Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah?

84

Pendahuluan

Pernahkah anda mendengar komentar-komentar seperti: “Bunda Maria tetap perawan? Ah, tidak mungkin…” atau “Bagi saya, tidak penting Bunda Maria perawan atau bukan…” atau “Bunda Maria itu yang tetap perawan jiwanya, bukan tubuhnya…” Semua komentar ini meragukan atau mempertanyakan keperawanan Maria, atau bahkan menganggapnya tidak penting. Gereja Katolik tidak mengajarkan demikian, karena keperawanan Maria membawa arti penting, yang menunjukkan kesempurnaan kasih Allah dalam melaksanakan rencana keselamatanNya, dan bahwa Yesus yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah sungguh-sungguh Allah. Karena itu, Gereja dipanggil untuk menjaga kemurnian ajarannya, dan mencontoh teladan hidup Maria yang murni jiwa dan raganya.

Bunda Maria, tetap perawan

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah tetap perawan, sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus.[1] Semua orang Kristen percaya bahwa Bunda Maria adalah perawan sebelum melahirkan Yesus, dan banyak dari mereka percaya bahwa Maria tetap perawan pada saat melahirkan Yesus. Tetapi hanya sedikit umat gereja Kristen Protestan yang percaya bahwa Bunda Maria tetaplah perawan setelah melahirkan Yesus Kristus. Kenapa hal Maria yang tetap perawan ini menjadi penting? Karena menurut sejarah, penyangkalan terhadap Maria yang tetap perawan akan menuju kepada penyangkalan terhadap kelahiran Yesus melalui Perawan Maria (the virgin birth of Christ), yang kemudian menjadi penyangkalan akan keilahian Yesus. [2] Berikut ini kita lihat penjelasan mengenai hal keperawanan Maria menurut pengajaran Gereja Katolik, yang berdasarkan Kitab Suci, tulisan para Bapa Gereja, dan berdasarkan akal sehat. Juga kita lihat pengajaran dari para pendiri gereja Protestan, karena mereka semua sebenarnya juga mengakui keperawanan Maria.

Ayat dari Kitab Suci yang paling sering dikutip

1. Matius 13:55, Mrk 6:3 “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?”

Di dalam Alkitab, istilah “saudara” dipakai untuk menjelaskan banyak arti. Kata “saudara” memang dapat berarti saudara kandung, namun dapat juga berarti saudara seiman (Kis 21:7), saudara sebangsa (Kis 22:1), ataupun kerabat, seperti pada kitab asli bahasa Ibrani yang mengatakan Lot sebagai saudara Abraham (Kej 14:14), padahal Lot adalah keponakan Abraham.

Jadi untuk memeriksa apakah Yakobus dan Yusuf itu adalah saudara Yesus, kita melihat kepada ayat-ayat yang lain, yaitu ayat Matius 27:56 dan Markus 15:40, yang menuliskan nama-nama perempuan yang ‘melihat dari jauh’ ketika Yesus disalibkan. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yohanes, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat 27:56); atau Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda, Yoses dan Salome (Mar 15:40). Alkitab menunjukkan bahwa Maria ibu Yakobus ini tidak sama dengan Bunda Maria.[3]

Mungkin yang paling jelas adalah kutipan dari Injil Yohanes, yang menyebutkan bahwa yang hadir dekat salib Yesus adalah, Bunda Maria, saudara Bunda Maria yang juga bernama Maria, istri dari Klopas, dan Maria Magdalena (Yoh 19:25). Jadi di sini jelaslah bahwa Maria (saudara Bunda Maria) ini adalah istri Klopas/ Kleopas[4], yang adalah juga ibu dari Yakobus dan Yoses. Kesimpulannya, Yakobus dan Yoses ini bukanlah saudara kandung Yesus.

2. Mat 1:24-25: Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki …

Banyak saudara-saudari kita dari gereja lain mengartikan ayat ini bahwa Maria tidak lagi perawan setelah melahirkan Yesus. Kata kuncinya di sini adalah kata ‘sampai’. Di dalam Alkitab, kata ‘sampai‘ ini tidak selalu berarti diikuti oleh perubahan kondisi. Contoh, pada 1 Kor 15:25, dikatakan, “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.” Hal ini tidak bermaksud bahwa setelah Yesus mengalahkan musuh-Nya Ia tidak lagi menjadi Raja.

3. Luk 2:7: …dan ia (Maria) melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin…

Kata kunci di sini adalah, ‘sulung’. Sulung di sini tidak berarti bahwa Yesus kemudian mempunyai adik-adik. ‘Sulung’ di dalam Alkitab menerangkan hak istimewa dari seseorang. Contoh, pada Kitab Mazmur, Allah menyebut Daud ‘anak sulung’ (Mzm 89:28), meskipun Daud adalah anak ke-8 dari Isai (1 Sam 16).

Allah menyebut bangsa Israel disebut sebagai anak yang sulung (Kel 4:22). Kristus disebut ‘sulung’ adalah untuk menunjukkan bahwa Ia adalah ‘Israel’ yang baru, yang menjadi yang sulung dari banyak saudara (Rom 8:29), yang sulung dari segala ciptaan (Kol 1:15).

4. Mat 15:1-9 dan Yoh 19:27: Dalam Injil Matius bab 15, Yesus mengecam orang-orang Farisi yang mempersembahkan korban tetapi kemudian menelantarkan orang tua mereka. Hukum pada Perjanjian Lama seharusnya mewajibkan seorang anak untuk menanggung orang tuanya, sehingga praktek orang Farisi yang melanggar hal ini membuat Yesus menyebut mereka sebagai ‘munafik’ (Mat 15:1-7).

Dalam Yoh 19:26-27, pada saat Yesus disalibkan, Yesus memberikan Maria ibu-Nya kepada Yohanes (anak Zebedeus) rasul yang dikasihi-Nya, yang bukan saudara-Nya. Seandainya Yesus mempunyai adik-adik, seperti yang dianggap oleh gereja Protestan, perbuatan Yesus ini sungguh tidak masuk di akal. Yesus yang mengecam orang Farisi yang menelantarkan orang tuanya tidak mungkin menyebabkan saudara-Nya sendiri menelantarkan ibu-Nya. Kenyataan bahwa Yesus mempercayakan Maria kepada Yohanes adalah karena Ia tidak mempunyai saudara kandung, karena Bapa Yusuf-pun telah meninggal dunia, dan Yesus tidak mau meninggalkan ibu-Nya sebatang kara.

5. Luk 1:34: Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?”

Ayat ini sesungguhnya merupakan terjemahan dari “How shall this be, since I have no husband” (RSV) atau, “I am a virgin” (Jerusalem Bible), atau “I know not man” (Douay -Rheims terjemahan dari Vulgate). Sesungguhnya terjemahan yang benar adalah aku tidak bersuami (jika mengikuti RSV), atau aku seorang perawan (Jerusalem Bible) atau aku tidak mengenal/ berhubungan dengan laki-laki (D-R). Kalimat ini hanya masuk akal jika Maria telah memiliki kaul keperawanan -meskipun pada saat itu ia sudah bertunangan dengan Yusuf- karena, jika tidak demikian, pernyataan ini akan terdengar ‘ganjil’. Sebagai contoh, jika seseorang ditawari rokok, dan ia menjawab ‘saya tidak merokok’, maka maksudnya adalah ‘saya tidak pernah merokok’, dan bukan ‘saya tidak sedang merokok sekarang’.[5]

Pengajaran Bapa Gereja dari Gereja awal

Para Bapa Gereja secara konsisten mengajarkan Maria tetap Perawan (Perpetual Virginity of Mary). Sejarah membuktikan bahwa pengajaran tentang keperawanan Maria ini telah berakar dari sejak Gereja awal, seperti pengajaran dari:

1. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233), Hilarius dari Poiters (m. 367) dan Gregorius Nissa (m. 394).[6]

2. St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya (Ever Virgin)[7] dalam bukunya Discourses Against the Arians.

3. St. Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf. Ia menulis, “…You say that Mary did nor continue a virgin: I claim still more, that Joseph himself on account of Mary was (also) a virgin, so that from wedlock a virgin son was born.”[8]

4. St. Agustinus dan St. Ambrosius (akhir abad ke- 4), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya.[9] Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).[10] Roh Kudus yang  membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.

St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan.”[11]

4. St. Petrus Kristologus (406- 450), St. Paus Leo Agung (440-461)dan St. Yohanes Damaskus (676- 749) juga mengatakan hal yang sama.[12]

5. Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”.[13]

Konsili ini merangkum ajaran-ajaran penting berkaitan dengan bahwa Yesus, adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Termasuk dalam ajaran ini adalah tentang keperawanan Maria.

Pengajaran Magisterium Gereja Katolik

Doktrin dari keperawanan Maria, sebelum, pada saat dan sesudah kelahiran Yesus dinyatakan secara defintif oleh Paus St. Martin I di Sinode Lateran tahun 649, yang berbunyi:

The blessed ever-virginal and immaculate Mary conceived, without seed, by the Holy Spirit and without loss of integrity brought Him forth, and after His birth preserved her virginity inviolate.”[14].

Terjemahannya:

Maria yang tetap perawan dan tak bernoda yang terberkati, mengandung tanpa benih manusia, oleh Roh Kudus, dan tanpa kehilangan keutuhan melahirkan Dia dan sesudahnya tetap perawan (keperawanannya tidak ‘rusak’).

Maka, seperti Kritus yang bangkit dengan tubuh-Nya dapat menembus pintu-pintu rumah yang terkunci (lihat Yoh 20: 26), maka pada saat kelahiran-Nya, Ia pun lahir dengan tidak merusak keperawanan ibu-Nya, yaitu Bunda Maria.

Pengajaran dari para pendiri gereja Protestan

Mungkin banyak dari saudara-saudari yang kita yang beragama Kristen non-Katolik tidak mengetahui bahwa para pendiri gereja Protestan awal juga mengajarkan mengenai hal Maria yang tetap perawan, seperti berikut ini:

1. Martin Luther (1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. Kristus, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’).”[15]

2. John Calvin (1509-1564): “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)… Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ‘sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”[16]

John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.[17]

3. Ulrich Zwingli (1484-1531): “Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (‘forever remained a pure, intact Virgin’).”[18]

4. John Wesley (1703-1791)menulis: “Saya percaya bahwa Dia (Tuhan Yesus) telah menjadi manusia, menyatukan kemanusiaan dengan keilahian dalam satu Pribadi; dikandung oleh satu kuasa Roh-Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang setelah melahirkan-Nya tetap murni dan tetap perawan tak bernoda.”[19]

Pentingnya Keperawanan Maria bagi Gereja

Keperawanan Maria berakibat penting pada Gereja karena Maria adalah ‘model’/ teladan bagi Gereja. Misteri keperawanan Maria dilanjutkan oleh Gereja dalam dua hal. Yang pertama Gereja menjaga kemurnian pengajarannya terhadap ajaran yang menyimpang (“heresy“). Kedua, Gereja memberikan tempat khusus pada penerapan ‘keperawanan’ secara jasmani, sepanjang sejarah Gereja.[20] Keperawanan jasmani ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan arti perkawinan, tetapi untuk menunjukkan kesempurnaan sesuai dengan teladan yang dicontohkan oleh Yesus sendiri yang mempersembahkan seluruh tubuh dan jiwa untuk pemenuhan rencana keselamatan Allah.

Roh Kudus yang bekerja menaungi Bunda Maria untuk mengandung dan melahirkan Yesus itu juga bekerja menaungi kita saat kita menerima Sakramen Pembaptisan. Dengan demikian, Kristus juga menjadikan Gereja-Nya sebagai Perawan, sebagaimana Bunda Maria adalah Perawan.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa pengajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria yang tetap Perawan memiliki dasar yang kuat. Sebagai orang Katolik kitapun harus meyakini tentang keperawanan Bunda Maria ini, dan mensyukuri teladan kemurniannya. Maka, janganlah kita sampai meragukan keperawanan Maria, hanya karena kita berpikir itu tidaklah mungkin dari kacamata kita sebagai manusia. Karena tiada yang mustahil bagi Allah, apalagi jika itu menyangkut segala pernyataan tentang Diri-Nya yang kudus dan penuh kasih. Dengan perbuatan-Nya menguduskan Maria sedemikian rupa, Ia menunjukkan betapa kasih-Nya yang sempurna tidak meninggalkan sedikitpun cacat dan noda pada kemurnian Bunda Maria. Bunda Maria menjadi teladan bagi Gereja yang menjunjung tinggi nilai kemurnian tubuh dan jiwa dalam mengabdi Tuhan, dan memberi contoh bagi kita bagaimana memberikan diri seutuhnya bagi rencana Keselamatan Allah.



