Sakramen: Apa pentingnya di dalam kehidupan iman kita?

Sakramen Pendahuluan

Banyak orang berpikir bahwa iman itu hanya menyangkut kerohanian, dan tidak ada sangkut pautnya dengan hal jasmani. Namun sesungguhnya tidak demikian, karena manusia diciptakan Allah terdiri dari jiwa dan tubuh. Jadi apa yang kita imani selayaknya memancar keluar melalui sikap tubuh, dan sebaliknya apa yang terlihat dari luar mencerminkan apa yang kita imani di dalam hati. Hal ini yang mendasari bahwa segala yang menyangkut manusia selalu menyangkut dua hal: tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani, dan kedua hal ini tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia.

Prinsip kedua adalah kemurahan hati Allah yang mengangkat kita dari ketidakberdayaan kita sebagai manusia, agar kita dapat memahami dan mengingini hal-hal ilahi, karena untuk itulah kita diciptakan dan ke sanalah hidup kita akan berakhir. Rahmat Ilahi ini hanya datang dari Allah, dan kita memperolehnya lewat sakramen -sakramen. Sakramen mengubah kita secara rohani: kita diangkat menjadi ilahi, agar dapat dibentuk oleh Allah menjadi semakin serupa dengan DiriNya.

Prinsip ‘jiwa dan tubuh’, ‘grace and nature’

Prinsip ‘tubuh dan jiwa’ ini yang mendasari adanya sakramen di dalam Gereja. Gereja yang dijiwai oleh Roh Kristus, juga terdiri dari ‘Tubuh’ yang kelihatan, yaitu umat yang dipimpin oleh para pemimpin Gereja. Selanjutnya, rahmat Tuhan yang dicurahkan di dalam Gereja dapat juga dirasakan secara jasmani di dalam sakramen-sakramen. Karenanya Gereja mempunyai aspek Ilahi dan manusiawi, rohani dan jasmani, yang tak kelihatan dan yang kelihatan, dan semuanya itu dipersatukan di dalam misteri Kristus. Di dalam Kristuslah segala sesuatu diperdamaikan, dipersatukan dan disempurnakan (lih. Kol 1:19-22).

Jadi Allah tidak mungkin merendahkan tubuh, namun menyempurnakan dan memuliakannya untuk dipersatukan dengan jiwa, sebab Ia-lah yang menjadikan keduanya pada awal mula penciptaan dengan sangat baik adanya (Kej 2:31). “Rahmat tidak menghancurkan segala yang bersifat material /lahiriah, melainkan menyempurnakannya (grace does not destroy nature but perfects it),” kata St. Thomas Aquinas.[1] Maka walaupun dosa memang telah ‘mencemari’ tubuh, namun tidak menjadikannya sama sekali tidak bernilai, karena kuasa dosa tidak mungkin lebih besar dari kuasa Allah. Allah mencurahkan rahmat-Nya untuk mengembalikan tubuh kepada keadaan asalnya. Karena itu, sudah menjadi kehendak Allah bahwa segala rahmat ilahi dapat dialami dan dirasakan oleh tubuh, supaya oleh rahmat-Nya kita dipulihkan dari akibat dosa, dan tubuh kita ‘diangkat’ sehingga bernilai ilahi. Jadi walaupun rahmat Allah itu pertama-tama bersifat rohani, namun rahmat itu tidak mengabaikan segala yang bersifat lahiriah. Jangan kita lupa, Allah adalah Tuhan atas segala sesuatu dan adalah hak Tuhan untuk menyampaikan rahmatNya melalui perantaraan benda-benda ciptaanNya untuk menyembuhkan, menguduskan dan membentuk kita menjadi tempat kediaman dan Bait Kudus-Nya (1 Kor 3:16).[2]

