<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Apa yang harus kuketahui tentang Liturgi</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 11:26:12 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-16584</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Mon, 14 Jun 2010 17:34:08 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-16584</guid> <description>Phiner Yth
Gagasan anda benar dan kita benar bahwa puncak perayaan iman pada Misa Malam Paskah merupakan perayaan iman yang mendalam dan memiliki makna yang sangat penting dalam sejarah keselamatan manusia. Dalam liturgi itu dikisahkan sejarah keselamatan manusia. Sebaiknya setiap umat katolik ikut merayakan malam Paskah ini meski kadang dirayakan sore hari karena situasi pastoral mereka merayakan Minggu Paskah di pagi hari. Makna yuridisnya bahwa perayaan ekaristi adalah tindakan Krsitus sendiri dan Gereja di dalamnya, Kristus Tuhan melalui pelayanan imam mempersembahkan diriNya kepada Allah Bapa dengan kehadiranNya secara substansial dalam rupa rioti dan anggur, serta memberikan diriNya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahan-Nya. (bdk kan 899)
salam
Rm Wanta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Phiner Yth</p><p>Gagasan anda benar dan kita benar bahwa puncak perayaan iman pada Misa Malam Paskah merupakan perayaan iman yang mendalam dan memiliki makna yang sangat penting dalam sejarah keselamatan manusia. Dalam liturgi itu dikisahkan sejarah keselamatan manusia. Sebaiknya setiap umat katolik ikut merayakan malam Paskah ini meski kadang dirayakan sore hari karena situasi pastoral mereka merayakan Minggu Paskah di pagi hari. Makna yuridisnya bahwa perayaan ekaristi adalah tindakan Krsitus sendiri dan Gereja di dalamnya, Kristus Tuhan melalui pelayanan imam mempersembahkan diriNya kepada Allah Bapa dengan kehadiranNya secara substansial dalam rupa rioti dan anggur, serta memberikan diriNya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahan-Nya. (bdk kan 899)</p><p>salam<br
/> Rm Wanta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Phiner</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-16474</link> <dc:creator>Phiner</dc:creator> <pubDate>Thu, 10 Jun 2010 20:18:40 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-16474</guid> <description>Jawaban atas pertanyaan no. 5  soal keikutseratan atau kehadiran dalam liturgi Malam Paskah, kok bagi saya kurang pas dan mengganjal di hati.... seakan-akan liturgi Malam Paskah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya disamakan dengan liturgi Malam Natal, atau misa malam minggu...dst. Ada ungkapan yang mengatakan : &quot;menjaga dan memelihara liturgi secara otentik sama dengan menjaga dan memelihara kemurnian iman kekatolikan&quot;. Di situs ini selalu menekankan MISTERI PASKAH KRISTUS menjadi inti dan pusat iman kita sebagai orang katolik, dan saat kapan diarayakan secara liturgis? ya liturgi Malam Paskah.... Memang bahwa misteri Paskah Kristus terus menerus kita rayakan dalam setiap kali merayakan Ekaristi, entah itu mingguan, harian, atau kesempatan2 tertentu dalam penerimaan sakramen lainnya atau kesempatan atau peristiwa lain. Namun dalam lingkaran Tahun Liturgi Gereja, liturgi Malam paskah punya makna yang sangat mendalam dan memiliki liturgi yang khas dalam perayaan tahunan (liturgi yang dirayakan setahun sekali). Liturgi yang kaya akan nilai2 keimanan kita, punya makna theologis, eklesiologis, sakramen (inisiasi), liturgis dan katekese yang mendalam... juga biblis. Saya tidak tahu dari makna iurisnya....Terima kasih dan mohon tanggapan</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Jawaban atas pertanyaan no. 5  soal keikutseratan atau kehadiran dalam liturgi Malam Paskah, kok bagi saya kurang pas dan mengganjal di hati&#8230;. seakan-akan liturgi Malam Paskah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya disamakan dengan liturgi Malam Natal, atau misa malam minggu&#8230;dst. Ada ungkapan yang mengatakan : &#8220;menjaga dan memelihara liturgi secara otentik sama dengan menjaga dan memelihara kemurnian iman kekatolikan&#8221;. Di situs ini selalu menekankan MISTERI PASKAH KRISTUS menjadi inti dan pusat iman kita sebagai orang katolik, dan saat kapan diarayakan secara liturgis? ya liturgi Malam Paskah&#8230;. Memang bahwa misteri Paskah Kristus terus menerus kita rayakan dalam setiap kali merayakan Ekaristi, entah itu mingguan, harian, atau kesempatan2 tertentu dalam penerimaan sakramen lainnya atau kesempatan atau peristiwa lain. Namun dalam lingkaran Tahun Liturgi Gereja, liturgi Malam paskah punya makna yang sangat mendalam dan memiliki liturgi yang khas dalam perayaan tahunan (liturgi yang dirayakan setahun sekali). Liturgi yang kaya akan nilai2 keimanan kita, punya makna theologis, eklesiologis, sakramen (inisiasi), liturgis dan katekese yang mendalam&#8230; juga biblis. Saya tidak tahu dari makna iurisnya&#8230;.</p><p>Terima kasih dan mohon tanggapan</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Bernardus Boli Ujan SVD</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-15210</link> <dc:creator>Romo Bernardus Boli Ujan SVD</dc:creator> <pubDate>Wed, 19 May 2010 01:01:18 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-15210</guid> <description>Salam Isa Inigo,Mazmur Tanggapan adalah teks biblis yang didaraskan/dinyanyikan untuk meresapkan/merenungkan bacaan yang baru saja dimaklumkan. Demi tujuan itu Mazmur Tanggapan telah dipilih yang sesuai dengan bacaan. Karena itu tidak boleh diganti dengan teks yang bukan dari alkitab (bdk. Pedoman Umum Misale Romawi, no. 57; 61). Kalau ada teks Lagu Antar Bacaan yang berisi mazmur bersangkutan, bolehlah dipakai sebagai pengganti. Itu berarti tidak digabung.Romo Bernardus Boli Ujan SVD</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam Isa Inigo,</p><p>Mazmur Tanggapan adalah teks biblis yang didaraskan/dinyanyikan untuk meresapkan/merenungkan bacaan yang baru saja dimaklumkan. Demi tujuan itu Mazmur Tanggapan telah dipilih yang sesuai dengan bacaan. Karena itu tidak boleh diganti dengan teks yang bukan dari alkitab (bdk. Pedoman Umum Misale Romawi, no. 57; 61). Kalau ada teks Lagu Antar Bacaan yang berisi mazmur bersangkutan, bolehlah dipakai sebagai pengganti. Itu berarti tidak digabung.