CATATAN KAKI:
  1. Lihat Michael O’Caroll C.S. Sp, Theotokos, A Theological Encyclopedia of the Blessed Virgin Mary, ( Michael Glazier Inc. Dublin, Ireland, reprint in 1982 in the USA), p. 357. “Mary of Nazareth conceived her Son Jesus while remaining a virgin; her virginity was not altered by childbirth; she remained a virgin in her marriage with St. Joseph.” Jadi, Maria tetap perawan sebelum, pada saat dan setelah melahirkan Yesus (virginitas ante partum, in partu, post partum) []
  2. Robert Payesko, The Truth about Mary, A Summary of the Trilogy, (Queenship Publishing Company, CA, 1998), p.110 []
  3. Maria ibu Yakobus dan Yoses (Yusuf) dicatat dalam Alkitab sebagai salah satu wanita yang menyaksikan penyaliban Kristus (Mt 25:56; Mk 15:40) dan kubur Yesus yang kosong/ kebangkitan Yesus (Mk 16:1; Lk 24:10) []
  4. Kleopas adalah salah satu dari murid-murid Yesus yang berjalan ke Emmaus dan mengalami penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya (Luk 24:18) []
  5. Lihat Rene Laurentine, A Short Treatise on the Virgin Mary, (Washington, New Jersey: AMI Press, 1991),p 285 []
  6. Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume II, p. 2-155 []
  7. St. Athanasius, Discourses Against the Arians, 2, 70, Jurgens, Vol.1, n. 767a []
  8. St. Jerome, The Perpetual Virginity of Blessed Mary, Chap 21, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers (Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, original print by Herder and Herder, 1966) p. 358 []
  9. Lihat St. Agustinus, Sermons, 186, Heresies, 56; Jurgens, vol.3, n. 1518 dan 1974d. []
  10. St. Agustinus, Letters no. 137., seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers, p. 360. []
  11. St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005 []
  12. St Petrus Kristologus, “The Virgin conceives, the Virgin brings forth her child, and she remains a virgin.” (Sermons, no. 117); St Leo Agung, “…a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.” []
  13. Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume II, Mary in Scripture and the Historic of Christian Faith, (Queenship Publishing Company, CA, 1998), p.2-155,

    Salah satu butir pengajaran untuk menjawab ajaran yang keliru tentang Bunda Maria di dalam Konsili Konstantinopel II, butir 6, “If anyone declares that it can be only inexactly and not truly said that the holy and glorious ever-virgin Mary is the mother of God, or says that she is so only in some relative way, considering that she bore a mere man and that God the Word was not made into human flesh in her, holding rather that the nativity of a man from her was referred, as they say, to God the Word as he was with the man who came into being; if anyone misrepresents the holy synod of Chalcedon, alleging that it claimed that the virgin was the mother of God only according to that heretical understanding which the blasphemous Theodore put forward; or if anyone says that she is the mother of a man or the Christ-bearer, that is the mother of Christ, suggesting that Christ is not God; and does not formally confess that she is properly and truly the mother of God, because he who before all ages was born of the Father, God the Word, has been made into human flesh in these latter days and has been born to her, and it was in this religious understanding that the holy synod of Chalcedon formally stated its belief that she was the mother of God: let him be anathema.” []

  14. Denzinger’s Enchiridion Symbolorum (DS, 256 []
  15. Diterjemahkan dari Martin Luther, Works of Luther, Vol. 11, p. 319-320; Vol. 6, p. 510. []
  16. Diterjemahkan dari John Calvin, Sermon on Matthew, 1:22-25, published in 1562. []
  17. Lihat Bernard Leeming, “Protestants and Our Lady, Marian Library Studies, January 1967, p.9. []
  18. Diterjemahkan dari Zwingli Opera, Vol. 1, p. 424. []
  19. Diterjemahkan dari John Wesley, Letter to a Roman Catholic, July 18, 1749. []
  20. Lihat Hugo Rahner, SJ., Our Lady and the Church, (Zaccheus Press, 2004, reprint, original print by Tyrolia- Verlag, Innsbruck, Vienna, 1961), p. 32-33 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

84 Comments

  1. Christian Renhard on

    Shalom.
    di sini saya hanya ingin memberikan sedikit pandangan bahwa Maria yang merupakan ibunda dari Yesus Kristus tidak seumur hidupnya menjadi seorang perawan. Karena Yesus sendiri mempunyai saudara-saudari jasmani yang tentunya dilahirkan oleh ibuNya Maria seperti yang dicatat dalam Injil Matius 13:55-56 dan Lukas 8:19-21.

    [dari Katolisitas: kami mengundang Anda untuk membaca dua buah artikel berikut ini, silakan klik: "Yesus dan sanak saudara-Nya Luk 8:19-21" dan "Apakah Yesus mempunyai saudara-saudari kandung?"]

    • Christian Renhard on

      New Catholic Encyclopedia (1967, Jil. IX, hlm. 337) mengakui mengenai kata-kata Yunani a·del·foi′ dan a·del·fai′, yang digunakan dalam Matius 13:55, 56, bahwa kata-kata ini ”mempunyai arti saudara laki-laki dan saudara perempuan kandung dalam dunia yang berbahasa Yunani pada zaman Penginjilan dan secara wajar akan diterima dalam makna ini oleh para pembaca Yunaninya.

      • Shalom Christian Renhard,

        Kata istilah “saudara/ brother/ brethern” (dalam bahasa Yunani: adelphos/ adelphoi) mempunyai arti yang luas di dalam Kitab Suci. Adelphos/ adelphoi itu memang dapat berarti saudara kandung, tetapi juga dapat berarti kerabat, saudara seiman, ataupun saudara sebangsa.

        Terus terang, saya tidak tahu buku mana yang Anda kutip. Anda tidak menyertakan siapakah yang menyusun dan menerbitkan buku itu, dan apakah di sana ada nihil obstat dan imprimatur-nya (tanda bahwa apa yang ditulis di sana telah diperiksa dan disetujui oleh pihak otoritas Gereja Katolik), dan Anda tidak menyertakan kutipan yang lengkap terhadap artikel tentang Mat 13:55-56 tersebut. Sebab pengutipan yang hanya sebagian akan mengarah kepada kesimpulan yang keliru.

        Sebab dalam Catholic Encyclopedia yang ada di sini, silakan klik, jelas tidak dikatakan demikian. Demikian pula dalam artikel “Brethern of the Lord” di situs Catholic Answers, yang sering mengutip New Catholic Encyclopedia, juga tidak mengatakan demikian, silakan klik.

        Kami di Katolisitas, juga sudah pernah membahas tentang hal ini, yaitu (silakan klik di judul berikut):
        Apakah Yesus mempunyai saudara-saudari kandung?
        Yesus dan sanak saudara-Nya

        Silakan Anda membaca terlebih dahulu tulisan pada link-link di atas, sebelum melanjutkan diskusi, jika memang Anda tertarik dengan topik ini.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Dear katolisitas,
    ada hal yg mau saya tanyakan..
    saya penasaran mengapa Bunda Maria selalu disebut perawan? Bukankah Yesus, Maria & Yusuf jg disebut Keluarga Kudus Nazareth sehingga dapat disimpulkan bahwa Maria & Yusuf sudah menikah..
    thanks

    [dari katolisitas: Silakan melihat link ini - silakan klik]

  3. Dengan mengimani bunda maria menikah dan hidup selayaknya manusia biasa setelah yesus lahir, berarti orang tersebut juga mengimani bahwa rasul paulus, yakobus, yohanes, petrus dll.. hidup seperti manusia biasa lagi, yg menikah dan meninggalkan tanggung jawab kerasulan mereka dan melepaskan hidup kudus, setelah yesus diangkat kesurga dan menulis surat dalam perjanjian baru..

    Sungguh tidak masuk akal, jika para rasul dan murid tuhan yesus saja berusaha mengejar hidup kudus disiksa sampai ajal menjemput…. sedangkan ibunya tuhan yesus sendiri malah meninggalkan hidup kudus??..

    Kecuali kalau orang tsb menolak kesaksian yg diberikan bapa2 suci pada masa gereja perdana..

    Salam bunda maria, perawan yg amat suci..

    Shalom

    • Shalom Yosef,

      Para rasul telah menjalankan kaul kemurnian sebelum penderitaan Yesus, seperti yang dikemukakan oleh St. Petrus “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” (Mat 19:27). Dan Yesus menjawab “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, atau istri (istri termasuk dalam terjemahan Douay Rheims, Vulgate and King James Bible) anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:29). Meninggalkan segalanya dan istri disini, ditafsirkan sebagai tindakan untuk tidak melakukan lagi hubungan badan.

      Petrus memang menikah, namun setelah mengikuti Kristus ia tidak lagi hidup sebagai suami istri dengan istrinya, melainkan sebagai saudara. St. Klemens dari Aleksandria (195) menulis tentang hal ini demikian, “Petrus dan Filipus mempunyai anak-anak, dan Filipus menyerahkan anak perempuannya untuk menikah. … Bagaimanapun juga, para rasul lainnya, dalam keselarasan dengan pelayanan mereka yang khusus, mempersembahkan diri mereka sepenuhnya untuk mengabarkan Injil tanpa ada pengalih-perhatian dalam bentuk apapun. Pasangan hidup mereka turut pergi bersama-sama mereka dalam pelayanan, tetapi bukan sebagai isteri, melainkan sebagai saudara perempuan, supaya mereka bisa turut melayani dan mengabarkan Injil kepada para wanita dan ibu rumah tangga.” (Terjemahan dari tulisan St. Clement of Alexandria, Ante Nicene Fathers 2:390-391 E)

      Ya, maka para Rasul memang berjuang untuk hidup kudus hingga akhir hayat mereka. Hampir semua dari para Rasul itu wafat sebagai martir, mereka dianiaya karena iman mereka, namun setia sampai akhir. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Demikian pula Bunda Maria, yang juga setia melaksanakan kehendak Tuhan dan hidup kudus sampai akhir hidupnya. Ia tidak mempunyai anak-anak lain selain Yesus. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Untuk umat Kristiani, Markus 7 :6-8 Jawab Yesus kepada mereka:” Benarlah nubuat Tesaya tentang kamu,hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliaakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yangmereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”
        Markus 7:9 Yesus berkata pula kepada mereka(umat Kristiani): Sungguh pandai kamumengesampingkan perintah Allah, sepaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.

        • Shalom Petrus,

          Dalam mengartikan ayat Kitab Suci, mari jangan melepaskan dari konteksnya. Dalam hal ini adalah, kepada siapa Yesus menujukan perkataan-Nya. Kalau kita membaca dengan teliti, maka kita mengetahui bahwa perkataan Yesus itu ditujukan kepada orang-orang Farisi yang mengikuti ajaran para penatua mereka (yang juga orang Farisi). Mereka membuat dan mengajarkan perintah mereka sendiri, bukan perintah Tuhan. Oleh karena itu, ajaran itu disebut Yesus sebagai peraturan adat istiadat manusia.

          Perkataan Yesus ini juga berlaku kepada para pengajar di masa ini, yang mengajarkan pahamnya menurut hikmatnya sendiri, namun tidak bersumber pada Sabda Allah.

          Namun hal ini tidak untuk dihubungkan dengan Tradisi Suci para Rasul, karena yang diajarkan oleh para Rasul, bersumber dari Sabda Allah, dan karena itu sesuai dengan Kitab Suci. Ajaran tentang Bunda Maria merupakan salah satu contoh dari ajaran Tradisi Suci, dan ini bukan berasal dari adat istiadat manusia, namun dari wahyu ilahi.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Mengenai Bunda Maria, menurut saya bukan hal yang harus diperdebatkan apakah setelah Yesus dilahirkan perawan atau tidak ataukah meahirkan anak-anak lagi dari Yusup suaminya,
    hal yang harus direnungkan adalah bahwa Dia ( Bunda Maria ) yang ditentukan Allah sejak awal sejak kutuk ditimpakan kepada Adam dan Hawa dan sang Iblis, bahwa oleh keturunan perempuan iblis kepala iblis akan diremukkan…
    nilai yang terpenting dari kisah awal penciptaan, nubuatan para Nabi, dan perjanjian Allah dengan Abraham semuanya adalah janji keselamatan untuk manusia melalui kehadiran Yesus melalui rahim Bunda Maria yg saat itu oleh Allah dilihat sebagai wanita yang kudus.
    kita wajib mencontoh keteladanan Maria, yng taat atas kehendak Allah walaupun saat itu sebagai manusia biasa pasti gusar karena maria belum menikah (harus menghadapi peraturan taurat yahudi yang ketat dan bisa saja saat itu pikirannya adalah dihukum mati) tapi dia tunduk atas sang penciptanya. dia percaya sepenuhnya kepada Allah.
    Maria adalah seorang yang istimewa di mata Tuhan< jadi menurut saya tidak penting dia kemudian bagaimana. yang alkitab tunjukkan point untuk kita lihat dan pelajari adalah proses pengutusan sang juruslamat, dan pengajaran dan apa yang Allah ingin kita perbuat untuk perkenanan Allah atas hidup kita melalui pengajaran Yesus, dan murid.
    dan kita diminta oleh Yesus untuk menjadi muridNya, untuk itulah rasul di utus dan diberkati denganRoh Kudus.
    murid berarti mau belajar, taat. murid berarti berani mengambil sikap merendahkan diri untuk mau diajar, menyadari bahwa kita hidup dibawah dosa dan mau dengan belajar untuk berjuang melepaskan diri dari kuasa dosa. dengan cara belajar menyangkal diri dan berguru kepada pengajaran Yesus.
    Tuhan Memberkati

    • Shalom Tita,

      Para Bapa Gereja memang tidak memperdebatkan keperawanan Maria, sebelum, pada saat dan setelah melahirkan Tuhan Yesus, karena mereka meyakininya demikian. Para Bapa Gereja menghubungkan keperawanan Bunda Maria selamanya sebagai hal yang tak terpisahkan dengan peran-nya sebagai Tabut Perjanjian Baru, yang memang dikhususkan bagi Allah. Sebab bahkan Tuhan mensyaratkan begitu banyak hal untuk Tabut Perjanjian Lama, dan mengkhususkannya hanya untuk menyimpan manna, loh batu dan tongkat Harun, yang kesemuanya merupakan gambaran Kristus, dan tidak ada yang lain; maka, sudah selayaknya Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru (yang lebih sempurna dari Tabut Perjanjian Lama) mengandung Kristus, dan tidak ada yang lain. Dasar dari Kitab Suci dan Tradisi Suci tentang keperawanan Bunda Maria selamanya ini, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Kesempurnaan iman Maria sebagai teladan iman Gereja, bukan hanya didasari oleh iman Maria sesaat saja pada saat menerima Kabar Gembira dari malaikat, tetapi kesetiaannya untuk memelihara ketaatan imannya dan kesatuan kasihnya dengan Kristus sampai sepanjang hidup-Nya. Yang meyakini hal keperawanan Maria ini tidak hanya para Bapa Gereja, tetapi juga bahkan para tokoh pendiri gereja-gereja Protestan.

