Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik

Pertanyaan berikutnya setelah kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.

Dalam tulisan terdahulu, kita melihat bahwa adalah sangat logis kalau kita percaya kepada satu Tuhan (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?). Kemudian setelah kita percaya kepada Tuhan yang satu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sudah selayaknya kita juga percaya kepada Yesus Kristus[1], Putera Allah yang menjelma menjadi manusia (lihat artikel: Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?). Pertanyaan selanjutnya: setelah kita percaya kepada Yesus, berarti kita menjadi pengikut Yesus, menjadi seorang Kristen. Namun sekarang, Kristen yang mana?

Pencarian kebenaran harus lebih tinggi daripada penghargaan dan perasaan pribadi.

Pertanyaan di atas menjadi penting pada jaman sekarang ini, mengingat bahwa ada begitu banyak tipe ke-Kristenan yang dilihat dari banyaknya macam gereja. Untuk begitu saja menerima kekristenan tanpa meneliti terlebih gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus Kristus adalah menempatkan diri sendiri dan perasaan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran.[2] Sering kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti berikut ini:

  • Saya senang ke gereja ini, karena gereja ini umatnya begitu ramah, musiknya juga bagus sekali.
  • Saya merasa bahwa gereja ini diberkati oleh Roh Kudus, karena saya merasakan bahwa kuasa Roh Kudus hadir di gereja tersebut.
  • Saya merasakan bahwa pembawa firmannya begitu penuh dengan Roh Kudus, sehingga dapat menyentuh hatiku.
  • Saya tidak dapat berkembang di gereja A, sehingga saya harus mencari gereja yang membuat saya berkembang.
  • Dan begitu banyak pernyataan-pernyataan yang lain.

Kalau kita meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, bukankah semuanya berfokus kepada “saya?” Dalam pencarian kebenaran, fokusnya bukan diri sendiri, tapi pada kebenaran, yang pada akhirnya akan mengarahkan manusia kepada Sang Kebenaran itu sendiri,[3] yaitu Yesus. Ini berarti kita menempatkan kebenaran di atas kepentingan dan perasaan pribadi.

Gereja yang mana?

Pertanyaan untuk mencari kebenaran adalah “Sebenarnya Tuhan ingin saya ke gereja yang mana? Atau Gereja manakah yang Yesus dirikan? Pertanyaan ini sangat mendasar, karena kalau Tuhan mendirikan sebuah Gereja dan kalau kita menempatkan kebenaran di atas segalanya, termasuk diri kita sendiri, maka kita seharusnya memberikan diri kita kepada Gereja tersebut. Dalam tulisan ini, kita akan meneliti, gereja manakah yang dirancang oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dan dikuduskan oleh Roh Kudus sampai akhir jaman.

Gereja terpecah belah

Pada waktu saya kuliah di Bandung, saya didatangi oleh umat dari gereja tertentu. Kemudian mereka memperkenalkan diri, bahwa mereka datang dari gereja X. Dalam hati saya sungguh mengagumi keberanian mereka untuk menyebarkan kabar gembira dan dedikasi mereka terhadap Tuhan. Kemudian mereka menceritakan tentang pendiri gereja X tersebut, sebut saja Yesaya. Pendiri gereja X adalah seseorang yang diurapi oleh Roh Kudus yang tadinya beliau menjadi jemaat gereja Y. Kemudian karena suatu hal, menurut Yesaya, pemimpin gereja Y tidak dipenuhi lagi oleh Roh Kudus. Kemudian Yesaya mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, yang bernama gereja X. Dalam keterbatasan saya tentang teologi dan juga pengertian saya yang dangkal, saya bertanya kepada mereka “Bagaimana bila suatu saat, karena suatu hal, ada umat di gereja X mendapat inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, sehingga nanti ada gereja X1, X2, dan seterusnya?”

Dan kalau kita meneliti secara jujur, inilah yang terjadi di dunia ini. Ada lebih dari 28,000 denominasi gereja di dunia ini, dimana data di Amerika menunjukkan bahwa setiap minggu ada satu gereja baru muncul, dan kemudian dalam dua generasi akan lenyap. Keberadaan gereja yang ‘timbul dan tenggelam’ sudah menjadi hal yang biasa pada saat ini. Pertanyaan-nya adalah “Mengapa gereja terpecah-pecah, dan kalau memang ini semua dari Roh Kudus, kenapa tidak ada kesatuan? Kita tahu bahwa Roh Kudus adalah Roh Pemersatu bukan roh pemecah.”

Perpecahan Gereja terjadi dari awal jemaat sampai sekarang

Kita dapat melihat sejak dari awal, akibat dari dosa, benih-benih perpecahan sudah ada sejak dari jemaat awal. St. Paulus mengingatkan jemaat di Roma dan di Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17; 1 Kor 1:10; 11:18-19; 12:25). Dan benih perpecahan ini terjadi terus, mulai dari Docetism (90-451), Gnosticism (100), Manichaeism (250) dan seterusnya. Ini terus berkembang dengan perpecahan gereja:

  • Gereja Timur Orthodox (1054).
  • Gereja Anglikan di Inggris (abad ke 16), didirikan oleh Raja Henry VIII.
  • Lutheran dan Calvinis di Jerman (abad ke 16), didirikan oleh Luther dan Calvin.
  • Methodis di Inggis (1739), didirikan oleh John Wesley.
  • Kristen Baptis (1639), didirikan oleh Roger Williams.
  • Anabaptis (1521), didirikan oleh Nicolas Stork.
  • Presbyterian di Skotlandia (1560).
  • Mormon di Amerika (1830), didirikan oleh Joseph Smith.
  • Saksi Yehovah di Amerika (1852-1916), didirikan oleh Charles Taze Russell.
  • Unification Church di Korea (1954), didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon.

Perpecahan ini terus berkembang dan bertambah setiap hari di dunia ini. Namun perpecahan bertentangan dengan pesan Yesus yang terakhir sebelum Yesus mengalami penderitaan. Yesus berdoa untuk persatuan umat Tuhan, seperti persatuan antara Bapa dan Yesus sendiri dan juga agar dunia bisa percaya kepada Yesus (lih. Yoh 17:21).

Mungkin ada yang berargumentasi, bahwa banyaknya gereja tidaklah berarti perpecahan, karena semua percaya kepada Trinitas, juga kepada Yesus. Namun, kalau kita teliti, sebetulnya tidaklah demikian, karena ada gereja-gereja tertentu tidak percaya akan ke-Allahan Yesus. Juga gereja-gereja tersebut tidak mempunyai ajaran yang sama, sebagai contoh: baptisan bayi diperbolehkan atau tidak? Jumlah sakramen ada berapa? Isu-isu tentang otoritas, dll. Kita juga tahu bahwa Martin Luther sendiri bertentangan dengan John Calvin dalam pengajaran tentang sakramen pengampunan dosa, dll.

Yang penting jadi Kristen, namun tidak penting gereja apa.

Kita sering mendengar seseorang mengatakan bahwa yang penting bahwa manusia percaya kepada Yesus, mendapatkan keselamatan, dan tidak penting berada di gereja yang mana. Mungkin pernyataan seperti ini, ada pengaruh tulisan dari C.S. Lewis, yang mengatakan bahwa menjadi Kristen sama seperti banyak orang yang tinggal di rumah yang besar. Yang penting masuk ke rumah tersebut dan perkara mau masuk ruangan di manapun itu tidaklah penting. Ruangan di sini dapat berarti denominasi gereja-gereja.

Kalau kita merenungkan lebih jauh dan meneliti hakekat dari gereja dengan menggunakan argumen dari C.S. Lewis, kita bisa mempertanyakan bahwa bagaimana mungkin banyak orang bisa tinggal satu rumah, memilih ruangan masing-masing dan tidak mempunyai aturan dan ajaran yang sama. Bahkan yang menyedihkan adalah ada kemungkinan orang-orang tersebut masih mempertanyakan tuan rumah dari rumah tersebut. Kita melihat bahwa di kehidupan rumah kita masing-masing mempunyai peraturan yang harus ditaati, sehingga semuanya dapat hidup dengan baik. Yesus mengatakan kalau suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan (Mar 3:25). Kalau di dalam rumah besar terpecah-pecah dengan berbagai pengajaran dan aturan moral yang berlainan, maka rumah besar itu tidak akan bertahan. Santo Paulus sendiri memperingatkan jemaat di Roma dan Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17, 1 Kor 1:10, 12:25). Kalau benar bahwa semua orang tinggal di rumah besar itu, seharusnya semakin lama mereka tinggal bersama-sama, mereka akan semakin bersatu.

Gereja Tuhan hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.

Namun kenyataanya tidaklah demikian, perpecahan demi perpecahan mewarnai gereja-gereja tersebut. Dari buah-buah perpecahan yang terjadi di gereja-gereja di dunia ini, maka timbul pertanyaan, apakah semuanya itu datang dari Tuhan. Kalau datang dari Tuhan, kenapa mereka mempunyai ajaran yang berbeda-beda? Pertanyaan ini dapat dijawab dari hakekat Gereja itu sendiri.

Gereja, seperti yang dinyatakan oleh Santo Paulus, adalah Tubuh Mistik Kristus,[4] dimana Kristus sebagai kepala, dan Gereja sebagai tubuh-Nya (Ef 5:23-32). Sama seperti tubuh manusia, semua organ diatur oleh mekanisme tubuh yang bersumber pada otak manusia atau di kepala manusia. Demikian juga dengan gereja. Gereja sebagai tubuh harus mengikuti keinginan kepalanya, yaitu Kristus. Dan kalau Yesus sendiri berkata bahwa umat Tuhan harus bersatu, maka umat harus mengikuti. Persatuan inilah yang diinginkan oleh Yesus Kristus, sehingga Dia dapat mempersiapkan, menguduskan, dan mempersembahkan Gereja-Nya sebagai mempelai yang kudus (Ef 5:27). Sama seperti perkawinan yang kudus hanya ada satu mempelai pria dan satu mempelai wanita, maka Gereja Tuhan juga harus hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.

Manusia tidak dapat membuat Gereja, namun hanya bisa menerima dan berpartisipasi.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa kesatuan Gereja adalah hanya secara spiritual, dimana semua mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus sendiri mengatakan bahwa dimana dua atau tiga orang berkumpul, maka Dia hadir (Lih. Mat 18:20). Jadi dimana dua atau tiga jemaat berkumpul disitulah terbentuk gereja. Disinilah letak permasalahannya, bahwa hakekat Gereja bukan hanya sekedar komunitas[5], melainkan lebih dari itu. Kalau orang membuat suatu komunitas dan menamakan komunitas itu gereja, berarti dia membuat gereja, bukan menerima gereja sebagai suatu pemberian dari Tuhan. Manusia tidak bisa membuat Gereja, dia hanya bisa menerima dan menjadi bagian dari Gereja.[6]

Menyadari bahwa Gereja adalah pemberian Tuhan, harus membuat setiap anggota Gereja semakin rendah hati. Dan juga setiap anggota harus menyadari peran masing-masing untuk melindungi dan membuat tanda kasih dari Allah untuk semakin memancarkan cahaya kasih Allah. Di sinilah Gereja yang sedang mengembara di dunia ini[7], yang terdiri dari para pendosa dan para kudus harus terus mengalami pemurnian dan pertobatan terus menerus sampai kepada tujuan akhir, yaitu persatuan kekal dengan Allah di surga.

Kalau begitu, Gereja mana yang didirikan oleh Yesus Kristus

Akhirnya dari semua argumen di atas, kita menarik kesimpulan bahwa Gereja yang didirikan oleh Tuhan harus mempunyai tanda-tanda: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Satu, karena kesatuan iman, pengajaran, sakrament, kepemimpinan; Kudus, karena bersumber pada Tuhan sendiri – yang hakekatnya adalah kudus; katolik, karena Gereja Tuhan harus universal baik dari segi waktu maupun tempat; apostolik, karena berdasarkan apostolik atau para murid yang telah diberi mandat suci oleh Yesus. Keempat tanda inilah yang membedakan antara Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri dengan gereja-gereja yang lain. Dan Gereja ini berada dalam Gereja Katolik.[8] Hanya Gereja Katolik yang mempunyai empat tanda ini atau yang disebut “the four marks of the Church.” (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – bagian 1). Mengapa empat tanda ini begitu penting? Karena tanda itu adalah bukti bahwa Gereja bukan organisasi yang didirikan oleh manusia, namun didirikan oleh Yesus Kristus sendiri. Didirikan di atas Rasul Petrus, dan senantiasa dilindungi oleh Yesus sendiri, melalui karya Roh Kudus, dimana tidak ada apapun yang dapat meruntuhkan Gereja ini.[9]

Ketahanan Gereja Katolik meskipun menghadapi percobaan-percobaan sepanjang zaman membuktikan bahwa Yesus memegang janji-Nya untuk melindungi Gereja-Nya.

Mungkin ada yang berpendapat, bahwa Gereja awal adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, namun kemudian menjadi tidak murni dan baru sekitar abad 15, Gereja kemudian dimurnikan. Jadi Gereja Katolik yang sekarang ada adalah Gereja yang tidak murni. Mari kita menelusuri keberatan dari argumen ini. Pertama, apakah mungkin bahwa Tuhan yang telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya (Mat 16:18) kemudian melupakan Gereja-Nya selama kurang lebih 15 abad? Kalau jawabannya mungkin, kita telusuri lebih jauh. Taruhlah hal tersebut benar, bahwa Gereja tidak murni lagi dan diperbaharui pada jaman reformasi. Seharusnya setelah diperaharui, maka Gereja Tuhan akan bersatu. Namun apa yang terjadi? Sejarah membuktikan bahwa setelah jaman reformasi (atau lebih tepatnya revolusi) Gereja, maka gereja justru terpecah-belah, sehingga ada sekitar 28,000 denomasi sampai sekarang. Dengan demikian keberatan ini tidaklah mendasar.

Keberatan yang lain ada yang berkata bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tidak murni dan banyak korupsi di dalam Gereja. Memang, percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik sudah begitu banyak, mulai dari abad awal melalui begitu banyak tantangan, percobaan, dan juga serangan dari ajaran-ajaran sesat. Juga banyak yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, seperti yang telah dijelaskan di atas. Tidak terlepas percobaan dari dalam Gereja Katolik sendiri, baik melalui korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di dalam Gereja, dll. Gereja Katolik mengakui bahwa ada unsur manusia yang tidak sempurna[10]. Kenyataannya, Gereja Katolik tetap bertahan walaupun menghadapi berbagai permasalahan Gereja, baik dari luar maupun dari dalam. Hal ini membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang Yesus janjikan. Kalau Gereja Katolik hanya buatan manusia, seharusnya Gereja Katolik sudah runtuh dan lenyap tak berbekas.

Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus.

Namun sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tetap mempunyai empat tanda, yaitu “satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Gereja Katolik sampai sekarang mempunyai kesatuan pengajaran yang kalau ditelusuri berasal dari Yesus dan ajaran para murid dan bapa Gereja. Sehingga dikatakan ada suatu “pertumbuhan organik“.[11] Konsistensi ini dapat dibuktikan dari segi waktu dan juga tempat. Gereja Katolik di semua negara dan juga di masa apapun juga mengajarkan hal yang sama.

Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal Kristus atau umat yang sudah menjadi anggota gereja lain?

(pembahasan detail untuk topik ini akan dijelaskan dalam artikel yang lain).

Setelah kita mengetahui bahwa Gereja Katolik adalah Gereja Kristus, bagaimana dengan saudara kita yang tidak kenal dengan Yesus? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]

Bagaimana juga dengan saudara kita yang menjadi anggota gereja lain? Dokumen Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja yang lain, seperti misalkan memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup dengan kasih, dll. Bahkan gereja Katolik mengakui pembatisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.

Bagaimana dengan umat Gereja Katolik?

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Apakah mereka semua dapat diselamatkan? Dalam Lumen Gentium 14 ditegaskan akan pentingnya untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mempraktekan kasih kepada Tuhan dan sesama. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmaniah, namun bukan secara spiritual, tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini dikarenakan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).

Berapa banyak dari umat agama lain yang mengatakan bahwa percuma saja menjadi Katolik kalau kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Yesus. Pernyataan ini adalah suatu tantangan bagi kita semua yang menjadi anggota Gereja Katolik – dimana kepenuhan kebenaran ada pada Gereja ini – untuk senantiasa berjuang setiap hari mempraktekkan kasih dan hidup kudus. Hidup kudus adalah merupakan cara untuk ” menjadi saksi Kristus dan membangun Gereja” yang paling efektif, seperti yang telah dilakukan oleh Para Kudus. Kita tidak bisa mengasihi Yesus, kalau kita tidak mengasihi Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dan Gereja-Nya berada di dalam Gereja Katolik. Mari kita renungkan, sudahkah kita semua mengasihi Yesus?


[1] Untuk dapat percaya kepada Yesus sebagai Tuhan diperlukan berkat dari Tuhan yang menggerakkan hati kita. St. Paulus berkata bahwa bahwa tidak ada seorangpun dapat mengaku bahwa Yesus Tuhan kecuali oleh kuasa Roh Kudus (1Kor 12:3). Dalam teologi, ini dikenal dengan “actual grace” atau rahmat pembantu (Lih KGK 2000, 2024). Actual grace ini membawa orang kepada pertobatan untuk akhirnya menerima pembabtisan.

[2] Rasul Yohanes mengatakan “..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:32). Menempatkan kebenaran di atas segalanya termasuk diri sendiri akan membawa manusia kepada kebenaran sejati, yaitu Tuhan sendiri. Pada saat manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran, maka manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada Tuhan.

[3] (Lih. Yoh 14:6) ” Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

[4] Pius XII, Encyclical Letter: Mystical Body of Christ and Our Union With Christ (Pauline Books & Media), para. 60-62.

[5] Menganggap gereja hanya sebagai komunitas, secara tidak langsung mengurangi bahkan menghilangkan dimensi Ilahi dari Gereja. Padahal, Gereja mempunyai dua dimensi: manusia – Ilahi, cara – tujuan (means – end), sebuah konstitusi – hubungan secara pribadi dengan Tuhan. Pembahasan lebih jauh tentang dua dimensi dari Gereja, dapat dilihat dalam artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Allah – Bagian 2)

[6] Cardinal Joseph Ratzinger, “The Ecclesiology of Vatican II,” http://www.ewtn.com/library/curia/cdfeccv2.htm: Ch. 2. – Cardinal Ratzinger mengatakan bahwa sama seperti iman dan sakramen, manusia tidak bisa membuat gereja, namun menerima. Kalau iman, gereja, dan sakramen adalah tanda kasih Allah, maka kasih tersebut hanya bisa diterima. Manusia tidak bisa membuatnya, namun manusia dapat turut berpartisipasi dalam kasih Allah.

[7] Gereja Tuhan adalah satu, yang terdiri dari Gereja yang mengembara di dunia ini, Gereja yang jaya di surga, dan gereja yang menderita atau dimurnikan di api penyucian.

[8] Lihat Lumen Gentium 8, “Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik[12]. Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[13], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.”

[9] (Lih Mat 16:16-19). Yesus berkata ” Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Catatan: Di dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia, dikatakan “jemaat-Ku”. Namun dalam bahasa aslinya adalah “ekklesia” yang berarti “gereja”. Yesus mengatakan bahwa Dia akan mendirikan Gereja-Ku. Ini sebabnya bahwa manusia tidak dapat mendirikan gereja, karena Yesus sendiri yang mendirikan Gereja-Nya, dan Yesus berkata Gereja bukan gereja-gereja. Jadi Gereja ini hanya ada “satu”.

[10] Pius XII, Encyclical Letter of Pius XII On The Mystical Body of Christ: Mystici Corporis (Boston: Pauline Books & Media), 66. Paus Pius XII menegaskan bahwa dosa dari anggota Gereja tidak bisa ditujukan kepada Gereja itu sendiri, karena Gereja itu pada dasarnya kudus. Ketidaksempurnaan ini ditujukan kepada anggota Gereja yang memang semuanya mempunyai inklinasi untuk berbuat dosa (concupiscence). Inklinasi untuk berbuat dosa adalah sebagai akibat dari dosa dari manusia pertama.

[11] Cardinal Newman, dalam bukunya “The Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajarannya dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan mengubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh kardinal Newmann dalam Gereja Katolik, sehingga untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, dia berpindah dari Anglikan ke Gereja Katolik.

[12] Sebagai contoh orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Irian Jaya, atau pedalaman di China, dll. Ada sebagian dari mereka yang tidak pernah mendengar tentang Kristus. Dan hal ini bukan akibat kesalahan mereka. Tentu saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka pasti masuk neraka.

[13] (Lih Roma 2:14-16). St. Paulus mengatakan humum Tuhan sudah ditulis di setiap hati nurani manusia. Karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah dan juga diciptakan untuk mencapai tujuan ahir – yaitu persatuaan dengan Allah – maka Tuhan memberikan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani manusia.

[14] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium (Pauline Books & Media, 1965), 16. ” ….. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan.”

[15] Seluruh keselamatan umat manusia datang dari misteri Paska Yesus (wafat, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus).

[16] (Lih Ef 4:5) – St. Paulus menegaskan akan kesatuan umat beriman dalam “satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan “. Pengakuan baptisan yang diakui adalah baptisan dengan formula Trinitas.

[17] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium, 14.

Ditulis oleh Stefanus Tay pada 17 06 08 Disimpan dalam Apologetik, Fundamental Teologi, Gereja. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

108 komentar untuk “Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik”

  1. 36
    aviras says:

    “Mengapa gereja terpecah-pecah, dan kalau memang ini semua dari Roh Kudus, kenapa tidak ada kesatuan? Kita tahu bahwa Roh Kudus adalah Roh Pemersatu bukan roh pemecah.”

    maaf, saya orang bodoh yang baru tahu adanya katolisitas.org. ingin bertanya
    Bukankah di katholik, arti gereja adalah umat? (maaf bila ada pendapat/ arti lain)
    Tetapi yang saya tangkap dari paragraf / kalimat di atas adalah gereja dalam arti perkumpulan/ kelompok
    Apakah benar?