Janganlah kita lupa, bahwa karena akibat dosa asal, terdapat jurang yang tak terpisahkan antara Tuhan Pencipta dan manusia yang diciptakanNya. Kita manusia hanya dapat ‘terangkat’ dari jurang melalui jasa Kristus Penyelamat kita. Jasa Kristus itu secara nyata kita peroleh lewat sakramen-sakramen, yang memang disediakan Tuhan untuk mengangkat kita agar dapat mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi seperti yang menjadi rencana-Nya sejak semula. Maka jika Tuhan menghendaki agar kita hidup kudus, dan bertumbuh dalam kasih, hal itu bukannya ‘asal perintah’ saja, sebab, Tuhan sendiri menyediakan jalan untuk menuju ke sana. Allah mengetahui bahwa dengan mengandalkan kemampuan sendiri, kita tidak akan dapat menjadi kudus dan memiliki kasih sejati; oleh karena itu, Ia memberikan rahmat-Nya, melalui sakramen-sakramen, sebagai suatu tanda sederhana yang dapat kita rasakan melalui tubuh kita, namun menghasilkan efek luar biasa di dalam jiwa kita. Kita dibentuk oleh Allah untuk menjadi bagian dari DiriNya sendiri. DiberikanNya pada kita kehidupan IlahiNya, supaya kita dapat bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih. Oleh rahmat ini kita dapat menjalin persahabatan dengan Tuhan, dan sedikit demi sedikit, kita bertumbuh sebagai gambaran Allah sendiri.

Sakramen

Sakramen berasal dari kata ‘mysterion’ (Yunani), yang dijabarkan dengan kata ‘mysterium’ dan ’sacramentum’ (Latin). Sacramentum dipakai untuk menjelaskan tanda yang kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan yang disebut sebagai ‘mysterium‘. Kitab Suci menyampaikan dasar pengertian sakramen sebagai misteri/ ‘mysterium‘ kasih Allah, yang diterjemahkan sebagai “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad… tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya” (Kol 1: 26, Rom 16:25). Rahasia/ ‘misteri’ keselamatan ini tak lain dan tak bukan adalah Kristus (Kol 2:2; 4:3; Ef 3:3) yang hadir di tengah-tengah kita (Kol 1:27). Jadi sakramen-sakramen Gereja merupakan tanda yang kelihatan dari rahasia/ misteri Kristus -yang tak kelihatan- yang bekerja di dalam Gereja-Nya oleh kuasa Roh Kudus.[3] Betapa nyatanya ‘rahasia’ ini diungkapkan di dalam sakramen-sakramen Gereja, terutama di dalam Ekaristi (lihat artikel: Sudahkah kita pahami arti Ekaristi?)

Mengacu pada pengertian ini, maka Gereja sendiri adalah “Sakramen Keselamatan” yang menjadi tanda rahmat Allah dan sarana yang mempersatukan Allah dan manusia. (lihat artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan- Bagian 2).[4] Sebagaimana Yesus yang mengambil rupa manusia menjadi “Sakramen” dari Allah sendiri, maka Gereja sebagai Tubuh Kristus menjadi “Sakramen” Kristus. Artinya, di dalam Gereja, kuasa ilahi yang membawa kita kepada keselamatan bekerja melalui tanda yang kelihatan.[5]

Di dalam perannya sebagai “Sakramen Keselamatan” inilah, Gereja dipercaya oleh Kristus untuk membagikan rahmat Tuhan di dalam ketujuh sakramen. Jadi sakramen tidaklah hanya sebagai tanda atau lambang, tetapi juga sebagai pemenuhan makna dari tanda itu sendiri, yaitu rahmat pengudusan untuk keselamatan kita[6] sehingga Gereja mengajarkan bahwa dengan mengambil bagian di dalam sakramen, kita diselamatkan, karena melalui Kristus, kita dipersatukan dengan Allah sendiri.[7]

Ketujuh sakramen ini menjadi tanda akan sesuatu yang terjadi sekarang, sesuatu yang terjadi di masa lampau, dan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang.[8] Jadi semua sakramen tidak hanya membawa rahmat pengudusan (sekarang), namun juga menghadirkan Misteri Paska Kristus (lampau) yang menjadi sumber kekudusan, dan menjadi gambaran akan kebahagiaan surgawi sebagai akhir dari pengudusan kita (yang akan datang).[9] Dengan berpartisipasi di dalam sakramen inilah kita mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi yang tidak mengenal batas waktu; di dalam kehidupan Kristus yang mengatasi segala sesuatu.

Mengapa Tuhan mendirikan sakramen[10]

Alasan pertama yaitu karena keterbatasan pemikiran manusia yang memahami sesuatu menurut perantaraan benda-benda yang kelihatan. Keterbatasan manusia ini yang menyebabkan adanya “sunat” untuk menandai perjanjian Allah dengan umat Israel pada Perjanjian Lama, yang disempurnakan menjadi Pembaptisan di dalam Perjanjian Baru.

Kedua, karena pemikiran manusia selalu menginginkan tanda sebagai pemenuhan janji. Kita melihat dalam masa Perjanjian Lama bagaimana Allah memberikan tanda-tanda yang menyertai bangsa Israel sampai ke Tanah Terjanji. Hal yang sama diberikan di dalam Perjanjian Baru yang merupakan pemenuhan dari Perjanjian Lama.

Ketiga, sakramen menjadi sesuatu yang selalu ada sebagai ‘obat’ rohani demi kesembuhan jiwa dan raga. Hal ini dapat kita lihat pada saat Yesus menyembuhkan orang buta dengan ludahNya yang dicampur dengan tanah (Yoh 9:6). Yesus sendiri menggunakan ‘benda perantara’ untuk menyampaikan rahmat penyembuhan-Nya. Dengan menerima sakramen, kita seumpama wanita perdarahan yang disembuhkan dengan menyentuh jubah Yesus (Mrk 5:25-34).

Ke-empat, sakramen adalah tanda/ lambang yang menandai umat beriman.
Dan yang terakhir, sakramen merupakan perwujudan iman, “karena dengan hati orang percaya dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rom 10:10). Iman ini mendasari  kebajikan Ilahi yang lain yaitu pengharapan dan kasih, dan ketiga hal ini menghantarkan kita kepada kekudusan, yaitu hal yang diinginkan Allah pada kita. Melalui sakramen kita mengambil bagian dalam hidup Ilahi, sehingga di akhir hidup kita nanti, kita dapat sungguh bersatu dengan Tuhan dalam keabadian surga.

Ketujuh Sakramen Gereja

Mungkin ada orang bertanya, mengapa ada tujuh sakramen? Alasannya adalah karena terdapat hubungan yang erat antara kehidupan rohani dan jasmani.[11] Secara jasmani ada tujuh tahap penting kehidupan: kita lahir, tumbuh menjadi dewasa karena makan. Jika sakit kita berobat, dan di dalam hidup kita dapat memilih untuk tidak menikah atau menikah. Lalu setelah selesai menjalani hidup, kita meninggal dunia. Nah, sekarang mari kita lihat bagaimana sakramen menguduskan tahap-tahap tersebut di dalam kerohanian kita.

Kelahiran kita secara rohani ditandai dengan sakramen Pembaptisan, di mana kita dilahirkan kembali di dalam air dan Roh (Yoh 3:5), yaitu di dalam Kristus sendiri. Kita diteguhkan oleh Roh Kudus dan menjadi dewasa dalam iman melalui sakramen Penguatan (Kis 1:5). Kita bertumbuh karena mengambil bagian dalam sakramen Ekaristi yang menjadi santapan rohani (Yoh 6: 51-56). Jika rohani kita sakit, atau kita berdosa, kita dapat disembuhkan melalui pengakuan dosa dalam sakramen Tobat/ Pengakuan dosa, di mana melalui perantaraan iman-Nya Tuhan Yesus mengampuni kita (Yoh 20: 22-23). Lalu jika kita terpanggil untuk hidup selibat untuk Kerajaan Allah, Allah memberikan kuasa untuk melakukan tugas-tugas suci melalui penerimaan sakramen Tahbisan Suci/ Imamat (Mat 19:12). Sedangkan jika kita terpanggil untuk hidup berkeluarga, kita menerima sakramen Perkawinan (Mat 19:5-6). Akhirnya, pada saat kita sakit jasmani ataupun saat menjelang ajal, kita dapat menerima sakramen Pengurapan orang sakit, yang dapat membawa rahmat kesembuhan ataupun persiapan bagi kita untuk kembali ke pangkuan Allah Pencipta (Yak 5:14).

Siapa yang menciptakan Sakramen?

Allah melalui Kristus adalah Pencipta Sakramen.[12] Sakramen mengandung kuasa yang mencapai kedalaman jiwa seseorang, dan hanya Allah yang mampu melakukan hal itu. Jadi walaupun disampaikan oleh para imam, sakramen-sakramen Gereja tersebut merupakan karya Kristus. Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benedict XVI) menyatakan, dari sisi pandang imam sebagai penerus para rasul, sakramen berarti, “Aku memberikan apa yang tidak dapat kuberikan sendiri; aku melakukan apa yang bukan pekerjaanku sendiri… aku (hanyalah) membawakan sesuatu yang dipercayakan kepadaku.”[13]

Jadi Kristuslah yang oleh kuasa Roh Kudus bekerja melalui para imam-Nya di dalam sakramen-sakramen. Pada sakramen Pembaptisan, Kristus sendirilah yang membaptis,[14] demikian juga pada sakramen Pengakuan Dosa, Kristus sendiri yang mengampuni melalui imam-Nya, dan di dalam Ekaristi, Ia sendiri yang memberikan Tubuh dan DarahNya untuk menjadi santapan rohani kita, sehingga kita dipersatukan dengan-Nya dan dengan sesama umat beriman di dalam ikatan persaudaraan sejati.

Akibat utama yang dihasilkan oleh sakramen[15]

Pertama, adalah rahmat pengudusan. Rahmat ini merupakan pemenuhan janji Kristus yang dituliskan oleh Rasul Paulus, bahwa Kristus mengasihi Gereja-Nya dan menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, menyucikannya dengan air dan firman (Ef 5:26). Rahmat ini diberikan pada setiap orang untuk hidup bagi Tuhan, dan kepada Gereja secara keseluruhan untuk meningkatkan kasih dan misi pewartaan.[16]

Kedua, dengan menerima dan mengambil bagian di dalam sakramen, kita berpartisipasi di dalam kehidupan Yesus, dan melalui Yesus kita berpartisipasi di dalam kehidupan Allah Tritunggal Maha Kudus. Keikutsertaan kita dalam kehidupan Yesus, terutama dalam Misteri Paska ini mengantar kita kepada keselamatan kekal. Manusia melalui usahanya sendiri tidak dapat mencapai keselamatan, karena keselamatan pertama-tama karunia Allah (lih. Ef 2:5,8) yang kita terima melalui Yesus Kristus. Sebab oleh akibat dosa asal kita terpisah dari Tuhan, dan Kristus mempersatukan kita kembali dalam kehidupan-Nya melalui sakramen-sakramen. Melalui sakramen kita disatukan dengan Tuhan, dan diubah menjadi menyerupai Dia; tubuh kita yang fana menerima yang ilahi dan hati kita diisi oleh kebajikan-kebajikan yang berasal dari Allah sendiri, terutama dalam hal iman, pengharapan dan kasih.

Ketiga, ketiga sakramen yaitu Pembaptisan, Penguatan dan Tahbisan suci, memberikan ‘karakter’ yang terpatri di dalam jiwa seseorang yang menerima sakramen tersebut. Pembaptisan menjadikannya anak angkat Allah, Penguatan menjadikannya sebagai ’serdadu’ Kristus, dan Tahbisan suci menjadikannya imam yang diberi kuasa untuk menguduskan dan menerimakan sakramen-sakramen. Karena karakter khusus inilah, maka ketiga sakramen ini hanya dapat diterima satu kali saja.

Bagaimana agar kita menerima ‘buah’ yang berguna melalui sakramen

Pertama, kita harus mengetahui, menghargai dan menghormati rahmat ilahi yang diberikan melalui sakramen-sakramen ini. Lalu, karena kita mengetahui bahwa Allah sendiri yang memberikan rahmat-Nya, maka kita harus memperlakukan rahmat itu dengan hormat dan dengan semestinya, dan dengan sikap yang benar, terutama dalam sakramen Tobat dan Ekaristi, agar kita dapat menghasilkan buahnya.[17] Kita harus mempersiapkan diri dan berpartisipasi pada saat kita menerima sakramen-sakramen dalam perayaan liturgi Gereja (lihat artikel Apa yang perlu kuketahui tentang Liturgi).

Kita mengetahui bahwa Yesuslah yang memerintahkan pemberian sakramen-sakramen tersebut melalui ajaran-ajaranNya. Karena berasal dari Kristus, rahmat itu adalah karunia yang sempurna, yang diberikan oleh kuasa Roh Kudus, yang dapat menembus jiwa untuk mendatangkan kesembuhan rohani, dan mendatangkan keselamatan yang tak ternilai harganya.

Kesimpulan

Melihat dalamnya arti ’sakramen’ yang merupakan saluran rahmat Allah, dan tanda yang tak terpisahkan dari hakekat Gereja sebagai Tubuh Kristus, maka sudah selayaknya kita menghargai dan mempersiapkan diri seutuhnya untuk menerima sakramen-sakramen yang membawa kita kepada keselamatan. Mari kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan menerima cara Tuhan menyampaikan rahmat-Nya kepada kita, baik untuk jiwa maupun tubuh kita, untuk mendatangkan keselamatan dan ‘kesembuhan’ baik rohani maupun jasmani. Dengan demikian kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi yang dicurahkan kepada kita melalui Kristus.


[1] Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, , I, q. 1, a. 8, ad 2 (question 1, article 8, response to the second objection): “Since therefore grace does not destroy nature but perfects it, natural reason should minister to faith as the natural impulse of the will ministers to charity.”

[2] Lihat Katekismus Gereja Katolik 776.

[3] Lihat Katekismus Gereja Katolik 774.

[4] Lihat KGK 775, Lumen Gentium 1.

[5] Lihat Roman Catechism (Catechism of the Council of Trent 1565) Part II on the Sacraments, “The Word ‘Sacrament’”, par 4., “… a sign is called a Sacrament, because the divine power secretly operates our salvatiom under the veil of sensible things.”

[6] Lihat Roman Catechism Part II, Ibid., “Signs Instituted by God”, “God has appointed signs with power not only to signify, but also to accomplish what they signify. See also, “Kind of Sacred thing Meant Here”, “…the nature of a Sacrament,… is a sensible object which posseses, by divine institution, the power not only of signifying, but also of accomplishing holiness and righteousness.”

[7] Lihat KGK 1129.

[8] Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologica III, q. 60, art 3, dikutip dalam KGK 1130.

[9] Lihat Ibid., “All Sacraments Signify Something Present, Something Past, Something Future: all of them declare not only our sanctity and justification, but also… the Passion of Christ our Redeemer, which is the source of our sanctification, and also eternal life and heavenly bliss, which are the end of sanctification…They remind us of something past, they indicate and point out to something present; they foretell something future.”

[10] Disarikan dari Roman Catechism, “Why the Sacraments were Instituted

[11] Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, III, q. 65, a. 1, ad. 1, “For spiritual life has a certain conformity with the life of the body, just as other corporeal things have certain likeness to things spiritual.

[12] Lihat Roman Catechism, The Author of the Sacraments“, “God alone has power to enter into the hearts and minds of men, He alone, through Christ, is manifestly the author of the Sacraments.”

[13] Diterjemahkan dari Joseph Cardinal Ratzinger, Called to Communion, (Ignatius Press, San Francisco, 1991), p. 115

[14] Lihat KGK 1088.

[15] Disarikan dari Roman Catechism, “Effects of the Sacraments”

[16] Lihat KGK 1134.

[17] Lihat KGK 1131.


5 artikel/gambar terakhir di kategori Sakramen


5 artikel/gambar terakhir di kategori Semua Artikel

Tentang Penulis

author photo

Ingrid Listiati sedang menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat. Ingrid telah menyelesaikan 5 semester dari total 6 semester untuk menyelesaikan program studi ini.

Lihat Semua Artikel oleh Penulis Ini

Ada 5 Komentar Sampai Saat Ini. (klik ini untuk menulis pesan "TOPIK BARU")

  1. Yth. Sdr. Ingrid Listiati.
    Ada seorang imam beberapa bulan tidak kelihatan dan kabar terakhir imam tersebut melepaskan jubahnya/keluar dan menikah. Sebelum menikah imam tersebut memberikan sakramen-2. Pertanyaan saya :
    Jika seorang imam berada dalam keadaan dosa berat, dapatkah ia tetap mempersembahkan Misa dan memberikan pelayanan sakramen-sakramen? Apakah sakramen-sakramen yang ia rayakan tetap mendatangkan rahmat?

    Terima kasih atas pencerahannya.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal October 3rd, 2008 2:39 pm:

    Shalom Julius,
    Di dalam sakramen, kita percaya yang bertindak adalah Kristus, melalui imam, maka, nilai sakramen tidak berubah walaupun dipersembahkan oleh imam yang berdosa. Berikut ini saya sertakan kutipan dari St. Thomas Aquinas dalam Summa Theologica III, q.82, a.5 & a.6, mengenai efek sakramen Ekaristi yang dipersembahkan oleh imam yang jahat/ berdosa (Ajaran ini dapat diterapkan juga untuk melihat efek sakramen yang lain).

    • St. Thomas yang mengutip St. Agustinus, mengatakan, bahwa: "Di dalam Gereja Katolik, dalam misteri Tubuh dan Darah Tuhan Yesus, tidak ada yang lebih yang dilakukan oleh imam yang baik (kudus), tidak ada yang kurang jika dilakukan oleh imam yang jahat (tidak kudus), sebab bukan karena jasa imam maka rahmat sakramen itu diperoleh, tetapi karena kuasa perkataan Yesus sendiri (yang diucapkan oleh imam tersebut), dan karena kuasa Roh Kudus".
    • St. Thomas mengingatkan bahwa memang Kristus memiliki pelayan yang baik dan yang jahat (lih. Mat 24:45). Namun demikian, tidak berarti bahwa imam tidak perlu bertobat; malah sebaliknya, sebab seperti kata Paus Gelasius, …tidak seorangpun boleh menghampiri sakramen tersebut kecuali dengan hati nurani yang bersih.
    • Selanjutnya, St. Thomas mengatakan bahwa di dalam Misa terdapat dua hal, pertama hal sakramen dan hal doa. Dalam hal efek sakramen, tidak ada bedanya antara apakah dipersembahkan oleh pastor yang baik atau yang jahat/ berdosa. Namun dalam hal doa akan membawa efek yang berbeda. Sebab di dalam doa, imam itu menjalankan dua fungsi, pertama sebagai perantara yang mendoakan umat, dan sebagai wakil umat (Gereja). Nah dalam peran yang pertama sebagai perantara ini, maka imam yang baik (kudus) akan mendatangkan buah yang lebih limpah daripada imam yang berdosa, namun dari peran kedua, doa dari imam yang berdosapun tetap dapat berbuah, karena ia mewakili umat yang berdosa. Namun demikian, doa pribadi imam yang berdosa (tidak kudus) tersebut tidak menghasilkan buah, karena menurut Ams 28:9: "Siapa memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian."

    Selanjutnya, Kitab Hukum Kanonik Gereja can.916, menyatakan bahwa sebenarnya, imam yang berdosa berat dilarang mempersembahkan misa tanpa mengaku dosa sebelumnya, kecuali jika ada alasan yang sungguh dapat dipertanggungjawabkan, dan jika tidak ada kesempatan untuk mengaku dosa; dalam hal ini imam itu harus mengingat bahwa ia harus melakukan tindakan pertobatan, termasuk di dalamnya ketetapan hati untuk mengaku dosa secepat mungkin.

    Jadi, imampun harus mengaku dosa.

    Dalam kasus di atas, maka sakramen-sakramen yang dirayakan imam tersebut sebelum ia meninggalkan statusnya sebagai imam, tetap berlaku dan mendatangkan rahmat, sebab, sekali lagi, rahmat Kristus tersebut diberikan bukan atas jasa imam tersebut, tetapi atas kuasa Kristus sendiri dan kuasa Roh Kudus. Hal ini akan semakin membuat kita tunduk dan bersyukur, bahwa Tuhan selalu menepati janji-Nya, dan kuasa-Nya melebihi hambatan dari manusia (dalam hal ini imamNya).

    Namun, setelah imam tersebut melepaskan status imamnya karena menikah, ia tidak dapat lagi menjalankan tugasnya sebagai imam dan menerimakan sakramen-sakramen. Hal ini dituliskan di dalam Kitab Hukum Kanonik cann. 194, 292. Namun perlu juga diketahui, bahwa sekali diberikan, Sakramen Tahbisan Suci tidak pernah dapat dikatakan ‘invalid’/ tidak sah(can 290), sebab Tahbisan suci memberikan materai pada jiwa imam itu (seperti halnya Permandian dan Penguatan), maka sering kita mendengar istilah sekali imam tetap imam di mata Tuhan. Jika imam itu menikah, maka yang ditinggalkan adalah status-nya sebagai imam, namun meterai dalam jiwa imam tersebut tetap ada. Maka tak mengherankan, jika para imam yang meninggalkan status imam mereka, dapat merasakan kehilangan yang sulit untuk dilukiskan.

    Mari kita melihat kepada kasus di atas secara lebih rinci. Jika imam tersebut menikah diam-diam, sehingga tidak ada seorangpun yang tahu, dan tidak dapat tahu, maka jika antara waktu itu sampai surat resmi pencabutan ‘faculty’ imam tersebut oleh uskup setempat dikeluarkan, maka jika imam itu memberikan sakramen, misalnya pernikahan, dan pengakuan dosa, maka sakramen tersebut masih dapat dianggap sah. Hal ini disebutkan sebagai "Ecclesia supplet" dalam can. 144; yaitu Gereja memberikan kuasa eksekutif pada seseorang imam yang sesungguhnya telah kehilangan/ tidak memiliki kuasa tersebut pada keadaan yang terbatas. Namun perlu diingat bahwa kejadian ini sangatlah langka, (dan canon ini ada sesungguhnya untuk melindungi kepentingan umat) dan hanya berlaku jika tidak ada orang yang tahu dan tidak ada orang yang dapat tahu bahwa imam itu telah menikah. Jika ada satu orang saja yang tahu dari paroki/ komunitas, maka Ecclesia supplet tidak berlaku. Dengan demikian, umat yang menerima sakramen pernikahan itu misalnya, dapat meminta konfirmasi kepada pihak keuskupan untuk mengesahkan perkawinan tersebut, demikian pula yang mengaku dosa, dapat mengaku dosa kembali kepada imam yang lain, karena sakramen yang ia terima dari imam yang keluar tersebut tidak sah.

    Mari kita mendoakan para imam dalam doa pribadi kita setiap hari, agar Tuhan menjaga dan melindungi mereka, dan agar mereka dapat melaksanakan tugas panggilan hidup mereka dengan setia dan dengan suka cita; serta dapat menjadi teladan kekudusan buat kita semua.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Julius Santoso menjawab pada tanggal October 20th, 2008 2:35 am:

    Salom Ingrid Listiati.

    Trima kasih atas tambahan penjelasan yang lengkap dan mudah dicerna.
    Memang kita harus sering-sering mendoakan agar Tuhan tetap menjaga dan melindungi para imam agar tugas-tugas panggilan hidup dapat dilaksanakan dengan setia dan kudus. Tugas imam saat ini sangat berat, banyak sekali godaan-godaan dunia. Semuga para imam-imam muda tidak jatuh dalam godaan.

    Semoga Tuhan selalu menyertai tugas-tugas Ingrid Listiati.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  2. shalom…saya ingin minta nasihat,apa yg patut saya lakukan terhadap kawan saya dia berniat hendak convert agama lain…saya ingin menyelamatkan dia dari memasuki agama lain…apa yang patut saya lakukan…

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal September 22nd, 2008 11:00 am:

    Shalom Anna,

    Berikut ini adalah yang mungkin dapat Anna lakukan:

    1. Berdoalah terlebih dahulu, mohon kebijaksanaan dan pendampingan dari Tuhan sendiri agar Anna dapat sungguh menjadi sahabat, namun juga dapat menjadi ‘perpanjangan tangan Tuhan’ dalam menyatakan kasih dan kebenaran.
    2. Dengarkan masalahnya, kenapa sampai teman Anna mau pindah agama. Dan pindah agama-nya ke mana, masih dalam iman kepada Kristus (pindah gereja) atau meninggalkan iman Kristiani (pindah ke agama lain).
    3. Jika masalahnya adalah masalah ajaran agama, Anna dapat menyampaikan apa yang Anna ketahui, bahwa iman Katolik sesungguhnya sangat kaya, dan kita meyakini bahwa di dalam Gereja Katolik terdapat kepenuhan kebenaran yang sejati. Bagikanlah pengalaman Anna sendiri, bagaimana sampai Anna mengimani demikian. Atau, catatlah keberatan apa, atau pertanyaan iman dalam hal apa yang menjadikannya ingin meninggalkan iman Katolik. Pertanyaan ini dapat Anna tanyakan kepada Pastor, atau kepada http://www.katolisitas.org atau website katolik yang lain yang Anna percayai. Kalau Anna bertanya http://www. katolisitas.org, kami akan berusaha menjawabnya.
    4. Jika masalahnya masalah pergaulan, dan ingin bergabung dengan komunitas yang lebih ‘hangat’, maka, Anna dapat mengajaknya untuk bergabung di dalam komunitas Katolik, seperti kelompok mudika/ OMK, persekutuan doa, legio Maria, koor, atau kelompok lainnya untuk mendapatkan pergaulan yang baik bersama teman-teman seiman.
    5. Jika Anna mau lebih serius, doakanlah teman Anna itu secara khusus. Masukkan ujud doa Misa untuk mendoakan teman Anna tersebut, berdoalah rosario dengan ujud doa untuk teman itu, berpuasalah dengan ujud doa untuk dia selama hari-hari ini, saat dia dalam masa mau memutuskan pindah agama.Jika akhirnya teman Anna itu memutuskan tetap tinggal dalam iman Katolik, bersyukurlah dan pujilah Tuhan! Bersyukurlah bahwa Tuhan memakai Anna sebagai alat-Nya untuk merangkul dia dalam pangkuan Gereja Katolik.
    6. Jika pada akhirnya teman Anna tetap memutuskan untuk pindah agama, jangan Anna bersedih/ putus asa. Kita harus dengan lapang hati menerima hal itu. Karena kita dapat melakukan bagian kita, namun akhirnya, soal ‘mengubah hati’ itu hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Sering orang mengambil jalan panjang dan berputar untuk sampai kepada Dia, namun Tuhan tetap mengasihi mereka. Maka, kitapun juga harus berusaha mengasihi teman kita walaupun mereka tidak satu agama dengan kita. Yakinkan pada teman itu, jika sampai ada kesulitan di masa mendatang, Anna akan siap sedia membantu, dan penuhilah janji itu, jika saatnya datang. Sebab mungkin baru pada saat mendatang itu dia dapat melihat kebenaran pengajaran Gereja Katolik melalui kehadiran Anna sebagai sahabat yang sejati.

    Demikian saran yang dapat saya sampaikan. Selamat berjuang dalam menyampaikan kasih dan kebenaran Tuhan.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

Pesan atau Komentar baru