<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Kerendahan Hati: Dasar dan Jalan Menuju Kekudusan</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 03:06:08 +0700</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: Gamaliel</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/comment-page-1/#comment-1699</link> <dc:creator>Gamaliel</dc:creator> <pubDate>Sat, 07 Feb 2009 08:46:46 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=171#comment-1699</guid> <description>Syalom!Memang, dalam soal bohong tapi menyenangkan orang atau jujur tapi mungkin menyakiti orang lain, dalam praktiknya sering menimbulkan kesulitan. Bahkan, banyak orang (apalagi kita yang biasa dengan kultur &#039;ewuh-pekewuh&#039;, menjaga perasaan orang) &#039;white lie&#039; menjadi pilihan yang paling mudah dan paling sering dipilih.Saya setuju dengan Sdri. Ingrid, jujur sajalah, karena memang bohong itu tidak baik dan tidak benar. Apalagi, yang namanya bohong itu biasanya tidak cukup hanya sekali. Satu kebohongan harus ditutup dengan kebohongan lain, lalu kebohongan lain itu mesti ditutup dengan kebohongan baru lagi. Misalnya, dalam kasus di atas bilang sudah makan. Kalau kemudian ditanya, &quot;Enak gak masakan papi?&quot; Khan harus bikin kebohongan baru lagi, &quot;Enak kok...&quot; padahal belum makan khan? Ditanya lagi, &quot;Emang gak kepedesan, kayanya tadi agak kebanyakan deh papi ngasih cabenya!&quot; Jawab lagi, &quot;Emang sih pi, pedesan dari masakan papi biasanya, tapi tetap enak kok, gak pedes-pedes amat!&quot; dan seterusnya dan seterusnya. Orang tak cukup bohong sekali, maka meski bohong itu pada dirinya kalau hanya menyangkut hal kecil juga hanya dosa kecil, dapat berubah menjadi banyak dosa yang bertebaran di mana-mana di sepanjang hidup kita.Coba bayangkan, kecelakaan motor itu khan lebih sering karena tergelincir di jalan berkerikil daripada karena nabrak sebongkah batu besar. Begitu pula kita, lebih mudah tergelincir jatuh oleh dosa-dosa kecil yang kita biarkan banyak bertebaran di dalam hidup daripada oleh satu dosa besar yang untuk melakukannya saja kita takut dan menjadi waspada untuk tidak melakukannya.Di sisi lain, kita perlu sadar bahwa yang namanya tidak berbohong itu tidak berarti mengatakan segala sesuatu sejelas-jelasnya dan sedetail-detailnya. Jujur tidak harus berarti mengatakan segala-galanya. Secara moral, dibedakan antara berbohong dengan merahasiakan sesuatu. Berbohong, itu mengatakan sesuatu yang salah: A dibilang bukan A atau B! Itu bohong dan itu dosa. Sementara itu, menyimpan rahasia tidaklah dosa. Menyimpan rahasia itu dapat berarti tidak mengatakan sesuatu atau mengatakan tanpa kejelasan detail, tetapi tanpa mengatakan sesuatu pun yang tidak benar.Contohnya, kalau dalam kasus makan malam di atas. Malamnya ketika ditanya, &quot;Sudah makan masakan papi belom?&quot; Petra bisa menjawab, &quot;Papi udah susah-susah masakin masa sih Petra gak akan makan, lagian biasanya papi klo masak khan rasanya maknyus!&quot; lalu paginya Petra dapat makan makanan itu, sedikit juga gak apa-apa. Tidak ada kebohongan khan karena Petra bilang &#039;masa sih gak akan makan?&#039; dan nyatanya kemudian Petra memang sungguh makan.Ada seorang pastor, yang pada suatu waktu, untuk kepentingan khusus dia perlu menyembunyikan identitasnya sebagai pastor. Suatu ketika dia ditanya orang, &quot;Anda pastor ya?&quot;
Pastor itu menjawab, &quot;Hehehehehe... tidak sekali ini saja saya ditanya seperti itu. Berapa tahun lalu, bahkan ada rombongan peziarah ketemu saya dan langsung aja minta berkat air, yakin aja kalau saya ini pastor. Ya saya jawab saja, maaf yang pastor itu yang duduk pakai baju batik itu, silakan minta berkat pada beliau!&quot;
Orang itu kemudian menjawab, &quot;Saya kira pastor je, gerak-gerik dan tutur katanya itu bener-bener seperti seorang pastor!&quot;
