<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 2)</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/06/14/gereja-tonggak-kebenaran-tanda-kasih-tuhan-bagian-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/06/14/gereja-tonggak-kebenaran-tanda-kasih-tuhan-bagian-2/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 04:19:01 +0700</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/14/gereja-tonggak-kebenaran-tanda-kasih-tuhan-bagian-2/comment-page-1/#comment-48</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Thu, 26 Jun 2008 16:27:54 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=121#comment-48</guid> <description>Shalom Bapak Yosep,
Memang sudah menjadi tantangan bagi kita semua untuk menjadikan misa sebagai kesempatan untuk menyembah Tuhan di dalam ikatan persaudaraan dengan sesama umat.
Dulu, sewaktu kuliah di Bandung, saya pernah mengikuti misa di gereja yang mengadakan acara minum kopi/ teh sesudah misa, supaya umat yang hadir dapat saling kenal. Ide yang bagus, tetapi, jika jumlah umat terlalu banyak, mungkin hal ini sulit diterapkan.
Mungkin, memang ada baiknya umat di kota- kota besar diingatkan kembali tentang pentingnya persaudaraan ini, entah dalam homili, atau dalam pengajaran dan pertemuan organisasi Gereja.Mengenai para pastor jaman sekarang, saya kurang dapat memberikan komentar. Harus diakui, bahwa untuk menjadi pastor di jaman sekarang ini memang cukup sulit dan banyak tantangan. Tetapi saya percaya jika banyak umat yang berdoa untuk rahmat panggilan ini,dan untuk para pastor kita, Tuhan akan menjawabnya, seperti yang diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II. Saya tidak tahu persis keadaan di Indonesia, tetapi di Amerika ini, di keuskupan yang lebih orthodox, misal di St. Louis, menjadi ladang yang subur buat para pastor-pastor muda. Uskup Burke baru saja mentahbiskan 8 pastor. Jadi semakin umat mendapatkan pengetahuan yang benar tentang iman Katolik, semakin umat diajak masuk dalam kehidupan doa Gereja, sehingga budaya doa menjadi budaya keluarga, akan semakin meningkatkan karunia panggilan hidup membiara.Mari kita menjalankan bagian kita, yaitu menjadikan doa bagian dari kehidupan keluarga kita dan mari berdoa bagi para pastor dan pemimpin Gereja, dan mohon agar Tuhan mengirimkan rahmat panggilan untuk bekerja di ladang anggur-Nya.Salam damai Kristus dari www.katolisitas.orgIngrid Listiati</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Bapak Yosep,<br
/> Memang sudah menjadi tantangan bagi kita semua untuk menjadikan misa sebagai kesempatan untuk menyembah Tuhan di dalam ikatan persaudaraan dengan sesama umat.<br
/> Dulu, sewaktu kuliah di Bandung, saya pernah mengikuti misa di gereja yang mengadakan acara minum kopi/ teh sesudah misa, supaya umat yang hadir dapat saling kenal. Ide yang bagus, tetapi, jika jumlah umat terlalu banyak, mungkin hal ini sulit diterapkan.<br
/> Mungkin, memang ada baiknya umat di kota- kota besar diingatkan kembali tentang pentingnya persaudaraan ini, entah dalam homili, atau dalam pengajaran dan pertemuan organisasi Gereja.</p><p>Mengenai para pastor jaman sekarang, saya kurang dapat memberikan komentar. Harus diakui, bahwa untuk menjadi pastor di jaman sekarang ini memang cukup sulit dan banyak tantangan. Tetapi saya percaya jika banyak umat yang berdoa untuk rahmat panggilan ini,dan untuk para pastor kita, Tuhan akan menjawabnya, seperti yang diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II. Saya tidak tahu persis keadaan di Indonesia, tetapi di Amerika ini, di keuskupan yang lebih orthodox, misal di St. Louis, menjadi ladang yang subur buat para pastor-pastor muda. Uskup Burke baru saja mentahbiskan 8 pastor. Jadi semakin umat mendapatkan pengetahuan yang benar tentang iman Katolik, semakin umat diajak masuk dalam kehidupan doa Gereja, sehingga budaya doa menjadi budaya keluarga, akan semakin meningkatkan karunia panggilan hidup membiara.</p><p>Mari kita menjalankan bagian kita, yaitu menjadikan doa bagian dari kehidupan keluarga kita dan mari berdoa bagi para pastor dan pemimpin Gereja, dan mohon agar Tuhan mengirimkan rahmat panggilan untuk bekerja di ladang anggur-Nya.</p><p>Salam damai Kristus dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a></p><p>Ingrid Listiati</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: YOSEP</title><link>http://katolisitas.org/2008/06/14/gereja-tonggak-kebenaran-tanda-kasih-tuhan-bagian-2/comment-page-1/#comment-46</link> <dc:creator>YOSEP</dc:creator> <pubDate>Thu, 26 Jun 2008 12:08:29 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/?p=121#comment-46</guid> <description>Bapak dan Ibu,
Saya merasakan dan melihat perbedaan dalam mengikuti misa di kota dan daerah/desa. Jika saya di desa/daerah ada suatu kebersamaan dan persaudaraan pada saat misa dan sesudah misa. Berbeda jika saya misa di kota, individualitas tinggi.
Dan saya merasakan bahwa Pastor sekarang berbeda dengan saat lalu. Dulu saya merasakan bahwa peran Pastor sebagai gembala yang selalu perhatian dengan umat, Namun sekarang saya melihat dan merasakan bahwa peran Pastor hanya sebagai birokrat dan administratur gereja. Tidak sebagai pemimpin umat/gembala ??? Apakah cara pendidikan menjadi imam sekarang berbeda dengan yang lampau ???? Dan saya pandang perlu untuk merubah cara pendidikan imam.
Jika 15 seminaris dari Seminari Menengah maka yang akan melnajutkan ke jenjang Seminari Tinggi 10 orang dan Dan yang nanti ikut Pastoral hanya 4 orang dan 2 orang menjadi pastor, lalu 1 orang lepas jubah dan menjadi romo berkeluarga, Bagaimana ini ??????</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Bapak dan Ibu,<br
/> Saya merasakan dan melihat perbedaan dalam mengikuti misa di kota dan daerah/desa. Jika saya di desa/daerah ada suatu kebersamaan dan persaudaraan pada saat misa dan sesudah misa. Berbeda jika saya misa di kota, individualitas tinggi.<br
/> Dan saya merasakan bahwa Pastor sekarang berbeda dengan saat lalu. Dulu saya merasakan bahwa peran Pastor sebagai gembala yang selalu perhatian dengan umat, Namun sekarang saya melihat dan merasakan bahwa peran Pastor hanya sebagai birokrat dan administratur gereja. Tidak sebagai pemimpin umat/gembala ??? Apakah cara pendidikan menjadi imam sekarang berbeda dengan yang lampau ???? Dan saya pandang perlu untuk merubah cara pendidikan imam.<br
/> Jika 15 seminaris dari Seminari Menengah maka yang akan melnajutkan ke jenjang Seminari Tinggi 10 orang dan Dan yang nanti ikut Pastoral hanya 4 orang dan 2 orang menjadi pastor, lalu 1 orang lepas jubah dan menjadi romo berkeluarga, Bagaimana ini ??????</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 1/52 queries in 0.094 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-09-08 11:27:25 -->