Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?

Pencarian kebenaran akan Tuhan mengarahkan manusia kepada kepercayaan akan satu Tuhan. Namun pengetahuan dari Allah yang dinyatakan kepada manusia membuka pengetian yang baru, bahwa Tuhan, selain Maha Besar, juga Immanuel, yaitu Tuhan yang bersama dengan manusia. Dia Immanuel karena Dia adalah Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia, hadir di dalam sejarah umat manusia, dan dinamakan Yesus Kristus. Kehadiran-Nya di dunia dan ke-Allahan dari Yesus dapat dijelaskan melalui:

  • Argumen dari prinsip kesempurnaan mahluk berakal budi.
  • Argumen dari definisi kasih.
  • Pembuktian Yesus adalah Tuhan melalui “empat pilihan” (pilihan satu sampai tiga dari C.S. Lewis)
  • Pembuktian indah dari seorang kepala rabi Yahudi yang menjadi Katolik.
  • Pembuktian Gamaliel dari Kisah Para Rasul.
  • Pembuktian Yesus adalah Tuhan melalui “Motif yang meyakinkan / Motive of credibility”

Cross_12Yesus Kristus, Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Setelah kita melihat pembuktian tentang keberadaan Tuhan yang Satu, maka sekarang kita akan meneliti Tuhan, seperti yang dipercayai oleh agama-agama yang percaya akan satu Tuhan. Kristen, Islam, dan agama Yahudi adalah tiga agama yang percaya akan satu Tuhan, dan juga dimulai di daerah yang sama. Yang paling membedakan antara dua agama monotheism yang lain dengan Kristen adalah figur “Yesus”. Bahkan bisa dikatakan, bahwa agama Kristen adalah bukan agama yang berdasarkan buku, namun berdasarkan sosok Pribadi, yaitu Yesus Kristus.

Untuk menjawab, kenapa orang Kristen percaya kepada Yesus, kita tidak bisa hanya mendasarkan argumen pada filosofi, karena keterbatasan dari pemikiran manusia. Yesus, Tuhan yang dilahirkan sebagai manusia, tidak dapat diterangkan dengan pemikiran manusia semata, namun harus digabungkan dengan iman[1]. Filosofi dapat membantu untuk menerangkan bahwa kepercayaan itu adalah “yang sudah selayaknya”. Disini kita dapat menggunakan “argument of fittingness.” Argumen ini untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang dinyatakan oleh Tuhan adalah memang sudah seharusnya atau selayaknya terjadi.

Argumen dari prinsip kesempurnaan mahluk berakal budi.

Yesus Kristus hanya dapat dijelaskan dalam relasinya dengan Allah, yaitu Allah yang mempunyai tiga kepribadian. Sesuatu yang dapat disetujui bersama tentang Tuhan, yaitu Tuhan adalah Maha sempurna. Kesempurnaan manusia dikarenakan oleh keberadaan manusia sebagai mahluk personal atau “personal being,” yang mempunyai kemampuan untuk mengasihi, memberikan dirinya kepada orang lain, dan juga mempunyai kemampuan untuk berkumpul dengan sesama. Kalau ini benar untuk manusia (tingkat natural), maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud.

Argumen dari definisi kasih.

Kasih tidak mungkin dapat berdiri sendiri. Kasih senantiasa melibatkan dua pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, masing-masing dapat mengasihi secara lengkap, karena suami-istri “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih, kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak mempunyai seseorang yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan yang terisolasi sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin untuk menyalurkan kasih-Nya yang sejati.

Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, kalau kita pikir secara logis, hal ini tidaklah mungkin karena Tuhan tidak mungkin tergantung dari manusia yang kasihnya tidaklah berarti dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikin, sangatlah logis, kalau Tuhan mempunyai “kehidupan interior/ interior life,” sehingga Dia dapat memberikan cinta sempurna yang rela berkorban. Dan dalam kehidupan interior inilah ada Yesus Kristus, Allah Putera, yang mempunyai derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Operasi dari Allah Bapa dan Allah Putera adalah mengasihi secara kekal, sempurna, dan tak terbatas. Dan buah dari kasih ini adalah Roh Kudus.[2] Dan dengan kematian Yesus di kayu salib, Tuhan menunjukkan akan bukti adanya kasih yang sempurna, yaitu dengan memberikan diri sendiri kepada orang lain.[3] Pembahasan lengkap tentang Trinitas akan dibahas dalam tulisan yang lain.

Yesus adalah Tuhan – melalui empat pilihan

Salah satu cara untuk membuktikan ke-Allahan dari Yesus adalah dengan memberikan beberapa pilihan sehingga pada akhirnya kita dapat menentukan pilihan secara logis. Pembuktian ini (pilihan satu - tiga) disarikan dari pembuktian menurut C.S. Lewis dalam bukunya “Mere Christianity”[4] dengan maksud untuk memberikan penjelasan kepada orang-orang - termasuk yang bukan Kristen - yang mungkin berkata “Saya percaya kepada Yesus hanya sebagai nabi, atau orang yang yang baik, atau sebagai guru moral yang besar, namun saya tidak mau mempercayai Yesus sebagai Tuhan.” Percaya kepada Yesus tidak bisa setengah-setengah. Mungkin terjemahan dalam bahasa Indonesia terdengar kasar, namun kontras ini dibuat agar kita dapat memilih pilihan yang paling logis bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Tuhan.

Pilihan 1 – Yesus adalah sungguh Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia

Di dalam sejarah manusia, tidak ada manusia yang pernah mengaku dirinya sebagai Tuhan dan juga mempunyai kemampuan dan kuasa Tuhan. Para nabi dari berbagai agama tidak pernah mengaku bahwa mereka adalah satu (hypostatic union) dengan Tuhan seperti yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri.

Juga dapat dibuktikan bahwa di masa hidupnya, Yesus melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan, sebagai contoh: 1) Yesus mengampuni dosa manusia, seperti yang ditunjukkan dalam cerita penyembuhan orang yang lumpuh (Mat 9:2-8), 2) Yesus menempatkan diri sebagai Pemberi dan Pengatur dari hukum moral, seperti yang ditunjukkan dalam kotbah di bukit (Mat 5:27-28), 3) Dia juga memberikan peneguhan bahwa Yesus dan Allah adalah satu (Yoh 10:30), 4) Yesus juga mengatakan bahwa segala kuasa di bumi dan di surga diberikan kepada-Nya (Mat 28:18). Kalau kita tidak percaya akan pilihan ini, maka kita akan mengambil kesimpulan dengan pilihan-pilihan di bawah ini.

Pilihan 2 – Yesus adalah seorang yang tidak dapat menggunakan akal sehat (dalam bukunya, C.S Lewis mengatakan “madman”)

Di dalam Kitab Suci tidak pernah ada yang mengindikasikan bahwa Yesus adalah seseorang yang tidak dapat menggunakan akal sehat. Adalah sangat tidak mungkin, kalau para rasul, para santa dan santo mau mengorbankan nyawa mereka untuk seseorang yang tidak dapat menggunakan akal sehat. Jadi pilihan ini sebetulnya sangatlah tidak mungkin.

Pilihan 3 – Yesus adalah seorang yang lebih buruk dari itu (dalam bukunya, C.S Lewis mengatakan “something worse”)

Kalau Dia mengaku bahwa diri-Nya adalah Tuhan – padahal bukan – maka dapat disimpulkan bahwa Dia adalah seseorang yang jahat. Namun untuk mengambil kesimpulan bahwa Yesus adalah seorang yang jahat adalah tidak mungkin, karena Dia hanya melakukan sesuatu yang baik, dan ajaran moral yang disampaikan kepada manusia adalah begitu sempurna dan tidak ada duanya dibandingkan dengan ajaran agama yang lain. Mungkin ada yang pernah mendengar bahwa Mahatma Gandi begitu mengagumi Yesus, terutama ajaran kotbah di bukit. Jadi pilihan ini juga tidak mungkin.

Pilihan 4 – Cerita tentang Yesus adalah kebohongan belaka

Ada beberapa kesaksian dari agama lain yang mengatakan bahwa Yesus dijadikan Tuhan oleh manusia – yaitu oleh para murid dan pengikut dan juga pada jaman Konstantinopel, di Konsili Niceae (325). Ini adalah pernyataan yang mau membagi dan memisahkan antara Yesus menurut sejarah (Jesus of History) dan Yesus menurut iman (Jesus of faith). Namun pernyataan ini sangatlah tidak mendasar kalau kita melihat bahwa pernyataan para murid, juga termasuk St. Paulus yang dibuat sekitar beberapa tahun setelah Yesus wafat. Bayangkan kalau misalkan ada banyak tulisan bahwa di Jakarta tidak pernah terjadi banjir. Dan berita ini terus diberitakan di dalam koran, televisi, dll. Tentu saja ini berita yang tidak benar, dan orang-orang yang mengalami kebanjiran akan protes dan membuat surat pernyataan, demo, dll. Namun pernyataan bahwa Yesus adalah Tuhan di depan saksi banyak orang – yang mengalami kehidupan Yesus – tidak mengundang protes atau tulisan yang menyanggah. Sejarah tidak menemukan tulisan asli abad awal yang menyanggah tentang kebangkitan Kristus. Jadi, kesimpulannya, Yesus sungguh bangkit; kebangkitanNya adalah sesuatu yang nyata dan bukan karangan para muridNya. Jadi kemungkinan bahwa Yesus adalah kebohongan belaka, sangatlah tidak mungkin.

Kalau kemungkinan 2,3, dan 4 adalah tidak mungkin, maka hanya kemungkinan 1 saja yang paling mungkin, yaitu “Yesus adalah Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia.”

Pembuktian indah dari seorang kepala Rabi Yahudi yang menjadi Katolik

Pembuktian yang indah dari hal sama ditulis juga dalam buku autobiografi Eugenio Zolli, kepala rabi Yahudi pada masa perang dunia ke-2 yang kemudian menjadi Katolik pada tahun 1945.[5] Di Polandia, dia sering mengunjungi rumah teman sekolahnya yang bernama Stanislaus, yang beragama Katolik. Di dinding rumah itu tergantung salib kayu yang sederhana. Eugenio mengatakan dalam bukunya

“Sering – aku tidak tahu kenapa – aku akan menatap salib itu dan memandang cukup lama pada “seseorang” yang tergantung di salib. Sejujurnya, permenungan ini selalu diikuti gejolak di dalam jiwaku.
Mengapa orang ini disalibkan? Aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah dia orang jahat? …. Mengapa banyak orang mengikuti dia, kalau dia jahat dan mengapa temanku dan ibunya yang juga mengikuti dia adalah orang-orang yang baik? Bagaimana bahwa Stanislaus dan ibunya begitu baik dan mereka menyembah dia yang disalibkan ini? Dia tidak mengeluh, dia tidak melawan. Di wajah-nya tidak ada ekspresi kebencian ataupun kemarahan….Tidak. dia, Yesus, orang itu – sekarang menjadi “Dia” untukku dengan huruf besar “D.” Dia tidak jahat. Dia tidak mungkin jahat…. Satu hal yang kutahu dengan pasti “Dia sungguh baik“.

Pembuktian Gamaliel, dari Kisah Para Rasul.

Kita melihat di Kisah Para Rasul (Kis 5:26-42), bahwa Gamaliel, seorang ahli taurat yang sangat dihormati menasehatkan kepada orang banyak agar mempertimbangkan perbuatan terhadap pengikut Yesus (Petrus dan rasul-rasul lainnya). Sebab, di waktu yang lalu, setelah kematian Teudas yang mengaku sebagai orang yang istimewa, 400 pengikutnya tercerai berai dan lenyap. Jadi jika perbuatan para murid Kristus berasal dari manusia, mereka akan lenyap dengan sendirinya. Namun jika dari Allah, semua itu tidak dapat dilawan.

Kenyataan bahwa sampai sekarang, setelah 2000 tahun dari kejadian itu, para pengikut Kristus masih bertahan di dalam Gereja Katolik, membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan ajaran-Nya adalah dari Allah.

