Apakah injil Barnabas?

44

Injil Barnabas ditulis sekitar abad 16, dan di dalamnya terkandung banyak hal yang sesuai dengan paham Islam. Yesus yang  digambarkan di dalam Injil Barnabas seperti yang digambarkan di dalam Kitab Suci agama Islam. Yesus digambarkan bukan sebagai Anak Allah atau Allah, namun sebagai nabi yang membuka jalan bagi Nabi Muhammad, sama seperti Yohanes Pemandi membuka jalan bagi Yesus. Dan Yesus tidak mati disalibkan, namun digantikan oleh Yudas. Bagi kita umat Katolik, injil ini bukanlah injil yang termasuk dalam Injil kanonik, karena apa yang disampaikannya tidak sesuai dengan ajaran Kristen.

1. Gereja Katolik tidak mengakui ‘injil’ Barnabas

Gereja Katolik tidak mengakui adanya ‘injil’ Barnabas, karena tidak otentik. Kitab ini baru dituliskan berabad- abad kemudian setelah jaman Kristus dan para rasul. Manuskrip kitab tersebut ditemukan pada abad ke 16 (dalam bahasa Italia dan Spanyol). Karena Injil ini baru ditulis sekitar abad 16, terjadi kemungkinan  penyelewengan-penyelewengan, karena saksi hidup dari kejadian tersebut sudah tidak ada. Bandingkan dengan Injil kanonik yang ditulis pada saat saksi hidup masih ada, sehingga tidak mungkin terjadinya penyelewengan. Silakan membaca di artikel ini.

Penyebutan tentang ‘injil’ Barnabas pertama kali disebutkan dalam manuskrip Morisco (orang Moor) tahun 1634, oleh Ibrahim al Taybili, 1718 oleh John Toland, dan 1734 oleh George Sale. Ajaran yang terkandung di dalam kitab ini bertentangan dengan ajaran Kristus dan para rasul, dan lebih sesuai dengan interpretasi muslim tentang Kristianitas.

2. Ajaran ‘injil’ Barnabas yang bertentangan dengan ajaran Kristus dan para rasul

Pesan yang disampaikan oleh injil Barnabas bertentangan dengan kesaksian para saksi mata di abad pertama yang mempunyai lebih dari 5000 manuskrip untuk mendukung otentisitas kesaksian mereka, yaitu kitab-kitab Perjanjian Baru. Sebagai contohnya, ajaran injil Barnabas mengatakan bahwa Yesus mengatakan bahwa Ia bukan Mesias dan Ia tidak mati di salib; namun klaim ini sepenuhnya dibuktikan salah oleh dokumen-dokumen yang sudah terbukti asli/ otentik, yang menyatakan sebaliknya.

Dengan menolak Yesus sebagai Allah Putera,  ‘injil’ Barnabas dengan sendirinya menolak ajaran Allah Trinitas. Dengan demikian, kitab ini menolak inti ajaran keselamatan seperti yang diwahyukan oleh Allah sendiri, yang telah dimulai pre-figurasinya dalam Perjanjian Lama, sekitar 2000 tahun sebelum masehi, dan yang digenapi di dalam penjelmaan Kristus menjadi manusia dalam Perjanjian Baru. Tidak mungkin keseluruhan wahyu Allah, dengan segala nubuatan para nabi di Perjanjian Lama yang mengacu kepada Kristus Sang Mesias dalam Perjanjian Baru, dibatalkan dengan sebuah kitab yang baru ditulis di abad ke- 16, oleh pengarang yang tidak dikenal, hanya karena ia memakai nama Barnabas. Barnabas sendiri tidak termasuk dalam bilangan ke- dua belas rasul Kristus. Selanjutnya bukti- bukti menunjukkan bahwa tulisan tersebut tidak berasal dari jaman para rasul melainkan berabad- abad sesudahnya.

Kitab ‘injil’ Barnabas ini juga menolak puncak rencana keselamatan Allah, yaitu melalui penjelmaan Kristus Allah Putera sebagai manusia, penderitaan, wafat dan kebangkitan- Nya untuk menyelamatkan manusia. ‘Injil’ ini menyatakan bahwa yang disalibkan bukan Yesus, melainkan Yudas Iskariot, sedangkan Yesus sendiri diangkat ke surga. Pandangan seperti ini adalah pandangan Islam, dan bukan ajaran Kristus sendiri seperti yang disampaikan oleh ke-empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes).

