<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 4 &#8211; Selesai)</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 03:06:08 +0700</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: endro wibowo</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-14161</link> <dc:creator>endro wibowo</dc:creator> <pubDate>Tue, 20 Apr 2010 05:11:54 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-14161</guid> <description>sekedar ingin share pengalaman yang baru saja saya alami.Kemarin keluarga saya merayakan ulang tahun keponakan saya yang ke 2. banyak diantara kami memberikan kado, lalu di akhir acara, kami buka kadonya bersama-sama.. teryanta banyak diantaranya berisi baju-baju cantik, sepatu, dan sandal cantik.. kami yang dewasa senang karena keponakan kami akan terlihat cantik setiap hari, tapi keponakan kami yang masih berusia 2 tahun itu tampaknya cuek-cuek saja dan bahkan tidak menggubrisnya. lalu pada suatu obrolan, ibunya mengatakan: &quot;kayla suka diberi mainan gambar upin-ipin yang dari kertas itu lho..&quot;. yah, ada sedikit rasa kecewa kami karena sudah dibelikan dengan harga yang cukup mahal tapi anak tersebut tidak menyukainya. tapi dipihak lain ibunya justru senang sekali melihat kado-kado yang diberikan sodara-sodaranya. karena dia tau bahwa itu lebih berguna dan lebih berharga.dari sisi lain, saya melihat kejadian tersebut mungkin bisa menjadi analogi tentang perasaan Tuhan ketika memberi anak kesanyangannya dengan hal-hal yang terbaik, namun manusia (seperti anak dimata Tuhan) yang penuh keterbatasan kesombongan tidak percaya Ke -MAHA kasih-an dan ke MAHA tahu-anTuhan mengeluh dan menuntut.pertanyaannya : sejak kapan manusia tahu akan apa yang sesungguhnya dibutuhkannya, sementara detik berikutnyapun kita tidak pernah mengetahuai apa yang akan terjadi?Maka dari itu Tuhan mengajak kita untuk percaya dan meng-imaniNya, karena Dia sungguh mengasihi kita. aminsalam damai kasih Tuhan
Tuhan beserta Kita, Selalu!</description> <content:encoded><![CDATA[<p>sekedar ingin share pengalaman yang baru saja saya alami.</p><p>Kemarin keluarga saya merayakan ulang tahun keponakan saya yang ke 2. banyak diantara kami memberikan kado, lalu di akhir acara, kami buka kadonya bersama-sama.. teryanta banyak diantaranya berisi baju-baju cantik, sepatu, dan sandal cantik.. kami yang dewasa senang karena keponakan kami akan terlihat cantik setiap hari, tapi keponakan kami yang masih berusia 2 tahun itu tampaknya cuek-cuek saja dan bahkan tidak menggubrisnya. lalu pada suatu obrolan, ibunya mengatakan: &#8220;kayla suka diberi mainan gambar upin-ipin yang dari kertas itu lho..&#8221;. yah, ada sedikit rasa kecewa kami karena sudah dibelikan dengan harga yang cukup mahal tapi anak tersebut tidak menyukainya. tapi dipihak lain ibunya justru senang sekali melihat kado-kado yang diberikan sodara-sodaranya. karena dia tau bahwa itu lebih berguna dan lebih berharga.</p><p>dari sisi lain, saya melihat kejadian tersebut mungkin bisa menjadi analogi tentang perasaan Tuhan ketika memberi anak kesanyangannya dengan hal-hal yang terbaik, namun manusia (seperti anak dimata Tuhan) yang penuh keterbatasan kesombongan tidak percaya Ke -MAHA kasih-an dan ke MAHA tahu-anTuhan mengeluh dan menuntut.</p><p>pertanyaannya : sejak kapan manusia tahu akan apa yang sesungguhnya dibutuhkannya, sementara detik berikutnyapun kita tidak pernah mengetahuai apa yang akan terjadi?</p><p>Maka dari itu Tuhan mengajak kita untuk percaya dan meng-imaniNya, karena Dia sungguh mengasihi kita. amin</p><p>salam damai kasih Tuhan<br
/> Tuhan beserta Kita, Selalu!</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-3392</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Thu, 28 May 2009 01:05:21 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-3392</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Sammy, &lt;br&gt;
1) Tentang contoh isi doa yang baik, sebenarnya sudah kita dapatkan dari Tuhan Yesus sendiri, yaitu doa Bapa Kami. Sayangnya sering karena kita menghafal teksnya begitu rupa, sering kita kurang menghayati maksudnya. Dalam doa Bapa Kami tersebut, terdapat beberapa bagian prinsip yaitu: pujian, penyembahan dan penyerahan diri kepada Tuhan, permohonan ampun, dan permohonan rejeki/ kebutuhan kita. Secara lebih mendetail, memang kami merencanakan akan menuliskan artikel secara khusus tentang doa ini. Harap bersabar ya. &lt;br&gt;
2) Doa Rosario yang tidak dilandasi iman memang bisa hanya merupakan pengulangan kata-kata, tanpa dapat mengangkat hati. Mungkin inilah yang dimaksud dengan &#039;rentetan kata-kata kosong&#039;. Oleh sebab itu, memang doa Rosario sebaiknya dibarengi dengan permenungan akan Peristiwa kehidupan Yesus, yaitu peristiwa Gembira, peristiwa Sedih, peristiwa Terang, dan peristiwa Mulia. Hal ini juga akan kami tuliskan terpisah dalam artikel. &lt;br&gt;
Iman yang baik, menurut pengajaran Vatikan II dalam dokumennya, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Dei Verbum&lt;/span&gt; 5, adalah yang menggambarkan ketaatan penuh kepada Tuhan: &quot;Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan &#8220;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;ketaatan iman&lt;/span&gt;&#8221; (Rom16:26 ; lih. Rom1:5 ; 2Cor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah&lt;/span&gt;, dengan mempersembahkan &#8220;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah&lt;/span&gt; yang mewahyukan&#8221;&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/konstitusi-dei-verbum/#_edn4&quot; name=&quot;_ednref4&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;[4]&lt;/a&gt;, dan dengan secara sukarela &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya.&lt;/span&gt; Supaya orang dapat beriman seperti itu, &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong&lt;/span&gt;, pun juga &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;bantuan batin Roh Kudus&lt;/span&gt;, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan &#8220;pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran&#8221;&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/konstitusi-dei-verbum/#_edn5&quot; name=&quot;_ednref5&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;[5]&lt;/a&gt;. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.&lt;br&gt;
Dengan demikian untuk berkembang lebih baik di dalam iman, &lt;strong&gt;kita harus mengenal dan mempelajari iman kita dengan lebih baik&lt;/strong&gt;, supaya kita dapat memahaminya, dan kita dapat menyerahkan akal budi dan kehendak kita kepada Allah, dan kemudian hidup seturut dengan apa yang kita imani tersebut. Selanjutnya, jangan lupa bahwa kita membutuhkan rahmat Allah, dan bantuan Roh Kudus, sehingga &lt;strong&gt;kita perlu berakar dalam doa dan sakramen&lt;/strong&gt;, agar dapat menerima rahmat Allah tersebut.&lt;br&gt;
3) Cara doa yang baik sebenarnya sederhana, namun tantangannya adalah &lt;strong&gt;bagaimana agar kita setia melaksanakannya&lt;/strong&gt;. Hal ini juga akan kami bahas dalam artikel doa. Namun pada prinsipnya:&lt;br&gt;
- Jika memungkinkan, &lt;strong&gt;sediakanlah tempat khusus untuk berdoa&lt;/strong&gt;, walaupun &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;jangan&lt;/span&gt; dijadikan sesuatu yang mengikat (artinya kalau tidak ada di situ, maka tidak bisa berdoa). Namun jika anda dapat menyediakan suatu ruangan datau pojok ruangan untuk berdoa, lakukanlah itu. Taruhlah gambar/ foto Yesus, Alkitab, dan jika memungkinkan tempat berlutut/ bersila.&lt;br&gt;
- Carilah &lt;strong&gt;waktu yang khusus untuk berdoa&lt;/strong&gt;, jangan terburu-buru. Usahakan agar kita setia dengan waktu ini, yang kita persembahkan kepada Tuhan.&lt;br&gt;
- Mulailah dengan &lt;strong&gt;menenangkan hati dan pikiran&lt;/strong&gt;, resapkanlah bahwa kita masuk dalam hadirat Tuhan.&lt;br&gt;
- &lt;strong&gt;Periksalah batin&lt;/strong&gt; kita, jika kita teringat akan suatu dosa tertentu yang kita perbuat hari itu, &lt;strong&gt;mohon ampunlah&lt;/strong&gt; kepada Tuhan.&lt;br&gt;
- Anda dapat memulai dengan doa vokal ataupun meditasi, namun yang terpenting bayangkanlah bahwa &lt;strong&gt;kita sedang berada di hadapan Allah yang Maha Besar namun yang sangat mengasihi kita&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;Pujilah dan sembahlah Dia.&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;
- Jika dengan meditasi, arahkanlah segenap hati dan pikiran untuk merenungkan kasih Allah,&#160; perbuatan Allah yang tertentu bagi kita. Kita dapat juga memulai meditasi ini dengan &lt;strong&gt;membaca dan merenungkan Alkitab&lt;/strong&gt;, yang dilanjutkan dengan doa rosario sambil merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus.&lt;br&gt;
- Kita dapat juga &lt;strong&gt;dalam keheningan&lt;/strong&gt; merasakan kasih Allah dan menyembah-Nya.&lt;br&gt;
- Tutuplah doa dengan &lt;strong&gt;ucapan syukur, niat yang tulus&lt;/strong&gt; untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah/ Sabda Allah yang baru saja kita renungkan, dan juga &lt;strong&gt;permohonan&lt;/strong&gt; yang lain.&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Jika sampai kita tak bisa berkonsentrasi, kita dapat menarik nafas panjang, dan kembali bayangkanlah kehadiran Tuhan di hadapan kita. Jika sampai mengantuk, kita mohon ampun pada Tuhan, dan untuk selanjutnya carilah waktu yang lebih tepat untuk berdoa sehingga kita tidak mengantuk. Ada pula yang terbantu dengan mendengarkan lagu instrumen/ musik rohani selagi berdoa, supaya tidak mengantuk. Namun jika kita berdoa pada waktu yang tepat (tidak terlalu malam), dan jika sungguh meresapkan kehadiran Tuhan, besar kemungkinan kita tidak mengantuk. Semoga tips di atas dapat membantu, ya.&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br&gt;
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Sammy, <br
/> 1) Tentang contoh isi doa yang baik, sebenarnya sudah kita dapatkan dari Tuhan Yesus sendiri, yaitu doa Bapa Kami. Sayangnya sering karena kita menghafal teksnya begitu rupa, sering kita kurang menghayati maksudnya. Dalam doa Bapa Kami tersebut, terdapat beberapa bagian prinsip yaitu: pujian, penyembahan dan penyerahan diri kepada Tuhan, permohonan ampun, dan permohonan rejeki/ kebutuhan kita. Secara lebih mendetail, memang kami merencanakan akan menuliskan artikel secara khusus tentang doa ini. Harap bersabar ya. <br
/> 2) Doa Rosario yang tidak dilandasi iman memang bisa hanya merupakan pengulangan kata-kata, tanpa dapat mengangkat hati. Mungkin inilah yang dimaksud dengan &#8216;rentetan kata-kata kosong&#8217;. Oleh sebab itu, memang doa Rosario sebaiknya dibarengi dengan permenungan akan Peristiwa kehidupan Yesus, yaitu peristiwa Gembira, peristiwa Sedih, peristiwa Terang, dan peristiwa Mulia. Hal ini juga akan kami tuliskan terpisah dalam artikel. <br
/> Iman yang baik, menurut pengajaran Vatikan II dalam dokumennya, <span
style="font-style: italic;">Dei Verbum</span> 5, adalah yang menggambarkan ketaatan penuh kepada Tuhan: &quot;Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan &ldquo;<span
style="font-weight: bold;">ketaatan iman</span>&rdquo; (Rom16:26 ; lih. Rom1:5 ; 2Cor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas <span
style="font-weight: bold;">menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah</span>, dengan mempersembahkan &ldquo;<span
style="font-weight: bold;">kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah</span> yang mewahyukan&rdquo;<a
href="http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/konstitusi-dei-verbum/#_edn4" name="_ednref4" rel="nofollow">[4]</a>, dan dengan secara sukarela <span
style="font-weight: bold;">menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya.</span> Supaya orang dapat beriman seperti itu, <span
style="font-weight: bold;">diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong</span>, pun juga <span
style="font-weight: bold;">bantuan batin Roh Kudus</span>, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan &ldquo;pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran&rdquo;<a
href="http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/konstitusi-dei-verbum/#_edn5" name="_ednref5" rel="nofollow">[5]</a>. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.<br
/> Dengan demikian untuk berkembang lebih baik di dalam iman, <strong>kita harus mengenal dan mempelajari iman kita dengan lebih baik</strong>, supaya kita dapat memahaminya, dan kita dapat menyerahkan akal budi dan kehendak kita kepada Allah, dan kemudian hidup seturut dengan apa yang kita imani tersebut. Selanjutnya, jangan lupa bahwa kita membutuhkan rahmat Allah, dan bantuan Roh Kudus, sehingga <strong>kita perlu berakar dalam doa dan sakramen</strong>, agar dapat menerima rahmat Allah tersebut.<br
/> 3) Cara doa yang baik sebenarnya sederhana, namun tantangannya adalah <strong>bagaimana agar kita setia melaksanakannya</strong>. Hal ini juga akan kami bahas dalam artikel doa. Namun pada prinsipnya:<br
/> - Jika memungkinkan, <strong>sediakanlah tempat khusus untuk berdoa</strong>, walaupun <span
style="text-decoration: underline;">jangan</span> dijadikan sesuatu yang mengikat (artinya kalau tidak ada di situ, maka tidak bisa berdoa). Namun jika anda dapat menyediakan suatu ruangan datau pojok ruangan untuk berdoa, lakukanlah itu. Taruhlah gambar/ foto Yesus, Alkitab, dan jika memungkinkan tempat berlutut/ bersila.<br
/> - Carilah <strong>waktu yang khusus untuk berdoa</strong>, jangan terburu-buru. Usahakan agar kita setia dengan waktu ini, yang kita persembahkan kepada Tuhan.<br
/> - Mulailah dengan <strong>menenangkan hati dan pikiran</strong>, resapkanlah bahwa kita masuk dalam hadirat Tuhan.<br
/> - <strong>Periksalah batin</strong> kita, jika kita teringat akan suatu dosa tertentu yang kita perbuat hari itu, <strong>mohon ampunlah</strong> kepada Tuhan.<br
/> - Anda dapat memulai dengan doa vokal ataupun meditasi, namun yang terpenting bayangkanlah bahwa <strong>kita sedang berada di hadapan Allah yang Maha Besar namun yang sangat mengasihi kita</strong>. <strong>Pujilah dan sembahlah Dia.</strong><br
/> - Jika dengan meditasi, arahkanlah segenap hati dan pikiran untuk merenungkan kasih Allah,&nbsp; perbuatan Allah yang tertentu bagi kita. Kita dapat juga memulai meditasi ini dengan <strong>membaca dan merenungkan Alkitab</strong>, yang dilanjutkan dengan doa rosario sambil merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus.<br
/> - Kita dapat juga <strong>dalam keheningan</strong> merasakan kasih Allah dan menyembah-Nya.<br
/> - Tutuplah doa dengan <strong>ucapan syukur, niat yang tulus</strong> untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah/ Sabda Allah yang baru saja kita renungkan, dan juga <strong>permohonan</strong> yang lain.</p><p>Jika sampai kita tak bisa berkonsentrasi, kita dapat menarik nafas panjang, dan kembali bayangkanlah kehadiran Tuhan di hadapan kita. Jika sampai mengantuk, kita mohon ampun pada Tuhan, dan untuk selanjutnya carilah waktu yang lebih tepat untuk berdoa sehingga kita tidak mengantuk. Ada pula yang terbantu dengan mendengarkan lagu instrumen/ musik rohani selagi berdoa, supaya tidak mengantuk. Namun jika kita berdoa pada waktu yang tepat (tidak terlalu malam), dan jika sungguh meresapkan kehadiran Tuhan, besar kemungkinan kita tidak mengantuk. Semoga tips di atas dapat membantu, ya.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Sammy</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-3251</link> <dc:creator>Sammy</dc:creator> <pubDate>Wed, 27 May 2009 17:52:46 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-3251</guid> <description>Hi..
