Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 4 - Selesai)

Tulisan ini adalah bagian ke 4 atau tulisan terakhir dari topik "Apakah berdoa itu percuma?" Dalam tulisan ini akan dijelaskan konsep doa menurut St. Teresia kanak-kanak Yesus yang dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik.

"Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan"

Rangkaian topik "Apakah berdoa itu percuma?" adalah sebagai berikut:

Doa_4 Kesalahan persepsi doa menurut St. Thomas Aquinas

Dalam tiga tulisan sebelumnya, telah dibahas tentang tiga kesalahan persepsi tentang doa yang sering kita jumpai sehari-hari, baik yang kita lakukan sendiri maupun oleh teman-teman kita. Kalau kita lihat, tiga kesalahan persepsi yang diajukan oleh St. Thomas, mungkin telah mencakup semua kesalahan persepsi tentang doa. St. Thomas membaginya menjadi tiga bagian, yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Tuhan dianggap netral: seolah-olah Dia hanya berpangku tangan saja, baik kejadian yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Seolah-olah Tuhan hanya sebagai penonton.
  • Tuhan dianggap negatif: seolah-olah Tuhan sudah menentukan semuanya, di mana lebih kepada pengertian yang negatif, sehingga doa juga percuma, karena semuanya sudah ditakdirkan.
  • Tuhan dianggap positif: seolah-olah kasih Tuhan diukur sampai seberapa jauh Tuhan memenuhi permintaan doa kita, sampai pada titik bahwa doa kita dapat mengubah keputusan Tuhan.

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas, kita harus dapat menangkap hakekat dari doa itu sendiri. Dalam tulisan ini akan diuraikan definisi doa menurut St. Teresia kanak-kanak Yesus.

Definisi Doa menurut St. Teresia yang dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik.

Katekismus Gereja Katolik 2558-2559, mengutip St. Teresia kanak-kanak Yesus, mengatakan "Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan". Definisi ini terlihat sederhana, namun mencakup banyak hal. Mari kita lihat satu persatu.

Doa harus melibatkan hati

Dalam doa, akal budi (reason or intellect) dan keinginan hati (the will) harus bekerjasama untuk menerima dan mengalami kehadiran Tuhan.[1] Kita mencoba menggunakan akal budi kita untuk berfikir tentang Tuhan dan dengan keinginan hati, kita mau untuk mengalami kehadiran Tuhan. Sebagai contoh, kita harus terlebih dahulu mengetahui tentang hukum Tuhan dan pelanggaran kita terhadap Tuhan, sebelum kita dapat mengalami pertobatan. Tidak mungkin kita mengalami pertobatan tanpa terlebih dahulu tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah salah di mata Tuhan. Namun sebaliknya, hanya berfikir tentang Tuhan tidaklah cukup, namun kita harus memberikan hati kita kepada Tuhan di dalam doa.[2] Kalau mau dikatakan, setanpun berfikir tentang Tuhan. Mereka punya pengetahuan tentang Tuhan dalam derajat tertentu, namun mereka tidak memberikan hati mereka kepada Tuhan. Katekismus Gereja Katolik menegaskan, memang benar bahwa keseluruhan diri manusia yang berdoa, namun terlebih lagi adalah hati yang berdoa.[3] Sehingga dapat dikatakan bahwa jika hati kita jauh dari Tuhan, maka kata-kata di dalam doa adalah percuma.[4] Disinilah perkataan St. Teresia menjadi begitu nyata dan benar: doa adalah ayunan hati.

Tuhan adalah penggerak utama dalam doa.

Kalau bagi St. Teresia doa adalah "ayunan hati", maka yang mengayun hati adalah Tuhan. Karena Tuhan sendiri yang menanti kita di dalam doa. Dikatakan bahwa manusia mencari Tuhan, namun Tuhan yang memanggil manusia terlebih dahulu.[5] Bahkan doa sebenarnya adalah suatu anugerah dari Tuhan.[6] Drama tentang doa ditunjukkan pada waktu Yesus menunggu di sumur dan kemudian bertemu dengan wanita Samaria (Yoh 4:1-26).[7] Yesus yang menanti kita karena haus akan balasan kasih kita. Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa Tuhan tidak campur tangan dalam kehidupan kita atau malah beranggapan bahwa Tuhan telah menakdirkan sesuatu yang tidak baik dalam kehidupan seseorang, maka anggapan ini adalah salah sekali. Bukan hanya dia "menjawab doa kita", bahkan Dia yang terlebih dahulu "menggerakkan hati kita untuk berdoa", karena Dia sudah menunggu kita di sumber air, di hati kita, di tempat di mana kita dapat bertemu dengan Tuhan.[8]

Kita diciptakan dengan kapasitas untuk mengarahkan hidup kita pada tujuan akhir.

Bahkan sebenarnya, Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa, sehingga manusia mempunyai kapasitas untuk mengarahkan hidupnya kepada tujuan akhir. Sadar atau tidak, kita mempunyai kapasitas untuk ini. Dengan kapasitas inilah, St. Agustinus berkata "Hatiku tidak akan tenang, sampai aku menemukan Engkau, ya Tuhan." Dan kapasitas ini bukan hanya milik beberapa orang saja, namun semua orang, karena pada dasarnya manusia adalah seorang filsuf.[9] Pada saat kita mempertanyakan "apa itu hidup, apa tujuan kehidupan, apakah kebahagiaan, dll", maka kita dihadapkan kepada suatu permenungan akan "suatu awal dan tujuan akhir". Pada saat pertanyaan ini didiskusikan dengan Tuhan, maka ini adalah suatu wujud doa, karena Tuhan adalah awal dan akhir. Dialog ini akan menjadi doa seorang Kristen kalau berdasarkan wahyu Yesus Kristus. Dan ini akan menjadi doa seorang Katolik, kalau berdasarkan wahyu Yesus Kristus yang diteruskan dalam Tradisi Katolik dan ajaran Katolik yang mendasari doa tersebut, di mana doa mencapai puncaknya pada perayaan Ekaristi Kudus[10] (lihat artikel: Sudahkah kita pahami pengertian Ekaristi? ).

Doa adalah pandangan sederhana ke surga

St. Teresia lebih lanjut mengatakan bahwa doa adalah "pandangan sederhana ke surga." Di dalam doa, derajat kedekatan dengan Tuhan yang kita alami hanyalah merupakan pandangan sederhana atau sekilas yang sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan sejati pada waktu nanti kita bertemu dengan Yesus muka dengan muka (1 Kor 2:9). Pada waktu kita berdoa, kita juga mengarahkan hati bukan kepada hal-hal di dunia ini, namun untuk hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan jiwa kita, yaitu tujuan akhir yang utama: persatuan dengan Tuhan di surga. Jadi kita perlu mengintrospeksi, apakah isi dari doa kita? Apakah semuanya berisi dengan kebutuhan yang bersifat jasmani semata, ataukah dipenuhi dengan hal-hal untuk keselamatan jiwa kita? "Pandangan sederhana ke surga" adalah suatu pandangan yang begitu dalam. Kedalamannya terletak pada keserhanaannya. Kesederhanaan suatu konsep "Manusia akan mengarahkan segala sesuatunya kepada tujuan akhir." Dalam Alkitab dikatakan "di mana hartamu berada, disitu juga hatimu berada" (Mat 6:21; Luk 12:34). Seperti seorang yang bekerja di bagian sales atau penjualan. Tujuan akhir dari pekerjaan ini adalah memenuhi target penjualan. Jadi semua usaha, pikiran, dan hati diarahkan seluruhnya untuk mencapai target yang ditetapkan oleh perusahaan. Dari contoh ini, kita melihat bahwa tujuan akhir menentukan semua sikap, perilaku, dan juga pikiran dan hati.

Tujuan akhir dan definisi tentang kebahagiaan menentukan sikap kita dalam doa.

Nah, mari kita melihat dalam kehidupan rohani kita. Di atas telah diulas bahwa manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengenal tujuan akhir, yaitu untuk bersatu dengan Tuhan. Kalau kita membuat hal ini benar-benar menjadi tujuan akhir hidup kita, maka segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk mencapai tujuan ini. Dan cara yang dapat kita lakukan di dunia ini untuk mencapai tujuan akhir ini adalah melalui doa. Dengan kata lain apa yang kita doakan adalah tergantung dari definisi kita tentang tujuan akhir hidup kita maupun definisi kita tentang kebahagiaan.

Kalau seseorang yang definisi kebahagiaannya adalah untuk menjadi orang kaya, maka doa-doanya akan dipenuhi dengan urusan pekerjaan, proyek, uang, dll. Kalau seseorang yang definisi kebahagiaannya adalah keluarga, maka doanya dipenuhi dengan doa untuk keselamatan dan kebahagiaan anggota keluarga. Nah dalam definisi St. Teresia, definisi kebahagiaannya adalah pandangan ke surga. Inilah yang membedakan doa kita dengan doa para orang kudus. Bagi orang kudus, definisi kebahagiaan dan tujuan akhir dari hidup begitu jelas – yaitu persatuan dengan Allah – sehingga doa adalah menjadi cara (the means) untuk mencapai tujuan akhir ini (end). Kita sering membalik ini dan melihat doa sebagai akhir. Akibatnya, kalau doa kita tidak dijawab oleh Tuhan seperti yang kita inginkan, maka kita akan kecewa, putus asa, dan marah. Namun kalau kita melihat doa adalah suatu cara untuk mencapai tujuan akhir, maka apapun jawaban Tuhan terhadap doa kita akan kita terima dengan lapang hati karena pada akhirnya semuanya akan mendatangkan kebaikan buat kita (Roma 8:28), yaitu untuk mencapai tujuan akhir, bersatu dengan Tuhan.

St. Yohanes dari Damaskus mengatakan bahwa "doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik."[11] Hal-hal yang baik disini adalah dalam relasinya dengan tujuan akhir manusia, persatuan dengan Allah di surga.

