<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 11:26:12 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: danang</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-17311</link> <dc:creator>danang</dc:creator> <pubDate>Sat, 10 Jul 2010 02:32:28 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-17311</guid> <description>terima kasih bu inggrid, saya akan segera membuat janji dengan romo, dan menjadi manusia baru.... Tuhan Yesus memberkati.....</description> <content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih bu inggrid, saya akan segera membuat janji dengan romo, dan menjadi manusia baru&#8230;. Tuhan Yesus memberkati&#8230;..</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Sylvester J. Mudjiatmo</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-17163</link> <dc:creator>Sylvester J. Mudjiatmo</dc:creator> <pubDate>Thu, 01 Jul 2010 11:42:51 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-17163</guid> <description>Shalom,Bagaimana bisa &quot;mengampuni&quot;  ataupun &quot;menahan&quot; dosa seseorang, (Yoh 20:22-23)
jika &quot;Imam&quot;  tidak &quot;sebelumnya mendengar&quot; pengakuan dosa seseorang itu !Masalahnya, para pengikut Kristus (Kristen, baik yang Katolik maupun yang Protestan),
mau atau tidak melakukan &quot;yang diperintahkan Yesus Kristus&quot; itu .Percaya atau tidak adanya perintah demikian itu.Percaya atau tidak bahwa &quot;Imam&quot; (katolik) menerima kuasa untuk mengampuni ataupun menahan.Tafsir terhadap maaksud perintah itu ternyata berbeda sih, antara yang butuh Sakramen Tobat dengan beliau-beliau yang tidak membutuhkan nya.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom,</p><p>Bagaimana bisa &#8220;mengampuni&#8221;  ataupun &#8220;menahan&#8221; dosa seseorang, (Yoh 20:22-23)<br
/> jika &#8220;Imam&#8221;  tidak &#8220;sebelumnya mendengar&#8221; pengakuan dosa seseorang itu !</p><p>Masalahnya, para pengikut Kristus (Kristen, baik yang Katolik maupun yang Protestan),<br
/> mau atau tidak melakukan &#8220;yang diperintahkan Yesus Kristus&#8221; itu .</p><p>Percaya atau tidak adanya perintah demikian itu.</p><p>Percaya atau tidak bahwa &#8220;Imam&#8221; (katolik) menerima kuasa untuk mengampuni ataupun menahan.</p><p>Tafsir terhadap maaksud perintah itu ternyata berbeda sih, antara yang butuh Sakramen Tobat dengan beliau-beliau yang tidak membutuhkan nya.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-16753</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Sat, 19 Jun 2010 18:58:24 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-16753</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Danang,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jawabnya adalah, ya. Jika anda Katolik, dan ingin mengikuti sepenuhnya akan apa yang dikehendaki oleh Yesus, agar anda sungguh menerima rahmat pengampunan Allah, silakan anda menemui pastor paroki anda untuk menerima sakramen Tobat. Setidaknya, ada empat alasan yang penting, tentang mengapa kita perlu mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, walaupun sudah mengaku dosa secara pribadi dalam doa kita setiap hari:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1. Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk mengikat dan melepaskan kepada para rasul dan penerus mereka (Mat 16:18; 18:18). &#039;Mengikat dan melepaskan&#039; di sini adalah kuasa untuk mengajar hal iman dan moral yang mengikat umat beriman ataupun untuk melepaskan seseorang dari ikatan dosanya, ataupun untuk menyatakan dosanya tetap ada, seperti yang dikatakan Yesus dalam Yoh 20:22-23. Maka untuk mentaati kehendak Yesus ini, kita mengaku dosa di hadapan imam-Nya, yang adalah para penerus Rasul.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2. Dosa masing- masing dari kita mempunyai dimensi sosial. Artinya, dosa kita tidak hanya merusak hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga merusak hubungan kita dengan sesama. Kita melukai Tubuh Kristus dengan dosa kita, karena dengan melakukan dosa, kita dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain; kita melukai &#039;kekudusan&#039; Gereja yang didirikan Kristus. Oleh karena itu, kita perlu mengakui dosa kita, dan berdamai kembali dengan Kristus dalam kesatuan dengan Tubuh-Nya yaitu Gereja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;3. Maka dengan menyadari kedua hal di atas, maka rahmat yang diterima melalui sakramen Pengakuan dosa dapat sungguh memberikan damai sejahtera kepada kita. Kita tidak lagi resah, akan &quot;apakah Tuhan sudah sungguh- sungguh mengampuni saya?&quot; Sebab kita dapat yakin bahwa kita telah menerima pengampunan Tuhan, karena memang kita telah melakukan apa yang dikendaki Allah bagi kita untuk menyatakan pertobatan kita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;4. Mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa, menjadikan kita lebih rendah hati; berani mengakui kesalahan kita di hadapan orang lain. Kerendahan hati seperti ini dibutuhkan untuk pertumbuhan rohani kita; sebab kerendahan hari adalah &lt;em&gt;antidote&lt;/em&gt;/ obat penawar dari dosa manusia yang utama dan pertama yaitu kesombongan: merasa diri sudah baik, tidak mau taat pada perintah Tuhan atau merasa tidak perlu mengaku dosa. Jika kita mengaku dosa secara teratur dalam sakramen Tobat, seperti sebulan sekali, maka Tuhan akan membantu kita untuk bertumbuh secara rohani dalam mengalahkan dosa/ kelemahan kita yang paling sering kita lakukan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi, Danang, jika saya boleh menyarankan, silakan anda membuat janji dengan pastor Paroki, untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sebelum mengaku dosa, periksalah batin anda seperti telah dipaparkan dalam artikel ini, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/27/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-4-selesai/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;. Setelah itu, mengaku dosalah dengan kerendahan hati di hadapan imam-Nya, di mana Kristus sendiri hadir di dalam diri imam-Nya itu; dan alamilah rahmat Pengampunan Allah yang tidak pernah anda alami sebelumnya. Di dalam Sakramen Pengakuan dosa inilah dipenuhi ayat Kitab Suci, &quot;&lt;span id=&quot;r&quot;&gt;Jadi apabila Anak itu &lt;span id=&quot;w&quot;&gt;memerdekakan&lt;/span&gt; &lt;span id=&quot;w&quot;&gt;kamu&lt;/span&gt;, kamupun benar-benar merdeka.&quot; (Yoh 8:36). Sebab yang melepaskan anda dari semua ikatan dosa anda adalah Kristus sendiri; ini tidak tergantung dari perasaan anda; tetapi sesuai dengan kehendak Kristus yang memang memakai perantaraan para imam-Nya untuk menyampaikan rahmat Allah yang sangat mengagumkan ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati- katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Danang,</p><p>Jawabnya adalah, ya. Jika anda Katolik, dan ingin mengikuti sepenuhnya akan apa yang dikehendaki oleh Yesus, agar anda sungguh menerima rahmat pengampunan Allah, silakan anda menemui pastor paroki anda untuk menerima sakramen Tobat. Setidaknya, ada empat alasan yang penting, tentang mengapa kita perlu mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, walaupun sudah mengaku dosa secara pribadi dalam doa kita setiap hari:</p><p>1. Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk mengikat dan melepaskan kepada para rasul dan penerus mereka (Mat 16:18; 18:18). &#8216;Mengikat dan melepaskan&#8217; di sini adalah kuasa untuk mengajar hal iman dan moral yang mengikat umat beriman ataupun untuk melepaskan seseorang dari ikatan dosanya, ataupun untuk menyatakan dosanya tetap ada, seperti yang dikatakan Yesus dalam Yoh 20:22-23. Maka untuk mentaati kehendak Yesus ini, kita mengaku dosa di hadapan imam-Nya, yang adalah para penerus Rasul.</p><p>2. Dosa masing- masing dari kita mempunyai dimensi sosial. Artinya, dosa kita tidak hanya merusak hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga merusak hubungan kita dengan sesama. Kita melukai Tubuh Kristus dengan dosa kita, karena dengan melakukan dosa, kita dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain; kita melukai &#8216;kekudusan&#8217; Gereja yang didirikan Kristus. Oleh karena itu, kita perlu mengakui dosa kita, dan berdamai kembali dengan Kristus dalam kesatuan dengan Tubuh-Nya yaitu Gereja.</p><p>3. Maka dengan menyadari kedua hal di atas, maka rahmat yang diterima melalui sakramen Pengakuan dosa dapat sungguh memberikan damai sejahtera kepada kita. Kita tidak lagi resah, akan &#8220;apakah Tuhan sudah sungguh- sungguh mengampuni saya?&#8221; Sebab kita dapat yakin bahwa kita telah menerima pengampunan Tuhan, karena memang kita telah melakukan apa yang dikendaki Allah bagi kita untuk menyatakan pertobatan kita.</p><p>4. Mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa, menjadikan kita lebih rendah hati; berani mengakui kesalahan kita di hadapan orang lain. Kerendahan hati seperti ini dibutuhkan untuk pertumbuhan rohani kita; sebab kerendahan hari adalah <em>antidote</em>/ obat penawar dari dosa manusia yang utama dan pertama yaitu kesombongan: merasa diri sudah baik, tidak mau taat pada perintah Tuhan atau merasa tidak perlu mengaku dosa. Jika kita mengaku dosa secara teratur dalam sakramen Tobat, seperti sebulan sekali, maka Tuhan akan membantu kita untuk bertumbuh secara rohani dalam mengalahkan dosa/ kelemahan kita yang paling sering kita lakukan.</p><p>Jadi, Danang, jika saya boleh menyarankan, silakan anda membuat janji dengan pastor Paroki, untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sebelum mengaku dosa, periksalah batin anda seperti telah dipaparkan dalam artikel ini, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/27/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-4-selesai/" rel="nofollow">silakan klik</a>. Setelah itu, mengaku dosalah dengan kerendahan hati di hadapan imam-Nya, di mana Kristus sendiri hadir di dalam diri imam-Nya itu; dan alamilah rahmat Pengampunan Allah yang tidak pernah anda alami sebelumnya. Di dalam Sakramen Pengakuan dosa inilah dipenuhi ayat Kitab Suci, &#8220;<span
id="r">Jadi apabila Anak itu <span
id="w">memerdekakan</span> <span
id="w">kamu</span>, kamupun benar-benar merdeka.&#8221; (Yoh 8:36). Sebab yang melepaskan anda dari semua ikatan dosa anda adalah Kristus sendiri; ini tidak tergantung dari perasaan anda; tetapi sesuai dengan kehendak Kristus yang memang memakai perantaraan para imam-Nya untuk menyampaikan rahmat Allah yang sangat mengagumkan ini.<br
/></span></p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/>Ingrid Listiati- katolisitas.org</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: danang</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-16616</link> <dc:creator>danang</dc:creator> <pubDate>Tue, 15 Jun 2010 17:51:48 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-16616</guid> <description>berkah dalem...saya adalah manusia berdosa, hidup dengan dosa dan bergaul dengan dosa, cukup lama saya hidup dengan keadaan ini, sampai suatu saat saya dipertemukan dengan seorang pendoa dan saya di doakan dan dia bilang dosa saya telah diampuni, dan saya sangat yakin, saya diajari untuk hidup takut akan Tuhan, hidup dengan kasih..... sampai sekarang pun saya masih belajar untuk hidup benar, karena cukup berat bagi saya dan terlalu banyak godaan, yang ingin saya tanyakan adalah, apakah masih perlu saya melakukan sakramen tobat setelah saya mengakui dosa saya pada pendoa tersebut dan saya yakin dosa saya telah diampuni...??terimakasih atas jawabannya dan mohon dukungan doa untuk hidup dalam kasih Allah...
berkah dalem..</description> <content:encoded><![CDATA[<p>berkah dalem&#8230;</p><p>saya adalah manusia berdosa, hidup dengan dosa dan bergaul dengan dosa, cukup lama saya hidup dengan keadaan ini, sampai suatu saat saya dipertemukan dengan seorang pendoa dan saya di doakan dan dia bilang dosa saya telah diampuni, dan saya sangat yakin, saya diajari untuk hidup takut akan Tuhan, hidup dengan kasih&#8230;.. sampai sekarang pun saya masih belajar untuk hidup benar, karena cukup berat bagi saya dan terlalu banyak godaan, yang ingin saya tanyakan adalah, apakah masih perlu saya melakukan sakramen tobat setelah saya mengakui dosa saya pada pendoa tersebut dan saya yakin dosa saya telah diampuni&#8230;??</p><p>terimakasih atas jawabannya dan mohon dukungan doa untuk hidup dalam kasih Allah&#8230;<br
/> berkah dalem..</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-12868</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Mon, 29 Mar 2010 15:07:52 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-12868</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Lucius,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas pertanyaannya tentang Sakramen Tobat. Pada saat menerimakan Sakramen Tobat, maka pastor bertindak atas nama Kristus (&lt;em&gt;persona Chisti capitis&lt;/em&gt;). Dan hal ini berdasarkan akan perintah Kristus sendiri yang mengatakan:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Yoh 20:22-23 &quot;22. Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: &quot;&lt;strong&gt;Terimalah Roh Kudus&lt;/strong&gt;. 23&lt;strong&gt; Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.&lt;/strong&gt;&quot;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini, silakan membaca bagian 2 dari artikel pengakuan dosa di sini (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;). Semoga dapat membantu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan&lt;br /&gt;stef - katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Lucius,</p><p>Terima kasih atas pertanyaannya tentang Sakramen Tobat. Pada saat menerimakan Sakramen Tobat, maka pastor bertindak atas nama Kristus (<em>persona Chisti capitis</em>). Dan hal ini berdasarkan akan perintah Kristus sendiri yang mengatakan:</p><blockquote><p>Yoh 20:22-23 &#8220;22. Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: &#8220;<strong>Terimalah Roh Kudus</strong>. 23<strong> Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.</strong>&#8220;</p></blockquote><p>Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini, silakan membaca bagian 2 dari artikel pengakuan dosa di sini (<a
href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/" rel="nofollow">silakan klik</a>). Semoga dapat membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan<br
/>stef &#8211; katolisitas.org</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Lucius @ Lacius Dalius</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-12766</link> <dc:creator>Lucius @ Lacius Dalius</dc:creator> <pubDate>Thu, 25 Mar 2010 16:33:24 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-12766</guid> <description>Benarkah Yesus hadir di dalam sakramen tobat (pengakuan dosa) melalui peribadi imam/pastor?
