen Pengakuan Dosa dalam sejarah Gereja
Pada masa awal, dosa-dosa berat yang dilakukan umat yang telah dibaptis, hanya dapat diampuni setelah mereka disatukan kembali ke dalam Gereja melalui uskup. Beberapa ajaran yang bertentangan dengan Gereja Katolik mengatakan bahwa dosa-dosa yang berat dan serius, seperti: perzinahan, kemurtadan, dan pembunuhan tidak dapat diampuni. Namun, Gereja Katolik melalui Konsili of Nicea (325) menolak hal tersebut dan mengatakan bahwa Yesus mengajarkan untuk mengampuni semua pendosa. Pada tahap ini, Sakramen Pengakuan Dosa hanya dipraktekkan untuk mengampuni dosa-dosa yang berat, dan biasanya dilakukan secara terbuka di depan seluruh umat dan juga uskup.[8] Kemudian uskup akan memberikan penitensi atau silih dosa, yang kemudian pada hari Paskah mereka yang telah menjalani penitensi diterima kembali dalam komunitas.
Pada abad ke-6, para biarawan dari Irlandia mulai menerapkan pengakuan dosa untuk dosa-dosa yang tidak berat dan juga dilakukan secara pribadi bukan umum. Dan kemudian penitensi juga diperingan.
Pada abad ke-12, dicapai suatu rumusan yang baku yang direrapkan sampai sekarang. Dimana Sakramen Pengakuan Dosa terdiri dari empat bagian: 1) penyesalan atau “contrition” (dukacita dan konversi), 2) pengakuan dosa kepada pastor, 3) penitensi atau “satisfaction” (melakukan penitensi sebagai konsekuensi dari dosa yang dilakukan), 4) pengampunan atau “absolution” (pengampunan dari Tuhan, yang dilakukan melalui pastor).
Pada abad ke-16, gerakan Protestantism mempertanyakan keabsahan dari Sakramen Pengakuan Dosa. Sebagai jawaban, Konsili Trente (1551) mendefinisikan keabsahan dari Sakramen Pengakuan Dosa, yang terdiri dari empat hal diatas: contrition, confession, satisfaction, dan absolution.[9] Roman Catechism (1566) mendefinisikan secara jelas tentang essensi dan ritual dari sakramen ini.
Pada abad ke-20, Konsili Vatican II (1962-1965) dan Katekismus Gereja Katolik (1986-1992)[x] menegaskan kembali keempat komponen dari Sakramen Pengakuan Dosa, namun dengan mengadakan pendekatan yang lebih bersifat “pastoral“. Penggunaan ayat-ayat kitab suci ditambahkan, diberikan kesempatan untuk mengaku dosa berhadapan muka dengan pastor atau dibatasi oleh penyekat, sehingga pastor tidak mengenal siapa orang yang mengaku dosa. Juga diijinkan untuk mengadakan ibadah tobat secara bersama-sama, yang kemudian disusul dengan pengakuan dosa secara pribadi. Alternatif yang lain, dalam kondisi yang benar-benar terpaksa, seperti dalam perang, kecelakaan fatal, dll, dapat diberikan pengampunan secara bersama-sama.
Perkembangan organik dari Sakramen Pengampunan Dosa
Setelah kita melihat pembuktian dari Alkitab, Bapa Gereja, dan juga penerapan dan perkembangan doktrin Sakramen Pengakuan Dosa, kita dapat menyimpulkan bahwa Sakramen ini bukanlah karangan Gereja Katolik semata, namun sungguh-sungguh bersumber kepada Yesus. Dan kalau dilihat perkembangan dari doktrin ini hanya semata-mata untuk membuatnya menjadi lebih jelas. Perkembangan doktrin seperti ini adalah disebut “perkembangan organik“, seperti yang dituturkan oleh Cardinal John Henry Newman dalam bukunya “The Development of Christian Doctrine“.[11]
Perkembangan organik adalah tanda bahwa doktrin ini berkembang secara murni dan tidak dibuat-buat atau merupakan karangan gereja. Ini bukanlah sesuatu yang tadinya tidak ada, baru setelah ribuan tahun menjadi ada. Yang perlu dipertanyakan adalah, kalau dari tadinya ada – seperti yang telah ditunjukkan oleh bukti-bukti diatas – kenapa tiba-tiba setelah jaman Martin Luther dan juga penerusnya menjadi tidak ada?
