<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Sakramen: Apa pentingnya di dalam kehidupan iman kita?</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 11:26:12 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: maria</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/comment-page-1/#comment-14081</link> <dc:creator>maria</dc:creator> <pubDate>Sun, 18 Apr 2010 15:06:29 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=212#comment-14081</guid> <description>Amazing baptism picture, coba klik di  http://www.spirit-digest.com/Pictures/baptismrosary.jpg</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Amazing baptism picture, coba klik di <a
href="http://www.spirit-digest.com/Pictures/baptismrosary.jpg" rel="nofollow">http://www.spirit-digest.com/Pictures/baptismrosary.jpg</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/comment-page-1/#comment-11638</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Wed, 17 Feb 2010 18:08:51 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=212#comment-11638</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Herman Jay,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1. Istilah sakramen secara eksplisit tidak tertulis di dalam Kitab Suci, seperti halnya perkataan Trinitas dan Inkarnasi tidak ada di dalam Kitab Suci. Namun demikian, prinsip pengajarannya bersumber pada Kitab Suci, dan diajarkan oleh Kristus dan para Rasul dalam Tradisi Suci.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Sakramen adalah tanda luar dari rahmat Allah yang bekerja di dalam [diri orang yang menerimanya], yang diintitusikan oleh Kristus untuk pengudusan kita. &quot;Sacraments are outward signs of inward grace, instituted by Christ for our sanctification (Catechismus concil. Trident., n. 4, ex St. Augustine, &quot;&lt;em&gt;De Catechizandis rudibus&lt;/em&gt;&quot;)&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Perlu kita ketahui, bahwa Gereja Katolik tidak menganggap Kitab Suci sebagai satu- satunya sumber kebenaran iman, namun Kitab Suci selalu ada dalam kesatuan dengan Tradisi Suci dan Magisterium. Melalui ketiga pilar kebenaran inilah seluruh ajaran Kristus dan para rasul disampaikan kepada kita. Ketujuh sakramen ini merupakan ajaran yang kita terima atas dasar Kitab Suci dan Tradisi Suci.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Silakan, jika anda belum membaca, untuk membaca rangkaian artikel tentang sakramen ini:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1. &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Sakramen, apa pentingnya dalam kehidupan kita&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Sakramen Baptis&lt;/a&gt;, &lt;br /&gt;3. Sakramen Ekaristi, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bagian 1&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bagian 2&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/10/26/cara-mempersiapkan-diri-menyambut-ekaristi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bagian 3&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2009/04/27/sejarah-yang-mendasari-pengajaran-tentang-ekaristi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bagian 4&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/07/menuju-kedewasaan-iman-di-dalam-kristus/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Sakramen Penguatan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. Sakramen Pengakuan Dosa, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bagian 1&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bagian 2&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bagian 3&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/27/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-4-selesai/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bagian 4&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6.&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/14/indah-dan-dalamnya-makna-sakramen-perkawinan-katolik/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt; Sakramen Perkawinan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/10/23/kami-mengasihimu-pastor/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Sakramen Imamat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/25/jamahan-tuhan-dalam-sakramen-pengurapan-orang-sakit/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Sakramen Pengurapan orang sakit&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2. Penetapan ketujuh sakramen sudah ada sejak Gereja abad awal, hanya saja cara penyampaiannya memiliki perkembangan seiring dengan perkembangan sejarah Gereja. Para Bapa Gereja telah mengajarkan tentang sakramen ini sejak awal, yang dilestarikan terus oleh Gereja Katolik. Namun dalam sejarah Gereja terdapat masa di mana terdapat perbedaan pandangan tentang apakah sakramen benar-benar diperlukan untuk mencapai keselamatan, dan dengan demikian Konsili Trente (1545- 1563) menegaskan kembali adanya ketujuh sakramen dan bahwa sakramen tersebut diperlukan untuk keselamatan, karena sakramen bukan hanya simbol semata, namun sungguh-sungguh menyampaikan rahmat Tuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;3. Jika kita melihat kepada pengajaran para rasul dan para Bapa Gereja, maka kita mengetahui bahwa ketujuh sakramen tersebut telah ditetapkan sejak awal, namun karena tidak secara ekplisit disebutkan dalam Kitab Suci, &quot;ini adalah sakramen Baptis&quot; atau &quot;ini adalah sakramen perkawinan&quot; dst., maka memang penjabarannya kita melihat kepada pengajaran lisan para rasul, yang disebut Tradisi Suci, yang telah diterapkan sejak abad awal dan diteruskan oleh para Bapa Gereja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Penetapan pada Konsili Trente bukan berarti bahwa sebelum Konsili Trente (abad ke 16) itu belum ada sakramen. Konsili Trente menjabarkan ketujuh sakramen untuk meluruskan kesimpangsiuran pada saat itu dengan adanya ajaran yang tidak setia dengan Tradisi para rasul yang mencoret beberapa sakramen atau ajaran yang mengajarkan bahwa sakramen itu hanya &quot;simbol&quot; saja. Maka Konsili Trente menegaskan kembali ajaran Gereja Katolik yang sudah ada sejak abad awal, dan yang kemudian ditetapkan dengan lebih jelas dengan ritus yang lebih seragam.