Bagaimanakah ianya berlaku?</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Benarkah Yesus hadir di dalam sakramen tobat (pengakuan dosa) melalui peribadi imam/pastor?<br
/> Bagaimanakah ianya berlaku?</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-10104</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Sat, 09 Jan 2010 21:32:39 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-10104</guid> <description>Shalom Santiago,
Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau anda telah dibaptis, maka dosa asal (original sin) dan dosa-dosa pribadi, termasuk dosa berat anda telah diampuni. Oleh karena itu, menurut pengajaran Gereja, anda tidak perlu lagi untuk mengakukan dosa-dosa berat yang dilakukan sebelum anda menerima Sakramen Baptis. Namun, kalau anda mau, anda dapat melakulan &quot;&lt;em&gt;general confession&lt;/em&gt;&quot; sekali dalam setahun. Dalam &lt;em&gt;general confession&lt;/em&gt; ini, anda dapat mengakukan semua dosa-dosa anda yang pernah anda ingat, termasuk dosa-dosa sebelum menerima Sakramen Baptis. Para santa-santo menganjurkan hal ini, sehingga kita akan semakin menyadari akan belas kasih Tuhan dan menyadari bahwa kita adalah pendosa, yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa bantuan rahmat Allah. Dengan kerendahan hati ini, kita akan semakin tumbuh secara spiritual dan rahmat Allah akan semakin mengalir dengan bebas dalam kehidupan kita. yang pada akhirnya akan memampukan kita untuk dapat berjuang dalam kekudusan. Semoga dapat membantu.Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef - www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Santiago,<br
/> Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau anda telah dibaptis, maka dosa asal (original sin) dan dosa-dosa pribadi, termasuk dosa berat anda telah diampuni. Oleh karena itu, menurut pengajaran Gereja, anda tidak perlu lagi untuk mengakukan dosa-dosa berat yang dilakukan sebelum anda menerima Sakramen Baptis. Namun, kalau anda mau, anda dapat melakulan &#8220;<em>general confession</em>&#8221; sekali dalam setahun. Dalam <em>general confession</em> ini, anda dapat mengakukan semua dosa-dosa anda yang pernah anda ingat, termasuk dosa-dosa sebelum menerima Sakramen Baptis. Para santa-santo menganjurkan hal ini, sehingga kita akan semakin menyadari akan belas kasih Tuhan dan menyadari bahwa kita adalah pendosa, yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa bantuan rahmat Allah. Dengan kerendahan hati ini, kita akan semakin tumbuh secara spiritual dan rahmat Allah akan semakin mengalir dengan bebas dalam kehidupan kita. yang pada akhirnya akan memampukan kita untuk dapat berjuang dalam kekudusan. Semoga dapat membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Santiago</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-10066</link> <dc:creator>Santiago</dc:creator> <pubDate>Fri, 08 Jan 2010 02:15:56 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-10066</guid> <description>Shalom pak Stefannus,
terima kasih atas jawabannya.
Ada pertanyaan lagi. Bila saya pernah melakukan dosa berat sebelum dibaptis namun sudah bertobat bahkan sebelum dibaptis, haruskah itu diakukan juga waktu sakramen tobat? Atau tidak perlu lagi, karena sudah dihapus waktu pembaptisan?Salam damai.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom pak Stefannus,<br
/> terima kasih atas jawabannya.<br
/> Ada pertanyaan lagi. Bila saya pernah melakukan dosa berat sebelum dibaptis namun sudah bertobat bahkan sebelum dibaptis, haruskah itu diakukan juga waktu sakramen tobat? Atau tidak perlu lagi, karena sudah dihapus waktu pembaptisan?</p><p>Salam damai.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-10059</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Thu, 07 Jan 2010 20:48:23 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-10059</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Santiago,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas pertanyaannya. Sakramen Baptis memang menghapus dosa asal dan juga dosa yang dilakukan oleh pribadi sebelum dibaptis, sehingga manusia tidak mengalami siksa-siksa dosa. Hal ini ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1263) yang mengatakan:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;&quot;&lt;em&gt;Oleh Pembaptisan diampunilah semua dosa, &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;dosa asal&lt;/span&gt;, dan &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;semua dosa pribadi &lt;/span&gt;serta &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;siksa-siksa dosa &lt;/span&gt;(Bdk. DS 1316.). Di dalam mereka yang dilahirkan kembali, tidak tersisa apa pun yang dapat menghalang-halangi mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Baik dosa Adam maupun dosa pribadi demikian pula akibat-akibat dosa, yang terparah darinya adalah pemisahan dari Allah, semuanya tidak ada lagi.&lt;/em&gt;&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sakramen Pengakuan Dosa tidak menghapuskan dosa asal, namun mengampuni dosa-dosa (ringan maupun berat). Silakan membaca artikel tentang Sakrament Tobat (bagian &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;1&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;2&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;3&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/27/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-4-selesai/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;4&lt;/a&gt;). Dosa asal hanya dapat diampuni dengan Sakramen Baptis. Silakan membaca lebih lanjut tentang Sakramen Baptis di sini (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Silakan klik&lt;/a&gt;), dan Sakramen Penguatan di sini (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/07/menuju-kedewasaan-iman-di-dalam-kristus/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Silakan klik&lt;/a&gt;). Semoga dapat membantu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Santiago,</p><p>Terima kasih atas pertanyaannya. Sakramen Baptis memang menghapus dosa asal dan juga dosa yang dilakukan oleh pribadi sebelum dibaptis, sehingga manusia tidak mengalami siksa-siksa dosa. Hal ini ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1263) yang mengatakan:</p><p
style="padding-left: 40px;">&#8220;<em>Oleh Pembaptisan diampunilah semua dosa, <span
style="text-decoration: underline;">dosa asal</span>, dan <span
style="text-decoration: underline;">semua dosa pribadi </span>serta <span
style="text-decoration: underline;">siksa-siksa dosa </span>(Bdk. DS 1316.). Di dalam mereka yang dilahirkan kembali, tidak tersisa apa pun yang dapat menghalang-halangi mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Baik dosa Adam maupun dosa pribadi demikian pula akibat-akibat dosa, yang terparah darinya adalah pemisahan dari Allah, semuanya tidak ada lagi.</em>&#8220;</p><p>Sakramen Pengakuan Dosa tidak menghapuskan dosa asal, namun mengampuni dosa-dosa (ringan maupun berat). Silakan membaca artikel tentang Sakrament Tobat (bagian <a
href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/" rel="nofollow">1</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/" rel="nofollow">2</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/" rel="nofollow">3</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/27/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-4-selesai/" rel="nofollow">4</a>). Dosa asal hanya dapat diampuni dengan Sakramen Baptis. Silakan membaca lebih lanjut tentang Sakramen Baptis di sini (<a
href="http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/" rel="nofollow">Silakan klik</a>), dan Sakramen Penguatan di sini (<a
href="http://katolisitas.org/2008/08/07/menuju-kedewasaan-iman-di-dalam-kristus/" rel="nofollow">Silakan klik</a>). Semoga dapat membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/>stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Santiago</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-9958</link> <dc:creator>Santiago</dc:creator> <pubDate>Tue, 05 Jan 2010 03:29:51 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-9958</guid> <description>Shalom pak stef,
Pada artikel di atas tertulis bahwa sakramen pembaptisan menghapus dosa asal dan dosa yang dibawa sebelum lahir.
Namun saya juga pernah mendengar bahwa sakramen pengakuan dosa hanya menghapus dosa asal.
Sehingga sebelum menerima sakramen krisma, kita diwajibkan menerima sakramen tobat dahulu untuk mengakui dosa-dosa (terutama yang berat) yang dilakukan sebelum dibaptis.
Mana yang betul?Terima Kasih.