      Maka memang yang terpenting bagi kita adalah meniru teladan kerendahan hati dan ketaatan Bunda Maria. Hanya dengan sikap kerendahan hati ini kita dapat menerima pengajaran Magisterium Gereja, dan tidak berkeras dengan pandangan sendiri, tentang keperawanan Maria. Sebab pada akhirnya keperawanan Maria ini sendiri mendukung ajaran tentang ke-Allahan Yesus, yang sebagai Allah tidak mungkin merusak keutuhan ibu-Nya sendiri, di saat awal kedatangan-Nya ke dunia. Juga keperawanan Maria menunjukkan betapa besar dan sempurnanya rahmat dan karunia Tuhan yang dapat memampukan manusia untuk menjaga keutuhan tubuh dan jiwanya, demi kasihnya kepada Tuhan telah mengasihi dan memilihnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Pendapat Tita yang selalu menekankan ” tidak penting” ” yang penting ” memberi kesan ” sok pinter” “sok hebat ” Saya sangat tidak setuju hal itu. Shalom.

      [Dari Katolisitas: Mari janganlah mempunyai praduga yang negatif terhadap sesama kita. Mungkin bukan maksud Tita untuk sok atau sejenisnya, tetapi memang demikianlah menurut pendapatnya. Di situs Katolisitas kami berusaha menyampaikan apa yang menjadi ajaran Gereja Katolik, dan selanjutnya terserah kepada para pembaca bagaimana menyikapinya.]

  5. salam.

    Saya setuju dengan pendapat bapak yang mengatakan bahwa kata ‘saudara’ bisa rancu artinya, bisa saudara kandung, bisa saudara seiman, saudara sepupu. Namun mari kita perhatikan konteks Matius 13:55 “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?” Ayat ini dimulai dengan ‘ayah’ Yesus yaitu Yusuf kemudian disusul dengan penyebutan nama bunda Maria. Berarti hal ini sudah masuk dalam ranah keluarga. Kemudian disebutkanlah nama Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas, bukankah itu menunjukkan bahwa mereka adalah 1 keluarga. Orang2 g mungkin menyebut nama Yakobus,dll bersamaan dengan nama bunda Maria dan Yusuf, kalau mereka bukan anak2 Yusuf dan Maria. Kalau memang Yakobus, dll adalah bukan saudara kandung melainkan (mungkin) sepupu, keponakan, maka orang-orang juga harus menyebutkan nama2 saudara2 Yesus yang lain, jdi bukn hanya nama Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas yang disebutkan tpi seharusnya semua dong. Saya yakin Yusuf dan Maria punya keluarga besar.

    terimakasih

    [Dari Katolisitas: Itu adalah pandangan Anda pribadi. Namun Kitab Suci sesungguhnya telah menunjukkan kepada kita bahwa Yakobus dan Yusuf, bukanlah saudara kandung Yesus. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik]

  6. Shalom,

    Tidak semua manusia di panggil TUHAN YESUS untuk menjadi muridnya…. Dan tidak kepada semua manusia TUHAN YESUS memberikan BundaNYA…. Semua karena kehendakNYA…Syukur kepada ALLAH, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

    TUHAN MEMBERKATI.

    • Shalom Prasetyo,

      Sebenarnya Yesus menginginkan seluruh umat manusia menjadi murid-Nya, sehingga sebelum naik ke Sorga, Dia memberikan amanat agung “Karena itu pergilah, dan jadikanlah semua bangsa muridku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:19-20) Dan Yesus memang memberikan Bunda-Nya kepada para murid atau dengan kata lain Maria menjadi Bunda seluruh umat beriman. Namun, kalau kita melihat bahwa Tuhan memberikan Yesus kepada semua orang dan karena persatuan Bunda Maria dengan Yesus, maka Bunda Maria juga diberikan kepada semua orang, sehingga dia juga disebut Bunda segala bangsa.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Yth. Pak Stef,

        Bagaimana dengan: AKU yang memilihmu menjadi muridKU… bukan kamu yang memilihKU… saya lupa ayat kitab sucinya.

        Terima Kasih.

        • Shalom Prasetyo,

          Memang benar, Kristus mengatakan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yoh 15:16). Ayat itu menyampaikan fakta, bahwa memang Kristuslah yang memilih para rasul-Nya, dan bukan para rasul itu yang memilih Kristus sebagai guru mereka, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang yang Yahudi yang memilih rabi/ guru mereka.

          Kita orang percaya memang dipilih oleh Kristus, dan jika sampai kita percaya, bukan semata karena usaha ataupun kehendak kita sendiri, tetapi karena rahmat kasih karunia Tuhan. Sehingga di sini ada kerjasama antara rahmat Tuhan dan kehendak kita sebagai manusia. Sebab dari pihak Allah, Allah menghendaki agar “semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1Tim 2:4). Namun Allah juga mengetahui walaupun Allah menghendaki demikian, namun ada sebagian dari umat manusia yang akan menolak rencana keselamatan Allah ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa mereka yang bekerjasama dengan kehendak Tuhan ini adalah mereka yang ‘dipilih’, sedangkan yang menolaknya, adalah yang tidak termasuk ke dalam bilangan orang-orang yang dipilih.

          Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Silakan membaca terlebih dahulu di artikel tersebut.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Pak Stef Bu Inggrid
        Sungguh saya merasa risih bila kita mempersoalkan BundaMaria. Dia hanyalah bagian dari sejarah keselamatan yg dimulai dari adam dan ditutup oleh Yesus dimana oleh satu orang kita jatuh dlm dosa dan oleh satu orang jugalah kita memperoleh keselamatan yaitu Yesus Kristus.BundaMaria disebut bunda bangsa bunda Allah bunda rosario dll itu tdklah bgt penting. Pengenalan kita akan Kristus dan kryaNya dlm hidup kita itu yg terutama dlm hidup kekristenan kita, yg lain cuma tambahan sekedar pengetahuan yg seringkali sgt meragukan spt Maria diangkat ke surga padahal jelas ia meninggal dan ada makamnya tdk seperti elia atau henokh. GBU

        • Shalom Budi Yoga,

          Kerisihan Anda sebenarnya mungkin menjadi cermin dari pandangan Anda bahwa Bunda Maria dan para santo-santa adalah saingan Yesus. Umat Katolik tidak menganggap bahwa Bunda Maria adalah saingan Yesus, namun sebagai Bunda Allah, yang telah diberi misi oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah, yang telah menunjukkan kesetiaan untuk melakukan perintah Allah, dan yang telah diberikan oleh Yesus kepada seluruh umat beriman. Santo-santa juga dianggap sebagai rekan sekerja Kristus, yang telah membuktikan bahwa mereka setia untuk mengasihi Kristus dalam derajat yang sungguh luar biasa. Jauh dari risih, sesungguhnya kehidupan Bunda Maria dan santo santa justru dapat memberikan inspirasi kepada umat beriman untuk semakin mengasihi Kristus. Umat beriman Katolik tahu membedakan bahwa mereka semua adalah ciptaan dan Yesus adalah Allah. Umat Katolik mengasihi Yesus, Bunda Maria dan santo-santa, seperti seorang istri mengasihi suaminya beserta dengan ibu dari suaminya dan seluruh keluarga suaminya. Dengan demikian, sang istri menerima semua orang yang dikasihi oleh suaminya. Saya yakin suami yang normal akan lebih mengasihi istri yang bersikap demikian daripada istri yang hanya mengasihi suaminya namun tidak mau mengasihi ibu mertua dan semua anggota keluarga suaminya. Itulah yang sebenarnya dilakukan oleh umat Katolik dengan menghormati Bunda Maria dan santo-santa, yaitu mengasihi Yesus dan semua yang dikasihi oleh Yesus. Dan ini bukan masalah yang remeh, karena mengasihi anggota keluarga Yesus adalah merupakan refleksi akan kasih kita kepada Yesus.

          Tentang Bunda Maria diangkat ke Sorga sebenarnya tidak ada hubungannya dengan makam Bunda Maria, karena Bunda Maria dapat saja meninggal terlebih dahulu mengikuti jejak Puteranya, dan kemudian baru diangkat. Silakan melihat FAQ ini – silakan klik. Semoga jawaban singkat ini dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

        • “Perawan yang mulia, engkau sungguh lebih besar daripada kebesaran apapun.. Jika aku berkata bahwa malaikat dan malaikat agung adalah besar – tapi engkau lebih besar dari mereka, karena mereka melayani Ia yang berdiam di rahimmu dengan gemetar, dan mereka tidak berani berbicara dalam kehadiran-Nya, sementara engkau berbicara dengan bebas kepada-Nya.”

          – St. Athanasius of Alexandria –

          “Jangan pernah takut untuk mengasihi Perawan Yang terberkati secara berlebihan. Anda tidak pernah bisa mencintainya lebih dari yang Yesus lakukan”

          – St. Maximilian Kolbe -

          • Apa yang dikatakan oleh santo Athanasius ini merupakan jawaban yang sangat sederhana dan paling tepat untuk mereka yang meragukan dan menentang ajaran suci gereja katolik tentang Maria.

  7. budiaroyotejo on

    Perbedaan itu timbul karena persepsi atas kata “saudara- saudara(nya)” yg ada di alkitab.
    Namun referensi2 individu /kelompok dalam sejarah telah menghasilkan ketetapan Maria perawan sedang persepsi modern/ sekarang didasarkan pada pendapat masing2 individu / kelompok yg menghasilkan Maria punya anak selain Yesus. ….

    [Dari Katolisitas: Tentang topik, Apakah Yesus mempunyai saudara/i kandung?, silakan klik di sini]

  8. hamba tidak berguna on

    IBU MARIA

    Kita semua tahu siapa ibu Maria, dia hanya seorang hamba dan manusia biasa, yang bukan berasal dari keturunan Daud, tetapi suaminya : Yusuf yang merupakan keturunan langsung dari Daud.
    Lihat Matius 1 : 1 – 17

    Lukas 1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

    Rahim Maria dipinjam Tuhan untuk melahirkan Yesus, yang adalah Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia, untuk menebus dosa manusia.

    Matius 1:18 – 25
    18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
    19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
    20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
    21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
    22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
    23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.
    24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
    25 tetapi (Yusuf) tidak bersetubuh dengan dia (Maria) sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

    1. Apakah status dan hak Yusuf setelah Yesus lahir ? Tetap sebagai suami Maria kan ?

    2. Yusuf tidak menceraikan Maria sampai akhir hidupnya / pisah ranjang hidup sebagai suami istri.

    3. Apakah Yusuf sebagai suami tidak ingin bersetubuh dengan istrinya ? Setelah Yesus lahir.

    4. Apakah selama 30 tahun mengasuh dan membesarkan Yesus, di dalam Keluarga Kudus itu, Yusuf tidak pernah birahi dan menghampiri Maria ? Bukankah Maria istri yang sah dari Yusuf ?

    5. Mungkinkah Yusuf bukan laki-laki sejati, tidak punya nafsu dan birahi ?

    6. Apakah Maria sudah kehilangan nafsu birahi terhadap suaminya (Yusuf) ?

    7. Apakah mereka (Yusuf dan Maria) tidak normal sebagai pasangan suami istri ?

    8. Anda sudah berkeluarga ? Dan hidup sebagai suami istri ? Tidak pernahkah SEX menjadi keinginan dan kebutuhan Anda ?

    9. Tahukah Anda bahwa Maria dan Yusuf memiliki anak selain Yesus ?

    Mari kita lihat di dalam Alkitab, pada ke empat Injil tertulis jelas :

    Matius 12:46 – 47
    46 Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia.
    47 Maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”
    Markus 3:31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.