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;4. Kami di Katolisitas tidak dalam posisi untuk menyampaikan ajaran Gereja Lutheran mengenai mengapa mereka tidak mengenal sakramen imamat dan minyak suci. Sakramen Imamat yang menandai imamat jabatan sudah ada sejak abad awal, demikian juga perminyakan orang sakit (lih. Yak 5:14)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;5. Seorang pastor yang sudah mengundurkan diri/ diberhentikan sebagai imam sudah tidak mempunyai &lt;em&gt;faculty&lt;/em&gt; untuk memberikan sakramen-sakramen.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;6. Seorang pastor yang mengundurkan diri dan telah mendapat ijin/ dispensasi dari Vatikan, dapat menikah/ menerima sakramen pernikahan. Namun prosesnya untuk mendapatkan ijin/ dispensasi juga tidaklah mudah, dan pihak Vatikan akan melihat terlebih dahulu apa alasannya. Maka tentu ini bukanlah suatu kondisi yang umum dan layak ditiru.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati- www.katolisitas.org&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berikut ini tambahan dari Romo Wanta:&lt;/p&gt;
&lt;div&gt;Herman Jay Yth.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Orang menerima sakramen banyak bukan prestasi. Imam yang keluar atau mengundurkan diri lalu menikah setelah mendapat dispensasi dari Takhta Suci. Setelah bebas dari kewajiban sebagai imam lalu bisa menikah secara sah. Perbuatan itu tidak perlu ditiru, karena bukan prestasi.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;salam&lt;br /&gt;Rm Wanta&lt;/div&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Herman Jay,</p><p>1. Istilah sakramen secara eksplisit tidak tertulis di dalam Kitab Suci, seperti halnya perkataan Trinitas dan Inkarnasi tidak ada di dalam Kitab Suci. Namun demikian, prinsip pengajarannya bersumber pada Kitab Suci, dan diajarkan oleh Kristus dan para Rasul dalam Tradisi Suci.</p><blockquote><p>Sakramen adalah tanda luar dari rahmat Allah yang bekerja di dalam [diri orang yang menerimanya], yang diintitusikan oleh Kristus untuk pengudusan kita. &#8220;Sacraments are outward signs of inward grace, instituted by Christ for our sanctification (Catechismus concil. Trident., n. 4, ex St. Augustine, &#8220;<em>De Catechizandis rudibus</em>&#8220;)</p></blockquote><p>Perlu kita ketahui, bahwa Gereja Katolik tidak menganggap Kitab Suci sebagai satu- satunya sumber kebenaran iman, namun Kitab Suci selalu ada dalam kesatuan dengan Tradisi Suci dan Magisterium. Melalui ketiga pilar kebenaran inilah seluruh ajaran Kristus dan para rasul disampaikan kepada kita. Ketujuh sakramen ini merupakan ajaran yang kita terima atas dasar Kitab Suci dan Tradisi Suci.</p><p>Silakan, jika anda belum membaca, untuk membaca rangkaian artikel tentang sakramen ini:</p><p>1. <a
href="http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/" rel="nofollow">Sakramen, apa pentingnya dalam kehidupan kita</a><br
/>2. <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/02/sudahkah-kita-diselamatkan/" rel="nofollow">Sakramen Baptis</a>, <br
/>3. Sakramen Ekaristi, <a
href="http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/" rel="nofollow">bagian 1</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/" rel="nofollow">bagian 2</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/10/26/cara-mempersiapkan-diri-menyambut-ekaristi/" rel="nofollow">bagian 3</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2009/04/27/sejarah-yang-mendasari-pengajaran-tentang-ekaristi/" rel="nofollow">bagian 4</a><br
/>4. <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/07/menuju-kedewasaan-iman-di-dalam-kristus/" rel="nofollow">Sakramen Penguatan</a><br
/>5. Sakramen Pengakuan Dosa, <a
href="http://katolisitas.org/2008/07/18/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/" rel="nofollow">bagian 1</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/" rel="nofollow">bagian 2</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/14/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-3/" rel="nofollow">bagian 3</a>, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/27/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-4-selesai/" rel="nofollow">bagian 4</a><br
/>6.<a
href="http://katolisitas.org/2008/08/14/indah-dan-dalamnya-makna-sakramen-perkawinan-katolik/" rel="nofollow"> Sakramen Perkawinan</a><br
/>7. <a
href="http://katolisitas.org/2008/10/23/kami-mengasihimu-pastor/" rel="nofollow">Sakramen Imamat</a><br
/>8. <a