Untuk mengatakan bahwa sakramen ini hanya merupakan karangan belaka, orang tersebut harus berani juga berkata bahwa dia lebih pandai dalam menafsirkan apa yang dikatakan oleh Yesus dan para rasul daripada jemaat Kristen abad awal, para Bapa Gereja, juga Martin Luther, dan semua konsili para uskup.
Panggilan untuk kembali mempercayai Sakramen Pengakuan Dosa
Dengan semua bukti di atas, sungguh sangat sulit untuk menyangkal bahwa Yesus sendiri yang menginstitusikan Sakramen Pengakuan Dosa. Kalau Yesus yang menginginkan agar Sakramen ini dapat dipergunakan untuk membantu umat-Nya menjadi kudus, maka sebagai umat-Nya, kita hanya dapat mensyukuri dan berterimakasih atas berkat yang begitu ajaib. Kalau kita pikir, malaikatpun tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, namun Yesus sudah memberikan kuasa-Nya kepada Gereja yang dilaksanakan oleh para imam untuk mengampuni dosa, demi maksud pengudusan umat Allah.
Sebagai umat Katolik, kita harus mensyukuri berkat yang begitu indah ini. Dan kita dipanggil bukan hanya untuk mensyukuri dan menggunakan Sakramen Pengakuan Dosa untuk membantu kita hidup kudus.
Dalam tulisan mendatang, kita akan melihat dan menelaah apakah sebenarnya yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Sakramen Pengakuan Dosa.
[1] Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 1547.; Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium (Pauline Books & Media, 1965), 10.
[2] KGK, 1461.
[3] Tim Staples, Nuts & Bolts: A Practical Guide for Explaining and Defending the Catholic Faith (Basilica Press, 1999), p.74-75.
[4] Bible Commentary by Adam Clarke (http://www.godrules.net/library/clarke/clarkejoh20.htm): Whose soever sins ye remit - See the notes on Mat_16:19; Mat_18:18. It is certain God alone can forgive sins; and it would not only be blasphemous, but grossly absurd, to say that any creature could remit the guilt of a transgression which had been committed against the Creator. The apostles received from the Lord the doctrine of reconciliation, and the doctrine of condemnation. They who believed on the Son of God, in consequence of their preaching, had their sins remitted; and they who would not believe were declared to lie under condemnation. The reader is desired to consult the note referred to above, where the custom to which our Lord alludes is particularly considered. Dr. Lightfoot supposes that the power of life and death, and the power of delivering over to Satan, which was granted to the apostles, is here referred to. This was a power which the primitive apostles exclusively possessed.
[5] Bible Commentary by John Gill: Joh 20:23 (http://www.freegrace.net/gill/) - Whose soever sins ye remit,…. God only can forgive sins, and Christ being God, has a power to do so likewise; but he never communicated any such power to his apostles; nor did they ever assume any such power to themselves, or pretend to exercise it; it is the mark of antichrist, to attempt anything of the kind; who, in so doing, usurps the divine prerogative, places himself in his seat, and shows himself as if he was God: but this is to be understood only in a doctrinal, or ministerial way, by preaching the full and free remission of sins, through the blood of Christ, according to the riches of God’s grace, to such as repent of their sins, and believe in Christ; declaring, that all such persons as do so repent and believe, all their sins are forgiven for Christ’s sake….
[6] Dalam salah satu bagian dari “Book of Concord” yang menjadi pegangan bagi para pengikut Martin Luther, disebutkan apa itu pengakuan dosa, cara dan prosesnya, yang dapat diakses di http://www.bookofconcord.org/smallcatechism.html#confession.
[7] Martin Luther, Sermon of 16 March 1522; LW, Vol. 51, 97-98
[8] Kita bisa melihat dari beberapa dokumen dari St. Ignasius dari Antiokia (+ 107) mengatakan bahwa Tuhan mengampuni mereka yang melakukan penitensi ketika mereka kembali kepada persatuan dengan Tuhan dan kepada persatuan dengan para uskup. (Philad. 8, I; cf. 3,2). Dan St. Cyprian (+ 258) mengemukakan bahwa Gereja Katolik mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, termasuk dosa kemurtadan (Ep. 55, 27).