Yesus adalah Tuhan – melalui ” Motif yang meyakinkan / Motive of credibility”

Motif 1 – Nubuat

Motif pertama adalah nubuat atau diberitakan sebelumnya. Kedatangan Tuhan sudah dinubuatkan beribu-ribu tahun sebelum Yesus datang, dengan melalui persiapan yang panjang.[6] Adalah sangat logis, kalau kedatangan Yesus untuk misi keselamatan seluruh umat manusia dipersiapkan dengan matang, dengan tanda-tanda, sehingga orang tidak sampai salah mengerti. Kita bisa mengambil contoh: Kalau beberapa orang dalam tingkatan direktur pabrik mobil Toyota mengatakan bahwa 20 tahun lagi - semua produk mobil Toyota tidak akan menggunakan bensin, namun menggunakan tenaga surya, juga dapat bergerak dengan kecepatan 200 km/jam, ditambah dengan kemampuan yang lain – maka kita akan percaya, karena yang mengatakan adalah para pembuat mobil tersebut.

Kita dapat menerapkan prinsip ini pada hal persiapan Yesus datang ke dunia ini, yang sudah diberitakan beribu-ribu tahun sebelumnya. Bahkan Nabi Yesaya yang menulis kitab Yesaya sekitar 700 tahun sebelum kedatangan Yesus Kristus, dapat secara persis menggambarkan tentang Kristus yang menderita (Lih. Yes 53). Yesaya dapat menggambarkan secara persis apa yang akan dialami oleh Kristus, karena dia mendapatkan pengetahuan dari Tuhan sendiri. Dan bahwa di dalam sejarah, semua itu terpenuhi dalam diri Yesus, maka ini menjadi bukti akan kebenaran bahwa yang dinubuatkan adalah benar, yaitu Yesus sungguh- sungguh datang dari Tuhan dan Yesus adalah Tuhan.

Hal yang lain adalah Tuhan ingin memberitahu manusia tentang Mesias jauh hari sebelumnya, sehingga pada saatnya tiba, manusia akan dapat mengenali Mesias yang dijanjikan. Dan inilah yang membedakan antara Yesus dengan tokoh-tokoh dalam agama yang lain. Tokoh-tokoh dalam agama lain tidak pernah diberitakan sebelumnya, sebaliknya Yesus diberitakan secara konsisten dalam rangkaian waktu lebih dari 1500 tahun.

Motif 2 – Mukjizat

Motif ke-2 adalah mukjizat. Kita bisa melihat di dalam Alkitab, bahwa Yesus melakukan banyak sekali mukjizat, yang membuktikan bahwa Dia adalah Putera Allah, yang juga menjadi konfirmasi akan kebenaran semua pengajaran-Nya. Kita bisa menemukan bahwa Yesus menyembuhkan orang buta (Mat 9:27-31), orang bisu (Mat 9:32-35), orang tuli (Mk 7:31-37), orang lumpuh (Mat 9:1-8), bahkan membangkitkan orang mati (Yoh 11:1-46).

Yesus juga mengatakan bahwa “ …. tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10:37-38).

Di atas semua itu, mukjizat terpenting adalah kebangkitan Kristus (Mat 28:1-10; Mar 16:1-20; Luk 24:1-53; Yoh 20:1-29, 21:1-19; Kis 1:3; 1 Kor 15:17; 1 Kor 15:5-8). Mungkin ada banyak orang yang dapat melakukan mukjizat dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Namun orang tersebut pada akhirnya meninggal dan tidak dapat bangkit dengan kekuatan sendiri. Namun Yesus menunjukkan bahwa Ia mempunyai kuasa di atas segalanya, termasuk kematian. Hanya Tuhan yang dapat melakukan hal ini.

Motif 3 – Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus

Keberadaan Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri menjadi bukti akan janji-Nya sebagai Allah untuk melidungi Gereja-Nya sampai akhir jaman (lih. Mat 16:18) di bawah kepemimpinan rasul Petrus dan juga penerusnya, yaitu para paus. Sudah begitu banyak percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik, baik dari dalam Gereja maupun dari luar Gereja. Namun sesuai dengan janji Kristus, Gereja Katolik tetap bertahan dengan mengajarkan kebenaran yang penuh, ditandai dengan sifat: satu, kudus, katolik, dan apostolik. (lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan - Bagian 1).

Kesimpulan

Dari semua pembuktian tersebut di atas, secara filosofi - yaitu dengan “argument of fittingness,” kita dapat menyimpulkan bahwa adalah sudah sepantasnya bahwa Yesus menjelma menjadi manusia untuk keselamatan seluruh umat manusia. Pembuktian “empat pilihan” membuat kita memilih kemungkinan yang paling logis, yaitu Yesus adalah Putera Allah. Pembuktian dari cerita Eugenio Zolli membuktikan bahwa seseorang yang tidak mengenal Kristus, akan mau mengenal dan menjadi pengikut Kristus, kalau dia melihat akan saksi hidup dari pengikut Kristus, dalam hal ini adalah Stanislaus dan ibunya. Gamaliel semakin memperkuat argumen dari “motive of credibility”, karena pengikut Kristus ada dan berkembang terus sampai saat ini. Pembuktian dari “motive of credibility” semakin meyakinkan kita bahwa Yesus adalah Putera Allah yang sudah dijanjikan, yang mampu melakukan mukjizat-mukjizat, dan keberadaan Gereja Katolik selama 2000 tahun menjadi tanda mukjizat yang terbesar setelah mukjizat kebangkitan Tuhan Yesus.

Semoga bagi yang belum mengenal dan percaya kepada Kristus dan sedang mencari kebenaran, Tuhan sendiri akan menuntun saudara untuk menemukan kebenaran itu sendiri, yaitu Kristus Yesus (Yoh 14:6). Bagi yang sudah mengenal Kristus, mari kita mencontoh kehidupan para Kudus, dan juga Stanislaus dan ibunya. Kekudusan akan membuat kita menjadi saksi Kristus yang hidup dan membawa orang untuk mengenal dan mengasihi Kristus.

Dan di dalam proses pencarian kebenaran untuk mengikuti Kristus, silakan membaca artikel: Mengapa kita memilih Gereja Katolik.


[1] Trinitas, inkarnasi, surga, dll, adalah sesuatu di luar kemampuan dan jangkauan manusia. Manusia tahu tentang semua ini kalau Tuhan sendiri yang memberikan pengetahuan kepada manusia. Tanpa komunikasi ini tidak mungkin manusia menjangkau hal ini. Untuk memaksakan akal budi mengerti kenapa Tuhan mengirimkan Putera-Nya, sama saja dengan mencoba membaca pikiran Tuhan.

[2] Roh Kudus adalah buah dari operasi kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera. Ini sebabnya bahwa setelah Pentakosta terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib. Bapa mengasihi Putera-Nya, dan Putera-Nya menunjukkan kasih-Nya dengan sempurna di kayu salib. Buah dari pertukaran dan kasih yang mengorbankan diri inilah yang menghasilkan Roh Kudus. Sehingga dalam ibadat iman yang panjang (Nicene Creed), kita melihat pernyataan “….Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putera….

[3] John Paul II, Encyclical Letter on The Redeemer Of Man: Redemptor Hominis (Pauline Books & Media, 1979), no. 10 – Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa kasih yang sempurna adalah kasih yang dapat memberikan diri sendiri kepada orang lain. Dengan demikian, adalah “sesuai atau fitting” bahwa Tuhan, melalui Putera-Nya menjadi contoh yang sempurna bagaimana menerapkan kasih. Dengan demikian ini juga membuktikan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang sendirian.

[4] C. S. Lewis, Mere Christianity (HarperOne, 2001), p.52 – C.S. Lewis mengatakan bahwa tidaklah mungkin untuk menjadi Kristen dan menerima semua ajaran moral dari Yesus kecuali pengakuan bahwa Yesus Tuhan. Dasar kekristenan adalah Yesus Tuhan.

[5] Before the Dawn (New Your: Sheed and Ward, 1954) p.24-25

[6] Kita bisa melihat bahwa Tuhan mempersiapkan perjanjian yang mengarah kepada inkarnasi Yesus Kristus. Perjanjian Allah mulai dari: 1) Adam dan Hawa (tingkatan pribadi), 2) Nabi Nuh (tingkatan keluarga), 3) Abraham (pada tingkatan suku), 4) Israel (pada tingkatan bangsa), 5) dan kemudian mencapai puncaknya dengan kedatangan Yesus yang mau mengikat perjanjian dengan seluruh bangsa. Jadi, bangsa Yahudi adalah menjadi bukti persiapan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini.


5 artikel/gambar terakhir di kategori Apologetik


5 artikel/gambar terakhir di kategori Fundamental Teologi


5 artikel/gambar terakhir di kategori Kristologi


5 artikel/gambar terakhir di kategori Semua Artikel

Tentang Penulis

author photo

Stefanus Tay Sedang menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat. Stefanus telah menyelesaikan 5 semester dari total 6 semester untuk menyelesaikan program studi ini.

Lihat Semua Artikel oleh Penulis Ini

Ada 18 Komentar Sampai Saat Ini. (klik ini untuk menulis pesan "TOPIK BARU")

  1. apakah nubuat dan ramalan berbeda arti ?
    mengapa murid Tuhan Yesus hanya berjumlah 12 orang ?

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal January 5th, 2009 7:50 pm:

    Shalom Ferdy,
    Pertama-tama, saya mohon maaf karena baru dapat menjawab pertanyaan anda sekarang.

    I. Apakah nubuat dan ramalan berbeda arti?
    Ya, ada perbedaan arti antara nubuat dan ramalan. Nubuat berarti pengetahuan akan hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, walaupun kadang dapat pula berarti pengetahuan akan hal yang lampau yang tidak diingat, atau akan hal rahasia yang terjadi sekarang, yang tidak dapat diketahui melalui akal budi. Dalam 1 Kor 14, Rasul Paulus tidak membatasi nubuat pada pengetahuan akan hal-hal yang akan datang, tetapi termasuk juga dorongan-dorongan Ilahi tentang sesuatu yang rahasia/ misteri, baik yang terjadi saat ini maupun saat nanti. Maka, menurut New Advent Catholic Encyclopedia, nubuat merupakan:

    1. Pengetahuan akan hal-hal yang akan datang ataupun pernyataan akan sesuatu misteri/ rahasia pada saat ini;
    2. Pengetahuan tersebut haruslah merupakan sesuatu yang supernatural, dan diberikan langsung oleh Tuhan (’infused by God‘), dan merupakan sesuatu yang di luar batas kemampuan alamiah dari akal budi;
    3. Pengetahuan tersebut harus dinyatakan dalam bentuk tanda ataupun perkataan agar dapat dimengerti oleh orang lain, sebab karunia nubuat diberikan terutama untuk kebaikan orang lain/ membangun jemaat. Adalah karena terang ilahi, maka Tuhan menyatakan akan hal yang akan terjadi pada para nabi, dan mereka bertugas untuk menyatakannya.Maka seorang nabi bertugas untuk membawa jemaat kepada Allah melalui karunia nubuat yang diberikan kepadanya.

    Contoh yang paling mengagumkan dari nubuat dalam kitab suci adalah nubuat tentang Yesus Kristus oleh para nabi berabad-abad sebelum kelahiran Yesus, yang menggambarkan ciri-ciri Yesus sang Mesias, dari kelahiranNya, sampai kematian-Nya (silakan membaca artikel Yesus - Tuhan yang dinubuatkan para nabi (silakan klik)

    Menurut Kitab Suci, nubuat adalah salah satu dari karunia Roh Kudus (lihat 1Kor 12:10) yang digunakan untuk membangun umat Allah. Karunia nubuat ini sesungguhnya perlu diuji dan dibawa terus di dalam doa, karena mungkin saja terjadi seseorang berpikir ia menerima karunia nubuat, padahal gambaran yang diperoleh datang dari dirinya sendiri. Maka jika nubuat itu benar datang dari Allah, maka hal itu akan terjadi, sedangkan jika datang dari sendiri, hal itu bisa tidak terjadi atau salah.