Selanjutnya, kitab ini juga keliru dalam menyamakan Roh Kudus (paráklētos Yunani), dengan ‘periklutos‘ (artinya yang terhormat) yang dapat diterjemahkan dalam bahasa Arab "Ahmad", sehingga akhirnya mengacu kepada Muhammad. Padahal dalam kitab Injil Yohanes, Kisah Para Rasul dan surat- surat Rasul Paulus, Roh Kudus tidak untuk diartikan sebagai manusia, melainkan Pribadi Allah sendiri yang dicurahkan kepada para Rasul dan umat beriman; untuk mendatangkan pertobatan dan mencurahkan rahmat pengudusan Allah dan karunia- karunia-Nya.

Dari keterangan di atas, kita ketahui bahwa isi injil Barnabas tidak sesuai dengan pesan Allah, sehingga karena itu injil ini tidak menjadi bagian dari kanon Kitab Suci.

3. Surat Barnabas yang pernah dikenal dan dibacakan di Gereja Alexandria di abad ke 2, itu tidak sama dengan ‘injil’ Barnabas.

Jika ditinjau dari isinyapun tidak berhubungan antara Surat Barnabas dengan injil Barnabas. Surat Barnabas mengakui ke- Allahan Yesus, dan bahkan menekankan kasih karunia oleh Kristus yang mengatasi hukum Taurat, sehingga menolak hukum sunat. Sedangkan ‘injil’ Barnabas yang ditulis atas dasar pemahaman Islam, tidak demikian. Penjelasan tentang Surat Barnabas, silakan klik di sini.

4. Terdapat banyak kejanggalan dalam ‘injil’ Barnabas ini, contohnya:

a. Meskipun ditulis dalam bahasa Italia, kitab ini dituliskan dengan gaya Arab/ Islam, sekali- kali dengan kata- kata bahasa Turki, dan tata bahasa Turki, dengan dialek Tuska dan Venezia, seperti yang umum digunakan di kota universitas Bologna (Italia).

b. Di pinggiran halaman terdapat catatan- catatan dalam bahasa Arab.

c. Penjilidan kitab berasal dari Turki, walaupun kertasnya berasal dari Italia.

d. Terdapat kesalahan- kesalahan ejaan, seperti tidak perlunya huruf ‘h’ ketika suatu kata berawal dengan huruf hidup (contoh "hanno", padahal harusnya cukup "anno")

e. Spasi yang ada di bagian bawah setiap lembarnya mengindikasikan spasi yang dimaksudkan untuk pencetakan.

f. Banyak frasa yang digunakan dalam ‘injil’ Barnabas tersebut mempunyai kemiripan dengan frasa yang digunakan oleh Dante Alighieri, seorang pujangga ternama Italia di abad Pertengahan (1265-1321); sehingga dapat disimpulkan pengarang ‘injil’ ini meminjam/ meniru karya Dante.

g. Terdapat kemiripan tekstual ‘injil’ Barnabas ini dengan bahasa setempat tentang ke- empat Injil (terutama bahasa Italia abad Pertengahan) sehingga dapat diperkirakan bahwa kitab ini aslinya dituliskan dalam bahasa Italia. Ini membuktikan ketidak-otentikan kitab ini, sebab bahasa Italia sendiri baru eksis sekitar abad ke- 13 sebagai bahasa tulisan, sehingga tidak mungkin ditulis oleh ‘Barnabas’ murid Yesus di abad pertama)

5. Anakronisme dan ketidaksesuaian sejarah yang tercatat dalam ‘injil Barnabas’

Berikut ini adalah ketidak-sesuaian lainnya yang disebut Anakronisme dan ketidaksesuaian sejarah, yang menunjukkan bahwa tulisan ini tidak otentik, dan tidak merupakan wahyu Allah karena mengandung kesalahan. Injil Barnabas yang mengandung banyak kesalahan dan menjabarkan tentang kehidupan di zaman Abad Pertengahan, yang tidak cocok dengan kehidupan pada zaman Yesus dan para Rasul, membuktikan bahwa teks ini tidak berasal dari abad-abad pertama. (Selengkapnya silakan membaca di sumber yang netral di Wikipedia tentang ‘injil’ Barnabas ini, silakan klik). Berikut ini contoh- contohnya:

a. Dikatakan bahwa Yesus dilahirkan di jaman Pontius Pilatus, yang baru naik tahta setelah tahun 26. Ini keliru, karena Yesus lahir pada jaman Kaisar Agustus (Luk 2:1).

b. Yesus dikatakan 'berlayar' ke Nasaret (bab 20), padahal Nasaret bukan kota pelabuhan. Tidak ada pantai atau perairan di Nasaret untuk orang dapat berlayar.