Doa didasarkan kepada iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan.

St. Teresia juga menekankan pentingnya "seruan syukur (dalam edisi bahasa Inggis dikatakan a cry of recognition atau seruan pengakuan) dan cinta kasih". Seruan syukur adalah suatu ungkapan kepada seseorang atas pertolongan dan pemeliharaannya kepada kita. Dan kalau kita mengucap syukur kepada Tuhan, berarti kita mengakui pertolongan-Nya dan pemiliharaan tangan-Nya dalam kehidupan kita. Kita mengakui bahwa tanpa Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah sikap kerendahan hati yang berkenan di mata Tuhan dan menjadi dasar utama dari doa.[12]

Seruan syukur atau seruan pengakuan menjadi suatu ekspresi iman dan pengharapan. Mengaku bahwa Tuhan adalah segalanya adalah suatu pernyataan iman. Mendaraskan doa kita kepada Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Baik adalah suatu pernyataan pengharapan. Doa juga merupakan tempat pertemuan antara kasih Allah yang sudah terlebih dahulu menunggu kita dengan kasih kita kepada Allah.[13] Bahkan dikatakan bahwa kasih adalah penyebab dari doa.[14] Jadi kita bisa melihat bahwa doa yang benar dilandaskan pada kebajikan ilahi "iman, pengharapan, kasih." Tanpa ketiga hal ini, doa menjadi sia-sia. Kalau kerendahan hati adalah dasar dari doa, maka iman adalah suatu bentuk kerendahan hati akal budi, dan pengharapan adalah bentuk kerendahan hati dari keinginan.[15] Ini berarti bahwa kalau doa kita didasari oleh iman dan pengharapan yang berlandaskan kasih yang benar, maka Tuhan akan mengabulkan doa kita.

Mari kita melihat apa yang dikatakan Yesus "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Mat 7:7; 21:22; Mar 11:24; Luk 11:9; Yoh 14:13). Mengomentari hal ini, St. Thomas Aquinas di dalam bukunya "Catena Aurea", mengatakan bahwa "Kita meminta dengan iman, mencari dengan harapan, dan mengetuk dengan kasih". Jadi dalam hal ini kebajikan Ilahi, yang terdiri dari: iman, pengharapan, dan kasih menjadi dasar doa kita.[16] Iman memungkinkan manusia untuk menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah, termasuk seluruh kejadian dalam kehidupannya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Harapan, membuat kita merindukan kehidupan kekal bersama Allah sebagai tujuan akhir dan tujuan utama kehidupan kita.[17] Kasih, memungkinkan kita untuk mengasihi Allah lebih dari segala sesuatu di dunia ini, dan mengasihi sesama demi kasih kita kepada Allah.[18]

Kalau kita melihat definisi di atas dan jujur terhadap diri sendiri, maka kita dapat mengatakan bahwa doa yang kita minta sering tidak didasari oleh kebajikan ilahi. Mungkin kita berdoa dengan iman dan pengharapan yang kelihatannya begitu besar, namun sebenarnya tanpa didasari kasih kepada Tuhan.[19] Berapa sering kita mendengar doa-doa yang dipanjatkan "dalam nama Yesus, kutolak kemiskinan, sakit penyakit, dll" Kalau doa kita didominasi oleh pekerjaan dan juga kekayaan, maka kita dapat mempertanyakan, apakah doa ini berdasarkan kasih kepada diri sendiri atau kasih kepada Tuhan.

Kalau kasih adalah melihat sesuatu yang baik dari seseorang atau menginginkan sesuatu yang baik terjadi bagi orang tersebut, maka pertanyaannya, apakah kekayaan mendatangkan kebaikan buat Tuhan? Tidak juga. Tuhan tidak bertambah mulia dengan kekayaan kita, walaupun kita dapat memuliakan Tuhan dengan kekayaan yang diberikan oleh Tuhan. Namun sering kita meminta kekayaan bukan untuk memuliakan Tuhan, namun untuk kesenangan diri kita pribadi.

Pertobatan hati menuntun kita kepada doa yang benar.

Namun, sebelum kita dapat melandaskan doa berdasarkan kebajikan Ilahi, maka kita terlebih dahulu akan dihadapkan pada suatu realitas bahwa kita adalah orang berdosa.[20] Realitas ini adalah pengetahuan terhadap diri kita sendiri. Namun pengetahuan tentang diri sendiri tidaklah cukup, karena hanya akan berakhir pada keputusasaan, seperti yang dicontohkan oleh Yudas Iskariot. Pengetahuan ini perlu digabungkan dengan pengetahuan akan Allah yang Maha Kasih dan Pengampun. Dua pengetahuan ini akan membawa kita kepada kerendahan hati dan pertobatan yang benar yang memungkinkan kita mempunyai hati murni, yang akhirnya akan membukakan hati kita untuk menyelaraskan hidup kita dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan (lihat artikel Kerendahan hati: dasar dan jalan menuju Kekudusan), seperti yang telah dicontohkan oleh Santo Petrus. Yesus mengatakan bahwa "Berbahagialah orang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat 5:8).

Kembali kita diingatkan bahwa bukan kita yang mengubah Tuhan dengan doa kita, namun dengan kesucian hati, seseorang dapat menyesuaikan hidupnya dengan kehendak Tuhan,[21] yang pada akhirnya menuntun kepada kesesuaian dengan kehendak Tuhan, seperti yang dicontohkan oleh Yesus sendiri. Di dalam doa-Nya di taman Getsemani, Yesus berkata "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Luk 22:42). Inilah doa dengan nafas, "Tuhan apakah yang Engkau kehendaki?" dan "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan untuk melaksanakan kehendak-Mu?"[22]

Doa yang mengutamakan kehendak Tuhan ialah doa yang lepas dari kepentingan pribadi. Doa seperti inilah yang dilandaskan oleh kebajikan Ilahi: iman, pengharapan, dan kasih. Inilah doa yang dicontohkan oleh Abraham, Musa, dan para orang kudus. Inilah doa, dimana Roh Kudus sendiri yang membantu kita untuk berdoa.

Dan doa yang mengalir dari kebajikan Ilahi tidak akan terpisah dari kehidupan yang nyata, karena doa dan kehidupan bersumber pada kasih yang sama. Pada saat seseorang dapat menggabungkan antara pekerjaan dan kegiatan yang lain dengan nafas doa, maka seseorang mencapai "doa yang tiada henti atau prayer without ceasing." Dan inilah yang diserukan oleh St. Teresia, bahwa doa harus dilakukan "di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan." Ini berarti doa harus dilakukan setiap saat tanpa memandang situasi yang sedang kita alami.

Doa tidaklah percuma, namun harus menjadi nafas kehidupan kita

Dengan semua argumen di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa doa tidaklah percuma, bahkan doa harus menjadi kebutuhan utama orang Kristen, sama seperti oksigen menjadi kebutuhan utama manusia. Semakin kita mengerti akan kesalahan persepsi doa, semakin kita tersadar akan kekuatan doa yang sesungguhnya, yaitu doa yang dituntun oleh Roh Kudus, yang menjadikan kita untuk semakin serupa dengan Kristus, sehingga kita dapat mengikuti kehendak Allah Bapa. Hanya dengan doa yang tiada henti, dilakukan dengan disposisi hati yang benar, maka kita akan melihat buah-buah doa dalam kehidupan kita. Mari kita mengikuti teladan Yesus, yang memberikan kepada kita doa yang paling sempurna, doa Bapa Kami. Kita juga mengikuti teladan Maria, dan para kudus, dimana setiap tarikan nafas dari mereka merupakan doa yang tak putus-putusnya, yang rindu untuk melaksanakan kehendak Bapa.

Mari kita mengingat sekali lagi apa yang dikatakan oleh St. Teresia kanak-kanak Yesus. "Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan".

Marilah kita berdoa.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin. Ya, Tuhan, pada saat ini aku datang kepada-Mu, mengakui bahwa aku adalah orang yang berdosa. Dalam segala kelemahanku, bantulah aku ya Tuhan agar aku dapat mempunyai hati yang kudus, sehingga Engkau dapat meraja dalam hatiku. Tuhan, ubahlah hatiku walaupun aku belum siap. Bantulah agar aku dapat menyesuaikan segala pikiran, keinginan, dan perbuatanku sesuai dengan kehendak-Mu. Berikan aku kekuatan agar aku dapat menjadi seorang pendoa yang benar, karena aku tahu hanya melalui doa saja, iman, pengharapan, dan kasihku kepada-Mu dapat bertumbuh. Bantu aku ya Tuhan, agar doa juga dapat menjadi nafas perbuatanku setiap hari. Aku mengundang Engkau ya Tuhan, untuk terus membentuk aku sesuai dengan kehendak-Mu. Dalam nama Yesus, aku naikkan doa ini. Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.


[1] St. Thomas Aquinas, The Summa Theologica of St. Thomas Aquinas (Christian Classics, 1981), ST, II-II, q.83, a.1.; Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 2559.

[2] KGK, 2562-2563 Di sini, KGK menekankan akan pentingnya peranan hati untuk turut berdoa. Berfikir tentang Tuhan saja tidak cukup. Pikiran harus membantu hati (the will) untuk berdoa dengan baik, dan demikian juga sebaliknya.

[3] Ibid., 2562.

[4] Ibid.

[5] Ibid., 2566-2567.

[6] Ibid., 2559-2561.

[7] Ibid., 2560.

[8] Ibid., 2563.

[9] John Paul II, Encyclical Letter on the Relationship between Faith and Reason: Fides et Ratio, 1st ed. (Pauline Books & Media, 1998), 3, 64 Kalau kita amati, hanya manusia saja yang dapat mempertanyakan tujuan hidupnya.

