Maria Dikandung Tanpa Noda: Apa Maksudnya?
- Bunda Maria tanpa noda: apa maksudnya?
- Dogma Perawan Bunda Maria dikandung tidak bernoda
- Bukan pengajaran ‘kagetan’ melainkan sudah diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak lama
- Bunda Maria sendiri menyatakan dirinya sebagai “Immaculate Conception”
- Dasar dari Kitab Suci
- 1. Bunda Maria disebutkan pada awal mula, sebagai ‘perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan ular (iblis) (Kej 3:15).
- 2. Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru.
- 3. Bunda Maria dikatakan sebagai ‘penuh rahmat’ pada saat menerima Kabar Gembira.
- 4. Dasar dari Kitab Wahyu
- Jika Maria tanpa noda dosa, apakah dia membutuhkan Kristus untuk menyelamatkannya?
- Apa pentingnya Dogma ini buat kita?
- Kesimpulan:
Bunda Maria tanpa noda: apa maksudnya?
Berikut ini adalah cerita yang tidak ada hubungannya dengan Dogma Maria tersebut, tetapi mungkin dapat membantu kita untuk mengerti konsep dasarnya…
Suatu hari, di suatu desa terpencil, ada seorang (sebut saja bernama Sukri) menemukan kloset duduk yang dibuang di dekat jalan kampung. Ia tidak pernah melihat benda itu seumur hidupnya, sehingga tidak tahu kalau itu adalah kloset (jamban). Dia bahkan mengagumi benda itu, karena dipikirnya ‘antik’. Sukri membawa pulang kloset itu ke rumah dan dibersihkannya sampai ‘kincrong‘. Kebetulan esok harinya Sukri berulang tahun dan dia berencana mengundang teman-teman satu kampung. Dia berpikir, alangkah uniknya jika nasi tumpeng ulang tahunnya diletakkan di dalam ‘benda’ itu (yaitu kloset), supaya ‘penemuan baru’-nya ini dapat dipamerkan kepada teman-temannya.
Sekarang, bayangkanlah, jika anda termasuk di antara orang-orang yang datang ke pesta Sukri. Anda pasti tahu kalau ‘barang’ itu adalah kloset. Apakah reaksi anda begitu melihat nasi tumpeng yang ditempatkan di dalam kloset itu? Ada rasa aneh dan tidak ‘nyambung‘, bukan? Demikianlah, Yesus yang kemuliaan dan kekudusanNya jauh melebihi semua, tidak mungkin lahir ke dunia melalui seorang perempuan yang berdosa. Karena noda dosa itu jauh lebih buruk daripada kloset, dan Yesus itu kemuliaannya jauh mengatasi dan tidak dapat dibandingkan dengan nasi tumpeng; maka kesimpulannya, ada jurang yang tak terjembatani antara keduanya. Nasi tumpeng tak pernah klop diletakkan di dalam kloset; dan tentu, Yesus yang Maha Kudus, tak mungkin dapat dikandung oleh rahim seseorang yang tercemar dosa. Maka oleh kuasaNya, Allah menguduskan rahim itu, membuat ia terbebas dari noda dosa. Karena Tuhan tidak dapat mengingkari diri-Nya sendiri yang tanpa dosa, sama seperti Dia tidak dapat menjadi tidak setia (lih 2 Tim 2:13).
Dogma Perawan Bunda Maria dikandung tidak bernoda
Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal.[1] Mungkin ada orang bertanya, -terutama mereka yang bukan beragama Katolik- kenapa ada perlakuan khusus buat Bunda Maria, bukankah Maria itu manusia biasa saja seperti kita? Lalu, kenapa baru pada tahun 1854 diumumkan dogma ini, apakah ini pengajaran buatan manusia saja (Paus dan pembantu-pembantunya) ataukah sungguh dari Allah? Mari kita lihat, kenapa kita sebagai orang Katolik percaya bahwa pengajaran ini berasal dari Allah, dan karenanya wajib kita yakini dan kita syukuri.
Bukan pengajaran ‘kagetan’ melainkan sudah diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak lama
Gereja Katolik tidak pernah mengubah, menghapus, atau menambah pengajaran “deposit of faith” yang ada padanya sejak dari Gereja awal, namun hanya menjaga dan mempertahankannya. Perlu kita ingat bahwa Tradisi Suci dan Kitab Suci bagi orang Katolik itu sama pentingnya, karena berasal dari sumber yang sama: Allah sendiri. (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, Bagian 3) Dogma Perawan Maria dikandung tanpa noda ini telah dirintis oleh Paus Sixtus IV (abad ke-15) yang diteruskan sampai ke jaman Paus Pius IX (abad ke -19), tetapi sesungguhnya pengajaran tersebut sudah merupakan hal yang diyakini oleh Gereja sejak abad awal, seperti dinyatakan oleh Santo Ephraem (abad ke-4)[2] dan Santo Agustinus (abad ke-5)[3] dengan dasar pemikiran dari Santo Ireneus (abad ke-2)[4].
Jadi Dogma tersebut bukan pengajaran ‘kagetan’ atau innovasi dari Paus Pius IX di abad ke-19!
Bunda Maria sendiri menyatakan dirinya sebagai “Immaculate Conception”
Empat tahun setelah pengajaran yang diberikan oleh Paus Pius IX, Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes, Perancis (1858). Penampakan Bunda Maria di Lourdes (di grotto Massabielle) terjadi selama 18 kali kepada Bernadette Soubirous, seorang gadis desa yang yang waktu itu berumur 14 tahun. Penampakan Bunda Maria di Lourdes ini sudah diakui oleh Gereja Katolik sebagai penampakan yang otentik. Dalam penampakan itu (penampakan ke- 16), Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai “Perawan yang dikandung tanpa noda dosa”/ the Immaculate Conception kepada Bernadette yang pada waktu itu tidak memahami makna “the Immaculate Conception“, terutama karena ia adalah gadis desa yang buta huruf. Pernyataan dari Bunda Maria ini mengkonfirmasikan ajaran dari Bapa Paus Pius IX, dan dengan demikian juga membuktikan infalibilitas ajaran Bapa Paus tersebut.
Dasar dari Kitab Suci
Alasan pertama Bunda Maria dikandung tanpa noda ini berhubungan dengan peran istimewanya sebagai Ibu Tuhan Yesus. Jadi, walaupun benar Maria manusia biasa, ia bukan manusia ‘kebanyakan’ seperti kita. Sebab, memang rencana keselamatan itu terbuka untuk semua orang (Yoh 3:16), tetapi Ia hanya memilih satu orang untuk menjadi ibu-Nya, yaitu Maria. Kita tahu bahwa Allah adalah Kudus, sempurna dan tak ada dosa di dalam Dia, maka sudah sangat layaklah bahwa ketika memutuskan untuk dilahirkan di dunia, Yesus menguduskan terlebih dahulu seseorang yang melaluinya Ia akan dilahirkan. Mungkin hal ini tidak terbayangkan oleh kita, karena kita manusia tidak bisa melakukannya. Kita tidak bisa memilih ibu kita sendiri, apalagi membuat dia kudus dan sempurna sebelum kita lahir. Tetapi, Allah bisa, dan itulah yang dilakukan-Nya. Mengapa Tuhan melakukan ini? Karena Ia tidak dapat mengingkari jati DiriNya sebagai Allah yang Kudus. Mari kita lihat kebesaran Allah melalui apa yang dilakukanNya terhadap Bunda Maria seperti yang ditulis dalam Alkitab.