Mau nanya nich, setelah baca artikel ini, aku jadi kebuka dalam banyak hal. Tp juga timbul suatu pertanyaan di dalam hati aku.
Yang kepingin aku tanyain :
1. Kalo begitu doa yg baik seharusnya berisi ttg apa ?
2. Dlm puji syukur, aku ada baca kalo doa rosario tidak dilandasi dengan iman akan menjadi rentetan kata2 kosong, apa maksud nya? Iman yang baik itu hrs seperti apa dan bagaimana membuat iman menjadi lebih baik ?
3.Bagaimana cara doa yg baik ? Karena kadang2 kita gak bisa konsentrasi 100% penuh, apakah itu salah ? Umpama misalnya terhenti karena batuk or maybe menguap karena mengantuk..Tolong dibantu ya..</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Hi..<br
/> Mau nanya nich, setelah baca artikel ini, aku jadi kebuka dalam banyak hal. Tp juga timbul suatu pertanyaan di dalam hati aku.<br
/> Yang kepingin aku tanyain :<br
/> 1. Kalo begitu doa yg baik seharusnya berisi ttg apa ?<br
/> 2. Dlm puji syukur, aku ada baca kalo doa rosario tidak dilandasi dengan iman akan menjadi rentetan kata2 kosong, apa maksud nya? Iman yang baik itu hrs seperti apa dan bagaimana membuat iman menjadi lebih baik ?<br
/> 3.Bagaimana cara doa yg baik ? Karena kadang2 kita gak bisa konsentrasi 100% penuh, apakah itu salah ? Umpama misalnya terhenti karena batuk or maybe menguap karena mengantuk..</p><p>Tolong dibantu ya..</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Bong Felix.H</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1608</link> <dc:creator>Bong Felix.H</dc:creator> <pubDate>Sun, 01 Feb 2009 15:11:05 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1608</guid> <description>Terima kasih atas penjelasannya.GBU</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih atas penjelasannya.GBU</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1600</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Sat, 31 Jan 2009 18:08:24 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1600</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Bong Felix, &lt;br /&gt;
Perayaan Tahun baru intinya adalah perayaan syukur. Jika kita lihat asal usul perayaan Imlek ini, maka kita ketahui bahwa perayaan ini adalah untuk menyambut musim semi. Maka tentunya disamping merayakan tahun baru 1 Januari,&#160; Gereja boleh saja merayakan tahun baru, yang berhubungan dengan kebudayaan Tioghoa ini, untuk menyambut musim semi/ tahun yang baru menurut budaya mereka. Sebab Gereja Katolik yang bersifat Universal terdiri dari bermacam bangsa, maka Gereja merangkul semua bangsa dan mengambil segala yang baik dari budaya bangsa-bangsa untuk diangkat dan disempurnakan di dalam Kristus Yesus, demi kemuliaan nama Tuhan. &lt;br /&gt;
Lumen Gentium 13 (Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Vatikan II) menyebutkan:&lt;br /&gt;
Jadi satu Umat Allah itu hidup ditengah segala bangsa dunia, warga Kerajaan yang tidak bersifat duniawi melainkan sorgawi. Sebab &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;semua orang beriman, yang tersebar diseluruh dunia, dalam Roh Kudus berhubungan dengan anggota-anggota lain&lt;/span&gt;. Demikianlah &#8220;dia yang tinggal di Roma mengakui orang-orang India sebagai saudaranya&#8221;&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/vatikan-ii-misteri-gereja/#_edn23&quot; name=&quot;_ednref23&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;[23]&lt;/a&gt;. Namun karena Kerajaan Kristus bukan dari dunia ini (lih. Yoh 18:36), maka Gereja dan Umat Allah, dengan membawa masuk Kerajaan itu, tidak mengurangi sedikitpun kesejahteraan materiil bangsa manapun juga. Malahan sebaliknya, &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Gereja memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan dan adat-istiadat bangsa-bangsa sejauh itu baik; tetapi dengan menampungnya juga memurnikan, menguatkan serta mengangkatnya&lt;/span&gt;. Sebab Gereja tetap ingat, bahwa harus ikut mengumpulkan bersama dengan Sang Raja, yang diserahi segala bangsa sebagai warisan (lih. Mzm 2:8), untuk mengantarkan persembahan dan upeti kedalam kota-Nya (lih. Mzm 71/72:10; Yes 60:4-7; Why 21:24). Sifat universal, yang menyemarakkan Umat Allah itu, merupakan kurnia Tuhan sendiri. Karenanya Gereja yang katolik secara tepat-guna dan tiada hentinya berusaha &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;merangkum segenap umat manusia beserta segala harta kekayaannya dibawah kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/vatikan-ii-misteri-gereja/#_edn24&quot; name=&quot;_ednref24&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;[24]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena bentuk ucapan syukur Gereja yang paling sempurna adalah perayaan Ekaristi, maka bagi yang merayakan Imlek tentu boleh dan bahkan tepat sekali untuk datang mengucap syukur kepada Tuhan dalam perayaan Ekaristi tersebut. Dalam misa, kita tidak berdoa kepada para leluhur, tetapi berdoa mengucap syukur kepada Tuhan. Kita dapat saja mendoakan para leluhur, memohon agar Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka, dan kita percayakan jiwa mereka kepada belas kasihan Tuhan. &lt;br /&gt;
Lalu tradisi seperti silaturahmi, memberi angpao dst, sebenarnya tidak bertentangan dengan ajaran Gereja, sepanjang itu tidak &#039;berlebihan&#039;. Dan memang bagi yang mampu, mungkin ini kesempatan untuk berderma kepada yang berkekurangan. Lalu mengenai dekorasi lampion merah, saya rasa juga tidak menjadi masalah, sebab itu hanyalah &#039;penampilan luar&#039; dari ucapan syukur. Yang terpenting adalah disposisi hati kita dalam mengikuti setiap perayaan Ekaristi/ doa syukur, sebab itulah yang pertama dilihat oleh Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat merayakan Tahun Baru Imlek, kepada Felix dan keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam kasih dari www.katolisitas,org&lt;br /&gt;
Ingrid Listiati&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Bong Felix, <br
/> Perayaan Tahun baru intinya adalah perayaan syukur. Jika kita lihat asal usul perayaan Imlek ini, maka kita ketahui bahwa perayaan ini adalah untuk menyambut musim semi. Maka tentunya disamping merayakan tahun baru 1 Januari,&nbsp; Gereja boleh saja merayakan tahun baru, yang berhubungan dengan kebudayaan Tioghoa ini, untuk menyambut musim semi/ tahun yang baru menurut budaya mereka. Sebab Gereja Katolik yang bersifat Universal terdiri dari bermacam bangsa, maka Gereja merangkul semua bangsa dan mengambil segala yang baik dari budaya bangsa-bangsa untuk diangkat dan disempurnakan di dalam Kristus Yesus, demi kemuliaan nama Tuhan. <br
/> Lumen Gentium 13 (Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Vatikan II) menyebutkan:<br
/> Jadi satu Umat Allah itu hidup ditengah segala bangsa dunia, warga Kerajaan yang tidak bersifat duniawi melainkan sorgawi. Sebab <span
style="font-weight: bold;">semua orang beriman, yang tersebar diseluruh dunia, dalam Roh Kudus berhubungan dengan anggota-anggota lain</span>. Demikianlah &ldquo;dia yang tinggal di Roma mengakui orang-orang India sebagai saudaranya&rdquo;<a
href="http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/vatikan-ii-misteri-gereja/#_edn23" name="_ednref23" rel="nofollow">[23]</a>. Namun karena Kerajaan Kristus bukan dari dunia ini (lih. Yoh 18:36), maka Gereja dan Umat Allah, dengan membawa masuk Kerajaan itu, tidak mengurangi sedikitpun kesejahteraan materiil bangsa manapun juga. Malahan sebaliknya, <span
style="font-weight: bold;">Gereja memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan dan adat-istiadat bangsa-bangsa sejauh itu baik; tetapi dengan menampungnya juga memurnikan, menguatkan serta mengangkatnya</span>. Sebab Gereja tetap ingat, bahwa harus ikut mengumpulkan bersama dengan Sang Raja, yang diserahi segala bangsa sebagai warisan (lih. Mzm 2:8), untuk mengantarkan persembahan dan upeti kedalam kota-Nya (lih. Mzm 71/72:10; Yes 60:4-7; Why 21:24). Sifat universal, yang menyemarakkan Umat Allah itu, merupakan kurnia Tuhan sendiri. Karenanya Gereja yang katolik secara tepat-guna dan tiada hentinya berusaha <span
style="font-weight: bold;">merangkum segenap umat manusia beserta segala harta kekayaannya dibawah kristus Kepala, dalam kesatuan Roh-Nya</span><a
href="http://katolisitas.org/dokumen-gereja/vatican-ii/vatikan-ii-misteri-gereja/#_edn24" name="_ednref24" rel="nofollow">[24]</a>.</p><p>Karena bentuk ucapan syukur Gereja yang paling sempurna adalah perayaan Ekaristi, maka bagi yang merayakan Imlek tentu boleh dan bahkan tepat sekali untuk datang mengucap syukur kepada Tuhan dalam perayaan Ekaristi tersebut. Dalam misa, kita tidak berdoa kepada para leluhur, tetapi berdoa mengucap syukur kepada Tuhan. Kita dapat saja mendoakan para leluhur, memohon agar Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka, dan kita percayakan jiwa mereka kepada belas kasihan Tuhan. <br
/> Lalu tradisi seperti silaturahmi, memberi angpao dst, sebenarnya tidak bertentangan dengan ajaran Gereja, sepanjang itu tidak &#8216;berlebihan&#8217;. Dan memang bagi yang mampu, mungkin ini kesempatan untuk berderma kepada yang berkekurangan. Lalu mengenai dekorasi lampion merah, saya rasa juga tidak menjadi masalah, sebab itu hanyalah &#8216;penampilan luar&#8217; dari ucapan syukur. Yang terpenting adalah disposisi hati kita dalam mengikuti setiap perayaan Ekaristi/ doa syukur, sebab itulah yang pertama dilihat oleh Tuhan.</p><p>Selamat merayakan Tahun Baru Imlek, kepada Felix dan keluarga.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas,org" rel="nofollow">http://www.katolisitas,org</a><br
/> Ingrid Listiati</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Bong Felix.H</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1599</link> <dc:creator>Bong Felix.H</dc:creator> <pubDate>Sat, 31 Jan 2009 14:03:49 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1599</guid> <description>Shalom ! rekan admin Katolisitas.