GBU</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom pak stef,<br
/> Pada artikel di atas tertulis bahwa sakramen pembaptisan menghapus dosa asal dan dosa yang dibawa sebelum lahir.<br
/> Namun saya juga pernah mendengar bahwa sakramen pengakuan dosa hanya menghapus dosa asal.<br
/> Sehingga sebelum menerima sakramen krisma, kita diwajibkan menerima sakramen tobat dahulu untuk mengakui dosa-dosa (terutama yang berat) yang dilakukan sebelum dibaptis.<br
/> Mana yang betul?</p><p>Terima Kasih.<br
/> GBU</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-8846</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Thu, 19 Nov 2009 17:02:40 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-8846</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Boni Asa,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas pertanyaannya. Dosa sakrilege adalah &quot;&lt;i&gt;Sakrilegi dilakukan seorang yang menajiskan atau tidak menghormati Sakramen-sakramen atau tindakan liturgi yang lain, pribadi, benda, atau tempat yang telah ditahbiskan kepada Allah. Sakrilegi itu lalu merupakan &lt;u&gt;dosa berat khusus&lt;/u&gt;, apabila itu &lt;u&gt;ditujukan kepada Ekaristi&lt;/u&gt;, karena di dalam Sakramen ini, Tubuh Kristus hadir secara substansial (Bdk. CIC, cann. 1367; 1376.)&lt;/i&gt;&quot; (Katekismus Gereja Katolik / KGK, 2120). Dengan demikian, kalau anda ceritakan benar, maka teman anda berdosa sakrilegi, dan harus segera mengaku dosa di depan pastor. Semoga dapat membantu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br&gt;
stef - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Boni Asa,</p><p>Terima kasih atas pertanyaannya. Dosa sakrilege adalah &quot;<i>Sakrilegi dilakukan seorang yang menajiskan atau tidak menghormati Sakramen-sakramen atau tindakan liturgi yang lain, pribadi, benda, atau tempat yang telah ditahbiskan kepada Allah. Sakrilegi itu lalu merupakan <u>dosa berat khusus</u>, apabila itu <u>ditujukan kepada Ekaristi</u>, karena di dalam Sakramen ini, Tubuh Kristus hadir secara substansial (Bdk. CIC, cann. 1367; 1376.)</i>&quot; (Katekismus Gereja Katolik / KGK, 2120). Dengan demikian, kalau anda ceritakan benar, maka teman anda berdosa sakrilegi, dan harus segera mengaku dosa di depan pastor. Semoga dapat membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: BONI ASA</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-8834</link> <dc:creator>BONI ASA</dc:creator> <pubDate>Thu, 19 Nov 2009 11:59:50 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-8834</guid> <description>syloom pak stef, teman-teman saya ketika mereka menerima hosti mereka sering tertawa bahkan ada juga yang mengeluarkan kata-kata kotor serta bergurau saat sambut apakah itu merupakan dosa &quot;sakrelegio&quot;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>syloom pak stef, teman-teman saya ketika mereka menerima hosti mereka sering tertawa bahkan ada juga yang mengeluarkan kata-kata kotor serta bergurau saat sambut apakah itu merupakan dosa &#8220;sakrelegio&#8221;</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-6677</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Wed, 16 Sep 2009 16:02:54 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-6677</guid> <description>Shalom Leon,
Yang saya maksud dalam point 6 di atas adalah bagaimana untuk menyembuhkan beberapa tingkatan dosa, yang dianalogikan seperti Yesus membangkitkan orang mati. Yesus dapat menyembuhkan beberapa tingkatan dosa manusia, seperti: 1) &lt;strong&gt;dosa yang terjadi di dalam hati&lt;/strong&gt;, yang dilambangkan dengan Yesus membangkitkan anak Yairus, yang terjadi di dalam rumahnya, 2) &lt;strong&gt;dosa yang telah berbuah dalam perbuatan&lt;/strong&gt;, yang dilambangkan dengan Yesus yang membangkitkan anak janda di pintu gerbang, 3) &lt;strong&gt;dosa yang terus-menerus dilakukan&lt;/strong&gt;, sehingga menjadi suatu kebiasaan, yang dilambangkan dengan Yesus membangkitkan Lazarus. Dari contoh ini, kita melihat bahwa semakin kita lebih sensitif terhadap bahaya dosa, maka seseorang akan lebih cepat menyadari dosanya, bertobat, memperoleh pengampunan dari Allah. Kuncinya adalah, kita tidak ingin membiarkan suatu dosa yang bermula dari dalam hati, sampai menjadi suatu dosa yang membuahkan perbuatan, dan kemudian menjadi suatu kebiasaan. Kalau suatu dosa telah menjadi kebiasaan, maka dosa ini akan sulit untuk diatasi. Kita dapat melihat apa kebiasaan dosa kita dengan mengamati dosa yang terus-menerus kita akukan dalam Sakramen Tobat. Hanya rahmat Allah dan pertobatan hati yang benar-benar, yang dapat menyembuhkan seseorang dari dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin).
Mari kita bersama-sama mohon rahmat Tuhan, agar kita diberikan kerendahan hati untuk menyadari dosa-dosa kita, sehingga kehidupan kita dapat terus bergantung pada rahmat Allah.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef - www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Leon,<br
/> Yang saya maksud dalam point 6 di atas adalah bagaimana untuk menyembuhkan beberapa tingkatan dosa, yang dianalogikan seperti Yesus membangkitkan orang mati. Yesus dapat menyembuhkan beberapa tingkatan dosa manusia, seperti: 1) <strong>dosa yang terjadi di dalam hati</strong>, yang dilambangkan dengan Yesus membangkitkan anak Yairus, yang terjadi di dalam rumahnya, 2) <strong>dosa yang telah berbuah dalam perbuatan</strong>, yang dilambangkan dengan Yesus yang membangkitkan anak janda di pintu gerbang, 3) <strong>dosa yang terus-menerus dilakukan</strong>, sehingga menjadi suatu kebiasaan, yang dilambangkan dengan Yesus membangkitkan Lazarus. Dari contoh ini, kita melihat bahwa semakin kita lebih sensitif terhadap bahaya dosa, maka seseorang akan lebih cepat menyadari dosanya, bertobat, memperoleh pengampunan dari Allah. Kuncinya adalah, kita tidak ingin membiarkan suatu dosa yang bermula dari dalam hati, sampai menjadi suatu dosa yang membuahkan perbuatan, dan kemudian menjadi suatu kebiasaan. Kalau suatu dosa telah menjadi kebiasaan, maka dosa ini akan sulit untuk diatasi. Kita dapat melihat apa kebiasaan dosa kita dengan mengamati dosa yang terus-menerus kita akukan dalam Sakramen Tobat. Hanya rahmat Allah dan pertobatan hati yang benar-benar, yang dapat menyembuhkan seseorang dari dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin).<br
/> Mari kita bersama-sama mohon rahmat Tuhan, agar kita diberikan kerendahan hati untuk menyadari dosa-dosa kita, sehingga kehidupan kita dapat terus bergantung pada rahmat Allah.<br
/> Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Leon</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-6670</link> <dc:creator>Leon</dc:creator> <pubDate>Wed, 16 Sep 2009 12:52:15 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-6670</guid> <description>Shalom Bu ingrid/Pak Stef,Bisa tidak diperjelas lagi yang Tahap ke 6, saya tak mengerti.. maksud Yesus dari membangkitkan orang-orang itu sprti di atas dikatakan itu membangkitkan  manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Apakah maksudnya orang-orang yang mati itu telah berbuat dosa dalam kriteria-kriteria tsb?Salam damai Kristus,
Leon</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Bu ingrid/Pak Stef,</p><p>Bisa tidak diperjelas lagi yang Tahap ke 6, saya tak mengerti.. maksud Yesus dari membangkitkan orang-orang itu sprti di atas dikatakan itu membangkitkan  manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Apakah maksudnya orang-orang yang mati itu telah berbuat dosa dalam kriteria-kriteria tsb?</p><p>Salam damai Kristus,<br