c. Penulis kitab ini kelihatannya tidak menyadari bahwa kata ‘Kristus’ dan ‘Mesias’ adalah terjemahan dari kata yang sama yaitu ‘Christos’, yaitu yang menjabarkan Yesus sebagai Yesus Kristus. Maka tidak mungkin Yesus yang disebut Kristus itu mengatakan, "Saya bukan Mesias", [karena sama saja ia mengatakan bahwa saya bukan Kristus, yang adalah namanya sendiri]. (bab 42)

d. Ada referensi tahun yubelium yang dirayakan setiap seratus tahun sekali (bab 82), bukannya lima puluh tahun sekali seperti yang dituliskan dalam kitab Imamat 25. Anakronisme ini kemungkinan berhubungan dengan Tahun Suci pada tahun 1300 yang ditentukan oleh Paus Boniface VIII, yang menentukan untuk memperingati tahun Yubelium setiap seratus tahun sekali.

e. Adam dan Hawa dikatakan memakan buah apel (bab 40), padahal seharusnya adalah buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej 2:17). Kemungkinan kata apel diperoleh dari terjemahan dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin, di mana ‘apel’ dan ‘jahat’ sama- sama dikatakan sebagai ‘malum‘.

f. Kitab tersebut mengatakan bahwa anggur disimpan di dalam gentong/ drum kayu (bab 152). Gentong kayu adalah ciri khas penyimpanan anggur di Gaul dan Italia Utara, dan tidak umum digunakan dalam kerajaan Roma, sampai tahun 300; sedangkan penyimpanan anggur di abad pertama di Palestina adalah di dalam kantong kulit (wineskin) dan tempayan (jar, ‘amphorae‘). Pohon English Oak/ Pedunculate (quercus robur) tidak tumbuh di Palestina, dan kayu jenis lainnya tidak cukup padat untuk digunakan sebagai gentong anggur.

g. Semua kutipan didasarkan pada Vulgate bible (382 AD). Ketika ‘injil’ Barnabas mengutip Perjanjian Lama, maka yang dikutip lebih sesuai dengan bacaan- bacaan yang ada di kitab Latin Vulgate, daripada yang ada di Kitab Septuagint ataupun Teks Masoretik Ibrani. Padahal terjemahan Latin Vulgate yang adalah hasil karya St. Jerome dimulai tahun 382, bertahun- tahun setelah kematian Barnabas. Maka pengutipan Vulgate ini merupakan indikasi, bahwa kitab ini tidak mungkin ditulis oleh Rasul Barnabas sendiri di abad pertama, saat teks Vulgate sendiri belum ada.

h. Bab 54 mengatakan: "Sebab ia akan mendapatkan nilai tukar dari emas adalah enam puluh minuti." Dalam Perjanjian Baru, satu- satunya koin emas, namanya aureus yang nilainya sama dengan 3,200 koin tembaga, yang disebut ‘lepton’ (diterjemahkan dalam bahasa Latin, minuti), sedangkan koin perak Roma mempunyai nilai tukar 128 lepton. Maka nilai tukar 1:60 yang ditulis dalam ‘injil’ Barnabas, adalah interpretasi dari jaman abad pertengahan dari perikop Injil (Mrk 12:42), yang berasal dari pengertian standar di abad pertengahan bahwa minuti berarti seperenampuluh.  Selain itu, disebutkan pemakaian nama koin denarius, yang dipakai di Spanyol tahun 685.

5. Kurangnya bukti yang mendukung keaslian injil Barnabas

Kurangnya bukti pendukung otentisitas injil Barnabas terlihat dari fakta, antara lain:[1]

a. Tidak seperti kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru yang terbukti keotentikannya dengan adanya lebih dari 5,300 manuskrip Yunani yang berasal dari abad awal sampai abad ke-3, hal ini tidak terjadi pada injil Barnabas. Tidak ditemukan teks asli injil Barnabas sejak abad-abad awal.

