Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 1)
Rangkaian tulisan tentang Gereja
Bagian Pertama
Bagian Kedua
Bagian Ketiga
Bagian Ke-empat
Bagian Ke-lima Melihat begitu indahnya dan dalamnya pengajaran iman Katolik, maka tugas kita sebagai anggota Gereja Katolik adalah:
|
Gereja yang seperti apa?
Mungkin kita pernah mendengar orang-orang mempertanyakan apa sih ciri-ciri Gereja yang sejati? Apakah benar Gereja Katolik itu Gereja yang didirikan Yesus Kristus, dan yang dengan setia meneruskan serta menjaga kemurnian ajaran Kristus itu? Atau mungkin kita pernah mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah anda yakin anda selamat? Sudahkah anda menerima Yesus sebagai Juruselamat anda pribadi?” Ulasan berikut ini mungkin bermanfaat bagi refleksi kita semua.
Ajaran Gereja Katolik menjawab pertanyaan yang paling mendasar dalam hidup kita, seperti, “Siapa yang menciptakan aku? Mengapa aku diciptakan? Apa Tuhan sungguh ada? Apa yang harus kulakukan supaya aku bahagia? Mengapa ada banyak penderitaan di dunia ini?” Pertanyaan- pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan memuaskan jika kita punya keterbukaan hati terhadap rahmat Tuhan, menerima apa yang dinyatakan Yesus melalui Gereja yang didirikan-Nya, dan selanjutnya mengikuti rencana-Nya untuk setiap dari kita.
Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah
Gereja adalah terang dunia yang meneruskan Yesus Sang Terang kepada dunia.[1] Ini berdasarkan perkataan Yesus sendiri, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas di atas gunung tidak mungkin tersembunyi “(Mat 5:14). Karena itu, Gereja yang didirikan oleh Yesus dimaksudkan untuk berdiri sebagai institusi yang kelihatan. Yesus sendiri berjanji, “…di atas batu karang ini (Petrus) Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18) Artinya, Gereja-Nya tidak akan pernah binasa, dan tidak akan pernah terlepas daripadaNya. Gereja-Nya akan bertahan terus sampai kedatanganNya kembali di akhir zaman.
Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang bertahan sejak didirikan oleh Kristus (sekitar 30 AD). Dapat dikatakan bahwa gereja yang lain adalah kelompok yang memecahkan diri dari kesatuan Gereja Katolik. Gereja Timur Orthodox memisahkan diri dari pada tahun 1054, gereja Protestan tahun 1517, dan gereja-gereja Protestan yang lain adalah pemecahan dari gereja Protestan yang awal ini.[2]
Hanya Gereja Katolik yang bertahan dari abad pertama yang dengan setia mengajarkan pengajaran yang diberikan oleh Kristus kepada para Rasul-Nya, tanpa mengurangi ataupun mengubah. Kesinambungan para Paus dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Rasul Petrus. Hal ini tidak pernah terjadi di dalam organisasi apapun di dunia. Pemerintahan negara dunia yang tertua-pun tidak dapat menandingi lamanya keberadaan Gereja Katolik. Banyak gereja yang sekarang aktif menjalankan penginjilan didirikan hanya di abad- 19 atau ke- 20, atau baru-baru ini saja di abad ke-21. Tidak ada dari mereka yang dapat berkata mereka didirikan sendiri oleh Yesus.
Gereja Katolik telah berdiri selama kira-kira 2000 tahun, walaupun dalam sejarahnya sering menghadapi pertentangan dari dunia. Ini adalah kesaksian yang nyata bahwa Gereja berasal dari Tuhan, sebagai pemenuhan dari janji Kristus. Jadi, Gereja bukan semata-mata organisasi manusia, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada masa-masa di mana dipimpin oleh mereka yang tidak bijaksana, yang mencoreng nama Gereja dengan perbuatan- perbuatan mereka. Namun, kenyataannya, mereka tidak sanggup menghancurkan Gereja. Gereja Katolik tetap berdiri sampai sekarang. Jika Gereja ini hanya organisasi manusia semata, tentulah ia sudah hancur sejak lama. Sekarang Gereja Katolik beranggotakan sekitar satu milyar anggota, sekitar seper-enam dari jumlah manusia di dunia, dan menjadi kelompok yang terbesar dibandingkan dengan gereja-gereja yang lain. Ini bukan hasil dari kepandaian para pemimpin Gereja, tetapi karena karya Roh Kudus.
Empat tanda Gereja sejati
Jika kita ingin tahu apa yang menjadi ciri-ciri Gereja yang didirikan oleh Kristus, kita akan mengetahui bahwa ada empat ciri; yaitu Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik (Lumen Gentium / LG, 8)
Gereja yang Satu
(Rom 12:5, 1Kor 10:17, 12:13, KGK (Katekismus Gereja Katolik 813-822), LG 4)
Yesus mendirikan hanya satu Gereja, bukan kesatuan dari beberapa gereja yang berbeda-beda. Kita mengetahuinya dari Yesus sendiri, yang mengatakan bahwa Ia akan mendirikan Gereja-Nya (bukan gereja-gereja) di atas Petrus (Mat 16:18). Pada saat Perjamuan Terakhir sebelum wafatNya Kristus berdoa untuk kesatuan GerejaNya: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Kitab suci mengatakan bahwa Gereja adalah ‘mempelai Kristus’ (Ef 5:23-32). Karenanya, tidak mungkin Ia mempunyai lebih dari satu mempelai. Mempelai-Nya yang satu adalah Gereja Katolik.
