Sudahkah Kita Pahami Pengertian Ekaristi?

Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani” (KGK 1324) dan “hakikat dan rangkuman iman kita” (KGK 1327) karena di dalamnya hadir Kristus sendiri. Sayangnya hanya sekitar 30% umat Katolik memahami pengajaran Gereja Katolik tentang Ekaristi.

  1. Gereja Katolik mengajarkan beberapa pokok penting mengenai Ekaristi:
    • Yesus hadir secara real dan substansial di dalam Ekaristi
    • Keutamaan Ekaristi dalam kehidupan Gereja disebabkan karena di dalam Ekaristi hadir Yesus sendiri di dalam Misteri Paska-Nya yang mendatangkan keselamatan.
    • Beberapa nama Ekaristi dan artinya: ucapan syukur terima kasih, Perjamuan Tuhan, kenangan akan wafat dan kebangkitan Yesus, Kurban Kudus, Komuni Kudus dan Misa Kudus.
    • Buah-buah Komuni/ Ekaristi bagi umat beriman adalah memperdalam persatuan, memisahkan kita dari dosa, membangun Gereja, mewajibkan kita terhadap kaum miskin, dan mendorong kita kepada persatuan umat beriman.
  2. Dasar dari Alkitab:
    • Perjanjian Lama telah menggambarkan Ekaristi, seperti pada hal: persembahan Melkisedek, Kurban Paska, Roti Manna, dan Tabut Perjanjian Lama.
    • Perjanjian Baru mengajarkan tentang Kehadiran Yesus di dalam Ekaristi, atau Ekaristi adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Yesus, berdasarkan atas perkataan Yesus sendiri pada Perjamuan Terakhir, dan terutama pada pengajaran-Nya tentang Roti Hidup, Injil Yohanes bab 6.
  3. Bukti dari tulisan para Bapa Gereja awal:
    • St. Ignatius dari Antiokhia, dalam suratnya kepada gereja di Smyrna dan Roma (110)
    • St. Yustinus Martir dalam tulisannya kepada Emperor di Roma, ‘Apology‘(130)
    • St. Irenaeus dalam tulisannya ‘Against Heresies’, (195)
    • St. Cyril dari Yerusalem dalam Mystagogic, (350)

Kesimpulan:
Jika kita dengan hati terbuka mempelajari Alkitab, tulisan para Bapa Gereja, dan bukti historis lainnya (yang akan dibahas pada tulisan mendatang) kita akan melihat bahwa kenyataan menunjukkan bukti yang kuat yang mendasari pengajaran Gereja Katolik tentang Kehadiran Yesus secara real dan substansial di dalam Ekaristi, yang mengakibatkan keutamaan Ekaristi dalam kehidupan Gereja.

Pendahuluan

Karena Ekaristi adalah Yesus Kristus sendiri, Ekaristi menjadi ‘jantung’ dari iman Katolik. Katekismus Gerja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani” (KGK 1324) dan “hakikat dan rangkuman iman kita” (KGK 1327). Tentu idealnya semua orang Katolik mengetahui hal ini, tetapi sayangnya, kenyataan berbicara lain. Di Amerika, menurut polling pendapat yang diadakan oleh Gallup poll pada tahun 1992, pengertian ini tidak dimiliki oleh sebagian besar umat Katolik.[1] Hal yang serupa mungkin pula terjadi di Indonesia.

Hasil yang diperoleh cukup menggambarkan bahwa banyak orang Katolik yang tidak tahu dengan persis bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dalam Ekaristi:

  • 30% percaya bahwa mereka sungguh-sungguh dan benar-benar menerima Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan Yesus Kristus dalam rupa roti dan anggur.
  • 29% percaya bahwa mereka menerima roti dan anggur yang melambangkan Tubuh dan Darah Kristus.
  • 10% percaya mereka menerima roti dan anggur di mana di dalamnya Yesus juga hadir.
  • 24% percaya mereka menerima Tubuh dan Darah Yesus karena iman mereka sendiri mengatakan demikian.

Orang yang benar-benar mengerti akan pengajaran Gereja Katolik akan mengetahui bahwa pilihan yang benar itu hanya pilihan pertama, sedangkan pilihan yang lain itu keliru. Sayangnya, hanya 30% umat Katolik yang mengerti akan kebenaran ini; sedangkan 70% yang lain sepertinya ‘bingung’ atau memegang kepercayaan gereja lain yang bukan Katolik. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, termasuk golongan mana kita ini?

Apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Ekaristi?

1. Kehadiran Yesus Kristus yang real dan substansial di dalam Ekaristi

Selama kira-kira 2000 tahun, Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa Yesus Kristus sungguh hadir, real dan substansial, di dalam Ekaristi, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya di dalam rupa roti dan anggur (KGK 1374). Pada saat imam selesai mengucapkan doa konsekrasi – “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku”, Tuhan secara ajaib mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Kejadian ini disebut sebagai “transubstansiasi“, yang mengakibatkan substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (lih. KGK 1376). Jadi yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur, tetapi substansi roti dan anggur sudah lenyap, digantikan dengan kehadiran Yesus.

Yesus hadir seutuhnya di dalam roti itu, bahkan sampai di partikel yang terkecil dan di dalam setiap tetes anggur. Pemecahan roti bukan berarti pemecahan Kristus, sebab kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam setiap partikel. Dengan demikian kita dapat menerima Kristus di dalam rupa roti saja, atau anggur saja, atau kedua bersama-sama (lih. KGK 1390). Dalam setiap hal ini, kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen.

Karena Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, maka kita memberi hormat di depan tabernakel, kita berlutut dan menundukkan diri sebagai tanda penyembahan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Gereja memperlakukan Hosti Kudus dengan hormat, dan melakukan prosesi untuk menghormati Hosti suci yang disebut Sakramen Maha Kudus, dan mengadakan adorasi di hadapan-Nya dengan meriah (lih. KGK 1378).

Kehadiran Kristus di dalam Ekaristi bermula pada waktu konsekrasi dan berlangsung selama rupa roti dan anggur masih ada (KGK 1377), maksudnya pada saat roti dan anggur itu dicerna di dalam tubuh kita dan sudah tidak lagi berbentuk roti, maka itu sudah bukan Yesus. Jadi kira-kira Yesus bertahan dalam diri kita [dalam rupa hosti] selama 15 menit. Sudah selayaknya kita menggunakan waktu itu untuk berdoa menyembah-Nya, karena untuk sesaat itu kita sungguh-sungguh menjadi tabernakel Allah yang hidup!

Kristus sendiri yang mengundang kita untuk menyambut Dia dalam Ekaristi (KGK 1384), dan karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang agung dan kudus ini, dengan melakukan pemeriksaan batin. Karena Ekaristi itu sungguh-sungguh Allah, maka kita tidak boleh menyambutNya dalam keadaan berdosa berat. Untuk menyambut-Nya dengan layak kita harus berada dalam keadaan berdamai dengan Allah. Jika kita sedang dalam keadaan berdosa berat, kita harus menerima pengampunan melalui Sakramen Tobat sebelum kita dapat menyambut Komuni Kudus (KGK 1385).

2. Keutamaan Ekaristi disebabkan karena di dalamnya terkandung Kristus sendiri

Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG 11) karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri (KGK 1324). Pada perjamuan terakhir, pada malam sebelum sengsara-Nya, Kristus menetapkan Ekaristi sebagai tanda kenangan yang dipercayakan oleh Kristus kepada mempelai-Nya yaitu Gereja (KGK 1324). Kenangan ini berupa kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus yang disebut sebagai Misteri Paska, yang menjadi puncak kasih Allah yang membawa kita kepada keselamatan (KGK 1067). Keutamaan Misteri Paska dalam rencana Keselamatan Allah mengakibatkan keutamaan Ekaristi, yang menghadirkan Misteri Paska tersebut, di dalam kehidupan Gereja (KGK 1085).

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus (KGK 1366). Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian. Kristus telah mengalahkan maut, karenanya Misteri Paska-Nya tidak hanya terbenam sebagai masa lampau, tetapi dapat dihadirkan di masa sekarang (KGK 1085). Karena bagi Tuhan, segala waktu adalah ’saat ini’, sehingga masa lampau maupun yang akan datang terjadi sebagai ’saat ini’. Dan kejadian Misteri Paska sebagai ’saat ini’ itulah yang dihadirkan kembali di dalam Ekaristi, dengan cara yang berbeda, yaitu secara sakramental. Dengan demikian, Ekaristi menjadi kenangan hidup akan Misteri Paska dan akan segala karya agung yang telah dilakukan oleh Tuhan kepada umat-Nya, dan sekaligus harapan nyata untuk Perjamuan surgawi di kehidupan kekal (lih. KGK 1362,1364,1340,1402,1405).

3. Beberapa nama Ekaristi dan artinya

Ekaristi berasal dari kata ‘eucharistein‘ yang artinya ucapan terima kasih kepada Allah (KGK 1328). Ekaristi adalah kurban pujian dan syukur kepada Allah Bapa, di mana Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah Bapa untuk segala kebaikan-Nya di dalam segala sesuatu: untuk penciptaan, penebusan oleh Kristus, dan pengudusan. Kurban pujian ini dinaikkan oleh Gereja kepada Bapa melalui Kristus: oleh Kristus, bersama Dia dan untuk diterima di dalam Dia. (KGK 1359-1361)

Ekaristi adalah Perjamuan Tuhan, yang memperingati perjamuan malam yang diadakan oleh Kristus bersama dengan murid-murid-Nya. Perjamuan ini juga merupakan antisipasi perjamuan pernikahan Anak Domba di surga (KGK 1329).

Ekaristi adalah kenangan akan kesengsaraan dan kebangkitan Tuhan (KGK 1330). Ekaristi diadakan untuk memenuhi perintah Yesus untuk merayakan kenangan akan hidup-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan akan pembelaan-Nya bagi kita di depan Allah Bapa (KGK 1341).

Ekaristi adalah Kurban kudus, karena ia menghadirkan kurban tunggal Yesus, dan juga kurban penyerahan diri Gereja yang mengambil bagian dalam kurban Yesus, Kepalanya (KGK 1330, 1368). Sebagai kenangan Paska Kristus, Ekaristi menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban Kristus satu-satunya dalam liturgi Gereja (KGK 1362, 1365). Ekaristi menghadirkan kurban salib dan memberikan buah-buahnya yaitu pengampunan dosa (KGK 1366).