1. Bunda Maria disebutkan pada awal mula, sebagai ‘perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan ular (iblis) (Kej 3:15).
Di sini, perempuan yang dimaksud bukanlah Hawa, tetapi Hawa yang baru (‘New Eve’). Para Bapa Gereja membaca ayat ini sebagai nubuatan akan kelahiran Yesus (Adam yang baru) melalui Bunda Maria (Hawa yang baru). Hal ini sudah menjadi pengajaran Gereja sejak abad ke-2 oleh Santo Yustinus Martir, Santo Irenaeus dan Tertullian, yang lalu dilanjutkan oleh Santo Agustinus.[5] Sayangnya, memang dalam terjemahan bahasa Indonesia, pada ayat ini dikatakan ‘perempuan ini’, seolah-olah menunjuk kepada Hawa, namun sebenarnya adalah ‘the woman’ (bukan this woman) sehingga artinya adalah sang perempuan, yang tidak merujuk kembali ke lakon yang baru saja dibicarakan.[6] Ungkapan ‘woman‘ ini yang kemudian kerap diulangi pada ayat Perjanjian Baru, misalnya pada mukjizat di Kana (Yoh 2:4)[7], dan di kaki salib Yesus, saat Ia menyerahkan Bunda Maria kepada Yohanes murid kesayanganNya (Yoh 19:26).[8] Pada kesempatan tersebut, Yesus mau menunjukkan bahwa Maria adalah ’sang perempuan’ yang telah dinubuatkan pada awal mula dunia sebagai ‘Hawa yang baru’.
‘Hawa yang baru’ ini berperan berdampingan dengan Kristus sebagai ‘Adam yang baru’. Santo Irenaeus, mengatakan, “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria” sehingga selanjutnya dikatakan, “maut (karena dosa) didatangkan oleh Hawa, tetapi hidup (karena Yesus) oleh Maria.”[9] Oleh karena itu, sudah selayaknya Allah membuat Bunda Maria tidak tercemar sama sekali oleh dosa, supaya ia, dapat ditempatkan bersama Yesus di tempat utama dalam pertentangan yang total melawan Iblis (lih. Kej 3:15).
2. Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru.
Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, Kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.
3. Bunda Maria dikatakan sebagai ‘penuh rahmat’ pada saat menerima Kabar Gembira.
Pada saat malaikat Gabriel memberitakan Kabar Gembira, ia memanggil Maria sebagai, ‘…hai engkau yang dikaruniai’, Tuhan menyertai engkau.’ (Luk 1:28) (“Hail, full of grace…”, – RSV Bible) Kata, ‘Hail, full of grace‘ ini tidak pernah ditujukan kepada siapapun di dalam Alkitab, kecuali kepada Maria.[10] Kepada Abraham yang akan menjadi Bapa para bangsa, ataupun kepada Musa salah satu nabi terbesar, Allah tidak pernah menyapa mereka dengan salam. Kepada Maria, Allah bukan saja hanya memberi salam, tetapi juga memenuhinya dengan rahmat (grace), yang adalah lawan dari dosa (sin). Dan karena dikatakan ‘full of grace’, maka para Bapa Gereja mengartikannya bahwa seluruh keberadaan Maria dipenuhi dengan rahmat Allah dan semua karunia Roh Kudus, sehingga dengan demikian tidak ada tempat lagi bagi dosa, yang terkecil sekalipun, sebab hadirat Allah tidak berkompromi dengan dosa. Artinya, Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa asal.
4. Dasar dari Kitab Wahyu
Kita mengetahui dari Kitab Wahyu, bahwa Bunda Maria-lah yang disebut sebagai perempuan yang melahirkan seorang Anak laki-laki, yang menggembalakan semua bangsa… yang akhirnya mengalahkan naga yang adalah Iblis (Why 12: 1-6). Kemenangan atas Iblis ini dimungkinkan karena dalam diri Maria tidak pernah ada setitik dosa pun yang menjadi ‘daerah kekuasaan Iblis’.
Jika Maria tanpa noda dosa, apakah dia membutuhkan Kristus untuk menyelamatkannya?
Jawabnya tentu: YA! Karena segala keistimewaan yang diberikan kepadanya hanya mungkin diperoleh melalui Keselamatan yang diberikan oleh Kristus sendiri. Duns Scotus (1264- 1308) seorang Franciskan mengatakan hal ini dengan indahnya, “Malah Maria, melebihi siapapun membutuhkan Kristus sebagai Penyelamatnya, sebab ia dapat tercemar oleh noda dosa asal seandainya rahmat dari Sang Penyelamat tidak mencegah hal ini.”[11] Keistimewaan rahmat yang membuat Maria dibebaskan dari noda dosa asal adalah bentuk penghormatan Yesus kepada Maria ibu-Nya, sesuatu yang menjadi hak-Nya sebagai Tuhan.
Apa pentingnya Dogma ini buat kita?
Bunda Maria yang tidak bernoda, tubuh dan jiwanya, tidak dimaksudkan ‘hanya’ untuk melukiskan keistimewaan Maria, tetapi untuk memberi gambaran bagi Gereja.[12] Seperti Maria, Gereja juga dikatakan sebagai ‘tidak bernoda.’ Hal ini juga dikatakan oleh Rasul Paulus yang mengatakan bahwa Kristus akan menempatkan Gereja di hadapanNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut …supaya GerejaNya kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27). Jadi, kita sebagai anggota Gereja diajak untuk melihat Maria sebagai teladan. Kita harus berjuang ‘mengalahkan’ bujukan Iblis setiap hari, dengan mengandalkan kekuatan Roh Kudus.
Kesimpulan:
Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa Asal (Ineffabilis Deus/ The Immaculate Conception) adalah pengajaran yang berdasarkan atas kebijaksanaan Allah yang tak terselami, yang membebaskan Bunda Maria dari dosa asal, sebab ia telah dipilih Allah sejak semula untuk menjadi Ibu PuteraNya Yesus Kristus. Pengajaran yang telah berakar lama dalam Gereja ini mengajak kita untuk melihat Bunda Maria sebagai teladan kekudusan, agar kitapun dapat berjuang hidup kudus setiap hari dengan mengandalkan rahmat Tuhan. Jadi fokus utama dogma ini bukan semata- mata untuk meninggikan Maria, tetapi untuk menyatakan kerahiman Tuhan yang tiada terbatas untuk menguduskan Maria sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus di dunia ini. Karena itu, Maria adalah model bagi Gereja dan teladan bagi kita masing-masing dalam hal kekudusan.