[9] Konsili Trente, Session XIV, Doctrine on the Sacrament of Penance, 893a-898. Paragraf 896 menjelaskan tentang “matter” dari sakramen ini, yang terdiri dari: contrition, confession, satisfaction. Dan kemudian “form” dari sacramen ini adalah kata-kata absolusi atau pengampunan dari Pastor.
[10] KGK, 1422-1498
[11] Cardinal Newman, dalam bukunya “The Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajarannya dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan merubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh kardinal Newmann dalam Gereja Katolik, sehingga untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, dia berpindah dari Anglikan ke Gereja Katolik.
5 artikel/gambar terakhir di kategori Apologetik
- Bersyukurlah, ada Api Penyucian! - November 28th, 2008
- Yesus, Tuhan yang Dinubuatkan Para Nabi - September 18th, 2008
- Maria, Bunda Allah - September 7th, 2008
- Orang Katolik Tidak Menyembah Patung - July 12th, 2008
- Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah? - July 8th, 2008
5 artikel/gambar terakhir di kategori Sakramen
- Cara Mempersiapkan Diri Menyambut Ekaristi - October 26th, 2008
- Kami mengasihimu, pastor! - October 23rd, 2008
- Jamahan Tuhan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit - September 25th, 2008
- Humanae Vitae itu Benar! - August 31st, 2008
- Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 4-Selesai) ? - August 27th, 2008
5 artikel/gambar terakhir di kategori Semua Artikel
- Bersyukurlah, ada Api Penyucian! - November 28th, 2008
- Cara Mempersiapkan Diri Menyambut Ekaristi - October 26th, 2008
- Kami mengasihimu, pastor! - October 23rd, 2008
- Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi - October 6th, 2008
- Jamahan Tuhan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit - September 25th, 2008

Comment by christianto on 5 August 2008:
kalau jarang ke gereja dan berdoa tapi dalam kehidupan nya baik begitu ? apakah tetap berdosa?
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Christianto,
Kalau jarang ke gereja dan berdoa, tapi kehidupannya baik adalah tetap berdosa. Kenapa?
1) Karena perintah Yesus dapat dibagi menjadi dua (Mat 22:37-38), yaitu (a) Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu, (b) Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Kalau kita teliti, 10 perintah Allah juga dibagi menjadi dua: (a) perintah 1-3 adalah perintah untuk mengasihi Tuhan, (b) perintah 4-10 adalah perintah untuk mengasihi sesama.
Dua perintah tersebut di atas tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Berdoa dan ke gereja adalah bentuk kasih kepada Tuhan. Jadi, kita dapat mempertanyakan kepada diri kita sendiri apakah kita benar-benar mengasihi Tuhan tanpa meluangkan sedikit waktu untuk berdoa dan ke gereja.
Namun sebaliknya orang yang berdoa dan ke gereja terus-menerus, namun tidak ada kasih kepada sesama juga berdosa, karena orang tersebut melupakan penerapan kasih kepada sesama. Bahkan dapat dipertanyakan kasih orang ini kepada Tuhan, karena kasih kepada Tuhan juga harus diwujudkan dalam bentuk kasih kepada sesama.
Kalau kita teliti, pertanyaan di atas mirip seperti kalau kita berkata “saya mengasihi orang tua saya, namun saya tidak punya waktu untuk bicara dan meluangkan waktu bersama dengan mereka.”
Ini bukanlah kasih yang diinginkan oleh Yesus.
2) Doa dan ke Gereja (Misa merupakan bentuk doa dan penyembahan yang tertinggi, karena Yesus sendiri hadir dan menjadi kurban persembahan) adalah menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk mengasihi sesama dan memampukan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Kita memerlukan rahmat Tuhan - yang didapat melalui doa - untuk dapat menerapkan pengajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan bahwa kekudusan adalah merupakan buah dari persatuan dengan Kristus (KGK, 2074).
Semoga penjelasan di atas dapat menjawab pertanyaan Christianto.