[10] KGK, 1324, 2624 Ekaristi adalah suatu bentuk doa yang paling sempurna, karena menghadirkan kembali kurban Yesus Kristus. Ini juga merupakan tradisi apostolik, seperti yang ditunjukkan jemaat perdana. "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa." (Kis 2:42)

[11] Ibid., 2559.

[12] Ibid.

[13] Ibid., 2560.

[14] Aquinas, ST, ST II-II, q.83, a.13.

[15] Ibid., II-II, q.161, a.5.

[16] KGK, 1812-1813 Iman, pengharapan, dan kasih atau disebut kebajikan Ilahi (theological virtues) memungkinkan manusia berhubungan dengan Allah, dimana kita dapatkan pada waktu kita menerima pembaptisan. Dengan ini, manusia dapat mengambil bagian dan berpartisipasi dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Dan kebijaksanaan Ilahi ini menjadi dasar, jiwa dan tanda pengenal tindakan moral orang Kristen.

[17] Ibid., 1817.

[18] Ibid., 1822.

[19] Dalam hal ini, kalau kita mendasarkan doa kita berdasarkan iman dan pengharapan yang benar, maka kasih senantiasa ada di dalamnya.

[20] Ibid., 2631.

[21] Ibid., 2518.

[22] Ibid., 2705-2706.


5 artikel/gambar terakhir di kategori Fundamental Teologi


5 artikel/gambar terakhir di kategori Semua Artikel


5 artikel/gambar terakhir di kategori Spiritualitas

Tentang Penulis

author photo

Stefanus Tay Sedang menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat. Stefanus telah menyelesaikan 5 semester dari total 6 semester untuk menyelesaikan program studi ini.

Lihat Semua Artikel oleh Penulis Ini

Ada 22 Komentar Sampai Saat Ini. (klik ini untuk menulis pesan "TOPIK BARU")

  1. DOA HARUS MENJADI NAFAS HIDUP.

    Uraian tentang doa oleh pa Stef bagus sekali. Yang mengatakan doa itu tidak perlu, maka yang bersangkutan adalah orang yang sombong. Kalau kita berdoa artinya kita ada ketergantungan hidup. Di atas hidup ini masih ada yang “memiliki” kehidupan itu sendiri. Kita tidak bebas begitu saja. Kalau kita berdoa artinya kita ini menjadi tidak berarti. Kita sangat kecil, oleh karena itu kita butuh tiang penyangga yang menjadi kekuatan kita. Dengan demikian, doa harus menjadi nafas kehidupan kita. Jangan memakai metoda “doa ingat” artinya berdoa kalau ingat. Kita musti berdoa baik dalam suka dan duka. Doa harus bersifat seperti nafas kita. Artinya berdoalah setiap saat. Nimbrung sedikit saja. All is based on experience.

    Jus Soekidjo (Kuasa Doa)

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  2. DOA HARUS MENJADI NAFAS HIDUP.

    Uraian tentang doa oleh pa Stef bagus sekali. Yang mengatakan doa itu tidak perlu, maka yang bersangkutan adalah orang yang sombong. Kalau kita berdoa artinya kita ada ketergantungan hidup. Di atas hidup ini masih ada yang “memiliki” kehidupan sendiri. Kita tidak bebas begitu saja. Kalau kita berdoa artinya kita ini menjadi tidak berarti. Kita sangat kecil, oleh karena itu kita butuh tiang penyangga yang menjadi kekuatan kita. Dengan demikian, doa harus menjadi nafas kehidupan kita. Jangan memakai metoda “doa ingat” artinya berdoa kalau ingat. Kita musti berdoa baik dalam suka dan duka. Doa harus bersifat seperti nafas kita. Artinya berdoalah setiap saat. Nimbrung sedikit saja. All is based on experience.

    Jus Soekidjo (Kuasa Doa)

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  3. Selain doa-doa sebagaimana disebutkan di atas, ada doa monastik yang kini juga sudah menebus ke luar dari tembok biara, yakni doa kontemplatif. Ada yang bilang doa ini sebagai centering prayer, ada pula ada yang menyebutnya doa hening. Dalam doa kontemplasi , saya diam dan Tuhan juga diam, karena saya dan Tuhan manunggal. Doa ini juga merupakan bagian dari “lectio divina”, yang sekarang ini mulai banyak dipraktekkan dari keompok-kelompok meditasi Kitab Suci yang berbasiskan “Lectio divina”. Lectio divina ini juga merupakan salah satu methoda untuk mengerti Sabda Tuhan (Firman)/Kitab Suci melalui Lectio, meditatio, oratio, dan contemplatio. JIka umat mau sungguh memperdalam tentang Firman, metoda Lectio Divina bisa diaplikasikan dalam kehidupan kita untuk memperdalam tingkat spiritualitas kita. Di beberapa paroki di Jakarta seperti Paroki St. Paskalis, St. Fransiskus Asisi, Paroki Hati Kudus, dll dan beberapa komunitas, sudah mempraktekkan “Lectio Divina” ini.

    Tuhan berkati, sedikit sharing tentang “meditasi Kitab Suci” berbasiskan “Lectio Divina”.

    Jus Soekidjo

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  4. Yth. Bapak/Ibu ,
    Sebenarnya saya mohon ada penjelasan mengenai ekaristi dan setiap doa yang kita lakukan dalam ekaristi … karena saya kebetulan menemukan secara tidak sengaja di GPdi San Francisco , mungkin banyak hal yang tidak kita ketahui mengenai doa doa dalam Sakramen Ekaristi itu sendiri sehingga banyak yang menganggap hanya ritual belaka dan tidak alkitabiah.
    Jalan ceritnya begini , saya seorang Khatolik yang sejak bayi sudah dipermandikan di Jakarta ,paroki Kramat, istri saya seorang protestan, waktu di Jakarta saya jarang sekali menemani istri saya ke gerja Protestan, paling2 hanya acara Natal dan Paskah.
    Nah di SF ini saya tiap minggu menemani istri saya dan anak2 , ke GPdi SF , ada beberapa kali penjelasan Firman Tuhan yang saya ingat mengenai Damai Sejahtera dan Akhir Zaman .
    Damai Sejahtera selalu di doa kan sebelum Komuni Kudus di Misa , dan untuk Akhir Zaman, mereka juga mengakui kalau pada saat Yesus datang untuk ke 2 kali akan membangkitkan orang hidup dan mati, jadi kalau kita mati sekarang akan kemana ? orang Khatolik percaya bahwa kita akan masuk api pencucian terlebih dahulu untuk dimurnikan, sedang mereka percaya langsung masuk surga atau neraka.
    Mohon penjelasannya agar saya bisa dapat lebih memahami setiap doa yang di ucapkan di Misa. Terima kasih.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal December 11th, 2008 11:18 am:

    Shalom Luigi,
    Sebelum saya menjawab pertanyaan Luigi, saya ingin juga menanyakan, apakah Luigi sekarang setiap minggunya menghadiri Misa di Gereja Katolik atau menghadiri kebaktian/ Perjamuan Kudus di Gereja Protestan? Sebab sesungguhnya apa yang dilakukan di gereja Protestan, (apapun namanya) berbeda maksudnya dengan makna "Ekaristi Kudus" atau Misa di dalam Gereja Katolik. Saya pernah menuliskan perbedaan makna Ekaristi dalam Gereja Katolik dengan Perjamuan kudus di gereja Protestan di jawaban atas pertanyaan Oelan di sini (silakan klik).

    Jika Luigi mengikuti Misa kudus di gereja Katolik, saya menganjurkan agar Luigi mempersiapkan diri dulu sebelum mengikuti Misa, agar dapat menghayati Misa Kudus dengan lebih baik. Silakan baca artikel Cara Mempersiapkan diri Menyambut Ekaristi, dan jangan lupa membaca artikel mengenai Ekaristi yang lain yaitu; Sudahkah kita pahami Ekaristi, dan Ekaristi sumber dan puncak kehidupan Kristiani.

    Sebenarnya terpenting bagi kita orang Katolik, adalah mengikuti Misa Kudus di dalam Gereja Katolik, dan berpartisipasi aktif di dalamnya; sebab dengan demikian kita memenuhi apa yang menjadi bagian kita sebagai anggota Tubuh Kristus. Dengan ini kita menjalani peran ‘imamat bersama’ yang kita terima di dalam pembaptisan kita. Silakan baca artikel ini, "Sudahkah kita diselamatkan?" Dan oleh Ekaristi, kita sungguh-sungguh dipersatukan dengan Kristus sendiri dan seluruh anggota TubuhNya.

    Sebenarnya tidak ada doa yang baku untuk sebelum dan sesudah Komuni, sebab itu adalah saat yang paling intim/ erat antara setiap kita dengan Tuhan Yesus. Sebelum Komuni kita mengharapkan persatuan dengan Tuhan Yesus, sesudah Komuni kita bersyukur, menyembah Dia, dan dapat memohon juga rahmat/ pertolongan Tuhan untuk kehidupan kita selanjutnya.