b. Referensi pertama yang menyebutkan tentang injil Barnabas adalah dokumen yang disebut Decretum Gelasianum yang sering dihubungkan dengan Paus Gelasius I, 492-496. Konon injil Barnabas termasuk dalam daftar yang ada dalam Decretum tersebut, sebagai kitab apokrif yang harus dihindari. Namun di dekrit ini tidak disebutkan isi manuskrip injil Barnabas, dan juga keaslian Decretum tersebut juga dipertanyakan. Karena jika memang dekrit itu benar-benar resmi dan otentik dikeluarkan oleh Paus Gelasius I, seharusnya termasuk dalam dokumen-dokumen yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke Latin, oleh Dionysius Exiguus (470-544), anggota Kuria Roma yang menerjemahkan 401 kanon Gereja, termasuk kanon dan dekrit dari Konsili Nicea, Konstantinople, Kalsedon, Sardis dan kumpulan semua dekrit yang dikeluarkan oleh Paus dari Paus Siricius (384-399) sampai Anastasius II (496-498). Namun faktanya, tidak. Juga, jika dekrit ini otentik, mestinya dekrit ini juga termasuk dalam kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Cassiodorus (485-585), administrator Kaisar Theodoris Agung yang bekerjasama dengan Paus Agapetus I (535-536) dalam membuat perpustakaan teks Yunani dan Latin yang digunakan untuk mendukung sekolah-sekolah Katolik di Roma. Namun dekrit ini tidak termasuk di sana. Dengan demikian, para ahli menyimpulkan bahwa daftar kitab apokrif yang ada dalam dekrit itu belum tentu ditulis oleh Paus Gelasius I, namun oleh seorang imam dari Perancis Selatan atau Italia Utara, di abad ke-6, yang mengumpulkan dokumen-dokumen dari periode berbeda.[2]

Selanjutnya, sekalipun ada teks asli injil Barnabas yang ditulis di abad ke-5, maka teks itu juga pasti bukan ditulis oleh Rasul Barnabas yang menjadi teman seperjalanan Rasul Paulus di abad pertama. Sebab tidak mungkin Rasul Barnabas hidup sampai ratusan tahun (sekitar empat ratus tahun?)

c. Bentuk yang terawal yang kita ketahui tentang injil Barnabas adalah teks dalam bahasa Italia. Teks ini telah diteliti oleh para ahli Kitab Suci dan disimpulkan bahwa teks tersebut berasal dari abad 15-16 yaitu sekitar 1400 tahun sejak zaman Rasul Barnabas.[3].

d. Walaupun injil Barnabas ini begitu dikenal sekarang di kalangan muslim, namun injil ini tidak dikenal/ dijadikan referensi oleh para penulis/ apologetik muslim sebelum abad ke-15 dan ke-16. Padahal jika injil ini memang sudah ada sejak dulu, hampir pasti mereka akan mengutipnya. Geisler menyebutkan contoh pengarang muslim yang cukup dikenal di abad sebelum abad 15, seperti Ibn Hasm (w. 456 A.H), Ibn Taimiyyah (w. 728 A.H.) Abu'l-Fadl al-Su'udi (menulis tahun 942 A.H.), dan Haji Khalifah (w. 1067 A.H.) mestinya mengacu kepada injil Barnabas dalam tulisan-tulisan mereka, jika memang injil itu sudah ada di masa mereka hidup.

e. Tidak ada Bapa Gereja di abad ke 1 sampai ke-15 yang pernah mengutipnya. Jika injil Barnabas otentik, tentu sudah pernah dikutip oleh para Bapa Gereja dalam kurun waktu tersebut, seperti yang terjadi pada kitab-kitab Injil kanonik. Bahkan kalau tidak otentik sekalipun, mestinya pernah dikutip oleh setidak-tidaknya seorang penulis pada masa itu. Tapi nyatanya, tidak ada yang pernah mengutipnya selama jangka waktu 1500 tahun.

f. Selain banyak orang salah paham dengan menyangka bahwa injil Barnabas adalah Surat (Pseudo) Barnabas (70-90) sebagaimana telah disebutkan dalam point  3 di atas,  adapula orang yang menyangka bahwa injil Barnabas sama dengan Akta Barnabas/ Acts of Barnabas (sebelum 478). Padahal keduanya tidak sama. Tidak ada penyebutan tentang nabi Muhammad di Akta Barnabas, dan isi kedua kitab berbeda. Silakan membaca teks Akta Barnabas di link ini, silakan klik.

g. Pesan yang disampaikan oleh injil Barnabas ini (bahwa Yesus mengatakan bahwa Ia bukan Mesias) juga tidak sesuai dengan klaim dari AlQur'an sendiri, sebab Qur'an sendiri mencatat bahwa Yesus (yang disebut Isa) adalah Mesias (lih. 3:45; 5:19,75), walaupun pengertian Mesias (Al masih) ini tidak sama dengan pengertian Yesus Sang Mesias bagi umat Kristiani.

h.  Terdapat banyak elemen-elemen Islam yang tercantum di dalam teks, yang mengindikasikan bahwa teks tersebut disusun oleh seorang muslim di abad-abad berikutnya. Para ahli mencatat ada sekitar empat belas hal. Di antaranya, disebutkannya kata "puncak" bait Allah di mana Yesus berkhotbah, diterjemahkan dalam bahasa Arab, sebagai dikka, yaitu mimbar/ platform yang digunakan yang di mesjid.[4] Atau dikatakan bahwa Yesus hanya datang untuk bangsa Israel, sedangkan Muhammad untuk seluruh dunia (bab 11). Juga penolakan bahwa Yesus adalah Putera Allah.