Pastor itu hanya tertawa ramah saja tanpa mengiyakan atau menidakkan.Saya langsung tanya, &quot;Lho pastor kok bohong?&quot;
Dia jawab, &quot;Lho bohongnya di mana?&quot;
&quot;Khan gak ngaku klo Anda seorang pastor?&quot;
&quot;Gak juga, aku gak ngomong gitu kok! Bener, aku seringkali ketemu orang belum kenal dan dia langsung tanya, Anda pastor ya, sejak frater sampai sekarang sering begitu. Jadi kalimat pertama itu memang tidak bohong. Lalu yang soal cerita ketemu peziarah, itu juga sungguh-sungguh terjadi kok, saat itu aku masih frater, jadi ketika dimintai berkat ya tidak kuberkati tapi kutunjukkan pastor yang bersama aku. Jadi gak bohong khan?&quot;
&quot;Lha tapi orang ini tadi khan jadi berkesimpulan kalau Anda bukan pastor? Sama aja bohong dong!&quot;
&quot;Lain, bohong itu kalau aku mengatakan yang tidak benar, kalau aku bilang aku ini bukan pastor, itu baru bohong. Di sini aku mengatakan apa yang benar, tapi mungkin akan disimpulkan lain. Ya silakan saja. Saat ini khan aku menyembunyikan identitas bukan karena maksud jahat, tapi memang sedang dalam penyamaran dan aku harus merahasiakan sesuatu. Merahasiakan sesuatu itu tidak selalu dosa, tapi yang namanya bohong memang jelas dosa, meski tak selalu berarti dosa besar.&quot;Pembicaraan itu sangat mengesan bagi saya. Bohong dan merahasiakan sesuatu itu beda. Bohong jelas salah dan dosa. Merahasiakan sesuatu adalah hal lain. Dan orang bisa merahasiakan sesuatu tanpa mengucap kebohongan. Bisa kok kita menjaga perasaan orang lain tanpa harus berbohong! Bohong bukan solusi, meski dikatakan white lie sekalipun.Salam kasih.
Gayus Gamaliel</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Syalom!</p><p>Memang, dalam soal bohong tapi menyenangkan orang atau jujur tapi mungkin menyakiti orang lain, dalam praktiknya sering menimbulkan kesulitan. Bahkan, banyak orang (apalagi kita yang biasa dengan kultur &#8216;ewuh-pekewuh&#8217;, menjaga perasaan orang) &#8216;white lie&#8217; menjadi pilihan yang paling mudah dan paling sering dipilih.</p><p>Saya setuju dengan Sdri. Ingrid, jujur sajalah, karena memang bohong itu tidak baik dan tidak benar. Apalagi, yang namanya bohong itu biasanya tidak cukup hanya sekali. Satu kebohongan harus ditutup dengan kebohongan lain, lalu kebohongan lain itu mesti ditutup dengan kebohongan baru lagi. Misalnya, dalam kasus di atas bilang sudah makan. Kalau kemudian ditanya, &#8220;Enak gak masakan papi?&#8221; Khan harus bikin kebohongan baru lagi, &#8220;Enak kok&#8230;&#8221; padahal belum makan khan? Ditanya lagi, &#8220;Emang gak kepedesan, kayanya tadi agak kebanyakan deh papi ngasih cabenya!&#8221; Jawab lagi, &#8220;Emang sih pi, pedesan dari masakan papi biasanya, tapi tetap enak kok, gak pedes-pedes amat!&#8221; dan seterusnya dan seterusnya. Orang tak cukup bohong sekali, maka meski bohong itu pada dirinya kalau hanya menyangkut hal kecil juga hanya dosa kecil, dapat berubah menjadi banyak dosa yang bertebaran di mana-mana di sepanjang hidup kita.</p><p>Coba bayangkan, kecelakaan motor itu khan lebih sering karena tergelincir di jalan berkerikil daripada karena nabrak sebongkah batu besar. Begitu pula kita, lebih mudah tergelincir jatuh oleh dosa-dosa kecil yang kita biarkan banyak bertebaran di dalam hidup daripada oleh satu dosa besar yang untuk melakukannya saja kita takut dan menjadi waspada untuk tidak melakukannya.</p><p>Di sisi lain, kita perlu sadar bahwa yang namanya tidak berbohong itu tidak berarti mengatakan segala sesuatu sejelas-jelasnya dan sedetail-detailnya. Jujur tidak harus berarti mengatakan segala-galanya. Secara moral, dibedakan antara berbohong dengan merahasiakan sesuatu. Berbohong, itu mengatakan sesuatu yang salah: A dibilang bukan A atau B! Itu bohong dan itu dosa. Sementara itu, menyimpan rahasia tidaklah dosa. Menyimpan rahasia itu dapat berarti tidak mengatakan sesuatu atau mengatakan tanpa kejelasan detail, tetapi tanpa mengatakan sesuatu pun yang tidak benar.