Apakah Spiritualitas Katolik?

Spiritualitas adalah nilai- nilai religius yang mengarahkan tindakan seseorang. Spiritualitas Katolik adalah spiritualitas yang:

  • Berpusat kepada Kristus dan melalui Dia kepada Allah Tritunggal, sebab hanya didalam nama Kristus kita diselamatkan (Kis 4: 12).
  • Mengikutsertakan kita di dalam misteri Paska Kristus, yaitu salib (1Kor 2:2), kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, melalui rahmat, iman, kasih dan nilai-nilai kristiani lainnya; dan keikutsertaan ini nyata dalam Ekaristi kudus.
  • Berdasarkan atas kasih Allah yang telah mengutus Kristus PuteraNya untuk wafat di salib dan bangkit untuk menghapus dosa-dosa kita (1Yoh 4:10).
  • Merupakan karunia Tuhan (Ef 2:8), di mana kita diangkat menjadi anak-anak Allah (Rom 8: 15) untuk dipersatukan dengan-Nya di dalam “komuni kudus.”
  • Mengacu pada Gereja yang didirikan Kristus yaitu Gereja Katolik. (Mat 16: 18).
  • Nyata dalam perbuatan (Yak 2: 17), seperti dicontohkan oleh Bunda Maria.
  • Mengarah pada kehidupan kekal dan ditujukan untuk kemuliaan Tuhan (Ef 1:12).

Dengan Spiritualitas Katolik kita dihantarkan kepada kebahagiaan sejati.

Eucharist_01 Jika kita mendengar kata ‘spiritualitas’, kita dibawa pada suatu kenyataan bahwa di dalam hidup, manusia selalu mencari ‘sesuatu di atas dirinya’ sebagai manusia. Hal ini disebabkan karena kita manusia tidak hanya terdiri dari tubuh saja, melainkan juga jiwa spiritual, sehingga kita selalu memiliki kecenderungan untuk menemukan jati diri kita dengan mengenali Sang Pencipta. Seperti halnya ikan salmon yang mengembara ribuan kilometer dalam hidupnya untuk kembali ke tempat ia dilahirkan dan mati di tempat asalnya tersebut; demikian halnya dengan manusia. Sudah selayaknya, kita –yang diciptakan lebih sempurna dari ikan salmon- menyadari, bahwa kita berasal dari Tuhan dan suatu saat akan kembali kepada Tuhan. Maka, di dalam hidup, kita akan berusaha untuk mengenal diri sendiri dan Tuhan, dan di sinilah spiritualitas berperan dalam kehidupan kita.

Tuhanlah yang memberi makna hidup

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat, bahkan mengalami pergumulan untuk pencarian jati diri, yang lebih umum dikenal dengan pencarian makna hidup, atau singkat kata, kebahagiaan. Dan karena asal dan akhir manusia adalah Tuhan, maka tidak mengherankan bahwa di dalam pergumulan ini, banyak orang mengalami seperti yang dikatakan oleh Santo Agustinus, “Hatiku tak pernah merasa damai sampai aku beristirahat di dalam Engkau, ya Tuhan.” Tuhanlah sumber kebahagiaan kita dan Dia-lah yang memberi arti dan maksud dari hidup ini. Maka, hanya jika kita sampai kepada Tuhan, barulah kita menemukan damai dan pemenuhan makna hidup. Kesaksian dari banyak orang membuktikan hal ini: ada banyak orang yang secara materiil tak kurang sesuatu apapun, tetapi tidak bahagia, sementara ada orang-orang lain yang hidup sederhana tetapi dapat sungguh berbahagia dan menikmati hidup. Pertanyaannya, kenapa demikian?

Dapat dimengerti, spiritualitaslah yang membedakan kedua kelompok ini. Spiritualitas di sini mengacu pada nilai- nilai religius yang mengarahkan tindakan seseorang.[1] Jika nilai- nilai yang dipegang tidak mengarah pada Tuhan, kebahagiaan yang dicapai adalah ‘semu’ sedangkan jika nilai-nilai itu mengarah pada Tuhan, kebahagiaan yang diperoleh adalah kebahagiaan sejati. Meskipun spiritualitas ini tidak terbatas pada agama tertentu, namun, kita bisa memahami, bahwa spiritualitas mengarah pada Tuhan Sang Pencipta, karena semua manusia diciptakan oleh Tuhan yang satu dan sama, dan karena hanya di dalam Tuhanlah kita mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan di dalam kehidupan ini.

Spiritualitas Kristiani adalah Spiritualitas Tritunggal Maha Kudus yang berpusat pada Kristus

Sebagai umat Kristiani, kita percaya bahwa Tuhan telah menyatakan diri-Nya di dalam diri Yesus Kristus PuteraNya[2] oleh kuasa Roh Kudus-Nya. Oleh karena itu, spiritualitas Kristen bersumber pada Allah Tritunggal Maha Kudus, yang berpusat kepada Kristus, Penyelamat kita,[3] karena hanya di dalam nama Kristus kita diselamatkan (Kis 4:12). Allah Bapa telah menciptakan kita sesuai dengan gambaran-Nya; dan menginginkan agar kita selalu tinggal di dalam kasihNya yang tak terhingga sebagaimana ditunjukkan oleh Kristus dengan wafat dan kebangkitanNya, untuk menghapus dosa-dosa kita (1 Yoh 4:10). Oleh Kristus, kita angkat kita menjadi anak-anak Allah (Rom 8:15). dan dipersatukan dengan Tuhan sendiri; Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Jadi, ‘komuni’ atau persatuan kudus kita dengan Allah Tritunggal adalah tujuan hidup kita. Sekarang masalahnya adalah, apakah kalau kita percaya kepada Tuhan, otomatis kita pasti bisa bersatu dengan Dia? Pertama-tama kita harus menyadari, bahwa persatuan dengan Tuhan yang membawa kita pada keselamatan adalah suatu karunia; itu adalah pemberian, bukan karena usaha manusia (Ef 2:8). Karunia keselamatan tersebut diberikan oleh Kristus melalui wafatNya di salib, kebangkitanNya dan kenaikanNya ke surga. Misteri ini-lah yang sampai sekarang selalu dihadirkan kembali oleh Gereja Katolik, melalui sakramen sakramennya, terutama Sakramen Ekaristi,[4] di mana kita dipersatukan dengan Tubuh dan Darah Kristus, Jiwa dan Ke–ilahianNya. Persatuan atau komuni kudus ini adalah cara yang dipilih Allah untuk mengangkat kita menjadi serupa dengan Dia. Untuk maksud persatuan kudus inilah, Kristus mendirikan Gereja Katolik untuk melanjutkan karya Keselamatan-Nya kepada dunia sampai kepada akhir zaman.

