<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Sudahkah Kita Pahami Pengertian Ekaristi?</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 11:26:12 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: Romo Bernardus Boli Ujan SVD</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-14798</link> <dc:creator>Romo Bernardus Boli Ujan SVD</dc:creator> <pubDate>Wed, 05 May 2010 17:42:10 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-14798</guid> <description>Salam Erwin,Setuju dengan usulan anda untuk membuat petunjuk praktis dari RS 92-93.
Kalau ada keberatan dengan keputusan yang diberlakukan di KAJ dapat disampaikan kepada pimpinan KAJ, tentu dengan alasan-alasan yang kuat seraya memperlihatkan dan membuktikan bahwa syarat-syarat yang dituntut untuk itu telah dan dapat dipenuhi.P Bernardus Boli Ujan SVD</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam Erwin,</p><p>Setuju dengan usulan anda untuk membuat petunjuk praktis dari RS 92-93.<br
/> Kalau ada keberatan dengan keputusan yang diberlakukan di KAJ dapat disampaikan kepada pimpinan KAJ, tentu dengan alasan-alasan yang kuat seraya memperlihatkan dan membuktikan bahwa syarat-syarat yang dituntut untuk itu telah dan dapat dipenuhi.</p><p>P Bernardus Boli Ujan SVD</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Erwin</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-14741</link> <dc:creator>Erwin</dc:creator> <pubDate>Tue, 04 May 2010 03:01:15 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-14741</guid> <description>Pater Bernardus SVD Ybk.Terima kasih atas tanggapannya.
Nampaknya perlu juga ada ya semacam petunjuk standar praktis dari setiap keuskupan yang merupakan penjabaran lanjut dari RS art 92-93 dan disosialisasikan ke umat. Tujuannya tentu agar ada pedoman praktis. Jika dari magisterium memberikan tuntunan seperti ini saya yakin umat akan mengikutinya dengan setia.Ada contoh baik yang dilakukan oleh Bapa Suci Benediktus dengan mengeluarkan Sumorum Pontificum untuk &quot;memasyaraktkan&quot; Misa Tridentine. Forma extraordinaria&quot; (extraordinary form) dan &quot; Forma ordinaria&quot; (ordinary form) disebutkan tidak saling kontradiksi dalam Roman Missal (Catholic Missal). Bapa Paus Benadiktus berkehendak &quot;Tridentine Mass&quot; sangat perlu dimasukkan dalam hal &quot;Forma extraordinaria&quot; karena &quot;Tridentine Mass&quot; sudah hampir punah atau sering tidak digunakan. &quot;Tridentine Mass&quot; adalah &quot;Roman Rite Mass&quot; yang dimulai oleh Paus Pius V tahun 1570 sampai Paus Yohanes XXIII tahun 1962 dengan style Bahasa Latin. Tahun 1962 misa itu digantikan oleh Forma Ordinaria oleh Paus Paulus VI yang dikenal dengan misa &quot;Novus Ordo Missae&quot; dan diteruskan oleh Paus Yohanes Paulus II. Dan Benadiktus XVI berkeinginan Forma Ordinaria dan Tridentine Mass dalam Forma Extraordinaria diusahakan dirayakan jauh lebih bebas dan meriah. Jadi seorang Pastor tidak perlu minta izin lagi untuk merayakan &quot;Tridentine Mass&quot; digereja-gereja baik untuk paroki pada Sunday dan Feast dan juga bersamaan dalam perkawinan, funeral, baptis dan penance. Jadi tidak menghilangkan tradisi lama dan tidak mengaburkan tradisi baru dalam Roman Rites yang semuanya adalah perayaan Liturgi Kepada Tuhan dalam Katolik.Namun apa yang dijawab oleh KAJ ? Dikatakan bahwa hal ini tidak relevan dilaksanakan di KAJ. Mengapa dibilang tidak relevan? Padahal, maaf, setahu saya tidak ada survei untuk tujuan itu kepada umat katolik di KAJ. Sangat disayangkan jawabannya bagi saya pribadi. Sebagai umat di KAJ saya tentu menghormati keputusan itu; tetapi saya rasa perlu dikritisi - mengingat anjuran yang sangat baik ini diungkapkan sendiri oleh Bapa Suci dan sudah selayaknya kita taat kepada Bapa Suci karena dia tidak menyesatkan.Salam,
-erwin-</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Pater Bernardus SVD Ybk.</p><p>Terima kasih atas tanggapannya.<br
/> Nampaknya perlu juga ada ya semacam petunjuk standar praktis dari setiap keuskupan yang merupakan penjabaran lanjut dari RS art 92-93 dan disosialisasikan ke umat. Tujuannya tentu agar ada pedoman praktis. Jika dari magisterium memberikan tuntunan seperti ini saya yakin umat akan mengikutinya dengan setia.</p><p>Ada contoh baik yang dilakukan oleh Bapa Suci Benediktus dengan mengeluarkan Sumorum Pontificum untuk &#8220;memasyaraktkan&#8221; Misa Tridentine. Forma extraordinaria&#8221; (extraordinary form) dan &#8221; Forma ordinaria&#8221; (ordinary form) disebutkan tidak saling kontradiksi dalam Roman Missal (Catholic Missal). Bapa Paus Benadiktus berkehendak &#8220;Tridentine Mass&#8221; sangat perlu dimasukkan dalam hal &#8220;Forma extraordinaria&#8221; karena &#8220;Tridentine Mass&#8221; sudah hampir punah atau sering tidak digunakan. &#8220;Tridentine Mass&#8221; adalah &#8220;Roman Rite Mass&#8221; yang dimulai oleh Paus Pius V tahun 1570 sampai Paus Yohanes XXIII tahun 1962 dengan style Bahasa Latin. Tahun 1962 misa itu digantikan oleh Forma Ordinaria oleh Paus Paulus VI yang dikenal dengan misa &#8220;Novus Ordo Missae&#8221; dan diteruskan oleh Paus Yohanes Paulus II. Dan Benadiktus XVI berkeinginan Forma Ordinaria dan Tridentine Mass dalam Forma Extraordinaria diusahakan dirayakan jauh lebih bebas dan meriah. Jadi seorang Pastor tidak perlu minta izin lagi untuk merayakan &#8220;Tridentine Mass&#8221; digereja-gereja baik untuk paroki pada Sunday dan Feast dan juga bersamaan dalam perkawinan, funeral, baptis dan penance. Jadi tidak menghilangkan tradisi lama dan tidak mengaburkan tradisi baru dalam Roman Rites yang semuanya adalah perayaan Liturgi Kepada Tuhan dalam Katolik.</p><p>Namun apa yang dijawab oleh KAJ ? Dikatakan bahwa hal ini tidak relevan dilaksanakan di KAJ. Mengapa dibilang tidak relevan? Padahal, maaf, setahu saya tidak ada survei untuk tujuan itu kepada umat katolik di KAJ. Sangat disayangkan jawabannya bagi saya pribadi. Sebagai umat di KAJ saya tentu menghormati keputusan itu; tetapi saya rasa perlu dikritisi &#8211; mengingat anjuran yang sangat baik ini diungkapkan sendiri oleh Bapa Suci dan sudah selayaknya kita taat kepada Bapa Suci karena dia tidak menyesatkan.</p><p>Salam,<br