</p><p>Contohnya, kalau dalam kasus makan malam di atas. Malamnya ketika ditanya, &#8220;Sudah makan masakan papi belom?&#8221; Petra bisa menjawab, &#8220;Papi udah susah-susah masakin masa sih Petra gak akan makan, lagian biasanya papi klo masak khan rasanya maknyus!&#8221; lalu paginya Petra dapat makan makanan itu, sedikit juga gak apa-apa. Tidak ada kebohongan khan karena Petra bilang &#8216;masa sih gak akan makan?&#8217; dan nyatanya kemudian Petra memang sungguh makan.</p><p>Ada seorang pastor, yang pada suatu waktu, untuk kepentingan khusus dia perlu menyembunyikan identitasnya sebagai pastor. Suatu ketika dia ditanya orang, &#8220;Anda pastor ya?&#8221;<br
/> Pastor itu menjawab, &#8220;Hehehehehe&#8230; tidak sekali ini saja saya ditanya seperti itu. Berapa tahun lalu, bahkan ada rombongan peziarah ketemu saya dan langsung aja minta berkat air, yakin aja kalau saya ini pastor. Ya saya jawab saja, maaf yang pastor itu yang duduk pakai baju batik itu, silakan minta berkat pada beliau!&#8221;<br
/> Orang itu kemudian menjawab, &#8220;Saya kira pastor je, gerak-gerik dan tutur katanya itu bener-bener seperti seorang pastor!&#8221;<br
/> Pastor itu hanya tertawa ramah saja tanpa mengiyakan atau menidakkan.</p><p>Saya langsung tanya, &#8220;Lho pastor kok bohong?&#8221;<br
/> Dia jawab, &#8220;Lho bohongnya di mana?&#8221;<br
/> &#8220;Khan gak ngaku klo Anda seorang pastor?&#8221;<br
/> &#8220;Gak juga, aku gak ngomong gitu kok! Bener, aku seringkali ketemu orang belum kenal dan dia langsung tanya, Anda pastor ya, sejak frater sampai sekarang sering begitu. Jadi kalimat pertama itu memang tidak bohong. Lalu yang soal cerita ketemu peziarah, itu juga sungguh-sungguh terjadi kok, saat itu aku masih frater, jadi ketika dimintai berkat ya tidak kuberkati tapi kutunjukkan pastor yang bersama aku. Jadi gak bohong khan?&#8221;<br
/> &#8220;Lha tapi orang ini tadi khan jadi berkesimpulan kalau Anda bukan pastor? Sama aja bohong dong!&#8221;<br
/> &#8220;Lain, bohong itu kalau aku mengatakan yang tidak benar, kalau aku bilang aku ini bukan pastor, itu baru bohong. Di sini aku mengatakan apa yang benar, tapi mungkin akan disimpulkan lain. Ya silakan saja. Saat ini khan aku menyembunyikan identitas bukan karena maksud jahat, tapi memang sedang dalam penyamaran dan aku harus merahasiakan sesuatu. Merahasiakan sesuatu itu tidak selalu dosa, tapi yang namanya bohong memang jelas dosa, meski tak selalu berarti dosa besar.&#8221;</p><p>Pembicaraan itu sangat mengesan bagi saya. Bohong dan merahasiakan sesuatu itu beda. Bohong jelas salah dan dosa. Merahasiakan sesuatu adalah hal lain. Dan orang bisa merahasiakan sesuatu tanpa mengucap kebohongan. Bisa kok kita menjaga perasaan orang lain tanpa harus berbohong! Bohong bukan solusi, meski dikatakan white lie sekalipun.</p><p>Salam kasih.<br
/> Gayus Gamaliel</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Yohanes Rasul</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/comment-page-1/#comment-877</link> <dc:creator>Yohanes Rasul</dc:creator> <pubDate>Sun, 23 Nov 2008 14:10:42 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=171#comment-877</guid> <description>Menarik sekali ulasan Bu Ingrid mengenai kerendahan hati. Terima kasih dan selamat. Menarik pula bahwa kata kerendahan hati dalam bahasa Inggris adalah &quot;humility&quot; dan dalam bahasa Latin &quot;humilis&quot;. Bukankah asal katanya dari &quot;humus&quot;? Dan humus adalah istilah untuk lapisan tanah yang subur. Kerendahan hati memang membuat subur hidup pribadi dan komunitas. Tuhan Yesus Kristus sendirilah yang menyelamatkan kita dengan kerendahan hati-Nya.
Salam
Yohanes Rasul</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Menarik sekali ulasan Bu Ingrid mengenai kerendahan hati. Terima kasih dan selamat. Menarik pula bahwa kata kerendahan hati dalam bahasa Inggris adalah &#8220;humility&#8221; dan dalam bahasa Latin &#8220;humilis&#8221;. Bukankah asal katanya dari &#8220;humus&#8221;? Dan humus adalah istilah untuk lapisan tanah yang subur. Kerendahan hati memang membuat subur hidup pribadi dan komunitas. Tuhan Yesus Kristus sendirilah yang menyelamatkan kita dengan kerendahan hati-Nya.<br
/> Salam<br
/> Yohanes Rasul</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: y. nicola</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/comment-page-1/#comment-214</link> <dc:creator>y. nicola</dc:creator> <pubDate>Sun, 17 Aug 2008 15:37:32 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=171#comment-214</guid> <description>Jumat kemarin artikel Kerendahan Hati: Dasar dan Jalan Menuju Kekudusan saya sampaikan di PD di kantor. Disampaikan secara sangat singkat, karena PD kami laksanakan saat istirahat, sktr 45 menit sudah termasuk dengan doa dan pujian. Para peserta senang dengan topic tsb (selain printing comment di atas, kejadian di kantor/pekerjaan sehari2 saya pakai sebagai contoh penerapan kerendahan hati); sampai ada yg bilang spy minggu depan saya lagi yg pimpin PD. Sungguh, bukan mau memuji diri, tapi saya mau ucapkan terimakasih bahwa artikel dan web ini inspiring dan bisa menjadi berkat serta sarana untuk makin memuji Dia.
Terimakasih banyak ya Ingrid dan Stef....</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Jumat kemarin artikel Kerendahan Hati: Dasar dan Jalan Menuju Kekudusan saya sampaikan di PD di kantor. Disampaikan secara sangat singkat, karena PD kami laksanakan saat istirahat, sktr 45 menit sudah termasuk dengan doa dan pujian. Para peserta senang dengan topic tsb (selain printing comment di atas, kejadian di kantor/pekerjaan sehari2 saya pakai sebagai contoh penerapan kerendahan hati); sampai ada yg bilang spy minggu depan saya lagi yg pimpin PD. Sungguh, bukan mau memuji diri, tapi saya mau ucapkan terimakasih bahwa artikel dan web ini inspiring dan bisa menjadi berkat serta sarana untuk makin memuji Dia.<br
/> Terimakasih banyak ya Ingrid dan Stef&#8230;.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Felix</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/comment-page-1/#comment-557</link> <dc:creator>Felix</dc:creator> <pubDate>Wed, 23 Jul 2008 17:02:41 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=171#comment-557</guid> <description>Terima kasih atas penjelasan yang begitu detail.Akan kuingat selalu, yah, saya memang ada kesalahan di sini. Akan saya perbaikin sekarang juga sikap aku yang terlalu keras dan selalu menuntut ini dan itu.
Walau aku tahu dengan jelas kalo ikhlas itu tidak menuntut balasan, tapi aku masih menuntut orang-orang untuk tidak melupakan jasa si pemberi. Di mana saya merupakan salah satu pemberi, dan sekarang aku dianggap seperti musuh sama si penerima. Oleh sebab itu, aku bergumul mencari jawaban. Padahal si penerima itu seorang yang taat berdoa. Saya tidak akan marah, tapi saya selalu meminta jangan melupakan jasa.Yah, saya tahu sekarang kalo saya juga bersalah dan saya akan merubah sikap yang extreme itu mulai sekarang dan selalu doa minta kekuatan dari Tuhan supaya bisa lebih sabar.Saya sungguh berterima kasih atas penjelasan ini. Terima kasih.Regards,
Felix</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih atas penjelasan yang begitu detail.</p><p>Akan kuingat selalu, yah, saya memang ada kesalahan di sini. Akan saya perbaikin sekarang juga sikap aku yang terlalu keras dan selalu menuntut ini dan itu.<br
/> Walau aku tahu dengan jelas kalo ikhlas itu tidak menuntut balasan, tapi aku masih menuntut orang-orang untuk tidak melupakan jasa si pemberi. Di mana saya merupakan salah satu pemberi, dan sekarang aku dianggap seperti musuh sama si penerima. Oleh sebab itu, aku bergumul mencari jawaban. Padahal si penerima itu seorang yang taat berdoa. Saya tidak akan marah, tapi saya selalu meminta jangan melupakan jasa.</p><p>Yah, saya tahu sekarang kalo saya juga bersalah dan saya akan merubah sikap yang extreme itu mulai sekarang dan selalu doa minta kekuatan dari Tuhan supaya bisa lebih sabar.</p><p>Saya sungguh berterima kasih atas penjelasan ini. Terima kasih.</p><p>Regards,<br
/> Felix</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/comment-page-1/#comment-556</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Wed, 23 Jul 2008 16:58:35 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=171#comment-556</guid> <description>Shalom Felix,
Walaupun di dalam ke-sepuluh perintah Tuhan tidak disebutkan secara khusus bahwa melupakan jasa budi orang lain termasuk dosa, tetapi dari firman Tuhan yang lain kita ketahui hal itu dapat dikatakan sebagai dosa, sebab, kita tahu bahwa mengingat jasa budi orang lain adalah sesuatu yang baik, lalu kita tidak melakukannya. Rasul Yakobus mengatakan, “Jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak 4:17). Apalagi jika jasa budi ‘orang lain’ itu adalah orang tua kita sendiri, sebab jika demikian halnya kita melanggar perintah Tuhan “Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Kel 20:12). Sebab jika kita menghormati seseorang pastilah kita mengingat segala sesuatu yang diperbuatnya bagi kita, apalagi jika itu orang tua kita sendiri.
Untuk lebih mengetahui uraian tentang dosa, Felix dapat membaca artikel, Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa bagian-1.Kita tidak dapat secara persis mengetahui apakah orang secara ikhlas atau tidak dalam membantu kita, karena kita tidak dapat membaca isi hati setiap orang. Hanya Tuhan yang mampu melakukan hal itu. Tetapi jika seseorang membantu dan tidak mengharapkan balasan, ia malah melakukan perintah Tuhan, sebab memang itulah yang diperintahkan oleh Tuhan, agar kita membantu dan memberi tanpa mengharapkan untuk memperoleh imbalan. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita memberi kepada orang miskin, cacat, lumpuh dan buta, mereka yang tidak punya apa-apa untuk membalas kepada kita, dan Tuhan sendiri akan membalasnya pada kita (lih. Luk 14:13-14). Yesus juga mengatakan, “jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mat 6:3), sehingga jika kita sungguh mau memberi dengan tulus, kita tidak boleh dan tidak perlu ‘mengumumkannya’, seolah-olah meminta balasan.Tuhan Yesus memberi teladan dengan memberikan kasih yang begitu besar dengan memberikan nyawa-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasihNya ini (Yoh 15:13). Di dalam kasihNya, Yesus memberikan kebebasan kepada kita untuk percaya atau menolak Dia. Jika kita percaya kita tidak akan dihukum, tetapi jika kita tidak percaya, kita membawa diri kita sendiri ke bawah hukuman atau, mendatangkan hukuman pada diri kita sendiri (lih. Yoh 3:18). Nah, buktinya bahwa kita percaya pada Yesus, adalah jika kita melakukan segala perintahNya dan berbuat yang berkenan kepadaNya (lih. 1Yoh 3:21-24). Perintah Yesus yang utama adalah perintah kasih kepada Tuhan dan sesama (Mat 22: 37-39, Mrk 12:30-31, Luk 10:27).
Perintah kasih inilah yang harus kita jalani setiap hari. Jika kita gagal menjalankannya, dan jatuh dalam dosa, dengan rendah hati kita mohon ampun pada Tuhan melalui sakramen Pengakuan dosa. Selanjutnya, kita memperbaiki hidup kita, dan berusaha hidup lebih baik, lebih bertumbuh dalam kasih.