Peranan Iman

Dalam hal persatuan dengan Tuhan melalui misteri Keselamatan inilah, iman mengambil peranan penting. Iman di sini bukan berarti kepercayaan subjektif bahwa pasti kita diampuni sehingga kita tidak perlu melakukan sesuatu apapun sebagai konsekuensi, melainkan iman yang objektif, yang diawali dengan pertobatan sejati dan diikuti dengan proses memperbaiki diri, yaitu suatu perjuangan untuk semakin menjadikan diri kita semakin mirip dengan Tuhan yang menciptakan kita. Dalam hal ini, iman yang dimaksud adalah ketaatan iman (Rom 16:26; 1: 5) yang diberikan kepada Allah yaitu dengan cara mempersembahkan ketaatan kita secara penuh yang mencakup kehendak dan akal budi, dan dengan mematuhi dan menyetujui segala kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan kepada kita.[5] Kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus dilanjutkan oleh Gereja-Nya, Gereja Katolik, sehingga ketaatan total kepada Tuhan membawa kita kepada ketaatan kepada kepada Gereja. Taat di sini tidak saja mencakup taat kepada Firman Tuhan yang tertera pada kitab suci, tetapi juga kepada Gereja-Nya, karena keduanya sejalan dan tidak dapat dipisahkan.

Spiritualitas Katolik adalah spiritualitas yang otentik

Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa spiritualitas yang dinyatakan oleh Kristus adalah spiritualitas yang otentik, meskipun Gereja Katolik tidak menolak apa yang benar dan kudus yang dinyatakan oleh agama-agama lain.[6] Dikatakan otentik karena spiritualitas ini berasal dari Tuhan sendiri, yang kini berada di dalam Gereja Katolik yang dipimpin oleh penerus Rasul Petrus dan para uskup pembantunya, meskipun ada banyak unsur pengudusan dan kebenaran ditemukan di luar struktur Gereja Katolik.[7] Berakar dari Firman Tuhan dan ajaran Gereja inilah, kita mengetahui bahwa panggilan hidup kita sebagai manusia adalah agar kita hidup kudus dan mengasihi, karena Allah itu Kudus dan Kasih (Im 19:2, 1Yoh 4:16). Di sini kekudusan berkaitan erat dengan memegang dan melakukan perintah Tuhan[8], yang adalah perintah untuk mengasihi Tuhan dan sesama (Mat 22:37-39; Mrk 12:30-31) (Lihat artikel: Bagaimana caranya untuk hidup kudus?). Hanya dengan cara ini, maka kita dapat bertumbuh untuk menjadi ‘serupa’ dengan Allah, dan dikuduskan oleh Allah. Panggilan hidup kudus adalah panggilan bagi semua orang Kristen, bahkan panggilan untuk semua orang, karena kita semua diciptakan oleh Tuhan yang satu dan sama. Jadi kekudusan bukan monopoli kelompok para pastor, suster dan religius lainnya tetapi harus menjadi tujuan bagi kita semua.

Konsili Vatikan II menyerukan pada semua orang panggilan untuk hidup kudus. Siapapun kita, dalam kondisi yang berbeda satu dengan lainnya, dipanggil Tuhan untuk menjadi kudus, sebab Allah sendiri adalah Kudus.[9] Jadi panggilan ini berasal dari Allah yang satu, dan berlaku untuk semua orang, karena Allah menciptakan semua orang di dalam kesatuan, dan menginginkan kesatuan itu kembali di dalam diriNya, yang berlandaskan kasih. Maka nyatalah bahwa Spiritualitas Katolik mengarah kepada kekudusan dan kasih di dalam kesatuan yang universal, yaitu yang merangkul semua orang kepada persatuan di dalam Tuhan. Persatuan ini adalah kesempurnaan dari hidup Kristiani, yang dihasilkan dari penerapan pengajaran Tuhan di dalam kehidupan sehari- hari.[10] Jadi spiritualitas yang otentik haruslah diikuti oleh penerapan di dalam perbuatan, sebab jika tidak, spiritualitas menjadi hanya sebatas teori.

Ciri-ciri Spiritualitas Katolik

Dengan demikian, ciri-ciri dari Spiritualitas Katolik adalah[11]:

  1. Berpusat pada Kristus. Kristuslah yang menciptakan hidup spiritual, sebab di dalam Dia, Tuhan menyatakan diriNya oleh kuasa Roh Kudus. Oleh karena itu spiritualitas tergantung dari semua pengajaran Kristus.
  2. Melalui Kristus menuju kesatuan dengan Allah Tritunggal. Karena Kristus adalah Pribadi kedua di dalam kesatuan Tritunggal Maha Kudus, maka jika kita bersatu dengan Kristus, maka kita akan bersatu dengan Allah Tritunggal.
  3. Keikutsertaan di dalam misteri Paska Kristus (salib, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga), melalui rahmat Tuhan, iman, kasih, dan nilai-nilai Kristiani lainnya. Singkatnya, Spiritualitas Katolik tak terlepas dari Salib Kristus,[12] penderitaan dan kesadaran diri akan dosa- dosa kita yang membawa kita pada kebangkitan di dalam Dia. Karena misi Keselamatan Kristus diperoleh melalui Salib, maka sebagai pengikutNya, kita-pun selayaknya mengambil bagian dalam penderitaan itu, terutama dengan kesediaan untuk terus-menerus bertobat dan mau menanggung penderitaan demi keselamatan sesama, dan dengan demikian kita dapat mengambil bagian di dalam kemuliaan-Nya. Jika kita hanya mau mengambil bagian dalam ‘kemuliaan’ tanpa mau mengambil bagian dalam ‘penderitaan’ –yang dizinkan oleh Tuhan untuk terjadi di dalam hidup kita- maka kita tidak menerapkan Injil dengan seutuhnya.
  4. Berdasarkan kesaksian akan Kasih Tuhan. Kitab Suci bukan hanya wahyu Tuhan, tapi juga pernyataan akan pengalaman manusia di dalam wahyu Tuhan itu. Apa yang dialami oleh Adam dan Hawa, Nabi Abraham, Ayub, Bunda Maria, Rasul Petrus dan Paulus, dapat dialami oleh kita semua.
  5. Disertai kesadaran akan dosa dan belas kasihan Tuhan. Spiritualitas Katolik berlandaskan atas keyakinan akan Kasih Tuhan di atas segalanya yang mampu mengubah segala sesuatu. Pada saat Tuhan mengasihi kita, dan jika kita membuang segala dosa yang menghalangi kita untuk menerima kasih-Nya, dan dengan iman dan doa, maka kita dapat sungguh diubah, dikuduskan dan dimampukan berbuat baik.
  6. Mengarah pada kehidupan kekal yang dijanjikan oleh Allah.
  7. Melihat Bunda Maria sebagai contoh teladan. Spiritualitas Katolik menerima segala kebijaksanaan Tuhan yang selalu menggunakan peran pengantara, yaitu Musa, para nabi, Yohanes Pembaptis, dan terutama Bunda Maria untuk menyelenggarakan karya keselamatan-Nya. Karya Tuhan yang ajaib juga nampak dalam mukjizat keperawanan Maria dan melalui ketaatan dan kesediaan Maria, Allah menganugerahkan rahmat yang tiada batasnya, yaitu kelahiran Yesus Kristus, Penyelamat kita di dunia.
  8. Mangacu pada Gereja-Nya, Gereja Katolik. Gereja merupakan sumber atau alat yang meneruskan rahmat Tuhan. Rahmat Tuhan ini kita peroleh melalui sakramen-sakramen terutama Ekaristi; dan juga melalui ketaatan kita pada para penerus Rasul Kristus yang telah dipilih oleh- Nya. Gereja sebagai kesatuan (komuni) manusia dengan Tuhan, selalu memperjuangkan martabat manusia, dan memperhatikan kesatuannya dengan para orang kudus; sebab melalui kesatuan ini Allah dimuliakan.

Kesimpulan

Dengan melihat ciri-ciri di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan akhir Spiritualitas Katolik adalah kemuliaan Tuhan, yang diwujudkan oleh kasih kepada Tuhan dan sesama. Untuk mencapai hal ini, bukan kesuksesan yang menjadi tolok ukurnya melainkan kesetiaan untuk bergantung pada Kristus, sebab tanpa Dia kita tidak bisa berbuah (bdk. Yoh 15:15). Bentuk wujud kesatuan dengan Kristus yang paling nyata di dunia ini adalah melalui Ekaristi kudus, di mana kita menyambut Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Ilahian Kristus, sehingga olehNya kita dipersatukan dengan Allah Tritunggal. Oleh karena itu, Spiritulitas Katolik selalu berpusat dan bersumber pada Ekaristi, yang adalah Allah sendiri,[13] karena kekudusan adalah karunia yang diberikan oleh Tuhan. Melalui Ekaristi, kita tinggal di dalam Kristus dan dimampukan untuk mengikuti teladan-Nya, sehingga dapat berjalan menuju kekudusan, yaitu persekutuan dengan Allah, yang menjadi sumber kebahagiaan kita. Di sinilah kebahagiaan kita sebagai manusia menjadi juga kemuliaan bagi Allah, karena Allah menciptakan kita agar kita berbahagia bersama-Nya!


[1] Lihat Jordan Aumann, Spiritual Theology, Spiritual Theology, (Continuum, London, reprint 2006, first published in 1980), p17, “…spirituality refers to any religious or ethical value that is concretized as an attitude or spirit from which one’s actions flow.”

[2] Kristus dan Allah Bapa adalah satu (Yoh 10: 30; 14: 9-11).

[3] Paus Yohanes Paulus II, dalam Redemptoris Hominis (Penyelamat Manusia), Surat Ensiklikal, 7, menulis, “Jiwa kita diarahkan pada satu arah, pada satu-satunya arah akal budi, kehendak dan hati - menuju Kristus Penyelamat kita, menuju Kristus, Sang Penyelamat manusia. Kita berusaha untuk mengarahkan pandangan kita kepada Dia- sebab tidak ada keselamatan di dalam siapapun selain dari Dia, Sang Putera Allah…” Our spirit is set in one direction, the only direction for our intellect, will and heart is – toward Christ our Redeemer, towards Christ, the Redeemer of man. We wish to look towards Him – because there is no salvation in no one else but Him, the Son of God…”

[4] Lihat Katekismus Gereja Katolik, 1085, dan 1362, “Ekaristi adalah kenangan akan Paska Kristus yang menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban satu-satunya dalam liturgi Tubuh-Nya yaitu Gereja.”

[5] Dei Verbum, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi 5, “Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26 ;lih. Rom1:5 ; 2Cor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya.”

[6] Lihat Nostra Aetate 2, Dokumen Vatikan II, Dokumen Vatikan II, Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan Kristiani, “Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.”

[7] Lihat Lumen Gentium 8, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, “Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan (lih. Yoh 21:17). Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing (lih. Mat 28:18 dsl), dan mendirikannya untuk selama-lamanya sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran” (lih. 1Tim 3:15). Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya[[13]], walaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.

[8] Lihat Im 20:7-8, “Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu sebab Akulah Tuhan Allahmu. Demikianlah kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan melakukannya; Akulah Tuhan yang menguduskan kamu”

[9] Lumen Gentium 40, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, “…semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih.”

