Belas kasihan Tuhan adalah Kabar Gembira utama!

  1. Belas kasihan Tuhan adalah Kabar Gembira utama!
    Allah mengasihi kita manusia sehingga Ia mengirimkan Yesus Putera-Nya untuk menghapus dosa-dosa kita agar kita memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).

  • Yesus, Allah yang menjadi manusia.
    “Tak ada seorangpun yang pernah melihat Allah, dan hanya Kristus yang ada di pangkuan Allah yang menyatakan Dia” (Yoh 1:18). Di dalam Kristus, Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan.

  • Siapa yang melihat Yesus, melihat Bapa (Yoh 14:9).

  • Siapa yang melihat Yesus, melihat gambaran dirinya sendiri.
    Salib Kristus menunjukkan pada kita bagaimana seharusnya kita hidup. Kita hidup untuk membagikan kasih kepada orang lain dan memberikan diri kita kepada orang lain. Hanya dengan kasih yang ‘berkurban’ seperti yang kita lihat dalam diri Kristus, kita akan menemukan arti hidup ini.

  • Belas kasihan Allah di dalam Perjanjian Lama: lebih besar dari keadilan.

  • Belas kasihan Allah di dalam Perjanjian Baru: “Anak yang hilang” (Luk 15: 11-32)

  • Belas kasihan Allah dialami melalui pertobatan.
    Pertobatan adalah pernyataan tentang rahmat kasih yang bekerja dan kehadiran belas kasihan Allah.

  • Belas kasihan Allah mencapai puncaknya dalam Misteri Paska Kristus.
    Salib dan kebangkitan Kritus menjadi bukti keadilan dan belas kasihan Tuhan yang mengalahkan akar dari segala kejahatan di dalam sejarah kehidupan manusia, yaitu dosa dan maut.

  • Misteri Kristus sebagai dasar misi Gereja.
    Karena berharganya manusia di mata Kristus, maka Gereja sebagai Tubuh Kristus membawa misi untuk memperhatikan martabat semua manusia.

  • Kesimpulan
    Belas kasihan Tuhan adalah Kabar Gembira utama yang harus kita wartakan. Setelah menerima belas kasihan dari Tuhan ini, kita selayaknya juga berbelas kasih pada orang lain, dan untuk seterusnya kita hidup dalam pertobatan yang terus menerus.

  • Allah mengasihi kita

    Mungkin kita pernah bertanya dalam hati, kira-kira topik apa yang dapat kita bagikan jika pertama kali kita ingin memperkenalkan iman kita kepada orang lain. Ya, tidak ada hal yang lebih utama dari pada ini: Allah mengasihi kita manusia sehingga Ia mengirimkan Yesus Putera-Nya untuk menghapus dosa-dosa kita agar kita memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Mungkin hal ini sudah sering kita dengar, tetapi baiklah kita meresapkannya kembali, sebab semakin kita menghayati pesan ini, semakin kita diubah oleh Tuhan sendiri menjadi orang-orang yang selalu bersyukur, dan bertumbuh di dalam iman dan kasih kepada Tuhan. Paus Yohanes Paulus II secara tegas menyampaikan pesan kasih Allah ini dalam surat ensiklikal yang berjudul “Penyelamat Manusia” (Redemptor Hominis[1]/RH) dan “Belas Kasihan Tuhan” (Dives in Misericordia /DM). Tulisan berikut ini adalah ulasan yang mengambil sumber utama dari kedua surat ensiklikal tersebut.

