Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik
|
Sebagai konsekuensi dari percaya kepada Yesus, Putera Allah, maka kita menjadi pengikut Kristus. Dan pertanyaan selanjutnya adalah kita ingin menjadi anggota gereja yang mana? Namun pertanyaan itu kurang tepat. Yang menjadi pertanyaan adalah, Tuhan menginginkan kita untuk mengikuti Kristus di gereja yang mana? Dan Gereja manakah yang didirikan oleh Kristus sendiri? Meneliti lebih jauh pertanyaan ini akan membawa kita kepada Gereja Katolik, yang mempunyai empat tanda Gereja, yaitu “satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Di artikel ini akan dibahas:
|
Pertanyaan berikutnya setelah kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.
Dalam tulisan terdahulu, kita melihat bahwa adalah sangat logis kalau kita percaya kepada satu Tuhan (lihat artikel: Bagaimana Membuktikan Bahwa Tuhan Itu Ada?). Kemudian setelah kita percaya kepada Tuhan yang satu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sudah selayaknya kita juga percaya kepada Yesus Kristus[1], Putera Allah yang menjelma menjadi manusia (lihat artikel: Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?). Pertanyaan selanjutnya: setelah kita percaya kepada Yesus, berarti kita menjadi pengikut Yesus, menjadi seorang Kristen. Namun sekarang, Kristen yang mana?
Pencarian kebenaran harus lebih tinggi daripada penghargaan dan perasaan pribadi.
Pertanyaan di atas menjadi penting pada jaman sekarang ini, mengingat bahwa ada begitu banyak tipe ke-Kristenan yang dilihat dari banyaknya macam gereja. Untuk begitu saja menerima kekristenan tanpa meneliti terlebih gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus Kristus adalah menempatkan diri sendiri dan perasaan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran.[2] Sering kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti berikut ini:
- Saya senang ke gereja ini, karena gereja ini umatnya begitu ramah, musiknya juga bagus sekali.
- Saya merasa bahwa gereja ini diberkati oleh Roh Kudus, karena saya merasakan bahwa kuasa Roh Kudus hadir di gereja tersebut.
- Saya merasakan bahwa pembawa firmannya begitu penuh dengan Roh Kudus, sehingga dapat menyentuh hatiku.
- Saya tidak dapat berkembang di gereja A, sehingga saya harus mencari gereja yang membuat saya berkembang.
- Dan begitu banyak pernyataan-pernyataan yang lain.
Kalau kita meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, bukankah semuanya berfokus kepada “saya?” Dalam pencarian kebenaran, fokusnya bukan diri sendiri, tapi pada kebenaran, yang pada akhirnya akan mengarahkan manusia kepada Sang Kebenaran itu sendiri,[3] yaitu Yesus. Ini berarti kita menempatkan kebenaran di atas kepentingan dan perasaan pribadi.
Gereja yang mana?
Pertanyaan untuk mencari kebenaran adalah “Sebenarnya Tuhan ingin saya ke gereja yang mana? Atau Gereja manakah yang Yesus dirikan? Pertanyaan ini sangat mendasar, karena kalau Tuhan mendirikan sebuah Gereja dan kalau kita menempatkan kebenaran di atas segalanya, termasuk diri kita sendiri, maka kita seharusnya memberikan diri kita kepada Gereja tersebut. Dalam tulisan ini, kita akan meneliti, gereja manakah yang dirancang oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dan dikuduskan oleh Roh Kudus sampai akhir jaman.
Gereja terpecah belah
Pada waktu saya kuliah di Bandung, saya didatangi oleh umat dari gereja tertentu. Kemudian mereka memperkenalkan diri, bahwa mereka datang dari gereja X. Dalam hati saya sungguh mengagumi keberanian mereka untuk menyebarkan kabar gembira dan dedikasi mereka terhadap Tuhan. Kemudian mereka menceritakan tentang pendiri gereja X tersebut, sebut saja Yesaya. Pendiri gereja X adalah seseorang yang diurapi oleh Roh Kudus yang tadinya beliau menjadi jemaat gereja Y. Kemudian karena suatu hal, menurut Yesaya, pemimpin gereja Y tidak dipenuhi lagi oleh Roh Kudus. Kemudian Yesaya mendapatkan inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, yang bernama gereja X. Dalam keterbatasan saya tentang teologi dan juga pengertian saya yang dangkal, saya bertanya kepada mereka “Bagaimana bila suatu saat, karena suatu hal, ada umat di gereja X mendapat inspirasi dari Roh Kudus untuk mendirikan gereja baru, sehingga nanti ada gereja X1, X2, dan seterusnya?”
Dan kalau kita meneliti secara jujur, inilah yang terjadi di dunia ini. Ada lebih dari 38,000 denominasi gereja di dunia ini, dimana data di Amerika menunjukkan bahwa setiap minggu ada satu gereja baru muncul, dan kemudian dalam dua generasi akan lenyap. Keberadaan gereja yang ‘timbul dan tenggelam’ sudah menjadi hal yang biasa pada saat ini. Pertanyaan-nya adalah “Mengapa gereja terpecah-pecah, dan kalau memang ini semua dari Roh Kudus, kenapa tidak ada kesatuan? Kita tahu bahwa Roh Kudus adalah Roh Pemersatu bukan roh pemecah.”
Perpecahan Gereja terjadi dari awal jemaat sampai sekarang
Kita dapat melihat sejak dari awal, akibat dari dosa, benih-benih perpecahan sudah ada sejak dari jemaat awal. St. Paulus mengingatkan jemaat di Roma dan di Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17; 1 Kor 1:10; 11:18-19; 12:25). Dan benih perpecahan ini terjadi terus, mulai dari Docetism (90-451), Gnosticism (100), Manichaeism (250) dan seterusnya. Ini terus berkembang dengan perpecahan gereja:
- Gereja Timur Orthodox (1054).
- Gereja Anglikan di Inggris (abad ke 16), didirikan oleh Raja Henry VIII.
- Lutheran dan Calvinis di Jerman (abad ke 16), didirikan oleh Luther dan Calvin.
- Methodis di Inggis (1739), didirikan oleh John Wesley.
- Kristen Baptis (1639), didirikan oleh Roger Williams.
- Anabaptis (1521), didirikan oleh Nicolas Stork.
- Presbyterian di Skotlandia (1560).
- Mormon di Amerika (1830), didirikan oleh Joseph Smith.
- Saksi Yehovah di Amerika (1852-1916), didirikan oleh Charles Taze Russell.
- Unification Church di Korea (1954), didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon.
