Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 4 - Selesai)
|
Tulisan ini adalah bagian ke 4 atau tulisan terakhir dari topik "Apakah berdoa itu percuma?" Dalam tulisan ini akan dijelaskan konsep doa menurut St. Teresia kanak-kanak Yesus yang dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik. "Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan"
Rangkaian topik "Apakah berdoa itu percuma?" adalah sebagai berikut:
|
Kesalahan persepsi doa menurut St. Thomas Aquinas
Dalam tiga tulisan sebelumnya, telah dibahas tentang tiga kesalahan persepsi tentang doa yang sering kita jumpai sehari-hari, baik yang kita lakukan sendiri maupun oleh teman-teman kita. Kalau kita lihat, tiga kesalahan persepsi yang diajukan oleh St. Thomas, mungkin telah mencakup semua kesalahan persepsi tentang doa. St. Thomas membaginya menjadi tiga bagian, yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Tuhan dianggap netral: seolah-olah Dia hanya berpangku tangan saja, baik kejadian yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Seolah-olah Tuhan hanya sebagai penonton.
- Tuhan dianggap negatif: seolah-olah Tuhan sudah menentukan semuanya, di mana lebih kepada pengertian yang negatif, sehingga doa juga percuma, karena semuanya sudah ditakdirkan.
- Tuhan dianggap positif: seolah-olah kasih Tuhan diukur sampai seberapa jauh Tuhan memenuhi permintaan doa kita, sampai pada titik bahwa doa kita dapat mengubah keputusan Tuhan.
Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas, kita harus dapat menangkap hakekat dari doa itu sendiri. Dalam tulisan ini akan diuraikan definisi doa menurut St. Teresia kanak-kanak Yesus.
Definisi Doa menurut St. Teresia yang dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik.
Katekismus Gereja Katolik 2558-2559, mengutip St. Teresia kanak-kanak Yesus, mengatakan "Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan". Definisi ini terlihat sederhana, namun mencakup banyak hal. Mari kita lihat satu persatu.
Doa harus melibatkan hati
Dalam doa, akal budi (reason or intellect) dan keinginan hati (the will) harus bekerjasama untuk menerima dan mengalami kehadiran Tuhan.[1] Kita mencoba menggunakan akal budi kita untuk berfikir tentang Tuhan dan dengan keinginan hati, kita mau untuk mengalami kehadiran Tuhan. Sebagai contoh, kita harus terlebih dahulu mengetahui tentang hukum Tuhan dan pelanggaran kita terhadap Tuhan, sebelum kita dapat mengalami pertobatan. Tidak mungkin kita mengalami pertobatan tanpa terlebih dahulu tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah salah di mata Tuhan. Namun sebaliknya, hanya berfikir tentang Tuhan tidaklah cukup, namun kita harus memberikan hati kita kepada Tuhan di dalam doa.[2] Kalau mau dikatakan, setanpun berfikir tentang Tuhan. Mereka punya pengetahuan tentang Tuhan dalam derajat tertentu, namun mereka tidak memberikan hati mereka kepada Tuhan. Katekismus Gereja Katolik menegaskan, memang benar bahwa keseluruhan diri manusia yang berdoa, namun terlebih lagi adalah hati yang berdoa.[3] Sehingga dapat dikatakan bahwa jika hati kita jauh dari Tuhan, maka kata-kata di dalam doa adalah percuma.[4] Disinilah perkataan St. Teresia menjadi begitu nyata dan benar: doa adalah ayunan hati.
Tuhan adalah penggerak utama dalam doa.
Kalau bagi St. Teresia doa adalah "ayunan hati", maka yang mengayun hati adalah Tuhan. Karena Tuhan sendiri yang menanti kita di dalam doa. Dikatakan bahwa manusia mencari Tuhan, namun Tuhan yang memanggil manusia terlebih dahulu.[5] Bahkan doa sebenarnya adalah suatu anugerah dari Tuhan.[6] Drama tentang doa ditunjukkan pada waktu Yesus menunggu di sumur dan kemudian bertemu dengan wanita Samaria (Yoh 4:1-26).[7] Yesus yang menanti kita karena haus akan balasan kasih kita. Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa Tuhan tidak campur tangan dalam kehidupan kita atau malah beranggapan bahwa Tuhan telah menakdirkan sesuatu yang tidak baik dalam kehidupan seseorang, maka anggapan ini adalah salah sekali. Bukan hanya dia "menjawab doa kita", bahkan Dia yang terlebih dahulu "menggerakkan hati kita untuk berdoa", karena Dia sudah menunggu kita di sumber air, di hati kita, di tempat di mana kita dapat bertemu dengan Tuhan.[8]
Kita diciptakan dengan kapasitas untuk mengarahkan hidup kita pada tujuan akhir.
Bahkan sebenarnya, Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa, sehingga manusia mempunyai kapasitas untuk mengarahkan hidupnya kepada tujuan akhir. Sadar atau tidak, kita mempunyai kapasitas untuk ini. Dengan kapasitas inilah, St. Agustinus berkata "Hatiku tidak akan tenang, sampai aku menemukan Engkau, ya Tuhan." Dan kapasitas ini bukan hanya milik beberapa orang saja, namun semua orang, karena pada dasarnya manusia adalah seorang filsuf.[9] Pada saat kita mempertanyakan "apa itu hidup, apa tujuan kehidupan, apakah kebahagiaan, dll", maka kita dihadapkan kepada suatu permenungan akan "suatu awal dan tujuan akhir". Pada saat pertanyaan ini didiskusikan dengan Tuhan, maka ini adalah suatu wujud doa, karena Tuhan adalah awal dan akhir. Dialog ini akan menjadi doa seorang Kristen kalau berdasarkan wahyu Yesus Kristus. Dan ini akan menjadi doa seorang Katolik, kalau berdasarkan wahyu Yesus Kristus yang diteruskan dalam Tradisi Katolik dan ajaran Katolik yang mendasari doa tersebut, di mana doa mencapai puncaknya pada perayaan Ekaristi Kudus[10] (lihat artikel: Sudahkah kita pahami pengertian Ekaristi? ).
Doa adalah pandangan sederhana ke surga
St. Teresia lebih lanjut mengatakan bahwa doa adalah "pandangan sederhana ke surga." Di dalam doa, derajat kedekatan dengan Tuhan yang kita alami hanyalah merupakan pandangan sederhana atau sekilas yang sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan sejati pada waktu nanti kita bertemu dengan Yesus muka dengan muka (1 Kor 2:9). Pada waktu kita berdoa, kita juga mengarahkan hati bukan kepada hal-hal di dunia ini, namun untuk hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan jiwa kita, yaitu tujuan akhir yang utama: persatuan dengan Tuhan di surga. Jadi kita perlu mengintrospeksi, apakah isi dari doa kita? Apakah semuanya berisi dengan kebutuhan yang bersifat jasmani semata, ataukah dipenuhi dengan hal-hal untuk keselamatan jiwa kita? "Pandangan sederhana ke surga" adalah suatu pandangan yang begitu dalam. Kedalamannya terletak pada keserhanaannya. Kesederhanaan suatu konsep "Manusia akan mengarahkan segala sesuatunya kepada tujuan akhir." Dalam Alkitab dikatakan "di mana hartamu berada, disitu juga hatimu berada" (Mat 6:21; Luk 12:34). Seperti seorang yang bekerja di bagian sales atau penjualan. Tujuan akhir dari pekerjaan ini adalah memenuhi target penjualan. Jadi semua usaha, pikiran, dan hati diarahkan seluruhnya untuk mencapai target yang ditetapkan oleh perusahaan. Dari contoh ini, kita melihat bahwa tujuan akhir menentukan semua sikap, perilaku, dan juga pikiran dan hati.
Tujuan akhir dan definisi tentang kebahagiaan menentukan sikap kita dalam doa.
Nah, mari kita melihat dalam kehidupan rohani kita. Di atas telah diulas bahwa manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengenal tujuan akhir, yaitu untuk bersatu dengan Tuhan. Kalau kita membuat hal ini benar-benar menjadi tujuan akhir hidup kita, maka segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk mencapai tujuan ini. Dan cara yang dapat kita lakukan di dunia ini untuk mencapai tujuan akhir ini adalah melalui doa. Dengan kata lain apa yang kita doakan adalah tergantung dari definisi kita tentang tujuan akhir hidup kita maupun definisi kita tentang kebahagiaan.
Kalau seseorang yang definisi kebahagiaannya adalah untuk menjadi orang kaya, maka doa-doanya akan dipenuhi dengan urusan pekerjaan, proyek, uang, dll. Kalau seseorang yang definisi kebahagiaannya adalah keluarga, maka doanya dipenuhi dengan doa untuk keselamatan dan kebahagiaan anggota keluarga. Nah dalam definisi St. Teresia, definisi kebahagiaannya adalah pandangan ke surga. Inilah yang membedakan doa kita dengan doa para orang kudus. Bagi orang kudus, definisi kebahagiaan dan tujuan akhir dari hidup begitu jelas – yaitu persatuan dengan Allah – sehingga doa adalah menjadi cara (the means) untuk mencapai tujuan akhir ini (end). Kita sering membalik ini dan melihat doa sebagai akhir. Akibatnya, kalau doa kita tidak dijawab oleh Tuhan seperti yang kita inginkan, maka kita akan kecewa, putus asa, dan marah. Namun kalau kita melihat doa adalah suatu cara untuk mencapai tujuan akhir, maka apapun jawaban Tuhan terhadap doa kita akan kita terima dengan lapang hati karena pada akhirnya semuanya akan mendatangkan kebaikan buat kita (Roma 8:28), yaitu untuk mencapai tujuan akhir, bersatu dengan Tuhan.
St. Yohanes dari Damaskus mengatakan bahwa "doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik."[11] Hal-hal yang baik disini adalah dalam relasinya dengan tujuan akhir manusia, persatuan dengan Allah di surga.
Doa didasarkan kepada iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan.
St. Teresia juga menekankan pentingnya "seruan syukur (dalam edisi bahasa Inggis dikatakan a cry of recognition atau seruan pengakuan) dan cinta kasih". Seruan syukur adalah suatu ungkapan kepada seseorang atas pertolongan dan pemeliharaannya kepada kita. Dan kalau kita mengucap syukur kepada Tuhan, berarti kita mengakui pertolongan-Nya dan pemiliharaan tangan-Nya dalam kehidupan kita. Kita mengakui bahwa tanpa Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah sikap kerendahan hati yang berkenan di mata Tuhan dan menjadi dasar utama dari doa.[12]
Seruan syukur atau seruan pengakuan menjadi suatu ekspresi iman dan pengharapan. Mengaku bahwa Tuhan adalah segalanya adalah suatu pernyataan iman. Mendaraskan doa kita kepada Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Baik adalah suatu pernyataan pengharapan. Doa juga merupakan tempat pertemuan antara kasih Allah yang sudah terlebih dahulu menunggu kita dengan kasih kita kepada Allah.[13] Bahkan dikatakan bahwa kasih adalah penyebab dari doa.[14] Jadi kita bisa melihat bahwa doa yang benar dilandaskan pada kebajikan ilahi "iman, pengharapan, kasih." Tanpa ketiga hal ini, doa menjadi sia-sia. Kalau kerendahan hati adalah dasar dari doa, maka iman adalah suatu bentuk kerendahan hati akal budi, dan pengharapan adalah bentuk kerendahan hati dari keinginan.[15] Ini berarti bahwa kalau doa kita didasari oleh iman dan pengharapan yang berlandaskan kasih yang benar, maka Tuhan akan mengabulkan doa kita.
Mari kita melihat apa yang dikatakan Yesus "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Mat 7:7; 21:22; Mar 11:24; Luk 11:9; Yoh 14:13). Mengomentari hal ini, St. Thomas Aquinas di dalam bukunya "Catena Aurea", mengatakan bahwa "Kita meminta dengan iman, mencari dengan harapan, dan mengetuk dengan kasih". Jadi dalam hal ini kebajikan Ilahi, yang terdiri dari: iman, pengharapan, dan kasih menjadi dasar doa kita.[16] Iman memungkinkan manusia untuk menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah, termasuk seluruh kejadian dalam kehidupannya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Harapan, membuat kita merindukan kehidupan kekal bersama Allah sebagai tujuan akhir dan tujuan utama kehidupan kita.[17] Kasih, memungkinkan kita untuk mengasihi Allah lebih dari segala sesuatu di dunia ini, dan mengasihi sesama demi kasih kita kepada Allah.[18]
Kalau kita melihat definisi di atas dan jujur terhadap diri sendiri, maka kita dapat mengatakan bahwa doa yang kita minta sering tidak didasari oleh kebajikan ilahi. Mungkin kita berdoa dengan iman dan pengharapan yang kelihatannya begitu besar, namun sebenarnya tanpa didasari kasih kepada Tuhan.[19] Berapa sering kita mendengar doa-doa yang dipanjatkan "dalam nama Yesus, kutolak kemiskinan, sakit penyakit, dll" Kalau doa kita didominasi oleh pekerjaan dan juga kekayaan, maka kita dapat mempertanyakan, apakah doa ini berdasarkan kasih kepada diri sendiri atau kasih kepada Tuhan.
Kalau kasih adalah melihat sesuatu yang baik dari seseorang atau menginginkan sesuatu yang baik terjadi bagi orang tersebut, maka pertanyaannya, apakah kekayaan mendatangkan kebaikan buat Tuhan? Tidak juga. Tuhan tidak bertambah mulia dengan kekayaan kita, walaupun kita dapat memuliakan Tuhan dengan kekayaan yang diberikan oleh Tuhan. Namun sering kita meminta kekayaan bukan untuk memuliakan Tuhan, namun untuk kesenangan diri kita pribadi.
Pertobatan hati menuntun kita kepada doa yang benar.
Namun, sebelum kita dapat melandaskan doa berdasarkan kebajikan Ilahi, maka kita terlebih dahulu akan dihadapkan pada suatu realitas bahwa kita adalah orang berdosa.[20] Realitas ini adalah pengetahuan terhadap diri kita sendiri. Namun pengetahuan tentang diri sendiri tidaklah cukup, karena hanya akan berakhir pada keputusasaan, seperti yang dicontohkan oleh Yudas Iskariot. Pengetahuan ini perlu digabungkan dengan pengetahuan akan Allah yang Maha Kasih dan Pengampun. Dua pengetahuan ini akan membawa kita kepada kerendahan hati dan pertobatan yang benar yang memungkinkan kita mempunyai hati murni, yang akhirnya akan membukakan hati kita untuk menyelaraskan hidup kita dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan (lihat artikel Kerendahan hati: dasar dan jalan menuju Kekudusan), seperti yang telah dicontohkan oleh Santo Petrus. Yesus mengatakan bahwa "Berbahagialah orang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat 5:8).
Kembali kita diingatkan bahwa bukan kita yang mengubah Tuhan dengan doa kita, namun dengan kesucian hati, seseorang dapat menyesuaikan hidupnya dengan kehendak Tuhan,[21] yang pada akhirnya menuntun kepada kesesuaian dengan kehendak Tuhan, seperti yang dicontohkan oleh Yesus sendiri. Di dalam doa-Nya di taman Getsemani, Yesus berkata "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Luk 22:42). Inilah doa dengan nafas, "Tuhan apakah yang Engkau kehendaki?" dan "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan untuk melaksanakan kehendak-Mu?"[22]
Doa yang mengutamakan kehendak Tuhan ialah doa yang lepas dari kepentingan pribadi. Doa seperti inilah yang dilandaskan oleh kebajikan Ilahi: iman, pengharapan, dan kasih. Inilah doa yang dicontohkan oleh Abraham, Musa, dan para orang kudus. Inilah doa, dimana Roh Kudus sendiri yang membantu kita untuk berdoa.
Dan doa yang mengalir dari kebajikan Ilahi tidak akan terpisah dari kehidupan yang nyata, karena doa dan kehidupan bersumber pada kasih yang sama. Pada saat seseorang dapat menggabungkan antara pekerjaan dan kegiatan yang lain dengan nafas doa, maka seseorang mencapai "doa yang tiada henti atau prayer without ceasing." Dan inilah yang diserukan oleh St. Teresia, bahwa doa harus dilakukan "di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan." Ini berarti doa harus dilakukan setiap saat tanpa memandang situasi yang sedang kita alami.
Doa tidaklah percuma, namun harus menjadi nafas kehidupan kita
Dengan semua argumen di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa doa tidaklah percuma, bahkan doa harus menjadi kebutuhan utama orang Kristen, sama seperti oksigen menjadi kebutuhan utama manusia. Semakin kita mengerti akan kesalahan persepsi doa, semakin kita tersadar akan kekuatan doa yang sesungguhnya, yaitu doa yang dituntun oleh Roh Kudus, yang menjadikan kita untuk semakin serupa dengan Kristus, sehingga kita dapat mengikuti kehendak Allah Bapa. Hanya dengan doa yang tiada henti, dilakukan dengan disposisi hati yang benar, maka kita akan melihat buah-buah doa dalam kehidupan kita. Mari kita mengikuti teladan Yesus, yang memberikan kepada kita doa yang paling sempurna, doa Bapa Kami. Kita juga mengikuti teladan Maria, dan para kudus, dimana setiap tarikan nafas dari mereka merupakan doa yang tak putus-putusnya, yang rindu untuk melaksanakan kehendak Bapa.
Mari kita mengingat sekali lagi apa yang dikatakan oleh St. Teresia kanak-kanak Yesus. "Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan".
Marilah kita berdoa.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin. Ya, Tuhan, pada saat ini aku datang kepada-Mu, mengakui bahwa aku adalah orang yang berdosa. Dalam segala kelemahanku, bantulah aku ya Tuhan agar aku dapat mempunyai hati yang kudus, sehingga Engkau dapat meraja dalam hatiku. Tuhan, ubahlah hatiku walaupun aku belum siap. Bantulah agar aku dapat menyesuaikan segala pikiran, keinginan, dan perbuatanku sesuai dengan kehendak-Mu. Berikan aku kekuatan agar aku dapat menjadi seorang pendoa yang benar, karena aku tahu hanya melalui doa saja, iman, pengharapan, dan kasihku kepada-Mu dapat bertumbuh. Bantu aku ya Tuhan, agar doa juga dapat menjadi nafas perbuatanku setiap hari. Aku mengundang Engkau ya Tuhan, untuk terus membentuk aku sesuai dengan kehendak-Mu. Dalam nama Yesus, aku naikkan doa ini. Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
[1] St. Thomas Aquinas, The Summa Theologica of St. Thomas Aquinas (Christian Classics, 1981), ST, II-II, q.83, a.1.; Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 2559.
[2] KGK, 2562-2563 Di sini, KGK menekankan akan pentingnya peranan hati untuk turut berdoa. Berfikir tentang Tuhan saja tidak cukup. Pikiran harus membantu hati (the will) untuk berdoa dengan baik, dan demikian juga sebaliknya.
[3] Ibid., 2562.
[4] Ibid.
[5] Ibid., 2566-2567.
[6] Ibid., 2559-2561.
[7] Ibid., 2560.
[8] Ibid., 2563.
[9] John Paul II, Encyclical Letter on the Relationship between Faith and Reason: Fides et Ratio, 1st ed. (Pauline Books & Media, 1998), 3, 64 Kalau kita amati, hanya manusia saja yang dapat mempertanyakan tujuan hidupnya.
[10] KGK, 1324, 2624 Ekaristi adalah suatu bentuk doa yang paling sempurna, karena menghadirkan kembali kurban Yesus Kristus. Ini juga merupakan tradisi apostolik, seperti yang ditunjukkan jemaat perdana. "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa." (Kis 2:42)
[11] Ibid., 2559.
[12] Ibid.
[13] Ibid., 2560.
[14] Aquinas, ST, ST II-II, q.83, a.13.
[15] Ibid., II-II, q.161, a.5.
[16] KGK, 1812-1813 Iman, pengharapan, dan kasih atau disebut kebajikan Ilahi (theological virtues) memungkinkan manusia berhubungan dengan Allah, dimana kita dapatkan pada waktu kita menerima pembaptisan. Dengan ini, manusia dapat mengambil bagian dan berpartisipasi dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Dan kebijaksanaan Ilahi ini menjadi dasar, jiwa dan tanda pengenal tindakan moral orang Kristen.
[17] Ibid., 1817.
[18] Ibid., 1822.
[19] Dalam hal ini, kalau kita mendasarkan doa kita berdasarkan iman dan pengharapan yang benar, maka kasih senantiasa ada di dalamnya.
[20] Ibid., 2631.
[21] Ibid., 2518.
[22] Ibid., 2705-2706.
5 artikel/gambar terakhir di kategori Fundamental Teologi
- Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi - October 6th, 2008
- Yesus, Tuhan yang Dinubuatkan Para Nabi - September 18th, 2008
- Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah - September 18th, 2008
- Maria, Bunda Allah - September 7th, 2008
- Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ? - July 18th, 2008
5 artikel/gambar terakhir di kategori Semua Artikel
- Bersyukurlah, ada Api Penyucian! - November 28th, 2008
- Cara Mempersiapkan Diri Menyambut Ekaristi - October 26th, 2008
- Kami mengasihimu, pastor! - October 23rd, 2008
- Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi - October 6th, 2008
- Jamahan Tuhan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit - September 25th, 2008
5 artikel/gambar terakhir di kategori Spiritualitas
- Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi - October 6th, 2008
- Ekaristi sumber dan puncak Spiritualitas Kristiani - August 19th, 2008
- Belas kasihan Tuhan adalah Kabar Gembira utama! - July 1st, 2008
- Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 3) - June 27th, 2008
- Kerendahan Hati: Dasar dan Jalan Menuju Kekudusan - June 26th, 2008

Comment by Jus Soekidjo on 5 January 2009:
DOA HARUS MENJADI NAFAS HIDUP.
Uraian tentang doa oleh pa Stef bagus sekali. Yang mengatakan doa itu tidak perlu, maka yang bersangkutan adalah orang yang sombong. Kalau kita berdoa artinya kita ada ketergantungan hidup. Di atas hidup ini masih ada yang “memiliki” kehidupan itu sendiri. Kita tidak bebas begitu saja. Kalau kita berdoa artinya kita ini menjadi tidak berarti. Kita sangat kecil, oleh karena itu kita butuh tiang penyangga yang menjadi kekuatan kita. Dengan demikian, doa harus menjadi nafas kehidupan kita. Jangan memakai metoda “doa ingat” artinya berdoa kalau ingat. Kita musti berdoa baik dalam suka dan duka. Doa harus bersifat seperti nafas kita. Artinya berdoalah setiap saat. Nimbrung sedikit saja. All is based on experience.
Jus Soekidjo (Kuasa Doa)
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Jus Soekidjo on 5 January 2009:
DOA HARUS MENJADI NAFAS HIDUP.
Uraian tentang doa oleh pa Stef bagus sekali. Yang mengatakan doa itu tidak perlu, maka yang bersangkutan adalah orang yang sombong. Kalau kita berdoa artinya kita ada ketergantungan hidup. Di atas hidup ini masih ada yang “memiliki” kehidupan sendiri. Kita tidak bebas begitu saja. Kalau kita berdoa artinya kita ini menjadi tidak berarti. Kita sangat kecil, oleh karena itu kita butuh tiang penyangga yang menjadi kekuatan kita. Dengan demikian, doa harus menjadi nafas kehidupan kita. Jangan memakai metoda “doa ingat” artinya berdoa kalau ingat. Kita musti berdoa baik dalam suka dan duka. Doa harus bersifat seperti nafas kita. Artinya berdoalah setiap saat. Nimbrung sedikit saja. All is based on experience.
Jus Soekidjo (Kuasa Doa)
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Jus Soekidjo on 26 December 2008:
Selain doa-doa sebagaimana disebutkan di atas, ada doa monastik yang kini juga sudah menebus ke luar dari tembok biara, yakni doa kontemplatif. Ada yang bilang doa ini sebagai centering prayer, ada pula ada yang menyebutnya doa hening. Dalam doa kontemplasi , saya diam dan Tuhan juga diam, karena saya dan Tuhan manunggal. Doa ini juga merupakan bagian dari “lectio divina”, yang sekarang ini mulai banyak dipraktekkan dari keompok-kelompok meditasi Kitab Suci yang berbasiskan “Lectio divina”. Lectio divina ini juga merupakan salah satu methoda untuk mengerti Sabda Tuhan (Firman)/Kitab Suci melalui Lectio, meditatio, oratio, dan contemplatio. JIka umat mau sungguh memperdalam tentang Firman, metoda Lectio Divina bisa diaplikasikan dalam kehidupan kita untuk memperdalam tingkat spiritualitas kita. Di beberapa paroki di Jakarta seperti Paroki St. Paskalis, St. Fransiskus Asisi, Paroki Hati Kudus, dll dan beberapa komunitas, sudah mempraktekkan “Lectio Divina” ini.
Tuhan berkati, sedikit sharing tentang “meditasi Kitab Suci” berbasiskan “Lectio Divina”.
Jus Soekidjo
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Luigi on 10 December 2008:
Yth. Bapak/Ibu ,
Sebenarnya saya mohon ada penjelasan mengenai ekaristi dan setiap doa yang kita lakukan dalam ekaristi … karena saya kebetulan menemukan secara tidak sengaja di GPdi San Francisco , mungkin banyak hal yang tidak kita ketahui mengenai doa doa dalam Sakramen Ekaristi itu sendiri sehingga banyak yang menganggap hanya ritual belaka dan tidak alkitabiah.
Jalan ceritnya begini , saya seorang Khatolik yang sejak bayi sudah dipermandikan di Jakarta ,paroki Kramat, istri saya seorang protestan, waktu di Jakarta saya jarang sekali menemani istri saya ke gerja Protestan, paling2 hanya acara Natal dan Paskah.
Nah di SF ini saya tiap minggu menemani istri saya dan anak2 , ke GPdi SF , ada beberapa kali penjelasan Firman Tuhan yang saya ingat mengenai Damai Sejahtera dan Akhir Zaman .
Damai Sejahtera selalu di doa kan sebelum Komuni Kudus di Misa , dan untuk Akhir Zaman, mereka juga mengakui kalau pada saat Yesus datang untuk ke 2 kali akan membangkitkan orang hidup dan mati, jadi kalau kita mati sekarang akan kemana ? orang Khatolik percaya bahwa kita akan masuk api pencucian terlebih dahulu untuk dimurnikan, sedang mereka percaya langsung masuk surga atau neraka.
Mohon penjelasannya agar saya bisa dapat lebih memahami setiap doa yang di ucapkan di Misa. Terima kasih.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Luigi,
Sebelum saya menjawab pertanyaan Luigi, saya ingin juga menanyakan, apakah Luigi sekarang setiap minggunya menghadiri Misa di Gereja Katolik atau menghadiri kebaktian/ Perjamuan Kudus di Gereja Protestan? Sebab sesungguhnya apa yang dilakukan di gereja Protestan, (apapun namanya) berbeda maksudnya dengan makna "Ekaristi Kudus" atau Misa di dalam Gereja Katolik. Saya pernah menuliskan perbedaan makna Ekaristi dalam Gereja Katolik dengan Perjamuan kudus di gereja Protestan di jawaban atas pertanyaan Oelan di sini (silakan klik).
Jika Luigi mengikuti Misa kudus di gereja Katolik, saya menganjurkan agar Luigi mempersiapkan diri dulu sebelum mengikuti Misa, agar dapat menghayati Misa Kudus dengan lebih baik. Silakan baca artikel Cara Mempersiapkan diri Menyambut Ekaristi, dan jangan lupa membaca artikel mengenai Ekaristi yang lain yaitu; Sudahkah kita pahami Ekaristi, dan Ekaristi sumber dan puncak kehidupan Kristiani.
Sebenarnya terpenting bagi kita orang Katolik, adalah mengikuti Misa Kudus di dalam Gereja Katolik, dan berpartisipasi aktif di dalamnya; sebab dengan demikian kita memenuhi apa yang menjadi bagian kita sebagai anggota Tubuh Kristus. Dengan ini kita menjalani peran ‘imamat bersama’ yang kita terima di dalam pembaptisan kita. Silakan baca artikel ini, "Sudahkah kita diselamatkan?" Dan oleh Ekaristi, kita sungguh-sungguh dipersatukan dengan Kristus sendiri dan seluruh anggota TubuhNya.
Sebenarnya tidak ada doa yang baku untuk sebelum dan sesudah Komuni, sebab itu adalah saat yang paling intim/ erat antara setiap kita dengan Tuhan Yesus. Sebelum Komuni kita mengharapkan persatuan dengan Tuhan Yesus, sesudah Komuni kita bersyukur, menyembah Dia, dan dapat memohon juga rahmat/ pertolongan Tuhan untuk kehidupan kita selanjutnya.
Contohnya dapat saya sertakan di sini (silakan disesuaikan sendiri, jika perlu):
Datanglah O Tuhan Yesus Penyelamatku, dan kuatkanlah jiwaku dengan Roti Surgawi, yang mengandung segala kebaikan. Mari, puaskanlah kelaparan jiwaku. Datanglah, O Kasih yang berkobar, nyalakanlah di dalm hatiku kasih ilahi.
Datanglah, O Terang Dunia, terangilah kegelapan jiwaku.
Datanglah, O Rajaku, buatlah aku taat kepada kehendak-Mu.
Datanglah, O Penyelamatku, jadikan aku lemah lembut dan rendah hati.
Datanglah, Sang Tabib ilahi, sembuhkanlah tubuhku dan kelemahan jiwaku.
Datanglah, O Gembala yang baik, Engkau Tuhanku, yang menjadi segalanya bagiku, bawalah aku kepadaMu.
Bunda Maria, bantulah aku mempersiapkan hati menyambut Yesus Juru Selamatku. Amin
Tuhan Yesus, selamat datang di hatiku. Mari bantulah aku membuang dari pikiranku segala sesuatu yang tak berkenan kepada-Mu. Aku bersyukur, Engkau mau datang kepadaku dan membawaku ke dalam Hati Kudus-Mu. Aku menyembah Engkau. Terima kasih Tuhan atas karunia-Mu yang terbesar ini! Aku bersyukur sebab Engkau baik, dan kasih setia-Mu tiada berkesudahan. ….***
Kumohon agar aku dapat melewati hari ini bersama-Mu dengan suka cita, melakukan kehendak-Mu.
Dampingilah aku hari ini, sehingga aku siap melayani Engkau dan tidak cepat mengeluh.
Pimpinlah aku dalam segala pembicaraanku hari ini, sehingga jangan sampai aku menjadi kurang mengasihi.
Dalam menghadapi kekecewaan, ajari aku supaya aku dapat bersabar, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang-orang di sekitarku.
Dalam kesusahanku, tolonglah aku untuk dapat memikirkan kepentingan orang lain daripada hanya kepentingan sendiri.
Dalam cobaan yang sedang kuhadapi, pimpinlah aku supaya aku tetap dapat bermurah hati dan setia pada jalan-Mu.
Tuhan Yesus, kupersembahkan segala yang ada padaku: segala kesuksesanku yang adalah milik-Mu, dan kegagalan yang adalah milikku. Aku percaya, Engkau akan selalu menopangku, dan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Damai-Mu ya Tuhan, itu yang kuingini, dan aku berterima kasih sebab Engkau memberikannya kepadaku saat ini.
Kupuji kebaikan-Mu ya Tuhan, Engkaulah Tamu Agung bagi jiwaku. Mari tinggallah di dalamku. **** Amin.
Catatan:
*** silakan ditambah dengan ucapan-ucapan syukur yang lain
**** silakan dilanjutkan dengan doa hening.
Mengenai pertanyaan Luigi tentang akhir hidup kita sebagai manusia, silakan baca, artikel Bersyukurlah ada Api Penyucian! Jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya di bawah artikel tersebut.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Ibu Ingrid Yth,
Saya berterima kasih atas penjelasan ibu, untuk informasi saya sebisa mungkin iktu misa harian di gereja St. Dominic , seringnya pagi jam 8 dan kadang2 sore jam 5.30 ,
waktu di Indonesia saya cukup aktif di Kharismatik dan sempat membantu persekutuan doa mudika di Paroki Pulo Mas.
Sebenarnya pertanyaan saya lebih kepada doa yang kita atau pastor ucapkan, seperti Damai Sejahtera yang diberikan Yesus , jangan perhitungkan dosa kami tapi perhatikanlah iman gerejaMu dan restuilah kami …. maaf bu sudah lupa padahal baru 1.5 tahun disini , nah mengenai Damai Sejahtera ini dikupas waktu ikut kebaktian GPdi , justru menguatkan saya bahwa khasanah dalam Misa sebenarnya sangat lengkap kalau kita mendapat penjelasan terutama yang alkitabiah. Terima kasih atas penjelasan ibu sehingga wawasan saya semakin bertambah. Gbu
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Luigi,
Pertama-tama, maaf ya baru sekarang saya dapat menjawab pertanyaan Luigi.
Mari sekarang kita melihat teks Doa syukur Agung II, yang paling umum dipakai di dalam Misa Kudus:
Doa Syukur Agung (umat berlutut)
Maka kami mohon: semoga RohMu menyucikan persembahan ini.
Agar menjadi bagi kami, tubuh dan darah PuteraMu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.
Pada malam Ia diserahkan, sebelum menderita sengsara dengan rela, Ia mengambil roti, mengucap syukur,
Teks ini mengacu pada Kitab suci yaitu pada Perjamuan terakhir, di mana Yesus mengambil roti dan mengucap berkat dan syukur (Mat 26:26; Luk 22:17; Mrk 14: 22). Imam melaksanakan peran Kristus sendiri yang mengucapkan syukur kepada Bapa, dan oleh kuasa Roh Kudus akan mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya.
Tuhan yang adalah sumber kekudusan sesaat lagi akan menguduskan perjamuan roti dan anggur menjadi santapan rohani bagi kita. Dengan demikian, Allah sendiri yang akan mencurahkan rahmat kekudusan-Nya kepada kita yang mengambil bagian di dalam perjamuan surgawi ini.
Ini adalah perkataan Yesus sendiri dalam Perjamuan Terakhir, seperti yang tertera di dalam gabungan kitab Matius, Markus, Lukas (Mat 26:26- 28; Mrk 14:22-24; Luk 22:19-20). Imam yang telah diurapi oleh Kristus diberi kuasa oleh Kristus sendiri, untuk mengucapkan sabdaNya ini yang berkuasa mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Inilah yang disebutkan sebagai doa konsekrasi. Begitu doa ini selesai diucapkan, mukjizat yang terbesar itu terjadi: yaitu Kristus hadir di tengah-tengah kita dalam rupa roti dan anggur; inilah yang disebut sebagai "Transsubstansiasi". Hakekat roti itu bukan roti lagi, demikian juga anggur itu, melainkan Tubuh dan Darah Kristus, bersama dengan jiwa dan ke-Allahan-Nya, yaitu seluruh Kristus (Konsili Trente:DS 1651, KGK 1374)
Dalam Katekismus Gereja Katolik 1381, St. Thomas Aquinas mengutip St. Sirilus (Cyril) mengenai kebenaran perkataan Yesus dalam Luk 19:22 ini, "jangan ragu-ragu apakah itu benar, melainkan terimalah kata-kata Penebus itu dalam iman. Karena Ia adalah Kebenaran, jadi Ia tidak menipu."
Maka pada saat imam mengangkat hosti dan piala anggur, kita memandang kepada hosti dan piala itu, sambil mengatakan dengan iman di dalam hati, "Ya Tuhanku dan Allahku" seperti yang dikatakan oleh Rasul Thomas, saat Kristus menampakkan diri kepadanya setelah kebangkitan-Nya (Luk 20:28). Pada saat yang sama ini kita mengangkat hati dan mempersembahkan segala yang ada pada kita: doa, pujian, syukur, pergumulan, permohonan dst kepada Tuhan. Kurban ini akan turut ‘naik’ bersama dengan kurban Kristus, kepada Allah Bapa.
Inilah misteri iman yang kita maklumkan, berdasarkan apa yang kita imani. Oleh kuasa Roh Kudus, misteri Paska dihadirkan kembali dalam setiap misa kudus, yaitu: wafat, dan kebangkitan Kristus sambil kita menantikan kedatangan-Nya kembali. Di sinilah Perjamuan Ekaristi menembus ruang dan waktu: wafat, kebangkitan dan kedatangan-Nya kita rayakan sebagai "saat ini", sehingga Perjamuan Ekaristi menjadi "Heaven on Earth." Kita sekarang merayakan kehadiran-Nya secara terselubung (KGK 1404), mengharapkan kedatangan-Nya dalam pemenuhan jaminan kemuliaan yang akan datang di surga (KGK 1402).