    Yesus, Allah yang menjadi manusia

    Allah yang Maha Besar bersemayam dalam terang yang tak terhampiri (1Tim 6:16). Kita dapat melihat kebesaran Allah itu lewat alam semesta dan segala ciptaanNya, namun semua itu tidak dapat menggambarkan dengan jelas tentang DiriNya.[2] “Tak ada seorangpun yang pernah melihat Allah”, kata Rasul Yohanes, “dan hanya Kristus yang ada di pangkuan Allah yang menyatakan Dia” (Yoh 1:18). Di dalam Kristus, Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan. Melalui perkataan dan perbuatan Kristus, dan terutama melalui kurban salib dan kebangkitan-Nya, kita melihat kasih Allah itu. “Tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya…” (Yoh 15:13). Kristus menggenapi perkataan-Nya ini dengan wafat-Nya di kayu salib. Salib Kristus menjadi tanda misteri kasih Allah yang tak terbatas. Di sana kita melihat kasih yang lebih besar dari segala dosa dan kelemahan; kasih yang lebih kuat daripada maut, kasih yang selalu siap mengampuni selalu siap merangkul anak-anak-Nya yang bertobat. Ya, kasih Allah ini menjelma menjadi manusia[3]; sehingga dalam sejarah manusia, pernyataan kasih Tuhan itu mengambil bentuk dan nama, yaitu, Yesus Kristus.[4]

    Siapa yang melihat Yesus, melihat Bapa

    Filipus, salah seorang dari kedua belas rasul pernah meminta pada Yesus untuk menunjukkan Allah Bapa kepada mereka. Rupanya tiga tahun hidup bersama Yesus, tidak membuatnya mengenali bahwa Yesus adalah gambaran Allah Bapa sendiri. Yesus menjawabnya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9).[5] Dan gambaran Allah Bapa yang dinyatakan oleh Yesus adalah Bapa yang penuh belas kasihan, yang mau menyelamatkan kita manusia. Misteri Keselamatan ini adalah cerminan kasih Ilahi dari Allah.[6]

    Siapa yang melihat Yesus, melihat gambaran dirinya sendiri

    Manusia tidak dapat hidup tanpa kasih.[7] Jika manusia tidak pernah mengalami kasih, dan tidak membuat kasih sebagai bagian dari hidupnya sendiri, ia tidak akan pernah mengalami kebahagiaan di dalam hidup. Itulah sebabnya, salib Kristus menunjukkan pada kita bagaimana seharusnya kita hidup. Kita hidup untuk membagikan kasih kepada orang lain dan memberikan diri kita kepada orang lain. Hanya dengan kasih yang ‘berkurban’ seperti yang kita lihat dalam diri Kristus, kita akan menemukan arti hidup ini.

    Dengan merenungkan pengorbanan Kristus di salib, dan membawa hidup kita -beserta semua pergumulan, kelemahan dan dosa-dosa kita- kehadirat-Nya, kita disadarkan akan kedalaman misteri kasih Allah itu. Kita akan menyembah Tuhan dengan kekaguman di dalam hati: betapa sungguh berharganya kita ini di mata Tuhan, sehingga Ia memberikan AnakNya sendiri untuk wafat bagi kita (Yoh 3:16).[8] Kristus menjadi pernyataan belas kasihan Allah yang sempurna, yang menyempurnakan belas kasih-Nya yang telah dinyatakan sejak penciptaan dunia.

    Belas kasihan Allah di dalam Perjanjian Lama

    Di Perjanjian Lama, kita telah melihat pengalaman akan belas kasihan Allah yang tak terputuskan, baik yang ditujukan kepada perorangan maupun kepada bangsa Israel. Bangsa Israel yang dipilih Allah sering tidak setia, mereka berkali-kali melanggar perjanjian dengan Allah. Namun jika mereka bertobat, Allah menerima mereka kembali. Belas kasihan di sini menunjuk pada kasih yang lebih besar daripada dosa dan ketidak-setiaan bangsa Israel.

    Di Perjanjian Lama kita melihat bagaimana penderitaan karena dosa membawa orang-orang Israel untuk memohon belas kasihan Tuhan. Belas kasihan Tuhan seolah-olah dipertentangkan dengan keadilan Tuhan yang tidak berkompromi dengan dosa. Padahal walaupun berbeda dengan keadilan, belas kasihan Tuhan tidak bertentangan dengan keadilan. Belas kasihan Allah lebih besar dari keadilan. Untuk memahami hal ini kita harus melihat kepada awal mula penciptaan, di mana Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk membentuk keluarga besar seluruh manusia yang berdasarkan kasih, yang tidak menginginkan segala yang jahat terhadap sesama.[9] Jadi keadilan yang dinyatakan Tuhan, adalah demi kasih-Nya kepada manusia.

