Sakramen: Apa pentingnya di dalam kehidupan iman kita?

Sakramen Pendahuluan

Banyak orang berpikir bahwa iman itu hanya menyangkut kerohanian, dan tidak ada sangkut pautnya dengan hal jasmani. Namun sesungguhnya tidak demikian, karena manusia diciptakan Allah terdiri dari jiwa dan tubuh. Jadi apa yang kita imani selayaknya memancar keluar melalui sikap tubuh, dan sebaliknya apa yang terlihat dari luar mencerminkan apa yang kita imani di dalam hati. Hal ini yang mendasari bahwa segala yang menyangkut manusia selalu menyangkut dua hal: tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani, dan kedua hal ini tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia.

Prinsip kedua adalah kemurahan hati Allah yang mengangkat kita dari ketidakberdayaan kita sebagai manusia, agar kita dapat memahami dan mengingini hal-hal ilahi, karena untuk itulah kita diciptakan dan ke sanalah hidup kita akan berakhir. Rahmat Ilahi ini hanya datang dari Allah, dan kita memperolehnya lewat sakramen -sakramen. Sakramen mengubah kita secara rohani: kita diangkat menjadi ilahi, agar dapat dibentuk oleh Allah menjadi semakin serupa dengan DiriNya.

Prinsip ‘jiwa dan tubuh’, ‘grace and nature’

Prinsip ‘tubuh dan jiwa’ ini yang mendasari adanya sakramen di dalam Gereja. Gereja yang dijiwai oleh Roh Kristus, juga terdiri dari ‘Tubuh’ yang kelihatan, yaitu umat yang dipimpin oleh para pemimpin Gereja. Selanjutnya, rahmat Tuhan yang dicurahkan di dalam Gereja dapat juga dirasakan secara jasmani di dalam sakramen-sakramen. Karenanya Gereja mempunyai aspek Ilahi dan manusiawi, rohani dan jasmani, yang tak kelihatan dan yang kelihatan, dan semuanya itu dipersatukan di dalam misteri Kristus. Di dalam Kristuslah segala sesuatu diperdamaikan, dipersatukan dan disempurnakan (lih. Kol 1:19-22).

Jadi Allah tidak mungkin merendahkan tubuh, namun menyempurnakan dan memuliakannya untuk dipersatukan dengan jiwa, sebab Ia-lah yang menjadikan keduanya pada awal mula penciptaan dengan sangat baik adanya (Kej 2:31). “Rahmat tidak menghancurkan segala yang bersifat material /lahiriah, melainkan menyempurnakannya (grace does not destroy nature but perfects it),” kata St. Thomas Aquinas.[1] Maka walaupun dosa memang telah ‘mencemari’ tubuh, namun tidak menjadikannya sama sekali tidak bernilai, karena kuasa dosa tidak mungkin lebih besar dari kuasa Allah. Allah mencurahkan rahmat-Nya untuk mengembalikan tubuh kepada keadaan asalnya. Karena itu, sudah menjadi kehendak Allah bahwa segala rahmat ilahi dapat dialami dan dirasakan oleh tubuh, supaya oleh rahmat-Nya kita dipulihkan dari akibat dosa, dan tubuh kita ‘diangkat’ sehingga bernilai ilahi. Jadi walaupun rahmat Allah itu pertama-tama bersifat rohani, namun rahmat itu tidak mengabaikan segala yang bersifat lahiriah. Jangan kita lupa, Allah adalah Tuhan atas segala sesuatu dan adalah hak Tuhan untuk menyampaikan rahmatNya melalui perantaraan benda-benda ciptaanNya untuk menyembuhkan, menguduskan dan membentuk kita menjadi tempat kediaman dan Bait Kudus-Nya (1 Kor 3:16).[2]

Janganlah kita lupa, bahwa karena akibat dosa asal, terdapat jurang yang tak terpisahkan antara Tuhan Pencipta dan manusia yang diciptakanNya. Kita manusia hanya dapat ‘terangkat’ dari jurang melalui jasa Kristus Penyelamat kita. Jasa Kristus itu secara nyata kita peroleh lewat sakramen-sakramen, yang memang disediakan Tuhan untuk mengangkat kita agar dapat mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi seperti yang menjadi rencana-Nya sejak semula. Maka jika Tuhan menghendaki agar kita hidup kudus, dan bertumbuh dalam kasih, hal itu bukannya ‘asal perintah’ saja, sebab, Tuhan sendiri menyediakan jalan untuk menuju ke sana. Allah mengetahui bahwa dengan mengandalkan kemampuan sendiri, kita tidak akan dapat menjadi kudus dan memiliki kasih sejati; oleh karena itu, Ia memberikan rahmat-Nya, melalui sakramen-sakramen, sebagai suatu tanda sederhana yang dapat kita rasakan melalui tubuh kita, namun menghasilkan efek luar biasa di dalam jiwa kita. Kita dibentuk oleh Allah untuk menjadi bagian dari DiriNya sendiri. DiberikanNya pada kita kehidupan IlahiNya, supaya kita dapat bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih. Oleh rahmat ini kita dapat menjalin persahabatan dengan Tuhan, dan sedikit demi sedikit, kita bertumbuh sebagai gambaran Allah sendiri.