Dengan tidak adanya bukti-bukti keotentikan injil Barnabas ini, sesungguhnya injil ini tidak layak untuk dijadikan dasar acuan ajaran. Injil Barnabas bukan teks yang berasal dari abad pertama Masehi, seperti seharusnya, jika benar ditulis oleh Rasul Barnabas. Sumber otentik yang berasal dari abad pertama yang merekam kehidupan Yesus adalah kitab-kitab Perjanjian Baru, yang semuanya bertentangan dengan ajaran injil Barnabas. Tidak mungkin keseluruhan wahyu Allah, dan segala nubuatan para nabi di Perjanjian Lama yang digenapi oleh Kristus Sang Mesias, sebagaimana tercatat di kitab-kitab di Perjanjian Baru, dibatalkan oleh sebuah kitab yang baru ditulis di abad ke- 16, oleh pengarang yang tidak dikenal, hanya karena memakai nama Barnabas.

6. Kesimpulan

Dengan tidak adanya bukti keotentikan injil Barnabas ini, sesungguhnya injil ini tidak layak untuk dijadikan dasar acuan ajaran. Injil Barnabas bukan teks yang berasal dari abad pertama Masehi, seperti seharusnya jika sungguh ditulis oleh Rasul Barnabas. Sumber otentik yang berasal dari abad pertama yang merekam kehidupan Yesus adalah kitab-kitab Perjanjian Baru, yang semuanya bertentangan dengan ajaran injil Barnabas.

Sebagai umat Kristiani, selayaknya kita berpegang pada Kitab Suci yang kanonnya ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang menerima kuasa infalibilitas dari Kristus untuk "mengikat dan melepaskan" (Mat 16:18-19, 18:18); dalam hal ini untuk menentukan kitab- kitab mana yang otentik dan isinya ‘mengikat’ bagi umat beriman, dan mana yang tidak. Sejak abad pertama, Rasul Paulus mengingatkan jemaat agar tidak mengikuti injil-injil yang lain daripada yang telah mereka terima dari para rasul (lih. 2 Kor 11:4 dan Gal 1:6). Injil yang lain ini adalah injil Gnostik dan Docetisme, yang berkembang menjadi ‘injil’ Barnabas di abad ke- 16.  Kita harus mengingat bahwa Kitab Suci diberikan kepada Gereja, dan Gerejalah yang berhak menentukan kanonnya dan interpretasi kitab- kitab tersebut secara otentik. Ini semakin menunjukkan betapa Kitab Suci tidak dapat dilepaskan dari Tradisi Suci para rasul yang diteruskan oleh Magisterium Gereja Katolik; ketiganya adalah pilar Gereja, yang menjamin bahwa Sabda Tuhan diterima dan dilestarikan dengan murni dari awal mula sampai sekarang.


CATATAN KAKI:
  1. sumber utama: Norman L Geisler & Abdul Saleeb, Answering Islam: The Crescent in the Light of the Cross, (Baker Books 1993), p. 295-299 []
  2. Menurut New Catholic Encyclopedia yang dikeluarkan oleh The Catholic University of America, book 6, p. 314, Gelasian Decree Decretum Gelasianum terdiri dari 5 bab, tentang: 1) Roh Kudus dan nama Kristus; 2) Kanon Kitab Suci; 3) Keutamaan Petrus dan Tahta Suci; 4) Otoritas dekrit umum dari konsili-konsili; 5) Otoritas tulisan para Bapa Gereja dan karya tulis Kristiani lainnya yang diterima oleh Gereja. Di sini tidak disebutkan adanya daftar buku-buku yang dilarang. []
  3. L. Bevan Jones, Christianity Explained to Muslims, rev. ed. (Calcutta: Baptist Mission Press, 1964 []
  4. J. Slomp, "The Gospel in Dispute," in Islamochristiana (Rome: Pontificio Instituto di Studi Arabi, 1978), vol. 4, 7. []
Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

44 Comments

  1. Nelson Lawrence on

    Shalom Katolisitas,
    Di sana saya ada beberapa keberatan mengenai Salinan Alkitab…..bukankah perjanjian baru pernah terdokumen sebanyak 24,633 salinan dan sekarang hanya 5,500 salinan yg masih terjaga …jadi di manakah baki salinan perjanjian baru yg sebanyak 19,133 ? Mohon Pencerahannya. Tuhan Memberkati :)