/> Leon</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-6522</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Sat, 12 Sep 2009 17:20:28 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-6522</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Michel,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas tanggapannya tentang Yudas Iskariot. Berikut ini adalah tanggapan saya:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1) Seperti yang saya katakan di jawaban saya sebelumnya:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;a) Apa yang kita pikirkan memang dapat berasal dari Tuhan, dari setan, maupun dari diri sendiri. Namun, apa yang kita putuskan adalah melibatkan keputusan bebas dari kita sendiri. Oleh karena itu, memang sebuah dosa dapat dipengaruhi oleh setan, namun pada akhirnya yang membuat keputusan adalah kita sendiri. Dan kita percaya bahwa rahmat yang diberikan oleh Tuhan cukup untuk membuat kita hidup dalam kekudusan. Oleh karena itu, dosa yang kita perbuat adalah kesalahan kita dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, walaupun ada kondisi-kondisi yang mungkin mengarahkan kita untuk berbuat dosa.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;b) Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelum Yudas meninggal atau beberapa detik sebelum dia meninggal, apakah dia benar-benar mempunyai penyesalan sempurna atau tidak, yang menentukan apakah dia masuk ke Sorga atau neraka. Namun dari apa yang dikatakan oleh Yesus &quot;&lt;em&gt;Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan.&lt;strong&gt; Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan&lt;/strong&gt;.&lt;/em&gt;&quot; (Mt 26:24), maka akan sulit untuk berargumentasi bahwa Yudas ada di Sorga, walaupun kita juga tidak dapat menentukan secara pasti bahwa Yudas ada di neraka. Dari dasar ayat tersebut dan pengertian dosa menghujat Roh Kudus, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah dosa ringan. Dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah berat.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;c) Menyadari kesalahan memang merupakan benih pertobatan, seperti yang telah dikatakan oleh Michael. Dan ini adalah kerja dari Roh Kudus, yang menyadarkan orang akan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Namun, penyadaran kesalahan yang berakhir pada keputusasaan bukanlah kerja dari Roh Kudus, karena Roh Kudus menuntun seseorang kepada Kristus. Keputusasaan adalah kerja dari setan. Seseorang dapat saja menyesali perbuatannya karena akibat yang ditimbulkan, namun tidak membawa seseorang pada pertobatan yang benar. Bandingkan dengan pertobatan Petrus, yang menyangkal Yesus tiga kali, namun membawanya pada pertobatan yang benar. Bandingkan dengan cerita pertobatan anak yang hilang, yang menyesali dosanya dan akhirnya kembali ke rumah Bapa. Oleh karena itu, penyesalan yang berakhir pada keputusasaan, fokus utamanya adalah diri sendiri dan bukan Allah. Dalam pertobatan yang sempurna, fokus utamanya adalah Allah dan bukan diri sendiri. Jadi, menggunakan argumentasi Michael, maka &lt;strong&gt;Yudas yang membenci dosanya, telah membuat dosa baru yang lebih parah, yaitu dosa keputusasaan&lt;/strong&gt;. Inilah salah satu manifestasi dari dosa menghujat Roh Kudus, karena keputusasaan menolak kasih Kristus, yaitu dengan berfikir bahwa dosanya lebih besar daripada kasih Kristus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2) Kalau kita membandingkan dengan pertobatan dari penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus, maka berbeda dengan apa yang dialami oleh Yudas. Penjahat tersebut percaya akan belas kasih Allah, sehingga dia menaruh pengharapan besar akan belas kasih Allah. Sebaliknya, Yudas, yang menyesali dosanya, tidak berlanjut pada pertobatan yang benar. Kita harus yakin bahwa Tuhan memberikan rahmat yang cukup bagi semua orang untuk masuk dalam pertobatan yang benar. Tanpa berpegang pada kebenaran ini, maka kita akan menyalahkan setan, dan lebih parah lagi menyalahkan Tuhan. Sekali lagi, untuk menyatakan bahwa Allah &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;pasti&lt;/span&gt; mengampuni dosa Yudas adalah sebuah argumentasi yang perlu dipertanyakan. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa dosa Yudas pasti diampuni, kalau Yesus sendiri mengatakan &quot;&lt;em&gt;Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;celakalah&lt;/span&gt; orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan.&lt;strong&gt; Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan&lt;/strong&gt;.&lt;/em&gt;&quot; (Mt 26:24)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa menyadari kesalahan saja tidak cukup untuk mendapatkan pengampunan. Menyadari kesalahan adalah tahap awal dan tidaklah komplit dalam proses pertobatan. Pertobatan yang benar adalah seperti yang ditunjukkan oleh anak yang hilang. Silakan melihat artikel tentang hal ini di sini (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;). Dan rasul Paulus menegaskan &quot;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&quot; (2 Kor 7:10). Dan inilah yang dialami oleh Yudas, yaitu dukacita dari dunia ini yang menghasilkan kematian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga uraian di atas dapat membantu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Michel,</p><p>Terima kasih atas tanggapannya tentang Yudas Iskariot. Berikut ini adalah tanggapan saya:</p><p>1) Seperti yang saya katakan di jawaban saya sebelumnya:</p><p
style="padding-left: 40px;">a) Apa yang kita pikirkan memang dapat berasal dari Tuhan, dari setan, maupun dari diri sendiri. Namun, apa yang kita putuskan adalah melibatkan keputusan bebas dari kita sendiri. Oleh karena itu, memang sebuah dosa dapat dipengaruhi oleh setan, namun pada akhirnya yang membuat keputusan adalah kita sendiri. Dan kita percaya bahwa rahmat yang diberikan oleh Tuhan cukup untuk membuat kita hidup dalam kekudusan. Oleh karena itu, dosa yang kita perbuat adalah kesalahan kita dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, walaupun ada kondisi-kondisi yang mungkin mengarahkan kita untuk berbuat dosa.</p><p
style="padding-left: 40px;">b) Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelum Yudas meninggal atau beberapa detik sebelum dia meninggal, apakah dia benar-benar mempunyai penyesalan sempurna atau tidak, yang menentukan apakah dia masuk ke Sorga atau neraka. Namun dari apa yang dikatakan oleh Yesus &#8220;<em>Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan.<strong> Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan</strong>.</em>&#8221; (Mt 26:24), maka akan sulit untuk berargumentasi bahwa Yudas ada di Sorga, walaupun kita juga tidak dapat menentukan secara pasti bahwa Yudas ada di neraka. Dari dasar ayat tersebut dan pengertian dosa menghujat Roh Kudus, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah dosa ringan. Dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah berat.</p><p