Kesatuan Gereja Katolik ini ditunjukkan dengan kesatuan dalam hal (1)iman dan pengajaran, berdasarkan ajaran Kristus (2) liturgi dan sakramen dan (3) kepemimpinan, yang awalnya dipegang oleh para rasul di bawah kepemimpinan Rasul Petrus, yang kemudian diteruskan oleh para pengganti mereka. Kepada kesatuan inilah semua para pengikut Kristus dipanggil (Fil 1:27, 2:2), sebagai “sebuah bangsa yang dipersatukan dengan kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus.” (LG 4)
Kesatuan Gereja Katolik dalam hal pengajaran mempunyai dua dimensi, yaitu berlaku di seluruh dunia dan berlaku sepanjang sejarah. Hal ini dimungkinkan karena dalam hal iman kepemimpinan Gereja dipegang oleh seorang kepala, yaitu seorang Paus yang bertindak sebagai wakil Kristus. Sepanjang sejarah, oleh bimbingan Roh Kudus, Gereja semakin memahami akan ajaran-ajaran Kristus (Yoh 16:12-13) dan menjabarkannya, namun tidak pernah menetapkan sesuatu yang bertentangan dari apa yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Gereja yang kudus
(Ef 5:25-27, Why 19:7-8, KGK 823-829, LG 8, 39, 41,42)
Kekudusan Gereja disebabkan oleh kekudusan Kristus yang mendirikannya. Hal ini tidak berarti bahwa setiap anggota Gereja-Nya adalah kudus, sebab Yesus sendiri mengakui bahwa para anggotaNya terdiri dari yang baik dan yang jahat (lih. Yoh 6:70), dan karena itu tak semua dari anggotaNya masuk ke surga (Mat 7:21-23). Tetapi Gereja-Nya menjadi kudus karena ia adalah mempelai Kristus dan Tubuh-Nya sendiri, sehingga Gereja menjadi sumber kekudusan dan sebagai penjaga alat yang istimewa untuk menyampaikan rahmat Tuhan melalui sakramen- sakramen (lih. Ef 5:26).
Jadi kekudusan Gereja dapat dilihat dari para anggotanya yang hidup di dalam rahmat pengudusan, terutama mereka yang sungguh-sungguh menerapkan kekudusan itu di dalam kaul religius seperti para rohaniwan, rohaniwati dan terutama terlihat nyata pada para martir dan Orang Kudus (lih. LG 42). Kekudusan Gereja juga terlihat dari banyaknya mukjizat yang dilakukan oleh Para Kudus sepanjang sejarah. Dalam hal kekudusan inilah, maka Gereja menggarisbawahi pentingnya pertobatan (lih. LG 8), agar para anggotanya dibawa kepada rahmat pengudusan Allah.
Gereja yang katolik
(Mat 28:19-20, Why 5:9-10, KGK 830-856, LG 1)
Kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal” atau “lengkap “. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)
Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.
Nama ‘Gereja Katolik’ pertama diresmikan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya,
“…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik.”
Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.
Namun, istilah ‘katolik’ bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[3] bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Di sini kata “Katha holos atau katholikos” dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”
Gereja yang Apostolik
(Ef 2:19-20, KGK 857-865, LG 22)
Gereja disebut apostolik karena Yesus telah memilih para rasul-Nya untuk menjadi pemimpin- pemimpin pertama Gereja-Nya, di bawah pimpinan Rasul Petrus (Mat 16:18, Yoh 21:15-18). Oleh karena Yesus sendiri menjanjikan Gereja-Nya tidak akan binasa (Mat 16:18), maka kepemimpinan Gereja tidak berhenti dengan kepemimpinan para rasul tetapi diteruskan oleh para penerus mereka. Dengan demikian janji penyertaan Yesus terus berlangsung sampai pada saat ini, di mana Ia mengatakan, “Aku akan menyertai engkau senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20).
Para rasul adalah para uskup yang pertama, dan sejak abad pertama, pengajaran para rasul di dalam Kitab suci dan Tradisi kudus diturunkan dari mulut ke mulut kepada para penerus mereka (lih. 2 Tes 2:15), misalnya tentang kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ekaristi, kurban Misa, pengampunan dosa melalui perantaraan imam, kelahiran baru dalam pembaptisan, keberadaan Api penyucian, peran khusus Maria dalam karya Keselamatan, hal kepemimpinan Paus, dan lain-lain.
Surat pertama dari Santo Klemens (penerus ketiga setelah Rasul Petrus, tahun 96) kepada jemaat di Korintus yang menyelesaikan konflik di antara mereka membuktikan kepemimpinan Gereja di bawah penerus Rasul Petrus sebagai uskup di Roma.[4] Kepemimpinan di bawah Paus di Roma ini diakui oleh Gereja Katolik sampai saat ini (LG 22). Singkatnya, jika kita kembali ke abad pertama, kita akan menemukan Gereja yang memiliki banyak kemiripan dengan Gereja Katolik yang sekarang, karena memang itu adalah satu dan sama.
Kesimpulan: Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran
Gereja yang otentik adalah Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik; dan ini terdapat di Gereja Katolik.[5] Dari Kitab Suci, Tradisi dan tulisan para Bapa Gereja dapat diketahui bahwa Gereja mengajar dengan kuasa Yesus. Di tengah-tengah banyaknya pendapat dan ajaran dari agama-agama yang berbeda-beda, Gereja Katolik selalu menyuarakan ajaran yang sama sepanjang segala abad, sebab ia adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim 3:15).
Karena Yesus sendiri mengatakan kepada para rasul, “Barangsiapa yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku dan Dia yang mengutus Aku” (Luk 10:16), maka kita percaya bahwa Yesus mempercayakan kepemimpinan Gereja kepada para rasul dan penerus mereka. Karena Yesus sendiri berjanji akan membimbing Gereja-Nya sampai kepada seluruh kebenaran oleh kuasa Roh KudusNya (Yoh 16:12-13), maka kita dapat mengimani bahwa Gereja-Nya ini, Gereja Katolik, mengajarkan kebenaran Kristus.
[1] Lihat Lumen Gentium 1, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, “Terang para Bangsalah Kristus itu. Maka Konsili suci ini, yang terhimpun dalam Roh Kudus, ingin sekali menerangi semua orang dalam cahaya Kristus, yang bersinar pada wajah Gereja, dengan mewartakan Injil kepada semua makhluk (Lih. Mrk 16:15).”
