Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 3)

Pendahuluan:

Tulisan ini adalah bagian ke 3 dari topik “Apakah berdoa itu percuma?” Kesalahan doa yang ketiga adalah memaksakan kehendak kita kepada Tuhan sampai ingin merubah Tuhan untuk mengikuti keinginan kita. Pendapat ini keliru, karena Tuhan adalah Maha tahu dan Maha sempurna, sehingga Tuhan tidak dapat berubah.

Pembahasan lengkap dari topik doa dibagi menjadi empat bagian:

Kesalahan persepsi doa (bagian 1): “Tuhan tidak campur tangan dalam kejadian di dunia ini.”

Kesalahan persepsi doa (bagian 2): “Semua sudah diatur dan ditakdirkan Tuhan, sehingga berdoa tidak mengubah apapun.”

Kesalahan persepsi doa (bagian 3): “Berdoa dapat mengubah keputusan Tuhan.”

Kesimpulan: Kenapa kita harus berdoa?

Mengapa kita berdoa?

Doa sudah menjadi bagian hakiki dari kehidupan semua orang dari semua agama, karena manusia diciptakan dengan kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Penciptanya.[1] Dalam tulisan pertama telah dibahas kesalahan persepsi doa, yaitu: Tuhan tidak campur tangan dalam kejadiaan di dunia ini. Dalam tulisan ke-2, kita telah melihat kesalahan pendapat yang mengatakan semuanya sudah diatur dan ditakdirkan oleh Tuhan, sehingga tidak perlu lagi berdoa. Dengan pembuktian yang sama dari St. Thomas Aquinas, kita akan menelusuri kesalahan persepsi kita tentang doa yang ke-3. [2]

Kesalahan 3: Berdoa dapat merubah keputusan Tuhan dan Alkitab sendiri mengajarkan bahwa doa manusia dapat merubah keputusan Tuhan.

Dalam hidup sehari-hari, kita sering mendengar pendapat bahwa berdoa sangatlah penting, karena kita dapat memenangkan hati Tuhan dan mengubah keputusan-Nya. Kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh, sehingga Tuhan berbelas kasih kepada kita dan kemudian mengubah keputusan-Nya sesuai dengan kemauan kita. Bahkan jika kita berdoa dalam nama Yesus, apa yang kita minta pasti akan dikabulkan.

Perjanjian Lama mencatat cerita tentang nabi Nuh, di mana Tuhan menyesal bahwa Dia telah menciptakan manusia (Gen 6:5-6). Lalu Abraham, berdoa bagi orang-orang di Sodom dan Gomorah, seolah-olah bernegosiasi dengan Tuhan (Gen 18:23-33). Musa berdoa dengan sungguh-sungguh bagi kaum Israel, sehingga kemarahan Tuhan tidak terjadi (Kel 32:7-14). Bukankah semua itu adalah tanda bahwa keputusan Tuhan dapat berubah?

Di Perjanjian Baru, Yesus sendiri mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Mat 7:7-8). Kemudian, Yesus juga mengatakan bahwa apa saja yang kita minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, maka kita akan menerimanya (lih. Mat 21:22). Dan kembali Yesus menegaskan “apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mar 11:24). Ayat- ayat ini sepertinya mengatakan bahwa Yesus akan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita.

Tuhan tidak berubah

Mari kita meneliti lebih jauh tentang pendapat ini. Pertama, apakah benar bahwa kita dapat mengubah keputusan Tuhan? Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha Tahu, Maha Sempurna, maka konsekuensi logis dari pernyataan ini adalah “Tuhan tidak mungkin berubah“. Berubah adalah suatu pernyataan yamg mempunyai implikasi perubahan dari sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik atau sebaliknya. Padahal di dalam Tuhan tidak ada perubahan (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?). Karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka sebelum dunia ini diciptakan Dia telah mengetahui secara persis apa yang terjadi, juga keinginan dan permohonan doa kita. Dan di dalam kebijaksanaan dan kasih-Nya, Dia tahu secara persis apa yang terbaik buat kita. Jadi kalau kita mengatakan Tuhan dapat berubah karena doa kita, kita sebetulnya kita membuat kontradiksi tentang hakekat Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Sempurna, seolah-olah kita “lebih tahu” apa yang terbaik buat kita daripada Tuhan. Hal ini tentu tidak mungkin.

Pengajaran bahwa “Tuhan tidak mungkin berubah dalam hal pengabulan doa” ini termasuk sulit diterima, karena sering tanpa sengaja kita berpikir bahwa proses pengabulan doa oleh Tuhan itu adalah proses yang linier. Kita memohon tentang hal A, lalu Tuhan dapat mengabulkan atau tidak, yang baru Tuhan putuskan pada saat/ setelah kita memohon. Padahal tidaklah demikian. Tuhan sudah terlebih dahulu mengetahui segala kemungkinan yang akan terjadi, sebagai hasil dari pilihan kehendak bebas kita, pada saat awal mula dunia. Pada saat kita memohon A, Dia sudah mengetahui bahwa Ia akan menjawab dengan B, atau kalau kita memutuskan untuk tidak berdoa, dan berbuat X, Dia sudah tahu akan memberi Y. Dalam hal ini, B selalu lebih baik daripada A, dan Y adalah konsekuensi dari X. Nah, kalau kita bertanya akankah B diberikan kalau kita tidak berdoa, jawabnya adalah tidak (yang diberi adalah Y). Makanya kita perlu berdoa. Dalam hal ini Tuhan tidak berubah, karena dengan sifatNya yang Maha Tahu, Tuhan telah mengetahui segalanya. Nothing takes God by surprise. Tidak ada sesuatu hal yang mengejutkan Tuhan, sehingga Ia perlu berubah. Ia sudah mengetahui segalanya dan segala sesuatu telah direncanakan-Nya dengan sempurna.

Sekarang kita melihat contoh kejadian di Perjanjian Lama. Perkataan “Tuhan menyesal” dalam kisah nabi Nuh adalah suatu perkataan yang mencoba mengekpresikan Tuhan dari sisi manusia. Tuhan tidak berubah dan menyesal, karena Dia adalah Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Semua keputusan-Nya berdasarkan kebijaksanaan dan Kasih-Nya untuk keselamatan umat manusia.

Bagaimana dengan Abraham dan Musa yang seolah-olah bernegosiasi dengan Tuhan? Dalam hal ini, kita harus memegang teguh prinsip bahwa Tuhan tidak mungkin berubah, yang artinya tidak memungkinkan adanya negosiasi. Abraham dan Musa adalah merupakan gambaran/prefigurement dari diri Yesus. Kita juga melihat bagaimana Kitab Suci menggambarkan kedekatan mereka dengan Tuhan. Mereka tidak memikirkan kepentingan pribadi. Dalam pemikiran Abraham dan Musa, membantu manusia menuju Tanah Terjanji dan memberikan kemuliaan kepada Tuhan adalah yang paling penting dalam hidup mereka. Dan ini adalah sama dengan pemikiran Tuhan. Ini hanya mungkin dicapai pada orang-orang dengan derajat kasih yang begitu tinggi (dalam kadar “heroic love“).[3] Jadi terkabulnya doa bukan berarti mereka dapat merubah keputusan Tuhan, namun karena 1) mereka diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan, yang pada akhirnya dipenuhi secara sempurna dalam diri Yesus Kristus,[4] 2) kedekatan mereka dengan Tuhan, sehingga apa yang mereka pikirkan dan doakan adalah sesuai dengan keinginan Tuhan.[5]

Tuhan mengubah kita melalui doa.

Memang keputusan Tuhan tidak dapat berubah, karena Dia Maha Tahu dan Maha Sempurna. Namun Tuhan menginginkan kita mengikuti jejak Abraham dan Musa, agar kita turut berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan, salah satunya yaitu dengan berdoa. Jadi, kita berdoa bukan untuk mengubah keputusan Tuhan – karena itu tidak mungkin – namun mempersiapkan sikap hati kita untuk menerima apa yang kita minta dalam doa[6] atau mengubah sikap hati kita jika doa kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Di dalam kebijaksanaan dan kasihNya, Tuhan telah melihat bahwa kita akan menerima suatu jawaban doa lewat doa-doa yang kita panjatkan. Jadi di dalam kasus Abraham dan Musa, sebelum terbentuknya dunia ini, Tuhan sudah melihat bahwa Abraham dan Musa akan berpartisipasi dalam karya keselamatan bangsa Israel, dan doa mereka dikabulkan oleh-Nya lewat doa-doa mereka yang mengalir dari kasih.

Hal lain yang penting adalah, dengan bertekun dalam doa, kita tidak mengubah Tuhan, namun kita diubah oleh Tuhan. Kita melihat contoh dari Rasul Paulus, ketika dia berdoa agar Tuhan “mengambil duri di dalam dagingnya[7], namun doanya tidak dijawab Tuhan menurut kehendak St. Paulus (2 Kor 12:7-10). Namun dengan kejadian ini, Rasul Paulus mendapatkan sesuatu yang lebih baik, bahwa dia menjadi rendah hati dan tidak bermegah dengan berkat-berkat yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Bahkan Rasul Paulus dapat menerima dengan senang dan rela menghadapi segala kesulitan, siksaan, tantangan untuk kemuliaan nama Tuhan. Dari sini, kita melihat Rasul Paulus diubah oleh Tuhan, untuk menerima kehendakNya seperti yang difirmankan-Nya,”… sebab dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

Tapi Yesus menyuruh untuk meminta, mencari, mengetok, dan apa saja yang kamu minta akan diberikan.

Mari sekarang kita menelaah perkataan Yesus dalam Mat 21:22 dan Mar 11:24. Yesus mengatakan bahwa kalau kita mendoakan dengan penuh kepercayaan bahwa kita telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepada kita. Kalau kita membaca dengan seksama, kita harus melihat bahwa kunci dari ayat ini adalah “iman” (Mat 21:21; Mar 11:22). Iman yang ditekankan di sini adalah iman yang hidup. Iman yang bukan cuma slogan, hanya dimulut, namun tanpa perbuatan (Yak 2:26). Iman seperti ini adalah iman dan percaya yang dicontohkan oleh Abraham dan Musa. Iman yang menempatkan kebenaran Tuhan lebih tinggi daripada kepentingan sendiri.[8] Iman seperti inilah yang membuat doa menjadi selaras dengan apa yang dipikirkan dan diinginkan oleh Tuhan. Dengan kata lain, karena sesuai dengan kehendak Tuhan, maka doa yang mengalir dari iman seperti ini akan dikabulkan oleh Tuhan. Iman seperti ini hanya meminta sesuatu yang berguna untuk keselamatan kekal, permohonan yang baik untuk menuju ke kehidupan kekal. Ini juga bisa berarti sesuatu yang sifatnya sementara sejauh ini mendukung kita menuju tujuan akhir.

Namun bukankah Yesus sendiri juga mengatakan bahwa setiap orang yang meminta, mencari, dan mengetok akan dipenuhi permintaannya? (Mat 7:7-8). Ayat inilah yang sering dipakai untuk menekankan bahwa doa yang sungguh-sungguh dan terus-menerus dapat merubah keputusan Tuhan. Namun, apakah kalau doa tidak sesuai dengan kehendak Tuhan maka akan dikabulkan? Bagaimana kita tahu bahwa doa kita sesuai dengan kehendak Tuhan? Kalau kita perhatikan, Yesus tidak berkata kalau kamu minta A, maka kamu akan mendapatkan A. Berdasarkan kasih dan kebijaksanaan-Nya, kadangkala Tuhan memberikan sesuatu yang sama sekali lain dari yang kita minta. Dia tahu yang terbaik buat kita melebihi pengetahuan dan kasih kita akan diri kita sendiri. Jadi, kalau dalam beberapa hal Tuhan tidak mengabulkan doa kita, hal ini disebabkan karena Tuhan mengasihi kita. (pembahasan lengkap tentang ayat ini dapat dilihat di: Apakah Berdoa itu Percuma – bagian 4).

Kita sering melihat atau mendengar cerita bahwa suatu keluarga berdoa sungguh-sungguh untuk kesembuhan anggota keluarga mereka, namun yang terjadi adalah bertolak belakang dengan apa yang diminta dalam doa. Masih teringat di hati umat Katolik seluruh dunia, ketika Paus Yohanes Paulus II terbaring sakit menjelang ajalnya dan semua orang mendoakan Paus yang kita kasihi. Namun doa seluruh umat beriman tidak mengubah keputusan Tuhan. Mungkin ribuan atau jutaan perayaan ekaristi dirayakan dengan intensi doa untuk kesembuhan Paus, namun tidak dapat mengubah keputusan Tuhan. Mungkin ratusan juta umat Katolik – termasuk dari umat Katolik yang benar-benar hidup kudus – berdoa secara pribadi untuk kesembuhan Paus, namun Paus tetap dipanggil Tuhan.Tuhan, di dalam kebijaksanaan-Nya tetap memanggil hamba-Nya yang setia. Bukan karena Dia tidak mendengar doa kita, tapi karena Dia tahu yang paling baik untuk kita dan juga untuk Gereja-Nya.

Namun melalui peristiwa tersebut, begitu banyak orang di dunia ini, termasuk yang tidak mengenal Kristus, yang tidak percaya akan Gereja Katolik sebagai Gereja Kristus, anak-anak muda yang tadinya suam-suam kuku terhadap iman Katolik mereka, tergugah oleh kejadian tersebut. Dan misa pemakamannya menjadi acara pemakaman paling besar dalam sejarah umat manusia. Paus Yohanes Paulus II dalam kematiannya melakukan karya pewartaan yang menjangkau banyak orang, mungkin lebih banyak daripada semasa dia hidup. Dan nama Tuhan dipermuliakan. Dari contoh tersebut, bukan kita yang mengubah Tuhan melalui doa kita, namun kita yang diubah oleh Tuhan untuk kebaikan kita.

Kalaupun doa kita dikabulkan, bukan berarti bahwa kita berhasil untuk mengubah Tuhan, namun sebelum terjadinya dunia ini, dalam kebijaksanaan-Nya dan kasih-Nya, Tuhan sudah melihat adalah baik untuk keselamatan kita dan orang-orang di sekitar kita untuk mengabulkan doa kita. Jadi, janganlah beranggapan bahwa jika ada doa dikabulkan itu disebabkan karena ‘melulu’ permohonan kita. Sebab sesungguhNya pengabulan doa adalah sepenuhnya kehendak Tuhan. Dengan demikian, tidak ada yang dapat dibanggakan dari diri kita. Kita ‘hanya’ patut bersyukur bahwa Tuhan memberi kesempatan pada kita untuk turut mendatangkan kebaikan kepada kita dan sesama melalui doa-doa kita. Maka sikap yang terbaik adalah seperti Bunda Maria, “Terjadilah padaku seturut perkataanMu, ya Tuhan” (Luk 1:38). Mari di dalam keterbatasan kita, kita percayakan doa-doa kita kepada Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan lebih bijaksana untuk memutuskan apakah doa kita baik untuk keselamatan jiwa kita. Mari kita juga berpartisipasi dalam karya keselamatan Tuhan melalui doa dan perbuatan yang mengalir dari kasih kita kepada Tuhan, untuk mendatangkan kebaikan buat diri kita dan semua orang.

Marilah kita berdoa.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Ya, Tuhan, kembali aku menghadap-Mu, mengakui bahwa Engkau Maha Tahu dan Maha Sempurna. Dalam keterbatasanku, berilah aku kepercayaan kepada-Mu, bahwa segala yang Engkau putuskan adalah demi kebaikanku. Jangan biarkan aku memaksakan kehendakku, ya Bapa, melainkan biarlah kehendak-Mu saja yang terjadi dalam kehidupanku sebab aku percaya, itulah yang terbaik bagiku. Dalam nama Yesus, aku naikkan doa ini.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.


[1] Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 31, 356, 1721, 2002.

[2] St. Thomas Aquinas, The Summa Theologica of St. Thomas Aquinas (Christian Classics, 1981), II-II, q.83, a.2.

[3] Reginald Garrigou-Lagrange, Christian Perfection and Contemplation: According to St. Thomas Aquinas and St. John of the Cross (Tan Books & Publishers, 2004), p.147 Lagrange membagi derajat kasih menjadi tiga, dimana terdiri dari: 1) Pemula (beginners) adalah mereka yang usahanya berfokus pada perjuangan untuk melawan dosa, 2) tahap pencerahan (Illuminative way), dimana mereka membuat kemajuan di dalam kebajikan dalam terang iman dan kontemplasi. 3) Tahap sempurna (unitive way/ heroic love), dimana mereka hidup dengan persatuan kasih yang begitu erat dengan Tuhan.

[4] KGK, 2574.

[5] Ibid., 2577.

[6] Aquinas, ST, ST, II-II, q.83, a.2 – St. Thomas mengutip St. Gregory “By asking, men may deserve to receive that almighty God from all eternity is disposed to give.”

[7] Orchard, A Catholic Commentary on Holy Scripture (Thomas Nelson & Sons, 1953), p.1110. Dijelaskan bahwa duri di dalam daging dapat berarti tubuh atau juga pikiran, yang menjadi bagian dari manusia. Pengarang disini mencoba membuka arti yang luas dari duri di dalam daging, baik tubuh secara jasmani, atau juga dapat berarti keinginan untuk berbuat dosa (concupiscence).

[8] KGK, 150.

Ditulis oleh Stefanus Tay pada 27 06 08 Disimpan dalam Fundamental Teologi, Spiritualitas. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

8 komentar untuk “Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 3)”

  1. 3
    Alexander Pontoh says:

    jadi… doa seperti novena tiga salam maria yang untuk permohonan pun sebenarnya… tidak mungkin mengubah Tuhan ya?
    jadi doa novena tiga salam maria adalah untuk mengubah diri kita agar mau menerima kehendak Tuhan?
    kenapa ada doa novena tiga salam maria yang untuk permohonan?
    Novena Tiga Salam Maria (http://www.gerejakatolik.net/devosi/ntsm.htm)
    kemudian…. lima belas doa ini… (http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Doa&table=issi&id=1058) apakah benar di”restu’i oleh vatican?

    • 3.1

      Shalom Alexander Pontoh,

      Terima kasih atas komentar dan pertanyaannya. Memang doa tidak dapat merubah Tuhan, karena tidak ada perubahan di dalam Tuhan. Kalau demikian mengapa kita berdoa? Salah satu jawaban adalah sepanjang segala abad, Tuhan telah melihat bahwa Dia akan memberikan kepada kita apa yang kita minta dalam doa. Dan dengan doa, disposisi hati kita diubah, sehingga kita dapat mengikuti kehendak Tuhan, sehingga kehendak kita dapat sejalan dengan Tuhan. Jadi, kalau doa kita dikabulkan melalui doa Novena, maka dari sepanjang abad, Tuhan telah melihat bahwa Dia akan mengabulkan doa kita, yang dipanjatkan melalui doa Novena. Karena kita melihat segala sesuatunya dari sisi kita, dan kita tidak dapat melihat semua rencana Tuhan dari sisi Tuhan, maka berdoa tetaplah sesuatu yang berguna dan harus kita lakukan.

      Tentang doa seperti yang diberikan di link, juga termasuk doa rosario adalah tradisi (dalam huruf kecil), dimana orang yang tidak melakukannya tidak membuat seseorang dipandang tidak taat pada Gereja. Namun kebiasaan untuk berdoa secara terus menerus, seperti yang terlihat dari beberapa devosi, termasuk doa rosario, devosi kerahiman Ilahi, dll. adalah baik, karena akan membantu kita untuk masuk dalam misteri paskah Kristus secara lebih dalam. Seperti contoh doa dari St. Birgitta of Sweden, kalau dijalankan dengan sungguh-sungguh, dimana setiap hari seseorang merenungkan penderitaan Kristus, maka tidaklah heran kalau orang tersebut mempunyai kedekatan dengan Yesus, yang akan menuntunnya kepada keselamatan. Namun, doa ini adalah “private revelation” (wahyu pribadi), dimana umat beriman tidak terikat untuk mengikutinya. Yang terpenting doa harus mengalir dengan dasar iman, pengharapan dan kasih. Dan sekali lagi, tidak ada doa apapun, termasuk dari Santa-Santo yang dapat menggantikan Sakramen Ekaristi, karena dalam Sakramen Ekaristi, misteri Paskah itu sendiri dihadirkan kembali. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  2. 2
    georgius says:

    Syallom….
    Dari uraian Bapak Stef dan Bapak Gamaliel sungguh saya semakin kaya pemahaman, terus terang saya adalah orang awam. dan mencoba menjalani hidup ini dengan pemikiran yang sederhana….
    Sedikit perspektif dari diri saya, saya memberanikan diri untuk ikut menuangkan pemikiran saya..

    Jika salah, mohon bimbingannya :
    1. Jika kita ingin mengikuti Yesus, konsekuensinya kita siap untuk memanggul salib…
    Menurut pemahaman sederhana saya, bahwa dengan mengikuti Yesus, maka kita tidak akan luput dari masalah.. atau dengan mengikuti Yesus bukan berarti bebas dari masalah.. ( dg adanya masalah menjadikan diri kita semakin dewasa dan bijaksana).

    2. Ketuklah pintu maka akan dibukakan, mintalah….. dst.
    Menurut pemahaman sederhana saya, dengan adanya masalah yang kita tanggung ( no 1 diatas) Tuhan tidak tinggal diam, Tuhan membuka diri terhadap kita, Tuhan memberikan janjiNya untuk menolong kita (tentunya lewat DOA kita) menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi.

    3. Tuhan adalah MAHA TAHU, MAHA BAIK, MAHA BIJAKSANA, MAHA KASIH… dsb…
    apa hubungannya dengan no 1 dan no 2 ?????
    Menurut pemahaman sederhana saya… Hidup kita ini merupakan TAKDIR…. !!!!! ????
    YA !!!! dengan pemahaman tentang takdir adalah sebagai berikut :
    Kehidupan tiap manusia sudah di gariskan layaknya langkah2 dalam permainan CATUR.. artinya ada banyak pilihan untuk melangkah, dan masing2 pilihan (kehendak bebas) ada konsekuensinya… dimana GOALnya adalah menang (SELAMAT), agar pilihan langkah saya benar… lewat DOA saya mengetuk, meminta agar Tuhan membantu untuk memilih langkah yang tepat…
    Bagaimana jika kita tidak “MEMINTA” ke Tuhan (lewat doa tentunya) konsekunsinya kita bisa salah langkah… akan tetapi masih ada langkah2 berikutnya untuk kembali ke jalan yang benar… (jika kita kembali meminta bantuan Tuhan)…

    PERLU DIINGAT :
    1. Jika kita tidak/jarang melibatkan Tuhan, kita bisa KALAH atau langkah akan berbelit-belit…
    Pertanyaannya : apakah waktu kita cukup untuk bisa sampai selesai???
    2. Tiap kali kita melangkah… kita akan dihadapkan dengan banyaknya variasi untuk melangkah berikutnya.
    Pilihannya tidak hanya 2, tapi banyak…. bagaimana kita dapat memilih yang tepat dengan kemungkinan/ prosentase yang kecil??? Jawabnya : dengan bantuan Tuhan… lewat doa tentunya.

    Demikian pemikiran dari saya..

    Tuhan Yesus memberkati…

    • 2.1

      Shalom Georgius,

      Terima kasih atas tanggapannya tentang doa. Berikut ini adalah tanggapan dari saya.

      1) Benar sekali, bahwa konsekuensi dari mengikuti Yesus adalah untuk siap memanggul salib, seperti yang Yesus katakan “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mt 16:24). Dan seperti yang Georgius katakan, dengan memikul salib maka kita akan semakin bertambah dewasa dalam iman. Rasul Paulus mengatakan “3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Rm 5:3-4). Jadi, di dalam memikul salib bersama Yesus, kita diingatkan untuk bertahan sampai ke Golgota seperti yang Yesus lakukan, dan tetap menaruh pengharapan kepada Yesus, karena kita tahu bahwa kita akan dibangkitkan oleh Kristus.

      2) Benar sekali, bahwa dengan mengetuk pintu, Tuhan menginginkan agar kita tahu apa yang kita inginkan, yaitu untuk senantiasa bersama dengan Yesus menghadapi segala permasalahan dengan iman, pengharapan, dan kasih.

      3) Uraian point nomor 3 benar, kecuali tentang takdir (mungkin ini hanya masalah pengertian dari takdir). Kalau takdir diartikan sebagai garis hidup yang semuanya telah diatur oleh Tuhan, yang seolah-olah apapun yang kita lakukan tidak akan pernah merubah apapun, maka pengertian ini kurang tepat. Untuk mengerti hal ini, maka kita harus mengerti hubungan antara kehendak bebas kita dan Tuhan yang Maha Tahu. Silakan membaca di tanya jawab ini (silakan klik).

      Semoga tambahan keterangan tersebut dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • 2.1.1
        georgius says:

        Syallom pak stef….
        Terima kasih pak stef atas tanggapannya… yah, memang dilema bagi kita pak, istilah TAKDIR sudah berkonotasi sesuatu yang memang harus terjadi dan tidak bisa dihindari (pemahaman di islam).
        Adalah perjuangan kita pak, untuk menginformasikan dan menyebar luaskan pemahaman tentang takdir yang sesuai dengan pemahaman yang ada di KATOLIK (dengan bahasa yang sederhana) ke saudara2 kita. Atau mungkin perlu diberikan kata BARU yang bisa menggantikan pemahaman tentang takdir pak ???!!!

        Sekali lagi terima kasih pak stef atas tanggapannya…

        Tuhan YESUS memberkati.

    • 2.2
      Machmud says:

      Salam damai sejahtera

      BERDOA ITU MEMBUANG WAKTU ?
      Semua orang2 yang indah2 dalam Alkitab itu orang yang suka dan tekun berdoa.
      Juga orang2 rohani yang sukses pada zaman sekarang ini semuanya adalah orang2 yang tahu berdoa, tekun dan suka berdoa.
      Rahasia orang2 yang ber-buah2 di-mana2 di seluruh dunia selalu sama, yaitu sebab suka berdoa dan bertekun dalam Firman Tuhan.
      Sebab itu Firman Tuhan selalu mendorong dan menganjurkan untuk bertekun dalam doa dengan limpah senantiasa.

      1Tes 5 : 17 (dan berdoa dengan tiada berkeputusan)
      Efe 6 : 18 (dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,)
      Yehuda 20 (Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.)

      Berilah waktu untuk berdoa, berdoa itu nafas kita .
      Doa itu kuasa Tuhan untuk kemenangan kita.
      Kita harus menyediakan waktu yang baik.
      Waktu untuk berdoa itu tidak datang dengan sendirinya.
      Biasanya kita harus mengadakannya, bahkan memaksakannya untuk ada, dan seringkali harus memotong / mengorbankan hal2 lainnya.
      Jangan lupa, waktu untuk berdoa itu tidak datang dengan sendirinya, kita harus mengadakannya supaya ada.
      Kadang2 orang Kristen mengakui bahwa berdoa itu betul2 baik dan perlu, tetapi mereka hanya berdoa kalau tidak terlalu sibuk.
      Kalau sudah dikejar pekerjaan yang ber-tumpuk2, dengan mudah waktu doa dipinggirkan atau “ditunda” untuk lain kali.
      Memberi waktu untuk berdoa itu bukan membuang waktu.
      Justru dengan banyak berdoa dengan betul itu menghemat waktu kita !

      BAGAIMANA INI DAPAT TERJADI ?
      Misalnya kita berdoa 2 jam sehari, maka sisa waktu kita menjadi lebih efektif, lebih bermutu, sehingga meskipun waktunya berkurang 2 jam hasilnya jauh lebih banyak sebab disertai Tuhan.
      Pada waktu kita sungguh2 berdoa, banyak perkara yang indah dan mulia terjadi, misalnya kita mendengar suara Tuhan yang memimpin kita pada kemenangan dan sukses yang indah2, Tuhan memberi kita kuasa, hikmat, marifat dll sehingga cara dan mutu kerja kita meningkat luar biasa.
      Juga di dalam doa, kalau ada dosa atau kesalahan Tuhan mengingatkan kita dari hal2 itu supaya kita disucikan dari pada dosa (1Tim 4 : 5 = sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.), sehingga hadirat dan kuasa Tuhan dapat turun keatas kita.
      Dosa meng-halang2i hadirat dan berkat Tuhan !
      Kesucian itulah tempat hadirat Allah.
      Karunia2 Roh Kudus akan makin nyata beroperasi dalam diri kita dan begitu dan seterusnya.
      Sebab itu meskipun kita memakai setengah waktu kita untuk berdoa, itu tidak membuang waktu atau sia2 sebab sisa waktu yang setengah itu menjadi sangat efisien, meningkat berlipat kali ganda karena kita disertai oleh Roh Kudus.
      Dengan berdoa Kita akan tahu kehendak Tuhan dan Tuhan selalu berhasil dalam segala hal .
      Sebab itu kalau kita disertai Tuhan, maka hasilnya dapat 100 kali lebih baik daripada kalau kita melakukannya dengan akal dan dengan kekuatan kita sendiri.
      Bukankah ini lebih efisien ?
      Doa sama sekali tidak membuang waktu !
      Contoh :
      Kel 17 : 11 (Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.)
      Musa berdoa itu tidak membuang waktu, tetapi justru membuat seluruh tentara Israel menjadi sangat hebat dan terus menang!
      Doa yang sungguh, mengubah sisa waktu kita menjadi lebih berbobot, lebih efisien dan lebih heran, sebab Allah beserta kita !
      Sebab itu : jangan berhenti berdoa, sekalipun sibuk,
      jangan mengurangi doa sekalipun sibuk,
      jangan lupa berdoa sekalipun sibuk.
      Jangan membuang jam2 doa, melainkan peliharalah, adakanlah, potonglah waktu yang tepat setiap hari untuk berdoa.
      20 jam sehari tanpa doa itu sia2, tetapi 6 jam sehari dengan 2 jam berdoa menghasikan perkara2 yang indah2.
      Orang yang suka berdoa, kekuatannya akan selalu baru.
      Tanpa doa, hidup ini menjadi berat, Firman Tuhan menjadi seperti hukuman, kesucian itu rasa2nya terlalu sulit, sehingga hidup suci itu menjadi terlalu sakit dan segala kelemahan2nya muncul begitu kuat.
      Tetapi kalau seorang hidup dalam doa lebih2 terus menerus dalam Roh dan kebenaran, maka hidup ini akan menjadi ringan dan indah, rasa2nya hidup suci itu tidak lagi berat, kelemahan2 yang biasanya menguasai kita itu rasanya seperti sudah tidak ada.
      Rasa2nya kita ini sudah seperti “allah”, tidak ada lagi kelemahan, tetapi kuat terus, segar, bergairah, tidak pernah lelah, atau lemah, betul2 mengalami hidup yang seperti seorang anak Allah.
      Yes 40 : 31 (tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.)
      Jangan berhenti berdoa, berdoa itu membuat kita menjadi luar biasa, lebih dari manusia biasa sebab menjadi “manusia Allah” karena Allah ada di dalam kita
      Mat 1 : 23 (Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.)
      Kalau Allah beserta kita siapakah lawan kita

      Salam
      Mac

      • 2.2.1

        Shalom Machmud,
        Ya, memang sebagai murid-murid Kristus, sudah selayaknya kita rajin berdoa. Doa merupakan nafas iman, sehingga jika kita mengaku beriman kepada Tuhan Yesus, maka kita harus memandang doa sebagai suatu yang tak terpisahkan dari hidup rohani kita. Doa merupakan saat-saat indah kita bersama Tuhan, di mana kita masuk dalam hadirat Tuhan dan berkomunikasi dengan Dia. Kita memang dapat mengkhususkan waktu untuk berdoa, entah satu jam, atau dua jam sehari, namun yang terpenting juga adalah untuk selalu mengikutsertakan Tuhan dalam segala kegiatan kita sepanjang hari. Sebab, dengan ini, kita sungguh dapat menyatukan pikiran, perkataan dan perbuatan dengan doa, dan mempersembahkan segala yang kita lakukan sebagai doa dan persembahan kita kepada Allah.
        Tiap-tiap orang dapat mempunyai cara sendiri untuk berdoa, namun yang terpenting, kita menghayati suatu kebenaran ini: Bahwa Tuhan kita adalah Maha Besar namun juga Maha Pengasih yang menyertai kita; sedangkan kita adalah manusia yang lemah dan mudah jatuh dalam kesalahan dan dosa. St. Teresa dari Avila mengatakan bahwa semakin kita berdoa kita akan semakin menyadari bahwa segala sesuatu yang baik yang ada pada kita adalah pemberian dan milik Tuhan, dan bukan berasal dari diri kita sendiri. Maka, walaupun kita menerima pertolongan dan rahmat Tuhan, kita tidak bisa bermegah, karena semua itu bukan berasal dari diri kita, namun pemberian Allah. Kasih dan rahmat Allah inilah yang memampukan kita untuk memperbaiki kesalahan, meninggalkan dosa-dosa dan hidup seturut perintah-Nya (tentu asalkan kita bakerjasama dengan rahmat itu).
        Jadi orang yang semakin rajin berdoa akan semakin merasakan ketergantungannya dengan Allah. Memang benar bahwa melalui doa dan sakramen kita sebagai umat beriman menerima rahmat hidup ilahi, namun hal ini tidak untuk diartikan bahwa kita menjadi "allah" atau "manusia Allah". Sebab pengertian ‘Allah yang menjadi manusia’ ini hanya terpenuhi dalam diri Yesus. Mungkin ada keterbatasan bahasa di sini, bagaimana untuk menggambarkan adanya hidup ilahi yang diberikan oleh Allah di dalam diri kita yang telah diangkat-Nya menjadi anak-anak-Nya melalui Pembaptisan. Namun kita menyadari bahwa hidup ilahi yang diberikan oleh Allah itu memang merupakan rahmat yang nantinya akan menghantar kita untuk bersatu dengan-Nya di surga, tentunya jika kita setia beriman dan melakukan perintah-perintah Nya.
        Semoga kita semua dapat bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan. Dan marilah kita memulai dan memupuknya dengan suatu langkah sederhana, yaitu berdoa.
        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  3. 1
    Gamaliel says:

    Saudara Stef yang baik, terimakasih atas uraian Anda tentang doa. Sungguh, jujur dan tulus saya mengatakan tulisan ini menjernihkan banyak hal tentang doa. Semoga semakin banyak orang dapat lebih memahami doa sehingga dapat berdoa dengan semakin baik pula! Tuhan memberkati karya dan pelayanan Saudara dan teman-teman!

    Perkenankan saya untuk memberi sedikit gambaran lain dan sedikit tambahan mengenai paham doa yang Saudara Stef tuliskan, terutama terkait tulisan ke-3 ini: Kesalahan persepsi doa (bagian 3): “Berdoa dapat mengubah keputusan Tuhan.” Pada prinsipnya, saya bisa memahami uraian Anda, tetapi saya ingin pula mengajak memperhatikan sisi lainnya.

    Memang cukup sulit untuk menimbang hal ini: kalau doa itu mengubah keputusan Allah, tidakkah ini bertentangan dengan kemahatahuan dan kemahasempurnaan Allah? Sebaliknya, kalau doa itu tidak mengubah apa-apa, buat apa kita berdoa toh yang menjadi kehendak Allah pasti terjadi dan yang di luar kehendakNya tak bakal jalan? Kalau yang terjadi: jika kita berdoa A akan terjadi B dan jika tidak berdoa tapi berbuat X akan terjadi Y, begitu saja, bukankah Allah menjadi sedemikian mekanis: bekerja seturut tombol mana yang kita pencet? Tidak mudah memahaminya, memang!

    Ada sisi ekstrem pandangan yang harus kita waspadai agar tidak tersesat. Sisi ekstrem pertama, yaitu bahwa kita ‘dapat mengatur Allah’ dengan doa. Kalau kita ingin ini atau itu, maka kita berdoa begini atau begitu. Doa jatuh dalam pandangan ekstrem sebagai ‘mantra magis’ suatu rumus yang dibaca atau dirapalkan seturut kebutuhan kita. Pandangan dalam titik ekstrem ini jelas salah! Mengapa? Karena bukan hanya bertentangan dengan kemahatahuan dan kesempurnaan serta kemahakuasaan Allah, pandangan ekstrem ini malahan justru menempatkan kita seolah-olah lebih berkuasa dari Allah. Seolah-olah manusia dapat mengendalikan Allah melalui sarana doa.

    Ekstrem kedua adalah bahwa doa itu tidak mengubah apa-apa pada diri Allah melainkan hanya mengubah diri kita sendiri saja. Kekeliruan dalam ekstrem ini adalah bahwa Allah itu tidak lagi menjadi ‘pribadi’ melainkan menjadi sangat mekanis. Atau segala sesuatu telah ditentukan Allah: apa pun yang menjadi kehendakNya pasti terjadi dan yang bukan kehendakNya tidak mungkin terjadi; atau segala yang terjadi ini melulu konsekuensi dari pilihan kita: kalau berdoa A akan terjadi B dan kalau tidak berdoa dan berbuat X akan terjadi Y. A mempunyai konsekuensi B dan X mempunyai konsekuensi Y, dan begitu seterusnya. Doa bukan lagi menjadi komunikasi manusia—Allah lagi, tetapi menjadi tindakan manusiawi belaka. Allah seolah hanya menyediakan mesin belaka, lalu pengoperasiaannya semua tergantung manusia sementara Allah diam sebagai penonton saja (jatuh dalam kesalahan perspektif yang ke-1 atau bisa juga kesalahan perspektif ke-2)