[10] Lihat Jordan Aumann, Spiritual Theology, (Continuum, London, reprint 2006, first published in 1980), p25, 23. ”Spiritual theology reflects precisely on the mystery of our participation in divine life….Spiritual theology …is not a pure speculative science but also a practical and applied theology.”

[11] Diterjemahkan dan disederhanakan dari tulisan Douglas G. Bushman, S.T.L., Foundation of Catholic Spirituality, Institute for Pastoral Theology, Ave Maria University, 2006, p. 35-37.

[12] Hal ini sangat nyata dalam pengajaran Rasul Paulus, “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengatahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.”(1 Kor 2:2)

[13] Lihat Katekismus Gereja Katolik, dan Lumen Gentium 11, “Ekaristi adalah ‘sumber dan puncak seluruh hidup kristiani.”

Tentang Penulis

author photo

Ingrid Listiati sedang menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat. Ingrid telah menyelesaikan 5 semester dari total 6 semester untuk menyelesaikan program studi ini.

Lihat Semua Artikel oleh Penulis Ini

Ada 19 Komentar Sampai Saat Ini. (klik ini untuk menulis pesan "TOPIK BARU")

  1. Shalom katolisitas

    Kis 11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
    Pertanyaan saya : tahun berapakah pengikut Yesus disebut Kristen dan kapan adanya sebutan Katolik ?
    Mohon pencerahaannya

    Salam kasih
    K.Paulus J.C

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal December 10th, 2008 11:39 am:

    Shalom Paulus,

    Sesungguhnya kata ‘Katolik’ berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya "keseluruhan/ universal- wholeness" atau "komplit/ lengkap- fullness". Jadi dalam hal ini kata katholik mempunyai dua konotasi: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia‘, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang "meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus." (Kol 1:25, 28)

    Kata Gereja Katolik yang ditulis dalam bahasa Yunani dalam Kitab Suci sebagai "Ekklesia Katha Holos" (asal mula kata katholikos) ada di Kis 9:31, yang bunyinya, "Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus." Di sini kata"Katha holos atau katholikos" dalam bahasa Indonesia adalah Jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, "Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus."

    Memang ada bukti lain disamping Kitab Suci, yaitu tulisan St. Ignatius dari Antiokia (murid St. Yohanes rasul) kepada jemaat di Smyrna 8 (106), yang dipakai untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah Docetism dan Gnosticism. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya,
    "…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik."
    Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  2. Rekan-rekan ytk,
    Ada buku bagus sekali !!! untuk dibaca bagi rekan-rekan yg ingin menambah wawasan kita untuk mengenal lebih jauh pribadi Yesus, karya-Nya, ajaran-Nya ditengah banyak beredarnya buku penafsiran tentang pribadi Yesus, yaitu Yesus dari Nazareth yang ditulis oleh Paus Benediktus XVI Kardinal Joseph Ratzinger dan telah diterjemahkan dengan baik sekali oleh Romo Mardiatmaja SJ (bukan KKN lho ! ) terbitan Gramedia.

    Saya sendiri berkali-kali terkejut dan surprise dengan pandangan tentang Yesus dari Paus kita ini, sangat menggairahkan untuk dibaca !!

    Shalom

    Yohanes Paulus ( Paroki Pandu Bandung )

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  3. [dari admin: saya pindahkan pesan ini dari buku tamu ke "Apakah Spiritualitas Katolik".]

    Syalom,
    Terimakasih dan syukur bagi Tuhan atas keberadaan website ini. Membantu saya tepat di saat saya sangat membutuhkan. Semoga Tuhan memberkati pelayanan anda sekalian, baik melalui web ini, studi maupun yang lainnya^^
    Dari beberapa artikel maupun jawaban - jawaban, saya menarik kesimpulan bahwa pewartaan yang terbaik adalah lewat sikap hidup dan teladan (dari ‘buah2′ nya)

    yang ingin saya tanyakan, seringkali di lingkungan saya sbg ank2 muda, banyak orang yang ingin ‘tarik - tarikan’ dan adu argumentasi mengenai alkitab, gereja dsb. yang mengganggu saya adalah kadang kala sikap ‘menghakimi’ dan ’sok tau’, padahal jika kita pandai dalam menghapal dan mengerti alkitab tentunya bukan untuk disombongkan tetapi untuk membantu sesama demi kemuliaan Tuhan. Bagaimana seharusnya kita sbg orang katolik menyikapi hal - hal tersebut?

    Untungnya keberadaan web ini sangat membantu saya dalam memahami pandangan dan ajaran katolik. Trimakasih ats perhatiannya, God Bless^^

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal December 9th, 2008 11:41 am:

    Shalom Sesilia,
    Terima kasih juga sudah mengunjungi website ini.
    Pertama-tama, jika kita melihat adanya banyak orang yang tergerak untuk mempelajari atau bahkan menghafalkan Kitab Suci, kita patut bersyukur. Karena jika hal itu didorong oleh kasih mereka kepada Tuhan, tentu hal itu sungguh sangat baik. Tetapi jika kemudian maka ada kecenderungan ’sok tahu dan menghakimi’, itu sebenarnya adalah sesuatu yang harus dihindari. Maka sebelum melihat kepada orang lain, maka kita mulai dari diri kita sendiri, untuk berusaha tidak menghakimi orang lain, terutama untuk mengatakan seseorang itu masuk surga atau neraka.
    Komentar saya yang berhubungan dengan pertanyaan ini:

    1. Apa yang harus kita lakukan sebagai orang Katolik, jika kita sudah yakin bahwa di Gereja Katolik terdapat kepenuhan kebenaran Kristus, silakan baca di artikel tersebut (silakan klik). Pada intinya; Pertama, kenali iman kita, sayangilah Tuhan dan Gereja kita, kedua, hiduplah sesuai dengan iman kita dan ketiga, sebarkanlah iman kita.
    2. Apa yang menjadi sikap kita, dalam menanggapi soal menghakimi si ini atau si itu masuk surga atau neraka. Pada dasarnya kita tidak usah ikut-ikutan menghakimi. (silakan klik)
    3. Mari kita berdoa untuk persatuan umat Kristiani, untuk mereka yang berjuang demi persatuan tersebut, dan mereka yang tidak sengaja atau sengaja malah menghambat persatuan tersebut. Semoga Tuhan juga menyatakan kepada mereka, akan apa yang menjadi kehendak-Nya bagi persatuan Gereja. Dan kita juga mohon kepada Tuhan, agar kita dapat menjalankan bagian kita untuk menjadi saksiNya untuk mewartakan keberanan Kristus, demi kesatuan umat beriman.