Mari kita bersama-sama mengasihi Tuhan dan sesama kita.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Y. Nicola on 27 July 2008:
Hi Stef/Ing,
Baru2 ini di daerah Pondok Pinang - Pondok Indah Jakarta Selatan terjadi pembunuhan. Yang dibunuh seorang Ibu dari bayi yang baru dilahirkannya beberapa bulan lalu. Ibu ini berumur 23 thn. Bersamaan dengan itu dibunuh juga adik iparnya, laki2, kls 1 SMA, baru 17thn. Menurut polisi, motifnya adalah perampokan – orang tua/mertua korban adalah pengusaha berlian.
Yang saya ingin tanyakan, apakah kematian mereka ini termasuk rencana Allah? Bukankah yang berkuasa atas hidup dan mati kita adalah Tuhan? Jadi, Tuhan sendiri yang menghendaki kematian itu? Dilihat secara manusia, kematian mereka tragis. Selain masih sangat muda, si ibu juga meninggalkan bayi yang tentu masih sangat membutuhkannya. Begitupun dengan si adik ipar yang baru menginjak masa remaja. Masa depannya masih sangat panjang….
Allah adalah KASIH. Saya yakini itu. Lalu kenapa ada cara kematian yang seperti itu? Saya tidak tau kehidupan korban pembunuhan ini, tapi, pada halaman obituari di koran dicantumkan ada misa requiem untuknya.
Jika ada penjahat yang mati tertembak, nyaris tidak ada yang menyesalinya. Ibaratnya, setimpal lah (dengan kejahatannya – dan barangkali malah: ya syukurlah sudah mati, daripada bikin onar – padahal kita sebenernya juga tidak berhak atas nyawa mereka ya, he-he).
Berbeda jika yang meninggal mati karena pembunuhan tsb adalah seseorang yang kita kenal sebagai orang “baik”, kita merasa tidak rela dan bertanya2, kok bisa ya? Atau, kasihan sekali ya.. dia kan orang baek.. dsb. Lalu kita sering menyimpulkan : ya memang sudah begitu garis hidupnya. Sudah dikehendaki oleh Yang Kuasa..
Bagaimana sebetulnya dengan kejadian kematian seperti itu? Kenapa Allah “membiarkan pembunuhan terhadap orang baik”? bahkan kadang dengan cara yang begitu sadis semisal mutilasi.
Mohon pencerahannya ya dan terimakasih banyak. Shalom!
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Nicola,
Pertanyaan Nicola adalah pertanyaan tentang kejahatan atau "evil", baik pembunuhan, kematian bayi karena kelaparan, peperangan, bencana alam, dll. Dan sering orang bertanya, apakah semua ini adalah rencana Allah. Nanti, akan ada satu tulisan yang akan membahas tentang evil di dunia ini dan kaitannya dengan Tuhan. Namun berikut ini adalah prinsip-prinsip untuk menjawab pertanyaan Nicola:
1). Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), dan rencananya adalah rancangan damai sejahtera bukan rancangan kecelakaan (Jer 29:11). Karena kasih adalah menginginkan yang terbaik untuk orang yang dikasihinya, maka Tuhan juga menginginkan yang terbaik untuk umat manusia, ini terbukti dengan memberikan Putera-Nya untuk mati di kayu salib demi keselamatan kita (Yoh 3:16). Dan tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini.
2) Karena Tuhan menginginkan yang terbaik untuk manusia, maka Tuhan memberikan "kehendak bebas atau free will". Dan sering manusia menyalahkangunakan kehendak bebasnya untuk melawan kehendak Tuhan atau ini disebut "dosa". Dan dosa selalu mempunyai dimensi sosial, seperti yang telah diuraikan dalam tulisan "masih perlukah Sakrament Pengakuan Dosa (bagian 1)". Jadi dalam kasus pembunuhan yang disebutkan Nicola adalah karena dosa yang mempunyai dimensi sosial.
3). Semua yang terjadi di dunia ini atas sepengetahuan dan diijinkan oleh Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Kuasa. Namun tidak semua yang terjadi di dunia ini adalah rancangan Tuhan, sebagai contoh adalah evil/kejahatan, dosa, dll. yang melawan hakekat Tuhan dan karenanya pasti bukan dari Tuhan. Namun salah satu atribut yang terbesar bagi Tuhan adalah "Dia dapat membuat situasi yang dipandang oleh manusia jahat atau penderitaan menjadi baik untuk orang yang bersangkutan maupun orang banyak." Sebagai contoh: ketidaktaatan manusia pertama yang mendatangkan dosa asal menjadi alasan terbesar bagi Tuhan untuk mengirimkan Putera-Nya, Yesus, untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa.