style="padding-left: 40px;">c) Menyadari kesalahan memang merupakan benih pertobatan, seperti yang telah dikatakan oleh Michael. Dan ini adalah kerja dari Roh Kudus, yang menyadarkan orang akan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Namun, penyadaran kesalahan yang berakhir pada keputusasaan bukanlah kerja dari Roh Kudus, karena Roh Kudus menuntun seseorang kepada Kristus. Keputusasaan adalah kerja dari setan. Seseorang dapat saja menyesali perbuatannya karena akibat yang ditimbulkan, namun tidak membawa seseorang pada pertobatan yang benar. Bandingkan dengan pertobatan Petrus, yang menyangkal Yesus tiga kali, namun membawanya pada pertobatan yang benar. Bandingkan dengan cerita pertobatan anak yang hilang, yang menyesali dosanya dan akhirnya kembali ke rumah Bapa. Oleh karena itu, penyesalan yang berakhir pada keputusasaan, fokus utamanya adalah diri sendiri dan bukan Allah. Dalam pertobatan yang sempurna, fokus utamanya adalah Allah dan bukan diri sendiri. Jadi, menggunakan argumentasi Michael, maka <strong>Yudas yang membenci dosanya, telah membuat dosa baru yang lebih parah, yaitu dosa keputusasaan</strong>. Inilah salah satu manifestasi dari dosa menghujat Roh Kudus, karena keputusasaan menolak kasih Kristus, yaitu dengan berfikir bahwa dosanya lebih besar daripada kasih Kristus.</p><p>2) Kalau kita membandingkan dengan pertobatan dari penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus, maka berbeda dengan apa yang dialami oleh Yudas. Penjahat tersebut percaya akan belas kasih Allah, sehingga dia menaruh pengharapan besar akan belas kasih Allah. Sebaliknya, Yudas, yang menyesali dosanya, tidak berlanjut pada pertobatan yang benar. Kita harus yakin bahwa Tuhan memberikan rahmat yang cukup bagi semua orang untuk masuk dalam pertobatan yang benar. Tanpa berpegang pada kebenaran ini, maka kita akan menyalahkan setan, dan lebih parah lagi menyalahkan Tuhan. Sekali lagi, untuk menyatakan bahwa Allah <span
style="text-decoration: underline;">pasti</span> mengampuni dosa Yudas adalah sebuah argumentasi yang perlu dipertanyakan. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa dosa Yudas pasti diampuni, kalau Yesus sendiri mengatakan &#8220;<em>Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi <span
style="text-decoration: underline;">celakalah</span> orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan.<strong> Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan</strong>.</em>&#8221; (Mt 26:24)</p><p>Saya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa menyadari kesalahan saja tidak cukup untuk mendapatkan pengampunan. Menyadari kesalahan adalah tahap awal dan tidaklah komplit dalam proses pertobatan. Pertobatan yang benar adalah seperti yang ditunjukkan oleh anak yang hilang. Silakan melihat artikel tentang hal ini di sini (<a
href="http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/" rel="nofollow">silakan klik</a>). Dan rasul Paulus menegaskan &#8220;<span
style="text-decoration: underline;"><strong><em>Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.</em></strong></span>&#8221; (2 Kor 7:10). Dan inilah yang dialami oleh Yudas, yaitu dukacita dari dunia ini yang menghasilkan kematian.</p><p>Semoga uraian di atas dapat membantu.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/>stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-6520</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Sat, 12 Sep 2009 16:37:21 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-6520</guid> <description>Shalom Michael,
Terima kasih atas keterbukaan Michael dalam menerima ajaran Humanae Vitae. Menjadi tantangan bagi semua pasangan Katolik untuk benar-benar dapat menerapkan apa yang diajarkan oleh Gereja, sehingga perkawinan dapat benar-benar menguduskan satu sama lain dan pasangan juga dapat menjadi rekan sekerja Allah.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef - www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Michael,<br
/> Terima kasih atas keterbukaan Michael dalam menerima ajaran Humanae Vitae. Menjadi tantangan bagi semua pasangan Katolik untuk benar-benar dapat menerapkan apa yang diajarkan oleh Gereja, sehingga perkawinan dapat benar-benar menguduskan satu sama lain dan pasangan juga dapat menjadi rekan sekerja Allah.<br
/> Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-6519</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Sat, 12 Sep 2009 16:34:13 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-6519</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Michael,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas tanggapannya tentang Yudas Iskariot. Michael melihat bahwa pernyataan saya &#8220;&lt;i&gt;&#8230;&#8230;..namun dia berfikir bahwa dosanya lebih besar daripada kasih Allah&lt;/i&gt;&#8221; adalah tidak tepat. Dan kemudian Michael memberikan tanggapan &quot;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 128);&quot; mce_style=&quot;color: #000080;&quot;&gt;Itu kan pikiran Yudas saja&#8230;.belum tentu pikirannya benar&#8230;karena setan bisa membuat orang merasa bersalah walaupun pada kenyataannya ia tidak berbuat dosa atau dosanya sudah diampuni OLEH Tuhan jika ia tidak memahami secara mendalam Belas Kasih Tuhan kepada orang berdosa&#8230;..Dan kita tidak bisa men-just bersalah sepenuhnya kepada Yudas atas ketidak-pahamnya akan Misteri Kasih Allah itu. Bukan berarti Yudas tidak berdosa akan tindakan gantung diri itu&#8230;tetap Yudas berdosa tetapi dosanya relatif ringan&#8230;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&quot;&#160;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;a) Apa yang kita pikirkan memang dapat berasal dari Tuhan, dari setan, maupun dari diri sendiri. Namun, apa yang kita putuskan adalah melibatkan keputusan bebas dari kita sendiri. Oleh karena itu, memang sebuah dosa dapat dipengaruhi oleh setan, namun pada akhirnya yang membuat keputusan adalah kita sendiri. Dan kita percaya bahwa rahmat yang diberikan oleh Tuhan cukup untuk membuat kita hidup dalam kekudusan. Oleh karena itu, dosa yang kita perbuat adalah kesalahan kita dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, walaupun ada kondisi-kondisi yang mungkin mengarahkan kita untuk berbuat dosa.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;b) Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelum Yudas meninggal atau beberapa detik sebelum dia meninggal, apakah dia benar-benar mempunyai penyesalan sempurna atau tidak, yang menentukan apakah dia masuk ke Sorga atau neraka. Namun dari apa yang dikatakan oleh Yesus &quot;&lt;em&gt;Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan.&lt;strong&gt; Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan&lt;/strong&gt;.&lt;/em&gt;&quot; (Mt 26:24), maka akan sulit untuk berargumentasi bahwa Yudas ada di Sorga, walaupun kita juga tidak dapat menentukan secara pasti bahwa Yudas ada di neraka. Dari dasar ayat tersebut dan pengertian dosa menghujat Roh Kudus, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah dosa ringan. Dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah berat.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;&quot;&gt;Semoga keterangan tambahan ini dapat memperjelas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br&gt;
stef - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Michael,</p><p>Terima kasih atas tanggapannya tentang Yudas Iskariot. Michael melihat bahwa pernyataan saya &ldquo;<i>&hellip;&hellip;..namun dia berfikir bahwa dosanya lebih besar daripada kasih Allah</i>&rdquo; adalah tidak tepat. Dan kemudian Michael memberikan tanggapan &quot;<i><span
style="color: rgb(0, 0, 128);" mce_style="color: #000080;">Itu kan pikiran Yudas saja&hellip;.belum tentu pikirannya benar&hellip;karena setan bisa membuat orang merasa bersalah walaupun pada kenyataannya ia tidak berbuat dosa atau dosanya sudah diampuni OLEH Tuhan jika ia tidak memahami secara mendalam Belas Kasih Tuhan kepada orang berdosa&hellip;..Dan kita tidak bisa men-just bersalah sepenuhnya kepada Yudas atas ketidak-pahamnya akan Misteri Kasih Allah itu. Bukan berarti Yudas tidak berdosa akan tindakan gantung diri itu&hellip;tetap Yudas berdosa tetapi dosanya relatif ringan&hellip;.</span></i>&quot;&nbsp;</p><p
