Dosa apakah yang ditebus oleh Yesus di kayu salib?

20

Pertanyaan:

yth katolisitas,
Saya ingin bertanya mengenai konsep penebusan dosa oleh salib. Sebenarnya dosa apakah yang sudah ditebus? Dari penjelasan bpk Stef sebelumnya, terlihat bahwa salib tidak menghapus dosa asal, melainkan baptis yang menghapus dosa asal. Lalu sebenarnya dosa apakah yang dihapus oleh karena salib? Apakah dosa2 kita yang belum maupun yang sudah kita lakukan? Ataukah mungkin menebus dosa disini berarti mengembalikan hubungan manusia dengan Allah? Jika memang demikian, dapatkah saya simpulkan bahwa salib menghapus konsekuensi dosa asal oleh adam dan hawa (terputusnya hubungan manusia-Allah) tapi bukan menghapus dosa?
Terima kasih – Phil

Jawaban:

Shalom Phill,

Terima kasih atas pertanyaannya yang bagus sekali. Mari kita melihat Katekismus Gereja Katolik tentang efek dari Yesus yang disalibkan:

  1. KGK, 813 , “The Church is one because of her source: “the highest exemplar and source of this mystery is the unity, in the Trinity of Persons, of one God, the Father and the Son in the Holy Spirit.” The Church is one because of her founder: for “the Word made flesh, the prince of peace, reconciled all men to God by the cross, . . . restoring the unity of all in one people and one body.”
    Gereja itu satu menurut asalnya. “Pola dan prinsip terluhur misteri itu ialah kesatuan Allah tunggal dalam tiga Pribadi, Bapa, Putera, dan Roh Kudus” (UR 2). Gereja itu satu menurut Pendiri-Nya. “Sebab Putera sendiri yang menjelma telah mendamaikan semua orang dengan Allah [melalui Salib], dan mengembalikan kesatuan semua orang dalam satu bangsa dan satu tubuh” (GS 78,3).
    Catatan: saya tidak tahu kenapa [by the cross]tidak ada di terjemahan Katekismus Gereja Katolik bahasa Indonesia. Mungkin harus mengecek bahasa aslinya.
  2. KGK, 1505 – “….Di kayu salib Kristus menanggung seluruh beban kejahatan. Ia “menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29), yang adalah sebab bagi penyakit. Oleh sengsara dan wafat-Nya di kayu salib, Kristus memberi arti baru kepada penderitaan: Ia dapat membuat kita menyerupai-Nya dan dapat menyatukan kita dengan sengsara-Nya yang menyelamatkan.
  3. KGK, 1741 – “Pembebasan dan keselamatan. Dengan salib-Nya yang mulia, Kristus telah memperoleh keselamatan bagi semua manusia. Ia telah membebaskan mereka dari dosa yang membelenggu mereka. “Kristus telah memerdekakan kita” (Gal 5:1). Di dalam Dia kita mengambil bagian dalam “kebenaran” yang memerdekakan (Yoh 8:32). Kepada kita diberi Roh Kudus, dan “di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan” (2 Kor 3:17), demikian santo Paulus mengajarkan. Sejak sekarang kita bermegah bahwa “kita telah masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Rm 8:21).
  4. KGK 1992 – “Pembenaran diperoleh bagi kita melalui sengsara Kristus, yang menyerahkan Diri di salib sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah dan yang darah-Nya telah menjadi alat pemulih bagi dosa semua manusia. Pembenaran diberi kepada kita melalui Pembaptisan, Sakramen iman. Ia menjadikan kita serupa dengan kebenaran Allah, yang membenarkan kita secara hatin melalui kekuasaan betas kasihan-Nya. Tujuan pembenaran ialah kemuliaan Allah dan Kristus demikian juga anugerah kehidupan abadi.
  5. KGK, 2305 – “Perdamaian duniawi adalah gambaran dan hasil perdamaian Kristus, Sang “Raja damai” mesianis (Yes 9:5). Melalui darah-Nya yang tertumpah di salib, Ia telah “melenyapkan perseteruan di dalam diri-Nya” (Ef 2:16), memperdamaikan manusia dengan Allah dan membuat Gereja-Nya menjadi Sakramen kesatuan umat manusia dan persatuannya dengan Allah. “Ialah perdamaian kita” (Ef 2:14). Yesus menamakan “bahagia, orang yang membawa damai