    Mohon diberi pencerahannya…

    salam damai..

    • 36.1

      Shalom Aviras,

      Selamat datang di katolisitas dan terima kasih atas pertanyaannya. Dalam kalimat di atas, memang saya ingin memberikan penekanan gereja dari sisi denominasi-demominasi Kristen non-Katolik. Untuk arti sebenarnya dari Gereja, anda dapat melihat secara detail dalam penjelasan ini – silakan klik. Silakan melihat dualitas dari Gereja, yaitu sebagai tujuan akhir dan sebagai sarana. Dengan mengerti hakekat dari Gereja yang merupakan tanda kasih Allah, yang didirikan oleh Allah, maka kita akan dapat mengerti bahwa manusia tidak dapat mendirikan Gereja, namun hanya dapat menerimanya dari Allah. Semoga dapat dimengerti.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. 35
    Herman Jay says:

    Berulang kali dikatakan bahwa kepenuhan dan keutuhan ajaran Kristus hanya terdapat dalam Gereja Katolik ? Bukankah ini mencerminkan sikap arogansi Gereja Katolik, padahal kebenaran sempurna hanya ada pada Tuhan? Apa dasar alkitabiah yang menguatkan bahwa kepenuhan ajaran hanya terdapat di dalam gereja Katolik.

    • 35.1

      Shalom Herman Jay,

      Gereja Katolik memang mengajarkan bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik. Menurut saya, esensi diskusi bukanlah pada sombong atau tidak, namun apakah benar bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik. Kalau benar, maka tidak ada yang perlu disombongkan, karena kepenuhan kebenaran mengalir dari Kristus sendiri. Jadi, Gereja adalah suatu pemberian dari Kristus. Dan kalau itu suatu pemberian, apakah yang perlu disombongkan? Pemberian ini hanya dapat diterima dengan ucapan syukur.

      Apakah dasar Alkitab untuk mengatakan bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik? Silakan membaca artikel tentang mengapa memilih Gereja Katolik di atas – silakan klik. Dengan mendiskusikan topik-topik tersebut, maka kita dapat menghindari diskusi yang emosional dan hanya berdasaran perasaan. Semoga dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. 34
    Olvy says:

    Saya jadi ikutan mau bertanya pada semua team katolistas
    Gereja katolik roma mulai kapan memiliki Alkitab ? Apakah tau?

    Kalo gereja yang benar seperti yang diklaim mestinya dari semula dia punya Alkitabnya ya……

    Edited:
    Tentu saja supaya jelas maksud pertanyaan saya, yang saya tanyakan mulai tahun berapa gereja katolik roma memiliki Alkitab ? Terima Kasih…..

    Tanggapan saya lainnya tentang Mat 16:16-19

    16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” 17 Kata YESUS kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

    Nubuatan KRISTUS ini telah digenapkan waktu Petrus ada di hari pentakosta membuka kunci pertama kepada bangsa Yahudi dan di rumah kornelius membuka kunci kedua kepada bangsa non Yahudi.
    For your information, thats the fact. Bukan berupa gedung yang megah.

    GBU

    • 34.1

      Shalom Olvy,

      1. Kitab Suci yang ada pada kita sekarang berasal dari kanon Kitab Suci yang ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik, yaitu oleh Paus Damasus I pada tahun 382, dilanjutkan dengan Konsili Hippo, 393 dan Konsili Carthage, 397. Silakan anda membaca artikel ini, silakan klik, untuk mengetahui asal usul terbentuknya Kitab Suci.

      2. Anda benar sewaktu mengatakan bahwa dalam Mat 16:17-19, Yesus berbicara kepada Rasul Petrus, dan Ia mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus. Selanjutnya tentang hal ini, sudah pernah kami tuliskan di artikel ini, silakan klik.

      Jadi anda benar juga sewaktu mengatakan bahwa Gereja itu bukan semata berarti bangunan, tetapi adalah ekklesia, yaitu “jemaat Allah yang hidup, yang menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15). Gereja ini terbuka untuk seluruh bangsa, bukan hanya untuk orang Yahudi tetapi juga semua bangsa lain; seperti halnya dikisahkan dalam Kisah Para Rasul, antara lain dengan dibaptisnya Kornelius seorang perwira pasukan Italia (Kis 10).

      Gereja/ ekklesia yang universal yang didirikan oleh Yesus ini masih eksis sampai sekarang, sesuai dengan janji Kristus sendiri dalam Mat 16:18, bahwa alam maut tidak akan menguasainya; dan Gereja ini ada di dalam Gereja Katolik, yang mempunyai jalur apostolik yang berasal dari Rasul Petrus.

      Benar, hal ini adalah fakta, bahwa Gereja bukan gedung, namun adalah jemaat Allah. Sedangkan gereja (dengan huruf kecil) maksudnya adalah gedung tempat beribadah umat Kristiani. Dan gereja dalam pengertian gedung ini memang tidak sama dengan Gereja (dengan huruf besar) yang artinya jemaat Allah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. 33
    Laila says:

    Shalom Steve,
    keterikatan dalam satu tubuh. Siapakah yg disebut gereja Tuhan, Tubuh KRISTUS? Bukankah mereka yg beriman kepada KRISTUS. Bagaimana jika ia berbeda denominasi? Apakah ia bukan termasuk tubuh KRISTUS? Apakah Tubuh KRISTUS harus satu gereja dalam pengertian satu denominasi?

    Perbedaan. Mungkinkah dalam satu tubuh mempunyai doktrin yg berbeda bahkan bertentangan? Jawabnya mungkin saja. Sebab manusia yg memiliki akal dan kebebasan telah memberikan peluang terjadinya hal tersebut. Ini adl ttg persepsi. Con: seorang ayah sedang mengendarai mobil dg anaknya yg berumur 8 th. Kemudian terjadi kecelakaan dan anak tersebut terluka dibagian kepalanya sehingga mengeluarkan darah yg banyak dan pingsan. Kemudian ia dibawa kerumah sakit dan masuk UGD. Sesampainya disana anak tsb ditangani oleh suster dan dokter. Saat dokter melihat anak tersebut, ia berkata: “oh…anakku”. Mengapa dokter tsb berkata demikian? jika ada yg menduga bahwa dokter itu merasa kasihan, atau teringat akan anaknya yg sakit dirumah atau pernah alami kejadian yg sama maka dugaan ini salah. Yg benar adl dokter itu adl ibunya. Inilah yg saya maksud dg persepsi. Maksudnya dg bahan yg sama namun jika persepsinya berbeda maka yg dihasilkan berbeda. Apakah yg salah adl bahannya, sudah pasti tidak. Justru bahan tersebutlah yg harus menjadi parameternya utk mengukur suatu doktrin/ ajaran. Meskipun harus diakui bahwa dalam membaca dan memahami Alkitab ini, manusia memiliki persepsi sendiri. Dan inilah yg menjadi persoalan sampai sekarang. Menurut saya seharusnya tidaklah demikian. Seperti yg saya dengar dari apa yg dikatakan para pendeta dan teolog, biarkan Alkitab menafsirkan dirinya, maka tidak akan muncul perbedaan doktrin. Inilah doa kita bersama, seperti yg didoakan YESUS.

    Bagaimana dg gereja katolik? Adakah perbedaan (perubahan) dalam pemahaman doktrin? Contoh: ttg keselamatan di luar gereja, adakah? Setahu saya doktrin yg diajarkan oleh gereja katolik adl bahwa hanya dalam YESUS – melalui gereja – seseorang dapat diselamatkan. Diluar gereja, manusia tidak dapat menemukan keselamatan.
    Bagaimana dg ajaran doa (‘penyembahan kepada’) arwah? Bagaimana dg ajaran api penyucian? Adakah diajarakan oleh Alkitab? (Mohon dikoreksi).

    Salam

    • 33.1

      Shalom Laila,

      Terima kasih atas tanggapannya. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan.

      1. Tentang Tubuh Mistik Kristus. Secara singkat jawabannya adalah Gereja Katolik, karena Gereja Katolik inilah yang didirikan oleh Yesus sendiri (lih. Mt 16:16-19). Saya pernah menjawab hal ini di tanya jawab ini – silakan klik, di mana saya menuliskan:

      a. Untuk menjawab hal ini, kita harus mengerti tentang konsep Gereja sebagai “means” dan gereja sebagai “end“. Hirarki, struktur, sakramen, yang terlihat adalah contoh Gereja sebagai means dan ekaristi, kekudusan, Kerajaan Allah, yang tak terlihat adalah contoh Gereja sebagai “end”. Namun, means dan end tidaklah terpisahkan, sama seperti manusia yang mempunyai tubuh dan jiwa yang tak terpisahkan. Lumen Gentium, 8 menyatakan bahwa means dan end adalah tak terpisahkan sebagaimana Kristus mempunyai kodrat manusia dan kodrat Allah. Dikatakan bahwa:

      Kristus, satu-satunya Pengantara, didunia ini telah membentuk Gereja-Nya yang kudus, persekutuan iman, harapan dan cinta kasih, sebagai himpunan yang kelihatan. Ia tiada hentinya memelihara Gereja[9]. Melalui Gereja Ia melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang. Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hirarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang nampak dan persekutuan rohani, Gereja didunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia sorgawi janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi[10]. Maka berdasarkan analogi yang cukup tepat Gereja dibandingkan dengan misteri Sabda yang menjelma. Sebab seperti kodrat yang dikenakan oleh Sabda ilahi melayani-Nya sebagai upaya keselamatan yang hidup, satu dengan-Nya dan tak terceraikan daripada-Nya, begitu pula himpunan sosial Gereja melayani Roh Kristus, yang menghimpunkannya demi pertumbuhan Tubuh-Nya (lih Ef 4:16)[11].

      Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik[12]. Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[13], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.

      b. Tubuh Kristus tidak mungkin terdiri dari banyak gereja, karena Kristus sendiri mengumpamakan bahwa Kristus adalah mempelai pria dan Gereja adalah mempelai wanita (lih Ef 5). Tidak mungkin, Kristus – yang adalah mempelai pria – dan yang mengajarkan kesakralan suami-istri dan hubungan monogami, dapat mempunyai beberapa mempelai wanita. Dengan demikian, Tubuh Mistik Kristus adalah satu.

      2. Masalah perpecahan gereja: Saya pernah berdiskusi tentang ekklesiologi dan perpecahan gereja secara panjang lebar di sini – silakan klik. Anda mengatakan “Mungkinkah dalam satu tubuh mempunyai doktrin yg berbeda bahkan bertentangan? Jawabnya mungkin saja. Sebab manusia yg memiliki akal dan kebebasan telah memberikan peluang terjadinya hal tersebut.” Dengan pemikiran ini, maka akan sangat sulit untuk mengerti mana yang benar dan mana yang tidak, karena kebenaran menjadi sesuatu yang relatif. Kalau Yesus perpesan kepada para murid untuk membaptis dan mengajarkan seluruh perintah-Nya (Mt 28:20), maka pesan ini akan sangat sulit dilakukan, kalau terjadi pertentangan doktrin. Bagaimana orang dapat tahu mana yang benar dan mana yang tidak dan parameter apa yang digunakan? Bagaimana orang tahu Ekaristi adalah kehadiran Yesus secara nyata – seperti yang dipercayai Martin Luther – atau hanya sekedar simbol seperti yang dipercayai oleh banyak gereja-gereja? Bukankah Yesus sendiri mengatakan bahwa yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya mendapatkan hidup yang kekal (lih. Yoh 6:54)? Jadi, perintah-perintah Yesus menjadi sangat penting untuk keselamatan manusia. Namun, kalau gereja-gereja mengajarkan doktrin yang berbeda-beda, bagaimana manusia tahu mana perintah Yesus yang benar?

      Perbedaaan doktrin seperti ini, bukanlah hanya perbedaan persepsi seperti yang anda katakan dan seolah-olah dapat diterima sebagai sesuatu yang wajar. Kalau kita melihat perjuangan jemaat awal, mereka sampai mengorbankan diri mereka untuk mempertahankan doktrin, sehingga tidak sampai diselewengkan. Mereka tidak memperjuangkan perbedaan persepsi, karena dogma dan doktrin bukanlah sekedar persepsi, namun perintah dari Yesus sendiri. Mengikuti dogma dan doktrin yang salah berarti sama saja dengan melanggar perintah Yesus. Seperti yang anda katakan “Apakah yg salah adl bahannya, sudah pasti tidak. Justru bahan tersebutlah yg harus menjadi parameternya utk mengukur suatu doktrin/ ajaran.“, maka tidak ada yang salah dengan Alkitab, namun yang salah adalah masing-masing pribadi. Untuk itulah, Gereja Katolik mengikuti Alkitab, mempunyai Magisterium Gereja, sehingga Alkitab (Tradisi tertulis) dan Tradisi Suci (Tradisi Lisan) dapat diwariskan dari generasi ke generasi secara murni. (lih. 1Tim 3:15). Selama kita berpatokan bahwa Alkitab dapat menafsirkan sendiri dan menjadi satu-satunya pilar kebenaran, maka perpecahan tidak dapat dihindari. Silakan melihat perkembangan gereja dari jaman Martin Luther sampai saat ini, yang terpecah-pecah sampai 28,000 denominasi. Kalau memang Alkitab dapat menafsirkan sendiri, seharusnya tidak terjadi perpecahan.

      3. Tentang perbedaan doktrin di dalam Gereja Katolik: Kalau anda mau berdiskusi secara mendalam tentang dogma tidak ada keselamatan di luar Gereja (EENS = Extra Ecclesiam Nulla Salus), silakan membaca link berikut ini – silakan klik. Untuk membahas doktrin ini, maka kita harus melihat cukup banyak dokumen Gereja dan bagaimana Gereja mengartikan doktrin ini. Kemudian, Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan penyembahan kepada arwah seperti yang anda katakan, namun mendoakan arwah sebagai tanda kasih, karena di dalam Kristus orang yang telah meninggal adalah hidup dan tidak ada yang dapat memisahkan kasih Kristus, termasuk kematian. Silakan bergabung dalam diskusi ini, yang membahas topik ini secara panjang lebar di sini – silakan klik. Tentang Api Penyucian, silakan membaca artikel ini – silakan klik. Silakan memilih salah satu topik bahasan, dan kemudian kita dapat membahasnya secara lebih mendalam. Membahas terlalu banyak topik membuat diskusi tidak terfokus. Anda juga dapat bergabung dalam 18 point keberatan dari orang yang telah berpindah dari Gereja Katolik ke gereja lain di sini – silakan klik dan di sini – silakan klik. Semoga usulan ini dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • 33.1.1
        Laila says:

        Shalom Bpk stef

        Langsung aja pada diskusi kita

        Tubuh KRISTUS. Kembali kepada pemahaman ttg ini, bahwa dlm bahasa Bpk Steve yg menggunakan istilah Tubuh mistik KRISTUS (saya menggunakan istilah tubuh KRISTUS) nampaknya saya melihat tidak ada pertentangan apapun. Sebab pada dasarnya saya mempercayai bahwa Tubuh KRISTUS adl satu, yaitu gereja, yaitu orang yg percaya kepada YESUS KRISTUS sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bukankah ini yg seharusnya menjadi dasar pijakan utk ‘menilai’ ttg perkembangan denominasi? Yaitu kesamaan mereka dalam iman kepada YESUS KRISTUS? Bukankah sudah jelas bahwa Tubuh KRISTUS adl yg percaya kepada YESUS dan bukan ttg dari organisasi mana org tsb berasal?

        Jika di dalam gereja ada begitu banyak suku,bahasa,dan bangsa, yg menunjukkan keragaman dan perbedaan namun mereka dipersatukan dalam KRISTUS. maka bukankah tidak menutup kemungkinan bahwa dalam gereja juga banyak organisasi/denominasi dan mereka tetap dipersatukan dalam Krsitus? Bagaimanapun juga mereka ini juga adl org yg percaya kepada YESUS sebagai Tuhan dan Juruselamat. Seperti pertanyaan saya: apakah mereka tidak disebut sebagai bagian dari Tubuh KRISTUS?

        Bapak sendiri mengatakan : KRISTUS, satu-satunya Pengantara, didunia ini telah membentuk Gereja-Nya yang kudus, persekutuan iman, harapan dan cinta kasih, sebagai himpunan yang kelihatan. Ia tiada hentinya memelihara Gereja. Melalui Gereja Ia melimpahkan kebenaran dan rahmat kepada semua orang……….., kelompok yang nampak dan persekutuan rohani, Gereja didunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia sorgawi janganlah dipandang sebagai dua hal;melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi.

        Mempelai KRISTUS. Jika gereja dipahami sbg individu org yg percaya kepada YESUS (bukankah memang seperti ini?), apakah ini berarti YESUS memiliki istri banyak? Saya yakin tidaklah demikian. Kembali pada dasar pertama bahwa jemaat/ gereja / tubuh KRISTUS adl org yg percaya kepada YESUS. Jadi saya, sis debi dan semua yg percaya kepada YESUS adl gereja / Tubuh KRISTUS / jemaat yg pada dasarnya adl satu yg disebut jemaat Tuhan / gereja. Karena itu denominasi adl bagian dari Tubuh KRISTUS, sebab mereka pun percaya kepada YESUS, maka mereka juga pada dasarnya adl satu yaitu mempelai KRISTUS.

        Perbedaan doktrin. Utk mengerti mana yg benar, seperti yg sudah saya sebut “Apakah yg salah adl bahannya, sudah pasti tidak. Justru bahan tersebutlah yg harus menjadi parameternya utk mengukur suatu doktrin/ ajaran.“, Contoh ”apakah KRISTUS mendirikan satu gereja atau banyak gereja?”. Jawabnya jelas bahwa KRISTUS mendirikan satu gereja/jemaat, yaitu orang yg percaya kepada-Nya. Mis.Yoh 17:20 dan beberapa ayat yg sudah bapak sebut.

        Saya tidak ingin berkutat ttg apakah doktrin adl ttg persepsi ataukah tidak. Namun saya melihat bahwa faktanya memang demikian, bahwa ada begitu banyak ajaran yg didasarkan oleh bahan yg sama namun outputnya bisa berbeda. Bagaimana mungkin terjadi jika tidak dipengaruhi oleh manusia yg mencetuskan doktrin tsb? Sebab itu, semua ajaran harus diuji kebenarannya, lih 1 Tes 5:21 [maaf.... termasuk ajaran katolik]. Bagaimanapun juga YESUS telah memberikan ‘seatbelt’, rambu, nasihat, peringatan bahwa Matius 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
        Ttg para martir, menurut saya, mereka tidak berkorban demi doktrin/dogma, namun demi KRISTUS yg mereka imani. [namun yg sesungguhnya hanya para martir yg mengetahui]

        Ada yg mengganggu pikiran saya bahwa Bpk menuliskan Tentang Tubuh Mistik KRISTUS. Secara singkat jawabannya adalah Gereja Katolik, karena Gereja Katolik inilah yang didirikan oleh YESUS sendiri (lih. Mt 16:16-19). Yg dimaksud dg gereja katolik apakah organisasi ataukah gereja universal/ tubuh KRISTUS/ gereja/ jemaat? Jika yg dipahami adl organisasinya (katolik roma) maka rasanya terlalu mempersempit kuasa dan karya YESUS.

        Salam persahabatan.

        • 33.1.1.1

          Shalom Laila,

          Terima kasih atas tanggapannya dalam diskusi tentang ekklesiologi. Sebenarnya argumentasi yang anda kemukakan telah dibahas secara panjang lebar di sini – silakan klik. Lihat juga di komentar-komentar yang diberikan di bagian bawah tanya jawab. Di situ terlihat adanya argumentasi yang secara prinsip adalah sama, yang ingin menekankan bahwa Gereja adalah jemaat Allah yang percaya akan Kristus, yang membentuk satu tubuh dan perbedaan pengajaran tidaklah menjadi masalah asal percaya akan Kristus. Bukannya saya tidak mau berdiskusi tentang topik ini, namun, kalau anda tidak berkeberatan, silakan memberikan argumentasi di link di atas, sehingga tidak terjadi pengulangan. Anda dapat bergabung dengan Tristan maupun Lisa, yang memberikan pandangan yang sama dengan anda. Secara prinsip, kalau anda beranggapan bahwa semua perbedaan doktrin tidaklah menjadi masalah sejauh semua orang percaya kepada Kristus, maka hal ini tidak menjadi wajar lagi dan bertentangan dengan Yoh 17. Pertanyaannya adalah persatuan apakah yang diinginkan oleh Yesus di Yoh 17? Dan perbedaan doktrin yang saling bertentangan membuat umat kebingungan untuk mencari dan memutuskan doktrin mana yang benar. Coba anda melihat diskusi ini tentang apakah Yesus hadir dalam setiap Perjamuan Suci secara nyata atau secara simbolik di sini – silakan klik dan klik ini. Bagaimana mungkin Martin Luther yang percaya akan kehadiran Yesus secara nyata dalam Perjamuan Suci kemudian banyak pengikutnya yang hanya melihat Perjamuan Suci sebagai simbol. Tidak mungkin dalam satu tubuh mengajarkan doktrin yang saling bertentangan. Bagian-bagian tubuh dapat saling melengkapi namun tidak dapat bertentangan, karena setiap anggota tubuh adalah mempunyai satu kepala, yang mengatur semuanya secara harmonis. Jadi, buah-buah perpecahan, seperti yang terlihat dengan adanya 28,000 denominasi tidaklah sesuai dengan perintah Kristus.

          Dan kalau anda ingin berdiskusi apakah Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus, anda dapat bergabung dalam diskusi ini – silakan klik. Dalam diskusi dengan Sherly telah dibahas cukup panjang tentang topik ini. Jadi, silakan bergabung dalam diskusi tersebut. Saya mohon pengertiannya, agar diskusi dapat dilanjutkan di link-link yang saya berikan, sehingga tidak terjadi pengulangan. Dengan anda berpartisipasi dalam diskusi di link-link tersebut, maka topik-topik dapat dibahas secara lebih mendalam maupun dapat ditinjau dari sisi yang berbeda, yang mungkin belum sempat dibahas. Semoga hal ini dapat diterima.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

    • 33.2
      Lukas Cung says:

      Shalom Laila,

      Saya jadi ingin berkomentar setelah membaca tulisan Anda di atas tentang perbedaan; mungkin saja dalam satu tubuh mempunyai doktrin yang berbeda, bahkan bertentangan.