    Contohnya dapat saya sertakan di sini (silakan disesuaikan sendiri, jika perlu):

    1. Doa sebelum Komuni:
      Datanglah O Tuhan Yesus Penyelamatku, dan kuatkanlah jiwaku dengan Roti Surgawi, yang mengandung segala kebaikan. Mari, puaskanlah kelaparan jiwaku. Datanglah, O Kasih yang berkobar, nyalakanlah di dalm hatiku kasih ilahi.
      Datanglah, O Terang Dunia, terangilah kegelapan jiwaku.
      Datanglah, O Rajaku, buatlah aku taat kepada kehendak-Mu.
      Datanglah, O Penyelamatku, jadikan aku lemah lembut dan rendah hati.
      Datanglah, Sang Tabib ilahi, sembuhkanlah tubuhku dan kelemahan jiwaku.
      Datanglah, O Gembala yang baik, Engkau Tuhanku, yang menjadi segalanya bagiku, bawalah aku kepadaMu.
      Bunda Maria,  bantulah aku mempersiapkan hati menyambut Yesus Juru Selamatku.   Amin
    2. Doa sesudah Komuni:
      Tuhan Yesus, selamat datang di hatiku. Mari bantulah aku membuang dari pikiranku segala sesuatu yang tak berkenan kepada-Mu. Aku bersyukur, Engkau mau datang kepadaku dan membawaku ke dalam Hati Kudus-Mu. Aku menyembah Engkau. Terima kasih Tuhan atas karunia-Mu yang terbesar ini! Aku bersyukur sebab Engkau baik, dan kasih setia-Mu tiada berkesudahan. ….***
      Kumohon agar aku dapat melewati hari ini bersama-Mu dengan suka cita, melakukan kehendak-Mu.
      Dampingilah aku hari ini, sehingga aku siap melayani Engkau dan tidak cepat mengeluh.
      Pimpinlah aku dalam segala pembicaraanku hari ini, sehingga jangan sampai aku menjadi kurang mengasihi.
      Dalam menghadapi kekecewaan, ajari aku supaya aku dapat bersabar, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang-orang di sekitarku.
      Dalam kesusahanku, tolonglah aku untuk dapat memikirkan kepentingan orang lain daripada hanya kepentingan sendiri.
      Dalam cobaan yang sedang kuhadapi, pimpinlah aku supaya aku tetap dapat bermurah hati dan setia pada jalan-Mu.
      Tuhan Yesus, kupersembahkan segala yang ada padaku: segala kesuksesanku yang adalah milik-Mu, dan kegagalan yang adalah milikku. Aku percaya, Engkau akan selalu menopangku, dan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Damai-Mu ya Tuhan, itu yang kuingini, dan aku berterima kasih sebab Engkau memberikannya kepadaku saat ini.
      Kupuji kebaikan-Mu ya Tuhan, Engkaulah Tamu Agung bagi jiwaku. Mari tinggallah di dalamku. **** Amin.

    Catatan:
    *** silakan ditambah dengan ucapan-ucapan syukur yang lain
    **** silakan dilanjutkan dengan doa hening.

    Mengenai pertanyaan Luigi tentang akhir hidup kita sebagai manusia, silakan baca, artikel Bersyukurlah ada Api Penyucian! Jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya di bawah artikel tersebut.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Luigi menjawab pada tanggal December 18th, 2008 12:00 pm:

    Ibu Ingrid Yth,
    Saya berterima kasih atas penjelasan ibu, untuk informasi saya sebisa mungkin iktu misa harian di gereja St. Dominic , seringnya pagi jam 8 dan kadang2 sore jam 5.30 ,
    waktu di Indonesia saya cukup aktif di Kharismatik dan sempat membantu persekutuan doa mudika di Paroki Pulo Mas.
    Sebenarnya pertanyaan saya lebih kepada doa yang kita atau pastor ucapkan, seperti Damai Sejahtera yang diberikan Yesus , jangan perhitungkan dosa kami tapi perhatikanlah iman gerejaMu dan restuilah kami …. maaf bu sudah lupa padahal baru 1.5 tahun disini , nah mengenai Damai Sejahtera ini dikupas waktu ikut kebaktian GPdi , justru menguatkan saya bahwa khasanah dalam Misa sebenarnya sangat lengkap kalau kita mendapat penjelasan terutama yang alkitabiah. Terima kasih atas penjelasan ibu sehingga wawasan saya semakin bertambah. Gbu

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal December 18th, 2008 10:50 pm:

    Shalom Luigi,
    Pertama-tama, maaf ya baru sekarang saya dapat menjawab pertanyaan Luigi.
    Mari sekarang kita melihat teks Doa syukur Agung II, yang paling umum dipakai di dalam Misa Kudus:

    Doa Syukur Agung (umat berlutut)

    1. Sungguh kuduslah Engkau, ya Bapa, sumber segala yang kudus.
      Maka kami mohon: semoga RohMu menyucikan persembahan ini.
      Agar menjadi bagi kami, tubuh dan darah PuteraMu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.

      Pada malam Ia diserahkan, sebelum menderita sengsara dengan rela, Ia mengambil roti, mengucap syukur,
      Teks ini mengacu pada Kitab suci yaitu pada Perjamuan terakhir, di mana Yesus mengambil roti dan mengucap berkat dan syukur (Mat 26:26; Luk 22:17; Mrk 14: 22). Imam melaksanakan peran Kristus sendiri yang mengucapkan syukur kepada Bapa, dan oleh kuasa Roh Kudus akan mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya.
      Tuhan yang adalah sumber kekudusan sesaat lagi akan menguduskan perjamuan roti dan anggur menjadi santapan rohani bagi kita. Dengan demikian, Allah sendiri yang akan mencurahkan rahmat kekudusan-Nya kepada kita yang mengambil bagian di dalam perjamuan surgawi ini.
       
    2. Lalu membagi-bagi roti itu dan memberikannya kepada para murid seraya berkata: Demikian pula sesudah perjamuan Ia mengambil piala. Sekali lagi Ia mengucap syukur, lalu mengedarkan piala itu kepada para murid seraya berkata: "Terimalah dan minumlah!Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal, Yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa ini. Terimalah dan makanlah! Inilah tubuhKu yang dikurbankan bagimu…"
      Ini adalah perkataan Yesus sendiri dalam Perjamuan Terakhir, seperti yang tertera di dalam gabungan kitab Matius, Markus, Lukas (Mat 26:26- 28; Mrk 14:22-24; Luk 22:19-20). Imam yang telah diurapi oleh Kristus diberi kuasa oleh Kristus sendiri, untuk mengucapkan sabdaNya ini yang berkuasa mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Inilah yang disebutkan sebagai doa konsekrasi. Begitu doa ini selesai diucapkan, mukjizat yang terbesar itu terjadi: yaitu Kristus hadir di tengah-tengah kita dalam rupa roti dan anggur; inilah yang disebut sebagai "Transsubstansiasi". Hakekat roti itu bukan roti lagi, demikian juga anggur itu, melainkan Tubuh dan Darah Kristus, bersama dengan jiwa dan ke-Allahan-Nya, yaitu seluruh Kristus (Konsili Trente:DS 1651, KGK 1374)
      Dalam Katekismus Gereja Katolik 1381, St. Thomas Aquinas mengutip St. Sirilus (Cyril) mengenai kebenaran perkataan Yesus dalam Luk 19:22 ini, "jangan ragu-ragu apakah itu benar, melainkan terimalah kata-kata Penebus itu dalam iman. Karena Ia adalah Kebenaran, jadi Ia tidak menipu."
      Maka pada saat imam mengangkat hosti dan piala anggur, kita memandang kepada hosti dan piala itu, sambil mengatakan dengan iman di dalam hati, "Ya Tuhanku dan Allahku"  seperti yang dikatakan oleh Rasul Thomas, saat Kristus menampakkan diri kepadanya setelah kebangkitan-Nya (Luk 20:28). Pada saat yang sama ini kita mengangkat hati dan mempersembahkan segala yang ada pada kita: doa, pujian, syukur, pergumulan, permohonan dst kepada Tuhan. Kurban ini akan turut ‘naik’ bersama dengan kurban Kristus, kepada Allah Bapa.
       
    3. Maklumkanlah misteri iman kita: Tuhan Engkau sudah wafat. Tuhan Engkau kini hidup. Engkau sang Juru Selamat. Datanglah ya Yesus Tuhan. Amin.
      Inilah misteri iman yang kita maklumkan, berdasarkan apa yang kita imani. Oleh kuasa Roh Kudus, misteri Paska dihadirkan kembali dalam setiap misa kudus, yaitu: wafat, dan kebangkitan Kristus sambil kita menantikan kedatangan-Nya kembali. Di sinilah Perjamuan Ekaristi menembus ruang dan waktu: wafat, kebangkitan dan kedatangan-Nya kita rayakan sebagai "saat ini", sehingga Perjamuan Ekaristi menjadi "Heaven on Earth." Kita sekarang merayakan kehadiran-Nya secara terselubung (KGK 1404), mengharapkan kedatangan-Nya dalam pemenuhan jaminan kemuliaan yang akan datang di surga (KGK 1402).
       
    4. Maka, sambil mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus, Kami mempersembahkan kepadaMu ya Bapa, roti kehidupan dan piala keselamatan. Kami bersyukur, sebab Engkau menganggap kami layak menghadap Engkau dan berbakti kepadaMu. Kami mohon, agar kami yang menerima tubuh dan darah Kristus, dipersatukan oleh Roh Kudus menjadi umatMu.
      Inilah doa umat yang mengenangkan Kristus Sang Roti Hidup (Yoh 6:35); dan piala keselamatan yang berisi darah Perjanjian Baru dan kekal yang akan membangkitkan kita pada akhir zaman (Yoh 6: 54). Maka bersyukurlah kita, yang dianggap-Nya layak untuk menerima rahmat yang tak terbatas ini, yaitu kehidupan kekal (Yoh 6:47). Ayat yang sama ini mengingatkan kita untuk senantiasa hidup dalam pertobatan yang terus menerus, sehingga dapat ‘layak menghadap Tuhan dan berbakti kepada-Nya’.
      Oleh santapan rohani ini, kita dipersatukan oleh Roh Kudus dengan Kristus sang Kepala, dan dengan sesama anggota Gereja menjadi Tubuh Kristus. Persatuan kita dengan Kristus ini harusnya menjadikan kita bersatu sebagai umat-Nya, seperti yang menjadi doa Yesus sebelum sengsara-Nya, "Aku berdoa … supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa ada di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau."(Yoh 17:20-21).
       