4). Jadi, penderitaan (suffering) dan evil (kejahatan) dapat dirubah oleh Tuhan untuk kebaikan yang lebih tinggi (greater good), memberikan kesempatan kepada manusia untuk berpartisipasi dalam pekerjaan Allah, kesempatan bagi umat Allah untuk membuktikan kasih mereka kepada Allah di tengah-tengah percobaan. Sebagai contoh: kita melihat di dalam penderitaan tsunami di Aceh, banyak orang yang tergerak untuk menolong. Mungkin banyak orang yang berfikir bahwa kehidupan adalah suatu anugerah, atau kehidupan dan semua yang ada di dunia ini (kesehatan, rumah, harta, dll) bersifat sementara. Kita tidak tahu kebaikan apa yang didapat dari keluarga yang terbunuh, karena cerita kehidupan mereka belum selesai. Namun mungkin keluarga mereka jadi lebih dekat dengan Tuhan. Komunitas di sekitarnya juga mulai mempertanyakan akan arti hidup, arti kematian, atau kehidupan setelah kematian, dll., yang pada akhirnya akan membawa kita kepada Tuhan. Ketidaktahuan kita akan kebaikan yang lebih tinggi di balik penderitaan dan kejahatan menyimpan suatu misteri, yang pada saatnya nanti akan terungkap dengan jelas. Ini terjadi juga dalam cerita Ayub.
5) Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya "Salvifici Doloris" mengatakan bahwa, penderitaan dan kejahatan dapat dibagi 2: a) fisik dan moral, b) sementara dan selamanya. Fisik adalah sakit penyakit, kemiskinan, kematian, dll., sedangkan moral adalah kepahitan, kemarahan, atau dengan kata lain dosa. Sementara adalah semua penderitaan dan kejahatan di dunia ini yang memang bersifat sementara, sedangkan selamanya adalah penderitaan di neraka. Dimata Tuhan, kejahatan moral atau "DOSA" dan juga penderitaan yang bersifat selamanya di "NERAKA", mendapat perhatian paling utama, karena dua hal itu adalah dua hal yang bertentangan dengan hakikat dan rencana Tuhan. Itulah sebabnya Yesus datang ke dunia ini untuk MENEBUS DOSA manusia dan menunjukkan jalan ke SURGA. Jadi bagi yang terbunuh, dia mengalami kejahatan fisik, namun jika semasa hidupnya dia hidup di dalam Tuhan, maka dia tidak akan mengalami penderitaan selamanya (ia dapat masuk surga). Bagi yang membunuh, dia melakukan kejahatan fisik dan moral, dan kalau dia tidak bertobat dapat membawa dirinya sendiri kepada penderitaan selamanya (ia membawa dirinya sendiri ke dalam neraka).
Jadi bagi kita orang Kristen, penderitaan dan kematian bukanlah “TITIK” atau akhir dari segalanya, namun masih “KOMA” yang menjadi permulaan kehidupan baru. Hal ini dikarenakan pengharapan dan kebahagiaan kita bukan berasal dari dunia ini, namun dari Tuhan dan kepenuhan kebahagiaan ada di surga bersama dengan Yesus.
Saya mengundang kita semua dan seluruh pembaca website ini untuk turut juga berdoa bagi jiwa-jiwa yang dibunuh agar Tuhan menerima mereka dalam kerajaan surga. Juga untuk seluruh anggotanya agar diberi kekuatan untuk menghadapi percobaan ini dan membuat mereka agar lebih dekat dengan Tuhan. Dan kita juga berdoa untuk pertobatan yang membunuh, agar mereka kembali kepada jalan yang benar.