    Di sinilah bedanya nubuat dengan ramalan, sebab:

    1. Ramalan merupakan perkiraan akan sesuatu yang akan terjadi, dan tidak menyingkapkan akan misteri/ rahasia pada saat ini.
    2. Perkiraan tersebut dapat mencakup segala hal, seperti ramalan cuaca, ramalan kondisi ekonomi, ataupun ramalan politik, dsb; yang dapat menjadi di dalam batas kemampuan alamiah akal budi. Karena sifatnya perkiraan, maka dapat pula ramalan ini tidak terjadi/ salah. Seseorang dapat mengandalkan diri sendiri ataupun roh-roh dunia untuk meramal, namun ramalan semacam ini tidak berasal dari Allah, dan bertentangan dengan Roh Allah (lihat pengalaman rasul Paulus pada Kis 16:16-18).
    3. Ramalan tidak ditujukan untuk membangun jemaat, malah seringkali sebaliknya peramal malah memperlemah iman jemaat kepada Tuhan, karena orang menjadi lebih percaya kepada peramal daripada Tuhan. 

    Maka di sini kita melihat bahwa ramalan tidak sama dengan nubuat. Nubuat yang sungguh-sungguh dari Allah akan terjadi, sesuai dengan yang dinyatakan Allah, kecuali jika Allah memang menyatakan nubuat tersebut untuk semata-mata memberi peringatan keras demi pertobatan, seperti nubuat yang disampaikan oleh nabi Yunus kepada orang-orang Niniwe. Dapat pula terjadi bahwa nubuat itu sungguh benar dari Tuhan, namun manusia yang menginterpretasikannya yang membuat kekeliruan.

    Namun, nubuat para nabi yang tercantum dalam Kitab suci berasal dari Allah, dan sungguh terpenuhi dalam Kristus. Contoh lain tentang nubuat misalnya pada penampakan Bunda Maria di Fatima tahun 1917, Bunda Maria menyebutkan nubuat tentang kehancuran komunisme Rusia, terpenuhi pada tahun 1989, diikuti dengan diruntuhkannya tembok Berlin tanggal 9 Nov 1989.

    II. Mengapa jumlah rasul Yesus hanya 12 orang?

    Sedikitnya terdapat dua alasan utama yang dapat menjelaskan jumlah rasul Yesus yang terdiri dari 12 orang tersebut, yaitu:

    1. Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru merupakan pemenuhan Perjanjian Lama, sehingga yang dilakukan oleh Yesus juga memiliki kaitan dengan yang terjadi pada Perjanjian Lama. Keduabelas rasul Yesus melambangkan keduabelas suku Israel, yaitu bangsa pertama yang dipilih Allah untuk menerima janji keselamatan. Keduabelas rasul inilah yang dipilih Yesus, yang diberi tugas untuk menjadi penjala manusia (Mrk 1:17), dan yang pada akhirnya,  diberi hak untuk menghakimikeduabelas suku Israel (Luk 22: 29-30).
    2. Allah menyatakan rencana keselamatan manusia dengan menggunakan prinsip "Pengantaraan/ Mediation". Setelah manusia pertama Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, dan karenanya diusir dari Firdaus, maka setelah itu Allah tak henti-hentinya memberikan pertolongan kepada manusia secara bertahap dalam sejarah manusia. Tujuan Allah adalah untuk membentuk sebuah bangsa pilihan yang akan mengenal-Nya dan menyembah-Nya dalam kekudusan. Dimulai dari penciptaan manusia pertama, yaitu suami istri (Adam dan Hawa), Allah kemudian membuat perjanjian dengan keluarga (keluarga Nabi Nuh, keluarga Abraham), kemudian membentuk suku bangsa (dari 12 anak- anak Yakub/ Israel yang menjadi Patriarkh dari keduabelas suku Israel) sampai kepada bangsa (yaitu bangsa Israel pada zaman Nabi Musa). Dan di tengah-tengah ketidaksetiaan bangsa Israel, Allah tetap setia kepada janji keselamatan-Nya, sampai Ia mengutus Putera-Nya yang lahir sebagai putera bangsa pilihan tersebut, dalam garis keturunan Raja Daud (2 Sam 7: 12-16). Janji keselamatan yang pada awalnya disampaikan kepada bangsa Israel ini, kemudian disampaikan kepada seluruh bangsa. "Semua raja akan sujud menyembah kepadanya [Mesias], dan segala bangsa menjadi hambanya." (Mzm 72: 11). Hal ini juga nyata pada penyebaran jemaat Kristen pertama, yang mulai dari Yerusalem, seluruh Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi (Kis 1:8), sesuai dengan pesan Yesus sendiri sebelum kenaikan-Nya ke surga untuk menyampaikan Kabar Gembira kepada seluruh bangsa (Mat 28:19-20). Rasul Paulus berkali-kali menyampaikan rencana keselamatan Allah ini yang dimulai dengan bangsa Yahudi, namun yang kemudian ditujukan pada bangsa-bangsa lain/ ‘the Gentiles‘ (diterjemahkan dalam Alkitab Indonesia sebagai bangsa Yunani, lihat Rom 1:16, 2:9; 2:10).

      Maka bangsa Israel/ Yahudi yang dipimpin oleh Nabi Musa pada Perjanjian Lama menjadi gambaran akan Gereja yang didirikan oleh Kristus pada Perjanjian Baru. Gereja sebagai bangsa baru pilihan Allah (the New People of God) ini terdiri dari bangsa Yahudi maupun bangsa-bangsa lain yang dipersatukan oleh Pembaptisan. Hal ini dijelaskan dalam Lumen Gentium 9 (bab II), Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja. Di sinilah kita melihat peran "pengantara" untuk menyampaikan rencana keselamatan Allah itu, mulai dari para nabi yang menunjuk pada Kristus, Kristus sendiri (sebagai Pengantara yang esa -1 Tim 2:5), kemudian peran pengantara ini dilanjutkankan oleh para rasul dan para penerus mereka untuk melanjutkan karya penyelamatan Kristus di dunia, yang nyata terlihat dalam Gereja Katolik sampai sekarang.

    Demikian jawaban saya atas pertanyaan Ferdy.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  2. [Dari admin: tanpa merubah isi, tanggal penulisan saya ubah, sehingga masih dapat terlihat di kolom kanan - "pesan atau komentar terbaru", dan 3 pesan saya jadikan satu]

    salah satu kelemahan setiap pemeluk agama manapun didunia adalah takut untuk melakukan perbandingan agama secara mendalam, tidak berani membaca kitab-kitab semua agama, tidak berani bertanya kepada ahli agama yang bersangkutan, tidak berani berdiri diluar untuk melihat kedalam semua agama ( termasuk agama yang dianutnya ) untuk kemudian melakukan pencarian dengan hati, fikiran, PERASAAN DAN PENALARAN YANG MERDEKA. KALAU MAU JUJUR DALAM BERAGAMA, MAKA SIKAP INI HARUS DIAMBIL DAN DITERAPKAN, BARULAH KITA DAPT MEMPEROLEH IMAN YANG SEBENARNYA

    10 TAHUN MELANGLANG BUANA, MENCARI KEBENARAN HAKIKI, DARI PAPUA SAMPAI SUMATRA, PULUHAN PENDETA, PASTOR, GURU AGAMA, KIYAI, USTADZ, DAN ROHANIAWAN DARI AGAMA HINDU, BUDHA DAN KONGHUCU YANG SAYA TEMUI,
    RATUSAN BUKU, KITAB, MAJALAH, BULETIN, SERTA BEBERAPA VERSI KITAB SUCI YANG SAYA BACA, MENGANTARKAN SAYA PADA KEYAKINAN BAHWA SESUNGGUHNYA TIDAK ADA TUHAN YANG BERHAK DISEMBAH KECUALI ALLAH, YESUS ADALAH UTUSANNYA, MUHAMMAD ADALAH UTUSANNYA, AL-QOR’AN ADALAH KEBENARAN MUTLAK DAN ABADI. TIDAK PERCAYA??? BERANILAH BACA AL-QUR’AN.

    SESUNGGUHNYA YESUS TIDAK SEKALIPUN DIA BERKATA BAHWA DIRINYA ADALAH TUHAN’ KARENA MEMANG DIA BUKAN TUHAN. APAKAH DIA PERNAH BERKATA BAHWA DIRINYALAH YANG MENCIPTAKAN SELURUH ALAM??? MENCIPTAKAN MANUSIA??? MENURUNKAN HUJAN, MEMBERI REZEKI, MENGHIDUPKAN DAN MEMATIKAN??? MENGETAHUI SEGALA YANG TAMPAK DAN TERSEMBUNYI???
    TAPI ALLAH, TUHANKU BERBUAT ITU SEMUA. TIDAK PERCAYA??? BERANILAH BACA AL-QUR’AN.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal December 29th, 2008 9:09 pm:

    Salam damai Roman,
    Terima kasih atas tanggapannya tentang artikel "Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan." Dengan hormat, saya ingin menyarankan, bahwa sebaiknya dalam memberikan pesan jangan memakai huruf besar semua, karena di dalam internet, itu berarti seseorang menyampaikan pendapat sambil berteriak. Dan saya yakin tidak mungkin Roman yang ingin berdiskusi tapi melakukannya sambil berteriak. Hal tersebut mungkin karena salah pencet keyboard. Mari kita bersama-sama berdiskusi dengan hormat dan lemah-lembut.
    Mari sekarang kita melihat beberapa keberatan Roman.
    I. Tentang perbandingan agama

    1. Saya ingin berterus terang, bahwa saya belum pernah membaca "secara langsung" beberapa Kitab Suci dari agama lain, seperti kitab suci dari agama Islam, Hindu, Budha, Konghucu, dll. Saya hanya membaca sedikit tentang perbandingan agama-agama tersebut. Karena Roman berkata bahwa Roman telah sepuluh tahun belajar begitu banyak dari buku, dari para cendikiawan, dan orang-orang terpelajar yang lain dalam pencarian kebenaran, dan pada akhirnya menemukan bahwa Al-Quran adalah yang terbaik, maka saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan berikut ini:
      1. Karena dalam pencarian kebenaran, keselamatan kekal adalah begitu penting, maka saya ingin menanyakan kepada Roman tentang konsep keselamatan dari beberapa agama, seperti: Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Islam, sehingga Roman pada akhirnya menyimpulkan bahwa Al-Quran mempunyai kebenaran mutlak. Dari pemaparan Roman, maka nanti kita dapat mendiskusikan tentang satu topik ini.
      2. Menurut Roman setelah mengadakan perbandingan agama, siapakah yang dapat masuk surga? Apakah penganut agama-agama lain dapat masuk surga? Jadi apakah penganut agama Kristen dapat masuk surga? Mungkinkah orang-orang seperti Mahatma Gandhi, Ibu Teresa dari Kalkuta dapat masuk surga?
      3. Menurut Roman, apakah orang-orang baik yang telah meninggal, misalnya di Irian Jaya atau di pedalaman Kalimantan, namun mereka tidak sempat mengenal agama Islam, dapat masuk surga? dan apakah alasannya?
    2. Mungkin Roman dapat menerangkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas dari pandangan beberapa agama, yang pada akhirnya Roman mengambil kesimpulan bahwa Al-Quran adalah yang mempunyai kebenaran mutlak. Saya berharap dari pertanyaan-pertanyaan di atas, maka kita dapat berdiskusi tentang konsep keselamatan ditinjau dari beberapa agama.
    3. Namun saya menghargai akan saran dari Roman untuk membaca Al-Qur’an dan saya akan mencoba melakukannya di kemudian hari. Terimakasih atas sarannya.

    II. Apakah Yesus adalah Tuhan?

    Saya juga sedang berdiskusi dengan saudara J1lan tentang hal yang sama. Kalau mau silakan Roman memberikan tanggapan di sini (silakan klik). Namun sebelum memberikan tanggapan, silakan untuk membaca beberapa artikel tentang Kristologi:

    "Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia."

    Di dalam beberapa artikel tersebut, kami mencoba menjelaskan mengapa kami percaya akan Yesus sebagai Tuhan.