    • Shalom Nelson,

      Menurut catatan ahli sejarah abad awal, yaitu Eusebius, pemusnahan Kitab Suci besar-besaran dilakukan oleh Kaisar Diocletian di sekitar tahun 303. Setelah merubuhkan gereja di Nicomedia, Kaisar tersebut mengeluarkan edict “untuk merubuhkan gereja-gereja sampai ke pondasi dan menghancurkan Kitab-kitab Suci dengan api; dan memerintahkan mereka yang ada dalam posisi terhormat untuk direndahkan, jika mereka tetap berpegang pada iman Kristiani.” (Eusebius, Church History, VIII, ii).

      Jadi kemungkinan besar sejumlah salinan Kitab Suci tersebut banyak yang musnah pada saat itu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Markus Monemnasi on

    Syalom Katolisitas.
    Saya mau bertanya, ke manakah atau di manakah Yudas Iskariot berada waktu Yesus disalibkan? Dan apakah benar yang dikatakan sahabat saya bahwa yang disalibkan waktu itu adalah Yudas Iskariot sebagai pengganti Yesus Kristus? Soalnya cerita tentang Yudas “menghilang” begitu saja bersamaan dengan disalibkannya Yesus Kristus jadi banyak sahabat saya beranggapan seperti itu. Mohon penjelasannya.Terima kasih.

    • Shalom Markus,

      Nampaknya keliru kalau dikatakan Yudas ‘menghilang begitu saja’ pada saat Yesus dihukum mati. Ini adalah pandangan dan prakonsepsi orang-orang yang sejak awal mempunyai skenario bahwa Allah pasti menukar Yesus dengan Yudas. Namun Injil dengan jelas menyebutkan ke manakah Yudas setelah mengetahui bahwa Yesus dihukum mati. Yudas mengembalikan uang tiga puluh perak itu kepada para imam kepala di bait Allah, dan ia lalu pergi menggantung diri (lih. Mat 27:3-10), dan kemudian jatuh tertelungkup dan keluarlah isi perutnya. Bahwa Yudas melakukan ini, tidaklah rahasia, sebab “hal ini diketahui oleh semua penduduk Yerusalem”, sebagaimana dicatat dalam Kisah para Rasul, “Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah kejahatannya, lalu ia jatuh tertelungkup dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar. Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri “Hakal-Dama”, artinya Tanah Darah” (Kis 1:18-19).

      Ada baiknya kita ketahui, bahwa tulisan yang menentang kesaksian Injil Matius dan Kisah para Rasul ini, baru timbul belasan abad kemudian, setelah para saksi, yaitu “semua penduduk Yerusalem” pada zaman Yesus itu telah wafat. Sebab kalau tulisan itu ditulis di abad pertama, tentu para saksi itu akan menolaknya, sebab mereka melihat sendiri bahwa Yudas (Rasul Yesus yang berkhianat) itulah yang mati gantung diri lalu jatuh sampai isi perutnya tertumpah keluar, sehingga mereka menjuluki tanah itu Tanah Darah. Sesungguhnya tidak adanya karya tulis di abad pertama yang menentang kematian dan kebangkitan Yesus, ini merupakan salah satu bukti kuat akan kejadian otentik kematian dan kebangkitan Yesus. Sebab para saksi yang masih hidup di abad pertama itu, pasti akan menentang tulisan (seandainya ada) yang mengatakan bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh disalibkan atau disamarkan atau ditukar, atau sejenisnya. Pandangan bahwa Yesus ditukar dengan Yudas ini baru muncul berabad setelah zaman Yesus, secara khusus dari injil Barnabas, sebuah tulisan yang berasal dari abad ke-16. Karena tulisan ini tidak berasal dari zaman para Rasul, tidak juga ditulis oleh Rasul, maka tulisan ini tidak otentik, dan karena itu tidak perlu dipercaya. Tentang hal ini, sudah pernah diulas di artikel di atas, silakan klik.

      Silakan juga membaca artikel, “Apakah Yesus tidak benar-benar wafat di salib?, silakan klik. Di sana disampaikan argumen yang lain lagi yang menentang fakta kematian Yesus. Tetapi argumen ini juga dasarnya tidak kuat.