[2] Beberapa gereja Protestan dan pendirinya adalah sebagai berikut: Anglican, didirikan oleh Raja Henry VIII (abad ke-16) di Inggris, Lutheran dan Calvinis oleh Luther dan Calvin (abad ke 16), Methodis didirikan oleh John Wesley (1739) di Inggris, Kristen Baptis oleh Roger Williams (1639), Anabaptis oleh Nicolas Stork (1521), Persbyterian didirikan di Scotland (1560). Beberapa aliran lain misalnya Mormon didirikan oleh Joseph Smith 1830, Saksi Yehovah oleh Charles Taze Russell (1852-1916). Atau yang baru-baru ini Unification Church didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon di Korea.
Sedangkan Gereja Katolik didirikan oleh Kristus di Jerusalem sekitar tahun 30 AD. Siapa dari para pendiri ini yang sudah dinubuatkan oleh para nabi di Perjanjian Lama? Hanya Yesus Kristus.
[3] Disarikan dari New Catholic Encyclopedia, Buku ke-3 (The Catholic University of America, Washington, DC, copyright 1967, reprinted 1981), hal. 261.
[4] Lihat Cyril C. Richardson, ed. Early Christian Fathers, A Touchstone Book, Simon & Schuster, New York, 1996, p. 33
[5] Lihat Lumen Gentium 8, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, “Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik…. Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya…”

















perbedaan pengajaran memang sudah jadi tantangan umat kristus tetapi saya percaya setiap gereja mem bawa visi misi sendiri artinya ada kebenaran yang disuarakan masalah jadi begitu banyak denominasi memang memprihatin kan seperti kata paulus ini menunjukan kita masih manusia duniawi bukan rohani sebenarnya kalau bisa bersatu bisa luar biasa mengumpulkan kelebihan yang dipuyai masing- masing gereja masalah keterpecahan menurut saya karena ke salahan bersama tokoh masa lalu masing masing pihak tetapi selama masih berpegang firman dan ROH KUDUS serta tuhan yesus sediri saya percaya pada waktu nya tubuh kristus akan bersatu -padu dan kebenaran itu kan menjangkau dunia seperti amanat agung cuma saat ini yang perlu diperjuangan kan menghormati per bedaan yang ada. GBU ,saya sendiri masih terlalu hijau untuk campur tangan
Shalom Johannes Yus,
Terima kasih atas pertanyaannya. Memang diperlukan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan. Namun, perbedaan dan perpecahan adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan tetap dapat disikapi tanpa ada perpecahan, dan ini adalah suatu hal yang positif. Namun, perpecahan Gereja tidaklah sesuai dengan pesan Yesus yang terakhir, dimana Yesus mengatakan "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yoh 17:21)
Bahwa ada kesalahan kedua belah pihak, karena oknum-oknum yang kurang bijaksana dalam menyikapi perbedaan secara dogmatik maupun secara praktikal, memang dapat didiskusikan. Namun, kalau perbedaan tersebut membawa perpecahan Gereja, maka hal ini tidak lagi sesuai dengan pesan Yesus yang terakhir sebelum penderitaan-Nya. Dalam sejarah Gereja, ada santa-santo, yang walaupun mendapatkan tekanan dari hirarki Gereja karena perbedaan paham atau kesalahpahaman, namun mereka tetap tinggal di dalam Gereja Katolik, dan berusaha untuk memperbaiki dan membangun Gereja Katolik dari dalam. Lihatlah St. Fransiskus dari Asisi, yang melawan kemewahan yang dilakukan oknum-oknum Gereja dengan kaul kemiskinannya yang begitu ekstrim. Apakah kemudian dia keluar dari Gereja Katolik? Tidak, dia terus membangun Gereja Katolik dari dalam.
Selama gereja-gereja hanya berpegang pada Firman Tuhan (Sola Scriptura) dan senantiasa merasa bahwa apapun yang dikatakannya adalah berasal dari Roh Kudus, dan tidak ada otoritas apapun yang memberikan kepastian doktrin, maka perpecahan tidak akan terhindari. Ini telah terbukti di dalam sejarah, bahwa mulai dari Martin Luther sampai sekarang ada sekitar 28,000 denominasi, yang mempunyai ajaran-ajaran yang berbeda-beda, dimana semuanya mengaku mendasarkan ajarannya dari Alkitab dan Roh Kudus. Kalau anda mau, silakan untuk mempelajari sejarah dari gereja anda: mulai tahun berapa, bagaimana sampai gereja tersebut berdiri, ajarannya bersumber dari mana, kalau ada perbedaan bagaimana menyikapinya, dll. Silakan juga membaca artikel "Mengapa kita memilih Gereja Katolik" (silakan klik). Setelah mempelajari hal tersebut, anda dapat merenungkan alasan perpindahan anda dari Gereja Katolik ke gereja yang lain. Saya tidak dapat menilai secara persis alasan kepindahan anda, namun perpindahan dari Gereja Katolik ke gereja lain dengan dasar kepentingan pribadi bukanlah alasan yang kuat.
Nah, setelah meneliti semuanya itu, maka anda dapat membawa hal ini di dalam doa. Saya ingin menyarankan Johannes Yus untuk melakukan beberapa hal tersebut, karena mengingat bahwa anda sebelumnya adalah beragama Katolik. Kita semua harus menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi kita masing-masing, karena kebenaran adalah Tuhan sendiri (lih. Yoh 8:32). Kalau kita pindah ke gereja lain karena alasan bahwa kita kurang bisa bertumbuh di dalam Gereja Katolik, atau karena kita mendapatkan komunitas yang lebih baik di gereja lain, atau kotbah di gereja lain lebih mengena, dll. bukanlah alasan-alasan yang menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi, karena fokus dari alasan-alasan tersebut adalah kita sendiri dan bukan Tuhan. Pertanyaan yang benar-benar mendasar bagi orang-orang yang berpindah dari Gereja Katolik ke gereja lain adalah: apakah sebelum pindah, orang-orang tersebut benar-benar mencari tahu dan mempelajari apakah yang sebenarnya dipercaya oleh Gereja Katolik? Tanpa hal ini, maka perpindahan mereka tidak dapat dipertanggungjawabkan dan setiap orang harus mempertanggungjawabkannya di depan Yesus sendiri. Kalau Johannes mau, maka anda dapat memilih satu pengajaran dari Gereja Katolik yang mengganjal anda, sehingga anda meninggalkan Gereja Katolik, dan kemudian kita mendiskusikannya secara mendalam.