Perpecahan ini terus berkembang dan bertambah setiap hari di dunia ini. Namun perpecahan bertentangan dengan pesan Yesus yang terakhir sebelum Yesus mengalami penderitaan. Yesus berdoa untuk persatuan umat Tuhan, seperti persatuan antara Bapa dan Yesus sendiri dan juga agar dunia bisa percaya kepada Yesus (lih. Yoh 17:21).
Mungkin ada yang berargumentasi, bahwa banyaknya gereja tidaklah berarti perpecahan, karena semua percaya kepada Trinitas, juga kepada Yesus. Namun, kalau kita teliti, sebetulnya tidaklah demikian, karena ada gereja-gereja tertentu tidak percaya akan ke-Allahan Yesus. Juga gereja-gereja tersebut tidak mempunyai ajaran yang sama, sebagai contoh: baptisan bayi diperbolehkan atau tidak? Jumlah sakramen ada berapa? Isu-isu tentang otoritas, dll. Kita juga tahu bahwa Martin Luther sendiri bertentangan dengan John Calvin dalam pengajaran tentang sakramen pengampunan dosa, dll.
Yang penting jadi Kristen, namun tidak penting gereja apa.
Kita sering mendengar seseorang mengatakan bahwa yang penting bahwa manusia percaya kepada Yesus, mendapatkan keselamatan, dan tidak penting berada di gereja yang mana. Mungkin pernyataan seperti ini, ada pengaruh tulisan dari C.S. Lewis, yang mengatakan bahwa menjadi Kristen sama seperti banyak orang yang tinggal di rumah yang besar. Yang penting masuk ke rumah tersebut dan perkara mau masuk ruangan di manapun itu tidaklah penting. Ruangan di sini dapat berarti denominasi gereja-gereja.
Kalau kita merenungkan lebih jauh dan meneliti hakekat dari gereja dengan menggunakan argumen dari C.S. Lewis, kita bisa mempertanyakan bahwa bagaimana mungkin banyak orang bisa tinggal satu rumah, memilih ruangan masing-masing dan tidak mempunyai aturan dan ajaran yang sama. Bahkan yang menyedihkan adalah ada kemungkinan orang-orang tersebut masih mempertanyakan tuan rumah dari rumah tersebut. Kita melihat bahwa di kehidupan rumah kita masing-masing mempunyai peraturan yang harus ditaati, sehingga semuanya dapat hidup dengan baik. Yesus mengatakan kalau suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan (Mar 3:25). Kalau di dalam rumah besar terpecah-pecah dengan berbagai pengajaran dan aturan moral yang berlainan, maka rumah besar itu tidak akan bertahan. Santo Paulus sendiri memperingatkan jemaat di Roma dan Korintus untuk menghindari perpecahan (Rom 16:17, 1 Kor 1:10, 12:25). Kalau benar bahwa semua orang tinggal di rumah besar itu, seharusnya semakin lama mereka tinggal bersama-sama, mereka akan semakin bersatu.
Gereja Tuhan hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.
Namun kenyataanya tidaklah demikian, perpecahan demi perpecahan mewarnai gereja-gereja tersebut. Dari buah-buah perpecahan yang terjadi di gereja-gereja di dunia ini, maka timbul pertanyaan, apakah semuanya itu datang dari Tuhan. Kalau datang dari Tuhan, kenapa mereka mempunyai ajaran yang berbeda-beda? Pertanyaan ini dapat dijawab dari hakekat Gereja itu sendiri.
Gereja, seperti yang dinyatakan oleh Santo Paulus, adalah Tubuh Mistik Kristus,[4] dimana Kristus sebagai kepala, dan Gereja sebagai tubuh-Nya (Ef 5:23-32). Sama seperti tubuh manusia, semua organ diatur oleh mekanisme tubuh yang bersumber pada otak manusia atau di kepala manusia. Demikian juga dengan gereja. Gereja sebagai tubuh harus mengikuti keinginan kepalanya, yaitu Kristus. Dan kalau Yesus sendiri berkata bahwa umat Tuhan harus bersatu, maka umat harus mengikuti. Persatuan inilah yang diinginkan oleh Yesus Kristus, sehingga Dia dapat mempersiapkan, menguduskan, dan mempersembahkan Gereja-Nya sebagai mempelai yang kudus (Ef 5:27). Sama seperti perkawinan yang kudus hanya ada satu mempelai pria dan satu mempelai wanita, maka Gereja Tuhan juga harus hanya ada satu dan tidak mungkin banyak.
Manusia tidak dapat membuat Gereja, namun hanya bisa menerima dan berpartisipasi.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa kesatuan Gereja adalah hanya secara spiritual, dimana semua mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus sendiri mengatakan bahwa dimana dua atau tiga orang berkumpul, maka Dia hadir (Lih. Mat 18:20). Jadi dimana dua atau tiga jemaat berkumpul disitulah terbentuk gereja. Disinilah letak permasalahannya, bahwa hakekat Gereja bukan hanya sekedar komunitas[5], melainkan lebih dari itu. Kalau orang membuat suatu komunitas dan menamakan komunitas itu gereja, berarti dia membuat gereja, bukan menerima gereja sebagai suatu pemberian dari Tuhan. Manusia tidak bisa membuat Gereja, dia hanya bisa menerima dan menjadi bagian dari Gereja.[6]
Menyadari bahwa Gereja adalah pemberian Tuhan, harus membuat setiap anggota Gereja semakin rendah hati. Dan juga setiap anggota harus menyadari peran masing-masing untuk melindungi dan membuat tanda kasih dari Allah untuk semakin memancarkan cahaya kasih Allah. Di sinilah Gereja yang sedang mengembara di dunia ini[7], yang terdiri dari para pendosa dan para kudus harus terus mengalami pemurnian dan pertobatan terus menerus sampai kepada tujuan akhir, yaitu persatuan kekal dengan Allah di surga.
Kalau begitu, Gereja mana yang didirikan oleh Yesus Kristus
Akhirnya dari semua argumen di atas, kita menarik kesimpulan bahwa Gereja yang didirikan oleh Tuhan harus mempunyai tanda-tanda: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Satu, karena kesatuan iman, pengajaran, sakrament, kepemimpinan; Kudus, karena bersumber pada Tuhan sendiri – yang hakekatnya adalah kudus; katolik, karena Gereja Tuhan harus universal baik dari segi waktu maupun tempat; apostolik, karena berdasarkan apostolik atau para murid yang telah diberi mandat suci oleh Yesus. Keempat tanda inilah yang membedakan antara Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri dengan gereja-gereja yang lain. Dan Gereja ini berada dalam Gereja Katolik.[8] Hanya Gereja Katolik yang mempunyai empat tanda ini atau yang disebut “the four marks of the Church.” (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – bagian 1). Mengapa empat tanda ini begitu penting? Karena tanda itu adalah bukti bahwa Gereja bukan organisasi yang didirikan oleh manusia, namun didirikan oleh Yesus Kristus sendiri. Didirikan di atas Rasul Petrus, dan senantiasa dilindungi oleh Yesus sendiri, melalui karya Roh Kudus, dimana tidak ada apapun yang dapat meruntuhkan Gereja ini.[9]
Ketahanan Gereja Katolik meskipun menghadapi percobaan-percobaan sepanjang zaman membuktikan bahwa Yesus memegang janji-Nya untuk melindungi Gereja-Nya.