style="padding-left: 40px;">a) Apa yang kita pikirkan memang dapat berasal dari Tuhan, dari setan, maupun dari diri sendiri. Namun, apa yang kita putuskan adalah melibatkan keputusan bebas dari kita sendiri. Oleh karena itu, memang sebuah dosa dapat dipengaruhi oleh setan, namun pada akhirnya yang membuat keputusan adalah kita sendiri. Dan kita percaya bahwa rahmat yang diberikan oleh Tuhan cukup untuk membuat kita hidup dalam kekudusan. Oleh karena itu, dosa yang kita perbuat adalah kesalahan kita dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, walaupun ada kondisi-kondisi yang mungkin mengarahkan kita untuk berbuat dosa.</p><p
style="padding-left: 40px;">b) Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelum Yudas meninggal atau beberapa detik sebelum dia meninggal, apakah dia benar-benar mempunyai penyesalan sempurna atau tidak, yang menentukan apakah dia masuk ke Sorga atau neraka. Namun dari apa yang dikatakan oleh Yesus &quot;<em>Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan.<strong> Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan</strong>.</em>&quot; (Mt 26:24), maka akan sulit untuk berargumentasi bahwa Yudas ada di Sorga, walaupun kita juga tidak dapat menentukan secara pasti bahwa Yudas ada di neraka. Dari dasar ayat tersebut dan pengertian dosa menghujat Roh Kudus, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah dosa ringan. Dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah berat.</p><p
style="">Semoga keterangan tambahan ini dapat memperjelas.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-6492</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Sat, 12 Sep 2009 01:54:23 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-6492</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Michael Angello,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas tanggapannya tentang &quot;kebenaran&quot;. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus mengetahui definisi kebenaran. Kebenaran dapat didefinisikan sebagai persetujuan apa yang yang ada di dalam pikiran dengan kenyataan. Sebagai contoh: adalah benar, kalau kita berfikir bahwa balon merah, dan kenyataannya memang kita melihat balon tersebut berwarna merah. Kalau kita berfikir bahwa balon itu biru, maka kita tidak mempunyai kebenaran, karena apa yang kita pikirkan berbeda dengan apa yang terjadi. Untuk mengatakan bahwa semua orang dapat mempunyai kebenaran, walaupun berfikir dan berkata bahwa balon tersebut hijau, putih, kuning, dll., adalah mendefinisikan kebenaran sebagai sesuatu yang bersifat relatif.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kebenaran lebih tinggi dari kita sendiri, karena kebenaran adalah tetap. Kebenaran tidak perduli kita  setuju atau tidak setuju dengan kebenaran tersebut. Sebagai umat Katolik, kita percaya apa yang dikatakan oleh Kristus, bahwa Kebenaran adalah Kristus sendiri (lih. Yoh 16:6). Dan kebenaran ini akan membebaskan (lih. Yoh 8:32). Dan akhirnya, kita juga harus percaya bahwa Gereja Katolik adalah tiang, penopang, dan dasar kebenaran (lih. 1 Ti 3:15). Kalau Gereja sebagai tiang, penopang, dan dasar kebenaran, maka kita tidak dapat memilih-milih doktrin dan dogma yang diajarkan oleh Gereja. Kalau kita memilih-milih doktrin dan dogma sesuai dengan pemikiran kita, maka kita tidak mempunyai iman yang supernatural, karena iman kita bergantung pada pemikiran kita sendiri. Tentu saja untuk menerapkan kebenaran, kita juga harus melihat budaya, dan juga harus sensitif terhadap orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, kita harus mohon kepada Tuhan agar diberi karunia kebijaksanaan (dalam hal ini &lt;em&gt;prudence&lt;/em&gt;), sehingga kita dapat menerapkan kebenaran dengan bijaksana, sehingga pada akhirnya orang-orang dapat melihat dan menemukan Kebenaran, yaitu Kristus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mari kita melihat contoh yang dikemukakan oleh Michael, yaitu bahwa Gereja Katolik melarang umatnya untuk menggunakan kontrasepsi. Untuk menjawab pertanyaan ini, silakan membaca artikel &quot;Humanae Vitae itu benar&quot; (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;). Dan setelah membaca hal tersebut, maka kita dapat mendiskusikannya lebih lanjut. Namun intinya adalah Gereja ingin agar kita harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah, bukan Allah yang mengikuti kemauan kita.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;a) Untuk mengatakan bahwa penduduk dunia telah terlalu banyak adalah informasi yang salah. Sebagai gambaran, seluruh penduduk dunia dapat ditempatkan di Texas - USA. Luas Texas adalah 696,241 km2 dan penduduk dunia adalah 6,7 milyar. Jadi kalau seluruh penduduk dunia ditempatkan di Texas, maka setiap orang mendapatkan lebih dari 100 m2. Kalau dalam keluarga ada empat anggota, maka keluarga tersebut menempati rumah sebesar 400 m2, yang berarti, cukup luas - sekitar 15 m x 27 m. Bandingkan dengan perumahan sederhana di Indonesia yang jauh lebih kecil.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;b) Untuk mengatakan bahwa tidak tersedia makanan bagi manusia di seluruh dunia adalah tidak benar. Kemiskinan disebabkan karena dosa ketamakan. Kalau saja yang kaya mau berbagi kepada yang miskin, sebenarnya tidak ada kemiskinan di dunia ini.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;c) Cobalah untuk melihat data kelahiran penduduk. Lebih dari 70 negara (data tahun 2007) mempunyai tingkat kelahiran penduduk kurang dari 2, seperti: Singapore: 1.07; Jepang: 1.23; Kanada: 1.61. Dan tanpa imigran, maka negara-negara tersebut penduduknya akan terus berkurang dan pada akhirnya akan mengalami permasalahan besar. Tingkat kelahiran seluruh dunia adalah 2.59 di tahun 2007, menurun dibandingkan 2.8 di tahun 2002, dan 5.0 di tahun 1965. Coba juga untuk melihat bahwa yang tidak mau memakai kontrasepsi bukan hanya orang-orang miskin, namun juga orang-orang kaya. Coba bandingkan berapa anak dalam keluarga di desa dan keluarga di kota yang lebih kaya. Coba bandingkan dengan Singapore yang mempunyai tingkat kelahiran penduduk 1.07, sehingga pemerintah Singapore memberikan banyak kemudahan kepada pasangan yang mempunyai anak. Kalau tingkat kelahiran ini terus menurun, maka negara-negara tersebut akan menghadapi bahaya yang besar.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;d) Kalau begitu, bagaimana tanggapan Gereja Katolik? Gereja Katolik memberikan jalan keluar, yaitu dengan KB alamiah. KB alamiah ini adalah sebagai bentuk kebijaksanaan di dalam pelaksanaan tanpa mengorbankan kebenaran, sehingga manusia menjadi rekan sekerja Tuhan yang sebenarnya. Dengan memakai kontrasepsi, manusia menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan mendepak Tuhan dalam proses penciptaan manusia baru. Apakah ini yang disebut sebagai rekan sekerja?&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;padding-left: 40px;&quot;&gt;e) Kalau kita mau menjadi rekan sekerja Allah yang benar-benar, pakailah metode KB alamiah dan bukan memakai kondom atau alat kontrasepsi lainnya, sehingga manusia tetap terbuka terhadap kelahiran dan pada saat yang bersamaan bertanggungjawab terhadap kehidupannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga uraian di atas dapat membantu. Mari kita benar-benar menjadi rekan sekerja Allah (lih. 1 Kor 3:9) dalam hal apapun.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Michael Angello,</p><p>Terima kasih atas tanggapannya tentang &#8220;kebenaran&#8221;. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus mengetahui definisi kebenaran. Kebenaran dapat didefinisikan sebagai persetujuan apa yang yang ada di dalam pikiran dengan kenyataan. Sebagai contoh: adalah benar, kalau kita berfikir bahwa balon merah, dan kenyataannya memang kita melihat balon tersebut berwarna merah. Kalau kita berfikir bahwa balon itu biru, maka kita tidak mempunyai kebenaran, karena apa yang kita pikirkan berbeda dengan apa yang terjadi. Untuk mengatakan bahwa semua orang dapat mempunyai kebenaran, walaupun berfikir dan berkata bahwa balon tersebut hijau, putih, kuning, dll., adalah mendefinisikan kebenaran sebagai sesuatu yang bersifat relatif.</p><p>Kebenaran lebih tinggi dari kita sendiri, karena kebenaran adalah tetap. Kebenaran tidak perduli kita  setuju atau tidak setuju dengan kebenaran tersebut. Sebagai umat Katolik, kita percaya apa yang dikatakan oleh Kristus, bahwa Kebenaran adalah Kristus sendiri (lih. Yoh 16:6). Dan kebenaran ini akan membebaskan (lih. Yoh 8:32). Dan akhirnya, kita juga harus percaya bahwa Gereja Katolik adalah tiang, penopang, dan dasar kebenaran (lih. 1 Ti 3:15). Kalau Gereja sebagai tiang, penopang, dan dasar kebenaran, maka kita tidak dapat memilih-milih doktrin dan dogma yang diajarkan oleh Gereja. Kalau kita memilih-milih doktrin dan dogma sesuai dengan pemikiran kita, maka kita tidak mempunyai iman yang supernatural, karena iman kita bergantung pada pemikiran kita sendiri. Tentu saja untuk menerapkan kebenaran, kita juga harus melihat budaya, dan juga harus sensitif terhadap orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, kita harus mohon kepada Tuhan agar diberi karunia kebijaksanaan (dalam hal ini <em>prudence</em>), sehingga kita dapat menerapkan kebenaran dengan bijaksana, sehingga pada akhirnya orang-orang dapat melihat dan menemukan Kebenaran, yaitu Kristus.</p><p>Mari kita melihat contoh yang dikemukakan oleh Michael, yaitu bahwa Gereja Katolik melarang umatnya untuk menggunakan kontrasepsi. Untuk menjawab pertanyaan ini, silakan membaca artikel &#8220;Humanae Vitae itu benar&#8221; (<a
href="http://katolisitas.org/2008/08/31/humanae-vitae-itu-benar/" rel="nofollow">silakan klik</a>). Dan setelah membaca hal tersebut, maka kita dapat mendiskusikannya lebih lanjut. Namun intinya adalah Gereja ingin agar kita harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah, bukan Allah yang mengikuti kemauan kita.</p><p
style="padding-left: 40px;">a) Untuk mengatakan bahwa penduduk dunia telah terlalu banyak adalah informasi yang salah. Sebagai gambaran, seluruh penduduk dunia dapat ditempatkan di Texas &#8211; USA. Luas Texas adalah 696,241 km2 dan penduduk dunia adalah 6,7 milyar. Jadi kalau seluruh penduduk dunia ditempatkan di Texas, maka setiap orang mendapatkan lebih dari 100 m2. Kalau dalam keluarga ada empat anggota, maka keluarga tersebut menempati rumah sebesar 400 m2, yang berarti, cukup luas &#8211; sekitar 15 m x 27 m. Bandingkan dengan perumahan sederhana di Indonesia yang jauh lebih kecil.</p><p
style="padding-left: 40px;">b) Untuk mengatakan bahwa tidak tersedia makanan bagi manusia di seluruh dunia adalah tidak benar. Kemiskinan disebabkan karena dosa ketamakan. Kalau saja yang kaya mau berbagi kepada yang miskin, sebenarnya tidak ada kemiskinan di dunia ini.</p><p
style="padding-left: 40px;">c) Cobalah untuk melihat data kelahiran penduduk. Lebih dari 70 negara (data tahun 2007) mempunyai tingkat kelahiran penduduk kurang dari 2, seperti: Singapore: 1.07; Jepang: 1.23; Kanada: 1.61. Dan tanpa imigran, maka negara-negara tersebut penduduknya akan terus berkurang dan pada akhirnya akan mengalami permasalahan besar. Tingkat kelahiran seluruh dunia adalah 2.59 di tahun 2007, menurun dibandingkan 2.8 di tahun 2002, dan 5.0 di tahun 1965. Coba juga untuk melihat bahwa yang tidak mau memakai kontrasepsi bukan hanya orang-orang miskin, namun juga orang-orang kaya. Coba bandingkan berapa anak dalam keluarga di desa dan keluarga di kota yang lebih kaya. Coba bandingkan dengan Singapore yang mempunyai tingkat kelahiran penduduk 1.07, sehingga pemerintah Singapore memberikan banyak kemudahan kepada pasangan yang mempunyai anak. Kalau tingkat kelahiran ini terus menurun, maka negara-negara tersebut akan menghadapi bahaya yang besar.</p><p
style="padding-left: 40px;">d) Kalau begitu, bagaimana tanggapan Gereja Katolik? Gereja Katolik memberikan jalan keluar, yaitu dengan KB alamiah. KB alamiah ini adalah sebagai bentuk kebijaksanaan di dalam pelaksanaan tanpa mengorbankan kebenaran, sehingga manusia menjadi rekan sekerja Tuhan yang sebenarnya. Dengan memakai kontrasepsi, manusia menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan mendepak Tuhan dalam proses penciptaan manusia baru. Apakah ini yang disebut sebagai rekan sekerja?</p><p
style="padding-left: 40px;">e) Kalau kita mau menjadi rekan sekerja Allah yang benar-benar, pakailah metode KB alamiah dan bukan memakai kondom atau alat kontrasepsi lainnya, sehingga manusia tetap terbuka terhadap kelahiran dan pada saat yang bersamaan bertanggungjawab terhadap kehidupannya.</p><p>Semoga uraian di atas dapat membantu. Mari kita benar-benar menjadi rekan sekerja Allah (lih. 1 Kor 3:9) dalam hal apapun.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/>stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-6361</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Tue, 08 Sep 2009 15:21:27 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-6361</guid> <description>Shalom Michael,
Terima kasih atas dukungannya untuk katolisitas.org. Komentar Michael tentang Yudas Iskariot bukan dihapus, namun belum ditampilkan, karena saya belum sempat menjawab. Ada begitu banyak pertanyaan yang masuk, sehingga saya harus menjawab pertanyaan yang datang sebelum pertanyaan dan komentar Michael. Jadi, mohon kesabarannya ya. Mohon doanya agar ingrid dan saya dapat menulis dan menjawab pertanyaan dengan baik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef - www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Michael,<br
/> Terima kasih atas dukungannya untuk katolisitas.org. Komentar Michael tentang Yudas Iskariot bukan dihapus, namun belum ditampilkan, karena saya belum sempat menjawab. Ada begitu banyak pertanyaan yang masuk, sehingga saya harus menjawab pertanyaan yang datang sebelum pertanyaan dan komentar Michael. Jadi, mohon kesabarannya ya. Mohon doanya agar ingrid dan saya dapat menulis dan menjawab pertanyaan dengan baik.<br
/> Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Michael Angello</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/comment-page-1/#comment-6359</link> <dc:creator>Michael Angello</dc:creator> <pubDate>Tue, 08 Sep 2009 14:39:35 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=218#comment-6359</guid> <description>Syalom........Terima Kasih Pak.SteV atas jawabannya....Jawabannya sangat jelas dan spesifik.....juga membantu saya menghayati iman saya kepada Yesus KristusTapi saya mau tanya, kenapa ya komentar saya terhadap terhadap tulisan Pak.Stev tentang Yudas Iskariot dihapus ya???? Trima Kasih....Tuhan memberkati Web Katolisitas ini....Amin...Amin...Amin.......</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Syalom&#8230;&#8230;..</p><p>Terima Kasih Pak.SteV atas jawabannya&#8230;.</p><p>Jawabannya sangat jelas dan spesifik&#8230;..juga membantu saya menghayati iman saya kepada Yesus Kristus</p><p>Tapi saya mau tanya, kenapa ya komentar saya terhadap terhadap tulisan Pak.Stev tentang Yudas Iskariot dihapus ya???? Trima Kasih&#8230;.</p><p>Tuhan memberkati Web Katolisitas ini&#8230;.Amin&#8230;Amin&#8230;Amin&#8230;&#8230;.</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 38/78 queries in 0.060 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-07-30 16:12:09 -->