      Anda menulis:
      Perbedaan. Mungkinkah dalam satu tubuh mempunyai doktrin yg berbeda bahkan bertentangan? Jawabnya mungkin saja. Sebab manusia yg memiliki akal dan kebebasan telah memberikan peluang terjadinya hal tersebut. Ini adl ttg persepsi.

      Komentar saya:
      Walaupun dalam tulisan Anda berikutnya, Anda menulis: “tidak ingin berkutat ttg apakah doktrin adl ttg persepsi ataukah tidak”, tetapi saya ingin mengomentari contoh yang Anda berikan di atas, tentang ayah yang mengendarai mobil bersama anaknya yang berumur 8 tahun.
      Di contoh ini Anda menulis: timbul dua persepsi.
      Persepsi pertama: “jika ada yg menduga bahwa dokter itu merasa kasihan, atau teringat akan anaknya yg sakit dirumah atau pernah alami kejadian yg sama maka dugaan ini salah”.
      Dengan jelas sekali Anda menulis bahwa persepsi pertama adalah salah.
      Persepsi kedua: “Yg benar adl dokter itu adl ibunya”
      Anda menulis: “Inilah yg saya maksud dg persepsi”.
      Jadi, Anda menulis bahwa yang benar adalah persepsi yang kedua.

      Nah, di mata saya, Anda adalah orang yang mempunyai dua pendirian, yang Anda anggap kedua pendirian ini sama-sama benar.
      Pendirian pertama Anda: tidak masalah jika dalam satu tubuh mempunyai doktrin yg berbeda bahkan bertentangan, karna manusia yang mempunyai akal dan kebebasanlah yang menyebabkannya – manusia mempunyai persepsi yang berbeda-beda.
      Pendirian kedua Anda: tidak semua persepsi itu benar.

      Pertanyaan saya:
      Jika doktrin yg berbeda bahkan bertentangan itu tidak semuanya benar, mengapa mereka boleh ada?

      Kembali lagi ke contoh Anda di atas. Jika saya adalah orang yang kebetulan ada di situ, dan saya ngotot dengan persepsi saya bahwa dokter itu merasa kasihan, teringat akan anaknya yang sakit di rumah, atau pernah mengalami kejadian sama.
      Nah, Anda yang tahu bahwa persepsi saya salah, apakah Anda tetap memperbolehkan adanya persepsi saya – walaupun persepsi saya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya?
      Jika Anda menjawab bahwa saya tidak boleh mempunyai persepsi seperti itu, lalu mengapa dalam hal doktrin yang berbeda bahkan bertentangan itu, boleh ada?

      Menurut saya, setiap firman Allah bukan untuk ditafsirkan dengan cara yang saling berbeda, saling bertentangan dan berubah-ubah.
      Menurut saya, setiap firman Allah hanya punya satu maksud, bukan punya banyak maksud yang saling berbeda, saling bertentangan dan berubah-ubah.
      Menurut saya, setiap firman Allah hanya punya satu arti, bukan punya banyak arti yang saling berbeda, saling bertentangan dan berubah-ubah.
      Menurut saya, setiap firman Allah hanya boleh diajarkan dengan ajaran yang sama di mana-mana dan tidak berubah, bukan diajarkan dengan ajaran-ajaran yang saling berbeda, saling bertentangan dan berubah-ubah.

      Jika Tuhan Yesus bersabda “Inilah TubuhKu!…. Inilah DarahKu!”, berarti hanya punya satu arti yang tidak berubah-ubah, hanya punya satu maksud yang tidak berubah-ubah. Bukan berarti-arti yang saling bertentangan dan berubah-ubah. Bukan bermaksud-maksud yang saling bertentangan dan berubah-ubah. Tidak mungkin sabda Tuhan Yesus ini punya banyak arti/maksud yang saling berbeda, saling bertentangan dan berubah-ubah, dan semua arti/maksud ini benar adanya.

      Ada cerita. Seorang majikan akan keluar negeri. Sebelum ia berangkat keluar negeri, ia mengumpulkan semua staffnya yang banyak itu untuk duduk mendengarkannya.
      Setelah semua staffnya berkumpul, maka ia menjabarkan: semua instruksi darinya yang harus dijalankan, semua rencana darinya yang patut dilaksanakan, dan ia berpesan agar semua staffnya bersatu sama lain selama ia berada di luar negeri.
      Namun, setelah sang majikan ini pergi, terjadilah: masing-masing staff menafsirkan instruksi majikan dengan caranya sendiri-sendiri, masing-masing staff melaksanakan rencana sang majikan dengan gayanya sendiri-sendiri, dan masing-masing staff tidak mau saling bersatu. Walau begitu, semua staff tetap berhimpun sebagai staffnya majikan.
      Kira-kira, seperti inikah yang diinginkan oleh sang majikan?
      Apakah tidak masalah atas apa yang telah terjadi selama sang majikan berada di luar negeri, karna toh semua staff masih berhimpun dalam perkumpulan staffnya majikan?

      Bacaan Injil pada hari ini, Selasa, 15 Juni 2010, dari Matius 5:43-48.
      Ayat 48: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.”
      Apa yang terjadi, untuk bacaan di atas: Lukas Cung mengajarkan A, Laila mengajarkan B, Stef mengajarkan C, Ingrid mengajarkan D, Johanes mengajarkan E? Masing-masing pengajaran ini berbeda bahkan saling bertentangan, dan masing-masing merasa diilhami oleh Roh Kudus.
      Apa yang terjadi jika semua pengajaran di atas dianggap benar semua?
      Apakah mungkin, sabda Tuhan Yesus di atas bisa dijabarkan dalam banyak pengajaran yang saling berbeda-saling bertentangan dan berubah-ubah?
      Apakah mungkin, pengajaran yang saling berbeda-saling bertentangan dan berubah-ubah itu adalah benar semua, karna toh semua pengajar itu percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamatnya secara pribadi?
      Jadi, kalau saya Lukas Cung telah percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat saya secara pribadi, maka apakah boleh saya menafsirkan sabda Tuhan Yesus dan mengajarkannya sesuai persepsi saya sendiri – tanpa perlu memperhatikan: konteks bahasa aslinya, latar belakang adat istiadatnya, gaya bahasa penulis kitabnya, pengajaran dari Bapa Gereja dan hal-hal lain? Hanya melulu sesuai persepsi saya – yang saya percayai telah diilhami oleh Roh Kudus?

      Marilah kita semua renungkan pelan-pelan. Jangan sampai, kita menjadi orang yang telah “membelokkan” firman Allah dari apa yang telah dimaksudkanNya.

      Datanglah Roh Kudus. Penuhilah hati umatMu dan nyalakanlah di dalamnya api cintaMu.

      Salam kasih dalam Tuhan Yesus,
      Lukas Cung

  5. 32
    David says:

    Saya mempertahtikan kalimat diatas adanya kata Kudus. yang dimaksud disini setelah saya baca sepintas dari posting ini ingin mengatakah hanya katolik gereja kudus yang didirikan Tuhan.

    Sebaliknya saya tidak sependapat dengan ini. Banyak saya baca ketidak kudusan gereja katolik. tentang pembantaian orang2 Yahudi ternyata beberapa tahun lalu pope john II minta maaf, berarti tuduhan banyak pihak bahwa vatican dibalik ini benar. Kalau kita perhatikan beberapa bulan di Yahoo dimuat berita bahwa tuntutan oleh 300 pengacara Yahudi supaya bank of Vatican mengembalikan uang dari orang2 Yahudi yang di tranfer(baca rampok) oleh vatican dan disimpan dibanknya untuk dikembalikan sayangnya pengadilan san fransisco mengatakan itu diluar wewenangnya karena satus diplomasi . Belum lagi ramai2 orang menuntut Pope yang sekarang ini karena waktu dia jadi bishop di jerman ada banyak molestet dilakukan di panti asuan katolik terhadap anak2 yang tuli dan pope yang waktu itu bishop tahu dan tidak mau melaporkan. bahkan kalau kita dengar dari youtube, Leo Zagami yang katanya orang dalam vatican mengatakan bahwa Pope yang sekarang ini adalah Gay.

    Bagaimana begini dikatakan gereja yang kudus?

    Kalau ingin lihat text sumber yang saya ambil ini linknya
    http://www.ianpaisley.org/article.asp?ArtKey=jesuit ·

    Berikut terjemahannya:

    Berikut ini adalah text dari sumpah pentabisan Jesuit sebagai tercatat dalam jurnal ke 62 dari kongres, sesion ke 3 dari unitet state congressonal record( Huse calender no 397, laporan no 1523, tanggal 15 februari,1913 halaman 3215-3216 dimana halaman ini telah di dihilangkan. Sumpah ini juga di quote oleh Charls Didier dalam bukunya Subterranean Rome ( New york, 1843) yang diterjemahkan dari bahasa prancis. Dr Alberto Rivera, yang keluar dari Jesuit pada tahun 1976 confirms bahwa upacara pentabisan dan pengambilan sumpah yang dia alami adalah sama dengan text dibawah ini.
    Ketika terjadi kenaikan rangking dari Jesuit tingkat bawah ke tingkat komando, upacara diadakan di chapel Covent or the Order, dimana hanya ada 3 orang lain yang hadir. Seorang atasan berdiri didepan altar, disamping kanan dan kiri ada paderi. Satu membawa spanduk berwarna kuning dan putih, yaitu warna kepausan, dan yang lain membawa spanduk hitam dengan gambar pisau dan salib merah diatas tengkorak dan tulang yang bersilang dengan hurum INRI dan dibawah ada kata Justum Necar Reges Impius yang berarti; untuk memusnahkan raja2 saleh atau sesat, pemerintahan atau penguasa.
    Diatas lantai yang bergambar salib merah, calon berlutut. Pimpinan upacara kemudian memberikan salib kecil berwarna hitam yang diambil dengan tangan kiri dan di tekankan ke jantung dan bersamaan dengan itu pimpinan upacara memberi pisau yang diarahkan ke jantungnya.Pemimpin upacara masih memegang gagangnya dan mulai upacara.

    Pimpinan upacara berkata:

    Anakku, kamu telah dididik menyamar, diantara Roma Katolik menjadi Roma Katolik, dan menjadi pengamat/agen rahasia, skealipun diantara saudaramu sendiri. Untuk tidak mempercayai setiap orang, diantara reformis, menjadi reformis; diantara huguenots menjadi huegenot, diantara kalvinis, menjadi kalvinisp; diantara protestan menjadi protestan. untuk memperoleh kepercayaan dari mereka,untuk untuk memenangkan bahkan untuk berkotbah pada mimbarnya. dan dengan berapi api menjelek2kan agama mu dan Paus (Pura2 menjelekan katolik dan paus supaya dikira bukan katolik -red): dan bahkan merendahkan diri sendiri sampai serendah Yahudi (disini kita lihat katolik menganggap Yahudi itu sangat rendah -red) supaya kamu dapat mengumpulkan semua informasi untuk kepentingan tugasmu sebagai prajurit yang setia dari Paus.

    Kita lihat Jesuit itu ternyata agen rahasianya katolik yang ditugaskan menyusup dan menyamar ke gereja2 kalvin, protestan pada umumnya, reformis dll, tujuannya mengumpulkan informasi2 untuk kepentingan penghancuran protestan, juga negara2 dan penguasa2.

    ini saya ketik bahasa aslinya bagian ini dan lengkapnya bisa dilihat sendiri di link yang saya berikan:

    perhatikan kalimat ini yang menjadi tujuan katolik.

    It Is Just to exterminate or annihilate impious or heretical Kings, Governments, or Rulers.

    Hanya untuk memusnahkan Raja2 saleh atau sesat, pemerintahan2 dan penguasa2.

    Jelas terlihat pemerintahan dunia atau yang dikenal dengan New world order tampak disini
    Kan Paus itu wakil KRISTUS didunia. KRISTUS adalah Raja dari segala Raja jadi Paus juga harus jadi Raja dari seluruh dunia.

    Ini lanjutan dari sumpah Jesuit yang naskah aslinya bisa di klik di sini: http://www.ianpaisley.org/article.asp?ArtKey=jesuit ·

    kamu telah dilatih untuk secara diam2 menanamkan benih2 irihati dan kebencian diantara kominitas, propinsi, negara bagian yang dalam keadaan damai dan menghasut mereka untuk mengadakan pertumpahan darah.

    Yang ini komentar saya.

    Apa betul Tuhan YESUS mendirikan gereja yang kudus model ini? Tuhan itu cinta damai dan kasih yang diatas ini sebaliknya. Sobat yang dikasihi Tuhan, pertimbangkanlah keyakinanmu dengan jujur, mintalah Tuhan YESUS memberi pengertian dan bicara melalui Roh Kudus apa benar anda pada jalanNya?

    Lanjutan:

    Libatkan mereka dalam peperangan diantara mereka sendiri (adu domba-red) dan ciptakan revolosi dan prang saudara di negara2 yang merdeka dan makmur maju dalam ilmu pengetahuan dan budaya dan menikmati kedamaian. (jadi tidak senang dengan negara yang damai dan maju red) Untuk memihak pada satu pihak danberlaku rahasia dngan saudaramu Jesuit, yang mungkin bekerja dipihak lain. (Jadi ada 2 Jesuit yang satu pura2 berpihak pada kelompok A dan yang lain pura2 berpihak pada kelompok B dan jangan sampai orang tahu red) tapi secara terbuka melawan pihak lawan, supaya gereja akhirnya memperoleh keuntungan. Kamu telah dilatih dalam tugasmu sebagai agen rahasia, untuk mengumpulkan semua data statistik, fakta dan informasi dari segala sumber, mengambil hati dan mendapatkan kepercayaan dari keluarga protestan dari semua kelas dan karakter, juga pada pedagang2 dan pengusaha2 bank, pengacara, sekolah2an dan universitas2 dalam anggauta parlemen dan kehakiman dan dewan2 pemerintahan dan semua orang untuk keperluan Paus yang kita layani sampai mati. Kamu telah menerima semua petunjuk pada waktu kamu sebagai orang yang belum pengalaman menjadi asisten komando, pastur pendengar pengakuan dosa dan alim ulama, tapi kamu belum pernah diangkat menjadi komando dari tentara loyola untuk melayani Paus. Kamu harus bertindak sebagai pembunuh sebagaimana ditugaskan oleh atasanmu.
    Karena tidak ada yang dapat menjabat sebagai komando disini sebelum disucikan dengan darah dari heretic (yang dimaksud heretic disini adalah protestan red) karena dengan tanpa penumpahan darah tidak seorangpun dapat selamat. Oleh sebab itu untuk melayakan dirimu pada pekerjaan ini dan meyakinkan keselamatanmu, sebagai tambahan dari sumpahmu, kamu juga harus menaati perintah dari Paus.
    Ulangi kata2 saya:

    Perhatikan sumpah Jesuit ini untuk bisa cocok pada pekerjaannya harus menumpahkan darah orang2 protestan, tentu dengan cara2 mengadu domba, menciptakan perang dll seperti yang tertuang dalam keseluruhan sumpah ini. Bukankah mengerikan agama ini? Oleh sebab itu saya tidak sependapat dengan sobat katanya gereja ini satu2nya gereja kudus yang didirikan Tuhan YESUS. Ini bukan gereja Kudus. Keselamatan kita tidak dari menumpahkan darah atau mengadu domba, tapi dari pengorbanan salib KRISTUS.

    KRISTUS juru selamat satu2nya bukan gereja.

    Submitted on 2010/04/24 at 11:26am

    Ini lanjutan dari sumpah Jesuit yang naskah aslinya bisa di klik di sini: http://www.ianpaisley.org/article.asp?ArtKey=jesuit ·

    Ulangi setelah saya:

    Tek sumpah.

    Saya…………., dalam kehadiran Tuhan, Perawan Maria yang diberkati, Santo Yahya pembabtis yang diberkati, rasul2 suci, santo petrus, dan santo Paulus dan semua orang2 suci, seluruh bala tentara surga, dan padamu my ghostly father. superior jendral dari masyarakat YESUS, yang didirikan oleh Ignatius Loyola dalam pontification Paul ke 3.dan seterusnya sampai sekarang, dilakukan oleh rahim perawan, kandungan rahim Tuhan, Paus, yang adalah wakil KRISTUS dandan adalah satu2nya pimpinan gereja katolik atau gereja universal (semua gereja red)diseluruh dunia; dan dengan kuasa untuk mengikat dan melepaskan yang diberikan pada bapa suci oleh juruselamatku YESUS KRISTUS. dia punya kuasa untuk menggulingkan raja2 sesat, Pangeran2, Negara2, negara2 kesemakmuran, dan pemerintahan2 dan mereka mungkin dapat dijatuhkan dengan aman.

    Sampai sini dulu karena saya ingin memberi komentar.

    Jadi Katolik ini menafsirkan Paus yang sebagai penerus Petrus itu diberi kunci untuk mengikat dan melepaskan. Dalam hal ini diartikan untuk menggulingkan pemerintahan2 dengan adu domba, perang dll supaya cita2nya untuk pemerintahan tunggal/new world order itu tercapai.

    Melihat kenyataan sehari2 rupanya globalisasi pemerintahan ini sedang dimulai dengan globalisasi pasar/ekonomi yang digembar gemborkan di koran2. Nantinya globalisasi agama dan diteruskan globalisasi pemerintahan/antikrist.

    Saya ingat bekas wartawan bbc yang kemudian jadi penulis terkenal yang bernama David Icke spelling last namenya saya lupa2 ingat. Dia mengatakan pada tahun 90 an dia pernah dapat informasi dari insider bahwa kelompok illuminati merencanakan perang dunia ke 3 yang di triger dari timur tengah.

    Illuminati ternyata didirikan oleh Jesuit juga, bisa dilihat dari wikipidia, oleh sebab itu agendanya indentik.

    Memang mau tidak mau menurut alkitab, bakal ada pemerintahan antikrist, dan ternyata Jesuit punya agenda itu juga. Jadi saya yakin antikrist itu adalah Paus, tentunya Paus terakhir.

    Submitted on 2010/04/24 at 11:32am

    Sebelum saya lanjutkan menterjemahkan sumpah Jesuit, ada beberapa informasi yang ingin saya sampaikan. Menurut penyiar radio dan bekas katolik yang mengamati masalah katolik, sumpah ini hanya dialami oleh 2 persen anggauta Jesuit teratas saja.
    Informasi penting selanjutnya adalah informasi dari David Icke, yang antara lain membahas tentang hegelian doctrin/hegelian dialectik.

    Hegel adalah seoorang professor filsafat berkebangsaan jerman nama aslinya,
    Georg Wilhelm Friedrich Hegel (German pronunciation: [ˈɡeɔʁk ˈvɪlhɛlm ˈfʁiːdʁɪç ˈheːɡəl]) (August 27, 1770 – November 14, 1831)

    proses logic dari doctrine ini pada prinsipnya adalah :
    Thesis, antithesis dan syntesis.
    Dalam dunia nyata kalau ada masalah mesti akan timbul reaksi dan kemudian orang cari solusi.
    Misal masalah kebakaran, orang lalu memikir bagaimana supaya tidak terjadi kebakaran, lalu solusinya dicari misal hati2 main api, siap dengan pemadam kebakaran supaya kalau toh terjadi kebakaran korbannya ringan. dll.

    Oleh sebab itu situasi ini bisa dimanfaatkan secara terbalik.
    Misal kita ingin menciptakan pemerintahan tunggal.
    Supaya orang mau menuruti kemauan kita, kita timbulkan masalah kita buat Perang besar2an sehingga banyak yang mati, banyak kelaparan karena petani2 takut menanam padi jangan2 kena bom, banyak penderitaan sakit dll.

    Orang2 mulai pikir supaya tidak terjadi lagi perang antar negara, bagaimana kalau seluruh dunia dijadikan satu negara saja.

    Inilah informasi yang diterima oleh David Icke bahwa kelompok Illuminati yang setelah saya selidiki didirikan oleh Jesuit, (lihat wikipidia) sedang merencanakan perang dunia ke 3. Tujuannya supaya orang bisa menerima agendanya yaitu new world order.

    Thesis/menciptakan masalah/perang
    Antithesis/ reaksi/orang mulai berpikir untuk mengatasi masalah ini.
    Synthesis/memberi solusi pada masalah yang diciptakannya sendiri yaitu pemerintahan tunggal.

    Coba renungkan sumpah Jesuit ini bukankah ini tujuannya?
    Menggulingkan pemerintahan2 supaya bisa terjadi pemerintahan tunggal.

    Alkitab sudah menubuatkan bakal ada pemerintahan antikrist yang adalah pemerintahan global.
    Kita tidak akan bisa mencegah, hanya berdoa saja supaya kita dan keluarga, teman2 sekalian di milis ini diberi kekuatan untuk tidak menyerahkan keselamatan jiwanya dengan menerima tanda 666. Paling tidak sumpah ini menguak siapa antikris. dan apa agendanya.

    Dr Alberto Rivera mengatakan waktu dia masih anggauta Jesuit dia ditugaskan untuk mengelabuhi orang2 protestan supaya mereka percaya bahwa katolik dan protestan itu sama mari bersatu, sama2 Kristen, Globalisasi agama, mulai dari protestan dan katolik nantinya semua agama. ada di youtube Pope John Paul II pernah mengundang semua pimpinan agama ke Vatican untuk berdoa bersama. Bukankah ini tanda2 globalisasi agama.