Ekaristi adalah Komuni kudus, karena di dalam sakramen ini kita menerima Kristus sendiri (KGK 1382) dan dengan demikian kita menyatukan diri dengan Kristus, yang mengundang kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya, supaya kita membentuk satu Tubuh dengan-Nya (KGK 1331).

Ekaristi dikenal juga dengan Misa kudus, karena perayaan misteri keselamatan ini berakhir dengan pengutusan umat beriman (missio) supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.

3. Buah-buah Ekaristi/ Komuni kudus

  • Komuni memperdalam persatuan kita dengan Yesus, hal ini berdasarkan atas perkataan Yesus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia” (KGK 1391).
  • Komuni memisahkan kita dari dosa, karena dengan mempersatukan kita dengan Kristus kita sekaligus dibersihkan dari dosa yang telah kita lakukan dan melindungi kita dari dosa-dosa yang baru (KGK 1393).
  • Ekaristi membangun Gereja di dalam kesatuan. Oleh Ekaristi Kristus mempersatukan kita dengan semua umat beriman menjadi satu Tubuh, yaitu Gereja. Ekaristi memperkuat kesatuan dengan Gereja yang telah dimulai pada saat pembaptisan (KGK 1396).
  • Ekaristi mewajibkan kita terhadap kaum miskin, sebab dengan bersatu dengan Kristus dalam Ekaristi, kita juga mengakui Kristus yang hadir di dalam orang-orang termiskin yang juga menjadi saudara-saudara-Nya (KGK 1397), yang di dalam Dia, menjadi saudara-saudara kita juga.
  • Ekaristi mendorong kita ke persatuan umat beriman, sebab Ekaristi, menurut perkataan Santo Agustinus adalah ’sakramen kasih sayang, tanda kesatuan dan ikatan cinta,’ (KGK 1398) yang seharusnya secara penuh dialami bersama oleh semua orang yang beriman di dalam Kristus.

Dasar pengajaran tentang Ekaristi dari Alkitab

1. Perjanjian Lama:

  • Imam Agung Melkisedek mempersembahkan roti dan anggur (Kej 14:18) yang menggambarkan Perjamuan Yesus pada Perjamuan Terakhir. Yesus sendiri dikatakan sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek (Ibr 6:20).
  • Kurban anak domba Paska yang menyelamatkan umat Israel merupakan kurban yang dimakan sebagai makanan untuk menguatkan mereka menempuh perjalanan ke Tanah Terjanji (Kej 12:1-20). Hal ini menggambarkan Ekaristi yang merupakan kurban Anak Domba Allah, yaitu Yesus, yang dimakan sebagai makanan untuk menjadi bekal perjalanan kita ke Tanah Terjanji, yaitu surga.
  • Roti Manna yang menjadi simbol Ekaristi pada Perjanjian Lama. Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia adalah Roti manna yang turun dari surga (lih. Yoh 6:32-51). Seperti halnya bahwa manna menguatkan bangsa Israel sepanjang perjalanan di gurun dan berhenti dicurahkan setelah mereka sampai di Tanah Terjanji; Ekaristi juga diberikan untuk menguatkan kita di perjalanan hidup di dunia, dan berhenti setelah kita sampai di surga.
  • Pada Tabut Perjanjian Lama menggambarkan tabernakel pada gereja Katolik di manapun, yang merujuk pada Ekaristi. Dua loh batu (Kel 25:16) menggambarkan sabda kehidupan yang terkandung dalam Ekaristi. Manna (Kel 16:34) menggambarkan Ekaristi sebagai roti hidup yang turun dari surga (Yoh 6:51). Tongkat Harun (Bil 17: 5) yang menandai imamatnya, menggambarkan peran Imamat kudus dalam Kristus, yaitu tubuhNya. Seperti tongkat Harun yang bertunas, tubuh Yesus yang ditembus oleh tombak mengeluarkan air dan darah yang melambangkan sakramen Pembaptisan dan Ekaristi.[2]

2. Perjanjian Baru:

Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, seperti dinyatakan:

  • Pada Perjamuan Terakhir Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk mengenangkan Dia dengan merayakan perjamuan tersebut. Yesus berkata, “Inilah Tubuh-Ku… (bukan ini melambangkan Tubuh-Ku)… (lih Mat 26-28; Mrk 14:22-24; Luk 22:15-20).”
  • Yesus mengatakan sendiri bahwa Ia adalah “Roti hidup yang turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, dia akan hidup selama-lamanya; dan roti yang Ku-berikan itu ialah daging-Ku yang Kuberikan untuk hidup dunia (Yoh 6:35, 51).
  • Pengajaran ini diberikan setelah Yesus mengadakan mukjizat pergandaan roti, yaitu mukjizat yang ditulis di dalam ke-empat Injil (Mat 14:13-21; Mrk 6:32-44; Luk 9:10-17; Yoh 6:1-15). Lima roti yang sama yang dibagikan oleh para rasul dapat memberi makan 5000 orang, dengan sisa 12 keranjang. Ini menggambarkan Yesus yang satu dan sama hadir dalam Ekaristi, dapat dibagikan kepada semua orang, tanpa Dia sendiri menjadi terbagi-bagi atau berkurang/ hilang.
  • Yesus berkata bahwa Ia lebih tinggi nilainya dari pada manna yang diberikan kepada orang Israel di gurun. Padahal mukjizat manna adalah suatu mukjizat yang besar, setiap harinya berjuta orang Israel menerima 1 omer (1.1 liter) roti manna per orang, sehingga tiap harinya ada beberapa ratus ton roti manna tercurah dari langit, selama 40 tahun.[3] Yesus mengatakan bahwa mukjizat-Nya lebih hebat daripada mukjizat manna ini, sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa di dalam Ekaristi, roti dapat sungguh-sungguh diubah Yesus menjadi diri-Nya sendiri, seperti yang dikatakan-Nya.
  • Orang-orang yang mendengarkan pengajaran ‘Roti Hidup’ ini memahami bahwa Yesus mengajarkan sesuatu yang literal (tidak figuratif/ simbolis), sehingga mereka meninggalkan Yesus sambil berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya untuk dimakan” (Yoh 6:52)
  • Yesus menggunakan gaya bahasa yang kuat untuk menjelaskan arti literal pengajaran ini dengan mengulangi pengajaran ini sampai 6 kali di dalam 6 ayat (ay. 53-58),… jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu (Yoh 6:53); Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman (Yoh 6:55). Ini adalah gaya bahasa yang bukan kiasan/ simbolis!
  • Banyak murid tidak dapat menerima pengajaran ini, dan meninggalkan Yesus (ay.66), tetapi Yesus tidak menarik kembali pengajaran-Nya tentang diri-Nya sebagai “Roti Hidup”. Dia tidak mengatakan bahwa Dia hanya berkata secara figuratif/simbolis. Pada beberapa kesempatan, jika Ia berbicara secara figuratif, Yesus menerangkan kembali maksud perkataan-Nya pada para murid-Nya yang mengartikannya secara literal. (Contohnya pada Yoh 4:31-34, Yesus menjelaskan bahwa ‘makanan-Nya yang tidak mereka kenal’ adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Atau pada Mat 16:5-12; tentang ragi orang-orang Farisi dan Saduki, maksudnya adalah bukan ragi secara literal, tetapi pengajaran mereka)[4]
  • Setelah banyak yang meninggalkan Dia karena pengajaran ini, Yesus bahkan bertanya kepada ke dua-belas rasulNya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”(Yoh 6:67). Namun Petrus menjawab, “Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh 6:69). Pertanyaan yang sama ditujukan pada kita, apakah kita mau percaya akan pengajaran ini seperti Petrus, ataukah kita seperti murid-murid lain yang meninggalkan Dia?
  • Rasul Paulus mengingatkan jemaat agar tidak menerima Ekaristi secara tidak layak, supaya tidak berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan (1 Kor 11:27). Rasul Paulus juga menambahkan, jika seseorang makan dan minum tanpa mengakui Tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri (1 Kor 11:28-29). Pengajaran ini tidak masuk di akal, jika kehadiran Yesus dalam Ekaristi hanya simbolis belaka. Kesimpulannya, St. Paulus jelas mengajarkan bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi.

Bukti dari para Bapa Gereja di abad awal

Tulisan para Bapa Gereja di abad awal merupakan bukti yang sangat penting tentang ‘keaslian’ pengajaran tentang Ekaristi. Para Bapa Gereja merupakan saksi yang menjamin keaslian pengajaran Alkitab, karena mereka sungguh-sungguh menyaksikan para rasul mengajar dan menuliskan Injil, seperti Rasul Matius, Yohanes dan St. Paulus menuliskan surat-suratnya. Melalui tulisan-tulisan mereka, kita mengetahui Tradisi Suci para Rasul, seperti Kehadiran Yesus dalam Ekaristi, Misa Kudus, kepemimpinan Rasul Petrus, devosi kepada Maria, Api penyucian, dll. Semua pengajaran ini adalah pengajaran yang diteruskan oleh Gereja Katolik. Berikut ini adalah para Bapa Gereja yang mengajarkan tentang kehadiran Yesus di dalam Ekaristi:

  1. Ignatius dari Antiokhia, murid dan pembantu Rasul Yohanes, uskup ke-3 di Antiokhia. Tahun 110 ia menulis 7 surat kepada gereja-gereja sebelum kematiannya sebagai martir di Roma. Pada suratnya ke gereja di Smyrna, St. Ignatius menyebutkan bahwa mereka yang tidak percaya kepada ‘Kehadiran Yesus di dalam Ekaristi’ adalah sesat (‘heretics‘).[5] Kepada gereja di Roma, St. Ignatius menuliskan imannya tentang Ekaristi yang sungguh-sungguh adalah Tubuh dan Darah Yesus.[6]
  2. St. Yustinus Martir, pengikut Kristus pada tahun 130, yang mendapat pengajaran dari Rasul Yohanes, seorang Apologist yang terkenal di abad ke-2. Pada tulisannya kepada Emperor di Roma, yaitu “Apology” pada tahun 150, St. Yustinus juga menjelaskan kebenaran pengajaran tentang kehadiran Yesus di dalam Ekaristi.[7]
  3. St. Irenaeus, uskup Lyons, hidup tahun 140-202. Ia murid St. Polycarpus yang adalah murid Rasul Yohanes. Dengan menuliskan bukunya yang terkenal, “Against Heresies” (195), ia menghancurkan pandangan sesat yang bertentangan dengan kepercayaan Gereja yang dipegang oleh para rasul.[8]
  4. St. Cyril dari Yerusalem, pada tahun 350 mengajarkan agar kita sebagai pengikut Kristus percaya sepenuhnya akan kehadiran Yesus di dalam Ekaristi, sebab Yesus sendiri yang mengatakannya.[9]
  5. St. Hilary, uskup Poitiers, Perancis, tahun 315-367. Dengan karyanya, “On the Trinity” (356), St. Hilary mengajarkan kehadiran Kristus dalam Ekaristi yang kita terima menjadikan kita tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita.[10]

Para Bapa Gereja ini membuktikan bahwa jemaat Kristen awal percaya akan Kehadiran Yesus di dalam Ekaristi. Perhatikanlah bahwa St. Ignatius adalah murid Rasul Yohanes, sedangkan St. Yustinus Martir dan St. Irenaeus belajar langsung dari murid-murid Rasul Yohanes. Mereka semua mendapat pengajaran dari Rasul Yohanes yang menulis tentang Yesus sebagai “Roti Hidup” (Yoh 6). Siapa yang dapat mengatakan bahwa ia lebih memahami pengajaran Yesus tentang ‘Roti Hidup’ ini dari pada mereka yang mendengar langsung/ murid dari Rasul Yohanes?