Akhirnya, Gereja adalah ibaratnya adalah ibu kita. Kita tidak pernah mau meninggalkan ibu kita, walaupun kita tidak setuju dengannya. Bawalah hal ini di dalam doa dan minta Roh Kudus untuk memberikan kebenaran dan kekuatan kepada anda. Gereja Katolik senantiasa menunggu anda untuk pulang ke rumah anda. Bacalah juga kesaksian Lia (silakan klik), yang tadinya seorang Katolik, perpindah ke gereja lain, dan akhirnya pulang kembali. Sekali lagi, marilah kita menempatkan kebenaran di atas segala kepentingan pribadi kita. Saya minta maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan, namun semuanya saya lakukan atas dasar kasih terhadap sesama saudara di dalam Kristus, yang telah diikat oleh baptisan yang sama di dalam Gereja Katolik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
saya sangat setuju dengan pendapat sdr Steff di atas:
…….Namun, perbedaan dan perpecahan adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan tetap dapat disikapi tanpa ada perpecahan……….yang terus membangun Gereja dari dalam.
Gereja Katolik memang sangat kaya akan perbedaan tapi semua perbedaan yang ada tersebut tetap tidak membawa perpecahan dalam Gereja. Coba kita lihat berapa banyak ordo-ordo religius para imam dab suster: SJ,SVD,SSCC,Pr,Ocarm,dan masih banyak benar yang saya sendiri tidak hafal semuanya.Belum lagi kelompok2 kerasulan awam dengan cara berdoa mereka masing2…ada Legio Maria, karismatik, Taize,kelompok Kitab Suci,Kerasulan Doa,kelompok Rosario dll….Semuanya tetap berada dalam kesatuan Gereja Universal yang satu,kudus,katolik dan apostolik. semuanya menggabungkan diri membentuk bunga beraneka warna untuk Altar Tuhan yang indah dalam liturgi agung gereja.Sungguh indah………
dan dari kenyataan ini sepertinya doa yang tiap hari kita pribadi dan Gereja universal ucapkan dalam Misa Kudus akan tetap diperhitungkan oleh Tuhan: “Tuhan Yesus Kristus,janganlah memperhitungkan dosa kami.Tetapi perhatikanlah iman GerejaMu dan restuilah kami, supaya HIDUP BERSATU DENGAN RUKUN, sesuai dengan kehendakMu.Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang segala masa Amin.” (Doa sesudah doa Bapa Kami).Semoga Tuhan selalu menjawab kerinduan kita untuk persatuan semua umatNya di muka bumi ini dalam satu iman,satu baptisan,dan satu perjamuan. Amin
SOre Bu Ingrid Listiati,
pertanyaan saya mungkin agak melenceng dengan artikel diatas
namun saya sangat penasaran dan ingin tahu ttg ajaran-ajaran gereja katolik itu sebenarnya apa saja yang menjadi pokok2 nya. Sebab kalau secara umum semua hal-hal yang baik itu merupakan ajaran gereja, mohon penjelasan ibu. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih
Shalom Dica,
Terima kasih atas pertanyaannya. Untuk mengetahui pokok-pokok ajaran Gereja Katolik, Katekismus Gereja Katolik (KGK) adalah sumber yang paling tepat. Secara prinsip KGK terdiri dari empat pilar yang semuanya bersumber pada Kristus, yaitu:
a) Aku Percaya (apakah yang dipercayai atau diimani oleh Gereja).
b) Sakramen (bagaimana untuk merayakan apa yang kita percayai).
Rangkaian artikel tentang Sakramen dapat dibaca disini:
Liturgi tak perpisahkan dengan sakramen. Ada 7 sakramen dalam Gereja Katolik. Dari tujuh sakramen Gereja, 3 yang pertama – Baptis, Ekaristi (1, 2, 3), Penguatan – adalah sakramen inisiasi yang menjadi sakramen-sakramen dasar bagi kehidupan orang Kristen. Sakramen Urapan Orang Sakit dan Sakramen Tobat (bagian 1, 2, 3, 4), diberikan untuk kesembuhan baik fisik maupun rohani. Dan akhirnya, Sakramen Perkawinan (bagian 1, 2) dan Imamat diberikan untuk menguatkan kita dalam menjalankan misi di dunia ini dalam mencapai tujuan akhir, yaitu Kristus.
c) Ajaran bagaimana untuk Hidup dalam Kristus atau Moral (bagaimana hidup sesuai dengan apa yang dipercayai)
d) Doa (bagaimana untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalankan ajaran Allah serta bagaimana untuk mendapatkan relasi pribadi dengan Allah).
Jadi dari empat pilar ini, kita melihat adanya dimensi vertikal dan horisontal, dimensi pribadi dan komunitas, fokus terhadap pribadi Kristus dan bagaimana untuk mengikuti Kristus dengan baik dengan bergantung pada rahmat Allah dan kerjasama dari kita masing-masing terhadap rahmat Allah.
Secara umum, pokok-pokok iman Katolik juga dijabarkan dalam rangkaian artikel tentang Gereja:
Tulisan ini menjabarkan Gereja Katolik sebagai Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri, dan bahwa Gereja telah direncanakan oleh Allah sejak awal penciptaan dunia (Bagian 1). Gereja juga menjadi tujuan akhir manusia sekaligus sarana untuk mencapai tujuan itu (Bagian 2). Untuk itu Gereja menyampaikan keutuhan rencana Allah (Bagian 3), sebagai Tanda Kasih- Nya untuk semua manusia (Bagian 4). Kebenaran ini merupakan karunia, tetapi juga membawa tugas bagi kita sebagai orang Katolik Bagian 5).
Jadi, saya ingin menyarankan untuk membeli buku Katekismus Gereja Katolik (dan tentu saja Kitab Suci, yang saya asumsikan pasti sudah punya), dan mulailah membacanya.
Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Bu Ingrid, maaf ya, mungkin jumlah umat Katolik yang disebut “satu trilyun” pada tulisan ttg Gereja itu kebanyakan. Apakah itu maksudnya satu milyar? Terima kasih. Shaloom. Isa Inigo
Shalom Isa,
Terima kasih banyak koreksinya. Itu benar-benar saya salah ketik, saya juga baru sadar. Saya yang harusnya minta maaf. Benar, maksudnya satu milyar, bukan satu trilyun, wong penduduk dunia seluruhnya saja hanya sekitar 6 milyar…. Ya, sudah langsung saya perbaiki di artikel tersebut. Sekali lagi terima kasih.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Shalom bu Ingrid dan Pak Stefanus Tay,
Saya punya beberapa pertanyaan:
1. Kapan Gereja Katholik secara fisik (bangunan) didirikan dan dimana?
2. Mengapa Pusat Gereja Katholik berada di Vatikan (Itali) bukan di Yerusalem?
Terima kasih.
Salam dalam kasih Kristus.
Shalom Simon,
1) Menurut sejarah, bangunan gereja yang tertua kemungkinan adalah gereja yang didirikan di Betlehem, yang menandai tempat Yesus Kristus dilahirkan. Selengkapnya lihat ke link ini (silakan klik). Cuplikan terjemahannya adalah sbb:
St. Yustinus Martir yang lahir sekitar tahun 100 di Samaria, menuliskan bahwa Kaisar Hadrian membangun kuil untuk dewa Adonis tepat di atas tempat Yesus Kristus dilahirkan, untuk mencegah orang-orang Kristen berziarah ke tempat itu. St. Jerome pada tulisannya tahun 395, mengatakan bahwa dengan berbuat demikian sebenarnya Kaisar Hadrian malah berbuat sesuatu yang baik kepada umat Kristiani tanpa disengaja, dengan menandai tempat tersebut, sehingga kita semua yang ada di generasi- generasi berikutnya dapat mengetahui tempat kelahiran Yesus dengan pasti. Saat St. Jerome datang ke Bethlehem tahun 384, bangunan kuil tersebut telah digantikan menjadi bangunan gereja. Gereja tersebut dibangun atas perintah St. Helena, ibu dari Kaisar Konstantin, dan didedikasikan tanggal 31 Mei 339. Yang menjadi bagian yang masih terlihat dari bangunan tersebut adalah 1) lantai mosaik, yang terdapat sekitar 2 feet (sekitar 60 cm) di bawah lantai yang ada sekarang, 2) bagian dari dinding luar, 3) kemungkinan kolom-kolom dari batu kapur yang berwarna merah. Gereja itu dapat bertahan di tengah invasi Persia pada tahun 614, ketika semua gereja di Holy Land/ Yerusalem dihancurkan, sebab pada mosaik yang terdapat di pintu utama, terlihat gambar orang-orang Majus yang memakai baju Persia, dan memang demikian. Ketika Kalifah Omar mengunjungi Betlehem setelah menaklukkan Yerusalem 638, ia berdoa di bagian selatan gereja di mana dia bisa menghadap ke Mekkah, dan dengan perjanjian dengan Patriarkh Yesusalem, Sophronius, maka orang-orang Muslim terus diperbolehkan berdoa di sana. Itulah sebabnya, gereja ini dapat tetap berdiri di tengah-tengah kehancuran hampir semua bangunan gereja di Holy Land yang diperintahkan oleh Kalif Al hakim pada tahun 1009.
2) Mengapa pusat Gereja Katolik ada di Roma dan bukan di Yerusalem? Karena pesan Yesus sebelum naik ke surga adalah, "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:6) Pusat bumi saat (abad ke-1) itu adalah kerajaan Roma, sehingga para rasul pada saat itu memang berusaha untuk menyebarkan Kabar Gembira/ Injil sampai ke Roma, karena dengan demikian mereka dapat menyebarkannya ke seluruh dunia. [Roma pada saat itu terletak di pusat kerajaan Romawi, yang memiliki daerah kekuasaan Eropa, Afrika Utara dan Timur Tengah].
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Shalom Andry,
Ya, silakan mengutip artikel dalam website ini, dengan menyebutkan sumbernya. Semoga Tuhan memberkati niat baik Andry untuk menjelaskan iman Katolik kepada saudara/i kita yang non-Katolik. Jangan lupa untuk selalu mengutamakan semangat kasih dalam menyampaikan kebenaran Kristus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Shalom,
Terima kasih atas jawabannya. Memang waktu merupakan kendala bagi kita yang belajar dan bekerja. Bagaimana jika saya kutip tulisan Bu Ingrid (dengan mencantumkan nama Ibu sebagai sumbernya) untuk menyusun artikel yang bisa dibaca oleh saudara-saudara Kristen yang lain.
Tuhan memberkati,
andryhart
Shalom Andry,
Ya, silakan mengutip artikel dalam website ini, dengan menyebutkan sumbernya. Semoga Tuhan memberkati niat baik Andry. Jangan lupa untuk selalu mengutamakan semangat kasih dalam menyampaikan kebenaran Kristus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Teman saya, seorang dokter Katolik, pernah bertanya kepada almarhum Rm Tom Jacob, “Mengapa orang Katolik tidak berpedoman pada Alkitab saja sehingga gerakan eikumene di antara semua gereja Kristen dapat berhasil dengan baik?” Rm Tom menjawabnya tanpa menjelaskan lebih lanjut, “Karena kita juga berpedoman pada sejarah gereja.”
Orang Kristen non-Katolik membaca Alkitab dan menguasainya. Mereka memegang Alkitab sebagai satu-satunya sumber ajaran Allah yang benar (sola scriptura). Tradisi suci (sacred tradition) dan ajaran suci gereja perdana (magisterium) tidak mereka ketahui sama sekali. Mungkin sebagian di antara mereka memang tidak mau tahu. Namun, sebagian lagi ternyata tertarik untuk mengetahui tetapi tidak tahu di mana mencarinya.