</p><p>Romo Bernardus Boli Ujan SVD</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Isa Inigo</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-14910</link> <dc:creator>Isa Inigo</dc:creator> <pubDate>Mon, 10 May 2010 08:21:06 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-14910</guid> <description>Romo Boli, saya berterima kasih atas jawaban-jawaban Romo. Kini saya mau tanya, apakah  &quot;Mazmur Tanggapan&quot; antara bacaan I dan bacaan II / Injil boleh diganti (digusur) dengan lagu antarbacaan. Teman saya mengatakan tak boleh, teman lain mengatakan boleh. Saya sendiri  berpendapat digabung saja., Mazmur Antar Bacaan dan disusul Lagu.  Bagaimana menurut aturan liturgi? Terima kasih. Salam: Isa Inigo.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Romo Boli, saya berterima kasih atas jawaban-jawaban Romo. Kini saya mau tanya, apakah  &#8220;Mazmur Tanggapan&#8221; antara bacaan I dan bacaan II / Injil boleh diganti (digusur) dengan lagu antarbacaan. Teman saya mengatakan tak boleh, teman lain mengatakan boleh. Saya sendiri  berpendapat digabung saja., Mazmur Antar Bacaan dan disusul Lagu.  Bagaimana menurut aturan liturgi? Terima kasih. Salam: Isa Inigo.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: masroms</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-14737</link> <dc:creator>masroms</dc:creator> <pubDate>Tue, 04 May 2010 00:27:05 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-14737</guid> <description>Shalom, Stef &amp; Ingrid
Terimakasih banyak atas bantuannya. Semoga Katolisitas terus menjadi suluh penerang bagi mereka (kita) yang mencari kebenaran iman sejati. Berkah Dalem.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom, Stef &amp; Ingrid<br
/> Terimakasih banyak atas bantuannya. Semoga Katolisitas terus menjadi suluh penerang bagi mereka (kita) yang mencari kebenaran iman sejati. Berkah Dalem.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-14599</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Thu, 29 Apr 2010 02:45:48 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-14599</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Masroms,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas pertanyaannya tentang Misa Sabtu Sore dan komuni satu rupa. Pembahasan tentang komuni satu rupa, anda dapat melihatnya di sini - &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/11/20/mengapa-komuni-satu-rupa-maknanya-sama-dengan-dua-rupa/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;. Kemudian tentang Misa Sabtu sore:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;a. Misa Sabtu Malam dikenal dengan nama &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Anticipated  Mass&lt;/span&gt; dan memang maknanya sama dengan Misa Hari Minggu. Misa  Sabtu malam juga berkaitan dengan tradisi Yahudi yang menghitung hari  dari matahari terbenam sampai matahari terbenam keesokan harinya  (sekitar jam 6 sore).&lt;br /&gt; Dalam tradisi Gereja, kita mengenal bahwa Misa Sabtu malam ini terutama  diperuntukkan bagi orang-orang yang berhalangan datang pada Misa hari  Minggu, misalnya jika hari Minggu mereka harus pergi ke luar kota di  mana mereka tidak tahu apakah mereka dapat menemukan gereja/ mengikuti  misa Minggu. Jadi sesungguhnya sifatnya bukan untuk dijadikan kebiasaan,  tetapi hanya jika sangat diperlukan, yaitu jika seseorang tidak bisa  mengikuti misa pada hari Minggu tersebut.&lt;br /&gt; Jadi seharusnya motivasi orang yang datang ke misa Sabtu malam itu &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;bukan&lt;/span&gt; supaya bisa bangun  lebih siang pada hari Minggu, atau supaya bisa bersenang-senang  sepanjang hari Minggu, dst. Karena seharusnya setiap hari Minggu adalah  saatnya kita mengenang hari Paskah Kebangkitan Kristus dan saatnya kita  beristirahat dari kegiatan rutin/ pekerjaan selama seminggu. Dan dalam  masa beristirahat itu tetap kita mengutamakan Tuhan dahulu, baru  kemudian keluarga. Jadi sesungguhnya jika tidak ada halangan khusus,  kita sedapat mungkin mengikuti Misa pada hari Minggu.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;b. Dokumen Gereja yang mendukung hal ini adalah:&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;em&gt;Instruction on Worship of the Eucharist Mystery&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Eucharisticum  Mysterium&lt;/em&gt;) - 25 Mei 1967. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Pada bagian II-2. Celebrations on  Sundays and Weekdays:&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunday and Holyday Masses Anticipated on the Previous Evening&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;28. Where indult of the Apostolic See permits fulfillment on the  preceding Saturday evening of the obligation to participate in the  Sunday Mass, pastors should carefully teach the faithful the meaning of  this favor and should take steps to prevent its lessening in any way the  sense of what Sunday is. This concession is meant to enable the  faithful in today&#039;s conditions to celebrate more easily the day of the  Lord&#039;s resurrection.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;All concessions and contrary customs notwithstanding, this Mass may  be celebrated only on Saturday evening, at hours to be determined by the  local Ordinary.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;On the Saturday evening, the Mass is to be celebrated as assigned in  the calendar for Sunday and the homily and general intercessions are not  to be omitted.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;All these points apply also to the celebration of Mass that, for the  same reason, is anywhere allowed on the evening before a holyday of  obligation.