Kesimpulan

Jika kita dengan hati terbuka mempelajari Alkitab, dan tulisan para Bapa Gereja, kita akan melihat bahwa kenyataan menunjukkan bukti yang kuat yang mendasari pengajaran Gereja Katolik tentang Kehadiran Yesus secara real dan substansial di dalam Ekaristi. Yesus sendiri hadir di dalam Ekaristi, di dalam rupa roti dan anggur, dan sudah menjadi kehendak-Nya agar kita mengenangkan Dia melalui perjamuan ini, agar kita dapat mengambil bagian di dalam Misteri Paska-Nya yang mendatangkan keselamatan bagi dunia. Ekaristi adalah cara yang dipilih Yesus agar kita dapat tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Percaya penuh akan kehadiran-Nya di dalam Ekaristi dan menerima Ekaristi dengan sikap yang benar merupakan bentuk perwujudan iman dan kasih kita kepada Tuhan yang terlebih dahulu mengasihi kita sampai wafat di salib. Mari kita menerima dengan hati terbuka, cara Yesus mengasihi kita di dalam Ekaristi. Mari kita berdoa, agar makin hari kita makin dapat menghayati kasih-Nya yang tak terbatas, yang tercurah pada kita melalui Sakramen yang Maha Kudus ini…


[1] Father Frank Chacon, Jim Burnham, Beginning Apologetics 3, How to Explain and Defend the Real Presence of Christ in the Eucharist, (San Juan Catholic Seminars, NM), p. 4.

[2] Lihat Father Frank Chacon, Ibid., p. 9.

[3] Lihat Father Frank Chacon, Ibid., p. 10.

[4] Lihat Father Frank Chacon, Ibid., p. 11.

[5] Terjemahan dari Letter to Smynaeans 6, 2; Jurgens, p.25, #64, “Perhatikanlah mereka yang memegang pendapat yang bermacam-macam tentang rahmat Yesus Kristus yang diberikan kepada kita, dan lihatlah bagaimana pendapat mereka bertentangan dengan pikiran Tuhan… Mereka menolak Ekaristi dan doa, karena mereka tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah sungguh Tubuh Yesus Kristus Penebus kita. Tubuh yang sudah menderita demi dosa-dosa kita, dan yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa dengan kebaikan-Nya.”

[6] Terjemahan dari Letter to the Romans 7,3, Jurgens, p.22, # 54a., “Aku tidak menginginkan makanan sementara maupun kesenangan untuk hidup ini. Aku menginginkan Roti dari Tuhan, yaitu Tubuh (Flesh) Yesus Kristus, yang adalah keturunan Daud, dan untuk minum, aku menginginkan Darah-Nya, yang adalah kasih yang abadi.”

[7] Terjemahan dari First Apology 66, 20; Jurgens, p. 55, # 128, “Kami menamakan makanan ini Ekaristi; dan tidak ada seorangpun yang diizinkan untuk mengambil bagian di dalamnya, kecuali bagi yang percaya bahwa pengajaran kami adalah benar … Sebab bukan sebagai roti biasa atau minuman biasa kami mempercayai ini; tetapi karena Yesus Kristus telah dilahirkan melalui Sabda Tuhan dan memiliki tubuh dan darah untuk keselamatan kita, demikian pula, seperti kami diajarkan, makanan yang telah dijadikan sebagai Ekaristi dengan doa Ekaristi sebagaimana diajarkan oleh-Nya, dan dengan perubahannya yang menguatkan tubuh dan darah kami, adalah Tubuh dan Darah dari Yesus, Sabda yang menjadi manusia.”

[8] Terjemahan dari Against Heresies 5,2,2; Jurgens, p.99, #249, “Ia(Yesus) telah menyatakan piala itu, sebagai bagian dari ciptaan, sebagai Darah-Nya sendiri, daripadanya Ia menyebabkan darah kita mengalir; dan roti itu, sebagai bagian dari ciptaan, Dia telah menjadikannya sebagai Tubuh-Nya sendiri, daripadanya Ia memberikan pertumbuhan pada tubuh kita.”

[9] Terjemahan dari Catechetical Lectures: 22 (Mystagogic 4),1; Jurgens, p. 360, #843, “Dia (Yesus), dengan demikian, menyatakan dan mengatakan tentang Roti itu, “Ini adalah Tubuh-Ku,” siapa yang akan berani untuk terus meragukan? Dan ketika Ia sendiri mengatakan, “Ini adalah Darah-Ku,” siapa yang dapat ragu dan mengatakan bahwa itu bukan Darah-Nya?”

Terjemahan dari Catechetical Lectures: 22 (Mystagogic 6),1; Jurgens, p. 361, #846, “Karena itu, jangan menganggap bahwa roti dan anggur itu hanya semata-mata roti dan anggur, sebab mereka adalah, menurut perkataan Tuhan kita, Tubuh dan Darah Kristus. Walaupun perasaan mengatakan kepadamu sesuatu yang lain, biarlah iman membuat kamu teguh percaya. Jangan melihat berdasarkan rasa, tetapi percayalah penuh dengan iman, jangan meragukan, bahwa kamu telah dianggap layak untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus.”

[10] Terjemahan dari On the Trinity, Bk 8, Ch 14: dikutip oleh John Willis, S.J., dalam The Teachings of the Church Fathers, (Ignatius Press, San Francisco, 2002), p. 405, ” Dia (Yesus) sendiri berkata: ‘Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia’ (Yoh 6:55,56). Kita tidak boleh meragukan rupa tubuh dan darah itu, sebab sesuai dengan pernyataan dari Tuhan sendiri, dan sesuai dengan iman kita, ini adalah daging dan darah (Kristus). Dan kedua rupa ini yang kita terima menjadikan kita tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita….”

Ditulis oleh Ingrid Listiati pada 25 06 08 Disimpan dalam Artikel, Sakramen, Spiritualitas. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

30 komentar untuk “Sudahkah Kita Pahami Pengertian Ekaristi?”

  1. Herman Jay

    1. Mengapa anak yang sudah dibaptis secara katolik tidak otomatis dapat langsung menyambut komuni, tetapi harus mengikuti dulu persiapan komuni pertama? Lantas kalau orang dewasa yang dibaptis, kan mereka dapat langsung menyambut komuni? Bukankah gereja melakukan diskriminasi khususnya terhadap anak-anak yang sudah dibaptis? Ada yang tidak logis.
    2.Mengapa orang Protestan tidak boleh menyambut komuni yang diberikan oleh gereja katolik, sedangkan sebaliknya orang katolik biasanya ada juga yang ikut perjamuan Protestan.

    • Shalom Herman Jay,
      1. Persiapan Komuni pertama adalah pengajaran untuk mempersiapkan anak-anak yang sudah dibaptis (umumnya baptis bayi) untuk lebih memahami makna Ekaristi, sehingga pada saat anak-anak itu menyambut Ekaristi, mereka mempunyai disposisi hati dan pemahaman yang baik. Harap dimengerti bahwa meskipun mereka sudah dibaptis, namun jika tidak diberi pengertian, maka anak- anak ini dapat menyambut komuni, tetapi tidak memahami/ menghayati maknanya. Dan ini tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci yang mensyaratkan umat memahami makna Ekaristi sebelum dapat menyambutnya.
      Sedangkan pada orang dewasa pendidikan tentang makna Ekaristi ini diberikan pada saat pelajaran Katekumen, sehingga seharusnya pada saat mereka dibaptis, mereka sudah memahami makna Ekaristi.

      2. Ketentuannya jelas tertulis dalam Katekismus,

      KGK 1400 Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, “terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya” (Unitatis Redintegratio 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini. “Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan” (Unitatis Redintegratio 22).

      Ini memberikan dua implikasi: 1) umat Katolik tidak dapat menerima Komuni di gereja Protestan, 2) umat Protestan-pun tidak dapat menerima Komuni di Misa Katolik, karena meskipun mereka dapat saja meyakini bahwa Eakristi itu Tubuh dan Darah Yesus, namun mereka tidak memiliki kesatuan penuh dengan Tubuh Mistik Kristus yaitu Gereja Katolik.
      Silakan anda membaca di sini, silakan klik, untuk mengetahui perbedaan perjamuan kudus di gereja Protestan dan Ekaristi di Gereja Katolik.

      Sedangkan selanjutnya untuk makna Ekaristi di Gereja Katolik, silakan membaca artikel di atas, silakan klik; dan juga artikel ini, Ekaristi, Sumber dan Puncak kehidupan Kristiani, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  2. Adihanapi

    Shalom Bpk. Stefanus dan bu Ingrid

    Selama bertahun-tahun saya mengalami suatu keterpurukan iman Katolik, akan tetapi Yesus sungguh baik, saya diberikan terang akan iman Katolik yang selama ini saya ragukan bahkan saya ingkari.
    Roh Kudus memberikan terang iman kepada saya khususnya akan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi Kudus dan sejak saat itu saya mulai banyak membaca buku tentang ajaran gereja Katolik dan juga mencari di internet dan membawa saya menemukan website katolisitas.