    Mari kita bersama-sama berdialog dengan penuh hormat dan lemah lembut untuk bersama-sama mencari kebenaran. Mungkin pada akhirnya kita tetap pada pendirian kita masing-masing. Namun masing-masing pihak tahu, bahwa agama yang lain juga mempunyai alasan tentang kepercayaan masing-masing.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  3. Kalo wujud pisiknya manusia yah manusia bukan TUHAN seperti yang dipersepsi oleh cerita Yohanes itu ? dan siapa yang bisa menjamin bahwa YESUS itu betul-2 TUHAN yang asli, karena YESUS tidak pernah menyatakan dan mengatakan bahwa dirinya itu TUHAN satu-2-nya, coba renungkan kembali hal ini ?

    trims saudara saya

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal December 23rd, 2008 6:25 pm:

    Salam damai saudari Ridhawati,
    Terima kasih atas pesannya. Saya juga menerima pesan yang lain, namun tidak saya tampilkan, karena dulu pernah saya tampilkan disini (silakan klik) dan saya telah menjawabnya disini (silakan klik).
    Dengan segala kerendahan hati, saya ingin menyarankan Ridhawati untuk membaca artikel-artikel tentang Kristologi disini: "Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia."
    Setelah membaca artikel tersebut, maka kita dapat melanjutkan dialog kita.

    Untuk pertanyaan yang baru ini, maka saya ingin menjawabnya:
    I. Tuhan menjadi manusia adalah mungkin dan tidak bertentangan dengan sifat Tuhan yang Esa dan Kekal.

    1. Ridhawati mengatakan "Kalo wujud pisiknya manusia yah manusia bukan TUHAN". Pertama, yang harus kita terima adalah Tuhan mampu untuk melakukan apa saja. Kalau Dia mampu untuk menciptakan alam semesta dan segala isinya, maka Dia juga mampu untuk menjadi manusia, kalau Dia menginginkannya.
      Namun Tuhan tidak dapat mempertentangkan Diri-Nya sendiri, sebagai contoh, Dia tidak mungkin berdosa, karena Tuhan adalah kudus. Nah, sesuai dengan prinsip non-contradiction yang mengatakan "sesuatu tidak dapat ‘menjadi’ dan ‘tidak menjadi’ pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama", maka dengan Tuhan menjadi manusia, dalam diri Yesus, tidaklah bertentangan dengan Tuhan yang bersifat kekal. Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa dengan menjadi manusia, Tuhan berhenti menjadi Tuhan. Kalau Tuhan berhenti menjadi Tuhan, barulah itu bertentangan dengan Tuhan yang mempunyai sifat kekal. 
    2. Jadi sampai tahap ini, saya berharap minimal Ridhawati dapat menerima bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk menjadi manusia, kalau Dia mau, dan dengan menjadi manusia, maka Tuhan tidak mempertentangkan Diri-Nya sendiri. Pertanyaannya adalah mengapa Tuhan mau menjadi manusia?

    II. Kenapa Tuhan mau menjadi manusia?

    Saya telah menjawabnya dalam pertanyaan Ridhawati sebelumnya (silakan klik), dimana saya mengatakan:

    1. Untuk menjawab keberatan Azwardini yang mengatakan bahwa Tuhan, Sang Pencipta tidak mungkin menjadi manusia, maka kami telah menulis dua artikel. Disinilah, dengan segala kerendahan hati, kami menyadari bahwa hanya dengan menggunakan akal budi, kami tidak dapat mengetahui bahwa Tuhan menjadi manusia kalau Tuhan sendiri tidak menyatakannya. Seperti yang Azwardini katakan, bahwa kita tidak dapat hanya menggunakan logika saja dalam menemukan Tuhan yang benar. Dalam hal ini, kami juga berpendapat sama. Jadi Sabda Allah atau "revelation"/wahyu memegang peranan yang begitu penting dalam pembuktiaan ini. Namun filosofi juga digunakan untuk membantu bahwa apa yang dilakukan Allah memang sungguh-sungguh ajaib dan membuka mata kami, bahwa Inkarnasi adalah perbuatan Tuhan yang begitu agung, besar, dan penuh kasih kepada umat manusia. Dengan inkarnasi ini, kami malah mengasihi Tuhan dengan lebih lagi, karena Dia yang terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya kepada kami dengan tak terbatas. Artikel tersebut dapat dibaca di:

    III. Yesus tidak pernah menyatakan bahwa dirinya Tuhan?

    Saya telah menjawab pertanyaan ini disini (silakan klik), dimana intinya adalah sebagai berikut:

    1. Yang menjadi permasalah di sini adalah pertanyaan yang diajukan mencoba memaksakan suatu bukti dengan cara yang kriteria yang dibuat sendiri, tanpa melihat bukti-bukti lain yang mendukung suatu pernyataan. Ini dapat digambarkan seperti seseorang berkata:
      • "Tunjukkan kepada saya, bahwa Bill Gates adalah orang kaya. Kalau dia tidak pernah mengatakan bahwa dia orang kaya, saya tidak akan percaya bahwa dia orang kaya." Pernyataan seperti ini tidak mendasar, karena kita dapat melihat buktinya bahwa Bill Gates mempunyai uang 58 milyar US$, yang kurang lebih sekitar 60% dari budget negara Indonesia tahun 2008. Organisasi amalnya mempunyai uang sekitar 32% dari total budget negara indonesia selama satu tahun. Kalau kita tetap bersikeras bahwa Bill Gates tidak kaya, karena Bill Gates tidak pernah mengatakan bahwa dia kaya walaupun bukti-bukti di atas sudah menunjukkan bahwa Bill Gates orang yang sangat kaya, rasanya keberatan seperti itu kurang dapat dipertanggungjawabkan.
      • Atau contoh yang lain, seorang anak mengatakan "saya tidak percaya bahwa orang tua saya mencintai saya, karena mereka tidak pernah mengatakan bahwa mereka mencintai saya." Namun orang tua dari anak itu, sebenarnya begitu memperhatikan, berlaku lemah lembut, selalu ada di samping anak itu kalau anak itu mengalami kesulitan, mencukupi semua kebutuhan anak itu, meluangkan waktu untuk bercanda, bercerita, dll.
      • Contoh yang mungkin lebih gamblang adalah seseorang yang bertanya kepada seorang suami dan mengatakan "Saya tidak akan percaya bahwa istri kamu adalah seorang wanita, karena dia tidak pernah mengatakan bahwa dia seorang wanita." Tentu saja sang suami tidak terpengaruh, karena sang suami tahu persis bahwa istrinya adalah seorang wanita, karena istrinya telah melahirkan beberapa anak, dll.
      • Begitu mudah orang untuk mengatakan bahwa "saya kaya, saya mengasihi engkau", namun belum tentu terbukti. Nah dalam hal ini, Tuhan kita yang menjelma menjadi manusia, telah menunjukkannya dalam segala perkataan dan juga dalam perbuatan, bahwa dia adalah Allah yang benar-benar mengasihi umat-Nya. Mana yang lebih besar tanda kasihnya "perkataan saya mengasihi engkau" atau "mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia"?
    2. Namun Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan?
      • Ini adalah contoh bagaimana seseorang ingin memaksakan bahwa Bill Gates kaya hanya kalau dia pernah mengatakan bahwa dia kaya. Ini merupakan suatu argumen yang menurut saya kurang masuk diakal. Dengan mudah sekali orang berkata, bahwa saya adalah yang paling pintar di kelas, namun belum tentu dia benar-benar paling pintar di kelas. Namun kalau dia dapat membuktikan bahwa dia benar-benar mendapatkan nilai A dalam setiap ujian, dan nilainya paling tinggi di kelas itu, maka tanpa dia pernah mengucapkan bahwa dia paling pintar, orang akan mengakui bahwa dia paling pintar di kelas.
      • Inilah yang dilakukan Yesus, tanpa Dia berkata "Akulah Tuhanmu, dan sembahlah Aku saja," orang percaya kepada-Nya bahwa Dia Tuhan. Kenapa? Karena para nabi di Perjanjian Lama telah memberitakannya melalui ratusan nubuat. Kalau memang Tuhan tidak datang ke dunia ini, kenapa para nabi memberikan ratusan nubuat? Dan nubuat ini dipenuhi secara persis dalam diri Yesus. Tentang hal ini dapat dibaca di artikel ini. Tidak ada tokoh-tokoh agama lain yang kedatangannya diberitakan sebelumnya dengan ratusan nubuat.
      • Dan, di dalam kehidupannya, Yesus dalam beberapa kesempatan menyatakan ke-Allahan-Nya, baik dengan perkataan maupun dari mukjijat yang Dia lakukan. Tentang hal ini, dapat dibaca di artikel ini.
      • Jadi dapat disimpulkan bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa "Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja," namun dia menyatakannya dalam kesempatan yang berbeda-beda dan dalam perbuatan nyata. Orang mengatakan "Action speaks lauder than words."

    Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Ridhawati. Mari kita bersama-sama mencari kebenaran, sehingga kita dapat sampai kepada kebenaran itu sendiri. Bagi orang Katolik, kebenaran ditemukan di dalam diri Yesus, yang mengatakan "Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup." (Yoh 14:6).

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  4. Salam sejahtera…
    saya mau tanya, benar atau tidak Yesus mempunyai istri?sejak kecil saya suka dan bahkan dengan senang hati mengikuti sekolah minggu, dan tidak pernah ada yang mengajarkan kalau yesus punya istri.dan tidak satu pun ada tulisan yang mengatakan yesus punya istri( alkitap ).saya berharap jawabannya bisa membantu saya, Tuhan memberkati.
    [Dari admin: kami memindahkan pertanyaan ini ke artikel Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?]

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal September 27th, 2008 12:25 pm:

    Salam damai Jonner,
    Terima kasih atas pertanyaannya. Pertanyaan tentang apakah Yesus mempunyai istri atau tidak, mungkin tidak pernah terlintas oleh orang yang beragama Kristen, karena umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Mari sekarang kita lihat satu persatu keberatan tersebut:

    1. Ada yang mengajukan argumentasi bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena berdasarkan beberapa kitab-kitab yang tidak termasuk dalam alkitab. Dan inilah yang dijabarkan secara panjang lebar dalam karya fiksi (fiksi = tidak nyata) dalam Da Vinci Code tulisan Dan Brown.
    2. Karena Yesus seorang rabbi (Yoh 1:38) dan hampir semua rabbi di jaman Yesus menikah, maka Yesus pasti menikah.

    Dari keberatan-keberatan tersebut, mari kita menganalisanya satu-persatu.

    I. Maria Magdalena di Kitab Perjanjian Baru.

    1. Dalam Injil diceritakan akan beberapa nama Maria, seperti: Maria - Bunda Yesus, Maria - saudara Lazarus dan Marta (Luk 10:38-42), Maria Magdalena (Maria yang berasal dari Magdala, di daerah sekitar Danau Galilea).
    2. Maria Magdalena ini adalah yang diceritakan dalam Injil bahwa Maria Magdalena bersama dengan beberapa perempuan lain melayani para Yesus dan murid dalam pelayanan mereka (Luk 8:1-3). Dia juga dibebaskan dari tujuh roh jahat (Luk 8:2). Dan dia juga yang menyaksikan dari dekat drama penyaliban Kristus (Mk 15:40), dan kemudian Yesus menyatakan kebangkitan-Nya kepada Maria Magdalena (Yoh 20:1-18).
    3. Dan kemudian di Luk 7:36-50 dikatakan ada seorang wanita pendosa yang menangis dan meminyaki kaki Yesus, serta mengusap kaki Yesus dengan rambutnya. Dalam tradisi Katolik, beberapa bapa Gereja masih memperdebatkan apakah wanita ini adalah Maria Magdalena atau seorang wanita pendosa yang lain. Cerita ini justru menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan, karena di ayat 48 dan 50 dikatakan bahwa Yesus mengampuni dosa wanita pendosa tersebut. Hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
    4. Itulah sekilas yang diceritakan dalam Injil tentang keberadaan Maria Magdalena, yang sebenarnya dari semua cerita tersebut, tidak ada hal yang yang mendukung tentang keistimewaan hubungan antara Yesus dan Maria Magdalena. 