Inilah doa umat yang mengenangkan Kristus Sang Roti Hidup (Yoh 6:35); dan piala keselamatan yang berisi darah Perjanjian Baru dan kekal yang akan membangkitkan kita pada akhir zaman (Yoh 6: 54). Maka bersyukurlah kita, yang dianggap-Nya layak untuk menerima rahmat yang tak terbatas ini, yaitu kehidupan kekal (Yoh 6:47). Ayat yang sama ini mengingatkan kita untuk senantiasa hidup dalam pertobatan yang terus menerus, sehingga dapat ‘layak menghadap Tuhan dan berbakti kepada-Nya’.
Oleh santapan rohani ini, kita dipersatukan oleh Roh Kudus dengan Kristus sang Kepala, dan dengan sesama anggota Gereja menjadi Tubuh Kristus. Persatuan kita dengan Kristus ini harusnya menjadikan kita bersatu sebagai umat-Nya, seperti yang menjadi doa Yesus sebelum sengsara-Nya, "Aku berdoa … supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa ada di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau."(Yoh 17:20-21).
Di dalam Ekaristi, Gereja juga merayakan kesatuan di bawah pimpinan Bapa Paus, pengganti Rasul Petrus yang ditunjuk oleh Tuhan Yesus sebagai dasar ‘batu karang’ Gereja yang didirikan-Nya (Mat 16:18). Maka di dalam doa ini, kita memohon berkat Allah untuk mengikat kita semua di dalam persatuan dengan Bapa Paus dan para uskup pemimpin Gereja, yang merupakan penerus para Rasul.
Selamatkanlah putraMu (putriMu) yang (pada hari ini/telah) Kau panggil menhadap hadiratMu. Dia telah meninggal seperti Kristus; maka perkenankanlah pula ia ikut bangkit bersama Kristus.
Ini adalah doa yang diucapkan untuk medoakan keselamatan jiwa seseorang yang telah dipanggil Tuhan. Perkataan "Dia telah meninggal seperti Kristus" diartikan bahwa ia yang kita doakan telah meninggal dunia seperti Kristus yang telah meninggal dunia (di salib Golgota), dan berdoa agar ia dapat dibangkitkan bersama Kristus.
Dalam doa ini, kita mengingat saudara-saudari kita yang telah dipanggil Tuhan. Kita berdoa bagi keselamatan jiwa mereka, dan memohon agar Tuhan segera membebaskan mereka dari Api Penyucian sehingga mereka dapat bergabung dalam kemuliaan surgawi. Dengan demikian, di dalam Ekaristi, kita sebagai para anggota Gereja di dunia merayakan persatuan dengan para anggota Gereja yang sedang dimurnikan di Api Penyucian.
Melalui doa ini, kita merayakan persekutuan orang kudus. Ekaristi mempersatukan kita sebagai Gereja yang satu dan tidak terpisahkan; antara kita yang masih mengembara di dunia dengan para kudus yang sudah jaya di surga. Maka persatuan kita dengan para kudus (Gereja yang sudah jaya di surga) diteguhkan, dan mereka membawa kita semakin lebih dekat kepada Kristus (KGK 957).
Doa Doksologi ini menyatakan penutup rangkaian Doa Syukur Agung, dengan pujian kepada Allah Tritunggal Maha Kudus: Bapa, Putera, dan Roh Kudus, yang menganggap kita layak untuk mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya di dalam Ekaristi kudus.
Komuni
[umat berdiri]
Atas pentunjuk Penyelamat kita, dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa:
Bapa kami yang ada di surga dimuliakanlah namaMu
Datanglah kerajaanMu jadilah kehendakMu, di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. Jangan masukkan kami dalam cobaan.
Tapi bebaskan kami dari yang jahat.
Sebab Tuhanlah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin.
Komuni di awali dengan mengulangi doa yang yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Kita berdoa sebagai satu kesatuan saudara di dalam Tuhan Yesus Kristus, sehingga kita dapat memanggil Allah sebagai "Bapa Kami" (Rom 4:6).
Tuhan Yesus Kristus, janganlah memperhitungkan dosa kami. Tetapi perhatikanlah iman GerejaMu, Dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendakMu sebab Engkaulah pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.
Doa ini merupakan permohonan yang sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus kepada umat di Filipi, "… Dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (Flp 2: 1)" sehingga dengan menimba kekuatan dari Kristus sendiri, maka kita dapat memenuhi perintah-Nya untuk hidup rukun bersatu sebagai anggota Tubuh Kristus, "sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Flp 2:2-5)
Dengan melihat kepada Kristus yang merendahkan diri sedemikian bagi kita, kitapun diajak oleh Kristus untuk meniru teladan-Nya yang memberikan diri bagi orang lain. Sehingga di dalam hidup kita bersama dengan orang lain, kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah Bapa!" (Flp 2:6-11).
Kristus adalah teladan kasih dan kerendahan hati bagi kita semua, dan ini sangat nyata di dalam Ekaristi. Sebab bahkan saat Ia telah berada dalam kemuliaan surga, Ia masih tetap menyertai kita, tunduk pada perkataan para imam-Nya, dan hadir kembali di tengah kita dalam rupa roti dan anggur.
(Semoga) damai Tuhan kita Yesus Kristus selalu beserta kita. Sekarang dan selama-lamanya. [Imam mengajak umat untuk menyatakan salam damai satu sama lain].
Salam damai ini adalah sebagai kesempatan bagi kita untuk berdamai dengan sesama, sebelum kita mengambil bagian di dalam Perjamuan Tuhan, sesuai dengan perintah Yesus, "… jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untk mempersembahkan persembahan itu" (Mat 5:23-24). Maka, salam damai ini bukan hanya sekedar basa-basi, tetapi merupakan niatan tulus di dalam hati kita untuk mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita; ataupun meminta ampun pada orang yang kita sakiti hatinya. Karena mungkin pada saat itu kita belum dapat bertemu dengan mereka, maka saudara-saudari di sekeliling kita adalah merupakan ‘wakil’ dari seseorang yang perlu kita ajak berdamai tersebut. (Tentu, setelah misa kudus, kita diharapkan dapat mewujudkan niat berdamai tersebut dengan orang yang bersangkutan).
Dengan demikian, maka kita dapat dengan hati lapang mengambil bagian di dalam perjamuan Ekaristi.
Pemecahan roti merupakan Tradisi Suci para Rasul yang telah dilakukan sejak jemaat awal, yaitu, "Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kis 2:42).
Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia kasihanilah kami, Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia kasihanilah kami,
Anakdomba Allah yang menghapus dosa dunia berilah kami damai.
[Umat berlutut]
Ini adalah Doa pujian kepada Kristus, Anak Domba Allah, seperti yang disebutkan dalam Kitab Wahyu 5-7, menggambarkan perjamuan Anak Domba di surga. Kita yang masih berziarah di dunia melihat kepada-Nya memohon belas kasih dan damai-Nya agar kitapun dapat sampai pada pemenuhan janji Penebusan dosa kita di surga. Maka Ekaristi mengarahkan pandangan kita ke surga, surga dan dunia yang baru, dimana tiada lagi air mata kesedihan, dan jaminan kemuliaan yang akan datang dipenuhi (KGK 1402-1405). Lebih lanjut mengenai Ekaristi sebagai Perjamuan Anak Domba, dapat dibaca pada buku karangan Scott Hahn, "The Lamb Supper", yang saya percaya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Doa ini merupakan salah satu doa yang terindah di dalam Alkitab, sebab didasari oleh kerendahan hati dan iman, seperti doa perwira di Kaparnaum (Mat 8:8), yang menurut St. Yohanes Krisostomus, merupakan doa yang serupa dengan doa penyamun yang disalibkan di samping salib Kristus, "Tuhan ingatlah akan aku dalam kerajaan-Mu!" (Luk 23:42; KGK 1386).