      Demikianlah, kita patut berterima kasih kepada saudara-saudari kita yang non-Kristen yang mempertanyakan tentang iman kita, sebab sejujurnya semakin kita mencari tahu, semakin kita menemukan kebenaran fakta yang menunjukkan kokohnya dasar ajaran iman kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Sifat manusiawi, pada dasarnya selalu percaya akan sesuatu apabila mengalami sendiri pengalaman hidup atau mujizat, tidak mengherankan apabila jaman sekarang ketidak percayaan lahir karena belum mengalami mujizat itu sendiri, tekunlah dalam doa serta rendah hati. Trus maju dan berkarya Tim Katolisitas Tuhan Yesus Memberkati!

  4. Adanya “injil” Barnabas ini membuktikan adanya upaya pengaburan kebenaran (tentunya dari pihak non-kristen) terhadap keaslian dan keotentikan ke-empat Injil yang sungguh-sungguh merupakan wahyu Tuhan atas Allah Putera yang menjadi manusia Yesus dari Nazareth. Tapi sungguh Allah yang Maha Kuasa menjawab dengan lebih dari 5000 salinan naskah yang terjaga. Sungguh Ia sendiri lah yang menjaga SabdaNya dan benih-benih iman kita.

    Namun, memang apa yang disabdakanNya, mengenai Penabur Ilalang pastilah terjadi. Diantara benih-benih kebenaran, akan tumbuh ilalang penyesatan. Semoga kita selalu berpegang teguh pada Gereja Katolik yang memelihara kebenaran warta iman yang sejati.

    Tuhan menyertai Gereja Katolik.

  5. Damai sejahtera bgi mu.

    Maaf bapa Romo dan ibu, saya dalam facebook. Terus-terus di tanya mengenai Injil barnabas, dan injil yudas.
    Memangnya ada itu injil.?
    Dan kenapa tidak dipakai.? Apakah injil tersebut tidak ditulis oleh para murid. .
    Dan apa isinya.?

    [dari katolisitas: Silakan melihat tanya jawab ini – silakan klik dan klik ini]

  6. Naskah yang disebut sebagai “Injil Barnabas” muncul pertama kali pada tahun 1709 dalam bahasa Itali. Naskah itu diterima John Toland di Amsterdam dari Craemer, seorang penasihat raja Prusia. Pada tahun 1718 ‘Injil Barnabas’ mulai disebut dalam karangan John Toland yang berjudul ‘ Nazarenus or Jewish, Gentile and Mahometan Christianity’. Naskah itu disimpan di Perpustakaan Wina pada tahun 1738. “Injil Barnabas” mulai menghebohkan ketika diterbitkan terjemahannya ke dalam bahasa Inggeris oleh Lonsdale dan Laura Rag dengan diberi judul ‘The Gospel of Barnabas’ (Oxford, 1907). Pada tahun 1908 kitab ini diterjemahkan oleh Khalil Saada ke dalam bahasa Arab, dan pada akhirnya diperkenalkan ke Indonesia oleh Ahmad Shalaby. Tanya: Siapakah penulis “Injil Barnabas” dan kapan ditulis? Jawab: Beberapa ahli berpandangan bahwa penulis “ Injil Barnabas” adalah seorang biarawan yang bernama Marino. Dia adalah seorang Yahudi- Spanyol yang tinggal di Italia. Kemungkinan sebelumnya ia beragama Katolik lalu berpindah ke agama Islam dan berusaha menyesuaikan kitab Injil dengan ajaran agama Yahudi (panyangkalan Yesus sebagai Messias) dan Islam (Penonjolan Muhammad). Sesudah ia memeluk agama Islam, namanya diubah menjadi Musatafa Al- ’Arandi. Bahasa asli “Injil Barnabas” merupakan campuran dari dua dialek Italia yaitu ‘Tuska & Venezia’. Dari isi Injil Barnabas dapat dilihat pula bahwa penulisnya memiliki satu pengetahuan Al Qur ’an yang luas dan isinya memuat terjemahan secara hurufiah dari ayat-ayat Al Qur ’an. Dari pengujian kertas dan tinta yang digunakan, nampak bahwa itu ditulis pada abad ke 15 atau ke 16. Isi “Injil Barnabas” juga mencerminkan beberapa teologi Katolik yang lahir pada abad pertengahan.

    Jadi sudah jelas sekali, bahwa “Injil barnabas” adalah bukan “Injil”. karena yang membuatnya adalah seorang biarawan yang bernama Marino, yang berusaha menyesuaikan Injil dengan ajaran yahudi dan Islam.