[1] Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang bunyinya antara lain sebagai berikut:
Dengan inspirasi Roh Kudus, untuk kemuliaan Allah Tritunggal, untuk penghormatan kepada Bunda Perawan Maria, untuk meninggikan iman Katolik dan kelanjutan agama Katolik, dengan kuasa dari Yesus Kristus Tuhan kita, dan Rasul Petrus dan Paulus, dan dengan kuasa kami sendiri: “Kami menyatakan, mengumumkan dan mendefinisikan bahwa doktrin yang mengajarkan bahwa Bunda Maria yang terberkati, seketika pada saat pertama ia terbentuk sebagai janin, oleh rahmat yang istimewa dan satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh karena jasa-jasa Kristus Penyelamat manusia, dibebaskan dari semua noda dosa asal, adalah doktrin yang dinyatakan oleh Tuhan dan karenanya harus diimani dengan teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman.”
[2] Santo Ephraem dalam “Nisibene Hymns”, 27, (dikutip dan diterjemahkan dari buku The Teachings of the Church Fathers, ed. John R Willis, S.J., Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, edisi asli Herder and Herder, New York, 1966 h. 361) menulis, “Sungguh Engkau, Tuhan, dan BundaMu adalah hanya satu-satunya yang cantik sempurna di dalam segala hal; sebab, Tuhan, tidak ada noda di dalam-Mu dan juga tidak ada noda apapun di dalam BundaMu…”
[3] Santo Agustinus, dalam “On Nature and Grace“, Chap. 36:42, (dikutip dan diterjemahkan dari buku The Teachings of the Church Fathers, Ibid., h. 265) menulis, “Kita harus menerima Perawan Maria yang kudus, tentangnya saya tidak akan pernah mempertanyakan jika kita membahas tentang dosa, karena hormatku kepada Tuhan, sebab dari Dia kita tahu akan betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa sampai sekecil- kecilnya, telah diberikan kepadanya (Bunda Maria) yang telah dipercayakan untuk mengandung dan melahirkan Dia (Yesus) yang sudah pasti tidak berdosa…”
[4] Santo Irenaeus, dalam “Against Heresies, V, The New Creation in Christ” (dikutip dan diterjemahkan dari buku Early Christian Fathers, ed. Cyril C. Richardson, Touchstone, Simon & Schuster, NY, 1996) hl. 389-390, menyebutkan Maria sebagai Hawa yang baru, “Seluruh umat manusia berada dalam kuasa maut melalui perbuatan seorang perawan (Hawa), maka seluruh umat manusia juga diselamatkan melalui seorang perawan (Maria, Hawa yang baru) dan karenanya, ketidaktaatan seorang perawan diimbangi oleh ketaatan perawan yang lain.” Dari sini, para Bapa Gereja menyimpulkan bahwa ketaatan total Maria dimungkinkan oleh ketotalan kemurniannya tanpa dosa asal.
[5] John R Willis, S.J. ed., The Teachings of the Church Fathers, Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, edisi asli Herder and Herder, New York, 1966 h. 356
[6] “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15).
[7] John 2:4, RSV Bible, “O Woman, what have you to do with me? My hour has not yet come.” Diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saatku belum tiba.”
[8] John 19:26-27, RSV Bible, “When Jesus saw his mother, and the disciple whom he loved standing near, he said to his mother, “Woman, behold, your son! Then he said to the disciple, “Behold, your mother!” diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia: Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu! Kemudian kata-Nya kepada murid-muridNya: “Inilah ibumu!”
[9] Lihat Lumen Gentium 56, S. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia” Maka … para Bapa zaman kuno, … menyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya” Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka (St. Jerome, St. Agustinus, St. Cyril, St. Yohanes Krisostomus, St. Yohanes Damaskinus) menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.”
[10] Lihat, Defining the Dogma of the Immaculate conception, Ineffabilis Deus, par. The Annunciation, “They (the Church Fathers) thought that this singular and solemn salutation, never heard before, showed that the Mother of God is the seat of all divine graces and is adorned with all gifts of the Holy Spirit…”
[11] Diterjemahkan dari New Catholic Encyclopedia, The Catholic University of America, Washington D.C., 1967, Book VII, p. 381.
[12] Lihat Hugo Rahner, SJ, Our Lady and the Church, (Zaccheus Press, Bethesda, 1968, reprint 1990), p. 17, “But this mystery of the Immaculate Conception of Mary is not only a personal priviledge granted to her who was to become the Mother of God. Mary thereby become the figure of the Church…” and p. 20, “The word ‘immaculate’ indeed sums up the mystery of our own spiritual life. We are members of the Church, and in us the Church’s mystery must be accomplished; it begins with Mary Immaculate, and we in turn, by the power of the Holy Spirit, must once more become immaculate. In each of us the victory over the serpent must be achieved….”

















Berikut kutipan yang saya terima dari seorang teman lewat email:
“…yang diberi salam oleh Malaikat Agung Gabriel dua ribu tahun yang lalu sebagai “Putri Kesayangan”2 Allah yang benar-benar menjadi ciptaan Allah yang paling terberkati; hanya pada Dia ada kesempurnaan dan keindahan3 Maria mewujudkannya dalam rahimnya, “Tabut Baru Perjanjian Baru”, yang tidak ternodai dengan dosa yang paling kecil, dosa asal, atau dosa pribadi. Sebaliknya Yesus, Allah-Manusia, telah mewarisi dari bunda-Nya sifat manusia berdosa.”
Pertanyaan saya: tepatkah kalimat ‘Sebaliknya Yesus, Allah-Manusia, telah mewarisi dari bunda-Nya sifat manusia berdosa.’ di atas?
Jika tepat, apakah hal itu berarti Tuhan Yesus memiliki dosa asal, sedangkan Bunda Maria tidak? Dan bagaimana penjelasan atas hal ini?
Satu lagi, dalam salah satu artikel katolisitas berjudul Maria, Bunda Allah, saya kutip: “Namun demikian, kita tidak mempercayai bahwa Maria memiliki keilahian seperti dewi. Pendapat yang demikian juga sesat.”
Pertanyaannya: yang bagaimanakah keilahian seperti dewi itu? Dengan seluruh keistimewaan yang dimiliki Bunda Maria, Ratu Surgawi, menginjak kepala ular, Diangkat ke Surga dan lain-lain, rasanya berseberangan.
Seandainya dapat, mohon tanggapan untuk pertanyaan saya ini dapat dikirimkan via email saya. Seandainya sudah pernah dibahas sebelumnya pada artikel tertentu, mohon dapat memberikan linknya.