    Selama membaca tulisan tentang Ekaristi dari beberapa sumber, rasanya hal itu sebagai peneguh bagi saya, karena apa yang dituliskan menjabarkan apa yang saya rasakan ketika menghadiri Ekaristi.
    Ekaristi menjadikan suatu hal yang luar biasa, menyadari bahwa saat itulah Surga hadir dibumi, tidak ada lagi koor jelek, kotbah jelek, membosankan….. semuanya indah. Bahkan ketika saya berkunjung ke negara lain, dengan bahasa yg kurang dapat saya tangkap, semua itu tidak mengurangi keindahan Ekaristi.
    Saya menyadari pentingnya iman akan Ekaristi dan kehadiran nyata Yesus Kristus merupakan pilar utama dalam iman dan ajaran gereja Katolik.
    Saya rasa jika kita mengimani Ekaristi maka Ekaristi bukanlah suatu kewajiban dan bukanlah hanya suatu ritual, melainkan kita datang karena kita diundang untuk menghadiri perjamuan bersama Yesus Kristus dan seluruh penghuni Surga.

    Yang menyedihkan adalah masih banyak orang Katolik yang tidak menyadari ini, oleh karena itu saya tertarik untuk menghubungi Pastor (beliau sudah menjadwalkan untuk bertemu dengan saya) di kota saya agar mau memberikan seminar atau retret atau apapun bentuknya untuk lebih mengenalkan Ekaristi kepada umat Katolik.

    Sambil menunggu untuk dapat bertemu dengan Pastor, saya mohon Bpk. Stefanus dan Ibu Ingrid jika berkenan untuk dapat memberikan saran akan bentuk acaranya dan materi (maaf jadi merepotkan), agar saya dapat sampaikan saat saya berbicara dengan Pastor.

    Saya mohon maaf, saya sama sekali tidak merasa lebih baik dari umat Katilok lainnya, saya orang yang sangat berdosa, hanya oleh karena Kasih dan KaruniaNya saja maka saya dapat merasakan ini semua.

    Mohon tanggapan juga akan ide ini, karena baru kemaren saya bicara hal ini dengan seorang teman yang aktivis dan telah mengikuti kursus evangelisasi, dia mengatakan bahwa jangan terlalu mengagungkan Ekaristi, yang terpenting adalah bahwa setiap saat ingat akan Yesus.

    Bpk. Stefanus dan Ibu Ingrid, mohon doakan saya
    Terima kasih.

    Salama kasih dalam Yesus Kristus
    Adihanapi

    • Shalom Adihanapi,
      Ya saya rasa rencana anda sangat baik, yaitu untuk mendiskusikannya dengan Pastor paroki untuk mengadakan semacam katekese untuk umat mengenai makna Ekaristi. Saya juga setuju bahwa umat Katolik harus semakin memahami makna Ekaristi. Karena Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani, maka kita yang menjadi murid Kristus harus semakin menghargai dan menghayatinya. Jadi sudah selayaknya kita mengagungkan Ekaristi, karena Ekaristi itu adalah Kristus sendiri. Mungkin ada baiknya anda kembali berbicara dengan teman anda yang aktivis itu, karena bagi kita umat Katolik sesungguhnya tidak ada bentuk penyembahan yang lebih tinggi daripada perayaan Ekaristi. Sebenarnya Persekutuan doa, Bible study, atau apapun kegiatan lainnya adalah untuk membantu kita mengarahkan kehendak dan hati dan kepada Tuhan, agar kita dapat semakin dapat menghargai dan menghayati kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi (yang adalah perayaan Misteri PaskaNya) adalah cara yang dipilih oleh Kristus untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita, dan mari kita berusaha memahami dan menghayatinya, dan tidak menggantikannya dengan cara yang lain yang kita pilih sendiri.

      Jadi jika anda pandang berguna, silakan anda mengutip artikel- artikel tentang Sakramen Ekaristi yang ada di situs ini dengan syarat anda menyertakan sumbernya, yaitu http://www.katolisitas.org sehingga jika ada yang mau bertanya atau memberi masukan dapat langsung menghubungi kepada kami.

      Sudahkah kita pahami Ekaristi
      Ekaristi Sumber dan Puncak Kehidupan Kristiani

      Sejarah yang mendasari pengajaran tentang Ekaristi

      Cara mempersiapkan diri menyambut Ekaristi

      Selamat berkarya, semoga Tuhan memberkati.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  3. Anonymous

    salam,

    ada seorang teman protestan, dia ingin masuk katolik. Apa yang harus dia ikuti ? pembaptisannya khan diakui, berarti dia perlu ikut katekumen ? trus soal komuni gimana ? Terima Kasih.

    • Salam Anonymous,
      Silakan anda menghubungi Pastor paroki anda/ paroki teman anda. Tanyakan kepada pastor apakah gereja Protestan teman anda itu termasuk dalam daftar gereja Protestan yang Baptisannya diakui oleh Gereja Katolik. (Hal ini tergantung dari forma Baptisan yang menunjukkan credo iman dari gereja itu). Kalau ya, maka teman anda itu hanya perlu diteguhkan, tetapi tidak perlu dibaptis ulang. Kalau tidak, (misalnya forma Baptisannya hanya dibaptis dalam nama Yesus (tanpa Allah Bapa dan Roh Kudus)) maka, teman itu perlu dibaptis ulang, agar sesuai dengan forma Gereja Katolik, yang sesuai dengan ajaran Alkitab dan para rasul.
      Pastor akan memutuskan sejauh mana teman anda itu perlu mengikuti katekumen. Idealnya memang mengikuti katekumen selengkapnya, tetapi dapat juga diputuskan agar mengikuti katekumen di bagian pengajaran yang khusus iman Katolik, seperti makna dari Sakramen- sakramen, Bunda Maria, dst. Untuk itu silakan diskusikan dengan pastor paroki anda.

      Baru setelah teman anda itu sudah resmi menjadi Katolik, ia boleh menerima Komuni dalam perjamuan Ekaristi/ Misa Kudus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  4. Helena LT

    Shalom Bu,
    saya mohon masukkannmengenai ilustrasi atau contoh apa yang bisa saya pakai dalam menerangkan mengenai kehadiran Yesus yang nyata dalam hosti pada saat ekaristi kepada anak-anak calon komuni pertama.

    Terima kasih. Tuhan memberkati

    • Shalom Helena,
      Sebenarnya lebih mudah untuk mengajarkan tentang mukjizat Ekaristi kepada anak-anak daripada kepada orang dewasa. Anak-anak mempunyai hati nurani yang polos, dan bagi mereka tidaklah sukar untuk membayangkan bahwa jika Allah berfirman demikian, maka akan terjadi sesuai yang difirmankan-Nya, seperti pada keadaan penciptaan dunia. Orang-orang dewasalah yang sering ingin me-rasionalkannya, sehingga ada banyak orang yang mempunyai kesulitan untuk mempercayai hal penciptaan dunia, maupun kehadiran Yesus yang nyata di dalam Ekaristi.

      Maka, saya rasa yang perlu diajarkan adalah bagaimana Yesus yang telah bangkit dari kematian tetap hidup sampai sekarang dan bekerja di dalam dan melalui Gereja-Nya. Karena Tuhan Maha Kuasa, maka Ia dapat melakukan apa saja, sesuai dengan kehendak dan firman-Nya. Karena Ia adalah Allah yang tak terbatas oleh tempat dan waktu, maka Allah dapat hadir di mana- mana, dan kapan saja. Namun secara khusus, Ia memilih untuk hadir secara istimewa di dalam Ekaristi, yaitu dalam rupa hosti dan anggur, yang oleh Sabda-Nya yang diucapkan para imam-Nya, diubah oleh-Nya menjadi Tubuh dan Darah-Nya sendiri. Ini adalah mukjizat yang dapat kita alami setiap kali kita mengikuti Misa Kudus.

      Semoga kita dapat selalu menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan disposisi hati yang baik. Dan semoga oleh kesaksian hidup kita, (terutama para pengajar Komuni pertama), anak-anak calon Komunikan dapat juga mempersiapkan diri dan hati mereka untuk menerima anugerah yang terbesar ini, yaitu menyambut Kristus sendiri yang hadir di dalam Komuni Kudus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  5. poNy

    SHALOM….bu ingrid listiati…..
    ….saya mau bertanya mengenai penerimaan hosti…bu ada mengatakan bhwa mereka yg bdosa berat tidak boleh menerima hosti kecuali mengadakan pertobatan dahulu.jadi maksudnya, seseorang itu tidak boleh menerima hosti sampai bila pun,sehingga menunggu ada pengakuan dosa d gereja.tapi bukan ka “pengakuan dosa” di gereja ada pada hari perayaaan besar ,cthnya sebelum x’mas? tidak mengapa ka , jika itu lama tidak menerima hosti? haruskah menunggu “pengakuan dosa” di gereja untuk membolehkan seseoarng itu menerima hosti semula atau bagaimana??

    makaseh ya…

    • Shalom PoNy,
      Seseorang dapat menghubungi Pastor untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa meskipun di luar masa hari-hari besar Paskah dan Natal. Silakan menghubungi Pastor/ Romo di paroki anda, dan mengaku dosa, entah sebelum misa harian atau sebelum misa di hari Minggu. Jika perlu buatlah janji terlebih dahulu dengan menelpon ke sekretariat Paroki. Jika seseorang sadar akan bahwa ia melakukan dosa berat, ia harus mengaku dosa terlebih dahulu dalam Sakramen Pengakuan dosa ini, baru kemudian ia boleh menyambut komuni, sesuai dengan KGK 1385. Perhatikanlah jadwal paroki [di tiap-tiap paroki jadwal bisa berlainan] biasanya diadakan waktu sakramen Pengakuan seminggu sekali misalnya hari Sabtu sore sebelum Misa. Nah, jika ada jadwal itu, silakan datang, dan mengaku dosa dalam sakramen Tobat itu pada waktu yang sudah ditetapkan paroki. Jika tidak ada waktu yang ditetapkan, buatlah janji dengan Pastor Paroki.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  6. wawin

    Ekaristi SUNGGUH-SUNGGUH mnenyelamatkan hidup saya dan keluarga……saya sarankan….bila kita sedang suntuk, sedang jobless….mintalah kepada Tuhan kita Yesus Kristus dan Bunda Maria di dalam Ekaristi….pasti terjawab…saya sudah sering mengalaminya…..saya wiraswasta, begitu banyak Tuhan menolong usaha saya melalui doa-doa saya yang terjawab dalam Ekaristi…..beberapa orang sakit yang saya doakan dalam ujud intensi misa dapat sembuh…dan hal ini TERJADI pada anak saya sendiri, yang menderita radang saluran kemih…saya memohon kepada Bunda Maria dan Santo Rafael….dan ajaib..anak saya sembuh dari sakitnya dan tak ada yang tersisa sedikitpun….. [dari admin: no telpon tidak kami tampilkan, supaya tidak disalah gunakan]

  7. martha

    salam damai bu inggrid

    Ada teman prostestan yang menanyakan:
    A. kenapa yang menerima ekaristi harus yang dibaptis katolik? Dalam gerejanya setiap orang bisa menerima hosti, alasannya:
    1. Yesus memberi perintah untuk mengenangkan perjamuan ini tanpa menyebut orang tersebut beragama tertentu
    2. setiap orang boleh menerima hosti asalkan mengimani bahwa hosti tersebut adalah Yesus
    3. Hosti adalah roti yang hidup/Yesus/Firman yang hidup, sehingga setiap kali menerima hosti maka orang tersebut menerima firman Tuhan, sehingga dengan menerimanya 1x atau beberapa kali siapa tahu orang tersebut tergerak hatinya untuk masuk kristen (firman Tuhan tidak ada yang sia-sia)

    B. Dalam agamanya, setiap orang bisa mengkonsenkrasikan hosti, tidak harus pendeta, seorang wanita biasa juga bisa, alasannya tidak ada dalam KS harus imam.