  7. Yth Admin, sebagai seorang Muslim saya sangat menghormati kitab suci agama lain terutama Injil. Dulu sempat saya memandang sebelah mata terhadap kitab suci agama lain, namun semakin banyak saya membaca Alkitab dan Alquran, semakin jelas benang merah pesan-pesan Tuhan. Terlebih ketika saya mengetahui jalur silsilah Imam Mahdi, yang dipercaya dalam Islam sebagai Mesias Akhir Zaman, dari jalur ibundanya ternyata bersambung silsilahnya dengan Santo Petrus alaihis salam. Rasanya perbedaan ini semakin tipis saja. Demikian juga semakin banyak saya membaca surat-surat Paulus dalam Alkitab, semakin tumbuh rasa cinta dan simpati saya kepada beliau. Bagi saya Injil Barnabas menjadi tidak penting untuk dibaca, jika kita sudah bisa menerima hakikat firman Tuhan dalam kitab suci. Teriring doa dan salam dari saya, semoga kita dapat hidup rukun dalam perbedaan hingga akhir zaman.

    [Dari Katolisitas: Terima kasih atas kunjungan Anda. Ya, marilah kita bersama mengusahakan kerukunan antar umat beragama, dan saling mendoakan satu sama lain.]

  8. Augustinus Yogo on

    kalau pribadi saya sendiri, saya lebih percaya kepada Yesus Kristus karna Dia adalah jalan kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6)

    Amin, Tuhan Yesus selalu memberkati kita sampai ahkir jaman

  9. jika membaca injil barnabas memang relatif enak di baca dan kata2 yang digunakan yesus pun sangat santun di banding ke 4 injil skrg.
    sepanjang saya baca,walau tidak semua, di dalamnya menceritakan dengan runut dan tdk ada kontradiksi antar ayatnya.
    klo dibandingkan dgn ke 4 injil memang berlawanan,khususnya menyangkut sifat kemanusiaan dan ke tuhanan yesus. namun pertanyaannya bagaimna jika injil barnabas ternyata yg benar?
    pertanyaan ini tdk akan bisa terjawab sebelum injil asli berbahasa ibrani (bahasa yg digunakan yesus) ditemukan atau minimal injil salah satu murid yesus ditemukan.
    justru malah ke 4 injil byk yg berlawanan,misal ada ayat yg melarang riba(bunga) tp di ayat lain malah membolehkan. yg seperti ini harusnya di kaji juga. bukan masalah “membaca ga boleh sepotong sepotong” tapi kalau salah katakan salah,benar katakan benar.

    [dari katolisitas: Masalah menentukan otentisitas bukanlah berdasarkan enak dibaca. Apakah Anda telah membaca argumentasi di atas – silakan klik, tentang mengapa Injil Barnabas tidak masuk dalam Injil Kanonik? Kalau Anda telah membaca, silakan memberikan argumentasi.]

  10. sebenarnya yang benar yang mana ada yg mengatakan yesus itu putra allah dan ada yang mengatakan yesus itu adalah alah sendiri jadi bingung dgn agama kristen ini

    [Dari katolisitas: Silakan membaca beberapa link ini. Setelah Anda membaca dan masih bingung, silakan bertanya kembali. Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.]

  11. adanya berbagai jenis kitab yg saling membenarkan dan menyalahkan. merupakan bukti akan kepaLsuan kristen dan seluruh ajarannya tentang tuhan. karna semuanya adaLah karangan Paulus.

    [dari katolisitas: Bagi umat Katolik, Kitab Kanonik adalah jelas dan tidak ada kebingungan. Tuduhan seperti ini sudah banyak dikemukakan dan telah dibahas cukup panjang di situs ini. Kalau Anda berniat mencarinya, maka Anda akan melihat pembahasan tersebut, sehingga tidak bersikukuh pada tuduhan yang tidak mempunyai dasar yang kuat.]

  12. Antonius Wata Baran on

    Pokonya menurut saya hanya ada satu Injil,jadi kalau ada Injil lain itu Bohong,

    [dari katolisitas: Mungkin maksudnya empat Injil: Matius, Markus, Lukas, Yohanes]

  13. PETRUS PITANG on

    Kehadiran TUHAN YESUS ke dunia adalah penggenapan nubuat para nabi. Jadi dengan rendah hati saya mengajak teman-teman yang belum mengetahui lebih banyak tentang ajaran Katolik, mari dengan santun berdiskusi agar kebenaran dan kejujuran dapat menjadi pencerahan bagi kita semua. KASIH sebaggai dasar iman Kristiani karena ALLAH adalah KASIH. Oleh karenanya berdikusilah dalam KASIH karena dengan KASIH hambatan yang menghalangi hati anda dapat terjawab dalam web ini. Maju terus tim Katolisitas. TUHAN YESUS MEMBERKATI.