    5. Ya Bapa, berkatilah GerejaMu yang tersebar di seluruh bumi. Sudilah memupuk cinta kasih persaudaraan umatMu dalam persatuan dengan Bapa Suci (Paus…) dan Bapa Uskup kami (….) serta rohaniwan semuanya.
      Di dalam Ekaristi, Gereja juga merayakan kesatuan di bawah pimpinan Bapa Paus, pengganti Rasul Petrus yang ditunjuk oleh Tuhan Yesus sebagai dasar ‘batu karang’ Gereja yang didirikan-Nya (Mat 16:18). Maka di dalam doa ini, kita memohon berkat Allah untuk mengikat kita semua di dalam persatuan dengan Bapa Paus dan para uskup pemimpin Gereja, yang merupakan penerus para Rasul.
       
    6. Catatan: Berikut ini adalah paragraf doa untuk mendoakan jiwa orang yang sudah meninggal (pada Misa arwah)
      Selamatkanlah putraMu (putriMu) yang (pada hari ini/telah) Kau panggil menhadap hadiratMu. Dia telah meninggal seperti Kristus; maka perkenankanlah pula ia ikut bangkit bersama Kristus.
      Ini adalah doa yang diucapkan untuk medoakan keselamatan jiwa seseorang yang telah dipanggil Tuhan. Perkataan "Dia telah meninggal seperti Kristus" diartikan bahwa ia yang kita doakan telah meninggal dunia seperti Kristus yang telah meninggal dunia (di salib Golgota), dan berdoa agar ia dapat dibangkitkan bersama Kristus.
       
    7. Pada Misa biasa: Selamatkanlah (pula) saudara-saudari kami, kaum beriman, dan semua orang lain yang telah meninggal dunia. Berikanlah istirahat kekal kepada mereka dan kepada semua saudara yang meninggal dalam Kristus. Kasihanilah dan sambutlah mereka dalam pangkuanMu.
      Dalam doa ini, kita mengingat saudara-saudari kita yang telah dipanggil Tuhan. Kita berdoa bagi keselamatan jiwa mereka, dan memohon agar Tuhan segera membebaskan mereka dari Api Penyucian sehingga mereka dapat bergabung dalam kemuliaan surgawi. Dengan demikian, di dalam Ekaristi, kita sebagai para anggota Gereja di dunia merayakan persatuan dengan para anggota Gereja yang sedang dimurnikan di Api Penyucian.
       
    8. Kami semua mohon belas kasihanMu, ya Bapa. Supaya kami boleh mengambil bagian dalam kebahagiaan abadi, bersama Santa Maria, perawan dan bunda Allah, bersama para rasul dan semua orang kudus, yang hidup dalam cintaMu. Perkenankanlah kami memuji dan memuliakan Dikau.
      Melalui doa ini, kita merayakan persekutuan orang kudus. Ekaristi mempersatukan kita sebagai Gereja yang satu dan tidak terpisahkan; antara kita yang masih mengembara di dunia dengan para kudus yang sudah jaya di surga. Maka persatuan kita dengan para kudus (Gereja yang sudah jaya di surga) diteguhkan, dan mereka membawa kita semakin lebih dekat kepada Kristus (KGK 957).
    9. Dengan perantaraan Kristus, dan bersama Dia, serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepadaMu, Allah Bapa yang mahakuasa: Segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang segala masa. Amin.
      Doa Doksologi ini menyatakan penutup rangkaian Doa Syukur Agung, dengan pujian kepada Allah Tritunggal Maha Kudus: Bapa, Putera, dan Roh Kudus, yang menganggap kita layak untuk mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya di dalam Ekaristi kudus.

    Komuni

      [umat berdiri]

    1. Doa Bapa Kami  [umat berdiri]
      Atas pentunjuk Penyelamat kita, dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
      Bapa kami yang ada di surga dimuliakanlah namaMu
      Datanglah kerajaanMu jadilah kehendakMu, di atas bumi seperti di dalam surga.
      Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. Jangan masukkan kami dalam cobaan.
      Tapi bebaskan kami dari yang jahat.
      Sebab Tuhanlah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin
      .
      Komuni di awali dengan mengulangi doa yang yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Kita berdoa sebagai satu kesatuan saudara di dalam Tuhan Yesus Kristus, sehingga kita dapat memanggil Allah sebagai "Bapa Kami" (Rom 4:6).
    2. Doa Damai [umat berdiri]:
      Tuhan Yesus Kristus, janganlah memperhitungkan dosa kami. Tetapi perhatikanlah iman GerejaMu, Dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendakMu sebab Engkaulah pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin
      .
      Doa ini merupakan permohonan yang sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus kepada umat di Filipi, "… Dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (Flp 2: 1)" sehingga dengan menimba kekuatan dari Kristus sendiri, maka kita dapat memenuhi perintah-Nya untuk hidup rukun bersatu sebagai anggota Tubuh Kristus, "sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Flp 2:2-5)
      Dengan melihat kepada Kristus yang merendahkan diri sedemikian bagi kita, kitapun diajak oleh Kristus untuk meniru teladan-Nya yang memberikan diri bagi orang lain. Sehingga di dalam hidup kita bersama dengan orang lain, kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah Bapa!" (Flp 2:6-11).
      Kristus adalah teladan kasih dan kerendahan hati bagi kita semua, dan ini sangat nyata di dalam Ekaristi. Sebab bahkan saat Ia telah berada dalam kemuliaan surga, Ia masih tetap menyertai kita, tunduk pada perkataan para imam-Nya, dan hadir kembali di tengah kita dalam rupa roti dan anggur.
    3. Salam Damai [umat berdiri]
      (Semoga) damai Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita. Sekarang dan selama-lamanya. [Imam mengajak umat untuk menyatakan salam damai satu sama lain].
      Salam damai ini adalah sebagai kesempatan bagi kita untuk berdamai dengan sesama, sebelum kita mengambil bagian di dalam Perjamuan Tuhan, sesuai dengan perintah Yesus, "… jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untk mempersembahkan persembahan itu" (Mat 5:23-24). Maka, salam damai ini bukan hanya sekedar basa-basi, tetapi merupakan niatan tulus di dalam hati kita untuk mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita; ataupun meminta ampun pada orang yang kita sakiti hatinya. Karena mungkin pada saat itu kita belum dapat bertemu dengan mereka, maka saudara-saudari di sekeliling kita adalah merupakan ‘wakil’ dari seseorang yang perlu kita ajak berdamai tersebut. (Tentu, setelah misa kudus, kita diharapkan dapat mewujudkan niat berdamai tersebut dengan orang yang bersangkutan).
      Dengan demikian, maka kita dapat dengan hati lapang mengambil bagian di dalam perjamuan Ekaristi.
    4. Pemecahan Roti [Umat berdiri]
      Pemecahan roti merupakan Tradisi Suci para Rasul yang telah dilakukan sejak jemaat awal, yaitu, "Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kis 2:42).
    5. Anakdomba Allah:
      Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia kasihanilah kami,   Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia kasihanilah kami,
      Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia berilah kami damai
      .
      [Umat berlutut]
      Ini adalah Doa pujian kepada Kristus, Anak Domba Allah, seperti yang disebutkan dalam Kitab Wahyu 5-7, menggambarkan perjamuan Anak Domba  di surga.  Kita yang masih berziarah di dunia melihat kepada-Nya memohon belas kasih dan damai-Nya agar kitapun dapat sampai pada pemenuhan janji Penebusan dosa kita di surga. Maka Ekaristi mengarahkan pandangan kita ke surga, surga dan dunia yang baru, dimana tiada lagi air mata kesedihan, dan jaminan kemuliaan yang akan datang dipenuhi (KGK 1402-1405). Lebih lanjut mengenai Ekaristi sebagai Perjamuan Anak Domba, dapat dibaca pada buku karangan Scott Hahn, "The Lamb Supper", yang saya percaya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
    6. Inilah Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia. "Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya. Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh."
      Doa ini merupakan salah satu doa yang terindah di dalam Alkitab, sebab didasari oleh kerendahan hati dan iman, seperti doa perwira di Kaparnaum (Mat 8:8), yang menurut St. Yohanes Krisostomus, merupakan doa yang serupa dengan doa penyamun yang disalibkan di samping salib Kristus, "Tuhan ingatlah akan aku dalam kerajaan-Mu!" (Luk 23:42; KGK 1386).
    7. Komuni dibagikan:
      Tubuh Kristus, Amin
      .
      Sebelum dan sesudah komuni, kita dapat berdoa pribadi, seperti yang pernah saya tuliskan pada jawaban saya terdahulu.