Mungkin ada yang berpendapat, bahwa Gereja awal adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, namun kemudian menjadi tidak murni dan baru sekitar abad 15, Gereja kemudian dimurnikan. Jadi Gereja Katolik yang sekarang ada adalah Gereja yang tidak murni. Mari kita menelusuri keberatan dari argumen ini. Pertama, apakah mungkin bahwa Tuhan yang telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya (Mat 16:18) kemudian melupakan Gereja-Nya selama kurang lebih 15 abad? Kalau jawabannya mungkin, kita telusuri lebih jauh. Taruhlah hal tersebut benar, bahwa Gereja tidak murni lagi dan diperbaharui pada jaman reformasi. Seharusnya setelah diperaharui, maka Gereja Tuhan akan bersatu. Namun apa yang terjadi? Sejarah membuktikan bahwa setelah jaman reformasi (atau lebih tepatnya revolusi) Gereja, maka gereja justru terpecah-belah, sehingga ada sekitar 38,000 denomasi sampai sekarang. Dengan demikian keberatan ini tidaklah mendasar.
Keberatan yang lain ada yang berkata bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tidak murni dan banyak korupsi di dalam Gereja. Memang, percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik sudah begitu banyak, mulai dari abad awal melalui begitu banyak tantangan, percobaan, dan juga serangan dari ajaran-ajaran sesat. Juga banyak yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, seperti yang telah dijelaskan di atas. Tidak terlepas percobaan dari dalam Gereja Katolik sendiri, baik melalui korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di dalam Gereja, dll. Gereja Katolik mengakui bahwa ada unsur manusia yang tidak sempurna[10]. Kenyataannya, Gereja Katolik tetap bertahan walaupun menghadapi berbagai permasalahan Gereja, baik dari luar maupun dari dalam. Hal ini membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang Yesus janjikan. Kalau Gereja Katolik hanya buatan manusia, seharusnya Gereja Katolik sudah runtuh dan lenyap tak berbekas.
Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus.
Namun sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang tetap mempunyai empat tanda, yaitu “satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Gereja Katolik sampai sekarang mempunyai kesatuan pengajaran yang kalau ditelusuri berasal dari Yesus dan ajaran para murid dan bapa Gereja. Sehingga dikatakan ada suatu “pertumbuhan organik“.[11] Konsistensi ini dapat dibuktikan dari segi waktu dan juga tempat. Gereja Katolik di semua negara dan juga di masa apapun juga mengajarkan hal yang sama.
Bagaimana dengan orang yang tidak mengenal Kristus atau umat yang sudah menjadi anggota gereja lain?
(pembahasan detail untuk topik ini akan dijelaskan dalam artikel yang lain).
Setelah kita mengetahui bahwa Gereja Katolik adalah Gereja Kristus, bagaimana dengan saudara kita yang tidak kenal dengan Yesus? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]
Bagaimana juga dengan saudara kita yang menjadi anggota gereja lain? Dokumen Vatikan II menjelaskan, bahwa ada unsur-unsur kekudusan dan kebenaran di dalam gereja yang lain, seperti misalkan memegang nilai-nilai suci yang terdapat di Alkitab, hidup dengan kasih, dll. Bahkan gereja Katolik mengakui pembatisan mereka.[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.”
Bagaimana dengan umat Gereja Katolik?
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan umat Katolik sendiri? Apakah mereka semua dapat diselamatkan? Dalam Lumen Gentium 14 ditegaskan akan pentingnya untuk terus berjuang hidup kudus, yaitu dengan mempraktekan kasih kepada Tuhan dan sesama. Orang Katolik yang tidak mempraktekkan kasih, hanyalah menjadi anggota Gereja secara jasmaniah, namun bukan secara spiritual, tidak dapat diselamatkan.[17] Hal ini dikarenakan karena mereka sudah mengetahui hal yang benar, namun mereka tidak melakukannya (Lih. Luk 12:47-48).
Berapa banyak dari umat agama lain yang mengatakan bahwa percuma saja menjadi Katolik kalau kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Yesus. Pernyataan ini adalah suatu tantangan bagi kita semua yang menjadi anggota Gereja Katolik - dimana kepenuhan kebenaran ada pada Gereja ini - untuk senantiasa berjuang setiap hari mempraktekkan kasih dan hidup kudus. Hidup kudus adalah merupakan cara untuk ” menjadi saksi Kristus dan membangun Gereja” yang paling efektif, seperti yang telah dilakukan oleh Para Kudus. Kita tidak bisa mengasihi Yesus, kalau kita tidak mengasihi Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dan Gereja-Nya berada di dalam Gereja Katolik. Mari kita renungkan, sudahkah kita semua mengasihi Yesus?
[1] Untuk dapat percaya kepada Yesus sebagai Tuhan diperlukan berkat dari Tuhan yang menggerakkan hati kita. St. Paulus berkata bahwa bahwa tidak ada seorangpun dapat mengaku bahwa Yesus Tuhan kecuali oleh kuasa Roh Kudus (1Kor 12:3). Dalam teologi, ini dikenal dengan “actual grace” atau rahmat pembantu (Lih KGK 2000, 2024). Actual grace ini membawa orang kepada pertobatan untuk akhirnya menerima pembabtisan.
[2] Rasul Yohanes mengatakan “..dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:32). Menempatkan kebenaran di atas segalanya termasuk diri sendiri akan membawa manusia kepada kebenaran sejati, yaitu Tuhan sendiri. Pada saat manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran, maka manusia menempatkan diri sendiri lebih tinggi daripada Tuhan.
[3] (Lih. Yoh 14:6) ” Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
[4] Pius XII, Encyclical Letter: Mystical Body of Christ and Our Union With Christ (Pauline Books & Media), para. 60-62.