    Mohon penjelasannya dari Bu Inggrid

    dari Martha

    • Shalom Martha,

      Saya berusaha menjawab sebagaian pertanyaan anda dalam artikel yang baru saya tuliskan, yaitu Sejarah yang mendasari ajaran tentang Ekaristi (silakan klik).

      Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya sampaikan terhadap pertanyaan anda:

      A. Kenapa yang menerima ekaristi harus yang dibaptis katolik?

      Karena makna persatuan yang dimaknakan oleh Ekaristi tidak saja terbatas pada kesatuan dengan Tubuh jasmani Kristus yang hadir dalam rupa Roti, tetapi juga dalam Tubuh Mistik Kristus yaitu Gereja-Nya yang didirikan di atas Petrus, yaitu Gereja Katolik (lihat. Mat 16:18).

      Justru karena Gereja Katolik menjunjung tinggi makna Ekaristi, maka Ekaristi tidak dibagikan kepada semua orang. Pemberian hal yang kudus secara sembarangan tidak sesuai dengan ajaran Kristus (lihat Mat 7:6), dan khusus tentang Ekaristi, Rasul Paulus sangat jelas menyatakan bahwa mereka yang “makan dan minum tanpa mengakui tubuh dan darah Tuhan Yesus akan mendatangkan hukuman terhadap dirinya sendiri” (1Kor 11:29). Maka larangan Gereja Katolik terhadap mereka yang tidak  mengimani Ekaristi untuk menyambut Ekaristi, adalah demi kepentingan orang tersebut, sehingga mereka tidak mendatangkan hukuman atas diri mereka sendiri.

      Untuk menginterpretasikan siapa-siapa yang boleh menyambut Ekaristi dan siapa yang tidak memang tidak secara eksplisit disebut di dalam Kitab Suci, tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada aturannya. Untuk hal ini memang kita harus melihat kepada Tradisi Para Rasul dan Bapa Gereja untuk dapat mengerti bagaimana seharusnya yang diinginkan oleh Tuhan Yesus dan diterapkan pada jaman Gereja awal. Kita ketahui bahwa tidak semua Tradisi dituliskan dalam Kitab Suci, seperti yang dikatakan oleh Rasul Yohanes (lihat Yoh 21: 25) maka, di sinilah peran Gereja, yang meneruskan Tradisi Suci tentang apa yang dikatakan/ diajarkan Yesus yang tidak tertulis dalam Kitab Suci dan dipegang teguh oleh para rasul.

      Saudara-saudara kita yang Protestan banyak yang tidak melihat pentingnya Tradisi Suci, sehingga mereka menginterpretasikan ayat-ayat Alkitab sesuai dengan pengertian pribadi.  Namun kita yang berakar pada Tradisi Para Rasul, kita akan melihat konsistensi penerapan ajaran tentang Ekaristi ini dari dahulu sampai sekarang. Dengan mempelajari sejarah Gereja, secara objektif kita dapat melihat, mana yang benar dan otentik berasal dari para rasul, yang tentu berasal dari Kristus; dan mana yang tidak, artinya yang baru timbul setelah tahun kesekian, dan yang tidak berakar dari pengajaran para rasul.

      Untuk hal bahwa yang menerima Ekaristi harus dibaptis dulu dan dalam kesatuan dengan Gereja Katolik, kita melihat pengajaran St. Ignatius dari Antiokhia (110). Di sini terlihat bahwa para rasul tidak mencampur adukkan Sabda/ Firman dan Ekaristi. Sabda/ Firman Tuhan adalah Kristus, namun Kristus secara istimewa hadir, Tubuh, Jiwa dan KeAllahan-Nya dalam Ekaristi. Firman Tuhan diberikan sebagai persiapan akan penerimaan Komuni Kudus yaitu persatuan kita dengan Kristus yang menjadi puncak ibadah kita. Di sinilah letaknya perbedaan antara ibadah kita dengan ibadah gereja Kristen. Bagi mereka yang terpenting adalah Firman dan khotbah, namun bagi kita orang Katolik, puncak Ibadah kita adalah persatuan kita dengan Kristus sendiri yang nyata hadir dalam Ekaristi. Bagi kita, Firman adalah pengantar menuju persatuan kita yang sesungguhnya dengan Kristus, sama seperti yang dilakukan Kristus saat menampakkan diri kepada kedua murid-Nya dalam perjalanan ke Emmaus (lih. Luk 24:13-35) Dengan demikian, dalam Misa terdapat dua macam liturgi, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, yang saling berkaitan dan menuju ke puncaknya yaitu Komuni Kudus. Karena dalamnya makna Komuni ini, maka tak mengherankan bahwa Gereja mempunyai aturan/ persyaratan yang jika ditelusuri, semua ada dasarnya dari Alkitab dan Tradisi Suci.

      B. Kenapa yang mengkonsekrasikan hosti harus imam? Sebab menurut agama Protestan, setiap orang bisa mengkonsenkrasikan hosti, tidak harus pendeta, seorang wanita biasa juga bisa, alasannya tidak ada dalam KS harus imam.

      Untuk menjawab pertanyaan ini saya kembali kepada Alkitab, bahwa Tuhan Yesus meninggalkan pesan untuk memperingati Perjamuan kudus (Ekaristi) ini pada saat perjamuan-Nya yang terakhir bersama kedua belas rasul-Nya. Tentu ada maksud Yesus bahwa Dia meninggalkan pesan yang berharga ini pada saat itu, bukannya pada saat ia mengajar ribuan orang. Artinya para rasul dipilih Kristus secara istimewa, untuk menjadi imam, agar dalam memperingati perjamuan ini, mereka dapat diberi kuasa untuk menghadirkan kembali Tubuh dan Darah-Nya oleh kuasa Roh Kudus-Nya, agar kemudian kita semua dapat mengambil bagian di dalam-Nya. Jadi kita semua sebagai umatnya turut serta memperingati Perjamuan ini, namun juga tahbisan imam menjadi penting, sebab oleh tahbisan itulah maka mereka diberi wewenang oleh Kristus untuk melakukan apa yang dulu dilakukan oleh para rasul tersebut. Pada hari Kamis Putih, Kita memperingati bagaimana Tuhan Yesus memberikan pesan terakhirnya kepada para rasul untuk menjadi pelayan, dengan mencuci kaki para rasul-Nya, agar dengan semangat melayani,  mereka atas nama Kristus, melanjutkan karya keselamatan Kristus.

      Pembahasan tentang imamat, dapat dibaca di artikel “Kami Mengasihi-mu Pastor” (silakan klik).

      Di sini memang kita harus dengan rendah hati mengakui, bahwa Gereja adalah sesuatu yang merupakan pemberian Kristus kepada kita, dan bukannya sesuatu yang kita buat sendiri. Karena Gereja adalah pemberian Kristus, maka kita harus menyesuaikan diri dengan keinginan Kristus Yang Memberi, dan kita harus melihat dengan obyektif apa yang menjadi persyaratan yang diinginkan oleh Sang Pemberi itu. Dan untuk itu maka kita perlu melihat akan apa yang diterapkan oleh para Rasul, sebab kita mengakui, bahwa sedekat apapun kita dengan Kristus, kita tidak mungkin melebihi para Rasul yang selama 3 tahun hidup bersama dengan Yesus, yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kesaksian hidup Yesus, dan yang terutama, yang dipilih khusus oleh Kristus untuk menjadi rasul-rasulNya yang menerima pengurapan Roh Kudus pada hari Pentakosta, sehingga mereka dengan berani dan demi kasih kepada Kristus dan Gereja, rela menjadi martir demi mempertahankan iman mereka. Jika kita menganggap diri kita lebih tahu dari pada mereka, sudah saatnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita memiliki kerendahan hati.

      Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • martha

        shalom bu inggrid
        terima kasih atas penjelasan Ibu, dan semoga melalui website ini iman kita kepada Yesus melalui gerejaNya, gereja katolik kita semakin diperteguh dan bagi teman2 yang mengunjungi website ini tolong disebarluaskan kepada teman-teman yang seiman untuk saling menguatkan, amin.
        terima kasih, gbu

  8. BM. Wahyu Hajar

    Dalam Perayaan Ekaristi, tidak semua orang katolik diperbolehkan menerima Komuni (Tubuh Kristus) di karenakan adanya sejumlah halangan. Mohon penjelasan lebih lanjut tentang halangan-halangan tersebut. Dan apakah akibatnya bila seseorang yang jelas-jelas tidak diperkenankan menerima komuni karena suatu halangan, tetap saja nekat untuk menerimanya? Saya pernah mendapat penjelasan bahwa Hosti yang diterima oleh mereka yang tidak berhak, menjadi roti yang tidak punya makna. Benarkah ini ? Trimakasih dan Tuhan memberkati.

    • Shalom Wahyu,
      Berikut ini adalah ketentuan bagi yang dapat menerima Komuni, menurut Kitab Hukum Kanonik:
      Kan. 912 – Setiap orang yang telah dibaptis dan tidak dilarang oleh hukum, dapat dan harus diizinkan untuk menerima komuni suci.