    Lukas 8:19 – 20 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.”

    Yohanes 7 : 3 – 6
    3 Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: “Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan.
    4 Sebab tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.”
    5 Sebab saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya.
    6 Maka jawab Yesus kepada mereka: “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu.

    Jikalau Anda sebagai Yusuf, yang memang sudah bertunangan dan ingin menikahi Maria, yang cantik dan elok paras dan baik hati nya, tidakkah ingin bersetubuh dan memiliki keturunan sendiri ? Tidak perlu iman dan pengetahuan tafsir kitab suci yang tinggi untuk membaca tulisan dibawah ini.

    Matius 1 : 25 tetapi (Yusuf) tidak bersetubuh dengan dia (Maria) sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

    Tentulah Yusuf menepati janjinya kepada malaikat Allah untuk tidak bersetubuh dengan Maria, sampai Maria melahirkan Yesus yang dikandung dari Roh Kudus.

    Tapi apakah setelah Yesus lahir, Yusuf kebablasan menepati janjinya ? Sehingga Yusuf tidak berani bersetubuh dengan Maria ? Tentu tidak bukan …

    Buka hati dan pikiran kita akan kenyataan bahwa Maria hanya manusia biasa, sama seperti kita yang dipakai Tuhan sebagai Alat untuk menyatakan kemuliaanNya.

    Maria saat ini sudah berada di Sorga bersama Tuhan, dan kedudukannya tidak lebih tinggi daripada Tuhan atau sama dengan Tuhan. Tuhan bisa menciptakan dan melahirkan Yesus dari batu sekalipun, tapi akan terlihat aneh bukan jika Yesus lahir dari batu …

    Maria sama seperti orang-orang lain yang dipakai Tuhan secara luar biasa : Nuh, Henokh, Abraham, Musa, Yakub, Yusuf, Yunus, Hosea, Daud, Salomo, Daniel, Yesaya, Elia dan masih banyak lagi …

    • Shalom Hamba,

      Terima kasih atas tanggapan anda. Sebenarnya topik tentang keperawanan Maria telah dibahas begitu panjang lebar di situs ini, baik melalui artikel maupun tanya jawab dan dialog. Kami juga telah menunjukkan bahwa pendiri gereja-gereja non-Katolik, seperti Martin Luther, John Calvin, Zwingli juga percaya akan keperawanan Maria, termasuk mereka percaya bahwa Maria tetap perawan setelah Yesus lahir. Pernahkah anda bertanya dan mencoba melihat dari sisi yang lain, mengapa para pendiri gereja-gereja non-Katolik mempercayai keperawanan Maria dan setelah lima abad kemudian banyak pengikutnya yang tidak percaya, padahal semuanya menggunakan sumber yang sama, yaitu Kitab Suci?

      Beberapa pertanyaan yang anda ajukan: Apakah rahim maria hanya sekedar dipinjam? Silakan melihat jawabannya di sini – silakan klik. Tentang St. Yusuf, memang di Kitab Suci ia tidak lagi dibicarakan setelah kisah Yesus diketemukan di Bait Allah pada usia 12 tahun. St. Yusuf sudah tidak disebutkan pada waktu Yesus mengajar, ataupun pada saat Ia wafat di salib. Maka tradisi mengatakan St. Yusuf meninggal dunia sebelum Yesus mulai mengajar. Sebab tidak mungkin Yesus (pada saat terakhirnya di kayu salib) memasrahkan Bunda Maria kepada Yohanes murid yang dikasihi-Nya, jika St. Yusuf masih hidup. Sebelum meninggal tentu saja Yusuf adalah suami Maria. Namun, pertanyaannya adalah apakah kemudian setelah melahirkan Yesus, maka Yusuf dan Maria berhubungan sebagaimana layaknya suami istri? Nah, di sinilah kita mempunyai perbedaan pendapat.

      Bagi anda, karena Yusuf sebagai suami Maria, maka Yusuf mempunyai hak untuk dapat berhubungan dengan Maria sebagaimana layaknya seorang suami dengan istri. Dan bagi anda keinginan Yusuf untuk berhubungan tidak mungkin diatasi dan harus dipenuhi, karena sebagai laki-laki normal, Yusuf mempunyai nafsu dan birahi yang harus dipenuhi, demikian juga Maria anda anggap mempunyai nafsu birahi. Kalau mereka tidak menyalurkan nafsu birahi mereka, maka mereka adalah pasangan yang tidak normal. Pasangan yang normal adalah pasangan seperti layaknya keluarga-keluarga yang lain, yang dapat menyalurkan nafsu birahi. Lebih lanjut anda memberikan argumentasi bahwa Maria dan Yusuf mempunyai anak selain Yesus.

      Untuk menjawab dasar-dasar pemikiran anda, maka berikut ini adalah argumentasi yang dapat saya berikan. Pertama, Maria dan Yusuf memang bukanlah pasangan yang normal, seperti layaknya keluarga-keluarga di dunia. Dalam sejarah umat manusia, tidak pernah ada orang tua mengemban tugas yang tersuci, yaitu menjadi Bunda Allah dan menjadi ayah angkat Sang Penebus. Ada beberapa orang tua yang mempunyai anak dan kemudian anak tersebut menjadi nabi, raja, imam, atau mempunyai kedudukan yang tinggi, namun tidak ada yang pernah mempunyai kedudukan unik seperti Maria dan Yusuf, atau dengan kata lain, dari seluruh keluarga baik dari keluarga pertama di dunia sampai keluarga yang terakhir di dunia, tidak ada yang seperti Maria dan Yusuf. Mereka secara khusus dipilih oleh Allah untuk mengemban misi khusus. Jadi, seharusnya tidak ada orang yang tidak setuju sampai pada tahap ini.

      Kedua, Dalam setiap misi khusus yang diemban manusia, maka Tuhan senantiasa memberikan rahmat khusus untuk menjalankan misi tersebut. Kita dapat melihat bagaimana para nabi diberikan rahmat yang khusus oleh Allah, sehingga mereka dapat menjalankan misi yang diserahkan kepada mereka dengan baik. Demikian juga dengan para pendiri ordo, seperti yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta yang diberikan rahmat khusus untuk dapat melayani orang-orang yang menderita. Kita juga melihat ada orang seperti St. Damien dari Molokai, yang memberikan dirinya seutuhnya untuk merawat orang-orang yang menderita kusta, sampai akhirnya dia sendiri meninggal karena menderita kusta. Lihat juga orang seperti St. Maximilian Kolbe, yang memberikan dirinya untuk dibunuh Nazi karena ingin menyelamatkan seseorang yang mempunyai anggota keluarga. Apakah mereka mempunyai nafsu-nafsu seksual? Tentu saja mereka mempunyai, namun kasih mereka kepada Tuhan memberikan mereka kekuatan untuk mengemban tugas mereka tanpa terganggu dengan adanya nafsu-nafsu seksual yang dangkal. Kasih mereka kepada sesama adalah begitu dalam, karena didasari oleh kasih mereka kepada Tuhan dalam tingkatan yang dalam. Apakah manusia bisa hidup tanpa menyalurkan nafsu-nafsu mereka? Para santa-santo dalam sejarah Gereja Katolik telah membuktikan bahwa mereka dapat mengalahkan nafsu-nafsu kedagingan mereka dan mereka senantiasa hidup dalam Roh, sehingga mereka dapat menghasilkan buah-buah Roh secara melimpah dalam kehidupan mereka. Nah, kalau para kudus dalam mengemban tugas mereka di dunia ini diberi rahmat khusus oleh Tuhan, apakah kita lupa bahwa tidak ada tugas yang lebih besar daripada tugas menjadi Bunda Allah dan menjadi ayah angkat Sang Penebus, sehingga merekapun menerima rahmat khusus dari Tuhan? Memandang besarnya tugas mereka, maka sungguh layak, kalau Allah juga memberikan rahmat yang khusus kepada mereka, khususnya Bunda Maria, yang menyandang gelar Bunda Allah.

      Ketiga, perkawinan bukanlah sekedar untuk melampiaskan nafsu kedagingan, yang diakibatkan dosa. (lih. Kej 3:16) Dan hal ini dimengerti oleh kaum Yahudi, sehingga sebagian dari mereka dapat mempunyai kaul untuk tetap hidup selibat walaupun mereka telah menikah – kalau persetujuan diberikan kepada pihak wanita oleh ayah dan suaminya. (lih. Bil 30:1-8) Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini dapat anda lihat di sini – silakan klik. Dengan demikian, tidak ada yang aneh kalau Maria dan Yosef tetap hidup selibat walaupun mereka terikat dalam satu perkawinan, karena perkawinan mereka memang mengemban misi yang khusus. Bagaimana kita tahu bahwa mereka tetap hidup selibat? Luk 1:34: Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” Ayat ini sesungguhnya merupakan terjemahan dari “How shall this be, since I have no husband” (RSV) atau, “I am a virgin” (Jerusalem Bible), atau “I know not man” (Douay -Rheims terjemahan dari Vulgate). Sesungguhnya terjemahan yang benar adalah aku tidak bersuami (jika mengikuti RSV), atau aku seorang perawan (Jerusalem Bible) atau aku tidak mengenal/ berhubungan dengan laki-laki (D-R). Kalimat ini hanya masuk akal jika Maria telah memiliki kaul keperawanan -meskipun pada saat itu ia sudah bertunangan dengan Yusuf- karena, jika tidak demikian, pernyataan ini akan terdengar ‘ganjil’. Sebagai contoh, jika seseorang ditawari rokok, dan ia menjawab ’saya tidak merokok’, maka maksudnya adalah ’saya tidak pernah merokok’, dan bukan ’saya tidak sedang merokok sekarang’.

      Keempat, Mat 12:46-47, Luk 8:19-20 dan Yoh 7:3-6 tidak membuktikan bahwa Yesus mempunyai saudara kandung. Perkataan saudara di ayat-ayat itu, tidak berarti saudara kandung, namun dapat dipakai untuk saudara misan, saudara sebangsa, dll. Diskusi tentang hal ini dapat anda lihat di sini – silakan klik. Dengan demikian, argumentasi yang anda berikan sebenarnya bukanlah argumentasi yang baru, namun telah dibahas cukup panjang di situs ini. Perkataan “sampai” di ayat Mat 1:25 tidak dapat membantu anda untuk membuktikan bahwa St. Yosef berhubungan dengan Maria setelah Maria melahirkan Yesus. Kata ’sampai’ di Mat 1:25, “Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki …,” tidak berarti bahwa setelah Maria melahirkan, maka Yusuf bersetubuh dengannya. Sebab kata ‘heos‘/ ’sampai’ dalam bahasa Yunani tidak selalu mensyaratkan adanya perubahan kondisi setelah sesuatu terjadi. Hal ini terlihat di banyak ayat Kitab Suci, seperti pada Mat 28: 19-20, Yesus menyertai para murid sampai akhir jaman, namun tidak berarti bahwa setelah akhir jaman Yesus tak menyertai para murid-Nya. Demikian pula dengan ayat- ayat lainnya: Luk 1:80, Luk 20:43, 1 Kor 15:25, 1 Tim 4:13, 2 Sam 6:23. Bahkan John Calvin (1509-1564) mengecam pemikiran ini dan menuliskan: “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)… Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”[16] John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.[17]

      Kelima, Tuhan telah memilih Bunda Maria secara khusus. Kalau anda mengatakan bahwa Maria hanya manusia biasa tanpa ada keistimewaan apapun, maka sesungguhnya anda telah merendahkan pilihan Allah. Di dunia ini banyak orang menjadi nabi, raja, imam, maupun presiden dan raja, namun dari semua manusia yang pernah hidup di dunia ini, hanya satu yang dapat menjadi Bunda Allah. Dalam kebijaksanaan-Nya Tuhan telah memilih Bunda Maria. Kalau Bunda Maria dipandang baik oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah, maka siapakah kita yang mempertanyakan pilihan Allah ini? Kita tidak dapat memilih ibu kita, namun Allah memilih secara khusus Bunda Maria menjadi Bunda Allah. Pilihan ini bukan tanpa alasan dan bahkan secara sadar Allah memilih Bunda Maria. Kalau anda tertarik dengan diskusi ini, silakan bergabung dalam diskusi panjang ini – silakan klik. Gereja Katolik menyadari bahwa Maria hanyalah makhluk ciptaan yang tidak dapat menggantikan Pencipta, namun Gereja Katolik melihat bahwa Bunda Maria adalah makhluk ciptaan yang begitu istimewa, karena memang posisinya sebagai Bunda Allah. Kalau dia dipandang baik oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah, saya yakin, kita tidak perlu protes akan keputusan Allah dan sudah selayaknya kita juga mengamininya dan sudah sepantasnya kita mensyukurinya, apalagi kalau Bunda Maria juga diberikan kepada manusia sebagai Bunda seluruh umat beriman. (lih. Yoh 19:27)

      Keenam, nafsu seks bukanlah segalanya dalam perkawinan. Yang perlu ditelaah lebih lanjut dari argumentasi anda adalah anda terlalu menekankan pada nafsu seksual yang mewarnai perkawinan Maria dan Yusuf, yang seolah-olah mereka tidak mampu menahannya demi kebaikan yang lebih tinggi. Cobalah anda melihat dari sisi yang lain, bahwa dengan bantuan rahmat Allah, tidak semua orang mengedepankan nafsu seksual, walaupun dalam konteks mempunyai hak. Karena kasih, seseorang dapat tidak mengambil bahkan dengan sukacita memberikan haknya. Para pastor dan suster sebenarnya mempunyai pilihan untuk hidup berkeluarga dan mempunyai anak-anak, namun mereka memutuskan untuk meninggalkan semua hal tersebut, mengesampingkan nafsu-nafsu seksual demi kebaikan yang lebih tinggi. Akhirnya, lihatlah dari sisi yang lain, bahwa perkawinan di dunia ini hanyalah merupakan gambaran dari perkawinan di Sorga, yang bukanlah masalah kawin dan dikawinkan. (lih. Mat 22:30; Mrk 12:25; Luk 20:35). Maria dan Yosef mempunyai satu keistimewaan karena mereka hidup bersama dengan “Sang Sabda” setiap hari. Dengan demikian, kasih di antara Maria dan Yosef terfokus pada Sang Sabda atau dengan kata lain kasih di antara mereka diangkat ke derajat yang lebih tinggi, lebih murni, dan bukan berdasarkan nafsu seksual yang tidak teratur.

      Ketujuh, lihatlah apa yang dikatakan oleh para pendiri gereja-gereja non-Katolik. Kalau argumentasi yang saya berikan belum meyakinkan anda, maka dapatkah anda mempertimbangkan argumentasi dari para pendiri gereja-gereja non-Katolik berikut ini?

      1. Martin Luther (1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. Kristus, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’).”[15]

      2. John Calvin (1509-1564): “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)… Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”[16]

      John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.[17]

      3. Ulrich Zwingli (1484-1531): “Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (‘forever remained a pure, intact Virgin’).”[18]

      4. John Wesley (1703-1791)menulis: “Saya percaya bahwa Dia (Tuhan Yesus) telah menjadi manusia, menyatukan kemanusiaan dengan keilahian dalam satu Pribadi; dikandung oleh satu kuasa Roh-Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang setelah melahirkan-Nya tetap murni dan tetap perawan tak bernoda.”[19]

      Oleh karena itu, silakan menjawab pertanyaan yang saya berikan sebelumnya: Pernahkah anda bertanya dan mencoba melihat dari sisi yang lain, mengapa para pendiri gereja-gereja non-Katolik mempercayai keperawanan Maria dan setelah lima abad kemudian banyak pengikutnya yang tidak percaya, padahal semuanya menggunakan sumber yang sama, yaitu Kitab Suci?

      Kalau anda ingin meneruskan diskusi ini secara mendalam, mohon untuk membaca terlebih dahulu link-link yang saya berikan, sehingga tidak terjadi pengulangan argumentasi. Semoga dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • albert cendikiawan on

      Yang terhormat Hamba

      pertanyaan anda serupa sekali dengan komentar seorang pendeta yang berusaha ‘membuka’ pikiranku bahwa Yusuf sebagai suami resmi secara hukum dari Maria berhak dan memang menggunakan haknya untuk mengadakan hubungan seksual dgn Maria setelah Yesus lahir dengan bukti Yesus memiliki empat saudara kandung.

      Pertanyaan benarkah pendapat pendeta tersebut?
      Mari kita lihat. Sebelumnya saya dengan rendah hati mohon koreksi oleh moderator, jangan sampai ada pemikiran saya yg berlawanan dengan Magisterium Gereja Katolik. Bila ada silakan edit atau bahkan hapus.

      Pendapat pendeta tersebut salah karena:
      1. Pendeta tersebut menerjemahkan Kitab Suci menurut pendapatnya sendiri meski dia mengaku dibimbing oleh Roh Kudus. Arius saja bisa mengaku dibimbing Roh Kudus padahal dia menyangkal KeTuhanan Yesus…. Kitab Suci haruslah diterjemahkan dalam konteks zaman kapan dia ditulis. Masalah bagaimana menerapkan ‘terjemahan yg sesuai dengan konteks zaman tersebut’ ke zaman sekarang itu masalah kedua. Nah dalam hal ini interpretasi paling akurat adalah interpretasi dari pengarang Injil langsung, atau murid dari pengarang Injil, atau para Bapa Gereja. Telah ditunjukkan oleh pak Stef bahwa tidak satu pun Bapa Gereja yang beranggapan Yusuf mengadakan hubungan seksual dengan Maria, bahkan setelah Yesus lahir pun tidak. Mengapa kita beranggapan pada zaman sekarang Yusuf berhubungan seksual dengan Maria?

      2. Pendeta tersebut beralasan Yusuf adalah pria normal dan sungguh menderita bila dia tidak mendapatkan ‘nafkah’. Saya tidak tahu apakah pernah Gereja Katolik memandang hubungan seksual sebagai nafkah? Menurut saya ide ‘nafkah’ ini asing bagi Kekristenan, sesuatu yg diimpor dari tetangga.

      Sangat disayangkan bahwa pendeta tersebut menganggap manusia seperti hewan yang serta merta menuruti dorongan naluri. Padahal di mana ada banyak kelemahan di sana rahmat Allah berlimpah-limpah. Apakah setelah Yesus lahir, Yusuf merasa diri layak, bebas, dan pantas untuk memangsa (baca: berhubungan seksual dengan) Maria? Dengan berlaku demikian dia adalah orang munafik, karena Yusuf tahu dari mimpinya bahwa Anak yang dikandung Maria adalah Kudus dan Mesias.

      Mat 1:20-21 “Tetapi ketika ia (Yusuf) mempertimbangkan maksud itu (menceraikan diam2), malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

      3. Terlihat dengan jelas bahwa Yusuf paham dan melaksanakan pesan malaikat dalam mimpinya. Yusuf paham betul akan Kekudusan dari Anak dalam rahim Maria. Sekarang pertanyaannya ‘lalu kenapa?’. Kita akan lihat dari Perjanjian Lama karena Yusuf, pada masa hidupnya, tidak mengenal Kitab Suci Perjanjian Baru. Injil saja ditulis setelah Yesus wafat kan? Sehingga tentu saja segala keputusan dan tindakan Yusuf dipengaruhi Perjanjian Lama, yang dipakai untuk mendidik semua anak Yahudi sejak kecil.

      Kel 29:21 Haruslah kauambil sedikit dari darah yang ada di atas mezbah dan dari minyak urapan itu dan kaupercikkanlah kepada Harun dan kepada pakaiannya, dan juga kepada anak-anaknya dan pada pakaian anak-anaknya; maka ia akan kudus, ia dan pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anak-anaknya.
      Darah yang dimaksud adalah darah domba jantan, kurban persembahan kepada Tuhan. Darah ini menguduskan semua yg disentuhnya baik itu manusia (Harun dan anaknya) atau benda (pakaian). Jelas Yusuf tahu bahwa Anak dalam kandungan akan menguduskan Maria karena sesuatu yang kudus ini akan menguduskan semua yang disentuhnya.

      Contoh lain, Kel. 40:9 ‘Kemudian kauambillah minyak urapan dan kauurapilah Kemah Suci dengan segala yang ada di dalamnya; demikianlah harus engkau menguduskannya, dengan segala perabotannya, sehingga menjadi kudus.’
      Minyak urapan itu kudus (Kel 30:25). Kemah dan perabot disucikan dgn diurapi oleh minyak kudus, bahkan cara menguduskan Kemah dan perabot haruslah dengan menyentuhkannya dgn minyak urapan yg kudus. Yusuf pasti tahu akan hal ini.

      Contoh lain, Im 6:27 ‘Setiap orang yang kena kepada daging korban itu menjadi kudus, dan bila darahnya ada yang terpercik kepada sesuatu pakaian, haruslah engkau mencuci pakaian itu di suatu tempat yang kudus.’
      Daging korban yang dimaksud adalah korban penghapus dosa. Yusuf tahu dari mimpi bahwa Anak yang dikandung akan menyelamatkan umat Allah dari dosa. Sama seperti daging kurban penghapus dosa menguduskan semua yang disentuhnya (bayangkan pakaian yang terpercik pun tidak boleh dicuci sembarangan. pakaian itu harus dicuci di tempat khusus yang kudus). Demikianlah Anak yang akan menyelamatkan ini menguduskan BundaNya.

      Kita, umat Perjanjian Baru, pun yakin akan kekudusan Maria. Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Tabut perjanjian lama berisikan loh batu (lambang Perintah Tuhan), tongkat Harun yang berbunga (lambang Imamat) dan manna (lambang roti surga). bagi umat Perjanjian Baru, ketiga benda ini terwakilkan secara sempurna dalam diri Tuhan Yesus. Sama seperti tabut Perjanjian Lama menyimpan 3 brg itu, Maria pun mengandung Yesus. tabut Perjanjian Lama itu kudus, Maria pun kudus.

      4. Yusuf tahu dan sadar bahwa baik Anak maupun Bunda kudus, lalu kenapa?

      Kel. 29:29 “Pakaian kudus kepunyaan Harun itu haruslah turun kepada anak-anaknya yang kemudian, supaya mereka memakainya apabila mereka diurapi dan ditahbiskan.”
      Di sini terlihat bahwa sekali suatu bahan/barang dinyatakan kudus bagi Allah, barang itu kudus untuk selama2nya, meski ‘sudah pernah dipakai satu kali’. Maria dikuduskan oleh Anak dalam kandungannya oleh karena itu Maria adalah kudus untuk selamanya. Yusuf pastilah mengetahui hal ini. Maria dikuduskan (arti tegas: diperuntukkan hanya dan hanya untuk Tuhan). Yusuf pastilah tidak akan berani ‘menyentuh’ barang kudus Allah

      Im 6:27 “Setiap orang yang kena kepada daging korban itu menjadi kudus, dan bila darahnya ada yang tepercik kepada sesuatu pakaian, haruslah engkau mencuci pakaian itu di suatu tempat yang kudus.”
      Lihatlah pakaian yang “tidak sengaja” terpercik oleh darah korban penebus dosa akan berhenti menjadi pakaian biasa dan harus dicuci dengan khusus di tempat kudus. Jadi bukan hanya saat terpercik saja kudus lalu setelah itu tidak kudus lagi. Sekali kudus, tetap kudus

      Bila kita menjadi Yusuf, kita yang diterangi oleh Perjanjian Baru dan tahu bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru, lebih baik (katakanlah, dengan nada sarkasme) mati kekeringan nafkah daripada menyentuh Tabut Tuhan. Uza yg dengan ‘maksud baik’ saja mati karena menyentuh tabut Perjanjian Lama….(2 Sam 6: 6-7). seperti yang dikatakan oleh pak Stef memang pasangan Maria-Yusuf bukanlah pasangan normal dalam pandangan dunia.

      1Sa. 6:19 ‘Dan Ia (Tuhan) membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan dahsyatnya.’
      Bayangkan melihat ke dalam aja, manusia sudah dipukul oleh Tuhan sampai mati. Memang Tuhan tidak pernah mau ada barang lain yang masuk dan berada di dalam Tabut, selain ketiga barang di atas (loh batu, tongkat harun dan manna). Pakaian Musa pun, seseorang yg memiliki hubungan pribadi yang sangat dekat dengan Tuhan sampai dilukiskan memandang Tuhan dari belakang, tidak boleh masuk ke dalam tabut.
      Siapa berani memasukkan sesuatu yang baru ke dalam Tabut? Membayangkan Yusuf berani berhubungan seksual dengan (baca: memasukkan sperma ke dalam) Maria saja sdh sesuatu yang horor…

      5. Menurut hemat saya, Yusuf dengan taat dan rendah hati tahu tanggung jawab dari mimpi yang dibawa oleh malaikat dan dia tidak pernah menyentuh (baca: berhubungan seksual) Maria.

      6. Bagaimana dengan saudara2 Yesus? Saya rasa penjelasan pak Stef di atas sdh cukup

      7. Bunda Maria berkenan menunjukkan pada kita lewat komentar pendeta tersebut, betapa dunia telah menyimpang dari Akar Kekristenan, dari Pokok Anggur yang Benar, dunia telah mereduksi pernikahan menjadi semata2 (atau sebagian besar) pemberian ‘nafkah’ seksual seakan-akan tidak mendapatkan hubungan seksual adalah sesuatu yang amat amat amat sangat merugikan sekali dan menderita sekali tak tertahankan.
      Bagaimana dengan suami2 yang sering saya temui dalam tugas? Suami2 yang dengan setia merawat isterinya berbulan2 tanpa menuntut pemenuhan nafkah? Tetapi ada pula suami yang meninggalkan isterinya atau menikah lagi begitu tahu isterinya akan berhalangan medis secara tetap untuk memenuhi nafkah seksual. Mana yang kita pilih?
      Pendeta tersebut menganggap penderitaan Yusuf adalah ketidakpuasan seksual. Bukankah penderitaan Yusuf adalah ancaman Herodes terhadap Kanak-Kanak Yesus? Bagaimana mungkin Seseorang yang Kudus dari Allah dan akan membebaskan dari dosa sekarang diancam dibantai oleh Herodes? Menyadari kenyataan itu dan ternyata Anak itu “berada di dalam perlindungan” nya, Yusuf pastilah akan sangat menderita sekaligus akan berusaha sekuatnya menyelamatkan Anak Kudus tersebut.