    Belas kasihan Allah di dalam Perjanjian Baru

    Belas kasihan Allah digambarkan dengan sangat indah di dalam perumpamaan Anak yang hilang, pada Injil Lukas (Luk 15:11-32).[10] Dalam kisah ini, diceriterakan bahwa setelah menerima bagian kekayaan dari ayahnya, si anak bungsu menghambur-hamburkan harta itu, sampai akhirnya ia kehabisan segala miliknya, dan menjadi pekerja di kandang babi. Begitu kelaparannya si anak itu, sehingga ia sampai sangat ingin mengambil makanan babi itu, tetapi tak seorangpun memberikannya kepadanya. Dalam keterpurukannya ini, si anak bungsu itu terhenyak dan berpikir untuk kembali ke rumah bapanya. Melalui segala dosa dan kesalahannya, si bungsu merasakan kehilangan martabatnya sebagai anak bapa. Ia ingin kembali ke rumah bapanya dan bekerja sebagai orang upahan saja. Ia siap menanggung malu, karena menyadari bahwa ia tidak layak disebut ‘anak’ lagi. Si bungsu kemudian pulang ke rumah bapa, yang ternyata telah menunggunya sejak lama untuk menerimanya kembali. Alkitab menulis, “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia”. Ia bertobat, dan bapanya menyambutnya dengan gembira (Luk 15:20).

    Betapa besar belas kasihan bapa itu, yang mengalahkan batas-batas keadilan. Karena jika menurut keadilan, anak bungsu itu layak untuk menjadi orang upahan. Sedikit demi sedikit, ia akan dapat mengumpulkan uang, walaupun mungkin tak akan pernah sama dengan apa yang dulu telah diterimanya dari bapanya. Ini adalah ukuran keadilan, karena dia bukan hanya telah menghambur-hamburkan uang bapanya, tetapi juga telah melukai hati bapanya oleh karena perbuatannya. Namun lihatlah, betapa besar belas kasihan sang bapa. Ia setia sebagai seorang bapa; ia setia untuk selalu mengasihi anaknya. Kesetiaan ini ditunjukkan tidak hanya dengan kesediaannya mengampuni anaknya, tetapi juga karena ia mengampuni dengan suka cita. Sebab, anaknya yang telah ‘mati’, hidup kembali; hilang namun didapat kembali (Luk 15:32). Bapanya bersuka cita, sebab si bungsu dapat memperoleh martabatnya kembali sebagai ‘anak’-nya.[11] Inilah gambaran Bapa kita di Surga, yang dengan belas kasihNya selalu menanti kita kembali dari segala pelanggaran dan dosa kita, agar Ia dapat mengembalikan martabat kita sebagai anak-anak-Nya.

    Belas kasihan Allah dialami melalui pertobatan

    Perumpamaan ‘Anak yang hilang’ ini menggambarkan kenyataan yang sederhana dan mendalam tentang pertobatan. Pertobatan adalah pernyataan tentang rahmat kasih yang bekerja dan kehadiran belas kasihan Allah.[12] Belas kasih di sini tidak dimaksudkan untuk merendahkan si penerima tetapi untuk memberikan martabat yang layak kepadanya. Dalam kisah di atas, kenyataan belas kasih inilah yang disadari oleh si bungsu sehingga ia dapat melihat dirinya sendiri dan segala perbuatannya dalam terang kebenaran. Belas kasih inilah yang kemudian mengembalikan martabatnya sebagai ‘anak’ dan memperbolehkannya untuk kembali mengambil bagian dalam kehidupan bapanya.