Saya kadang-kadang berdiskusi (bukan berdebat) dengan orang-orang Kristen non-Katolik. Jika diskusi tersebut menyangkut Alkitab, semuanya berjalan dengan baik dan kita bisa saling memahami dan menerimanya. Orang Kristen non-Katolik dapat menerima ajaran dalam 1 Timotius 3:15 bahwa gereja merupakan tiang dan dasar kebenaran. Tetapi, mereka menafsirkan gereja sebagai gereja mereka sendiri padahal seharusnya gereja perdana. Anjuran Santo Paulus dalam 2 Tesalonika: 2:15 agar kita tidak hanya berpegang pada ajaran tertulis (Alkitab) tetapi juga pada ajaran lisan yang berupa tradisi suci juga mereka akui kebenarannya. Akan tetapi dalam praktiknya, anjuran Santo Paulus itu terlupakan. Karena itu, saya sebetulnya berharap agar pengikut agama Katolik yang mengetahui tradisi suci dan ajaran suci dari sumbernya di Vatican dapat membagikan pengetahuannya ke dalam (di antara umat Katolik sendiri) maupun ke luar (di antara umat Kristen non-Katolik). Untuk Bu Ingrid, saya mohon agar sekali-sekali Ibu mengirimkan artikelnya kepada situs-situs Kristen seperti http://www.Sabda Space.com sekalipun nantinya dapat terjadi perdebatan dari mereka yang menentangnya.
Shalom Andry,
Ya benar, bahwa ada tiga pilar dalam Gereja Katolik, yaitu Kitab suci, Tradisi suci dan Magisterium (Wewenang Mengajar Gereja). Kalau memang dengan berpegang kepada Kitab Suci saja dapat terjadi ekumene, kenapa sampai saat ini begitu banyak denominasi Kristen? Untuk mengetahui lebih lanjut, silakan membaca: Mengapa kita memilih Gereja Katolik. Dan memang sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjelaskan hal ini jika ada yang bertanya kepada kita.
Nah, mengenai hal mengirimkan artikel ke situs-situs Kristen Protestan, saat ini memang belum dapat kami lakukan. Karena kami menyadari bahwa hal itu harus dibarengi dengan kesediaan untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dapat bermunculan juga kemungkinan adanya diskusi yang berkepanjangan. Tentu hal itu bisa baik, tetapi kami harus mengakui bahwa saat ini kami belum dapat melaksanakannya; bukan karena kami tidak mau menjawab jika ada pertanyaan-pertanyaan, tetapi karena keterbatasan waktu, mengingat kami di sini juga masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan studi kami yang juga memakan banyak waktu dan energi. Sementara ini, fokus kami adalah menulis artikel dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke dalam website ini.
Apa yang telah Andry lakukan dengan saudara-saudari Kristen non Katolik dalam diskusi itu baik, asal kita melakukannya dengan semangat kasih. Selanjutnya kita serahkan saja kepada Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran, untuk menyatakan sendiri kepada mereka Kebenaran itu, di dalam hati mereka.
Demikian penjelasan singkat kami, semoga Andry dapat memahaminya.
Salam Kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Dear Ingrid Listiati,
Artikel2 yang luar biasa…..membuat iman makin bertumbuh dan makin kuat shg saya semakin bangga menjadi orang Katolik,thanks artikel2nya, kiranya Tuhan memberkati anda, anda & seisi rumah anda:)))
Teriring doa dan salam dari saya,
~Eddy Tg~
Dear sdr Ingrid L,
Mau tanya nih, bagaimana kedudukan dan tingginya tingkat perspektif keluhuran kata2 “Kebenaran, Kasih dan kebaikan” ? Mohon lampu petromaknya (persamaan, perbedaan dlm aplikasinya)…….thanks.
Shalom,
Eddy TG
Shalom Eddy,
Terima kasih untuk doa dan dukungan untuk website ini. Mengenai hal "Kebenaran, Kasih dan Kebaikan", berikut ini adalah urutan yang dapat saya sampaikan:
1) Pertama adalah Kasih. Hal ini kita ketahui, pertama-tama dari Kitab Suci. Yesus merumuskan KASIH sebagai hukum yang terutama, yaitu kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama (lihat Mat 22:34-40; Mrk 12: 28-34; Luk 10:25-28). Pada kedua hukum ini tergantung seluruh hukum dan kitab para nabi. Lalu Rasul Yohanes juga mengatakan sesuatu yang terpenting, bahwa Allah adalah KASIH. Maka kita diajak untuk saling mengasihi, "sebab kasih berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah KASIH" (1 Yoh 4:7-8).
Lumen Gentium (Dokumen Vatikan II tentang Gereja) 42 mengutip surat Rasul Yohanes mengatakan: "Allah itu kasih, dan barang siapa tetap berada dalam kasih, ia tinggal dalam Allah dan Allah dalam dia.(1Yoh 4:16). Adapun Allah mencurahkan
cinta kasih-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang dikurniakan kepada kita (lih. Rom 5:5). Maka dari itu kurnia yang pertama dan paling perlu yakni cinta kasih, yang membuat kita mencintai Allah melampaui segalanya dan mengasihi sesama demi Dia." Selanjutnya, Lumen Gentium juga menyatakan, bahwa kasih adalah "pengikat kesempurnaan, dan kepenuhan hukum" (lih. Kol 3:14, Rm 13:10), yang mengarahkan kita untuk hidup di dalam kekudusan, dan kasih pula yang memberikan hidup dan menjiwai segala upaya menuju kekudusan itu. Kasih-lah yang membimbing kita untuk menuju tujuan akhir kita, yaitu Tuhan. Dan kasih kepada Tuhan dan sesama inilah yang menandai kita sebagai pengikut Kristus.
Kasih adalah kebajikan ’supernatural’ yang berasal dari Allah yang memampukan kita untuk mengasihi semua orang, bahkan musuh kita demi kasih kita kepada Allah. Benih kasih sejati ini kita terima dalam Pembaptisan kita dan yang kemudian terus bertumbuh melalui Sakramen Kasih Tuhan, yaitu Ekaristi. Dalam Ekaristi kita melihat teladan kasih Allah yaitu Yesus yang memberikan DiriNya kepada kita, sehingga kita didorong untuk melakukan yang sama, yaitu memberikan diri kita kepada orang lain.