Semoga prinsip-prinsip tersebut di atas dapat menjawab pertanyaan Nicola. Kalau masih kurang jelas atau tidak setuju silakan untuk menuliskan kembali atau menunggu untuk tulisan lengkap tentang topik ini.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef tay
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Stef, terimakasih atas penjelasannya tentang ‘evil’ dan bahwa Tuhan tidak merencanakan yang jahat/kecelakaan/kondisi negatif. Ya, saya yakini itu. Jadi, betulkah dalam kasus pembunuhan, korban menjadi tumbal untuk kebaikan orang lain? begitu pun dengan penderitaan2 yang berdampak kebaikan bagi orang lain..? di sebut korban karena ‘tidak punya pilihan’. Sedangkan Pembunuh, ya memang dia yang memilih sendiri kejahatan itu. Nah, mengapa Tuhan tidak membantu korban dan meluputkannya saja dari kematian tsb? maaf, pola pikir saya sangat terpengaruh dengan TAKDIR - sudah digariskan. Pola pikir ini sama kuatnya dengan keyakinan saya akan kuasa Tuhan/TriTunggal Maha Kudus. Maka sikap saya terhadap hidup adalah, menjalani semuanya dengan apa adanya, dan tidak protes karena memang sudah dikehendaki Allah begitu.
Sekaligus mau tanya ya Stef, garis hidup dan takdir itu sendiri sebetulnya ada ga sih kalau di Katolik?
Terimakasih penjelasannya ya.brgds,
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Nicola,
Terima kasih untuk pertanyaannya yang bagus.
1) Pertama-tama, kita harus meluruskan suatu terminologi. Mungkin kata tumbal tidak tepat dipakai disini, karena tumbal berkonotasi negatif, yang kerap dipakai dalam dunia hitam, seperti: sapi atau kepala kerbau sebagai tumbal agar pembangunan rumah berjalan dengan baik, dll. Kita sebagai umat Katolik tidak boleh percaya hal seperti ini. Mungkin maksud Nicola bukan tumbal, namun dalam hal ini kata kurban lebih tepat dipakai.
Dalam kasus pembunuhan dan kejadian apapun juga, kita percaya bahwa ada "rangkaian sebab akibat" sehingga hal tragis tersebut terjadi. Dan rangkaian sebab akibat ini adalah gabungan antara kehendak bebas kita dan juga campur tangan Tuhan. Sebagai contoh: seseorang melakukan suatu dosa berat (contohnya membunuh), yang berarti orang tersebut secara bebas mengatakan "ya" terhadap dosa, walaupun dia tahu bahwa hal tersebut adalah dosa. Tuhan tahu akan hal ini dan Dia campur tangan, sebagai contoh: berbicara pada hati nurani orang tersebut, atau melalui nasihat orang lain, atau melalui hal-hal lain. Pada saat yang bersamaan, Tuhan tetap menghormati kehendak bebas setiap orang. Tetapi dalam kasus pembunuhan tersebut, si pembunuh tidak mengindahkan hati nuraninya, atau nasihat orang lain, sehingga ia menuruti kehendak bebasnya sendiri yang bertentangan dengan hukum Tuhan. Kejadian ini mengingatkan kita akan kisah Kain yang membunuh Habel (Kej 4:8), dan juga kisah martir yang pertama, yaitu Stefanus (Kis 7:54-60). Namun pengorbanan Stefanus dan penganiayaan jemaat Kristen lainnya, membuat jemaat Allah tersebar ke daerah Yudea dan Samaria (Kis 8;1), sehingga pengajaran Kristus tersebar di daerah-daerah tersebut. Kita tahu bahwa Tuhan mengijinkan ini terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (lih Rom 8:28).
Jadi, mungkin saja, kejadian pembunuhan ini diijinkan terjadi oleh Tuhan untuk mendatangkan keselamatan bagi seluruh keluarga yang ditinggalkan. Dengan demikian, orang yang terbunuh itu seolah-olah menjadi kurban untuk membawa anggota keluarganya kepada Yesus.
Dan perkara yang tragis ini dapat dipakai oleh Tuhan untuk mendatangkan sesuatu yang lebih baik, yaitu keselamatan anggota keluarganya. Perlu dicatat, kita sering harus menerima kejadian seperti ini sebagai suatu misteri, karena kita tidak tahu seluruh rangkaian kejadian sampai pada akhirnya. Namun misteri ini dapat kita terima dengan lapang hati, jika kita memakai kacamata iman, pengharapan, dan kasih.
