Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?

Yesus Kristus, Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Setelah kita melihat pembuktian tentang keberadaan Tuhan yang Satu, maka sekarang kita akan meneliti Tuhan, seperti yang dipercayai oleh agama-agama yang percaya akan satu Tuhan. Kristen, Islam, dan agama Yahudi adalah tiga agama yang percaya akan satu Tuhan, dan juga dimulai di daerah yang sama. Yang paling membedakan antara dua agama monotheism yang lain dengan Kristen adalah figur “Yesus”. Bahkan bisa dikatakan, bahwa agama Kristen adalah bukan agama yang berdasarkan buku, namun berdasarkan sosok Pribadi, yaitu Yesus Kristus.

Untuk menjawab, kenapa orang Kristen percaya kepada Yesus, kita tidak bisa hanya mendasarkan argumen pada filosofi, karena keterbatasan dari pemikiran manusia. Yesus, Tuhan yang dilahirkan sebagai manusia, tidak dapat diterangkan dengan pemikiran manusia semata, namun harus digabungkan dengan iman.[1] Filosofi dapat membantu untuk menerangkan bahwa kepercayaan itu adalah “yang sudah selayaknya”. Disini kita dapat menggunakan “argument of fittingness.” Argumen ini untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang dinyatakan oleh Tuhan adalah memang sudah seharusnya atau selayaknya terjadi.

Membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan:

Argumen dari prinsip kesempurnaan mahluk berakal budi.

Yesus Kristus hanya dapat dijelaskan dalam relasinya dengan Allah, yaitu Allah yang mempunyai tiga kepribadian. Sesuatu yang dapat disetujui bersama tentang Tuhan, yaitu Tuhan adalah Maha sempurna. Kesempurnaan manusia dikarenakan oleh keberadaan manusia sebagai mahluk personal atau “personal being,” yang mempunyai kemampuan untuk mengasihi, memberikan dirinya kepada orang lain, dan juga mempunyai kemampuan untuk berkumpul dengan sesama. Kalau ini benar untuk manusia (tingkat natural), maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud.

Argumen dari definisi kasih.

Kasih tidak mungkin dapat berdiri sendiri. Kasih senantiasa melibatkan dua pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, masing-masing dapat mengasihi secara lengkap, karena suami-istri “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih, kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak mempunyai seseorang yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan yang terisolasi sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin untuk menyalurkan kasih-Nya yang sejati.

Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, kalau kita pikir secara logis, hal ini tidaklah mungkin karena Tuhan tidak mungkin tergantung dari manusia yang kasihnya tidaklah berarti dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikin, sangatlah logis, kalau Tuhan mempunyai “kehidupan interior/ interior life,” sehingga Dia dapat memberikan cinta sempurna yang rela berkorban. Dan dalam kehidupan interior inilah ada Yesus Kristus, Allah Putera, yang mempunyai derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Operasi dari Allah Bapa dan Allah Putera adalah mengasihi secara kekal, sempurna, dan tak terbatas. Dan buah dari kasih ini adalah Roh Kudus.[2] Dan dengan kematian Yesus di kayu salib, Tuhan menunjukkan akan bukti adanya kasih yang sempurna, yaitu dengan memberikan diri sendiri kepada orang lain.[3] Pembahasan lengkap tentang Trinitas akan dibahas dalam tulisan yang lain.

Yesus adalah Tuhan – melalui empat pilihan

Salah satu cara untuk membuktikan ke-Allahan dari Yesus adalah dengan memberikan beberapa pilihan sehingga pada akhirnya kita dapat menentukan pilihan secara logis. Pembuktian ini (pilihan satu – tiga) disarikan dari pembuktian menurut C.S. Lewis dalam bukunya “Mere Christianity”[4] dengan maksud untuk memberikan penjelasan kepada orang-orang – termasuk yang bukan Kristen – yang mungkin berkata “Saya percaya kepada Yesus hanya sebagai nabi, atau orang yang yang baik, atau sebagai guru moral yang besar, namun saya tidak mau mempercayai Yesus sebagai Tuhan.” Percaya kepada Yesus tidak bisa setengah-setengah. Mungkin terjemahan dalam bahasa Indonesia terdengar kasar, namun kontras ini dibuat agar kita dapat memilih pilihan yang paling logis bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Tuhan.

Pilihan 1 – Yesus adalah sungguh Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia

Di dalam sejarah manusia, tidak ada manusia yang pernah mengaku dirinya sebagai Tuhan dan juga mempunyai kemampuan dan kuasa Tuhan. Para nabi dari berbagai agama tidak pernah mengaku bahwa mereka adalah satu (hypostatic union) dengan Tuhan seperti yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri.