      8. Bunda Maria dengan baik hati telah menunjukkan betapa dunia gemar dan sering menghina Hati yang Tak Bernoda dan dengan demikian menghina dan tidak taat pada Hati Yesus yang Maha Kudus. Dunia harus bertobat.

      “In the end My Immaculate Heart will triumph”
      the Apparation of Virgin Mary at Fatima, July 13, 1917

      Terima kasih
      Salam Damai
      Kemulian kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus
      seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala masa. Amin

  9. Saya pernah berdebat dengan seorang teman mengenai Bunda Maria. Bagi teman saya itu, Maria itu tidak pernah menikah dengan Yosef, tapi bagi saya Maria menikah dengan Yosef. Ketika saya mengatakan Maria menikah dengan Yosef, ia pun langsung memberi komentar bahwa Maria tidak mungkin menikah dengan Yosef, karena kalau ia menikah dengan Yosef berarti Maria tidak lagi suci dan perawan. Lalu saya memberi argumen begini: Menikah jangan dikaitkan dengan masalah seksual saja, tapi harus dilihat lebih dari itu. Saya menduga bahwa teman saya ini memikirkan pernikahan hanya sebatas seksual saja (dikacaukan dengan istilah “kawin”). Kemudian saya juga mengatakan bahwa Maria mesti menikah, karena pada saat itu Maria telah mengandung Yesus dan belum tahu siapa bapak dari anak yang dikandung Maria. Sesuai tradisi Yahudi, seorang wanita yang mengandung tapi tidak memiliki suami, maka wanita itu akan dihukum rajam. Jadi, kesimpulan saya Maria mestinya menikah. Dan yang pasti Maria menikah dengan Yosef.

    [dari katolisitas: benar, bahwa Bunda Maria menikah dengan Yosef, namun keduanya telah bersepakat untuk tidak menggunakan haknya sebagai suami istri. Lihat juga FAQ ini - silakan klik.]

  10. Dear Ibu Ingrid,

    Saat ini saya lagi mencari buku-buku berikut karena temen saya menyampaikan hal ini ke mereka, mereka malah mengatakan itu buku sebelum reformasi lah dan gak mungkin para tokoh ini mengakui spt itu kata temen saya. nah saya bisa minta tolong bu kira2 buku ini dimna bisa saya temukan??

    1. Martin Luther (1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. Kristus, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’).”[15]

    2. John Calvin (1509-1564): “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)… Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”[16]

    John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.[17]

    3. Ulrich Zwingli (1484-1531): “Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (‘forever remained a pure, intact Virgin’).”[18]

    4. John Wesley (1703-1791)menulis: “Saya percaya bahwa Dia (Tuhan Yesus) telah menjadi manusia, menyatukan kemanusiaan dengan keilahian dalam satu Pribadi; dikandung oleh satu kuasa Roh-Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang setelah melahirkan-Nya tetap murni dan
    tetap perawan tak bernoda.”[19]

    Demikian Bu, mohon saya dapat dibantu.

    Tuhan Yesus memberkati.

    Salam

    There

    • Shalom There,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Menurut saya, kalau seseorang telah memberikan sumber pengarang, nama buku, penerbit, halaman atau paragraf berapa dari buku tersebut, maka secara akademis telah cukup sebagai bukti. Silakan membaca salah satu dialog antara Katolik dan Protestan, di mana pihak Katolik langsung menyebutkan bukti tulisan Martin Luther dan pihak Protestan menerimanya – silakan klik. Lihat di bagian footnote.
      Kalau seseorang tidak yakin bahwa Martin Luther pernah mengatakan hal tersebut, maka bebannya adalah pada orang tersebut bahwa Martin Luther tidak pernah mengatakan hal tersebut atau memberikan argumentasi bahwa Martin Luther mengatakan hal tersebut namun bukan itu maksudnya. Tentu saja harus didukung oleh argumentasi yang baik. Pertanyaan yang lain, apakah kalau kita bisa menunjukkan bukunya, maka dia akan percaya dan mengubah pendiriannya. Anda dapat mencoba untuk google dengan kata kunci “Works of Martin Luther”. Dan kalau anda tinggal di Amerika, anda dapat mencoba melihatnya di Amazon, maupun di ebay dengan kata kunci judul buku tersebut. Semoga penjelasan ini dapat diterima.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Dear Pak Stefanus,

        Terimakasih banyak sudah memberikan info hal ini. temen saya tidak percaya bahwa Martin Luther pernah mengatakan itu. dan kata mereka jika itu pun pernah pasti itu sebelum masa Reformasi atau sewaktu Marthin menjadi biarawan katolik. sepertinya mereka (teman saya) ga bisa terima hal itu. Malah saya dituduh dengan mengatakan bisa bisanya katolik saja.. Memang sejarah yang dia tau banyak negatifnya tentang ajaran katolik sehingga apa yang sebenarnya saya kasih tau menjadi sulit dia terima.
        saya hanya mengandalkan doa saya untuk hal ini.

        Sekali lagi terimakasih Pak Stef yahh.

        Tuhan Yesus memberkati.

        Salam

        Theresia

        • Shalom There,

          Saya tidak tahu apakah anda pernah membaca informasi di link ini, silakan klik. Di sana dituliskan bahwa pengajaran Martin Luther tentang Bunda Maria, yang dikandung tidak bernoda (Immaculate Conception) diberikannya dalam khotbahnya tahun 1522 dan buku doanya tahun 1527, tentang Maria tetap perawan (perpetual virginity) tahun 1539, tentang Maria sebagai Bunda umat beriman, pada tahun 1522. Tahun- tahun tersebut adalah masa setelah Martin Luther memisahkan diri dari kesatuan dengan Gereja Katolik pada tahun 1517. (Jadi ajaran tersebut bukan diajarkannya hanya ketika ia masih imam Katolik). Selanjutnya, ajaran tentang Bunda Maria tetap perawan juga diajarkan oleh John Calvin, dan Huldreich Zwingli. Di link itu dituliskan juga beberapa sumbernya dari buku- buku dengan penerbit yang jelas, jadi sesungguhnya dapat diperiksa kebenarannya.

          Jika setelah diberitahu bukti- bukti ini teman anda tetap tidak mau percaya, ya anda tidak perlu gundah. Memang mungkin banyak orang- orang yang sedemikian, walaupun sudah diberitahu faktanya, tetapi tidak dapat menerima. Anda benar, yang lebih penting mungkin adalah mendoakan saja. Jika Tuhan berkenan, maka suatu saat nanti hatinya akan terbuka untuk melihat dan menerima kebenaran, sebab, “The truth speaks for itself…”

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  11. Saya seorang Protestan, saya bukan teolog tapi setahu saya Yusuf dan Maria itu menikah. Logika sederhana saya, hubungan suami-istri yang diberkati bukanlah hal yang terlarang dan tidak menajiskan. Kalaupun mereka berhubungan sebagai suami-istri itu adalah hubungan suci. Keperawanan dalam konteks Maria saya artikan sebagai sikap menjaga hati dan pikiran yang bersih dan pasrah kepada Tuhan. Maafkan kesederhanaan cara berpikir saya, dan saya tidak sehebat para bapa gereja. Intinya saya menghargai Bunda Maria yang telah dipilih Bapa di Surga menjadi Bunda Tuhan kita Yesus Kristus.

    Terima kasih.

    • Shalom Yohanes S,

      Terima kasih atas tanggapannya tentang keperawanan Maria. Silakan anda mulai dengan membaca artikel tentang keperawanan Maria di sini – silakan klik. Dan bahkan keperawanan Maria juga dipercayai oleh pendeta Protestant, Martin Luther, juga John Calvin, Ulrich Zwingli dan John Wesley. Para pendiri ini saya yakin tahu bahwa tidak ada yang salah dalam hubungan suami istri dalam ikatan perkawinan. Tapi, mengapa mereka tetap percaya bahwa Maria tetap perawan, walaupun telah melahirkan Yesus? Cobalah melihat link yang saya berikan di atas.

      Tentang argumentasi yang anda berikan, memang hubungan suami istri dalam ikatan perkawinan bukan saja tidak terlarang, namun justru sesuatu yang kudus. Namun, tidak berarti bahwa kalau mereka sepakat tidak melakukan hubungan suami istri demi tujuan yang lebih tinggi, maka menjadi berdosa. Pada waktu itu, orang-orang essenes juga melakukan hal yang sama. Ketika para murid yang telah meninggalkan segala kepunyaan mereka, termasuk istri mereka, maka Yesus menjawab “29  Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, 30  akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” (Luk 18:29-30) Meninggalkan istrinya di sini dimaksudkan mereka tidak lagi menggunakan haknya sebagai seorang suami atau dengan kata lain, mereka tidak lagi berhubungan suami istri. Hal ini dipraktekkan oleh jemaat perdana, di mana para rasul, para uskup dan para imam tidak melakukan hubungan suami istri. Silakan melihat diskusi tentang hal ini di sini – silakan klik serta diskusi tentang celibacy di sini – silakan klik.

      Hubungan suami istri hanyalah merupakan gambaran samar-samar akan apa yang terjadi di Sorga, yaitu bagaimana suami istri berpartisipasi dalam kehidupan Trinitas dan bagaimana persatuan suami istri adalah merupakan manifestasi dari kasih memberikan diri dengan sehabis-habisnya. Namun, hubungan suami istri (kawin dan dikawinkan) tidak terjadi di Sorga (lih. Luk 20:35), karena telah digantikan dengan hubungan kasih yang sebenarnya, yaitu melihat Allah muka dengan muka dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan Trinitas yang sebenarnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Maria dan Yusuf telah memulai kehidupan Sorga di dunia, walaupun dalam derajat yang berbeda. Kalau kita dapat mengerti tentang konsep Maria sebagai Tabut Perjanjian yang baru, maka kita akan lebih mengerti lagi mengapa tidak terjadi hubungan suami istri di antara mereka. Semoga penjelasan ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristsus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  12. Pertama, jawaban2 kutipan ayat alkitab dari pihak katolisitas sama sekali tidak nyambung dengan topik. Kedua tidak ada gunanya juga topik ini dibahas terus, putar2 gitu aja, gak ada gunanya bagi kita semua yang menyimak.Masalahnya pihak katolisitas, membahasnya dengan pola pikir daging.

    Masalahnya di mana pola pikir kita berdiri, pola pikir daging atau pola pikir Roh?

    Mohon baca, renungkan dan terima kebenaran ayat2 berikut :

    Roma 8:5-8, Efesus 2:3,

    2 Timotius 2:14

    Terimakasih.

    • Shalom Terang,

      Terima kasih atas tanggapan anda. Saya terus terang tidak tahu apa yang anda ingin diskusikan. Dari tanggapan anda, anda seolah-olah tidak ingin berdiskusi karena menganggap bahwa jawaban dari katolisitas tidak nyambung dengan topik, berputar-putar dan bahkan dengan pola pikir daging. Kalau anda ingin berdiskusi secara serius, alangkah baiknya, kalau anda dapat memberikan argumentasi. Tanpa argumentasi yang jelas, maka tanggapan ini akan memperlemah posisi anda, karena hanya merupakan tuduhan tanpa dasar. Apalagi kalau disimpulkan bahwa jawaban dari katolisitas menggunakan pola pikir daging. Apakah yang disebut pola pikir daging? Apakah kalau kami tidak menyetujui pengajaran dari gereja-gereja non-Katolik, maka argumentasi kami dianggap menggunakan pola daging? Saya pikir, saya tidak perlu memberikan tanggapan lebih lanjut, sampai anda memberikan argumentasi yang lebih baik. Saya yakin, pembaca lain juga dapat menilainya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  13. ikut mengomentari masalah bunda Maria :
    1. Pada perjanjian lama Musa dalam kitab keluaran diperintah oleh Allah untuk membuat kemah suci yaitu kemah untuk pertemuan dengan yang Maha Kudus , dengan sangat detail Allah memberi petunjuk cara pembuatan , benda suci yang harus dibuat , mezbah korban bakaran , dan diletakan pula tabut perjanjian , dipilihnya imam agung dan para kudus , diletakan loh batu hukum , minyak yang digunakan, roti bundar , roti tipis tak beragi , kandil , pelataran , tempat kudus dan tempat Maha Kudus , meja , bejana pembasuhan , kerub , dan cara mengkuduskan semuanya , lalu awan menutupi kemah pertemuan dan kemuliaan Tuhan memenuhi kemah suci,sehingga musa tidak dapat memasukinya ( tempat Yang Maha Kudus )
    2. Gambaran kemah suci pun terjadi pada masa perjanjian baru , yang digambarkan oleh karya Allah atas maria , yang telah dikuduskan dan dinaungi awan Roh Kudus dan kemuliaan memenuhinya sehingga anak yang dilahirkan disebut kudus , didalam Maria sebagai kemah suci yaitu tempat pertemuan dan didalam rahimnya adalah tempat yang maha kudus tinggal dan santo yusuf yang juga telah dikuduskan Allah adalah bertugas sebagai imam ataupun orang kudus yang menjaga kemah suci yaitu bunda Maria , hingga terangkatnya kemah tsb
    3. Gambaran kemah suci pun terjadi pada masa sekarang , dimana gereja dan para kudusnya menjadi tempat pertemuan yesus dengan muridnya dengan menerima tubuh dan darah yesus pada perayaan ekaristi atas roti bundar tak beragi

    Perbedaan kemah suci dan bunda maria dan gereja katolik yang dikuduskan , yang disertai dengan penghayatannya , adalah kemah suci ada pada perjanjian lama dan dibuat manusia atas petunjuk Allah melalui musa , sedangkan bunda maria adalah karya kemah suci yang dibuat Allah untuk karya keselamatan atas puteraNya Yesus Kristus , dan gereja katolik adalah kemah suci masa sekarang yang di kuduskan oleh karya keselamatan Yesus .

    semua hal diatas adalah masalah iman , yaitu mengimani arti di kuduskannya sebuah kemah suci dari masa ke masa , itu pula yang terjadi pada masalah bunda Maria yaitu bunda gereja , semua itu penghayatan untuk beriman didalam mengikuti Kristus , perdebatan tak akan selesai , mengikuti kristus yang utama , amin

  14. Dlm pembukaan di atas disebutkan:

    “penyangkalan terhadap Maria yang tetap perawan akan menuju kepada penyangkalan terhadap kelahiran Yesus melalui Perawan Maria (the virgin birth of Christ), yang kemudian menjadi penyangkalan akan keilahian Yesus.”