Dari sini, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa:

  1. Salib Kristus menyatukan manusia dan mendamaikan manusia dengan Tuhan. Tanpa salib, maka hubungan manusia yang terputus dengan Tuhan karena dosa, tidak mungkin tersambung. Dan inilah sumber keselamatan umat manusia.
    Dengan pengorbanan Kristus di kayu salib, Dia menghapus seluruh dosa umat manusia (KGK, 1505) dan juga pengorbanan tersebut adalah alat pemulih bagi dosa semua manusia (KGK, 1992).
    Ini berarti jalan telah dibukakan, dosa telah ditanggung oleh Kristus, maka yang dilakukan oleh Tuhan adalah menawarkan jalan keselamatan ini kepada manusia. Dan kalau manusia menerima jalan keselamatan ini, maka tanggapan ini diwujudkan dalam Sakramen Baptis (KGK, 1992).
  2. Misteri Paska (kehidupan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan) Kristus adalah menjadi sumber bagi semua Sakramen.
  3. Untuk menjawab pertanyaan Phill, maka kita harus membedakan “definisi sebab atau cause“, dimana dikenal: 1) “instrumental cause” dan “principal cause” (lih. St. Thomas Aquinas, ST, III, q.64, a.1). Mungkin di bagian ini, saya tidak ingin terlalu membahas istilah-istilah yang sangat teknikal di dalam teologi dan filsafat. Secara prinsip, instrumental cause disebabkan oleh principal cause dan principal cause selalu lebih besar dari instrumental cause, karena penyebab (cause) selalu lebih besar dari efek (effect). Sebagai contoh, pada saat seorang artis melukis, maka instrumental cause-nya adalah kuas. Namun kuas ini tidak dapat melakukan atau menghasilkan apapun, kalau tidak digerakkan oleh sang seniman. Sang seniman ini adalah principal cause. Sebaliknya principle cause memerlukan kuas untuk memberikan efek yang diinginkan, yaitu lukisan. Apakah sang seniman dapat memilih alat yang berbeda selain kuas? Mungkin saja, namun ini adalah kehendak bebas dari Sang Seniman. Demikian juga dengan Sakramen. Apalah berkat pengampunan dapat terjadi tanpa sakramen? Bisa saja, namun Yesus sendiri telah menetapkan tujuh Sakramen untuk memberikan berkat-Nya yang mengalir dari misteri Paska.
  4. Mari kita menerapkannya ke dalam pertanyaan Phill. Paska misteri, termasuk adalah salib, menjadi principal cause dari semua Sakramen. Tanpa misteri Paska, maka tidak ada berkat yang tercurah di dalam Sakramen, karena berkat di dalam Sakramen adalah karena hasil pengorbanan Kristus di kayu Salib. Jadi kalau Sakramen Baptis adalah menghapus dosa asal, maka kematian Yesus di kayu salib adalah principal cause dari semua efek yang dihasilkan oleh Sakramen Baptis. Kalau Sakramen Tobat menghapuskan dosa ringan dan berat, maka kematian Yesus di kayu Salib adalah principal cause dari berkat pengampunan, dimana tanpa Paska Misteri, maka berkat pengampunan tidak akan tercurah dalam Sakramen Tobat.
  5. Oleh karena itu, tepatlah kalau kita mengatakan bahwa dengan pengorbanan Kristus di kayu Salib, maka dosa kita ditanggung oleh-Nya, baik dosa asal, maupun dosa yang lain. Karena Tuhan tidak dibatasi oleh waktu, maka dosa seluruh  umat manusia, dari Adam sampai manusia terakhir – sebelum kedatangan Kristus, pada saat Kristus hidup, dan setelah kematian Kristus – ditanggung oleh Kristus.

Demikian jawaban singkat yang dapat saya sampaikan, semoga dapat berguna. Mari kita bersama-sama mengenang kembali pengorbanan Kristus dalam setiap Sakramen yang kita terima, terutama adalah Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Dan mari kita bersama-sama memasuki masa Pra-Paskah dengan pertobatan.

Salam kasih dalam Kristus Yesus,
stef – http://www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

20 Comments

  1. dear Pak Stef

    Dari jawaban bapak atas pertanyaan Evelyn, saya mau bertanya apa perbedaan antara penebusan dan pengampunan.