[5] Menganggap gereja hanya sebagai komunitas, secara tidak langsung mengurangi bahkan menghilangkan dimensi Ilahi dari Gereja. Padahal, Gereja mempunyai dua dimensi: manusia – Ilahi, cara – tujuan (means – end), sebuah konstitusi – hubungan secara pribadi dengan Tuhan. Pembahasan lebih jauh tentang dua dimensi dari Gereja, dapat dilihat dalam artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Allah – Bagian 2)
[6] Cardinal Joseph Ratzinger, “The Ecclesiology of Vatican II,” http://www.ewtn.com/library/curia/cdfeccv2.htm: Ch. 2. - Cardinal Ratzinger mengatakan bahwa sama seperti iman dan sakramen, manusia tidak bisa membuat gereja, namun menerima. Kalau iman, gereja, dan sakramen adalah tanda kasih Allah, maka kasih tersebut hanya bisa diterima. Manusia tidak bisa membuatnya, namun manusia dapat turut berpartisipasi dalam kasih Allah.
[7] Gereja Tuhan adalah satu, yang terdiri dari Gereja yang mengembara di dunia ini, Gereja yang jaya di surga, dan gereja yang menderita atau dimurnikan di api penyucian.
[8] Lihat Lumen Gentium 8, “Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik[12]. Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[13], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.”
[9] (Lih Mat 16:16-19). Yesus berkata ” Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Catatan: Di dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia, dikatakan “jemaat-Ku”. Namun dalam bahasa aslinya adalah “ekklesia” yang berarti “gereja”. Yesus mengatakan bahwa Dia akan mendirikan Gereja-Ku. Ini sebabnya bahwa manusia tidak dapat mendirikan gereja, karena Yesus sendiri yang mendirikan Gereja-Nya, dan Yesus berkata Gereja bukan gereja-gereja. Jadi Gereja ini hanya ada “satu”.
[10] Pius XII, Encyclical Letter of Pius XII On The Mystical Body of Christ: Mystici Corporis (Boston: Pauline Books & Media), 66. Paus Pius XII menegaskan bahwa dosa dari anggota Gereja tidak bisa ditujukan kepada Gereja itu sendiri, karena Gereja itu pada dasarnya kudus. Ketidaksempurnaan ini ditujukan kepada anggota Gereja yang memang semuanya mempunyai inklinasi untuk berbuat dosa (concupiscence). Inklinasi untuk berbuat dosa adalah sebagai akibat dari dosa dari manusia pertama.
[11] Cardinal Newman, dalam bukunya “The Development of Christian Doctrines”, meneliti bahwa Gereja yang mempunyai pengajaran yang benar adalah Gereja yang mempunyai perkembangan ajarannya dapat ditelusuri sampai kepada jaman awal kekristenan, yang bersumber pada Yesus sendiri. Ini berarti harus ada konsistensi dalam pengajaran, sama seperti perkembangan pohon kecil ke pohon yang besar. Yang dimaksudkan dari kecil ke besar adalah ajaran yang sama, namun perkembangannya hanya untuk memperjelas pengertian bukan mengubah ajaran. Hal inilah yang ditemukan oleh kardinal Newmann dalam Gereja Katolik, sehingga untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, dia berpindah dari Anglikan ke Gereja Katolik.
[12] Sebagai contoh orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Irian Jaya, atau pedalaman di China, dll. Ada sebagian dari mereka yang tidak pernah mendengar tentang Kristus. Dan hal ini bukan akibat kesalahan mereka. Tentu saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka pasti masuk neraka.
[13] (Lih Roma 2:14-16). St. Paulus mengatakan humum Tuhan sudah ditulis di setiap hati nurani manusia. Karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah dan juga diciptakan untuk mencapai tujuan ahir – yaitu persatuaan dengan Allah – maka Tuhan memberikan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani manusia.
[14] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium (Pauline Books & Media, 1965), 16. ” ….. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan.”
[15] Seluruh keselamatan umat manusia datang dari misteri Paska Yesus (wafat, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus).
[16] (Lih Ef 4:5) – St. Paulus menegaskan akan kesatuan umat beriman dalam “satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan “. Pengakuan baptisan yang diakui adalah baptisan dengan formula Trinitas.
[17] Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium, 14.
5 artikel/gambar terakhir di kategori Apologetik
- Bersyukurlah, ada Api Penyucian! - November 28th, 2008
- Yesus, Tuhan yang Dinubuatkan Para Nabi - September 18th, 2008
- Maria, Bunda Allah - September 7th, 2008
- Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 2) ? - July 23rd, 2008
- Orang Katolik Tidak Menyembah Patung - July 12th, 2008
5 artikel/gambar terakhir di kategori Fundamental Teologi
- Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi - October 6th, 2008
- Yesus, Tuhan yang Dinubuatkan Para Nabi - September 18th, 2008
- Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah - September 18th, 2008
- Maria, Bunda Allah - September 7th, 2008
- Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ? - July 18th, 2008
5 artikel/gambar terakhir di kategori Gereja
- Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 5 - Selesai) - June 18th, 2008
- Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 4) - June 18th, 2008
- Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 3) - June 18th, 2008
- Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 2) - June 14th, 2008
- Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 1) - June 11th, 2008
Comment by Julius Santoso on 5 January 2009:
Syalom Bpk. Stefanus Tay.
Dalam kitab Wahyu dikatakan, bahwa :”Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu” (Why 20:15).
1. Gereja Katolik percaya bahwa Sakramen Baptis adalah mutlak untuk keselamatan, bahkan dikatakan bahwa Gereja tidak tahu ada cara lain selain Baptisan yang membuat orang dapat masuk ke kehidupan kekal di surga.
Berarti bahwa agar tidak dilemparkan ke dalam lautan api, namanya harus tertulis dalam kitab kehidupan dan Gereja Katolik tidak mengetahui cara lain selain Baptisan agar dapat masuk ke kehidupan kekal.
2. Namun disisi lain seseorang, bukan kesengajaannya tidak mengenal Kristus karena bukan kesalahan mereka, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi”.
Apakah hal tersebut no. 1 dan 2 diatas tidak bertentangan ?
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Julius,
Terima kasih atas pertanyaannya. Saya pernah menjawab pertanyaan tersebut di jawaban ini: (klik ini, dan juga klik ini).
Dimana di salah satu jawaban tersebut, saya mengatakan:
Point II. 5:
IV. Kontradiksi konsep keselamatan?
"Orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi."
Jadi bagi orang yang bukan kesalahannya sendiri dapat masuk surga sejauh keadaan tidak mengenal Kristus adalah sebagai akibat dari "invincible ignorance" (ketidak tahuan yang tak dapat dihindari) seperti yang telah dijelaskan di atas.