    Demikian, semoga saya menjawab pertanyaan Luigi. Saya berharap, jika Luigi ikut kebaktian pada hari Minggu untuk menemani istri dan anak-anak, namun pada hari Minggu itu juga, anda tetap mengikuti Perayaan Ekaristi/ Misa Kudus di gereja Katolik.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati 

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  5. Pak Stef dan Bu Ingrid, apakah Katolik punya ajaran mengenai “takdir”? Apakah benar bahwa setiap tindakan kita telah ditentukan oleh Allah? Jika demikian, apakah manusia masih mempunyai kebebasan? Jika semua ditentukan oleh Allah, termasuk jika manusia berbuat jahat, tentu manusia tak usah bertanggungjawab atas perbuatannya. Mohon penerangan agar saya bisa menjelaskan pula kepada saudara yang bertanya. Terima kasih. Shalom,
    Isa Inigo

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal December 7th, 2008 8:18 pm:

    Shalom Isa Inigo,
    Mengenai takdir, sebenarnya pernah saya tuliskan di sini (silakan klik). Silakan dibaca dulu ya, dan kalau masih ada pertanyaan silakan bertanya lagi.
    Pada dasarnya, manusia diberi kehendak bebas oleh Tuhan, maka manusia bukanlah hanya sekedar ‘boneka’ yang menjalani apa yang sudah digariskan/ menjadi takdir. Jadi tidak benar bahwa jika manusia berbuat dosa, itu karena sudah digariskan berbuat dosa, sehingga sesungguhnya ia tidak bersalah. Sebagai akibat dosa asal Adam dan Hawa, maka kita manusia memang memiliki kecenderungan berbuat dosa, namun demikian, Allah juga memberikan rahmat-Nya, sehingga manusia dapat mengalahkan kecenderungan berbuat dosa tersebut. Oleh sakramen Pembaptisan, kita dikaruniai rahmat untuk meninggalkan dosa, dan hidup di dalam Roh Kudus, untuk menjalankan perintah-perintah Allah. Kemudian oleh rahmat Tuhan yang kita terima terus menerus, terutama di dalam Ekaristi, kita dimampukan untuk hidup seturut kehendak Allah. Jadi, dengan demikian kita bukan hamba dosa lagi, melainkan kita "telah dimerdekakan Allah dari dosa menjadi hamba kebenaran" (lihat. Rom 6:17-18). Maka harus bertanggung jawab atas perbuatan kita, apakah perbuatan kita tersebut berdasarkan kebenaran atau tidak. Sebab di akhir nanti, kita semua akan diadili oleh Tuhan, sesuai dengan perbuatan kita (lihat 1 Pet 1:17). Artinya, kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di hadapan Tuhan. Dengan demikian kita mengetahui bahwa tidak mungkin Tuhan menakdirkan seseorang untuk berbuat jahat, karena justru sebaliknya, jika kita berbuat jahat, maka Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita.

    Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Isa Inigo.
    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  6. Shalom,
    Ada tiga pertanyaan yang ingin saya ajukan:
    (1) Saya sering berdoa Yesus dalam sikap berbaring telentang dengan merentangkan kedua belah tangan atau menaruh tangan di dada. Dalam sikap ini saya merasakan kepasrahan dan kedamaian seperti halnya bayi yang berbaring nyaman di pelukan ibunya. Apakah sikap berdoa seperti ini diperbolehkan?
    (2) Teman Kristen non-Katolik sering mengatakan bahwa doa berulang seperti mantera yang dilakukan pada meditasi prana sehingga tidak diperbolehkan dalam ajaran Kristiani. Apakah ada rujukan biblis yang dapat melandasi alasan kita untuk melakukan doa berulang seperti doa Yesus atau doa Rosario?
    (3) Bagaimana sejarah Rosario? Kapan Rosario digunakan pertama kalinya oleh umat Katolik?

    Terima kasih atas jawabannya. Tuhan selalu memberkati Bapak.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal November 5th, 2008 1:14 pm:

    Shalom Andryhart,
    Terimakasih atas pertanyaannya. Mari kita bahas satu persatu.
    Sikap doa:

    1. Pada dasarnya doa adalah "Ayunan hati, suatu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan." (KGK, 2558-2559, mengutip St. Teresia kanak-kanak Yesus). Dari definisi ini, maka disposisi hati menjadi suatu yang penting. Namun sikap badan merupakan cerminan dari apa yang ada di dalam hati. Dari hal ini, maka sikap tubuh yang dilakukan Andryhart tidak apa-apa sejauh sikap hati Andryhart dapat terfokus pada Tuhan. Yang menjadi masalah, karena sikap ini terlalu rilex, dapat menyebabkan orang mengantuk. Jadi saya ingin menganjurkan, untuk berdoa dengan sikap berlutut di tempat doa yang khusus. Kemudian setelah doa selesai, Andryhart dapat melakukan doa dengan sikap terlentang dan tetap befokus pada Yesus.
      Saya telah menjawab pertanyaan sikap doa di jawaban ini (silakan klik).

    Apakah doa berulang salah?

    1. Banyak orang Kristen, Non-Katolik salah mengerti akan doa-doa yang dilakukan oleh umat Katolik. Mereka mengatakan bahwa Yesus telah mengajarkan bahwa kita tidak boleh berdoa bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah (Mat 6:7)." Dalam hal ini, kita perlu menjelaskan tentang doa yang bertele-tele atau "vain repetitions (perulangan yang tidak sia-sia)". Apakah yang dimaksud dengan doa yang bertele-tele ataupun doa pengulangan. Coba simak, apakah doa ini adalah doa yang bersifat pengulangan: "Terima kasih Tuhan atas segala berkat-Mu yang tercurah, ya Tuhan. Benar Tuhan, Engkau adalah Allah yang setia. Ya, benar Tuhan, Engkau adalah Allah yang senantiasa berbelas kasih kepada umat-Mu. Pada waktu aku jatuh, Engkau mengangkatku kembali dari jurang dosa. Ya, benar Tuhan, Engkau Allah yang maha pengampun." Dalam doa pendek tersebut, saya telah mengulang beberapa kata "benar Tuhan" sebanyak tiga kali. Apakah ini juga termasuk doa pengulangan? Apakah pengulangan maksudnya sesuatu yang sama didoakan beberapa kali dalam satu hari, satu hari 1x, seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali?
    2. Di dalam Mat 6:7, Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa kita tidak boleh berdoa yang bersifat pengulangan yang sia-sia (vain repetitions), atau dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia adalah "bertele-tele", seperti orang yang tidak mengenal Allah. Masalahnya bukan pada pengulangan (repetitions), namun pada yang sia-sia (vain), seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Allah. Sebagai gambaran tentang hal ini adalah yang dilakukan oleh nabi-nabi baal (1 Raja 18:26) dan juga orang yang menyembah dewi Artemis di Efesus (Kis 19:34).
    3. Namun, sebagai umat Katolik, kita telah mengenal Allah, bahkan kepenuhan kebenaran ada di Gereja Katolik. Kalau kita berdoa misalkan rosario, doa Bapa Kami, kita memang melakukan pengulangan, namun pengulangan tersebut adalah pengulangan yang tidak sia-sia. Adakah doa yang lebih sempurna dari doa Bapa Kami yang diajarkan sendiri oleh Yesus? Tidak ada. Apakah salah kalau kita senantiasa mengulang doa yang sama? Tentu saja tidak, karena ini adalah ungkapan kasih kita kepada Tuhan. Adakah seorang pacar mengatakan kepada pacarnya "Kamu jangan ngomong "I love you" setiap hari, karena itu adalah bertele-tele.". Tentu saja seorang pacar tidak akan pernah bosan mendengar pacarnya berkata "I love you", walaupun mungkin beberapa kali dalam satu hari. Demikian juga dengan Tuhan, Dia tidak akan pernah bosan dengan ungkapan kasih kita kepada-Nya, walaupun dengan diucapkan dengan doa yang sama terus-menerus, yang penting diucapkan dengan sungguh-sungguh.
    4. Mari kita melihat dasar Alkitabiah. Pada waktu Yesus berdoa di taman Getsemani (Mat 26:44), Yesus melakukan doa yang sama, yaitu "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!". Apakah ini doa pengulangan? Tentu saja. Namun Yesus mengajarkan suatu kesempurnaan sikap doa, yang mendahulukan kehendak Bapa dibandingkan kehendak kita sendiri. Bagaimana dengan pemungut pajak yang berdoa "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa" (Luk 18:13). Dan dikatakan bahwa Tuhan berkenan dengan doa pemungut pajak ini karena dilakukan dengan sikap hati yang benar dan penuh dengan pertobatan. Dan doa pengulangan juga dilakukan oleh Kornelius, dan diajarkan oleh Rasul Paulus (Kis 10:2,4; Rom 1:9; Rom 12:12; 1 Tes 5:7). Bahkan para malaikat di surga juga berdoa pengulangan "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Maha kuasa, yang sudah ada dan yang akan datang (Wah 4:8)." Kalau kita berdoa Mazmur, maka begitu banyak doa pengulangan di sana, seperti Maz 136.
    5. Dari dasar-dasar di atas, maka doa Yesus, doa rosario, doa Bapa Kami, tidaklah salah, malah sebaliknya, semua doa tersebut berdasarkan alkitab.

    Asal-usul doa rosario:

    1. Asal usul doa rosario tidak dapat ditentukan secara jelas secara histories, karena terbentuknya setahap semi setahap. Digunakannya ‘butir-butir’ sebagai alat bantu doa juga merupakan tradisi sejak jaman Gereja awal, atau bahkan sebelumnya. Pada abad pertengahan, butir-butir ini dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria di biara-biara.
    2. Struktur doa rosario berkembang antara abad 12 dan 15. Pada waktu itu, 50 doa Salam Maria dihubungkan dengan ayat-ayat Mazmur, untuk memperingati kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Pada saat inilah doa ini dikenal sebagai “rosarium”/ rose garden. Pada abad ke 16, terbentuklah doa rosario yang terbagi menjadi 5 dekade dalam 3 misteri gembira, sedih dan mulia.
    3. Tradisi mengatakan bahwa St. Dominic (1221) adalah santo yang menyebarkan doa rosario, seperti yang kita kenal sekarang. Ia berkhotbah tentang rosario ini pada pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Jadi, walaupun bukan St. Dominic yang pertama kali ‘menciptakan’ doa rosario, namun peran St. Dominic cukup besar dalam menyebarkannya, dan ia sendiri sebagai saksi hidup yang mendoakan doa rosario tersebut. Doa rosario sendiri mulai popular di tahun 1500.
    4. “Sebagai doa damai, rosario selalu dan akan selalu menjadi doa keluarga dan doa untuk keluarga. Ada saatnya dulu, bahwa doa ini menjadi doa kesayangan keluarga, dan doa ini yang membawa setiap anggota keluarga menjadi sekat satu sama lain…. Kita perlu kembali kepada kebiasaan doa keluarga bersama berdoa untuk keluarga-keluarga…. Keluarga yang berdoa bersama, akan tetap tinggal bersama. … Para anggota keluarga, dengan mengarahkan pandangan pada Yesus juga akan mempu memandang satu sama lain dengan mata kasih, siap untuk berbagi, untuk saling mendukung, saling mengampuni dan melihat perjanjian kasih mereka diperbaharui oleh Roh Allah sendiri.”
      (Rosarium Virginis Mariae, 41, Paus Yohanes Paulus II)