Juga dapat dibuktikan bahwa di masa hidupnya, Yesus melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan, sebagai contoh: 1) Yesus mengampuni dosa manusia, seperti yang ditunjukkan dalam cerita penyembuhan orang yang lumpuh (Mat 9:2-8), 2) Yesus menempatkan diri sebagai Pemberi dan Pengatur dari hukum moral, seperti yang ditunjukkan dalam kotbah di bukit (Mat 5:27-28), 3) Dia juga memberikan peneguhan bahwa Yesus dan Allah adalah satu (Yoh 10:30), 4) Yesus juga mengatakan bahwa segala kuasa di bumi dan di surga diberikan kepada-Nya (Mat 28:18). Kalau kita tidak percaya akan pilihan ini, maka kita akan mengambil kesimpulan dengan pilihan-pilihan di bawah ini.

Pilihan 2 – Yesus adalah seorang yang tidak dapat menggunakan akal sehat (dalam bukunya, C.S Lewis mengatakan “madman”)

Di dalam Kitab Suci tidak pernah ada yang mengindikasikan bahwa Yesus adalah seseorang yang tidak dapat menggunakan akal sehat. Adalah sangat tidak mungkin, kalau para rasul, para santa dan santo mau mengorbankan nyawa mereka untuk seseorang yang tidak dapat menggunakan akal sehat. Jadi pilihan ini sebetulnya sangatlah tidak mungkin.

Pilihan 3 – Yesus adalah seorang yang lebih buruk dari itu (dalam bukunya, C.S Lewis mengatakan “something worse”)

Kalau Dia mengaku bahwa diri-Nya adalah Tuhan – padahal bukan – maka dapat disimpulkan bahwa Dia adalah seseorang yang jahat. Namun untuk mengambil kesimpulan bahwa Yesus adalah seorang yang jahat adalah tidak mungkin, karena Dia hanya melakukan sesuatu yang baik, dan ajaran moral yang disampaikan kepada manusia adalah begitu sempurna dan tidak ada duanya dibandingkan dengan ajaran agama yang lain. Mungkin ada yang pernah mendengar bahwa Mahatma Gandi begitu mengagumi Yesus, terutama ajaran kotbah di bukit. Jadi pilihan ini juga tidak mungkin.

Pilihan 4 – Cerita tentang Yesus adalah kebohongan belaka

Ada beberapa kesaksian dari agama lain yang mengatakan bahwa Yesus dijadikan Tuhan oleh manusia – yaitu oleh para murid dan pengikut dan juga pada jaman Konstantinopel, di Konsili Niceae (325). Ini adalah pernyataan yang mau membagi dan memisahkan antara Yesus menurut sejarah (Jesus of History) dan Yesus menurut iman (Jesus of faith). Namun pernyataan ini sangatlah tidak mendasar kalau kita melihat bahwa pernyataan para murid, juga termasuk St. Paulus yang dibuat sekitar beberapa tahun setelah Yesus wafat. Bayangkan kalau misalkan ada banyak tulisan bahwa di Jakarta tidak pernah terjadi banjir. Dan berita ini terus diberitakan di dalam koran, televisi, dll. Tentu saja ini berita yang tidak benar, dan orang-orang yang mengalami kebanjiran akan protes dan membuat surat pernyataan, demo, dll. Namun pernyataan bahwa Yesus adalah Tuhan di depan saksi banyak orang – yang mengalami kehidupan Yesus – tidak mengundang protes atau tulisan yang menyanggah. Sejarah tidak menemukan tulisan asli abad awal yang menyanggah tentang kebangkitan Kristus. Jadi, kesimpulannya, Yesus sungguh bangkit; kebangkitanNya adalah sesuatu yang nyata dan bukan karangan para muridNya. Jadi kemungkinan bahwa Yesus adalah kebohongan belaka, sangatlah tidak mungkin.

Kalau kemungkinan 2,3, dan 4 adalah tidak mungkin, maka hanya kemungkinan 1 saja yang paling mungkin, yaitu “Yesus adalah Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia.”

Pembuktian indah dari seorang kepala Rabi Yahudi yang menjadi Katolik

Pembuktian yang indah dari hal sama ditulis juga dalam buku autobiografi Eugenio Zolli, kepala rabi Yahudi pada masa perang dunia ke-2 yang kemudian menjadi Katolik pada tahun 1945.[5] Di Polandia, dia sering mengunjungi rumah teman sekolahnya yang bernama Stanislaus, yang beragama Katolik. Di dinding rumah itu tergantung salib kayu yang sederhana. Eugenio mengatakan dalam bukunya