    Selain itu saya juga berpikir apakah penebusan Yesus di kayu salib itu untuk manusia pada waktu itu saja atau berlaku juga untuk manusia dewasa ini dan seterusnya. Jika memang hanya untuk manusia pada waktu itu, maka Sakramen Baptis dapat dilihat juga sebagai penebusan. Namun jika untuk manusia sekarang dan seterusnya, maka Sakramen Baptis tidak lihat sebagai penebusan, melainkan inisiasi. Dengan baptis seseorang bergabung dalam Gereja Kristus.

    Mohon tanggapannya.

    Terima kasih,

    • Shalom Brian,

      Penebusan atau redemption (Latin: redemptio) secara literal berarti membeli kembali. Penebusan ini dilakukan oleh Kristus untuk membeli kembali manusia yang jatuh dalam perbudakan dosa. Harga yang harus dibayar untuk menebus manusia adalah penderitaan dan kematian Kristus. Sedangkan pengampunan adalah penghapusan dari sebuah pelanggaran. Hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa manusia, yang mensyaratkan pertobatan yang sungguh-sungguh, baik melalui Sakramen (Baptis, Tobat) maupun pertobatan sempurna.

      Penebusan Kristus berlaku untuk seluruh umat manusia. Namun, walaupun penebusan Kristus dilakukan 2000 tahun yang lalu, namun rahmat penebusan yang mengalir dari kayu salib dapat menjangkau seluruh umat manusia. Bagaimana rahmat penebusan ini dapat menjangkau kita? Melalui Sakramen Baptis. Semoga dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Shalom Yulianus,

      Ya, dosa semua orang ditebus oleh Yesus, melalui kurban salib-Nya, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga. Semua dosa manusia akan diampuni Allah (lih. Mrk 3:28), namun orang tersebut harus mau diampuni, baru ia dapat menerima pengampunan dosanya. Jika ia menolak pengampunan Allah (ini disebut dosa menghujat Roh Kudus, klik di sini untuk membaca lebih lanjut), entah karena ia merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni, atau karena ia merasa tidak berdosa, sehingga tidak perlu meminta pengampunan dari Allah, maka ia tidak menerima pengampunan dari Allah.

      Pengampunan dosa itu berhubungan dengan keselamatan, dan keselamatan ini memang merupakan karunia Allah yang melibatkan kehendak bebas manusia. Itulah sebabnya St. Agustinus mengatakan,  “God who created you without you cannot save you without you” atau terjemahannya, “Tuhan yang telah menciptakanmu tanpa-mu, tidak dapat menyelamatkanmu tanpa-mu.” (St. Augustine, Sermon 169, 11,13).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Terima Kasih Bu Ingrid atas jawabannya,

        jadi menurut hemat saya, bahwa Tuhan memberikan penebusan kepada semua orang (tanpa terkecuali), tetapi dengan syarat pertobatan. karena pertobatan, maka penebusan yang membawa kepada pengampunan dosa itu didapatkan. kalau kita tidak mau diampuni (bertobat), tidak diampuni.

        Dengan demikian ketika manusia baru lahir sudah membawa dosa yaitu dosa asal, dan pada saat kita dibaptis (bayi) kita sudah diampuni dari dosa asal itu, maka manusia yang baru lahir belum lahir baru. begitu yah bu?

        Semoga Tuhan Memberkati,

        [Dari Katolisitas: Ya, manusia yang baru lahir (bayi) belum lahir baru. Kelahiran baru diperoleh dari Pembaptisan, yaitu kelahiran dalam air dan Roh Kudus (Yoh 3:5). Pembaptisan bayi dilakukan atas dasar iman orang tuanya, dan tentang hal ini silakan klik di sini.]

  2. yusup sumarno on

    dear katolisitas.

    mohon ditunjukkan link atau KGK yang dapat menjelaskan bahwa dosa asal itu benar benar ada dan benar benar serius(karena menurut saya “dosa” adam dan hawa itu hanyalah makna alegoris), sehingga Yesus harus menderita di salib demi menebus dosa asal dan dosa pribadi manusia.

    terima kasih
    yusup

    [dari katolisitas: Silakan melihat diskusi ini - silakan klik. Lain kali, silakan menggunakan fasilitas pencarian, silakan memasukkan kata kunci, sebagai contoh: dosa asal. Setelah anda memasukkan kata kunci tersebut, maka anda akan melihat tanya jawab atau artikel tentang hal tersebut.]