2) Jadi kita tidak bisa hanya melihat sesuatu berdasarkan “effect”nya saja atau hasil akhirnya (dalam kasus ini adalah pembunuhan), namun juga berdasarkan “cause”nya (effect dan cause ini telah dibahas dalam artikel: Apakah berdoa itu percuma bagian 2, yang mengutip tulisan St. Thomas Aquinas, Summa Theology, II-II, q.83, a.2). Kita tidak bisa menilai bahwa Tuhan tidak membantu orang yang menjadi kurban dan orang yang membunuh, karena Tuhan juga campur tangan melalui cause, atau suatu rangkaian kejadian sebelumnya.
Andai saja kita dapat melihat hitam di atas putih seluruh rangkaian kejadian dari orang yang dibunuh dan terbunuh dan juga termasuk rangkaian kehidupan mereka dan juga akibat dari kejadian ini terhadap orang-orang disekitar mereka (keluarga, masyarakat), mungkin kita dapat menarik kesimpulan yang lebih bisa diterima untuk menjelaskan bahwa sebenarnya rahmat Tuhan juga bekerja dalam orang-orang tersebut, seperti yang dikatakan oleh St. Paulus "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu (2 Kor 12:9)."
Jadi, untuk menyimpulkan bahwa Tuhan tidak membantu, baik yang menjadi kurban atau yang membunuh adalah tidak tepat, karena Tuhan di dalam kebijaksanaan dan kasih-Nya senantiasa membimbing setiap orang untuk mencapai tujuan yang paling akhir, yaitu surga. Dan kita harus tetap meyakini bahwa rahmat Tuhan yang tercurah adalah cukup dan berlimpah pada setiap orang.
3) Kita juga tidak bisa menghakimi yang terbunuh dan mengatakan bahwa mereka layak menerimanya, karena kita harus menerima bahwa ada "innocent suffering" atau penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang tidak bersalah, seperti yang dialami oleh Ayub, dan paling nyata adalah penderitaan Kristus untuk menebus dosa manusia. Dalam kasus yang dapat kita lihat dalam kehidupan kita adalah: orang-orang yang dilahirkan cacat, atau orang-orang yang tinggal di negara yang senantiasa dirundung bencana, misalkan kelaparan, atau peperangan. Kita tidak boleh hanya melihat penderitaan di dunia ini sebagai sesuatu yang "final". Sebagai orang Kristen, kita harus melihat bahwa tujuan akhir yang paling terakhir adalah surga. Bagi orang-orang yang mengalami innocent suffering, maka Tuhan pasti akan memperhitungkan penderitaan mereka di dunia ini, sehingga mereka akan mengalami kebahagiaan abadi di surga, seperti yang terjadi dalam cerita Lazarus dan orang kaya (Luk 16:19-31).
Point penting inilah yang disadari dan diterapkan oleh orang-orang kudus. Mereka menerima penderitaan yang dialami dengan hati yang tabah, karena mereka tetap mempunyai harapan yang memerdekakan, walaupun di dalam kehidupan sekarang ini mengalami menderita (2 Kor 4:17). Harapan mereka adalah berdasarkan akan janji Yesus sendiri, yaitu kebahagian kekal di Surga. Untuk inilah orang-orang kudus bukan saja menerima penderitaan, bahkan dengan kehendak bebas mereka sendiri, mereka menyediakan diri untuk menderita demi Kristus, seperti yang dialami oleh St. Maximilian Kolbe. Pada waktu seseorang menyatukan dan mempersembahkan penderitaan bersama dengan Kristus, maka terjadilah "penderitaan yang menyelamatkan, seperti yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik-nya "Salvifici Doloris". Para kudus tahu bahwa penderitaan di dunia ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat (2 Kor 4:17). Dan kalau seseorang menerima penderitaan dan mempersembahkan penderitaannya kepada Yesus, maka orang tersebut juga akan dibangkitkan dan memperoleh kebahagiaan kekal bersama dengan Yesus di surga (Phil 3:10).