Hal ini dikarenakan bahwa orang yang benar-benar tahu bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik namun tidak masuk di dalamnya berarti dia mendahulukan kepentingan pribadi di atas pencarian kebenaran.
"Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”.
Ini berarti bahwa orang Katolik yang mempunyai "kepenuhan kebenaran" harus benar-benar dapat menerapkan ajaran kasih. Bagi orang Katolik tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan dan sesama, karena semua telah diberi berkat yang berlimpah dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memampukan seseorang untuk hidup kudus setelah menerima Sakramen Baptis.
Semoga keterangan tersebut dapat memperjelas konsep keselamatan.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Bernadus Wibowo on 5 January 2009:
Saya seorang Katolik dan sampai sekarang saya sangat bangga dan bersyukur dengan agama saya ini, namun beberapa waktu terakhir ini saya dbenturkan dengan permasalahan Karismatik. Apakah semua orang katolik wajib ikut karismatik agar benar-benar diselamatkan ? kemudian ada kelompok pelayanan kasih yang menamakan diri Kelompok Pelayanan Kasih Maria Ibu Yang Bahagia yang menyatakan bahwa pemimpin kelompok ini yaitu Ibu Agnes mendapat wahyu langsung dari Bunda Maria mengenai hari Pemurnian, bahkan ibu Agnes ini dapat bercakap2 langsung dengan Bunda Maria dan beberapa orang kudus lainnya, bagaimana saya harus menyikapi hal ini ? karena tidak semua dari gereja2 Katolik dapat menerima hal ini, bahkan ada yang mengatakan bahwa aliran ini termasuk sesat.
Mohon pencerahan, terima kasih…………
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Bernadus,
Terimakasih atas pertanyaannya. Kita memang harus bangga dan bersyukur atas karunia iman sehingga kita menjadi anggota Gereja Katolik, dimana kepenuhan kebenaran ada di dalam-Nya. Namun, pada saat yang bersamaan, ini menjadi suatu tantangan agar kita berjuang untuk hidup seperti, mengikuti ajaran Kristus. Mari kita membahas pertanyaan Bernadus:
Kekudusan itu sangat penting dalam kehidupan rohani kita, karena kekudusan adalah kehendak Tuhan untuk semua orang. Kekudusan menjadi tanda yang nyata bagi kita sebagai pengikut Kristus, dan kekudusan adalah sesuatu yang diperhitungkan pada saat akhir hidup kita (Apa itu Kekudusan?). Marilah kita memeriksa diri sendiri, sudahkah kita hidup kudus (Refleksi praktis tentang Kekudusan), dan mulai mempraktekkannya dengan belajar untuk lebih rendah hati (Kerendahan hati Dasar dan Jalan menuju Kekudusan).
Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Bernadus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Terima kasih atas tanggapannya pak, mengenai kelompok yang saya ceritakan bisa dilihat di http://mariaibuyangbahagia.org
mohon tanggapan, masukan dan saran, terima kasih…..
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by david on 4 January 2009:
[Dari Admin: saya ubah tanggal penulisan]
kaum kristiani meyakini bahwa tidak ada keselamatan kecuali mengikuti yesus, tolong beritahu kami ketrangan al-kitab tentang ini
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Salam damai David,
Terima kasih atas pertanyaannya. Memang umat Kristiani meyakini bahwa tidak ada keselamatan kecuali melalui Yesus Kristus, yang diwujudkan dalam Sakramen Baptis dan menjadi anggota dari Tubuh Mistik Kristus, yaitu Gereja Katolik. Namun hal tersebut di atas harus diterangkan secara lebih mendetil:
Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia.
Semoga jawaban singkat tersebut dapat memberikan gambaran singkat tentang konsep keselamatan di dalam Kristus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Sesilia on 17 December 2008:
[Dari admin: tiga pesan satu satukan, karena topiknya hampir sama]
Shalom,
saya ingin menyampaikan beberapa pertanyaan dari seorang teman, dia bertanya pada saya tentang konsep keselamatan katolik dan saya menyadur dari website ini. berikut ini adalah tanggapan dari teman saya itu (kata2 dia dlm bahasa inggris), mohon bpk & ibu bersedia menanggapi. terimakasih sebelumnya, Salam kasih persaudaraan dalam Kristus.
>> Well… It’s the doctrine of salvation, It’s gonna take a while explaining it, but I have to say that if you say that the answer to that is: quote: “Gereja Katolik mengajarkan bahwa …, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]” It is going to create new problems.
1) First problems that came to mind is: Will a really good, loving ATHEIST be saved?? one that curses at the name of God, let alone Jesus but his attitude is good morally. “Hukum kasih” here needs more explanation, is it moral wise?
2) points 13 i dont understand, agak ambigu. how do you know “gerakan” itu came from God? and some not from God? how do you differentiate them? Some atheist are better than Christian morally. how do you explain that?
3) Now If a person who know nothing about Christ can be saved by good will, then WHAT IS THE MEANING OF EVANGELISM?? (apa gunanya penginjilan?)
masuk ke pedalaman, etc. and risking they rejecting Christ and have 0% chance of salvation? leave them alone and let them be saved by their good will
quote: “[12] Sebagai contoh orang yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Irian Jaya, atau pedalaman di China, dll. Ada sebagian dari mereka yang tidak pernah mendengar tentang Kristus. Dan hal ini bukan akibat kesalahan mereka. Tentu saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka pasti masuk neraka.
[16] Jadi mereka mempunyai kesatuan dengan Gereja Katolik dalam hal baptisan. LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.””
>> I think this is another contradiction, I found this weird but please explain though, so you’re saying that a person who NEVER even heard of Christ could be saved, but other Christ believing Christian who knew that catholic is built by Jesus Christ and still refuses to join inside the Catholic church can NOT be saved? regardless whatever?
If It’s true then I have to say that evangelism is pretty deadly… Let alone granting salvation, It’s a double edged sword.
It’s WAY better to teach them good acts than evangelizing and let them have a chance to reject, right?
Jadi:
1) orang yang ga kenal kristus sama sekali tapi perbuatannya bae seperti kebanyakan ilmuwan2 atheis yang percaya teori evolusi dan big bang jaman sekarang BISA masuk surga?
2) Orang yang kenal kristus tapi menolak untuk menerima sebagai juru selamat tapi perbuatannya saleh bisa masuk surga? (contoh: mahatma gandhi) aku ga tanya dia skrg ada di mana deh, aku tanya dia BISA (memiliki kemungkinan, lewat purgatory, etc) untuk MASUK ke surga atau ngga?)
gimana?