Dengan melihat uraian di atas, kita mengetahui bahwa KASIH adalah yang terutama dalam hidup kita. Bukan saja Kasih menjadi Hukum yang terutama, tetapi karena Allah sendiri adalah Kasih, maka jika kita mengatakan kita mengasihi Allah dan ingin meniru Dia, maka kita harus mengasihi. Artinya, Hukum Kasih bukan saja menempati urutan teratas, melainkan juga harus menempati urutan-urutan berikutnya, bersama-sama dengan kebajikan yang lain. Kasihlah yang mengikat, menyatukan dan menyempurnakan kebajikan-kebajikan, dan yang membuat kita bertumbuh dalam kekudusan menyerupai Allah yang adalah Kasih Ilahi. (KGK 1827).
Di atas semua itu, jangan kita lupa bahwa pada penghakiman terakhir, perbuatan KASIH-lah yang akan menjadi ukuran bagi kita untuk dapat masuk surga (Lih. Mat 25:31-46). Kasih inilah yang juga kita kenal sebagai kekudusan. Katekismus Gereja Katolik menyebutkan bahwa kebajikan ilahi adalah iman, pengharapan dan kasih, (KGK 1813) dan berdasarkan dari pengajaran dari Rasul Paulus 1 Kor 13:13, di antara ketiga hal itu, yang terbesar adalah kasih (KGK 1826). Karena di surga nanti iman dan pengharapan tidak diperlukan lagi, saat semua jiwa yang diselamatkan sudah memandang Allah muka dengan muka. Yang ada tinggal kasih yang mengikat semua, di dalam semua, dalam kesatuan dengan Tuhan. Namun kasih yang disebutkan di sini, mensyaratkan iman sebagai dasarnya, demikian juga dengan pengharapan; oleh karena itu iman, pengharapan dan kasih saling berkaitan. Dalam hal beriman kepada Allah inilah, peran pengetahuan akan kebenaran menjadi sangat penting. Kepada Allah yang adalah Kebenaran itu sendiri, kita secara bebas menyerahkan diri kepada Allah, dan ini adalah iman. Dan iman yang hidup bekerja oleh kasih (lihat KGK 1814). Jadi di sini kita melihat hubungan timbal balik antara kasih dan kebenaran, dan ini tidak mengherankan, karena Allah adalah Kasih dan Kebenaran itu sendiri. (lih. 1 Yoh 4:8; dan Yoh 14:6)
2) Dari ketiga hal di atas (kebenaran, kasih dan kebaikan), kebenaran menempati urutan kedua, jika kita melihat dari segi tingkat keutamaannya dalam kehidupan rohani kita. KASIH itu sendiri akan mengantarkan seseorang kepada Kebenaran. Alkitab mengatakan, "Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan ditengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita." (1Yoh 4:9-10). Kasih kita kepada Allah akan mengantarkan kita kepada Kebenaran yaitu Kristus (lih. Yoh 14:6).
Lumen Gentium 42, juga mengatakan, "…Supaya cinta kasih bagaikan benih yang baik bertunas dalam jiwa dan menghasilkan buah, setiap orang beriman wajib mendengarkan Sabda Allah dengan suka hati, dan dengan bantuan rahmat-Nya, dengan tindakan nyata melaksanakan kehendak-Nya." Kita semua mengetahui, bahwa Sabda Allah yang menjelma adalah Kristus Sang Kebenaran, dan Kristuslah yang akan menjadikan perbuatan kasih kita menghasilkan buah yang sesuai dengan kehendak Allah.
3) Walaupun dalam banyak hal kelihatan bahwa kebaikan setara dengan kebenaran, namun sesungguhnya, kebaikan yang sejati itu mengalir dari pengetahuan akan kebenaran yang sejati. Jika tidak didasari akan pengetahuan kebenaran yang sejati, maka kebaikan dapat menjadi relatif, bisa baik menurut orang yang satu, tetapi bukan kebaikan menurut orang lain. Atau, tanpa pengetahuan akan Kebenaran, maka kebaikan dapat mengarah kepada kebaikan yang bersifat duniawi/ menurut manusia, dan bukan kebaikan yang bersifat ilahi/ menurut ajaran Tuhan. Namun jika kita bersandar pada Kebenaran, yaitu Kristus, maka kebaikan yang kita inginkan maupun yang harus kita lakukan adalah kebaikan yang bernilai objektif, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Alkitab menyebutkan kebaikan sebagai salah satu dari buah Roh Kudus (lihat Gal 5:22, buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri); dan kita mengetahui bahwa Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, yaitu Roh Kristus sendiri yang dijanjikan oleh Kristus kepada para murid-Nya untuk menyertai mereka selama-lamanya (lih. Yoh 14:16-17).
Demikian, sehingga dari antara ketiga hal "kebenaran, kasih dan kebaikan", Kasih menempati urutan pertama dan utama, diikuti oleh kebenaran dan kebaikan yang bersumber dari Kasih itu. Kasih pula yang ‘mengikat’ kebenaran dan kebaikan, agar dapat dikatakan sempurna di mata Tuhan.
Uraian di atas adalah kesimpulan saya berdasarkan dari apa yang saya mengerti dari ayat-ayat Alkitab dan pengajaran Gereja melalui Lumen Gentium (Dokumen Vatikan II, tentang Gereja). Jangan lupa, Sumber Terang kita adalah Kristus, dan sungguh, kita semua ini memang hanya lilin-lilin kecil saja, (atau lampu petromax?) yang harusnya mengambil terang dari Kristus.
Salam juga untuk Eddy dan keluarga.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Dear Ibu Ingrid Listiati,
Terimakasih atas uraian serta penjelasannya, it’s awesome ! Sangat berguna serta menjadi bahan pertimbangan bagi saya terutama didalam menulis untuk dibagikan kepada teman2 yg memerlukannya.
Kalau boleh tanya lagi, bagaimana pendapat Ibu Ingrid ttg tulisan Romo Arnold Damen SJ, “The one true church” itu? Apa anda setuju/tidak setuju, apa alasannya?