Sakramen

Sakramen berasal dari kata ‘mysterion’ (Yunani), yang dijabarkan dengan kata ‘mysterium’ dan ’sacramentum’ (Latin). Sacramentum dipakai untuk menjelaskan tanda yang kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan yang disebut sebagai ‘mysterium‘. Kitab Suci menyampaikan dasar pengertian sakramen sebagai misteri/ ‘mysterium‘ kasih Allah, yang diterjemahkan sebagai “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad… tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya” (Kol 1: 26, Rom 16:25). Rahasia/ ‘misteri’ keselamatan ini tak lain dan tak bukan adalah Kristus (Kol 2:2; 4:3; Ef 3:3) yang hadir di tengah-tengah kita (Kol 1:27). Jadi sakramen-sakramen Gereja merupakan tanda yang kelihatan dari rahasia/ misteri Kristus -yang tak kelihatan- yang bekerja di dalam Gereja-Nya oleh kuasa Roh Kudus.[3] Betapa nyatanya ‘rahasia’ ini diungkapkan di dalam sakramen-sakramen Gereja, terutama di dalam Ekaristi (lihat artikel: Sudahkah kita pahami arti Ekaristi?)

Mengacu pada pengertian ini, maka Gereja sendiri adalah “Sakramen Keselamatan” yang menjadi tanda rahmat Allah dan sarana yang mempersatukan Allah dan manusia. (lihat artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan- Bagian 2).[4] Sebagaimana Yesus yang mengambil rupa manusia menjadi “Sakramen” dari Allah sendiri, maka Gereja sebagai Tubuh Kristus menjadi “Sakramen” Kristus. Artinya, di dalam Gereja, kuasa ilahi yang membawa kita kepada keselamatan bekerja melalui tanda yang kelihatan.[5]

Di dalam perannya sebagai “Sakramen Keselamatan” inilah, Gereja dipercaya oleh Kristus untuk membagikan rahmat Tuhan di dalam ketujuh sakramen. Jadi sakramen tidaklah hanya sebagai tanda atau lambang, tetapi juga sebagai pemenuhan makna dari tanda itu sendiri, yaitu rahmat pengudusan untuk keselamatan kita[6] sehingga Gereja mengajarkan bahwa dengan mengambil bagian di dalam sakramen, kita diselamatkan, karena melalui Kristus, kita dipersatukan dengan Allah sendiri.[7]

Ketujuh sakramen ini menjadi tanda akan sesuatu yang terjadi sekarang, sesuatu yang terjadi di masa lampau, dan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang.[8] Jadi semua sakramen tidak hanya membawa rahmat pengudusan (sekarang), namun juga menghadirkan Misteri Paska Kristus (lampau) yang menjadi sumber kekudusan, dan menjadi gambaran akan kebahagiaan surgawi sebagai akhir dari pengudusan kita (yang akan datang).[9] Dengan berpartisipasi di dalam sakramen inilah kita mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi yang tidak mengenal batas waktu; di dalam kehidupan Kristus yang mengatasi segala sesuatu.

Mengapa Tuhan mendirikan sakramen[10]

Alasan pertama yaitu karena keterbatasan pemikiran manusia yang memahami sesuatu menurut perantaraan benda-benda yang kelihatan. Keterbatasan manusia ini yang menyebabkan adanya “sunat” untuk menandai perjanjian Allah dengan umat Israel pada Perjanjian Lama, yang disempurnakan menjadi Pembaptisan di dalam Perjanjian Baru.

Kedua, karena pemikiran manusia selalu menginginkan tanda sebagai pemenuhan janji. Kita melihat dalam masa Perjanjian Lama bagaimana Allah memberikan tanda-tanda yang menyertai bangsa Israel sampai ke Tanah Terjanji. Hal yang sama diberikan di dalam Perjanjian Baru yang merupakan pemenuhan dari Perjanjian Lama.

Ketiga, sakramen menjadi sesuatu yang selalu ada sebagai ‘obat’ rohani demi kesembuhan jiwa dan raga. Hal ini dapat kita lihat pada saat Yesus menyembuhkan orang buta dengan ludahNya yang dicampur dengan tanah (Yoh 9:6). Yesus sendiri menggunakan ‘benda perantara’ untuk menyampaikan rahmat penyembuhan-Nya. Dengan menerima sakramen, kita seumpama wanita perdarahan yang disembuhkan dengan menyentuh jubah Yesus (Mrk 5:25-34).

Ke-empat, sakramen adalah tanda/ lambang yang menandai umat beriman.
Dan yang terakhir, sakramen merupakan perwujudan iman, “karena dengan hati orang percaya dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rom 10:10). Iman ini mendasari  kebajikan Ilahi yang lain yaitu pengharapan dan kasih, dan ketiga hal ini menghantarkan kita kepada kekudusan, yaitu hal yang diinginkan Allah pada kita. Melalui sakramen kita mengambil bagian dalam hidup Ilahi, sehingga di akhir hidup kita nanti, kita dapat sungguh bersatu dengan Tuhan dalam keabadian surga.

Ketujuh Sakramen Gereja

Mungkin ada orang bertanya, mengapa ada tujuh sakramen? Alasannya adalah karena terdapat hubungan yang erat antara kehidupan rohani dan jasmani.[11] Secara jasmani ada tujuh tahap penting kehidupan: kita lahir, tumbuh menjadi dewasa karena makan. Jika sakit kita berobat, dan di dalam hidup kita dapat memilih untuk tidak menikah atau menikah. Lalu setelah selesai menjalani hidup, kita meninggal dunia. Nah, sekarang mari kita lihat bagaimana sakramen menguduskan tahap-tahap tersebut di dalam kerohanian kita.

Kelahiran kita secara rohani ditandai dengan sakramen Pembaptisan, di mana kita dilahirkan kembali di dalam air dan Roh (Yoh 3:5), yaitu di dalam Kristus sendiri. Kita diteguhkan oleh Roh Kudus dan menjadi dewasa dalam iman melalui sakramen Penguatan (Kis 1:5). Kita bertumbuh karena mengambil bagian dalam sakramen Ekaristi yang menjadi santapan rohani (Yoh 6: 51-56). Jika rohani kita sakit, atau kita berdosa, kita dapat disembuhkan melalui pengakuan dosa dalam sakramen Tobat/ Pengakuan dosa, di mana melalui perantaraan iman-Nya Tuhan Yesus mengampuni kita (Yoh 20: 22-23). Lalu jika kita terpanggil untuk hidup selibat untuk Kerajaan Allah, Allah memberikan kuasa untuk melakukan tugas-tugas suci melalui penerimaan sakramen Tahbisan Suci/ Imamat (Mat 19:12). Sedangkan jika kita terpanggil untuk hidup berkeluarga, kita menerima sakramen Perkawinan (Mat 19:5-6). Akhirnya, pada saat kita sakit jasmani ataupun saat menjelang ajal, kita dapat menerima sakramen Pengurapan orang sakit, yang dapat membawa rahmat kesembuhan ataupun persiapan bagi kita untuk kembali ke pangkuan Allah Pencipta (Yak 5:14).

Pengajaran tentang adanya tujuh sakramen ini kita terima dari Tradisi Suci, yang kita percayai berasal dari Kristus. Ketujuh sakramen ini ditetapkan melalui Konsili di Trente (1564) untuk menolak bahwa hanya ada dua sakramen Baptis dan Ekaristi menurut pandangan gereja Protestan. Sebagai umat Katolik, kita mematuhi apa yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik, sebab mereka -lah penerus para rasul, yang meneruskan doktrin para rasul dengan kemurniannya.

Siapa yang menciptakan Sakramen?

Allah melalui Kristus adalah Pencipta Sakramen.[12] Sakramen mengandung kuasa yang mencapai kedalaman jiwa seseorang, dan hanya Allah yang mampu melakukan hal itu. Jadi walaupun disampaikan oleh para imam, sakramen-sakramen Gereja tersebut merupakan karya Kristus. Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benedict XVI) menyatakan, dari sisi pandang imam sebagai penerus para rasul, sakramen berarti, “Aku memberikan apa yang tidak dapat kuberikan sendiri; aku melakukan apa yang bukan pekerjaanku sendiri… aku (hanyalah) membawakan sesuatu yang dipercayakan kepadaku.”[13]

Jadi Kristuslah yang oleh kuasa Roh Kudus bekerja melalui para imam-Nya di dalam sakramen-sakramen. Pada sakramen Pembaptisan, Kristus sendirilah yang membaptis,[14] demikian juga pada sakramen Pengakuan Dosa, Kristus sendiri yang mengampuni melalui imam-Nya, dan di dalam Ekaristi, Ia sendiri yang memberikan Tubuh dan DarahNya untuk menjadi santapan rohani kita, sehingga kita dipersatukan dengan-Nya dan dengan sesama umat beriman di dalam ikatan persaudaraan sejati.

Akibat utama yang dihasilkan oleh sakramen[15]

Pertama, adalah rahmat pengudusan. Rahmat ini merupakan pemenuhan janji Kristus yang dituliskan oleh Rasul Paulus, bahwa Kristus mengasihi Gereja-Nya dan menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, menyucikannya dengan air dan firman (Ef 5:26). Rahmat ini diberikan pada setiap orang untuk hidup bagi Tuhan, dan kepada Gereja secara keseluruhan untuk meningkatkan kasih dan misi pewartaan.[16]

Kedua, dengan menerima dan mengambil bagian di dalam sakramen, kita berpartisipasi di dalam kehidupan Yesus, dan melalui Yesus kita berpartisipasi di dalam kehidupan Allah Tritunggal Maha Kudus. Keikutsertaan kita dalam kehidupan Yesus, terutama dalam Misteri Paska ini mengantar kita kepada keselamatan kekal. Manusia melalui usahanya sendiri tidak dapat mencapai keselamatan, karena keselamatan pertama-tama karunia Allah (lih. Ef 2:5,8) yang kita terima melalui Yesus Kristus. Sebab oleh akibat dosa asal kita terpisah dari Tuhan, dan Kristus mempersatukan kita kembali dalam kehidupan-Nya melalui sakramen-sakramen. Melalui sakramen kita disatukan dengan Tuhan, dan diubah menjadi menyerupai Dia; tubuh kita yang fana menerima yang ilahi dan hati kita diisi oleh kebajikan-kebajikan yang berasal dari Allah sendiri, terutama dalam hal iman, pengharapan dan kasih.

Ketiga, ketiga sakramen yaitu Pembaptisan, Penguatan dan Tahbisan suci, memberikan ‘karakter’ yang terpatri di dalam jiwa seseorang yang menerima sakramen tersebut. Pembaptisan menjadikannya anak angkat Allah, Penguatan menjadikannya sebagai ’serdadu’ Kristus, dan Tahbisan suci menjadikannya imam yang diberi kuasa untuk menguduskan dan menerimakan sakramen-sakramen. Karena karakter khusus inilah, maka ketiga sakramen ini hanya dapat diterima satu kali saja.

Bagaimana agar kita menerima ‘buah’ yang berguna melalui sakramen

Pertama, kita harus mengetahui, menghargai dan menghormati rahmat ilahi yang diberikan melalui sakramen-sakramen ini. Lalu, karena kita mengetahui bahwa Allah sendiri yang memberikan rahmat-Nya, maka kita harus memperlakukan rahmat itu dengan hormat dan dengan semestinya, dan dengan sikap yang benar, terutama dalam sakramen Tobat dan Ekaristi, agar kita dapat menghasilkan buahnya.[17] Kita harus mempersiapkan diri dan berpartisipasi pada saat kita menerima sakramen-sakramen dalam perayaan liturgi Gereja (lihat artikel Apa yang perlu kuketahui tentang Liturgi).

Kita mengetahui bahwa Yesuslah yang memerintahkan pemberian sakramen-sakramen tersebut melalui ajaran-ajaranNya. Karena berasal dari Kristus, rahmat itu adalah karunia yang sempurna, yang diberikan oleh kuasa Roh Kudus, yang dapat menembus jiwa untuk mendatangkan kesembuhan rohani, dan mendatangkan keselamatan yang tak ternilai harganya.

Kesimpulan

Melihat dalamnya arti ’sakramen’ yang merupakan saluran rahmat Allah, dan tanda yang tak terpisahkan dari hakekat Gereja sebagai Tubuh Kristus, maka sudah selayaknya kita menghargai dan mempersiapkan diri seutuhnya untuk menerima sakramen-sakramen yang membawa kita kepada keselamatan. Mari kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan menerima cara Tuhan menyampaikan rahmat-Nya kepada kita, baik untuk jiwa maupun tubuh kita, untuk mendatangkan keselamatan dan ‘kesembuhan’ baik rohani maupun jasmani. Dengan demikian kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi yang dicurahkan kepada kita melalui Kristus.


[1] Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, , I, q. 1, a. 8, ad 2 (question 1, article 8, response to the second objection): “Since therefore grace does not destroy nature but perfects it, natural reason should minister to faith as the natural impulse of the will ministers to charity.”

[2] Lihat Katekismus Gereja Katolik 776.

[3] Lihat Katekismus Gereja Katolik 774.

[4] Lihat KGK 775, Lumen Gentium 1.

[5] Lihat Roman Catechism (Catechism of the Council of Trent 1565) Part II on the Sacraments, “The Word ‘Sacrament’”, par 4., “… a sign is called a Sacrament, because the divine power secretly operates our salvatiom under the veil of sensible things.”

[6] Lihat Roman Catechism Part II, Ibid., “Signs Instituted by God”, “God has appointed signs with power not only to signify, but also to accomplish what they signify. See also, “Kind of Sacred thing Meant Here”, “…the nature of a Sacrament,… is a sensible object which posseses, by divine institution, the power not only of signifying, but also of accomplishing holiness and righteousness.”

[7] Lihat KGK 1129.

[8] Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologica III, q. 60, art 3, dikutip dalam KGK 1130.

[9] Lihat Ibid., “All Sacraments Signify Something Present, Something Past, Something Future: all of them declare not only our sanctity and justification, but also… the Passion of Christ our Redeemer, which is the source of our sanctification, and also eternal life and heavenly bliss, which are the end of sanctification…They remind us of something past, they indicate and point out to something present; they foretell something future.”

[10] Disarikan dari Roman Catechism, “Why the Sacraments were Instituted

[11] Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, III, q. 65, a. 1, ad. 1, “For spiritual life has a certain conformity with the life of the body, just as other corporeal things have certain likeness to things spiritual.

[12] Lihat Roman Catechism, The Author of the Sacraments“, “God alone has power to enter into the hearts and minds of men, He alone, through Christ, is manifestly the author of the Sacraments.”

[13] Diterjemahkan dari Joseph Cardinal Ratzinger, Called to Communion, (Ignatius Press, San Francisco, 1991), p. 115

[14] Lihat KGK 1088.

[15] Disarikan dari Roman Catechism, “Effects of the Sacraments”

[16] Lihat KGK 1134.

[17] Lihat KGK 1131.

Ditulis oleh Ingrid Listiati pada 17 07 08 Disimpan dalam Artikel, Sakramen. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

7 komentar untuk “Sakramen: Apa pentingnya di dalam kehidupan iman kita?”

  1. Herman Jays

    1.Apakah istilah sakramen terdapat dalam Kitab Suci? Apakah ketujuh sakramen sudah ditetapkan dalam Kitab Suci?
    2.Kapan tujuh sakramen di dalam Gereja Katolik ditetapkan ?
    3. Apakah ditetapkan secara bertahap atau sekaligus?
    4.Gereja Lutheran hanya mengenal lima sakremen tanpa sakramen imamat dan minyak suci.Apa sebab sakramen imamat dan minyak suci tidak diterima oleh gereja Lutheran?
    5.Gimana efektivitas sakramen imamat seorang Pastor yang mengundurkan diri atau diberhentikan sebagai imam?
    6.Mantan Pastor menerima sakramen perkawinan , bolehkah? Jika yah, mantan Pastor punya sakramen yang paling lengkap dong sebagai orang katolik. Siapa mau ikut?

    • Shalom Herman Jay,

      1. Istilah sakramen secara eksplisit tidak tertulis di dalam Kitab Suci, seperti halnya perkataan Trinitas dan Inkarnasi tidak ada di dalam Kitab Suci. Namun demikian, prinsip pengajarannya bersumber pada Kitab Suci, dan diajarkan oleh Kristus dan para Rasul dalam Tradisi Suci.

      Sakramen adalah tanda luar dari rahmat Allah yang bekerja di dalam [diri orang yang menerimanya], yang diintitusikan oleh Kristus untuk pengudusan kita. “Sacraments are outward signs of inward grace, instituted by Christ for our sanctification (Catechismus concil. Trident., n. 4, ex St. Augustine, “De Catechizandis rudibus“)

      Perlu kita ketahui, bahwa Gereja Katolik tidak menganggap Kitab Suci sebagai satu- satunya sumber kebenaran iman, namun Kitab Suci selalu ada dalam kesatuan dengan Tradisi Suci dan Magisterium. Melalui ketiga pilar kebenaran inilah seluruh ajaran Kristus dan para rasul disampaikan kepada kita. Ketujuh sakramen ini merupakan ajaran yang kita terima atas dasar Kitab Suci dan Tradisi Suci.

      Silakan, jika anda belum membaca, untuk membaca rangkaian artikel tentang sakramen ini:

      1. Sakramen, apa pentingnya dalam kehidupan kita
      2. Sakramen Baptis,
      3. Sakramen Ekaristi, bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4
      4. Sakramen Penguatan
      5. Sakramen Pengakuan Dosa, bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4
      6. Sakramen Perkawinan
      7. Sakramen Imamat
      8. Sakramen Pengurapan orang sakit

      2. Penetapan ketujuh sakramen sudah ada sejak Gereja abad awal, hanya saja cara penyampaiannya memiliki perkembangan seiring dengan perkembangan sejarah Gereja. Para Bapa Gereja telah mengajarkan tentang sakramen ini sejak awal, yang dilestarikan terus oleh Gereja Katolik. Namun dalam sejarah Gereja terdapat masa di mana terdapat perbedaan pandangan tentang apakah sakramen benar-benar diperlukan untuk mencapai keselamatan, dan dengan demikian Konsili Trente (1545- 1563) menegaskan kembali adanya ketujuh sakramen dan bahwa sakramen tersebut diperlukan untuk keselamatan, karena sakramen bukan hanya simbol semata, namun sungguh-sungguh menyampaikan rahmat Tuhan.

      3. Jika kita melihat kepada pengajaran para rasul dan para Bapa Gereja, maka kita mengetahui bahwa ketujuh sakramen tersebut telah ditetapkan sejak awal, namun karena tidak secara ekplisit disebutkan dalam Kitab Suci, “ini adalah sakramen Baptis” atau “ini adalah sakramen perkawinan” dst., maka memang penjabarannya kita melihat kepada pengajaran lisan para rasul, yang disebut Tradisi Suci, yang telah diterapkan sejak abad awal dan diteruskan oleh para Bapa Gereja.

      Penetapan pada Konsili Trente bukan berarti bahwa sebelum Konsili Trente (abad ke 16) itu belum ada sakramen. Konsili Trente menjabarkan ketujuh sakramen untuk meluruskan kesimpangsiuran pada saat itu dengan adanya ajaran yang tidak setia dengan Tradisi para rasul yang mencoret beberapa sakramen atau ajaran yang mengajarkan bahwa sakramen itu hanya “simbol” saja. Maka Konsili Trente menegaskan kembali ajaran Gereja Katolik yang sudah ada sejak abad awal, dan yang kemudian ditetapkan dengan lebih jelas dengan ritus yang lebih seragam.

      4. Kami di Katolisitas tidak dalam posisi untuk menyampaikan ajaran Gereja Lutheran mengenai mengapa mereka tidak mengenal sakramen imamat dan minyak suci. Sakramen Imamat yang menandai imamat jabatan sudah ada sejak abad awal, demikian juga perminyakan orang sakit (lih. Yak 5:14)

      5. Seorang pastor yang sudah mengundurkan diri/ diberhentikan sebagai imam sudah tidak mempunyai faculty untuk memberikan sakramen-sakramen.

      6. Seorang pastor yang mengundurkan diri dan telah mendapat ijin/ dispensasi dari Vatikan, dapat menikah/ menerima sakramen pernikahan. Namun prosesnya untuk mendapatkan ijin/ dispensasi juga tidaklah mudah, dan pihak Vatikan akan melihat terlebih dahulu apa alasannya. Maka tentu ini bukanlah suatu kondisi yang umum dan layak ditiru.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      Berikut ini tambahan dari Romo Wanta:

      Herman Jay Yth.
      Orang menerima sakramen banyak bukan prestasi. Imam yang keluar atau mengundurkan diri lalu menikah setelah mendapat dispensasi dari Takhta Suci. Setelah bebas dari kewajiban sebagai imam lalu bisa menikah secara sah. Perbuatan itu tidak perlu ditiru, karena bukan prestasi.
      salam
      Rm Wanta
  2. IMPLIKASI PERAYAAN SAKRAMENTALI BAGI PENANAMAN SEMANGAT MISIONER DALAM KELUARGA

    Perayaan sakramentali merupakan perayaan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Hampir setiap segi kehidupan manusia dapat dijadikan sakramentali. Karena tidak hanya benda yang dapat dimintakan berkat, melainkan juga manusia. Karena itu umat sering menggunakan sakramentali dalam kehidupan sehari-hari mereka.
    Sakramentali sebagai perayaan liturgi yang dekat dengan kehidupan umat, dapat menjadi sarana untuk menanamkan kehidupan rohani umat. Karena umat sudah tidak asing lagi dengan perayaan sakramentali dalam kehidupan mereka dan umat pun dapat melakukannya sendiri. Umat dapat mengadakan ibadat atau upacara pemberkatan tanpa harus menunggu kehadiran pelayan Gereja. Sehingga sebuah keluarga pun dapat menggunakan upacara pemberkatan dalam lingkungan keluarga mereka sendiri. banyak sakramentali yang dapat dirayakan dalam keluarga, misalnya pemberkatan makanan dalam makan bersama, pemberkatan anak, doa bersama, dan pemberkatan rumah.
    Keluarga, sebagai lembaga pendidikan anak yang pertama dan terutama, memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka agar dapat memiliki iman yang tangguh. Karena melalui keluargalah, kepribadian anak dapat terbentuk. Tugas orangtua dalam mendidik iman anak ini sangat sesuai dengan tujuan dari perkawinan dan peran serta keluarga-keluarga yang dikemukakan oleh Paus Yohanes Paulus II.
    Pendidikan iman anak ini merupakan salah satu bentuk dari partisipasi keluarga-keluarga kristiani dalam mengembangkan misi Gereja. Dengan mendidik anak sejak dini, dapat melatih serta mempersiapkan anak untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Sehingga keluarga kristiani tidak hanya menjadi penonton dalam kegiatan misi Gereja, melainkan juga terlibat langsung yakni dengan mempersiapkan benih-benih baru. Sebab keluarga merupakan sel yang membentuk Gereja. Gereja akan berkembang dengan baik bila pendidikan iman dalam keluarga juga berjalan dengan baik pula. Namun kegiatan misi Gereja tidak hanya mencakup perkembangan hidup Gereja saja melainkan juga mencakup perkembangan masyarakat, karena biar bagaimana pun Gereja hidup dan berkembang dalam lingkungan masyarakat umum.
    Cara sederhana yang dapat digunakan untuk menanamkan pendidikan iman dalam keluarga adalah dengan membiasakan hidup doa dalam keluarga. Kehidupan doa dalam keluarga dapat dilakukan dengan menggunakan perayaan sakramentali. Sakramentali yang adalah doa gereja memiliki nilai-nilai yang sangat mendukung terjadinya penanaman semangat misioner dalam keluarga.
    Melalui perayaan sakramentali, keluarga-keluarga kristiani merayakan liturgi, yang adalah sumber pengudusan bagi keluarga tersebut. Keluarga kristiani dikuduskan berkat misteri Paska Kristus. Allah sendiri hadir di tengah-tengah keluarga yang merayakan liturgi. Berkat kehadiran karya Allah-lah anggota keluarga akan mendapat semangat serta kekuatan untuk menjadi saksi-saksi Kristus di tengah-tengah dunia.
    Penanaman nilai-nilai misioner dalam keluarga atau anak-anak secara nyata dapat dilakukan dengan memasukkan pengajaran-pengajaran secara khusus berkaitan dengan kegiatan misioner setiap kali merayakan perayaan sakramentali dalam keluarga. Kemudian membuat tindak lanjut dari perayaan sakramentali dengan membuat tindakan nyata yang menunjuk pada nilai-nilai misioner. Misalnya, pemberkatan orang sakit dapat diikuti tindakan nyata dengan langsung mengunjungi orang yang sakit tersebut, pemberkatan makanan dalam doa bersama dapat diikuti dengan mengajak anak untuk berbagi rejeki yang mereka peroleh dengan anak-anak gelandangan.
    Karena perayaan sakramentali sangat mudah dilakukan dan lingkupnya pun mencakup hampir setiap segi kehidupan manusia, anak-anak dapat lebih mudah untuk menerima dan memahami nilai-nilai misioner yang ada pada setiap perayaan sakramentali yang dirayakan dalam keluarga. Dengan demikian semangat untuk menjadi saksi-saksi Kristus akan terus bernyala dalam diri setiap anggota Gereja, dan Kerajaan Allah pun dapat terus berdiri di tengah-tengah dunia. Dapatlah disimpulkan bahwa perayaan sakramentali yang dirayakan dalam keluarga memiliki peran penting dalam usaha menanamkan nilai-nilai misioner dalam keluarga atau anak-anak. (EMILIUS LASE)

  3. lia

    Mau tanya..
    Apa sih sejarah terbentuknya sakramen?
    Apa sejarah terbentuknya sakramen tobat??

    thx..
    GBU..

    • Shalom Lia,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang sakramen. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

      1) Nanti saya akan menuliskan topik ini secara terpisah, karena memang hal ini banyak menjadi pertanyaan bagi umat Katolik maupun non-Katolik. Kita sering mendengar bahwa sakramen adalah tradisi yang dibuat oleh Gereja Katolik dan sebenarnya tidak perlu dan tidak pernah diinstitusikan oleh Yesus? Dan ada juga orang yang mengatakan bahwa sakramen-sakramen dalam Gereja Katalik begitu kaku, sehingga yang menerima tidak merasakan apapun? Namun, sebenarnya, kalau kita mengerti apa sebenarnya yang terjadi di dalam sakramen-sakramen, maka kita akan terperangah, bagaimana sebenarnya Tuhan menggunakan kodrat manusia untuk mencurahkan rahmat-Nya. Sama seperti Tuhan menyelamatkan manusia dengan mengirimkan Putera-Nya, untuk menjadi manusia yang terlihat, teraba. Hal ini dikarenakan manusia mempunyai kodrat, yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Dan ini juga terjadi dalam sakramen-sakramen yang menjadi sarana bagi Tuhan untuk mencurahkan rahmat-Nya, sehingga manusia dapat melihat, merasakan, dan pada saat yang bersamaan mendapatkan rahmat Tuhan yang mengalir dari sakramen-sakramen.

      Tentu saja, Yesus tidak memberikan tatanan yang sama persis dengan sakramen-sakramen yang kita kenal sekarang, namun Yesus sendiri memberikan pondasi, dan terus berkembang sampai seperti sakramen yang kita kenal saat ini. Sebagai contoh: Kristus menginstitusikan Sakramen Baptis, pada waktu Dia mengatakan “…pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Mt. 28:19). Kemudian kita juga melihat bagaimana Kristus menekankan pentingnya baptisan untuk keselamatan, seperti “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mk 16:16) dan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Jn 3:5). Dan rasul Paulus kemudian mengajarkan hal yang sama, dengan mengatakan “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rm 6:4). Kemudian, kita juga menemukan di pengajaran para rasul (Didache – tahun 80-160) mengatakan “membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus di dalam air … tuangkan tiga kali pada kepala dengan berkata ‘di dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.’ Sebelum Pembaptisan, biarlah yang membaptis dan yang menerima baptisan berpuasa terlebih dahulu, dan yang lain juga, jika sanggup…. Mereka yang dibaptis harus berpuasa sehari atau dua hari sebelum Pembaptisan.” Dan ini terus ditegaskan oleh para Bapa Gereja dan konsili-konsili (silakan melihat diskusi ini – silakan klik). Dengan demikian terjadi suatu perkembangan yang jelas, dari Yesus Kristus yang menginstitusikan Sakramen Baptis sampai seperti yang kita kenal saat ini.

      2) Tentang perkembangan Sakramen Tobat dapat dibaca di artikel “Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa – bagian 2″ (silakan klik).

      Semoga keterangan singkat di atas dapat membantu. Intinya adalah Tuhan ingin mencurahkan rahmat-Nya dan menyelamatkan kita sesuai dengan kodrat manusia, yang mempunyai tubuh, atau yang terlihat (dalam Sakramen adalah matter/materi, seperti dalam Sakramen Baptis adalah air dan form /forma-nya adalah perkataan “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Dan rahmat yang tak terlihat, yang dicurahkan dalam Sakramen Baptis adalah “rahmat pengudusan”, sehingga orang yang telah dibaptis dapat berkenan di hadapan Allah. Dan ini adalah sesuai dengan axiom “grace perfects nature” atau rahmat menyempurnakan kodrat. Manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa diangkat dalam rahmat Tuhan melalui sakramen yang mempunyai matter dan form (yang terlihat) dan rahmat Allah yang tercurah dalam sakramen (yang tak terlihat).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  4. Simon

    Shalom Pak Stef & Bu Ingrid,
    Mau tanya :
    - Mengapa di Katolik ada 7 Sakramen? padahal kalau kita baca di Alkitab kelihatannya cuma ada 2 sakramen yaitu Baptis & Ekaristi.
    Terima kasih, GBU.
    Simon

    • Shalom Simon,
      Pertama-tama, kita harus menerima dahulu, bahwa bagi orang Katolik, Wahyu Ilahi tidak hanya kita terima dari Kitab Suci, namun juga dari Tradisi Suci, sebagaimana yang diinterpretasikan/ diajarkan oleh Magisterium Gereja. Sebab Kitab Suci yang kita peroleh sekarang itu sebenarnya merupakan kanon yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik (pada tahun 393 Konsili Hippo dan 397 Konsili Carthage). Sebelum Kitab Suci (Wahyu Ilahi yang tertulis) itu ada- jadi selama sekitar 3 1/2 abad, para rasul mengajarkan segala pengajaran Tuhan Yesus dengan perkataan lisan, dan ini tidak kalah suci dan benar jika dibandingkan dengan Kitab Suci. Maka dengan ini kita percaya bahwa sejak awal para rasul sudah mulai mempraktekkan adanya ke tujuh sakramen lewat Tradisi suci ini.
      Mungkin ada yang berpendapat bahwa di dalam Alkitab kelihatannya Yesus ‘hanya’ menginstitusikan 2 sakramen, yaitu Baptis dan Ekaristi. Namun sesungguhnya, kita harus mengakui bahwa yang paling mengetahui tentang berapa sakramen yang dipercayakan Yesus kepada para rasul-Nya adalah para rasul sendiri, dan tentu kepada para penerusnya, yang kepadanya Tradisi ini diturunkan.
      Bahwa ada sebagian orang yang melihat bahwa Yesus hanya menginstitusikan 2 sakramen, itu kemungkinan besar karena 1) mereka hanya menganggap Alkitab sebagai satu-satunya sumber, dan juga 2) dalam menginterpretasikan Alkitab mereka menempatkan pengertian pribadi di atas pengajaran Gereja Katolik, artinya, meskipun mendengar penjelasan Magisterium, namun jika secara pribadi mereka menganggapnya tidak demikian, maka mereka tidak menerima pengajaran Magisterium.
      Namun bagi kita orang Katolik, kita percaya bahwa Kristus memberikan kuasa kepada Magisterium untuk mengajar kita sesuai dengan kemurnian ajaran Kristus. Maka jika Magisterium menentukan ada 7 sakramen, kita selayaknya menerima dengan ketaatan iman. Ketaatan iman ini bukannya hanya menerima tanpa pengertian, karena sebenarnya kita perlu memahami ke7 sakramen ini yang sesungguhnya semua mengambil dasar dari Alkitab, dan telah dilakukan sejak jaman Gereja awal. Jadi keberadaan 7 sakramen ini bukan semata-mata ciptaan Magisterium. Ditetapkannya sebagai 7 sakramen ini, juga untuk membedakannya dengan sakramental yang lain, bermacam ritual pemberkatan yang ada dalam kehidupan umat beriman pada saat itu (pemberkatan rumah, usaha, dst).
      Lebih lanjut tentang ketiga pilar/ tonggak Gereja, yaitu: Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium, silakan klik di sini.

      KGK 82 “Dengan demikian maka Gereja“, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (Dei Verbum 9).
      Salam kasih dalam Kristus,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Menginggalkan pesan

MENDUKUNG KATOLISITAS.ORG

Kalau anda ingin mendukung karya kerasulan ini secara finansial, silakan menghubungi: donation[at]katolisitas.org atau melalui Paypal / Credit Card di bawah ini. Karya kerasulan ini dapat terus berlangsung karena rahmat Tuhan dan juga dukungan dari semuanya. Tuhan memberikati.

TRANSLATE FROM INDONESIAN TO:

KOMENTAR TERAKHIR

  • Shalom Hamba Tuhan,1. Perbedaan Allah dan allah dalam bahasa Ibrani.An... »
  • Shalom Hamba Tuhan,1) Terima kasih atas tanggapannya tentang politeism... »
  • Dear Pak Stef,Terimakasih banyak pak Stef untuk jawaban2nya dan juga i... »
  • Shalom Anonymous,Terima kasih atas pertanyaannya tentang seksualitas. ... »
  • Puji Tuhan aku masih merinding membaca kesaksianmu ,salam untuk keluar... »
  • Kenneth YthDalam Gereja Katolik melalui KHK 1983 dalam buku ke VI memb... »
  • Syalom FransiskaUntuk membaca kesaksian2 dari orang non katolik menjad... »
  • Shalom Fransiska,Terima kasih atas pertanyaannya. Tentang kesaksian da... »
  • Shalom George,Terima kasih atas pertanyaannya tentang Yesus dan Trinit... »
  • Shalom,Pada saat Obama terpilih, Uskup-uskup di US berkata bahwa umat ... »
  • Yth Bpk Stef,Terimakasih atas penjelasan/tanggapan dari bapak, keteran... »
  • Terimakasih pak stefanus atas jawabannya, namun bila tak berkeberatan,... »
  • Syalom Pak Stef / Bu Inggrid,Apakah masih ada kesaksian2 dari orang2 n... »
  • Shalom George,Terima kasih atas pertanyaannya tentang perbedaan antara... »
  • Shalom Jack,Terima kasih atas tanggapannya tentang diskusi tentang Mar... »

© Copyright katolisitas - 2008 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja.

Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Renungan dan doa diterjemahkan dari: Every Day Is a Gift by Frederick Schroeder, CBPC, 1984.

 

Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, Hari dimana Gereja memperingati  Bunda Maria mengunjungi Elizabeth

Romo pembimbing: Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. ; Ahli Hukum Gereja dan Perkawinan: RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr.; Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min., Th.M. ; Penulis tetap: Romo Wanta, Pr ; Stefanus Tay, M.T.S ; Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
Penanggung jawab situs: Stefanus Tay, M.T.S ; Ingrid Listiati Tay, M.T.S.