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Sesilia,
Terimakasih atas pertanyaannya yang cukup sulit. Memang masalah keselamatan adalah masalah yang begitu sulit, namun begitu penting. Setiap agama mempunyai konsep tentang keselamatan sendiri-sendiri. Dan konsep keselamatan dari Gereja Katolik berbeda dengan gereja Protestan, dan antara denominasi Kristen kadang juga memberikan konsep yang berbeda. Mari kita melihat konsep keselamatan yang diberikan oleh Gereja Katolik, sebuah konsep keselamatan yang begitu baik dan menyeluruh.
I. Konsep dan Prinsip
Kita percaya bahwa sejak dari awal mula, Tuhan menginginkan agar seluruh umat manusia memperoleh kebahagiaan abadi di Surga bersama dengan Tuhan. Namun Tuhan begitu mengasihi manusia, sehingga Dia menginginkan agar manusia dapat membalas kasih Tuhan dengan bebas. Dan Tuhan memberikan keinginan bebas "free will" kepada manusia. Namun dengan free will ini, manusia dapat berkata ya atau tidak terhadap tawaran Tuhan.
Mungkin ada yang menanyakan, kenapa Tuhan memberikan keinginan bebas? Ini adalah suatu ekpresi kasih yang begitu dalam kepada umat manusia. Bayangkan, kalau kita mengasihi pacar kita, maka kita ingin agar pacar kita bukan sebagai robot yang menuruti segala keinginan kita. Namun kita menginginkan agar pacar kita secara bebas mengasihi kita.
Keadilan Tuhan juga tercermin dari seseorang yang diberi banyak akan dituntut lebih banyak.
Nah, yang mengetahui sampai seberapa jauh manusia berusaha adalah Tuhan, karena Tuhan melihat jauh ke dalam hati. Dan kita juga melihat bahwa ada tiga hal untuk melihat sesuatu dianggap sebagai sesuatu yang baik secara moral, yaitu: maksud (intention), situasi (circumstances), dan objek moral (moral object). Jadi dalam hal ini, maksud (intention) yang sebenarnya untuk melakukan sesuatu, hanya Tuhan yang tahu secara persis. Itulah sebabnya Gereja tidak pernah mengatakan bahwa seseorang pasti masuk neraka, karena hanya Tuhan saja yang tahu persis kedalaman hati seseorang sampai pada saat dia dipanggil oleh Tuhan.
Sekarang kita coba menerapkan kepada bebebapa kondisi. Saya telah menjawab beberapa kondisi di jawaban ini (silakan klik).
II. Sebelum kedatangan Kristus.
Bagaimana mereka dapat diselamatkan? Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus,[12] dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih[13], dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.[14] Namun keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.[15]
Sebagai contoh dari "bukan karena kesalahan mereka sendiri" adalah orang-orang yang hidup sebelum Kristus, dan juga orang-orang yang tidak terjangkau oleh pemberitaan tentang Kristus. Namun kita juga dapat memasukkan disini adalah orang-orang dari agama lain, yang walaupun telah dijangkau oleh pemberitaan Kristus namun pemberitaan ini tidak memberikan "motive of credibility" (penjelasan dasar yang meyakinkan) yang baik terhadap kekristenan, sehingga orang dari agama lain, bukan karena kesalahannya, tidak dapat percaya akan pesan Kristus.
Namun saya ingin menegaskan disini, bahwa kuncinya adalah apakah orang tersebut tidak mau menjadi Kristen karena "invincible ignorance" (ketidaktahuan yang tidak dapat dihindari) ataukah karena memang kepentingan pribadi, misalkan untuk mendapatkan pangkat, sekolah yang baik, dll. Di sini perlu dipertanyakan apakah orang tersebut benar-benar mencari kebenaran di atas segalanya. Maksudnya adalah apakah orang tersebut di dalam kapasitasnya benar-benar mencari kebenaran atau Tuhan dengan segenap hati, segenap pikiran dan segenap kekuatan. Dan dalam hal ini hanya Tuhan yang tahu secara persis apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Untuk itulah, maka Gereja tidak akan pernah berkata bahwa seseorang pasti masuk neraka, namun Gereja dapat berkata orang tersebut mempunyai risiko kehilangan keselamatannya. Di sinilah pentingnya bagi orang yang telah mengenal Kristus untuk hidup kudus, sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang tidak mengenal Kristus.
Dalam hal ini, Gereja Katolik menyatakan suatu kondisi bahwa orang dapat kehilangan keselamatan. Namun Gereja tidak pernah tahu secara persis apakah masing-masing pribadi "benar-benar tahu" bahwa Gereja Katolik adalah Sakramen Keselamatan. Kalau seseorang tahu tapi tidak melakukannya, berarti orang tersebut menempatkan kepentingan pribadi di atas Tuhan sendiri, dan ini adalah berdosa. Jawaban apakah ada keselamatan di luar Gereja Katolik, dapat dilihat di sini dan di sini (silakan klik). Jika sesilia ingin mengetahui lebih lanjut tentang konsep keselamatan menurut Gereja Katolik, silakan klik di artikel ini: Sudahkah kita diselamatkan?
Karena kepenuhan kebenaran ada di Gereja Katolik, umat Katolik seharusnya dapat hidup lebih kudus, karena berkat-berkat yang mengalir dari Sakramen-sakramen, seperti: Ekaristi, Pengampunan Dosa.
III. Menjawab pertanyaan teman Sesilia.
"orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi". Keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.
Karena Tuhan adalah maha adil, maka kita meyakini bahwa berkat dari Tuhan adalah cukup dan berlimpah bagi setiap orang. Jadi gerakan Roh Kudus ini adalah yang membawa orang pada pertobatan dan perbuatan kasih. Rasul Yohanes mengatakan "Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." (1 Yoh 4:16).
IV. Kontradiksi konsep keselamatan?
"Orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi."
Jadi bagi orang yang bukan kesalahannya sendiri dapat masuk surga sejauh keadaan tidak mengenal Kristus adalah sebagai akibat dari "invincible ignorance" (ketidak tahuan yang tak dapat dihindari) seperti yang telah dijelaskan di atas.
Hal ini dikarenakan bahwa orang yang benar-benar tahu bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik namun tidak masuk di dalamnya berarti dia mendahulukan kepentingan pribadi di atas pencarian kebenaran.
"Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”.
Ini berarti bahwa orang Katolik yang mempunyai "kepenuhan kebenaran" harus benar-benar dapat menerapkan ajaran kasih. Bagi orang Katolik tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan dan sesama, karena semua telah diberi berkat yang berlimpah dari sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memampukan seseorang untuk hidup kudus setelah menerima Sakramen Baptis.