Semarak Imlek masih terasa saat saya menulis artikel ini, dimana-mana diseluruh dunia didaerah pecinan nuansa merah merona menyambut imlek, begitu pula dengan di Indonesia dan didaerah-daerah tertentu yang etnis Tionghoa nya begitu semarak penyambutannya, orang sering menyebutnya pesta musim semi ( Chun Cie) dalam perayaan Imlek sangat kental dengan budaya, dan tradisi hormat kepada leluhur dan juga orang tua, umpamanya: ada sebagian orang mengadakan syukuran, kumpul-kumpul keluarga bahkan sebagai ajang silahturami tentunya, bagaimana orang muda / anak-anak mengunjungi orang tua dengan pemberian angpauw (amplop merah). Dibeberapa paroki mengadakan misa Syukur secara khusus dalam menyambut Imlek, bahkan ada Gereja yang dihiasi dengan lampion merah menyala, pertanyaannya adalah bagaimana kita harus menyikapi hal ini. GBU Bong Felix.H</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom ! rekan admin Katolisitas.<br
/> Semarak Imlek masih terasa saat saya menulis artikel ini, dimana-mana diseluruh dunia didaerah pecinan nuansa merah merona menyambut imlek, begitu pula dengan di Indonesia dan didaerah-daerah tertentu yang etnis Tionghoa nya begitu semarak penyambutannya, orang sering menyebutnya pesta musim semi ( Chun Cie) dalam perayaan Imlek sangat kental dengan budaya, dan tradisi hormat kepada leluhur dan juga orang tua, umpamanya: ada sebagian orang mengadakan syukuran, kumpul-kumpul keluarga bahkan sebagai ajang silahturami tentunya, bagaimana orang muda / anak-anak mengunjungi orang tua dengan pemberian angpauw (amplop merah). Dibeberapa paroki mengadakan misa Syukur secara khusus dalam menyambut Imlek, bahkan ada Gereja yang dihiasi dengan lampion merah menyala, pertanyaannya adalah bagaimana kita harus menyikapi hal ini. GBU Bong Felix.H</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Jus Soekidjo</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1590</link> <dc:creator>Jus Soekidjo</dc:creator> <pubDate>Sat, 31 Jan 2009 04:58:17 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1590</guid> <description>Theosentris &amp; egosentris.Sedikit sharing.  Dalam kehidupan doa, banyak orang  menggantungkan doanya pada kekuatan sendiri. Artinya doanya hanya searah saja, di mana manusia berdoa hanya untuk kepentingaqn dirinya sendiri. Inilah yang disebut egosentris. Misalnya  kita berdoa hanya mohon saja, tidak pernah berdoa untuk kepentingan  yang lain. Kalau kita  perhatikan dalam doa Bapa Kami, di mana doa yang utama adalah untuk kepentingan Tuhan (Bapa kami yang ada di surga, dimuliakan namaMu, Datanglah kerajaanMu, Jadilah kehendakMu di atas  bumi seperti di dalam surga). Atau kalau kita perhatikan di dalam doa umat, maka doa untuk intensi pribadi selalu ditempatkan pada paling akhir.  Jadi doa yang  baik adalah doa yang bersifat Theosentris (untuk kepentingan Tuhan), bukan untuk kepentingan diri sendiri (egosentris). Kalau kita pernah berkunjung ke pertapaan Rowoseneng, Temanggung, Jawa Tengah, di mana  para rahib Trapis  sungguh bertekun dalam doa untuk kepentingan dunia, bukan untuk kepentingan sendiri sebagaimana yang sering kita jalankan.Semoga ini sedikit memberikan pencerahan tentang doa yang bersifat egosentris atau theosentris.Jus Soekidjo</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Theosentris &amp; egosentris.</p><p>Sedikit sharing.  Dalam kehidupan doa, banyak orang  menggantungkan doanya pada kekuatan sendiri. Artinya doanya hanya searah saja, di mana manusia berdoa hanya untuk kepentingaqn dirinya sendiri. Inilah yang disebut egosentris. Misalnya  kita berdoa hanya mohon saja, tidak pernah berdoa untuk kepentingan  yang lain. Kalau kita  perhatikan dalam doa Bapa Kami, di mana doa yang utama adalah untuk kepentingan Tuhan (Bapa kami yang ada di surga, dimuliakan namaMu, Datanglah kerajaanMu, Jadilah kehendakMu di atas  bumi seperti di dalam surga). Atau kalau kita perhatikan di dalam doa umat, maka doa untuk intensi pribadi selalu ditempatkan pada paling akhir.  Jadi doa yang  baik adalah doa yang bersifat Theosentris (untuk kepentingan Tuhan), bukan untuk kepentingan diri sendiri (egosentris). Kalau kita pernah berkunjung ke pertapaan Rowoseneng, Temanggung, Jawa Tengah, di mana  para rahib Trapis  sungguh bertekun dalam doa untuk kepentingan dunia, bukan untuk kepentingan sendiri sebagaimana yang sering kita jalankan.</p><p>Semoga ini sedikit memberikan pencerahan tentang doa yang bersifat egosentris atau theosentris.</p><p>Jus Soekidjo</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1580</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Fri, 30 Jan 2009 15:50:13 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1580</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Dolphin,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas tanggapannya. Sebenarnya doa atas dasar penyerahan tidaklah bertentangan dengan doa atas dasar pengharapan, malah sebaliknya doa yang didasarkan akan pengharapan kepada Tuhan akan membuat seseorang lebih berserah kepada Tuhan. Mungkin kita perlu memperjelas tentang arti dari pengharapan itu sendiri. Saya pernah menjawab di jawaban ini (&lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-712&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;), dimana saya katakan:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;&quot; class=&quot;Apple-style-span&quot;&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;HARAPAN&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;: Sedangkan harapan dalam order natural adalah merupakan suatu keinginan akan sesuatu yang baik atau suatu tujuan.&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt;&#160;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Dalam supernatural order, harapan ini adalah keinginan untuk mencapai surga, kehidupan kekal, persatuan dengan Allah&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;. Dan setiap manusia mempunyai harapan akan kebahagiaan sejati yang telah ditanamkan dalam setiap hati manusia (KGK, 1818). Harapan ini adalah suatu keinginan hati berdasarkan iman.&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt;&#160;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Tanpa iman, maka manusia tidak akan mempunyai pengharapan&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;. Harapan inilah yang membuat manusia bertahan menanggung segala macam penderitaan dan kesulitan hidup, karena berharap akan kehidupan kekal di surga. Harapan yang membuat manusia dapat berdiri tegak di tengah-tengah badai kehidupan (baca artikel:&lt;span class=&quot;Apple-converted-space&quot;&gt;&#160;&lt;/span&gt;&lt;a rel=&quot;nofollow&quot; style=&quot;color: rgb(155, 47, 85); text-decoration: none;&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/10/20/semua-ada-waktunya/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;semua ada waktunya&lt;/a&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi kalau kita berpegang pada pengharapan dalam pengertian supernatural order, yaitu pengharapan akan kehidupan kekal, pengharapan akan kasih dan keadilan Tuhan, maka kita akan dengan penuh kepercayaan terus berdoa kepada Tuhan, walaupun pada saat-saat yang sulit. Dalam hal ini pengharapan akan semakin membuat kita berserah kepada Tuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kalau masih ada waktu silakan untuk membaca rangkaian artikel tentang doa, sehingga dapat memberikan gambaran secara lebih menyeluruh.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;Doa menjadi bagian yang terpisahkan dari kehidupan seorang Kristen. Namun ada  tiga kesalahan persepsi tentang doa yang dinyatakan oleh St. Thomas Aquinas.  Tiga kesalahan tersebut dapat dilihat pada tulisan berikut ini: 1) &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/?p=150&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Tuhan tidak campur tangan&lt;/a&gt;, 2) &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/?p=167&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Tuhan sudah menakdirkan segalanya sehingga  doa tidak diperlukan&lt;/a&gt;, 3) &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/?p=175&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Kita dapat  merubah keputusan Tuhan dalam doa&lt;/a&gt;. Kemudian sebagai kesimpulan dijelaskan 4)  &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/?p=215&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;konsep doa dengan mengambil definisi doa  menurut St. Teresia kanak-kanak Yesus&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga uraian di atas dapat membantu. Dan mari kita bersama-sama percaya akan belas kasih dan keadilan Tuhan, karena Dia yang tahu secara persis apa yang kita butuhkan.&lt;br&gt;
Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br&gt;
stef&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Dolphin,</p><p>Terima kasih atas tanggapannya. Sebenarnya doa atas dasar penyerahan tidaklah bertentangan dengan doa atas dasar pengharapan, malah sebaliknya doa yang didasarkan akan pengharapan kepada Tuhan akan membuat seseorang lebih berserah kepada Tuhan. Mungkin kita perlu memperjelas tentang arti dari pengharapan itu sendiri. Saya pernah menjawab di jawaban ini (<a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-712" rel="nofollow">silakan klik</a>), dimana saya katakan:</p><p
style="margin-left: 40px;"><span
style="border-collapse: separate; color: rgb(0, 0, 0); font-family: arial; font-size: 12px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: 18px; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;" class="Apple-style-span"><u><b>HARAPAN</b></u>: Sedangkan harapan dalam order natural adalah merupakan suatu keinginan akan sesuatu yang baik atau suatu tujuan.<span
class="Apple-converted-space">&nbsp;</span><u><b>Dalam supernatural order, harapan ini adalah keinginan untuk mencapai surga, kehidupan kekal, persatuan dengan Allah</b></u>. Dan setiap manusia mempunyai harapan akan kebahagiaan sejati yang telah ditanamkan dalam setiap hati manusia (KGK, 1818). Harapan ini adalah suatu keinginan hati berdasarkan iman.<span
class="Apple-converted-space">&nbsp;</span><u><b>Tanpa iman, maka manusia tidak akan mempunyai pengharapan</b></u>. Harapan inilah yang membuat manusia bertahan menanggung segala macam penderitaan dan kesulitan hidup, karena berharap akan kehidupan kekal di surga. Harapan yang membuat manusia dapat berdiri tegak di tengah-tengah badai kehidupan (baca artikel:<span
class="Apple-converted-space">&nbsp;</span><a
rel="nofollow" style="color: rgb(155, 47, 85); text-decoration: none;" href="http://katolisitas.org/2008/10/20/semua-ada-waktunya/" rel="nofollow">semua ada waktunya</a>).</span></p><p>Jadi kalau kita berpegang pada pengharapan dalam pengertian supernatural order, yaitu pengharapan akan kehidupan kekal, pengharapan akan kasih dan keadilan Tuhan, maka kita akan dengan penuh kepercayaan terus berdoa kepada Tuhan, walaupun pada saat-saat yang sulit. Dalam hal ini pengharapan akan semakin membuat kita berserah kepada Tuhan.</p><p>Kalau masih ada waktu silakan untuk membaca rangkaian artikel tentang doa, sehingga dapat memberikan gambaran secara lebih menyeluruh.</p><p
style="margin-left: 40px;">Doa menjadi bagian yang terpisahkan dari kehidupan seorang Kristen. Namun ada  tiga kesalahan persepsi tentang doa yang dinyatakan oleh St. Thomas Aquinas.  Tiga kesalahan tersebut dapat dilihat pada tulisan berikut ini: 1) <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/?p=150" rel="nofollow">Tuhan tidak campur tangan</a>, 2) <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/?p=167" rel="nofollow">Tuhan sudah menakdirkan segalanya sehingga  doa tidak diperlukan</a>, 3) <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/?p=175" rel="nofollow">Kita dapat  merubah keputusan Tuhan dalam doa</a>. Kemudian sebagai kesimpulan dijelaskan 4) <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/?p=215" rel="nofollow">konsep doa dengan mengambil definisi doa  menurut St. Teresia kanak-kanak Yesus</a>.</p><p>Semoga uraian di atas dapat membantu. Dan mari kita bersama-sama percaya akan belas kasih dan keadilan Tuhan, karena Dia yang tahu secara persis apa yang kita butuhkan.<br
/> Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Dolphin</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1567</link> <dc:creator>Dolphin</dc:creator> <pubDate>Fri, 30 Jan 2009 08:23:05 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1567</guid> <description>Dear Stef,Terima kasih lagi atas kesabarannya untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.  Satu lagi problem yang saya hadapi adalah doa atas dasar pengharapan karena pengharapan cukup bertentangan dengan doa atas dasar penyerahan - yang menyerahkan segalanya terhadap Tuhan - karena saya merasa bahwa pengharapan bertolak belakang dengan penyerahan.Salam,
Dolphin</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Dear Stef,</p><p>Terima kasih lagi atas kesabarannya untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.  Satu lagi problem yang saya hadapi adalah doa atas dasar pengharapan karena pengharapan cukup bertentangan dengan doa atas dasar penyerahan &#8211; yang menyerahkan segalanya terhadap Tuhan &#8211; karena saya merasa bahwa pengharapan bertolak belakang dengan penyerahan.</p><p>Salam,<br
/> Dolphin</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1555</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Thu, 29 Jan 2009 04:14:31 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1555</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Dolphin,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas kunjungannya kembali ke katolisitas.org. Ya, memang untuk mengerti jawaban yang diberikan Tuhan (&lt;em&gt;ya&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;tidak&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;tunggu&lt;/em&gt;) juga merupakan saat-saat yang kadang sulit. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa kalau doa kita dipanjatkan atas dasar &quot;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;iman, pengharapan, dan kasih&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&quot;, maka kita akan tetap berdiri teguh terhadap janji setia Tuhan dan kita tetap percaya bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik dalam kehidupan kita. Kalau Tuhan sendiri telah memberikan Putera-Nya untuk kesalamatan umat manusia dan termasuk keselamatan kita, tentu saja Dia akan memberikan yang terbaik bagi kita. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Namun kita juga jangan lupa, bahwa yang terbaik atau tujuan akhir dari kehidupan kita adalah untuk bersatu selamanya dengan Tuhan di Surga&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Dolphin.&lt;br /&gt;
Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Dolphin,</p><p>Terima kasih atas kunjungannya kembali ke katolisitas.org. Ya, memang untuk mengerti jawaban yang diberikan Tuhan (<em>ya</em>, <em>tidak</em>, atau <em>tunggu</em>) juga merupakan saat-saat yang kadang sulit. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa kalau doa kita dipanjatkan atas dasar &quot;<em><strong>iman, pengharapan, dan kasih</strong></em>&quot;, maka kita akan tetap berdiri teguh terhadap janji setia Tuhan dan kita tetap percaya bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik dalam kehidupan kita. Kalau Tuhan sendiri telah memberikan Putera-Nya untuk kesalamatan umat manusia dan termasuk keselamatan kita, tentu saja Dia akan memberikan yang terbaik bagi kita. <em><strong>Namun kita juga jangan lupa, bahwa yang terbaik atau tujuan akhir dari kehidupan kita adalah untuk bersatu selamanya dengan Tuhan di Surga</strong></em>.</p><p>Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Dolphin.<br
/> Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Dolphin</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1546</link> <dc:creator>Dolphin</dc:creator> <pubDate>Wed, 28 Jan 2009 04:24:29 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1546</guid> <description>Dear Stef &amp; Ing,Terima kasih banyak atas penjelasannya.  Maaf atas response yang terlambat ini karena kesibukan di kantor.Namun satu hal lagi yang sedikit meningkatkan rasa frustasi dalam berdoa adalah perasaan bahwa doa merupakan one-way conversation.  Sehingga dalam melihat jawaban Tuhan (tidak, ya atau tunggu) pun merupakan ketidakpastian dimana kita tidak yakin bahwa Tuhan sudah menjawab - dan kita tidak yakin apakah Tuhan akan pernah menjawab doa kita - terutama kalau jawabannya adalah tunggu terus menerus.Salam.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Dear Stef &amp; Ing,</p><p>Terima kasih banyak atas penjelasannya.  Maaf atas response yang terlambat ini karena kesibukan di kantor.</p><p>Namun satu hal lagi yang sedikit meningkatkan rasa frustasi dalam berdoa adalah perasaan bahwa doa merupakan one-way conversation.  Sehingga dalam melihat jawaban Tuhan (tidak, ya atau tunggu) pun merupakan ketidakpastian dimana kita tidak yakin bahwa Tuhan sudah menjawab &#8211; dan kita tidak yakin apakah Tuhan akan pernah menjawab doa kita &#8211; terutama kalau jawabannya adalah tunggu terus menerus.</p><p>Salam.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1409</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Wed, 14 Jan 2009 00:52:08 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1409</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Dolphin,&lt;br&gt;
Terima kasih atas ulasannya tentang artikel tentang doa. Menanggapi pengamatan dan kesimpulan Dolphin, saya mempunyai beberapa komentar, berikut ini:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;1) Pada akhirnya, kita dituntut untuk kembali mendefinisikan &quot;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;kebahagiaan&lt;/span&gt;&quot; kita. Kebahagiaan kita adalah suatu tujuan akhir. Pada saat kita menyadari bahwa kebahagiaan kita adalah persatuan dengan Allah di Surga (&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;supernatural happiness&lt;/span&gt;), maka kita akan melakukan segala cara untuk mencapai hal ini. Hal ini dituliskan dalam artikel &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/15/kebahagiaan-manusia-hanya-ada-di-dalam-tuhan/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Kebahagiaan Manusia hanya ada dalam Tuhan &lt;/a&gt;(silakan klik)&lt;br&gt;
Pencarian kebahagiaan yang sejati, yaitu persatuan dengan Allah, sudah menjadi bagian dari kodrat manusia yang diciptakan menurut gambaran Allah. Dan kita dapat melihat pada orang-orang yang sakit dan menderita, yang mulai mempertanyakan arti hidup dan kebahagiaan yang sejati.&lt;br&gt;
Dan inilah yang disebutkan oleh Dolphin bahwa Tuhan menginginkan agar kita lebih memikirkan akan tujuan akhir kita, yaitu bersatu dengan Tuhan dan berbahagia selama-lamanya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;2) Semua yang ada di dunia ini adalah bersifat sementara, sehingga kebahagiaan kita tidak dapat bergantung terhadap apa yang ada di dunia ini, seperti materi, kekuasaan, dll.&#160;Oleh karena itu, doa yang hanya berfokus pada hal-hal materi, dapat dikatakan &quot; &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;meminta terlalu sedikit&lt;/span&gt;&quot;, karena kita dapat meminta kepada Tuhan sesuatu yang lebih baik dari materi, seperti karunia Roh Kudus, yang menuntun kita kepada kehidupan kekal. Namun demikian, bukan berarti Tuhan tidak peduli dengan kebutuhan kita di dunia, atau bahkan kita tidak boleh memohon bantuan-Nya dalam segala kebutuhan kita. Tentu saja kita boleh memohon kepada Tuhan untuk memelihara kita, namun fokusnya adalah memohon Tuhan memberikan yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan kita agar melalui pertolongan-Nya, nama Tuhan semakin dikenal banyak orang dan dimuliakan, dan iman kita terus bertumbuh dalam pengharapan akan Dia.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;3) Tuhan akan campur tangan dalam doa, seperti yang dikatakan Dolphin. Namun campur tangan Tuhan terhadap doa kita adalah: 1) tidak, 2) ya, 3) tunggu. Dan dengan kacamata iman, kita harus mempercayai bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik buat kita pada waktu-Nya. Mungkin yang diberikan Tuhan bukan seperti yang kita inginkan, namun Tuhan memberikan kita suatu kesempatan untuk mencapai tujuan akhir, yaitu Surga.&lt;br&gt;
Bayangkanlah bahwa Tuhan adalah seorang Bapa yang begitu baik, jauh lebih baik daripada semua ayah di dunia ini. Kalau seorang ayah tahu bagaimana memberi dan mendukung anak-anaknya, maka Bapa yang di Surga tahu secara persis apa yang kita butuhkan (lih. Mt 7:11).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;4) Akhirnya, doa adalah merupakan nafas iman seorang Katolik. Tanpa doa, maka kita tidak dapat mempunyai relasi dengan Tuhan. Doa juga suatu manifestasi akan kasih kita kepada Tuhan. Doa juga memampukan kita untuk menjalankan kehidupan ini dengan penuh kekudusan, karena kekudusan inilah yang diinginkan oleh Tuhan (baca artikel tentang kekudusan: &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/06/10/bagaimana-caranya-untuk-hidup-kudus/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;). &lt;br&gt;
Bagi umat Katolik, bentuk doa yang tertinggi dan yang paling sempurna adalah perayaan Sakramen Ekaristi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga keterangan di atas dapat semakin memperjelas konsep doa. Kita sama-sama belajar bertumbuh dalam iman kita dengan bertekun dalam doa. Dan mari kita saling mendoakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br&gt;
stef &amp; ingrid&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Dolphin,<br
/> Terima kasih atas ulasannya tentang artikel tentang doa. Menanggapi pengamatan dan kesimpulan Dolphin, saya mempunyai beberapa komentar, berikut ini:</p><p
style="margin-left: 40px;">1) Pada akhirnya, kita dituntut untuk kembali mendefinisikan &quot;<span
style="font-style: italic;">kebahagiaan</span>&quot; kita. Kebahagiaan kita adalah suatu tujuan akhir. Pada saat kita menyadari bahwa kebahagiaan kita adalah persatuan dengan Allah di Surga (<span
style="font-style: italic;">supernatural happiness</span>), maka kita akan melakukan segala cara untuk mencapai hal ini. Hal ini dituliskan dalam artikel <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/15/kebahagiaan-manusia-hanya-ada-di-dalam-tuhan/" rel="nofollow">Kebahagiaan Manusia hanya ada dalam Tuhan </a>(silakan klik)<br
/> Pencarian kebahagiaan yang sejati, yaitu persatuan dengan Allah, sudah menjadi bagian dari kodrat manusia yang diciptakan menurut gambaran Allah. Dan kita dapat melihat pada orang-orang yang sakit dan menderita, yang mulai mempertanyakan arti hidup dan kebahagiaan yang sejati.<br
/> Dan inilah yang disebutkan oleh Dolphin bahwa Tuhan menginginkan agar kita lebih memikirkan akan tujuan akhir kita, yaitu bersatu dengan Tuhan dan berbahagia selama-lamanya.</p><p
style="margin-left: 40px;">2) Semua yang ada di dunia ini adalah bersifat sementara, sehingga kebahagiaan kita tidak dapat bergantung terhadap apa yang ada di dunia ini, seperti materi, kekuasaan, dll.&nbsp;Oleh karena itu, doa yang hanya berfokus pada hal-hal materi, dapat dikatakan &quot; <span
style="font-style: italic;">meminta terlalu sedikit</span>&quot;, karena kita dapat meminta kepada Tuhan sesuatu yang lebih baik dari materi, seperti karunia Roh Kudus, yang menuntun kita kepada kehidupan kekal. Namun demikian, bukan berarti Tuhan tidak peduli dengan kebutuhan kita di dunia, atau bahkan kita tidak boleh memohon bantuan-Nya dalam segala kebutuhan kita. Tentu saja kita boleh memohon kepada Tuhan untuk memelihara kita, namun fokusnya adalah memohon Tuhan memberikan yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan kita agar melalui pertolongan-Nya, nama Tuhan semakin dikenal banyak orang dan dimuliakan, dan iman kita terus bertumbuh dalam pengharapan akan Dia.</p><p
style="margin-left: 40px;">3) Tuhan akan campur tangan dalam doa, seperti yang dikatakan Dolphin. Namun campur tangan Tuhan terhadap doa kita adalah: 1) tidak, 2) ya, 3) tunggu. Dan dengan kacamata iman, kita harus mempercayai bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik buat kita pada waktu-Nya. Mungkin yang diberikan Tuhan bukan seperti yang kita inginkan, namun Tuhan memberikan kita suatu kesempatan untuk mencapai tujuan akhir, yaitu Surga.<br
/> Bayangkanlah bahwa Tuhan adalah seorang Bapa yang begitu baik, jauh lebih baik daripada semua ayah di dunia ini. Kalau seorang ayah tahu bagaimana memberi dan mendukung anak-anaknya, maka Bapa yang di Surga tahu secara persis apa yang kita butuhkan (lih. Mt 7:11).</p><p
style="margin-left: 40px;">4) Akhirnya, doa adalah merupakan nafas iman seorang Katolik. Tanpa doa, maka kita tidak dapat mempunyai relasi dengan Tuhan. Doa juga suatu manifestasi akan kasih kita kepada Tuhan. Doa juga memampukan kita untuk menjalankan kehidupan ini dengan penuh kekudusan, karena kekudusan inilah yang diinginkan oleh Tuhan (baca artikel tentang kekudusan: <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/06/10/bagaimana-caranya-untuk-hidup-kudus/" rel="nofollow">silakan klik</a>). <br
/> Bagi umat Katolik, bentuk doa yang tertinggi dan yang paling sempurna adalah perayaan Sakramen Ekaristi.</p><p>Semoga keterangan di atas dapat semakin memperjelas konsep doa. Kita sama-sama belajar bertumbuh dalam iman kita dengan bertekun dalam doa. Dan mari kita saling mendoakan.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef &amp; ingrid</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Dolphin</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1397</link> <dc:creator>Dolphin</dc:creator> <pubDate>Tue, 13 Jan 2009 08:25:48 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1397</guid> <description>Dear Stef &amp; Ing,Artikel mengenai doa ini bagus sekali.Saya termasuk dalam orang yang memiliki kesalahan persepsi yang pertama. Tetapi saya tetap berusaha untuk lebih mengerti mengenai faith dan religion melalui berbagai macam buku (why bad things happened to good people) dan artikel dan saya percaya Tuhan itu ada. Namun pengalaman saya pribadi selama ini membuat saya meragukan perlunya doa dalam hidup sehari hari, terutama karena saya melihat ada 4 kelompok orang:1. orang yang berdoa dan bahagia
2. orang yang tidak berdoa tetapi bahagia
3. orang yang berdoa tetapi tidak bahagia
4. orang yang tidak berdoa dan tidak bahagiaSaya secara pribadi mengenal orang orang yang masuk dalam masing masing 4 kelompok tersebut. Saya yakin Stef &amp; Ing juga mengenal orang orang yang bisa masuk dalam 4 kelompok tersebut.Terutama dalam membandingkan dan pengamatan terhadap kelompok 1 &amp; 2 dan juga antara kelompok 3 &amp; 4, saya merasa bahwa takdir dan nasib orang tergantung dari pada situasi masing masing orang tersebut - sama seperti snowflakes yang tidak pernah sama satu dengan yang lain karena tergantung suhu udara, arah dan kekuatan angin, dll. Sederhana nya: takdir orang dan kehidupan manusia tergantung his/her luck factor.Setelah membaca artikel mengenai doa tersebut, kesimpulan yang saya dapatkan adalah:1. Tuhan menginginkan kita untuk lebih memikirkan akhir hidup kita dimana kita bisa bergabung dengan Nya2. Dengan demikian, Tuhan akan campur tangan sesuai doa - namun hanya apabila doa tersebut sejalan dengan keinginan Tuhan tsb diatas - sehingga hasil dari doa kita mungkin tidak terlihat saat ini di dunia dan mungkin tidak sesuai dengan doa yang terlalu materialistis3. Doa yang baik adalah doa yang tidak terlalu berfokus terhadap keinginan materialistis dan lebih untuk setelah akhir hidup kitaMohon penjelasan apabila kesimpulan saya ini salah atau mungkin merujuk ke artikel lain yang dapat memberi penjelasan tambahan. Saya sangat menginginkan untuk bisa percaya terhadap kekuatan doa dalam menghadapi kehidupan namun pengalaman dan pengamatan saya selama ini benar benar mengurangi kepercayaan saya terhadap perlunya doa dalam kehidupan saat ini (bukan dalam kehidupan akhir).Salam.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Dear Stef &amp; Ing,</p><p>Artikel mengenai doa ini bagus sekali.</p><p>Saya termasuk dalam orang yang memiliki kesalahan persepsi yang pertama. Tetapi saya tetap berusaha untuk lebih mengerti mengenai faith dan religion melalui berbagai macam buku (why bad things happened to good people) dan artikel dan saya percaya Tuhan itu ada. Namun pengalaman saya pribadi selama ini membuat saya meragukan perlunya doa dalam hidup sehari hari, terutama karena saya melihat ada 4 kelompok orang:</p><p>1. orang yang berdoa dan bahagia<br
/> 2. orang yang tidak berdoa tetapi bahagia<br
/> 3. orang yang berdoa tetapi tidak bahagia<br