      Sekarang, larangan menyambut Komuni menurut KHK adalah:
      1. Mereka yang terkena ekskomunikasi, interdik dan mereka yang secara publik berdosa berat.
      Kan. 915 – Jangan diizinkan menerima komuni suci mereka yang terkena ekskomunikasi dan interdik, sesudah hukuman itu dijatuhkan atau dinyatakan, serta orang lain yang berkeras hati membandel dalam dosa berat yang nyata.
      Contoh orang yang secara publik berdosa berat adalah:
      - Suami istri yang telah bercerai namun telah menikah lagi. Paus Yohanes Paulus II dalam  Familiaris Consortio 85, dengan tegas menegaskan:
      ” Walaupun demikian, Gereja menegaskan kembali praktek pelaksanaannya yang berdasarkan Kitab Suci, yaitu tidak memperbolehkan mereka yang telah bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni Kudus. Mereka tidak dapat menerima Komuni, berdasarkan kondisi kehidupan mereka yang secara objektif bertentangan dengan kesatuan kasih antara Kristus dan Gereja-Nya yang ditandai dan diakibatkan oleh Ekaristi. Di samping itu, ada pula alasan pastoral lain: Jika orang-orang seperti ini diperbolehkan menerima Ekaristi, umat beriman yang lain dapat dipimpin pada kesalahan dan kebingungan mengenai hal ajaran Gereja tentang Perkawinan yang tak terceraikan.”
      2. Mereka yang sadar berdosa berat, dan belum mengaku dosa.
      Kan. 916 – Yang sadar berdosa berat, tanpa terlebih dahulu menerima sakramen pengakuan, jangan merayakan Misa atau menerima Tubuh Tuhan, kecuali ada alasan berat serta tiada kesempatan mengaku; dalam hal demikian hendaknya ia ingat bahwa ia wajib membuat tobat sempurna, yang mengandung niat untuk mengaku sesegera mungkin.
      3. Mereka yang tidak berpuasa minimal 1 jam sebelum Komuni kudus
      Kan. 919 – § 1. Yang akan menerima Ekaristi mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.
      Kekecualian:
      - kecuali imam yang merayakan misa 2 atau 3 kali dalam hari itu; ia boleh memakan sesuatu sebelum misa ke dia atau ketiga jika selang waktu di antaranya kurang dari satu jam.
      - para manula, atau yang sakit.

      Menurut St. Thomas Aquinas, puasa satu jam ini dimaksudkan untuk 1) menghormati sakramen ini, sehingga tidak mengkontaminasikannya dengan makanan dan minuman, 2) karena maknanya yang sangat penting, bahwa Kristus yang terkandung dalam sakramen dan kasih-Nya, harus menjadi yang utama di hati kita (lihat Mat 6:33), 3) menghindari kemungkinan makanan yang ada termuntahkan ke luar jika makan sebelumnya makan terlalu kenyang. (terjemahan Summa Theologica III, q. 80, a. 8.)

      Lebih lanjut tentang puasa satu jam sebelum komuni sudah pernah ditulis di sini (silakan klik).

      Sekarang bagaimana kalau mereka yang dilarang tetap menyambut Komuni?
      St. Thomas Aquinas dalam Summa Theologica III, q. 80, a. 4 dengan mengutip Rasul Paulus (1 Kor 11:29), ia mengatakan, “Barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.” Sekarang penjelasan dari ayat tersebut adalah, yang makan dan minum dengan tidak layak adalah mereka yang berada dalam dosa, atau yang menerima komuni dengan tidak hormat. Maka, jika ada orang yang berdosa berat menerima Komuni, maka ia menerima hukuman, dengan berdosa berat.” [karena melanggar ketentuan ini].

      Lalu, apakah jika orang yang berdosa berat ini mernerima komuni, lalu bagi dia komuni itu bukan Tubuh dan Darah Kristus, tetapi hanya roti saja?
      St. Thomas menjawab pertanyaan ini dalam Summa Theologica III, q. 80, a. 3: “Pada waktu lampau, beberapa orang keliru tentang hal ini, yang mengatakan bahwa Tubuh Kristus tidak diterima secara sakramental oleh orang-orang berdosa, bahwa begitu Tubuh ini menyentuh bibir mereka, maka kehadiran-Nya secara sakramental dalam roti itu tidak ada lagi. Hal ini salah; sebab ini menyalahi kebenaran yang ada dalam sakramen ini… selama roti itu masih berbentuk roti, maka Tubuh Yesus tidak berhenti untuk hadir di sana (seperti disebutkan dalam q. 77, a.4; q. 76, a. 6; q.77, a. 8). Sekarang, jelas bahwa roti yang disambut oleh para pendosa tidak tiba-tiba berhenti menjadi roti [pada saat memasuki mulut mereka] tetapi tetap berupa roti sampai dicernakan secara alami oleh panas tubuh: maka Tubuh Kristus tetap ada/ hadir secara sakramental dalam rupa roti, pada saat disambut oleh para pendosa.”

      Uraian serupa dinyatakan oleh Katekismus Gereja Katolik:
      KGK 1377  Kehadiran Kristus dalam Ekaristi mulai dari saat konsekrasi dan berlangsung selama rupa Ekaristi ada. Di dalam setiap rupa dan di dalam setiap bagiannya tercakup seluruh Kristus, sehingga pemecahan roti tidak membagi Kristus Bdk. Konsili Trente: DS 1641.

      Maka, justru karena hosti itu sudah diubah menjadi Tubuh Kristus, dan tetap merupakan Tubuh Kristus walaupun disambut oleh mereka yang berdosa berat; maka mereka itu yang sadar bahwa berdosa berat tetapi tetap membandel menyambut Kristus, maka mereka berdosa dan mendatangkan hukuman bagi diri mereka sendiri (lihat 1Kor 11:29), atau mereka menerima Dia namun tidak mendatangkan buahnya/ menjadi sia-sia.

      Semoga kita selalu dapat mempersiapkan diri sebelum menyambut Komuni, sehingga dapat menyambut komuni dengan disposisi hati yang baik, agar liturgi/ sakramen yang kita sambut dapat memberikan akibat yang lengkap.  Sebab Sacrosanctum Concilium 11 mengatakan, “Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya, Umat beriman perlu datang menghadiri liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi. Hendaklah mereka menyesuaikan hati dengan apa yang mereka ucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat surgawi, supaya mereka jangan sia-sia saja menerimanya.”

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati

  9. antonius

    salam damai bu…
    saya ada sedikit pertanyaan lagi bu…ini hanya buat memastikan apa yg saya tau…
    teman saya protestan menanyakan, penumpahan darah pertama kali kapan ? sebelum or sesudah perjamuan…dan saya tau, itu adalah setelah perjamuan (salib).
    dan dia mengatakan, klo blm tertumpah, bagaimana pada perjamuan terakhir itu adalah Tubuh dan Darah ?? dan saya jawab, krn Yesus mengatakan begitu…
    Inilah DarahKu….dan Inilah Tubuhku…
    kira2, adakah penjelasan yg lebih baik bu ??

    terima kasih

    • Shalom Antonius,
      Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui untuk memahami tentang kapankah saatnya ‘penumpahan darah’ Yesus. Pertama-tama, harus kita terima bersama, bahwa maksud dan misi Tuhan Yesus datang ke dunia adalah untuk mengorbankan Diri-Nya demi menebus dosa-dosa manusia. Hal itu dilakukannya melalui sengsara, wafat-Nya di salib, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, yang kita kenal sebagai Misteri Paska. Maka tak heran, seluruh pengajaran Yesus mengacu kepada peristiwa yang istimewa itu, bahkan keseluruhan Kitab Suci menunjuk kepada misteri Paska tersebut. Peristiwa inilah yang kita peringati dan dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus dalam Gereja Katolik dalam sakramen Ekaristi. Katekismus mengatakan:

      KGK 1067     "Adapun karya penebusan umat manusia dan pemuliaan Allah yang, sempurna itu telah diawali dengan karya agung Allah di tengah umat Perjanjian Lama. Karya itu diselesaikan oleh Kristus Tuhan, terutama dengan misteri Paska: sengsara-Nya yang suci, kebangkitan-Nya dari alam maut, dan kenaikan-Nya dalam kemuliaan. Dengan misteri itu Kristus ‘menghancurkan maut kita dengan wafat Nya, dan membangun kembali hidup kita dengan kebangkitan-Nya’. Sebab dari lambung Kristus yang beradu di salib muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan" (SC 5). Karena itu dalam liturgi, Gereja merayakan terutama misteri Paska, yang olehnya Kristus menyelesaikan karya keselamatan kita.

      Maka di sini kita mengetahui bahwa Perjamuan Terakhir [Kamis Putih] di mana Yesus pertama kali mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya, adalah peristiwa antisipasi dari penumpahan darah-Nya secara fisik yang [akan] dilakukanNya esok harinya [Jumat Agung]. Memang bagi manusia hal ‘antisipasi’ ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah yang mengatasi segala ruang dan waktu, itu sangat mungkin. Sebab bagi Allah segala waktu (dari awal mula dunia, sekarang dan waktu akan datang) terjadi sebagai ’saat ini’, sebab Ia tidak tunduk di bawah batas waktu seperti manusia. Maka pada saat Yesus mengatakan "Inilah Tubuh-Ku" dan "Inilah Darah-Ku", pada Perjamuan Terakhir, maka itu benar-benar merupakan Tubuh dan Darah Yesus; walaupun penumpahan darah yang sesungguhnya terjadi pada korban salib-Nya di hari berikutnya.