    II. Maria Magdalena di kitab-kitab yang tidak termasuk dalam Alkitab.

    1. The Gospel of Thomas, The Gospel of Peter, The Sophia of Jesus Christ, The Pistis Sophia, The Gospel of Mary, The Dialogue of the Saviour, The Gospel of Philip, adalah buku-buku yang sering dipakai untuk membuktikan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena. Namun di semua buku-buku tersebut, setahu saya tidak berkata bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena, yang ada hanya menceritakan kedekatan mereka. Jadi pernyataan bahwa Yesus menikah adalah merupakan kesimpulan dari kedekatan yang digambarkan antara Yesus dan Maria Magdalena dalam buku-buku tersebut.
    2. Buku-buku yang disebutkan di atas ditulis sekitar abad ke 2-3, mungkin yang paling awal adalah The Gospel of Thomas. Sedangkan buku-buku yang termasuk di dalam Alkitab Perjanjian Baru ditulis dari sekitar tahun 50 - 100 AD, seperti: Matius, 1 dan 2 Tesalonika (50-55), Markus, Lukas, Kisah Para Rasul (55-62), dan paling akhir Yohanes dan Wahyu (90-100). Kesimpulannya, apa yang terlebih dahulu ditulis mempunyai kemungkinan untuk yang lebih besar bahwa dokumen tersebut tidak ditambah-tambah karena ketidakbenaran suatu fakta. Kalau memang fakta di dalam dokumen perjanjian baru tidak benar-benar terjadi, seperti: mukjijat, kematian Yesus, kebangkitan Yesus, maka akan ada banyak orang yang menuliskan dokumen lain dan memprotes akan ketidakbenaran Injil dan buku yang lain pada saat itu. Namun kenyataannya, kita tidak menemukan dokumen-dokumen tersebut di tengah-tengah begitu banyak saksi yang masih hidup pada waktu Perjanjian Baru ditulis. Mengapa kita percaya akan kemurnian dari Alkitab, dapat dibaca di artikel ini.
    3. Yang terjadi dengan perkembangan kekristenan di masa jemaat awal adalah suatu konsistensi yang mempertahankan bahwa Yesus adalah satu Pribadi yang mempunyai dua nature (manusia dan Tuhan). Dan inilah yang diperjuangkan dan diimani oleh Gereja Katolik.

    III. Apakah seorang Yahudi dan Rabbi harus menikah.

    1. Kita tahu dari beberapa tulisan pakar histori, bahwa ada banyak orang yang tidak menikah pada jaman Yesus, sebagai contoh:
      - Menurut Philo (filsuf Yahudi yang tinggal di Alexandria, Mesir) dalam bukunya Hypothetica 11.14-17, dikatakan bahwa suku Essenes tidak memiliki istri.
      - Menurut Josephus (sejarahwan Yahudi) dalam bukunya Jewish War, 2.8.2 dan juga Antiquities 18.1.5 mengatakan bahwa banyak orang dari suku Essenes yang mempraktekkan kaul kemurnian seumur hidup, yang berarti tidak menikah.
    2. Jadi, tidaklah aneh kalau orang-orang seperti Yohanes Pembaptis, Rasul Yohanes atau Rasul Paulus tidak menikah. Dan tentu saja tidaklah aneh kalau Yesus sendiri tidak menikah.

    Jadi, kenapa Yesus tidak menikah?

    1. Kita melihat dari percakapan Yesus dengan murid-muridnya di Mat 19:3-12, bahwa Yesus mengajarkan akan kesucian akan pernikahan dan tidak mengijinkan akan perceraian. Namun di ayat 11-12, dikatakan bahwa ada orang-orang yang tidak menikah karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Nah dari sini, kalau ada orang-orang yang untuk kerajaan surga tidak menikah, apalagi Yesus, yang datang dari Sorga, yang adalah Allah sendiri, sungguh menjadi layak untuk tidak menikah di dunia ini. Bukan karena Yesus merendahkan perkawinan, namun menjadi layak (fitting) bahwa Dia tidak menikah, sehingga Dia dapat menyebarkan Kerajaan Allah secara total. Dan ini juga ditegaskan oleh Rasul Paulus yang mengatakan bahwa orang-orang yang tidak menikah lebih memusatkan perhatiannya kepada perkara Tuhan (1 Kor 7:32-33). Dan inilah yang dilakukan oleh para pastor dan suster, yang mau meneladani secara penuh apa yang dicontohkan oleh Yesus.
    2. Akan menjadi fitting kalau Yesus tidak menikah, karena kedatangan-Nya adalah untuk menebus dosa manusia. Dimana karya penebusan ini jauh lebih tinggi/ infinite (tak terbatas) jika dibandingkan dengan pernikahan. Sebagai contoh, seorang penjual yang mempunyai proyek 900 triliun US$ tidak akan tergoda dengan proyek yang bernilai 100 rupiah. Ini adalah contoh yang sungguh tidak sempurna untuk membandingkan nature dari karya penebusan (yang sifatnya supernatural/grace) dibandingkan dengan natural. Perbedaan antara nature dan grace/supernatural level adalah tidak terbatas, sehingga contoh di atas sesungguhnya tidak dapat menggambarkan perbedaan tersebut.
    3. Sebenarnya pernikahan adalah suatu gambaran yang sekilas akan Kerajaan Allah yang abadi, dimana sepasang suami istri dapat memberikan diri masing-masing dalam kasih yang tulus. Disinilah inti dari kasih yang sebenarnya terwujud dalam kesucian perkawinan, dimana suami istri mengatakan satu-sama lain: saya memberikan diriku, dan saya adalah milikmu. Pernikahan adalah suatu cara untuk mengekpresikan kasih seperti ini. Namun di dalam diri Yesus, ada kepenuhan kasih yang paling sempurna, yaitu kasih di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus, sehingga dalam kesatuan dengan Allah ini (karena memang Yesus adalah Allah) tidak diperlukan pernikahan dengan manusia.  
    4. Pernikahan yang kita kenal di dunia ini bersifat sementara sampai maut memisahkan suami istri. Inilah yang diajarkan oleh Yesus sendiri, bahwa di Surga tidak ada hubungan pernikahan seperti yang kita kenal di dunia ini (Mat 22:23-32). Jadi, kalau Yesus sendiri senantiasa mengalami Kerajaan Surga (karena Yesus mempunyai Beatific Vision secara terus-menerus), maka adalah fitting bahwa Yesus tidak memilih pernikahan seperti yang ada di dunia ini.
    5. Karya penebusan ini menempatkan Yesus sebagai mempelai laki-laki, dengan Gereja sebagai mempelai perempuan yang dikuduskan-Nya dengan air dan firman, seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus (Ef 5:25-32). Akan tidak fitting kalau Yesus menikah, karena ini berarti ada dua mempelai perempuan. Sedangkan Yesus sendiri mengatakan bahwa perkawinan hanya untuk 1 laki-laki dan 1 perempuan (Mat 19:3-12). Di sini, Gereja sebagai Mempelai Yesus memiliki arti Ilahi, sehingga makna Perkawinan Kristus dengan Gereja jauh melampaui makna perkawinan antar manusia di dunia. Gambaran kasih antara Yesus dan Gereja inilah yang menjadi acuan/ teladan kasih suami istri dalam Sakramen Perkawinan Katolik, yaitu kasih mempelai laki-laki yang sampai menyerahkan nyawa bagi mempelai perempuan-nya dan kasih mempelai perempuan yang tunduk menghormati suaminya. Persatuan antara Yesus dengan GerejaNya di akhir zaman digambarkan sebagai Perjamuan Kawin Anak Domba dalam kitab Wayhu 19:6-10.

    Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Jonner.

    Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    my soul menjawab pada tanggal October 28th, 2008 8:41 pm:

    Sekedar sharing dari seorang pembelajar….

    Manusia telah menjadi bukti paling otentik dari keberhasilan evolusi jagat raya. Sejak awal jagat raya, dari setitik big bang menjadi bilyunan bintang dan runtutan generasi semua makhluk dalam rentang bermilyar tahun.
    Dan di tiap masa terjadilah lompatan genetik, menghasilkan evolusi dan seleksi alam seperti kondisi saat ini.
    Adalah wajar bila ditiap generasi selalu ada sesuatu atau seseorang yang seolah melompat ke depan, seperti tidak hidup pada jamannya, bak tidak menginjak bumi, atau dianggap seperti datang dari planet lain. Karena itu menjadi hukum alam terjadinya lompatan genetik dari tiap jaman menuju evolusi dan kesempurnaan makhluk.
    Di jaman purba ada Adam yang genetiknya melompat dari para makhluk purba. Teori Darwin bisa jadi memang benar (apalagi memang didukung bukti ilmiah). Sebagai makhluk berakal dan fakta bahwa hidup kita selama ini tergantung dan dipenuhi dengan fasilitas-fasilitas hasil sains dan ilmu pengetahuan, sudah sepatutnya kita respek dengan cara berpikir metoda ilmiah. Tapi disisi lain teori agama juga benar, ditilik dari bahasa agama yang biasanya penuh lambang dan multi tafsir, tidak ada yang benar-benar dapat membuktikan apakah Adam di surga itu ada di awang-awang atau sekedar symbol istilah hidup di suatu tempat di bumi juga, semisal di sebuah dataran tinggi yang subur bak surga. Tercipta dari tanah karena memang semua makhluk makan dari saripati tanah, yang mana dimakan lewat tumbuhan yang menyerapnya, dan memang kandungan tubuh kita pada dasarnya seperti unsur-unsur tanah juga: kalium, kalsium, zat besi, air, megnesium, etc. Jadi asal mula kita sebenarnya memang tanah, dan bumi adalah ibu kita yang sebenar-benarnya. Bumi dari pecahan matahari dan matahari dari pecahan galaksi dan galaksi dari pecahan big bang. Jadi memang kita adalah turunan ke sekian dari Big-bang…. Sebuah percikan ruh Tuhan. Karenanya semua dari kita mewarisi sifat-sifat Tuhan meski juga hanya sepercik “melihat”, sepercik “mendengar”, sepercik “mencipta”, sepercik “mengasihi”, dan lain-lain yang jauh dari sempurna. Dan gangguan lingkungan yang menyebabkan kadar sifat Tuhan dalam tiap individu jadi berbeda-beda.
    Dan lompatan genetik di setiap generasi senantiasa ada. Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Isa, Sidharta, Muhammad, Tao, Einstein, Alfa Edison bahkan dijaman kita kini para peraih nobel di berbagai bidang juga mewakili para pelompat genetik, meski tidak dengan lompatan panjang.
    Jadi……. janganlah kita terlalu berlebihan….. menerka sang tuhan adalah ini dan itu. Padahal tidak ada hal yang bersifat materi (masih dalam lingkup 3 dimensi + dimensi waktu) yang tidak dipengaruhi oleh pemikiran dan opini pada jaman atau peradaban tertentu. Dan biasanya yang berkuasa pada jaman tertentu adalah yang menentukan arah sejarah. Kadang arahnya sedikit melenceng, kadang menyimpang agak jauh. Kebenaran 100% hanya ada pada fakta itu sendiri. Fakta pada waktu yang telah lewat hanya upaya pendekatan. Dan kembali lagi… dari semua pendekatan, yang paling ilmiahlah yang akan bisa dipertanggung jawabkan, ia tidak akan goyah oleh arus jaman yang kian maju dalam menemukan cara untuk mempersempit deviasi fakta sejarah. Hingga kelak mungkin manusia nyata-nyata bisa menembus kerucut waktu supaya bisa melihat realitas masa lampau.
    Mungkin Tuhan memang ada dimana-mana sejak pancaran awal dalam kejadian Big-bang, termasuk serpihannya tersemburat dalam diri kita dan semua makhluk di jagat raya. Hanya selama ini kita terlalu dibutakan bentuk materi yang kasad mata. Padahal semua bentuk 3 dimensi yang kita lihat kasad mata, ternyata masih jauh dari dimensi tuhan yang asli yang entah punya berapa dimensi. Bahkan bila ditambahpun oleh dimensi ke-4 (waktu), yang kata stephen Hawking berbentuk kerucut, yang bila kita berada di ujung kerucut akan melihat masa lalu-masa kini-masa depan, tetap saja belum menjangkauNya.