“Sering – aku tidak tahu kenapa – aku akan menatap salib itu dan memandang cukup lama pada “seseorang” yang tergantung di salib. Sejujurnya, permenungan ini selalu diikuti gejolak di dalam jiwaku.
Mengapa orang ini disalibkan? Aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah dia orang jahat? …. Mengapa banyak orang mengikuti dia, kalau dia jahat dan mengapa temanku dan ibunya yang juga mengikuti dia adalah orang-orang yang baik? Bagaimana bahwa Stanislaus dan ibunya begitu baik dan mereka menyembah dia yang disalibkan ini? Dia tidak mengeluh, dia tidak melawan. Di wajah-nya tidak ada ekspresi kebencian ataupun kemarahan….Tidak. dia, Yesus, orang itu – sekarang menjadi “Dia” untukku dengan huruf besar “D.” Dia tidak jahat. Dia tidak mungkin jahat…. Satu hal yang kutahu dengan pasti “Dia sungguh baik“.

Pembuktian Gamaliel, dari Kisah Para Rasul.

Kita melihat di Kisah Para Rasul (Kis 5:26-42), bahwa Gamaliel, seorang ahli taurat yang sangat dihormati menasehatkan kepada orang banyak agar mempertimbangkan perbuatan terhadap pengikut Yesus (Petrus dan rasul-rasul lainnya). Sebab, di waktu yang lalu, setelah kematian Teudas yang mengaku sebagai orang yang istimewa, 400 pengikutnya tercerai berai dan lenyap. Jadi jika perbuatan para murid Kristus berasal dari manusia, mereka akan lenyap dengan sendirinya. Namun jika dari Allah, semua itu tidak dapat dilawan.

Kenyataan bahwa sampai sekarang, setelah 2000 tahun dari kejadian itu, para pengikut Kristus masih bertahan di dalam Gereja Katolik, membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan ajaran-Nya adalah dari Allah.

Yesus adalah Tuhan – melalui ” Motif yang meyakinkan / Motive of credibility”

Motif 1 – Nubuat

Motif pertama adalah nubuat atau diberitakan sebelumnya. Kedatangan Tuhan sudah dinubuatkan beribu-ribu tahun sebelum Yesus datang, dengan melalui persiapan yang panjang.[6] Adalah sangat logis, kalau kedatangan Yesus untuk misi keselamatan seluruh umat manusia dipersiapkan dengan matang, dengan tanda-tanda, sehingga orang tidak sampai salah mengerti. Kita bisa mengambil contoh: Kalau beberapa orang dalam tingkatan direktur pabrik mobil Toyota mengatakan bahwa 20 tahun lagi – semua produk mobil Toyota tidak akan menggunakan bensin, namun menggunakan tenaga surya, juga dapat bergerak dengan kecepatan 200 km/jam, ditambah dengan kemampuan yang lain – maka kita akan percaya, karena yang mengatakan adalah para pembuat mobil tersebut.

Kita dapat menerapkan prinsip ini pada hal persiapan Yesus datang ke dunia ini, yang sudah diberitakan beribu-ribu tahun sebelumnya. Bahkan Nabi Yesaya yang menulis kitab Yesaya sekitar 700 tahun sebelum kedatangan Yesus Kristus, dapat secara persis menggambarkan tentang Kristus yang menderita (Lih. Yes 53). Yesaya dapat menggambarkan secara persis apa yang akan dialami oleh Kristus, karena dia mendapatkan pengetahuan dari Tuhan sendiri. Dan bahwa di dalam sejarah, semua itu terpenuhi dalam diri Yesus, maka ini menjadi bukti akan kebenaran bahwa yang dinubuatkan adalah benar, yaitu Yesus sungguh- sungguh datang dari Tuhan dan Yesus adalah Tuhan.

Hal yang lain adalah Tuhan ingin memberitahu manusia tentang Mesias jauh hari sebelumnya, sehingga pada saatnya tiba, manusia akan dapat mengenali Mesias yang dijanjikan. Dan inilah yang membedakan antara Yesus dengan tokoh-tokoh dalam agama yang lain. Tokoh-tokoh dalam agama lain tidak pernah diberitakan sebelumnya, sebaliknya Yesus diberitakan secara konsisten dalam rangkaian waktu lebih dari 1500 tahun.

Motif 2 – Mukjizat

Motif ke-2 adalah mukjizat. Kita bisa melihat di dalam Alkitab, bahwa Yesus melakukan banyak sekali mukjizat, yang membuktikan bahwa Dia adalah Putera Allah, yang juga menjadi konfirmasi akan kebenaran semua pengajaran-Nya. Kita bisa menemukan bahwa Yesus menyembuhkan orang buta (Mat 9:27-31), orang bisu (Mat 9:32-35), orang tuli (Mk 7:31-37), orang lumpuh (Mat 9:1-8), bahkan membangkitkan orang mati (Yoh 11:1-46).