  3. Shalom admin,

    Saya ingin bertanya bila Yesus mampu mengampuni dosa manusia, mengapa Dia meminta ampun kepada Bapa untuk mengampuni orang-orang yang menganiayanya?

    Lukas 23:34

    Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

    Salam Damai :)

    • Shalom Alex,

      Yesus memang mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa dalam nama-Nya sendiri, seperti yang ditunjukkan dalam beberapa ayat berikut ini: Mt 9:2-8; Mk 2:3-12; Lk 5:24, 7:48. Kalau demikian, mengapa ketika di kayu salib Yesus meminta Bapa mengampuni orang-orang? Yesus meminta ampun untuk orang-orang yang menyiksa-Nya, bukan karena Dia tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, namun Yesus ingin menunjukkan kepada semua orang untuk mengampuni dosa orang yang bersalah, seperti yang telah diajarkan-Nya kepada para murid-Nya (lih. Mat 18:22). Kedua, Yesus melakukan hal ini, untuk menunjukkan bahwa Dialah, Sang Mesias, yang telah dinubuatkan sebelumnya oleh nabi Yesaya (lih. 53:5) untuk menanggung kesalahan umat manusia, sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Syaloom,

    Saya baru pulang dr Retreat di lembah carmel, jadi saya baru bisa mengucakan terima kasih kepada Katolisitas yg menjawab beberapa pertanyaan saya.

    Syukur kepada Allah dan Bunda Maria yg mendoakan saya sehingga saya mendapatkan sesuatu yg rasakan sebagai pembaruan pengenalan kepada Kemaha Rahiman Allah kepada dunia ini baik secara Budi dan Hati.

    Jawaban di atas sesungguhnya agak mirip dengan yg saya terima atau saya mengerti ketika Retreat kmrn dan jg konseling dengan Suster&Frater ( Hebat2,, Syukur kepada Allah ada orang yang terpanggil menjadi seperti mereka)

    Tentu saja saya masi ada pertanyaan2 ttg keselamatan atau hal2 lainnya, tetapi biarlah Allah menjawab seturut dengan waktu Nya, semoga katolisitas bisa menjadi sarana dr Kebaikan Allah untuk menemani perjalanan iman kita umat2 Katolik. Amin

    Yang mao saya telaah lagi ttg penghayatan Kristus mati dan menebus kita, setelah retreat itu saya tidak setuju dengan pemikiran Kristus mati utk tebus dosa kita di masa lalu,masa kini dan masa depan, walaupun penebusan-Nya bukan hanya cukup utk dosa kita masa kini,masa lalu,masa depan

    jadi kalau misalnya seseorang berpikir ” “saya bisa tenang karena saya sudah dibenarkan oleh Kristus, dosa2 saya di tebus dan di bayar lunas dan semua dosa saya udah di ampuni dan sekarang ya hidup sebisa saya utk hidup baik karena Dia tau saya lemah dan orang berdosa”

    Saya TIDAK SETUJU.

    Kalau ada orang yang berpikir “saya bisa tenang karena saya sudah dibenarkan oleh Kristus, dosa2 saya di tebus dan di bayar lunas dan semua dosa saya udah di ampuni dan sekarang saya cm mao senangkan Tuhan dengan hidup baik sesuai ajaran dia”

    Saya cukup setuju dengan pernyataan tersebut, tetapi saya merasakan Kristus hidup, mati sengsara dan bangkit kembali bukan hanya untuk itu saja. saya mungkin salah, tetapi saya merasakan Kebaikan Tuhan tuh tidak mengenal batas, dan saya percaya ini buat semua umat manusia bahkan mereka yg tidak mempercayi Yesus adalah Tuhan dan juruselamat.

    Ada artikel di katolisitas yang bilang Tuhan tidak perlu atau harus menyelamatkan kita, dan tidak perlu sampai menderita di Kayu Salib, cukup hanya setetes darah Nya, sudah ckup, saya rasa utk setetes darah Nya saja uda berlebihan bgtu.