    Globalisasi pasar, Globalisasi pemerintahan, globalisasi agama.

    text asli bisa klik link dibawah ini.
    http://www.ianpaisley.org/article.asp?ArtKey=jesuit ·

    Oleh sebab itu dengan sepenuh kekuatan saya, saya akan mempertahankan ajaran ini dan Hak2 kesucian dan adat dari semua lawan2 sesat atau penguasa protestan, khususnya gereja Lutheran dari Jerman, Holland, Denmark, Sweden dan Norway dan otoritas pura2 dan gereja ingris dan scotland dan cabang2nya yang di ireland dan di amerika dan dimana2 yang mungkin lawan dan sesat, menentang ibu gereja Roma.

    Komentar sedikit.
    Ada kata penguasa pura2, saya pernah dengar bahwa Jesuit percaya sebenarnya yang berkuasa di inggris itu bukan pemerintah atau Raja inggris tapi Jesuit berada dibalik kekuasaan secara diam2 sesuai dengan sumpahnya.

    Lanjutan.

    Saya mencela dan menyangkal semua kesetian pada semua raja sesat, pangeran atau negara, bernama Protestan atau liberal, atau kesetiaan pada semua undang2nya. hakim atau polisi. Selanjutnya saya menyatakan bahwa ajaran dari gereja inggris, scotland calvinist, huguenots dan protestan2 lain atau masson sebagai terkutuk dan diri mereka sendiri sebagai terkutuk. Selanjutnya saya menyatakan bahwa saya akan membantu,membimbing dan memberi nasehat pada semua agen dari yang suci(agennya pope) dimana saja saya berada, di swis, german, holland, ireland atau amerika atau dikerajaan2 lain atau wilayah yang harus saya datangi, dan melakukan sekuat tenaga saya untuk menghabisi protestan sesat atau doctrine masonic dan menghancurkan semua kekuasaan semu/pura2 secara legal atau tidak.

    sampai disini dulu terjemahan ini saya ingin sedikit komentar.

    Kembali terlihat disini target dari Jesuit untuk menghancurkan protestan dan penguasa2 atau negara2 didunia ini supaya ada pemerintahan tunggal.

    Pemerintahan tunggal artinya hanya satu negara saja, jadi kalau ada banyak negara harus dihancurkan dulu. Banyak orang mengatakan amerika adalah target pertamanya, karena kalau mereka bisa menghancurkan amerika, yang lain gampang. Lihat ekonomi amerika sekarang sudah dilumpuhkan melalui Federal reserve, bank dunia dan IMF.

    Lanjutan terjemahan diatas:

    Lebih lanjut saya berjanji dan menyatakan bahwa meskipun saya harus beranggapan bahwa semua agama adalah sesat untuk kepentingan ibu gereja;untuk menjaga rahasia dan pribadi semua nasehat2 agennya dari waktu ke waktu, sebagaimana mereka mempercayai sayadan tidak membocorkan baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan kata2 dengan tulisan atau dengan keadaan; tetapi melaksanakan semua yang diusulkan tugas yang dibebankan atau ditemukan pada saya darimu bapaku. atau segala tugas suci. Selanjutnya saya berjanji untuk sedikitpun tidak memakai opini atau kehendak saya sendiri sedikitpun sekalipun harus menjadi mayat. Tetapi dengan tanpa ragu taat pada setiap perintah yang saya terima dari atasan pasukan milisia Paus dan YESUS KRISTUS. Bahwa saya akan pergi ke semua bagian dunia kemanapun saya dikirim,kedaerah es di utara, hutan india, kepusat civilisasi di eropa atau ke daerah buas barbar dari Amerika dengan tanpa menggerutu dan akan mematuhi segalanya yang ditugaskan pada saya.

    Kita bahas dulu bagian ini:
    Jelas terlihat bahwa penguasa menghendaki suatu kepatuhan total dari calon2 komando Jesuit ini, mereka tidak lagi boleh memakai perasaan sendiri. Harus mematikan kehendak dan perasaan, sekalipun mungkin ada perasaan iba ketika disuruh mengadu domba, mengadakan penumpahan darah, mengadakan perang saudara, namun mereka harus mematikan perasaan ibanya itu demi Pope dan ibu gereja Roma ini. Kesadisan2 yang kita dengar waktu jaman Hitler menemukan penjelasan di sumpah ini.

    Selanjutnya saya berjanji dan menyatakan bahwa saya akan, mencari kesempatan untuk mengobarkan perang yang berkelanjutan, secaa rahasia dan terbuka, melawan semua protestan sesat dan mason, sebagaimana saya diarahkan untuk melakukannya. untuk melenyapkan mereka dari muka bumi, tanpa peduli umur, jenis kelamin atau apapun, dengan cara digantung, dimasak dalam air mendidih, dikuliti, dicekik dan dikubur hidup2 ; merobek perut, rahim bagi wantita, dan menghantamkan kepala bayinya ke tembok untuk melenyapkan suku mereka yang keterlaluan. Jikalau keadaan tidak memungkinkan dilakukan terbuka, saya akan menggunakan racun, tali untuk mencekik, pedang atau peluru kelam, tanpa peduli status sosial. Apapun kedudukannya apakah public atau pribadi, kapanpun saya ditugaskan oleh agennya Pope atau atasan dari keluarga Jesuit, dalam rangka mengkonfirmasikan dedikasi hidup, jiwa dan raga saya. Dan dengan pedang yang saya terima, saya akan menulis dengan darah saya suatu kesaksian dan seandainya saya terbukti salah atau lemah dalam ketekatan, maka saudara dan sesama prjurit milisi dari Pope memotong tangan dan kaki saya dan tengorokan dari telinga sampai ke telinga perut saya dibuka dan dibakar dengan belerang , dengan semua jenis hukuman yang dapat dijatuhkan dalam dunia. dan jiwa saya akan disiksa oleh iblis dineraka untuk selamanya.

    Semantara saya hentikan terjemahan, untuk sedikit komentar.
    Inilah pertanyaan saya pada PIHAK KATOLIK yang mengatakan Tuhan mendirikan gereja satu2nya yaitu gereja katolik yang kudus.

    Apa yang diatas ini kelihatan kekudusannya? Atau malah kesadisannya, masak mau bunuh protestan tanpa pandang umur, wanita hamil dibelah rahimnya, bayinya dibenturkan tembok dll.
    Apa pernah Bpk Stev dan Ibu Ingrid mendengar peristiwa lebih sadis dari ini? Kata Kudus terlalu jauh dari cerita diatas.

    Dan saya akan vote selalu vote untuk a Knight of Colombus ketimbang Protestan, kususnya Mason. (Knight of Colombus adalah organisasi rahasia yang sebagian anggaotanya berkarya dibidang politik dan menurut eric jon phelps Jesuit dibalik organisasi ini tujuannya jelas memuluskan agenda new world order) dan kalau perlu untuk ini saya akan meninggalkan partai saya. Kalau dua katolik dalam ticket saya akan memilih calon yang paling mensuport ibu gereja
    Dan saya akan memilih pegawai katolik daripada protestan. Dan saya akan menempatkan wanita katolik ke dalam keluarga protestan supaya dapat laporan mingguan tentang kegiatan sesat. Bahwa saya akan siap dengan senjata dan peluru sebagai kesiagaan kalau ada perintah, atau saya diperintahkan untuk mempertahankan gereja apakah secara indifidu maupun bersama milisia Diatas semuanya Saya …………….bersumpah dengan berkat trinitas dan berkat sakramen yang sekarang saya sedang terima untuk melakukan dan untuk memelihara sumpah saya. Sebagai kesaksian saya menerima sakramen perjamuan suci yang paling suci dan diberkati dan menyaksikan nama saya ditulis dengan darah saya sendiri menggunakan pedang ini dan dimeteraikan oleh sakramen suci ini.

    Pimpinan upacara berkata:

    Bangkitlah sekarangdan saya akan memberikan pelajaran katekisasi yang diperlukan untuk membuat dirimu dikenal oleh anggauta2 Jesuit pada rangking ini. Pertama, kalau ketemu sesama Jesuit kamu harus membuat tanda salib selayaknya orang katolik. Kemudian menyilangkan pergelangan tangan, telapak tangannya terbuka dan sebagai jawaban, yang lain menyilangkan kakinya satu diatas yang lain; orang pertama menuding dengan jari telunjuk dari tangan kanan menunjuk pada tengah telapak kiri, yang lain menunjuk dengan jari telunjuk kiri ke tengah telapak kanan Kemudian orang pertama membuat lingkaran diatas kepalanya dengan tangan kanan dan menyentuhnya, orang kedua kemudian dengan menggunakan telunjuk kiri menyentuh tubuh bagian kiri dibagian bawah jantung. Kemudian orang pertama dengan menggunakan tangan kanan menarik garis melintang tenggorokan ari orang kedua kemudian dengan pedang turun ke perut yang pertama Orang pertama kemudian mengatakan lustum; dan orang kedua menjawab Necar; I Reges; II menjawab Impious. Kemudian I memberikan kertas kecil yang dilipat dengan cara aneh, 4 kali dan II akan memotong membujur dan waktu dibuka nama Jesu akan ditemukan tertulis di kepala dan tangan salip tiga kali. kemudian kamu akan memberi dan menerima pertanyaan dan jawaban2 berikut ini.
    Dari mana saja kamu datang? Jawab ;Iman suci.
    Siapa yang kamu layani. Jawab: Bapa suci Roma, Paus dan gereja roma katolik universal seluruh dunia.
    Siapa komando kamu. Jawab; Penerus dari santo Ignatius Loyola, pendiri Jesuit atau prajurit JESUS KRISTUS.

    Siapa yang menerima kamu. Jawab: Laki2 terhormat dengan rambut putih.

    Bagaimana? Jawab; dengan pedang telanjang, saya berlutut diatas salib diatas spanduk dari Paus dan perintah suci kami

    Apakah kamu bersumpah? jawab: ya, untuk menghancurkan kesesatan dan pemerintahannya danpenguasa dengan tanpa peduli umur, jenis kelamin atau kadaan untuk menjadi mayat dengan tanpa ada opini atau kehendak diri saya, tapi untuk taat pada atasan saya dalam segala hal dengan tanpa menggerutu dan ragu2.

    Apakah kamu akan melakuiannya? Jawab: Saya akan melakukannya.

    Bagaimana perjalananmu? jawab: dikulit nelayan petrus.

    Perjalananmu kemana? : Jawab:ke empat penjuru dunia.
    Untuk maksud apa? Jawab:Untuk menaati perintah dari Jendral dan atasan dan melakukan kehendak dari Paus dan dengan setia memenuhi sumpah saya.
    Pergilah keseluruh dunia dan kuasailah semua tanah dalam nama Paus. Terkutuklah dan lenyaplah siapag yang tidak menerima dia(Paus) sebagai pengganti KRISTUS dan wakilnya didunia

    rencana new world order berkali2 tampak dalam sumpah Jesuit ini.
    Perhatikan statemant2
    lenyapkan semua pemerintahan
    Kuasailah semua tanah dalam nama Paus.
    Bunuh yang menentang posisi Paus sebagai wakil KRISTUS(baca raja seluruh jagad raya)
    Dan lain2

    Kesadisan2 juga tampak dengan jelas dalam sumpah ini. Apakah gereja demikian bisa dikatakan kudus?

    Mohon Pihak Katolik memperhatikan ini!!!

    • 32.1

      Shalom David,

      Terima kasih atas komentarnya dalam hubungannya dengan salah satu tanda dari Gereja Katolik, yaitu "kudus". Dan argumentasi yang anda berikan untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik tidak kudus adalah dengan memberikan kasus-kasus yang belum terbukti kebenarannya, seperti kasus dengan pembantaian orang-orang Yahudi, kasus Paus ketika dia masih bertugas di Jerman, dan bahkan anda mempercayai sumber Leo Zagami (yang tadinya seorang Katolik dan berpindah ke Islam karena menikah dengan seorang Islam) yang mengatakan bahwa Paus adalah gay. Kemudian anda menyusun argumentasi panjang anda berdasarkan Jesuit Oath yang merupakan karangan dari Robert Ware. Dan kepalsuan dari tulisan ini telah dijabarkan secara panjang lebar oleh Fr. Thomas Edward Bridgett dalam bukunya "Blunders and Forgeries" – sumber – silakan klik. Saya ingin memberikan usulan, kalau anda memang mau benar-benar serius berdiskusi tentang topik ini, maka mari kita berfokus pada dogma dan doktrin dari Gereja Katolik. Carilah sumber-sumber yang lebih dapat dipercaya, yaitu Alkitab. Dengan demikian pembahasan dapat lebih obyektif dan bukan membahas gosip-gosip yang beredar, yang tidak jelas kebenarannya. Secara singkat inilah jawaban yang dapat saya berikan:

      1. Gereja yang kudus (Ef 5:25-27, Why 19:7-8, KGK 823-829, LG 8, 39, 41,42)

      Kekudusan Gereja disebabkan oleh kekudusan Kristus yang mendirikannya. Hal ini tidak berarti bahwa setiap anggota Gereja-Nya adalah kudus, sebab Yesus sendiri mengakui bahwa para anggotaNya terdiri dari yang baik dan yang jahat (lih. Yoh 6:70), dan karenaNya tak semua dari anggotaNya masuk ke surga (Mat 7:21-23). Tetapi Gereja-Nya menjadi kudus karena ia adalah mempelai Kristus dan Tubuh-Nya sendiri, sehingga Gereja menjadi sumber kekudusan dan sebagai penjaga alat yang istimewa untuk menyampaikan rahmat Tuhan melalui sakramen- sakramen (lih. Ef 5:26).

      Jadi kekudusan Gereja dapat dilihat dari para anggotanya yang hidup di dalam rahmat pengudusan, terutama mereka yang sungguh-sungguh menerapkan kekudusan itu di dalam kaul religius seperti para rohaniwan, rohaniwati dan terutama terlihat nyata pada para martir dan Orang Kudus (lih. LG 42). Kekudusan Gereja juga terlihat dari banyaknya mukjizat yang dilakukan oleh Para Kudus sepanjang sejarah. Dalam hal kekudusan inilah, maka Gereja menggarisbawahi pentingnya pertobatan (lih. LG 8), agar para anggotanya dibawa kepada rahmat pengudusan Allah.

      Walaupun Gereja itu kudus, karena Kristus yang mendirikan Gereja dan menjadi Kepala Gereja adalah kudus, namun anggotanya terdiri dari para kudus dan para pendosa. Namun adanya anggota yang berdosa ini tidak menghapus kenyataan bahwa Gereja tetap kudus, sama seperti Yudas yang menghianati Yesus tidak menghapus kenyataaan bahwa pengajaran Kristus adalah benar. Kekudusan dari Gereja dapat lebih bersinar ketika anggota-anggota Gereja menampakkan kekudusan, seperti yang telah dicontohkan oleh para santa-santo dalam sejarah Gereja.

      2. Tentang Yahudi yang dibantai

      Gambaran yang menyatakan Paus Pius XII pro NAZI dan membiarkan holokaus adalah tuduhan yang keliru. Silakan membaca kesaksian bahkan dari kaum Yahudi sendiri bagaimana Paus malah melindungi mereka, dan berperan dalam menyelamatkan sedikitnya 700, 000 orang Yahudi atau malah 860, 000 orang, menurut Pinchas Lapide, seorang teologian Yahudi dan diplomat Israel dalam bukunya Three Popes and the Jews, seperti dikutip di Wikipedia. Bahwa ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Paus Pius XII mungkin dapat berbuat lebih banyak untuk melindungi orang Yahudi/ menyetop holokaus, itu mungkin masih dapat diperdebatkan (walau tetap tidak dapat memuaskan, karena tak seorangpun dari kita mengetahui secara persis keadaan yang dihadapi Paus pada saat itu), tetapi tuduhan yang mengatakan bahwa Paus Pius XII membiarkan holokaus dan tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan orang Yahudi, itu adalah tuduhan yang sangat keliru. Silakan juga membaca di link ini untuk membaca bagaimana Paus Pius XII melindungi orang-orang Yahudi pada saat itu, silakan klik.

      3. Tentang permintaan maaf dari Paus:

      1) Mari sekarang kita melihat bagaimana sikap Gereja Katolik. Paus Yohanes Paulus II, telah meminta maaf kepada dunia akan sikap dari sebagian putera dan puteri Gereja Katolik dalam sejarah Gereja Katolik yang menyebabkan penderitaan. Saya menganjurkan agar anda dapat membaca buku "Luigi Accattoli, and Jordan Aumann, When a Pope Asks Forgiveness, 1st ed. (Alba House, 1998)", dimana Luigi mencatat ada sekitar 94 kali, Paus Yohanes Paulus II meminta maaf dalam berbagai kesempatan, dan yang memuncak pada tanggal 12 Maret 2000, Minggu Pertama Prapaskah. Keterangan lengkap dapat dibaca disini ( silakan klik) dan juga di sini (silakan klik).

      2) Ini adalah suatu sikap, dimana walaupun Gereja Katolik adalah kudus, karena Kristus adalah Kepala-Nya, namun terdiri dari para pendosa, sehingga Gereja harus senantiasa memeriksa batin dan mengadakan pertobatan yang terus menerus.

      3) Permintaan maaf dan memaafkan adalah suatu tindakan kasih yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Cobalah melihat dari sisi yang lain, apakah ada tindakan serupa yang dilakukan oleh agama lain?

      Mari kita melihat sebagai contoh kasus inquisition:

      Sebagai contohnya, di Touluose, dari 1308-1323 hanya 42 orang dari 930 yang diadili dinyatakan sebagai “unpenitent heretics“/ bidat yang tak menyesal, dan diserahkan kepada pihak pemerintah sekular.
      Spanish Inquisition, dalam 30 tahun pemerintahan ratu Isabel, ada sekitar 100,000 orang yang dikirim ke inkuisisi, dan 80,000 dinyatakan tidak bersalah. 15,000 dinyatakan bersalah, namun setelah mereka menyatakan iman secara publik, maka mereka dibebaskan kembali. Hanya ada sekitar 2,000 orang yang meninggal karena keputusan inkuisisi sepanjang pemerintahan Ratu Isabella, dan 3000 orang kemudian dari tahun 1550 – 1800. Sedangkan, sebagai perbandingan, hanya dalam waktu 20 hari, Revolusi Perancis (1794), yang dimotori oleh gerakan “Enlightenment”, meng-eksekusi pria dan wanita sebanyak 16,000- 40,000. Jumlah korban ini, jauh lebih banyak daripada korban inkuisisi dalam 30 tahun pemerintahan Ratu Isabella.

      Menurut Raphael Molisend, seorang sejarahwan Protestan, Henry VIII membunuh 72,000 umat Katolik. Orang yang meninggal selama beberapa tahun pada masa pemerintahan Henry VIII dan anaknya Elizabeth I, jauh melebihi apa yang terjadi pada inkuisisi di Spanyol dan Roma selama 3 abad. Dari Geneva, Calvin mengirimkan utusan kepada England (Inggris) dengan pesan untuk membunuh orang-orang Katolik: “Siapa yang tidak mau membunuh para pengikut Paus, adalah pengkhianat.” Kebijakan ini dikenal tidak hanya oleh orang-orang Inggris yang setia kepada Roma, tetapi juga orang- orang Irlandia, yang hidup dan hak asasinya diambil (sampai 1913), demikian juga tanah mereka. Tahun 1585 parlemen Inggris mengeluarkan dekrit “hukuman mati bagi para warga Inggris yang kembali ke Inggris setelah ditahbiskan menjadi imam Katolik, dan semua orang yang menghubungi mereka.” (Black Legends of the Church by Vittorio Messori, ch. 6, nr. 36)

      Bandingkan juga dengan Perang Dunia I dan II, yang membunuh 50 juta orang. 40 juta orang meninggal dalam masa pemerintahan Stalin di Rusia. 80 juta orang meninggal di Cina karena revolusi komunis dan 2 juta di Kamboja.

      Tentu saja ada kesalahan yang dilakukan oleh putera/i Gereja yang tidak menerapkan hukum kasih selama dalam proses inkuisisi ini. Inilah sebabnya Paus Yohanes Paulus II meminta maaf atas nama mereka, menjelang perayaan tahun Yubelium 2000. Di satu sisi, kita seharusnya melihat keberanian dari Gereja Katolik untuk mengakui kesalahan ini dan dengan berani meminta maaf. Silakan membandingkan dengan agama atau gereja lain, apakah ada yang pernah melakukan hal yang sama, untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh putera dan puteri mereka di masa yang lalu?

      4. Tentang isus-isu lain: Saya pikir, saya tidak perlu untuk menanggapi video yang dibuat oleh Leo Zagami tentang isu-isu yang memojokkan Gereja Katolik, karena tidak terbukti kebenarannya. Isu-isu yang dipaparkan lebih banyak untuk konsumsi majalah gosip. Daripada kita mencermati video-video yang dibuat oleh Leo Zagami, lebih baik kita menggunakan waktu kita yang terbatas untuk mencermati dogma dan doktrin yang ingin didiskusikan. Dan isu-isu yang lain, biarlah waktu yang akan membuktikannya.

      5. Tentang Jesuit Oath:

      Sumber: silakan klik. Robert Ware the forger, the author of "Foxes and Firebrands", who has of late years been so thoroughly exposed by Father Bridgett, traded upon the same prejudices. His more public career began contemporaneously with that of Oates in 1678, and by sheltering himself behind the high reputation of his dead father, Sir James Ware, amongst whose manuscripts he pretended to discover all kinds of compromising papers, he obtained currency for his forgeries, remaining almost undetected until modern times. Many foul aspersions upon the character of individual popes, Jesuits, and other Catholics, and also upon some Puritans, which have found their way into the pages of respectable historians, are due to the fabrications of "this literary skunk", as Fr. Bridgett not unjustifiably calls him (see Bridgett, "Blunders and Forgeries", pp. 209-296).