    Jadi….. terus dan teruslah mencari.
    Dan manusia senantiasa akan berevolusi menuju kesempurnaan. Karena memang mereka mewarisi sifat itu. Namun, karena hanya terdiri atas percikan-percikanNya belaka, maka prosesnya memerlukan waktu panjang. Tapi siapa nyana kalau dulu orang terbang hanya angan-angan sekarang kenyataan…. Kini ada teknologi super konduktor, laser, microchip, dunia atom (nano technology), penjelajahan antar tatasurya, kloning, dan kini juga sudah ada simulasi Big-bang dalam terowongan baja raksasa berdiameter 27km dibangun di Eropa.
    Dan semua akan kembali pada asalnya saat big-bang kembali pada titik awal. (terbukti dari hasil teropong ilmuwan kalau galaksi kita sedang dalam proses memuai, jarak antar bintang makin menjauh). Lalu dari fenomena supernova, dapat disimpulkan setelah titik mengembangnya jenuh, galaksi akan menyusut menjadi black hole. Itulah awal sekaligus akhir.
    Dan….. saat sekian milyar juta tahun lagi itu….
    Kita akan bergabung menjadi satu………………..

    Regards

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal October 29th, 2008 4:24 pm:

    Shalom my soul,
    Terima kasih telah berkunjung ke katolisitas.org dan terimakasih untuk sharingnya. Tentu saja hal yang wajar kalau kita mempunyai pendapat yang berbeda. Dan mari kita mendiskusikannya. Saya mencoba membuat point-point, sehingga mudah untuk mengulasnya. Dalam ulasan my soul dikatakan bahwa:

    1. Manusia merupakan bukti otentik dari keberhasilan evolusi jagad raya, yang bersumber dari teori big bang. Dan tiap masa terjadi lompatan genetik, menghasilkan evolusi dan seleksi alam. Dan ini seperti yang dikemukakan oleh teori Darwin, yang kebenarannya didukung bukti ilmiah.
    2. Agama hanya dianggap sebagai suatu simbol, yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
    3. Kita merupakan keturunan kesekian dari big bang, sebuah percikan Roh Tuhan, dan kita mewarisi sifat-sifat Tuhan, namun tidak sempurna karena terganggu lingkungan.
    4. Lompatan genetik termasuk: Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Isa, Sidharta, Muhammad, Tao, dll.
    5. Jadi jangan terlalu berlebihan untuk menerka Tuhan itu siapa.
    6. Sejarah dibentuk dari yang berkuasa, yang kadang menyimpang. Kebenaran hanya ada pada fakta. Jadi kesimpulannya, yang paling ilmiah yang paling dapat dipertanggungjawabkan.
    7. Teruslah mencari karena manusia berevolusi menuju kesempurnaan.

    Itulah point-point yang disampaikan oleh my soul. Sekarang, marilah kita telusuri satu persatu.

    Point 1: Big bang dan teori Darwin:

    1. Big bang masih menjadi suatu teori yang belum tentu terbukti kebenarannya, karena semua masih berupa hipotesa. Dan yang menjadi masalah dari point-point yang disebutkan di atas "apakah semua hipotesa tersebut mengakui adanya campur tangan Tuhan ataukah hanya merupakan suatu kebetulan semata." Jika hanya merupakan kebetulan semata atau "blind chance", maka inilah yang bertentangan dengan agama yang mengaku akan satu Tuhan. Bagaimana pandangan Gereja tentang hal ini? Semoga jawaban disini dapat membantu untuk menjelaskan pandangan Gereja tentang hal ini.
    2. Kalau manusia adalah merupakan produk "kebetulan", maka sungguh sangat tragis bahwa kita semua adalah produk yang tidak diinginkan, namun hanyalah suatu kebetulan semata. Ini sama seperti anak lahir namun tidak pernah diinginkan oleh orang tuanya, dan terjadi karena suatu kecelakaan.

    Point 2: Agama hanya suatu simbol, yang akhirnya kembali ke teori big bang.

    1. Agama tidak hanya suatu simbol-simbol yang sama sekali tidak mempunyai dasar ilmiah. Bahkan teologi dapat disebut suatu science. Itu semua tergantung dari definisi science. Di jaman modern ini, orang mencoba membatasi science sebagai "empirical science", seperti biologi, matematik, fisika, dll. Dalam definisi ini, tentu saja teologi bukanlah empirical science. Namun Aristoteles memberikan pengertian yang lebih luas tentang science, dimana didefinisikan sebagai "an ordered body of knowledge of an object through its fundamental causes." Dari definisi ini, maka teologi adalah suatu science, karena objeknya adalah Tuhan sendiri dan semua yang berhubungan dengan Tuhan; dan fundamental cause-nya juga adalah Tuhan sendiri.
    2. St. Thomas mengatakan bahwa teologi tidak mempunyai self-evident principles yang berdiri sendiri, seperti matematika. Namun, teologi merupakan subordinate science yang meminjam prinsip-prinsipnya dari science yang lebih tinggi, yaitu dari wahyu Tuhan, dan ini dinamakan Science of God (omniscience). Jadi science ini berdasarkan wahyu Allah sendiri kepada manusia, dan sebenarnya merupakan science yang paling pasti, karena berdasarkan dari kepastian akan pengetahuan Tuhan yang tidak mungkin salah. Sebagai contoh, arsitektur meminjam prinsip matematika (higher science) tanpa berusaha membuktikan kebenaran dari prinsip matematika tersebut. Dalam hal teologi meminjam prinsip dari the Highest Science yaitu dari wahyu Tuhan.
    3. Teologi mempelajari "first cause" untuk mencoba menemukan "the uncaused cause" dan "unmoved mover" yang invisible. Sedangkan "empirical science" mempelajari "secondary cause" dari suatu fenomena yang visible/sensible. Dan keduanya dapat tidak bertentangan, karena secondary cause dapat terjadi karena the first cause. Untuk membuktikan ini, maka sebenarnya manusia mempunyai kapasitas akal budi yang dapat membuktikan keberadaan Tuhan yang Satu. Dan semuanya dapat dibaca di artikel ini.
    4. Secondary cause yang dicari dalam empirical science tidak dapat menerangkan semuanya. Seperti dalam kasus big bang atau teori Darwin, perlu dipertanyakan apakah sebab utama dari big bang, apakah sebab dari sebab tersebut, sampai pada satu saat, manusia hanya dapat mengatakan bahwa ada sesuatu di luar dari semua itu yang menciptakan sesuatu dari ke-tidak ada-an, dimana keberadaannya tidak tergantung dari yang lain. Ia disebut sebagai "uncaused cause" atau "unmoved mover", dan kaum beragama menyebut-Nya, Tuhan.
    5. Atau teori big bang yang merupakan blind chance tidak dapat menerangkan tentang "human aspiration", seperti kerinduan manusia akan truth, goodness, and beauty, and love. Juga blind change tidak akan dapat menerangkan keindahan dari alam dan komposisi galaksi yang begitu teratur, yang diatur dengan intelligent design. Sungguh sangat sulit untuk dipahami, bahwa rangkaian big bang yang merupakan rangkaian "blind chance" dapat menciptakan suatu yang teratur dan indah. Ini sama saja mengatakan bahwa simfoni indah yang dibuat Mozart adalah suatu kebetulan dari permainan alat musik yang dimainkan secara sembarangan oleh anak-anak.

    Point 3: Kita merupakan percikan Roh Allah:

    1. Dari rangkaian big bang, kemudian disimpulkan bahwa kita merupakan percikan Roh Allah. Pertanyaannya adalah, kalau kita semua merupakan percikan dari Roh Allah, maka Allah seperti apa yang dipercayai? Apakah Allah yang mempunyai pribadi atau Allah yang tidak berkepribadian, yang hanya merupakan suatu energi? Kalau Allah hanya merupakan suatu energi, maka sebenarnya sangat tragis, karena energi levelnya di bawah intellect and will. Energi tidak mempunyai keinginan bebas, tidak mempunyai akal budi. Dan berdasarkan prinsip "sesuatu tidak dapat memberikan apa yang dia tidak punya", bagaimana Allah yang merupakan suatu energi dapat memberikan intellect and will kepada manusia?
    2. Pemikiran bahwa kita dan semua alam raya merupakan percikan Allah adalah pemikiran Pantheism (dari kata pan & theos yang berarti semua adalah Tuhan dan Tuhan adalah semua). Yang menjadi masalah dalam pemikiran Pantheism adalah bagaimanakah identitas dari Tuhan? Bagaimana Pantheism menjelaskan bahwa ada good and evil di dunia ini? Apakah ini berarti bahwa Tuhan yang ada di dalam diri manusia adalah jahat? Bagaimana gangguan lingkungan dapat menyebabkan kadar sifat Tuhan dalam tiap individu jadi berbeda-beda? Lingkungan seperti apa yang menyebabkan kadar Tuhan dalam individu tertentu lebih besar dari yang lain?
    3. Bagi orang Kristen, Allah merupakan suatu pribadi, yang mempunyai intellect and will, dan oleh karena itu, Allah dapat memberikan intellect and will kepada manusia. Dan terutama bukan merupakan suatu gambaran abstrak, namun Allah yang turun ke dunia, dalam diri Yesus Kristus yang hidup pada masa pemerintahan Pontius Pilatus, yang dicatat dalam sejarah, termasuk oleh sejarahwan Yahudi, Josephus.

    Point 4: Lompatan genetik dalam generasi ke generasi

    1. Perlu diperjelas apa yang dimaksud dengan lompatan genetik disini. Apakah orang-orang yang disebutkan di point 4 hanya berbeda karena lompatan genetik? Dalam artikel: 1) Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, 2) Inkarnasi adalah Immanuel, Allah yang beserta kita, 3) Kristus yang kita imani=Yesus menurut sejarah, 4) Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi, kami mencoba membuktikan bahwa Yesus bukan sekedar "lompatan genetik", namun Yesus adalah Tuhan. Dan tentu saja Tuhan dan manusia bukan hanya berbeda dalam lompatan genetik, namun secara nature sungguh berbeda tak terbatas, seperti "nature" dan "grace" sungguh sangat /infinitely berbeda, yang bedanya lebih jauh dan infinite dibandingkan dengan perbedaan antara manusia dan cacing.

    Point 5: Jangan terlalu berlebihan menerka Tuhan itu siapa

    1. Kalau menerka di sini mengakibatkan orang mencari, maka saya justru berpendapat bahwa adalah suatu hal yang sangat baik untuk mencari Tuhan, karena pencarian kebenaran lebih mulia daripada pencarian akan hal-hal lain. Kalau kita percaya bahwa jiwa kita adalah kekal, maka tidak ada yang lebih berharga untuk menemukan siapa yang menciptakan jiwa kita, dan mau kemana jiwa kita setelah kita meninggal. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang begitu penting dalam kehidupan kita.
    2. Tanpa kita mencoba menerka, atau lebih tepatnya mencari siapa itu Tuhan, maka sebenarnya kita juga berpegang pada suatu prinsip tertentu tentang ke-Tuhanan, misalkan: mengambil sikap bahwa Tuhan itu tidak ada. Jadi untuk mengambil suatu sikap, baik Tuhan ada maupun tidak ada, manusia perlu membuktikannya, yang tidak semua dapat dibuktikan dengan empirical science.
    3. Apakah asumsi pertama dari teori big bang? bahwa Tuhan tidak ada? ini adalah suatu asumsi yang tidak valid, karena untuk dapat membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, perlu suatu pembuktian. Kita tidak dapat menarik suatu kesimpulan berdasarkan suatu premise atau preposisi yang belum terbukti benar. Jadi tentu saja tidak benar kalau kita berkata:
      Premise 1: Tuhan tidak ada
      Premise 2: Teori big bang membuktikan bahwa segala sesuatu adalah merupakan kebetulan.
      Kesimpulan: Karena semua terjadi secara kebetulan, yang berarti tidak ada yang mengatur, maka Tuhan tidak ada.

      Untuk sampai pada kesimpulan yang benar, maka premise 1 dan 2 harus benar. Dan untuk itu, pertama harus membuktikan bagaimana seseorang dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak ada.

    Point 6: Sejarah dan fakta:

    1. Sejarah ditentukan oleh penguasa, dapat benar dan dapat juga tidak, dan hanya fakta yang berbicara. Namun pernyataan ini juga agak membingungkan, karena siapa yang dapat menentukan bahwa suatu fakta itu benar atau tidak. Dan tentu saja kita tidak dapat membatasi pada fakta yang hanya dapat dilihat dengan senses kita. Sebagai contoh, bagaimana kita dapat membuktikan bahwa kita adalah merupakan percikan Allah, seperti yang dipercayai oleh faham Pantheism.
    2. Bukankah dalam kehidupan kita, kita sering mempercayai sesuatu berdasarkan "trustwortiness of the witness"? Sebagai contoh, sebelum ditemukan DNA test, bagaimana seorang anak
      percaya tentang keaslian ayahnya? Bagaimana membuktikannnya? kecuali dengan percaya akan perkataan ayah atau ibunya. Demikian juga dengan Agama Kristen, kita percaya karena saksi yang kita percayai, yaitu Tuhan sendiri. Dan ini juga dapat dibuktikan dengan "motive of credibility", seperti yang dibahas dalam artikel: Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Silakan juga membaca artikel Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah, yang memaparkan akan trustwortiness of the witness.

    Point 7: Terus mencari

    1. Pertanyaannya, sampai kapan proses pencarian harus dilakukan? Pencarian yang tanpa henti dan tidak tahu tujuannya adalah pencarian yang sia-sia. Kalau ditanya, apakah yang dicari? apakah semuanya dapat menemukan jati diri manusia dan dapat menemukan siapa pencipta manusia? Pertanyaan yang paling utama dalam proses pencarian adalah tujuan. Tanpa tujuan yang jelas, percuma untuk mencari, karena pencarian akan berakhir dengan kebingungan. Pencarian tanpa akhir tidak dapat membuat manusia bahagia, karena hanya pada saat manusia menemukan apa yang dicari, maka manusia dapat beristirahat dan menemukan kebahagiaan. Atau apakah tujuan akhir dari hal ini adalah persatuan dengan Sang Sumber Energi? Kalau semuanya dapat bersatu, bagaimana menjawab masalah ketidakadilan? Apakah ada orang-orang tertentu yang mungkin tidak dapat bersatu dengan Sang Sumber Energi ini?
    2. Dalam Kekristenan, pencarian kita melalui Yesus, yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Pencarian ini akan berakhir pada saat manusia bersatu dengan Tuhan di surga, pada saat manusia bertemu dengan Tuhan muka dengan muka. Dan itulah kebahagiaan sejati, yang telah dapat kita rintis sejak kita hidup di dunia dengan berpegang pada ajaran-ajaranNya. Dan keadilan ditegakkan pada saat Penghakiman Terakhir.

    Demikianlah jawaban yang dapat diberikan atas beberapa point yang dikemukakan my soul. Semoga jawaban-jawaban tersebut dapat membantu my soul untuk melihat bahwa beriman kepada Tuhan yang satu adalah sungguh sesuatu yang paling masuk akal, bahkan sebaliknya tidak beriman kepada Tuhan adalah sesuatu yang tidak masuk akal, seperti yang dipaparkan dalam artikel: Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Dan saya berdoa agar dalam proses pencarian akan kebenaran, my soul dapat menemukan kebenaran itu sendiri, yaitu Tuhan.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Olala menjawab pada tanggal January 4th, 2009 10:10 pm:

    [dari admin: saya ubah tanggal pesan]
    percaya teori evolusi juga ?

    kenapa ya

    GIORDANO BRUNO yang punya teori ALAM SEMESTA
    sampai dibakar hidup-hidup
    oleh Gereja Katholik pada tahun 1600 ?

    GALILEO GALILEI yang mengatakan
    bumi sambil ber-rotasi juga
    ber-revolusi mengelilingi matahari,
    juga dipenjara oleh Gereja Katholik pada tahun 1633,

    bahkan PAUS PAULUS II
    pada tanggal 31 Oktober 1992
    hanya menyatakan PENYESALAN saja
    TANPA MEMINTA MAAF pada
    Giordano Bruno maupun Galileo Galilei
    karena AROGANSI Gereja Katholik ?

    anda juga percaya BIG BANG nya Stephen Hawking ?
    lalu isi Alkitab bagaimana ?

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal January 5th, 2009 9:34 pm:

    Salam damai Olala,
    Terima kasih atas pesannya. Mari kita membahas dan berdialog tentang topik ini dengan hormat.
    I. Teori Evolusi dan Big Bang:
    Saya ingin menegaskan bahwa dalam jawaban saya terdahulu, saya tidak mengatakan bahwa saya mempercayai teori Evolusi atau Big Bang. Saya tidak tahu mengapa Olala dapat mengambil kesimpulan demikian. Dalam jawaban saya terdahulu saya ingin menegaskan bahwa yang paling penting adalah seseorang mengakui bahwa tidak mungkin semuanya terjadi secara kebetulan dan hanya merupakan seleksi alam belaka tanpa ada campur tangan Tuhan.
    II. Giordano Bruno:

    1. Untuk kasus Giordano Bruno, silakan membaca lebih lengkap di New Advent (silakan klik). Giordano Bruno sebelumnya pernah memasuki ordo St. Dominic dan ditahbiskan menjadi iman tahun 1572. Namun dia mempunyai pandangan theologis yang bertentangan dengan Gereja Katolik, dan pada akhirnya dikecam sebagai heretic atau bidaah.
    2. Setelah beberapa kali dihadapkan pada persidangan agama, dia tetap tidak mau merubah pandangannya. Bahkan dia menerbitkan buku yang menyerang agama Katolik, yaitu "TheExpulsion of the Triumphant Beast " di tahun 1584. Hidupnya berpindah dari satu kota ke kota lain. Bukan hanya dicap bidaah oleh Katolik, namun dia juga dianggap bidaah oleh Calvinist dan Lutherans.
    3. Di tahun 1599, Giordano Bruno disidangkan di pengadilan agama di Roma dan pada akhirnya dinyatakan sebagai bidaah secara publik pada bulan Januari 1600 dan kemudian diserahkan kepada pengadilan negara (secular power).
      Dan oleh pengadilan negara atau secular power (bukan pengadilan agama Katolik di Roma atau Roman Inquisition), Giordano Bruno dihukum bakar.
    4. Giordano Bruno dianggap bidaah bukan karena teori alam semesta yang disebutkan oleh Olala, namun dikarenakan kesalahan theologis, seperti: Kristus bukanlah Tuhan namun ahli sihir yang luar biasa, Roh Kudus adalah jiwa dari dunia, dan malaikat yang jahat akan diselamatkan, dll.

    III. Galileo Galilei: saya telah menjawabnya di sini (silakan klik).

    III. Sikap Gereja:

    1. Mari sekarang kita melihat bagaimana sikap Gereja Katolik. Paus Yohanes Paulus II, telah meminta maaf kepada dunia akan sikap dari putera dan puteri Gereja Katolik dalam sejarah Gereja Katolik yang menyebabkan penderitaan. Saya menganjurkan agar Olala dapat membaca buku "Luigi Accattoli, and Jordan Aumann, When a Pope Asks Forgiveness, 1st ed. (Alba House, 1998)", dimana Luigi mencatat ada sekitar 94 kali, Paus Yohanes Paulus II meminta maaf dalam berbagai kesempatan, dan yang memuncak pada tanggal 12 Maret 2000, Minggu Pertama Prapaskah. Keterangan lengkap dapat dibaca disini ( silakan klik) dan juga di sini (silakan klik).
    2. Ini adalah suatu sikap, dimana walaupun Gereja Katolik adalah kudus, karena Kristus adalah Kepala-Nya, namun terdiri dari para pendosa, sehingga Gereja harus senantiasa memeriksa batin dan mengadakan pertobatan yang terus menerus.
    3. Permintaan maaf dan memaafkan adalah suatu tindakan kasih yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Cobalah melihat dari sisi yang lain, apakah ada tindakan serupa yang dilakukan oleh agama lain?

    Demikian jawaban yang dapat saya berikan kepada Olala dan semoga dapat menjawab pertanyaan dan keberatan Olala.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  5. Shalom Stef & Ingrid.

    Terima kasih atas responnya.

    Tadi pagi sebelum berangkat kerja saya baca Alkitab, khususnya Kisah Para Rasul.
    Dari bacaan Kis. 2: 36. Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
    Pertanyaan saya : Kenapa Allah membuat Yesus menjadi Tuhan, padahal kita mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan.

    Mohon pencerahannya.

    Saya juga akan berdoa agar website ini dapat membawa kemuliaan bagi nama Tuhan’

    GBU

    [Dari katolisitas.org - kami memindahkan pertanyaan ini dari "Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah?" ke artikel "Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?, sehingga diskusi dapat terkoordinasi sesuai dengan tema]

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal August 25th, 2008 11:50 am:

    Shalom Singodimejo,

    Kis 2:14-36 merupakan kotbah Petrus yang pertama dan menjadi suatu kesaksian yang begitu indah dan sekaligus mempunyai kekuatan yang begitu besar, yang mampu untuk membaptis tiga ribu orang pada saat itu juga. Dan hal ini disebabkan karena Roh Kudus, yang berkarya setelah kematian Tuhan Yesus di Salib. Dan Yesus merupakan kepenuhan dari janji Allah, seperti yang telah diberitakan di dalam Perjanjian Lama. Oleh karena itu, dalam perikop ini, kita melihat dimensi Tritunggal Maha Kudus atau Trinitas

    Jadi pada waktu Kis 2:36 mengatakan bahwa "Allah membuat Yesus menjadi Tuhan", ada dua hal penting yang dapat kita simpulkan:

    1. Petrus mengingat perkataan Yesus sendiri di Matius 28:18, yang mengatakan "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." Dan dengan Petrus mengatakan "Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus," ini berarti segala kekuasaan berada pada Yesus, atau Yesus sendiri adalah Tuhan. Jadi dalam pengertian ini, menjadikan bukan merujuk kepada hakekat dari Yesus, namun ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang mempunyai segala kuasa di surga dan di bumi (Lih Yoh 3:35). Ini juga ditegaskan oleh rasul Paulus yang mengatakan bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan dan diletakkan di bawah kaki-Nya (Lih 1 Kor 15:27; Ef 1:22; Ibr 2:28).
    2. Kalau kita mau melihat perikop ini secara keseluruhan, yaitu dari Kis 2:14-36, maka kita dapat mendiskusikannya dalam konteks Trinitas. Kepercayaan akan Trinitas ini, secara jelas dikatakan dalam syahadat panjang atau syahadat Nicea, "…Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang. Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa." (Lihat KGK, 242). Dalam perikop ini dijelaskan, bagaimana Petrus mengatakan bahwa Allah sendiri yang telah berbicara dengan perantaraan para nabi di Perjanjian Lama akan adanya Mesias, yang terpenuhi dalam diri Yesus. Setelah Yesus menjalankan misi-Nya di dunia ini dengan menebus dosa manusia dengan kematian-Nya di kayu salib, maka Dia mencurahkan Roh Kudusnya kepada manusia, yang terwujud secara nyata pada hari Pentakosta. (Pembahasan Trinitas akan ditulis dalam artikel tersendiri, sehingga penjelasannya dapat lebih lengkap).

    Semoga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan Bapak. Dan mari kita semakin percaya kepada Yesus, Putera Allah, yang mempunyai segala kuasa di bumi dan di surga, karena memang Yesus adalah Tuhan.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org

    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  6. Hi mawarni,
    Terimakasih untuk komentarnya. Memang yang menebus seluruh umat manusia adalah Tuhan Yesus. Oleh karena itu doa dan permintaan maaf hanya ditujukan kepada Yesus. Dan untuk membalas kasih-Nya yang tak terhingga, kita bersama-sama harus mengasihi Yesus dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan kita yang diwukudkan dalam kasih kepada sesama (1 Yoh 4:21).
    Untuk membuktikan bahwa kita mengasihi Yesus, kita harus menjalankan perintah-perintah-Nya. (1 Yoh 5:2-3) Dan perintah-perintah-Nya adalah termasuk Sakramen Permandian untuk menerima berkat kekudusan dan keselamatan, cara pujian dan penyembahan tertinggi dalam Ekaristi, pengampunan Tuhan yang tercurah dalam Sakramen Pengampunan Dosa, dan juga menerima berkat-berkat selanjutnya dalam sakramen-sakramen yang lain. Kita juga harus mengasihi Gereja-Nya. Jika Gereja adalah tubuh Kristus dan dan Kristus adalah Kepalanya (Ef 5:23), maka kita hanya dapat mengasihi Kristus secara penuh dengan juga mengasihi tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dan Gereja ini adalah Gereja Katolik (silakan membaca: Mengapa kita memilih Gereja Katolik dan juga rangkaian tulisan tentang Gereja).
    Dan mari kita bersama-sama mengasihi Yesus.

    Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Olala menjawab pada tanggal January 4th, 2009 10:21 pm:

    [Dari admin: saya rubah tanggal penulisannya].
    Yesus menebus dosa seluruh umat manusia ?

    Alkitab anda sendiri tidak menyatakan demikian
    dalam Yehezkiel 18:20 kan sudah jelas,
    SETIAP MANUSIA MENANGGUNG DOSANYA MASING-MASING !

    yang merubah ayat ini bukankah Palus yang
    aslinya bernama Saulus ?

    Yesus saja tidak merubah Hukum Agama Musa,
    [ ada di MATIUS 5:17-19 dan MATIUS 22:40 ],

    Paulus kan bukan murid Yesus,
    [ Yesus sudah tidak ada waktu Paulus ada ],
    Paulus hanya mengaku bertemu Yesus,
    padahal yang dilihat adalah seberkas cahaya,
    mimpi kaleee si Paulus ini.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal January 5th, 2009 7:59 pm:

    Shalom Olala,
    Terima kasih atas beberapa pesan yang diberikan. Dari beberapa pesan, saya melihat gaya bahasa Olala yang kurang santun (maaf, saya bicara apa adanya) dan Olala tidak menyatakan argumentasi secara langsung. Saya minta maaf, kalau beberapa pesan yang saya anggap kasar tidak dapat saya masukkan dalam website ini.
    Namun untuk komentar ini, mari kita berdiskusi dengan penuh hormat dan kelemahlembutan. Masing-masing kita tahu, bahwa memang ada perbedaan-perbedaan di antara kita dan adalah hal yang wajar untuk mempunyai perbedaaan pendapat. Mari kita bersama-sama belajar untuk menyampaikan kebenaran dengan baik tanpa menggunakan kata-kata yang kasar dan juga tanpa bermanis-manis yang mungkin hanya mengaburkan kebenaran itu sendiri. Saya akan postkan pesan Olala selanjutnya, dengan kondisi yang saya sebutkan di atas. Kalau Olala masih menggunakan kata-kata yang kasar, maka dengan sangat menyesal, saya tidak akan dapat mempostkan komentar Olala di website ini.
    Mari sekarang kita mulai dengan dialog tentang dosa asal.
    Argumentasi Olala:

    1. Olala tidak setuju bahwa Yesus menebus dosa seluruh umat manusia, yang bersumber dari pendapat bahwa tidak ada dosa asal, karena:
      • Yehezkiel 18:20 mengatakan "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.".
    2. Yesus tidak pernah merubah hukum Agama Musa, yang dapat dilihat di:
      • Mat 5:17-19 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga".
      • Mat 22:40 "Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
      • Karena Yesus tidak pernah merubah hukum Musa (mungkin lebih baik hukum di dalam Perjanjian Lama), maka apa yang dikatakan oleh Yehezkiel 18:20 - tentang: seseorang harus bertanggung jawab akan dosa yang diperbuatnya sendiri - tetap berlaku.
    3. Paulus dikatakan merubah konsep dosa asal, yang menurut Olala sebenarnya tidak ada di dalam Alkitab.
      • Olala meragukan kredibilitas Paulus, karena Paulus bukanlah termasuk murid Kristus dan Yesus telah meninggal pada saat Paulus mulai diceritakan di dalam Alkitab. Alkitab hanya menceritakan bahwa Paulus hanya melihat seberkas cahaya yang diragukan kebenarannya.

    Dari argumentasi Olala di atas, maka inilah yang dapat saya sampaikan:

    I. Konsep tentang dosa asal dari Kitab Suci dan Tradisi Suci.

    1. Pada masa Gereja awal ada beberapa golongan yang menolak konsep "dosa asal", seperti Pelagians, Gnostics dan Manichaeans, yang tidak sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik.
    2. Berikut ini adalah kutipan dari beberapa ayat di Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan tidak terbatas hanya pada Yehezkiel dan surat rasul Paulus.
      1. Manusia pertama telah berbuat dosa:
        • Dalam kitab Kejadian dinyatakan bahwa Adam dan Hawa telah berdosa dan oleh karena itu, maka Adam dan Hawa dan seluruh keturunannya harus menanggung dosa. (lih Kej 2).
        • "Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu." (Keb 2:24).
        • "Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya." (2 Kor 11:3; 1 Tim 2:14; Rm 5:12; Yoh 8:44).
        • Dosa manusia pertama adalah dosa kesombongan (lih. Rm 5:19; Tob 4:14; Sir 10:14-15). 
      2. Akibat dari dosa asal adalah: (untuk lebih lengkapnya, silakan melihat jawaban ini - silakan klik).
        • Manusia kehilangan berkat kekudusan dan terpisah dari Allah. (Lih Kej 3).
        • Manusia kehilangan "the gift of integrity", sehingga manusia dapat menderita dan meninggal (lih. Kej 3:16).
        • Manusia terbelenggu oleh dosa dan kejahatan (lih. Kej 3:15-16; Yoh 12:31; 14:30; 2 Kor 4:4; Ib 2:14; 2 Pet 2:19).
      3. Dosa asal ini diturunkan kepada semua manusia:
        • "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku" (Mz 51:7).
        • "Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!" (Ay 14:4).
        • "Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu."(Keb 2:24).
        • "From the woman came the beginning of sin, and by her we all die." (LXX/ Septuagint - Sir 25:33).
        • Dan kemudian rasul Paulus memberikan penegasan dengan memberikan perbandingan antara Adam, manusia pertama yang jatuh ke dalam dosa kesombongan, dan Kristus yang membebaskan manusia dari dosa dengan ketaatan kepada Allah (Rom 5:12-21, lihat juga Rom 5:12-19, 1 Kor 15:21, dan Ef 2:1-3).
    3. Dan konsep tentang dosa asal juga didukung oleh bapa Gereja, seperti Santo Agustinus (De Nupt. et concupt. II 12,25). St. Cyprian juga memperkuat doktrin dosa asal dengan memberikan alasan bahwa dosa asal merupakan doktrin yang memang telah ada sejak awal mula, yang dibuktikan dengan permandian bayi untuk penghapusan dosa (lih. St. Cyprian, Ep. 64, 5). Kemudian doktrin ini diperkuat dari pernyataan Konsili Trente (D.790).
    4. Dari hal tersebut di atas, maka doktrin tentang dosa asal bersumber kepada dari Alkitab, juga dari Tradisi Suci, yang diperkuat oleh Bapa Gereja dan Konsili.

    II. Yesus tidak pernah merubah hukum Musa?

    1. Dalam hal ini mungkin lebih tepat bahwa Yesus memang tidak datang untuk merubah hukum Taurat (dalam Perjanjian Lama), seperti yang disebutkan oleh Olala dengan mengutip Mat 5:17-19.
      Dan oleh karena doktrin dosa asal bersumber pada Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru seperti yang saya telah sebutkan di atas, maka keduanya tidak saling bertentangan, dan dengan demikian semakin memperkuat bahwa Yesus tidak pernah menghapuskan doktrin dosa asal.
      Yesus adalah pemenuhan dari Perjanjian Lama dan hal yang baru yang diajarkan oleh Yesus adalah "Diri-Nya Sendiri", bukan hanya hukum-hukum, namun Sang Pembuat Hukum; bukan hanya peraturan namun disposisi hati yang bersumber pada kasih kepada Tuhan.
    2. Bagaimana dengan argumentasi dari Yeh 18:20?
      1. Dari penjelasan di atas (point I), maka kita melihat bahwa ada dosa asal, dosa yang diturunkan oleh Adam kepada seluruh manusia, yang membuat manusia mempunyai "kecenderungan berbuat dosa atau "concupiscence" dan kehilangan "the gift of integrity" (silakan melihat jawaban ini - silakan klik). Ini adalah dosa yang tidak dapat dihindari, karena sejak lahir semua manusia mempunyai dosa asal.
      2. Namun, karena manusia tidak seluruhnya rusak dan dengan keinginan bebas manusia - walaupun dia mempunyai dosa asal -, dia tetap dapat berkata "tidak" atau "ya" terhadap dosa. Dalam konteks inilah nabi Yehezkiel mengatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap dosanya masing-masing. Jadi misalnya, kalau ayahnya adalah penghianat dan dihukum mati, maka anaknya belum tentu penghianat dan tidak perlu dihukum mati.
      3. Hal ini dapat diterangkan dalam kehidupan sehari-hari. Umat Katolik percaya bahwa dosa asal dapat hilang dengan Sakramen Baptis, sehingga manusia menjadi berkenan di hadapan Allah. Namun kecenderungan untuk berbuat dosa atau concupiscense tidak terhapuskan oleh Sakramen Baptis, sehingga membuat manusia harus berjuang dalam hidup kudus. Ini juga menjadi kesempatan bagi manusia untuk membuktikan kasihnya kepada Allah. Nah, setiap orang yang telah dibaptis, yang telah hilang dosa asalnya, harus berjuang setiap hari untuk berkata ‘tidak’ terhadap dosa.

    III. Kredibilitas Paulus:

    1. Kalau memang Olala meragukan kredibilitas Paulus, bagaimana Olala membuktikan bahwa Rasul Paulus perlu diragukan? Satu-satunya cara untuk membuktikan hal ini adalah kalau Olala dapat memberikan data-data bahwa Paulus menyelewengkan ajaran Kristus.
    2. Kalau kita mempelajari secara lebih teliti, sebetulnya kita tidak perlu meragukan kredibilitas Paulus, karena:
      1. Tidak ada ajaran Kristus yang diselewengkan oleh rasul Paulus, bahkan Tuhan memilih Paulus sendiri sebagai rasul non-Yahudi (Kis 22:14-21; Kis 26:16-18; Rom 1:1; 1 kor 1:1; 1 Kor 9:1-2; 1 Kor 15:9; Gal 1:1; Gal 1:15-16; Ef 1:1; Kol 1:1; 1Ti 1:1; 1Ti 2:7; 2Ti 1:1; 2Ti 1:11; Tit 1:1; Tit 1:3).
      2. Rasul Paulus diterima dengan baik oleh para rasul, seperti yang ditunjukkan di konsili Yerusalem (Kis 9:26-29).
        Kalau apa yang diajarkan oleh rasul Paulus bertentangan dengan ajaran Kristus, pasti rasul-rasul yang lain akan menentang rasul Paulus. Namun hal ini tidaklah terjadi.
      3. Jadi bagaimana dengan pertobatan rasul Paulus yang dianggap sebagai mimpi oleh Olala? Silakan membaca referensi berikut ini: Kis 9:3-22; Kis 22:4-19; Kis 26:9-15; 1 Kor 9:1; 1 Kor 15:8; Gal 1:13; 1Tim 1:12-13.
        1. Kalau Tuhan sendiri menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia, apa sulitnya bagi Tuhan untuk memberikan vision kepada rasul Paulus, sehingga dia dapat mengerti begitu banyak akan pengetahuan Allah?
        2. Kalau vision ini tidak dapat diterima oleh Olala, bagaimana menceritakan rasul Paulus yang dahulu sebagai orang Yahudi yang taat, belajar di bawah Rabi Gamaliel, kemudian dapat menjadi pengikut Kristus dengan pengetahuan tentang Kristus yang luar biasa?

    IV. Beberapa pertanyaan untuk Olala:

    Kalau memang, Olala tidak menyetujui akan konsep dosa asal, saya ingin menanyakan tentang hal-hal berikut ini:

    1. Apakah Olala mempercayai bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa secara sempurna?
    2. Kalau memang demikian, mengapa manusia mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa? Apakah dengan demikian maka Tuhan tidak menciptakan manusia baik adanya?
    3. Darimanakah asalnya kematian? Apakah manusia diciptakan pada awalnya dengan sifat yang sementara? Mengapa Tuhan tidak menciptakan manusia pada awalnya dengan sifat yang tetap dan tetap bersatu dengan pencipta-Nya untuk selama-lamanya?

    Semoga jawaban dan pertanyaan tersebut di atas dapat semakin membuat Olala dan saya sendiri untuk semakin merenungkan akan topik ini.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]