    Tapi Dia rela mau mati di Kayu Salib. Kenapa? apakah cukup kita berhenti pada kesimpulan Karena Dia sangat2 mengasihi kita, kita sebegitu berharganya di mata Dia.

    Kalau kita berhenti pada kesimpulan, sesungguhnya saya rasa amat sungguh disayangkan, kalau lihat cerita hidup Santo dan Santa yg saya tau, mereka tidak perna berhenti dalam menghayati kebaikan dan arti Yesus mati di Kayu Salib utk mereka.

    Contoh yg paling sederhana ketika saya melihat Imam atau Prodiakon membagikan Hosti.. Saya melihat itu apa2an sih kok Daging Tuhan main di bagiin bgtu, malah ada orang yg biasa2 aja terimanya.

    Kok Tuhan mau sih bagi2in Daging Nya kaya gtu, kalau kita sampai pada kesimpulan Tuhan sudah tebus kita dan kita selamat dengan percaya dan melakukan ajaran2 Dia, dan itu cukup utk kita memperoleh keselamatan itu, tetapi buat apa Dia Memberikan DagingNya kaya begitu.

    Saya mendengar kata2 karena “Aku menginginkan nya”. Saya percaya dengan beriman kepada Dia dan melalukan perintah2Nya kita bisa selamat. Tp sesungguhnya arti dr Karya penebusanNya jauh melebihi itu saja.

    “Bapa kami yang di Sorga Dimuliakanlah Nama-Mu, DATANGLAH KERAJAAN MU……”

    Kerajaan Allah sesungguh Nya ingin diberikan bukan hanya ketika kita mati tetapi ketika kita hidup.

    Amin

    [dari katolisitas: silakan juga membaca artikel bahwa sekali selamat tetap selamat tidak Alkitabiah di sini - silakan klik]

  5. Adi Hermawan on

    Syaloom Pak Stef & Team Katolisitas

    Dari penjelasan anda saya simpulkan,
    Dosa yang di tebus Yesus adalah semua dosa manusia yaitu dosa asal, semua dosa yang dilakukan sebelum Yesus disalib, dan dosa orang percaya sampai sesaat sebelum dibaptis. Jadi dosa yang dilakukan setelah dibaptis tidak dapat dihapus.

    Dosa yang dilakukan setelah dibaptis hanya mungkin dihapus dengan Sakramen Tobat.

    Pertanyaan saya:
    1. Jika seseorang melakukan dosa berat (contoh menghujat Roh Kudus) sebelum dibaptis, kemudian dia bertobat lalu dibaptis, dapatkah dosa berat tsb dihapus? Di Alkitab tertulis menghujat Roh Kudus dosanya TIDAK dapat diampuni di dunia ini maupun yang akan datang.
    2. Apakah semua manusia sebelum Yesus disalib dosanya dihapuskan dan masuk surga semua?
    A. Yang Percaya Allah
    B. Yang Tidak Percaya Allah dan atau Yang menghujat Roh Kudus
    3. Jika kita sudah dibaptis lalu kita melakukan dosa berat (membunuh) lalu kita bertobat dalam Sakramen Tobat, apakah kita masih bisa masuk surga?
    4. Apakah Penjahat yang bertobat yang disalib bersama Yesus langsung masuk sorga atau ke Api Penyucian untuk mendapatkan konsekuensi atas dosa yang dilakukan?

    Semoga Bpk Stef dan Ibu Ingrid berkenan menjawab pertanyaan saya. Terimakasih.