href="http://katolisitas.org/2008/09/25/jamahan-tuhan-dalam-sakramen-pengurapan-orang-sakit/" rel="nofollow">Sakramen Pengurapan orang sakit</a></p><p>2. Penetapan ketujuh sakramen sudah ada sejak Gereja abad awal, hanya saja cara penyampaiannya memiliki perkembangan seiring dengan perkembangan sejarah Gereja. Para Bapa Gereja telah mengajarkan tentang sakramen ini sejak awal, yang dilestarikan terus oleh Gereja Katolik. Namun dalam sejarah Gereja terdapat masa di mana terdapat perbedaan pandangan tentang apakah sakramen benar-benar diperlukan untuk mencapai keselamatan, dan dengan demikian Konsili Trente (1545- 1563) menegaskan kembali adanya ketujuh sakramen dan bahwa sakramen tersebut diperlukan untuk keselamatan, karena sakramen bukan hanya simbol semata, namun sungguh-sungguh menyampaikan rahmat Tuhan.</p><p>3. Jika kita melihat kepada pengajaran para rasul dan para Bapa Gereja, maka kita mengetahui bahwa ketujuh sakramen tersebut telah ditetapkan sejak awal, namun karena tidak secara ekplisit disebutkan dalam Kitab Suci, &#8220;ini adalah sakramen Baptis&#8221; atau &#8220;ini adalah sakramen perkawinan&#8221; dst., maka memang penjabarannya kita melihat kepada pengajaran lisan para rasul, yang disebut Tradisi Suci, yang telah diterapkan sejak abad awal dan diteruskan oleh para Bapa Gereja.</p><p>Penetapan pada Konsili Trente bukan berarti bahwa sebelum Konsili Trente (abad ke 16) itu belum ada sakramen. Konsili Trente menjabarkan ketujuh sakramen untuk meluruskan kesimpangsiuran pada saat itu dengan adanya ajaran yang tidak setia dengan Tradisi para rasul yang mencoret beberapa sakramen atau ajaran yang mengajarkan bahwa sakramen itu hanya &#8220;simbol&#8221; saja. Maka Konsili Trente menegaskan kembali ajaran Gereja Katolik yang sudah ada sejak abad awal, dan yang kemudian ditetapkan dengan lebih jelas dengan ritus yang lebih seragam.</p><p>4. Kami di Katolisitas tidak dalam posisi untuk menyampaikan ajaran Gereja Lutheran mengenai mengapa mereka tidak mengenal sakramen imamat dan minyak suci. Sakramen Imamat yang menandai imamat jabatan sudah ada sejak abad awal, demikian juga perminyakan orang sakit (lih. Yak 5:14)</p><p>5. Seorang pastor yang sudah mengundurkan diri/ diberhentikan sebagai imam sudah tidak mempunyai <em>faculty</em> untuk memberikan sakramen-sakramen.</p><p>6. Seorang pastor yang mengundurkan diri dan telah mendapat ijin/ dispensasi dari Vatikan, dapat menikah/ menerima sakramen pernikahan. Namun prosesnya untuk mendapatkan ijin/ dispensasi juga tidaklah mudah, dan pihak Vatikan akan melihat terlebih dahulu apa alasannya. Maka tentu ini bukanlah suatu kondisi yang umum dan layak ditiru.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/>Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p><p>Berikut ini tambahan dari Romo Wanta:</p><div>Herman Jay Yth.</div><div>Orang menerima sakramen banyak bukan prestasi. Imam yang keluar atau mengundurkan diri lalu menikah setelah mendapat dispensasi dari Takhta Suci. Setelah bebas dari kewajiban sebagai imam lalu bisa menikah secara sah. Perbuatan itu tidak perlu ditiru, karena bukan prestasi.</div><div></div><div>salam<br
/>Rm Wanta</div> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Herman Jays</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/comment-page-1/#comment-11532</link> <dc:creator>Herman Jays</dc:creator> <pubDate>Mon, 15 Feb 2010 01:29:57 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=212#comment-11532</guid> <description>1.Apakah istilah sakramen terdapat dalam Kitab Suci? Apakah ketujuh sakramen sudah ditetapkan dalam Kitab Suci?
2.Kapan tujuh sakramen di dalam Gereja Katolik ditetapkan ?
3. Apakah ditetapkan secara bertahap atau sekaligus?
4.Gereja Lutheran hanya mengenal lima sakremen tanpa sakramen imamat dan minyak suci.Apa sebab sakramen imamat dan minyak suci tidak diterima oleh gereja Lutheran?
5.Gimana efektivitas sakramen imamat seorang Pastor yang mengundurkan diri atau diberhentikan sebagai imam?
6.Mantan Pastor menerima sakramen perkawinan , bolehkah? Jika yah, mantan Pastor punya sakramen yang paling lengkap dong sebagai orang katolik. Siapa mau ikut?</description> <content:encoded><![CDATA[<p>1.Apakah istilah sakramen terdapat dalam Kitab Suci? Apakah ketujuh sakramen sudah ditetapkan dalam Kitab Suci?<br
/> 2.Kapan tujuh sakramen di dalam Gereja Katolik ditetapkan ?<br
/> 3. Apakah ditetapkan secara bertahap atau sekaligus?<br
/> 4.Gereja Lutheran hanya mengenal lima sakremen tanpa sakramen imamat dan minyak suci.Apa sebab sakramen imamat dan minyak suci tidak diterima oleh gereja Lutheran?<br
/> 5.Gimana efektivitas sakramen imamat seorang Pastor yang mengundurkan diri atau diberhentikan sebagai imam?<br
/> 6.Mantan Pastor menerima sakramen perkawinan , bolehkah? Jika yah, mantan Pastor punya sakramen yang paling lengkap dong sebagai orang katolik. Siapa mau ikut?</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Emilius Lase</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/comment-page-1/#comment-10522</link> <dc:creator>Emilius Lase</dc:creator> <pubDate>Thu, 21 Jan 2010 20:32:43 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=212#comment-10522</guid> <description>IMPLIKASI PERAYAAN SAKRAMENTALI BAGI PENANAMAN SEMANGAT MISIONER DALAM KELUARGAPerayaan sakramentali merupakan perayaan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Hampir setiap segi kehidupan manusia dapat dijadikan sakramentali. Karena tidak hanya benda yang dapat dimintakan berkat, melainkan juga manusia. Karena itu umat sering menggunakan sakramentali dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Sakramentali sebagai perayaan liturgi yang dekat dengan kehidupan umat, dapat menjadi sarana untuk menanamkan kehidupan rohani umat. Karena umat sudah tidak asing lagi dengan perayaan sakramentali dalam kehidupan mereka dan umat pun dapat melakukannya sendiri. Umat dapat mengadakan ibadat atau upacara pemberkatan tanpa harus menunggu kehadiran  pelayan Gereja. Sehingga sebuah keluarga pun dapat menggunakan upacara pemberkatan dalam lingkungan keluarga mereka sendiri. banyak sakramentali yang dapat dirayakan dalam keluarga, misalnya pemberkatan makanan dalam makan bersama, pemberkatan anak, doa bersama, dan pemberkatan rumah.
Keluarga, sebagai lembaga pendidikan anak yang pertama dan terutama,  memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka agar dapat memiliki iman yang tangguh. Karena melalui keluargalah, kepribadian anak dapat terbentuk. Tugas orangtua dalam mendidik iman anak ini sangat sesuai dengan tujuan dari perkawinan dan  peran serta keluarga-keluarga yang dikemukakan oleh Paus Yohanes Paulus II.
Pendidikan iman anak ini merupakan salah satu bentuk dari partisipasi keluarga-keluarga kristiani dalam mengembangkan misi Gereja. Dengan mendidik anak sejak dini, dapat melatih serta mempersiapkan anak untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Sehingga keluarga kristiani tidak hanya menjadi penonton dalam kegiatan misi Gereja, melainkan juga terlibat langsung yakni dengan mempersiapkan benih-benih baru. Sebab keluarga merupakan sel yang membentuk Gereja. Gereja akan berkembang dengan baik bila pendidikan iman dalam keluarga juga berjalan dengan baik pula. Namun kegiatan misi Gereja tidak hanya mencakup perkembangan hidup Gereja saja melainkan juga mencakup perkembangan masyarakat, karena biar bagaimana pun Gereja hidup dan berkembang dalam lingkungan masyarakat umum.
Cara sederhana yang dapat digunakan untuk menanamkan pendidikan iman dalam keluarga adalah dengan membiasakan hidup doa dalam keluarga. Kehidupan doa dalam keluarga dapat dilakukan dengan menggunakan perayaan sakramentali. Sakramentali yang adalah doa gereja memiliki nilai-nilai yang sangat mendukung terjadinya penanaman semangat misioner dalam keluarga.
Melalui perayaan sakramentali, keluarga-keluarga kristiani  merayakan liturgi, yang adalah sumber pengudusan bagi keluarga tersebut. Keluarga kristiani dikuduskan berkat misteri Paska Kristus. Allah sendiri hadir di tengah-tengah keluarga yang merayakan liturgi. Berkat kehadiran karya Allah-lah anggota keluarga akan mendapat semangat serta kekuatan untuk menjadi saksi-saksi Kristus di tengah-tengah dunia.
Penanaman nilai-nilai misioner dalam keluarga atau anak-anak secara nyata dapat dilakukan dengan memasukkan pengajaran-pengajaran secara khusus berkaitan dengan kegiatan misioner setiap kali merayakan perayaan sakramentali dalam keluarga. Kemudian membuat tindak lanjut dari perayaan sakramentali dengan membuat tindakan nyata yang menunjuk pada nilai-nilai misioner. Misalnya, pemberkatan orang sakit dapat diikuti tindakan nyata dengan langsung mengunjungi orang yang sakit tersebut, pemberkatan makanan dalam doa bersama dapat diikuti dengan mengajak anak untuk berbagi rejeki yang mereka peroleh dengan anak-anak gelandangan.
Karena perayaan sakramentali sangat mudah dilakukan dan lingkupnya pun mencakup hampir setiap segi kehidupan manusia, anak-anak dapat lebih mudah untuk menerima dan memahami nilai-nilai misioner yang ada pada setiap perayaan sakramentali yang dirayakan dalam keluarga. Dengan demikian semangat untuk menjadi saksi-saksi Kristus akan terus bernyala dalam diri setiap anggota Gereja, dan Kerajaan Allah pun dapat terus berdiri di tengah-tengah dunia. Dapatlah disimpulkan bahwa perayaan sakramentali yang dirayakan dalam keluarga memiliki peran penting dalam usaha menanamkan nilai-nilai misioner dalam keluarga atau anak-anak. (EMILIUS LASE)</description> <content:encoded><![CDATA[<p>IMPLIKASI PERAYAAN SAKRAMENTALI BAGI PENANAMAN SEMANGAT MISIONER DALAM KELUARGA</p><p>Perayaan sakramentali merupakan perayaan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Hampir setiap segi kehidupan manusia dapat dijadikan sakramentali. Karena tidak hanya benda yang dapat dimintakan berkat, melainkan juga manusia. Karena itu umat sering menggunakan sakramentali dalam kehidupan sehari-hari mereka.<br
/> Sakramentali sebagai perayaan liturgi yang dekat dengan kehidupan umat, dapat menjadi sarana untuk menanamkan kehidupan rohani umat. Karena umat sudah tidak asing lagi dengan perayaan sakramentali dalam kehidupan mereka dan umat pun dapat melakukannya sendiri. Umat dapat mengadakan ibadat atau upacara pemberkatan tanpa harus menunggu kehadiran  pelayan Gereja. Sehingga sebuah keluarga pun dapat menggunakan upacara pemberkatan dalam lingkungan keluarga mereka sendiri. banyak sakramentali yang dapat dirayakan dalam keluarga, misalnya pemberkatan makanan dalam makan bersama, pemberkatan anak, doa bersama, dan pemberkatan rumah.<br
/> Keluarga, sebagai lembaga pendidikan anak yang pertama dan terutama,  memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka agar dapat memiliki iman yang tangguh. Karena melalui keluargalah, kepribadian anak dapat terbentuk. Tugas orangtua dalam mendidik iman anak ini sangat sesuai dengan tujuan dari perkawinan dan  peran serta keluarga-keluarga yang dikemukakan oleh Paus Yohanes Paulus II.<br
/> Pendidikan iman anak ini merupakan salah satu bentuk dari partisipasi keluarga-keluarga kristiani dalam mengembangkan misi Gereja. Dengan mendidik anak sejak dini, dapat melatih serta mempersiapkan anak untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Sehingga keluarga kristiani tidak hanya menjadi penonton dalam kegiatan misi Gereja, melainkan juga terlibat langsung yakni dengan mempersiapkan benih-benih baru. Sebab keluarga merupakan sel yang membentuk Gereja. Gereja akan berkembang dengan baik bila pendidikan iman dalam keluarga juga berjalan dengan baik pula. Namun kegiatan misi Gereja tidak hanya mencakup perkembangan hidup Gereja saja melainkan juga mencakup perkembangan masyarakat, karena biar bagaimana pun Gereja hidup dan berkembang dalam lingkungan masyarakat umum.<br
/> Cara sederhana yang dapat digunakan untuk menanamkan pendidikan iman dalam keluarga adalah dengan membiasakan hidup doa dalam keluarga. Kehidupan doa dalam keluarga dapat dilakukan dengan menggunakan perayaan sakramentali. Sakramentali yang adalah doa gereja memiliki nilai-nilai yang sangat mendukung terjadinya penanaman semangat misioner dalam keluarga.<br
/> Melalui perayaan sakramentali, keluarga-keluarga kristiani  merayakan liturgi, yang adalah sumber pengudusan bagi keluarga tersebut. Keluarga kristiani dikuduskan berkat misteri Paska Kristus. Allah sendiri hadir di tengah-tengah keluarga yang merayakan liturgi. Berkat kehadiran karya Allah-lah anggota keluarga akan mendapat semangat serta kekuatan untuk menjadi saksi-saksi Kristus di tengah-tengah dunia.<br
/> Penanaman nilai-nilai misioner dalam keluarga atau anak-anak secara nyata dapat dilakukan dengan memasukkan pengajaran-pengajaran secara khusus berkaitan dengan kegiatan misioner setiap kali merayakan perayaan sakramentali dalam keluarga. Kemudian membuat tindak lanjut dari perayaan sakramentali dengan membuat tindakan nyata yang menunjuk pada nilai-nilai misioner. Misalnya, pemberkatan orang sakit dapat diikuti tindakan nyata dengan langsung mengunjungi orang yang sakit tersebut, pemberkatan makanan dalam doa bersama dapat diikuti dengan mengajak anak untuk berbagi rejeki yang mereka peroleh dengan anak-anak gelandangan.<br
/> Karena perayaan sakramentali sangat mudah dilakukan dan lingkupnya pun mencakup hampir setiap segi kehidupan manusia, anak-anak dapat lebih mudah untuk menerima dan memahami nilai-nilai misioner yang ada pada setiap perayaan sakramentali yang dirayakan dalam keluarga. Dengan demikian semangat untuk menjadi saksi-saksi Kristus akan terus bernyala dalam diri setiap anggota Gereja, dan Kerajaan Allah pun dapat terus berdiri di tengah-tengah dunia. Dapatlah disimpulkan bahwa perayaan sakramentali yang dirayakan dalam keluarga memiliki peran penting dalam usaha menanamkan nilai-nilai misioner dalam keluarga atau anak-anak. (EMILIUS LASE)</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/comment-page-1/#comment-8308</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Mon, 02 Nov 2009 19:14:13 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=212#comment-8308</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Lia,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas pertanyaannya tentang sakramen. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1) Nanti saya akan menuliskan topik ini secara terpisah, karena memang hal ini banyak menjadi pertanyaan bagi umat Katolik maupun non-Katolik. Kita sering mendengar bahwa sakramen adalah tradisi yang dibuat oleh Gereja Katolik dan sebenarnya tidak perlu dan tidak pernah diinstitusikan oleh Yesus? Dan ada juga orang yang mengatakan bahwa sakramen-sakramen dalam Gereja Katalik begitu kaku, sehingga yang menerima tidak merasakan apapun? Namun, sebenarnya, kalau kita mengerti apa sebenarnya yang terjadi di dalam sakramen-sakramen, maka kita akan terperangah, bagaimana sebenarnya &lt;strong&gt;Tuhan menggunakan kodrat manusia untuk mencurahkan rahmat-Nya&lt;/strong&gt;. Sama seperti Tuhan menyelamatkan manusia dengan mengirimkan Putera-Nya, untuk menjadi manusia yang terlihat, teraba. Hal ini dikarenakan manusia mempunyai kodrat, yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Dan ini juga terjadi dalam sakramen-sakramen yang menjadi sarana bagi Tuhan untuk mencurahkan rahmat-Nya, sehingga manusia dapat melihat, merasakan, dan pada saat yang bersamaan mendapatkan rahmat Tuhan yang mengalir dari sakramen-sakramen.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tentu saja, Yesus tidak memberikan tatanan yang sama persis  dengan sakramen-sakramen yang kita kenal sekarang, namun Yesus sendiri memberikan pondasi, dan terus berkembang sampai seperti sakramen yang kita kenal saat ini. Sebagai contoh: Kristus menginstitusikan Sakramen Baptis, pada waktu Dia mengatakan &quot;&lt;em&gt;...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,&lt;/em&gt;&quot; (Mt. 28:19). Kemudian kita juga melihat bagaimana Kristus menekankan pentingnya baptisan untuk keselamatan, seperti &quot;&lt;em&gt;Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.&lt;/em&gt;&quot; (Mk 16:16) dan &quot;&lt;em&gt;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;air dan Roh&lt;/span&gt;, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.&lt;/em&gt;&quot; (Jn 3:5). Dan rasul Paulus kemudian mengajarkan hal yang sama, dengan mengatakan &quot;&lt;em&gt;Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.&lt;/em&gt;&quot; (Rm 6:4). Kemudian, kita juga menemukan di pengajaran para rasul (Didache - tahun 80-160) mengatakan &quot;&lt;em&gt;membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus di dalam air … tuangkan tiga kali pada kepala dengan berkata ‘di dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.’ Sebelum Pembaptisan, biarlah yang membaptis dan yang menerima baptisan berpuasa terlebih dahulu, dan yang lain juga, jika sanggup…. Mereka yang dibaptis harus berpuasa sehari atau dua hari sebelum Pembaptisan.&lt;/em&gt;” Dan ini terus ditegaskan oleh para Bapa Gereja dan konsili-konsili (silakan melihat diskusi ini - &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2009/09/21/keselamatan-dan-hubungannya-dengan-baptisan/comment-page-1/#comment-7956&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;). Dengan demikian terjadi suatu perkembangan yang jelas, dari Yesus Kristus yang menginstitusikan Sakramen Baptis sampai seperti yang kita kenal saat ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2) Tentang perkembangan Sakramen Tobat dapat dibaca di artikel &quot;Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa - bagian 2&quot; (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga keterangan singkat di atas dapat membantu. Intinya adalah Tuhan ingin mencurahkan rahmat-Nya dan menyelamatkan kita sesuai dengan kodrat manusia, yang mempunyai tubuh, atau yang terlihat (dalam Sakramen adalah &lt;em&gt;matter/materi&lt;/em&gt;, seperti dalam Sakramen Baptis adalah air dan &lt;em&gt;form /forma&lt;/em&gt;-nya adalah perkataan &quot;Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Dan rahmat yang tak terlihat, yang dicurahkan dalam Sakramen Baptis adalah &quot;rahmat pengudusan&quot;, sehingga orang yang telah dibaptis dapat berkenan di hadapan Allah. Dan ini adalah sesuai dengan axiom &quot;&lt;em&gt;grace perfects nature&lt;/em&gt;&quot; atau rahmat menyempurnakan kodrat. Manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa diangkat dalam rahmat Tuhan melalui sakramen yang mempunyai matter dan form (yang terlihat) dan rahmat Allah yang tercurah dalam sakramen (yang tak terlihat).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan,&lt;br /&gt;stef - www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Lia,</p><p>Terima kasih atas pertanyaannya tentang sakramen. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:</p><p>1) Nanti saya akan menuliskan topik ini secara terpisah, karena memang hal ini banyak menjadi pertanyaan bagi umat Katolik maupun non-Katolik. Kita sering mendengar bahwa sakramen adalah tradisi yang dibuat oleh Gereja Katolik dan sebenarnya tidak perlu dan tidak pernah diinstitusikan oleh Yesus? Dan ada juga orang yang mengatakan bahwa sakramen-sakramen dalam Gereja Katalik begitu kaku, sehingga yang menerima tidak merasakan apapun? Namun, sebenarnya, kalau kita mengerti apa sebenarnya yang terjadi di dalam sakramen-sakramen, maka kita akan terperangah, bagaimana sebenarnya <strong>Tuhan menggunakan kodrat manusia untuk mencurahkan rahmat-Nya</strong>. Sama seperti Tuhan menyelamatkan manusia dengan mengirimkan Putera-Nya, untuk menjadi manusia yang terlihat, teraba. Hal ini dikarenakan manusia mempunyai kodrat, yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Dan ini juga terjadi dalam sakramen-sakramen yang menjadi sarana bagi Tuhan untuk mencurahkan rahmat-Nya, sehingga manusia dapat melihat, merasakan, dan pada saat yang bersamaan mendapatkan rahmat Tuhan yang mengalir dari sakramen-sakramen.</p><p>Tentu saja, Yesus tidak memberikan tatanan yang sama persis  dengan sakramen-sakramen yang kita kenal sekarang, namun Yesus sendiri memberikan pondasi, dan terus berkembang sampai seperti sakramen yang kita kenal saat ini. Sebagai contoh: Kristus menginstitusikan Sakramen Baptis, pada waktu Dia mengatakan &#8220;<em>&#8230;pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,</em>&#8221; (Mt. 28:19). Kemudian kita juga melihat bagaimana Kristus menekankan pentingnya baptisan untuk keselamatan, seperti &#8220;<em>Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.</em>&#8221; (Mk 16:16) dan &#8220;<em>Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari <span
style="text-decoration: underline;">air dan Roh</span>, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.</em>&#8221; (Jn 3:5). Dan rasul Paulus kemudian mengajarkan hal yang sama, dengan mengatakan &#8220;<em>Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.</em>&#8221; (Rm 6:4). Kemudian, kita juga menemukan di pengajaran para rasul (Didache &#8211; tahun 80-160) mengatakan &#8220;<em>membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus di dalam air … tuangkan tiga kali pada kepala dengan berkata ‘di dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.’ Sebelum Pembaptisan, biarlah yang membaptis dan yang menerima baptisan berpuasa terlebih dahulu, dan yang lain juga, jika sanggup…. Mereka yang dibaptis harus berpuasa sehari atau dua hari sebelum Pembaptisan.</em>” Dan ini terus ditegaskan oleh para Bapa Gereja dan konsili-konsili (silakan melihat diskusi ini &#8211; <a