    Demikian yang dapat saya tuliskan, semoga dapat menjawab pertanyaan Sesilia.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati 

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  4. [Dari admin: saya pindahkan pertanyaan ini dari artikel Maria ke Spiritualitas Katolik]
    Salam Damai Yesus Kristus buat Kita Semua.
    Saya tidak bertanya tentang Bunda Maria
    Saya sudah yakin & percaya 100% kepada Bunda Maria dan segala seluk beluk pertanyaan ttg Bunda Maria sudah saya temukan jawabnya.

    Sekarang saya mau minta pertolongan buat Bapak Pastor, Suster, atau saudara - saudara saya yang seiman akan Yesus Kristus & Bunda Maria

    Saya seorang wanita, berusia 21 tahun dan menganut agama katolik
    yang mau saya curahkan tentang beban hidup saya

    Kenapa Bunda Maria selalu membiarkan mama saya dipenuhi penderitaan
    mama saya selalu berkata St.Monika 15 tahun mendoakan anak & suami nya. Setelah 15 tahun baru dikabulkan oleh Bunda Maria.
    Mama saya bertanya sudah lebih 20 tahun mendoakan anaknya (abang saya), tapi belum bertobat juga. Mama saya tidak pernuh bosan memohon kepada Bunda Maria supaya mau memimpin abang saya ke dalam jalan yang benar dalam DIA. Dengan kata lain, kenapa Bunda Maria belum mengabulkan doa mama saya supaya abang saya kembali ke jalan yang benar. Justru tingkah laku abang saya, makin hari semakin membuat ibu saya hampir putus asa.
    Atas perhatian saudara-saudari seiman, saya sampaikan terimakasih banyak.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal December 11th, 2008 11:37 am:

    Shalom Monika,

    Memang, penderitaan yang ada di dunia ini adalah suatu kenyataan yang tidak bisa diacuhkan. Kita semua melihat ada banyak orang menderita, entah karena sakit, atau karena masalah- masalah yang lain. Masalahnya jadi makin tidak sederhana, jika itu menyangkut orang-orang terdekat kita, saudara, dan keluarga, apalagi jika masalahnya sudah bertahun- tahun. Sehingga, di dalam penderitaan ini memang orang jadi bertanya-tanya, di manakah Tuhan, atau seperti Monika, jadi bertanya mengapa Tuhan atau Bunda Maria seolah-olah ‘membiarkan’ atau tidak menolong.

    Sebagai pengikut Kristus, sesungguhnya kita selalu diingatkan bahwa penderitaan itu bukan akhir dari segalanya. Sebab Tuhan berkuasa untuk mendatangkan sesuatu yang lebih baik, ya bahkan melalui penderitaan. Dalam kasus St. Monica, Tuhan mendatangkan kebaikan sebagai buah dari kesetiaan doanya, sehingga Agustinus  anaknya dapat bertobat, dan bahkan menjadi orang kudus (St. Agustinus) yang berguna bagi Gereja. Saya percaya, bahwa Tuhan-pun dapat melakukan hal yang serupa pada kakak Monika, walaupun memang kita harus terus bersabar dan bertekun dalam doa untuk mendoakan kakak Monika tersebut.

    Mengenai masalah penderitaan ini, sudah pernah dituliskan pada jawaban ini (silakan klik) dan juga jawaban ini (silakan klik), walaupun kasusnya tidak sama. Namun prinsip dasarnya sama, bahwa Allah bukannya tidak menolong, sebab jika tanpa campur tangan Allah, bukannya tidak mungkin kejadiannya dapat menjadi lebih parah.  Bahwa sampai saat ini kakak Monika belum bertobat, itu bukan karena Tuhan berhenti mengirimkan dorongan untuk bertobat, tetapi karena oleh kehendak bebas kakak Monika yang menolak dorongan tersebut. Jadi Allah tidak mungkin berpangku tangan, dan juga Bunda Maria dalam hal ini juga pasti mendoakan, namun Allah tidak memaksa, dalam artian Ia tetap menghormati kehendak bebas kakak Monika tersebut. Jadi, bahwa kelihatannya doa belum mendatangkan hasil yang diinginkan, itu disebabkan karena kita melihatnya tidak dari kacamata Allah. Dalam hal ini, memang mungkin Monika sekeluarga sedang dibentuk Allah, dimurnikan di dalam iman, untuk terus bersandar pada Tuhan, justru pada saat yang sangat sulit ini. Kita harus percaya, bahwa jika kita menghadapi penderitaan ini bersama Yesus, Tuhan akan mendatangkan kebaikan pada waktunya.

    Ayat yang selalu menghibur saya dalam penderitaan adalah ini:

    "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia…." (Rom 8:28). Sekarang, pertanyaannya adalah sejauh mana kita mengasihi Allah? Jika ya, sudahkah kita sungguh-sungguh menyatakannya? Mari di saat kita susah, kita katakan pada Tuhan, "Tuhan, di tengah kemelut yang sedang kuhadapi ini, aku tetap mau mengatakan kepadaMu, bahwa aku mengasihi Engkau, sebab aku percaya, kasihMu mengatasi segalanya dan Engkau memiliki rencana yang indah di balik semua ini, meskipun aku belum dapat melihatnya."

    Sungguh, di saat kita susah, sesungguhnya iman kita harus bertumbuh. Sebab kita dapat belajar untuk tidak hanya bersyukur di saat kita mendapat berkat, tetapi di saat kita mendapat kesusahan sekalipun, kita bersyukur. Karena jika kita mau jujur, tangan pemeliharaan Tuhan juga tetap menyertai kita. Mungkin ada baiknya Monika merenung sejenak, betapa Tuhan selalu menyertai selama tahun-tahun yang sulit ini.

    Penderitaan menurut ajaran Gereja, harus dipakai untuk mendekatkan diri kita pada Tuhan. Kita diajak mempersatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus, sebab kuasa kebangkitan-Nya akan menguatkan kita. Sebab Kristus dapat mengubah penderitaan itu untuk mendatangkan keselamatan bagi diri kita dan orang-orang yang kita doakan. Maka, jika Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan, jangan biarkan penderitaan itu lewat begitu saja, tanpa melibatkan Kristus. Dan kalaupun kita sudah melewatinya bersama Kristus, coba kita tingkatkan hal itu, misalnya dengan doa bersama sekeluarga. Bukannya tidak mungkin, jika Monika sekeluarga, saling mendukung, berdoa bersama setiap hari (saya usulkan berdoa rosario bersama), Tuhan dapat mendatangkan sesuatu yang ajaib. Tidak saja buat kakak Monika, tapi buat seluruh anggota keluarga. Bahkan siapapun yang melihat bagaimana Monika sekeluarga menghadapi penderitaan ini, akan dikuatkan di dalam iman. Hal ini akan menjadi kesaksian hidup yang lebih ‘lantang’ dari pada khotbah manapun.

    Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak para pembaca website ini untuk mendoakan Monika sekeluarga, terutama untuk kakak Monika, agar Roh Kudus mengubah hatinya untuk kembali kepada Tuhan dan meninggalkan perbuatan-perbuatannya yang salah.

    "Bapa di surga, kami bersyukur atas karunia iman yang Engkau berikan kepada kami di dalam nama Yesus Putera-Mu yang kudus. Oleh-Nya, kami memperoleh pengharapan, bahwa akan ada kebangkitan setelah penderitaan, selalu ada jalan keluar dari segala permasalahan hidup kami. Saat ini kami bersatu hati, bersama dengan Monika sekeluarga, untuk mendoakan kakak dari saudari kami Monika, agar Engkau mengutus Roh Kudus-Mu kepadanya. Kami mohon, mampukanlah ia untuk melihat semua kesalahannya, dan supaya seperti anak yang hilang, ia dapat kembali kepada-Mu. Kami juga memohon agar Engkau berkenan memberikan karunia iman dan pengharapan yang tak pernah pudar kepada Monika dan keluarga, terutama kepada Mama Monika, agar mereka dikuatkan di dalam menghadapi penderitaan ini.
    Tuhan Yesus, kasihanilah kami.
    Tuhan Yesus, kami mengandalkan Engkau.
    Bunda Maria, doakanlah kami.
    Di dalam nama Yesus kami menaikkan doa ini. Amin.
    "

    Semoga di dalam kehidupan Monika sekeluarga dan juga di dalam hidup kita semua yang tak lepas dari penderitaan, dipenuhilah janji Tuhan, "Allah membawa banyak orang kepada kemuliaan, …memimpin kepada mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan." (Ibr 2: 10).

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org

    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    monika menjawab pada tanggal December 11th, 2008 11:38 am:

    Salam Damai Kristus buat Qt semua
    salom mbak Ingrid
    terimakasih bnyk y mbak atas doa nya serta suatu nasihat mbak yang m’ingatkan kepada saya untuk semakin mendekat kan diri dengan Bunda Maria dan Tuhan Yesus.
    Saya juga sadar
    Kadang apa yang kelihatan nya sebagai musibah dalam hidup kita ternyata merupakan sebuah anugerah buat kita.
    Saya juga sadar, kita tidak pernah mengetahui bagaimana Tuhan itu melalui jalan Nya kita diberikan suatu kekuatan yang begitu besar.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  5. Pengalaman pribadi: Saya adalah salah satu penggemar buku Romo Antony de Mello. sewaktu beliau meninggal, beliau ’seakan’ sudah tau kapan waktunya. (ada disebut di buku karangan teman dekat beliau).
    saya berani katakan kalo buku karangan beliau sudah lengkap saya miliki. Doa sang katak 1 +2 , sadhana dll. (sewaktu saya pindah maka buku de mello yang lebih dulu saya utamakan).
    saya akui selesasi baca bahwa saya mengalami kedewasaan imam TETAPI saya kehilangan “sesuatu”. karena saya bukanlah seorang KATOLIK.
    Inti dari semua berasal dari Yesus Kristus. oleh sebab itu membaca de mello tanpa pemahaman dan sharing sesama teman maka akan mengalami kehilangan jati diri Yesus Kristus.
    usul buat admin: gimana kalo jadi wacana karangan de mello agar saya juga bisa belajar.
    salam buat kak Stef.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal October 31st, 2008 11:08 am:

    Shalom Ali,
    Kita mengetahui bahwa memang banyak orang merasa terbantu dengan tulisan Anthony de Mello. Namun, kita mengetahui juga bahwa ada bahayanya jika kita menginterpretasikan beberapa tulisan tersebut, yang seolah dapat mengarah pada ‘pencerahan’ yang terlepas dari peran Kristus. Untuk itulah maka Vatikan memberi peringatan kepada umat Katolik untuk lebih waspada dalam membaca karya Rm. Anthony de Mello. Saya pernah menulis tentang hal ini dalam jawaban surat Yosep yaitu di sini (silakan klik).

    Untuk usulan Ali untuk mengulas tulisan Anthony de Mello di sini, rasanya sementara ini belum menjadi prioritas kami, maaf ya. Karena masih banyak tentang pengajaran iman Katolik yang mungkin lebih baik untuk dituliskan terlebih dahulu.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Marjoko menjawab pada tanggal November 3rd, 2008 2:49 am:

    Terimakasih atas warning adanya bahaya pencerahan terlepas dari peran Kristus. Tetapi Kristus sebagai Tuhan dalam memberikan pencerahan kepada umatNya bisa saja memakai perantaraan seseorang, termasuk de Mello atau para sufi bahkan Buddha.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal November 3rd, 2008 11:00 am:

    Shalom Marjoko,
    Ya, sebaiknya kita waspada terhadap pengajaran-pengajaran yang mungkin kita dengar mengenai ‘pencerahan’. Sebagai pengikut Kristus, kita percaya bahwa ‘pencerahan’ hanya dapat diperoleh di dalam iman dan kepenuhan kebenaran di dalam Kristus melalui Gereja Katolik. Jadi jika kita mendengar ajaran yang menawarkan kebenaran di luar Kristus/ terlepas dari Kristus, kita dapat menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang keliru. Namun ajaran-ajaran yang baik dari para sufi dan agama yang lain dapat saja kita terima dan menganggapnya sebagai ‘persiapan Injil’, dan akan mencapai pemenuhannya dalam ajaran Injil. Hal ini kita ketahui dari Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Vatikan II, 16:

    "Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; diantara mereka terdapat terutama kaum muslimin, yang menyatakan bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat. Pun dari umat lain, yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran, tidak jauhlah Allah, karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (lih. Kis 17:25-28), dan sebagai Penyelamat menhendaki keselamatan semua orang (lih. 1Tim 2:4). Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan.Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada Sang Pencipta (lih. Rom 1:21 dan 25). Atau mereka hidup dan mati tanpa Allah di dunia ini dan menghadapi bahaya putus asa yang amat berat. Maka dari itu, dengan mengingat perintah Tuhan: “Wartakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15), Gereja dengan sungguh-sungguh berusaha mendukung misi-misi, untuk memajukan kemuliaan Allah dan keselamatan semua orang itu."

    Jadi berdasarkan ajaran Lumen Gentium 16 tersebut, kita melihatnya demikian: apa yang baik dan benar pada ajaran agama lain adalah persiapan untuk menerima Injil, dan bukan sebaliknya, yaitu kita yang sudah menerima kepenuhan kebenaran, mencari kebenaran yang lain di luar pengajaran Kristus. Karena jika kita ‘mencari’ kebenaran lain di luar Gereja, itu mengundang juga resiko bagi kita, sebab kita malah dapat menjadi ‘tersesat’ dan bingung. Jadi bagi kita yang sudah menerima dengan iman, segala pengajaran Kristus dalam Gereja Katolik, lebih baik kita mempelajari pengajaran tersebut dengan hati yang berpusat pada Kristus, seperti yang diajarkan Gereja. Dengan demikian kita lebih dapat bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih.

    Demikian tanggapan saya atas pernyataan Marjoko. Terima kasih, anda sudah mengunjungi website ini.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati
     

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Marjoko menjawab pada tanggal November 4th, 2008 10:09 pm:

    Terimakasih. Saya akan rekomendasikan teman-teman saya mengunjungi situs ini. Inilah tempat bertanya yang kami cari.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  6. Salam Sejahtera

    Bagaimana jika kita ingin mendalami Allah Tritunggal Maha Kudus dalam agama Katolik.
    Tk

    Gbu

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal September 22nd, 2008 11:56 am:

    Shalom Matthew,

    Harap bersabar ya, sebab topik mengenai Allah Tritunggal Maha Kudus akan ditulis dalam artikel tersendiri. Sementara ini, silakan membaca di Katekismus Gereja Katolik tentang Allah Tritunggal Maha Kudus, terutama no. 228- 267, 290-292.

    Tambahan: Artikel tentang Allah Tritunggal Maha Kudus dapat dibaca di sini (silakan klik).

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  7. Sejalan dengan tulisan tentang R de Mello sangat berarti bagi perjalanan batin saya sebagai orang Katolik dan memang mempengaruhi jalan dan cara pandang saya sebagia KATOLIK. Sejak kecil saya diajar dan dididik secara Katolik tradisonal dengan lingkungan yang kental dengan budaya Jawa. Yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan INDIA (dan ini dekat dengan tradisi yang ada dalam tulisan R de Mello). Dan saya mengalami perjalanan batin dengan tulisan-tulisan beliau.
    Saya pernah lima tahun tidak ke gereja yaitu selepas SMA, dan saya kembali ke gereja setelah membaca tulisan beliau dalam “Burung Berkicau” dan saya menemukan kembali tentang Yesus dalam ke-ALLAH-an-Nya. Dan saya meyakinkan diri saya bahwa saya menerima warisan ke-KATOLIK-an ini dan mempertahankan dan mewariskannya kembali ke anak-keturunan saya.
    Sewaktu kecil-remaja saya aktif di Gereja, baik sebagai Putra Altar dan Mudika. Lalu saya setelah menikah dan punya anak, saya lebih baik terlibat aktif di kampung. Itu lebih baik, dari pada aktif di Lingkungan Katolik yang tidak pernah sama dalam cara berpikir dan bermasyarakat. Dan saya menemukan cara keKATOLIKAN dalam cara R de Mello. Saya seorang tradisional, dan saya sulit menyatu dengan cara KARISMATIK yang saat ini sangat mempengaruhi cara ibadat dan kegiatan lingkungan dan GEREJA. Saya sangat sesuai dengan hening, dan semakin lama saya hayati dan rasakan saya menemukan tenang dan nyaman dalam cara saya berKATOLIK.
    Sebagai orang KATOLIK saya tetap beriman kepada TUHAN YESUS dan TRITUNGGAL.
    Cuma saya merasa terasing.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal June 26th, 2008 10:40 am:

    Shalom, Bapak Yosep,
    Saya bersyukur Bapak dapat terbantu dengan membaca tulisan R.Mello. Saya juga senang dengan tulisan R. Mello dalam ‘Burung Berkicau’. Asal kita menyadari bahwa karunia ‘pencerahan’, dan kebenaran datang dari Allah melalui Yesus, saya rasa tidak menjadi masalah jika kita membaca ‘Burung Berkicau’ tersebut. Sebenarnya, banyak juga tulisan dari para Santo/ Santa tentang doa batin/ hening, misalnya saja dari St. Yohanes Salib, St. Teresia dari Avila, St.Franciskus de Sales. Saya punya buku-buku itu dalam bahasa Inggris. Tetapi, saya pernah mendengar bahwa beberapa buku dari St. Yohanes Salib dan St. Teresia sudah diterjemahkan oleh para romo/ frater dari Rumah Retret Romo. Yohanes.
    Kalau Bapak senang dengan doa hening, itu bagus sekali, karena menurut Katekismus Gereja Katolik, doa hening, atau doa batin itulah yang disebut sebagai puncak doa (KGK 2714). Kalau Bapak punya buku Katekismus, tentang doa batin itu dijelaskan cukup rinci di no. 2709-2719. Tetapi harus disadari bahwa untuk mencapai doa batin, dimana kita sungguh bersekutu dengan Tuhan itu cukup sulit, karena sering pikiran kita melayang (KGK 2729). Sehingga mungkin untuk kebanyakan orang, mereka memilih doa vokal (yang diucapkan) atau dinyanyikan. Pada akhirnya semua bentuk doa ini berakhir pada mengarahkan hati dan pikiran sepenuhnya kepada Tuhan, atau persekutuan dengan Tuhan.
    Persekutuan dengan Tuhan inilah yang seharusnya menjadi motivasi kita pergi ke gereja, mengikuti misa, atau aktif di dalam kegiatan Gereja. Dalam situasi Bapak, apakah di lingkungan Bapak ada juga yang menyenangi doa hening, atau rosario, misalnya? Bapak bisa memulai sendiri, seandainya Bapak merasa terpanggil, misal dengan 2 atau 3 keluarga berdoa rosario bersama, sambil merenungkan peristiwa hidup Yesus. Atau mengikuti kegiatan rosario lingkungan seandainya sudah ada. Mungkin Bapak bisa membantu dengan menyusun renungannya, misalnya.

    Saya berdoa semoga Bapak dapat menemukan teman-teman di lingkungan tempat tinggal Bapak yang bisa saling mendoakan dan mendukung di dalam doa dan persahabatan. Sebab, seharusnya Gereja adalah keluarga, yang merangkul semua orang.

    Salam kenal untuk ibu dan anak-anak.

    Semoga Tuhan memberkati keluarga Bapak Yosep.

    Salam damai Kristus dari http://www.katolisitas.org.

    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  8. Saya ingin tahu, bagaimana komentar tentang tulisan-tulisan dari Romo Antony de Mello. Saya pengagum dan mengkoleksi sebagian dari tulisan beilau. Dan saya sangat menyukai dan mencoba untuk dapat menghayati cara hidup yang beliau uraikan. Dan saya sering diragukan ke-Katolikan-saya. Tapi tidak penting bagi saya. Bagiamana toh sebagai Katolik yang baik dan benar ?????
    Ada yang bilang harus aktif di GEREJA walaupun kita tidak perlu kenal dengan tetangga sebelah, betulkah ?????

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Ingrid Listiati menjawab pada tanggal June 25th, 2008 4:33 pm:

    Shalom, Bp. Yosep.
    Saya juga sudah membaca tulisan-tulisan R. Anthony de Mello, memang banyak yang baik. Tetapi jika kita terus membaca karya-karyanya, lama kelamaan secara implisit kita dapat menangkap, seolah-olah pencerahan itu dapat diperoleh sendiri secara pribadi dalam keheningan, dan bukan melalui Kristus. Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) pernah secara khusus menulis komentar tentang karya R. Mello, pada tahun 1998,yang ada di link http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_19980624_demello_en.html

    Kardinal Ratzinger mengatakan bahwa di awal karyanya R. Mello memang masih setia dengan pengajaran Katolik, tapi lama kelamaan cenderung menyimpang, dengan memperkenalkan sosok Tuhan sebagai ‘pure void’/ ‘kosong’, yang bukan berupa ‘Pribadi Ilahi’. Dengan demikian spiritualitas yang diajarkan R. Mello meninggalkan konsep Allah Tritunggal (Allah yang satu dengan tiga Pribadi); figur Kristus-pun disejajarkan dengan tokoh agama lain; lalu agama dipandang sebagai penghalang untuk menemukan kebenaran. Hal-hal ini yang bertentangan dengan Spiritualitas Katolik.

    Untuk komentar tentang kekatolikan, pada akhirnya, kekatolikan kita dinyatakan jika kita mempunyai Roh dan semangat Kritus, menerima dengan taat pengajaranNya yang disampaikan oleh Gereja (Lumen Gentium 14). Jadi, suara Gereja tentang tulisan R. Mello harusnya mengarahkan sikap kita terhadap tulisan beliau. Kita menerima dengan rendah hati pandangan Gereja, yang pasti telah didahului dengan segala penelitian akan semua karya-karya R. Mello. Sedangkan yang kita baca mungkin hanya sebagian saja.

    Mengenai hidup sebagai seorang Katolik yang baik, ya sebenarnya sederhana, yaitu mengikuti teladan Kristus yang dinyatakan secara penuh di dalam Gereja Katolik, yaitu : hidup kudus (mengasihi Tuhan dan sesama). Kelihatannya sederhana, tetapi ini merupakan perjuangan seumur hidup yang tidak mudah dipraktekkan. (Ini dijabarkan di artikel: Apa itu kekudusan? dan Bagaimana caranya untuk hidup kudus?) Mengenai hal keterlibatan di Gereja: Sebagai orang Katolik kita dipanggil untuk hidup seimbang, karena ketidakseimbangan mengakibatkan banyak masalah di dunia ini (Gaudium et Spes 10). Aktif pelayanan di Gereja harus seimbang dengan pelayanan di dalam keluarga, di dalam lingkungan tempat kita tinggal dan bekerja, dan seimbang dengan waktu untuk berdoa dan merenungkan Sabda Tuhan.
    Jadi kalau kita aktif di Gereja tapi rumah tangga berantakan, atau kita tidak kenal tetangga, ya tentu itu tidak sesuai dengan panggilan hidup kita. Dalam hal ini mungkin perumpamaan ‘Orang Samaria yang murah hati’(Luk 10:25-36) bisa menolong kita untuk berintrospeksi.

    Salam damai dalam Kristus dari http://www.katolisitas.org

    Ingrid Listiati

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

Pesan atau Komentar baru