4) Yang kita percayai dalam gereja Katolik adalah Allah yang tahu segalanya, yang menginginkan dan menakdirkan semua orang untuk masuk surga, namun Allah juga memperhitungkan akan jawaban dari manusia menurut kehendak bebas yang ada pada diri setiap manusia (KGK, 600). Jadi kita tidak mempercayai bahwa Allah menakdirkan sebagian orang masuk surga dan sebagian orang masuk neraka, Kesalahan ini adalah kesalahan yang disebut "double predestination". Yang harus kita pegang teguh adalah: 1) Allah adalah maha kasih dan penuh belas kasihan, sehingga Dia tidak mungkin mempunyai rancangan kecelakaan (Yer 29:11), 2) Allah juga maha adil, sehingga dia juga menilik segala sesuatu, juga apa yang terjadi di dalam hati kita, penderitaan yang kita alami di dunia ini, dan juga keseriusan kita dalam perjuangan untuk hidup kudus.
Bagaimana dengan semua kejadiaan di dunia ini? Apakah semuanya telah diatur oleh Allah? Kalau semua sudah ditakdirkan, percuma saja kita berdoa dan berusaha. Hal ini telah dibahas dalam artikel: Apakah berdoa itu percuma bagian-2 dan bagian-3. Jadi jawabannya adalah tidak demikian.
5) Kita juga harus berhati-hati terhadap pernyataan menjalani hidup apa adanya. Kalau dalam pengertian "apatis", seolah-olah semua sudah ditakdirkan sehingga percuma berusaha, maka kita harus memperbaiki persepsi kita. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil bukan hidup apa adanya, namun kita berusaha dengan segenap pikiran, hati, dan kekuatan kita agar kehendak Allah terwujud dalam kehidupan kita. Dan tentu saja, Tuhan menghargai kehendak bebas kita untuk bekerja sama dengan rahmat-Nya. Untuk itu, kita harus meniru doa St. Agustinus "Tuhan berikan kepadaku keberanian untuk merubah apa yang dapat dirubah, dan kelapangan hati untuk menerima sesuatu yang tidak dapat diubah, dan berikan kepadaku kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.”
Sebagai kesimpulan, kita harus selalu berfokus pada tujuan yang paling akhir dari keberadaan kita, yaitu persatuan dengan Allah. Bagi orang Kristen, dunia ini dengan segala penderitaan dan juga kebahagiaanya adalah tempat persinggahan sementara. Rumah kita yang abadi adalah di surga. Dan untuk menuju ke surga, setiap orang punya porsi masing-masing yang harus dijalani, sebagian orang dengan penderitaan fisik, sebagian lagi dengan penderitaan rohani, mengalami ketidakadilan, dll.
Mari kita mengingat kembali apa yang dikatakan oleh rasul Yakobus: "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia" (Yak 1:12). Dan semoga perkataan dari rasul Paulus juga dapat menguatkan kita semua, "Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Rom 5:3-5).
Semoga ulasan ini dapat menjawab pertanyaan Nicola. Dan mari kita bersama-sama berusaha menjadi murid Kristus yang baik, dengan mengikuti apa yang dikatakan oleh Kristus "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24).
Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
hi Stef, terimakasih penjelasannya yang panjang dan mengena. Seperti tau apa yang saya mau tanyakan kemarin, tapi tak terlontar karena ‘malu’ : kemarin saya mau tanyakan ‘lantas apa imbalan bagi mereka yang menjadi kurban’ itu…Wah, ternyata malah sudah muncul di sini. Luar biasa.Ya, di Kitab pun juga sudah ada contohnya ya (Luk 16:19-31). Tuhan menyediakan kebahagiaan abadi di surga bagi mreka yang mengalami innocent suffering di dunia ini.
Terimakasih sekali : misteri musti kita terima dengan lapang hati, dan dengan memakai kacamata iman, pengharapan, dan kasih.
Juga terimakasih : bahwa kita harus berhati-hati terhadap sikap menjalani hidup apa adanya, sebab bila tidak, maka bisa cenderung “apatis”, seolah-olah semua sudah ditakdirkan. Saya jadi merasa kesentil, karena sebagai manusia kita toh tetap harus berusaha dengan tekun dan penuh kasih, teguh dalam iman dan pengharapan untuk keluar dari kondisi kesengsaraan dunia.
Terimakasih ya Stef, ini mencerahkan! syalom:)
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]