href="http://katolisitas.org/2009/09/21/keselamatan-dan-hubungannya-dengan-baptisan/comment-page-1/#comment-7956" rel="nofollow">silakan klik</a>). Dengan demikian terjadi suatu perkembangan yang jelas, dari Yesus Kristus yang menginstitusikan Sakramen Baptis sampai seperti yang kita kenal saat ini.</p><p>2) Tentang perkembangan Sakramen Tobat dapat dibaca di artikel &#8220;Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa &#8211; bagian 2&#8243; (<a
href="http://katolisitas.org/2008/07/23/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-2/" rel="nofollow">silakan klik</a>).</p><p>Semoga keterangan singkat di atas dapat membantu. Intinya adalah Tuhan ingin mencurahkan rahmat-Nya dan menyelamatkan kita sesuai dengan kodrat manusia, yang mempunyai tubuh, atau yang terlihat (dalam Sakramen adalah <em>matter/materi</em>, seperti dalam Sakramen Baptis adalah air dan <em>form /forma</em>-nya adalah perkataan &#8220;Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Dan rahmat yang tak terlihat, yang dicurahkan dalam Sakramen Baptis adalah &#8220;rahmat pengudusan&#8221;, sehingga orang yang telah dibaptis dapat berkenan di hadapan Allah. Dan ini adalah sesuai dengan axiom &#8220;<em>grace perfects nature</em>&#8221; atau rahmat menyempurnakan kodrat. Manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa diangkat dalam rahmat Tuhan melalui sakramen yang mempunyai matter dan form (yang terlihat) dan rahmat Allah yang tercurah dalam sakramen (yang tak terlihat).</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/>stef &#8211; <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: lia</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/comment-page-1/#comment-8025</link> <dc:creator>lia</dc:creator> <pubDate>Sun, 25 Oct 2009 10:49:04 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=212#comment-8025</guid> <description>Mau tanya..
Apa sih sejarah terbentuknya sakramen?
Apa sejarah terbentuknya sakramen tobat??thx..
GBU..</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Mau tanya..<br
/> Apa sih sejarah terbentuknya sakramen?<br
/> Apa sejarah terbentuknya sakramen tobat??</p><p>thx..<br
/> GBU..</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/comment-page-1/#comment-3720</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Wed, 10 Jun 2009 21:33:14 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=212#comment-3720</guid> <description>Shalom Simon,
Pertama-tama, kita harus menerima dahulu, bahwa bagi orang Katolik, Wahyu Ilahi tidak hanya kita terima dari Kitab Suci, namun juga dari Tradisi Suci, sebagaimana yang  diinterpretasikan/ diajarkan oleh Magisterium Gereja. Sebab Kitab Suci yang kita peroleh sekarang itu sebenarnya merupakan kanon yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik (pada tahun 393 Konsili Hippo dan 397 Konsili Carthage). Sebelum Kitab Suci (Wahyu Ilahi yang tertulis) itu ada- jadi selama sekitar 3 1/2 abad, para rasul mengajarkan segala pengajaran Tuhan Yesus dengan perkataan lisan, dan ini tidak kalah suci dan benar jika dibandingkan dengan Kitab Suci. Maka dengan ini kita percaya bahwa sejak awal para rasul sudah mulai mempraktekkan adanya ke tujuh sakramen lewat Tradisi suci ini.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa di dalam Alkitab kelihatannya Yesus &#039;hanya&#039; menginstitusikan 2 sakramen, yaitu Baptis dan Ekaristi. Namun sesungguhnya, kita harus mengakui bahwa yang paling mengetahui tentang berapa sakramen yang dipercayakan Yesus kepada para rasul-Nya adalah para rasul sendiri, dan tentu kepada para penerusnya, yang kepadanya Tradisi ini diturunkan.
Bahwa ada sebagian orang yang melihat bahwa Yesus hanya menginstitusikan 2 sakramen, itu kemungkinan besar karena 1) mereka hanya menganggap Alkitab sebagai satu-satunya sumber, dan juga 2) dalam menginterpretasikan Alkitab mereka menempatkan pengertian pribadi di atas pengajaran Gereja Katolik, artinya, meskipun mendengar penjelasan Magisterium, namun jika secara pribadi mereka menganggapnya tidak demikian, maka mereka tidak menerima pengajaran Magisterium.
Namun bagi kita orang Katolik, kita percaya bahwa Kristus memberikan kuasa kepada Magisterium untuk mengajar kita sesuai dengan kemurnian ajaran Kristus. Maka jika Magisterium menentukan ada 7 sakramen, kita selayaknya menerima dengan ketaatan iman. Ketaatan iman ini bukannya hanya menerima tanpa pengertian, karena sebenarnya&lt;strong&gt; kita perlu memahami ke7 sakramen ini yang sesungguhnya semua mengambil dasar dari Alkitab&lt;/strong&gt;, dan telah dilakukan sejak jaman Gereja awal. Jadi keberadaan 7 sakramen ini bukan semata-mata ciptaan Magisterium. Ditetapkannya sebagai 7 sakramen ini, juga untuk membedakannya dengan sakramental yang lain, bermacam ritual pemberkatan yang ada dalam kehidupan umat beriman pada saat itu (pemberkatan rumah, usaha, dst).
Lebih lanjut tentang ketiga pilar/ tonggak Gereja, yaitu: Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/06/18/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan-bagian-ke-3/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik di sini&lt;/a&gt;.KGK 82 	&quot;Dengan demikian maka &lt;strong&gt;Gereja&lt;/strong&gt;&quot;, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, &lt;strong&gt;&quot;menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci&lt;/strong&gt;. Maka dari itu keduanya [&lt;strong&gt;baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama&quot;&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Dei Verbum&lt;/em&gt; 9).
Salam kasih dalam Kristus,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Simon,<br
/> Pertama-tama, kita harus menerima dahulu, bahwa bagi orang Katolik, Wahyu Ilahi tidak hanya kita terima dari Kitab Suci, namun juga dari Tradisi Suci, sebagaimana yang  diinterpretasikan/ diajarkan oleh Magisterium Gereja. Sebab Kitab Suci yang kita peroleh sekarang itu sebenarnya merupakan kanon yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik (pada tahun 393 Konsili Hippo dan 397 Konsili Carthage). Sebelum Kitab Suci (Wahyu Ilahi yang tertulis) itu ada- jadi selama sekitar 3 1/2 abad, para rasul mengajarkan segala pengajaran Tuhan Yesus dengan perkataan lisan, dan ini tidak kalah suci dan benar jika dibandingkan dengan Kitab Suci. Maka dengan ini kita percaya bahwa sejak awal para rasul sudah mulai mempraktekkan adanya ke tujuh sakramen lewat Tradisi suci ini.<br
/> Mungkin ada yang berpendapat bahwa di dalam Alkitab kelihatannya Yesus &#8216;hanya&#8217; menginstitusikan 2 sakramen, yaitu Baptis dan Ekaristi. Namun sesungguhnya, kita harus mengakui bahwa yang paling mengetahui tentang berapa sakramen yang dipercayakan Yesus kepada para rasul-Nya adalah para rasul sendiri, dan tentu kepada para penerusnya, yang kepadanya Tradisi ini diturunkan.<br
/> Bahwa ada sebagian orang yang melihat bahwa Yesus hanya menginstitusikan 2 sakramen, itu kemungkinan besar karena 1) mereka hanya menganggap Alkitab sebagai satu-satunya sumber, dan juga 2) dalam menginterpretasikan Alkitab mereka menempatkan pengertian pribadi di atas pengajaran Gereja Katolik, artinya, meskipun mendengar penjelasan Magisterium, namun jika secara pribadi mereka menganggapnya tidak demikian, maka mereka tidak menerima pengajaran Magisterium.<br
/> Namun bagi kita orang Katolik, kita percaya bahwa Kristus memberikan kuasa kepada Magisterium untuk mengajar kita sesuai dengan kemurnian ajaran Kristus. Maka jika Magisterium menentukan ada 7 sakramen, kita selayaknya menerima dengan ketaatan iman. Ketaatan iman ini bukannya hanya menerima tanpa pengertian, karena sebenarnya<strong> kita perlu memahami ke7 sakramen ini yang sesungguhnya semua mengambil dasar dari Alkitab</strong>, dan telah dilakukan sejak jaman Gereja awal. Jadi keberadaan 7 sakramen ini bukan semata-mata ciptaan Magisterium. Ditetapkannya sebagai 7 sakramen ini, juga untuk membedakannya dengan sakramental yang lain, bermacam ritual pemberkatan yang ada dalam kehidupan umat beriman pada saat itu (pemberkatan rumah, usaha, dst).<br
/> Lebih lanjut tentang ketiga pilar/ tonggak Gereja, yaitu: Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium, <a
href="http://katolisitas.org/2008/06/18/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan-bagian-ke-3/" rel="nofollow">silakan klik di sini</a>.</p><p>KGK 82 	&#8220;Dengan demikian maka <strong>Gereja</strong>&#8220;, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, <strong>&#8220;menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci</strong>. Maka dari itu keduanya [<strong>baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama&#8221;</strong> (<em>Dei Verbum</em> 9).<br
/> Salam kasih dalam Kristus,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Simon</title><link>http://katolisitas.org/2008/07/17/sakramen-apa-pentingnya-di-dalam-kehidupan-iman-kita/comment-page-1/#comment-3659</link> <dc:creator>Simon</dc:creator> <pubDate>Tue, 09 Jun 2009 02:39:03 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=212#comment-3659</guid> <description>Shalom Pak Stef &amp; Bu Ingrid,
Mau tanya :
- Mengapa di Katolik ada 7 Sakramen? padahal kalau kita baca di Alkitab kelihatannya cuma ada 2 sakramen  yaitu Baptis &amp; Ekaristi.
Terima kasih, GBU.
Simon</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Pak Stef &amp; Bu Ingrid,<br
/> Mau tanya :<br
/> - Mengapa di Katolik ada 7 Sakramen? padahal kalau kita baca di Alkitab kelihatannya cuma ada 2 sakramen  yaitu Baptis &amp; Ekaristi.<br
/> Terima kasih, GBU.<br
/> Simon</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 33/57 queries in 0.080 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-07-30 16:12:14 -->