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;The evening Mass before Pentecost Sunday is the Mass of the Saturday  vigil with the &lt;em&gt;Credo&lt;/em&gt;. Likewise the evening Mass before Christmas  is the Mass of the vigil celebrated in a festal way with white vestments  and with the &lt;em&gt;Alleluia&lt;/em&gt; and the preface from the Mass of the  Nativity. The evening Mass before Easter may not be started before dusk  or certainly not before sunset. This Mass is always the Mass of the  Easter Vigil, which by reason of its special significance in the  liturgical year and in the whole Christian life must be celebrated with  the liturgical rites for this holy night according to the rite for the  Easter Vigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The faithful who begin to celebrated the Sunday or holyday of  obligation on the evening of the preceding day may go to holy communion  even if they have already done so that morning. Those who &quot;receive  communion during the Mass of the Easter Vigil or during the MAss of the  Lord&#039;s Nativity may receive again at the second Mass of Easter and at  one of the Day Masses of Christmas.&quot; [80] Likewise &quot;the faithful  receiving communion at the chrism Mass on Holy Thursday may receive  again at the evening Mass on the same day,&quot; in accordance with the norm  of the Instruction &lt;em&gt;Tres abhinc annos&lt;/em&gt;, 4 May 1967, no. 14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Kan. 1248 § 1&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;: Perintah untuk ambil bagian dalam Misa dipenuhi oleh  orang  yang   menghadiri  Misa  di  manapun  Misa  itu  dirayakan menurut ritus  katolik, entah pada hari raya itu sendiri atau &lt;strong&gt;pada sore hari  sebelumnya&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Semoga keterangan ini dapat membantu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Masroms,</p><p>Terima kasih atas pertanyaannya tentang Misa Sabtu Sore dan komuni satu rupa. Pembahasan tentang komuni satu rupa, anda dapat melihatnya di sini &#8211; <a
href="http://katolisitas.org/2008/11/20/mengapa-komuni-satu-rupa-maknanya-sama-dengan-dua-rupa/" rel="nofollow">silakan klik</a>. Kemudian tentang Misa Sabtu sore:</p><p
style="padding-left: 40px;">a. Misa Sabtu Malam dikenal dengan nama <span
style="font-style: italic;">Anticipated  Mass</span> dan memang maknanya sama dengan Misa Hari Minggu. Misa  Sabtu malam juga berkaitan dengan tradisi Yahudi yang menghitung hari  dari matahari terbenam sampai matahari terbenam keesokan harinya  (sekitar jam 6 sore).<br
/> Dalam tradisi Gereja, kita mengenal bahwa Misa Sabtu malam ini terutama  diperuntukkan bagi orang-orang yang berhalangan datang pada Misa hari  Minggu, misalnya jika hari Minggu mereka harus pergi ke luar kota di  mana mereka tidak tahu apakah mereka dapat menemukan gereja/ mengikuti  misa Minggu. Jadi sesungguhnya sifatnya bukan untuk dijadikan kebiasaan,  tetapi hanya jika sangat diperlukan, yaitu jika seseorang tidak bisa  mengikuti misa pada hari Minggu tersebut.<br
/> Jadi seharusnya motivasi orang yang datang ke misa Sabtu malam itu <span
style="text-decoration: underline;">bukan</span> supaya bisa bangun  lebih siang pada hari Minggu, atau supaya bisa bersenang-senang  sepanjang hari Minggu, dst. Karena seharusnya setiap hari Minggu adalah  saatnya kita mengenang hari Paskah Kebangkitan Kristus dan saatnya kita  beristirahat dari kegiatan rutin/ pekerjaan selama seminggu. Dan dalam  masa beristirahat itu tetap kita mengutamakan Tuhan dahulu, baru  kemudian keluarga. Jadi sesungguhnya jika tidak ada halangan khusus,  kita sedapat mungkin mengikuti Misa pada hari Minggu.</p><p
style="padding-left: 40px;">b. Dokumen Gereja yang mendukung hal ini adalah:<strong></strong></p><blockquote><p><strong> <em>Instruction on Worship of the Eucharist Mystery</em> (<em>Eucharisticum  Mysterium</em>) &#8211; 25 Mei 1967. </strong><strong>Pada bagian II-2. Celebrations on  Sundays and Weekdays:</strong><strong></p><p>Sunday and Holyday Masses Anticipated on the Previous Evening</strong></p><p>28. Where indult of the Apostolic See permits fulfillment on the  preceding Saturday evening of the obligation to participate in the  Sunday Mass, pastors should carefully teach the faithful the meaning of  this favor and should take steps to prevent its lessening in any way the  sense of what Sunday is. This concession is meant to enable the  faithful in today&#8217;s conditions to celebrate more easily the day of the  Lord&#8217;s resurrection.</p><p>All concessions and contrary customs notwithstanding, this Mass may  be celebrated only on Saturday evening, at hours to be determined by the  local Ordinary.</p><p>On the Saturday evening, the Mass is to be celebrated as assigned in  the calendar for Sunday and the homily and general intercessions are not  to be omitted.</p><p>All these points apply also to the celebration of Mass that, for the  same reason, is anywhere allowed on the evening before a holyday of  obligation.</p><p>The evening Mass before Pentecost Sunday is the Mass of the Saturday  vigil with the <em>Credo</em>. Likewise the evening Mass before Christmas  is the Mass of the vigil celebrated in a festal way with white vestments  and with the <em>Alleluia</em> and the preface from the Mass of the  Nativity. The evening Mass before Easter may not be started before dusk  or certainly not before sunset. This Mass is always the Mass of the  Easter Vigil, which by reason of its special significance in the  liturgical year and in the whole Christian life must be celebrated with  the liturgical rites for this holy night according to the rite for the  Easter Vigil.</p><p>The faithful who begin to celebrated the Sunday or holyday of  obligation on the evening of the preceding day may go to holy communion  even if they have already done so that morning. Those who &#8220;receive  communion during the Mass of the Easter Vigil or during the MAss of the  Lord&#8217;s Nativity may receive again at the second Mass of Easter and at  one of the Day Masses of Christmas.&#8221; [80] Likewise &#8220;the faithful  receiving communion at the chrism Mass on Holy Thursday may receive  again at the evening Mass on the same day,&#8221; in accordance with the norm  of the Instruction <em>Tres abhinc annos</em>, 4 May 1967, no. 14.</p><p><strong></strong><strong>Kan. 1248 § 1</strong>: Perintah untuk ambil bagian dalam Misa dipenuhi oleh  orang  yang   menghadiri  Misa  di  manapun  Misa  itu  dirayakan menurut ritus  katolik, entah pada hari raya itu sendiri atau <strong>pada sore hari  sebelumnya</strong>.</p></blockquote><p>Semoga keterangan ini dapat membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/>stef &#8211; katolisitas.org</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: masroms</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-14592</link> <dc:creator>masroms</dc:creator> <pubDate>Thu, 29 Apr 2010 00:30:34 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-14592</guid> <description>Shalom Stef dan Inggrid,