    Jbu

    • Shalom Adi,

      Secara prinsip, dengan misteri Paskah Kristus (penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan), maka rahmat demi rahmat mengalir kepada seluruh umat manusia. Jadi, dengan penebusan Kristus, maka Kristus memberikan pengampunan kepada seluruh umat manusia. Namun, pengampunan mensyaratkan pertobatan. Pengampunan dosa yang mengalir dari Salib Kristus telah ditawarkan kepada umat manusia, sehingga barang siapa bertobat dan meminta pengampunan, maka dia akan diampuni. Karena Kristus memberikan kuasa untuk mengampuni dosa kepada Gereja (lih. Mat 16:16-19; Yoh 20:21-23), maka Gereja melaksanakan pesan Kristus untuk menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh umat manusia. Pengampunan dosa yang pertama dan menjadi syarat untuk keselamatan adalah Sakramen Baptis (lih. Mat 28:19-20; 1Pet 3:21). Sakramen ini memberikan rahmat pengampunan akan segala dosa, termasuk dosa asal dan dosa pribadi sampai waktu dibaptis. Namun, kita tahu bahwa walaupun seseorang telah menerima baptisan, namun, manusia mempunyai kecenderungan untuk berdosa, sehingga dia juga memerlukan sakramen untuk menghapuskan dosa-dosa pribadi yang dia buat. Kalau dia melakukan dosa berat, maka dia memerlukan Sakramen Tobat dan kalau dia berdosa ringan, maka Sakramen Ekaristi dapat menghapuskannya. Dalam setiap prosesnya, baik Sakramen Baptis, Sakramen Tobat, dan Sakramen Ekaristi mensyaratkan pertobatan. Dengan dasar ini, maka berikut ini adalah jawaban atas pertanyaan anda:

      1. Kalau seorang berdosa berat sebelum dibaptis atau melakukan dosa berat kemudian mengaku dosa sebelum orang tersebut meninggal, maka dosanya dihapuskan dan dia dapat diselamatkan, karena rahmat yang mengalir dari sakramen tersebut dan pertobatan dari orang tersebut. Dalam kasus dosa menghujat Roh Kudus, maka orang tersebut tidak dapat diampuni, karena dosa menghujat Roh Kudus berarti tidak ada pertobatan atau menolak pengampunan Allah. Silakan membaca lebih lanjut tentang dosa menghujat Roh Kudus di sini – silakan klik.

      2. Tidak semua orang yang hidup sebelum Inkarnasi Kristus dapat diselamatkan, karena mereka dituntut untuk mempunyai iman dan kasih yang bersifat adi kodrati. Umat Israel mempunyai keistimewaan karena mereka mengetahui wahyu Allah yang diberikan oleh Allah melalui perantaraan para nabi. Namun, tentu saja, karena mereka tahu lebih banyak, maka mereka juga dituntut lebih banyak. Dan bagi bangsa-bangsa lain di luar bangsa Israel pada waktu itu, keselamatannya ditentukan dari sampai seberapa jauh mereka mengikuti kebenaran yang diberikan dalam hati nurani manusia. Dengan kata lain, Allah telah menciptakan manusia menurut gambaran-Nya, yang berarti secara kodrat manusia dapat mengetahui dan mengasihi Penciptanya. Namun, tentu saja ada orang yang tidak mengenal dan mempercayai Allah yang satu namun juga hidup semaunya. Orang-orang ini tentu saja tidak dapat diselamatkan.

      3. Anda bertanya “Jika kita sudah dibaptis lalu kita melakukan dosa berat (membunuh) lalu kita bertobat dalam Sakramen Tobat, apakah kita masih bisa masuk surga?” Intinya adalah tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni oleh Tuhan. Selama seseorang datang di hadapan Allah dengan penuh sesal dan berjanji tidak akan melakukannya lagi dalam Sakramen Tobat, maka keselamatan tetap terbuka bagi orang tersebut. Pengampunan juga diberikan bagi orang yang karena suatu hal tidak mempunyai kesempatan untuk mengaku dosa namun mempunyai sesal yang sempurna. Sesal sempurna ini adalah sesal karena cinta, yaitu sesal bukan karena takut hukuman tetapi sesal karena telah menyedihkan hati Allah. Namun, sesal sempurna ini harus dibarengi dengan niat mengaku dosa secepat mungkin jiwa waktu dan kesempatan memungkinkan.

      4. Penjahat yang bertobat yang ada di samping Yesus masuk ke tempat penantian bersama-sama dengan orang-orang yang telah dibenarkan oleh Tuhan. Silakan membaca tanya jawab ini – silakan klik.

      Semoga jawaban singkat di atas dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • salam.
        Sy tertarik dgn pnjelasan skilas tntang keselamatan bgi orang2 sblum inkarnasi Tuhan Yesus.