      Jadi, saya mengharapkan agar anda tidak mendasarkan argumentasi anda dapat karya Robert Ware yang telah terbukti membuat cerita palsu. Oleh karena itu, saya tidak akan menjawab beberapa pertanyaan dan pernyataan anda yang menanggapi artikel "Jesuit Oath", karena Jesuit Oath ini hanyalah sebuah kepalsuan dan dogma dan doktrin Gereja Katolik bukanlah seperti yang dijabarkan dalam Jesuit Oath. Kalau anda merasa bahwa artikel ini masuk dalam "Library of Congress" dan terlihat kredibel, maka ini juga tidak benar, karena untuk memasukkan ke dalam library of congress, kita dapat memasukan beberapa jenis karangan seperti "fiction, nonfiction, poetry, contributions to collective works, compilations, directories, catalogs, dissertations, theses, reports, speeches, bound or loose-leaf volumes, pamphlets, brochures, and single pages containing text." Kita juga dapat memasukkan suatu karangan dengan membayar US$ 30 (Rp 300,000). Silakan membaca Jesuit Oath debunked di sini – silakan klik. Agar lebih mudah, saya copy and paste tulisan tersebut di sini.

      Akhirnya, mari kita menggunakan waktu kita untuk diskusi yang berfokus pada dogma dan doktrin daripada menggunakan waktu kita untuk mencermati hal-hal yang cenderung mengarah kepada gosip. Saya minta maaf, kalau saya tidak dapat meneruskan diskusi yang berdasar pada tulisan-tulisan yang tidak ilmiah. Semoga hal ini dapat dimengerti oleh David. Namun, saya membuka diri kalau David ingin berdiskusi tentang dogma dan doktrin dari Gereja Katolik berdasarkan Alkitab maupun tulisan-tulisan Bapa Gereja.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      The Jesuit Oath Debunked

      Sometimes one finds himself completely outside the realm of “the possible” and in the strange realm of “where the heck did they come up with this stuff?” The Jesuit Oath is one such example. It is completely ludicrous, and to believe that people actually believe this stuff is simply staggering. The Oath has also been reincarnated in another popular version known as the “Knight of Columbus Oath”. However, we will deal strictly with the two versions of the Oath that are most commonly cited. The first is located in the Library of Congress, the second is located in the Congressional Record.

      Jesuit Oath found in the Library of Congress This version of the Jesuit Oath is one of the two most popular versions cited. It is probably cited so often due to the fact that it can be located in the Library of Congress, Washington, D.C., Library of Congress Catalog Card # 66-43354. Anti-Catholics seem to believe that because it is found in the Library of Congress, that it is a credible document, which I will show is not always a given. On the other hand, perhaps certain anti-Catholics wish to prey on ignorance, and they know exactly what I am about to expose. But, before I do, here is a complete copy of the aforementioned Oath.

      I furthermore promise and declare that I will, when opportunity presents, make and wage relentless war, secretly or openly, against all heretics, Protestants and Liberals, as I am directed to do, to extirpate and exterminate them from the face of the whole earth; and that I will spare neither age, sex or condition; and that I will hang, burn, waste, boil, flay, strangle and bury alive these infamous heretics, rip up the stomachs and wombs of their women and crush their infants heads against the walls, in order to annihilate forever their execrable race. That when the same cannot be done openly, I will secretly use the poisoned cup, the strangulating cord, the steel of the poinard dignity, or authority of the person or persons, whatever may be their condition in life, either public or private, as I at any time may be directed so to do by any agent of the Pope or Superior of the Brotherhood of the Holy Faith, of the Society of Jesus.

      In confirmation of which, I hereby dedicate my life, my soul and all my corporeal powers, and with this dagger which I now receive, I will subscribe my name written in my own blood, in testimony thereof; and should I prove false or weaken in my determination, may my brethren and fellow soldiers of the Militia of the Pope cut off my hands and my feet, and my throat from ear to ear, my belly opened and sulphur burned therein, with all the punishment that can be inflicted upon me on earth and my soul be tortured by demons in an eternal hell forever!

      All of which I, M_______ N_______ , do swear by the blessed Trinity and blessed Sacrament, which I am now to receive, to perform and on my part to keep inviolably; and do call all the heavenly and glorious host of heaven to witness these my real intentions to keep this my oath.

      In testimony hereof I take this most holy and blessed Sacrament of the Eucharist, and witness the same further, with my name written with the point of this dagger dipped in my own blood and sealed in the face of this holy convent."

      So there you have it, the Jesuit Oath found in the Library of Congress. Every time I have seen this Oath used, the author/anti-Catholic has relied on the fact that it can be found in the Library of Congress as some testament to the legitimacy and authority of the document. So, just to be sure that this was really the case, I went on an excursion to the Library of Congress website and had a look-see for myself.

      At the Library of Congress, I was interested in how I could make a submission to the Library of Congress and there I stumbled across Form FL 109 which speaks about Copyrights. According to Form FL 109, three things are needed to obtain a copyright and obtain subsequent registration in the Library of Congress. They are as follows:

        A completed Form TX.
        A non-refundable filing fee of $30.
        A non-returnable deposit of the work.

      Form FL 109 also goes on to state (at the very beginning):

      COPYRIGHT REGISTRATION OF BOOKS, MANUSCRIPTS, AND SPEECHES
      A published or unpublished book or manuscript may be submitted for registration in the Copyright Office. Form TX should be used to apply for copyright registration for textual works, with or without illustrations. Form TX is appropriate for registration of nondramatic literary works including: fiction, nonfiction, poetry, contributions to collective works, compilations, directories, catalogs, dissertations, theses, reports, speeches, bound or loose-leaf volumes, pamphlets, brochures, and single pages containing text. There is no specific requirement as to the printing, binding, format, or paper size and quality of unpublished manuscript material. Typewritten, photocopied, and legibly handwritten manuscripts, preferably in ink, are all acceptable for deposit.

      Suitable for submission? Loose-leaf scribblings are available for admission, and WILL receive submission? According to the Library of Congress they will, and all for $30. So, how credible is a Library of Congress registration sounding now? Not very authoritative, is it? I can imagine that just about everything and anything can be, and has been, submitted to the Library of Congress, and since all it requires is $30 and some paperwork, one could put anything in it. I could very well make a statement, scribbled on a piece of toilet paper (I do need to remember that it is non-returnable so I need to make a copy for myself) that has some extremist “Non-Catholic Oath” on it and claim that this applies to all non-Catholics and that we should be wary of them. It’d be just as credible at the Jesuit Oath (if the anti-Catholics apply the same criteria to my toilet paper as they do their precious Jesuit Oath.

      Jesuit Oath found in the Congressional Record This version of the Jesuit Oath is another popular version, and is quoted by such anti-Catholics as Ian Paisley. It is a part of the U.S. House Congressional Record, 1913, p. 3216. The oath was originally made public in the year 1883. This version of the Jesuit Oath reads as follows:

      I do further promise and declare that I will, when opportunity presents, make and wage relentless war, secretly and openly, against all heretics, Protestants and Masons, as I am directed to do, to extirpate them from the face of the whole earth; and that I will spare neither age, sex nor condition, and that will hang, burn, waste, boil, flay, strangle, and bury alive these infamous heretics; rip up the stomachs and wombs of their women, and crush their infants’ heads against the walls in order to annihilate their execrable race. That when the same cannot be done openly I will secretly use the poisonous cup, the strangulation cord, the steel of the poniard, or the leaden bullet, regardless of the honour, rank, dignity or authority of the persons, whatever may be their condition in life, either public or private, as I at any time may be directed so to do by any agents of the Pope or Superior of the Brotherhood of the Holy Father of the Society of Jesus.

      In confirmation of which I hereby dedicate my life, soul, and all corporal powers, and with the dagger which I now receive I will subscribe my name written in my blood in testimony thereof; and should I prove false, or weaken in my determination, may my brethren and fellow soldiers of the militia of the Pope cut off my hands and feet and my throat from ear to ear, my belly be opened and sulphur burned therein with all the punishment that can be inflicted upon me on earth, and my soul shall be tortured by demons in eternal hell forever. That I will in voting always vote for a Knight of Columbus in preference to a Protestant, especially a Mason, and that I will leave my party so to do; that if two Catholics are on the ticket I will satisfy myself which is the better supporter of Mother Church and vote accordingly. That I will not deal with or employ a Protestant if in my power to deal with or employ a Catholic. That I will place Catholic girls in Protestant families that a weekly report may be made of the inner movements of the heretics. That I will provide myself with arms and ammunition that I may be in readiness when the word is passed, or I am commanded to defend the Church either as an individual or with the militia of the Pope.

      All of which I,_______________, do swear by the blessed Trinity and blessed sacrament which I am now to receive to perform and on part to keep this my oath.

      In testimony hereof, I take this most holy and blessed sacrament of the Eucharist and witness the same further with my name written with the point of this dagger dipped in my own blood and seal in the face of this holy sacrament.

      After being informed about the flimsiness of the Library of Congress, exactly how authoritative is the Congressional Record? Was the Jesuit Oath revealed in the proceedings of Congress as something to be wary of? The Congressional Record the official record of the proceedings and debates of the United States Congress. It is published daily when Congress is in session. It is not a library. It is the responsibility of the Government Printing Office, and the information can be accessed by going through the Federal Depository Libraries, an extension of the Library of Congress. You can’t "send" or even "submit" things to the Congressional Record. The only way to get anything into the Record is to have them said or entered into the Record by a Congressman. So, exactly how did the Jesuit Oath get into the Congressional Record in 1913?

      Here is the story (as related by Mark a.k.a. dumbox) on SPH’s board Examining Protestantism: In the 1912 elections, the two candidates for Congress from the Seventh Congressional District in Pennsylvania were Eugene C. Bonniwell, a Democrat, and Thomas S. Butler, a Republican. Mr. Bonniwell, the unsuccessful candidate, filed an objection with the Speaker of the House, asking that Mr. Butler not be seated to represent the district. His objections were investigated by a House Committee on Elections, which prepared a report (House Report 1523). That report was submitted to the House on February 15, 1913, and, upon request of a Congressman Olmsted, was included in the Congressional Record.

      The House Report reproduced, in its entirety, Mr. Bonniwell’s written statement of objections. Among other items, Mr. Bonniwell’s objection included the following discussion of religious slanders perpetrated by supporters of Mr. Butler:

      The West Chester Village Record is a local newspaper largely owned and controlled by T. L. Eyre, Republican boss of Chester County, and personal representative of Thomas S. Butler.

      The Chester Republican is a local paper largely owned and controlled by Senator William C. Sproul, a Republican boss, and personal representative of Thomas S. Butler in Delaware County. On August 15, 1912, the West Chester Village Record published the following editorial:

      "The Hon. Thomas S. Butler, the Republican nominee for Congress, was born and reared in the Society of Friends, and is proud of his Quaker ancestry. His opponent, Eugene C. Bonniwell, is a Roman Catholic."

      On August 28, 1912, the Chester Republican reprinted this editorial. Coincident with the two said editorials messengers in the employ of supporters of Thomas S. Butler traversed the district, having in their possession and circulating a blasphemous and infamous libel, a copy of which is hereto attached, pretended to be an oath of the Knights of Columbus, of which body the contestant [Bonniwell] is a member. So revolting are the terms of this document and so nauseating its pledges that the injury it did not merely to the contestant but also to the Knights of Columbus and to Catholics in general can hardly be measured in terms.

      I charge that the circulation of this oath and the publication of the two editorials herein referred to were part of a conspiracy . . . for the purpose of arousing religious rancor and of defeating the Democratic nominee. The Constitution of the United States prohibits any religious test for office. The organization supporting Thomas S. Butler created such a test, blazed bigotry in the hearts and minds of the ignorant, and slandered and vilified a great body of honorable men.

      I file no complaint because of adverse election returns. The Democracy of Pennsylvania is inured to adversity. Nor is this complaint registered because of defeat resultant upon faith or race. In these things I own a just pride and do not protest if, because of either, political honors are to be denied men. But when a calumnious, viperish attack upon either faith or race is launched, injecting religious bigotry into the political affairs of this Nation, then this protest is made in the certain confidence that all patriotic men, mindful of the religious as well as the political liberty that the forefathers designed should be our heritage, will rise and strike down the beneficiary of such a treacherous and dastardly movement.

      For myself I make no appeal to your honorable body that I may be seated. . . . This I do maintain, that this man, receiving his election under these circumstances, adding the felonies of forged papers, perjured acknowledgements, and violated grand jury to the more wicked crime of religious slander, ought not to be tolerated in the House of Representatives.

      To this, Mr. Bonniwell attached (and the House Report and Congressional Record dutifully reprinted) a copy of the purported “Knights of Columbus Oath” that had been circulated during the campaign. The purported oath included verbatim the language given above. (That language constitutes, roughly, the second half of the purported oath as it appears in the Congressional Record). Note that it is at all times referred to as a purported "Knights of Columbus" oath – the Jesuits are never mentioned. Something that Mr. Paisley and his other anti-Catholic friends do not seem to be very well aware of. Makes one wonder where and who their sources are.Also included in the House Report (and reprinted in the Congressional Record) is the response submitted by Mr. Butler. He admitted that the activities alleged by Mr. Bonniwell had, in fact, occurred, but denied any knowledge of or connection to those activities. A portion of his response follows:

      You state in this paragraph of your objection that an editorial publication was made in these papers as follows:

      "The Hon. Thomas S. Butler, the Republican nominee for Congress, was born and reared in the Society of Friends, and is proud of his Quaker ancestry. His opponent, Eugene C. Bonniwell, is a Roman Catholic." . . .

      While I never saw or heard of it until I read the paragraph of your objection, I admit the truthfulness of it with pleasure so far as it relates to me. I did not in any manner inspire it. Since your notice served on me, Mr. Eyre informs me that he had not seen or heard of the article of which you complain, although it appeared in his own newspaper. I have no knowledge of “any man, set of men, political organization, or its representative, employing or procuring messengers to traverse this congressional district and to circulate on my account or on any account the publication which you characterize as a blasphemous and infamous libel, known as Knights of Columbus oath.” That this paper was circulated through this congressional district during this campaign I both admit and regret. I deny that I had anything whatever to do, directly or indirectly, with either its publication or its circulation. It came into this district though the mails, I am informed, and as fast as it appeared those who took my advice destroyed it. I am advised by those who know, that the same article was circulated and distributed in other parts of Pennsylvania than this congressional district during the last campaign, and I am further informed that this same article has been circulated not only in Pennsylvania, but in other States during political campaigns for many years. I had no knowledge whatever of it until it appeared here during the last campaign, and from a source I know nothing about. Two or three of my political advocates showed me copies of this paper, which they had received through the mails. I requested them to ascertain where other copies of it had been received and to have all of them destroyed. I apprehended with alarm the use of such a document in a political campaign, or at any other time.

      I do not believe in its truthfulness, and so stated my judgment concerning it on November 4, 1912 (as soon as complaint was made to me of its general circulation), through the columns of the West Chester Daily Local News . . . .

      So what we have is a document anonymously circulated during a heated election campaign. Both sides disavowed its authenticity. It was included in a House Report summarizing an investigation of that election, because it was attached to a document submitted by one of the candidates. The Report was reprinted in the Congressional Record.

      All in all, no sane person could conclude that this constitutes any sort of "authentication" of this document by Congress.

      Anyone who is interested in checking behind my research can read all about it – any law school library will have a copy. The citation is H.R. Rep. No. 62-1523 (1913), reprinted in the Congressional Record for February 15, 1913, at pp. 3215-3220.

      I think that this, without a doubt shows that neither Oath is credible, and allow me to point out that even Congress believes this to be so, because in the Congressional Record, the Committee on Elections states the following:

      This committee cannot condemn too strongly the publication of the false and libelous article referred to in the paper of Mr. Bonniwell, and which was the spurious Knights of Columbus oath, a copy of which is appended to the paper. (H.R. Rep. No. 62-1523 (1913), reprinted in the Congressional Record for February 15, 1913, at p. 3221)

      All of which leaves me with only one last thing to say:

      You shall not utter a false report. (Exodus 23:1 [RSV])

      • 32.1.1
        David says:

        Salam Bapak Stev,

        Tentang Doctrine atau dogma katolik memang berlainan dengan doctrine Protestan karena memang kitab sucinya lain. Oleh sebab itu katolik mengatakan adalah satu2nya gereja yang didirikan oleh Tuhan YESUS. Ya saya tidak bisa memaksakan kepercayaan saya pada Bapak

        Sebaliknya katolik juga tidak bisa memaksakan doctrinenya ke orang lain.

        Karena Bapak mengatakan akan menjawab masalah doctrine, maka saya bertanya.
        Melihat artikel bapak, saya simpulkan bahwa diluar katolik adalah gereja sesat karena hanya Roma katolik satunya gereja yang didirikan Tuhan Benarkah demikian?

        Itulah sebabnya Roma Katolik berhak membunuh pembelotnya, apa benar ini doctrine asli dari Roma Katolik?

        Salam Damai dalam Kristus

        • 32.1.1.1

          Shalom David,

          Terima kasih atas tanggapannya. Kalau anda memang tidak setuju bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus, tentu saja tidak menjadi masalah dan anda dapat memberikan argumentasi untuk menyanggahnya. Gereja Katolik tidak memaksakan doktrinnya kepada orang lain dan melihat umat dari gereja-gereja Kristen sebagai saudara di dalam Kristus. Kami mengakui bahwa ada unsur-unsur kebenaran di dalam gereja-gereja lain, namun kami percaya bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik. Dalam dokumen Unitatis Redintegratio, par. 3 tentang hubungan antara saudara-saudari yang terpisah dan Gereja Katolik dituliskan:

          Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awalmula telah timbul berbagai perpecahan[15]], yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak di hukum[16]]. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja katolik, kadang-kadang bukan karena kesalahan kedua belah pihak. Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan di besarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih. Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibabtis secara sah, berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja katolik, baik perihal ajaran dan ada kalanya juga dalam tata-tertib, maupun mengenai tata-susunan Gereja, persekutuan gerejawi yang sepenuhnya terhalang oleh cukup banyak hambatan, diantaranya ada yang memang agak berat. Gerakan ekumenis bertujuan mengatasi hambatan-hambatan itu. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus[17]]. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan[18]].

          Kecuali itu, dari unsur-unsur atau nilai-nilai, yang keseluruhannya ikut berperanan dalam pembangunan serta kehidupan Gereja sendiri, beberapa bahkan banyak sekali yang sangat berharga, yang dapat ditemukan diluar kawasan Gereja katolik yang kelihatan: Sabda Allah dalam Kitab suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh kudus lainnya yang bersifat batiniah dan unsur-unsur lahiriah. Itu semua bersumber pada Kristus dan mengantar kepada-Nya, dan memang selayaknya termasuk gereja Kristus yang tunggal.

          Tidak sedikit pula upacara-upacara agama kristen, yang diselenggarakan oleh saudara-saudari yang tercerai dari kita. Upacara-upacara itu dengan pelbagai cara dan menurut bermacam-ragam situasi masing-masing Gereja dan jemaat sudah jelas memang dapat menyalurkan hidup rahmat yang sesungguhnya, dan harus diakui dapat membuka pintu memasuki persekutuan keselamatan.

          Oleh karena itu Gereja-Gereja[19]]dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja katolik.

          Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai Jemaat dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petruslah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh kristus di dunia. Dalam tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk umat Allah, Selama berziarah di dunia, umat itu, meskipun dalam para anggotanya tetap tidak terluputkan dari dosa, berkembang dalam Kristus, dan secara halus dibimbing oleh Allah, menurut rencana-Nya yang penuh rahasia, sampai akhirnya penuh kegembiraan meraih seluruh kepenuhan kemuliaan kekal di kota Yerusalem sorgawi.

          Jadi dengan demikian, maka Gereja Katolik melihat gereja-gereja yang lain sebagai saudara di dalam Kristus yang terpisah dari Tubuh Mistik Kristus. Pertanyaan saya kepada anda, bagaimanakah anda melihat Gereja Katolik? Apakah umat Gereja Katolik menurut anda adalah Kristen dan dapat diselamatkan?

          Gereja Katolik tidak perlu membunuh para pembelotnya, karena kebebasan beragama adalah hak dari setiap orang. Mungkin ada baiknya anda juga dapat melihat sikap dari Martin Luther dan John Calvin terhadap orang-orang yang dianggap membelot dari doktrin mereka. Namun, saya tidak akan berdiskusi tentang teori konspirasi. Kalau anda ingin berdiskusi tentang kodrat Gereja, doktrin, dll, maka saya akan mencoba menjawabnya semampu saya. Semoga hal ini dapat dimengerti.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  6. 31
    richard says:

    trim’s atas izinnya…pastilah q menyebutkan sumbernya. kalau gak gitu namanya plagiat donk..hehehe…

  7. 30
    Piony says:

    Bu Inggrid & Pa Stef yang dikasihi Tuhan….
    Saya sangat kagum dengan kesabarannya menanggapi setiap pertanyaan maupun komentar yang kadang menjengkelkan, nyeleneh dll. Mau tanya dikit ni (nyeleneh tapi, maaf ya!):
    1. Sifat gereja katolik adalah: satu, kudus, katolik dan apostolik. Mengapa memilih kata Katholik sebagai nama gerejanya bukan satu, kudus atau apostolik.
    2. Katanya gereja katolik tidak pernah pecah, tapi kalau sepengetahuan saya gereja katolik ortodoks (gereja timur) juga adalah gereja katolik yang konon memiliki aturan (liturgi dsb) sama persis dengan gereja katolik. Bahkan yang pernah saya dengar (sumber kurang dipercaya) katanya doa syukur agung yang dipakai pada ekaristi kudus itu dijiplak lurus-lurus dari gereja katolik ortodoks.
    Mohon penjelaannya.
    Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati semua yang telah dan akan ibu dan bapak kerjakan, amin!

    • 30.1

      Shalom Piony,

      1. Tentang nama Gereja “Katolik” yang dipilih, dan bukan ’satu’ atau ‘kudus’ atau ‘apostolik’, berkaitan juga dengan: 1) makna yang ingin dicapainya sebagai Gereja yang ‘lengkap’/ menyeluruh/ universal, yang mencakup seluruh dunia. Ini sesuai dengan amanat Kristus kepada para rasul sebelum kenaikan-Nya ke surga untuk mewartakan Kabar Gembira ke seluruh dunia (lih. Mat 28:19-20); 2) fakta sejarahnya, bahwa nama “Katolik” tersebut yang dipakai/ ditekankan oleh para Bapa Gereja, terutama oleh St. Ignatius dari Antiokhia untuk membedakan Gereja yang setia dengan ajaran para rasul dengan mempertahankan doktrin yang lengkap, dengan aliran sesat yang berkembang pada saat itu (yaitu Docetism dan Gnosticism) yang juga mengajarkan tentang Yesus, namun tidak mempercayai Yesus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Dengan demikian doktrin mereka tidak lengkap dan sesat.

      Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal” atau “lengkap“. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ’seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ’seluruh’ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

      Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

      Nama ‘Gereja Katolik’ pertama diresmikan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya,
      “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.
      Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

      Namun, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[3] bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Di sini kata “Katha holos atau katholikos” dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

      2. Jika kita mempelajari sejarah, kita mengetahui bahwa walaupun terjadi perpecahan dalam sejarah Gereja, namun sebenarnya yang terjadi adalah beberapa kelompok jemaat yang memisahkan diri dari kesatuan dengan Gereja Katolik, karena sesuatu dan lain hal. Tentang pemisahan Gereja Timur dari Gereja Barat (Katolik Roma), memang didahului oleh bermacam kejadian, namun dua hal pemicunya adalah skisma patriarkh Photius (867) dan Michael Cerularius (1054). Sebagai akibat dari skisma tersebut, maka Gereja-gereja Timur memisahkan diri, dan mereka tidak menerima kepemimpinan Gereja Roma. Gereja-gereja Timur ini menamakan diri Gereja Orthodox. Namun dewasa ini, sebagian dari Gereja-gereja Timur tersebut (22 Gereja) sudah kembali ke pangkuan Gereja Katolik; daftar nama Gereja-gereja tersebut tertulis di sini, silakan klik.

      Maka harus dipahami bahwa sebelum permisahan antara Gereja Timur Orthodox dari Gereja Barat (Katolik Roma), keduanya adalah satu dalam Gereja Katolik, dan sama-sama melanjutkan Tradisi para rasul. Oleh sebab itu tidak heran, jika ada banyak kesamaan antara liturgi antara Gereja Timur dan Barat, sebab sumber/ asalnya sama yaitu dari ajaran para rasul. Maka tidak tepat kalau dikatakan “doa syukur agung yang dipakai pada ekaristi kudus itu dijiplak lurus-lurus dari gereja katolik ortodoks.” Di sini perlu diketahui bahwa tidak ada yang menjiplak, baik Gereja Timur dan Gereja Barat tidak menjiplak, sebab keduanya melanjutkan Tradisi para rasul.

      Demikianlah jawaban saya, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      • 30.1.1
        Adri A says:

        Salam sejahtera Ibu ingrid,

        Saya masih belum menemukan detail kepastian tentang bahwa Tuhan Yesus mengajarkan atau membentuk gereja khatolik secara specifik di alkitab, apakah gereja yg di maksud ibu inggrid itu gedungnya atau pribadi masing2 karena dalam alkitab ada di katakan apa yg kamu lihat dan kamu dengar sebarkan, mkn benar nama gereja pada waktu itu dinamakan katolik tetapi yg yg melakukan dan apa yg Tuhan Yesus ajarkan, tp sekarang sepertinya ada penanmbahan buatan manusia yg mengatas namakan bahwa ini yg dari Tuhan, Saya belum liat ada sesuatu yg bisa menyaknkan saya bahwa dengan masuk katolik atau mengimani iman katolik ada keselamatan, emang gereja katolik menjamin umatnya bisa masuk ke sorga?

        • 30.1.1.1

          Shalom Adri,

          1. Kitab Suci jelas mengatakan bahwa Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus dan Ia berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja-Nya (Mat 16:18) dan Yesus akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman (Mat 28:19-20).

          Nah dari sini kita mengetahui bahwa Gereja yang didirikan oleh Yesus itu adalah Gereja Katolik, yang dipimpin oleh Paus yang mempunyai jalur kepemimpinan yang diturunkan dari Rasul Petrus. Paus Benediktus XVI adalah Paus ke 265, sedang Rasul Petrus adalah Paus yang pertama. Walau istilah ‘paus’ (=bapa) belum ada pada jaman Rasul Petrus, itu tidak mengubah fakta bahwa kepemimpinannya sebagai bapa bagi para murid Kristus sudah ada, dan kepemimpinannya itulah yang diteruskan tanpa terputus sampai sekarang. Silakan membaca rangkaian artikel tentang Keutamaan Petrus, terutama bagian 1, silakan klik.

          Maka di sini Gereja bukan merupakan semata- mata hanya gedung saja. Yang dimaksud dengan Gereja adalah "ekklesia" diterjemahkan sebagai "jemaat Allah yang hidup", yang menjadi "tiang penopang dan dasar kebenaran" seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus:

          "Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran." (1 Tim 3:15)

          2. Istilah "Katolik" yang artinya ‘universal’/ menyeluruh juga sudah dikenal sejak jaman abad awal, terutama untuk membedakan Gereja yang otentik dengan mereka yang menamakan diri gereja, namun memegang ajaran sesat ataupun Injil yang lain daripada yang diajarkan oleh para Rasul.

          Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal̶, atau “lengkap “. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

          Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

          Nama ‘Gereja Katolik’ pertama diresmikan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya,
          “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.̶
          Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

          Namun, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani, bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus; Di sini kata "Katha holos atau katholikos"; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.̶

          3. Gereja Katolik percaya bahwa Kristus tetap menyertai Gereja-Nya dengan Roh Kudus-Nya sampai akhir jaman. Bentuk penyertaan-Nya ini terlihat nyata dengan perlindungan-Nya terhadap Magisterium Gereja yang tidak mengajarkan sesuatu yang salah/ sesat. Maka yang dilakukan oleh Magisterium adalah mengajar kepada umat tentang iman dan moral sehubungan dengan Kitab Suci dan Tradisi Suci. Yang diajarkan oleh Magisterium ini bukanlah penambahan ajaran manusia, namun sesuatu ajaran yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Ini sesuai dengan janji Kristus kepada Rasul Petrus untuk menyertai Gereja-Nya yang didirikan atas Rasul Petrus itu sampai akhir jaman; sehingga perlindungan atas kewenangan mengajar tersebut tidak hanya berlaku untuk Rasul Petrus tetapi juga untuk para penerusnya.

          4. Anda bertanya, "Saya belum liat ada sesuatu yg bisa menyakinkan saya bahwa dengan masuk katolik atau mengimani iman katolik ada keselamatan, emang gereja katolik menjamin umatnya bisa masuk ke sorga?"

          Keselamatan menurut Kitab Suci adalah sesuatu yang "telah, sedang dan akan",yaitu kita:

          Telah diselamatkan (Rom 8:24; Ef 2:5,8; 2 Tim 1:9; Tit 3:5)

          Sedang dalam proses (1 Kor 1:18; 2 Kor 2:15; Fil. 2:12; 1 Pet 1:9)

          Akan diselamatkan (Mt 10:22, 24:13; Mk 13:13; Mk 16:16; Kis 15:11; Rm 5:9-10; Rm 13:11; 1 Kor 3:15; 2 Tim. 2:11-12; Ibr. 9:28).

          Maka keselamatan sesungguhnya bukan merupakan sesuatu yang diberikan "sekali untuk selamanya" oleh Tuhan (once saved always saved). Sebab kita manusia juga harus turut bekerja sama dengan rahmat Tuhan itu. Jadi, kita diselamatkan karena kasih karunia Allah, oleh iman, yang bekerja oleh kasih (Ef 2:8-9, Gal 5:6), dan ini kita terima pada saat kita dilahirkan kembali dalam air dan Roh (lih. Yoh 3:5). Dengan demikian, ada peran yang harus dilakukan oleh pihak manusia untuk turut mempertahankan rahmat keselamatan yang telah diterimanya melalui Pembaptisan, dan untuk hidup di dalam iman yang dinyatakan dalam perbuatan kasih (Yak 2:24) agar ia dapat memperoleh kesempurnaan penggenapan janji keselamatan ini di surga kelak.

          Jadi memang Gereja Katolik tidak dapat menjamin semua umatnya pasti dapat masuk ke surga (demikian juga sebenarnya gereja lainnya), karena masih ada bagian yang harus dilaksanakan oleh umat yang bersangkutan itu. Namun tentu, Gereja Katolik, sebagai Gereja yang didirikan Kristus sendiri, telah dipercayakan oleh Kristus untuk menyalurkan rahmat Allah yang diperlukan oleh setiap umat-Nya untuk dapat sampai kepada keselamatan itu. Secara khusus, setelah kita dibaptis, kita dapat menyambut Tubuh dan Darah-Nya dalam Ekaristi, kita dapat memperoleh pengampunan-Nya melalui Sakramen Pengampunan Dosa, kita dikuatkan sebagai saksi-Nya melalui sakramen Penguatan. Selanjutnya Tuhan juga memberikan rahmat yang kita perlukan, entah jika memilih kehidupan keluarga, ataupun selibat untuk Kerajaan Allah. Dan pada akhirnya nanti, rahmat Tuhan-pun diberikannya pada saat kita sakit atau menjelang ajal. Sungguh, Tuhan mencurahkan rahmat-Nya, tidak saja pada saat kita berdoa dan merengungkan firman-Nya, tetapi terlebih juga pada saat kita menerima rahmat-Nya yang nyata dalam sakramen- sakramen-Nya. Nah, jika setelah kita menerima semua rahmat itu kita bekerjasama dengan hidup kudus, maka besarlah pengharapan kita bahwa kita dapat terbilang dalam kumpulan orang- orang yang diselamatkan Tuhan.

          Jadi kalau kita ditanya, "Apakah kamu yakin pasti selamat?" Jawabannya adalah, "Saya punya pengharapan yang besar bahwa Tuhan menyelamatkan saya, namun saya juga berdoa agar dapat terus mempertahankan iman saya dalam kasih, hingga akhirnya saya dapat sampai kepada keselamatan kekal yang Tuhan berikan." Dengan demikian, kita dapat tinggal dalam kerendahan hati untuk mengakui bahwa hal menyelamatkan manusia itu sepenuhnya adalah hak Tuhan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

          • 30.1.1.1.1
            johanes says:

            itulah yang dimaksudkan oleh St Paulus sebagai : IMAN, PENGHARAPAN , dan KASIH. Menurut saya kalau ada gereja (protestan) yang berani mengajarkan bahwa “sekali selamat tetap selamat” sepertinya tidak sesuai dengan apa yang St Paulus ajarkan.

      • 30.1.2
        Budi Darmawan Kusumo says:

        lho kalo Gereja Katolik Timur baru ada sejak tahun 867 M, ya berarti Gereja Katolik Timur dong yang menjiplak dari Gereja Katolik Roma ( Barat ), karena yang Gereja Katolik Roma sudah ada sejak YESUS sendiri yang mendirikan

        • 30.1.2.1

          Shalom Budi Darmawan,
          Gereja Timur Othodox memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma pada abad ke- 9 dan pemisahan ini benar- benar nyata pada tahun 1054. Namun mereka sebenarnya juga mempunyai jalur apostolik yang bersumber pada para rasul. Hanya memang pada sekitar abad ke -9 terjadi pemisahan yang dipelopori oleh Photius, berkisar atas istilah ‘filioque’ dalam Credo Aku Percaya. Hal ini pernah dibahas di sini, lihat point 3, Filioque. silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  8. 29
    richard says:

    Izin copy paste ya buat disebar ke media gereja katolik q dan situs pertemanan seperti facebook, friendster, twitter…tenang aja nti gw akan menyebutkan sumber dan nama penulisnya

  9. 28
    andryhart says:

    Shalom,

    Dalam pertemuan lingkungan kami sering disinggung oleh Bapak Prodiakon bahwa keluarga Katolik yang baik harus mendidik anak-anaknya untuk tetap menjadi penganut Katolik yang baik. Mereka harus mencari jodoh yang Katolik dan menikah dengan sakramen pernikahan menurut tatacara Gereja Katolik. Orangtua yang tidak berhasil melakukan hal ini bukanlah penganut Katolik yang baik. Saya sendiri sebagai orangtua merasakan bahwa jika benar demikian, maka saya dan isteri saya bukanlah keluarga Katolik yang baik karena salah satu anak kami telah beralih kepada agama lain kendati tetap di dalam Kristus. Bahkan dia telah membangun gerejanya sendiri dan membiayainya dengan penghasilannya. Meskipun tetap menghormati ajaran gereja Katolik (kadang-kadang dia dan isterinya mau kami ajak retret ke Carmel), namun dia bersama isterinya yang beragama kristen nonKatolik pergi beribadah di gereja mereka.

    Ketika membicarakan hal ini dengan seorang romo, beliau mengatakan bahwa saya tidak perlu merasa berdosa atau risau. Beliau mengatakan (mungkin ingin menghibur saya) bahwa anak saya sudah berbuat kebaikan yaitu dengan melakukan penginjilan yang membuat orang yang belum mengenal Kristus dapat mengenal Kristus. Jadi, hal seperti ini, beliau katakan. tidak perlu membuat saya merasa terikat dalam dosa. Dengan penjelasan beliau, saya ingin bertanya bagaimana pendapat gereja Katolik yang sebenarnya tentang ketidakberhasilan orangtua untuk mempertahankan anak-anak mereka dalam gereja Katolik? Manakah yang lebih bisa diselamatkan, penganut Katolik (yang belum tentu mengikuti ajaran dan teladan Kristus) ataukah pengikut Kristus seperti Mahatma Gandhi yang meskipun bukan Katolik tetapi belajar dan mengajarkan khotbah Kristus di bukit kepada para pengikutnya. Bahkan Mahatma Gandhi melakukan perbuatan yang saya lihat mirip seperti yang dilakukan oleh St Fransiskus Asisi yaitu melaksanakan kaul kemiskinan.

    Atas jawaban Ibu, saya ucapkan terima kasih.

    andryhart

    • 28.1

      Shalom Andryhart,

      1) Terima kasih atas pertanyaannya tentang pendidikan anak-anak. Memang, menjadi tugas orang tua untuk membekali pendidikan anak-anak dengan baik, termasuk adalah membekali mereka dengan iman Katolik yang baik.Tidak semuanya dapat dikontrol oleh orang tua, misalkan pada waktu anak tersebut kuliah, mempunyai pergaulan tersendiri, dll, maka mereka akan memutuskan banyak hal, yang kadang bertentangan dengan orang tua. Yang penting orang tua telah menjalankan bagiannya, dengan mempersiapkan anak-anak untuk dapat mengasihi Yesus dan Gereja-Nya. Dan inilah yang orang luar tidak tahu secara persis, apakah Andryhart dan istri telah membekali anak-anak dengan iman Katolik yang baik. Kalau jawabannya belum, maka Andryhart dan istri dapat mengaku dosa tentang hal ini. Kalau jawabannya sudah, maka tidak ada kesalahan yang diperbuat oleh Andryhart dan istri. Namun, apapun jawabannya, kita tidak dapat merubahnya sesuai dengan kemauan dan waktu kita. Oleh karena itu, berdoalah kepada Tuhan, agar suatu saat, Tuhan memberikan rahmat agar anak dapat kembali kepada Gereja Katolik. Parameter orang tua yang baik adalah yang dapat mempersiapkan anak-anaknya dan seluruh anggota keluarganya masuk dalam Kerajaan Sorga.

      Yakinlah pada penyelenggaraan tangan Tuhan. Berdoalah dengan setia agar Tuhan sendiri yang membukakan hati anak anda, sehingga dia dapat melihat kebenaran di dalam Gereja Katolik. Kalau anda mau, berpuasalah setiap hari Jumat, dan menyatukan anak anda dalam sengsara dan kematian Kristus. Dan terutama, bawalah anak anda dalam setiap perayaan Ekaristi, sehingga intensi anda disatukan dalam pengorbanan Kristus di kayu salib.

      Dalam beberapa kesempatan, ajaklah berdiskusi tentang konsep gereja (ekklesiologi). Berikan kepadanya buku-buku yang baik tentang iman Katolik. Mungkin ada baiknya agar anak anda dapat membaca buku “Rome Sweet Home” karangan Scott Hahn dan Kimberly Hahn. Anda juga dapat mencetak beberapa artikel dari katolisitas.org, sebagai bahan diskusi. Berdiskusilah dengan anak anda tentang iman Katolik dengan hormat dan lemah lembut. Kalau ada perbedaan pendapat, sikapilah dengan bijaksana. Dan kalau ada pertanyaan dari hasil diskusi tersebut, silakan bertanya kepada site-site katolik maupun kepada katolisitas.org. Kami, akan berusaha semampu kami untuk membantu.

      2) Tentang keselamatan, anda dapat membaca beberapa artikel tanya-jawab tentang keselamatan di arsip tanya jawab berikut ini:

      Dosa berat dalam hubungannya dengan keselamatan – Dec 16, 2009
      Sesudah selamat lalu apa? – Oct 27, 2009
      Keselamatan dan hubungannya dengan Baptisan – Sep 21, 2009
      Mengapa Yesus disunat, kita tidak? – Sep 15, 2009
      Apakah keselamatan yang sudah diperoleh melalui Pembaptisan dapat hilang? – Aug 25, 2009
      Mengapa Yesus memilih salib untuk menebus dosa manusia? – Aug 24, 2009
      Keselamatan adalah anugerah Allah? – Aug 18, 2009
      Apakah yang diselamatkan hanya orang Katolik dan yang lainnya pasti masuk neraka? – Aug 4, 2009
      Keselamatan: theosentris, kristosentris, eklesiosentris? – Jun 25, 2009
      Apakah orang Katolik dijamin pasti selamat? – May 26, 2009
      Tidak ada keselamatan kecuali melalui Yesus – Jan 5, 2009
      Tidak cukup menerima Yesus di hati saja – Dec 27, 2008
      Sekali selamat tetap selamat – tidak Alkitabiah – Dec 22, 2008
      Siapa saja yang dapat diselamatkan? – Dec 17, 2008
      Apakah agama membuat orang masuk Sorga? – Dec 15, 2008
      Apakah orang yang tidak dibaptis masuk neraka? – Nov 24, 2008
      Adakah Keselamatan di luar Tuhan Yesus/ Gereja Katolik? – Aug 20, 2008

        Lumen Gentium, 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.” Yang kita tidak tahu adalah apakah sebelum anak anda memutuskan untuk pindah atau mendirikan Gereja, telah benar-benar mencari tahu tentang kebenaran iman Katolik. Kalau dia benar-benar mencari tahu dengan sungguh-sungguh, menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi, maka kita serahkan keselatannya kepada Yesus. Kalau dia benar-benar mencari kebenaran di atas kepentingan pribadi, maka dia akan dapat kembali ke pangkuan Gereja Katolik.

        Kalau di suruh memilih antara Mahatma Gandi yang tidak menjadi Katolik dan seorang Katolik yang tidak menjalankan iman Katolik dengan benar, maka saya tidak memilih keduanya. Yang saya pilih adalah menjadi seorang Katolik, yang mengasihi Yesus dan Gereja-Nya, dan senantiasa berusaha untuk bertumbuh dalam kekudusan. Dan inilah yang ditunjukkan oleh para santo-santo yang hidup sepanjang sejarah Gereja.

        Jadi, sekali lagi, saya turut merasakan keprihatinan Andryhart. Saya pikir, lakukan apa yang dapat Andryhart kontrol, misalkan: doa, misa harian (kalau mungkin), mengaku dosa secara teratur, puasa, dll. agar anak anda dapat kembali ke Gereja Katolik. Kemudian jadilah suami yang baik, dan ayah yang baik bagi anak-anak, sehingga mereka dapat melihat seorang Katolik yang menjalankan iman Katoliknya dengan baik. Setelah itu, serahkan semuanya pada Tuhan, karena hanya Dialah yang dapat merubah hati seseorang. Semoga dapat membantu.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – http://www.katolisitas.org

      • 28.2
        Felix Sugiharto says:

        Shalom sdr Andryhart

        Penuturan yang anda alami hampir serupa dengan “keadaan” yang saya jalaninya saat ini, pergumulan ini telah membawa saya hampir selama 12 tahun lamanya dan saat ini masih berlangsung. Apapun yang anda ceritakan mungkin masih merupakan sebagian dari yang anda alami, dimana anda merpakan keluarga Katolik, saat ini anak anda telah tumbuh dewasa serta telah berkeluarga..

        Pengalaman saya sedikit berbeda, saya membangun keluarga belum dilandasi oleh agama manapun, pernikahan kami di karuniai 2 orang anak akan tetapi saya tetap memilih menyerahkan pendidikan anak2 saya di sekolah Katolik sejak mereka TK hingga SMA.

        Anak puteri (sulung) kami oleh karena tuntutan syarat pendidikan di sebuah sekolah Katolik ternama, sehingga di baptis di Gereja Katolik dengan iman yang percaya kepada Yesus. Anak ini sejak duduk di bangku 5 SD sudah sering diajak.. ditarik.. dijemput ke Gereja Kristen dengan keramah tamahan oleh komunitas Gereja ini, (disebabkan Gereja ini tepat bertetangga dengan dimana tempat kami tinggal) akibatnya… isteri berkiblat pada Kristen, setiap hari (hampir tiap sore) anak-anak aktif dalam komunitas Gereja tsb.