/> 4. orang yang tidak berdoa dan tidak bahagia</p><p>Saya secara pribadi mengenal orang orang yang masuk dalam masing masing 4 kelompok tersebut. Saya yakin Stef &amp; Ing juga mengenal orang orang yang bisa masuk dalam 4 kelompok tersebut.</p><p>Terutama dalam membandingkan dan pengamatan terhadap kelompok 1 &amp; 2 dan juga antara kelompok 3 &amp; 4, saya merasa bahwa takdir dan nasib orang tergantung dari pada situasi masing masing orang tersebut &#8211; sama seperti snowflakes yang tidak pernah sama satu dengan yang lain karena tergantung suhu udara, arah dan kekuatan angin, dll. Sederhana nya: takdir orang dan kehidupan manusia tergantung his/her luck factor.</p><p>Setelah membaca artikel mengenai doa tersebut, kesimpulan yang saya dapatkan adalah:</p><p>1. Tuhan menginginkan kita untuk lebih memikirkan akhir hidup kita dimana kita bisa bergabung dengan Nya</p><p>2. Dengan demikian, Tuhan akan campur tangan sesuai doa &#8211; namun hanya apabila doa tersebut sejalan dengan keinginan Tuhan tsb diatas &#8211; sehingga hasil dari doa kita mungkin tidak terlihat saat ini di dunia dan mungkin tidak sesuai dengan doa yang terlalu materialistis</p><p>3. Doa yang baik adalah doa yang tidak terlalu berfokus terhadap keinginan materialistis dan lebih untuk setelah akhir hidup kita</p><p>Mohon penjelasan apabila kesimpulan saya ini salah atau mungkin merujuk ke artikel lain yang dapat memberi penjelasan tambahan. Saya sangat menginginkan untuk bisa percaya terhadap kekuatan doa dalam menghadapi kehidupan namun pengalaman dan pengamatan saya selama ini benar benar mengurangi kepercayaan saya terhadap perlunya doa dalam kehidupan saat ini (bukan dalam kehidupan akhir).</p><p>Salam.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Jus Soekidjo</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1321</link> <dc:creator>Jus Soekidjo</dc:creator> <pubDate>Mon, 05 Jan 2009 16:48:52 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1321</guid> <description>DOA HARUS MENJADI NAFAS HIDUP.Uraian tentang doa oleh pa Stef bagus sekali. Yang mengatakan doa itu tidak perlu, maka yang bersangkutan adalah orang yang sombong. Kalau kita berdoa artinya kita ada ketergantungan hidup. Di atas hidup ini masih ada yang &quot;memiliki&quot; kehidupan itu sendiri. Kita tidak bebas begitu saja. Kalau kita berdoa artinya kita ini menjadi tidak berarti. Kita sangat kecil, oleh karena itu kita butuh tiang penyangga yang menjadi kekuatan kita. Dengan demikian, doa harus menjadi nafas kehidupan kita.  Jangan memakai metoda &quot;doa ingat&quot; artinya berdoa kalau ingat. Kita musti berdoa baik dalam suka dan duka. Doa harus bersifat seperti nafas kita. Artinya berdoalah setiap saat. Nimbrung sedikit saja. All is based on experience.Jus Soekidjo (Kuasa Doa)</description> <content:encoded><![CDATA[<p>DOA HARUS MENJADI NAFAS HIDUP.</p><p>Uraian tentang doa oleh pa Stef bagus sekali. Yang mengatakan doa itu tidak perlu, maka yang bersangkutan adalah orang yang sombong. Kalau kita berdoa artinya kita ada ketergantungan hidup. Di atas hidup ini masih ada yang &#8220;memiliki&#8221; kehidupan itu sendiri. Kita tidak bebas begitu saja. Kalau kita berdoa artinya kita ini menjadi tidak berarti. Kita sangat kecil, oleh karena itu kita butuh tiang penyangga yang menjadi kekuatan kita. Dengan demikian, doa harus menjadi nafas kehidupan kita.  Jangan memakai metoda &#8220;doa ingat&#8221; artinya berdoa kalau ingat. Kita musti berdoa baik dalam suka dan duka. Doa harus bersifat seperti nafas kita. Artinya berdoalah setiap saat. Nimbrung sedikit saja. All is based on experience.</p><p>Jus Soekidjo (Kuasa Doa)</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Jus Soekidjo</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1256</link> <dc:creator>Jus Soekidjo</dc:creator> <pubDate>Fri, 26 Dec 2008 13:02:14 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1256</guid> <description>Selain doa-doa sebagaimana disebutkan di atas, ada doa monastik yang kini juga sudah menebus ke luar dari tembok biara, yakni doa kontemplatif. Ada yang bilang doa ini sebagai centering prayer, ada pula ada yang menyebutnya doa hening. Dalam doa kontemplasi , saya diam dan Tuhan juga diam, karena saya dan Tuhan manunggal. Doa ini  juga merupakan bagian dari &quot;lectio divina&quot;, yang sekarang ini mulai banyak dipraktekkan dari keompok-kelompok meditasi Kitab Suci yang berbasiskan &quot;Lectio divina&quot;. Lectio divina ini juga merupakan salah satu methoda untuk mengerti Sabda Tuhan (Firman)/Kitab Suci melalui Lectio, meditatio, oratio, dan contemplatio.  JIka umat mau sungguh memperdalam tentang Firman, metoda Lectio Divina  bisa diaplikasikan dalam kehidupan kita untuk memperdalam  tingkat spiritualitas kita.  Di beberapa paroki di Jakarta seperti Paroki St. Paskalis, St. Fransiskus Asisi, Paroki Hati Kudus, dll dan beberapa komunitas, sudah mempraktekkan &quot;Lectio Divina&quot; ini.Tuhan berkati, sedikit  sharing  tentang &quot;meditasi Kitab Suci&quot; berbasiskan &quot;Lectio Divina&quot;.Jus Soekidjo</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Selain doa-doa sebagaimana disebutkan di atas, ada doa monastik yang kini juga sudah menebus ke luar dari tembok biara, yakni doa kontemplatif. Ada yang bilang doa ini sebagai centering prayer, ada pula ada yang menyebutnya doa hening. Dalam doa kontemplasi , saya diam dan Tuhan juga diam, karena saya dan Tuhan manunggal. Doa ini  juga merupakan bagian dari &#8220;lectio divina&#8221;, yang sekarang ini mulai banyak dipraktekkan dari keompok-kelompok meditasi Kitab Suci yang berbasiskan &#8220;Lectio divina&#8221;. Lectio divina ini juga merupakan salah satu methoda untuk mengerti Sabda Tuhan (Firman)/Kitab Suci melalui Lectio, meditatio, oratio, dan contemplatio.  JIka umat mau sungguh memperdalam tentang Firman, metoda Lectio Divina  bisa diaplikasikan dalam kehidupan kita untuk memperdalam  tingkat spiritualitas kita.  Di beberapa paroki di Jakarta seperti Paroki St. Paskalis, St. Fransiskus Asisi, Paroki Hati Kudus, dll dan beberapa komunitas, sudah mempraktekkan &#8220;Lectio Divina&#8221; ini.</p><p>Tuhan berkati, sedikit  sharing  tentang &#8220;meditasi Kitab Suci&#8221; berbasiskan &#8220;Lectio Divina&#8221;.</p><p>Jus Soekidjo</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1175</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Fri, 19 Dec 2008 03:50:16 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1175</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Luigi, &lt;br&gt;
Pertama-tama, maaf ya baru sekarang saya dapat menjawab pertanyaan Luigi. &lt;br&gt;
Mari sekarang kita melihat teks Doa syukur Agung II, yang paling umum dipakai di dalam Misa Kudus:&lt;b&gt;&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Doa Syukur Agung&lt;/b&gt; (umat berlutut)&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;i&gt;1) Sungguh kuduslah Engkau, ya Bapa, sumber segala yang kudus. &lt;br&gt;
Maka kami mohon: semoga RohMu menyucikan persembahan ini.&lt;br&gt;
Agar menjadi bagi kami, tubuh dan darah PuteraMu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.&lt;/i&gt;&lt;br&gt;
&lt;i&gt;Pada malam Ia diserahkan, sebelum menderita sengsara dengan rela, Ia mengambil roti, mengucap syukur&lt;/i&gt;, &lt;br&gt;
Teks ini mengacu pada Kitab suci yaitu pada Perjamuan terakhir, di mana &lt;b&gt;Yesus mengambil roti dan mengucap berkat dan syukur&lt;/b&gt; (Mat 26:26; Luk 22:17; Mrk 14: 22). Imam melaksanakan peran Kristus sendiri yang mengucapkan syukur kepada Bapa, dan oleh kuasa Roh Kudus akan mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya.&lt;br&gt;
Tuhan yang adalah sumber kekudusan sesaat lagi akan menguduskan perjamuan roti dan anggur menjadi santapan rohani bagi kita. Dengan demikian, Allah sendiri yang akan mencurahkan rahmat kekudusan-Nya kepada kita yang mengambil bagian di dalam perjamuan surgawi ini. &lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;i&gt;2) Lalu membagi-bagi roti itu dan memberikannya kepada para murid seraya berkata: Demikian pula sesudah perjamuan Ia mengambil piala. Sekali lagi Ia mengucap syukur, lalu mengedarkan piala itu kepada para murid seraya berkata: &quot;Terimalah dan minumlah!Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal, Yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa ini.&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Terimalah dan makanlah! Inilah tubuhKu yang dikurbankan bagimu...&quot;&lt;/i&gt;&lt;br&gt;
Ini adalah &lt;b&gt;perkataan Yesus sendiri dalam Perjamuan Terakhir&lt;/b&gt;, seperti yang tertera di dalam gabungan kitab Matius, Markus, Lukas (Mat 26:26- 28; Mrk 14:22-24; Luk 22:19-20). Imam yang telah diurapi oleh Kristus diberi kuasa oleh Kristus sendiri, untuk mengucapkan sabdaNya ini yang berkuasa mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Inilah yang disebutkan sebagai doa konsekrasi. Begitu doa ini selesai diucapkan, mukjizat yang terbesar itu terjadi: yaitu Kristus hadir di tengah-tengah kita dalam rupa roti dan anggur; inilah yang disebut sebagai &quot;Transsubstansiasi&quot;. Hakekat roti itu bukan roti lagi, demikian juga anggur itu, melainkan Tubuh dan Darah Kristus, bersama dengan jiwa dan ke-Allahan-Nya, yaitu seluruh Kristus (Konsili Trente:DS 1651, KGK 1374)&lt;br&gt;
Dalam Katekismus Gereja Katolik 1381, St. Thomas Aquinas mengutip St. Sirilus (Cyril) mengenai kebenaran perkataan Yesus dalam Luk 19:22 ini, &quot;jangan ragu-ragu apakah itu benar, melainkan terimalah kata-kata Penebus itu dalam iman. Karena Ia adalah Kebenaran, jadi Ia tidak menipu.&quot; &lt;br&gt;
Maka pada saat imam mengangkat hosti dan piala anggur, kita memandang kepada hosti dan piala itu, sambil mengatakan dengan iman di dalam hati, &quot;&lt;b&gt;Ya Tuhanku dan Allahku&lt;/b&gt;&quot;&#160; seperti yang dikatakan oleh Rasul Thomas, saat Kristus menampakkan diri kepadanya setelah kebangkitan-Nya (Luk 20:28). Pada saat yang sama ini kita mengangkat hati dan mempersembahkan segala yang ada pada kita: doa, pujian, syukur, pergumulan, permohonan dst kepada Tuhan. Kurban ini akan turut &#039;naik&#039; bersama dengan kurban Kristus, kepada Allah Bapa. &lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;i&gt;3) Maklumkanlah misteri iman kita: Tuhan Engkau sudah wafat. Tuhan Engkau kini hidup. Engkau sang Juru Selamat. Datanglah ya Yesus Tuhan. Amin&lt;/i&gt;.&lt;br&gt;
Inilah misteri iman yang kita maklumkan, berdasarkan apa yang kita imani. Oleh kuasa Roh Kudus, &lt;b&gt;misteri Paska dihadirkan kembali dalam setiap misa kudus, yaitu: wafat, dan kebangkitan Kristus sambil kita menantikan kedatangan-Nya kembali&lt;/b&gt;. Di sinilah Perjamuan Ekaristi menembus ruang dan waktu: wafat, kebangkitan dan kedatangan-Nya kita rayakan sebagai &quot;saat ini&quot;, sehingga Perjamuan Ekaristi menjadi &quot;&lt;i&gt;Heaven on Earth.&lt;/i&gt;&quot; Kita sekarang merayakan kehadiran-Nya secara terselubung (KGK 1404), mengharapkan kedatangan-Nya dalam pemenuhan jaminan kemuliaan yang akan datang di surga (KGK 1402). &lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;i&gt;4) Maka, sambil mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus, Kami mempersembahkan kepadaMu ya Bapa, roti kehidupan dan piala keselamatan. Kami bersyukur, sebab Engkau menganggap kami layak menghadap Engkau dan berbakti kepadaMu. Kami mohon, agar kami yang menerima tubuh dan darah Kristus, dipersatukan oleh Roh Kudus menjadi umatMu&lt;/i&gt;.&lt;br&gt;
Inilah doa umat yang mengenangkan&lt;b&gt; Kristus Sang Roti Hidup&lt;/b&gt; (Yoh 6:35); dan &lt;b&gt;piala keselamatan yang berisi darah Perjanjian Baru dan kekal &lt;/b&gt;yang akan membangkitkan kita pada akhir zaman (Yoh 6: 54). Maka bersyukurlah kita, yang dianggap-Nya layak untuk menerima rahmat yang tak terbatas ini, yaitu kehidupan kekal (Yoh 6:47). Ayat yang sama ini mengingatkan kita untuk senantiasa hidup dalam pertobatan yang terus menerus, sehingga dapat &#039;layak menghadap Tuhan dan berbakti kepada-Nya&#039;.&lt;br&gt;
Oleh santapan rohani ini, kita dipersatukan oleh Roh Kudus dengan Kristus sang Kepala, dan dengan sesama anggota Gereja menjadi Tubuh Kristus. Persatuan kita dengan Kristus ini harusnya menjadikan kita bersatu sebagai umat-Nya, seperti yang menjadi doa Yesus sebelum sengsara-Nya, &quot;Aku berdoa ... supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa ada di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.&quot;(Yoh 17:20-21). &lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;i&gt;5) Ya Bapa, berkatilah GerejaMu yang tersebar di seluruh bumi. Sudilah memupuk cinta kasih persaudaraan umatMu dalam persatuan dengan Bapa Suci (Paus...) dan Bapa Uskup kami (....) serta rohaniwan semuanya&lt;/i&gt;. &lt;br&gt;
Di dalam Ekaristi, Gereja juga merayakan &lt;b&gt;kesatuan di bawah pimpinan Bapa Paus, pengganti Rasul Petrus yang ditunjuk oleh Tuhan Yesus &lt;/b&gt;sebagai dasar &#039;batu karang&#039; Gereja yang didirikan-Nya (Mat 16:18). Maka di dalam doa ini, kita memohon berkat Allah untuk mengikat kita semua di dalam persatuan dengan Bapa Paus dan para uskup pemimpin Gereja, yang merupakan penerus para Rasul. &lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;6) Catatan: Berikut ini adalah paragraf doa untuk mendoakan jiwa orang yang sudah meninggal (pada Misa arwah) &lt;br&gt;
&lt;i&gt;Selamatkanlah putraMu (putriMu) yang (pada hari ini/telah) Kau panggil menhadap hadiratMu. Dia telah meninggal seperti Kristus; maka perkenankanlah pula ia ikut bangkit bersama Kristus&lt;/i&gt;. &lt;br&gt;
Ini adalah doa yang diucapkan untuk medoakan keselamatan jiwa seseorang yang telah dipanggil Tuhan. Perkataan &quot;Dia telah meninggal seperti Kristus&quot; diartikan bahwa ia yang kita doakan telah meninggal dunia seperti Kristus yang telah meninggal dunia (di salib Golgota), dan berdoa agar ia dapat dibangkitkan bersama Kristus.&#160; &lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;i&gt;7) Pada Misa biasa: Selamatkanlah (pula) saudara-saudari kami, kaum beriman, dan semua orang lain yang telah meninggal dunia. Berikanlah istirahat kekal kepada mereka dan kepada semua saudara yang meninggal dalam Kristus. Kasihanilah dan sambutlah mereka dalam pangkuanMu&lt;/i&gt;.&lt;br&gt;
Dalam doa ini, kita mengingat saudara-saudari kita yang telah dipanggil Tuhan. Kita berdoa bagi keselamatan jiwa mereka, dan memohon agar Tuhan segera membebaskan mereka dari Api Penyucian sehingga mereka dapat bergabung dalam kemuliaan surgawi. Dengan demikian, di dalam Ekaristi, kita sebagai &lt;b&gt;para anggota Gereja di dunia merayakan persatuan dengan para anggota Gereja yang sedang dimurnikan di Api Penyucian&lt;/b&gt;. &lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;i&gt;8 ) Kami semua mohon belas kasihanMu, ya Bapa. Supaya kami boleh mengambil bagian dalam kebahagiaan abadi, bersama Santa Maria, perawan dan bunda Allah, bersama para rasul dan semua orang kudus, yang hidup dalam cintaMu. Perkenankanlah kami memuji dan memuliakan Dikau&lt;/i&gt;.&lt;br&gt;
Melalui doa ini, kita merayakan persekutuan orang kudus. Ekaristi mempersatukan kita sebagai Gereja yang satu dan tidak terpisahkan; antara kita yang masih mengembara di dunia dengan para kudus yang sudah jaya di surga. Maka &lt;b&gt;persatuan kita dengan para kudus (Gereja yang sudah jaya di surga) diteguhkan, dan mereka membawa kita semakin lebih dekat kepada Kristus&lt;/b&gt; (KGK 957).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;i&gt;9) Dengan perantaraan Kristus, dan bersama Dia, serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepadaMu, Allah Bapa yang mahakuasa: Segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang segala masa. Amin&lt;/i&gt;.&lt;br&gt;
Doa Doksologi ini menyatakan penutup rangkaian Doa Syukur Agung, dengan &lt;b&gt;pujian kepada Allah Tritunggal Maha Kudus&lt;/b&gt;: Bapa, Putera, dan Roh Kudus, yang menganggap kita layak untuk mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya di dalam Ekaristi kudus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Komuni&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&#160; [umat berdiri]&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;b&gt;1) Doa Bapa Kami&#160;&lt;/b&gt; [umat berdiri] &lt;i&gt;&lt;br&gt;
Atas pentunjuk Penyelamat kita, dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:&lt;br&gt;
Bapa kami yang ada di surga dimuliakanlah namaMu&lt;br&gt;
Datanglah kerajaanMu jadilah kehendakMu, di atas bumi seperti di dalam surga. &lt;br&gt;
Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. Jangan masukkan kami dalam cobaan.&lt;br&gt;
Tapi bebaskan kami dari yang jahat. &lt;br&gt;
Sebab Tuhanlah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin&lt;/i&gt;.&lt;br&gt;
Komuni di awali dengan mengulangi doa yang yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Kita berdoa &lt;b&gt;sebagai satu kesatuan saudara di dalam Tuhan Yesus Kristus&lt;/b&gt;, sehingga kita dapat memanggil Allah sebagai &quot;Bapa Kami&quot; (Rom 4:6).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;b&gt;2) Doa Damai&lt;/b&gt; [umat berdiri]: &lt;i&gt;&lt;br&gt;
Tuhan Yesus Kristus, janganlah memperhitungkan dosa kami. Tetapi perhatikanlah iman GerejaMu, Dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendakMu sebab Engkaulah pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin&lt;/i&gt;.&lt;br&gt;
Doa ini merupakan permohonan yang sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus kepada umat di Filipi, &quot;... Dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (Flp 2: 1)&quot; sehingga &lt;b&gt;dengan menimba kekuatan dari Kristus sendiri, maka kita dapat memenuhi perintah-Nya untuk hidup rukun bersatu sebagai anggota Tubuh Kristus&lt;/b&gt;, &quot;&lt;b&gt;sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri &lt;/b&gt;atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.&quot; (Flp 2:2-5)&lt;br&gt;
Dengan melihat kepada Kristus yang merendahkan diri sedemikian bagi kita, kitapun diajak oleh Kristus untuk meniru teladan-Nya yang memberikan diri bagi orang lain. Sehingga di dalam hidup kita bersama dengan orang lain, kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, &quot;yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, &lt;b&gt;Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.&lt;/b&gt; Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: &quot;Yesus Kristus adalah Tuhan,&quot; bagi kemuliaan Allah Bapa!&quot; (Flp 2:6-11).&lt;br&gt;
Kristus adalah teladan kasih dan kerendahan hati bagi kita semua, dan ini sangat nyata di dalam Ekaristi. Sebab bahkan saat Ia telah berada dalam kemuliaan surga, Ia masih tetap menyertai kita, tunduk pada perkataan para imam-Nya, dan hadir kembali di tengah kita dalam rupa roti dan anggur.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;b&gt;3) Salam Damai&lt;/b&gt; [umat berdiri] &lt;br&gt;
&lt;i&gt;(Semoga) damai Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita. Sekarang dan selama-lamanya. &lt;/i&gt;[Imam mengajak umat untuk menyatakan salam damai satu sama lain]&lt;i&gt;.&lt;br&gt;
&lt;/i&gt;Salam&lt;i&gt; &lt;/i&gt;damai ini adalah sebagai kesempatan bagi kita untuk &lt;b&gt;berdamai dengan sesama&lt;/b&gt;, sebelum kita mengambil bagian di dalam Perjamuan Tuhan, sesuai dengan perintah Yesus, &quot;... jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untk mempersembahkan persembahan itu&quot; (Mat 5:23-24). Maka, salam damai ini bukan hanya sekedar basa-basi, tetapi merupakan &lt;b&gt;niatan tulus di dalam hati kita untuk mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita; ataupun meminta ampun pada orang yang kita sakiti hatinya&lt;/b&gt;. Karena mungkin pada saat itu kita belum dapat bertemu dengan mereka, maka saudara-saudari di sekeliling kita adalah merupakan &#039;wakil&#039; dari seseorang yang perlu kita ajak berdamai tersebut. (Tentu, setelah misa kudus, kita diharapkan dapat mewujudkan niat berdamai tersebut dengan orang yang bersangkutan). &lt;br&gt;
Dengan demikian, maka kita dapat dengan hati lapang mengambil bagian di dalam perjamuan Ekaristi.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;b&gt;4) Pemecahan Roti &lt;/b&gt;[Umat berdiri]&lt;br&gt;
Pemecahan roti merupakan Tradisi Suci para Rasul yang telah dilakukan sejak jemaat awal, yaitu, &quot;Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk &lt;b&gt;memecahkan roti &lt;/b&gt;dan berdoa&quot; (Kis 2:42).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;b&gt;5) Anakdomba Allah&lt;/b&gt;&lt;i&gt;: &lt;br&gt;
Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia kasihanilah kami,&#160;&#160; Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia kasihanilah kami, &lt;br&gt;
Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia berilah kami damai&lt;/i&gt;.&lt;br&gt;
[Umat berlutut]&lt;br&gt;
Ini adalah Doa pujian kepada Kristus, Anak Domba Allah, seperti yang disebutkan dalam Kitab Wahyu 5-7, menggambarkan &lt;b&gt;perjamuan Anak Domba&#160; di surga&lt;/b&gt;.&#160; Kita yang masih berziarah di dunia melihat kepada-Nya memohon belas kasih dan damai-Nya agar kitapun dapat sampai pada pemenuhan janji Penebusan dosa kita di surga. Maka Ekaristi mengarahkan pandangan kita ke surga, surga dan dunia yang baru, dimana tiada lagi air mata kesedihan, dan jaminan kemuliaan yang akan datang dipenuhi (KGK 1402-1405). Lebih lanjut mengenai Ekaristi sebagai Perjamuan Anak Domba, dapat dibaca pada buku karangan Scott Hahn, &quot;The Lamb Supper&quot;, yang saya percaya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;i&gt;6) Inilah Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia. &quot;Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya. Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh&lt;/i&gt;.&quot;&lt;br&gt;
Doa ini merupakan salah satu doa yang terindah di dalam Alkitab, sebab didasari oleh kerendahan hati dan iman, seperti doa perwira di Kaparnaum (Mat 8:8), yang menurut St. Yohanes Krisostomus, merupakan doa yang serupa dengan doa penyamun yang disalibkan di samping salib Kristus, &quot;&lt;b&gt;Tuhan ingatlah akan aku dalam kerajaan-Mu&lt;/b&gt;!&quot; (Luk 23:42; KGK 1386).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;b&gt;7) Komuni&lt;/b&gt; dibagikan: &lt;i&gt;&lt;br&gt;
Tubuh Kristus, Amin&lt;/i&gt;.&lt;br&gt;
Sebelum dan sesudah komuni, kita dapat berdoa pribadi, seperti yang pernah saya tuliskan pada jawaban saya terdahulu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Demikian, semoga saya menjawab pertanyaan Luigi. Saya berharap, jika Luigi ikut kebaktian pada hari Minggu untuk menemani istri dan anak-anak, namun pada hari Minggu itu juga, anda tetap mengikuti Perayaan Ekaristi/ Misa Kudus di gereja Katolik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br&gt;
Ingrid Listiati&#160;&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Luigi, <br
/> Pertama-tama, maaf ya baru sekarang saya dapat menjawab pertanyaan Luigi. <br
/> Mari sekarang kita melihat teks Doa syukur Agung II, yang paling umum dipakai di dalam Misa Kudus:<b></p><p>Doa Syukur Agung</b> (umat berlutut)</p><p
style="margin-left: 40px;"><i>1) Sungguh kuduslah Engkau, ya Bapa, sumber segala yang kudus. <br
/> Maka kami mohon: semoga RohMu menyucikan persembahan ini.<br
/> Agar menjadi bagi kami, tubuh dan darah PuteraMu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.</i><br
/> <i>Pada malam Ia diserahkan, sebelum menderita sengsara dengan rela, Ia mengambil roti, mengucap syukur</i>, <br
/> Teks ini mengacu pada Kitab suci yaitu pada Perjamuan terakhir, di mana <b>Yesus mengambil roti dan mengucap berkat dan syukur</b> (Mat 26:26; Luk 22:17; Mrk 14: 22). Imam melaksanakan peran Kristus sendiri yang mengucapkan syukur kepada Bapa, dan oleh kuasa Roh Kudus akan mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya.<br
/> Tuhan yang adalah sumber kekudusan sesaat lagi akan menguduskan perjamuan roti dan anggur menjadi santapan rohani bagi kita. Dengan demikian, Allah sendiri yang akan mencurahkan rahmat kekudusan-Nya kepada kita yang mengambil bagian di dalam perjamuan surgawi ini.</p><p
style="margin-left: 40px;"><i>2) Lalu membagi-bagi roti itu dan memberikannya kepada para murid seraya berkata: Demikian pula sesudah perjamuan Ia mengambil piala. Sekali lagi Ia mengucap syukur, lalu mengedarkan piala itu kepada para murid seraya berkata: &quot;Terimalah dan minumlah!Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal, Yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa ini.</i><i> Terimalah dan makanlah! Inilah tubuhKu yang dikurbankan bagimu&#8230;&quot;</i><br
/> Ini adalah <b>perkataan Yesus sendiri dalam Perjamuan Terakhir</b>, seperti yang tertera di dalam gabungan kitab Matius, Markus, Lukas (Mat 26:26- 28; Mrk 14:22-24; Luk 22:19-20). Imam yang telah diurapi oleh Kristus diberi kuasa oleh Kristus sendiri, untuk mengucapkan sabdaNya ini yang berkuasa mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Inilah yang disebutkan sebagai doa konsekrasi. Begitu doa ini selesai diucapkan, mukjizat yang terbesar itu terjadi: yaitu Kristus hadir di tengah-tengah kita dalam rupa roti dan anggur; inilah yang disebut sebagai &quot;Transsubstansiasi&quot;. Hakekat roti itu bukan roti lagi, demikian juga anggur itu, melainkan Tubuh dan Darah Kristus, bersama dengan jiwa dan ke-Allahan-Nya, yaitu seluruh Kristus (Konsili Trente:DS 1651, KGK 1374)<br
/> Dalam Katekismus Gereja Katolik 1381, St. Thomas Aquinas mengutip St. Sirilus (Cyril) mengenai kebenaran perkataan Yesus dalam Luk 19:22 ini, &quot;jangan ragu-ragu apakah itu benar, melainkan terimalah kata-kata Penebus itu dalam iman. Karena Ia adalah Kebenaran, jadi Ia tidak menipu.&quot; <br
/> Maka pada saat imam mengangkat hosti dan piala anggur, kita memandang kepada hosti dan piala itu, sambil mengatakan dengan iman di dalam hati, &quot;<b>Ya Tuhanku dan Allahku</b>&quot;&nbsp; seperti yang dikatakan oleh Rasul Thomas, saat Kristus menampakkan diri kepadanya setelah kebangkitan-Nya (Luk 20:28). Pada saat yang sama ini kita mengangkat hati dan mempersembahkan segala yang ada pada kita: doa, pujian, syukur, pergumulan, permohonan dst kepada Tuhan. Kurban ini akan turut &#8216;naik&#8217; bersama dengan kurban Kristus, kepada Allah Bapa.</p><p
style="margin-left: 40px;"><i>3) Maklumkanlah misteri iman kita: Tuhan Engkau sudah wafat. Tuhan Engkau kini hidup. Engkau sang Juru Selamat. Datanglah ya Yesus Tuhan. Amin</i>.<br
/> Inilah misteri iman yang kita maklumkan, berdasarkan apa yang kita imani. Oleh kuasa Roh Kudus, <b>misteri Paska dihadirkan kembali dalam setiap misa kudus, yaitu: wafat, dan kebangkitan Kristus sambil kita menantikan kedatangan-Nya kembali</b>. Di sinilah Perjamuan Ekaristi menembus ruang dan waktu: wafat, kebangkitan dan kedatangan-Nya kita rayakan sebagai &quot;saat ini&quot;, sehingga Perjamuan Ekaristi menjadi &quot;<i>Heaven on Earth.</i>&quot; Kita sekarang merayakan kehadiran-Nya secara terselubung (KGK 1404), mengharapkan kedatangan-Nya dalam pemenuhan jaminan kemuliaan yang akan datang di surga (KGK 1402).</p><p
style="margin-left: 40px;"><i>4) Maka, sambil mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus, Kami mempersembahkan kepadaMu ya Bapa, roti kehidupan dan piala keselamatan. Kami bersyukur, sebab Engkau menganggap kami layak menghadap Engkau dan berbakti kepadaMu. Kami mohon, agar kami yang menerima tubuh dan darah Kristus, dipersatukan oleh Roh Kudus menjadi umatMu</i>.<br
/> Inilah doa umat yang mengenangkan<b> Kristus Sang Roti Hidup</b> (Yoh 6:35); dan <b>piala keselamatan yang berisi darah Perjanjian Baru dan kekal </b>yang akan membangkitkan kita pada akhir zaman (Yoh 6: 54). Maka bersyukurlah kita, yang dianggap-Nya layak untuk menerima rahmat yang tak terbatas ini, yaitu kehidupan kekal (Yoh 6:47). Ayat yang sama ini mengingatkan kita untuk senantiasa hidup dalam pertobatan yang terus menerus, sehingga dapat &#8216;layak menghadap Tuhan dan berbakti kepada-Nya&#8217;.<br
/> Oleh santapan rohani ini, kita dipersatukan oleh Roh Kudus dengan Kristus sang Kepala, dan dengan sesama anggota Gereja menjadi Tubuh Kristus. Persatuan kita dengan Kristus ini harusnya menjadikan kita bersatu sebagai umat-Nya, seperti yang menjadi doa Yesus sebelum sengsara-Nya, &quot;Aku berdoa &#8230; supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa ada di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.&quot;(Yoh 17:20-21).</p><p
style="margin-left: 40px;"><i>5) Ya Bapa, berkatilah GerejaMu yang tersebar di seluruh bumi. Sudilah memupuk cinta kasih persaudaraan umatMu dalam persatuan dengan Bapa Suci (Paus&#8230;) dan Bapa Uskup kami (&#8230;.) serta rohaniwan semuanya</i>. <br
/> Di dalam Ekaristi, Gereja juga merayakan <b>kesatuan di bawah pimpinan Bapa Paus, pengganti Rasul Petrus yang ditunjuk oleh Tuhan Yesus </b>sebagai dasar &#8216;batu karang&#8217; Gereja yang didirikan-Nya (Mat 16:18). Maka di dalam doa ini, kita memohon berkat Allah untuk mengikat kita semua di dalam persatuan dengan Bapa Paus dan para uskup pemimpin Gereja, yang merupakan penerus para Rasul.</p><p
style="margin-left: 40px;">6) Catatan: Berikut ini adalah paragraf doa untuk mendoakan jiwa orang yang sudah meninggal (pada Misa arwah) <br
/> <i>Selamatkanlah putraMu (putriMu) yang (pada hari ini/telah) Kau panggil menhadap hadiratMu. Dia telah meninggal seperti Kristus; maka perkenankanlah pula ia ikut bangkit bersama Kristus</i>. <br
/> Ini adalah doa yang diucapkan untuk medoakan keselamatan jiwa seseorang yang telah dipanggil Tuhan. Perkataan &quot;Dia telah meninggal seperti Kristus&quot; diartikan bahwa ia yang kita doakan telah meninggal dunia seperti Kristus yang telah meninggal dunia (di salib Golgota), dan berdoa agar ia dapat dibangkitkan bersama Kristus.&nbsp;</p><p
style="margin-left: 40px;"><i>7) Pada Misa biasa: Selamatkanlah (pula) saudara-saudari kami, kaum beriman, dan semua orang lain yang telah meninggal dunia. Berikanlah istirahat kekal kepada mereka dan kepada semua saudara yang meninggal dalam Kristus. Kasihanilah dan sambutlah mereka dalam pangkuanMu</i>.<br
/> Dalam doa ini, kita mengingat saudara-saudari kita yang telah dipanggil Tuhan. Kita berdoa bagi keselamatan jiwa mereka, dan memohon agar Tuhan segera membebaskan mereka dari Api Penyucian sehingga mereka dapat bergabung dalam kemuliaan surgawi. Dengan demikian, di dalam Ekaristi, kita sebagai <b>para anggota Gereja di dunia merayakan persatuan dengan para anggota Gereja yang sedang dimurnikan di Api Penyucian</b>.</p><p
style="margin-left: 40px;"><i>8 ) Kami semua mohon belas kasihanMu, ya Bapa. Supaya kami boleh mengambil bagian dalam kebahagiaan abadi, bersama Santa Maria, perawan dan bunda Allah, bersama para rasul dan semua orang kudus, yang hidup dalam cintaMu. Perkenankanlah kami memuji dan memuliakan Dikau</i>.<br
/> Melalui doa ini, kita merayakan persekutuan orang kudus. Ekaristi mempersatukan kita sebagai Gereja yang satu dan tidak terpisahkan; antara kita yang masih mengembara di dunia dengan para kudus yang sudah jaya di surga. Maka <b>persatuan kita dengan para kudus (Gereja yang sudah jaya di surga) diteguhkan, dan mereka membawa kita semakin lebih dekat kepada Kristus</b> (KGK 957).</p><p
style="margin-left: 40px;"><i>9) Dengan perantaraan Kristus, dan bersama Dia, serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepadaMu, Allah Bapa yang mahakuasa: Segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang segala masa. Amin</i>.<br
/> Doa Doksologi ini menyatakan penutup rangkaian Doa Syukur Agung, dengan <b>pujian kepada Allah Tritunggal Maha Kudus</b>: Bapa, Putera, dan Roh Kudus, yang menganggap kita layak untuk mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya di dalam Ekaristi kudus.</p><p><b>Komuni</b></p><p>&nbsp; [umat berdiri]</p><p
style="margin-left: 40px;"><b>1) Doa Bapa Kami&nbsp;</b> [umat berdiri] <i><br
/> Atas pentunjuk Penyelamat kita, dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:<br
/> Bapa kami yang ada di surga dimuliakanlah namaMu<br
/> Datanglah kerajaanMu jadilah kehendakMu, di atas bumi seperti di dalam surga. <br
/> Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. Jangan masukkan kami dalam cobaan.<br
/> Tapi bebaskan kami dari yang jahat. <br
/> Sebab Tuhanlah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin</i>.<br
/> Komuni di awali dengan mengulangi doa yang yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Kita berdoa <b>sebagai satu kesatuan saudara di dalam Tuhan Yesus Kristus</b>, sehingga kita dapat memanggil Allah sebagai &quot;Bapa Kami&quot; (Rom 4:6).</p><p
style="margin-left: 40px;"><b>2) Doa Damai</b> [umat berdiri]: <i><br
/> Tuhan Yesus Kristus, janganlah memperhitungkan dosa kami. Tetapi perhatikanlah iman GerejaMu, Dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendakMu sebab Engkaulah pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin</i>.<br
/> Doa ini merupakan permohonan yang sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus kepada umat di Filipi, &quot;&#8230; Dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (Flp 2: 1)&quot; sehingga <b>dengan menimba kekuatan dari Kristus sendiri, maka kita dapat memenuhi perintah-Nya untuk hidup rukun bersatu sebagai anggota Tubuh Kristus</b>, &quot;<b>sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri </b>atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.&quot; (Flp 2:2-5)<br
/> Dengan melihat kepada Kristus yang merendahkan diri sedemikian bagi kita, kitapun diajak oleh Kristus untuk meniru teladan-Nya yang memberikan diri bagi orang lain. Sehingga di dalam hidup kita bersama dengan orang lain, kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, &quot;yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, <b>Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.</b> Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: &quot;Yesus Kristus adalah Tuhan,&quot; bagi kemuliaan Allah Bapa!&quot; (Flp 2:6-11).<br
/> Kristus adalah teladan kasih dan kerendahan hati bagi kita semua, dan ini sangat nyata di dalam Ekaristi. Sebab bahkan saat Ia telah berada dalam kemuliaan surga, Ia masih tetap menyertai kita, tunduk pada perkataan para imam-Nya, dan hadir kembali di tengah kita dalam rupa roti dan anggur.</p><p
style="margin-left: 40px;"><b>3) Salam Damai</b> [umat berdiri] <br
/> <i>(Semoga) damai Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita. Sekarang dan selama-lamanya. </i>[Imam mengajak umat untuk menyatakan salam damai satu sama lain]<i>.<br
/> </i>Salam<i> </i>damai ini adalah sebagai kesempatan bagi kita untuk <b>berdamai dengan sesama</b>, sebelum kita mengambil bagian di dalam Perjamuan Tuhan, sesuai dengan perintah Yesus, &quot;&#8230; jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untk mempersembahkan persembahan itu&quot; (Mat 5:23-24). Maka, salam damai ini bukan hanya sekedar basa-basi, tetapi merupakan <b>niatan tulus di dalam hati kita untuk mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita; ataupun meminta ampun pada orang yang kita sakiti hatinya</b>. Karena mungkin pada saat itu kita belum dapat bertemu dengan mereka, maka saudara-saudari di sekeliling kita adalah merupakan &#8216;wakil&#8217; dari seseorang yang perlu kita ajak berdamai tersebut. (Tentu, setelah misa kudus, kita diharapkan dapat mewujudkan niat berdamai tersebut dengan orang yang bersangkutan). <br
/> Dengan demikian, maka kita dapat dengan hati lapang mengambil bagian di dalam perjamuan Ekaristi.</p><p
style="margin-left: 40px;"><b>4) Pemecahan Roti </b>[Umat berdiri]<br
/> Pemecahan roti merupakan Tradisi Suci para Rasul yang telah dilakukan sejak jemaat awal, yaitu, &quot;Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk <b>memecahkan roti </b>dan berdoa&quot; (Kis 2:42).</p><p
style="margin-left: 40px;"><b>5) Anakdomba Allah</b><i>: <br
/> Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia kasihanilah kami,&nbsp;&nbsp; Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia kasihanilah kami, <br
/> Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia berilah kami damai</i>.<br
/> [Umat berlutut]<br
/> Ini adalah Doa pujian kepada Kristus, Anak Domba Allah, seperti yang disebutkan dalam Kitab Wahyu 5-7, menggambarkan <b>perjamuan Anak Domba&nbsp; di surga</b>.&nbsp; Kita yang masih berziarah di dunia melihat kepada-Nya memohon belas kasih dan damai-Nya agar kitapun dapat sampai pada pemenuhan janji Penebusan dosa kita di surga. Maka Ekaristi mengarahkan pandangan kita ke surga, surga dan dunia yang baru, dimana tiada lagi air mata kesedihan, dan jaminan kemuliaan yang akan datang dipenuhi (KGK 1402-1405). Lebih lanjut mengenai Ekaristi sebagai Perjamuan Anak Domba, dapat dibaca pada buku karangan Scott Hahn, &quot;The Lamb Supper&quot;, yang saya percaya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.</p><p
style="margin-left: 40px;"><i>6) Inilah Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia. &quot;Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya. Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh</i>.&quot;<br
/> Doa ini merupakan salah satu doa yang terindah di dalam Alkitab, sebab didasari oleh kerendahan hati dan iman, seperti doa perwira di Kaparnaum (Mat 8:8), yang menurut St. Yohanes Krisostomus, merupakan doa yang serupa dengan doa penyamun yang disalibkan di samping salib Kristus, &quot;<b>Tuhan ingatlah akan aku dalam kerajaan-Mu</b>!&quot; (Luk 23:42; KGK 1386).</p><p
style="margin-left: 40px;"><b>7) Komuni</b> dibagikan: <i><br
/> Tubuh Kristus, Amin</i>.<br
/> Sebelum dan sesudah komuni, kita dapat berdoa pribadi, seperti yang pernah saya tuliskan pada jawaban saya terdahulu.</p><p>Demikian, semoga saya menjawab pertanyaan Luigi. Saya berharap, jika Luigi ikut kebaktian pada hari Minggu untuk menemani istri dan anak-anak, namun pada hari Minggu itu juga, anda tetap mengikuti Perayaan Ekaristi/ Misa Kudus di gereja Katolik.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> Ingrid Listiati&nbsp;</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Luigi</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1106</link> <dc:creator>Luigi</dc:creator> <pubDate>Thu, 18 Dec 2008 18:00:59 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1106</guid> <description>Ibu Ingrid Yth,
Saya berterima kasih atas penjelasan ibu, untuk informasi saya sebisa mungkin iktu misa harian di gereja St. Dominic , seringnya pagi jam 8 dan kadang2 sore jam 5.30 ,
waktu di Indonesia saya cukup aktif di Kharismatik dan sempat membantu persekutuan doa mudika di Paroki Pulo Mas.
Sebenarnya pertanyaan saya lebih kepada doa yang kita atau pastor ucapkan, seperti Damai Sejahtera yang diberikan Yesus , jangan perhitungkan dosa kami tapi perhatikanlah iman gerejaMu dan restuilah kami .... maaf bu sudah lupa padahal baru 1.5 tahun disini , nah mengenai Damai Sejahtera ini dikupas waktu ikut kebaktian GPdi , justru menguatkan saya bahwa khasanah dalam Misa sebenarnya sangat lengkap kalau kita mendapat penjelasan terutama yang alkitabiah. Terima kasih atas penjelasan ibu sehingga wawasan saya semakin bertambah. Gbu</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Ibu Ingrid Yth,<br
/> Saya berterima kasih atas penjelasan ibu, untuk informasi saya sebisa mungkin iktu misa harian di gereja St. Dominic , seringnya pagi jam 8 dan kadang2 sore jam 5.30 ,<br
/> waktu di Indonesia saya cukup aktif di Kharismatik dan sempat membantu persekutuan doa mudika di Paroki Pulo Mas.<br
/> Sebenarnya pertanyaan saya lebih kepada doa yang kita atau pastor ucapkan, seperti Damai Sejahtera yang diberikan Yesus , jangan perhitungkan dosa kami tapi perhatikanlah iman gerejaMu dan restuilah kami &#8230;. maaf bu sudah lupa padahal baru 1.5 tahun disini , nah mengenai Damai Sejahtera ini dikupas waktu ikut kebaktian GPdi , justru menguatkan saya bahwa khasanah dalam Misa sebenarnya sangat lengkap kalau kita mendapat penjelasan terutama yang alkitabiah. Terima kasih atas penjelasan ibu sehingga wawasan saya semakin bertambah. Gbu</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1103</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Thu, 11 Dec 2008 16:18:39 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1103</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Luigi, &lt;br&gt;
Sebelum saya menjawab pertanyaan Luigi, saya ingin juga menanyakan, apakah Luigi sekarang setiap minggunya menghadiri Misa di Gereja Katolik atau menghadiri kebaktian/ Perjamuan Kudus di Gereja Protestan? Sebab sesungguhnya apa yang dilakukan di gereja Protestan, (apapun namanya) berbeda maksudnya dengan makna &quot;Ekaristi Kudus&quot; atau Misa di dalam Gereja Katolik. Saya pernah menuliskan perbedaan makna Ekaristi dalam Gereja Katolik dengan Perjamuan kudus di gereja Protestan di &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-552&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;jawaban atas pertanyaan Oelan di sini&lt;/a&gt; (silakan klik).&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Jika Luigi mengikuti Misa kudus di gereja Katolik, saya menganjurkan agar Luigi mempersiapkan diri dulu sebelum mengikuti Misa, agar dapat menghayati Misa Kudus dengan lebih baik. Silakan baca artikel &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/10/26/cara-mempersiapkan-diri-menyambut-ekaristi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Cara Mempersiapkan diri Menyambut Ekaristi&lt;/a&gt;, dan jangan lupa membaca artikel mengenai Ekaristi yang lain yaitu; &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Sudahkah kita pahami Ekaristi&lt;/a&gt;, dan &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Ekaristi sumber dan puncak kehidupan Kristiani&lt;/a&gt;.&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Sebenarnya terpenting bagi kita orang Katolik, adalah mengikuti Misa Kudus di dalam Gereja Katolik, dan berpartisipasi aktif di dalamnya; sebab dengan demikian kita memenuhi apa yang menjadi bagian kita sebagai anggota Tubuh Kristus. Dengan ini kita menjalani peran &#039;imamat bersama&#039; yang kita terima di dalam pembaptisan kita. Silakan baca artikel ini, &quot;&lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Sudahkah kita diselamatkan?&lt;/a&gt;&quot; Dan oleh Ekaristi, kita sungguh-sungguh dipersatukan dengan Kristus sendiri dan seluruh anggota TubuhNya.&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Sebenarnya tidak ada doa yang baku untuk sebelum dan sesudah Komuni, sebab itu adalah saat yang paling intim/ erat antara setiap kita dengan Tuhan Yesus. Sebelum Komuni kita mengharapkan persatuan dengan Tuhan Yesus, sesudah Komuni kita bersyukur, menyembah Dia, dan dapat memohon juga rahmat/ pertolongan Tuhan untuk kehidupan kita selanjutnya. &lt;br&gt;
&lt;br&gt;
Contohnya dapat saya sertakan di sini (silakan disesuaikan sendiri, jika perlu):&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;1) &lt;b&gt;Doa sebelum Komuni&lt;/b&gt;:&lt;br&gt;
Datanglah O Tuhan Yesus Penyelamatku, dan kuatkanlah jiwaku dengan Roti Surgawi, yang mengandung segala kebaikan. Mari, puaskanlah kelaparan jiwaku. Datanglah, O Kasih yang berkobar, nyalakanlah di dalm hatiku kasih ilahi. &lt;br&gt;
Datanglah, O Terang Dunia, terangilah kegelapan jiwaku.&lt;br&gt;
Datanglah, O Rajaku, buatlah aku taat kepada kehendak-Mu.&lt;br&gt;
Datanglah, O Penyelamatku, jadikan aku lemah lembut dan rendah hati.&lt;br&gt;
Datanglah, Sang Tabib ilahi, sembuhkanlah tubuhku dan kelemahan jiwaku.&lt;br&gt;
Datanglah, O Gembala yang baik, Engkau Tuhanku, yang menjadi segalanya bagiku, bawalah aku kepadaMu. &lt;br&gt;
Bunda Maria,&#160; bantulah aku mempersiapkan hati menyambut Yesus Juru Selamatku.&#160;&#160; Amin&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;2) &lt;b&gt;Doa sesudah Komuni&lt;/b&gt;:&lt;br&gt;
Tuhan Yesus, selamat datang di hatiku. Mari bantulah aku membuang dari pikiranku segala sesuatu yang tak berkenan kepada-Mu. Aku bersyukur, Engkau mau datang kepadaku dan membawaku ke dalam Hati Kudus-Mu. Aku menyembah Engkau. Terima kasih Tuhan atas karunia-Mu yang terbesar ini! Aku bersyukur sebab Engkau baik, dan kasih setia-Mu tiada berkesudahan. ....***&lt;br&gt;