Saya ingin menanyakan dua hal menyangkut ekaristi, khususnya dasar atau dokumen yang mendukung praktek misa sabtu sore dan komuni dalam satu rupa. Secara umum alasan-alasannya saya sudah tahu, namun saat ditanya dasar atu dokumen gereja yang mendukung saya tidak mengetahuinya. Misalnya alasan Misa Sabtu sore, bahwa sore sudah termasuk dalam hari Minggu, atau alasan pastoralnya adalah mengurangi kepadatan Misa Minggu atau demi mereka yang karena alasan tertentu (bukan malas atau demi &quot;molor&quot; di hari Minggu) tidak bisa mengikuti misa Minggu. Berkaitan dengan komuni dalam satu rupa, alasan yang diberikan antara lain demi efektivitas waktu atau toh dalam satu rupa pun sebenarnya kita sudah menerima Tubuh dan Darah Kristus. Mohon bantuannya. Thanks. (catatan: silakan edit pertanyaan saya ini).</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Stef dan Inggrid,<br
/> Saya ingin menanyakan dua hal menyangkut ekaristi, khususnya dasar atau dokumen yang mendukung praktek misa sabtu sore dan komuni dalam satu rupa. Secara umum alasan-alasannya saya sudah tahu, namun saat ditanya dasar atu dokumen gereja yang mendukung saya tidak mengetahuinya. Misalnya alasan Misa Sabtu sore, bahwa sore sudah termasuk dalam hari Minggu, atau alasan pastoralnya adalah mengurangi kepadatan Misa Minggu atau demi mereka yang karena alasan tertentu (bukan malas atau demi &#8220;molor&#8221; di hari Minggu) tidak bisa mengikuti misa Minggu. Berkaitan dengan komuni dalam satu rupa, alasan yang diberikan antara lain demi efektivitas waktu atau toh dalam satu rupa pun sebenarnya kita sudah menerima Tubuh dan Darah Kristus. Mohon bantuannya. Thanks. (catatan: silakan edit pertanyaan saya ini).</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Hubert</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12821</link> <dc:creator>Hubert</dc:creator> <pubDate>Sat, 27 Mar 2010 14:15:38 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12821</guid> <description>Terima kasih Romo Bernardus Boli Ujan SVD. atas jawaban Romo. Saya bisa menyampaikan kepada umat penanya di lingkungan kami
Semoga Tuhan memberkati karya Romo, Pak stef dan Ibu Ingrid.
Dominus Vobiscum
Hubert</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih Romo Bernardus Boli Ujan SVD. atas jawaban Romo. Saya bisa menyampaikan kepada umat penanya di lingkungan kami<br
/> Semoga Tuhan memberkati karya Romo, Pak stef dan Ibu Ingrid.<br
/> Dominus Vobiscum<br
/> Hubert</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Bernardus Boli Ujan SVD</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12791</link> <dc:creator>Romo Bernardus Boli Ujan SVD</dc:creator> <pubDate>Fri, 26 Mar 2010 14:04:41 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12791</guid> <description>Hubert Yth,Amin yang dimaksud tidak ada dalam teks asli bahasa Latin, karena itu dalam terjemahan sesuai teks asli Amin tidak ditambahkan seperti dalam seruan Anamnese yang lain. Pada dasarnya seruan Anamnese adalah seruan umat untuk mengamini misteri yang dialami dalam DSA (Doa Syukur Agung) yang didoakan oleh imam. Dengan kata lain Anamnese merupakan perpanjangan dari Amin, yaitu mengamini kenangan yang menyelamatkan. Maka kata Amin dirasa tidak perlu diucapkan lagi. Sudah cukup dengan seruan yang memperpanjang Amin itu.Menandai diri dengan air suci pada saat masuk gereja atau pada saat keluar dari gereja bukanlah suatu tindakan liturgis tetapi lebih merupakan suatu tindakan devosional, yang dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan liturgis. Jadi boleh dilakukan atau boleh juga tidak. Kalau dilakukan hal itu mengingatkan kita bahwa kita mau mengambil bagian dalam liturgi sebentar lagi sebagai orang yang sudah dibaptis. Kesadaran itu diungkapkan secara resmi (liturgis) pada saat membuat tanda salib di awal perayaan dan perecikan air suci (alternatif yang mengganti rumus pernyataan tobat lain). Dan sesudah perayaan liturgi, kita diingatkan bahwa kita mau menghayati misteri yang baru saja dirayakan dalam hidup sehari-hari sebagai orang orang utusan yang telah dibaptis. Dengan demikian kegiatan devosional itu menyadarkan kita akan hubungan yang erat antara Pembaptisan, Krisma (menjadi utusan yang saksikan iman) dengan Ekaristi.Salam,
Romo Bernardus Boli Ujan SVD.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Hubert Yth,</p><p>Amin yang dimaksud tidak ada dalam teks asli bahasa Latin, karena itu dalam terjemahan sesuai teks asli Amin tidak ditambahkan seperti dalam seruan Anamnese yang lain. Pada dasarnya seruan Anamnese adalah seruan umat untuk mengamini misteri yang dialami dalam DSA (Doa Syukur Agung) yang didoakan oleh imam. Dengan kata lain Anamnese merupakan perpanjangan dari Amin, yaitu mengamini kenangan yang menyelamatkan. Maka kata Amin dirasa tidak perlu diucapkan lagi. Sudah cukup dengan seruan yang memperpanjang Amin itu.</p><p>Menandai diri dengan air suci pada saat masuk gereja atau pada saat keluar dari gereja bukanlah suatu tindakan liturgis tetapi lebih merupakan suatu tindakan devosional, yang dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan liturgis. Jadi boleh dilakukan atau boleh juga tidak. Kalau dilakukan hal itu mengingatkan kita bahwa kita mau mengambil bagian dalam liturgi sebentar lagi sebagai orang yang sudah dibaptis. Kesadaran itu diungkapkan secara resmi (liturgis) pada saat membuat tanda salib di awal perayaan dan perecikan air suci (alternatif yang mengganti rumus pernyataan tobat lain). Dan sesudah perayaan liturgi, kita diingatkan bahwa kita mau menghayati misteri yang baru saja dirayakan dalam hidup sehari-hari sebagai orang orang utusan yang telah dibaptis. Dengan demikian kegiatan devosional itu menyadarkan kita akan hubungan yang erat antara Pembaptisan, Krisma (menjadi utusan yang saksikan iman) dengan Ekaristi.</p><p>Salam,<br