V. Ok. Sekarang ceritakan bagaimana konsep keselamatan dari teman Sesilia.
Demikian apa yang dapat saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan teman Sesilia. Maaf agak panjang, karena ada banyak yang bertanya tentang konsep keselamatan.
Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Sesilia dan juga bagi para pembaca yang lain.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
terimakasih atas penjelasannya, semoga hati teman saya tergerak untuk memikirkan kebenaran ini, dan bukan sekadar mengajak debat untuk kepentingan sendiri saja. Syukurlah karena kasih Tuhan maka saya mendapat banyak bantuan dalam berdialog dengan teman saya ini. semoga http://www.katolisitas.org ini makin diberkati oleh Tuhan dalam setiap pelayanan nya.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Jeffmorg on 7 December 2008:
Shalom bpk Stef
Melihat 2 Tes 2:15,sesuai bpk Stef jelaskan,inilah yang mendasari Gereja Katolik mempunyai pilar kebenaran yang lain, yaitu Tradisi Suci dan teman saya yang kristen non katolik bertanya jadi coba anda baca Wahyu 22:18-19 Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis didalam kitab ini, Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus,seperti yang tertulis didalam kitab ini.
Jadi saya bertanya kepada dia, jika terjadi penafsiran ayat yang berbeda, otoritas apa dan kitab apa sebagai pegangan untuk menklopkannya dan dia menunjukkan contoh diayat Kis 15:1-2 dan seterusnya dia berpesan lihat ayat Mat 24:45-47 dan Kis 20:29-30.-
mohon pencerahaannya
Salam kasih
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Jeffmorg,
Terimakasih atas pertanyaannya dan kesungguhan Jeffmorg untuk mewartakan kebenaran. Mari kita melihatnya satu persatu.
I. Mengurangi dan menambahkan ayat-ayat.
Jeffmorg mengemukakan dasar mengapa Gereja Katolik percaya Kitab Suci and Tradisi Suci, dimana dikatakan "Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis" (2 Tes 2:15).
Dan kemudian teman Jeffmorg mengambil ayat dari Wahyu 22:18-19, yang mengatakan "Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini." (Why 22:18-19).
Maka marilah kita menganalisanya:
II. Penafsiran yang berbeda-beda.
Pada waktu Jeffmorg menanyakan bagaimana jika terjadi penafsiran yang berbeda, maka teman Jeffmorg menambil ayat-ayat berikut ini:
Dari ayat-ayat di ambil di atas, kita dapat menganalisanya:
Dan inilah yang terjadi di dalam Gereja Katolik, dimana melalui konsili-konsili, Gereja Katolik mengambil keputusan yang diterangi oleh Roh Kudus, sehingga Gereja dapat melindungi ajaran Kristus dari penyimpangan-penyimpangan. Rasul Yakobus adalah uskup pertama Yerusalem, yang dalam kondisi sekarang adalah para uskup yang membawahi keuskupan.
Inilah suatu bukti bahwa konsili pertama menjadi alat untuk menghindari perpecahan antara jemaat Kristen perdana dari kaum Yahudi dan non-Yahudi. Pada saat mereka mendasarkan pengajaran pada konsili yang berpegang pada pengajaran Kristus, maka perpecahan dapat dihindari. Dan inilah yang diajarkan oleh Gereja Katolik, sehingga Gereja Katolik tetap satu, kudus, katolik dan apostolik. Empat tanda Gereja Katolik inilah yang membuktikan bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kristus sendiri.
Demikian uraian yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Jeffmorg. Perlu diingat, bahwa kita harus menyampaikan kebenaran dengan hormat dan lemah lembut (1 Pet 3:15). Bawalah diskusi seperti ini di dalam doa, sehingga Jeffmorg diberikan kebijaksanaan untuk menyampaikan kebenaran dengan kata-kata yang tepat, sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by semang on 1 December 2008:
hai,saya orang Malaysia dan Katolik.saya baru berkenalan dengan web ini,sangat menarik.terima kasih.saya sering tertanya-tanya 1. adakah Jews,Kristian dan Islam agama yang betul2 diwahyukan oleh Tuhan? 2.jika diwahyukan kenapa setelah jews dilahirkannya Kristian dan selepas Kristian dilahirkan Islam? 3. Adakah Jews dan Kristian itu tidak sempurna sehingga dilahirkannya agama Islam?
terima kasih.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Semang,
Alamak, senangnya dapat kunjungan dari Malaysia! Selamat datang di http://www.Katolisitas.org.
Mengenai pertanyaan anda, inilah yang dapat saya jawab:
He: ”So, is this what the sage, Jesus, had to say?” (Jadi inikah yang dikatakan Yesus, sang saga?)
I: “Not exactly, but close.” (Tidak persis, tapi hampir mendekati)
He: “What did He leave out?” (Apa yang tidak disebutkan-Nya?)
I: “Nothing.” (Tidak ada)
He: “Then what did He add?” (Jadi, apa yang ditambahkan-Nya?)
I: “Himself”… (Diri-Nya sendiri)
He: “Well, why so troubled this evening?” (Lalu, kenapa engkau gundah sore ini?)
I: “Because I really believe there is a difference between “You shall be holy, for the Lord your God am holy” and “If you would be perfect, go, sell all you have and come, follow me.” (Sebab saya percaya ada perbedaan antara “Engkau harus menjadi kudus, sebab Aku Tuhanmu adalah kudus” dengan “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan datanglah, ikutlah aku.)
He: “I guess then, it really depends on who the ‘me’ is.” (Saya pikir, itu tergantung dari siapa sang ‘aku’ itu)
KGK 65: "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr 1:1-2). Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, adalah Sabda Bapa yang tunggal, yang sempurna, yang tidak ada taranya. Dalam Dia Allah mengatakan segala-galanya, dan tidak akan ada perkataan lain lagi. Hal ini ditegaskan dengan jelas oleh santo Yohanes dari salib dalam uraiannya mengenai Ibrani 1:1-2:
"Sejak Ia menganugerahkan kepada kita Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya, Allah tidak memberikan kepada kita sabda yang lain lagi. Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang satu itu…. Karena yang Ia sampaikan dahulu kepada para nabi secara sepotong-sepotong, sekarang ini Ia sampaikan dengan utuh, waktu Ia memberikan kita seluruhnya yaitu Anak-Nya. Maka barang siapa sekarang masih ingin menanyakan kepada-Nya atau menghendaki dari-Nya penglihatan atau wahyu, ia tidak hanya bertindak tidak bijaksana, tetapi ia malahan mempermalukan Allah; karena ia tidak mengarahkan matanya hanya kepada Kristus sendiri, tetapi merindukan hal-hal lain atau hal-hal baru" (Carm 2,22)
KGK 66: "Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus" (Dei Verbum 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristien, supaya dalam peredaran zaman lama-kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.