    Sy percaya bhw sebelum Maria melahirkan Yesus, ia adalah perawan. Tp setelah melahirkan Yesus……….?

    OK, bukan ini yg mau jd point sy.

    Krn Yesus itu dari Allah, & Allah adalah Roh, maka keberadaan Yesus di dalam kandungan Maria juga oleh Roh. Jd Yesus tetap ilahi apapun keadaan Maria setelah melahirkan Yesus (perawan atau tidak perawan). Bgmn hal keilahian Yesus dikaitkan dgn keperawanan Maria? Krn Allah sdh exist sblm ada Maria? Bagaimana dikatakan sy menyangkal keilahian Yesus kalo sy tdk percaya Maria tetap perawan?

    • Shalom Nuel,

      Penyangkalan terhadap keperawanan Maria dapat menuju kepada penyangkalan akan kelahiran Yesus yang terjadi secara ilahi (bukan karena benih laki- laki) tetapi oleh Roh Kudus. Selanjutnya penyangkalan bahwa Maria tetap Perawan pada saat melahirkan Yesus dan sesudahnya, juga mengarah kepada kecenderungan menyamaratakan Kristus dengan manusia biasa yang bukan Allah. Sebab manusia datang ke dunia dengan merusak keutuhan keperawanan ibunya, namun Allah yang datang untuk memulihkan yang rusak (akibat dosa) tidak mungkin pada awal kedatangannya malah merusak keutuhan ibu-Nya sendiri. Dan penyangkalan akan keperawanan Maria setelah melahirkan Yesus, itu menyangkal persatuan yang erat antara Kristus dan Bunda Maria sebagai Adam yang Baru dan Hawa yang baru; di samping juga tidak sesuai dengan fakta bahwa Kristus tidak mempunyai saudara- saudara kandung. Ini adalah pengajaran yang diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak Gereja di abad- abad awal, namun ajaran ini bukan pengajaran Gereja Katolik saja. Para pendiri gereja Protestan (Luther, Calvin dan Zwingli) juga mengajarkan demikian. Selengkapnya anda dapat membaca di sini, silakan klik, khususnya Appendix, dan tentang pertanyaan keperawanan Maria dalam hubungannya dengan keselamatan, klik di sini.

      Jadi doktrin keperawanan Maria memang tidak berpengaruh kepada keilahian Allah Trinitas, tetapi berpengaruh kepada keilahian Tuhan Yesus (Allah Putera) pada saat penjelmaann-Nya ke dunia. Sebab Kristus pada saat menjadi manusia, ia juga tetap sungguh- sungguh Allah, sehingga kita tidak dapat melihat sisi kemanusiaan Yesus saja tanpa melihat juga sisi ke- Allahan-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • As-salāmu`alaykum, Nuel..

      Mohon maaf saya sebetulnya bukan beragama Kristen.
      Saya hanya ingin berbagi dengan anda prihal Maryam (Maria) Ibu dari Nabi ISA AS. yang sangat di hormati umat Muslim didalam ALQURAN.

      Didalam Alquran (Qs. 21 Al Anbiyaa 91) disebutkan bahwa:

      “Wallatii ahshanat farjahaa la nalakhnaa fihaa mir ruuhinaa Wa ja’alnaahaa wabnahaa ayatal lil ‘aalamiin”

      “Ingatlah kisah seorang perempuan yang memilihara kehormatannya (Maryam) lalu Kami tiupkan kepadanya Roh Kami (Roh Allah) dan Kami jadikan dia anaknya tanda (kuasa Alaah) bagi semesta.”
      (Qs. 21 Al Anbiyaa 91)

      kata: “memelihara kehormatanya (Maryam)”
      kata inilah sudah cukup menjelaskan/mengambarkan bagi anda bahwa MARIA adalah Suci dihadapat Allah (Tuhan), tanpa mempertanyakan embel-embel (sesudah atau sebelum)…

      Pertanyaan saya bagi anda?
      Bagaimana mungkin Agama Islam saja menghormati Maryam (Maria) bahkan ada ayat khusus dipersembahkan bagi Maria, baca (Surat Maryam) kenapa anda (Nuel) tidak menghargai sama sekali??? apakah ini hanya berdasarkan penafsiran anda?

      Ingatlah “GOD is mighty and knows everything”

  15. Salam jumpa lagi Ibu Inggrid.

    Saya ingin bertanya tentan pernikahan pura-pura Maria dan Yosef, sebab Katolik mengganggap merekka tidak pernah “menjadi satu daging” Rasanya hal itu tidak mungkin dan bertentangan dengan Firman TUHAN sendiri. Mengingat semua latar belakang adat-istiadat Yahudi, Yusuf dan Maria akan melanjutkan ke perkawinan menurut adat-istiadat Yahudi, yaitu seorang laki-laki akan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Tetapi Yusuf menahan diri untuk sementara waktu. Sampai kapan? Alkitab memberi tahu: sampai Maria melahirkan YESUS (Mat 1:24-25).

    Apakah dapat disebut perkawinan jika mereka berikrar selibat dari persetubuhan selama perkawinan mereka? Jika itu terjadi, entu saja mereka melanggar Firman Tuhan tersebut (Kej 2:24, Matius 19:5, Efesus 5:31). Dalam Matius 19:12, yang dimaksud YESUS dengan “orang yang tidak kawin” atau eunuch
    (εὐνοῦχοι), dalam arti harfiahnya adalah orang yang telah dikebiri. Origenes mengambil makna eunuch dalam Matius 19:12 secara harfiah, dan kemudian menyesalinya. Dalam Matius 19:12, YESUS mengklasifikasi 3 macam eunuch: yang dilahirkan demikian dari rahim ibunya, yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan yang membuat dirinya demikian karena Kerajaan Sorga. Apakah yang YESUS maksudkan ketiga jenis eunuch ini adalah orang yang dikebiri? Tentunya tidak, khususnya jenis yang ketiga, yang membuat dirinya demikian karena Kerajaan Sorga. Jadi, yang YESUS sebut eunuch jenis ketiga adalah yang tidak menikah/tidak kawin. YESUS TIDAK PERNAH membedakan antara “tidak menikah” dengan “tidak kawin”. Ketika seorang laki-laki telah menikah dengan seorang perempuan, YESUS menerangkan apa yang akan mereka lakukan dalam pernikahan itu: YESUS menyatakan:

    Matius 19:5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

    dan kita kutip kembali:

    Matius 1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya

    Jika Yusuf telah mengambil Maria sebagai istrinya, menurut Firman Tuhan, apa yang akan dilakukan Yusuf dengan istrinya? Yusuf akan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

    Terlepas dari apakah Yusuf dan Maria bersetubuh atau tidak, dengan Yusuf mengambil Maria sebagai istrinya yang sah (sesuai perintah malaikat) menurut Hukum Taurat (tentunya), sedangkan Maria telah menjadi “mempelai” ROH KUDUS (yang justru mengeluarkan Hukum Taurat), maka Malaikat telah menyuruh Yusuf untuk berzinah dengan Maria, karena dengan demikian Maria melakukan poliandri.
    Tentang pengertian zinah, TUHAN YESUS mengeluarkan aturan yang lebih ketat lagi:

    Matius 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

    Zinah bukan hanya secara fisik saja, melainkan sudah dimulai sejak dari dalam hati (pikiran). Benar bahwa YESUS mengucapkan firman ini setelah YESUS dewasa, dan hukum zinah ada di dalam Hukum Taurat. Tetapi apakah zinah dengan defenisi Hukum Taurat itu yang TUHAN pakai bagi diri-Nya sendiri? TUHAN memerintahkan manusia untuk menghukum mereka yang terbukti berzinah. Tetapi bagaimana dengan yang tidak terbukti berzinah (baik yang tidak ketahuan, maupun yang berzinah di dalam hati)?? TUHAN tetap menganggapnya zinah, dan tetap dianggap TUHAN sebagai dosa. Defenisi zinah yang Anda gunakan adalah menurut Jewish Encyclopedia.Di dalam Perjanjian Lama, hukuman diberikan atas yang berzinah, ketika mereka terbukti berzinah. Tetapi kalau masih di dalam pikiran, tidak termasuk sesuatu yang akan dihukum. Tetapi YESUS tahu kecenderungan hati manusia. Sebagaimana yang YESUS firmankan:

    Matius 15:11, 18-19
    “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat”

    Jadi, masalah perzinahan bukan hanya menyangkut hubungan badan, tetapi lebih ke persoalan akarnya, yaitu menyangkut hati. Sebelum Malaikat Gabriel mengumumkan bahwa Maria akan mengandung YESUS, Yusuf dan Maria telah bertunangan, dan mereka saling menginginkan satu sama lain untuk bersama-sama membentuk rumah tangga. Jikalau kita memakai istilah Maria sebagai mempelai ROH KUDUS, dan di tengah-tengah “perkawinan” ROH KUDUS dengan Maria itu, Malaikat memerintahkan Yusuf untuk mengambil Maria sebagai istrinya, konsekuensinya adalah Maria berpoliandri dan Yusuf berzinah dengan Maria karena Yusuf menginginkan Maria sebagai istrinya (malah sudah dari awalnya begitu). Jikalau perkawinan Yusuf dan Maria adalah perkawinan pura-pura, itu bukan perkawinan yang sakral, karena mereka telah melanggar Firman Tuhan supaya Yusuf mengambil Maria sebagai istrinya (bukan disuruh diambil sebagai istri pura-pura), dan juga melanggar Firman Tuhan di mana dalam hubungan seorang laki-laki dengan istrinya, seorang laki-laki harus bersatu dengan istrinya, sehingga mereka menjadi satu daging. Itulah sebabnya, hubungan Maria dengan ROH KUDUS bukan sebagai mempelai dalam “perkawinan”, melainkan hubungan Maria dengan Yusuf-lah yang disebut perkawinan.

    • Shalom Tristan,

      Saya telah menanggapi pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan anda, di sini, silakan klik. Berikut ini adalah tambahan tanggapan saya:

      Anda menganggap bahwa Maria dan Yusuf menikah ‘pura-pura’ karena mereka tidak menjadi satu daging. Hal itu mungkin aneh bagi anda, namun sesungguhnya itu tidak aneh jika anda melihatnya dalam konteks kehidupan sebagian orang yang memang mendedikasikan hidup mereka untuk Tuhan, contohnya adalah kaum Essenes (abad 2 BC), di mana secara komunitas mereka hidup dalam kemurnian, kaul kemiskinan, dan pantang dari kesenangan dunia termasuk dalam perkawinan/ hubungan seksual suami istri. Hal ini (nazar untuk mempersembahkan keperawanan untuk Tuhan) juga secara implisit disebutkan dalam Bil 30-3-8. Jika nazar tersebut diketahui dan disetujui oleh kedua belah pihak (baik suami maupun istri) hal itu dapat dijalankan bersama- sama sebagai nazar yang mulia, dan dengan demikian tidak menyalahi hukum Tuhan.

      Para Bapa Gereja jelas mengajarkan bahwa bukan hanya Maria yang mempunyai kaul keperawanan, namun juga St. Yusuf, karena keduanya mempersembahkan kasih mereka yang total kepada Allah untuk mengambil bagian dalam rencana keselamatan Allah. Maka hal keperawanan di sini memang tidak terbatas oleh keperawanan fisik, namun secara keseluruhan, jasmani dan rohani. Hal Maria yang tetap perawan ini bukan monopoli ajaran Gereja Katolik, tetapi juga merupakan ajaran para bapa pendiri gereja Protestan (Luther, Calvin, Zwingli). Silakan anda membaca kutipannya di artikel ini, silakan klik, lihat di bagian Appendix. Maka jika anda sekarang menolak ajaran ini, anda sesungguhnya menolak ajaran para bapa pendiri gereja anda sendiri.