/> Romo Bernardus Boli Ujan SVD.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Hubert</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12752</link> <dc:creator>Hubert</dc:creator> <pubDate>Thu, 25 Mar 2010 05:09:56 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12752</guid> <description>Dear Pak Stef dan ibu ingrid,Mohon penjelasan kenapa kata AMIN pada akhir Anamnese di TPE baru dihilangkan. Maksud saya apa dasar dari penghapusan kata amin diakhir anamnese TPE baru.Berikutnya apakah benar bahwa sewaktu kita akan pulang/ keluar dari gedung gereja, mencelupkan jari ke air suci dan membuat tanda salib itu merupakan hal yang salah kaprah ? kalau disaat masuk gereja memang harus dilakukan karena itu mengingatkan kita pada baptisan kita dan juga merupakan simbol yang diadopsi dari bangsa yahudi bahwa setiap akan masuk rumah dilakukan pembasuhan (bersih diri). Mohon penjelasan pak Stef dan ibu Ingrid. Terima kasih atas jawabannya. tuhan memberkati
Salam</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Dear Pak Stef dan ibu ingrid,</p><p>Mohon penjelasan kenapa kata AMIN pada akhir Anamnese di TPE baru dihilangkan. Maksud saya apa dasar dari penghapusan kata amin diakhir anamnese TPE baru.</p><p>Berikutnya apakah benar bahwa sewaktu kita akan pulang/ keluar dari gedung gereja, mencelupkan jari ke air suci dan membuat tanda salib itu merupakan hal yang salah kaprah ? kalau disaat masuk gereja memang harus dilakukan karena itu mengingatkan kita pada baptisan kita dan juga merupakan simbol yang diadopsi dari bangsa yahudi bahwa setiap akan masuk rumah dilakukan pembasuhan (bersih diri). Mohon penjelasan pak Stef dan ibu Ingrid. Terima kasih atas jawabannya. tuhan memberkati<br
/> Salam</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12697</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Tue, 23 Mar 2010 15:25:30 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12697</guid> <description>Simon Yth,Prinsip yang harus dipegang adalah setiap orang katolik wajib hukumnya mengikuti aturan Gereja dalam hal ini KHK 1983. Maka wajib melaksanakan perkawinan di Gereja Katolik ikuti forma canonica. Jika akan melaksanakan upacara perkawinan di depan pendeta mohon izin ke ordinaris wilayah setempat (Uskup atau Vikep). Mohon dispensasi beda Gereja ke Ordinaris juga. Perkawinan akan sah jika halangan tadi dapat diatasi, dan pihak Katolik bisa menerima komuni kudus. Harus diingat tidak diperkenankan peneguhan ganda setelah Protestan baru Katolik atau sebaliknya, maka cukup sekali peneguhan. Saya anjurkan peneguhan di Gereja Katolik sehingga memudahkan pemberian dispensasi tak perlu izin. Semoga dapat dipahami dan bacalah artikel di ruang hukum Gereja di web katolisitas.org (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/category/artikel/hukum-gereja/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;)salam
Rm Wanta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Simon Yth,</p><p>Prinsip yang harus dipegang adalah setiap orang katolik wajib hukumnya mengikuti aturan Gereja dalam hal ini KHK 1983. Maka wajib melaksanakan perkawinan di Gereja Katolik ikuti forma canonica. Jika akan melaksanakan upacara perkawinan di depan pendeta mohon izin ke ordinaris wilayah setempat (Uskup atau Vikep). Mohon dispensasi beda Gereja ke Ordinaris juga. Perkawinan akan sah jika halangan tadi dapat diatasi, dan pihak Katolik bisa menerima komuni kudus. Harus diingat tidak diperkenankan peneguhan ganda setelah Protestan baru Katolik atau sebaliknya, maka cukup sekali peneguhan. Saya anjurkan peneguhan di Gereja Katolik sehingga memudahkan pemberian dispensasi tak perlu izin. Semoga dapat dipahami dan bacalah artikel di ruang hukum Gereja di web katolisitas.org (<a
href="http://katolisitas.org/category/artikel/hukum-gereja/" rel="nofollow">silakan klik</a>)</p><p>salam<br
/> Rm Wanta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: simon</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12613</link> <dc:creator>simon</dc:creator> <pubDate>Sat, 20 Mar 2010 08:00:39 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12613</guid> <description>Terimakasih Romo
Saya minggu-minggu ini berusaha menemukan buku pedoman tersebut, dan syukurlah Saya telah menemukannya dan saya sedang mempelajari dokumen tersebut.Romo Wanta: Pertanyaan ini tidak menindaklanjut yg sebelumnya, tetapi yang baru yakni persoalan perkawinan. Seorang cewek yang dibaptis di katolik hendak menikah dengan seorang protestan (Bethania). Mereka berdua pada dasarnya sama-sama berkeras dalam iman masing-masing. Dan si cewek merestui untuk menikah di Bethania. Akan tetapi cewek ini tetap menyatakan diri akan tetap katolik. Bagaimana dengan hal ini romo? Apakah perlu mereka melakukan dua kali pemberkatan menurut Gereja masing-masing? dan Ditanyakan lebih lanjut apakah cewek tersebut terhalang untuk menerima komui kudus?Terimakasih</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Terimakasih Romo<br
/> Saya minggu-minggu ini berusaha menemukan buku pedoman tersebut, dan syukurlah Saya telah menemukannya dan saya sedang mempelajari dokumen tersebut.</p><p>Romo Wanta: Pertanyaan ini tidak menindaklanjut yg sebelumnya, tetapi yang baru yakni persoalan perkawinan. Seorang cewek yang dibaptis di katolik hendak menikah dengan seorang protestan (Bethania). Mereka berdua pada dasarnya sama-sama berkeras dalam iman masing-masing. Dan si cewek merestui untuk menikah di Bethania. Akan tetapi cewek ini tetap menyatakan diri akan tetap katolik. Bagaimana dengan hal ini romo? Apakah perlu mereka melakukan dua kali pemberkatan menurut Gereja masing-masing? dan Ditanyakan lebih lanjut apakah cewek tersebut terhalang untuk menerima komui kudus?</p><p>Terimakasih</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12592</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Fri, 19 Mar 2010 15:08:51 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12592</guid> <description>Simon Yth
Lettere circulazione celebrandi vigili pasqua...diterjemahkan dalam seri dokpen nomor 71 menyatakan hendaknya bukan keharusan bagi seminaris, religius merayakan misa vigilia Paska di Paroki. Kalau seminari memiliki kapel yang memadai dan sudah biasa merayakan misa hari Minggu dan hari Raya Besar lainnya bersama Rektor dan seminaris bahkan umat juga datang tidak perlu ke Paroki. Seminari adalah lembaga khusus dan memiliki kewenangan khusus dalam pembinaan calon imam termasuk perayaan liturgi di bawah kuasa yurisdiksi Rektor yg diberikan oleh Uskup setempat.