Terima kasih,
Fenky
Shalom Fenky,
Terima kasih atas pertanyaannya. Tanggapan di atas sebenarnya tidaklah tepat bahwa Yesus telah mewarisi dosa asal. Secara prinsip kita tidak dapat memisahkan dua kodrat Yesus, yaitu sungguh Allah dan sungguh manusia, walaupun dua kodrat tersebut menjalankan apa yang menjadi kodratnya masing-masing dan kedua kodrat ini terikat dalam kesatuan yang tak terpisahkan – atau disebut hypostatic union. Satu-satunya yang memisahkan manusia dengan Allah adalah dosa. Jadi, tidak mungkin Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, serta ingin membebaskan manusia dari dosa, namun Dia sendiri berdosa.
Untuk itulah, Maria yang melahirkan Yesus, yang mengandung Yesus selama 9 bulan, yang bersama-sama dengan Yesus, yang mengalirkan darah kepada Yesus, juga tidak berdosa. Hal ini, karena Tuhan mempersiapkan Maria secara khusus untuk mengemban misi sebagai Bunda Allah, Bunda Sang Penebus. Tidak ada keilahian di dalam diri Maria, karena walaupun dia dilahirkan tanpa dosa asal, namun hal ini disebabkan oleh kekuasaan Tuhan. Mungkin perlu diingat bahwa manusia pertamapun diciptakan tanpa dosa. Dalam salah satu artikel dituliskan “Namun demikian, kita tidak mempercayai bahwa Maria memiliki keilahian seperti dewi. Pendapat yang demikian juga sesat.” Maksudnya adalah Maria bukanlah seperti anggapan orang-orang yang percaya akan dewa-dewi yang mempunyai kekuasaan ilahi. Jadi, dalam persepektif yang lebih jelas, Maria adalah manusia yang sama seperti kita, namun dipersiapkan oleh Allah sedemikian rupa, sehingga dia lahir tanpa dosa, sehingga dia dapat mengemban misinya sebagai Bunda Allah. Semoga tanggapan singkat ini dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Pesta Hati Maria Tak Bernoda (Heart of Mary Immacilate) dirayakan pada hari Sabtu setelah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus (hari Jumad). Maka ada tradisi setiap hari Sabtu ada devosi ke Bunda Maria.
Shalom mba Inggrid,
Saya ingin menanyakan bahwa diterangkan di artikel diatas bahwa Bunda Maria telah dipersiapkan sejak awal dan dibebaskan dari dosa asal. Lalu bagaimana dengan kehendak bebas (free will) yang dimiliki oleh setiap manusia, tak terkecuali Bunda Maria. Bunda Maria juga sebagai manusia bukan?? Nah, kalau begitu berarti sejak awal Allah sudah tahu bahwa kelak Bunda Maria akan menjawab “iya/fiat” untuk menjadi tabut perjanjian baru. Bagaimana kalau Bunda Maria kelak tidak menjawab “ya” melainkan “tidak”, apakah ia tetap terbebas dari dosa asal atau bagaimana dengan kekudusannya yang sudah Allah persiapkan sejak ia belum dilahirkan ke dunia??
Terima kasih sebelumnya,
Tuhan Memberkati
Salam dari
Ayu
Shalom Medya Ika Ayu,
Terima kasih atas pertanyaannya hubungan antara kehendak bebas Bunda Maria. Justru karena Bunda Maria telah dipersiapkan oleh Allah secara khusus, mengingat peran yang harus dijalankannya sebagai Bunda Allah, maka dia telah menerima rahmat khusus dari Allah, yaitu dia dilahirkan tanpa noda asal. Namun, rahmat Allah ini tidak menjadikan Bunda Maria kehilangan kehendak bebasnya. Kita melihat hawa pertama, yang diciptakan tanpa noda asal, memilih untuk melawan Allah dengan kesombongannya dan berkata “tidak” dengan melawan Allah. Sedangkan Bunda Maria, Hawa kedua, memilih untuk mengatakan “ya” kepada rencana keselamatan Allah. Karena Allah maha tahu, maka sebelum dunia dijadikan Dia juga telah tahu bahwa Bunda Maria akan menjawab ya terhadap rencana keselamatan Allah. Dan Allah memberikan rahmat secara khusus kepada Bunda Maria untuk mengemban misi sebagai Bunda Allah, tanpa menghilangkan kehendak bebas dari Bunda Maria. Diskusi secara lebih mendalam tentang hal ini dapat dibaca di sini – silakan klik. Silakan membacanya, dan kalau masih ada yang tidak jelas, dapat bertanya kembali. Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Shalom pengurus katolisitas,
untuk topik ini, kenapa tidak ditambahkan juga mengenai penampakan Bunda Maria di Lourdes? Bukankah saat itu Bunda Maria sendiri yang mengatakan bahwa Dia adalah yang dikandung tanpa noda?
Salam, Novan.
[Dari Katolisitas: Terima kasih, ini adalah saran yang baik. Kami sudah menambahkannya di artikel di atas]
shalom Katolisitas
saya mau bertanya tentang Maria dikandung tanpa noda apakah sama pengertian dan pemahamannya dengan pilihan nama pelindung paroki Hati Maria Tak Bernoda?. kalau sama tanggal berapa yach hati maria tak bernoda ini diperingati sebagai hari pestanya?
Shalom Pramudhianto,
Jika melihat dari namanya, maka memang nama pelindung paroki Hati Maria yang tak bernoda diambil dari nama Maria Perawan yang tak bernoda, atau dalam bahasa Inggrisnya, “The Immaculate Conception”
Perayaan Bunda Maria yang dikandung tak bernoda dirayakan tanggal 8 Desember, dihitung 9 bulan sebelum perayaan hari kelahiran Bunda Maria yaitu 8 September.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Salam Sejahtera
Saya mengutip sedikit ulasan yang diberikan oleh Ingrid tentang Bunda Maria sbb :
Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru.
Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, Kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6)
Kalau pada saat Allah menciptaan alam semesta beserta dengan segala isinya Alkitab hanya menuliskannya dalam 2 bab saja, sedangkan didalam pembuatan Kemah Suci Alkitab menuliskan demikian teliti sampai memerlukan 7 bab.
Apakah ada makna atau arti yang dalam dan yang tersembunyi dari peralatan Kemah Suci tersebut sehingga diberitahukan kepada MUSA sampai ke detail2nya ?
Jika tidak ada artinya , untuk apa sedemikian njelimet Alkitab menerangkannya . Terima kasih
Salam
Machmud
Shalom Machmud,
Terima kasih atas pertanyaannya. Di dalam Alkitab sesuatu yang penting bukan tergantung dari banyaknya bab atau ayat. Oleh karena itu buku yang isinya lebih pendek sama pentingnya dengan buku yang isinya lebih panjang. Sebagai contoh, Surat Rasul Yohanes 1, 2, 3 termasuk buku-buku yang isinya pendek, namun menyajikan begitu banyak hal-hal penting.