Semoga uraian di atas menjawab pertanyaan Felix.Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Felix,<br
/> Walaupun di dalam ke-sepuluh perintah Tuhan tidak disebutkan secara khusus bahwa melupakan jasa budi orang lain termasuk dosa, tetapi dari firman Tuhan yang lain kita ketahui hal itu dapat dikatakan sebagai dosa, sebab, kita tahu bahwa mengingat jasa budi orang lain adalah sesuatu yang baik, lalu kita tidak melakukannya. Rasul Yakobus mengatakan, “Jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak 4:17). Apalagi jika jasa budi ‘orang lain’ itu adalah orang tua kita sendiri, sebab jika demikian halnya kita melanggar perintah Tuhan “Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Kel 20:12). Sebab jika kita menghormati seseorang pastilah kita mengingat segala sesuatu yang diperbuatnya bagi kita, apalagi jika itu orang tua kita sendiri.<br
/> Untuk lebih mengetahui uraian tentang dosa, Felix dapat membaca artikel, Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa bagian-1.</p><p>Kita tidak dapat secara persis mengetahui apakah orang secara ikhlas atau tidak dalam membantu kita, karena kita tidak dapat membaca isi hati setiap orang. Hanya Tuhan yang mampu melakukan hal itu. Tetapi jika seseorang membantu dan tidak mengharapkan balasan, ia malah melakukan perintah Tuhan, sebab memang itulah yang diperintahkan oleh Tuhan, agar kita membantu dan memberi tanpa mengharapkan untuk memperoleh imbalan. Tuhan Yesus mengajarkan agar kita memberi kepada orang miskin, cacat, lumpuh dan buta, mereka yang tidak punya apa-apa untuk membalas kepada kita, dan Tuhan sendiri akan membalasnya pada kita (lih. Luk 14:13-14). Yesus juga mengatakan, “jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mat 6:3), sehingga jika kita sungguh mau memberi dengan tulus, kita tidak boleh dan tidak perlu ‘mengumumkannya’, seolah-olah meminta balasan.</p><p>Tuhan Yesus memberi teladan dengan memberikan kasih yang begitu besar dengan memberikan nyawa-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasihNya ini (Yoh 15:13). Di dalam kasihNya, Yesus memberikan kebebasan kepada kita untuk percaya atau menolak Dia. Jika kita percaya kita tidak akan dihukum, tetapi jika kita tidak percaya, kita membawa diri kita sendiri ke bawah hukuman atau, mendatangkan hukuman pada diri kita sendiri (lih. Yoh 3:18). Nah, buktinya bahwa kita percaya pada Yesus, adalah jika kita melakukan segala perintahNya dan berbuat yang berkenan kepadaNya (lih. 1Yoh 3:21-24). Perintah Yesus yang utama adalah perintah kasih kepada Tuhan dan sesama (Mat 22: 37-39, Mrk 12:30-31, Luk 10:27).<br
/> Perintah kasih inilah yang harus kita jalani setiap hari. Jika kita gagal menjalankannya, dan jatuh dalam dosa, dengan rendah hati kita mohon ampun pada Tuhan melalui sakramen Pengakuan dosa. Selanjutnya, kita memperbaiki hidup kita, dan berusaha hidup lebih baik, lebih bertumbuh dalam kasih.<br
/> Semoga uraian di atas menjawab pertanyaan Felix.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> Ingrid Listiati</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Felix</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/comment-page-1/#comment-142</link> <dc:creator>Felix</dc:creator> <pubDate>Wed, 23 Jul 2008 00:31:35 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=171#comment-142</guid> <description>Hi,Saya bingung, apakah kalo kita melupakan jasa budi orang itu termasuk dosa? Walau si pemberi bantuan itu tidak mengharapkan balasan, tapi dia hanya mengharapkan agar tidak dilupaiin saja. Apakah si pemberi bantuan itu termasuk tidak ikhlas?boleh saya tahu tentang pembahasan Alkitab yang mengenai hal ini? Sebab saya sendiri masih bergumul di dalam hal ini, karena, Yesus sendiri tidak mengharapkan balasan dari kita, tapi kita dituntut jangan melupakan jasa dia dgn cara bertobat dan melakukan tindakan yang sesuai firmanNya.Terima kasih.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Hi,</p><p>Saya bingung, apakah kalo kita melupakan jasa budi orang itu termasuk dosa? Walau si pemberi bantuan itu tidak mengharapkan balasan, tapi dia hanya mengharapkan agar tidak dilupaiin saja. Apakah si pemberi bantuan itu termasuk tidak ikhlas?</p><p>boleh saya tahu tentang pembahasan Alkitab yang mengenai hal ini? Sebab saya sendiri masih bergumul di dalam hal ini, karena, Yesus sendiri tidak mengharapkan balasan dari kita, tapi kita dituntut jangan melupakan jasa dia dgn cara bertobat dan melakukan tindakan yang sesuai firmanNya.</p><p>Terima kasih.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Petra</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/comment-page-1/#comment-141</link> <dc:creator>Petra</dc:creator> <pubDate>Tue, 22 Jul 2008 22:38:49 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=171#comment-141</guid> <description>tante,
semalem kan aku ditanyain sama papi, udah makan masakannya apa belom, aku jawab aja udah, abis aku udah ngantuk sih. Terus nggak enak juga kalo aku jawab belom, ntar tersinggung gitu.