/> -erwin-</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Bernardus Boli Ujan SVD</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-14723</link> <dc:creator>Romo Bernardus Boli Ujan SVD</dc:creator> <pubDate>Mon, 03 May 2010 12:56:49 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-14723</guid> <description>Salam Erwin,Tempat komuni diperbanyak, tidak terpaku pada meja komuni tetapi diperbanyak tempatnya (di depan atau di tengah umat) demi memperlancar pelayanan komuni, tanpa mengurangkan/menghilangkan rasa hormat yang mendalam terhadap Sakramen Mahakudus maka di tempat komuni orang beriman harus menunjukkan rasa hormat itu dalam sikap jalan menuju dan kembali dari tempat komuni, menjelang penerimaan komuni dengan tunduk atau membungkuk atau berlutut, dengan menerima hosti kudus pada lidah atau pada tangan (bila ada aprobasi dari uskup dan rekonyisi dari Takhta Suci, dengan sarat langsung menyantap-Nya di tempat komuni dan tidak membawa pulang ke tempat duduk), di samping pelayan komuni ada pelayan yg memegang lilin dan yang lain memegang patena. Tentang posisi tabernakel, paling baik kalau ada di dalam kapela kecil dekat panti imam (pintu kapel dibuka bila tak ada Ekaristi di dalam gereja, tetapi ditutup pintunya bila sedang ada Ekaristi), agar selama perayaan Ekaristi pusat perhatian diarahkan kepada seluruh tindakan liturgis perayaan Ekaristi dan imam atau petugas lain di panti imam tidak membelakangi tabernakel.P.Bernardus Boli Ujan SVD</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam Erwin,</p><p>Tempat komuni diperbanyak, tidak terpaku pada meja komuni tetapi diperbanyak tempatnya (di depan atau di tengah umat) demi memperlancar pelayanan komuni, tanpa mengurangkan/menghilangkan rasa hormat yang mendalam terhadap Sakramen Mahakudus maka di tempat komuni orang beriman harus menunjukkan rasa hormat itu dalam sikap jalan menuju dan kembali dari tempat komuni, menjelang penerimaan komuni dengan tunduk atau membungkuk atau berlutut, dengan menerima hosti kudus pada lidah atau pada tangan (bila ada aprobasi dari uskup dan rekonyisi dari Takhta Suci, dengan sarat langsung menyantap-Nya di tempat komuni dan tidak membawa pulang ke tempat duduk), di samping pelayan komuni ada pelayan yg memegang lilin dan yang lain memegang patena. Tentang posisi tabernakel, paling baik kalau ada di dalam kapela kecil dekat panti imam (pintu kapel dibuka bila tak ada Ekaristi di dalam gereja, tetapi ditutup pintunya bila sedang ada Ekaristi), agar selama perayaan Ekaristi pusat perhatian diarahkan kepada seluruh tindakan liturgis perayaan Ekaristi dan imam atau petugas lain di panti imam tidak membelakangi tabernakel.</p><p>P.Bernardus Boli Ujan SVD</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-14477</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Mon, 26 Apr 2010 13:38:27 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-14477</guid> <description>Erwin Yth
KWI sudah sejak tahun 1974 telah diperkenankan oleh Takhta Suci bahwa tata cara komuni kudus dengan dua cara dengan lidah yang tetap dipertahankan dan dengan tangan. Tradisi pada abad I sebenarnya justru menggunakan dengan tangan bukan dengan lidah baru pada abad ke 12 menggunakan tata cara menerima komuni kudus dengan lidah sambil berlutut di bangku yang diberi kain putih. Dulu dalam tradisi abad 12 ada dua bangku panjang dengan kain putih umat berlutut sambil menjulurkan lidah kemudian imam keliling memberikan komuni kudus. Sekarang cara itu meski sudah jarang dilakukan karena diperkenankan dengan tangan (kalau anda lihat dalam misa pontifical di Vatikan juga diperkenankan dengan tangan) hanya harus hati2 agar tidak terjadi profanasi, maka caranya: ketika mau menerima komuni menyembah dulu kemudian membuka tangan dengan sikap hormat menerima hosti kudus dengan menjawab lantang amin...dan menyantapnya dengan sopan kembali ke tempat duduk berdoa dalam hati bersyukur kepada Tuhan. Di Indonesia kebanyakan dengan tangan bukan berarti meniadakan tradisi abad 12 itu.
Pendasaran biblis anda dari Fil 2:10 dapat juga menjadi inspirasi umat ketika komunio dengan Tuhan.
salam
Rm Wanta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Erwin Yth</p><p>KWI sudah sejak tahun 1974 telah diperkenankan oleh Takhta Suci bahwa tata cara komuni kudus dengan dua cara dengan lidah yang tetap dipertahankan dan dengan tangan. Tradisi pada abad I sebenarnya justru menggunakan dengan tangan bukan dengan lidah baru pada abad ke 12 menggunakan tata cara menerima komuni kudus dengan lidah sambil berlutut di bangku yang diberi kain putih. Dulu dalam tradisi abad 12 ada dua bangku panjang dengan kain putih umat berlutut sambil menjulurkan lidah kemudian imam keliling memberikan komuni kudus. Sekarang cara itu meski sudah jarang dilakukan karena diperkenankan dengan tangan (kalau anda lihat dalam misa pontifical di Vatikan juga diperkenankan dengan tangan) hanya harus hati2 agar tidak terjadi profanasi, maka caranya: ketika mau menerima komuni menyembah dulu kemudian membuka tangan dengan sikap hormat menerima hosti kudus dengan menjawab lantang amin&#8230;dan menyantapnya dengan sopan kembali ke tempat duduk berdoa dalam hati bersyukur kepada Tuhan. Di Indonesia kebanyakan dengan tangan bukan berarti meniadakan tradisi abad 12 itu.<br
/> Pendasaran biblis anda dari Fil 2:10 dapat juga menjadi inspirasi umat ketika komunio dengan Tuhan.</p><p>salam<br
/> Rm Wanta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Erwin</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-14311</link> <dc:creator>Erwin</dc:creator> <pubDate>Fri, 23 Apr 2010 02:46:49 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-14311</guid> <description>Pater Wanta, Pr Ybk.Terima kasih atas tanggapannya.Dalam RS art.92. dikatakan &quot;Although each of the faithful always has the right to receive Holy Communion on the tongue, at his choice,  if any communicant should wish to receive the Sacrament in the hand, in areas where the Bishops’ Conference with the recognitio of the Apostolic See has given permission, the sacred host is to be administered to him or her. However, special care should be taken to ensure that the host is consumed by the communicant in the presence of the minister, so that no one goes away carrying the Eucharistic species in his hand. If there is a risk of profanation, then Holy Communion should not be given in the hand to the faithful.&quot;Jadi, memang HAK umat untuk menerima Holy Communion di lidah karena pilihannya. Dan jika ada umat yang ingin menerima Sakramen itu dengan tangan, di area dimana Konferensi Para Uskup dengan recognitio dari Kepausan memberi ijin, kepadanya Sakramen diberikan; dengan catatan jika ada resiko profanation, Komuni Kudus tidak boleh diberikan.Berdasarkan ini bolehkah saya berkesimpulan: Penerimaan Komuni dengan tangan dan di ldah adalah hak umat. Namun penerimaan Komuni Kudus dengan tangan pada Ekaristi lebih beresiko profanasi daripada di lidah. Lebih aman di lidah sembari berlutut. Selain itu, di hadapan Raja Segala Raja Sang Penyelamat sudah selayaknya memberi penghormatan tertinggi yaitu berlutut (nasehat tentang aktualita kerendahan hati pada Filipi 2:10 Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi). Untuk Tuhan, saya rasa perlulah memberi lebih banyak/besar sebisa mungkin dilandasi kerelaaan dan kerendahan hati. (mohon koreksinya, Pater, jika ada yang keliru dalam kesimpulan saya ini)Maka, saya juga yakin bahwa jika diusahakan dengan cermat/bijak dengan dilandasi kasih kepada Tuhan dan sesama, bangku untuk berlutut menyambut Komuni Kudus minimal satu buah di bagian tengah tidak akan menghambat 1000 umat yang hadir di Ekaristi.Saya setuju, Pater bahwa Ekaristi harus memiliki daya tarik yang menggugah dan menguatkan iman umat.Terima kasih atas kesempatannya untuk berdiskusi.