    Itulah jawaban dari kami, semoga dapat menjawab pertanyaan Andryhart. Mari kita bersama-sama berjuang untuk setia dalam kehidupan doa kita, sehingga kita dapat semakin mengasihi Tuhan.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org

    stefanus & ingrid

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  7. Halo buat Stef dan Inggrid beserta team

    Saya mohon pencerahan, doa singkat apa yag harus diucapkan dalam hati ? Ketika :
    1.Senior dan pengurus lingkungan sering bertindak arogan dan membodohi
    warga (KKN) bahkan korupsi / menghamburkan dana lingkungan dengan alasan untuk Tuhan Yesus, misal : pesta dan membuat buku, beli patung / amal dsb nya. tentunya dengan segala alasan dan sering tanpa pertanggung jawab secara adminisrasi ( kan untuk Yesus ? )
    2.Mereka hanya ingin eksis/terkenal tetapi bagaikan ‘orang Parisi’
    tang enggan / terpaksa melayani warga yang secara ekonomi tidak mampu dan tidak terpandang
    serta memprokalimirkan diri bahwa imannya sudah sangat mendalam
    3.Mencari selamat / cuci tangan bila ada masalah dan memojokkan warga / pengurus lain yang tidak sejalan ’se gank’ serta membalikkan fakta dengan cara seolah lembut dan bijaksana walaupun
    penuh dengan kedustaan didepan warga.
    4.Meminta sumbangan ke donatur yang mampu tetapi tidak transparan

    Doa apa yang harus saya ucapkan ketika berhadapan agar mereka “sedikit/banyak” sadar(tidak munafik)?

    Terimakasih dan Berkat Tuhan

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal October 31st, 2008 10:10 am:

    Shalom juga buat Gendut,

    Memang dalam pelayanan di manapun atau dalam jenis pelayanan apa saja, maka kita akan menghadapi sesuatu yang seringkali tidak sesuai dengan pendapat dan keinginan kita, atau malah bertentangan dengan kasih. Jadi ada beberapa hal praktis yang mungkin dapat dilakukan.

    1. Kalau bertentangan dengan pendapat kita, jangan dengan cepat kita menghakimi orang lain, karena belum tentu pendapat kita yang benar. Dan mungkin saja perbedaan bukan bersifat prinsip, namun bersifat cara pelaksanaan yang berbeda.
    2. Kalau bertentangan dengan kasih, maka itu yang benar-benar harus didiskusikan, karena pelayanan tidak bersumber kepada kasih kepada Tuhan tidak akan bertahan lama. Tinggal tunggu waktu, suatu saat akan bentrok, dan kemudian bubar.

    Jadi dalam kasus pelayanan di lingkungan yang mungkin kurang mencerminkan kasih Kristus, entah dalam bentuk: tidak membaur dengan semua, kurang mempertanggungjawabkan keuangan secara transparan, seperti orang farisi, dll., apa yang harus kita lakukan?

    1. Kalau kita sebagai anggota lingkungan atau mungkin menjadi pengurus, maka kita mungkin harus mengenal mereka lebih baik, sehingga kita mengetahui apakah dasar dari tindakan para pengurus lingkungan melakukan hal-hal yang kita pandang kurang baik. Dan kemudian mendiskusikannya dengan dasar kasih. Akan lebih baik, kalau Gendut juga menawarkan diri untuk membantu membuat laporan keuangan, atau mungkin melakukan rencana kerja, dll. Kalau mereka tidak dapat menerimanya, minimal Gendut telah menjalankan bagian Gendut. Dan kalau benar-benar pengurus melanggar hukum kasih sehingga merugikan orang banyak dalam hal ini umat di lingkungan tersebut, dan setelah diskusi tetap juga tidak berubah, maka Gendut dapat membawa masalah ini kepada Pastor Paroki. Diskusikan dengan Pastor, bagaimana sebaiknya memecahkan permasalahan ini. Hal ini dilakukan karena kebaikan bersama lebih tinggi derajatnya dibandingkan kebaikan pribadi.
    2. Bawa orang-orang tersebut dalam doa baik dalam doa harian atau juga dalam hati diucapkan kalau bertemu dengan mereka, karena kita tidak dapat "merubah hati", hanya Tuhan yang mampu melakukannya. Dan kita juga harus berdoa bukan hanya untuk mereka agar mempunyai hati seorang pelayan Tuhan yang penuh kasih, namun juga untuk kita sendiri agar kita dapat menyampaikan kebenaran dengan penuh kasih dan juga agar kita juga diberikan hati sebagai seorang pelayan. Tidak ada rumusan doa tertentu, yang penting doa harus mengalir dari kasih. Kalau di dalam Alkitab dikatakan bahwa "doa orang benar besar kuasanya (Yak 5:16)", maka hal itu dikarenakan orang benar mendoakan segala sesuatu dengan kasih. Dan kalau Tuhan adalah kasih dan kasih mengatasi segalanya, maka doanya sesuai dengan kehendak Tuhan.

    Akhirnya, saya ingin mengutip dari yang terberkati ibu Teresa dari Kalkuta tentang pelayanan.

    Buah dari KEHENINGAN adalah Doa
    Buah dari DOA adalah Iman
    Buah dari IMAN adalah Kasih
    Buah dari KASIH adalah Pelayanan
    Buah dari PELAYANAN adalah Kedamaian

    Semoga sharing di atas dapat membantu Gendut untuk melakukan pelayanan bersama-sama dengan pengurus lingkungan, sehingga lingkungan tersebut dipenuhi dengan semangat kasih.
    Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    gendut menjawab pada tanggal November 3rd, 2008 3:21 am:

    Salam damai dalam Yesus Kristus
    Terima kasih atas pencerahannya dan semoga bagi lingkungan saya rukun dan berkembang
    Semoga Bait Allah pada Hati dan Iman saya tidak memperdagangkan atas nama Yesus untuk kepentingan pribadi didalam pelayanan kepada warga lingkungan
    Banyaknya ‘batu sandungan’ menjadikan saya lebih mawas diri didalam Iman Katolik dan Apostolik
    Mohon doa dan salam kasih

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  8. sudah mau selesai bulan rosario. Saya ikut doa rosario tapi rosario saya belum diberkati pastor. itu gimana?. Terus terang saya tidak bermaksud mencari ‘pahala’ atau apapun. hanya saja saya ingin apa ada efek selain dari kesungguhan doa pada Bunda Kudus kita. kebetulan ini lagi bulan rosario. apakah rosario yg belum diberkati pastor bisa dipakai?. apa bedanya?
    trims

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal October 28th, 2008 1:57 pm:

    Shalom Ali,
    Terimakasih atas pertanyaannya, dan juga kerinduannya untuk berdoa rosario. Berkat dari pastor untuk barang-barang keagamaan adalah merupakan sakramental, yang berbeda dengan sakramen.

    1. Sakramen didirikan oleh Yesus sendiri dan berkat dari sakramen mengalir sejauh sakramen tersebut dijalankan sesuai dengan ritual yang telah ditentukan (kita mengenal ada tujuh sakramen). Sedangkan sakramental diberikan oleh Gereja, dimana berkat yang mengalir tergantung dari orang yang menerimanya.
    2. Jadi inti dari pemberkatan barang-barang keagamaan, termasuk rosario adalah untuk mengingatkan yang memakai, bahwa barang-barang tersebut telah dikuduskan, sehingga kita diingatkan senantiasa untuk hidup dalam kekudusan. Seperti rosario, mengingatkan kita untuk hidup kudus dengan cara berdoa bersama dengan Bunda Maria, sehingga Bunda Maria dapat mengantar kita lebih dekat kepada Putera-Nya dan semakin mengasihi Putera-Nya.

    Dengan dasar tersebut, Ali tentu saja dapat memakai rosario yang belum diberkati. Yang penting dalam hal ini adalah disposisi hati. Sejauh kita berdoa dengan doa yang berfokus pada Yesus, maka tentu saja Tuhan berkenan. Nanti kalau ada kesempatan, Ali dapat minta pastor untuk memberkati rosario Ali, sehingga semakin mengingatkan Ali akan kehadiran Tuhan.
    Semoga di bulan Rosario ini, Bunda Maria menuntun Ali terus menerus, sampai kepada pembaptisan, sehingga Ali juga dapat menjadi puteranya.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  9. Saya mau tanya, berhubung bln october ini kan bulan Maria ya?
    Trus kalo saya mo doa rosario itu harus 1 bln penuh atau gimana ya?

    Terima kasih.
    felix

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal September 30th, 2008 11:03 am:

    Shalom Felix,
    Terima kasih untuk pertanyaannya.
    Memang bulan Oktober adalah bulan Maria. Kalau kita berdoa Rosario, bukan hanya pada hari-hari tertentu saja di bulan Oktober, melainkan setiap hari di bulan Oktober, dan terus dilanjutkan sehingga Rosary dapat menjadi bagian doa kita setiap hari. Dengan kita berdoa Rosario, kita tidak berdoa kepada Bunda Maria, namun berdoa BERSAMA Bunda Maria. Bunda Maria akan membawa kita lebih dekat kepada Putera-Nya.