        Saya pernah konseling dengan Pastor yang membaptis puteri kami, beliau mengatakan selama si anak tsb masih tidak meninggalkan Yesus, hidup di dalam komunitas lingkungan yang sehat masih merupakan keadaan yang baik, sehingga mendorong saya untuk senantiasa memantau dan mengamati pertumbuhan si anak bukan dengan sikap yang melarang. sampai saat ini puteri kami tidak pernah menginjakkan kaki di Gereja Katolik lagi… sebagai orang tua saya hanya bisa berdoa agar Terang Kristus menunjukkan jalan dan menuntun jalan kehidupan bagi si anak…

        Satu hal yang ingin saya sharingkan pada anda, bahwa Gereja non Katolik (protestan) sangat haus dengan umat-umat dari Gereja Katolik, mereka sangat kuat dalam mempengaruhi mental seseorang.. jika yang menjadi obyek sasaran tidak dalam keadaan di bekali oleh “dasar iman katolik” yang kuat. Cara awal mereka yang sangat lazim (umum) adalah: “Gereja kita sama-sama menyembah Yesus..” “Alkitabnya juga sama toh..” (tawaran mereka dengan mengutarakan kesamaan dengan mereka). Kemudian mereka akan memasukkan pemikiran negative seperti “Pengakuan Dosa” “Menyembah Bunda Maria” “Baptisan Katolik tidak sah” “Gereja Katoli tidak alkitabiah” “hal iman akan bertumbuh di Gereja mereka” “Paus juga orang biasa” “Hirarkis Gereja Katolik mengikat kebebasan manusia” dan bermacam2 sharing2 aktif secara berkelompok untuk tak henti-hentinya memasukkan faham mereka…. (mungkin ini yang menyebabkan anak anda berpaling seperti anak saya).

        Bukan merupakan kesalahan kita sebagai orang tua, harus di akui semua ini merupakan kehendak Tuhan… mungkin semua ini merupakan cara jalan pewartaan yang di inginkan-Nya. Tapi menurut saya, sebagai orang tua seharusnya menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana, memberikan gambaran tentang ajaran Kebenaran yang bisa mencerminkan tauladan bagi sang anak. Kita sendiripun juga harus “lebih tekun” dalam kehidupan rohani kita, memperdalam Iman Katolik kita.. banyak mengadakan persekutuan doa lingkungan dalam keluarga sendiri, serta mengusahakan komunikasi sehat dengan si anak.. dan bawa masalah ini setiap kali di dalam doa-doa kita.

        Demikian sekilas sharing pendapat juga pengalaman kami, mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca sekalian.

        Salam Damai Kristus.
        Felix Sugiharto.

        • 28.2.1

          Shalom Felix Sugiharto,

          Terima kasih atas sharingnya. Sudah selayaknya, sebagai orang tua kita harus berusaha untuk benar-benar memberikan pendidikan iman Katolik kepada anak-anak. Saya cenderung untuk melarang anak-anak untuk bergabung dengan kegiatan dari agama Kristen non-Katolik, karena lama kelamaan, mereka akan terpengaruh dan pindah gereja. Kita tahu bahwa keselamatan kita datang dari Kristus melalui Gereja-Nya. Jadi, tidak cukup hanya dengan asalkan mengenal Yesus saja maka telah cukup, apalagi sebelumnya anak tersebut telah berada di dalam Gereja Katolik. Oleh karena itu, kalau ada anak yang pindah ke gereja lain, maka sudah selayaknya dalam beberapa kesempatan mereka dapat diajak berdiskusi dan tentu saja melalui kesaksian hidup kita. Kalau anda mau, maka anak-anak anda dapat berdiskusi di situs ini, sehingga diharapkan agar mereka dapat mengenal dan mengasihi iman Katolik. Namun, banyak anak muda yang mungkin tidak terlalu perduli akan ajaran, karena mereka lebih mementingkan persahabatan. Oleh karena itu, langkah pertama, mungkin anak-anak harus diajak ke komunitas Katolik yang baik, yang menawarkan keakraban, dll. Anda dapat mencoba mengajak mereka ke Legio Mariae atau juga Persekutuan Doa Katolik. Nanti, dalam lingkungan Katolik yang baik, maka lama-kelamaan motif untuk berteman dapat terus bertumbuh dan diganti dengan motif untuk mengasihi Kristus. Dan jangan lupa untuk mendoakan mereka. Ajaklah seluruh keluarga untuk berdoa bersama. Janganlah kita lupakan, bahwa suami adalah iman di dalam keluarga. Kami turut mendoakan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

    • 27
      hendri says:

      Hati saya sedih melihat banyak orang non katolik menyerang gereja katolik bertubi2….
      mengapa mereka terus2an mencari2 kesalahan pada kita… sedangkan kita tidak pernah menyinggung mereka…

      Semoga Kasih Tuhan tetap menguatkan Iman kita dan semoga kita bisa mempertanggungjawabkan iman kita
      dengan lemah lembut dan hormat..

      1 Petr 3:15
      Rom 1:16

      Tuhan Memberkati kita semua!

      • 27.1

        Shalom Hendri,

        Terima kasih untuk masukannya. Kadang kala saya juga merasakan kesedihan yang sama. Namun, di satu sisi hal ini harus memacu kita, agar kita dapat semakin giat untuk belajar tentang iman Katolik, sehingga pada saat ada yang bertanya, kita dapat menjelaskannya dengan baik (1 Pet 3:15). Kita juga harus berfikir dan menganggap bahwa orang yang bertanya mempunyai maksud baik, yaitu ingin menyadarkan kita akan pengajaran yang mereka anggap keliru. Biasanya setelah mereka mendengar penjelasan yang baik tentang iman Katolik, mereka akan tahu bahwa iman Katolik mempunyai dasar yang kuat. Kita juga dapat berdoa untuk mereka, agar suatu saat mereka dapat melihat dan menerima kebenaran iman Katolik. Namun, kita tidak bsisa mengubah hati seseorang. Oleh karena itu, kita berdoa agar Roh Kudus, Roh Kebenaran dapat juga memberikan inspirasi kepada orang tersebut.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – http://www.katolisitas.org

    • 26
      Aquilino Amaral says:

      Saya sampai tidak habis berpikir tentang para golongan dari gereja lain masih tetap keras kepala mempertahankan gereja mereka dan/atau pandagan mereka yang keliru terhadap gereja dan terlebih salah penabsiran terhadap Alkitab. maka dengan rahmat kasih Yesus Kristus dapat membimbing arah dan pandangan mereka agar mereka sadar bahwa gereja Katoliklah gereja yang didirikan oleh Tuhan kepada Rasul Petrus.

      Semoga gereja lain dapat dibimbing oleh roh kudus yang sama. Amin

      Aquilino Amaral

    • 25
      skywalker says:

      [quote] Kenyataannya, Gereja Katolik tetap bertahan walaupun menghadapi berbagai permasalahan Gereja, baik dari luar maupun dari dalam. Hal ini membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang Yesus janjikan. Kalau Gereja Katolik hanya buatan manusia, seharusnya Gereja Katolik sudah runtuh dan lenyap tak berbekas [unquote]

      apakah kalau sesuatu itu tidak runtuh SELALU membuktikan bahwa ybs bukan buatan manusia ?
      argumen yang sama bisa diklaim oleh SEMUA agama-agama besar dunia yang lain bukan ?
      Bahkan mungkin pun dapat diklaim oleh paham macam kapitalisme – karena kapitalisme tetap bertahan maka ia bukan buatan manusia ?

      mohon koreksi

      • 25.1

        Shalom Skywalker,

        Terima kasih atas pertanyaannya. Pada waktu saya menulis "Kenyataannya, Gereja Katolik tetap bertahan walaupun menghadapi berbagai permasalahan Gereja, baik dari luar maupun dari dalam. Hal ini membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang Yesus janjikan. Kalau Gereja Katolik hanya buatan manusia, seharusnya Gereja Katolik sudah runtuh dan lenyap tak berbekas", maka ini adalah satu argumentasi yang saya kemukakan untuk menjawab orang-orang yang berkata bahwa Gereja Katolik bukanlah Gereja yang didirikan oleh Kristus, karena terjadi penyelewengan yang dilakukan oleh orang-orang di dalamnya.

        Argumentasi di atas tidak dapat dilepas secara terpisah dari argumentasi sebelumnya, yang dapat disingkat sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Dan mungkin juga perlu dipahami bahwa Gereja Katolik telah bertahan selama 2000 tahun lebih dengan membawa empat tanda tersebut. Dan inilah yang membuat Gereja Katolik dapat dipercaya sebagai Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri, yang dikuatkan dengan janji Kristus sendiri "Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." (Mt 16:18-18).

        Semoga dapat memperjelas.
        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – http://www.katolisitas.org

        • 25.1.1
          skywalker says:

          berkait dengan ajaran bahwa gereja itu KUDUS
          bagaimana penyimpangan para klerus seperti ini dapat diterangkan ?
          http://network.nationalpost.com/np/blogs/fullcomment/archive/2009/05/21/ireland-contemplates-its-holocaust-of-abuse-and-decades-of-denial.aspx

          mohon nasehat

          • 25.1.1.1

            Shalom Skywalker,

            Terima kasih atas pertanyaannya tentang kekudusan Gereja namun dijumpai penyimpangan-penyimpangan. Untuk ini saya ingin mengutip KGK, 678 : Gereja adalah kudus: Roh Kudus adalah asalnya; Kristus, Mempelainya, telah menyerahkan Diri untuknya, untuk menguduskannya; Roh kekudusan menghidupkannya. Memang orang berdosa juga termasuk di dalamnya, tetapi ia adalah "yang tak berdosa, yang terdiri dari orang-orang berdosa". Dalam orang-orang kudusnya terpancar kekudusannya; di dalam Maria ia sudah kudus secara sempurna."

            Dari pertanyataan dokumen di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa pada waktu Gereja Katolik mengatakan bahwa kita percaya akan gereja yang "kudus", maka ini mengacu kepada Kristus sebagai kepala Gereja dan Roh Kudus yang terus-menerus berkarya di dalam Gereja. Namun Gereja yang mengembara di dunia ini terdiri dari para kudus dan para pendosa. Kekudusan dari para santa dan santo menyebabkan mereka menjadi suatu refleksi dari Kristus sendiri yang adalah Kudus. Dan para santa-santo bekerja sama dengan Roh Kudus untuk mengikuti kehendak Bapa. Para pendosa di dalam Gereja dapat menjadi batu sandungan, namun pada saat bersamaan dapat memurnikan Gereja. Gereja adalah lebih besar dari masing-masing individu. Gereja di dunia ini adalah Gereja yang masih mengembara menuju Surga. Oleh karena itu, Gereja akan senantiasa mengalami proses pemurnian dan pertobatan yang terus menerus, sampai pada akhirnya semuanya bersatu di dalam Gereja yang jaya, di Surga. Gereja yang mengembara di dunia ini, yang menderita di Api Penyucian, dan Gereja yang jaya di Surga, bukanlah tiga Gereja, namun satu Gereja, yaitu Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

            Semoga dapat memperjelas.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            stef – http://www.katolisitas.org

            • 25.1.1.1.1
              skywalker says:

              penjelasan yang amat baik
              terima kasih edukasi nya
              highlighted :
              [quote] Gereja akan senantiasa mengalami proses pemurnian dan pertobatan yang terus menerus, sampai pada akhirnya semuanya bersatu di dalam Gereja yang jaya, di Surga
              [unquoted]

    • 24
      christ says:

      p stef, saya butuh artikel tentang perpecahan gereja(lengkap), termasuk bidaah-bidaah yang sekarang mulai marak lagi (saksi yehova). 2 orang saudara ketua lingkungan saya sudah 2 tahun ini ikut aliran ini di jakarta. tolong ya pak, terima kasih. berkah Dalem…

    • 23
      skywalker says:

      Berita dari Irlandia seputar abuse oleh oknum kaum berjubah menambah lembaran hitam gereja Katolik
      http://network.nationalpost.com/np/blogs/fullcomment/archive/2009/05/21/ireland-contemplates-its-holocaust-of-abuse-and-decades-of-denial.aspx

      teoritis, gereja katolik – mungkin saja lebih unggul [seperti kita bisa baca diatas] – namun pada akhirnya gereja tidak lebih dari sekumpulan manusia yang lemah dan rentan terhadap dosa
      semoga hal macam ini hanya kasus yang terisolasi dan bukan kanker yang sudah menyebar dalam dan membusukan gereja

      • 23.1

        Shalom Skywalker,
        Ya, selayaknya kita memang turut berprihatin jika membaca berita-berita negatif seperti yang ada di link yang anda sebutkan. Ini memang menunjukkan bahwa Gereja memang mempunyai aspek ilahi dan aspek manusiawi. Aspek ilahinya sungguh kudus, sebab Gereja didirikan oleh Kristus dan dijiwai oleh Roh Kudus, namun, aspek manusiawinya, memang senantiasa harus terus bertobat dan berjuang untuk hidup kudus. Dengan kata lain, kita memang harus menerima, bahwa Gereja memang terdiri dari orang-orang kudus dan pendosa; "saints and sinners", dan memang sepanjang kita hidup di dunia, kita semua harus berjuang untuk bertumbuh dalam kekudusan. Tak hanya para imam, tetapi juga para awam. Kita, para awam juga harus tekum berdoa bagi para imam, agar Tuhan menjaga mereka dari segala godaan dan menjadikan mereka imam yang kudus, dan teladan bagi umat.
        Jika kita membaca berita negatif tentang imam, maka mari kita bertanya juga pada diri sendiri, sudahkah kita rajin berdoa bagi mereka? Memang para imam adalah manusia biasa, namun sebenarnya mereka telah dipilih Allah secara khusus untuk melanjutkan pelayanan-Nya di dunia. Oleh karena itu, kita para awam juga harus mendukung para imam dengan doa maupun dengan kemampuan kita untuk bekerja sama dan mendukung pelayanan mereka.
        George Weigel mengarang buku yang berjudul, The Courage to be Catholic, yang juga menjabarkan kisah krisis yang terjadi dalam Gereja, khususnya yang terjadi di Amerika tahun 2002. Akar masalahnya adalah, menurut Weigel,  krisis kesetiaan/ fidelity, terhadap doktrin ajaran Gereja yang murni. Sebab yang ’salah’ bukan doktrinnya, tetapi faktor manusianya. Namun di akhir bukunya itu, Weigel juga menyampaikan adanya titik terang, bahwa melalui segala macam problem itu Gereja malah dimurnikan. Para calon imam yang berasal dari generasi muda saat ini malah menjadi lebih waspada dengan tantangan tersebut, dan motivasi mereka untuk menanggapi panggilan Tuhan menjadi lebih murni. Kita juga perlu lebih objektif untuk melihat bahwa memang kejadian-kejadian negatif tersebut sungguh menyedihkan, tetapi ada lebih banyak fakta positif yang bertumbuh dalam kehidupan Gereja. Dan untuk itu marilah kita mensyukurinya.
        Bagi kita orang awam, memang tantangannya adalah bagaimana agar kita berjuang untuk hidup kudus. Sebab segala yang buruk hanya dapat dikalahkan dengan kebaikan; ketidaksetiaan dengan kesetiaan; dan itu dimulai dari kita masing-masing.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.

        • 23.1.1
          skywalker says:

          [quote] Memang para imam adalah manusia biasa, namun sebenarnya mereka telah dipilih Allah secara khusus untuk melanjutkan pelayanan-Nya di dunia [unquote]

          terlalu berat sebelah IMHO – karena anda dan saya yang tidak dipanggil jadi klerus tetap juga melayani ALLAH dengan cara kita masing2 – Gereja Katolik IMHO bosa jatuh pada kultus klerus- menomor duakan awam (sekaligus melanggengkan ketimpangan dan ketergantungan awam pada klerus)
          saya tidak anti klerus – yang mau dan merasa dipanggil silakan saja – tetapi tidak lantas klerus menjadi lapisan elit tersendiri yang berhak atas privilese – kalau minta privilese karena sudah berkorban (misal tidak menikah dsb) – boleh ditanya balik apakah ybs sungguh rela dan (sungguh dipanggil)
          sudah waktunya untuk memandang awam dan klerus sebagai bagian setara dari tubuh mistik Kristus.

          Panggilan mengapa jadi identik dengan panggilan masuk biara ? saya pun dipanggil dalam bidang kerja saya dan dalam keluarga saya – apa itu tidak ada nilanya dimata ALLAH ?

          mohon koreksian

          • 23.1.1.1

            Shalom Skywalker,

            Pada waktu Ingrid menulis "Memang para imam adalah manusia biasa, namun sebenarnya mereka telah dipilih Allah secara khusus untuk melanjutkan pelayanan-Nya di dunia", sebenarnya ini untuk memberikan penekanan atas pentingnya para iman, karena mereka mempunyai tempat tersendiri di dalam Gereja. Jawaban tersebut bukan untuk mengecilkan kaum awam. Baik klerus maupun awam dipanggil untuk melayani Gereja, untuk membangun Tubuh Mistik Kristus. Masing-masing mempunyai cara dan bagian masing-masing untuk berpartisipasi.

            Apakah klerus menjadi lapisan elit tersendiri? Saya tidak mau memakai perkataan elit, yang berkonotasi sebuah kelompok yang seolah-olah yang terbaik dan mempunyai kekuasaan. Namun, kaum Klerus mempunyai tempat tersendiri di dalam Gereja karena memang mereka bertindak "in persona Christi", yang ditandai dengan Sakramen Imamat, yang tidak akan terhapuskan. Dan Tuhan sendirilah yang memilih mereka. Namun dalam keistimewaan ini, mereka tidak minta untuk dilayani, namun melayani. Seperti kaum klerus yang mempunyai bagian istimewa dalam membangun tubuh Kristus, kaum awam juga mempunyai bagian tersendiri untuk membangun Gereja, yaitu dengan menjadi garam dan ragi di tempat mereka berada. Komunitas di tempat mereka berada inilah yang tidak dapat terjangkau oleh para klerus. Para klerus mempunyai tugas untuk melayani kaum awam, sehingga kaum awam mempunyai kekuatan untuk menjadi garam dan ragi dunia.

            Mari kita melihat perbedaan tersebut bukan sebagai dua hal yang saling bertentangan dan saling menyaingi, namun kedua-duanya terikat dalam kasih Kristus dalam ikatan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            stef – http://www.katolisitas.org

            • 23.1.1.1.1
              skywalker says:

              terima kasih koreksinya

              lanjutan pertanyaan
              [quote] karena memang mereka bertindak “in persona Christi”, yang ditandai dengan Sakramen Imamat, yang tidak akan terhapuskan.Dan Tuhan sendirilah yang memilih mereka [quote]

              a) apakah SETIAP saat Imam tersebut [quote] bertindak “in persona Christi”, [unquote} ? atau HANYA saat mempersembahkan misa ? Jika mereka 24 jam dan 7 hari [quote] bertindak “in persona Christi”, [unquote} mungkin mereka tidak manusia lagi - tetapi deitas
              b) Apakah Imam yang memutuskan untuk melepas jubah tetap [quote] bertindak “in persona Christi”, [unquote} karena anda menulis [quote ] tidak akan terhapuskan [unqoute]
              c) Berkait dengan imam yang lepas jubah versus [quote ] Dan Tuhan sendirilah yang memilih mereka [ [unqoute] ; apakah ini kasus imam yang salah dengar [merasa dapat panggilan padahal tidak] atau kasus “salah pilih” ?

              mohon nasehat

              • 23.1.1.1.1.1

                Shalom Skywalker,

                Terima kasih atas komentarnya. Mari kita membahas tentang imam sebagai "in persona Christi", yang dimateraikan oleh Sakramen Imamat. Berikut ini adalah yang diajarkan tentang oleh Katekismus Gereja Katolik (KGK) dan Kitab Hukum Kanonik (KHK).

                KGK 1548: "Kristus sendiri hadir dalam pelayanan gerejani dari imam yang ditahbiskan dalam Gereja-Nya sebagai Kepala Tubuh-Nya, Gembala kawanan-Nya, Imam Agung kurban penebusan, dan Guru kebenaran. Gereja menyatakan ini dengan berkata bahwa seorang imam, berkat Sakramen Tahbisan, bertindak "atas nama Kristus, Kepala" [in persona Christi capitis] (Bdk. LG 10; 28; SC 33; CD 11; PO 2; 6.).
                "Inilah Imam yang sama, Yesus Kristus, yang pribadi kudus-Nya diwakili oleh pelayan yang dipanggil. Oleh tahbisan imam, ia menjadi serupa dengan Imam Agung; ia mempunyai wewenang, supaya bertindak dalam kekuatan dan sebagai pengganti pribadi Kristus sendiri [virtute ac persona ipsius Christi]" (Pius XII, Ens. "Mediator Dei"). "Kristus adalah sumber setiap imamat; karena imam Hukum [Lama] adalah citranya. Tetapi imam Perjanjian Baru bertindak atas nama Kristus" (Thomas Aqu., s.th. 3,22,4).
                "

                KGK, 875: "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadanya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada, yang memberitakannya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakannya, jika mereka tidak diutus?" (Rm 10:14-15). Tidak ada siapa pun, individu atau kelompok yang dapat mewartakan Injil kepada dirinya sendiri. "Jadi, iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus" (Rm 10:17). Tidak ada seorang pun dapat memberi kepada diri sendiri tugas dan perutusan untuk mewartakan Injil. Orang yang diutus Tuhan tidak berbicara dan bertindak atas wewenangnya sendiri, tetapi berkat wewenang Kristus; ia berbicara kepada umat, bukan sebagai salah seorang anggota, melainkan atas nama Kristus. Tidak ada seorang pun dapat memberi rahmat kepada diri sendiri; rahmat harus dikaruniakan dan ditawarkan. Semuanya itu mengandaikan adanya pelayan rahmat, yang diberi kuasa oleh Kristus. Dari Dia mereka menerima perutusan dan wewenang [kekuasaan kudus] untuk bertindak "dalam nama Kristus, Kepala" [in persona Christi Capitis]. Jabatan ini, di mana orang-orang yang diutus Kristus karena rahmat Allah melakukan dan memberi, apa yang mereka tidak dapat lakukan dan berikan dari dirinya sendiri, oleh tradisi Gereja dinamakan "Sakramen". Jabatan pelayanan di dalam Gereja diterima oleh suatu Sakramen khusus."