Salam.
erwin.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Pater Wanta, Pr Ybk.</p><p>Terima kasih atas tanggapannya.</p><p>Dalam RS art.92. dikatakan &#8220;Although each of the faithful always has the right to receive Holy Communion on the tongue, at his choice,  if any communicant should wish to receive the Sacrament in the hand, in areas where the Bishops’ Conference with the recognitio of the Apostolic See has given permission, the sacred host is to be administered to him or her. However, special care should be taken to ensure that the host is consumed by the communicant in the presence of the minister, so that no one goes away carrying the Eucharistic species in his hand. If there is a risk of profanation, then Holy Communion should not be given in the hand to the faithful.&#8221;</p><p>Jadi, memang HAK umat untuk menerima Holy Communion di lidah karena pilihannya. Dan jika ada umat yang ingin menerima Sakramen itu dengan tangan, di area dimana Konferensi Para Uskup dengan recognitio dari Kepausan memberi ijin, kepadanya Sakramen diberikan; dengan catatan jika ada resiko profanation, Komuni Kudus tidak boleh diberikan.</p><p>Berdasarkan ini bolehkah saya berkesimpulan: Penerimaan Komuni dengan tangan dan di ldah adalah hak umat. Namun penerimaan Komuni Kudus dengan tangan pada Ekaristi lebih beresiko profanasi daripada di lidah. Lebih aman di lidah sembari berlutut. Selain itu, di hadapan Raja Segala Raja Sang Penyelamat sudah selayaknya memberi penghormatan tertinggi yaitu berlutut (nasehat tentang aktualita kerendahan hati pada Filipi 2:10 Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi). Untuk Tuhan, saya rasa perlulah memberi lebih banyak/besar sebisa mungkin dilandasi kerelaaan dan kerendahan hati. (mohon koreksinya, Pater, jika ada yang keliru dalam kesimpulan saya ini)</p><p>Maka, saya juga yakin bahwa jika diusahakan dengan cermat/bijak dengan dilandasi kasih kepada Tuhan dan sesama, bangku untuk berlutut menyambut Komuni Kudus minimal satu buah di bagian tengah tidak akan menghambat 1000 umat yang hadir di Ekaristi.</p><p>Saya setuju, Pater bahwa Ekaristi harus memiliki daya tarik yang menggugah dan menguatkan iman umat.</p><p>Terima kasih atas kesempatannya untuk berdiskusi.<br
/> Salam.<br
/> erwin.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-14259</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Wed, 21 Apr 2010 21:51:44 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-14259</guid> <description>Erwin Yth.
Pernyataan anda benar tidak bertentangan dengan pendapat saya dan ajaran Gereja. Namun pendapat anda tidak bisa memaksakan bahwa di semua keuskupan harus melakukan seperti itu apalagi setiap orang melakukan seperti itu. Berilah kebebasan kepada setiap orang untuk mengekspresikan imannya ketika menerima Yesus dan dalan ajaran Gereja diperkenankan dengan tangan tidak semuanya harus dengan lidah, demikian juga, dengan berlutut baik tetapi berdiripun baik karena itu sikap hormat pada Tuhan. Jadi sebuah norma aturan harus ada kebebasan bagi setiap orang untuk mengaktualkan imanya dalam gestikulasi rohani ketikan berkomunio dengan Tuhan: ada yang membungkuk lebih dulu, ada yang siap tegap, ada yang tunduk, ada yang menghormat sambil menyembah baru menerima komuni. Itulah keanekaragaman wajah umat  dalam satu iman ketika berjumpa dan bersatu dengan Tuhan dalam komuni kudus. Tentang Katedral Jakarta, saya tidak memiliki kewenangan untuk mengatur supaya ada tempat berlutut ketika komuni yang dihadiri sekitar 1000 orang saat misa bisa dibayangkan berapa waktu lamanya kalau itu dilaksanakan dan terkadang ada yang meluber umat di luar Gereja. Apakah sikap berdiri dan sopan masih kurang pas dalam terima komuni? Saya kira tidak juga, berlutut baik berdiri juga baik karena tidak keliru dan tidak melanggar aturan yang penting hatinya bersih dan percaya kehadiran Tuhan. Aggiornamento tidak menghapus kebiasaan lama ya, apa yang baik tetap dilakukan sebagai tradisi Gereja. Ekaristi  harus memiliki daya tarik yang menggugah dan menguatkan iman umat. Semuanya itu perlu disiapkan dengan sungguh mulai dari Imam pemimpin upacara, para petugasnya dan kebersihan serta kerapian ruang Gereja.
salam
Rm Wanta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Erwin Yth.</p><p>Pernyataan anda benar tidak bertentangan dengan pendapat saya dan ajaran Gereja. Namun pendapat anda tidak bisa memaksakan bahwa di semua keuskupan harus melakukan seperti itu apalagi setiap orang melakukan seperti itu. Berilah kebebasan kepada setiap orang untuk mengekspresikan imannya ketika menerima Yesus dan dalan ajaran Gereja diperkenankan dengan tangan tidak semuanya harus dengan lidah, demikian juga, dengan berlutut baik tetapi berdiripun baik karena itu sikap hormat pada Tuhan. Jadi sebuah norma aturan harus ada kebebasan bagi setiap orang untuk mengaktualkan imanya dalam gestikulasi rohani ketikan berkomunio dengan Tuhan: ada yang membungkuk lebih dulu, ada yang siap tegap, ada yang tunduk, ada yang menghormat sambil menyembah baru menerima komuni. Itulah keanekaragaman wajah umat  dalam satu iman ketika berjumpa dan bersatu dengan Tuhan dalam komuni kudus. Tentang Katedral Jakarta, saya tidak memiliki kewenangan untuk mengatur supaya ada tempat berlutut ketika komuni yang dihadiri sekitar 1000 orang saat misa bisa dibayangkan berapa waktu lamanya kalau itu dilaksanakan dan terkadang ada yang meluber umat di luar Gereja. Apakah sikap berdiri dan sopan masih kurang pas dalam terima komuni? Saya kira tidak juga, berlutut baik berdiri juga baik karena tidak keliru dan tidak melanggar aturan yang penting hatinya bersih dan percaya kehadiran Tuhan. Aggiornamento tidak menghapus kebiasaan lama ya, apa yang baik tetap dilakukan sebagai tradisi Gereja. Ekaristi  harus memiliki daya tarik yang menggugah dan menguatkan iman umat. Semuanya itu perlu disiapkan dengan sungguh mulai dari Imam pemimpin upacara, para petugasnya dan kebersihan serta kerapian ruang Gereja.</p><p>salam<br
/> Rm Wanta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Erwin</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-14166</link> <dc:creator>Erwin</dc:creator> <pubDate>Tue, 20 Apr 2010 08:51:51 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-14166</guid> <description>Pater Wanta Pr. Yth.Terima kasih atas tanggapannya. Di sela-sela kesibukan, Pater masih ada waktu untuk memberikan tanggapan.Pater mengatakan &quot;Sebenarnya dengan Konsili Vatikan II Sacrosanctum Concilium tidak menghapus kebiasaan baik yang ada di dalam peraturan Misa sebelumnya, hanya lebih ke pembaruan semangat aggiornamento di mana yang ditekankan adalah persatuan communio realis antara umat beriman dengan Yesus Tuhan bukan pada sarana...&quot;Tentunya aggiornamento (=bringing up to date) ini jangan sampai &quot;mengorbankan&quot; Praesentia Realis, bukan? Persiapan hati umat beriman ketika menerima Yesus Tuhan dalam komuni kudus memang penting. Dan hati yang penuh hasrat untuk menyambut Tubuh Tuhan akan bermuara pada aktualita - yang dalam hal ini paling praktis adalah berlutut. Ini sudah menjadi Tradisi Suci. Bahkan Bapa Suci Benediktus XVI meminta umat berlutut di hadapan saat menerima Sakramen Maha Kudus (linknya di sini: http://newsblaze.com/story/20090801065749zzzz.nb/topstory.html). Mengenai patena, Aturan di RS art.93 sudah jelas menyatakan &quot;The Communion-plate for the Communion of the faithful should be retained, so as to avoid the danger of the sacred host or some fragment of it falling.&quot;Mungkin benar bahwa &quot;Bagi umat pedalaman dan stasi yang kurang lengkap sarananya akan mengalami kesulitan&quot; tapi bukan berarti tidak bisa, bukan? Apalagi dalam rangka mengusahakan hal baik untuk Tuhan. Di Katedral Jakarta - kota besar - bahkan juga belum tersedia tempat berlutut untuk menyambut komuni.Saya merasa bahwa menerima dengan berlutut lebih sopan dibandingkan dengan berdiri, dan begitu juga menerima langsung di lidah lebih pas daripada menerima di tangan. Bagaimanapun sebaik-baiknya menerima Komuni Kudus dalam keadaan rahmat.Salam dan terima kasih atas kesempatan untuk berpendapat.
-erwin-</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Pater Wanta Pr. Yth.</p><p>Terima kasih atas tanggapannya. Di sela-sela kesibukan, Pater masih ada waktu untuk memberikan tanggapan.</p><p>Pater mengatakan &#8220;Sebenarnya dengan Konsili Vatikan II Sacrosanctum Concilium tidak menghapus kebiasaan baik yang ada di dalam peraturan Misa sebelumnya, hanya lebih ke pembaruan semangat aggiornamento di mana yang ditekankan adalah persatuan communio realis antara umat beriman dengan Yesus Tuhan bukan pada sarana&#8230;&#8221;</p><p>Tentunya aggiornamento (=bringing up to date) ini jangan sampai &#8220;mengorbankan&#8221; Praesentia Realis, bukan? Persiapan hati umat beriman ketika menerima Yesus Tuhan dalam komuni kudus memang penting. Dan hati yang penuh hasrat untuk menyambut Tubuh Tuhan akan bermuara pada aktualita &#8211; yang dalam hal ini paling praktis adalah berlutut. Ini sudah menjadi Tradisi Suci. Bahkan Bapa Suci Benediktus XVI meminta umat berlutut di hadapan saat menerima Sakramen Maha Kudus (linknya di sini: <a
href="http://newsblaze.com/story/20090801065749zzzz.nb/topstory.html)" rel="nofollow">http://newsblaze.com/story/20090801065749zzzz.nb/topstory.html)</a>. Mengenai patena, Aturan di RS art.93 sudah jelas menyatakan &#8220;The Communion-plate for the Communion of the faithful should be retained, so as to avoid the danger of the sacred host or some fragment of it falling.&#8221;</p><p>Mungkin benar bahwa &#8220;Bagi umat pedalaman dan stasi yang kurang lengkap sarananya akan mengalami kesulitan&#8221; tapi bukan berarti tidak bisa, bukan? Apalagi dalam rangka mengusahakan hal baik untuk Tuhan. Di Katedral Jakarta &#8211; kota besar &#8211; bahkan juga belum tersedia tempat berlutut untuk menyambut komuni.</p><p>Saya merasa bahwa menerima dengan berlutut lebih sopan dibandingkan dengan berdiri, dan begitu juga menerima langsung di lidah lebih pas daripada menerima di tangan. Bagaimanapun sebaik-baiknya menerima Komuni Kudus dalam keadaan rahmat.</p><p>Salam dan terima kasih atas kesempatan untuk berpendapat.<br
/> -erwin-</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Romo Wanta, Pr.</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-14035</link> <dc:creator>Romo Wanta, Pr.</dc:creator> <pubDate>Fri, 16 Apr 2010 14:06:33 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-14035</guid> <description>Erwin, yth
Sejauh yang saya tahu tidak ada peraturan KWI tentang penerimaan komuni kudus, diandaikan peraturan itu telah diketahui dan merujuk peraturan Gereja dalam Instruksi VI RS. Vatican 2004, bab IV ttg komuni suci, dijelaskan ttg syarat- syarat menyambut komuni dstnya. Sebenarnya dengan Konsili Vatikan II Sacrosanctum Concilium tidak menghapus kebiasaan baik yang ada di dalam peraturan Misa sebelumnya, hanya lebih ke pembaruan semangat aggiornamento di mana yang ditekankan adalah persatuan communio realis antara umat beriman dengan Yesus Tuhan bukan pada sarana yang mengharuskan orang untuk ber communio: seperti harus ada bangku tempat berlutut (untuk menerima komuni), harus ada patena ketika komuni kudus. Bagi umat pedalaman dan stasi yang kurang lengkap sarananya akan mengalami kesulitan. Yang penting disini persiapan hati umat beriman ketika menerima Yesus Tuhan dalam komuni kudus. Jadi hak masing-masing komunikan dan konteks budaya setempat. Di Jawa Bali ketikan Tubuh Kristus ditunjukan ke umat tangan umat menyembah terkatup kedua tanganya dan diangkat sampai ke atas, beda dengan di Eropa hanya dilihat saja tanpa ekspresi. India dengan membungkuk tidak berlutut, jadi tidak perlu diseragamkan. Kalau ada yang mempertahankan cara lama pra Vatikan II juga baik. Perihal tata ruang panti imam atau gedung Gereja memang ada hal yang kurang pas karena tidak tahu sehingga bangunan Gereja di Indonesia banyak yang kurang pas. Sekali lagi aturan baik namun konteks dan locus di mana di bangun Gereja kadang tidak memungkinkan sebagus dan seideal dalam bayangan kita sesuai aturan.
salam
Rm Wanta</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Erwin, yth</p><p>Sejauh yang saya tahu tidak ada peraturan KWI tentang penerimaan komuni kudus, diandaikan peraturan itu telah diketahui dan merujuk peraturan Gereja dalam Instruksi VI RS. Vatican 2004, bab IV ttg komuni suci, dijelaskan ttg syarat- syarat menyambut komuni dstnya. Sebenarnya dengan Konsili Vatikan II Sacrosanctum Concilium tidak menghapus kebiasaan baik yang ada di dalam peraturan Misa sebelumnya, hanya lebih ke pembaruan semangat aggiornamento di mana yang ditekankan adalah persatuan communio realis antara umat beriman dengan Yesus Tuhan bukan pada sarana yang mengharuskan orang untuk ber communio: seperti harus ada bangku tempat berlutut (untuk menerima komuni), harus ada patena ketika komuni kudus. Bagi umat pedalaman dan stasi yang kurang lengkap sarananya akan mengalami kesulitan. Yang penting disini persiapan hati umat beriman ketika menerima Yesus Tuhan dalam komuni kudus. Jadi hak masing-masing komunikan dan konteks budaya setempat. Di Jawa Bali ketikan Tubuh Kristus ditunjukan ke umat tangan umat menyembah terkatup kedua tanganya dan diangkat sampai ke atas, beda dengan di Eropa hanya dilihat saja tanpa ekspresi. India dengan membungkuk tidak berlutut, jadi tidak perlu diseragamkan. Kalau ada yang mempertahankan cara lama pra Vatikan II juga baik. Perihal tata ruang panti imam atau gedung Gereja memang ada hal yang kurang pas karena tidak tahu sehingga bangunan Gereja di Indonesia banyak yang kurang pas. Sekali lagi aturan baik namun konteks dan locus di mana di bangun Gereja kadang tidak memungkinkan sebagus dan seideal dalam bayangan kita sesuai aturan.</p><p>salam<br
/> Rm Wanta</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Erwin</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-13949</link> <dc:creator>Erwin</dc:creator> <pubDate>Wed, 14 Apr 2010 07:54:31 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-13949</guid> <description>Dear Katolisitas,Kehadiran Yesus adalah secara real dan substansial di dalam Ekaristi. Dari pernyataan ini jelas bahwa Tuhan sendiri yang hadir. Tetapi mengapa saat ini beragam sarana yang mau menekankan kehormatan akan kehadiran nyata ini sudah tidak diadakan lagi (atau &quot;dikesampingkan&quot;) di dalam sebagian besar gereja katolik. Seperti misalnya: tidak ada tempat berlutut untuk menyambut komuni kudus, menerima komuni di lidah; bukan di tangan, patena untuk menadahkan remah-remah hosti yang mungkin jatuh saat menerima komuni, posisi tabernakel tidak persis di tengah tapi di samping (sehingga perhatian umat tidak langsung tertuju).