    1. Paus Yohanes Paulus ke-2 mengatakan bahwa Rosario adalah sebuah cara untuk kontemplasi wajah Kristus, melihat Dia dengan mata Bunda Maria, sehingga kita dapat lebih mengenal dan mengasihi Yesus. Lebih lanjut Paus Yohanes Paulus ke-2 menekankan pentingnya berdoa Rosario, baik secara pribadi, keluarga, atau dalam komunitas. (Paus Yohanes Paulus ke-2, Angelus, 29 Juni 2002).
    2. Paus Benediktus XVIII dalam pesan Angelus 2 Okt 2005 mengatakan bahwa bulan Oktober didedikasikan untuk Rosario Kudus, sebuah kontemplasi yang khusus dimana, dituntun oleh Bunda Allah, kita memusatkan perhatiaan kita kepada wajah Penyelamat kita sehingga kita dapat mengikuti kegembiraan, terang, kesedihan, dan kemuliaan Yesus.
    3. Dan kalau kita membaca cerita santa dan santo, semuanya begitu dekat dengan Bunda Maria. Santo Padre Pio mengatakan bahwa Rosary adalah senjata untuk melawan setan.

    Semoga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan Felix. Mari kita bersama-sama mengasihi Bunda Maria, sehingga kita akan dituntunnya untuk lebih dekat kepada Yesus.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  10. Kel. Stefanus Tay yang dikasihi Tuhan.

    Bagaimanakah sebaiknya sikap kita berdoa?.
    Sikap doa Tuhan Yesus dan rasul2Nya bermacam-macam al. : berdiri (Mrk.11:25), Yesus menengadah ke langit (Yoh.17:1), dengan menadahkan tangan yang suci (I Tim.2:8), Paulus berlutut (Kis.20:36), berlutut dan berdoa (Luk.22:41), sujud dan berdoa” (Mat.26:39), merebahkan diri ke tanah dan berdoa (Mrk.14:35), “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa” (Ef.3:14), “maka tersungkurlah…di hadapana Dia…dan menyembah Dia…“ (Why.4:10). dsb.nya.

    Bangsa Yahudi/ orang Israel dan Kristen Orthodox di Timur Tengah melakukan doa pada jam-jam : jam pertama, jam ke tiga, jam ke enam, jam ke sembilan, sholat senja, sholat purna bujana, sholat tengah malam.
    Apakah tradisi gereja pernah melakukan cara doa pada jam-jam tertentu?.

    Terima kasih atas penjelasannya.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal September 29th, 2008 10:46 pm:

    Shalom Julius,
    Terima kasih untuk pertanyaannya.
    I. Sikap dalam berdoa:

    1. Memang benar seperti yang dikatakan oleh Julius bahwa Alkitab mencatat banyak sekali sikap berdoa, seperti berdiri, menengadah ke langit, merebahkan diri ke tanah, bersujud, dll. Namun, satu hal yang perlu dicatat disini adalah semua sikap yang terlihat (duduk, berdiri, bersujud, dll) adalah merupakan ungkapan hati. Tuhan lebih melihat apa yang ada di dalam hati daripada apa yang nampak di luar, walaupun kita tidak mengatakan bahwa ekpresi berdoa tidaklah penting, karena yang diekpresikan keluar adalah ungkapan hati. Disinilah dikatakan bahwa "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." (Maz 51:17). Katekismus menegaskan bahwa kegiatan kurban atau persembahan harus menjadi ungkapan kurban batin (KGK, 2100).
    2. Kalau kita perhatikan, sebenarnya di dalam perayaan Ekaristi sarat dengan begitu banyak simbol, baik dari gerak tubuh, warna, dupa, lilin, dll. Semuanya adalah untuk mendukung agar umat dapat mengarahkan hati untuk bertemu dengan Tuhan. Semua hal tadi adalah sifatnya terlihat yang membantu agar hati manusia dapat bertemu dengan Tuhan sendiri. Jadi tantangan bagi kita masing-masing untuk semakin menghayati simbol-simbol yang ada di dalam Ekaristi, sehingga kita semakin dapat menghayati kurban Kristus yang diperingati dalam setiap perayaan Ekaristi.
    3. Untuk prakteknya, saya ingin menganjurkan agar masing-masing dari kita mempuyai pojok doa, dimana setiap kali kita berdoa, kita dapat berlutut dan juga menyalakan lilin. Dan semua ini membantu kita untuk mengarahkan hati kepada Tuhan.

    II. Waktu berdoa:

    1. Tentang waktu berdoa, dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan kepada keturunan Harun untuk mempersembahkan kurban setiap pagi dan sore (Kel 29:38-41). Dan selain dua waktu ini, kita juga tahu bahwa ada doa pada jam ke 3, 6, 9 atau sekitar jam 9:00 , 12:00 dan 15:00 (Kis 2:15; Kis 10:9; 10:3,13).Dan Daud mengatakan "Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil (Maz 119:164).
    2. Nah, dalam tradisi kehidupan biara, yaitu ordo Benedictus, dikatakan bahwa mereka berdoa pagi atau Prime (jam ke 1 atau waktu matahari terbit), Terce (jam ke-3 atau sekitar jam 09:00), Sext (jam ke 6 atau jam 12:00), None (jam ke-9 atau jam 15:00), Vespers (doa sore, sekitar matahari terbenam), dan Compline (doa malam sebelum tidur). Dan tambahan yang lain adalah mereka membaca Office of Matins (dapat jam 21:00, 24:00, 03:00).
    3. Dan tradisi ini terus dilanjutkan sampai sekarang dalam brevier atau liturgi of the hour. Dikatakan bahwa setelah Misa, maka liturgy of the hour adalah doa yang terpenting, dimana semua umat beriman berdoa bersama dengan Gereja. Semua pastor diharuskan untuk berdoa brevier. Umat beriman dianjurkan untuk berdoa brevier, minimal doa pagi dan sore.
    4. Sebagai umat yang begitu sibuk dengan kehidupan sehari-hari, kita juga dapat berdoa di sela-sela kesibukan kita. Pada waktu kita di mobil menuju kantor, kita bisa rosario, atau waktu kita berolahraga kita juga bisa berdoa. Waktu kita sibuk di kantor, kita menyempatkan untuk berdoa, walaupun singkat, mungkin cuma satu kalimat. Namun ini menunjukkan bahwa kita ingat kepada Tuhan dan membawa Tuhan dalam kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, sehingga apa yang kita lakukan sehari-hari juga dapat dikuduskan oleh Tuhan. Namun, kita tetap membutuhkan waktu yang khusus untuk berdoa.

    Demikian penjelasan singkat tentang sikap doa dan waktu doa. Mari kita bersama-sama lebih setia dalam kehidupan doa kita.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  11. Hi,
    3 hari saya tidak kunjungi web ini karena keterbatasan media. Puji Tuhan, akhirnya pagi ini saya bisa baca lagi spt biasa.

    “APAKAH BERDOA ITU PERCUMA” adalah artikel yang paling sering saya baca, bukan apa2, tapi sulit sekali mencerna dan tepatnya menerima penjelasan dalam artikel ini. Ada doa yang selalu saya ucapkan selama bertahun-tahun. Memang sih, tidak setiap saat saya mendaraskannya. Saya cukup ngotot -mungkin kalau dibaca secara positif : ‘cukup tekun’- mendoakan permohonan tsb. Bertahun-tahun saya doakan, tapi saya merasa tidak terkabul dan sampai saatnya saya putus asa lalu katakan, “Tuhan, terserah deh, Tuhan mau apakah permohonan saya itu. Saya ga mau lagi doakan, dan saya mau lupakan saja permohonan itu. Terserah sama Tuhan….”. Perasaan saya waktu itu sama porsinya : 50% kesel dan cape, 50% lagi sudahlah ini memang yang Tuhan kehendaki dan sudah takdir. Dan sejak saat itu lebih 3-4thn saya tidak pernah lagi singgung doa itu (yang sebenernya menurut saya sangat penting untuk terjadi dalam kehidupan saya!). Jujur saja, saya frustasi dan berusaha untuk mendamaikan diri agar tidak lagi mendoakan permohonan tsb karena sudah menjadi kehendak Tuhan untuk terjadi dalam hidup saya. Doa saya jadi berubah, menjadi : Tuhan kuatkan saya untuk tetap kuat menjalani garis hidup saya dalam nama Yesus.

    Ternyata saat ini saya sampa ke ‘phase’ yang lain. Bolak balik saya baca artikel tentang DOA ini. Berusaha mencerna dan saya mulai lagi doakan permohonan saya yang lalu. Saya kutip doa Stef : Dalam segala kelemahanku, bantulah aku ya Tuhan agar aku dapat mempunyai hati yang kudus, sehingga Engkau dapat meraja dalam hatiku. Tuhan, ubahlah hatiku walaupun aku belum siap. Bantulah agar aku dapat menyesuaikan segala pikiran, keinginan, dan perbuatanku sesuai dengan kehendak-Mu. Berikan aku kekuatan agar aku dapat menjadi seorang pendoa yang benar”

    Terimakasih Stef/Ing untuk pelayanannya. Tuhan berkati pelayanan Anda, dan kiranya berkat itu mengalir juga untuk para pembaca serta memulihkan dari beban-beban yang berat. Amin.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal July 19th, 2008 10:31 am:

    Shalom Nicola,
    Dalam doa, kembali kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita lebih daripada semua orang di dunia ini mengasihi kita. Ini berarti bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Bagi Tuhan yang terbaik adalah untuk menuju tujuan akhir, yaitu bersatu dengan Tuhan dalam kehidupan kekal. Semua hal yang lain adalah untuk menunjang tujuan ini. Kita boleh terus berdoa tentang suatu hal, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dalam pencapaian tujuan akhir, yaitu Tuhan.
    Tuhan pasti akan mendengarkan kita. Dia dapat memberikan jawaban di luar pemikiran kita, namun kita harus percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Tuhan (Rom 8:28).
    Mari kita bersama-sama bertekun di salam doa, sehingga kita akan terus dibentuk menurut kehendak-Nya.

    Doa kami menyertai Nicola dan keluarga,
    stef & ing (www.katolisitas.org)

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

Pesan atau Komentar baru