        Dikatakan dlm poin 2 kalau “Tidak semua orang yang hidup sebelum Inkarnasi Kristus dapat diselamatkan, karena mereka dituntut untuk mempunyai iman dan kasih yang bersifat adi kodrati. Umat Israel mempunyai keistimewaan karena mereka mengetahui wahyu Allah yang diberikan oleh Allah melalui perantaraan para nabi. Namun, tentu saja, karena mereka tahu lebih banyak, maka mereka juga dituntut lebih banyak. Dan bagi bangsa-bangsa lain di luar bangsa Israel pada waktu itu, keselamatannya ditentukan dari sampai seberapa jauh mereka mengikuti kebenaran yang diberikan dalam hati nurani manusia.”

        Dri poin 2 it, sy kok mnangkapnya bhwa org2 sblum inkarnasi (khususnya non Yahudi) lbh cnderung dbnarkan krn perbuatan mreka.
        Atau mgkn sy mnyimpulkannya mjd bbrp hal: (tdak tahu mna yg bnar/slah)
        1. Utk org Yahudi sblm Kristus, mreka dtuntut utk pcaya beriman ttg kdatangan Sang Mesias yg dinubuatkan para nabi dan melakukan kasih sesuai hukum taurat yg sdh dberikan. (Shingga pd saat Kristus dtg dan telah menebus dosa manusia maka mreka ini yg tlah d tmpat pnantian broleh kslamatannya dr KARUNIA TUHAN melalui SALIB YESUS yg mnsyaratkan dlu hidupnya pcaya ttg ini)

        2. Utk org non Yahudi sblm Kristus, mreka tdk d tuntut pcaya, tp tolak ukur kslamatan mreka dr pbuatannya sesuai kasih smampunya.
        (Tapi kalau opsi ini, mngapa seolah2 kslamatan mreka tdk ada sangkut pautnya dgn kslamatan dr pnebusan Yesus sama skali y? Lalu yg dimaksud beriman adi kodrati nya kpd siapa? ‘kan d pjanjian lama sptinya agama Yahudi it eksklusif tdk utk bangsa lain, bagaimana mreka bs pcaya pada Allah org Israel– Kalau org yg sesudah inkarnasi kan mirip spti itu tp pcaya nya bhwa Yesus sdh dtg dan mnebus dosa mnusia)

        Mohon koreksinya apakah bnar/slh atau msh kurang kah ksimpulan sy ini. Atau mgkn sdh ada link yg mbahas lbh lngkap ttg ini. Krn sy sdh cba cri d pcarian namun tdk ktmu.

        Terima kasih ats ksediaannya mnjawab. Salam dalam Kristus Yesus.

        • Shalom Jericho,

          Sebenarnya, kita dapat melihat prinsip yang diberikan Kristus, yaitu “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Luk 12:48). Jadi, sebelum kedatangan Kristus, bagi umat Yahudi yang telah menjadi umat pilihan dituntut lebih banyak dari orang-orang non-Yahudi yang tidak mengalami pewahyuan Allah. Namun, demikian, orang-orang non-Yahudi juga bukannya tanpa tanggung jawab, karena Allah telah memberikan hukum moral dalam hati manusia. Dengan demikian, golongan ini juga mempunyai tanggung jawab yang berat, karena tidak mempunyai pegangan wahyu Allah. Jadi, bagi umat Katolik yang mempunyai kepenuhan kebenaran juga dituntut lebih banyak dari umat yang lain. Semoga dapat memperjelas.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  6. klo boleh tau mengapa ada penebusan dosa ? saya pikir kegiatan itu menjadikanku melakukan pekerjaan kriminal, toh nantinya saya di ampuni. slama ini saya memerkosa, mencuri, berkelahi dan memarahi orang tua karna saya sangat kesal. tapi hati saya tenang-tenang saja , karna nantinya saya di ampuni.