    Hal di atas, dapat dijelaskan dengan menggunakan perspektif Trinitas. Allah Bapa adalah Allah yang tetap tersembunyi di balik misteri agung yang tak tersentuh apa-apa oleh kita, juga bahkan oleh doa-doa maupun amal kebaikan kita. Ia tetap tinggal di dalam kesempurnaanNya, tak terubah dan terpengaruh sedikit pun oleh usaha apa pun yang kita buat, juga doa-doa kita. Tetapi, kita bisa berjumpa dengan Imanuel, Allah beserta kita, yaitu Pribadi Kedua Allah atau Allah Putera. Melalui Dia dan hanya melalui Dia sajalah (bdk: Tak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku, Yoh 14:6) kita dapat sampai kepada Bapa. Sebagai Imanuel, Allah beserta kita, Pribadi Kedua ini adalah ‘Allah yang masuk dalam dinamika sejarah’. Karena masuk dalam sejarah yang berubah-ubah maka Ia adalah ‘Allah yang berubah’. Kembali ke contoh, kalau kita memohon A akan mendapat B sementara kalau tidak berdoa dan berbuat X maka akan terjadi Y; B mempunyai konsekuensi C dan Y mempunyai konsekuensi Z. Sang Imanuel yang masuk dalam sejarah itu adalah Allah yang setelah melihat kita berbuat X dan mengalami Y bekerja keras agar kita tidak jadi mengalami Z. Dengan demikian, Imanuel itu Allah ‘yang berubah’ oleh karena manusia. Imanuel itu Allah yang berubah dan terubah oleh doa maupun dosa manusia! Bagaimanakan mungkin seorang manusia yang hina dapat mengubah atau menggerakkan Allah yang sempurna? Karena dalam diri manusia hadir Roh Kudus, yaitu Roh Allah sendiri. Sementara Bapa-Putera-Roh Kudus itu tersatukan secara sempurna oleh ikatan cinta yang sempurna. Kita selalu menemukan rumus (terutama dalam doa-doa resmi Gereja) bahwa doa itu: ditujukan kepada Bapa, melalui Putera, di dalam Roh Kudus. Dengan paham ini, doa tetap menjadi komunikasi manusia dengan Allah tetapi tetap disadari sepenuhnya bahwa kedua pihak yang berkomunikasi ini memang pada level atau tataran yang berbeda; Allah tetaplah jauh lebih berkuasa daripada manusia, tetapi sekaligus kekuasaan Allah itu tidak menjadi tembok tak tertembus oleh komunikasi itu.

    Bagaimanakah memahami Allah yang sempurna tetapi sekaligus ada perubahan di dalam diriNya? Apakah perubahan itu tidak bertentangan dengan kesempurnaannya? Hal ini dapat dimengerti dalam hakikat Allah adalah kasih (bdk. 1 Yoh 4). Perubahan dalam diri Imanuel adalah ungkapan dan sekaligus perwujudan dari kesempurnaan cinta itu! Karena kasihNya maka Ia berubah demi kita yang dikasihiNya. Tetapi sekaligus wajib diingat bahwa perubahan itu tidak berarti Allah terombang-ambing atau bahkan bisa dikendalikan oleh manusia. Allah tetap pula tinggal dalam kesempurnaanNya. Kita manusia dapat mengubah ‘Allah terubah’ (Imanuel) apabila kita berpartisipasi dalam keallahan (dalam Roh Kudus).

    Ungkapan doa Yesus Kristus menjadi ilustrasi indah bagi kita, di satu sisi memang layak dan boleh saja memohon apa pun yang menjadi keinginan dan kebutuhan, sesuai kehendak kita, tetapi sekaligus di sisi lain menempatkan kehendak Allah lebih penting dan lebih utama daripada kehendakku sendiri: “Bapa, sekiranya mungkin biarlah cawan ini berlalu dari padaKu, tetapi bukan kehendakKu melainkan kehendakMulah yang terjadi.”

    Ringkasnya: Doa tidak dapat mengatur Allah karena Ia tetap dalam kesempurnaanNya yang tak tersentuh (Bapa) namun sekaligus Ia bukanlah Allah yang tak dapat tergerak oleh usaha dan doa kita karena Ia adalah Allah yang masuk dalam sejarah, menyertai kita, terubah dan berubah demi dan untuk kita (Imanuel, Allah Putera). Hal itu mungkin untuk terjadi karena Allah berkenan hadir dalam diri kita dan memberi ruang bagi kita untuk partisipasi dalam keallahan (Roh Kudus di dalam diri kita). Allah itu tetap sempurna tetapi sekaligus karena kesempurnaan cintaNya maka Ia pun selalu tergerak oleh kita.
    Semoga ini dapat memperjernih dan bukannya semakin mengaburkan.
    Membaca buku Imanuel dan Teologi Doa dari Tom Jacobs, mungkin dapat memberi wacana yang lebih terang tentang hal ini. Silakan yang berminat membaca kedua karya ini.

    Salam kasih,
    Gayus Gamaliel

Menginggalkan pesan

MENDUKUNG KATOLISITAS.ORG

Kalau anda ingin mendukung karya kerasulan ini secara finansial, silakan menghubungi: donation[at]katolisitas.org atau melalui Paypal / Credit Card di bawah ini. Karya kerasulan ini dapat terus berlangsung karena rahmat Tuhan dan juga dukungan dari semuanya. Tuhan memberikati.

TRANSLATE FROM INDONESIAN TO:

KOMENTAR TERAKHIR

© Copyright katolisitas - 2008 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja.

Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Renungan dan doa diterjemahkan dari: Every Day Is a Gift by Frederick Schroeder, CBPC, 1984.

 

Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, Hari dimana Gereja memperingati  Bunda Maria mengunjungi Elizabeth

Romo pembimbing: Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ.  |  Ahli Hukum Gereja dan Perkawinan: RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. |  Ahli Sakramen dan Liturgi: Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD
Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. |  Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min., Th.M.
Penulis tetap: Romo Bernardus Boli Ujan SVD  |  Romo Wanta, Pr  |  Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
Penanggung jawab situs: Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.