Demikian jawaban saya semoga dapat dipahami.
salam
Rm Wanta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Simon Yth</p><p>Lettere circulazione celebrandi vigili pasqua&#8230;diterjemahkan dalam seri dokpen nomor 71 menyatakan hendaknya bukan keharusan bagi seminaris, religius merayakan misa vigilia Paska di Paroki. Kalau seminari memiliki kapel yang memadai dan sudah biasa merayakan misa hari Minggu dan hari Raya Besar lainnya bersama Rektor dan seminaris bahkan umat juga datang tidak perlu ke Paroki. Seminari adalah lembaga khusus dan memiliki kewenangan khusus dalam pembinaan calon imam termasuk perayaan liturgi di bawah kuasa yurisdiksi Rektor yg diberikan oleh Uskup setempat.<br
/> Demikian jawaban saya semoga dapat dipahami.</p><p>salam<br
/> Rm Wanta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: C.H. Suryanugraha OSC</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12590</link> <dc:creator>C.H. Suryanugraha OSC</dc:creator> <pubDate>Fri, 19 Mar 2010 14:00:14 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12590</guid> <description>Pak Stefan,Setahu saya Takhta Apostolik tidak menganjurkan membangun tempat baru yang khusus untuk pelaksanaan Misa Tridentin sebagai konsekuensi perluasan izin untuk Misa itu. Ada gereja lama yang dulu dibangun dalam masa berlakunya Misa Tridentin dan kini digunakan untuk Misa Vatikan II masih merawat altar lama, yang biasanya ada tabernakelnya (meskipun tidak selalu begitu). Altar lama itu bisa saja digunakan kembali untuk Misa Tridentin sekarang. Namun, praktek ini akan menimbulkan kesan adanya dua altar dalam satu gereja, padahal dianjurkan hanya ada satu altar. Menurut saya, lebih baik menggunakan altar baru saja, namun orientasinya di balik. Imam membelakangi umat secara langsung (tidak terhalang altar baru, seperti jika imam menggunakan altar lama, sementara ada altar baru di belakangnya). Maka, perlengkapan yang dibutuhkan untuk Misa Tridentin itu disesuaikan saja dengan kondisi altar baru. Dengan begitu, altar lama tetap diperlakukan sebagai altar-tabernakel saja, bukan altar-ekaristi, sehingga tetap terjagalah ajaran tentang satu gereja dengan satu altar untuk Liturgi Ekaristi. Praktek ini pernah saya lihat sendiri di satu paroki di kota Essex, dekat London.Tks, salam.
CHS</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Pak Stefan,</p><p>Setahu saya Takhta Apostolik tidak menganjurkan membangun tempat baru yang khusus untuk pelaksanaan Misa Tridentin sebagai konsekuensi perluasan izin untuk Misa itu. Ada gereja lama yang dulu dibangun dalam masa berlakunya Misa Tridentin dan kini digunakan untuk Misa Vatikan II masih merawat altar lama, yang biasanya ada tabernakelnya (meskipun tidak selalu begitu). Altar lama itu bisa saja digunakan kembali untuk Misa Tridentin sekarang. Namun, praktek ini akan menimbulkan kesan adanya dua altar dalam satu gereja, padahal dianjurkan hanya ada satu altar. Menurut saya, lebih baik menggunakan altar baru saja, namun orientasinya di balik. Imam membelakangi umat secara langsung (tidak terhalang altar baru, seperti jika imam menggunakan altar lama, sementara ada altar baru di belakangnya). Maka, perlengkapan yang dibutuhkan untuk Misa Tridentin itu disesuaikan saja dengan kondisi altar baru. Dengan begitu, altar lama tetap diperlakukan sebagai altar-tabernakel saja, bukan altar-ekaristi, sehingga tetap terjagalah ajaran tentang satu gereja dengan satu altar untuk Liturgi Ekaristi. Praktek ini pernah saya lihat sendiri di satu paroki di kota Essex, dekat London.</p><p>Tks, salam.<br
/> CHS</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: simon</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12576</link> <dc:creator>simon</dc:creator> <pubDate>Fri, 19 Mar 2010 03:07:04 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12576</guid> <description>Shaloom..Rm. Wanta dan Inggrid
Seingat saya ada Buku Pedoman Pelaksanaan Triharipaskah (cat:tidak ingat jelas lagi apakah ini nama buku instruksi tersebut). Seingat saya dan setahu saya, dalam pedoman tersebut, vigilia paskah sangat dianjurkan (apa persis kandungan makna kata tersebut) dihadiri umat beriman. Dianjurkan juga umat menghadiri vigilia paskah tersebut, menyambut komuni, dan bergabung dengan beberapa gereja yang berdekatan. Bahkan para religius dan seminaris dianjurkan untuk menghadiri vigilia paskah di paroki bukan di seminari? Barangkali sekaitan ini jugalah, di beberapa paroki di Keuskupan Agung Medan, masih melakukan vigilia paskah separoki. Umat dianjurkan datang menghadiri vigilia paskah di Gereja Paroki. Memang benar bila dikatakan kita jangan syarat minimal. Tetapi sekali lagi muatan kata &quot;hendaknya&quot; dalam pedoman tersebut, apakah bernada menharuskan atau muatan lain? saya tidak tahu. Barangkali vigilia paskah tidak pernah menggantikan Hari Raya Paskah! terimakasih</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shaloom..Rm. Wanta dan Inggrid<br