      Anda mengacu pada kata “sampai” pada Mat 1:25, sehingga anda berkesimpulan Yusuf dan Maria bersetubuh setelah kelahiran Yesus. Ini adalah spekulasi perkiraan anda sendiri; sebab kata “sampai” dalam Kitab Suci tidak selalu menyatakan bahwa apa yang disyaratkan sebelumnya pasti tidak berlaku lagi jika keadaan tertentu sudah tercapai. Saya sudah pernah membahas beberapa arti kata “sampai” dalam Kitab Suci, di sini, silakan klik.

      Nampaknya di sini anda mempersulit pemahaman anda sendiri, karena anda menyama- ratakan bahwa apa yang terjadi pada Yusuf dan Maria “harus” seperti yang layaknya yang terjadi pada semua orang lain. Namun, ini adalah asumsi anda, yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh para Bapa Gereja. Para Bapa Gereja tidak meragukan keperawanan Maria baik sebelum, pada saat, maupun setelah melahirkan Tuhan Yesus, dan ini melibatkan pula persetujuan dari St. Yusuf suaminya, yang juga mempersembahkan keperawanannya kepada Allah, dan dengan demikian Yesus lahir dalam perkawinan yang perawan (virginal marriage).

      St. Jerome (347-420) yang mewakili pandangan para Bapa Gereja di abad ke-4 mengajarkan tentang keperawanan Yusuf demikian kepada bidat Helvidius yang meragukan keperawanan Maria:

      “Dan dapatkah pria yang benar itu [Yusuf] dapat, … berpikir untuk menghampiri [berhubungan badan] dengan Maria, ketika ia mendengar bahwa Putera Allah adalah yang dikandung di dalam rahim Maria? …. Kita harus percaya bahwa orang ini yang menghargai apa yang disampaikan kepadanya lewat mimpi tidak berani menyentuh istrinya…. Setelah itu ketika ia mengetahui dari para gembala bahwa para malaikat telah datang dari surga dan berkata kepada mereka, “Jangan takut: sebab lihatlah, aku membawa kepadamu berita kesukaan besar …. Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus Tuhan, dan ketika bala tentara surgawi telah bersama- sama dengannya melambungkan pujian, “Kemuliaan kepada Tuhan di tempat yang Maha Tinggi, dan damai sejahtera di bumi….,” dan ketika ia [Yusuf] telah melihat Simeon memeluk sang bayi dan mengatakan, “…biarkanlah hamba-Mu ini pergi, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu”, dan ketika ia melihat nabi Hana, para majus, Raja Herodes, para malaikat; [maka] Helvidius, aku berkata, haruskah kita percaya bahwa Yusuf, meskipun telah melihat begitu banyak keajaiban ini, berani menyentuh tabut Tuhan, tempat kediaman Roh Kudus, ibu dari Tuhannya? Maria “menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya”. Kamu tidak dapat tanpa tahu malu mengatakan bahwa Yusuf tidak memahaminya, sebab Lukas mengatakan kepada kita, “Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala yang dikatakan tentang Dia” (Luk 2:33)….

      Maka jika dikatakan bahwa Maria adalah Mempelai Allah Roh Kudus, itu bukan untuk diartikan bahwa Allah Roh Kudus kawin dengan Maria dengan pengertian perkawinan manusia. Maria adalah Mempelai Allah Roh Kudus, karena hanya oleh kuasa Roh Kuduslah, maka Allah Putera dapat menjelma menjadi manusia di dalam rahimnya. Ini adalah suatu misteri Allah, maka tidak dapat disamakan dengan perkawinan antara sepasang manusia. Persekutuan sempurna antara Maria dan Roh Kudus ini menjadi teladan bagi kita akan persekutuan kita dengan Roh Kudus, karena kitapun adalah bait Allah Roh Kudus (1 Kor 6:19). Maka persatuan dengan Roh Kudus ini tidak sama dengan perkawinan duniawi.

      St. Yusuf, yang menyadari akan misteri persatuan Maria tunangannya, dengan Allah sendiri, justru menghormati persatuan tersebut, dengan tidak mengambil haknya sebagai suami. Yusuf, disebut dalam Alkitab sebagai seorang yang tulus hati (Mat 1:19: “a just man“= orang benar); seorang yang begitu taat dan tunduk kepada Tuhan hanya karena menerima pesan Tuhan dalam mimpi, akan lebih lagi tunduk kepada Tuhan setelah melihat bagaimana Allah sendiri menyatakan kepadanya bahwa Yesus yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah sungguh Anak Allah, baik dari para malaikat, para majus, maupuan nubuat Simeon dan Hana. Rasa hormat/ takut akan Tuhan inilah yang mendorongnya untuk mendukung keperawanan Maria dan tidak mengambil keperawanan itu demi membangkitkan keturunan bagi dirinya sendiri. Kurang lebih inilah yang disampaikan oleh St. Jerome dalam suratnya kepada Helvidius tersebut.

      Tentang Maria sebagai Mempelai Allah Roh Kudus (The Spouse of the Holy Spirit) ini diajarkan secara eksplisit oleh Paus Leo XIII dalam surat ensikliknya Divinum Illud Munus, 1897:

      … Unite, then, Venerable Brethren, your prayers with Ours, and at your exhortation let all Christian peoples add their prayers also, invoking the powerful and ever-acceptable intercession of the Blessed Virgin. You know well the intimate and wonderful relations existing between her and the Holy Ghost, so that she is justly called His Spouse. The intercession of the Blessed Virgin was of great avail both in the mystery of the Incarnation and in the coming of the Holy Ghost upon the Apostles. … (Divinus Illud Munus, 14)

      Akhirnya, Gereja Katolik memiliki dasar yang kuat ketika mengajarkan doktrin tentang Maria, karena ajaran tersebut tidak didasari oleh pemahaman/ interpretasi pribadi. Sekilas tentang ajaran tentang Maria ada di sini, silakan klik. Di sana disampaikan dasar ajaran dari Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Oleh karena itu, kami tidak dapat menerima pemahaman yang bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Tradisi Suci dan Magisterium Gereja Katolik, walaupun nampaknya juga mengambil ayat Kitab Suci sebagai dasarnya. Sebab tentang interpretasi yang otentik dari Kitab Suci dipercayakan oleh Kristus kepada Magisterium Gereja (lih. Mat 16:19, 18:18), dan interpretasi inilah yang kami pegang sebagai kebenaran.

      Adalah suatu permenungan bagi mereka yang menolak ajaran tentang keperawanan Maria ini yang jelas dipegang oleh Gereja (baik Katolik maupun non- Katolik) sampai abad ke 16-17. Penolakan hanya terjadi di abad- abad terakhir ini, atas interpretasi pribadi akan beberapa ayat dalam Kitab Suci. Apakah dengan demikian orang tersebut ingin mengatakan bahwa pengertiannya lebih benar daripada pengertian Gereja selama 16 abad? Atau pemahamannya adalah dari Roh Kudus? Mengapa Roh Kudus yang sama yang membimbing para rasul dan para Bapa Gereja malah mengajarkan hal yang berbeda? Jika anda menganggap ajaran para pendiri gereja Protestan salah dalam hal keperawanan Maria, apakah yang menyebabkan anda percaya kepada ajaran mereka dalam hal lainnya? Bukankah kalau demikian akhirnya kebenaran sifatnya adalah relatif, sesuai pemahaman pribadi?

      Gereja Katolik tidak mendasarkan kebenaran atas sesuatu yang relatif. Kami percaya bahwa Sabda Allah dipercayakan kepada Gereja dan Gereja melalui Magisterium-lah yang dapat mengajarkan interpretasinya dengan benar. Kesatuan pengajaran dengan ajaran Magisterium inilah yang menghasilkan kesatuan Gereja Katolik sampai sekarang, sebab kami mengakui bahwa Roh Kuduslah yang telah membimbing mereka pada saat mereka mengajar sama ketika Roh Kudus membimbing para rasul, dan Roh Kudus itu pulalah yang menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  16. Shalom

    Alkitab memang terbatas dalam menuliskan ini, hanya saja unsur manusiwai (rasa ingin tahu) selalu ada dibenak kita. Karena itu bahan yang kita pakai adalah Alkitab yang terbatas seperti yang diakui oleh penulisnya sendiri: [u]Yoh. 21:25[/u] maka kita harus menggunakan sumber2 lain yang dekat dengan sumber Alkitab yaitu tulisan dari para Bapa Gereja. Seperti kita ketahui bersama bahwa para Bapa Gereja adalah murid dari murid TUHAN sendiri. Mereka hidup masih dekat dengan jaman Para Rasul.

    Sejarah membuktikan bahwa pengajaran tentang keperawanan Maria ini telah berakar dari sejak Gereja awal, jika Yesus memang benar2 memiliki saudara-saudara kandung seperti yang dituduhkan oleh umat non-Katolik sudah baran tentu doktrin ini akan ditolak mentah-mentah oleh kerabat dari “saudara-saudara” Yesus sendiri. Sebab dengan mengakui Maria sebagai perawan berarti meniadakan existensi mereka dalam silsilah keluarga.

    Salam

    • budiaroyotejo on

      Dear bu Ingrid dan pak Stef,
      Kalo demikian siapakah Yakobus, Yudas (bukan iskariot) dan saudara2nya Tuhan Yesus. Bukankah mereka itu anak2nya Yusup.
      Trus bagaimana Bunda Maria dikatakan perawan/Imaculata?
      Rgds

      [Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel ini, silakan klik, atau di sini, silakan klik
      Sedangkan untuk artikel Bagaimana mungkin Bunda Maria tetap perawan, silakan klik
      ]

  17. Shalom Ibu Inggrid, bisakah saya menafsirkan ayat ini sbb:

    tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia YESUS.( Mat. 1:25 )

    Kata sampai di ayat tersebut mempunyai makna yang sama dengan

    “Siapakah Aku ini sampai ibu TUHANku datang mengunjungi Aku”(Lukas 1:43)

    Sampai = sehingga/hingga

    • Shalom Dela,

      Kata “sampai” pada Mat 1:25, “tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus,” dapat kita pahami maknanya jika kita melihat makna penggunaan kata “sampai” pada beberapa ayat lainnya dalam Alkitab. Kata “sampai” ini hanya ingin menunjukkan adanya suatu kejadian yang harus dipersiapkan dengan suatu keadaan/ syarat, namun sesudahnya tidak berarti bahwa keadaan itu tidak berlaku lagi. Contohnya:

      Mat 28:20 “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Tidak berarti bahwa setelah akhir jaman maka Yesus tidak menyertai kita lagi.

      1 Tim 4:13 “Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.” Tidak berarti bahwa Rasul Paulus mengatakan bahwa setelah ia datang lalu para jemaat tidak perlu lagi dengan tekun membaca Kitab- kitab suci, dalam membangun dan mengajar.

      1 Kor 15:25 “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.” Tidak berarti bahwa setelah Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya lalu Ia berhenti memerintah sebagai Raja.

      2 Sam 6:23 “Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.” Tidak berarti bahwa setelah dia mati lalu dia [Michal] mempunyai anak.

      Demikian, maka kata ‘sampai’ memang mengacu kepada suatu kejadian, namun tidak berarti bahwa sesudahnya keadaan yang mengarah kepada kejadian itu menjadi tidak berlaku lagi. Kata “sampai” ini hanya ingin menekankan bahwa sebelum suatu kejadian tertentu yang terjadi, ada suatu keadaan/ persyaratan yang harus dipenuhi/ terjadi.

      Maka dengan pemahaman ini, kita mengartikan Mat 1:25: bahwa Santo Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai kelahiran Yesus (ini adalah menunjukkan bahwa kelahiran Yesus tidak melibatkan benih laki- laki) dan sesudah kelahiran Yesus, tidak berarti bahwa mereka kemudian bersetubuh. Karena kata “sampai” di sini tidak menunjukkan keadaan sebaliknya sesudahnya, seperti telah ditunjukkan juga pada pemakaian kata “sampai” pada ayat- ayat lainnya di Kitab Suci.

      Demikian semoga dipahami.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  18. Serafina Maria on

    DVC….
    Saya yakin dan percaya Bunda Maria adalah yang dipilih Allah..,
    IA tetap perawan..,
    tetap suci..,
    tak bercela..,
    tak bernoda..,
    sejak lahir hingga selam-lamanya….
    Bunda Maria tetap hidup..,
    dan Santo Yosep pun adalah suci….

  19. Shalom Ibu Ingrid, saya mau tanya sejak kapan Mariology (Maria sebagai Perwan Suci Selamanya) “secara resmi” dijadikan bagian dari doktrin Gereja (Katholik khususnya)?

    Tuhan Memberkati

    Dela

    [dari katolisitas: silakan melihat artikel di atas - silakan klik, Paus St. Martin di Sinode Lateran, 649]

Add Comment Register



Leave A Reply