Yesus juga mengatakan bahwa “ …. tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10:37-38).

Di atas semua itu, mukjizat terpenting adalah kebangkitan Kristus (Mat 28:1-10; Mar 16:1-20; Luk 24:1-53; Yoh 20:1-29, 21:1-19; Kis 1:3; 1 Kor 15:17; 1 Kor 15:5-8). Mungkin ada banyak orang yang dapat melakukan mukjizat dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Namun orang tersebut pada akhirnya meninggal dan tidak dapat bangkit dengan kekuatan sendiri. Namun Yesus menunjukkan bahwa Ia mempunyai kuasa di atas segalanya, termasuk kematian. Hanya Tuhan yang dapat melakukan hal ini.

Motif 3 – Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus

Keberadaan Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri menjadi bukti akan janji-Nya sebagai Allah untuk melidungi Gereja-Nya sampai akhir jaman (lih. Mat 16:18) di bawah kepemimpinan rasul Petrus dan juga penerusnya, yaitu para paus. Sudah begitu banyak percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik, baik dari dalam Gereja maupun dari luar Gereja. Namun sesuai dengan janji Kristus, Gereja Katolik tetap bertahan dengan mengajarkan kebenaran yang penuh, ditandai dengan sifat: satu, kudus, katolik, dan apostolik. (lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – Bagian 1 – silakan klik).

Kesimpulan

Dari semua pembuktian tersebut di atas, secara filosofi – yaitu dengan “argument of fittingness,” kita dapat menyimpulkan bahwa adalah sudah sepantasnya bahwa Yesus menjelma menjadi manusia untuk keselamatan seluruh umat manusia. Pembuktian “empat pilihan” membuat kita memilih kemungkinan yang paling logis, yaitu Yesus adalah Putera Allah. Pembuktian dari cerita Eugenio Zolli membuktikan bahwa seseorang yang tidak mengenal Kristus, akan mau mengenal dan menjadi pengikut Kristus, kalau dia melihat akan saksi hidup dari pengikut Kristus, dalam hal ini adalah Stanislaus dan ibunya. Gamaliel semakin memperkuat argumen dari “motive of credibility”, karena pengikut Kristus ada dan berkembang terus sampai saat ini. Pembuktian dari “motive of credibility” semakin meyakinkan kita bahwa Yesus adalah Putera Allah yang sudah dijanjikan, yang mampu melakukan mukjizat-mukjizat, dan keberadaan Gereja Katolik selama 2000 tahun menjadi tanda mukjizat yang terbesar setelah mukjizat kebangkitan Tuhan Yesus.

Semoga bagi yang belum mengenal dan percaya kepada Kristus dan sedang mencari kebenaran, Tuhan sendiri akan menuntun saudara untuk menemukan kebenaran itu sendiri, yaitu Kristus Yesus (Yoh 14:6). Bagi yang sudah mengenal Kristus, mari kita mencontoh kehidupan para Kudus, dan juga Stanislaus dan ibunya. Kekudusan akan membuat kita menjadi saksi Kristus yang hidup dan membawa orang untuk mengenal dan mengasihi Kristus.

Dan di dalam proses pencarian kebenaran untuk mengikuti Kristus, silakan membaca artikel: Mengapa kita memilih Gereja Katolik.


CATATAN KAKI:
  1. Trinitas, inkarnasi, surga, dll, adalah sesuatu di luar kemampuan dan jangkauan manusia. Manusia tahu tentang semua ini kalau Tuhan sendiri yang memberikan pengetahuan kepada manusia. Tanpa komunikasi ini tidak mungkin manusia menjangkau hal ini. Untuk memaksakan akal budi mengerti kenapa Tuhan mengirimkan Putera-Nya, sama saja dengan mencoba membaca pikiran Tuhan. []
  2. Roh Kudus adalah buah dari operasi kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera. Ini sebabnya bahwa setelah Pentakosta terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib. Bapa mengasihi Putera-Nya, dan Putera-Nya menunjukkan kasih-Nya dengan sempurna di kayu salib. Buah dari pertukaran dan kasih yang mengorbankan diri inilah yang menghasilkan Roh Kudus. Sehingga dalam ibadat iman yang panjang (Nicene Creed), kita melihat pernyataan “….Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putera….“ []
  3. John Paul II, Encyclical Letter on The Redeemer Of Man: Redemptor Hominis (Pauline Books & Media, 1979), no. 10 – Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa kasih yang sempurna adalah kasih yang dapat memberikan diri sendiri kepada orang lain. Dengan demikian, adalah “sesuai atau fitting” bahwa Tuhan, melalui Putera-Nya menjadi contoh yang sempurna bagaimana menerapkan kasih. Dengan demikian ini juga membuktikan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang sendirian. []
  4. C. S. Lewis, Mere Christianity (HarperOne, 2001), p.52 – C.S. Lewis mengatakan bahwa tidaklah mungkin untuk menjadi Kristen dan menerima semua ajaran moral dari Yesus kecuali pengakuan bahwa Yesus Tuhan. Dasar kekristenan adalah Yesus Tuhan. []
  5. Before the Dawn (New Your: Sheed and Ward, 1954) p.24-25 []
  6. Kita bisa melihat bahwa Tuhan mempersiapkan perjanjian yang mengarah kepada inkarnasi Yesus Kristus. Perjanjian Allah mulai dari: 1) Adam dan Hawa (tingkatan pribadi), 2) Nabi Nuh (tingkatan keluarga), 3) Abraham (pada tingkatan suku), 4) Israel (pada tingkatan bangsa), 5) dan kemudian mencapai puncaknya dengan kedatangan Yesus yang mau mengikat perjanjian dengan seluruh bangsa. Jadi, bangsa Yahudi adalah menjadi bukti persiapan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini. []
Ditulis oleh Stefanus Tay pada 13 06 08 Disimpan dalam Apologetik, Artikel, Fundamental Teologi, Kristologi. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

66 komentar untuk “Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?”

  1. 23
    Alexander Pontoh says:

    Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud.

    maksud yang saya tebali itu bagaimana ya? kalau Tuhan tidak mungkin sendirian, berarti ada banyak Tuhan?

    • 23.1

      Shalom Alexander Pontoh,

      Terima kasih atas pertanyannya. Memang sulit untuk menggambarkan kehidupan interior Allah. Pada saat kita mengatakan bahwa “Tuhan tidak mungkin sendirian”, ini berarti kita melihat kehidupan interior Allah. Dalam istilah teologis, kita mengenal istilah operasi yang “immanent” dan “transitive“. Immanent operation menghasilkan sesuatu di dalam sedangkan yang lain menghasilkan sesuatu di luar. Contoh dari transitive operation adalah kalau kita memalu suatu paku dengan palu. Hasil pakuannya adalah di luar dari palu tersebut. Ketika kita membicarakan Trinitas, maka kita melihatnya sebagai immanent operation, dimana hasil dari operasi tersebut tetap ada di dalam kehidupan interior Allah. Dengan demikian apa yang dihasilkan dari immanent operation adalah tinggal di dalam Allah, dan karena Allah adalah simple, maka hasilnya adalah Allah juga.

      Kalau kita menganalisa, pengetahuan kita akan sesuatu menghasilkan sesuatu yaitu: kata atau konsep. Kita tahu kalau kita mempunyai konsep “rumah”, maka kita mempunyai pengetahuan di dalam diri kita bagaimana rumah sebenarnya. Kalau kita mempunyai konsep yang tinggal di dalam diri kita, maka Tuhan yang juga mempunyai akal budi, menghasilkan sesuatu di dalam pengetahuan-Nya, yaitu “Word” atau “Firman” – pribadi ke dua dari Trinitas. Karena Tuhan adalah “simple”, maka Firman bukan menjadi bagian dari Tuhan, namun Tuhan itu sendiri. Tidak ada bagian di dalam Tuhan atau tidak ada accidental di dalam Tuhan, karena Tuhan adalah simple. Catatan: di dalam kehidupan spiritual, semakin simple semakin tinggi tingkat spiritualnya. Dan dengan pemikiran yang sama, maka operasi kasih di dalam Tuhan juga membuahkan sesuatu, yaitu pemberian diri atau “the gift of self“, di mana ini juga merupakan Tuhan – yaitu pribadi ke-tiga dari Trinitas. Dan “generation” dan “procession” ini berlangsung dalam kekekalan, karena Tuhan adalah kekal. Dengan demikian, ketiga Pribadi ini adalah satu Tuhan.

      Argumentasi di atas adalah argumentasi yang disebut “argument of fittingness“, yang diberikan oleh St. Agustinus dan St. Thomas. Namun, hal ini mensyaratkan bahwa kita mempercayai Trinitas, yang telah diungkapkan dalam Wahyu Allah. Argument of fittingness hanyalah membantu kita bahwa apa yang kita percayai sebenarnya mempunyai alasan yang kuat. Semoga keterangan ini dapat membantu, walaupun sulit untuk dimengerti.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • 23.1.1
        Alexander Pontoh says:

        dari contoh yang Pak Stef berikan. saya menangkapnya seperti ini dan apakah benar jika :

        pikiran atau akal budi = Allah Bapa

        kata atau konsep = Allah Putera

        kemudian…

        ??? = Allah Roh Kudus

        tolong dibantu, apa pengganti dari “???”

        —————————————————————————————————————————-

        Dengan demikian apa yang dihasilkan dari immanent operation adalah tinggal di dalam Allah, dan karena Allah adalah simple, maka hasilnya adalah Allah juga.

        Allah adalah simple = Allah adalah sederhana. maksudnya?

        —————————————————————————————————————————-

        Dan dengan pemikiran yang sama, maka operasi kasih di dalam Tuhan juga membuahkan sesuatu, yaitu pemberian diri atau “the gift of self“, di mana ini juga merupakan Tuhan – yaitu pribadi ke-tiga dari Trinitas.

        operasi kasih yang terjadi itu seperti apa? memang ngapain sih kok bisa berbuah? apakah seperti operasi kasih antara suami dan istri? sehingga menghasilkan buah kasih? :p Tuhan… ampuni saya… Xp

        • 23.1.1.1

          Shalom Alexander Pontoh,

          Terima kasih atas pertanyaannya tentang Trinitas. Kita harus melihat bahwa Tuhan adalah pure spiritual, yang tidak berawal dan tidak berakhir. Dengan demikian semua hal yang dianalogikan bersifat kekal, karena memang Tuhan adalah kekal. Dalam Trinitas, perbedaan antara ketiganya adalah dari asal / origin. Namun, origin ini adalah bersifat kekal, tidak berawal dan tidak berakhir. Jadi Allah Bapa tidak mempunyai asal, Allah Putera berasal dari Bapa dan Allah Roh Kudus merupakan hasil dari pertukaran kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera. Allah Putera adalah generation dan Allah Roh Kudus adalah procession. Argument of fittingness yang diberikan oleh St. Agustinus dan St. Thomas adalah ingin memberikan analogi terhadap Trinitas dengan menceritakan manusia yang berakal budi. Tentu saja dalam setiap analogi yang dibuat oleh manusia tidak akan dapat menggambarkan secara persis tentang Tuhan. Jadi, kembali pada St. Agustinus dan St. Thomas, mereka mencoba membandingkan bahwa Allah Putera adalah seperti operasi dari akal (intellect) dan Roh Kudus seperti operasi dari budi (will).

          Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan Trinitas, yaitu:
          1) seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.
          2) trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.
          3) ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.

          God is simple atau Allah adalah sederhana diajarkan oleh St. Thomas Aquinas dalam Summa Theology. Tuhan adalah simple, karena tidak mempunyai accidental, sehingga apapun yang diattibutkan kepada Tuhan adalah Tuhan sendiri, seperti: God is His intellect and will, God is love, God is good, dll. Jadi, kita tidak mengatakan di dalam Tuhan ada kasih, namun Tuhan adalah kasih. Mungkin hal ini sulit dimengerti, namun hal ini dapat dijelaskan lebih lanjut suatu saat dengan penjelasan essense, being, accidental, substance, dll.

          Operasi kasih di dalam manusia, dalam konteks suami istri adalah menghasilkan keturunan. Oleh karena itulah hubungan suami istri menjadi sesuatu yang sakral, karena mereka berpartisipasi dalam Allah dalam proses penciptaan manusia yang baru. Namun, kita tidak dapat menyamakannya dengan manusia, karena di dalam Allah tidak ada materi namun hanya spiritual. Oleh karena itu, buah dari operasi akal dan budi juga bersifat spiritual dan kekal – karena Tuhan adalah kekal. Sebagai contoh buah dari operasi akal adalah konsep, yaitu kata (word / Firman). Dan buah dari operasi budi adalah kasih – dalam pengertian the gift of self. Semoga keterangan tambahan ini dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

    • 23.2
      Budi Darmawan Kusumo says:

      Syalom saudaraku Alexander Pontoh,

      Dari beberapa kalimat diatas sebenarnya anda sudah menjawab pertanyaan anda sendiri :

      “Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang sendirian”

      Tanggapan :
      Benar, TUHAN tidak sendirian, karena ada keberadaan-NYA, kasih-NYA, dan kemampuan-NYA ( internal dari Allah )

      Selain itu TUHAN JUGA sendirian, karena dari kata – kata Alex sendiri yaitu keberadaan-”NYA”, kasih-”NYA” ( perhatikan kata “NYA”. kata “NYA” adalah untuk kata ganti orang yang berjumlah satu. Kalau banyak seharusnya kata – katanya seperti ini, “keberadaan MEREKA, kasih MEREKA & kemampuan MEREKA” )