Kumohon agar aku dapat melewati hari ini bersama-Mu dengan suka cita, melakukan kehendak-Mu. &lt;br&gt;
Dampingilah aku hari ini, sehingga aku siap melayani Engkau dan tidak cepat mengeluh.&lt;br&gt;
Pimpinlah aku dalam segala pembicaraanku hari ini, sehingga jangan sampai aku menjadi kurang mengasihi.&lt;br&gt;
Dalam menghadapi kekecewaan, ajari aku supaya aku dapat bersabar, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang-orang di sekitarku.&lt;br&gt;
Dalam kesusahanku, tolonglah aku untuk dapat memikirkan kepentingan orang lain daripada hanya kepentingan sendiri.&lt;br&gt;
Dalam cobaan yang sedang kuhadapi, pimpinlah aku supaya aku tetap dapat bermurah hati dan setia pada jalan-Mu. &lt;br&gt;
Tuhan Yesus, kupersembahkan segala yang ada padaku: segala kesuksesanku yang adalah milik-Mu, dan kegagalan yang adalah milikku. Aku percaya, Engkau akan selalu menopangku, dan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Damai-Mu ya Tuhan, itu yang kuingini, dan aku berterima kasih sebab Engkau memberikannya kepadaku saat ini. &lt;br&gt;
Kupuji kebaikan-Mu ya Tuhan, Engkaulah Tamu Agung bagi jiwaku. Mari tinggallah di dalamku. **** Amin.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;Catatan:&lt;br&gt;
*** silakan ditambah dengan ucapan-ucapan syukur yang lain&lt;br&gt;
**** silakan dilanjutkan dengan doa hening.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mengenai pertanyaan Luigi tentang akhir hidup kita sebagai manusia, silakan baca, artikel&lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/11/28/bersyukurlah-ada-api-penyucian/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt; Bersyukurlah ada Api Penyucian!&lt;/a&gt; Jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya di bawah artikel tersebut.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br&gt;
Ingrid Listiati&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Luigi, <br
/> Sebelum saya menjawab pertanyaan Luigi, saya ingin juga menanyakan, apakah Luigi sekarang setiap minggunya menghadiri Misa di Gereja Katolik atau menghadiri kebaktian/ Perjamuan Kudus di Gereja Protestan? Sebab sesungguhnya apa yang dilakukan di gereja Protestan, (apapun namanya) berbeda maksudnya dengan makna &quot;Ekaristi Kudus&quot; atau Misa di dalam Gereja Katolik. Saya pernah menuliskan perbedaan makna Ekaristi dalam Gereja Katolik dengan Perjamuan kudus di gereja Protestan di <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/06/17/mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/#comment-552" rel="nofollow">jawaban atas pertanyaan Oelan di sini</a> (silakan klik).</p><p>Jika Luigi mengikuti Misa kudus di gereja Katolik, saya menganjurkan agar Luigi mempersiapkan diri dulu sebelum mengikuti Misa, agar dapat menghayati Misa Kudus dengan lebih baik. Silakan baca artikel <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/10/26/cara-mempersiapkan-diri-menyambut-ekaristi/" rel="nofollow">Cara Mempersiapkan diri Menyambut Ekaristi</a>, dan jangan lupa membaca artikel mengenai Ekaristi yang lain yaitu; <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/" rel="nofollow">Sudahkah kita pahami Ekaristi</a>, dan <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/" rel="nofollow">Ekaristi sumber dan puncak kehidupan Kristiani</a>.</p><p>Sebenarnya terpenting bagi kita orang Katolik, adalah mengikuti Misa Kudus di dalam Gereja Katolik, dan berpartisipasi aktif di dalamnya; sebab dengan demikian kita memenuhi apa yang menjadi bagian kita sebagai anggota Tubuh Kristus. Dengan ini kita menjalani peran &#8216;imamat bersama&#8217; yang kita terima di dalam pembaptisan kita. Silakan baca artikel ini, &quot;<a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/" rel="nofollow">Sudahkah kita diselamatkan?</a>&quot; Dan oleh Ekaristi, kita sungguh-sungguh dipersatukan dengan Kristus sendiri dan seluruh anggota TubuhNya.</p><p>Sebenarnya tidak ada doa yang baku untuk sebelum dan sesudah Komuni, sebab itu adalah saat yang paling intim/ erat antara setiap kita dengan Tuhan Yesus. Sebelum Komuni kita mengharapkan persatuan dengan Tuhan Yesus, sesudah Komuni kita bersyukur, menyembah Dia, dan dapat memohon juga rahmat/ pertolongan Tuhan untuk kehidupan kita selanjutnya.</p><p>Contohnya dapat saya sertakan di sini (silakan disesuaikan sendiri, jika perlu):</p><p
style="margin-left: 40px;">1) <b>Doa sebelum Komuni</b>:<br
/> Datanglah O Tuhan Yesus Penyelamatku, dan kuatkanlah jiwaku dengan Roti Surgawi, yang mengandung segala kebaikan. Mari, puaskanlah kelaparan jiwaku. Datanglah, O Kasih yang berkobar, nyalakanlah di dalm hatiku kasih ilahi. <br
/> Datanglah, O Terang Dunia, terangilah kegelapan jiwaku.<br
/> Datanglah, O Rajaku, buatlah aku taat kepada kehendak-Mu.<br
/> Datanglah, O Penyelamatku, jadikan aku lemah lembut dan rendah hati.<br
/> Datanglah, Sang Tabib ilahi, sembuhkanlah tubuhku dan kelemahan jiwaku.<br
/> Datanglah, O Gembala yang baik, Engkau Tuhanku, yang menjadi segalanya bagiku, bawalah aku kepadaMu. <br
/> Bunda Maria,&nbsp; bantulah aku mempersiapkan hati menyambut Yesus Juru Selamatku.&nbsp;&nbsp; Amin</p><p
style="margin-left: 40px;">2) <b>Doa sesudah Komuni</b>:<br
/> Tuhan Yesus, selamat datang di hatiku. Mari bantulah aku membuang dari pikiranku segala sesuatu yang tak berkenan kepada-Mu. Aku bersyukur, Engkau mau datang kepadaku dan membawaku ke dalam Hati Kudus-Mu. Aku menyembah Engkau. Terima kasih Tuhan atas karunia-Mu yang terbesar ini! Aku bersyukur sebab Engkau baik, dan kasih setia-Mu tiada berkesudahan. &#8230;.***<br
/> Kumohon agar aku dapat melewati hari ini bersama-Mu dengan suka cita, melakukan kehendak-Mu. <br
/> Dampingilah aku hari ini, sehingga aku siap melayani Engkau dan tidak cepat mengeluh.<br
/> Pimpinlah aku dalam segala pembicaraanku hari ini, sehingga jangan sampai aku menjadi kurang mengasihi.<br
/> Dalam menghadapi kekecewaan, ajari aku supaya aku dapat bersabar, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang-orang di sekitarku.<br
/> Dalam kesusahanku, tolonglah aku untuk dapat memikirkan kepentingan orang lain daripada hanya kepentingan sendiri.<br
/> Dalam cobaan yang sedang kuhadapi, pimpinlah aku supaya aku tetap dapat bermurah hati dan setia pada jalan-Mu. <br
/> Tuhan Yesus, kupersembahkan segala yang ada padaku: segala kesuksesanku yang adalah milik-Mu, dan kegagalan yang adalah milikku. Aku percaya, Engkau akan selalu menopangku, dan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Damai-Mu ya Tuhan, itu yang kuingini, dan aku berterima kasih sebab Engkau memberikannya kepadaku saat ini. <br
/> Kupuji kebaikan-Mu ya Tuhan, Engkaulah Tamu Agung bagi jiwaku. Mari tinggallah di dalamku. **** Amin.</p><p
style="margin-left: 40px;">Catatan:<br
/> *** silakan ditambah dengan ucapan-ucapan syukur yang lain<br
/> **** silakan dilanjutkan dengan doa hening.</p><p>Mengenai pertanyaan Luigi tentang akhir hidup kita sebagai manusia, silakan baca, artikel<a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/11/28/bersyukurlah-ada-api-penyucian/" rel="nofollow"> Bersyukurlah ada Api Penyucian!</a> Jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya di bawah artikel tersebut.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> Ingrid Listiati</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Luigi</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1097</link> <dc:creator>Luigi</dc:creator> <pubDate>Wed, 10 Dec 2008 18:36:06 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1097</guid> <description>Yth. Bapak/Ibu ,
Sebenarnya saya mohon ada penjelasan mengenai ekaristi dan setiap doa yang kita lakukan dalam ekaristi ... karena saya kebetulan menemukan secara tidak sengaja di GPdi San Francisco , mungkin banyak hal yang tidak kita ketahui mengenai doa doa dalam Sakramen Ekaristi itu sendiri sehingga banyak yang menganggap hanya ritual belaka dan tidak alkitabiah.
Jalan ceritnya begini , saya seorang Khatolik yang sejak bayi sudah dipermandikan di Jakarta ,paroki Kramat, istri saya seorang protestan, waktu di Jakarta saya jarang sekali menemani istri saya ke gerja Protestan, paling2 hanya acara Natal dan Paskah.
Nah di SF ini saya tiap minggu menemani istri saya dan anak2 , ke GPdi SF , ada beberapa kali penjelasan Firman Tuhan yang saya ingat mengenai Damai Sejahtera dan Akhir Zaman .
Damai Sejahtera selalu di doa kan sebelum Komuni Kudus di Misa , dan untuk Akhir Zaman, mereka juga mengakui kalau pada saat Yesus datang untuk ke 2 kali akan membangkitkan orang hidup dan mati, jadi kalau kita mati sekarang akan kemana ? orang Khatolik percaya bahwa kita akan masuk api pencucian terlebih dahulu untuk dimurnikan, sedang mereka percaya langsung masuk surga atau neraka.
Mohon penjelasannya agar saya bisa dapat lebih memahami setiap doa yang di ucapkan di Misa. Terima kasih.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Yth. Bapak/Ibu ,<br
/> Sebenarnya saya mohon ada penjelasan mengenai ekaristi dan setiap doa yang kita lakukan dalam ekaristi &#8230; karena saya kebetulan menemukan secara tidak sengaja di GPdi San Francisco , mungkin banyak hal yang tidak kita ketahui mengenai doa doa dalam Sakramen Ekaristi itu sendiri sehingga banyak yang menganggap hanya ritual belaka dan tidak alkitabiah.<br
/> Jalan ceritnya begini , saya seorang Khatolik yang sejak bayi sudah dipermandikan di Jakarta ,paroki Kramat, istri saya seorang protestan, waktu di Jakarta saya jarang sekali menemani istri saya ke gerja Protestan, paling2 hanya acara Natal dan Paskah.<br
/> Nah di SF ini saya tiap minggu menemani istri saya dan anak2 , ke GPdi SF , ada beberapa kali penjelasan Firman Tuhan yang saya ingat mengenai Damai Sejahtera dan Akhir Zaman .<br
/> Damai Sejahtera selalu di doa kan sebelum Komuni Kudus di Misa , dan untuk Akhir Zaman, mereka juga mengakui kalau pada saat Yesus datang untuk ke 2 kali akan membangkitkan orang hidup dan mati, jadi kalau kita mati sekarang akan kemana ? orang Khatolik percaya bahwa kita akan masuk api pencucian terlebih dahulu untuk dimurnikan, sedang mereka percaya langsung masuk surga atau neraka.<br
/> Mohon penjelasannya agar saya bisa dapat lebih memahami setiap doa yang di ucapkan di Misa. Terima kasih.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/18/apakah-berdoa-itu-percuma-bagian-4/comment-page-1/#comment-1037</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Mon, 08 Dec 2008 01:18:58 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=215#comment-1037</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Isa Inigo, &lt;br /&gt;
Mengenai takdir, sebenarnya pernah saya tuliskan &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-626&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;di sini &lt;/a&gt;(silakan klik). Silakan dibaca dulu ya, dan kalau masih ada pertanyaan silakan bertanya lagi. &lt;br /&gt;
Pada dasarnya, manusia diberi kehendak bebas oleh Tuhan, maka manusia bukanlah hanya sekedar &#039;boneka&#039; yang menjalani apa yang sudah digariskan/ menjadi takdir. Jadi tidak benar bahwa jika manusia berbuat dosa, itu karena sudah digariskan berbuat dosa, sehingga sesungguhnya ia tidak bersalah. Sebagai akibat dosa asal Adam dan Hawa, maka kita manusia memang memiliki kecenderungan berbuat dosa, namun demikian, Allah juga memberikan rahmat-Nya, sehingga manusia dapat mengalahkan kecenderungan berbuat dosa tersebut. Oleh sakramen Pembaptisan, kita dikaruniai rahmat untuk meninggalkan dosa, dan hidup di dalam Roh Kudus, untuk menjalankan perintah-perintah Allah. Kemudian oleh rahmat Tuhan yang kita terima terus menerus, terutama di dalam Ekaristi, kita dimampukan untuk hidup seturut kehendak Allah. Jadi, dengan demikian kita bukan hamba dosa lagi, melainkan kita &quot;telah dimerdekakan Allah dari dosa menjadi hamba kebenaran&quot; (lihat. Rom 6:17-18). Maka harus bertanggung jawab atas perbuatan kita, apakah perbuatan kita tersebut berdasarkan kebenaran atau tidak. Sebab di akhir nanti, kita semua akan diadili oleh Tuhan, sesuai dengan perbuatan kita (lihat 1 Pet 1:17). Artinya, kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di hadapan Tuhan. Dengan demikian kita mengetahui bahwa tidak mungkin Tuhan menakdirkan seseorang untuk berbuat jahat, karena justru sebaliknya, jika kita berbuat jahat, maka Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Isa Inigo.&lt;br /&gt;
Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
Ingrid Listiati&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Isa Inigo, <br
/> Mengenai takdir, sebenarnya pernah saya tuliskan <a
href="http://katolisitas.org/buku-tamu/#comment-626" rel="nofollow">di sini </a>(silakan klik). Silakan dibaca dulu ya, dan kalau masih ada pertanyaan silakan bertanya lagi. <br
/> Pada dasarnya, manusia diberi kehendak bebas oleh Tuhan, maka manusia bukanlah hanya sekedar &#8216;boneka&#8217; yang menjalani apa yang sudah digariskan/ menjadi takdir. Jadi tidak benar bahwa jika manusia berbuat dosa, itu karena sudah digariskan berbuat dosa, sehingga sesungguhnya ia tidak bersalah. Sebagai akibat dosa asal Adam dan Hawa, maka kita manusia memang memiliki kecenderungan berbuat dosa, namun demikian, Allah juga memberikan rahmat-Nya, sehingga manusia dapat mengalahkan kecenderungan berbuat dosa tersebut. Oleh sakramen Pembaptisan, kita dikaruniai rahmat untuk meninggalkan dosa, dan hidup di dalam Roh Kudus, untuk menjalankan perintah-perintah Allah. Kemudian oleh rahmat Tuhan yang kita terima terus menerus, terutama di dalam Ekaristi, kita dimampukan untuk hidup seturut kehendak Allah. Jadi, dengan demikian kita bukan hamba dosa lagi, melainkan kita &quot;telah dimerdekakan Allah dari dosa menjadi hamba kebenaran&quot; (lihat. Rom 6:17-18). Maka harus bertanggung jawab atas perbuatan kita, apakah perbuatan kita tersebut berdasarkan kebenaran atau tidak. Sebab di akhir nanti, kita semua akan diadili oleh Tuhan, sesuai dengan perbuatan kita (lihat 1 Pet 1:17). Artinya, kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di hadapan Tuhan. Dengan demikian kita mengetahui bahwa tidak mungkin Tuhan menakdirkan seseorang untuk berbuat jahat, karena justru sebaliknya, jika kita berbuat jahat, maka Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita.</p><p>Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Isa Inigo.<br
/> Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> Ingrid Listiati</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 40/83 queries in 0.097 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-09-08 10:10:53 -->