Untuk pertanyaan Machmud kenapa Allah memberikan perintah yang begitu detil tentang kemah Allah dan tabut perjanjian, saya telah menjawabnya dalam jawaban yang lain, dimana saya katakan:
Mengenai pertanyaan tentang arti dari ukuran-ukuran tentang tabernakel, kemah Allah seperti yang disebutkan di Kel 25-31, saya belum riset secara mendalam. Jadi saya belum dapat menjawabnya saat ini. Beberapa gambar tentang tabut perjanjian dan juga kemah Allah dapat dilihat di sini (silakan klik). Namun ada hal-hal yang lebih penting dari simbol-simbol tersebut. Kalau kita melihat secara typology (melihat apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama yang dapat mempresentasikan apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama), maka kita dapat menghubungkan antara Hukum di dalam Perjanjian Lama yang tersimpan di dalam tabut perjanjian, dengan Yesus yang merupakan hukum dalam Perjanjian Baru. Hukum Tuhan yang tertulis di dalam PL menjadi Firman yang menjadi manusia, yaitu Yesus. Kalau Allah sendiri mempersiapkan segala sesuatunya secara mendetil segala sesuatu yang berhubungan dengan tabut perjanjian, maka pasti Allah juga akan melakukan hal yang sama (bahkan lebih lagi) untuk tabut perjanjian yang baru. Dan hukum Allah yang baru, yang menjadi manusia – dalam diri Yesus- berdiam di dalam tabut PB, yaitu rahim Bunda Maria. Inilah salah satu alasan mengapa umat Katolik mengakui bahwa Bunda Maria adalah manusia yang tak bernoda.
Dan kalau kita mau menerapkan kemah Allah di dalam keadaan sekarang maka Machmud dapat melihatnya di dalam Gereja Katolik. Gereja Katolik mempunyai tabernakel, tempat menyimpan Tubuh Kristus. Sama seperti imam yang dapat memberikan korban seperti yang dikatakan di Alkitab, maka hanya pastor yang dapat mempersembahkan kurban Ekaristi. Namun setiap hati yang telah dibaptis juga menjadi tabernakel suci, dimana Tritunggal Maha Kudus dapat bertahta di dalamnya.
Semoga keterangan singkat ini dapat menjawab pertanyaan Machmud.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Terima kasih atas pencerahannya.Saya tolong tanya,apakah Devosi pada Bunda Maria itu HARUS dilakukan oleh orang Katolik?.Kalau ya apakah dasar hukum/ajaran Gerejanya dan kalau tidak apa dasar hukum Gerejanya.Terima kasih atas pencerahannya.
Shalom Kusnadi,
Menurut pengetahuan saya, tidak ada dokumen yang mengharuskan kita sebagai umat Katolik untuk mempunyai devosi kepada Bunda Maria, namun banyak sekali dokumen yang menganjurkan kita agar kita berdoa/ melakukan devosi dan penghormatan kepada Bunda Maria. Gereja Katolik sebagai satu kesatuan mengakui penghormatan kepada Bunda Maria, sehingga jika kita tidak mempunyai devosi dan penghormatan kepada Maria, sesungguhnya kita tidak mempunyai pemahaman yang sama dengan penghayatan Gereja Katolik terhadap Bunda Maria. Berikut ini beberapa dokumen Gereja yang menyebutkan dan menganjurkan devosi kepada Bunda Maria (saya hanya menyebutkan 10 saja, namun sesungguhnya masih banyak lagi dokumen tentang devosi kepada Bunda Maria ini):
1) Katekismus Gereja Katolik (KGK) 971 menyebutkan: "Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia" (Luk 1:48). "Penghormatan Gereja untuk Perawan Maria tersuci termasuk dalam inti ibadat Kristen" (MC 56). "Tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian istimewa. Memang sejak zaman kuno santa Perawan dihormati dengan gelar ‘Bunda Allah’; dan dalam segala bahaya dan kebutuhan mereka umat beriman sambil berdoa mencari perlindungannya… Kebaktian Umat Allah terhadap Maria… meskipun bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus, lagi pula sangat mendukungnya" (LG 66). Ia mendapat ungkapannya dalam pesta-pesta liturgi yang dikhususkan untuk Bunda Allah Bdk. SC 103. dan dalam doa marian – seperti doa rosario, yang merupakan "ringkasan seluruh Injil" Bdk. MC 42.
2) Vatikan II, Lumen Gentium 69, "Hendaklah segenap Umat kristiani sepenuh hati menyampaikan doa-permohonan kepada Bunda Allah dan Bunda umat manusia, supaya dia, yang dengan doa-doanya menyertai Gereja pada awal-mula, sekarang pun di sorga – dalam kemuliaannya melampaui semua para suci dan para malaikat, dalam persekutuan para kudus – menjadi pengantara pada Puteranya, sampai semua keluarga bangsa-bangsa, entah yang ditandai nama kristiani, entah yang belum mengenal Penyelamat mereka, dalam damai dan kerukunan di himpun dalam kebahagiaan menjadi satu Umat Allah, demi kemuliaan Tritunggal yang Mahakudus dan Esa tak terbagi."
3) Kitab Hukum Kanonik, Kan. 1186, "Untuk memupuk pengudusan umat Allah, Gereja menganjurkan agar umat beriman kristiani secara khusus dan dengan sikap seorang anak menghormati Santa Maria selalu Perawan dan Bunda Allah, yang diangkat oleh Kristus menjadi Bunda semua orang; Gereja juga memajukan penghormatan yang benar dan sejati kepada Orang-orang Kudus lain, yang dengan teladannya umat beriman kristiani dibangun serta dengan pengantaraannya umat itu didukung."
4) Apostolic Bull dari Paus Pius IX, saat mengeluarkan Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda, Ineffabilis Deus, 31, mencantumkan juga anjuran untuk terus berdoa dan menghormati Bunda Maria.
5) Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II, "Rosarium Virginis Mariae/ Tentang Rosario", 43, "Saya menganjurkan pada engkau, para saudara dan saudari dalam setiap status kehidupan, kepadamu para keluarga Kristiani, para penderita sakit dan kaum manula dan kepadamu kaum muda: berdoalah Rosario lagi dengan yakin. Temukanlah/ doakanlah kembali Rosario di dalam terang Alkitab, dalam keharmonisan dengan liturgi dan dalam konteks kehidupanmu sehari-hari."
6) Surat Ensiklik Paus Leo XIII, Magnae Dei Matris, 29, Rosario yang adalah alat yang dapat membantu mempertahankan iman dan contoh tentang kebajikan ilahi, seharusnya berada di tangan umat Kristiani yang sejati, dan didoakan dan dimeditasikan dengan khusuk.
7) Surat Ensiklik Paus Pius XII, Ingruentium Malorum, Tentang Mengucapkan Doa Rosario, 11, 12. Umat Kristiani harus dipimpin untuk memahami kebesaran, kekuasaan, dan keistimewaan doa Rosario. Di dalam keluarga, kami mengharapkan agar dibiasakan berdoa Rosario, dan ini agar rajin dilakukan.
8) Surat Ensiklik Paus Yohanes XXIIi, Grata Recordatio, Tentang Rosario, Doa untuk Gereja,10, Nyalakanlah semangat dengan keyakinan kepada Bunda Perawan Maria, yang selalu menjadi pelindung umat Kristiani dalam kesusahan.
9) Surat Ensiklik Paus Paulus VI, Christi Matri, Tentang Doa untuk Perdamaian dalam bulan Oktober, 9, 10 menganjurkan agar umat berdoa dengan tekun sepanjang bulan Oktober. Doa Rosario dapat mendatangkan berkat-berkat surgawi. Sejarah telah membuktikan bahwa doa rosario telah sangat berguna untuk mengusir kejahatan, mencegah bencana, dan menjadi bantuan yang besar untuk menunjang kehidupan iman Kristiani.
10) Surat Wejangan Apostolik Paus Paulus VI, Marialis Cultus, Tentang Devosi Maria, menjelaskan panjang lebar tentang Devosi kepada Bunda Maria, atas dasar Maria sebagai teladan iman, kasih dan persatuan dengan Kristus (bdk. Lumen Gentium 63), yang oleh sikap batinnya Gereja memohon kepada Kristus, dan melalui-Nya menyembah Allah Bapa (bdk. Sacrosanctum Concilium 7).
Demikian, maka kita mengetahui bahwa Gereja menganjurkan kita untuk menghormati Maria, dan menjalankan devosi kepada Bunda Maria, sebab ialah teladan iman dan kasih yang dapat menghantar kita lebih dekat lagi kepada Yesus. Jika kita sebagai orang Katolik tidak melakukan devosi ini, tentu yang ‘rugi’ adalah kita sendiri, karena kita ‘menutup’ kemungkinan untuk lebih bertumbuh di dalam iman dengan bantuan dari Bunda Maria. Ibaratnya sebagai murid sekolah, kita tidak mau belajar dari kakak kelas, tapi mau belajar sendiri, padahal sudah jelas kakak kelas kita dapat membantu, dan bahkan sudah ditugaskan oleh guru untuk membantu kita. Mari kita mengingat bahwa Yesus mempercayakan Bunda Maria kepada Yohanes, yang mewakili semua murid yang dikasihi-Nya (Yoh 19:26-27). Jika kita mengasihi Yesus, tentu kita juga pasti akan mengasihi Ibu-Nya dan menerima Maria di rumah hati kita, sesuai dengan pesan terakhir Yesus sebelum wafat-Nya.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Bu Ingrid yg terkasih;
Banyak terima kasih atas pencerahannya yg sangat bagus dan cepat.Saya sangat salut dgn pelayanan ibu yg canggih.Sebenarnya saya ini sedang membuat tulisan ttg Bunda Maria dimana saya akan singgung juga ttg Devosi,namun saya tak punya referensi utk itu.sekarang saya telah dpt bantuan bu Ingrid.Terima kasih sekali lagi dan Tuhan memberkati ibu & pelayanan ibu.Syalom
Pak Kusnadi,
Shalom,
Saya ingin sharing sedikit pengetahuan untuk melengkapi penjelasan dan pencerahan Ibu Inggrid yang sangat lengkap yaitu bahwa untuk menghormati Bunda Maria kita berdevosi dengan menggunakan Rosario yang selain Rosario biasa sangat banyak antara lain, 7 Duka Bunda Maria,Bunda Maria Penolong Abadi, Bunda Maria Guadalupe, Bunda Maria Mejugorje (Rosario Perdamaian)(demikian juga rosario untuk berdoa kepada Jesus , antara lain Kanak-kanak Jesus dari Praha, Rosario Jesus, Luka-luka Jesus, Hati Kudus Jesus, Jalan Salib) dan juga ada rosario Roh Kudus.
Apabila bapak berminat mengetahui lebih lanjut silahkan….
Salam dalam Kristus
Florence W
Seorang teman Kristen bertanya kepada saya, mengapa orang Katolik menyanyikan nderek Bunda Maria dan bukan nderek Gusti Yesus. Jawab saya, karena kita ikut Bunda Maria yang mengarahkan pandangan dan harapan kita kepada Yesus. Bunda Maria sebagai individu yang paling dekat dengan Yesus dapat menuntun kita menuju kepada puteranya Yesus sebagaimana Yesus yang menjadi jalan bagi kita untuk menuju kepada Allah. Barangkali rama atau teman Katolik memiliki jawaban yang lebih tepat terhadap pertanyaan orang Kristen bukan-Katolik ini?
Shalom Andry,
Sebenarnya jawaban Andry sudah tepat, sebab alasan orang Katolik ‘nderek’/ ikut Bunda Maria adalah karena kita ‘nderek’ Gusti Yesus. Sebab Bunda Maria tidak pernah menjadi tujuan akhir bagi kita; dan karena Bunda Maria selalu mengarahkan kita kepada Yesus. Tujuan kita ikut Bunda Maria bukan berarti ada jalan lain kepada Allah Bapa selain dari Yesus, namun jika kita berjalan bersama Maria, pastilah kita sampai kepada Yesus yang mengantar kita kepada Allah Bapa. Jadi, perantaraan Maria adalah untuk mendukung perantaraan Yesus, sehingga Maria bukan ’saingan’ Yesus dalam hal membawa kita kepada Allah Bapa. Yesus tetaplah ‘perantara yang esa /tunggal dan satu-satunya’ kepada Allah Bapa (1 Tim 2:5), dan peran Maria adalah untuk mendukung perantaraan Yesus itu.
Santo Bernardino dari Siena (1444) mengatakan, "Maria adalah leher dari Kepala kita (yaitu Yesus Kristus); sehingga melalui Maria, semua rahmat diberikan dari Sang Kepala kepada Tubuh Mistik-Nya yaitu Gereja". Kita tahu bahwa peran leher adalah untuk menghubungkan kepala dengan anggota tubuh lainnya, dan sebaliknya. Juga kita mengetahui leher tidak pernah menunjuk kepada kepala yang lain, sebab kita hanya memiliki satu kepala; maka dengan perumpamaan ini kita mengetahui bahwa Bunda Maria bekerjasama dengan Yesus untuk mempersatukan anggota tubuh dalam kesatuan dengan kepalanya.
Vatikan II dalam Lumen Gentium Bab VIII, tentang "Santa Perawan Maria, Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja", # 60, mengajarkan:
"Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kritus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi, pun dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh itu bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya."
Jadi, kembali ke soal ‘nderek’ Maria atau ‘nderek’ Gusti Yesus, tentu saja kita dapat menyanyikan keduanya, yaitu ‘nderek’ Gusti Yesus lewat ‘nderek’ Maria (mengikuti Yesus lewat mengikuti Maria). Mungkin saja suatu hari nanti ada yang mau menggubah lagunya.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Shalom,
Terima kasih atas penjelasan anda. Melalui situs ini, saya bersyukur karena dapat belajar bukan hanya alkitab (sola scriptura) tetapi juga ajaran gereja Katolik yang benar sesuai dengan pedoman sola verbum dei. Mudah-mudahan mereka yang ingin belajar tetapi sangat sibuk untuk hadir di kelas juga dapat mengikuti situs ini (untuk itu, situs ini dapat disosialisasikan lewat majalah Katolik seperti Majalah Hidup dan selebaran di gereja). Kalau tidak, kita tidak bisa menjawab pertanyaan kritis dari pengikut agama lain dan hanya berargumentasi bahwa semua itu merupakan iman keyakinan yang tidak dapat didiskusikan. Ini berbeda dengan teman-teman Kristen yang sekalipun bukan pendeta sangat menguasai isi alkitab, khususnya Perjanjian Lama. Teman-teman Kristen sering menunjukkan bahwa beberapa iman keyakinan gereja Katolik tidak bersumber dari kitab suci seperti pengakuan dosa, persekutuan dengan orang kudus, perpuluhan, doa berulang (Rosario atau Novena), penggunaan patung dll. di samping iman keyakinan tentang peranan Bunda Maria yang dikuduskan tanpa noda dosa.
Namun demikian, sebagai orang Katolik kita juga harus mengakui beberapa kesalahan kita sendiri seperti ketika ziarah ke Goa Maria tidak mengutamakan jalan salib tetapi langsung berdoa di depan Bunda Maria atau ketika mengikuti misa, berdoa rosario.
Tuhan memberkati.
Shalom Andry,
Terima kasih atas dukungan kepada website ini. Memang sampai saat ini kami belum mempunyai rencana untuk men-sosialisasikan website ini ke majalah Katolik seperti Hidup, dst, karena beberapa alasan, seperti keterbatasan dana. Yang sudah terjadi adalah mereka yang merasa terbantu dengan website ini menyebarkannya melalui mailing list. Dari hal ini saja kami bersyukur kepada Tuhan, bahwa jumlah pengunjung website ini telah terus meningkat sejak website ini dibentuk 4 bulan yang lalu. Mungkin dalam waktu yang akan datang hal ini akan kami pikirkan. Terima kasih atas saran anda.
Mengenai ajaran dan tradisi agama Katolik yang sering dipertanyakan oleh saudara-saudari kita yang non-Katolik, terutama Kristen Protestan, seperti: Pengakuan dosa dan penggunaan patung, telah dibahas di dalam beberapa artikel di web-site ini. Namun tentang persekutuan orang kudus, doa berulang (rosario/ novena) dan perpuluhan, memang belum pernah kita ulas. Suatu hari nanti pasti akan kami tuliskan. Mohon bersabar, ya. Masukan ini akan kami perhatikan.
Semoga kita sebagai orang Katolik dapat terus mempelajari iman kita sehingga kita dapat memberi pertanggunganjawab jika ada yang bertanya pada kita. Namun di atas semua itu, kita mempelajari iman kita karena kasih kita kepada Tuhan. Sebab, seperti pepatah mengatakan, "jika kita tak kenal, maka kita tak sayang", maka pertanyaannya, sejauh mana kita telah berjuang untuk mengenal Tuhan kita? Mari bersama kita berjuang untuk mengenal Tuhan, melalui ajaran-Nya yang dipercayakan-Nya dalam Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik. Dengan iringan doa yang tulus, kita percaya bahwa Tuhan sendiri akan membantu kita semua untuk lebih mengenal dan mengasihi Dia.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Bunda Maria merupakan tabut perjanjian baru karena mengandung Yesus yang merupakan simbol perjanjian baru yang dibuat Allah dengan seluruh umat manusia (bukan hanya bangsa Yahudi). Seperti halnya tabut perjanjian lama yang harus dihormati dan disucikan karena berisikan simbol perjanjian lama yang berbentuk loh batu Musa, maka Bunda Maria pun disucikan Allah sehingga dia patut disebut Maria immaculata. Hal lain yang istimewa bagi Bunda Maria adalah bahwa teladan ketaatannya kepada Allah telah membuatnya menjadi tokoh yang berlawanan dengan Hawa. Jika Hawa membuat manusia menanggung dosa asal, maka Bunda Maria turut membantu Yesus untuk membebaskan manusia dari dosa asal.
Terima kasih atas pencerahan yang luar biasa ini.
Saya percaya jika Elizabeth saja kepenuhan Roh Kudus saat menerima kunjungan Maria, apalagi Bunda Maria yang sedang mengandung Kristus dalam rahimnya. (Luk 1: 39-54)
Tapi maafkan pertanyaan dan pemikiran saya :
1. Mengapa pada saat Yesus di Bait Allah, orang tuanya bahkan Bunda Maria sendiri tidak/ belum mengerti mengenai perkataan Yesus ; dan apa maksudnya ayat “.. dan ibuNya menyimpan semua perkara itu dalam hatinya” (Luk 2:48-51)
2. Selain pesta pernikahan di Kana, mengapa peranan Bunda Maria tidak dicatat secara lebih luas dan khusus lagi di alkitab, misalnya pada periode Yesus hidup atau pada jaman 12 Rasul?
3. Mengenai perempuan dan naga di kitab Wahyu, apakah pemahaman ini (Bunda Maria sebagai perempuan) juga diakui oleh kaum diluar katolik ?
Mohon pencerahan dan GBU.