/> Seingat saya ada Buku Pedoman Pelaksanaan Triharipaskah (cat:tidak ingat jelas lagi apakah ini nama buku instruksi tersebut). Seingat saya dan setahu saya, dalam pedoman tersebut, vigilia paskah sangat dianjurkan (apa persis kandungan makna kata tersebut) dihadiri umat beriman. Dianjurkan juga umat menghadiri vigilia paskah tersebut, menyambut komuni, dan bergabung dengan beberapa gereja yang berdekatan. Bahkan para religius dan seminaris dianjurkan untuk menghadiri vigilia paskah di paroki bukan di seminari? Barangkali sekaitan ini jugalah, di beberapa paroki di Keuskupan Agung Medan, masih melakukan vigilia paskah separoki. Umat dianjurkan datang menghadiri vigilia paskah di Gereja Paroki. Memang benar bila dikatakan kita jangan syarat minimal. Tetapi sekali lagi muatan kata &#8220;hendaknya&#8221; dalam pedoman tersebut, apakah bernada menharuskan atau muatan lain? saya tidak tahu. Barangkali vigilia paskah tidak pernah menggantikan Hari Raya Paskah! terimakasih</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: stefan</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12330</link> <dc:creator>stefan</dc:creator> <pubDate>Tue, 09 Mar 2010 20:47:24 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12330</guid> <description>Salam Romo,Saya mau bertanya, adakah kemungkinan bahwa lay-out altar gereja Katolik disesuaikan untuk mengakomodasikan perayaan misa kudus Novus Ordo (dengan altar yang berdiri sendiri) maupun misa Tridentina - ad orientum  (dengan altar yang menjadi kesatuan/ menghadap Tabernakel?
Apakah mungkin, untuk mengakomodasikan kedua hal ini maka, misalnya seolah ada &#039;dua&#039; bagian altar, yaitu satu berdiri sendiri, sedang yang lainnya ada dibelakangnya, menjadi kesatuan dengan tabernakel? Kalau boleh, bukankah seolah-olah ada &quot;dua altar&quot;? Kalau tidak boleh, bagaimana untuk mengakomodasi misa Tridentina di kemudian hari?Terima kasih
Salam - Stefan</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam Romo,</p><p>Saya mau bertanya, adakah kemungkinan bahwa lay-out altar gereja Katolik disesuaikan untuk mengakomodasikan perayaan misa kudus Novus Ordo (dengan altar yang berdiri sendiri) maupun misa Tridentina &#8211; ad orientum  (dengan altar yang menjadi kesatuan/ menghadap Tabernakel?<br
/> Apakah mungkin, untuk mengakomodasikan kedua hal ini maka, misalnya seolah ada &#8216;dua&#8217; bagian altar, yaitu satu berdiri sendiri, sedang yang lainnya ada dibelakangnya, menjadi kesatuan dengan tabernakel? Kalau boleh, bukankah seolah-olah ada &#8220;dua altar&#8221;? Kalau tidak boleh, bagaimana untuk mengakomodasi misa Tridentina di kemudian hari?</p><p>Terima kasih<br
/> Salam &#8211; Stefan</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12309</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Tue, 09 Mar 2010 03:55:42 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12309</guid> <description>Kenneth yth
Prinsip kan 144 bisa diterapkan dan tidak perlu misa lagi karena kekeliruan anda. Lain kali mencari imam yang valid.
Terimakasih
salam
Rm WantaTambahan dari Ingrid:Shalom Kenneth,Kitab Hukum Kanonik 1983 berkata:144      § 1      Dalam kekeliruan umum mengenai fakta atau hukum, demikian juga dalam keraguan yang positif dan probabel, baik mengenai hukum maupun mengenai fakta, Gereja melengkapi kuasa kepemimpinan eksekutif, baik untuk tata lahir maupun untuk tata batin.Jadi dalam hal ini, karena jika seseorang tidak sengaja dan tidak tahu bahwa ia menghadiri misa yang dipersembahkan oleh imam yang tidak sah, kesalahannya tidak pada umat itu. Dalam hal ini Gereja- lah yang melengkapi tata lahir dan tata batin yang seharusnya ada, dan ini istilahnya ecclesia supplet.Maka jika anda tidak sengaja, dan anda tidak tahu sebelumnya jika misa tersebut tidak sah (karena imamnya tidak sah), maka Gerejalah yang melengkapinya oleh kuasa Kristus sendiri. Namun, ini tidak berlaku kalau seandainya anda sudah tahu atau anda sengaja mengikuti misa yang tidak sah, karena misalnya di adakan oleh imam yang tidak dalam kesatuan dengan Gereja Katolik.Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Kenneth yth</p><p>Prinsip kan 144 bisa diterapkan dan tidak perlu misa lagi karena kekeliruan anda. Lain kali mencari imam yang valid.<br
/> Terimakasih<br
/> salam<br
/> Rm Wanta</p><p>Tambahan dari Ingrid:</p><p>Shalom Kenneth,</p><p>Kitab Hukum Kanonik 1983 berkata:</p><p>144      § 1      Dalam kekeliruan umum mengenai fakta atau hukum, demikian juga dalam keraguan yang positif dan probabel, baik mengenai hukum maupun mengenai fakta, Gereja melengkapi kuasa kepemimpinan eksekutif, baik untuk tata lahir maupun untuk tata batin.</p><p>Jadi dalam hal ini, karena jika seseorang tidak sengaja dan tidak tahu bahwa ia menghadiri misa yang dipersembahkan oleh imam yang tidak sah, kesalahannya tidak pada umat itu. Dalam hal ini Gereja- lah yang melengkapi tata lahir dan tata batin yang seharusnya ada, dan ini istilahnya ecclesia supplet.</p><p>Maka jika anda tidak sengaja, dan anda tidak tahu sebelumnya jika misa tersebut tidak sah (karena imamnya tidak sah), maka Gerejalah yang melengkapinya oleh kuasa Kristus sendiri. Namun, ini tidak berlaku kalau seandainya anda sudah tahu atau anda sengaja mengikuti misa yang tidak sah, karena misalnya di adakan oleh imam yang tidak dalam kesatuan dengan Gereja Katolik.