    Dengan kadar yang berbeda, mungkin kita semua pernah mengalami sebagai ‘Anak yang hilang’ di dalam hidup kita. Pada saat kita terpuruk oleh berbagai masalah, misalnya sakit, masalah pekerjaan atau keuangan, masalah keluarga, kita menjadi sadar bahwa kita telah sekian lama meninggalkan Tuhan, terlalu disibukkan oleh urusan kita sendiri, atau kurang bergantung pada Tuhan. Kitapun mengalami pertobatan seperti di bungsu. Sepantasnya kita mengingat bahwa belas kasihan Allah-lah yang menggerakkan kita untuk berbalik kembali kepada-Nya, namun kita pun harus menjawab dorongan tersebut dengan kehendak kita sendiri. Semakin kita menyadari akan belas kasih Tuhan, semakin kita harus selalu mempunyai keinginan untuk selalu bertobat, yaitu ‘pulang’ rumah Bapa. Allah Bapa selalu menunggu; Ia siap mengampuni dan menerima kita kembali. Namun kita harus membuat keputusan: “Aku mau pulang. Ampunilah aku, ya Tuhan, sebab aku telah berdosa terhadap Engkau… ” Dan sungguh, belas kasihan Allah akan menyambut kita dan seluruh isi surga bersuka cita atas pertobatan kita.

    Belas kasihan Allah mencapai puncaknya dalam Misteri Paska Kristus

    Jadi belas kasihan Allah itu lebih besar dari pada dosa manusia. Belas kasihan mengalahkan segala yang jahat untuk mendatangkan kebaikan. Belas kasihan inilah yang dinyatakan oleh Yesus Kristus yang menyerahkan DiriNya untuk menyelamatkan kita melalui Misteri Paska yaitu wafat dan kebangkitan-Nya, yang menjadi puncak dari pernyataan belas kasih Tuhan. Melalui Misteri Paska ini, kita menerima belas kasihan Allah yang mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya, dan mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi-Nya.

    Misteri Paska ini diawali dengan sengsara Kristus yang menghantar-Nya ke bukit Golgota, tempat Ia disalibkan. Salib Kristus menjadi saksi akan begitu dasyatnya pengaruh kejahatan terhadap Putera Allah walaupun Ia tidak berdosa. Di atas kayu salib, Yesus menanggung akibat dosa kita, karena kasihNya kepada kita. Karenanya, salib Kritus menjadi bukti keadilan dan belas kasihan Tuhan yang mengalahkan akar dari segala kejahatan di dalam sejarah kehidupan manusia, yaitu dosa dan maut. Salib menjadi sentuhan kasih ilahi pada luka kehidupan manusia yang terdalam.[13] Pandanglah Salib itu, dan temukanlah bukti kasih Allah yang melampaui segalanya!

    Namun, Salib Kristus itu diikuti oleh kebangkitanNya. Di dalam kebangkitan-Nya, Kristus menyatakan belas kasihan Tuhan, justru karena Ia menerima Salib sebagai jalan untuk mencapai kebangkitan.[14] Karena itu, saat kita merenungkan salib Kristus, iman dan pengharapan kita tertuju pada Kristus yang bangkit. Kristus yang bangkit dari mati adalah bukti yang nyata bahwa kasih Allah mengalahkan maut. Kepada belas kasihan Bapa inilah kita menggantungkan harapan iman kita, bahwa jika kita setia menanggung salib kehidupan kita bersama Yesus, kitapun akan dibangkitkan bersama-sama dengan Dia (Rom 8:17). Karena itu, hidup kita hanya berarti jika kita mempersatukannya dengan kehidupan Yesus, sebab oleh-Nya kita menerima belas kasihan Tuhan yang tiada batasnya. Kita memang dapat senantiasa mempersatukan hidup kita dengan misteri kehidupan Yesus, yaitu pada saat kita berdoa, bekerja dan kapan saja, tetapi persatuan kita dengan Kristus yang paling nyata adalah di dalam Ekaristi. Sebab di dalam Ekaristi, oleh kuasa Roh Kudus, Misteri Paska Kristus ini dihadirkan kembali oleh Gereja dan kita memperoleh buah-buahnya (Lihat artikel tentang Sudahkah kita pahami pengertian Ekaristi?). Kristus yang telah mengalahkan maut membuat Misteri kehidupanNya tetap ‘hidup’ sampai sekarang, dan Ia tetap bekerja melalui Gereja-Nya sampai akhir jaman untuk mendatangkan keselamatan bagi kita manusia.