    • Shalom Sweety,
      Terima kasih atas pertanyaannya tentang penebusan dosa. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka saya mengusulkan agar Sweety dapat membaca artikel “Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah” (silakan klik). Setelah itu, silakan juga membaca tanya jawab tentang siapa saja yang dapat diselamatkan (silakan klik). Dan silakan membaca tanya jawab di atas (silakan klik). Setelah membaca tiga link tersebut silakan untuk bertanya lagi kalau kedua artikel tersebut belum menjawab pertanyaan Sweety. Intinya adalah Sweety mempunyai pengertian yang salah tentang konsep keselamatan yang dipercayai oleh Gereja Katolik. Mungkin Sweety mendapatkan konsep yang salah, karena ada teman Sweety yang mengatakan bahwa sekali selamat tetap selamat karena telah ditebus oleh Kristus. Namun Gereja Katolik mengatakan bahwa umat Katolik juga dapat kehilangan keselamatan kalau dia tidak setia sampai akhir hayatnya. Oleh karena itu, dengan contoh yang diberikan oleh Sweety, maka orang tersebut yang tidak berbuat kasih, telah melakukan dosa berat dan tidak menyesali perbuatannya akan kehilangan keselamatan kekal. Semoga jawaban dan link yang saya berikan dapat menghilangkan kesalahpahaman Sweety tentang konsep keselamatan di dalam Gereja Katolik.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • maaf, setelah membaca2 linknya, saya masih belum mengerti (saya bukan Sweety)
        maksudnya seluruh dosa ditebus itu apakah seluruh dosa? kalau begitu mengapa manusia masih bisa melakukan dosa walaupun sudah dibaptis?

        dan bukankah dosa berat yang dilakukan setelah dibaptis, apabila tidak melakukan pengakuan dosa maka orang tersebut tidak dapat diselamatkan?

        • Shalom Evelyn,

          Terima kasih atas pertanyaannya. Penebusan Kristus menebus seluruh dosa umat manusia. Dan pengampunan dosa ini dimanifestasikan dalam Sakramen Baptis, di mana yang dibaptis menerima pengampunan dosa asal dan dosa-dosa pribadi (baik dosa berat maupun dosa ringan) yang dilakukan dari awal sampai pada saat dibaptis. Walaupun telah dibaptis, namun manusia tetap mempunyai kecenderungan berbuat dosa (concupiscence). Kecenderungan berbuat dosa ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih kita kepada Allah, dengan cara mengatakan tidak kepada dosa dan mengatakan ya kepada perintah Allah. Jadi, walaupun telah dibaptis, kita dapat menerima keselamatan kalau kita terus setia sampai akhir, dengan terus bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih. Dan tentu saja, kita harus menghindari dosa: dosa ringan dan terlebih lagi adalah dosa berat. Dosa berat menghancurkan kasih, karena merupakan penolakan akan kasih Allah secara langsung. Dengan demikian, orang yang meninggal dalam kondisi dosa berat tidak dapa diselamatkan. Semoga keterangan ini dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • terima kasih atas penjelasannya
            yang saya tangkap berarti penebusan dosa dari Yesus membutuhkan kerja sama manusia juga, tanpa kerja sama tersebut, penebusan dosa tidak berarti apapun

            [Dari Katolisitas: Ya, tanpa kerja sama tersebut, penebusan dosa oleh Kristus tidak berarti apapun baginya]

  7. Terima kasih pak Stef untuk penjelasannya..
    Jadi kalau boleh saya simpulkan, salib memungkinkan penghapusan dosa (oleh sakramen) tapi tidak secara langusng menghapus dosa tersebut?

    • Shalom Phill,

      Yang menjadi masalah dengan pernyataan bahwa Salib memungkinkan penghapusan dosa (oleh Sakrament) dan tidak secara langsung menghapus dosa tersebut adalah: 1) bagaimana dengan orang yang dosanya ditebus oleh Kristus melalui Paska misteri sebelum kedatangan Kristus? 2) Kita tidak dapat mengatakan bahwa sebuah lukisan terjadi karena kuas, namun juga terjadi karena pelukis yang mewujudkan karya seninya dengan menggunakan kuas., 3) Semua orang – sebelum kedatangan Kristus, yang hidup pada waktu Kristus, dan yang hidup setelah Kristus – dosanya diampuni atau dibenarkan karena sengsara Kristus.
      Jadi sebaiknya kita mengikuti definisi dari KGK, 1992, dimana pengorbanan Kristus di kayu salib adalah “alat pemulih bagi dosa semua manusia. Pembenaran diberi kepada kita melalui Pembaptisan,” Hal ini disebabkan karena “Pembenaran diperoleh bagi kita melalui sengsara Kristus, yang menyerahkan Diri di salib sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah”.

      Semoga semakin memperjelas.
      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      stef

Add Comment Register



Leave A Reply