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Kenneth</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12257</link> <dc:creator>Kenneth</dc:creator> <pubDate>Sun, 07 Mar 2010 07:05:23 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12257</guid> <description>Shalom,Apabila seseorang secara &quot;accidental&quot; menghadiri sebuah perayaan ekaristi yang invalid, apakah orang tersebut terikat dengan kewajiban untuk mencari perayaan ekaristi lain yang valid pada hari itu?NB: Di http://www.ewtn.com/vexperts/showmessage.asp?Pgnu=1&amp;Pg=Forum8&amp;recnu=1&amp;number=452379 Colin B. Donovan, STL pernah menulis:&quot;If you were traveling and unintentionally went to a truly invalid Mass, you do not need to go to the inconvenience of tracking down another Mass. Its on the celebrant&#039;s conscience not yours. Though, I hope you would write his bishop and complain.&quot;Tetapi saya kurang mengerti akan maksud pendapatnya tersebut (mungkin karena kemampuan bahasa Inggris saya kurang baik)Mohon pencerahannya.Terima kasih,
Kenneth</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom,</p><p>Apabila seseorang secara &#8220;accidental&#8221; menghadiri sebuah perayaan ekaristi yang invalid, apakah orang tersebut terikat dengan kewajiban untuk mencari perayaan ekaristi lain yang valid pada hari itu?</p><p>NB: Di <a
href="http://www.ewtn.com/vexperts/showmessage.asp?Pgnu=1&amp;Pg=Forum8&amp;recnu=1&amp;number=452379" rel="nofollow">http://www.ewtn.com/vexperts/showmessage.asp?Pgnu=1&amp;Pg=Forum8&amp;recnu=1&amp;number=452379</a> Colin B. Donovan, STL pernah menulis:</p><p>&#8220;If you were traveling and unintentionally went to a truly invalid Mass, you do not need to go to the inconvenience of tracking down another Mass. Its on the celebrant&#8217;s conscience not yours. Though, I hope you would write his bishop and complain.&#8221;</p><p>Tetapi saya kurang mengerti akan maksud pendapatnya tersebut (mungkin karena kemampuan bahasa Inggris saya kurang baik)</p><p>Mohon pencerahannya.</p><p>Terima kasih,<br
/> Kenneth</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12093</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Tue, 02 Mar 2010 17:19:38 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12093</guid> <description>Shalom Christo Ngasi,
Makna doa dengan menyalakan lilin di hadapan patung Bunda Maria, telah pernah dijawab di sini, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/07/maria-bunda-allah-2/comment-page-1/#comment-504&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.
Lilin itu merupakan simbol, dan pada perayaan Ekaristi,  lilin di altar dinyalakan, yang menjadi lambang kehadiran Kristus yang adalah Sang Terang dunia. Sedangkan lilin yang ada di depan patung Bunda Maria melambangkan doa- doa kita yang naik ke hadapan Tuhan.
Prinsipnya, lilin memang dapat membantu kita untuk mengarahkan hati pada saat berdoa, namun kita tidak boleh tergantung dengan lilin, seolah tanpa lilin tidak bisa berdoa.Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Christo Ngasi,<br
/> Makna doa dengan menyalakan lilin di hadapan patung Bunda Maria, telah pernah dijawab di sini, <a
href="http://katolisitas.org/2008/09/07/maria-bunda-allah-2/comment-page-1/#comment-504" rel="nofollow">silakan klik</a>.<br
/> Lilin itu merupakan simbol, dan pada perayaan Ekaristi,  lilin di altar dinyalakan, yang menjadi lambang kehadiran Kristus yang adalah Sang Terang dunia. Sedangkan lilin yang ada di depan patung Bunda Maria melambangkan doa- doa kita yang naik ke hadapan Tuhan.<br
/> Prinsipnya, lilin memang dapat membantu kita untuk mengarahkan hati pada saat berdoa, namun kita tidak boleh tergantung dengan lilin, seolah tanpa lilin tidak bisa berdoa.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: christo ngasi</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/23/apa-yang-harus-kuketahui-tentang-liturgi/comment-page-1/#comment-12030</link> <dc:creator>christo ngasi</dc:creator> <pubDate>Sun, 28 Feb 2010 06:09:16 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=224#comment-12030</guid> <description>Salam dalam kasih Kristus,pada temapat pertama saya ucapkan terima kasih atas jawaban tentang penggunaan kata baik itu inkulturasi atau akulturasi. Saya ingin bertanya tentang penggunaan lilin saat misa,setahu yang saya pelajari lilin tertpusat pada altar tapi ada hal yang menarik karena saat misa lilin justru banyak dinyalakan di patung Bunda Maria dan Yesus, sebenarnya apakah penting dalam ekaristi lilin dinyalakan pada patung???mohon penjelasannya</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam dalam kasih Kristus,pada temapat pertama saya ucapkan terima kasih atas jawaban tentang penggunaan kata baik itu inkulturasi atau akulturasi. Saya ingin bertanya tentang penggunaan lilin saat misa,setahu yang saya pelajari lilin tertpusat pada altar tapi ada hal yang menarik karena saat misa lilin justru banyak dinyalakan di patung Bunda Maria dan Yesus, sebenarnya apakah penting dalam ekaristi lilin dinyalakan pada patung???mohon penjelasannya</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 43/85 queries in 0.091 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-07-30 16:30:55 -->