                KHK, 1008: "Dengan sakramen tahbisan menurut ketetapan ilahi sejumlah orang dari kaum beriman kristiani diangkat menjadi pelayan-pelayan suci, dengan ditandai oleh meterai yang tak terhapuskan, yakni dikuduskan dan ditugaskan untuk menggembalakan umat Allah, dengan melaksanakan dalam pribadi Kristus Kepala, masing-masing menurut tingkatannya, tugas-tugas mengajar, menguduskan dan memimpin."

                a) Dari hal di atas, maka kita dapat melihat bahwa "in persona Christi" bersumber pada Kristus sendiri yang mengalir dari Sakramen Imamat (KGK, 1548). Oleh karena itu, seorang pastor dapat bertindak in persona Christi setelah dia menerima tahbisan iman. Melalui tahbisan iman, dia mempresentasikan Kristus sebagai raja (governing/kingly office) untuk memimpin, imam (priestly office) untuk menguduskan, dan nabi (prophetic office) untuk mengajar (lih KHK, 1008). Sama seperti baptisan yang diterima oleh semua orang tidak hilang karena dosa berat, maka karakter Sakramen Imamat tidak juga hilang karena dosa yang dilakukan oleh imam yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan tiga sakramen – Sakramen Baptis, Imamat, dan Penguatan – memberikan tanda yang tak dapat hilang. Tanda spiritual untuk melakukan in persona Christi secara jelas dimanifestasikan pada saat seorang imam melakukan konsekrasi dalam Sakramen Ekaristi atau memberikan pengampunan dalam Sakramen Tobat. Dan tugas mengajar dimanifestasikan secara penuh dalam diri Paus – pada saat dia mengajar dalam kapasitas ex-catedra – dan dalam diri para uskup dalam kesatuan dengan Paus, pada saat mereka mengajarkan kebenaran karena tugas mereka penerus rasul Petrus.

                Namun bagaimana jika para imam atau uskup mengajarkan sesuatu yang salah? Sesuatu yang salah tidak dapat mewakili Kristus, dan datang dari diri mereka sendiri. Hal ini dilakukan jika mereka menolak berkat khusus yang dicurahkan kepada mereka.

                b) Imam yang melepaskan jubah tetap mempunyai karakter imamat, yang memungkinkan mereka bertindak in persona Christi dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti: dalam kondisi darurat. Oleh karena itu KHK, 976 mengatakan "Imam manapun, meski tidak memiliki kewenangan menerima pengakuan, dapat memberi absolusi secara sah dan licit peniten manapun yang berada dalam bahaya maut dari segala censura dan dosa, meskipun hadir juga seorang imam lain yang memiliki kewenangan."

                Tentu saja karena imam ini tidak mempunyai faculty atau kewenangan yang diberikan Gereja, secara otomatis mereka kehilangan in persona Christi dalam hal mengajar (prophetic office) dan memimpin (kingly office).

                c) Pada waktu seseorang ingin menjadi imam, maka tugas dari orang tersebut dan juga pembimbing rohani mencoba melihat apakah benar-benar orang tersebut dapat menjadi imam yang baik (discernment process). Dan selama masa persiapan, calon imam ini dengan pembimbing rohaninya senantiasa menganalisa panggilan ini. Kalau sampai semua proses ini dijalankan dengan baik (bisa sampai memakan waktu 7 tahun) sampai tahbisan, dan kemudian hari imam ini kemudian keluar, maka dapat dikatakan bahwa imam tersebut mungkin kurang berhati-hati dalam proses "discernment" yang berakibat pada salah pilih atau mungkin proses "discernment" benar, namun tidak dapat meneruskan karena godaan dunia ini. Tuhan dapat memanggil mereka, namun Tuhan juga menghormati kehendak bebas mereka.

                Semoga dapat menjawab pertanyaan anda.

                Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                stef – http://www.katolisitas.org

    • 22
      Mari says:

      Shalom
      Saudara stefanus, saudara ingrid.
      Saya kagum ama kalian yg begitu sabar mau mnjawab pertanyaan kami. Oiya sbenarnya saya dari agama kristen, saya mau tanya kalo di ibadah kristen tiap blnnya ada perpuluhan,apa benar di misa katolik tdk ada perpuluhan? Jika memang tidak ada bukannya trdapat di kitab mal 3:6-12. Saya mau nanya lg, misalnya saya d kristen sdh di baptis lalu saya pindah ke katolik apa perlu d baptis ulang, jika memang iya knapa? Sblmnya saya minta maaf kalo ada kata2 yg salah.
      GBU

      • 22.1

        Shalom Mari,

        Selamat datang di katolisitas.org dan terima kasih atas pertanyaan dan dukungannya terhadap katolisitas.org. Mari kita melihat pertanyaan Mari satu persatu.

        I. Tentang perpuluhan: saya pernah menjawabnya di sini (silakan klik).

        II. Dari Kristen menjadi Katolik apakah perlu dibaptis ulang?: Ingrid pernah menjawabnya disini (silakan klik).

        Silakan untuk membaca kedua jawaban tersebut. Nanti kalau ada pertanyaan lagi sehubungan dengan kedua hal tersebut di atas atau pertanyaan yang lain silakan untuk bertanya lagi. Semoga kedua jawaban tersebut dapat menjawab pertanyaan Mari.
        Saya juga ingin mengusulkan agar Mari dapat mengubungi pastor paroki di daerah tempat Mari tinggal, sehingga pastor dapat membimbing Mari untuk menjadi seorang katolik. Semoga Tuhan memberkati perjalanan Mari untuk menjadi seorang Katolik. Gereja ibaratnya adalah seorang ibu, yang senantiasa menantikan anak-anaknya untuk kembali pulang ke rumah. Menjadi suatu kegembiraan yang tak terhingga bagi seorang ibu untuk mengatakan kepada anak-anaknya "Welcome home…"

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – http://www.katolisitas.org

    • 21
      bram says:

      salam damai dalam Tuhan…..

      Saya menulis beberapa pertanyaan,  mohon kiranya untuk bisa dijawab, karena saya dan beberapa umat merasa ada yang kurang benar. pertanyaan saya: 1. apakah di gereja katolik tidak mengenal organisasi atau hieraraki atau struktur (karena beberapa tokoh umat dan romo menyatakan bahwa kita ini adalah organism), menurut penangkapan saya, adalah organisasi itu ada ketua, sekretaris, bendahara dan beberapa anggota sehingga muncul struktur, dari struktur itu punya arutan main atau AD/ART. sedangkan organiesm atau organisme adalah sebuah bentuk yang tidak memiliki struktur sehingga tidak diperlukannya struktur. dari pemahaman saya yang seperti ini maka muncul pertanyaan dalam diri saya yang benar yang mana (conflict interest). bila dalam gereja katolik ada struktur kiranya romo/bapak/ibu yang berkenan menjawab hal ini, sekali lagi bila berkenan pula mohon saya diberi contoh struktur yang baku beserta tugas pokoknya dan kewenangannya, bila sebuah organism mohon pula saya diberi contoh dan kewenangannya pula 2. apakah terjadi perubahan tatacara peribadatan di gereja katolik khususnya saat ibadat sabda, karena ditempat saya persembahan itu dilaksanakan pada saat pengumuman artinya setelah ibadat akan selesai, biasanya setelah homili atau doa umat dilanjutkan persembahan (asumsi saya adalah ini adalah sedikit hasil dari aktivitas saya selama 1 minggu dalam konteks masih dalam lingkup peribadatan). mudah-mudahan saya salah mengartikannya, jika memang terjadi perubahan mohon kiranya para mengasuh rubrik bisa memberikan tatacara peribadatan yang benar. 3. apakah dengan ditetapkannya tahun 2009 sebagai tahun paguyuban, ada sebuah kebijakan bahwa stasi/wilayah dalam mengumpulkan kas atau dana untuk kepentingan gereja dibatasai besarannya oleh paroki setempat, karena ada wacana demikian jika terjadi kelebihan maka dana tersebut akan diminta/ditarik ke paroki untuk pemerataan (dalam praktek siapa tahu), apakah dengan dihembuskannya issu ini tidak menjadikan umat di wilayah menjadi tidak nyaman karena meskipun uang tidak diminta jika paroki butuh dana toh akan minta sumbangan ke umat (hal itu biasa terjadi karena kita satu keluarga), asumsi saya jika di gereja/kapel wilayah ada sedikit kerusakan (lampu mati, lilin habis,hosti habis, dll) yang tidak terlalu besar bisa membeli sendiri sehingga romo pada saat misa tidak perlu bawa kesana kemari (tidak saja paroki yang menjadi mandiri apakah wilayah/stasi menjadi mandiri itu dilarang sebelum parokinya madiri????). saya menjadi bingung dengan aturan yang ada saat ini..(karena pengalaman kami saat kami memperbaiki gereja pada saat itu tidak minta sumbangan paroki atau gereja lain tetapi murni dari umat mengumpulkan sedikit demi sedikit dari nilai 10.000 setiap minggunya hingga bertahun2 (bukan sumbangan umat yang ditentukan tetapi satu wilayah siapa yang rela menyisihkan 500, 1000, dst), sekarang dengan adanya issu yang dihembuskan ini, saya merasa harus bergantung kepada paroki jika begitu. mohon batuan untuk dijelaskan…. jika ada surat edaran memang harus dibatasi mohon saya diberi copiannya…???? 4. apakah ada forum online tentang segala sesuatu hal mengenai gereja katolik…. bila berkenan mohon saya diberi website atau situs mana yang perlu saya kunjungi…. sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf yang sebsar-besarnya….karena pertanyaan saya mungkin tidak penting tetapi di wilayah saya yang terpencil dan terjepit ini sangat penting sekali..karena semuanya awam tentang gereja katolik… sekali lagi saya mohon maaf tidak ada maksud apa-apa dari semua pertanyaan saya ini tetapi saya hanya butuh kejelasannya saja…. atas bantuan dan jawabannya saya ucapkan terimakasih…… damai kristus beserta kita…….. aminnnnnn

      • 21.1

        Shalom Bram Kris,

        Berikut ini jawaban pertanyaan anda dari Romo Wanta dan saya: 

        1. Pada dasarnya, kita perlu mengetahui bahwa Gereja adalah Umat Allah, yang memiliki dimensi spiritual/ rohani (yang tak kelihatan) dan dimensi jasmani (yang kelihatan) dalam bentuk manusianya dan struktur organisasinya. Maka Gereja merupakan persekutuan communio, societas religius namun ada di tengah dunia. Maka pada prinsipnya orgamism dan organisasi tidak dapat dipisahkan. Hal ini jelas dijabarkan dalam Lumen Gentium (LG) 9, 23, dan KHK Kan. 204, 2 teksnya sebagai berikut:

        LG 9, tentang Gereja sebagai Umat pilihan Allah (‘Israel’) yang baru:
        "Adapun seperti Israel menurut daging, yang mengembara di padang gurun, sudah di sebut Gereja (jemaat) Allah (lih. Neh 13:1; Bil 20:4; Ul 23:1 dst), begitu pula Israel baru, yang berjalan dalam masa sekarang dan mencari kota yang tetap dimasa mendatang (lih. Ibr 13:14), juga disebut Gereja Kristus (lih. Mat 16:18). Sebab Ia sendiri telah memperolehnya dengan darah-Nya (lih. Kis 20:28), memenuhinya dengan Roh-Nya, dan melengkapinya dengan sarana-sarana yang tepat untuk mewujudkan persatuan yang nampak dan bersifat sosial. Allah memanggil untuk berhimpun mereka, yang penuh iman mengarahkan pandangan kepada Yesus, pencipta keselamatan serta dasar kesatuan dan perdamaian. Ia membentuk mereka menjadi Gereja, supaya bagi semua dan setiap orang menjadi sakramen kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu[15]. …"

        LG 23, tentang hirarki Gereja yang tak terlepas dari sifat organis Gereja:
        "Persatuan kolegial nampak juga dalam hubungan timbal-balik antara masing-masing Uskup dan Gereja-Gereja khusus serta Gereja semesta [universal]. Imam Agung di Roma [Bapa Paus], sebagai pengganti Petrus, menjadi azas dan dasar yang kekal dan kelihatan bagi kesatuan para Uskup maupun segenap kaum beriman[66]. Sedangkan masing-masing Uskup menjadi azas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gereja khususnya[67], yang terbentuk menurut citra Gereja semesta. Gereja katolik yang satu dan tunggal berada dalam Gereja-Gereja khusus dan terhimpun daripadanya[68]. Maka dari itu masing-masing Uskup mewakili Gerejanya sendiri, sedangkan semua Uskup bersama Paus mewakili seluruh Gereja dalam ikatan damai, cinta kasih dan kesatuan.

        Masing-masing Uskup, yang mengetuai Gereja khusus, menjalankan kepemimpinan pastoralnya terhadap bagian Umat Allah yang dipercayakan kepadanya, bukan terhadap Gereja-Gereja lain atau Gereja semesta. Tetapi sebagai anggota Dewan para Uskup dan pengganti para Rasul yang sah mereka masing-masing – atas penetapan dan perintah Kristus – wajib menaruh perhatian terhadap seluruh Gereja[69]. Meskipun perhatian itu tidak diwujudkan melalui tindakan menurut wewenang hukumnya, namun sangat bermanfaat bagi seluruh Gereja. Sebab semua Uskup wajib memajukan dan melindungi kesatuan iman dan tata-tertib yang berlaku umum bagi segenap Gereja, mendidik umat beriman untuk mencintai seluruh Tubuh Kristus yang mistik, terutama para anggotanya yang miskin serta bersedih hati, dan mereka yang menanggung penganiayaan demi kebenaran (lih. Mat 5:10); akhirnya memajukan segala kegiatan, yang umum bagi seluruh Gereja, terutama agar supaya iman berkembang dan cahaya kebenaran yang penuh terbit bagi semua orang. Memang sudah pastilah bahwa, bila mereka membimbing dengan baik Gereja mereka sendiri sebagai bagian Gereja semesta, mereka memberi sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan seluruh Tubuh mistik, yang merupakan badan Gereja-Gereja itu[70].

        Penyelenggaraan pewartaan Injil di seluruh dunia merupakan kewajiban badan para Gembala, yang kesemuanya bersama-sama menerima perintah Kristus, dan dengan demikian juga mendapat tugas bersama, seperti telah ditegaskan oleh Paus Coelestinus kepada para bapa Konsili di Efesus[71]. Maka masing-masing Uskup, sejauh pelaksanaan tugas mereka sendiri mengizinkannya, wajib ikut serta dalam kerja sama antara mereka sendiri dan dengan pengganti Petrus, yang secara istimewa diserahi tugas menyiarkan iman kristiani[72]. Maka untuk daerah-daerah misi mereka wajib sedapat mungkin menyediakan pekerja-pekerja panenan, maupun bantuan-bantuan rohani dan jasmani, bukan hanya langsung dari mereka sendiri, melainkan juga dengan membangkitkan semangat kerjasama yang berkobar di antara umat beriman. Akhirnya hendaklah para Uskup, dalam persekutuan semesta cinta kasih, dengan sukarela memberi bantuan persaudaraan kepada Gereja-Gereja lain, terutama yang lebih dekat dan miskin, menurut teladan mulia Gereja kuno.

        Berkat penyelenggaraan ilahi terjadilah, bahwa pelbagai Gereja, yang didirikan di pelbagai tempat oleh para Rasul serta para pengganti mereka, sesudah waktu tertentu bergabung menjadi berbagai kelompok yang tersusun secara organis. Dengan tetap mempertahankan kesatuan iman serta susunan satu-satunya yang berasal dari Allah bagi seluruh Gereja, kelompok-kelompok itu mempunyai tata-tertib mereka sendiri, tata-cara liturgi mereka sendiri, dan warisan teologis serta rohani mereka sendiri[73]. …..Keanekaragaman Gereja-Gereja setempat yang menuju kesatuan itu dengan cemerlang memperlihatkan sifat katolik Gereja yang tak terbagi. Begitu pula konferensi-konferensi Uskup sekarang ini dapat memberi sumbangan bermacam-macam yang berfaedah, supaya semangat kolegial mencapai penerapannya yang kongkret."

        KHK, Kan 204, §2:

        § 2. Gereja ini, yang di dunia ini dibentuk dan ditata sebagai masyarakat, ada dalam Gereja katolik yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya.

        Maka kita ketahui bahwa meskipun kepemimpinan Gereja universal ada di tangan Bapa Paus sebagai penerus Rasul Petrus, namun beliau juga bekerja sama dengan kolese para uskup yang memimpin Gereja khusus/ lokal. Hubungan Gereja universal dan lokal ini sangat khusus, sehingga tidak merupakan struktur organisasi yang kaku, namun merupakan kesatuan organis. Maka, di dalam  Gereja terdapat dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu organism dan organisasi. Organogramnya tidak piramidal tetapi melingkar di mana Kristus di tengah menjadi kepala beserta TubuhNya, yaitu GerejaNya.

        Pada struktur yang kelihatan, maka Paroki dikatakan sebagai "Ibu" Gereja. Organogramnya adalah Pastor Paroki sebagai ketua/kepalanya kemudian ada perangkat DPP (Dewan Pastoral Paroki) ada Dewan keuangan (Dewan moneter) ada ekonom (bendahara) ada seksi-seksi sesuai kebutuhan ada kelompok kategorial dan pembagian wilayah, lingkungan, umat Allah. Statuta DPP lihat dan baca buku Romo Wanta yang baru: Imam diambang batas Ilahi dan manusiawi (surgawi dan duniawi), Kanisius 2009.

        2. Tata cara Liturgi persembahan selalu sesudah doa umat, saat persiapan persembahan. Sedangkan, pengumuman diberikan sebelum berkat penutup. Kalau diubah maka artinya tidak ikut rubrik liturgi Gereja Katolik Roma. Sebaiknya, kebijakan pastoral sendiri mengikuti ketetapan yang normatif. Mungkin perlu diperhatikan lebih detail, apakah persembahan yang diadakan pada saat pengumuman itu adalah kolekte kedua? Sebab memang jika itu kolekte kedua, misalnya khusus untuk mendukung atau menyumbang bencana alam, dana mendukung kaum seminaris dst. yang sifatnyasekali-kali, maka itu dapat diperbolehkan, asalkan kolekte yang umum sudah dilakukan sesudah doa umat.

        3. Tahun 2009 disebut sebagai tahun paguyuban itu, di keuskupan mana? Soal derma atau persembahan uang, kolekte silakan bertanya kepada Pastor Paroki setempat. Tiap keuskupan berbeda karena otonom di bawah Uskup diosesan. Tidak menjadi kebijakan semua Gereja Katolik. Silakan bertanya juga pada paroki yang lain yang berada dalam keuskupan yang sama, dan jika belum jelas silakan bertanya kepada pihak keuskupan, sehingga anda dapat mendapat gambaran yang lebih jelas tentang arti ‘paguyuban’ yang dimaksud.

        4. Forum on line: http://www.ekarisiti.org atau http://www.pondokrenungan.com? Silakan bertanya pada web ini http://www.katolisitas.org, kami akan berusaha menjawabnya, atau pada http://www.ekaristi.org , http://www.pondokrenungan.com atau jika berhubungan dengan liturgi silakan bertanya pada boscodancunha@kawali.org. Untuk diketahui bahwa Pastor Bosco da Cunha O’Carm adalah sekretaris komlit KWI.

        Demikian jawaban kami pada pertanyaan anda, semoga bermanfaat, dan semoga Tuhan memberkati.

        salam dari http://www.katolisitas.org
        Rm Wanta.Pr dan Ingrid

    Page 2 of 2«12

    Menginggalkan pesan

    MENDUKUNG KATOLISITAS.ORG

    Kalau anda ingin mendukung karya kerasulan ini secara finansial, silakan menghubungi: donation[at]katolisitas.org atau melalui Paypal / Credit Card di bawah ini. Karya kerasulan ini dapat terus berlangsung karena rahmat Tuhan dan juga dukungan dari semuanya. Tuhan memberikati.

    TRANSLATE FROM INDONESIAN TO:

    KOMENTAR TERAKHIR

    • Shalom Dico Sinuraya,Mungkin yang anda maksudkan di sini adalah gereja... »»
    • Shalom Sang JMV,Jika anda membaca kembali tulisan ulasan di atas, anda... »»
    • Shalom Daniel, Terus terang, saya tidak tahu apakah Romo yang anda seb... »»
    • Shalom Yustinus,1. Benar pengertian anda, bahwa seharusnya seperti dis... »»
    • Shalom Bp. Soenardi,Saya harus berterima kasih kepada Scott Hahn, yang... »»
    • Shalom Roy Hayong,Saya rasa, yang terpenting adalah kita membutuhkan T... »»
    • Shalom Fxe,1. TransubstansiasiPertama- tama, mari kita pahami terlebih... »»
    • Shalom Thomas Vernando,Terima kasih atas pertanyannya tentang Yoh 6. S... »»
    • Shalom Hendro,Terima kasih atas pertanyaannya tentang spiritualitas ka... »»
    • Shalom Endro,Kanon Kitab Suci yang kita peroleh sekarang adalah berdas... »»
    • Shalom Alexander Pontoh,Terima kasih atas pertanyaannya tentang Roh Ku... »»
    • Shalom Henricus Willy,Terima kasih atas pertanyaannya. Memang sebagai ... »»
    • Prayogo ythTradisi budaya setempat yang belum disahkan oleh ordinaris ... »»
    • Shalom Bp. Soenardi,Pertama- tama saya mohon maaf jika saya salah mena... »»
    • Salam dalam X'tusBagaimana dengan tradisi nyekar kemakam leluhur denga... »»

    © Copyright katolisitas - 2008 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja.

    Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

    Renungan dan doa diterjemahkan dari: Every Day Is a Gift by Frederick Schroeder, CBPC, 1984.

     

    Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, Hari dimana Gereja memperingati  Bunda Maria mengunjungi Elizabeth

    Romo pembimbing: Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ.  |  Ahli Hukum Gereja dan Perkawinan: RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. |  Ahli Sakramen dan Liturgi: Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD
    Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. |  Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min., Th.M.
    Penulis tetap: Romo Bernardus Boli Ujan SVD  |  Romo Wanta, Pr  |  Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
    Penanggung jawab situs: Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.