      Sudah menjadi rencana Tuhan Yesus agar manusia mengenang peristiwa pengobanan-Nya dalam Misteri Paska tersebut, karena untuk maksud itulah Ia menjelma menjadi manusia. Penumpahan darah-Nya di salib adalah peristiwa yang sedih namun juga mulia karena merupakan gambaran kasih Allah yang tiada terbatas. Kristus meng-institusikan Ekaristi pada hari Kamis Putih, pada malam sebelum sengsara-Nya, supaya para murid-Nya dapat memahami makna korban salib-Nya yang terjadi di hari berikutnya. Film the Passion of the Christ, menggambarkan hal ini dengan sangat indahnya, karena pada saat murid-Nya [Yohanes] melihat bagaimana darah-Nya tertumpah di kayu salib, saat itu juga ia teringat bagaimana Yesus sudah mengatakan sebelumnya pada Perjamuan Terakhir, bahwa darah-Nya akan tertumpah dan seolah terpisah dari tubuh-Nya, "Inilah Tubuh-Ku…" dan "Inilah Darah-Ku, Darah Perjanjian Baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa…." (Mat 26: 26-28; Luk 22: 19-20; Mrk 14:22-24)

      Begitu pentingnya peristiwa ini, bahkan kita dapat mengatakan bahwa keselamatan manusia hanya dapat dicapai melalui korban Yesus di kayu salib, maka Tuhan Yesus ingin agar kita mengenang Dia dengan cara seperti ini. Dan bukan saja hanya sekedar mengenang, tetapi juga agar kita menerima buah-buah dari pengorbanan-Nya itu, yaitu pengampunan dosa. Inilah cara Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita manusia, dan inilah yang diteruskan oleh Gereja Katolik dari awal hingga sekarang, sebagai bukti bahwa Ia terus menyertai kita umat-Nya sampai akhir jaman. Diperlukan kerendahan hati dari pihak kita manusia untuk memenuhi kehendak-Nya ini dan untuk berusaha memahami dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut-Nya dengan cara yang begitu agung ini.

      Maka jika ada orang bertanya, kapan sebenarnya penumpahan darah Yesus? Jawabnya adalah:

      (1) Secara fisik penumpahan darah Yesus terjadi pada hari Jumat Agung, yaitu saat Yesus didera, dan dikorbankan di kayu salib.

      (2) Namun antisipasi penumpahan darah-Nya itu dilakukan Yesus pada hari Kamis Putih pada saat merayakan Perjamuan Terakhir bersama para rasul-Nya. Namun antisipasi ini harus dimengerti sebagai pengorbanan Yesus di kayu salib yang sama hanya dalam bentuk yang tidak berdarah. Ini adalah sama seperti yang terjadi dalam setiap perayaan Ekaristi kudus.

      (3) Oleh kuasa Roh Kudus, peristiwa korban Yesus yang satu-satunya itu dihadirkan kembali dalam Gereja Katolik dalam perayaan Ekaristi. Jadi Perayaan Ekaristi merupakan peringatan korban Yesus, seperti yang dipesankan oleh Yesus dalam Perjamuan Terakhir sebelum sengsara-Nya. Walaupun maknanya sama, yaitu untuk pengampunan dosa, dan korbannya juga sama, yaitu Yesus Kristus, namun caranya berbeda, karena pada hari Jumat Agung, korban Yesus sungguh menumpahkan darah secara fisik, sedangkan pada setiap Misa Kudus, korban Yesus tidak menumpahkan darah secara fisik. Hal ini mungkin terjadi, karena Tuhan Yesus tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, dan Ia dapat memilih cara-Nya sendiri untuk hadir dan menyertai Gereja-Nya. Dengan demikian  kita mendapat kesempatan yang sama dengan mereka yang hidup pada jaman Kristus, yaitu mengambil bagian dalam peristiwa penyelamatan Yesus melalui korban salib-Nya.

      Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat Katekismus Gereja Katolik:

      KGK 1367     Kurban Kristus dan kurban Ekaristi hanya satu kurban: "karena bahan persembahan adalah satu dan sama; yang sama, yang dulu mengurbankan diri di salib, sekarang membawakan kurban oleh pelayanan imam; hanya cara berkurban yang berbeda". "Dalam kurban ilahi ini, yang dilaksanakan di dalam misa, Kristus yang sama itu hadir dan dikurbankan secara tidak berdarah… yang mengurbankan diri sendiri di kayu salib secara berdarah satu kali untuk selama-lamanya" (Konsili Trente: DS 1743).

      KGK 1340     Dengan merayakan perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya dalam rangka perjamuan Paska, Yesus memberi arti yang definitif kepada paska Yahudi, Kepergian Yesus kepada Bapa-Nya dalam kematian dan kebangkitan – Paska baru – diantisipasi dalam perjamuan malam. Dan itu dirayakan dalam Ekaristi. Ini menyempurnakan paska Yahudi dan mengantisipasi paska abadi Gereja dalam kemuliaan Kerajaan

      Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Antonius. Dan semoga kita semua dapat lebih menghayati perayaan Ekaristi yang memperingati korban Yesus yang telah menumpahkan darah-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati.

  10. baho

    saya sangat menimati sajian-sajian ini. bentuknya pun tidak sulit untuk dipahami.jika saya boleh meminta, maukah anda mengirimkan sesuatu tentang sejarah ekaristi,lalu reformasi, kontra reformasi dan konsili vatikan II? semuanya tetap dalam konteks ekaristi.
    terima kasih.

    • Shalom Baho,
      Terima kasih atas kunjungan anda ke situs katolisitas. Kami mohon maaf sekarang ini kami belum bisa menyajikan artikel yang anda minta, mengingat topik yang anda tanyakan cukup panjang dan membutuhkan pembahasan yang mendalam. Tetapi kami akan mengingatnya, dan semoga dapat kami sajikan pada kesempatan yang akan datang.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid & Stef

  11. antonius

    salam damai bu ingrid..
    saya mau bertanya…dalam tulisan ibu yg mengatakan, bhw roti dan anggur tersebut hanya bertahan dalam kurang lebih 15 menit menjadi tubuh dan darah Kristus…
    pertanyaan saya, knp hanya 15 menit bu ?? apakah setelah kita makan dan dicerna juga sdh tidak lagi ?? menjelaskan hal ini bagaimana ya bu ?

    terima kasih

    • Shalom Antonius,
      Untuk menjawab pertanyaan anda, mari kita melihat adanya 3 macam cara bagaimana Tuhan Yesus hadir (sumber: Beginning Apologetics 3, oleh Fr. Frank Chacon & Jim Burnham, p. 6):
      (1) Yesus hadir dalam segala sesuatu sebagai Tuhan, melalui pengetahuan-Nya, kuasa-Nya dan hakikat-Nya. Ini disebut sebagai kehadiran alami/ ‘natural presence’.
      (2) Yesus hadir secara spiritual di dalam mereka yang dalam keadaan berdamai dengan Tuhan/ "in the state of grace".
      (3) Yesus hadir secara nyata, Tubuh dan Darah-Nya dalam Ekaristi.

      Dan juga KGK 1377, yang mengatakan: Kehadiran Kristus dalam Ekaristi mulai pada saat konsekrasi dan berlangsung selama rupa Ekaristi ada.

      Maka, pada saat kita menyambut Ekaristi dalam rupa hosti, maka Kristus hadir secara nyata dalam Tubuh, dan Darah-Nya yang memasuki tubuh kita. Dalam waktu kira-kira 15 menit ini, menurut Fr. Chacon, hosti di dalam tubuh kita masih berbentuk hosti, namun setelah itu, hosti dicerna/ diuraikan oleh tubuh, sehingga rupanya sudah bukan hosti lagi. Dalam hal ini, maka kehadiran Yesus secara istimewa dalam Tubuh dan Darah-Nya tidak ada lagi, yang ada tinggal Dia yang hadir secara spiritual dalam diri kita. 15 menit ini adalah perkiraan waktu dan bukan patokan yang kaku. Jangka waktu ini hanya untuk mengingatkan kita bahwa untuk beberapa menit, kita mengalami suatu kenyataan yang sangat ajaib, di mana Tubuh dan Darah [bersama Jiwa dan Ke-Allahan] Yesus sungguh-sungguh bersatu dengan kita. Ini adalah makna terdalam dari Komuni kudus, yaitu Kristus yang dahulu merendahkan diri untuk mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia; kini, Ia merendahkan diri-Nya lagi, dengan mengambil rupa sepotong roti, untuk bersatu dengan kita, umat yang dikasih-Nya.

      Semoga menjadi lebih jelas, ya.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati

  12. Iman Katolik memang seperti itu. Percaya bahwa di dalam hosti itu adalah tubuh dan darah Yesus sendiri. Dalam Syahadat Para Rasul sudah dinyatakan bahwa orang Katolik percaya akan Gereja yang satu, Gereja Katolik Yang Kudus, Persekutuan Para Kudus, Pengampunan Dosa, Kebangkitan Badan, dan Kehidupan Kekal. Bila ada orang Protestan percaya akan (ajaran) Gereja Katolik yang Kudus, barulah boleh ia menyambut Tubuh dan Darah Yesus di dalam rupa Hosti Suci. Orang Katolik untuk masuk ke Gereja Katolik harus membuat tanda salib dengan air suci. Orang Katolik percaya bahwa di dalam Gereja Katolik Yang Kudus (Yang suci) harus dimasuki dengan jiwa dan raga kita yang suci pula. Kita masuk Gereja Katolik harus menyucikan diri dahulu dengan air suci yang ada di pintu Gereja. Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Allah Roh Kudus, ada di dalam Gereja Katolik Yang Kudus (Yang Suci). Oleh karena itu juga kita berlutut dan menyembah Dia Yang Ada Di Dalam Gereja Katolik.

    • Shalom Thomas Suheri,
      Terima kasih atas tanggapan anda tentang Ekaristi. Memang kita sebagai umat Katolik harus lebih menyadari akan kehadiran Yesus di dalam rupa Hosti Kudus dalam setiap perayaan Ekaristi. Namun saya ingin menyampaikan sedikit koreksi akan apa yang disampaikan oleh Thomas bahwa jemaat Protestan yang percaya akan kehadiran Yesus dalam Hosti lalu otomatis boleh menerima komuni dalam Gereja Katolik. Hal ini sesungguhnya tidak diijinkan oleh Gereja Katolik, karena ada ketentuan-ketentuan khusus mengenai hal ini. Silakan membaca jawaban yang sudah pernah dituliskan di sini (silakan klik). Jika nanti masih ada pertanyaan silakan bertanya kembali.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati.

  13. Aris

    Dear Ingrid Listiati,

    Saya mempunyai sebuah kasus (kasus saya denganr dari sahabat saya yang pernah menjumpai) begini:

    Ada seorang pendeta protestan melakukan meditasi pribadi di sebuah rumah retret. Setelah meditasi itu ia meminta kepada romo pembimbing untuk menerima hosti. Katanya si pendeta tersebut percaya bahwa hosti tersebut adalah benar-benar tubuh Kristus.Tetapi, setelah menerima hosti si pendeta tetap berpegang pada imannya semula, protestan.

    Yang jadi pertanyaan saya: apakah memang bisa dibenarkan si pendeta tersebut menerima hosti suci dengan kondisi seperti itu?