eh terus katanya mami, kan harus menjaga kekudusan, jadi nggak boleh bohong, terus aku bales aja, kan harus menjaga kekudusan, menjaga perasaan orang lain juga, hehe
nah,jadi gimana sih yang bener, tante?
abis kita kan sering gitu, kalo jujur, orang lain bisa sakit hati, tapi kalo boong, katanya dosa. jadinya kita sering ngelakuin kebohongan&quot; kecil yang orang bilang white lie itu deh.
yang bner gimana dong, tante?
hehe, thx ya tan.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>tante,<br
/> semalem kan aku ditanyain sama papi, udah makan masakannya apa belom, aku jawab aja udah, abis aku udah ngantuk sih. Terus nggak enak juga kalo aku jawab belom, ntar tersinggung gitu.<br
/> eh terus katanya mami, kan harus menjaga kekudusan, jadi nggak boleh bohong, terus aku bales aja, kan harus menjaga kekudusan, menjaga perasaan orang lain juga, hehe<br
/> nah,jadi gimana sih yang bener, tante?<br
/> abis kita kan sering gitu, kalo jujur, orang lain bisa sakit hati, tapi kalo boong, katanya dosa. jadinya kita sering ngelakuin kebohongan&#8221; kecil yang orang bilang white lie itu deh.<br
/> yang bner gimana dong, tante?<br
/> hehe, thx ya tan.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/26/kerendahan-hati-dasar-dan-jalan-menuju-kekudusan/comment-page-1/#comment-555</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Tue, 22 Jul 2008 16:53:53 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=171#comment-555</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Petra, &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk bertumbuh di dalam kekudusan kita semua harus berjuang, dan memang sering kali tidak gampang. Kebetulan Petra mendapat ujian tentang hal ini, yaitu untuk hidup jujur tetapi juga menjaga perasaan orang lain, dalam hal ini perasaan papi. Untuk itu sebaiknya Petra mengingat perintah Yesus yang utama, yaitu &#8220;Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu dan kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri&#8221; (lih Mrk 12:30-31). Nah, kalau Petra renungkan ayat ini, maka Petra akan tahu bahwa kalau kita sungguh mengasihi Tuhan, maka kita tidak akan berbohong, walaupun itu katanya &#8216;white lie&#8217; sekalipun. (Di mata Tuhan kebohongan itu nggak ada yang &#8216;putih&#8217;). Sedangkan perintah kedua, mengasihi sesama seperti diri sendiri, maksudnya adalah untuk memperlakukan orang lain atas dasar, &#8220;Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka&#8221; (Mat 7:12) Dengan kata lain, apa yang tidak aku inginkan orang lain perbuat kepadaku, aku juga tidak akan perbuat kepada mereka. Artinya kalau kita tidak ingin dibohongi, jangan kita membohongi orang lain. Kalau kita tidak ingin disakiti hati, jangan kita menyakiti hati orang lain.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Dalam kasus Petra, yang ditanya soal makan masakan papi, mungkin Petra dapat mengatakan dengan jujur, bahwa Petra belum makan/ lupa/ sudah makan di luar/ tidak tahu bahwa papi sudah menyediakan makanan (pokoknya katakan sejujurnya), soalnya Petra sungguh sudah sangat lelah dan ngantuk. Tapi tentu saja Petra dapat terlebih dulu mengucapkan terima kasih pada papi yang telah menyediakan makanan buat Petra, dan mohon maaf kalau Petra belum sempat makan malam itu. (Di sini dibutuhkan kerendahan hati Petra untuk memohon maaf pada papi). Penyelesaiannya, dapat saja makanannya disimpan di kulkas, dan besok pagi Petra bisa makan untuk sarapan, misalnya. Jika Petra mengatakannya dengan nada yang tulus, dan tidak &#8216;ogah-ogahan&#8217; maka rasanya papi tidak akan marah. Dengan demikian Petra tidak berbohong, dan tidak juga menyinggung perasaan papi.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Ingatlah motivasi di atas semua ini adalah kasih kepada Tuhan, dan kasih kepada papi. Ingatlah bahwa papi juga mengasihi Petra, dengan menyediakan makanan, dan juga perhatian-perhatian yang lain, dan sebagai tanda kasihmu kepada Tuhan, kasihilah papi-mu yang Tuhan sudah berikan kepadamu.  Selamat berjuang untuk hidup lebih kudus, Petra. Tuhan Yesus pasti senang melihat keseriusanmu untuk mengikuti teladan kekudusan-Nya.  Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Petra,</p><p>Untuk bertumbuh di dalam kekudusan kita semua harus berjuang, dan memang sering kali tidak gampang. Kebetulan Petra mendapat ujian tentang hal ini, yaitu untuk hidup jujur tetapi juga menjaga perasaan orang lain, dalam hal ini perasaan papi. Untuk itu sebaiknya Petra mengingat perintah Yesus yang utama, yaitu &ldquo;Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu dan kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri&rdquo; (lih Mrk 12:30-31). Nah, kalau Petra renungkan ayat ini, maka Petra akan tahu bahwa kalau kita sungguh mengasihi Tuhan, maka kita tidak akan berbohong, walaupun itu katanya &lsquo;white lie&rsquo; sekalipun. (Di mata Tuhan kebohongan itu nggak ada yang &lsquo;putih&rsquo;). Sedangkan perintah kedua, mengasihi sesama seperti diri sendiri, maksudnya adalah untuk memperlakukan orang lain atas dasar, &ldquo;Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka&rdquo; (Mat 7:12) Dengan kata lain, apa yang tidak aku inginkan orang lain perbuat kepadaku, aku juga tidak akan perbuat kepada mereka. Artinya kalau kita tidak ingin dibohongi, jangan kita membohongi orang lain. Kalau kita tidak ingin disakiti hati, jangan kita menyakiti hati orang lain.</p><blockquote><p>Dalam kasus Petra, yang ditanya soal makan masakan papi, mungkin Petra dapat mengatakan dengan jujur, bahwa Petra belum makan/ lupa/ sudah makan di luar/ tidak tahu bahwa papi sudah menyediakan makanan (pokoknya katakan sejujurnya), soalnya Petra sungguh sudah sangat lelah dan ngantuk. Tapi tentu saja Petra dapat terlebih dulu mengucapkan terima kasih pada papi yang telah menyediakan makanan buat Petra, dan mohon maaf kalau Petra belum sempat makan malam itu. (Di sini dibutuhkan kerendahan hati Petra untuk memohon maaf pada papi). Penyelesaiannya, dapat saja makanannya disimpan di kulkas, dan besok pagi Petra bisa makan untuk sarapan, misalnya. Jika Petra mengatakannya dengan nada yang tulus, dan tidak &lsquo;ogah-ogahan&rsquo; maka rasanya papi tidak akan marah. Dengan demikian Petra tidak berbohong, dan tidak juga menyinggung perasaan papi.</p></blockquote><p>Ingatlah motivasi di atas semua ini adalah kasih kepada Tuhan, dan kasih kepada papi. Ingatlah bahwa papi juga mengasihi Petra, dengan menyediakan makanan, dan juga perhatian-perhatian yang lain, dan sebagai tanda kasihmu kepada Tuhan, kasihilah papi-mu yang Tuhan sudah berikan kepadamu.  Selamat berjuang untuk hidup lebih kudus, Petra. Tuhan Yesus pasti senang melihat keseriusanmu untuk mengikuti teladan kekudusan-Nya.  Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 30/59 queries in 0.038 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-09-08 11:03:07 -->