Tubuh Kristus, Amin.
Sebelum dan sesudah komuni, kita dapat berdoa pribadi, seperti yang pernah saya tuliskan pada jawaban saya terdahulu.
Demikian, semoga saya menjawab pertanyaan Luigi. Saya berharap, jika Luigi ikut kebaktian pada hari Minggu untuk menemani istri dan anak-anak, namun pada hari Minggu itu juga, anda tetap mengikuti Perayaan Ekaristi/ Misa Kudus di gereja Katolik.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Isa Inigo on 5 December 2008:
Pak Stef dan Bu Ingrid, apakah Katolik punya ajaran mengenai “takdir”? Apakah benar bahwa setiap tindakan kita telah ditentukan oleh Allah? Jika demikian, apakah manusia masih mempunyai kebebasan? Jika semua ditentukan oleh Allah, termasuk jika manusia berbuat jahat, tentu manusia tak usah bertanggungjawab atas perbuatannya. Mohon penerangan agar saya bisa menjelaskan pula kepada saudara yang bertanya. Terima kasih. Shalom,
Isa Inigo
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Isa Inigo,
Mengenai takdir, sebenarnya pernah saya tuliskan di sini (silakan klik). Silakan dibaca dulu ya, dan kalau masih ada pertanyaan silakan bertanya lagi.
Pada dasarnya, manusia diberi kehendak bebas oleh Tuhan, maka manusia bukanlah hanya sekedar ‘boneka’ yang menjalani apa yang sudah digariskan/ menjadi takdir. Jadi tidak benar bahwa jika manusia berbuat dosa, itu karena sudah digariskan berbuat dosa, sehingga sesungguhnya ia tidak bersalah. Sebagai akibat dosa asal Adam dan Hawa, maka kita manusia memang memiliki kecenderungan berbuat dosa, namun demikian, Allah juga memberikan rahmat-Nya, sehingga manusia dapat mengalahkan kecenderungan berbuat dosa tersebut. Oleh sakramen Pembaptisan, kita dikaruniai rahmat untuk meninggalkan dosa, dan hidup di dalam Roh Kudus, untuk menjalankan perintah-perintah Allah. Kemudian oleh rahmat Tuhan yang kita terima terus menerus, terutama di dalam Ekaristi, kita dimampukan untuk hidup seturut kehendak Allah. Jadi, dengan demikian kita bukan hamba dosa lagi, melainkan kita "telah dimerdekakan Allah dari dosa menjadi hamba kebenaran" (lihat. Rom 6:17-18). Maka harus bertanggung jawab atas perbuatan kita, apakah perbuatan kita tersebut berdasarkan kebenaran atau tidak. Sebab di akhir nanti, kita semua akan diadili oleh Tuhan, sesuai dengan perbuatan kita (lihat 1 Pet 1:17). Artinya, kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di hadapan Tuhan. Dengan demikian kita mengetahui bahwa tidak mungkin Tuhan menakdirkan seseorang untuk berbuat jahat, karena justru sebaliknya, jika kita berbuat jahat, maka Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita.
Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Isa Inigo.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by andryhart on 5 November 2008:
Shalom,
Ada tiga pertanyaan yang ingin saya ajukan:
(1) Saya sering berdoa Yesus dalam sikap berbaring telentang dengan merentangkan kedua belah tangan atau menaruh tangan di dada. Dalam sikap ini saya merasakan kepasrahan dan kedamaian seperti halnya bayi yang berbaring nyaman di pelukan ibunya. Apakah sikap berdoa seperti ini diperbolehkan?
(2) Teman Kristen non-Katolik sering mengatakan bahwa doa berulang seperti mantera yang dilakukan pada meditasi prana sehingga tidak diperbolehkan dalam ajaran Kristiani. Apakah ada rujukan biblis yang dapat melandasi alasan kita untuk melakukan doa berulang seperti doa Yesus atau doa Rosario?
(3) Bagaimana sejarah Rosario? Kapan Rosario digunakan pertama kalinya oleh umat Katolik?
Terima kasih atas jawabannya. Tuhan selalu memberkati Bapak.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Andryhart,
Terimakasih atas pertanyaannya. Mari kita bahas satu persatu.
Sikap doa:
Saya telah menjawab pertanyaan sikap doa di jawaban ini (silakan klik).
Apakah doa berulang salah?
Asal-usul doa rosario:
(Rosarium Virginis Mariae, 41, Paus Yohanes Paulus II)
Itulah jawaban dari kami, semoga dapat menjawab pertanyaan Andryhart. Mari kita bersama-sama berjuang untuk setia dalam kehidupan doa kita, sehingga kita dapat semakin mengasihi Tuhan.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stefanus & ingrid
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by gendut on 31 October 2008:
Halo buat Stef dan Inggrid beserta team
Saya mohon pencerahan, doa singkat apa yag harus diucapkan dalam hati ? Ketika :
1.Senior dan pengurus lingkungan sering bertindak arogan dan membodohi
warga (KKN) bahkan korupsi / menghamburkan dana lingkungan dengan alasan untuk Tuhan Yesus, misal : pesta dan membuat buku, beli patung / amal dsb nya. tentunya dengan segala alasan dan sering tanpa pertanggung jawab secara adminisrasi ( kan untuk Yesus ? )
2.Mereka hanya ingin eksis/terkenal tetapi bagaikan ‘orang Parisi’
tang enggan / terpaksa melayani warga yang secara ekonomi tidak mampu dan tidak terpandang
serta memprokalimirkan diri bahwa imannya sudah sangat mendalam
3.Mencari selamat / cuci tangan bila ada masalah dan memojokkan warga / pengurus lain yang tidak sejalan ’se gank’ serta membalikkan fakta dengan cara seolah lembut dan bijaksana walaupun
penuh dengan kedustaan didepan warga.
4.Meminta sumbangan ke donatur yang mampu tetapi tidak transparan
Doa apa yang harus saya ucapkan ketika berhadapan agar mereka “sedikit/banyak” sadar(tidak munafik)?
Terimakasih dan Berkat Tuhan
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom juga buat Gendut,
Memang dalam pelayanan di manapun atau dalam jenis pelayanan apa saja, maka kita akan menghadapi sesuatu yang seringkali tidak sesuai dengan pendapat dan keinginan kita, atau malah bertentangan dengan kasih. Jadi ada beberapa hal praktis yang mungkin dapat dilakukan.
Jadi dalam kasus pelayanan di lingkungan yang mungkin kurang mencerminkan kasih Kristus, entah dalam bentuk: tidak membaur dengan semua, kurang mempertanggungjawabkan keuangan secara transparan, seperti orang farisi, dll., apa yang harus kita lakukan?
Akhirnya, saya ingin mengutip dari yang terberkati ibu Teresa dari Kalkuta tentang pelayanan.
Semoga sharing di atas dapat membantu Gendut untuk melakukan pelayanan bersama-sama dengan pengurus lingkungan, sehingga lingkungan tersebut dipenuhi dengan semangat kasih.
Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Salam damai dalam Yesus Kristus
Terima kasih atas pencerahannya dan semoga bagi lingkungan saya rukun dan berkembang
Semoga Bait Allah pada Hati dan Iman saya tidak memperdagangkan atas nama Yesus untuk kepentingan pribadi didalam pelayanan kepada warga lingkungan
Banyaknya ‘batu sandungan’ menjadikan saya lebih mawas diri didalam Iman Katolik dan Apostolik
Mohon doa dan salam kasih
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Ali on 28 October 2008:
sudah mau selesai bulan rosario. Saya ikut doa rosario tapi rosario saya belum diberkati pastor. itu gimana?. Terus terang saya tidak bermaksud mencari ‘pahala’ atau apapun. hanya saja saya ingin apa ada efek selain dari kesungguhan doa pada Bunda Kudus kita. kebetulan ini lagi bulan rosario. apakah rosario yg belum diberkati pastor bisa dipakai?. apa bedanya?
trims
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Ali,
Terimakasih atas pertanyaannya, dan juga kerinduannya untuk berdoa rosario. Berkat dari pastor untuk barang-barang keagamaan adalah merupakan sakramental, yang berbeda dengan sakramen.
Dengan dasar tersebut, Ali tentu saja dapat memakai rosario yang belum diberkati. Yang penting dalam hal ini adalah disposisi hati. Sejauh kita berdoa dengan doa yang berfokus pada Yesus, maka tentu saja Tuhan berkenan. Nanti kalau ada kesempatan, Ali dapat minta pastor untuk memberkati rosario Ali, sehingga semakin mengingatkan Ali akan kehadiran Tuhan.
Semoga di bulan Rosario ini, Bunda Maria menuntun Ali terus menerus, sampai kepada pembaptisan, sehingga Ali juga dapat menjadi puteranya.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by felix on 30 September 2008:
Saya mau tanya, berhubung bln october ini kan bulan Maria ya?
Trus kalo saya mo doa rosario itu harus 1 bln penuh atau gimana ya?
Terima kasih.
felix
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Felix,
Terima kasih untuk pertanyaannya.
Memang bulan Oktober adalah bulan Maria. Kalau kita berdoa Rosario, bukan hanya pada hari-hari tertentu saja di bulan Oktober, melainkan setiap hari di bulan Oktober, dan terus dilanjutkan sehingga Rosary dapat menjadi bagian doa kita setiap hari. Dengan kita berdoa Rosario, kita tidak berdoa kepada Bunda Maria, namun berdoa BERSAMA Bunda Maria. Bunda Maria akan membawa kita lebih dekat kepada Putera-Nya.
Semoga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan Felix. Mari kita bersama-sama mengasihi Bunda Maria, sehingga kita akan dituntunnya untuk lebih dekat kepada Yesus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Julius Santoso on 29 September 2008:
Kel. Stefanus Tay yang dikasihi Tuhan.
Bagaimanakah sebaiknya sikap kita berdoa?.
Sikap doa Tuhan Yesus dan rasul2Nya bermacam-macam al. : berdiri (Mrk.11:25), Yesus menengadah ke langit (Yoh.17:1), dengan menadahkan tangan yang suci (I Tim.2:8), Paulus berlutut (Kis.20:36), berlutut dan berdoa (Luk.22:41), sujud dan berdoa” (Mat.26:39), merebahkan diri ke tanah dan berdoa (Mrk.14:35), “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa” (Ef.3:14), “maka tersungkurlah…di hadapana Dia…dan menyembah Dia…“ (Why.4:10). dsb.nya.
Bangsa Yahudi/ orang Israel dan Kristen Orthodox di Timur Tengah melakukan doa pada jam-jam : jam pertama, jam ke tiga, jam ke enam, jam ke sembilan, sholat senja, sholat purna bujana, sholat tengah malam.
Apakah tradisi gereja pernah melakukan cara doa pada jam-jam tertentu?.
Terima kasih atas penjelasannya.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Julius,
Terima kasih untuk pertanyaannya.
I. Sikap dalam berdoa:
II. Waktu berdoa:
Demikian penjelasan singkat tentang sikap doa dan waktu doa. Mari kita bersama-sama lebih setia dalam kehidupan doa kita.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Y Nicola on 18 July 2008:
Hi,
3 hari saya tidak kunjungi web ini karena keterbatasan media. Puji Tuhan, akhirnya pagi ini saya bisa baca lagi spt biasa.
“APAKAH BERDOA ITU PERCUMA” adalah artikel yang paling sering saya baca, bukan apa2, tapi sulit sekali mencerna dan tepatnya menerima penjelasan dalam artikel ini. Ada doa yang selalu saya ucapkan selama bertahun-tahun. Memang sih, tidak setiap saat saya mendaraskannya. Saya cukup ngotot -mungkin kalau dibaca secara positif : ‘cukup tekun’- mendoakan permohonan tsb. Bertahun-tahun saya doakan, tapi saya merasa tidak terkabul dan sampai saatnya saya putus asa lalu katakan, “Tuhan, terserah deh, Tuhan mau apakah permohonan saya itu. Saya ga mau lagi doakan, dan saya mau lupakan saja permohonan itu. Terserah sama Tuhan….”. Perasaan saya waktu itu sama porsinya : 50% kesel dan cape, 50% lagi sudahlah ini memang yang Tuhan kehendaki dan sudah takdir. Dan sejak saat itu lebih 3-4thn saya tidak pernah lagi singgung doa itu (yang sebenernya menurut saya sangat penting untuk terjadi dalam kehidupan saya!). Jujur saja, saya frustasi dan berusaha untuk mendamaikan diri agar tidak lagi mendoakan permohonan tsb karena sudah menjadi kehendak Tuhan untuk terjadi dalam hidup saya. Doa saya jadi berubah, menjadi : Tuhan kuatkan saya untuk tetap kuat menjalani garis hidup saya dalam nama Yesus.
Ternyata saat ini saya sampa ke ‘phase’ yang lain. Bolak balik saya baca artikel tentang DOA ini. Berusaha mencerna dan saya mulai lagi doakan permohonan saya yang lalu. Saya kutip doa Stef : Dalam segala kelemahanku, bantulah aku ya Tuhan agar aku dapat mempunyai hati yang kudus, sehingga Engkau dapat meraja dalam hatiku. Tuhan, ubahlah hatiku walaupun aku belum siap. Bantulah agar aku dapat menyesuaikan segala pikiran, keinginan, dan perbuatanku sesuai dengan kehendak-Mu. Berikan aku kekuatan agar aku dapat menjadi seorang pendoa yang benar”
Terimakasih Stef/Ing untuk pelayanannya. Tuhan berkati pelayanan Anda, dan kiranya berkat itu mengalir juga untuk para pembaca serta memulihkan dari beban-beban yang berat. Amin.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Nicola,
Dalam doa, kembali kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita lebih daripada semua orang di dunia ini mengasihi kita. Ini berarti bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Bagi Tuhan yang terbaik adalah untuk menuju tujuan akhir, yaitu bersatu dengan Tuhan dalam kehidupan kekal. Semua hal yang lain adalah untuk menunjang tujuan ini. Kita boleh terus berdoa tentang suatu hal, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dalam pencapaian tujuan akhir, yaitu Tuhan.
Tuhan pasti akan mendengarkan kita. Dia dapat memberikan jawaban di luar pemikiran kita, namun kita harus percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Tuhan (Rom 8:28).
Mari kita bersama-sama bertekun di salam doa, sehingga kita akan terus dibentuk menurut kehendak-Nya.
Doa kami menyertai Nicola dan keluarga,
stef & ing (www.katolisitas.org)
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]