    Saya nantikan jawabannya Ibu Ingrid. Thank’s and God bless you.

    Salam,
    Aris

    • Shalom Aris,
      Sebenarnya, keterangan yang anda peroleh tentang hal pemberian Komuni pada pendeta Protestan tersebut belum lengkap. Secara umum, memang pastor tidak dapat memberikan komuni kepada jemaat Protestan, sebab pengertian mereka akan misteri Ekaristi berbeda dengan penghayatan umat Katolik. Hal ini jelas dikatakan dalam KGK 1400, yaitu:
      Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, "terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya" (UR 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini. "Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan" (UR 22).

      Lalu dalam Kitab Hukum Kanonik, juga disebutkan bahwa kekecualian hanya diberikan jika ada bahaya kematian, atau jika ada kondisi lain yang diizinkan karena kebutuhan mendesak menurut kebijaksanaan uskup atau konferensi uskup, seperti dalam KHK 844, § § 1 dan 4. Hal itupun hanya diberikan jika mereka memperlihatkan iman katolik dan dengan disposisi hati yang baik.
      Selengkapnya adalah sebagai berikut:
      Kan. 844 – §  1. Para pelayan katolik menerimakan sakramen-sakramen secara licit hanya kepada orang-orang beriman katolik, yang memang juga hanya menerimanya secara licit dari pelayan katolik, dengan tetap berlaku ketentuan § 2, § 3 dan § 4 kanon ini dan kan. 861, § 2.

      Kan. 844 – § 4. Jika ada bahaya mati atau menurut penilaian Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup ada keperluan berat lain yang mendesak, pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tersebut juga kepada orang-orang kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, dan tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri serta secara sukarela memintanya, asalkan mengenai sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman katolik dan berdisposisi baik.
      [tambahan dari menurut The Code of Canon Law, A Text and Commentary yang dikeluarkan oleh The Canon Law Society of America, keperluan berat yang mendesak ini misalnya, kondisi seseorang dalam penjara atau penyiksaan atau penderitaan dan bahaya, atau jika seseorang tinggal sangat berjauhan sekali dengan komunitasnya]

      Maka yang menjadi pertanyaan di sini adalah apakah pastor yang memberikan komuni pada Pendeta itu sudah mengetahui hal di atas, karena sesungguhnya di luar kondisi mendesak tersebut di atas, pastor tidak dapat memberikan komuni kepada jemaat Protestan (termasuk kepada pendeta). Jadi dalam hal ini, ada dua macam pelanggaran, yaitu bahwa 1) pastor sesungguhnya tidak dapat memberikan komuni kepada Pendeta itu (kecuali jika ada keadaan mendesak seperti disebutkan di atas, dan 2) sesungguhnya pendeta itu juga tidak dapat menerima Komuni, sebab ia tidak mengakui komuni (persekutuan) dengan Tubuh Mistik Kristus yang ada dalam Gereja Katolik. [Karena yang diimaninya hanya Tubuh Kristus yang hadir dalam rupa hosti, namun ia tidak mengimani juga makna apostolik Gereja Katolik dalam kesatuan dengan Bapa Paus sebagai penerus Rasul Petrus].
      Jadi penerapannya, jika pendeta itu menerima dengan keadaan mendesak, seperti salah satu yang disebutkan di atas, maka ia dapat menerima Komuni dalam Gereja Katolik. Namun jika tidak ada keadaan mendesak, sesungguhnya ia tidak boleh menerima Komuni, dan pastor pembimbing sebenarnya berada dalam kapasitas untuk menolak permohonan dari pendeta itu, karena persyaratan penerimaan Komuni tidak dipenuhi oleh pendeta itu.

      Bahwa kenyataannya pendeta itu sudah menerima Komuni dalam Gereja Katolik, karena ia tidak tahu bahwa sesungguhnya hal itu tidak diperbolehkan, maka ia tidak berdosa (dengan catatan, ia menerimanya dengan disposisi hati yang baik). Namun jika pendeta itu kemudian mengetahui larangan ini, maka ia tidak boleh memohon untuk menerima Komuni lagi, karena ia tidak mengimani Ekaristi seperti iman umat Katolik. Selebihnya tentang perihal mengapa Komuni dalam Gereja Katolik berbeda maknanya dengan perjamuan kudus gereja Protestan, silakan baca di jawaban ini (silakan klik) dan ini (silakan klik).

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati

  14. chmel

    [Dari admin: komentar ini dipindahkan ke artikel, "Sudahkah Kita Pahami Pengertian Ekaristi]
    saya mau tanya apakah komuni yang kita terima itu benar2 yesus sendiri dengan kepenuhannya sebagai Allah dan manusia? jika ya..apakah kita mampu menerima kepenuhan Allah itu dalam diri kita melalui komuni? terimakasih

    • Shalom Chmel,
      Terima kasih atas kunjungan anda di situs ini. Komentar anda telah dipindahkan dari di bawah artikel Semua Ada Waktunya ke bawah artikel Sudahkah Kita Pahami Ekaristi; karena kami pandang pertanyaan anda lebih berhubungan kepada artikel tersebut. Lebih lanjut mengenai Ekaristi, silakan membaca artikel ini (silakan klik) dan ini (silakan klik).
      Sebenarnya, menurut saya, pertanyaan anda sudah terjawab dalam artikel di atas ini (Sudahkah Kita Pahami Ekaristi), silakan membaca, jika anda belum membacanya. Pada dasarnya, ya benar, bahwa yang kita sambut dalam Ekaristi adalah Tuhan Yesus sendiri, dalam kepenuhannya, yaitu Tubuh, Jiwa dan Ke-Allahan-Nya. Hal ini dimungkinkan karena kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam GerejaNya. Sehingga, apa yang dijanjikan Yesus kepada para murid-Nya untuk memberikan hidup, dengan memberi mereka makan Tubuh dan Darah-Nya (lih. Yoh 6: 53-56) dapat dipenuhi olehNya. Rasul Paulus sendiri pernah mengingatkan bahwa yang kita sambut dalam perjamuan Ekaristi adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Yesus, sehingga jika kita menyambutNya dengan tidak layak, misalnya dalam keadaan dosa berat ataupun tanpa disertai kesadaran dan rasa hormat kepada kehadiran Yesus dalam rupa Ekaristi kudus itu, maka hal itu akan mendatangkan hukuman bagi diri kita sendiri (lih. 1 Kor 11:27-29).
      Memang jika kita berpikir, kita manusia lemah dan berdosa memang tidak layak menerima Kristus dengan segala kepenuhan kemuliaan surgawi dan ke-Allahan-Nya. Namun, sudah menjadi kehendak Yesus untuk mengasihi kita dengan cara demikian, yaitu dengan memberikan Diri-Nya sendiri kepada kita, agar Ia dapat mengangkat kita dari kelemahan kita. Ingatlah, bahwa Ia pernah bersabda pada Rasul Paulus, bahwa di dalam kelemahanlah kuasa-Nya menjadi sempurna (2 Kor 12:9) . Maka, kita perlu senantiasa memeriksa batin dan mempersiapkan diri sebelum menerima Ekaristi, agar sungguh kita dapat menerima Kristus dengan sikap batin yang baik, sehingga kita dapat mengalami kepenuhan rahmat yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini pernyataan sang perwira Kapernaum itu menjadi sungguh relevan, sehingga kita mengulanginya sebelum kita menerima Ekaristi, "Ya Tuhan, saya tidak pantas, Tuhan datang pada saya, namun bersabdalah saja maka saya akan sembuh" (lih. Luk 7: 6-7). Dan dengan kuasa yang sama dengan kuasa-Nya 2000 tahun yang lalu, Kristus akan menyembuhkan dan memulihkan kita dari segala kelemahan kita, asalkan kita mengimani dengan sungguh apa yang kita ucapkan tersebut di hadapan Yesus.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Ingrid Listiati

Menginggalkan pesan

MENDUKUNG KATOLISITAS.ORG

Kalau anda ingin mendukung karya kerasulan ini secara finansial, silakan menghubungi: donation[at]katolisitas.org atau melalui Paypal / Credit Card di bawah ini. Karya kerasulan ini dapat terus berlangsung karena rahmat Tuhan dan juga dukungan dari semuanya. Tuhan memberikati.

TRANSLATE FROM INDONESIAN TO:

KOMENTAR TERAKHIR

  • Shalom Jack,Terima kasih atas tanggapannya tentang diskusi tentang Mar... »
  • Shalom Sahabat,Agaknya anda memiliki pengertian yang berbeda dengan re... »
  • Shalom Maria,Terima kasih atas pertanyaannya tentang apakan ada kehidu... »
  • Shalom Gedhang Kukus, Mungkin pengalaman tiap- tiap orang berbeda dala... »
  • Shalom Bengcu,Terima kasih atas kunjungan, komentar dan dukungannya un... »
  • SEGERA TERBIT: Kembali Ke Jiwa Musik LiturgisPengarang: Ambrosius Andi... »
  • Shalom pak Stef.Terima kasih penjelasannya atas pertanyaan dari saya y... »
  • Salam Damai/Shalom semuanya. Saya datangnya daripada Malaysia dan sang... »
  • Dh Pak Stef,Terimakasih banyak untuk jawabannya yang sangat cepat dan ... »
  • Shalom Paulus Prana,Sebagai umat Katolik kita memang selayaknya memper... »
  • mohon didoakan penyakit kista yang saya derita agar sembuh tanpa opera... »
  • Shalom Tristan,1.Tentang terjemahan "Perawan" dan "anak... »
  • Shalom Herman Jay,Terima kasih atas usulannya untuk menampilkan eksikl... »
  • Shalom Franciska,Terima kasih atas pertanyaannya tentang mendoakan ora... »
  • Shalom Hendra,Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau menurut saya prib... »

© Copyright katolisitas - 2008 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja.

Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Renungan dan doa diterjemahkan dari: Every Day Is a Gift by Frederick Schroeder, CBPC, 1984.

 

Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, Hari dimana Gereja memperingati  Bunda Maria mengunjungi Elizabeth

Romo pembimbing: Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. ; Ahli Hukum Gereja dan Perkawinan: RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr.; Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min., Th.M. ; Penulis tetap: Romo Wanta, Pr ; Stefanus Tay, M.T.S ; Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
Penanggung jawab situs: Stefanus Tay, M.T.S ; Ingrid Listiati Tay, M.T.S.