KGK 67: Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan "wahyu pribadi", yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk "menyempurnakan" wahyu Kristus yang definitif atau untuk "melengkapinya", melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja.
Iman Kristen tidak dapat "menerima" wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas "wahyu-wahyu" yang demikian itu.
KGK 73:
Allah mewahyukan Diri secara penuh dengan mengutus Putera-Nya sendiri; di dalam Dia Ia mengadakan perjanjian untuk selama-lamanya. Kristus adalah Sabda Bapa yang definitif, sehingga sesudah Dia tidak akan ada wahyu lain lagi.
Dengan pengajaran di atas, maka kita sebagai orang Katolik percaya bahwa kepenuhan dan kesempurnaan Wahyu Allah sudah diberikan di dalam dan oleh Kristus sendiri. Oleh karena itu kita menganggap wahyu Allah sebelum Kristus sebagai wahyu yang menunjuk kepada Kristus, sedangkan wahyu-wahyu lain sesudah Kristus, apalagi yang bertentangan dengan ajaran Kristus, tidak dapat kita anggap sebagai Wahyu Allah.
Demikian jawaban saya, semoga dapat menjawab pertanyaan Semang.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by andryhart on 1 December 2008:
Shalom,
Orang Kristen non-reformasi kerap menggunakan istilah apokrif untuk injil yang mereka anggap bukan termasuk ke dalam Alkitab. Apakah istilah ini bukan suatu penghalusan untuk deuterokanonika? Seorang rama mengatakan dalam homilinya, jika ada orang-orang Kristen non-Katolik yang mengatakan bahwa Gereja Kristen Katolik sering menambah tulisan dalam injil, maka katakan saja bahwa Gereja Kristen non-Katolik pun memiliki kebiasaan menghilangkan tulisan dalam Injil. Namun, saya sebenarnya ingin mendapatkan kejelasan mengapa Gereja Kristen non-Katolik tidak mematuhi saja semua konsili yang menetapkan tulisan mana saja yang tergolong ke dalam Injil Kanonik seperti halnya mereka menaati hasil keputusan konsili Carthago yang menetapkan tulisan Markus, Matius, Lukas dan Yohanes sebagai Injil kanonik? Ajaran siapakah yang mempengaruhi pemikiran mereka? Martin Luther ataukah Calvin? Mohon kejelasannya dari sejarah gereja. Tuhan memberkati.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Andry,
Sebenarnya menurut St. Agustinus perkataan "Apokrif" atau apocrypha artinya adalah ‘tidak jelas asal usulnya’ yang berkonotasi dengan buku yang tidak diketahui pengarangnya atau buku yang keasliannya dipertanyakan. Namun secara umum, perkataan "apokrif" tadi diartikan sebagai sesuatu yang ’salah, buruk atau sesat’, sehingga sebaiknya kita tidak menggunakan kata "apokrif" karena artinya sama sekali bukan penghalusan kata "deuterokanonika", tetapi malahan sebaliknya.
Maka sebaiknya kita menggunakan saja kata "Deuterokanonika" yang terjemahan bebasnya adalah, "yang menjadi milik kanon yang kedua". Sebab memang kitab-kitab yang termasuk di dalamnya tidak termasuk di dalam Kitab agama Yahudi. Apa alasan persisnya kenapa baru ditetapkan di kanon kedua, memang tidak diketahui. Ada yang menyebutkan karena naskah asli dalam bahasa Ibraninya tidak diketemukan, namun yang ada hanya terjemahan bahasa Yunaninya, walaupun para Bapa Gereja seperti Origen tidak meragukan keaslian kitab-kitab ini, bahwa kitab tersebut tentu pertama kali ditulis dalam bahasa Ibrani, sebelum diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Namun karena pada jaman abad awal terjadi banyak kerusuhan terhadap bangsa Yahudi dan Bait Allah tempat menyimpan semua kitab suci pun dihancurkan, maka dapat dimengerti jika kitab-kitab dalam bahasa Ibrani tersebut terancam keberadaannya.
Kenyataan ini membuat sebagian orang seperti Luther dan Calvin yang tidak memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika ini ke dalam kitab suci mereka, sehingga hal ini diteruskan oleh para pengikut mereka atau bahkan gereja Protestan lainnya sampai sekarang.
Kitab-kitab yang termasuk Deuterokanonika ini adalah:
Kitab-kitab tersebut sudah termasuk di dalam kanon Kitab Suci sesuai dengan yang ditetapkan di Konsili Carthage di tahun 397. Jika kita membaca isi kitab Deuterokanonika tersebut tidak ada yang bertentangan dengan isi Alkitab yang lain, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita-kitab tersebut ‘buruk’. Kitab tersebut malah memperjelas apa yang disampaikan dalam kitab Perjanjian Lama yang lain. Contohnya saja, di tambahan kitab Esther, ada uraian tentang mimpi Mordekai, surat penetapan Haman, doa Mordekai dan doa Esther, yang jika dibaca dalam kesatuan dengan Kitab Esther dalam kanon terdahulu dapat menjelaskan isi Kitab Esther secara lebih lengkap dan membuat ceritanya ‘make sense’. (Misalnya, di kitab terdahulu hanya disebut ada surat Haman, tetapi isi persisnya tidak dijabarkan, sedangkan di kitab tambahan Esther isi surat itu dijabarkan).
Jadi, Jika Andry menanyakan kenapa Luther dan Calvin tidak menerima saja kitab-kitab yang sudah ditentukan oleh Konsili Carthage, maka sesungguhnya jika bisa, sayapun ingin bertanya demikian kepada mereka. Tetapi mungkin, Luther mencoret kitab Deuterokanonika terutama karena tidak setuju dengan isi Kitab 2 Makabe yang mengajarkan untuk berdoa bagi keselamatan jiwa orang-orang yang telah meninggal, sebab Luther berpendapat bahwa keselamatan diperoleh hanya karena iman (Sola Fide).
Jadi yang benar adalah Gereja Katolik tidak pernah menambah-nambah Kitab Suci, sebab memang dari sejak awal ditetapkan sudah demikian. Yang terjadi adalah pengurangan oleh pihak pendiri gereja Reformasi, yang akhirnya diturunkan kepada generasi-generasi berikut dalam bermacam denominasi.
Mengenai uraian sejarah, mungkin akan kita tuliskan dalam artikel terpisah di waktu yang akan datang.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Saulus on 28 November 2008:
Senang sekali membaca tulisan-tulisan yang ada dalam