Sebelum KV II tata perayaan ekaristi sungguh membantu umat dalam menghayati Praesentia Realis tersebut; tapi kini setelah KV II semua itu sedikit demi sedikit luntur..
Bagaimana pendapat katolisitas?salam,
erwin</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Dear Katolisitas,</p><p>Kehadiran Yesus adalah secara real dan substansial di dalam Ekaristi. Dari pernyataan ini jelas bahwa Tuhan sendiri yang hadir. Tetapi mengapa saat ini beragam sarana yang mau menekankan kehormatan akan kehadiran nyata ini sudah tidak diadakan lagi (atau &#8220;dikesampingkan&#8221;) di dalam sebagian besar gereja katolik. Seperti misalnya: tidak ada tempat berlutut untuk menyambut komuni kudus, menerima komuni di lidah; bukan di tangan, patena untuk menadahkan remah-remah hosti yang mungkin jatuh saat menerima komuni, posisi tabernakel tidak persis di tengah tapi di samping (sehingga perhatian umat tidak langsung tertuju).<br
/> Sebelum KV II tata perayaan ekaristi sungguh membantu umat dalam menghayati Praesentia Realis tersebut; tapi kini setelah KV II semua itu sedikit demi sedikit luntur..<br
/> Bagaimana pendapat katolisitas?</p><p>salam,<br
/> erwin</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-11853</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Tue, 23 Feb 2010 03:24:14 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-11853</guid> <description>Shalom Herman Jay,
1. Persiapan Komuni pertama adalah pengajaran untuk mempersiapkan anak-anak yang sudah dibaptis (umumnya baptis bayi) untuk lebih memahami makna Ekaristi, sehingga pada saat anak-anak itu menyambut Ekaristi, mereka mempunyai disposisi hati dan pemahaman yang baik. Harap dimengerti bahwa meskipun mereka sudah dibaptis, namun jika tidak diberi pengertian, maka anak- anak ini dapat menyambut komuni, tetapi tidak memahami/ menghayati maknanya. Dan ini tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci  yang mensyaratkan umat memahami makna Ekaristi sebelum dapat menyambutnya.
Sedangkan pada orang dewasa pendidikan tentang makna Ekaristi ini diberikan pada saat pelajaran Katekumen, sehingga seharusnya pada saat mereka dibaptis, mereka sudah memahami makna Ekaristi.2. Ketentuannya jelas tertulis dalam Katekismus,KGK 1400 Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, “terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya” (Unitatis Redintegratio 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik &lt;strong&gt;tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini&lt;/strong&gt;. “Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan” (Unitatis Redintegratio 22).Ini memberikan dua implikasi: 1) umat Katolik tidak dapat menerima Komuni di gereja Protestan, 2) umat Protestan-pun tidak dapat menerima Komuni di Misa Katolik, karena meskipun mereka dapat saja meyakini bahwa Eakristi itu Tubuh dan Darah Yesus, namun mereka tidak memiliki kesatuan penuh dengan Tubuh Mistik Kristus yaitu Gereja Katolik.
Silakan anda membaca di sini, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/12/27/perjamuan-kudus-di-gereja-protestan/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;, untuk mengetahui perbedaan perjamuan kudus di gereja Protestan dan Ekaristi di Gereja Katolik.Sedangkan selanjutnya untuk makna Ekaristi di Gereja Katolik, silakan membaca artikel di atas, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;; dan juga artikel ini, Ekaristi, Sumber dan Puncak kehidupan Kristiani, &lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik&lt;/a&gt;.Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Herman Jay,<br
/> 1. Persiapan Komuni pertama adalah pengajaran untuk mempersiapkan anak-anak yang sudah dibaptis (umumnya baptis bayi) untuk lebih memahami makna Ekaristi, sehingga pada saat anak-anak itu menyambut Ekaristi, mereka mempunyai disposisi hati dan pemahaman yang baik. Harap dimengerti bahwa meskipun mereka sudah dibaptis, namun jika tidak diberi pengertian, maka anak- anak ini dapat menyambut komuni, tetapi tidak memahami/ menghayati maknanya. Dan ini tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci  yang mensyaratkan umat memahami makna Ekaristi sebelum dapat menyambutnya.<br
/> Sedangkan pada orang dewasa pendidikan tentang makna Ekaristi ini diberikan pada saat pelajaran Katekumen, sehingga seharusnya pada saat mereka dibaptis, mereka sudah memahami makna Ekaristi.</p><p>2. Ketentuannya jelas tertulis dalam Katekismus,</p><p>KGK 1400 Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, “terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya” (Unitatis Redintegratio 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik <strong>tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini</strong>. “Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan” (Unitatis Redintegratio 22).</p><p>Ini memberikan dua implikasi: 1) umat Katolik tidak dapat menerima Komuni di gereja Protestan, 2) umat Protestan-pun tidak dapat menerima Komuni di Misa Katolik, karena meskipun mereka dapat saja meyakini bahwa Eakristi itu Tubuh dan Darah Yesus, namun mereka tidak memiliki kesatuan penuh dengan Tubuh Mistik Kristus yaitu Gereja Katolik.<br
/> Silakan anda membaca di sini, <a
href="http://katolisitas.org/2008/12/27/perjamuan-kudus-di-gereja-protestan/" rel="nofollow">silakan klik</a>, untuk mengetahui perbedaan perjamuan kudus di gereja Protestan dan Ekaristi di Gereja Katolik.</p><p>Sedangkan selanjutnya untuk makna Ekaristi di Gereja Katolik, silakan membaca artikel di atas, <a
href="http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/" rel="nofollow">silakan klik</a>; dan juga artikel ini, Ekaristi, Sumber dan Puncak kehidupan Kristiani, <a
href="http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/" rel="nofollow">silakan klik</a>.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Herman Jay</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-11788</link> <dc:creator>Herman Jay</dc:creator> <pubDate>Sun, 21 Feb 2010 02:18:38 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-11788</guid> <description>1. Mengapa anak yang sudah dibaptis secara katolik tidak otomatis dapat langsung menyambut komuni, tetapi harus mengikuti dulu persiapan komuni pertama? Lantas kalau orang dewasa yang dibaptis, kan mereka dapat langsung menyambut komuni? Bukankah gereja melakukan diskriminasi khususnya terhadap anak-anak yang sudah dibaptis? Ada yang tidak logis.
2.Mengapa orang Protestan tidak boleh menyambut komuni yang diberikan oleh gereja katolik, sedangkan sebaliknya orang katolik biasanya ada juga yang ikut perjamuan Protestan.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>1. Mengapa anak yang sudah dibaptis secara katolik tidak otomatis dapat langsung menyambut komuni, tetapi harus mengikuti dulu persiapan komuni pertama? Lantas kalau orang dewasa yang dibaptis, kan mereka dapat langsung menyambut komuni? Bukankah gereja melakukan diskriminasi khususnya terhadap anak-anak yang sudah dibaptis? Ada yang tidak logis.<br
/> 2.Mengapa orang Protestan tidak boleh menyambut komuni yang diberikan oleh gereja katolik, sedangkan sebaliknya orang katolik biasanya ada juga yang ikut perjamuan Protestan.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-10736</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Tue, 26 Jan 2010 01:44:07 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-10736</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Adihanapi, &lt;br /&gt;Ya saya rasa rencana anda sangat baik, yaitu untuk mendiskusikannya dengan Pastor paroki untuk mengadakan semacam katekese untuk umat mengenai makna Ekaristi. Saya juga setuju bahwa umat Katolik harus semakin memahami makna Ekaristi. Karena Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani, maka kita yang menjadi murid Kristus harus semakin menghargai dan menghayatinya. Jadi sudah selayaknya kita mengagungkan Ekaristi, karena Ekaristi itu adalah Kristus sendiri. Mungkin ada baiknya anda kembali berbicara dengan teman anda yang aktivis itu, karena bagi kita umat Katolik sesungguhnya tidak ada bentuk penyembahan yang lebih tinggi daripada perayaan Ekaristi. Sebenarnya Persekutuan doa, Bible study, atau apapun kegiatan lainnya adalah untuk membantu kita mengarahkan kehendak dan hati dan kepada Tuhan, agar kita dapat semakin dapat menghargai dan menghayati kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi (yang adalah perayaan Misteri PaskaNya) adalah cara yang dipilih oleh Kristus untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita, dan mari kita berusaha memahami dan menghayatinya, dan tidak menggantikannya dengan cara yang lain yang kita pilih sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi jika anda pandang berguna, silakan anda mengutip artikel- artikel tentang Sakramen Ekaristi yang ada di situs ini dengan syarat anda menyertakan sumbernya, yaitu www.katolisitas.org  sehingga jika ada yang mau bertanya atau memberi masukan dapat langsung menghubungi kepada kami.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Sudahkah kita pahami Ekaristi&lt;br /&gt;Ekaristi Sumber dan Puncak Kehidupan Kristiani&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2009/04/27/sejarah-yang-mendasari-pengajaran-tentang-ekaristi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sejarah yang mendasari pengajaran tentang Ekaristi&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/10/26/cara-mempersiapkan-diri-menyambut-ekaristi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;br /&gt;Cara mempersiapkan diri menyambut Ekaristi&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selamat berkarya, semoga Tuhan memberkati.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati- www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Adihanapi, <br
/>Ya saya rasa rencana anda sangat baik, yaitu untuk mendiskusikannya dengan Pastor paroki untuk mengadakan semacam katekese untuk umat mengenai makna Ekaristi. Saya juga setuju bahwa umat Katolik harus semakin memahami makna Ekaristi. Karena Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani, maka kita yang menjadi murid Kristus harus semakin menghargai dan menghayatinya. Jadi sudah selayaknya kita mengagungkan Ekaristi, karena Ekaristi itu adalah Kristus sendiri. Mungkin ada baiknya anda kembali berbicara dengan teman anda yang aktivis itu, karena bagi kita umat Katolik sesungguhnya tidak ada bentuk penyembahan yang lebih tinggi daripada perayaan Ekaristi. Sebenarnya Persekutuan doa, Bible study, atau apapun kegiatan lainnya adalah untuk membantu kita mengarahkan kehendak dan hati dan kepada Tuhan, agar kita dapat semakin dapat menghargai dan menghayati kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi (yang adalah perayaan Misteri PaskaNya) adalah cara yang dipilih oleh Kristus untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita, dan mari kita berusaha memahami dan menghayatinya, dan tidak menggantikannya dengan cara yang lain yang kita pilih sendiri.</p><p>Jadi jika anda pandang berguna, silakan anda mengutip artikel- artikel tentang Sakramen Ekaristi yang ada di situs ini dengan syarat anda menyertakan sumbernya, yaitu <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a> sehingga jika ada yang mau bertanya atau memberi masukan dapat langsung menghubungi kepada kami.</p><p><a
href="http://katolisitas.org/2008/08/19/ekaristi-sumber-dan-puncak-spiritualitas-kristiani/" rel="nofollow">Sudahkah kita pahami Ekaristi<br
/>Ekaristi Sumber dan Puncak Kehidupan Kristiani</a><a
href="http://katolisitas.org/2009/04/27/sejarah-yang-mendasari-pengajaran-tentang-ekaristi/" rel="nofollow"><br
/>Sejarah yang mendasari pengajaran tentang Ekaristi</a><a
href="http://katolisitas.org/2008/10/26/cara-mempersiapkan-diri-menyambut-ekaristi/" rel="nofollow"><br
/>Cara mempersiapkan diri menyambut Ekaristi</a></p><p>Selamat berkarya, semoga Tuhan memberkati.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/>Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Adihanapi</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-10657</link> <dc:creator>Adihanapi</dc:creator> <pubDate>Sat, 23 Jan 2010 14:38:11 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-10657</guid> <description>Shalom Bpk. Stefanus dan bu IngridSelama bertahun-tahun saya mengalami suatu keterpurukan iman Katolik, akan tetapi Yesus sungguh baik, saya diberikan terang akan iman Katolik yang selama ini saya ragukan bahkan saya ingkari.
Roh Kudus memberikan terang iman kepada saya khususnya akan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi Kudus dan sejak saat itu saya mulai banyak membaca buku tentang ajaran gereja Katolik dan juga mencari di internet dan membawa saya menemukan website katolisitas.Selama membaca tulisan tentang Ekaristi dari beberapa sumber, rasanya hal itu sebagai peneguh bagi saya, karena apa yang dituliskan menjabarkan apa yang saya rasakan ketika menghadiri Ekaristi.
Ekaristi menjadikan suatu hal yang luar biasa, menyadari bahwa saat itulah Surga hadir dibumi, tidak ada lagi koor jelek, kotbah jelek, membosankan..... semuanya indah. Bahkan ketika saya berkunjung ke negara lain, dengan bahasa yg kurang dapat saya tangkap, semua itu tidak mengurangi keindahan Ekaristi.
Saya menyadari pentingnya iman akan Ekaristi dan kehadiran nyata Yesus Kristus  merupakan pilar utama dalam iman dan ajaran gereja Katolik.
Saya rasa jika kita mengimani Ekaristi maka Ekaristi bukanlah suatu kewajiban dan bukanlah hanya suatu ritual, melainkan kita datang karena kita diundang untuk menghadiri perjamuan bersama Yesus Kristus dan seluruh penghuni Surga.Yang menyedihkan adalah masih banyak orang Katolik yang tidak menyadari ini, oleh karena itu saya tertarik untuk menghubungi Pastor (beliau sudah menjadwalkan untuk bertemu dengan saya) di kota saya agar mau memberikan seminar atau retret atau apapun bentuknya untuk lebih mengenalkan Ekaristi kepada umat Katolik.Sambil menunggu untuk dapat bertemu dengan Pastor, saya mohon Bpk. Stefanus dan Ibu Ingrid jika berkenan untuk dapat memberikan saran akan bentuk acaranya dan materi (maaf jadi merepotkan), agar saya dapat sampaikan saat saya berbicara dengan Pastor.Saya mohon maaf, saya sama sekali tidak merasa lebih baik dari umat Katilok lainnya, saya orang yang sangat berdosa, hanya oleh karena Kasih dan KaruniaNya saja maka saya dapat merasakan ini semua.Mohon tanggapan juga akan ide ini, karena baru kemaren saya bicara hal ini dengan seorang teman yang aktivis dan telah mengikuti kursus evangelisasi, dia mengatakan bahwa jangan terlalu mengagungkan Ekaristi, yang terpenting adalah bahwa setiap saat ingat akan Yesus.Bpk. Stefanus dan Ibu Ingrid, mohon doakan saya
Terima kasih.Salama kasih dalam Yesus Kristus
Adihanapi</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Bpk. Stefanus dan bu Ingrid</p><p>Selama bertahun-tahun saya mengalami suatu keterpurukan iman Katolik, akan tetapi Yesus sungguh baik, saya diberikan terang akan iman Katolik yang selama ini saya ragukan bahkan saya ingkari.<br
/> Roh Kudus memberikan terang iman kepada saya khususnya akan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi Kudus dan sejak saat itu saya mulai banyak membaca buku tentang ajaran gereja Katolik dan juga mencari di internet dan membawa saya menemukan website katolisitas.</p><p>Selama membaca tulisan tentang Ekaristi dari beberapa sumber, rasanya hal itu sebagai peneguh bagi saya, karena apa yang dituliskan menjabarkan apa yang saya rasakan ketika menghadiri Ekaristi.<br
/> Ekaristi menjadikan suatu hal yang luar biasa, menyadari bahwa saat itulah Surga hadir dibumi, tidak ada lagi koor jelek, kotbah jelek, membosankan&#8230;.. semuanya indah. Bahkan ketika saya berkunjung ke negara lain, dengan bahasa yg kurang dapat saya tangkap, semua itu tidak mengurangi keindahan Ekaristi.<br
/> Saya menyadari pentingnya iman akan Ekaristi dan kehadiran nyata Yesus Kristus  merupakan pilar utama dalam iman dan ajaran gereja Katolik.<br
/> Saya rasa jika kita mengimani Ekaristi maka Ekaristi bukanlah suatu kewajiban dan bukanlah hanya suatu ritual, melainkan kita datang karena kita diundang untuk menghadiri perjamuan bersama Yesus Kristus dan seluruh penghuni Surga.</p><p>Yang menyedihkan adalah masih banyak orang Katolik yang tidak menyadari ini, oleh karena itu saya tertarik untuk menghubungi Pastor (beliau sudah menjadwalkan untuk bertemu dengan saya) di kota saya agar mau memberikan seminar atau retret atau apapun bentuknya untuk lebih mengenalkan Ekaristi kepada umat Katolik.</p><p>Sambil menunggu untuk dapat bertemu dengan Pastor, saya mohon Bpk. Stefanus dan Ibu Ingrid jika berkenan untuk dapat memberikan saran akan bentuk acaranya dan materi (maaf jadi merepotkan), agar saya dapat sampaikan saat saya berbicara dengan Pastor.</p><p>Saya mohon maaf, saya sama sekali tidak merasa lebih baik dari umat Katilok lainnya, saya orang yang sangat berdosa, hanya oleh karena Kasih dan KaruniaNya saja maka saya dapat merasakan ini semua.</p><p>Mohon tanggapan juga akan ide ini, karena baru kemaren saya bicara hal ini dengan seorang teman yang aktivis dan telah mengikuti kursus evangelisasi, dia mengatakan bahwa jangan terlalu mengagungkan Ekaristi, yang terpenting adalah bahwa setiap saat ingat akan Yesus.</p><p>Bpk. Stefanus dan Ibu Ingrid, mohon doakan saya<br
/> Terima kasih.</p><p>Salama kasih dalam Yesus Kristus<br
/> Adihanapi</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-10045</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Thu, 07 Jan 2010 16:40:37 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-10045</guid> <description>Salam Anonymous,
Silakan anda menghubungi Pastor paroki anda/ paroki teman anda. Tanyakan kepada pastor apakah gereja Protestan teman anda itu termasuk dalam daftar gereja Protestan yang Baptisannya diakui oleh Gereja Katolik. (Hal ini tergantung dari forma Baptisan yang menunjukkan credo iman dari gereja itu). Kalau ya, maka teman anda itu hanya perlu diteguhkan, tetapi tidak perlu dibaptis ulang. Kalau tidak, (misalnya forma Baptisannya hanya dibaptis dalam nama Yesus (tanpa Allah Bapa dan Roh Kudus)) maka, teman itu perlu dibaptis ulang, agar sesuai dengan forma Gereja Katolik, yang sesuai dengan ajaran Alkitab dan para rasul.
Pastor akan memutuskan sejauh mana teman anda itu perlu mengikuti katekumen. Idealnya memang mengikuti katekumen selengkapnya, tetapi dapat juga diputuskan agar mengikuti katekumen di bagian pengajaran yang khusus iman Katolik, seperti makna dari Sakramen- sakramen, Bunda Maria, dst. Untuk itu silakan diskusikan dengan pastor paroki anda.Baru setelah teman anda itu sudah resmi menjadi Katolik, ia boleh menerima Komuni dalam perjamuan Ekaristi/ Misa Kudus.Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam Anonymous,<br
/> Silakan anda menghubungi Pastor paroki anda/ paroki teman anda. Tanyakan kepada pastor apakah gereja Protestan teman anda itu termasuk dalam daftar gereja Protestan yang Baptisannya diakui oleh Gereja Katolik. (Hal ini tergantung dari forma Baptisan yang menunjukkan credo iman dari gereja itu). Kalau ya, maka teman anda itu hanya perlu diteguhkan, tetapi tidak perlu dibaptis ulang. Kalau tidak, (misalnya forma Baptisannya hanya dibaptis dalam nama Yesus (tanpa Allah Bapa dan Roh Kudus)) maka, teman itu perlu dibaptis ulang, agar sesuai dengan forma Gereja Katolik, yang sesuai dengan ajaran Alkitab dan para rasul.<br
/> Pastor akan memutuskan sejauh mana teman anda itu perlu mengikuti katekumen. Idealnya memang mengikuti katekumen selengkapnya, tetapi dapat juga diputuskan agar mengikuti katekumen di bagian pengajaran yang khusus iman Katolik, seperti makna dari Sakramen- sakramen, Bunda Maria, dst. Untuk itu silakan diskusikan dengan pastor paroki anda.</p><p>Baru setelah teman anda itu sudah resmi menjadi Katolik, ia boleh menerima Komuni dalam perjamuan Ekaristi/ Misa Kudus.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Anonymous</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-10040</link> <dc:creator>Anonymous</dc:creator> <pubDate>Thu, 07 Jan 2010 06:30:53 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-10040</guid> <description>salam,ada seorang teman protestan, dia ingin masuk katolik. Apa yang harus dia ikuti ? pembaptisannya khan diakui, berarti dia perlu ikut katekumen ? trus soal komuni gimana ? Terima Kasih.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>salam,</p><p>ada seorang teman protestan, dia ingin masuk katolik. Apa yang harus dia ikuti ? pembaptisannya khan diakui, berarti dia perlu ikut katekumen ? trus soal komuni gimana ? Terima Kasih.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Helena LT</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-8672</link> <dc:creator>Helena LT</dc:creator> <pubDate>Thu, 12 Nov 2009 17:16:20 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-8672</guid> <description>Terima kasih Bu atas jawabannya.Tuhan memberkati.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih Bu atas jawabannya.</p><p>Tuhan memberkati.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-8645</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Wed, 11 Nov 2009 19:52:16 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-8645</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Helena, &lt;br /&gt;Sebenarnya lebih mudah untuk mengajarkan tentang mukjizat Ekaristi kepada anak-anak daripada kepada orang dewasa. Anak-anak mempunyai hati nurani yang polos, dan bagi mereka tidaklah sukar untuk membayangkan bahwa jika Allah berfirman demikian, maka akan terjadi sesuai yang difirmankan-Nya, seperti pada keadaan penciptaan dunia. Orang-orang dewasalah yang sering ingin me-rasionalkannya, sehingga ada banyak orang yang mempunyai kesulitan untuk mempercayai hal penciptaan dunia, maupun kehadiran Yesus yang nyata di dalam Ekaristi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya rasa yang perlu diajarkan adalah bagaimana Yesus yang telah bangkit dari kematian tetap hidup sampai sekarang dan bekerja di dalam dan melalui Gereja-Nya. Karena Tuhan Maha Kuasa, maka Ia dapat melakukan apa saja, sesuai dengan kehendak dan firman-Nya. Karena Ia adalah Allah yang tak terbatas oleh tempat dan waktu, maka Allah dapat hadir di mana- mana, dan kapan saja.  Namun secara khusus, Ia memilih untuk hadir secara istimewa di dalam Ekaristi, yaitu dalam rupa hosti dan anggur, yang oleh Sabda-Nya yang diucapkan para imam-Nya, diubah oleh-Nya menjadi Tubuh dan Darah-Nya sendiri. Ini adalah mukjizat yang dapat kita alami setiap kali kita mengikuti Misa Kudus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga kita dapat selalu menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan disposisi hati yang baik. Dan semoga oleh kesaksian hidup kita, (terutama para pengajar Komuni pertama), anak-anak calon Komunikan dapat juga mempersiapkan diri dan hati mereka untuk menerima anugerah yang terbesar ini, yaitu menyambut Kristus sendiri yang hadir di dalam Komuni Kudus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dalam Kristus Tuhan, &lt;br /&gt;Ingrid Listiati- www.katolisitas.org&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Helena, <br
/>Sebenarnya lebih mudah untuk mengajarkan tentang mukjizat Ekaristi kepada anak-anak daripada kepada orang dewasa. Anak-anak mempunyai hati nurani yang polos, dan bagi mereka tidaklah sukar untuk membayangkan bahwa jika Allah berfirman demikian, maka akan terjadi sesuai yang difirmankan-Nya, seperti pada keadaan penciptaan dunia. Orang-orang dewasalah yang sering ingin me-rasionalkannya, sehingga ada banyak orang yang mempunyai kesulitan untuk mempercayai hal penciptaan dunia, maupun kehadiran Yesus yang nyata di dalam Ekaristi.</p><p>Maka, saya rasa yang perlu diajarkan adalah bagaimana Yesus yang telah bangkit dari kematian tetap hidup sampai sekarang dan bekerja di dalam dan melalui Gereja-Nya. Karena Tuhan Maha Kuasa, maka Ia dapat melakukan apa saja, sesuai dengan kehendak dan firman-Nya. Karena Ia adalah Allah yang tak terbatas oleh tempat dan waktu, maka Allah dapat hadir di mana- mana, dan kapan saja.  Namun secara khusus, Ia memilih untuk hadir secara istimewa di dalam Ekaristi, yaitu dalam rupa hosti dan anggur, yang oleh Sabda-Nya yang diucapkan para imam-Nya, diubah oleh-Nya menjadi Tubuh dan Darah-Nya sendiri. Ini adalah mukjizat yang dapat kita alami setiap kali kita mengikuti Misa Kudus.</p><p>Semoga kita dapat selalu menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan disposisi hati yang baik. Dan semoga oleh kesaksian hidup kita, (terutama para pengajar Komuni pertama), anak-anak calon Komunikan dapat juga mempersiapkan diri dan hati mereka untuk menerima anugerah yang terbesar ini, yaitu menyambut Kristus sendiri yang hadir di dalam Komuni Kudus.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan, <br
/>Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Helena LT</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-8601</link> <dc:creator>Helena LT</dc:creator> <pubDate>Tue, 10 Nov 2009 05:55:10 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-8601</guid> <description>Shalom Bu,
saya mohon masukkannmengenai ilustrasi atau contoh apa yang bisa saya pakai dalam menerangkan mengenai kehadiran Yesus yang nyata dalam hosti pada saat ekaristi kepada anak-anak calon komuni pertama.Terima kasih.  Tuhan memberkati</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Bu,<br
/> saya mohon masukkannmengenai ilustrasi atau contoh apa yang bisa saya pakai dalam menerangkan mengenai kehadiran Yesus yang nyata dalam hosti pada saat ekaristi kepada anak-anak calon komuni pertama.</p><p>Terima kasih.  Tuhan memberkati</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-4969</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Tue, 04 Aug 2009 19:33:13 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-4969</guid> <description>Shalom PoNy,
Seseorang dapat menghubungi Pastor untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa meskipun di luar masa hari-hari besar Paskah dan Natal. Silakan menghubungi Pastor/ Romo di paroki anda, dan mengaku dosa, entah sebelum misa harian atau sebelum misa di hari Minggu. Jika perlu buatlah janji terlebih dahulu dengan menelpon ke sekretariat Paroki. Jika seseorang sadar akan bahwa ia melakukan dosa berat, ia harus mengaku dosa terlebih dahulu dalam Sakramen Pengakuan dosa ini, baru kemudian ia boleh menyambut komuni, sesuai dengan KGK 1385. Perhatikanlah jadwal paroki [di tiap-tiap paroki jadwal bisa berlainan] biasanya diadakan waktu sakramen Pengakuan seminggu sekali misalnya hari Sabtu sore sebelum Misa. Nah, jika ada jadwal itu, silakan datang, dan mengaku dosa dalam sakramen Tobat itu pada waktu yang sudah ditetapkan paroki. Jika tidak ada waktu yang ditetapkan, buatlah janji dengan Pastor Paroki.Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom PoNy,<br
/> Seseorang dapat menghubungi Pastor untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa meskipun di luar masa hari-hari besar Paskah dan Natal. Silakan menghubungi Pastor/ Romo di paroki anda, dan mengaku dosa, entah sebelum misa harian atau sebelum misa di hari Minggu. Jika perlu buatlah janji terlebih dahulu dengan menelpon ke sekretariat Paroki. Jika seseorang sadar akan bahwa ia melakukan dosa berat, ia harus mengaku dosa terlebih dahulu dalam Sakramen Pengakuan dosa ini, baru kemudian ia boleh menyambut komuni, sesuai dengan KGK 1385. Perhatikanlah jadwal paroki [di tiap-tiap paroki jadwal bisa berlainan] biasanya diadakan waktu sakramen Pengakuan seminggu sekali misalnya hari Sabtu sore sebelum Misa. Nah, jika ada jadwal itu, silakan datang, dan mengaku dosa dalam sakramen Tobat itu pada waktu yang sudah ditetapkan paroki. Jika tidak ada waktu yang ditetapkan, buatlah janji dengan Pastor Paroki.</p><p>Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br
/> Ingrid Listiati- <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: poNy</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/25/sudahkah-kita-pahami-pengertian-ekaristi/comment-page-1/#comment-4944</link> <dc:creator>poNy</dc:creator> <pubDate>Tue, 04 Aug 2009 03:09:24 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=169#comment-4944</guid> <description>SHALOM....bu ingrid listiati.....
....saya mau bertanya mengenai penerimaan hosti...bu ada mengatakan bhwa mereka yg bdosa berat tidak boleh menerima hosti kecuali mengadakan pertobatan dahulu.jadi maksudnya, seseorang itu tidak boleh menerima hosti sampai bila pun,sehingga menunggu ada pengakuan dosa d gereja.tapi bukan ka &quot;pengakuan dosa&quot; di gereja ada pada hari perayaaan besar ,cthnya sebelum x&#039;mas? tidak mengapa ka , jika  itu lama tidak menerima hosti? haruskah menunggu &quot;pengakuan dosa&quot; di gereja untuk membolehkan seseoarng itu menerima hosti semula atau bagaimana??makaseh ya...</description> <content:encoded><![CDATA[<p>SHALOM&#8230;.bu ingrid listiati&#8230;..<br
/> &#8230;.saya mau bertanya mengenai penerimaan hosti&#8230;bu ada mengatakan bhwa mereka yg bdosa berat tidak boleh menerima hosti kecuali mengadakan pertobatan dahulu.jadi maksudnya, seseorang itu tidak boleh menerima hosti sampai bila pun,sehingga menunggu ada pengakuan dosa d gereja.tapi bukan ka &#8220;pengakuan dosa&#8221; di gereja ada pada hari perayaaan besar ,cthnya sebelum x&#8217;mas? tidak mengapa ka , jika  itu lama tidak menerima hosti? haruskah menunggu &#8220;pengakuan dosa&#8221; di gereja untuk membolehkan seseoarng itu menerima hosti semula atau bagaimana??</p><p>makaseh ya&#8230;</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 44/79 queries in 0.040 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-07-30 16:11:28 -->