    Misteri Kristus sebagai dasar misi Gereja

    Karena Gereja adalah Tubuh Kristus, maka karya Gereja adalah karya Kristus. Apa yang menjadi titik perhatian Kristus, juga menjadi perhatian Gereja. Karena Kristus menaruh perhatian pada setiap orang maka Gereja-pun harus bersikap demikian. Kristus menjadi manusia, supaya Ia dapat mempersatukan diri-Nya dengan setiap orang.[15] Dengan demikian, manusia dapat melihat cerminan kehidupannya di dalam diri Yesus. Sebab dengan menjadi manusia, Yesus menjalani tahap-tahap kehidupan mulai dari bayi sampai dewasa, seperti kita manusia, hanya saja Ia tidak berdosa. Ia sengaja memilih tempat terendah saat menjalani kehidupanNya itu: dilahirkan di kandang hewan, hidup miskin sebagai tukang kayu, mengajar tanpa mengenal lelah, mengabarkan belas kasih Allah, yang digenapinya sendiri dengan sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Dengan menjadi manusia inilah, Yesus Sang Kehidupan merangkul setiap dari kita untuk mengambil bagian dalam kehidupan-Nya, terutama dalam misteri keselamatanNya, agar kita memperoleh kepenuhan hidup sebagai manusia.

    Karena berharganya manusia di mata Kristus, maka Gereja sebagai Tubuh Kristus membawa misi untuk memperhatikan martabat semua manusia. Konsili Vatikan II menggarisbawahi pentingnya Gereja membuat dunia menjadi semakin manusiawi.[16] Hal ini dicapai dengan mempraktekkan belas kasihan dan pengampunan. Kasih dan pengampunan ini harus nyata diberikan, pertama-tama kepada orang-orang yang terdekat dengan kita; antara suami dan istri, orang tua dan anak, antara sahabat, dan hal ini harus diajarkan di dalam pendidikan dan pelayanan Gereja. Dari sini belas kasih Tuhan kemudian diteruskan ke dalam lingkungan masyarakat. Dengan mengampuni, maka kita menjadi saksi hidup akan belas kasih yang lebih kuat daripada dosa.[17] Belas kasihan yang kita terima dari Tuhan hendaknya menjadi sumber pertobatan kita yang terus menerus, agar kita selalu hidup dalam persekutuan dengan Tuhan.[18] Mari kita memohon belas kasihan Tuhan, dan agar setelah menerima belas kasihan-Nya, kitapun dapat meneruskan belas kasih itu kepada semua orang, terutama mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Dengan demikian, kita sebagai anggota-anggota Gereja memperoleh kehidupan sejati, yaitu pada saat kita mengakui dan mewartakan belas kasih, dan pada saat kita membawa semua orang kepada Sang Sumber Belas Kasih, yaitu Kristus Penyelamat kita.[19]

    Kesimpulan

    Belas kasihan Tuhan adalah Kabar Gembira utama yang harus kita wartakan. Belas kasih Tuhan yang sempurna kita lihat dalam diri Kristus. Melalui salib dan kebangkitan Kristus (Misteri Paska), kita melihat belas kasihan Allah yang mengalahkan dosa dan maut. Kita menerima kembali belas kasih ini setiap kali kita mengambil bagian di dalam perayaan Ekaristi. Setelah menerima belas kasihan dari Tuhan, kita selayaknya juga berbelas kasih pada orang lain, dan untuk seterusnya kita hidup dalam pertobatan yang terus menerus. Dengan demikian kita menjadi saksi hidup akan belas kasih Tuhan.

    Bapa Surgawi, terima kasih atas belas kasih-Mu yang kami terima melalui Yesus Putera-Mu. Bantulah kami agar mampu menjadi pembawa belas kasih-Mu kepada sesama kami. Amin.”


    [1] Redemptor Hominis adalah Surat Ensiklikal pertama yang ditulisnya setelah Paus Yohanes Paulus II dipilih menjadi Paus pada tahun 1978.

    [2] Dives in Misericordia (DM 2).

    [3] Ibid.

    [4] Redemptor Hominis (RH 9).

    [5] Dives in Misericordia (DM 1).

    [6] RH 9, Paus Yohanes Paulus II menyebutkan hal ini sebagai the Divine dimension of the Mystery of Redemption.

    [7] RH 10

    [8] Ibid., Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa pengurbanan Kristus menunjukkan bahwa hakekat dan tujuan manusia diciptakan adalah untuk membagikan kasih. Ini disebut sebagai the human dimension of the Mystery of Redemption.

    [9] DM 4.

    [10] Lihat DM 5

    [11] Lihat DM 6

    [12] Ibid.

    [13] Lihat DM 8.

    [14] Ibid.

    [15] RH 13

    [16] Lihat Gaudium et Spes, Dokumen Vatikan II tentang Peran Gereja di dalam Dunia Modern, 40

    [17] Lihat DM 14.

    [18] Lihat DM 13.

    [19] Ibid.

    Ditulis oleh Ingrid Listiati pada 01 07 08 Disimpan dalam Spiritualitas. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

    Menginggalkan pesan

    MENDUKUNG KATOLISITAS.ORG

    Kalau anda ingin mendukung karya kerasulan ini secara finansial, silakan menghubungi: donation[at]katolisitas.org atau melalui Paypal / Credit Card di bawah ini. Karya kerasulan ini dapat terus berlangsung karena rahmat Tuhan dan juga dukungan dari semuanya. Tuhan memberikati.

    TRANSLATE FROM INDONESIAN TO:

    KOMENTAR TERAKHIR

    • Mohon mendapat pasangan hidup yang seiman & mau menerima saya dgn ... »»
    • terimakasih romo Wanta atas pencerahan n nasehatnya. Tuhan memberkati »»
    • Shalom Alex,1. Yoh 17:20-21Ya benar, di sini disebutkan bahwa Yesus me... »»
    • Shalom Antonius dan Herman Jay,Terima kasih atas tanggapannya. Memang ... »»
    • Shalom Jon,Memang benar, anak- anak memerlukan pendampingan orang tua ... »»
    • Shalom Fxe,Terima kasih atas tanggapannya. Secara prinsip kita berdua ... »»
    • Shalom bpk Herman Jay,Terima kasih respon cepat sekali. Karena sedang ... »»
    • Shalom Rini,Jika anda membaca kembali artikel di atas, anda mengetahui... »»
    • Trimakasih Katolisitas..jawaban2 yang diberikan Gereja Katolik sungguh... »»
    • Shalom Jaya,Terima kasih atas pertanyaannya tentang tanda salib dengan... »»
    • Shalom Catherine Tan,Terima kasih atas pertanyannya tentang persiapan ... »»
    • I like this website..Ia memberikan saya banyak informasi..May God bles... »»
    • Jika Bapak tinggal di Jakarta, sebaiknya Bapak menghubungi Romo Mardi ... »»
    • Saya mau bertanya,apa makna tanda salib dengan air suci?berikut sumber... »»
    • terima kasih telah menjawab pertanyaan saya, namun saya blm memahami a... »»

    © Copyright katolisitas - 2008 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja.

    Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

    Renungan dan doa diterjemahkan dari: Every Day Is a Gift by Frederick Schroeder, CBPC, 1984.

     

    Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, Hari dimana Gereja memperingati  Bunda Maria mengunjungi Elizabeth

    Romo pembimbing: Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ.  |  Ahli Hukum Gereja dan Perkawinan: RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. |  Ahli Sakramen dan Liturgi: Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD
    Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. |  Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min., Th.M.
    Penulis tetap: Romo Bernardus Boli Ujan SVD  |  Romo Wanta, Pr  |  Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
    Penanggung jawab situs: Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.