      Khayalan saja :
      ANDAIKAN Tuhan itu lebih dari satu, coba baca mazmur 136 : 1 – 3. Dari ayat ini anda akan dapat menemukan posisi YESUS di antara Allah – allah. ( walaupun masih BANYAK ayat lain yang mengatakan sama dengan Mazmur 136 : 1 – 3 mulai dari perjanjian lama sampai dengan perjanjian baru ). Mazmur berkata bahwa YESUS adalah Allah di atas SEGALA Allah ( TUHAN atas SEGALA YHWH ) ~ ( definisi SEGALA = SEMUA = SELURUH = LENGKAP 100% ) . jadi bukan lagi RAJA atas segala ALLAH, tapi memang ALLAH SEGALA RAJA ALLAH. jadi bayangkan saja kalau ada banyak TUHAN / ALLAH / PENCIPTA sampai TAK TERHITUNG JUMLAHnya ( BERTRILLIUN – BERTRILLIUN-TAK TERBATAS ALLAH ), posisi YESUS kita benar – benar No 1 & ONLY.

      KESIMPULAN :
      kita harus berhati – hati dalam memahami misteri TRINITAS, karena umat muslimpun juga masih belum bisa menerima konsep ini.

      TUHAN YESUS MEMBERKATI & BUNDA MARIA selalu menuntun anda pada putraNYA

  2. 22
    Michael Angello says:

    Shaloom Pak Stef…..

    Dapat diterima dengan baik Pak! Dan semakin jelas…
    Trimakasih…..

  3. 21
    Michael Angello says:

    “Pembuktian indah dari seorang kepala Rabi Yahudi yang menjadi Katolik”

    “Sering – aku tidak tahu kenapa – aku akan menatap salib itu dan memandang cukup lama pada “seseorang” yang tergantung di salib. Sejujurnya, permenungan ini selalu diikuti gejolak di dalam jiwaku.
    Mengapa orang ini disalibkan? Aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah dia orang jahat? …. Mengapa banyak orang mengikuti dia, kalau dia jahat dan mengapa temanku dan ibunya yang juga mengikuti dia adalah orang-orang yang baik? Bagaimana bahwa Stanislaus dan ibunya begitu baik dan mereka menyembah dia yang disalibkan ini? Dia tidak mengeluh, dia tidak melawan. Di wajah-nya tidak ada ekspresi kebencian ataupun kemarahan….Tidak. dia, Yesus, orang itu – sekarang menjadi “Dia” untukku dengan huruf besar “D.” Dia tidak jahat. Dia tidak mungkin jahat…. Satu hal yang kutahu dengan pasti “Dia sungguh baik“.

    COMMENT :
    Judul tulisan “Pembuktian Indah Rabi Yahudi yang menjadi Katolik” tidka bisa dijadikan sebagai BUKTI YAANG INDAH karena tulisan itu bukan dikategorikan sebagai PEMBUKTIAN tetapi sebagai KESAKSIAN PRIBADI. Dimana kesaksian pribadi ini merupakan PENGALAMAN PERSONAL yang dialami, direnungi dan dihayati oleh individu ybs. Bagi Rabi tsb, mungkin pengalaman itu meyakinkan sesuatu akan Orang yang tergantung di salib itu. Tetapi bagi orang lain yang memandang Orang yang teralib itu….mungkin tidak akan mengalami pengalam yang sama seperti yang dialami oleh Rabi tersebut.

    Tulisan Rabi tersebut mirip dengan tulisan yang orang Muslim yang bersaksi bahwa Neil Amstrong (salah satu astronot USA yang mendarat di bulan) mendengar suara Ad’zan di bulan saat dikumandangkan dari bumi. Ini juga merukan kesaksian pribadi. Tentu saja bagi ornag Muslim, sangat gampang untuk percaya kesaksian-2 seperti itu. Tetapi bagaimana dng orang-2 Non-Muslim? Tentu tidak segampang itu mereka percaya, termasuk saya sendiri.

    Kenapa saya tidak percaya kesaksian2 seperti diatas? Karena suatu kesaksian yang tidak dikuatkan oleh PIKAH KE-3 yang CREDIBLE…maka kesaksian itu lemah. Sebagai contoh kesaksian yang dikuatkan pihak ke-3 yaitu:

    A. Kelahiran Yesus sudah diramalkan dan ditulis dalam Kitab para Nabi berabad-abda jauh sebelum Yesua lahir. Mereka dengan sangat detail menjelaskan tentang profil dari bayi tersebut seperti :
    - Akan disebut putra Daud karena merupakan keturuna Daud secara daging
    - Berasal dari keturunan Yehuda
    - Bayi itu akan lahir di Betlehem
    - Akan disebut sebagia Bintang Timur (kalo gak salah) karena bintang yang terbit di bagian timur itu, tepat berada di atas gubuk tempat kelahiran Yesus
    - Kesaksian Kitab Suci dikuatkan oleh dialog antara 3 orang Majus dng Herodes dimana 3 orang Majus tersebut berdasarkan iformasi dari Kitab Suci, mereka bergegas ke Betlehem untuk menyembah Yesus
    - dan masih banyak lagi tulisan-2 Para Nabi yang MERAMALKAN tentang KELAHIRAN, KEHIDUPAN dan KEMATIAN Yesus. Dan semua terjadi SEPERTI YANG DITULUIS dalam Kitab Suci.

    B. Nubuat atau Ramalah Para Nabi terdahulu yang tertulis dalam Kitab Suci, itu semua TERLAKSANA, TERJADI, tanpa kurang satu pun. Adalah suatu KEBOHONGAN BESAR jika suatu ramalan itu TIDAK TERBUKTI. Tetapi lain halnya dng Yesus. TIDAK ADA SATU RAMALANPUN tentang YESUS YG TIDAK TERBUKTI dan TERJADI

    C. Ada BANYAK ORANG yang bertindak sebagai SAKSI yang menyaksikan terpenuhinya nubuat para nabi dalam diri Yesus. Jadi tidak hanya Neil Amstrong seorang yang ngomong “Dengar suara Ad’zan dari bumi” Jika benar demikian, bukan hanya Neil Amstorong seorang yang mengatakan demikian, tetapi banyak orang astronot lain lagi yang akan menyatkan hal yang sama saat mereka pergi ke bulan dimana mereka dapat mendengat suara Adzan dari bumi. Sangat besar kemungkinan semua ini bualan Neil Amstrong semata…..sangat memungkinkan orang berpikiran demikian bukan??? Apalagi dikemudian hari kita mendengar ternyata Neil Amstrong masuk Islam….jelas-2 ini merupakan bualan bukan?!!! Toh Neil Amstrong tidak masuk Islam…..sudah pasti orang-2 Non-Muslim cenderung akan berpikir bahwa ini DONGENG yang diciptakan oleh orang-2 Muslim untuk menciptakan suatu FAKTA SUPRANATURAL supaya eksistensi agama Islam lebih diakui di dunia….bisa saja orang-2 berpikir demikian bukan????

    KESIMPULAN:
    Saran saya….janganlah orang Katolik menggunakan tulisan Rabi tersebut sebagi PEMBUKTIAN yg INDAH….karena tulisan itu sangat tidak memenuhi syarat2 sebagai suatu PEMBUKTIAN apalagi disebut sebagai PEMBUKTIAN YANG INDAH……

    • 21.1

      Shalom Michael Angelo,

      Terima kasih atas tanggapannya. Kalau anda membaca artikel yang saya tuliskan, maka ada beberapa pembuktian yang saya coba paparkan (pembuktian dari Alkitab, motives of credibility, dll) dan tidak hanya kesaksian dari kepala Rabi Yahudi. Kesaksian ini penting, karena semua kebenaran juga harus terlihat dalam kehidupan nyata. Kesaksian rahib Yahudi ini disebut “argument of the heart“. Kesaksian ini dapat diganti dengan kesaksian dari orang-orang kudus, dan juga kesaksian kehidupan kita yang berubah setelah kita mengenal Kristus. Intinya adalah kebenaran doktrin dapat diperkuat dengan kesaksian hidup. Namun, kesaksian hidup saja tanpa kebenaran doktrin tidaklah cukup. Oleh karena itu, kita harus melihat argumentasi secara keseluruhan. Semoga keterangan tambahan ini dapat diterima dengan baik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

Page 2 of 2«12

Menginggalkan pesan

MENDUKUNG KATOLISITAS.ORG

Kalau anda ingin mendukung karya kerasulan ini secara finansial, silakan menghubungi: donation[at]katolisitas.org atau melalui Paypal / Credit Card di bawah ini. Karya kerasulan ini dapat terus berlangsung karena rahmat Tuhan dan juga dukungan dari semuanya. Tuhan memberikati.

TRANSLATE FROM INDONESIAN TO:

KOMENTAR TERAKHIR

Artikel-artikel Terkait

© Copyright katolisitas - 2008 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja.

Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial.

Renungan dan doa diterjemahkan dari: Every Day Is a Gift by Frederick Schroeder, CBPC, 1984.

 

Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, Hari dimana Gereja memperingati  Bunda Maria mengunjungi Elizabeth

Romo pembimbing: Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ.  |  Ahli Hukum Gereja dan Perkawinan: RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. |  Ahli Sakramen dan Liturgi: Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD
Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. |  Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min., Th.M.
Penulis tetap: Romo Bernardus Boli Ujan SVD  |  Romo Wanta, Pr  |  Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
Penanggung jawab situs: Stefanus Tay, M.T.S  |  Ingrid Listiati Tay, M.T.S.