Shalom Oelean,
Berikut ini adalah tanggapan atas pertanyaanmu, berdasarkan atas A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Bernard Orchard, ed. Thomas Nelson and Sons, Canada, 1953):
1) Pada saat Yesus berumur 12 tahun, Bunda Maria dan Yesus mengikuti Yusuf ke Bait Allah di Yerusalem, berkaitan dengan perintah bahwa laki-laki dewasa (di atas 13 tahun) harus beribadah di Bait Allah di Yerusalem tiga kali dalam setahun, termasuk pada hari raya Paska Yahudi (lih. Kel 23:14-17; Ul 16:16). Namun, kebiasaan ini kadang didahulukan satu atau dua tahun. Konon, menurut kebiasaan pula, orang-orang sekampung berangkat bersama-sama, rombongan pria dan wanita dipisah. Anak-anak kecil biasanya ikut ibu, di atas 13 tahun ikut ayah, sedangkan umur ‘perbatasan’ 12 tahun, boleh ikut rombongan ibu atau ayahnya. Mungkin karena hal ini Yesus tertinggal sewaktu pulang, sebab Maria berpikir, Yesus ikut Yusuf, dan sebaliknya Yusuf berpikir Yesus ikut Maria (maklum jaman dulu tidak ada HP). Setelah Yusuf dan Maria tiba di rumah, dan mereka ‘kehilangan’ Yesus, mereka kembali ke Yerusalem, untuk mencari Yesus, dan jarak antara Nazareth dan Yerusalem yang biasa ditempuh dalam 4 hari, mereka tempuh dalam 3 hari. Para orang tua yang pernah mengalami ‘kehilangan’ anak akan sangat memahami perasaan Yusuf dan Bunda Maria pada saat itu. Jadi ketika mereka menemukan Yesus di Bait Allah, dan Yesus dengan tenang saja duduk dan bercakap-cakap dengan para alim ulama, kedua orang tuanya itu tercengang (mungkin ada rasa lega, rasa bingung, campur aduk, karena Yusuf dan Maria itu manusia biasa yang dapat memiliki perasaan sama seperti kita). Kita perlu belajar pada Bunda Maria, yang meskipun dalam keadaan campur aduk, masih dapat mengatakan dengan lembut dan penuh kasih, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?…(Luk 2: 48) Jawab Yesus, “Mengapa engkau mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di rumah BapaKu?” Namun akhirnya Yesus pulang bersama-sama mereka ke Nazareth….Dan Alkitab mencatat bahwa Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya (Luk 2:49). Nah, menjawab pertanyaan Oelean, kenapa kedua orang tua Yesus tidak tahu maksud perkataan Yesus itu; dapat saja disebabkan karena mereka pada saat itu belum sepenuhnya menyadari keunikan peran mereka dalam rencana keselamatan Allah. Setelah peristiwa itu, Maria menyimpan/ merenungkannya di dalam hatinya, sehingga ia semakin menyadari dimensi lain dari peran keibuan-nya, tidak hanya sebagai ibu yang melahirkan Yesus, tetapi ibu yang juga menjadi pengikut Yesus, yang mengutamakan misi keselamatan Yesus di atas segala sesuatu. Sehingga buah dari ‘menyimpan perkara itu di dalam hatinya’, Maria menjadi seorang pendengar Firman dan murid Yesus yang pertama, bahkan sebelum para rasul. Yesus sendiri memuji Maria sebagai yang pertama dari ‘mereka yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya’ (lih. Lk 8 :20-21 dan surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater, 21).
2) Alkitab memang tidak banyak menceritakan tentang peran Maria pada jaman Yesus dan jaman ke-12 rasul setelah Yesus naik ke surga, sebab memang Alkitab pertama-tama ditulis untuk menyatakan perwujudan rencana keselamatan Allah di dalam diri Yesus. Ibaratnya, Yesus adalah tokoh utama dalam Alkitab. Perjanjian Lama adalah persiapan bagi Perjanjian Baru yang dipenuhi dalam diri Yesus. Sedikitnya cerita peran Maria bahkan semakin membuktikan kerendahan hatinya, yang tidak ingin menonjolkan diri dan perannya di dalam kehidupan Yesus. Seperti halnya Yesus yang tidak pernah mengatakan secara eksplisit kebenaran mengenai Diri-Nya yang adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia, dan mengenai Allah Tritunggal, maka Yesus-pun tidak secara eksplisit mengajarkan tentang Maria sebagai Bunda Allah, Bunda Maria selalu Perawan, Maria dikandung tanpa noda, Maria diangkat ke surga, dst. Semua kebenaran ini dinyatakan oleh Roh Kudus yang menyertai Gereja-Nya, dan disingkapkan seiring dengan perjalanan sejarah Gereja, di mana Roh Kebenaran memimpin kita kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:13), berdasarkan dari apa yang tersirat dari pengajaran Yesus yang tertulis dalam Alkitab. Walaupun demikian, Alkitab menyatakan kehadiran Maria di dalam saat-saat penting kehidupan Yesus. Mulai dari saat Yesus menjelma menjadi manusia di dalam kandungan Maria, saat kelahiran-Nya di kandang Betlehem, saat Ia dipersembahkan di Bait Allah, masa hidup-Nya yang tersembunyi di Nazareth, masa pengajaranNya, sampai akhirnya pada saat puncak penderitaanNya di kayu salib, saat Ia dikuburkan, sampai pada hari Pentakosta. Peristiwa-peristiwa tersebut kita renungkan di dalam doa Rosario. Penghormatan kepada Maria juga didasari oleh tulisan-tulisan Bapa Gereja di abad-abad awal. Sejak akhir abad ke-1 oleh Santo Yustinus Martir, Santo Irenaeus dan Tertullian, Bunda Maria dikatakan sebagai Hawa yang baru (the New Eve), yang mendampingi Adam yang baru (Kristus) dalam mewujudkan karya keselamatan Allah. Pengajaran ini sangat kuat berakar dalam Tradisi suci, dan karena kita meyakini bahwa Wahyu Allah tidak saja terbatas pada Kitab Suci, namun juga pada Tradisi Suci, (lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan bagian ke 3), maka umat Katolik menghormati Maria seperti yang dilakukan oleh para rasul, Bapa Gereja, dan para jemaat perdana, meskipun Maria tidak banyak ditulis di dalam Kitab Suci.
3) Pertanyaan ini mungkin akan saya jabarkan dalam suatu artikel yang lebih lengkap pada saat yang akan datang. Namun intinya saja, kebanyakan orang-orang Kristen non-Katolik meng-interpretasikan ‘perempuan’ ini sebagai bangsa Israel, yang melahirkan Mesias (Yesus). Sedangkan pengajaran Katolik mengajarkan bahwa ada tiga arti yang mungkin bagi ‘perempuan’ ini. Pertama adalah Maria, kedua adalah Gereja dan ketiga adalah bangsa Israel (Yerusalem). Arti kedua dan ketiga ini dipandang sebagai ‘pelengkap’ dari arti pertama, yaitu Maria. Karena naga di sini (Wahyu 12) diartikan sebagai Iblis, dan sang Anak yang menggembalakan segala bangsa, adalah Yesus, maka ibu dari anak itu adalah Maria. Sebenarnya, interpretasi pertama ini demikian jelas dan sederhana, dan tidak memerlukan allegori. Namun pengertian lain, yaitu bahwa ‘perempuan’ itu dapat pula berarti Gereja tidak bertentangan dengan pengertian yang pertama, karena Maria dan Gereja sangat berkaitan erat dan tak dapat dipisahkan, mengingat Maria adalah ‘model’ Gereja.
Semoga uraian di atas menjawab pertanyaan Oelean.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Yesus adalah Allah Putra yg ingin lahir di dunia ini melalui seorang gadis sederhana bernama Maria. Dan sebagai Allah Putra ,Ia mempunyai kuasa untuk mensucikan kandungan dan meniadakan dosa asal ibundaNya,siapakah yg berani menentang/melawan kehendakNya.