Kiranya Tuhan memberkati anda, anda sekeluarga dan seisi rumah anda. Amin :)
Eddy TG
Shalom Eddy,
Romo Arnold Damen SJ dalam tulisannya "The One True Church" sebenarnya menyampaikan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang sejati yang didirikan oleh Kristus. Mengenai hal ini saya setuju, seperti juga yang telah dituliskan dalam artikel tentang Gereja di dalam web ini, yaitu: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Allah, bagian 1,2,3,4,5, dan juga dalam artikel Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik?
Pada intinya memang kita harus mengakui dengan rendah hati bahwa tidak ada seorangpun yang berhak mendirikan Gereja selain Kristus. Gereja adalah sesuatu pemberian Allah, dan bukan sesuatu yang ‘diciptakan/ didirikan’ oleh manusia. Mengenai pertanyaan tentang keselamatan di luar Gereja Katolik, sudah pernah saya jawab untuk pertanyaan berikut ini, 1, 2, 3 (silakan klik). Mungkin suatu saat nanti, kami akan menuliskan secara khusus untuk topik tersebut.
Semoga hal ini menjawab pertanyaan Eddy.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Shalom bu Ingrid,
Thanks penjelasannya.
Jadi bagaimana “keselamatan” saudara2 kita yg seiman tapi non Katolik (beda gereja)? Apakah tulisan itu tdk bertentangan dg KV II yg inklusif itu khusus hal ‘keselamatan’ ?
Shalom,
Eddy TG
Shalom Eddy,
Sebenarnya, apa yang dituliskan di Lumen Gentium (Vatikan II tentang Gereja) tentang Keselamatan tidak bertentangan dengan apa yang dituliskan oleh St. Cyprian dari Carthage pada abad ke 3, yang berkata "Extram Ecclesiam nulla sallus" (Tidak ada keselamatan di luar Gereja), yang diperjelas oleh Konsili Lateran (1215): Hanya ada satu Gereja universal bagi umat beriman, di mana di luar itu tidak ada keselamatan. Katekismus Gereja Katolik 846 mengartikan hal ini sebagai, "…seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya".
Paus Pius IX (1846-1878) dalam Singulari Quidem, memperjelas dengan menyebutkan dua kesalahan, yaitu, pendapat yang mengatakan 1) bahwa ada harapan yang besar untuk keselamatan pada mereka yang tidak pernah hidup dalam kesatuan dengan Gereja Kristus yang sejati (Gereja Katolik) dan 2) bahwa keselamatan dapat diperoleh melalui agama apa saja. Jadi yang harus kita imani adalah di luar Gereja Katolik, tidak ada seorangpun yang dapat diselamatkan; bahwa ini adalah bahtera keselamatan…. namun perlu diketahui bahwa mereka yang benar-benar tidak tahu akan kebenaran sejati dalam agama Katolik, dan ketidaktahuan ini benar-benar bukan karena kesalahan mereka, maka ini tidak akan dianggap salah di mata Tuhan. (Hal ini dijabarkan dalam Lumen Gentium 16 dan KGK 847 sebagai, "Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal.")
Dalam surat ensikliknya, Quanto conficiamur moerore, Paus Pius IX menjelaskan kembali, bahwa jika mereka benar-benar tidak tahu akan kebenaran sejati dalam Gereja Katolik, namun hidup dengan jujur dan benar, maka mereka dapat oleh kuasa rahmat ilahi memperoleh keselamatan, sebab Tuhan melihat dengan jelas, menyelidiki, mengetahui pikiran, jiwa, dan sikap batin semua orang, sebab oleh belas kasihanNya yang besar tidak menginginkan seorangpun binasa jika ia tidak bersalah dan berdosa dengan sengaja. Namun dogma bahwa di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan adalah jelas benar, bahwa mereka yang berkeras menentang otoritas dan definisi Gereja Katolik, dan berkeras memisahkan diri dari Gereja Katolik dan dari Bapa Paus sebagai penerus Rasul Petrus… tidak dapat memperoleh keselamatan. Ini berdasarkan dengan perkataan Yesus sendiri, "Jika ia tidak mau mendengarkan jemaat (Gereja), pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah (Mt 18:17); "Barangsiapa yang mendengar kamu (para rasul), mendengar Aku; barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku, ia menolak yang mengutus Aku." (Luk 10:16); "Siapa yang percaya tidak akan dihukum" (Mrk 16:16) "Barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman" (Yoh 3:18); "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan" (Luk 11:23).
Jadi dalam hal ini Pastor Arnold Damen SJ hanya mengembangkan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik sejak awal. Ia mengajak orang untuk melihat secara objektif bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan oleh Yesus, dengan bahasa yang sangat ceplas-ceplos, jadi mungkin terdengar terlalu ‘keras’. Tetapi sesungguhnya yang dikatakannya itu benar, sebab Lumen Gentium 14 juga mengatakan bahwa "Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan."
Maka sekarang, yang menjadi permasalahan adalah, apakah mereka itu (saudara-saudari kita yang berbeda Gereja dengan kita) mengetahui atau tidak tentang kebenaran sejati dalam Gereja Katolik. Hal ini yang memang tidak sepenuhnya kita ketahui, sebab yang paling mengetahui hati setiap orang hanya Tuhan (Kita hanya tahu dari luar saja). Jika mereka tahu, tapi oleh karena alasan tertentu tidak mau masuk, maka itu adalah kesalahan mereka, namun jika mereka benar-benar tidak tahu, maka mereka tidak bersalah di hadapan Tuhan seperti yang telah diuraikan di atas. Janganlah kita lupa bahwa mereka yang percaya pada Kristus, menerima Pembaptisan dengan baik, berada dalam persekutuan dengan Gereja Katolik walaupun tidak sempurna (Unitatis Redintegratio 3, Vatikan II tentang Ekumenisme, KGK 838)
Karena hal yang disebutkan di ataslah, maka kita sebagai orang Katolik harus berjuang menyampaikan kebenaran Gereja Katolik, baik dengan memberikan pertanggungan jawab akan iman kita, atau menjelaskan kepada mereka, jika ada kesempatan. Di atas semua itu, kita harus berjuang untuk hidup kudus dalam kasih, sebab kesaksian hidup berbicara lebih lantang daripada kata-kata.
Demikian jawaban dari saya, semoga dapat memperjelas jawaban saya sebelumnya.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati