Gerakan karismatik: sisi positif dan sisi negatif

131

Pertanyaan:

Salam dalam kasih Kristus,
Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak teman2 saya dari berbagai lingkungan dan usia yang terlibat aktif dalam Persekutuan Doa Kharismatik Katolik (PDKK), karena PDKK ini merupakan bagian dari kegiatan yg dianggap resmi oleh Gereja maka awalnya saya anggap biasa saja. Namun setelah beberapa tahun terakhir saya mulai “merasakan ada perbedaan” dalam gaya bicara,teriakan2, gaya berdoa, termasuk dalam penekanan2 pembicaraan tentang konsep anugerah/karunia2, tentang bahasa Roh, saya secara naluri mulai merasakan ada doktrin2 yg “asing” yang tidak cocok di pemahaman doktrin iman Katolik saya. Saat orang2 lain berteriak2 berbahasa roh saya malah jadi takut, saya merasa asing dan tidak nyaman. Gejala apa ini? apakah justru sayanya yang salah??
Saya merasa terganggu saat misa2 lingkungan ada kesaksian2 yang agak bombastis, dengan gaya2 berdoa yang mirip denominasi gereja lain, dengan gaya2 bahasa roh yang kadang2 menyiratkan adanya “kesombongan rohani” bagi mereka yang telah menjalankannya, ..(maaf kalau justru saya yang salah perasaan/persepsi), saya malah bertanya sendiri : mungkin lama2 ikut PDKK dengan ikut kebaktian gereja protestan Karismatik akan sama saja? Memang tetap ada bedanya, tapi itupun kelihatannya hanya kosmetik luar saja supaya identitas Katoliknya tetap terjaga, namun esensi ibadah dan doanya sudah amat mirip. Saya mencoba menghibur diri dengan berpikir : Ah, mungkin ini cuma “oknum” saja yang kebablasan. Namun diluar itu (dan ini merupakan pertanyaan saya) :
1. Bagaimana peran kontrol pemimpin2 gereja Katolik thp praktek2 gerakan ini, tidak cuma dalam bentuk dokumen (buku pedoman) tapi yang saya maksud adalah dalam hal kontrol “pagar2? di level pelaksanaan di tiap Paroki?
2. Saya mengimajinasikan sebuah skenario terburuk : Jika seorg Katolik yang aktivis di gerakan Karismatik dan sangat menikmati dan mendalaminya, pada suatu titik ia telah “kebablasan” mendapat teguran/koreksi dari otoritas gereja, bisa jadi ia akan memilih mencari wadah baru (gereja lain) yang lebih mengakomodasi preferensinya? bukankan secara tidak langsung Gereja telah melakukan “pembiaran” atas gejala ini?
3. Belajar dari sejarah Gereja Katolik berabad2 lalu mengenai ajaran2 yang menyimpang, mulai dari Montanisme di abad ke 3, dan seterusnya,.apakah Gereja sudah memperhitungkan resiko2 yang dapat muncul dari gerakan Karismatik ini sendiri? Saya membaca buku karangan Romo Deshi “apakah Karismatik dapat sungguh Katolik?”, menurut saya buku tersebut cukup baik dan memberi pencerahan. Sekian persen umat Katolik mungkin beruntung jika membaca buku tersebut, namun bagaimana dengan mereka yang tidak membaca atau tidak mengerti sama sekali (karena tidak berkesempatan mendapat pencerahan)? apa sejauh ini keuskupan sudah cukup bertindak memasang pagar2/rambu2 agar umat dalam skala luas tidak terperosok ?
4. Saya beberapa kali mendengar ada umat yang berucap “Oh, itu romo karismatik”, dan sebaliknya “Oh, romo anu anti Karismatik”. Ini sinyal2 gejala apa?
Mohon pencerahan dan bimbingan.Maaf jika ada kata2 atau ungkapan2 saya yang kurang tepat. Terima Kasih.
Shalom. - Antonius

Jawaban:

Shalom Antonius,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang gerakan karismatik. Memang ada dua kubu yang berbeda dalam melihat gerakan ini, dimana yang satu berpendapat bahwa gerakan karismatik adalah sesat dan yang satu berpendapat bahwa gerakan ini adalah untuk membangun gereja dan diakui oleh Gereja Katolik. Atau yang lebih ekstrem lagi, mereka yang berpendapat bahwa gerakan karismatik ini adalah yang paling utama, yang mampu menyelamatkan Gereja.
Dalam jawaban saya berikut ini, saya tidak membahas secara detil tentang gerakan ini, namun lebih kepada menyikapi gerakan ini. Mungkin suatu saat, saya akan menulis artikel tersendiri tentang hal ini, sehingga dapat diulas dengan lebih jauh dan detil.
Beberapa fakta tentang gerakan karismatik dan spiritualitas Katolik.

  1. Beberapa Paus memberikan sambutan dalam konferensi gerakan karismatik Katolik, seperti Paus Paulus VI, dan Paus Yohanes Paulus II kepada para pemimpin gerakan karismatik Katolik, yang dapat dilihat disini (silakan klik, klik ini juga), dimana di salah satu sambutan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 4 April 1998, paragraf 2, dikatakan "You are an ecclesial movement. Therefore, all those criteria of ecclesiality of which I wrote in Christifideles laici (cf. n. 30) must be expressed in your lives, especially faithful adherence to the Church’s Magisterium, filial obedience to the Bishops and a spirit of service towards local Churches and parishes."
  2. Kita melihat ada beberapa efek negatif dari gerakan ini, dimana menimbulkan perpecahan Gereja, juga ada yang mempunyai kesombongan rohani menganggap bahwa yang tidak ikut gerakan karismatik adalah tertutup dan tidak terbuka akan gerakan Roh Kudus.
  3. Namun ada juga efek-efek positif, dimana banyak dari anggota gerakan ini yang mempunyai kerinduan untuk melayani Tuhan, rindu untuk bertekun dalam Sabda Tuhan, dll.
  4. Dalam sejarah perkembangan Gereja, kita melihat ada begitu banyak jenis spiritualitas di Gereja Katolik.

Bagaimana menyikapi gerakan Karismatik?

Dari beberapa kenyataan tersebut di atas, maka saya mempunyai pendapat sebagai berikut: (dalam hal ini, perlu saya sampaikan, bahwa ini adalah pendapat saya pribadi, yang tentu saja mungkin ada yang tidak setuju dan memang dapat didiskusikan lebih lanjut).

  1. Karena gerakan ini masih termasuk baru, namun masuk dalam "ecclesial movement", seperti yang ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II, maka alangkah baiknya kalau kita terbuka dengan gerakan ini, namun dari pihak hirarki dapat memberikan pengarahan yang baik, sehingga gerakan ini tidak membawa perpecahan, namun turut membangun Gereja Katolik dari dalam. Di satu sisi, kita juga tidak dapat memaksakan semua orang untuk menyukai dan mempraktekkan spiritualitas dari gerakan karismatik, sama seperti spiritualitas Carmelite atau Jesuit tidak dapat dipaksakan kepada semua umat Katolik. Oleh karena itu, kita juga tidak dapat memaksakan semua pastor harus menyukai spiritualitas dari gerakan karismatik. Jadi kalau ada orang yang bilang "oh, itu romo karismatik, atau oh itu romo anti karismatik", mungkin mengacu kepada hal ini. Namun alangkah bijaksananya kalau kita tidak mengecap romo berdasarkan suka atau tidaknya dia dengan gerakan karismatik, sama seperti kita tidak mengecap seorang romo kalau dia suka atau tidak dengan spiritualitas dari Benediktus.
  2. Namun karena gerakan ini termasuk baru, maka Gereja perlu untuk membimbing gerakan ini, sehingga gerakan ini dapat turut berpartisipasi dalam membangun Gereja Katolik bersama dengan unsur-unsur yang lain. Diharapkan bahwa semua dapat bersatu untuk mewartakan Kristus yang hidup dengan kekuatan Roh Kudus.
    1. Perlu diadakan suatu pendekatan pastoral yang tepat serta training yang baik bagi orang-orang yang terlibat aktif di dalam gerakan karismatik. Termasuk di dalamnya adalah para pewarta perlu diberikan suatu dasar teologi dengan ekklesiologi yang baik. Kembali saya tidak tahu apa yang terjadi di lapangan. Mungkin sudah dilaksanakan, mungkin juga perlu ditingkatkan lagi.
    2. Badan Pelayanan Nasional Pembaharuan Karismatik Katolik Indonesia (BPNPKKI) dapat menjadi sarana untuk membimbing gerakan ini di Indonesia agar mempunyai arah yang benar dan turut serta dalam membangun Gereja Katolik dari dalam, sesuai dengan visi dan misinya (silakan klik), dimana di point ke-5 dikatakan "Untuk memupuk pertumbuhan yang terus menerus dalam kesucian melalui integrasi yang tepat antara penekanan segi karismatik ini dengan kehidupan yang utuh dari Gereja. Hal ini terlaksana melalui partisipasi dalam suatu kehidupan sakramental dan liturgis yang kaya, penghargaan terhadap tradisi doa-doa dan spiritualitas katolik dan pembinaan terus menerus dalam ajaran-ajaran Katolik dibawah bimbingan Magisterium Gereja dan peran serta dalam rencana pastoral Gereja."
      Perlu pemikiran bagaimana menjabarkan lebih detail prinsip di atas dalam skala yang luas maupun dalam skala paroki.
    3. Mungkin BPNPKKI dapat mengadakan suatu program training untuk para pengajar dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, sehingga mereka tidak terlalu menekankan pada karunia-karunia Roh Kudus, namun lebih kepada inti dari pengajaran Kristus dan Gereja Katolik, yaitu kekudusan (holiness). Karunia-karunia Roh Kudus yang tidak mengarah kepada kekudusan dapat membahayakan kehidupan spiritual. Dan tentu saja pengajaran tentang ekklesiologi dapat membantu agar semua pihak dapat membangun Gereja Katolik dengan satu visi. Saya tidak tahu secara persis pelaksanaan tentang hal ini, mungkin saja BPNPKKI telah melakukan pelatihan ini.
    4. Yang jelas, gerakan karismatik tidak dapat terlalu menekankan karunia-karunia Roh Kudus, namun selayaknya memahami bahwa karunia-karunia Roh Kudus secara penuh dicurahkan kepada Gereja Katolik, lewat sakramen-sakramen dan juga lewat hirarki. Bahkan dipertegas di Lumen Gentium, bahwa segala karunia karismatik harus tunduk kepada hirarki Gereja. Karunia karismatik tidak boleh sampai membawa perpecahan. Lumen Gentium, 12 mengatakan "“Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat menyolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengalamannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21)."
  3. Karena gerakan ini dapat membuat orang benar-benar mempunyai keinginan untuk mengasihi Kristus dan mempunyai devosi kepada Roh Kudus, dan disatu sisi yang lain Gereja Katolik adalah Tubuh Mistik Kristus dan Roh Kudus adalah Roh penggerak dari Gereja Katolik, maka perlu diberikan suatu penjelasan tentang hubungan antara Yesus, Roh Kudus, dan Gereja Katolik.
    1. Jika seseorang yang ikut gerakan karismatik mempunyai semangat yang berkobar-kobar, namun  tidak disertai pengajaran yang baik, maka itu dapat membuatnya kehilangan arah. Oleh karena itu, setelah atau dalam LISS (Life in the Spirit Seminar) atau SHBDR (Seminar Hidup Baru Dalam Roh), harus ada pengajaran tentang buah-buah Roh, dan bukan hanya karunia Roh Kudus, serta pengajaran tentang Gereja, sehingga diperoleh pengertian hubungan antara Yesus, Roh Kudus, dan Gereja Katolik.
    2. Pendapat tentang, "Hanya Yesus dan saya" atau "hanya Roh Kudus dan saya" dapat menjadikan seseorang sombong rohani dan dapat salah langkah.
    3. Pengikut gerakan karismatik harus tahu bahwa ada hubungan yang tak perpisahkan antara Yesus, Roh Kudus, dan Gereja Katolik. Oleh karena itu mereka yang tergabung dalam gerakan ini harus mempunyai dasar yang benar tentang ekklesiologi. Tanpa dasar ekklesiologi yang benar, maka seseorang atau suatu gerakan akan dengan mudah memisahkan diri dari Gereja Katolik.
    4. Seperti yang diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II, gerakan ini harus mempunyai ketaatan Magisterium Gereja, kepada uskup setempat, juga semangat melayani di dalam gereja lokal atau paroki. Karena setiap keuskupan dan paroki mempunyai adaptasi dan cara pandang yang berbeda, maka gerakan ini harus tunduk kepada hirarki setempat.
  4. Kita dapat melihat juga buah-buah yang terjadi gerakan ini. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada efek negatif, namun juga ada efek positif. Adalah peran hirarki untuk meminimalisasi efek negatif dan semakin mengembangkan efek-efek yang positif.
  5. Pada saat yang bersamaan, Gereja juga harus semakin aktif untuk memberikan pelatihan kepada kaum awam tentang spiritualitas Katolik yang berakar pada tradisi Katolik (doa meditasi, doa batin), yang terbukti mampu menghasilkan buah-buah yang baik, seperti yang dibuktikan oleh para kudus sepanjang sejarah Gereja. Dari semua cara berdoa yang ada: doa lisan, doa renung, doa batin (KGK 2721), maka doa batin adalah merupakan puncak doa (KGK, 2714). Oleh karena itu, seluruh umat, termasuk yang mengikuti gerakan karismatik juga harus diberikan suatu pengajaran tentang doa meditasi dan doa batin.
  6. Seperti kita ketahui, bahwa banyak spiritualitas Katolik yang ada di dalam sejarah perkembangan Gereja, namun semuanya mempunyai satu tujuan, yaitu mewartakan Kristus dan membangun Gereja Katolik dengan cara hidup kudus. Perlu suatu pemikiran tersendiri, apakah mungkin gerakan karismatik ini dapat menjadi "salah satu dari spiritualitas Katolik" - mungkin waktu yang akan membuktikannya.
  7. Dan mari kita semua kembali kepada prinsip dasar, bahwa semua spiritualitas Katolik - apapun bentuknya - mengarah kepada hidup kudus (holiness), dan juga sakramen-sakramen, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Dan terutama semua spiritualitas Katolik harus belajar dari Bunda Maria, sehingga Bunda Maria dapat mengantar setiap orang dari spiritualitas yang berbeda-beda kepada Kristus. Akhirnya semua spiritualitas Katolik harus taat kepada Magisterium Gereja, Uskup setempat, sehingga dalam perbedaan, setiap orang dapat membangun Gereja dalam ikatan kasih Kristus. Spiritualitas yang terlepas dari hal-hal di atas tidaklah dapat dipertanggungjawabkan dan perlu dipertanyakan keberadaannya.
    1. Mengikuti gerakan karismatik namun terpisah dari sakramen atau menganggap pertemuan doa karismatik lebih utama/ tinggi dibandingkan dengan Sakramen Ekaristi, adalah sikap yang pasti salah arah. Hal ini disebabkan karena Perayaan Ekaristi adalah sumber dan puncak dari kehidupan kristen (KGK, 1324, 1407). Anggota gerakan karismatik yang merasa tidak perlu mengaku dosa setelah mengikuti gerakan ini adalah salah jalan, karena semakin dekat dengan Tuhan, maka akan semakin kita sadar akan dosa-dosa kita, dan semakin kita harus rendah hati di hadapan Allah.
    2. Mengikuti gerakan karismatik namun terlepas dari devosi kepada Bunda Maria juga adalah sikap yang salah, karena Bunda Maria adalah manusia yang mempunyai hubungan paling erat dengan Yesus dan Roh Kudus, sehingga kita semua harus mempunyai kerendahan hati untuk belajar dari teladan Bunda Maria. Bunda Maria juga yang mempunyai karunia dan memanifestasikan buah-buah Roh secara sempurna. Oleh karena itu, ia dapat mengantar kita kepada Yesus dan Roh Kudus.
    3. Mengikuti gerakan karismatik, namun memisahkan diri dari Gereja Katolik adalah sikap yang membahayakan keselamatan sendiri, karena ini menunjukkan suatu kesombongan rohani.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan. Mungkin tidak semua uraian di atas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat detail. Kembali saya ingin menegaskan bahwa hal-hal di atas adalah pemikiran saya pribadi, dan mungkin dari umat Katolik sendiri ada yang tidak setuju dengan apa yang saya paparkan.
Semoga keterangan di atas dapat berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef - http://www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

131 Comments

  1. Mengapa kebanyakan umat katolik tidak suka “Katolik Karismatik ” bahkan ada yang menghina umat yang ikut ibadah ” Katolik Karismatik ” . Apakah yang salah didalam ibadah Katolik karismatik ? dan jikalau tidak ada yang salah, bagaimana gereja meluruskan pandangan umat katolik yang salah menilai ” Katolik Karismatik ” itu. Terima kasih. Salam dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

    • Shalom Rudi,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang gerakan karismatik. Saya memindahkan pesan anda ke thread tentang sisi posiitif dan negatif dari gerakan ini. Silakan membaca terlebih dahulu diskusi di thread ini – silakan klik, sehingga anda dapat melihat beberapa sudut pandang, yang mengupas sisi positif dan negatif dari gerakan karismatik ini. Saya pikir, menjadi tugas dari Badan Pembina Karismatik untuk dapat menghindari efek-efek negatif dan berusaha agar gerakan karismatik ini dapat membangun Gereja Katolik dari dalam. Yang terpenting adalah penekanan bahwa dalam spiritualitas bukan hanya karunia-karunia Roh Kudus, namun hidup dalam Rohlah yang paling penting. Karena dengan hidup dalam Roh, maka seseorang dibimbing oleh Roh Kudus untuk terus bertumbuh dalam kekudusan, sehingga menghasilkan buah-buah Roh Kudus seperti yang dijelaskan dalam Gal 5: 22-23 “22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.“, yang menuntun manusia pada keselamatan kekal. Dengan menampakkan buah-buah Roh ini, maka anggota gerakan Karismatik dapat semakin menarik banyak anggota.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Saya cuma bisa memberikan komentar sebagai orang yang melihat dari luar dan bukan sebagai orang yang benar-benar memahami gerakan karismatik.

      Yang saya rasakan dari perkumpulan karismatik adalah rasa “janggal”, terasa berbeda dari ibadah katolik pada umumnya.

      berikut poin-poin yang merupakan keberatan/pertanyaan saya terhadap gerakan karismatik katolik:

      – Saya merasa gerakan karismatik terlalu menekankan pada kemampuan berbahasa roh padahal setahu saya Roh Kudus bekerja baik kita berbahasa roh maupun tidak

      – Sampai saat ini saya masih belum dapat mempercayai kalau pada saat itu benar-benar Roh Kudus yang bekerja, saya cuma sekali mengikuti retret dengan sesi pencurahan dan pada saat itu saya tidak ikut berbahasa roh dan yang saya rasakan sungguh janggal banyak orang2 berteriak histeris, mengangis, berkomat-kamit tidak jelas dan lebih lagi tanpa makna dan pesan yang jelas yang membuat saya meragukan apakah ini sungguh2 merupakan karya Roh Kudus.

      – Banyak dari keluarga saya yang aktif dalam kegiatan karismatik dan saya sendiri cuma umat katolik biasa yang tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani extra. Tapi yang menjadi pertanyaan buat saya kenapa dibanding dengan mereka justru saya yang lebih banyak mengetahui norma2, nilai2 dan dogma/doktrin serta pandangan yang diajarkan gereja katolik padahal semua hanya saya peroleh dari homili misa dan sekilas membaca dari situs2 katolik seperti ini. Hal ini membuat saya memiliki pemikiran kalau gerakan karismatik sendiri cendrung tidak menyentuh ajaran2 gereja katolik.

      – Penilaian pribadi saya (mungkin lebih tepat disebut tuduhan) orang2 yang tertarik mengikuti kegiatan karismatik lebih tertarik dengan kegairahan/semangat yang mereka rasakan disana, entah karena bentuk, gaya, atau musiknya. Sedangkan dalam pandangan pribadi saya ibadah yang mengena lebih membutuhkan suasana yang khusuk. (kalau ingin merasa bergairah, semangat, histeris dll saya lebih memilih nonton konser rock)

      demikian keberatan2 saya terhadap gerakan karismatik tapi saya sangat tertarik untuk mendengar sharing dari teman2 yang telah mengikuti dan aktif kegiatan2 karismatik tersebut sehingga mungkin mampu mengobati kecurigaan saya.

      • Shalom Mike,

        Terima kasih atas tanggapannya. Memang gerakan karismatik menginginkan hubungan yang erat dengan Roh Kudus. Salah satu manifestasi dari Roh Kudus ini adalah dengan bahasa Roh. Namun, perlu menjadi catatan bahwa bahasa Roh tidaklah identik dengan Roh Kudus dan sebaliknya. Roh Kudus tidak terbatas pada bahasa Roh. Manifestasi yang paling otentik dari Roh Kudus adalah pertobatan yang sungguh-sungguh (baik pertobatan pertama yang mengantar pada baptisan, maupun baptisan kedua yang harus dilakukan terus menerus), serta perjuangan secara terus-menerus dalam kekudusan.

        Saya percaya, baik anggota gerakan karismatik maupun yang tidak mengikuti gerakan ini, harus bersama-sama berjuang dalam kekudusan. Satu sisi positif yang memang banyak terjadi dengan orang-orang yang mengikuti gerakan karismatik ini adalah semangat yang menggebu-gebu untuk mengasihi Kristus. Namun, sayangnya semangat ini sering tidak didukung dengan pengertian iman Katolik yang kuat. Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi gerakan ini untuk membuat umat yang sedang menggebu-gebu ini tidak hanya mencari karunia-karunia Roh Kudus, namun juga membangun dasar iman Katolik yang kuat, sehingga mereka dapat mengasihi Kristus dan Gereja-Nya. Di sisi yang lain, menjadi tantangan bagi umat Katolik yang tidak mengikuti gerakan karismatik agar mempunyai semangat untuk mengasihi Kristus.

        Satu hal yang memang perlu dilakukan oleh semua gerakan di dalam Gereja Katolik adalah untuk semakin menghayati Ekaristi, karena perayaaan Ekaristi adalah merupakan sumber dan puncak kehidupan kristiani (lih. KGK, 1324). Bahwa memang ada kebutuhan-kebutuhan lain untuk membuat umat Katolik semakin bertumbuh dalam kehidupan spiritual, tidak boleh mengurangi penghormatan dan penghayatan kita akan Ekaristi. Di sisi lain, kebutuhan-kebutuhan untuk berkomunitas, pengalaman doa yang pribadi, dll tentu saja adalah baik. Namun, pengalaman-pengalaman spiritual ini juga harus didukung dan sejalan dengan iman Katolik yang benar. Oleh karena itu, gerakan karismatik, Legio Maria, kelompok-kelompok kategorial yang lain harus melakukan kegiatannya dengan tetap berusaha sekuat mungkin untuk mengajarkan kepada anggotanya untuk semakin mendalami iman Katolik. Hanya dengan dasar iman Katolik yang kokoh, maka diharapkan semua kegiatan dapat memberikan kontribusi dalam membangun Gereja Katolik yang kita kasihi.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  2. salam,
    Dapatkah saya bertanya mengenai gerakan pembaruan karismatik / pantekosta di dalam katolik, baik dari sejarah awal maupun pertimbangan – pertimbangan terhadap hal ini?

    terima kasih, Rain Drop

    [Dari Katolisitas: pertanyaan ini kami pindahkan dari Buku Tamu, karena kesesuaian topik pertanyaan dengan artikel di atas ]

    • Shalom Rain Drop,
      Silakan anda membaca terlebih dahulu artikel di atas dan tanya jawab yang menyertainya. Mungkin di saat yang datang kami dapat mengulasnya lebih lengkap, namun sementara ini, baru ini yang kami miliki, silakan klik. Tentang sejarah Karismatik, sebenarnya pernah dituliskan oleh Romo Deshi Ramadhani dalam bukunya Mungkinkah Karismatik sungguh Katolik? Dan tanggapan Katolisitas tentang buku ini, sudah pernah saya tulis di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

    • Sebenernya cukup banyak umat yang berpandangan demikian. Namun sebenarnya itu semua kembali pada pembina dan umat persekutuan doa tersebut. Saya juga mengikuti PDOMKK di gereja saya. Puji Tuhan di PD ini kami memiliki pembina yang sangat baik,beliau selalu mengingatkan kepada kami semua tentang keutamaan ekaristi dan liturgi. Selain itu beliau juga mengingatkan kalo kecendrungan umat karismatik seperti itu untuk berdoa panjang2,berbahasa roh dan sebagainya,Namun hal2 itu harus ditempatkan di waktu dan tempat yang benar dan tepat agar tidak menjadi batu sandungan buat orang lain. sejujurnya saya menemukan banyak keintiman yang dilakukan PDOMKK dibanding sisi negatifnya. Positifnya adalah untuk umat karismatiknya,negatifnya adalah bagi yang melihat. Sebab kebanyakan karunia2 dalam karismatik adalah untuk menumbuhkan iman pribadi (seperti bahasa roh dan sebagainya),tapi dari hal ini kami beljar untuk melayani,belajar untuk memiliki hati yang benar dan memperoleh hikmat dalam pikiran dan tindakan kami. Diatas segalanya, prioritas utama adalah misa ekaristi.

      • Shalom Andry,
        Terus terang sayapun setuju bahwa ada banyak pengaruh positif yang dapat ditimbulkan oleh PDKK. Saya dan Stef-pun mengalaminya, sehingga saya mensyukuri adanya gerakan karismatik ini dalam Gereja Katolik. Mungkin suatu saat nanti kami akan mengulasnya secara khusus tentang topik ini. Memang yang terpenting adalah bagaimana setelah menerima pencurahan Roh Kudus itu, umat tetap bertumbuh di dalam kesatuan dengan Gereja Katolik, terutama melalui sakramen- sakramen terutama Ekaristi dan Pengakuan Dosa. Sebab jika demikian, Tuhan sendirilah yang akan terus menerus menyirami dan menumbuhkan iman umat, untuk menghasilkan buah-buahnya demi pembangunan Gereja sebagai Tubuh Kristus, dan demi kemuliaan nama Tuhan.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  3. Setelah 2 tahun berada dalam sebuah PDKK Karismatik kategorial, inilah buah2 yang saya terima:
    – Dalam SHDR, saya mendapat pengertian yang salah bahwa Roh Kudus baru tercurah di saat itu dengan perantaraan sang evangelis, saya baru tahu kalau sebenernya sudah tercurah waktu pembaptisan dan di krisma
    – Banyak member dari PD itu yang menganggap bahwa sudah ikut PD susah cukup, gak perlu ikut ekaristi
    – Misa karismatiknya pakai band, ternyata itu pelecehan liturgi.Bag persembahan pake tarian, skali lagi liturgical abuse
    – Banyak member dari PD itu yang mengaku dosa secara pribadi ke Allah, sungguh sebuah pengecilan buat sakramen tobat
    – Penumpangan oleh awam, bahkan ke pastor pembimbingnya, seolah mereka punya kuasa untuk itu
    – Penolakan untuk berdoa rosario bahkan di bulan Maria, dengan dalih mereka bukan legio Maria, bahkan ada yang doa salam maria aja tidak hapal, gitu kok ngaku2 orang kudus.
    – Saya baca 1 Korintus 14, saya kaget karena di situ ditulis bahwa maks 3 orang berbahasa Roh, bergantian dan harus ada penerjemah. Lha kok di PD sandalama sandalama alalalala nya diumbar secara masal ? trus bahasa roh itu seharusnya berbentuk sebuah bahasa dan bukan lafal gak jelas…
    – Pelegalan jajan firman ke gereja lain, sampai ke titik penerimaan kelima sola dan menolak ajaran Gereja Katolik mengenai kelima sola itu
    – Pemimpin nya menolak kritik, apa karena dekat dengan Tuhan jadi gak perlu dikritik ? dah pasti bener dan dapat ilham langsung dari Roh Kudus ?
    – Penerjemahan alkitab oleh awam, seenaknya. Bukannya seharusnya magisterium gereja yah yang kasih terjemahannya ?
    – PD nya sarat dengan “Amin?” yang dijawab oleh umat “Amiiin”, “Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan” (Soli Dei Gloria) andai mreka tahu apa artinya kalimat itu.

    Sungguh karismatik ini merusak Gereja Katolik dari dalam, Protestan mainstream saja menolak pentekostalisme, lha kok Gereja Katolik menerima ? lebih parah lagi ada romo2 yang mendukung.

    • Terima kasih atas informasinya. Memang ada kelompok-kelompok karismatik yang salah dalam memberikan pertumbuhan iman kepada anggotanya. Semua yang dikatakan oleh Anonymous memang ada yang terjadi di dalam PD karismatik. Oleh sebab itu, kita harus berusaha agar efek-efek negatif ini tidak terjadi. Seperti yang saya tuliskan berkali-kali, PD yang tidak menuntuk umatnya kepada sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, doa dan perjuangan untuk hidup kudus, tidaklah dapat dibenarkan. Pada waktu saya di Philippines, setelah mengikuti LISS (Life in the Spirit Seminar), saya mempunyai kerinduan yang begitu menggebu-gebu untuk berdoa (termasuk berdosa rosario), membaca Alkitab dan mengikuti Sakramen Ekaristi dan mengaku dosa secara teratur dalam Sakramen Tobat. Dan kehidupan sakramen ini ditekankan dalam komunitas tersebut. Bahkan bagi pengurusnya, diharuskan untuk mengikuti Misa harian dan mengaku dosa secara teratur dalam Sakramen Tobat.

      Untuk doa bahasa roh, silakan melihat artikel ini (silakan klik). Kemudian untuk jajan Firman Tuhan di gereja-gereja lain juga tidak dapat dibenarkan. Kebenaran dari Ilham tidak dapat bertentangan dengan pengajaran Gereja Katolik. Oleh karena itu, penafsiran Alkitab juga tidak dapat bertentangan dengan pengajaran magisterium. Kalau komunitas yang anda ikuti memberikan efek-efek yang disebutkan oleh anda, anda dapat melaporkannya kepada pastor setempat dan anda tidak perlu mengikuti komunitas tersebut, atau anda dapat mengikutinya sehingga anda dapat memperbaikinya dari dalam.

      Namun, di satu sisi yang lain, kita tidak dapat juga menutup mata terhadap begitu banyak orang yang terbantu oleh gerakan ini. Teman-teman saya yang mengikuti kuliah teologi ada yang mempunyai latar belakang dari kelompok karismatik dan mereka senantiasa setia terhadap pengajaran Gereja Katolik. Oleh karena itu, Gereja Katolik melihat bahwa gerakan karismatik – kalau dibenahi dengan benar – dapat turut serta membangun Gereja dari dalam. Untuk inilah Gereja Katolik memberikan status “ecclesial movement“.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

    • Pax et Bonum Sdr. Anonymous..

      Dari apa yang saya baca dari komen sdr, saya malah bersyukur melihat hal-hal tsb, karena dapat menjadi tantangan bagi kita semua umat Katolik untuk belajar bersama mengenai gerakan Karismatik Katolik di Gereja yg kita cintai ini dan ‘membenahi’ apabila ada yang tidak seturut dengan Iman Katolik kita. TETAPI, bukan menjelek-jelekkannya atau malah menghapusnya dari Gereja. Karena itu adalah karya Roh Kudus sendiri and whether you like it or not, it’s here to stay.

      Betul gerakan ini mengandung banyak kontroversi terutama karena pernah dan mungkin ke depan akan ada gerakan pemisahan diri dari gereja. Tetapi itu OKNUM dan kembali menjadi tantangan buat kita untuk mencari bentuk katekese yang optimal & sesuai.

      DAN, sharing sedikit, kalau kita bicara dengan orang-orang, terutama pewarta & pengajar Karismatik jadul yang mengetahui persis sejarahnya & terlibat di dalam gerakan ini dari awal sejak masuk di Indonesia, kita akan mendapatkan begitu banyak pengalaman Iman Katolik yang buat saya pribadi sungguh luar biasa. Puji Tuhan.

      Menutup, menurut pengalaman pribadi & perjalanan Iman Katolik saya, mimpi indah saya adalah semua umat Katolik harus sungguh Katolik & sungguh Karismatik. Ditegaskan sekali lagi, ini menurut pengalaman PRIBADI saya lho ya…

      By the way, anyway, busway, sebaiknya Sdr. Anonymous menulis nama anda yang jelas kali ya (atau memang moderator tidak menulis krn request dari penulis – maaf kalau salah), karena apapun yang kita ucapkan, harus berani kita pertanggung-jawabkan. We are among brothers, so fear not.. Semua yang baik, di sharingkan secara bertanggung jawab supaya kita semua boleh bertumbuh & bergerak ke pengetahuan yang benar mengenai Kristus Yesus, Tuhan kita. Amin.

      Shalom,
      Thomas

      • Shalom Sdr. Thomas Rizal Trika,

        Selama mengikuti Karismatik, saya bisa menyanyikan lagu-lagu yang asyik dan mudah dinyanyikan. Pengajaran tentang Alkitabpun mudah saya mengerti. Terasa hubungan yang sangat akrab di antara hadirin. Sharing-sharingnya sangat menyentuh hati. Cuma, saya tidak bisa berbahasa roh. Dan, walau tidak pernah diakui, saya melihat para ahli berbahasa roh itu lebih mengutamakan liturginya daripada liturgi Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya. Untuk selanjutnya, saya tidak mau ikut terlalu jauh….

        Saya berharap, dengan mengikuti Karismatik, saya bisa semakin mengerti dan menghayati iman Katolik, namun saya merasa malah diarahkan ke yang lain – seolah-olah cara/bentuk ibadat Katolik sudah ketinggalan zaman, tidak punya daya Roh Kudus, sehingga harus disesuaikan dengan kemajuan zaman agar umat Katolik tidak kabur semua.

        Beginilah kelompok Karismatik yang pernah saya kenal; meniru cara-cara Protestan, berdoa seperti gaya Protestan, mengagung-agungkan bahasa roh, menganggap ibadat adalah puji-pujian, khotbah dan bahasa roh. Tetapi syukurlah, lewat website ini, Pak Stef telah memperlihatkan kepada saya bahwa banyak juga orang Karismatik yang tetap menempatkan Ekaristi sebagai liturgi yang paling utama daripada yang lainnya. Berarti tidak semua orang Karismatik seperti yang pernah saya temui.

        Walau saya tidak pernah bisa berbahasa roh, tapi saya percaya, Roh Kudus telah menuntun saya menemukan buku yang membuat saya bisa mengerti sebagian kecil dari misteri Ekaristi, yaitu “Rome Sweet Home” oleh Scott Hahn. Selanjutnya, saya menemukan website ini yang mengajari saya bahwa cara yang paling efektif untuk membaharui Gereja Katolik adalah dengan hidup semakin kudus.

        Mengenai Roh Kudus, seorang guru saya pernah berkata kepada saya: “Roh Kudus memang murah hati, tetapi tidak murahan!”, dan seorang pastor pernah berkata: “Kalau mau menguji apakah betul bahasa roh atau bukan, matikan saja musiknya. Kalau masih berlanjut, berarti betul itu bahasa roh. Karna tidak mungkin Roh Kudus tergantung kepada musik.”

        Sdr. Thomas Rizal Trika, Anda menulis di atas: “…mimpi indah saya adalah semua umat Katolik harus sungguh Katolik & sungguh Karismatik…”

        Terima kasih, Anda mempunyai niat yang sangat mulia bagi semua umat Katolik. Namun, membaca kutipan di atas, saya mengartikan Anda berpendapat bahwa seorang Katolik barulah menjadi Katolik yang sesungguhnya jika ia juga termasuk anggota Karismatik. Semoga saja Anda tidak bermaksud demikian. Semoga saja sayalah yang telah salah paham membaca kutipan di atas.

        Kalau memang benar Anda berpendapat demikian, walau itu menurut pengalaman pribadi & perjalanan Iman Katolik Anda, maka bagaimana dengan saya yang Katolik tapi tidak sudi menjadi Karismatik? Berarti saya belum menjadi seorang Katolik yang sesungguhnya?

        Saya merasa harus menjadi Katolik yang sesungguhnya tanpa harus menjadi Karismatik.

        Salam kasih dalam Tuhan Yesus,
        Lukas Cung

        • Saudaraku Lucas Chung,

          Semoga damai Tuhan kita Yesus Kristus selalu bersama anda & keluarga.

          Terimakasih untuk sisipan komen-nya yang ditujukan ke saya.

          Pertama, saya sungguh senang membaca pengalaman anda mengikuti gerakan karismatik dan mengalami apa yang saya pribadi alami, yaitu “ketersentuhan” dengan Roh Allah dan mengalami “kasih” Allah secara pribadi dan nyata. Kalau ada kesempatan, saya mau sharing mengenai pengalaman perjalanan iman saya, tapi then again, it’s not about me. It’s about Jesus and what He is capable of doing when we open our hearts for Him.. Praise The Lord.

          ‘Buah’-nya juga manis ya…membaca Kitab Suci menjadi menyenangkan & lebih mengerti, berdoa menjadi suatu kebutuhan, menyanyikan lagu-lagu rohani menjadi sarana ekpresi syukur kita kepada Tuhan, misa di gereja menjadi lebih hidup, nangis waktu menyambut Ekaristi, ada kerinduan melayani di gereja, interaksi dengan teman-teman di gereja jadi lebih guyub, baca buku Katekismus Gereja Katolik jadi tidak mengantuk..ha..ha.. , sangat merasakan tuntunan Roh Kudus dalam keseharian (misalnya bisa bergabung di Katolisitas.org dan diberkati oleh tulisan2 Bro Stef & team..Bless them) dan lain-lain.
          Tapi yang terpenting Yesus sungguh menjadi figur yang hidup dan dekat setiap waktu. Itu sih yang saya dapat dari mengikuti gerakan karismatik.

          Sperti juga yang anda sharingkan, ada efek-efek negatif dari orang-orang yang mengikuti gerakan ini, di PDKK di tempat saya bernaung, TAPI sejauh pengamatan saya, itu mostly karena ketidak-tahuan mereka saja dan yang lebih penting mereka sangat terbuka untuk masukan dan kritikan terhadap teologi atau tata cara yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Kemudian bimbingan dari pastor2 di paroki juga saya rasakan sangat bermanfaat. Jadi saya berkomitmen untuk terus belajar & mendalami Iman Katolik saya dan bertumbuh dalam gerakan karismatik sembari mengingatkan teman-teman di PDKK kalau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

          Kedua, “Sungguh Katolik, Sungguh Karismatik” adalah mimpi saya pribadi. Boleh dong ya saya mimpi…

          Definisi saya orang yang “Sungguh Katolik” adalah orang Katolik yang pusat iman-nya adalah Ekaristi dan yang berdiri teguh diatas 3 pilar Gereja Katolik, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci & Magisterium Gereja.

          “Sungguh Karismatik” adalah orang Katolik yang terbuka terhadap karisma-karisma Roh Kudus. Seperti yang disebutkan oleh rasul Paulus dalam 1 Kor. 12:7-11, antara lain: nubuat, sabda pengetahuan, penyembuhan, mukjizat dan sebagainya.

          Suatu karya Roh Kudus yang indah dan berharga, sehingga banyak orang mengalami pembaharuan dalam hidupnya dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus, oleh karena kuasa Roh Kudus yang bekerja melalui karisma-karisma itu.

          Karisma-karisma ini sangat berharga dan penting untuk pelayanan yang membuat pelayanan menjadi efektif dan menyentuh hati orang secara langsung. Demikian juga dengan pewartaan atau pengajaran menjadi sangat efektif, apabila disertai karisma-karisma Roh Kudus yang menyertainya, sehingga pewartaan itu akan langsung diteguhkan oleh karisma-karisma itu.

          Karisma ini sesungguhnya bukanlah hal yang luar biasa, tetapi merupakan hal yang biasa yang seharusnya menyertai kehidupan Gereja yang normal. Karisma-karisma itu mau menyatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup dan Allah mau terlibat secara langsung dengan kehidupan manusia.

          Itu saja mimpi saya saudaraku.

          Shalom
          Thomas

          • Shalom Sdr. Thomas Rizal Trika,

            Senang sekali membaca tanggapan Anda. Saya minta maaf karna telah salah paham membaca maksud Anda. Dulu saya adalah orang yang sangat antikarismatik. Setelah dijelaskan oleh Pak Stef, saya baru sadar saya tidak boleh seperti itu lagi. Dan, sekarang, Anda memberitahukan saya bahwa bagi Anda, Ekaristilah yang paling utama. Puji Tuhan! Roh Kudus telah menuntun Anda dan saya menemukan keutamaan Ekaristi. Saya minta agar Anda mendoakan saya, agar saya selalu menjadi orang yang “diutus” di manapun saya berada – sebagaimana yang imam serukan seusai berkat penutup dalam misa: “Pergilah! Kita diutus.”

            Satu tahun belakangan ini, berdirilah satu gereja Bethel di depan rumah orang tua saya. Bentuk bangunan gerejanya sama dengan bangunan di sekitarnya; dua lantai, lantai atas untuk tempat tinggal pendeta dan keluarganya, dan sama sekali tanpa ciri khas gereja seperti menara.

            Satu kali, sewaktu saya berkunjung ke rumah orang tua, di gereja ini sedang diadakan kebaktian hari minggu. Saya perhatikan beberapa saat cara kebaktiannya; dengan semangat mereka melantunkan puji-pujian dalam bentuk lagu pop, dilanjutkan dengan khotbah yang berapi-api dari pendetanya, kemudian dilanjutkan dengan bahasa roh yang ngiau-ngiau-ngiau… Saya langsung berpikir “Lha, cara-cara ibadat yang ada puji-pujian dengan lagu pop ‘kan juga ada di Gereja Katolik, yaitu saat saya mengikuti rekoleksi. Tetapi satu keistimewaa telah mereka tolak dan tiadakan, yaitu Ekaristi. Itulah keistimewaan di Gereja Katolikku yang tidak dimiliki oleh gereja-gereja lainnya, yaitu ‘Pesta Perjamuan Anak Domba’.”

            Tetapi, tidak lama kemudian, ibu saya berkata kepada saya “Seharusnya cara sembahyang adalah yang seperti itu (seperti gereja Bethel itu), sehingga kaum muda bisa ikut serta dan tidak merasa bosan. Sedangkan kalau di Gereja Katolik, khotbah pastornya kita tidak mengerti.”

            Saya bilang “Justru cara sembahyang yang benar adalah yang ada di Gereja Katolik. Karna di Gereja Katolik, kita melakukan ibadat seperti yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus dan kemudian diteruskan oleh para rasul Yesus. Di Gereja Katolik kita menerima Tubuh dan Darah Kristus. Itulah yang dilakukan oleh jemaat awal dan dipertahankan terus oleh Gereja Katolik sampai saat ini. Sedangkan yang di depan itu, telah mereka ubah, mereka buat cara sembahyang yang sesuai dengan keinginan dan perasaan mereka sendiri. Cara sembahyang jemaat awal ‘kan hening, tenang, dengan puncaknya menerima Tubuh dan Darah Kristus, tidak hiruk-pikuk seperti ini.”

            Tetapi, ibu saya yang pendidikannya tidak tamat SD tidak mengerti penjelasan saya ini.

            Selanjutnya saya hanya bisa berdoa agar ibu, ayah dan adik-adik saya tidak terpengaruh dengan yang di depan rumah mereka.

            Dan…saya percaya, hanya Roh Kuduslah yang mampu berbuat… Tidak lama lagi, ayah saya akan dibaptis secara Katolik. Sedangkan ibu saya, beberapa minggu yang lalu waktu kami semua berkumpul, berkata kepada saya, “Mereka (jemaat Behtel) di depan itu, sebetulnya bukan sembahyang. Mereka itu sedang ‘hiburan’, karna sembahyang yang benar bukan seperti itu. Masa ting-ting tong-tong dengan alat bandnya dibilang sembahyang. Itu ‘kan sama dengan orang yang hiburan saja.”

            Jadi, walau nampak menarik perhatian, ternyata yang di depan rumah itu tak berhasil mempengaruhi keluargaku.

            Coba bayangkan, Saudaraku!… Ini kuasa Roh Kudus,lho!… Saya yang sudah angkat tangan tak mampu memberikan penjelasan yang bisa mereka mengerti, tapi pada akhirnya mereka mengerti juga bahwa sembahyang yang benar adalah yang dilakukan oleh Gereja Katolik dalam misa… Jadi, walau saya bukan anggota Karismatik, ternyata Roh Kudus juga berkenan berbuat untuk saya. Bukankah begitu, Saudara? Hahahahaha…

            Saya ingat yang saya baca di “Rome Sweet Home”. Scott Hahn menulis kira-kira seperti ini: “Selama ini saya sudah berusaha membuat istri saya mengerti tentang iman Katolik, tetapi penjelasan saya selalu dia tanggapi dengan amarah, sehingga pembicaraan kami selalu diakhiri dengan pertengkaran yang menyakitkan. Sekaranglah saatnya saya mundur satu langkah ke belakang, memberikan kesempatan kepada Roh Kudus untuk maju membimbing istri saya.”

            Demikian, Saudara, Roh Kudus yang telah bekerja saat diriku tak berdaya.

            Sekali lagi, jangan lupa mendoakan saya, agar saya bisa selalu menjadi orang yang “diutus”.

            Salam kasih dalam Tuhan Yesus,
            Lukas Cung

  4. Saya mau bertanya,

    Dalam beberapa website, seperti http://www.ekaristi.org yang dijadikan rujukan banyak orang katolik, dinyatakan bahwa gerakan Karismatik dalam Gereja Katolik adalah sesat (heterodoksi).
    1) Apakah benar demikian?
    2) Bagaimana sikap resmi Gereja Katolik terhadap gerakan karismatik?
    3) Bagaimana sebenarnya latar belakang terbentuknya Karismatik dalam Katolik? Ada yang mengatakan bahwa Katolik itu ya karismatik dalam arti memang Gereja Katolik itu berkarisma sejak awalnya, hanya saja baru akhir2 belakangan ada Gerakan Karismatik.. ada yang mengatakan bahwa Karismatik tidak ada dalam Katolik, tapi baru tahun 1966, berasal dari protestantisme baru muncul gerakan Karismatik.. sebenarnya bagaimana ya?

    Terima kasih,

    • Shalom David,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang Karismatik. David dapat membaca tanya jawab dan diskusi tentang sisi positif dan sisi negatif dari gerakan karismatik (silakan klik). Banyak orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang keberadaan gerakan karismatik. Namun, kalau Gereja Katolik telah memberikan status “ecclesial movement” (lihat definisinya – silakan klik), maka kita harus berhati-hati untuk mengecap gerakan ini sesat. Bahwa suatu saat ada penilaian yang berbeda dari Vatican, maka dapat saja terjadi. Namun, selama gerakan karismatik masih dalam struktur dan mematuhi pengajaran Gereja Katolik, maka menurut saya pribadi, kita tidak dapat mengatakan bahwa gerakan karismatik adalah sesat. Kalau memang sesat, Vatican tidak akan memberikan status “ecclesial movement” kepada gerakan karismatik.

      Tentang asal-usul gerakan karismatik, suatu saat kami akan menuliskannya secara lebih mendalam. Namun, kalaupun gerakan karismatik ini berasal dari protestanisme, bukan berarti secara otomatis gerakan karismatik dapat langsung dicap sebagai gerakan sesat. Karisma yang sering ditunjukkan dalam gerakan karismatik (gratiae gratis datae) bukanlah sesuatu yang aneh dalam sejarah Gereja Katolik. Begitu banyak santa-santo yang diberikan kemampuan ini. Oleh karena itu, kalau kemudian karisma ini dibangkitkan kembali di dalam Gereja Katolik pada abad ke-20, maka hal tersebut adalah kerja dari Roh Kudus sendiri. Yang memang perlu dicermati adalah penyimpangan-penyimpangan yang kadang dilakukan dalam gerakan karismatik. Namun, di satu sisi, kita juga tidak dapat menutup mata terhadap buah-buah positif dari gerakan ini. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  5. Aquilino Amaral on

    Nama Saya Aquilino Amaral, dari Negara Timor-Leste dan semua keluargaku adalah beragama katolik Roma.

    Saya menjadi anggota THS-THM tahun 1993 di Suatu Kabupaten (COvalima, perbatasan dengan Kabupaten Belu NTT) yang saat itu aku belum tahu persis aliran agama katolik itu. Saat itu di buka dengan kegiatan Ret-ret oleh Romo Akbar, Pr. dari Jogyakarta. Dalam kegiatan-ret-ret kami hanya mendalami iman kami lewat bacaan Alkitab, memang Romo Akbar hebat dalam kesaksian tentang Alkitab. semua ayat kitab suci dia (Romo) hafal, sampai ada penyembuhan. Jadi Kegiatan itu berlansgung selama tiga hari, ditutup dengan suatu atraksi pemecahan benda keras.
    disitu saya iman saya akan Yesus kritius semakin tumbuh dan berkembang sampai sekarang. dan saya setuju dengan kegiatan itu. Di lain kegiatan THS-THM yang kegiatannya khusuh mendalami alkitab dan bela diri.

    Sekarang ini, saya kerja di Kedutaan Japan di Timor-Leste sebagai staff local dengan beberap staf lainnya.
    Ada teman saya perempuan juga bekerja disini. Dia Lulusan S1 di Phipilina. namanya, Lena. dia aktive di kegiatan rohani yang mereka sebut Couple of Christ ( keluarga nikah untuk Kristus) kelompok itu dibawa oleh misioner dari philipina. kegiatan utama mereka doa kelompok di setiap rumah anggota mereka. seperti yang mereka kemukakan adalah doa mereka itu adalah karismatik.

    “Suatu hari saya diundang oleh temanku Lena untuk ikut konference selama 2 hari (September , 2009) dan setiap peserta dipungut biaya US$ 4.00 untuk biaya konsumsi dan tranport.
    Saya pun mendaftarkan diri untuk kegiatan itu. aku juga mengajak istriku untuk ikut, tapi karena anak kami masih baru mau 1 thun, dia tidak sempat iku. kegiatan berlansung di hari sabtu dan Minggu. Malam sabtu sebelum hari sabtu, Jumat malam saya bermimpi bahwa ada orang pencuri yang ingin masuk rumah kami dan sedang naik rumah kami, lalu saya kaget dan terbangun, tetapi tidak ada apa-apa. Keesokan hari itu saya ikut kegiatan itu. didalam kegiatan itu, semua cara doanya percis sama dengan orang Protestan dan Karismatik. ada inti doa-doa yang saya tidak terima saat itu adalah, bahwa dalam doa harus kita memaksa Roh Kudus harus hadir dalam diri kita, kita harus mengaku dosa kita yang lain adalah kita yang menjadi anggota harus dipermandikan kembali. Di situ saya putuskan untuk lari pulang, karena tidak terima doa seperti itu, tetapi saya bertahan sampai sore. sore aya pulang, istri saya mulai cerita mimpinya bahwa saat tidur itu, ada ular hijau yang mau gigit saya, lalu di pukul dan kembali untuk gigit istriku tapi, ada seorang anak perempuan yang pukul ular hijau dan mati. ketika saya mendengar cerita itu saya putuskan untuk tidak ikut kegiatan pada hari kedua”.

    Pertanyaan, adalah kenapa saya mau ikut kegiatan doa semacam itu kok mimpinya buruk? Jika kalo kita menerima Roh Kudus yang keluar dari Allah Bapa dan Allah Putra, kenapa mimpi lihat ular hijau dan pencuri masuk mau masuk rumah saya? kalu doa mereka itu betul, pasti saya melihat mimpi yang baik, seperti saya sedang berdoa atau yang lain.

    Kesimpulan saya adalah Doa Karismatik yang meredoakan untuk mengudang Roh Kudus agar hadir dalam diri mereka, itu adalah Bukan Roh yang diutus oleh Yesus. jadi aku tidak percaya 100% doa karismatik itu.
    tolong beri jawaban atau tanggapan positif.

    • Shalom Aquilino Amaral,

      Terima kasih atas sharingnya. Untuk keterangan lebih lanjut tentang Couple for Christ (CFC) dapat dilihat di website mereka (silakan klik). Secara prinsip Seminar/Program Hidup Kristiani adalah seperti Seminar Hidup Baru Dalam Roh (SHBDR), namun dikaitkan dengan kehidupan pasangan. Saya pernah terlibat di dalamnya, dan saya rasa baik sekali. Namun bagi yang tidak menyukai gaya karismatik, mungkin tidak dapat mengikutinya dengan baik, kecuali membuka diri dengan cara mereka. Oleh karena itu, sebenarnya Aquilino Amaral mempunyai dua alternatif: 1) Tidak mengikuti CFC, namun terus bertumbuh dalam komunitas dan sakramen-sakramen. Diperlukan juga komunitas untuk dapat menggali Firman Tuhan, sehingga kehidupan keluarga Aquilino akan terus mendapatkan siraman Firman Tuhan. 2) Terus mengikuti program hidup Kristiani dengan hati terbuka sampai selesai. kalau memang sampai akhir Aquilino tetap tidak dapat bertumbuh di dalamnya, silakan berhenti dan mencari komunitas yang lain di dalam Gereja Katolik.

      Kita tidak dapat menggunakan mimpi untuk menilai apakah suatu kegiatan baik atau tidak, karena mimpi dapat berasal dari Tuhan atau juga dapat berasal dari yang jahat, atau mungkin dari diri sendiri. Oleh karena itu, mungkin lebih baik menggunakan parameter: apakah kegiatan tersebut telah direstui oleh Gereja? Apakah pengajaran mereka sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik? Mungkin dalam beberapa penjelasan CFC, seperti yang dipaparkan oleh Aquilino agak kurang tepat, seperti: 1) memaksa Roh Kudus (seharusnya: memohon agar Roh Kudus hadir dalam doa dan kehidupan kita), 2) dipermandikan kembali (seharusnya: permandian hanya sekali dan pencurahan Roh Kudus di dalam kegiatan tersebut dilakukan, agar efek Sakramen Baptis yang telah kita terima dapat menjadi lebih nyata). Saya rasa untuk mengaku dosa adalah baik, karena seharusnya minimal kita harus mengaku dosa satu bulan sekali. Tidak ada yang salah dengan mengundang Roh Kudus, bahkan kita harus terus mengundang Roh Kudus setiap hari, agar kita dapat menyadari dosa-dosa kita dan menjadikan kita semakin mirip dengan Yesus. Untuk diskusi tentang karismatik, Aquilino dapat melihatnya di sini (silakan klik). Semoga jawaban dan link tersebut dapat membantu Aquilino dan keluarga. Mari kita terus bertumbuh di dalam Kristus dan Gereja-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  6. St. Anonymous on

    Yang jadi permasalahan dlm gerakan karismatik katolik itu bukan sisi historis atau sejarahnya yg katanya sesat krn berasal dari penumpangan tangan protestan, spt yg ditulis di dalam forum diskusi katolik lainnya, karena kelahiran gerakan karismatik katolik justru terjadi tanpa adanya campur tangan protestan, jika ingin mampir silahkan ke link to ccr.org.uk

    Jika seandainya karismatik menjadi sesat krn penumpangan tangan protestan, lalu bagaimana dgn Salomo yg adalah hasil dosa Daud dengan Batsyeba? Bukankah itu juga sebuah kesesatan? Lalu bagaimana dgn Yakub yg mencuri hak sulung Esau? Bukankah itu juga sebuah kesesatan? Alasan itu sungguh absurd! Silahkan baca link yg saya berikan di atas utk lebih jelasnya mengenai apa yg terjadi sewaktu “Duquesne Weekend”.

    Permasalahan yg sesungguhnya dgn karismatik ialah masih tidak adanya garis komando yg tegas, yg mengatur tata cara ibadatnya, lalu juga perihal bahasa roh, dan masih banyak lagi. Masih banyak persekutuan doa karismatik yg belum mengerti dan belum bisa membedakan ‘berdoa dlm bahasa roh’ antara ‘berkata-kata dlm bahasa roh’. Inilah yg menyebabkan suatu persekutuan doa itu lebih condong kepada pentakostal daripada mengarah kepada katolik yg lebih identik dgn keheningan. Utk ini BPK PKK KAJ dan BPN PKK mulai berbenah diri dan mulai mewajibkan setiap persekutuan doa karismatik katolik yg ada, utk wajib mendaftarkan dirinya, dan semoga kita bisa melihat karismatik yg semakin katolik.

    • Berdasarkan link to ccr.org.uk, bila demikian dapat disimpulkan bahwa karismatik katolik yang sekarang salah penerapannya, atau penerapannya jauh dari sejarah terjadinya the new Pentacost? Sejauh mengikuti PDKK atau pun KRK (di tempat saya), hymn Veni Creator – madah bakti 448 – tidak pernah berkumandang???

      Jika memang kesesatan karismatik krn penumpangan tangan protestan, hal tersebut tidak bisa dibandingkan dengan dosa Daud dengan Batsyeba maupun Yakub yang mencuri hak sulung Esau. Ini adalah perbandingan yang ‘absurd’. Ini hanya akan menjadi alasan dalam ‘pembenaran’ hal yang mungkin memang terbukti sesat.

      Inilah yg menyebabkan suatu persekutuan doa itu lebih condong kepada pentakostal?? Yang saya tahu memang istilah dan sebagian format meng’adopsi ‘ dari gerakan pentakosta protestan (pentacostalism). Jadi tidaklah mengherankan bila condong ke pentakostal, walaupun gerakan pentakosta protestan sendiri ditolak oleh protestan fundamental seperti Lutheran dan Calvinis.

      Jadi apakah memang dapat disimpulkan bahwa penerapannya jauh dari sejarah yang terjadi???

      Salam

        • Dear P’Stef,

          “apakah yang harus dilakukan oleh gerakan Karismatik, sehingga mempunyai ciri kekatolikan yang jelas?”

          Menurut saya, (saya mengutip yang dikatakan st Agustinus) :
          “Diligite homines, interficite errores; sine superbia de veritate præsumite, sine sævitia pro veritate certate” (Love men, slay error; without pride be bold in the truth, without cruelty fight for the truth) (Against Petilian 1.29).

          Salam

          • Shalom Enjeio,
            Terima kasih telah memberikan kutipan dari St. Agustinus. Memang benar, bahwa kita harus mengasihi pendosa, namun harus membenci dosa. Namun, dalam prakteknya, apakah yang harus dilakukan oleh gerakan karismatik agar gerakan ini dapat menjadi benar-benar Katolik dan dapat turut membangun Gereja? Siapa tahu urun rembuk kita dapat didengar juga oleh badan yang berwenang dalam pembinaan gerakan karismatik (BPN PKK).

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            stef – http://www.katolisitas.org

            • Dear P’Stef,

              “dalam prakteknya, apakah yang harus dilakukan oleh gerakan karismatik agar gerakan ini dapat menjadi benar-benar Katolik dan dapat turut membangun Gereja?”

              Akan saya coba jawab:
              1. Saya bukan orang yang ‘anti karismatik’
              2. Saya juga mengakui sampai saat ini gerakan karismatik katolik melalui PDKK telah turut dalam membangun Gereja.
              3. Seperti yang P’Stef bilang, “Gereja Katolik telah memberikan status ecclesial movement kepada gerakan pembaharuan karismatik Katolik. Dengan segala kerendahan hati, mari kita mengikuti apa yang telah diputuskan, dan pada saat yang bersamaan menghilangkan efek-efek negatif dari gerakan ini.” —> saya setuju
              4. Efek negatif yang saya tekankan: karena dari sejarahnya karismatik katolik mengadopsi dari pentacostalism yang mana ajaran pentacostalism banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja, maka ada baiknya yang berbau pentacostalism ditinggalkan.
              5. Agar menjadi benar-benar Katolik…? tidak ada yang lebih Katolik selain mematuhi Gereja dan menjalankan ajaran yang sesuai dengan ortodoksi Gereja.

              Demikian. Salam

              • Shalom Enjeio,
                Terima kasih atas saran-sarannya. Memang diperlukan prudence (kebijaksanaan), agar gerakan Karismatik dapat mempunyai warna kekatolikan yang kental. Dan seperti yang dikatakan oleh Enjeio, kepatuhan kepada Gereja adalah begitu penting, karena semakin kita beriman, kita akan semakin mempunyai kepatuhan dan kerendahan hati. Semoga saja, dalam tahap pemurnian ini, gerakan Karismatik dapat semakin menemukan jati diri dengan tetap berakar pada tradisi Katolik.
                Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                stef – http://www.katolisitas.org

            • Shalom Pak Stef,
              Saya belum mengucapkan terima kasih atas jawaban Bp pada March 29, 2009 at 8:11 pm yang lalu. Jawaban Bp telah membuat saya menjadi lebih bisa menerima gerakan Karismatik Katolik. Sebelumnya, saya adalah orang yang sangat anti-Karismatik Katolik. Namun sekarang, saya jadi tahu bagaimana harus bersikap terhadap mereka.

              Berikut adalah sedikit pengalaman saya…

              Tempat tinggal kami berjarak 400 km lebih dari ibu kota provinsi. Awal September yang lalu, saya harus membawa istri saya untuk dioperasi di rumah sakit non-Katolik di ibu kota provinsi.
              Maka, datanglah berkunjung seorang kenalan saya yang mengaku anggota Karismatik Katolik di kota ini dan sangat kenal baik dengan bapa uskup agung.
              Sebelum dilakukan operasi, istri saya sangat takut. Untuk memberikan kekuatan kepadanya, saya mengajak ia menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Kebetulan, ada Gereja Katolik yang tak jauh dari rumah sakit. Dan, syukur kepada Allah, operasinya berjalan dengan lancar dan selamat.

              Dua hari setelah operasi adalah hari Minggu. Istri saya mengatakan kepada saya bahwa ia ingin sekali menerima komuni. Memang, bisa saja saya pergi lagi ke Gereja Katolik yang letaknya tak jauh itu untuk meminta pastornya mengantarkan komuni kepada istri saya. Tapi saya pikir, mungkin saja kenalan yang sangat kenal baik dengan bapa uskup agung ini mempunyai solusi yang lebih mudah. Segera saya menelepon kenalan yang anggota Karismatik ini.

              Jawabannya membuat saya menghela nafas. Ia menjawab, “Dalam keadaan seperti ini, tak apa kalau istrimu tak menerima komuni. Yang terpenting, ia telah menerima Yesus di dalam hatinya.”

              Hati saya berujar, “Belum tahu dia, justru Ekaristilah yang terpenting bagi orang Katolik.”

              Cobalah…Saudara-saudari seiman Katolik yang anggota Karismatik dan non-Karismatik, yang barangkali belum merasa bahwa Ekaristilah yang terpenting. Ekaristi adalah sumber dan puncak spiritualitas Kristiani, lho! Jadi, liturgi Ekaristilah yang terpenting, dan bukannya yang lain. Ini bukan kata saya, tapi ini ajaran Gereja Katolik, yang sangat jelas ditunjukkan oleh website ini. Marilah bersama-sama kita berusaha “semakin” menghayati Ekaristi dalam hidup kita – dengan tentu saja, dengan hidup semakin kudus.

              Saya tidak mengatakan bahwa sayalah orang yang telah menghayati Ekaristi dan telah hidup demikian kudus. Tidak! Saya berusaha keras untuk itu. Tulisan-tulisan dalam website ini telah sangat jelas menunjukkan kepada saya bahwa saya harus berusaha keras untuk itu. Sungguh, terima kasih yang sangat besar untuk pengasuh website ini.

              Mohon maaf apabila tulisan saya ini telah berlebihan.

              Dan, mohon koreksi dari pengasuh http://www.katolisitas.org.

              Salam Kasih Tuhan Yesus.
              Lukas Cung

              • Shalom Lukas,

                Terima kasih atas kesaksiannya. Memang menjadi tantangan bahwa setelah ada SHBDR (Seminar Hidup Baru Dalam Roh), maka harus ada program pertumbuhan, sehingga semangat yang menggebu dapat disertai dengan doktrin yang benar. Pada akhirnya semua spiritualitas di dalam Gereja Katolik harus mengarahkan seseorang untuk dapat menghayati dan mengasihi Ekaristi, karena Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Mari, dengan spritialitas yang kita ikuti, dapat memberikan kita kekuatan untuk semakin mengasihi Ekaristi dan pada akhirnya dapat membangun Gereja Katolik yang kita kasihi.

                Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                stef – http://www.katolisitas.org

                • Shalom Pak Stef,

                  Pada October 9, 2009 at 5:01 am, St. Anonymous menulis: “…. lalu bagaimana dgn Salomo yg adalah hasil dosa Daud dengan Batsyeba? Bukankah itu juga sebuah kesesatan? Lalu bagaimana dgn Yakub yg mencuri hak sulung Esau? Bukankah itu juga sebuah kesesatan? Alasan itu sungguh absurd!…”

                  Saya lalu membaca 2 Samuel 11 – 12, yang mengatakan bahwa:

                  • Raja Daud memang telah tidur dengan Batsyeba ketika Uria, suami Batsyeba, masih hidup.
                  • Dari hubungan gelap ini, Batsyeba hamil.
                  • Kemudian, Uria mati di medan perang akibat perintah Raja Daud.
                  • Setelah Batsyeba berkabung atas kematian suaminya, Raja Daud mengawini Batsyeba, dan Batsyeba melahirkan seorang anak laki-laki.
                  • Nabi Natan memperingatkan Raja Daud, sehingga Raja Daud menyesal dan meminta belas kasihan Tuhan.
                  • Pada hari ketujuh matilah anak itu (2 Samuel 12:18).
                  • Setelah tahu anak ini mati, Raja Daud menghibur hati Batsyeba, istrinya; menghampirinya dan tidur dengannya, sehingga lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Salomo.

                  Berarti, Salomo lahir bukan dari hubungan gelap, melainkan dari hubungan Raja Daud dan Batsyeba yang telah kawin secara sah.

                  Bukankah begitu, Pak Stef? Mohon koreksinya!

                  Lahirnya Salomo tiba-tiba menjadi penting buat saya. Seperti yang bisa kita baca di Matius 1 tentang silsilah Yesus Kristus, di situ ada disebutkan nama Salomo, tetapi tidak disebutkan “anak itu”. Sering kali juga, Yesus disebut sebagai anak Daud, keturunan dari Raja Daud. Rasa-rasanya saya, sepertinya Allah “tidak rela” anak dari hubungan gelap itu menjadi pewaris tahta Daud, sehingga anak itupun mati (2 Samuel 12:18). Baru setelah itu, Salomo lahir. Apakah memang begitu rasa-rasanya saya ini, Pak Stef?

                  Saya masih ingat bulan September yang lalu merupakan Bulan Kitab Suci Nasional, yang mengambil tema tentang Yakub yang telah bergumul dengan Allah dan manusia.

                  Seingat saya, tema Bulan Kitab Suci Nasional kali ini mengajarkan bahwa:
                  • Saat lahir, Yakub telah bersaing dengan Esau untuk menjadi anak sulung.
                  • Yakub sangat ingin mempunyai hak kesulungan, karna siapa yang memiliki hak kesulungan akan mendapatkan berkat dari Ishak, ayahnya. Sedangkan Esau, kakak Yakub, malah memandang ringan hak kesulungan.
                  • Yakub percaya, jika mendapatkan berkat dari ayahnya berarti akan dilindungi oleh Allah, dan jika mempunyai hidup yang berkenan kepada Allah, maka Allah akan memberikan keselamatan kepadanya. Yakub percaya, berkat pada akhirnya akan mendatangkan keselamatan bagi orang yang hidupnya berkenan kepada Allah.
                  • Yakub berusaha menjadi anak sulung dengan cara membeli hak kesulungan dari Esau. Yakub pun membeli hak kesulungan dari Esau dengan roti dan masakan kacang merah.
                  • Setelah mendapatkan hak kesulungan dari Esau, Yakub dibantu oleh ibunya Ribka, kemudian “berusaha” mendapatkan berkat dari ayahnya, Ishak.
                  • Anak yang mendapatkan berkat dari Ishak adalah Yakub, di mana Yakub telah berusaha dengan keras dan cerdik untuk mendapatkan berkat tersebut.

                  Saya diajak agar mau belajar pada Yakub yang sangat menghargai berkat dari Allah. Karna Allah melindungi orang yang diberkatiNya.

                  Saya diingatkan agar tidak menukarkan dengan apapun juga jaminan keselamatan dari Allah yang saya peroleh lewat Sakramen Baptis. Untuk itu, hidup saya harus berkenan kepada Allah. Ini berarti hidup saya haruslah kudus. (Artikel di website ini “Semua Orang Dipanggil untuk Hidup Kudus, June 10th, 2008” sangat berarti buat saya). Saya harus berusaha dengan keras dan cerdik untuk mendapatkan keselamatan dari Allah.

                  Jadi, kayaknya ajaran Gereja Katolik justru memuji segala tindakan yang telah dilakukan oleh Yakub untuk mendapatkan berkat dari Ishak, ayahnya.

                  Mohon koreksi dari pengasuh http://www.katolisitas.org.

                  Salam kasih Tuhan Yesus,
                  18 Oktober 2009 – Pesta St. Lukas, Pengarang Injil.

                  Lukas Cung

                  • Shalom Lukas,
                    Raja Daud memang mengambil Batsyeba menjadi istrinya (lih. 2 Sam 11:27) setelah kematian Uria (suami Basyeba) di medan pertempuran, kematian yang sebenarnya ‘direkayasa’ oleh Daud. Maka perselingkuhan Daud dengan Batsyeba diikuti juga dengan kejahatan yang lain, yaitu pembunuhan. Hal ini tidak berkenan kepada Allah, sehingga anak yang kemudian dikandung dari perselingkuhan itu, mati. (2 Sam 12:13, 23). Daud bertobat, dan setelah pertobatannya, baru kemudian Salomo lahir. Maka memang Salomo bukanlah anak yang dari perselingkuhan dengan Batsyeba- (pada saat Uria suami Batsyeba masih hidup), namun Salomo tetaplah anak dari Batsyeba, yang dengannya Raja Daud telah berbuat dosa perselingkuhan. Mungkin ini yang dimaksud dengan pernyataan St. Anonymous.

                    Mengenai silsilah garis keturunan Yesus (lih. Mat 1) yang melibatkan Salomo yang dari Batsyeba, dan juga Rahab yang adalah pelacur di Yerikho yang menyembunyikan mata-mata Israel (Yos 2; 6:22-25; Ibr 11:31; Yak 2:25); tidak bermaksud merendahkan Yesus. Kenyataan yang disampaikan adalah Tuhan tetap melibatkan orang-orang berdosa yang bertobat, untuk menjadi ‘nenek dan kaket moyang’-Nya, justru untuk menunjukkan kerendahan hati-Nya untuk melibatkan manusia, yang memang tidak sempurna. Namun, begitu sampai kepada Ibu yang melahirkan-Nya sendiri, yaitu Bunda Maria, Tuhan Yesus sungguh memperhatikan dan menyucikannya. Karena di dalam rahim Maria itu Ia sendiri terbentuk menjadi manusia; Sang Firman menjadi daging (Yoh 1: 14). Silakan membaca mengapa demikian di dalam artikel-artikel Maria di situs ini, yaitu Bunda Maria dikandung tanpa noda, silakan klik, Bunda Maria tetap Perawan, silakan klik dan jawaban di sini, silakan klik.

                    Memang jika kita membaca keseluruhan Kitab Suci, terutama Perjanjian Lama, maka kita melihat kisah-kisah yang menggambarkan bagaimana manusia itu tidak terlepas dari dosa. Bahkan para nabi dan orang- orang pilihan Tuhan dapat jatuh di dalam dosa. Raja Daud yang disebut di atas, misalnya, atau juga Yakub, seperti yang anda tuliskan. Namun Tuhan tetap dapat mendatangkan kebaikan di balik semuanya itu, terutama, karena benar maksud anda, hal kesulungan tersebut adalah untuk menjadi gambaran akan jaminan keselamatan melalui Pembaptisan pada Perjanjian Baru. Sebab dengan Pembaptisan kita digabungkan oleh Kristus yang merupakan Yang Sulung dari segala sesuatu (Kol 1:15). Dan dengan tergabungnya kita dengan Kristus sebagai anggota-anggota Tubuh-Nya memang kita memperoleh berkat keselamatan dari Allah; karena kita telah mati terhadap dosa dan untuk bangkit dan hidup bersama Kristus (lih. Rom 6: 11).
                    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                    Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

                    • Lukas Cung on

                      Terima kasih banyak atas jawabannya, Bu Ingrid.
                      Sungguh jawaban yang sangat melegakan hati… Jadi, walaupun manusia selalu jatuh ke dalam dosa, akan tetapi Tuhan tetap dapat mendatangkan kebaikan di balik semuanya itu. Untuk itu, sepatutnyalah kita menanggapi kebaikan Tuhan dengan sikap sungguh-sungguh bertobat.
                      Salam kasih dalam Tuhan Yesus,
                      Lukas Cung

      • St. Anonymous on

        Di pdkk di tempat saya di Singapore (Emmaus Prayer Meeting) di St. Mary of The Angels parish, hymn Veni Creator dinyanyikan saat sesi pencurahan Roh Kudus, salah satu sesi dlm Life in the Spirit Seminar (SHDR), sedangkan dalam pertemuan rutin, memang tidak pernah dinyanyikan karena intensi seminar berbeda dgn pertemuan rutin. Kita pun tidak pernah menyanyikan Veni Creator setiap kali ekaristi, hanya menjelang hari raya pentakosta saja, karena memang intensinya yg berbeda.
        Mengenai standar penggunaan hymn / doa Veni Creator ini sudah saya coba komunikasikan dgn beberapa orang di BPK dan BPN PKK. Semoga BPK dan BPN PKK bisa menjadi sarana yg baik utk berbenah diri di dalam menuju karismatik yang semakin katolik.

        Sekali lg, tidak ada penumpangan tangan oleh protestan. Silahkan baca kembali link yg saya berikan.
        Ada kronologi dan testimoni dari mereka yg memang terlibat di dalam kelahiran gerakan karismatik katolik.

        Mengenai penerapannya, dari awal sudah saya utarakan di posting sebelumnya bahwa dibutuhkan suatu garis komando yang jelas mengenai tata cara di dalam pertemuan rutin pdkk. Mengenai ini, kembali lagi kepada harapan saya kepada BPK dan BPN PKK.

        Salam

        • Dear St Anonymous,

          “Sekali lg, tidak ada penumpangan tangan oleh protestan. Silahkan baca kembali link yg saya berikan.
          Ada kronologi dan testimoni dari mereka yg memang terlibat di dalam kelahiran gerakan karismatik katolik. ”

          Bagaimana dengan yang ini?
          In January 1967, four Catholics from Duquesne attended their first interdenominational charismatic prayer meeting – the Chapel Hill meeting – in the home of Miss Flo Dodge, a Spirit-filled Presbyterian. Interestingly enough, a few months before these Catholics came, the Lord led Flo to read Isaiah 48 where He announces that He is about to do “a new thing”.Indeed, God was about to do a new thing among Catholics as a result of the prayer meeting. The people from Duquesne were impressed with what they witnessed there. On January 20, two of the men returned. They received the Baptism in the Holy Spirit and began to manifest charismatic gifts. They returned home to pray with the other two who had not attended that night.

          Apa yang dialami Patti Gallagher Mansfield berbeda dengan yang dialami 2 orang yang menerima Baptism in the Holy Spirit. Yang dialami Patti, saya yakin sungguh Katolik, tapi 2 orang yang menerima Baptism in the Holy Spirit, saya yakin 99% mereka menerima penumpangan tangan oleh protestan. Dan yang justru berperan dalam perkembangan karismatik katolik adalah dari 2 orang tersebut.

          Bagaimanapun seperti yang P’Stef bilang : “Gereja Katolik telah memberikan status ecclesial movement kepada gerakan pembaharuan karismatik Katolik. Dengan segala kerendahan hati, mari kita mengikuti apa yang telah diputuskan, dan pada saat yang bersamaan menghilangkan efek-efek negatif dari gerakan ini. Dan semoga buah-buah Roh akan mewarnai gerakan karismatik ini. Dan ini hanya dapat dicapai dengan berakar pada sakramen – terutama Ekaristi dan Pengampunan Dosa, taat pada hirarki, dan devosi kepada Bunda Maria. “(aku suka kutipan ini)

          Salam

          • St. Anonymous on

            Namun menurut Patty, kelahiran karismatik katolik bukanlah terjadi di rumah Florence Dodge.
            Patty :”Yes, there was a birthday party that night, God had planned it in the Upper Room Chapel. It was the birth of the Catholic Charismatic Renewal!”

            Saya setuju bahwa efek2 negatif harus dihilangkan. Dari awal postingan saya pun saya sudah utarakan mengenai ini. Saya dan beberapa rekan dari dalam tubuh karismatik juga sedang berusaha semampu kami sesuai scope kami.

            Saya pun sangat setuju dengan imbauan dari Pak Stef, sehingga kembali lg kepada harapan saya kepada BPK dan BPN PKK di Indonesia, agar mampu membenahi karismatik katolik di Indonesia. Juga lewat SACCRE di Singapore, semoga kita bisa melihat karismatik yang semakin katolik.

            Tuhan memberkati.

            • Shalom Enjeio dan St. Anonymous, dan juga teman-teman semuanya,

              Terima kasih atas partisipasinya dalam diskusi ini. Dari beberapa diskusi tentang karismatik Katolik, kita melihat bahwa dibalik semua ini, ada kerinduan dari umat untuk dapat bertumbuh secara spiritual, ingin merasakan kasih Tuhan, dan ingin mempunyai hubungan pribadi yang dekat dengan Yesus, dan juga ingin berbagi dalam komunitas. Ada orang-orang yang mendapatkannya di dalam gerakan karismatik. Bagi orang-orang yang tidak masuk gerakan ini tidaklah menjadi masalah, selama terus bertumbuh dalam sakramen dan tradisi Gereja. Namun ada umat Katolik yang tidak menyukai gerakan karismatik (atau mungkin gerakan-gerakan lain), namun juga tidak ingin bertumbuh. Inilah orang-orang yang perlu diperhatikan dan dirangkul.

              Saya mengusulkan agar orang-orang yang tidak menyukai atau tidak cocok dengan gerakan karismatik, untuk dapat turut mengaktifkan ecclesial movement yang lain, seperti Legio Maria, dll., atau dapat juga membentuk kelompok doa yang mengajarkan mental prayer – menggali kekayaan doa dari Yohanes Salib dan Teresa Avilla. Dengan demikian, umat Katolik mempunyai wadah untuk dapat bertumbuh dalam doa, melalui spiritualitas yang berbeda-beda. Karena dasar dari semua spiritualitas Katolik adalah Kristus, maka semakin umat gereja Katolik bertumbuh dalam spiritualitas yang dipilihnya, maka mereka akan semakin mengasihi Kristus dan Gereja-Nya.

              Semoga kita juga akan dapat melihat pertumbuhan dari kelompok-kelompok ecclesial movement yang lain, sehingga umat diberikan alternatif dan kemudahan untuk bertumbuh secara spiritual. Namun, sekali lagi semua spiritualitas harus mengarah kepada Kristus, yang hadir secara penuh dalam setiap perayaan Ekaristi.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef- http://www.katolisitas.org

              • St. Anonymous on

                Shallom Pak Stef,

                Terima kasih atas waktu, tempat dan kesempatan yang telah diberikan bagi diskusi ini.
                Terima kasih juga kepada saudaraku Enjeio atas masukannya. Semua ini merupakan proses pembelajaran bagi saya dan semoga bisa menjadi pembelajaran juga bagi audience.

                Thanks again Pak Stef.
                Semoga Tuhan memberkati pelayanan Anda dan tim Katolisitas.org.

                Salam.

    • Thomas Trika on

      Saya mau menambahkan sedikit disini mengenai karunia “berdoa dalam bahasa roh” dan karunia “berkata-kata dalam bahasa roh” yang banyak orang (termasuk saya) kadang masih bingung membedakannya.

      Artikel dibawah diambil dari: Gereja Katolik: “Senandung Dalam Roh dan Karunia Berkata-kata Dalam Bahasa Roh” oleh Sr. Maria Skolastika dan diambil dari http://www.carmelia.net.

      Senandung Dalam Roh

      Bila orang mulai memuji Tuhan dalam bahasa roh, mereka merasakan bahwa lebih indah lagi bila pujian itu disenandungkan. Maka satu persatu mulai bernyanyi dalam bahasa roh. Roh Kudus sendirilah yang akan memimpin keserasian paduan senandung roh itu.

      Ketika kita senandung dalam bahasa roh, kita tidak menguasai melodinya, dan tidak tahu bagaimana nanti melodinya. Melodi itu timbul secara spontan tanpa dipikirkan lebih dahulu.

      Karunia Berkata-kata Dalam Bahasa Roh

      Karunia berkata-kata dalam bahasa roh tidak sama dengan berdoa dalam bahasa roh. Karunia doa dalam bahasa roh merupakan suatu kemampuan tetap yang diberikan pada seseorang sebagai manifestasi luar pencurahan Roh Kudus, yang memampukan orang untuk berdoa setiap waktu dalam suatu bahasa yang tidak dia kenali dan yang bukan merupakan hasil kemampuan akal budinya.

      Karunia berkata-kata dalam bahasa roh merupakan suatu manifestasi sesaat dari Roh Kudus yang mendorong seseorang untuk memberikan sebuah pesan dalam bahasa roh dengan berbicara keras, biasanya pada sebuah persekutuan doa. Manifestasi ini seharusnya diikuti oleh karunia tafsiran.

      Karunia doa dalam bahasa roh diberikan kepada hampir semua orang dan umumnya pada tahap awal hidup rohaninya, dan tujuannya untuk kepentingan pribadi. Sedangkan karunia berkata-kata dalam bahasa roh diberikan kepada orang-orang tertentu yang sudah matang rohaninya, dan tujuannya untuk kepentingan orang banyak. “Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.” (1 Kor. 14:27)

      Suatu gejala yang mengesankan ialah, umumnya bila orang bersama-sama berdoa dalam bahasa roh atau senandung roh, mereka akan berhenti pada waktu yang hampir bersamaan. Hal ini adalah karena mereka digerakkan oleh roh yang sama, yaitu Roh Kudus sendiri.

      Semoga memberkati

    • Shalom Stephanus,
      Terima kasih atas pertanyaan tentang gerakan karismatik. Diskusi tentang topik ini sebenarnya telah cukup panjang. Silakan Stephanus membaca tanya jawab di sini. Kalau masih ada yang ingin ditanyakan, silakan bertanya kembali setelah membaca diskusi di topik gerakan karismatik: sisi negatif dan sisi positifnya (silakan klik). Semoga diskusi di sini dapat membantu. Kalau Gereja Katolik telah memberikan status ecclesial movement kepada gerakan pembaharuan karismatik Katolik. Dengan segala kerendahan hati, mari kita mengikuti apa yang telah diputuskan, dan pada saat yang bersamaan menghilangkan efek-efek negatif dari gerakan ini. Dan semoga buah-buah Roh akan mewarnai gerakan karismatik ini. Dan ini hanya dapat dicapai dengan berakar pada sakramen – terutama Ekaristi dan Pengampunan Dosa, taat pada hirarki, dan devosi kepada Bunda Maria.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  7. Shalom,

    Pak Stef.. saya ingin tahu apa saja sih efek negatif dari karismatik itu?

    Maaf kalau pertanyaan ini pendek, tapi saya berharap bpk mau menjawab.. Thx

    • Shalom Leon,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang gerakan karismatik. Dalam tanya jawab di bagian ini sebenarnya pertanyaan Leon tentang beberapa efek negatif yang terlihat dari gerakan karismatik adalah sebagai berikut:

      a) Ada anggota yang menjadi sombong rohani, karena merasa bahwa mereka telah diurapi oleh Roh Kudus, dan mempunyai karunia bahasa Roh, sehingga mereka beranggapan bahwa secara spiritual mereka lebih tinggi dari yang lain. Hal ini tidaklah benar, karena tingkat spiritualitas seseorang diukur dari kekudusan. Dan kesombongan yang sama dialami oleh jemaat di Korintus, sehingga rasul Paulus menghardik jemaat di Korintus.

      b) Ada anggota yang akhirnya memisahkan diri dari Gereja Katolik, karena mereka merasa bahwa Roh Kudus mengilhami mereka dan Gereja dianggap menghambat pertumbuhan kehidupan spiritual mereka. Mereka tidak menyadari bahwa Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus, dimana yang secara sadar terlepas darinya telah mengambil resiko kehilangan keselamatan kekal. Mereka juga tidak menyadari bahwa sakramen-sakramen adalah cara yang dipilih oleh Kristus untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada seluruh umat Allah.

      c) Dari sini, kita melihat ada kecenderungan untuk tidak melibatkan Gereja dalam pertumbuhan spiritual. Dan hal ini adalah salah, karena kalau Kristus adalah Kepala Gereja dan Gereja adalah Tubuh-Nya, maka yang meninggalkan Gereja sebenarnya meninggalkan Kristus.

      Namun di satu sisi, ada banyak orang yang saya kenal secara pribadi menjadi benar-benar kudus dalam komunitas gerakan karismatik. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah pembinaan yang benar, sehingga peran Gereja tidak terlepas dalam pertumbuhan spiritualitas umat Allah. Salah satu cara adalah dengan mengikuti program pertumbuhan dan pembaharuan, yang dapat diikuti di sini (silakan klik). Semoga program ini dapat berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  8. Pak Stef,
    Saya setuju banget ama perkataan bpk.
    Memang karismatik harus terus diperbaiki..diusahakan supaya jgn menyimpang dr iman katolik dan harus mencirikan kekatolikan yg jelas.
    Menurut saya sebaiknya romo diparoki setempat mesti mengawasi scr ketat PDKK ini…

    Oh ya Pak Stef saya minta ijin untuk mengeprint artikel ttg karismatik ini termasuk komentar2nya untuk didiskusikan dgn ketua PDKK saya…
    saya rasa isi artikel ini dan komentarnya (baik yg pro maupun kontra) sangat bagus untuk dibahas dgn anggota2 di PDKK……..

    oh ya Pak Stef, saya sepertinya kemarin ada ngpost 2 komentar…tp kok 1 komentar lainnya gak ada ya?..
    apakah dipindahkan/dibuat artikel sendiri? ato kemarin websitenya eror shg tidak kepost komentar saya?

  9. Terimakasih banyak atas nasehat bapak Stefanus yang sangat perlu diperhatikan. Memang didalam suatu organisasi perlu menerima kritikan-kritikan konstruktif seperti ini.

    Saya hanya kurang setuju jika ada yang mengatakan kelompok karismatik katolik adalah aliran sesat. Saya kurang tahu atas dasar apa sehingga kita dapat mengatakan demikian? padahal kelompok ini diakui oleh gereja katolik secara syah sebagai “ecclesial movement”. Semoga Tuhan mengampuni. Maaf kalo saya menyinggung perasaan saudara-saudara. mengapa kita menkritik untuk membangun saja?
    Banyak orang mengaku punya Roh Kudus tapi kenyataannya dia tidak mengalami manifestasi Roh Kudus. Dengan kata lain tidak membiarkan Roh Kudus bermanifestasi dalam hidupnya. Takut nanti dibilang orang.
    Seharusnya kita tidak hanya mengetahui saja apa itu Roh Kudus secara teori, tetapi kita perlu mengalami –Nya dalam hidup kita. Karena pengalaman saya kalo kita mengalami-Nya Roh Kudus akan memperbaharui kehidupan kita secara spiritual dan humani, dan akan membantu kita untuk menemukan pola doa yang efektif dan lain sebagainya.
    Ketika Allah sedang memanifestasikan Roh-Nya, kepada kita menanda Allah tidak bisu. Tuhan menyampaikan(Mazmur 115 omongan-Nya dalam wujud Roh-Nya. Roh Kudus diberikan pada gereja adalah supaya kepentingan bersama terbangun kuat. Karunia ini diberikan bukan supaya seseorang tambah sakti, makin banyak makin sakti; tapi supaya kita jadi saksi untuk meneguhkan yang lain, demi kepentingan bersama.

    Dan saya sangat bersyukur karena bapak Stefanus telah memperjelas bagaimana seseorang berdosa melawan Roh kudus (menghujat Roh Kudus).

    Oh ternyata bapak Stefanus pernah bertemu dengan brother Jojo dari Philippins ya? Dia juga merupakan salah satu anggota komunitas CFC.
    Berikut saya ingin melampirkan situs komunitas CFC – Youth For Christ, CFC – Singles For Christ. Bagi yang mau kunjung situs ini silahkan click:
    link to cfcglobal.org.ph
    link to sfcglobal.org
    http://www.cfcyouthforchrist.net
    Situs ini akan membantu saudara-saudara untuk dapat lebih memahami komunitas CFC (Pasangan untuk Kristus).
    Puji Tuhan karena dengan ruangan katolisitas ini dapat membantu saya unutk lebih memahami mendalam tentang iman Katolik kita, Amen.

    Terimakasih dan semoga Tuhan Memberkati.
    Albert (Timor Leste)

  10. dan ini cerita saya ttg SHBDR yg saya ikuti baru2 ini:
    jujur saja pertama kali saya diajak untuk ikut SHBDR, saya menolak, krn saya msh ragu2 dan takut, ditambah krn saya kerja..tp pd akhirnya saya ikut jg stlh dibujuk ama tmn2 dan sdr2 sy di PDKK dan jg trnyta bos saya mengijinkan sy untuk cuti 2hari..
    singkat cerita, inilah tanggapan sy mnganai acara ini:
    1.) beruntungnya diacara ini msh ada romonya sbg pembimbing dan yg memimpin misa yg diselenggarakan
    3 atau 2 kali (dlm wktu 3 hari acara) dan tentunya romo ini pro karismatik (ya stdknya itulah yg tangkap saat sy dgr critanya)
    dan ada (misa/doa?) adorasi thd sakramen maha kudus??? (sori sya lupa istilahnya) dan yg sya yg tdk mengerti bahwa adorasi ini dipimpin oleh rasul awam? (ntah ini namanya ato bukan) yg pasti bukan romo (tdnya sy kira romo trnyata bkn krn dia sudah beristri) tp dia memimpin dgn gaya spt romo dgn berpakain hampir spt romo.dan sy agak2 lupa, apakah diadorasi ini ada pembagian hosti ato tdk…sy bener2 tdk inget..
    apakah tata cara ini sudah benar?mksdnya adorasi ini dipimpin oleh rasul awam?
    2) ada acara pengakuan dosa yg diselenggarakan 2 kali…sy ikut 22nya krn yg pertama itu ntah napa tmptnya saat misa/adorasi berlangsung (didpn peserta), tmptnya dipojokan dan bisik2an ama romonya saat pengakuan…jdnya tdk nyaman saat pengakuan dosanya..tdk private jdnya…
    3) diacara ini ada yg namanya session2 yg membahas ttg kasih Allah, keselamatan, bahasa roh,dll..
    ada sktr 6 / 5 sesi dan dilanjutkan dgn sharing kelompok/sel…dan tiap session ada pembicaranya klo gak salah sebutannya dulu WL bkn ya?,tp skrg ktnya sudah diganti oleh Keuskupan,diganti dgn kata Pembawa Firman?
    sya suka sbnrnya dgn sesi2 ini krn sepanjang pengamatan sy yg dibicarakan oleh pembicaranya tdk menyimpang dr ajaran iman katolik, bahkan disana ada sharing iman yg luar biasa dr pembicarany yg mnrt sy bs memperkuat iman peserta SHBDR termasuk saya dan bahkan sy smpt konseling (ada acara konseling jg loh) dgn salah satu pembicaranya dan sy dpt pencerahan jg dr konseling ini…
    ada kata2 yg yg saya suka dr salah satu pembicaranya bahwa (stdknya ini yg saya tangkap) : bahwa bkn yg paling penting itu bahasa rohnya (dia omg ini bukan krn dia anti bhs roh/karunia roh) tp yg penting adalah bagaimana perilaku hidup kita/hidup beriman kita sbg anak2 Allah slth mengikuti SHBDR ini/stlh mndpt karunia2 roh itu (termasuk bhs roh)
    4) Bahasa Roh dan Pencurahan Roh Kudus
    yg bikin saya tenang adalah penjelasan dr pembicaranya ttg acara Pencurahan Roh Kudus..
    itu BUKAN kita dicurahkan kembali Roh Kudusnya..RK sudah kita dapatkan saat dibaptis dan dikuatkan kembali dlm Sakramen Krisma, jd tidak boleh ada yg blg bahwa RK sudah cukup kita dpatkan di SHBDR dan gak perlu dibaptis lg..ini salah besar..
    dan betapa2 pentingnya sakramen2 dlm gereja katolik..dan satu lg mrk blg bahwa
    acara ini bermaksud untuk membangkitkan kembali roh kudus itu..yg mungkin RK itu spt tdk kita pedulikan ato istilah gaulnya yg dipke oleh pembicaranya adlh RKnya “nyempil” dimana gt smpe2 kita gak sadar klo kita py RK..hehe dan dr kata2 inilah saya berpendapat bahwa pembicara2 ini lum melenceng dr ajaran iman katolik..

    dan ttg Bahasa Roh stp org bs beda2 dan katanya diawal2 ada yg berbunyi spt kereta api “tut2″ /bahkan spt ayam “ptok ptok” ada jg spt org tertawa, pkoknya macem2..dan bhs roh ini bs dilatih dan berkembang.
    bahkan pembicaranya blg bhw bhs rohnya mirip bahasa jepang..*weird hah? sy jg binggung..
    tp dr yg saya dgr bahasa rohnya hampir sama ya ntah itu dr pembicaranya dan panitia yg sudah mndpt bhs roh…ntahlah apa pendengaran sy yg bermasalah/sayanya yg gak terlalu memperhatikan..
    ttg acara Pencurahan RK itu..saat itu asli saya tegang bgt dan deg2an bgt..ini krn sifat sy yg gampang panik walaupun tdk terjadi apa2..pdhal romo dan pembicaranya blg klo kita hrs rileks , jgn tegang..
    dan mau “membuka hati”
    nah pas baru saja mau mulai…saat team pendoa ( yg terdiri dr romo, panitia dan pembicaranya ) mulai berjejer didpn dan diblkag mendoakan kami para peserta dgn bahasa roh..saat itulah sy merasa aneh sekali.
    ntah napa saya rasanya mau muntah, spt ada yg mau keluar dr mulut saya, perut sy yg mmg semula agak sakit sedikit (krn kekenyangan mkn) , tiba2 tambh spt ditekan, dan tiba2 saya jatuh kedpn dan berbaring sambil nangis2..dan tangisan sy keras sekali…jujur aja walaupun saya ini tipe org yg cengeng dan suka menangis didpn org..tp ttp aja saya tak mungkin bs menangis sekeras2nya didpn banyak orang spt itu..dan sy cuma menangis keras tanpa kata2..sy cuma berkata dlm hati. Tuhan Yesus maafkan saya, Tuhan Yesus ampuni saya, berulang2 kali..dan tangisannya semakin keras, dan berhenti nya tangisan saya hmpr bersamaan dgn selesainya pendoa mendoakan kami….
    dan saat saya mau bangun…sya tidak…berat sekali…spt ada yg menarik tubuh sy dr belakang..benar2 berat sekali…dan setlh bbrp saat, saya baru bs bangun..dan sy benar2 merasa enteng sekali..dan lemas sekali..dan sy denger dr sekeliling sy ada yg tertawa, menangis, ada yg berbahasa roh,dll….sy smpt bertanya2 apakah ini benar kerja RK itu? dan saya merasa memang benar ini RK, krn sy merasa bahwa yg tdnya sy spt msh menyimpan sakit hati, dendam wlaupun kecil skali, sptnya hilang..dan sy merasakan suka cita….
    Saat pendoa mengajak para peserta yg sudah mendapat bahasa roh, anehnya lagi2 perut sy sakit spt mau muntah dan spt ada yg mau keluar dr mulut, sesaat mulut sy agak kelu dan lidah spt bergetar..tp tryta akhrnya tdk ada satupun suara yg keluar dr dlm mulut sy..td sy pkr sy hampir mendpt bhs roh..
    Dan kejadian ini tjd lg ketika tmn2 sy byk yg akhrnya bs berbahasa roh, dan jujur sy agak mrasa minder wktu itu..mungkin krn sy merasa sy ini ragu2 ato tidak siap..tp akhrnya sy blg dlm hati kepada Tuhan bahwa sy sudah cukup mengalami pengalaman RK ini…tidak diberi bahasa roh pun sy blg tdk apa2..dan ntah kenapa ada suara hati sy blg bahwa sy lum waktunya menerima bahasa roh ini dan saatnya akan dtg pd wktunya..dan sy akan diberi karunia lainnya…akhrnya sya tenang mendengarnya..
    Itulah pengalaman sy selama mengikuti SHBDR…sy merasa mmg ada perubahan dr diri sya..
    Sy jd lebih rajin berdoa, baca alkitab ,lbh byk bersabar dan tdk gampang berkesal hati..jd lbh bersukacita.
    Amin

    GBU

    • Shalom Devi,
      Satu hal yang harus dipegang, setelah mengalami pengalaman spiritual tersebut, Devi harus benar-benar berakar dalam doa pribadi, Firman Tuhan, sakramen-sakramen (terutama Ekaristi dan Pengampunan Dosa), devosi terhadap Maria dan santa-santo. Kalau memungkinkan, mungkin Devi dapat mengikuti misa harian, sehingga spiritualitas Devi dapat berakar pada sakramen. Hal yang perlu diperhatikan adalah, kita tidak usah mengejar karunia-karunia Roh Kudus, namun yang penting adalah bagaimana untuk hidup dalam Roh Kudus.
      Semoga dapat membantu.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • ya..saya setuju Pak..kata2 bapak benar2 memberikan pencerahan kpd saya..

        btw, saya senang banget ada website katolik yg seperti ini..isinya lengkap..
        semoga website ini selalu ada untuk memberi pengetahuan kepada umat katolik lainnya..

  11. Shalom Pak Stef, Ibu Inggrid, rekan2 katolisitas tmn2 yg lainnya..
    Ntah saya mau mulai drmana..yg jelas doa saya beberapa hari ini sudah dikabulkan oleh Tuhan Yesus,
    bahwa saya saat ini sedang mencari kebenaran ttg karismatik, apakah sesat ato tidak.
    pdahal sblumnya saya sudah bolak balik buka web ini dan tdk ketemu jg yg membahas karismatik scr mendalam (terutama dlm hal positif&negatifnya) spt diartikel ini..ntah napa hari ini saya menemukannya..
    saya rasa ini adalah jawaban drNya…

    dr artikel2 dan tanggapan2 dr rekan2 diatas, saya banyak dpt pencerahan ttg karismatik…
    walaupun saya akui dikepala sya masih timbul pertanyaan karismatik sesat/tidak?
    krn didlm pikiran dan pengamatan digereja saya, PDKKnya belum sampai menyimpang..
    saya akan cerita agak panjang ttg PDKK yg saya ikuti sejak desember thn lalu dan Seminar Hidup Baru Dalam Roh yg baru saja sy ikut, krn itu saya bagi komentar sy jadi 2:

    ttg PDKK (saya copi paste dr postan saya diweb ekaristi.org, maaf klo pke kata “gw” drpd “saya”) :
    baru stgh thn yg lalu, sdr gwngajakin ke PDKK/PDKM (gw baru msk katolik sktr 2thn yg lalu)
    pertama2 mmg jujur aja,kesan gw pertama ikut tuh acara..kesannya mmg protestan bgt…ya setidaknya itulah yg gw tangkep…krn pernah liat sekilas diacara2 ibadah protestan ditv..jd tau sptnya mmg mirip protestan
    ada angkat2 tangan, nyanyi2 smbl joget2 (jgn berpikir joget disini joget berlebihan ya plgan cuma kekiri dan kekanan)tp gw gak gt sreg dgn angkat2 tangan dan nyanyi2 sambil joget2 gt.
    alasannya bknnya apa2..tp krn mmg gw orgnya pemalu bgt..jd gak terbiasa melakukan hal tsb didpn org2..gw cuma tepuk tangan biasa aja..gak mpe ngangkat2 tngn sgala..dan pas doa pun gw cenderung hening..gw bkn tipe org yg berdoa dgn berkobar2..
    tp mmg gw liat mrk luar biasa sekali dlm berdoa,menyanyi puji2an,dll..mksdnya, gw merasa, tmn2 gw dikarismatik hebat (ntah kata apa ya yg cocok untuk mrk krn gw gak pandai dlm berkata2) ampe bs memuji2 Tuhan spt itu, mrk jg pandai dlm berdoa, sptnya mrk sangat bersuka cita sekali..sptnya mrk bener2 sudah merasakan kasih Allah yg luar biasa shg spt itu..krn itulah gw merasa minder bgt… gw merasa kyknya ada yg salah ama gw?merasa iman gw lum sebesar itu, iman gw msh kering, lum bs berdoa dgn baik didpn orang2 (mksdnya memimpin doa), doa malam pun kdg2..bs diblg iman gw msh cetek bgt…gw malah sampe minta maaf ama Tuhan klo gw gak bs spt mrk..maaf krn gw bkn org yg peka thd kasihNya……,dll

    dan baru 2 bln lalu gw diajakin ke acara KRK di MGKemayoran (baru pertama kali gw ikut)…dan gw tanya acaranya spt apa seh? doa2?nyanyi2an? ato apa? dan gw dgr ada Pencurahan Roh Kudus sgala..
    dan kt temen gw “ya spt protestan gt acaranya” gw cuma ha?
    gw sbnrnya ragu2 dan gak mau ikut tp krn dibujuk2 ya akhrnya gw pergi jg..walaupun dihati gw gak sreg dan pikiran gw penuh dgn “tanda tanya” soal acara ginian..nah setelah ikut acara ini, mnrt gw:

    1. ada tarian2 modern dance, ada musical drama ttg pantekosta, nyanyi2 pujian smbil joget2 dan angkat2 tangan, musik bandnya lengkap..spt nonton konser musik jdnya..
    Gw seh ikut2an aja ya pas pd angkat2 tangan dan nyanyi2 sambil joget2 gt..walaupun msh malu2 melakukannya..hehe..Dilain pihak sbnrnya gw gak suka ama musik/suara band yg keras gt,.gak nahan ama suaranya (untung gw duduk dibelakang)..kuping ama jantung gw kyknya gmn gt *jngan2 jantung gw lemah ya…mknya gw gak pernah mau ntn konser2an/acara band gt…hehe
    dan gw merasa hal2 ini (mksdnya tari2an modern dance,musical drama,dll diatas) tidak masalah dilakukan asal bukan didalam misa, saya menganggap acara ini skdar acara2 rohani biasa

    2. Soal pencurahan roh kudus itu bs diblg didoakan ama team pendoa..dan disitu byk bgt yg nangis2,teriak2, dan ampe pingsan/tidur dilantai..Gw asli kaget dan takut jg..abis kyk org kesurupan..gw jd bertanya2 ini beneran roh kudus yg menyentuh hati mrk ampe spt itu??Kt temen gw , itu yg mpe teriak2 dan nangis2 gt lg mengalami luka batin/lg ada msalah berat tuh..mknya disembuhkan oleh RK. Temen2 gw seh nyaranin untuk gw didoakan jg…tp ntah ya gw msh lum yakin..dan agak takut jg…akhrnya gak jd didoakan.*ntah mngkn krn terpengaruh baca diweb ekaristi.org soal kesesatan karismatik..Dan gw dgr ada jg bbrp org yg protes krn ada salah satu pendoa yg saat mendoakan dgn cara menunjuk2 jidat ato memegang kepala..pdhal hal itu tdk diperbolehkan….
    3. Bahasa Roh
    Hmm..ini gw liat byk yg team penyanyi/pendoanya maupun peserta byk yg bs bahasa roh?Sbnrnya gw pertama kali ini dgr org berbahasa roh..yg gw dgr seh kbykan sama ya bhs rohnya? Ya itu seh yg gw tangkep stlh dgr bbrp org disitu berbahasa roh. Apa mmg bahasa roh itu sama? atau orang2 yg pura2/sengaja mengikuti bhs rohnya si pemimpin doa?dan bhs roh yg gw dgr cuma bbrp kata/ucapan aja..abis itu lanjutannya bhs indo biasa..jd spt bahasa selipan diantara bhs2 biasa…dan bhs roh itu gw gak ngerti artinya…

    sbnrnya bbrp minggu sblmnya gw udah baca di website ekaristi.org ttg kesesatan karismatik dan retret hidup baru dalam roh..gw asli syok bgt bacanya…dan ampe gw gak bs tidur…
    ampe skrg gw msh pusing apa PDKK itu sesat ato gak? dan stlh gw baca2 diwebsite ekaristi, mnrt gw di PDKK digereja gw tidak kearah menyimpang kok, spt: mrk masih tetep percaya dan berdoa ke bunda maria, gak ada penumpangan tangan ato pengusiran setan, gak ada misa yg diselengarakan, dan acaranya pun diadakan stelah misa., dan ruangan yg dipke pun bkn digereja tp diaula gt diluar bangunan gereja ..
    acara di PDKK jg cuma nyanyi (alat musik yg digunakan pun cuma gitar dan kdg2 organ) ,doa, sharing iman, baca alkitab, ada pembicaranya,itu jg dr kalangan katolik bkn dr protestan, dan saat bagian pembicara ini bgn yg gw suka dr PDKK..krn biasa tema yg dibawakan tuh kena ama gw, krn itu gw smpe skrg seh msh ikut PDKK…dan gw gak ada pikiran untuk meninggalkan katolik dan pindah ke protestan hanya krn PDKK gayanya mirip protestan..dan gw cinta ama katolik. (berkat website ekaristi jg gw mengerti ttg pentingnya ekaristi dan ttg iman katolik) dan gw jg gak anggep bahwa PDKK adalah hal yg penting sekali dlm hal menggereja…biasa2 aja

    *tulisan2 saya ttg PDKK dan KRK diatas saya tulis sblum saya mengikuti SHBDR..

    • Shalom DV,

      Terima kasih atas kunjungannya ke katolisitas.org dan juga terima kasih atas sharingnya. Kalau ditanya apakah pembaharuan karismatik Gereja Katolik sesat atau tidak, maka saya akan menjawab tidak. Hal ini sejalan dengan sikap Gereja Katolik yang merangkul gerakan karismatik dan menganggap bahwa gerakan ini adalah bagian dari "ecclesial movement". Apakah suatu saat Gereja Katolik dapat merubah keputusan ini? Bisa saja, karena keputusan ini bukanlah sebuah dogma. Namun sementara Gereja Katolik tidak mengeluarkan keputusan yang mengatakan bahwa gerakan ini sesat, maka kita sebagai umat Katolik harus menghormati keputusan ini, dan berfokus pada bagaimana untuk menghilangkan efek-efek yang kurang baik. Dengan cara seperti itu, energi yang ada digunakan untuk membangun Gereja secara lebih efektif. Gereja pada saat ini mengambil sikap pastoral dalam menanggapi gerakan karismatik. Dan sikap pastoral ini, bukan berarti bahwa semuanya boleh, namun harus benar-benar dikaji dan dicerna secara mendalam, sehingga gerakan karismatik ini bukan membawa orang menjauh dari sakramen, penghormatan terhadap Bunda Maria, dan tradisi-tradisi suci yang lain, namun justru membawa orang lebih termotivasi dalam kehidupan menggereja.

      Sebaliknya, kalau ditanya, apakah ada yang harus diperbaiki dalam gerakan karismatik Katolik? Jawabannya adalah "Ya", karena memang dalam kenyataannya ada efek-efek negatif yang timbul dari gerakan ini. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana gerakan ini dapat mempunyai ciri ke-Katolikan yang jelas. Inilah yang harus dipikirkan bersama-sama.

      Gerakan karismatik ini memang harus melalui tahap pemurnian. Diharapkan bahwa anggota karismatik tidak hanya mengejar karunia Roh Kudus, namun seharusnya mengedepankan untuk hidup dalam Roh Kudus dan mengejar kekudusan. Kekudusan inilah yang pada akhirnya akan diperhitungkan oleh Tuhan. Tidak perduli kita dapat berbahasa roh atau tidak, mempunyai karunia menyembuhkan atau tidak, namun kekudusan yang akan menentukan apakah kita dapat masuk di dalam kerajaan Sorga

      Tentang bahasa roh, nanti kami akan mencoba mengulasnya secara lebih terperinci. Semoga dapat membantu DV. Saya juga bersyukur bahwa melalui ekaristi.org, DV dapat mengerti akan pentingnya ekaristi dan iman Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • Shalom Pak Stef,
        Mungkin perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan “ecclesial movement” terlebih dahulu.
        Dan untuk jawaban apakah Kharismatik sesat atau tidak, mungkin lebih bijak jika dijawab belum tahu, karena Gereja Katholik berpegang kepada Mat.13:26-30 dan kenyataannya ada efek-efek negatif atau memang ada penyimpangan-penyimpangan dari gerakan ini. Sehingga saat ini sikap Gereja Katolik adalah “wait and see”, namun saya rasa tidak bisa terlalu lama membiarkan status ini karena akan membuat kebingungan di umat yang awam. Imam pun ada yang pro dan kontra. Sehingga perlu suatu sikap yang tegas segera.
        Terima kasih.

        • Shalom Abin,

          Terima kasih atas tanggapannya tentang ecclesial movement dan gerakan karismatik. Saya berfikir bahwa kalau Gereja Katolik telah memberikan status ecclesial movement kepada gerakan Karismatik, kita tidak dapat mengatakan bahwa Gerakan ini sesat. Kalau kita tetap mengatakan bahwa gerakan Karismatik sesat, kita sebenarnya berbenturan dengan keputusan dari Gereja Katolik. Kita harus dengan rendah hati mengikuti apa yang telah diputuskan. Kita dapat mendiskusikannya secara teologis, sisi positif dan sisi negatifnya tanpa harus mengecap gerakan ini sesat. Kita dapat berhati-hati terhadap gerakan ini – melihat bahwa ada beberapa efek negatif – dan memberikan sumbangan pemikiran agar efek-efek negatif dapat dikurangi dan sebaliknya mengambil yang positif agar orang-orang yang terlibat di dalam gerakan ini dapat secara aktif membangun Gereja Katolik dari dalam. Mari kita melihat status ecclesial movement:

          1) Kalau kita mencoba meneliti lebih jauh, "ecclesial movement" sering memakai beberapa istilah yang berbeda, seperti: komunitas, assosiasi atau perserikatan publik (dipakai di dalam Kitab Hukum Kanonik/ KHK):

          Kan. 312 – § 1. Otoritas yang berwenang untuk mendirikan perserikatan-perserikatan publik ialah:

          1 Takhta Suci untuk perserikatan-perserikatan universal dan inter-nasional;
          2 Konferensi para Uskup di wilayah masing-masing, untuk per-serikatan-perserikatan nasional, yakni yang berdasarkan pen-diriannya diperuntukkan bagi kegiatan yang meliputi seluruh negara.
          3 Uskup diosesan, tetapi bukan Administrator diosesan, di wilayah masing-masing untuk perserikatan-perserikatan diosesan, terkecuali perserikatan-perserikatan yang pendiriannya menurut privilegi apostolik direservasi bagi yang lain.

          § 2. Untuk mendirikan dengan sah perserikatan atau seksi perserikatan di keuskupan, meskipun berdasarkan privilegi apostolik, dituntut persetujuan tertulis Uskup diosesan; tetapi persetujuan yang diberikan untuk mendirikan rumah tarekat religius berlaku juga untuk mendirikan perserikatan yang khas untuk tarekat itu di rumah itu atau di gerejanya.

          Kan. 315 – Perserikatan-perserikatan publik dapat mengambil prakarsa untuk memulai karya yang sesuai dengan sifat khasnya, dan diatur menurut norma statuta, dibawah pimpinan lebih tinggi otoritas gerejawi yang disebut dalam kan. 312, § 1.

          Kan. 781 – Karena seluruh Gereja dari hakikatnya misioner dan karya evangelisasi harus dipandang sebagai tugas pokok dari umat Allah, maka hendaknya semua orang beriman kristiani, sadar akan tanggungjawabnya sendiri, mengambil bagian dalam karya misioner itu.

          2) Dari KHK di atas, maka kita dihimbau (bahkan mempunyai hak dan kewajiban) untuk mengambil bagian dalam karya misioner (Kan. 781). Dan hal ini sesuai dengan apa yang diperintahkan Kristus dalam amanat agung "19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mt 28:19-20). Oleh karena itu, secara individu, maupun dalam bentuk perserikatan-perserikatan publik harus berkarya untuk membangun Gereja dari dalam sesuai dengan karisma dan tujuan spesifik yang ada dalam masing-masing individu, maupun dalam perserikatan-perserikatan publik. Namun, karena perserikatan-perserikatan publik membawa nama Katolik, mana diperlukan persetujuan dari otoritas yang berwenang (lih. Kan. 312). Dan demikian juga kalau disebutkan bahwa gerakan Karismatik telah mendapatkan status ecclesial movement, maka gerakan ini telah mendapatkan persetujuan dari otoritas yang berwenang untuk berkarya sesuai dengan karisma dan tujuan spesifik dari gerakan ini.

          3) Dalam beberapa kesempatan, Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benedikus XVI mengungkapkan beberapa sisi dari ecclesial movement, sehingga kita dapat menarik kesimpulan akan apa sebenarnya arti dari ecclesial movement:

          a) Pope John Paul II, Redemtoris Missio, 72: The sphere in which lay people are present and active as missionaries is very extensive. "Their own field…is the vast and complicated world of politics, society and economics…"[152] on the local, national and international levels. Within the Church, there are various types of services, functions, ministries and ways of promoting the Christian life. I call to mind, as a new development occurring in many churches in recent times, the rapid growth of "ecclesial movements" filled with missionary dynamism. When these movements humbly seek to become part of the life of local churches and are welcomed by bishops and priests within diocesan and parish structures, they represent a true gift of God both for new evangelization and for missionary activity properly so-called. I therefore recommend that they be spread, and that they be used to give fresh energy, especially among young people, to the Christian life and to evangelization, within a pluralistic view of the ways in which Christians can associate and express themselves.

          Within missionary activity, the different forms of the lay apostolate should be held in esteem, with respect for their nature and aims. Lay missionary associations, international Christian volunteer organizations, ecclesial movements, groups and solidarities of different kinds–all these should be involved in the mission ad gentes as cooperators with the local churches. In this way the growth of a mature and responsible laity will be fostered, a laity whom the younger churches are recognizing as "an essential and undeniable element in the plantatio Ecclesiae."[153]

          b) Pope John Paul II, 24 January 1997 Address to members of Neocatechumenal Way, 3: In today’s deeply secularized world, the new evangelization represents a fundamental challenge. The ecclesial movements, which are marked precisely by their missionary zeal, are called to a special commitment in a spirit of communion and collaboration. In the Encyclical Redemptoris missio I wrote in this regard: "When these movements humbly seek to become part of the life of local Churches and are welcomed by Bishops and priests within diocesan and parish structures, they represent a true gift of God both for the new evangelization and for missionary activity properly so-called. I therefore recommend that they be spread, and that they be used to give fresh energy, especially among young people, to the Christian life" (n. 72).
          For this reason, for the year 1998, which within the framework of preparation for the Great Jubilee is dedicated to the Holy Spirit, I am hoping for a common witness of all the ecclesial movements, under the guidance of the Pontifical Council for the Laity. It will be a moment of communion and renewed commitment in the service of the Church’s mission. I am certain that you will not fail to keep this significant appointment.

          c) Pope John Paul II, Homily at the Mass of Pentecost, 25/5/1996: Movements and new communities, providential expressions of the new spring enkindled by the Spirit with the Vatican Council II, constitute a sign of God’s love which, overcoming divisions and barriers of every kind, renew the face of the earth, in order to build the civilization of love.

          d) Pope Benedict XVI, May 31, 2006: The ecclesial Movements and the new communities are today luminous sign of the beauty of Christ and of the Church, his bride. You belong to the living structure of the Church (…that) thanks you for your missionary engagement, for the formative action that you develop in an increasing way in the Christian families, for the promotion of the vocations to the ministerial priesthood and to the consecrated life that you develop within you…Beyond the affirmation of right to one’s existence, it must always prevail, with indisputable priority, the edification of the Body of Christ in the midst of men. Every problem must be confronted by the movements with sentiments of profound communion, in spirit of adherence to the legitimate pastors. Let us sustain the participation in the prayer of the Church, whose liturgy is the highest expression of the beauty of the glory of God, and constitutes, in some way, an appearance of heaven itself on earth.

          e) MESSAGE OF JOHN PAUL II TO THE PARTICIPANTS IN THE 8th INTERNATIONAL
          MEETING OF THE CATHOLIC FRATERNITY OF CHARISMATIC COVENANT COMMUNITIES AND FELLOWSHIPS
          : p.2: …From the very beginning of my ministry as the Successor of Peter, I have considered the movements as a great spiritual resource for the Church and for humanity, a gift of the Holy Spirit for our time, a sign of hope for all people….
          p.3 Within the Charismatic Renewal, the Catholic Fraternity has a specific mission, recognized by the Holy See. One of the objectives stated in your statutes is to safeguard the Catholic identity of the charismatic communities and to encourage them always to maintain a close link with the Bishops and the Roman Pontiff. To help people to have a strong sense of their membership in the Church is especially important in times such as ours, when confusion and relativism abound.
          You belong to an ecclesial movement. The word “ecclesial” here is more than merely decorative. It implies a precise task of Christian formation, and involves a deep convergence of faith and life. The enthusiastic faith which enlivens your communities is a great enrichment, but it is not enough. It must be accompanied by a Christian formation which is solid, comprehensive and faithful to the Church’s Magisterium: a formation based upon a life of prayer, upon listening to the Word of God, and upon worthy reception of the Sacraments, especially Reconciliation and the Eucharist. To mature in faith, we have to grow in knowledge of its truths. If this does not happen, there is a danger of superficiality, extreme subjectivism and illusion. The new Catechism of the Catholic Church should become for every Christian – and therefore for every community of the Renewal – a constant reference-point. Again and again, you must also assess yourselves in the light of the “criteria of ecclesial character” which I set out in the Apostolic Exhortation Christifideles Laici (No. 30). As an ecclesial movement, one of your distinguishing marks should be to sentire cum Ecclesia, to live, that is, in filial obedience to the Church’s Magisterium, to the Pastors and to the Successor of Peter, and with them to build the communion of the whole body.

          Dari beberapa kutipan di atas, kita dapat melihat bahwa ecclesial movement adalah grup/komunitas/perserikatan-perserikatan publik, yang menyadari tugasnya untuk menjadi pelayanan dari Kabar Gembira sesuai dengan karisma yang dipunyainya, yang disetujui oleh otoritas yang berwenang. Dengan karisma dan tujuan spesifik, masing-masing ecclesial movement memberikan kekuatan baru terhadap karya pewartaan, sehingga mereka dapat berkarya untuk membangun Gereja dari dalam. Dan hal ini hanya dimungkinkan kalau mereka tunduk terhadap Magisterium Gereja dan otoritas Gereja.

          4) Beberapa ecclesial movement yang diakui oleh Gereja Katolik (sumber: silakan klik)

          Apostolate for Family Consecration Founded in the USA in 1975 by Jerry and Gwen Coniker. Mission: Bringing families deeper into their faith.

          Catholic Charismatic Renewal Around 70 million Roman Catholics worldwide have been active in this movement, founded in the USA in 1967 among college students. Mission: A renewal of faith through personal and communal experience of the Holy Spirit.

          Catholic Worker Movement Founded in the USA in 1933 by Dorothy Day and Peter Maurin, this movement works for peace and the equal distribution of goods. There are 185 local communities providing social services. Mission: Hospitality towards those on the margin of society.

          Communion and Liberation (CL) Founded in Italy in 1954 by Msgr. Luigi Giussani, CL has 150,000 members in 70 countries. Mission: The education to Christian maturity of its adherents, and collaboration in the mission of the Church in all spheres of life.

          Community of St. Egidio Founded in Italy in 1968 by Professor Andrea Riccardi, the Community numbers 17,000 members worldwide committed to working for peace and ecumenical dialogue. Mission: Putting the Gospel into practice in daily life through prayer, service to the poor and friendship.

          Cursillo Movement Founded in Spain in 1949 by a group of young people.Millions around the world have been enriched by the spiritual-peak experience offered by Cursillo’s weekend programs. Mission: Developing fervent lay people who will influence all segments of society.

          Focolare Movement Founded in Italy in 1943 by Chiara Lubich, it numbers over 5 million in 182 countries. Mission: Fostering unity and universal brotherhood in all aspects of life through its Gospel-based spirituality (see inside back cover)

          L’Arche Founded in France in 1964 by Canadian Jean Vanier, L’Arche has 120 communities in 30 countries Mission: Creating homes and programs for people with developmental disabilities based on Jesus’ Beatitudes.

          Legion of Mary Founded in Ireland in 1921 by Frank Duff, this organization of lay people is present today in nearly every diocese throughout the world with 13 million adherents. Mission: Giving glory to God through the holiness of its members

          Madonna House Apostolate Founded in Canada in 1947 by Catherine Doherty, this community of priests and lay persons has established missionary field houses worldwide. Mission: Loving Jesus Christ in daily life by serving the poor and living the Gospel.

          Neocatechumenal Way Founded in Spain in 1964 by Kiko Arguello, it numbers 41,000 communities in 105 countries and produced a flourishing of both priestly and women religious vocations. Over 1500 priests have been ordained and 4,000.women have embraced religious life. Over 500 families have been sent in mission worldwide and the members of the Neocatechumenal Way are involved in extensive evangelization in de-Christianized areas. It is estimated that there are well over one million members worldwide. Mission: Helping parishes with a program of adult Christian formation.

          Regnum Christi Founded in Mexico in 1959 by Rev. Marcial Maciel, LC, Regnum Christi consists of lay members and Legionaries of Christ priests with 80,000 members in 30 countries. Mission: Spreading Christ’s message to humanity through personal and organized apostolic activities.

          Schoenstatt Movement Founded in Germany in 1914 by Fr. Joseph Kentenich, it numbers a million people in 40 countries and encourages the coordination of all the Church’s apostolic forces. Mission: To be a living part of the Church with Our Lady as mother and model.

          Worldwide Marriage Encounter Founded in the USA in 1968 by Fr. Gabriel Calvo, this movement is active in 93 countries. Over 5 million Catholic and non-Catholic couples and thousands of priests have benefitted from its life-enhancing weekends. Mission: Revitalizing Christian marriage.

          5) Dari sini, kita melihat bahwa gerakan karismatik Katolik adalah ecclesial movement yang mendapat pengakuan dari Vatican, sama seperti beberapa ecclesial movement yang lain, seperti: Legio Maria. Apakah mungkin suatu saat Vatican merubah status ecclesial movement? Mungkin saja, sesuai dengan kan. 320. Bagi saya pribadi, sikap yang sebaiknya diambil sebagai umat katolik adalah mendukung apa yang telah diputuskan oleh hirarki, dan pada saat yang bersamaan membantu agar gerakan karismatik Katolik tetap berakar kuat pada tradisi Gereja dan taat kepada Magisterium Gereja. Bagi saya pribadi, apa yang telah diputuskan oleh Gereja, kita harus hormati, dan kita dukung dalam kapasitas kita masing-masing, sehingga pada akhirnya semua dapat bekerja sama untuk membangun Gereja Katolik yang kita kasihi.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – http://www.katolisitas.org

  12. Kepada saudara-saudari seiman Katolik yang dikasihi Kristus,

    Saya Albert dari Timor Leste berumur 25 tahun masih bujang dan sekarang tinggal di Dili. Terimakasih banyak atas balasan bapak Stefanus atas pengalaman pribadi saya. Semoga Tuhan memberkati.

    Beberapa waktu lalu saya telah membagikan pengalaman (kesaksian) pribadi saya.
    Sekali lagi saya sangat berterima kasih atas komentar-komentar yang disampaikan oleh sahabat-sahabat saya yang kayaknya kurang setuju dengan gerakana Karismatik Katolik. Semoga komentar-komentar saudara berdasarkan fakta dan benar.
    Saya adalah salah satu dari anggota gerakan Karismatik CFC-Youth for Christ atau dalam bahasa indonesia disebut Pasangang untuk Kristus yang berpusat di Filipina.
    Sebenarnya saya juga dulu ketika pertama kali bergabung dengan kelompok ini, saya tidak setuju dengan metode doanya yang tidak pernah saya lihat di dalam iman katolik sebelumnya.
    Waktu pertama kali saya melihat metode doa yang dipakai oleh kelompok karismatik ini saya langsung marah dan mengatakan “mereka gila”. Ya ampun setelah saya mengerti lewat pembinaan-pembinaan yang berikan baru saya sadar dan minta maaf/ampun atas kata-kata saya semoga perkataan saya tidak menghujat Roh Kudus karena ketidaktahuan saya.

    Saya pun tidak setuju 100% kalau ada kelompok karismatik yang lebih mementingkan persekutuan Doa dari pada Misa kudus. Setahu saya sejak saya bersekutu di kelompok karismatik CFC-Youth for Christ ternyata sangat mementingkan Misa Kudas. Dan Misa Kudus is truly a mystery of how Jesus can be truly present in the bread and wine. Malah setiap pagi hari banyak dari sahabat-sahabat saya aktif misa. Malah kita selalu mengatakan Once we believe that Jesus is truly present in the Eucharist, we will want to visit Him everyday. It is the very heart of our Catholic faith. Jadi saya mohon maaf bagi saudara yang mengatakan bahwa kelompok karismatik tidak mementingkan Misa Kudus. Itu salah malah sebaliknya.
    Sangat disayangkan jika saudara mengatakan kelompok karismatik itu aliran sesat, dan semoga saudara tidak menghujat Roh Kudus ketika saudara melihat ada orang karismatik yang berbahasa lidah (tongue). Jika demikian berarti kita mencampuri urusan hubungan seseorang dengan Tuhan. Lihat lah buah roh nya. Jika roh itu baik maka hasil dari buah roh itu akan baik. Jika tidak maka sebaliknya.
    Seperti yang saya katakana diatas bahwa, dulu ketika melihat mereka berdoa dengan bahasa Roh saya pun tidak suka dan marah, padahal waktu itu saya diwarnai oleh kekeliruan sijahat. Biasanya sijahat tidak suka dan marah terhadap hal serperti.
    Tetapi setelah saya join saya tidak langsung berbahasa Roh. Sekitar setelah 2 tahun baru saya bisa berbahasa Roh. Dan bukan berarti bahasa Rohlah yang menjadi satu-satunya karunia yang sangat penting. Berdasarkan 1 Korintus 12:7-11, kita dapat mengetahui adanya sembilan jenis karunia Roh Kudus. Dengan tujuan untuk meneguhkan Sidang Jemaat (1 Korintus 14:2), untuk meneguhkan individu 1 Timotius 4:1, “…. Roh Kudus berkata dengan jelasnya ….” Hal ini tentu akan menjadi nilai plus bagi seseorang yang mengalami hal yang demikian yang kemudian akan menjadikan imannya semakin kuat dan untuk meneguhkan firman Allah.
    Dalam Alkitab Perjanjian Baru kita mendapat informasi bahwa ada dua cara untuk menerima karunia-karunia Roh itu. Yang pertama adalah melalui baptisan Roh Kudus dan yang kedua dengan penumpangan tangan rasul (Kisah Rasul 6:1-5, salah satu dari tujuh saudara yang dipilih itu melakukan tanda-tanda mujizat di Samaria sebagai konsekuensi tumpangan tangan rasul. (2) Kisah Rasul 19:1-7, orang Kristen di Efesus mendapat tumpangan tangan dari Paulus dan mereka bernubuat dan berkata-kata dalam berbagai bahasa.
    Kata Yesus: “Seringkali Aku tidak dipahami oleh mereka yang tidak mengenal Aku … (Yoh. 8:41-44)”. Dan sampai saat ini Roh Kudus masih sedang bekerja disetipa Misi Tuhan. Justru Tuhan sangat merindukan untuk mengaruniakan Kasih-Nya untuk kita.(1 Yoh. 3:1)
    Semoga damai Tuhan senantiasa bersama kita, Amen.
    Albert (Timor Leste)

    • Shalom Albert,

      Terima kasih atas kesaksiannya. Memang ada banyak yang mengalami buah-buah positif seperti yang Albert alami. Dengan pengalaman ini, banyak orang yang mengalami pertobatan dan mengasihi Kristus dan Gereja Katolik. Namun di satu sisi, memang ada sisi negatif dari gerakan ini. Ini adalah dua kenyataan yang terbentang nyata di hadapan kita. Gereja telah menyatakan bahwa gerakan karismatik adalah menjadi bagian dari "ecclesial movement". Gerakan karismatik di dalam Gereja Katolik memang harus mengalami suatu masa pemurnian, sehingga dapat menemukan suatu jati diri, yang juga dapat menggabungkan nilai-nilai Gereja Katolik. Pada saat yang bersamaan efek-efek negatif harus dikikis, yang implikasinya adalah mempunyai pembenahan organisasi dan yang terpenting adalah pembenahan dari sisi spiritualitas dan dogmatik. Ini bukan hanya tantangan bagi gerakan karismatik, namun juga semua bagian dari Gereja Katolik.

      Untuk pembahasan tentang bahasa roh, suatu saat katolisitas.org akan mencoba mengulasnya secara lebih mendalam.

      Saya sangat bersyukur bahwa melalui YFC, Albert dan teman-teman dapat mengalami kasih Tuhan dan membawa semuanya untuk lebih mengasihi sakramen, terutama Sakramen Ekaristi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      Catatan: untuk menjawab apakah sebenarnya dosa menghujat Roh Kudus, silakan untuk melihat tanya-jawab dan diskusi ini (silakan klik).

  13. Rudolfus Adrianus on

    Salam dalam Kasih Kristus.
    Kelompok spiritual dalam lingkungan gereja Katolik semua baik, hanya anggota kelompoknya yang kadang terlalu “percaya diri” tetapi tanpa didasari oleh pengetahuan iman Katolik.
    Dalam suatu kegiatan spiritual dikenal istilah maju tapi mundur, dimana jika kita merasa maju maka disaat itulah kita sebenarnya mundur.
    Kalau kita merasa dekat dengan Yesus, yang berarti kita mengikuti jalan Yesus, apakah kita dapat berkonflik dengan sesama ? Apakah kita dapat menghakimi sesama? Apakah kita merasa lebih diberkati?
    Layaknya musik yang terdiri dari beraneka macam aliran, ada yang suka musik lembut ada yang suka musik rame, begitupun kelompok spiritual Katolik. Ikutlah yang paling kita sukai, jangan cuma menjadi penonton.
    Untuk menerima perbedaan dibutuhkan kerendahan hati seperti apa yang Mother Theresa tulis dalam “cara-cara mencapai kerendahan hati”.
    Saya kira semua kelompok spiritual Katolik bertujuan untuk memuliakan nama Tuhan dan untuk melayani Tuhan.
    Mari kita jadikan semuanya indah.
    Terima kasih

  14. Untuk teman-teman yang belum pernah bergabung dengan kelompok Karismatik.

    SALAM DAMAI KRSITUS

    Kata pepatah mengatakan:
    “TAK KENAL MAKA TAK DISAYANG”

    Sebenarnya saya agak heran dan sedih terhadap pengamatan-pengamatan yang dilakukan oleh saudara seiman saya ZOEBROTO, STEFANUS dan sahabat lainnya.
    Sebenarnya saya juga orang katolik biasa dan tidak tidak fanatik kelompok ini atau kelompok itu.
    Berikut saya ingin membagikan pengalaman masa lalu saya, walaupun waktu itu saya katolik.
    Saya bisa mengatakan waktu itu saya katolik tapi KTP.

    Sebenarnya dulu saya adalah orang katolik yang paling jahat di hadapan Tuhan dan diantara kaum katolik lainnya. Saya merokok sejak dari kelas 3 SD, minum minuman beralkohol sejak saya masih di banku SD. Ketika saya menginjakkan kaki di banku SMP saya adalah orang yang tidak menghargai wanita, nakal sama cewek-cewek. Untuk itu saya mohon maaf atas sesama wanita ku sekalian. Sejak saat itu saya pun mulai menggunakan obat tradisional untuk menjatuhkan hati cewek, artinya cewek mana saja yang saya suka dia harus menjadi milik ku berkat obat tradisional yang saya pakai, dan itu pun terjadi demikian.
    Mulai dari SMP sampai SMU saya sudah terbiasa menonton filem porno. Saya pun bergaul dengan para banci, ketika itu keperperjakaan saya di keluarkan/dihancurkan oleh banci. Pikiran saya selalu hanya terfokus pada sex, sejak itu hawa nafsu saya bertambah pokoknya hidup saya mulai agak hancur hanya karena SEX. Oleh karene nafsu birahi yang begitu tinggi kadang saya bersama sahabat menghabiskan waktu untuk mencari cewek-cewek penghibur (WTS).
    Kadang bukan saja cewek WTS tapi sahabt wanita saya yang lain.
    Pada masa itu bukan saja hal-hal itu yang terjadi di hidup saya tetapi waktu itu pun saya adalah pejudi (pemain kartu).

    Keyakinan saya terhadap iman katolik pun mulai menurun, artinya bling-blang (iman melayang). Terkadang saya protes iman Katolik, saya bilang mengapa harus demikian, mengapa harus demikian….!!! ???

    Pengalaman yang sangat pahit dalam hidup saya adalah ketika saya tamat dari SMU. Waktu itu saya berhubungan sex dengan seorang wanita. Hasil dari hubungan itu ternyata membuah. Woww…saya mulai mau bunuh diri, saya tidak mau menerima diri saya lagi, akhirnya saya mencari obat-obat untuk menghancurkan bayi itu tetepi karena kehendak Tuhan tidak sesuai kehendak saya, jadi usaha saya percuma. Akhirnya bayi itu lahir dengan normal walaupun saya tidak jadi menikah dengan wanita itu.
    Pengalaman itu yang membawa saya ke titik final penyesalan seumur hidup saya. Saat itu mata saya mulai terbuka lebar dan saya mulai mencari jalan Tuhan untuk memurnikan hidup baru saya. Kebetulan di bulan Mei tahun 2005 Tuhan menunjukan suatu jalan untuk memurnikan hidup saya lewat suatu komunitas KARISMATIK katolik CFC Youth For Christ (YFC) yang di bawa oleh para misionaris dari Filipina. Sejak saat itu saya pun bergabung dengan komunitas itu.
    Dan saya mengalami transformasi yang luar biasa katika saya melayani Tuhan lewat kelompok Karimatik ini. Saya mengalami berbagai pengalaman iman lewat pelayan yang kami lakukan di berbagai tempat di Timor-Leste.
    Ini memang luar baisa, selama hidup saya dalam mengimani iman Katolik saya tidak pernah merasakan kuasa kahadiran Roh Allah dalam tubuh dan jiwa saya. Baru pertama kali saya merasakan-Nya ketika saya bergabung dengan kelompok KARISMATIK Katolik (CFC Youth for Christ), kalo nggak sala di Indonesia kelompok ini disebut Pasangan untuk Kristus (Pasukris). Suatu komunitas internasional yang berpusat di Manila Filipina.

    Saya baru menyadari bahwa hanya Roh Allah lah yang dapat memampukan kita untuk mengalami transformasi hidup baru. Dan saya mau bersaksi bahwa hanya melalui kahadiran Allah lah yang dapat menghacurkan dan melenyapkan luka-luka batin, penyakit, dosa, dan segala masalah hidup. Kahadiran-Nya bahkan dapat mebuat kita merasakan nuansa Surgawi. Dan kehadiran-Nya hanya dapat kita rasakan kalo kita mau mengakui, memuji dan menyembah-Nya. Rohnya akan hadir, percaya deh.
    Inilah kisahnya ketika pertama kali saya merasakan kuasa Roh Allah.

    Pada suatu hari kami diundang oleh para misionaris untuk mengadakan workshop tentang bagaimana kita dapat menerima karunia bahasa lidah/bahasa Roh (Tongue Workshop). Karena di dalam Alkitab telah tertulis 9 karunia Roh Kudus dan salah satu karunia itu adalah bahasa lidah, bahwa kita tidak hanya mengetahwi akan hal itu tetapi kita harus mengalaminya jangan hanya teori saja.
    Terus terang kami yang berpartisipasi pada waktu itu pun tidak berharap bahwa nanti akan ada manifestasi Roh Kudus. Saat itu kami diajarkan bagaimana cara memuji Tuhan dengan lagu-lagu pujian. Kamipun di ajarkan bagaimana cara menyembah Allah dengan cara karismatik. Setelah itu kami pun di ajarkan bagaimana memulai berbahasa Roh.
    Wow pada saat teori sedang berjalan beberapa di antara kami sudah mulai menagis, entah mengapa hal itu terjadi, dan ketika kami menanyakan hal itu misionaris mengatakan bahwa kehadiran Allah telah ada di sini, ketika ia mengatakan demikian sebagian dari kami berteriak dan di saat itu kami langsung memulai memuji Tuhan (WORSHIP). Woww,,,,sungguh luar biasa saat itu. Lagu pujian kami terus panjatkan sampai pada tahap penyembahan. Sungguh indahnya di tahap penyembahan, ruangan itu terasa seperti di Surga. Kehadiran Allah mulai menghampiri kami semua, ketika kuasa-Nya datang kami semua berjatuhan, menagis, berteriak, adapula gangguan roh jahat di saat itu. Berjam-jam kami terus merasakan kuasa Roh Tuhan Yesus, kami semua masing-masing tak sadar. Woww praise GOD……..momen itu memang luar biasa yang tak dapat dilupakan.
    Setelah aktivitas itu selesai, badan saya terasa lega dan sangat ringan.
    Keesokan harinya saya merasa heran, karena saya tak dapat merokok lagi, tak dapat minum lagi. Saya mulai berdoa rutin di pagi hari maupun di malam hari, membaca Kitab Suci, mulut saya yang selalu melontarkan kata-kata kotor ternyata tidak lagi. Saya mulai takut akan segala sesuatu yang jahat. Saya mulai aktif gereja, setelah beberapa minggu akhirnya saya mau mulai membagikan pengalaman itu kepada teman-teman sepergaulan saya. Mereka pun heran dengan keadaan ini karena say tidak dapat melalukan kebiasaan saya sebelumnya. Namun mereka tidak begitu yakin dengan keadaan saya, tetapi saya terus berjuang dan mempertahankan hal itu.
    Akhirnya setelah beberapa bulan saya mulai mengundang teman-teman saya di dalam lingkungan yang saya tinggal. Tetapi sebelumnya misionaris kami mengatakan berdoalah pula bagi lingkungan kamu, dan saya pun berdoa. Ketika saya mengundang mereka untuk bergabung bersama kelompok Karismatik itu akhirnya beberapa teman saya meresponnya. Setalah beberapa bulan ternyata anggota di lingkungan saya bertambah, akhirnya kami mulai berkonsultasi dengan kepala lingkungan untuk mulai berdoa Rosari karena sebelumnya lingkungan kami tidak biasa melakukan kegiatan itu setiap bulan Mei dan Oktober. Akhirnya kegiatan itu pun bisa terlaksana dengan baik setiap Mei dan Oktober . Lalu saya mengusulkan lagi agar setiap minggu lingkuangan kami juga dapat menanggung kor (mudika) di Gereja, hal itu pun terkabulkan dan terlakasana. Saya mengusulkan lagi agar setiap minggu kami melakukan kunjungan kepada orang-orang miskin, akhirnya itu pun terjadi. Saya mengusulkan lagi agar aktivitas kami bisa di lakukan di gereja yang dekat, dan aktivitas itu pun terkabulkan oleh Allah. Saya mengusulkan agar bukan hanya pemuda yang dapat berpartisipasi tetapi anak-anak pun bisa, dan akhirnya aktivitas anak-anak pun bisa dapat dilakukan. Lingkungan kami mulai mengalami transformasi, walaupun tidak semua orang dalam lingkungan saya.
    Saya mulai dipanggil oleh misionaris untuk mengikuti pelatihan Mission Volunteer agar dapat melayani di setiap paroki. Saya pun merespon panggilan itu. Ternyata di setiap paroki pun sudah dapat mengadakan aktivitas Youth for Christ. Kadang kami pun di undang oleh uskup untuk melakukan animasi di setiap aktivitas keuskupan di luar kota. Transformasi indivudual saya pun berjalan baik, artinay semua kebiasaan saya yang buruk membaik, walaupun tidak 100%. Saya selalu bersaksi akan hal itu di setiap pelayanan, kadang di Universitas, di Seminari dan setiap paroki. Kadang kami harus mengadakan pelayanan di setiap distrik. Yang saya mau tekankan dalam situs ini bahwa, setiap pelayanan yang kami lakukan selalu ada manifestasi Roh Kudus yang begitu besar dan penuh kuasa. Dari manifestasi itulah yang memampukan setiap orang untuk mengalami transformasi hidup baru. Mungkin anda mendengar krisis Timor-Leste di tahun 2006, saat itu banyak pemuda-pumuda yang terjerumus dalam penipuan politik. Ketika kami melakukan pelayanan di setiap lingkuangan yang terkenal dengan orang-orang jahat/pembunuh ada di antara mereka yang begabung sampai sekarang. Pengalaman pahit mereka pun mereka membagikannya di publik. Ada di antara mereka yang membunuh. Pokoknya setiap orang yang sejahat apapun pasti akan mendapat transformasi hidup baru walaupun tidak 100%.
    Sampai sekarang pelayanan kami sudah sampai di lembaga penjara. Adapun pelayanan penyembuhan yang kami lakukan di setiap lingkungan termasuk lingkungan kami.
    Saya meminta doa dari saudara-saudari sekalian agar semoga Allah terus menggunakan kita menjadi alat-Nya demi melayani umat-Nya yang belum merasakan kasih Allah dan rencana-Nya bagi manusia. Bahwa Ia begitu mencintai manusia.
    Sekali lagi saya mau bersaksi bahwa hanyalah YESUS Tuhan kita yang menjadi Jalan Kebenaran dan hidup termasuk hidup baru kita. Marilah kita sembah Dia, karena kehadiarannya akan menghancurkan segala problem kita, luka kita, beban hidup kita, penyakit kita dan dosa kita. Hanya dalam Nama YESUS…..AMEN….ALELUIA…
    Saya mau mengajak saudara agar mulai membangun hubungan pribadi dari detik ini.
    Sekian dan terimakasih.

    Albert
    ” jika iblis mengingatkan kamu akan kegagalan masa lalumu, ingatkan dia selalu akan masa depannya”

    • Shalom Albert,

      Terima kasih atas tanggapan yang diberikan oleh Albert. Pertama, saya ingin meminta maaf kalau diskusi di topik ini menyedihkan hati Albert. Saya juga berterima kasih atas kesaksian yang begitu indah yang dialami oleh Albert melalui YFC (Youth for Christ). Saya dulu pernah bertemu dengan pembina YFC, Jojo – dari Philippines. Mungkin sekarang pembinanya sudah berbeda.

      Sebagai langkah awal, mungkin kita dapat mencoba melihat dan menerima, bahwa ada dua kenyataan yang terjadi secara nyata, yaitu sisi positif dan sisi negatif dalam gerakan Karismatik. Sisi positif adalah seperti yang dialami oleh Albert, dan begitu banyak orang lain (termasuk saya sendiri, yang saya alami waktu saya tinggal di Philippines). Sisi positif ini memberikan suatu pengalaman rohani yang begitu berkesan, yang menjadikan seseorang mengalami kasih Kristus dengan cara yang begitu pribadi. Namun, pengalaman yang indah ini sering tidak diimbangi dengan pengajaran yang baik. Kurangnya pengajaran yang baik untuk mengimbangi pengalaman yang indah, membuat seseorang kurang dapat bertumbuh dengan benar. Kecendurangannya adalah seseorang menjadi menggebu-gebu dan dapat berkesan sombong rohani. Inilah sisi negatif, yang memang perlu dibenahi.

      Saya ingin menceritakan sedikit tentang pengalaman Ingrid dan saya waktu kami tinggal di Philippines. Setelah kami mengikuti LISS (Life in the Spirit Seminar) di Philippines, maka komunitas tersebut memberikan pengajaran bagaimana agar kami dapat hidup di dalam Roh Kudus. Dan para pengajarnya terdiri dari beberapa pastor dan juga para penatua dari komunitas tersebut. Secara rutin, kami juga mengikuti pengajaran dari satu kelompok kecil, dimana kami mempunyai kesempatan untuk berdiskusi tentang iman Katolik. Ingrid dan saya juga bertumbuh secara spiritual melalui sakramen-sakramen. Misa menjadi lebih indah dan doa pribadi menjadi saat-saat yang membahagiakan. Pengakuan dosa menjadi suatu kebutuhan rutin. Firman Tuhan menjadi santapan harian. Kehidupan santa-santo memberikan inspirasi kehidupan. Ini semua adalah anugerah dan tidak ada yang dibanggakan. Satu-satunya yang dapat dibanggakan adalah Kristus sendiri yang telah bermurah hati untuk mengubah kami menjadi manusia yang baru. Secara singkat, kami menjadi tahu dan mengasihi Kristus dan Gereja-Nya. Pengalaman seperti ini, disebut "argument of the heart". Namun suatu pengalaman spiritual seperti ini seharusnya tidak bertentangan dengan doktrin dan dogma dari Gereja Katolik. Mudah-mudahan suatu saat, katolisitas.org dapat mengulas topik ini secara lebih detil.

      Semoga Tuhan terus memberkati Albert dalam pelayanan dan senantiasa menjadi saksi Kristus yang baik. Mohon doanya juga agar ingrid dan saya dapat melayani Tuhan dengan baik melalui website ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  15. Shalom Bpk Stef,

    “Karena gerakan belum dilarang oleh Gereja, maka kami ingin mengusulkan, bagi yang berpendapat bahwa karismatik ini sesat dan tidak sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik, silakan untuk tidak bergabung dengan karismatik. Pada saat yang bersamaan mungkin dapat mencoba secara pro-aktif dan dengan seijin pastor, membentuk semacam persekutuan doa yang didasarkan pada spiritualitas yang lebih tradisional, seperti doa meditasi/ doa hening, lectio divina, rosario atau si yang lain. Silakan bertumbuh dalam spiritualitas ini karena sudah terbukti dapat membawa umat kepada kekudusan, seperti yang dicontohkan oleh para orang kudus.”

    Saran saya sebaiknya kalimat “maka kami ingin mengusulkan, bagi yang berpendapat bahwa karismatik ini sesat dan tidak sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik, silakan untuk tidak bergabung dengan karismatik” tidak ditulis karena akan dapat menimbulkan perpecahan diantara umat katolik sendiri. Dengan kalimat tersebut seolah-olah anda mebenarkan anggapan dari orang-orang katolik non karismatik bahwa orang katolik karismatik adalah “golongan sesat”. Saran saya sebaiknya diberikan penjelasan yang baik, misalnya dengan menganjurkan mereka untuk mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi atau mungkin diberikan buku yang dipakai di sekolah SEP. Didalam SEP juga diajarkan perihal ” doa meditasi/ doa hening, lectio divina, rosario”. Didalam SEP juga diajarkan bahwa yang terpenting adalah Kasih.
    Ingatlah bahwa Katolisitas.org bukan hanya diakses oleh orang katolik, bahkan orang Kristen pun juga mengaksesnya.

    Salam kasih dari zoebroto

    • Shalom Zoebroto,

      Terima kasih atas tanggapan dan masukannya. Yang tadinya saya tulis "Karena gerakan  belum dilarang oleh Gereja, maka kami ingin mengusulkan …." saya telah mengubahnya menjadi, "Karena gerakan KARISMATIK TIDAK dilarang oleh Gereja, maka kami ingin mengusulkan …." Mohon maaf, mungkin saya kurang teliti dan terburu-buru, sehingga tidak menyampaikan maksud saya dengan benar. Dalam beberapa rangkaian Tanya Jawab ini, memang saya mengusahakan sikap yang netral dalam menanggapi pro dan kontra terhadap gerakan Karismatik. Memang terdapat perbedaan sikap/ pandangan terhadap gerakan karismatik ini. Ada yang berpendapat bahwa karismatik sesat dan mencoba membuktikannya dengan berbagai cara. Ada yang begitu pro- karismatik dan merasakan kehidupannya diubah lewat gerakan karismatik, sehingga ia menjadi begitu menggebu-gebu dan berkeras ingin mengajak semua orang untuk masuk gerakan karismatik.

      Sikap yang saya ambil dalam hal ini adalah berpegang pada apa yang digariskan oleh Gereja Katolik. Karena Gereja Katolik mengatakan bahwa gerakan karismatik adalah "ecclesial movement", maka saya tidak menganggap gerakan Karismatik sesat, bahkan Ingrid dan saya pernah merasakan buah-buah positif dari gerakan ini. Bahkan keputusan kami untuk melibatkan diri secara penuh dalam kerasulan awam diawali oleh suatu pengalaman spiritual dari gerakan karismatik, ketika kami tinggal di Filipina 9 tahun yang lalu. Namun menurut hemat saya, kita tidak perlu untuk memaksakan orang lain untuk mengikuti gerakan karismatik. Yang penting dalam hal ini,  adalah sebagai umat Katolik, kita terus mengusahakan pertumbuhan rohani, baik melalui melalui kehidupan doa, sakramen, Firman Tuhan, devosi terhadap Bunda Maria, maupun juga ketaatan kepada ajaran Magisterium Gereja. Kita selayaknya mengakui adanya keaneka- ragamaman ekspresi doa yang telah berakar dalam tradisi Gereja. Maka dalam hal ini, doa dengan cara karismatik sesungguhnya tidak lebih tinggi daripada doa hening, doa meditasi, dll. Selanjutnya, dengan keaneka ragaman ini seharusnya tiap-tiap anggota Gereja dapat saling membangun dan mendukung satu sama lain.

      Dari banyaknya diskusi tentang topik ini, baik di katositas.org, maupun di website yang lain, masing-masing pihak telah mencoba melihat dari dua sisi yang berbeda, yaitu sisi positif dan sisi negatif. Namun, menurut saya pribadi, adalah lebih baik energi yang ada dicurahkan untuk membangun Gereja dengan cara yang lebih positif daripada mencoba membuktikan bahwa karismatik sesat atau karismatik yang paling benar. Selama Gereja mengatakan bahwa gerakan karismatik adalah bagian dari Gereja, saya pikir ini adalah pernyataan yang kuat. Justru, energi yang ada dapat dicurahkan untuk mengembangkan diri sesuai dengan spiritualitas yang dipilih oleh masing-masing pribadi, namun tetap berakar pada spiritualitas Katolik. Mungkin perlu dibahas secara detail bagaimana gerakan Karismatik dapat menjadi salah satu spiritualitas Katolik.

      Dalam tulisan saya di atas, saya juga mengutip apa yang menjadi visi dan misi dari BPNPKKI:

      Badan Pelayanan Nasional Pembaharuan Karismatik Katolik Indonesia (BPNPKKI) dapat menjadi sarana untuk membimbing gerakan ini di Indonesia agar mempunyai arah yang benar dan turut serta dalam membangun Gereja Katolik dari dalam, sesuai dengan visi dan misinya (silakan klik), dimana di point ke-5 dikatakan “Untuk memupuk pertumbuhan yang terus menerus dalam kesucian melalui integrasi yang tepat antara penekanan segi karismatik ini dengan kehidupan yang utuh dari Gereja. Hal ini terlaksana melalui partisipasi dalam suatu kehidupan sakramental dan liturgis yang kaya, penghargaan terhadap tradisi doa-doa dan spiritualitas katolik dan pembinaan terus menerus dalam ajaran-ajaran Katolik dibawah bimbingan Magisterium Gereja dan peran serta dalam rencana pastoral Gereja.
      Perlu pemikiran bagaimana menjabarkan lebih detail prinsip di atas dalam skala yang luas maupun dalam skala paroki.

      Harapan saya adalah, saya mencoba untuk memberikan penilaian yang seimbang tentang gerakan karismatik. Memang Gereja saat ini telah mengambil sikap bahwa kita harus merangkul gerakan karismatik. Namun di sisi yang lain, kita juga harus melihat ada banyak hal dalam gerakan karismatik yang perlu dibenahi. Pada akhirnya pengalaman spiritual dalam gerakan karismatik tidak seharusnya bertentangan dengan dogma dan doktrin dari Gereja, sama seperti kasih (love) dan kebenaran (truth) tidak dapat saling bertentangan.

      Akhirnya, marilah kita mencurahkan energi kita untuk bersama-sama bertumbuh secara spiritual – baik dengan cara karismatik atau cara yang lain – namun tetap dalam kesatuan di dalam Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Marilah kita yang bertumbuh dalam spiritualitas yang berbeda-beda, namun dipersatukan dalam kasih Kristus dalam Gereja Katolik, berlomba-lomba untuk bertumbuh di dalam kekudusan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

    • Salam sdr. zoebroto (dari admin: keterangan nama saya hapus),

      Kalau seandainya saja orang2 karismatik (karismatik mania) mau sedikit saja untuk jujur pada diri sendiri, dan dg RENDAH HATI mau ber-autokritik, maka niscaya gerakan karismatik ini akan dapat menghasilkan buah2 yg baik (terutama rendah hati, taat/patuh) dan lebih dpt diterima oleh umat Katolik[umum] spt kelompok2 katagorial lain misalnya Legio Maria, Kerahiman Ilahi, ME, SSV, KKIT, dll.

      Saya dg sejujur-jujurnya banyak menjumpai karismatikers (bahkan boleh dibilang) semua karismatikers mania yg cara2 berpikirnya sangat2 tidak sesuai dg nafas dan jiwa ke-Katolikan. Di wilayah dan lingkungan saya, semua yg ikut karismatik menghendaki gereja berubah, mereka mau me-“reformasi” gereja, kata mereka gereja harus ber-revolusi, harus DIPERBAHARUI [ALA KARISMATIK], gereja Katolik harus ikut trend zaman sekarang….. kalau tidak mau ditinggalkan umatnya dan lama2 umat katolik akan habis… akhirnya Gereja Katolik tdk exist lagi… begitu katanya.
      Mereka bilang gereja Katolik ini “raksasa yg tertidur” dan dg adanya karismatik lah gereja Katolik dapat bangun kembali dan berkembang.
      Saudara2 saya dan teman2 saya pun yg ikut karismatik bisa sama persis, mereka jg mengatakan demikian. Saya takjub juga sih dg mereka, bisa2nya mengatakan/mempunyai pemikiran yg sama semua. Apa dari sononya memang sdh diarahkan “mindset” nya spt itu.

      Saya sangat merasakan aroma KESOMBONGAN ROHANI yg sangat kental dari karismatikers. Apakah orang2 karismatik tsb yg katanya “suka baca KS” malah tidak mengerti apa yg Yesus katakan dlm KS tentang Gereja-Nya; “Bahwa alam maut tdk akan menguasainya dan Tuhan Yesus akan menyertainya sampai akhir zaman”. Mengapa karismatikers bisa mengatakan bahwa GK lama2 akan ditinggalkan umatnya, lalu umatnya habis, dan tamatlah riwayat GK alias tdk bisa exist lagi? Dan seolah-olah di era skrg ini Gereja Katolik masih lumayan tidak ditinggalkan umatnya, karena diselamatkan oleh gerakan karismatik…..

      Seorang teman saya yang ikut SEP malah sombongnya tidak karuan, ia mengtakan kpd saya “makanya ikut SEP saja spy saya bisa “open minded”. Orang karismatik mengatakan bahwa Gereja Katolik skrg ini kering, kuno, tidak menarik dan ketinggalan zaman, kalau GK ingin berkembang hrs lebih modern, lebih sekuler, bisa mengikuti arus zaman, mengerti kebutuhan umat akan entertainment rohani, dan fleksibel, tidak terlalu liturgis, dan kebanyakan org karismatik lebih menuruti apa yg diajarkan oleh pewarta2 karismatik bahkan pendeta, oleh pengajar2 SEP/KEP, oleh BPK-PKK daripada mentaati Magisterium Gereja. Mereka mengatakan apa itu Magisterium, tidak ada magisterium2an yg penting apa yg dikatakan Alkitab. Kalau saya tanya lalu “apa yg dikatakan Alkitab itu siapa yg menafsirkan artinya dan otoritas mana yg mengatakan itu tafsiran yg benar” orang karismatik pasti akan mengatakan: “bhw pewarta2 yg mereka dengar mengatakan demikian”. Tapi herannya saya koq tdk sesuai dg ajaran Magisterium dan pokok2 iman katolik”. Ajaran2 itu biasanya mengenai akhir zaman, bahasa roh, keselamatan, mujizat, teologi sukses, karunia, perpuluhan, etc. Bahkan mengenai tata litugi misa pun mau mereka rombak, katanya liturgi Katolik itu membosankan, kering dan membuar ngantoek.

      Saya berpendapat bahwa org katolik yg sampai meninggalkan gereja katolik hanya karena gereja dianggap kuno [ajarannya], kurang menarik, kering, tidak mengikuti tend zaman ini dan tidak menyesuaikan dg kebutuhan umat [akan entertainment rohani, hiburan bathin], dan sebaliknya mereka yg masih tetap tinggal dalam gereja katolik dikarenakan skrg dalam gereja katolik ada aliran/gerakan karismatik, yg memenuhi selera mereka dalam hal hiburan rohani, lebih menarik [krn lebih sekuler], musicnya lebih mengairahkan, pewarta2nya sdh spt orator [spt capres/cawapres yg lgi berorasi] dan biasanya jauh lebih menarik dari para imam katolik sendiri….. maka menurut saya org tsb. tidak tahu hubungan Yesus dengan gereja-Nya, kekayaan iman katolik sendiri, dan akhirnya bahkan tidak tahu mengapa ia jadi katolik.
      Dan satu lagi pak zoebroto, ini menurut pandangan saya pribadi; “website katolisitas.org ini adalah website katolik dan tentunya sdh pasti membahas dan mengajarkan semua tentang ajaran Gereja Katolik, dan apa yg ditulis di website ini baik artikel2, jawaban2 dari moderator, dan comments tidak ditulis di dalam rana publik atau umum spt surat kabar, atau radio maupun TV. Jadi siapapun yg mau masuk ke website katolisitas pastinya sudah menyadari bahwa ini adalah website katolik.

      Akhinya dg segala hormat, kalau sekiranya bapak Zoebroto sendiri duduk dalam kepengurusan gerakan karismatik ini, entah di BPK-PKK atau dimana saja anda berkecimpung dalam gerakan karismatik, sekiranya bapak bisa membenahi “ke-nylenehan2″ karismatik dan membina orang2 karismatik sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Ini permasalahannya kalau menurut hemat saya, bukan “siapa yg suka karismatik silakan ikut karismatik, siapa yg tidak suka atau tidak cocok dengan gerakan karismatik ya jangan ikut karismatik”. Bukan soal taste suka or tidak suka, tapi lebih penting ke masalah teologis dan pengertian org2 karismatik sendiri thd iman “katolik”nya.

      Akhirnya, saya mohon maaf pak zoebroto kalu kiranya kata2 saya diatas tidak berkenan di hati anda. Untuk Pak Stef dan Bu Inggrid dan seluruh team katolisitas.org, saya ucapkanbanyak terimakasih atas kerelaan waktu, tenaga dan tentunya segala bentuk materi yg telah diberikan untuk keberadaan katolisitas.org ini, yg sungguh banyak bermanfaaf bagi umat katolik.

      • Shalom Joseph,

        Terima kasih atas komentar dan dukungannya terhadap katolisitas.org. Memang setiap komunitas, termasuk gerakan karismatik, secara terus-menerus harus menerapkan prinsip kerendahan hati dan memurnikan diri (on going conversion) . Contoh-contoh yang disebutkan oleh Joseph adalah sisi-sisi negatif dari gerakan ini dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pembina karismatik Indonesia untuk dapat juga membina gerakan ini agar dapat terintegrasi dalam tubuh Gereja, sehingga dapat membangun Gereja, bersama-sama dengan anggota yang lain – yang mungkin bukan anggota karismatik. Komentar-komentar negatif, seperti yang dicontohkan oleh Joseph memang terjadi, karena saya juga menemui hal-hal tersebut. Namun di satu sisi, contoh-contoh seperti Albert yang memberikan kesaksian hidupnya (dan banyak lagi contoh-contoh yang lain yang saya juga temui) adalah sisi positif dari gerakan ini.

        Kita bersama-sama doakan agar gerakan karismatik dapat lebih diwarnai dengan nilai-nilai dan ajaran Gereja Katolik. Kita juga berdoa agar setiap anggota Gereja Katolik lebih bersemangat dalam mewartakan kasih Kristus. Dan kita dapat memulainya dari diri kita sendiri….

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – http://www.katolisitas.org

  16. Pak Fransiscus terima kasih atas keterangan yang sangat singkat dari bapak. Sebenarnya pertanyaan saya di ajukan untuk perkembangan pengertian seluruh umat katolik (saya sendiri aktif di paroki dan lingkungan), mengapa ? karena semua penjelasan yang sehat dan seimbang mengenai sesuatu hal yang ada di dalam gereja kita katolik perlu untuk disebar luaskan, agar kita umat katolik dapat memiliki pengetahuan dan pengertian yang baik dan benar mengenai hal ini, terutama mengenai karismatik. Setahu saya gereja kita mengijinkan gerakan ini, asal dibawah pengawasan otoritas gereja yang resmi.
    Pengalaman Bapak pasti akan membantu untuk maksud saya di atas. Akan sangat membantu jika dipaparkan dengan panduan Ibu Inggrid ataupun Pak Steph bahkan Rm.Mardi yang sangat saya hormati. Mudah-mudahan saudara-saudari seiman yang lainpun turut berpartisipasi, sehingga kita ‘mengerti dan tahu’ alasan gereja kita mengijinkannya. Atau ijin itu telah dicabut? Semoga saya dan kawan-kawan lain diberikan penjelasan yang memadai, (kalau boleh saya mau juga belajar dari situs-situs yang bapak sebutkan di atas). Terima kasih Pak Frans, salam buat bu Inggrid dan pak Steph. AMDG.

    • Shalom Saulus, Franciscus, dan semuanya.

      Kami percaya bahwa semua pihak mempunyai niatan yang baik untuk berdiskusi tentang gerakan karismatik, yang didasari oleh kasih kita kepada Gereja Katolik. Namun diskusi tentang hal ini tidak akan pernah habis, sebelum kita dapat membuat suatu ulasan yang cukup komprehensif dari sisi teologis, histori dan juga pastoral. Untuk ini, kami telah mencoba membawa diskusi ini ke Romo Wanta, yang nantinya akan didiskusikan dengan para romo yang bertanggungjawab terhadap pembinaan gerakan karismatik. Semoga kita dapat memperoleh masukan dari mereka.

      Karena gerakan karismatik tidak dilarang oleh Gereja, maka kami ingin mengusulkan, bagi yang berpendapat bahwa karismatik ini sesat dan tidak sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik, silakan untuk tidak bergabung dengan karismatik. Pada saat yang bersamaan mungkin dapat mencoba secara pro-aktif dan dengan seijin pastor, membentuk semacam persekutuan doa yang didasarkan pada spiritualitas yang lebih tradisional, seperti doa meditasi/ doa hening, lectio divina, rosario atau devosi yang lain. Silakan bertumbuh dalam spiritualitas ini karena sudah terbukti dapat membawa umat kepada kekudusan, seperti yang dicontohkan oleh para orang kudus.

      Bagi yang ikut dalam gerakan karismatik, kami ingin mengusulkan untuk benar-benar taat pada hirarki, yaitu pastor, uskup setempat dan juga ajaran-ajaran Gereja Katolik. Pada saat yang bersamaan, perlu dipikirkan bagaimana gerakan ini dapat turut membangun Gereja dari dalam. Dan bagaimana agar gerakan karismatik dapat tetap berfokus pada sakramen, terutama adalah Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Maka tantangannya bagi yang mengalami pertumbuhan iman dalam gerakan karismatik, adalah agar juga semakin rajin mengikuti Misa Kudus, [Misa Minggu dan Misa harian] dengan persiapan batin yang baik, dan juga agar rajin mengaku dosa secara teratur [misalnya sebulan sekali]. Akhirnya, gerakan karismatik ini tidak boleh hanya terfokus pada karunia- karunia Roh Kudus, namun juga harus menunjukkan buah-buah Roh Kudus, yang dimanifestasikan dalam hidup kudus, yaitu kasih kepada Tuhan dan sesama. Tantangannya adalah jangan sampai umat mendapat kesan bahwa orang-orang yang karismatik itu menjadi seolah ’sombong rohani’, merasa ‘lebih’ dari umat yang lain karena mendapat karunia Roh Kudus. Karena kesombongan rohani itu bertentangan dengan kasih dan kerendahan hati yang menjadi dasar spiritualitas Katolik. Kesombongan rohani menjadikan seseorang kurang mau mempelajari ajaran Gereja, karena merasa telah dapat berkomunikasi langsung dengan Roh Kudus. Ini tentu perlu dihindari, sebab seharusnya, orang yang dijiwai Roh Kudus malah semakin rendah hati seperti Bunda Maria. Jika sikap kerendahan hati dan mengasihi terus bertumbuh dalan gerakan karismatik, maka itu dapat menjadi bukti bahwa gerakan ini sesungguhnya dapat membawa dampak yang positif terhadap pertumbuhan iman, baik pribadi maupun komunitas Gereja.

      Semoga tanggapan di atas dapat membantu. Mari kita bersama-sama membangun Gereja Katolik yang kita kasihi. Diskusi mengenai karismatik ini akan kami akhiri di sini, mari kita dengan sikap positif dan saling menghargai mementingkan rahmat kesatuan di antara kita sebagai anggota Gereja Katolik.

      Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
      Stef dan Ingrid

  17. Franciscus on

    [dari admin: dua pesan saya jadikan satu. Dan beberapa link saya hapus. Semoga dapat dimengerti.]

    Sebagai ex-Karismatik Protestan, ex-penginjil, ex-anti katolik, ex-anggota jemaat Benny Hinn di Orlando, Florida-USA, ex-pembuat mujizat2 & keajaiban selama 20 tahun di jakarta, saya mempunyai penilaian tersendiri mengenai iman yang saya anut dahulu kala. Semua berdasarkan pengalaman pribadi. Dan sesudah menjadi Katolik, ternyata saya didukung oleh situs2 berikut ini (maaf, khusus utk Katolik):

    Semoga info ini bermanfaat untuk kita sekalian. Terima kasih.

    Menjawab bapak Saulus, berdasarkan pengalaman pribadi selama seumur hidup menjadi seorang Karismatik Protestan, yang menurut saya sangat berbahaya untuk diteruskan kelangsungannya. Dahulu saya juga SANGAT dalam menjalani iman saya, yaitu karismatik protestan: berbahasa “roh”, “bernubuat”, kemampuan mendengar suara “Tuhan”, Dan juga, saya adalah seorang ex-penginjil, bahkan anti-katolik! Menurut saya berbahasa roh diambil dari bahasa Inggris (speaking in tongues), yang berarti: bahasa yang mempunyai STRUKTUR BAHASA, seperti: bahasa inggris, spanyol, korea, dll, yang bisa dimengerti oleh orang lain. Bukan bla, bla, bla, bli, bli.. seperti yang saya lakukan dahulu selama 20 tahun lebih. Saya juga didukung oleh situs2 berikut ini (maaf, khusus untuk umat KATOLIK):

    Semua situs ini bertemakan: The dangers of the Charismatic movement! Sekiranya, perhatikan sabda Bunda didalam situs tersebut, tanggapan Bunda mengenai itu. Semoga pandangan saya bisa menjawab pertanyaan bapak Saulus. Terima kasih.

  18. Salam dalam kasih Kristus,
    Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak teman2 saya dari berbagai lingkungan dan usia yang terlibat aktif dalam Persekutuan Doa Kharismatik Katolik (PDKK), karena PDKK ini merupakan bagian dari kegiatan yg dianggap resmi oleh Gereja maka awalnya saya anggap biasa saja. Namun setelah beberapa tahun terakhir saya mulai “merasakan ada perbedaan” dalam gaya bicara,teriakan2, gaya berdoa, termasuk dalam penekanan2 pembicaraan tentang konsep anugerah/karunia2, tentang bahasa Roh, saya secara naluri mulai merasakan ada doktrin2 yg “asing” yang tidak cocok di pemahaman doktrin iman Katolik saya. Saat orang2 lain berteriak2 berbahasa roh saya malah jadi takut, saya merasa asing dan tidak nyaman. Gejala apa ini? apakah justru sayanya yang salah??
    Saya merasa terganggu saat misa2 lingkungan ada kesaksian2 yang agak bombastis, dengan gaya2 berdoa yang mirip denominasi gereja lain, dengan gaya2 bahasa roh yang kadang2 menyiratkan adanya “kesombongan rohani” bagi mereka yang telah menjalankannya, ..(maaf kalau justru saya yang salah perasaan/persepsi), saya malah bertanya sendiri : mungkin lama2 ikut PDKK dengan ikut kebaktian gereja protestan Karismatik akan sama saja? Memang tetap ada bedanya, tapi itupun kelihatannya hanya kosmetik luar saja supaya identitas Katoliknya tetap terjaga, namun esensi ibadah dan doanya sudah amat mirip. Saya mencoba menghibur diri dengan berpikir : Ah, mungkin ini cuma “oknum” saja yang kebablasan. Namun diluar itu (dan ini merupakan pertanyaan saya) :
    1. Bagaimana peran kontrol pemimpin2 gereja Katolik thp praktek2 gerakan ini, tidak cuma dalam bentuk dokumen (buku pedoman) tapi yang saya maksud adalah dalam hal kontrol “pagar2″ di level pelaksanaan di tiap Paroki?
    2. Saya mengimajinasikan sebuah skenario terburuk : Jika seorg Katolik yang aktivis di gerakan Karismatik dan sangat menikmati dan mendalaminya, pada suatu titik ia telah “kebablasan” mendapat teguran/koreksi dari otoritas gereja, bisa jadi ia akan memilih mencari wadah baru (gereja lain) yang lebih mengakomodasi preferensinya? bukankan secara tidak langsung Gereja telah melakukan “pembiaran” atas gejala ini?
    3. Belajar dari sejarah Gereja Katolik berabad2 lalu mengenai ajaran2 yang menyimpang, mulai dari Montanisme di abad ke 3, dan seterusnya,.apakah Gereja sudah memperhitungkan resiko2 yang dapat muncul dari gerakan Karismatik ini sendiri? Saya membaca buku karangan Romo Deshi “apakah Karismatik dapat sungguh Katolik?”, menurut saya buku tersebut cukup baik dan memberi pencerahan. Sekian persen umat Katolik mungkin beruntung jika membaca buku tersebut, namun bagaimana dengan mereka yang tidak membaca atau tidak mengerti sama sekali (karena tidak berkesempatan mendapat pencerahan)? apa sejauh ini keuskupan sudah cukup bertindak memasang pagar2/rambu2 agar umat dalam skala luas tidak terperosok ?
    4. Saya beberapa kali mendengar ada umat yang berucap “Oh, itu romo karismatik”, dan sebaliknya “Oh, romo anu anti Karismatik”. Ini sinyal2 gejala apa?
    Mohon pencerahan dan bimbingan.Maaf jika ada kata2 atau ungkapan2 saya yang kurang tepat. Terima Kasih.
    Shalom.

      • Bpk Stef, terima kasih atas pengorbanan waktu dan pikiran2nya. Saya bisa membayangkan betapa sulitnya Bapak dan Team harus melayani kami semua.
        Dalam pandangan pribadi saya (yang bisa salah),Apakah tidak terasa oleh nalar kita semua gerakan Karismatik ini lebih mendorong umat kearah “Faith seeking for Grace (karunia)” daripada menyeimbangkannya dengan doktrin “Faith seeking for Truth”. Karunia itu dipersepsikan serupa “Upah”,secara naluri manusia akan lebih mudah diajak ikut dan melakukan sesuatu jika diiming2i “upah”,. Ajaran/aliran2 yang menjanjikan “upah” karunia2 yang “disukai” tentu akan lebih mengundang pengikut yang besar. Ini seperti berlakunya konsep Marketing di dunia modern. Tuhan Yesus sendiri tidak mau memakai cara/konsep marketing semacam ini. Seseorang yang sudah menganggap dirinya mampu “berbahasa roh”, sangat mungkin dia akan menjadi ketagihan, juga dapat terjadi ada kesombongan rohani, lalu juga berpikir “saya sdh mampu berkomunikasi langsung dengan Roh Kudus, Roh sudah bicara langsung dengan saya”..ini amat berbahaya. Sampai pada suatu titik ia dapat merasa lebih tinggi dari orglain, bahkan dapat merasa lebih tinggi dari ajaran Gereja sendiri (Injil, Tradisi dan Magisterium).
        Saya tidak begitu yakin dengan pandangan yang mengatakan bahwa gerakan Karismatik berguna mendekatkan sebagian umat dalam berdoa dan pemujaannya kepada Allah jika motivasi yang dibangun pada orang tersebut adalah “ia mau dekat pada Allah karena semata2 mengejar karunia2″ karena ia merasa cocok, asyik, nyaman. Saya ingat peringatan rasul Paulus dalam 2 Tim 4:3-5 (maaf tidak saya kutip disini karena keterbatasan waktu dan tempat). Menurut hemat saya Gereja tidak perlu memanjakan tuntutan umat yang notabene “malas belajar” dengan berkompromi memfasilitasi mereka dengan sesuatu aliran gaya pengajaran yang baru yang dalam hal ini dianggap beresiko tinggi. Saya setuju Gereja bersikap terbuka dalam perkembangan jaman, namun
        Gereja tetap memegang teguh Ajaran Pokok tanpa kompromi.
        Sejauh yang saya amati dan alami dalam keseharian di Jakarta ini, pihak berwenang Gereja belum banyak berbuat apa-apa yang lebih riil dan terasa di kalangan umat luas. Apa pernah ada misalnya homili2 dalam misa yang berani mengangkat masalah ini? . Pastor2 yang (oleh sebagian umat) dijuluki “anti karismatik” lebih banyak berdiam dan menahan diri. Ini yang saya maksud ” ada kesan pembiaran?” Maafkan sekali lagi jika saya yang salah.
        Saya akan menyambut gembira jika Bpk Stef dan team Katolisitas suatu waktu menulis dan mengangkat masalah ini lebih serius.
        Terima kasih

        • Shalom Antonius,
          Mungkin karena gerakan karismatik ini termasuk baru, maka gerakan ini harus mencoba menemukan jadi dirinya. Dan saya berfikir bahwa Gereja pada saat ini belum mengambil sikap, karena memang dipandang belum saatnya dan mencoba melihat bagaimana buah-buah dari gerakan karismatik ini. Dan ini menjadi tantangan bagi gerakan ini untuk benar-benar mempunyai warna kekatolikan dan turut membangun Gereja dari dalam dan bukan malah memisahkan diri. Ini adalah jawaban saya untuk tanggapan Antonius:

          1) Pada dasarnya, teologi adalah iman yang mencari pemahaman (faith seeking understanding). Jadi pada saat seseorang di dalam gerakan karismatik lebih mementingkan mencari karunia-karunia Roh Kudus, maka perlu diluruskan. Di sinilah fungsi dari pihak hirarki untuk memberikan rambu-rambu yang jelas, sehingga gerakan ini dapat berlandaskan spiritualitas Katolik yang benar.

          2) Bahaya untuk mengejar karunia-karunia bukan hanya ada di dalam gerakan karismatik Katolik, namun juga banyak terjadi dari gereja yang lain. Oleh karena itu, umat Katolik yang tidak mendapatkan pengarahan yang jelas tentang spiritualitas Katolik yang bersumber pada sakramen-sakramen, kedekatan dengan Bunda Maria, hidup kudus, dll. akan menjadi bingung dan dapat dengan mudah pindah ke gereja yang lain. Tantangan senantiasa ada, baik ada gerakan karismatik maupun tidak ada.

          3) Tentang bahasa roh: seseorang yang ikut gerakan karismatik dan hanya mengejar bahasa Roh saja, saya pikir salah, karena bahasa Roh bukanlah suatu tujuan akhir. Bahasa Roh adalah karunia yang perlu disyukuri, namun tidak perlu disombongkan. Memang bahasa Roh menjadi bagian yang tak terpisahkan dari program LISS atau SHBDR, karena memang juga sudah menjadi bagian dari spiritualitas ini. Namun bahasa Roh harus juga dilihat sebagai suatu karunia untuk membawa orang lebih dekat dengan Tuhan, melalui doa yang tak terucapkan. Artinya, kalau seseorang mempunyai karunia bahasa Roh, namun tidak bertekun dalam doa dan mempunyai kedekatan dengan Tuhan, maka karunia ini tidak berkembang. Karena doa membantu kita dalam kekudusan, maka orang yang berbahasa Roh harus memanifestasikannya dalam hidup kudus.

          4) Seseorang yang mempuyai karunia bahasa Roh, maupun karunia-karunia yang lain, namun tidak tunduk terhadap hirarki, maka membahayakan kehidupan spiritualitasnya. Atau kalau dia merasa spiritualitasnya lebih tinggi dari orang lain, karena orang lain tidak mempunyai karunia bahasa Roh, orang ini perlu belajar kerendahan hati. Bandingkan dengan para kudus, yang senantiasa merasa dirinya berdosa dibandingkan dengan orang lain. Saya pikir, kadang orang-orang yang mendapatkan karunia bahasa Roh merasakan adanya suatu perubahan dalam spiritualitas mereka, suatu yang indah, sehingga sebagai ekspresi untuk menceritakan keindahan ini, maka mereka seolah-olah ingin agar semua orang mendapatkan karunia ini.

          5) Memang kalau pihak hirarki melihat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh gerakan karismatik, maka mereka harus memberikan rambu-rambu yang jelas. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa gerakan ini adalah sesat? Saya rasa, Gereja belum sampai pada kesimpulan ini. Jadi, saya ingin mengajak semua pihak, kalau Gereja belum berani menyimpulkan sesuatu yang pasti tentang gerakan ini, maka kita juga harus mencoba melihat apa yang harus dilakukan untuk mengurangi efek-efek negatif, kalau bisa menghilangkannya.

          Memang diskusi tentang gerakan karismatik tidak akan ada habisnya, karena penuh dengan pro dan kontra. Saya ingin mengajak bagi orang yang tidak terlibat gerakan karismatik agar turut mendoakan gerakan ini, sehingga gerakan ini dapat berjalan sesuai dengan tuntunan Roh Kudus. Dan bagi yang terlibat di gerakan karismatik, agar berjuang untuk menemukan jati diri sebagai bagian dari Gereja Katolik dan turut serta membangun Gereja Katolik dari dalam. Dan pada akhirnya semua dituntut untuk berjuang hidup kudus dan mendasarkan semua spiritualitas kepada spiritualitas yang bersumber pada Ekaristi.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – http://www.katolisitas.org

      • Shalom,

        Sekedar sharing, dulu saya aktif sekali dalam gerakan karismatik ini, ayah saya juga seorang pengurus inti dalam BPKK (Badan Pelayanan karismatik KatoliK) untuk keuskupan Denpasar. Namun akhirnya saya memutuskan untuk keluar dan malah jadi sedikit “anti” karismatik karena ada beberapa hals yg sangat tidak sreg.

        Spt, pembaptisan dalam roh, seolah seseorang “harus” lahir baru dalam roh, yang mana ada ritual penumpangan tangan (seringnya oleh awam). Dan mengambil ayat2 kitab suci utk hal ini yang menurut saya ayat2 itu lebih dimaksudkan untuk sakramen krisma. Bukankah saat kita dibaptis kita dibaptis dalam nama roh kudus juga, dan sudah memperoleh penumpangan tangan dari uskup pada saat krisma.

        Lebih mementingkan PD (persekutuan Doa) dari pada Misa kudus, ini secara nyata terjadi pada kawan2 Karismatik, saya tidak bilang semua tapi banyak.

        Senandung haleluya 12 kali, bahkan pada saat prapaskah, ini sempat saya protes tapi jawabannya “diluar liturgy resmi tidak apa2 mengucapkan haleluya saat prapaskah” sangat tidak sreg dan akhirnya saya tidak pernah PD selama prapaskah.

        Pemutusan pohon keluarga, saya pernah meprotes hal ini juga, karena saya yakin pembaptisan memutuskan semua kutuk, tapi jawaban yg saya terima dari mereka pun tidak memuaskan. Puji Tuhan pemutusan pohon keluarga ini sudah resmi dilarang.

        Dan banyak hals lain, yang akhirnya saya memutuskan untuk memilih “anti” dari pada “pro” :) Menurut saya gerakan ini merendahkan nilai dan mengaburkan makna sakramen2 yang ada.

        Salam,

        • Shalom Erwin,
          Terima kasih atas tanggapannya tentang gerakan karismatik. Kembali memang di sana-sini ada penyimpangan, termasuk yang dilakukan oleh gerakan karismatik. Ini adalah tanggapan saya:

          1) Baptisan dalam Roh dan penumpangan tangan: Mungkin suatu saat saya akan mencoba untuk mengulas hal ini lebih lanjut, karena memang begitu banyak pro dan kontra. Saya belum pernah membaca buku "Apakah karismatik dapat sungguh katolik" karangan Romo Deshi. Mungkin beliau telah mengupas hal ini lebih dalam.  Ini hanya sebagai pemikiran: apakah tanpa ritual penumpangan tangan, maka banyak orang dapat lebih menerima gerakan karismatik dan lebih sesuai denganajaran Gereja Katolik? Saya mengenal beberapa orang yang mendapatkan karunia bahasa Roh, bukan dalam penumpangan tangan, namun ketika sedang berdoa di Gereja, dan yang satu ketika sedang berdoa rosario di rumah.

          2) Kalau sampai orang lebih mementingkan PD daripada Ekaristi jelas salah. Inilah yang harus dibenahi. Namun banyak juga yang setelah ikut SHBDR menjadi sering ke Gereja dan mengikuti misa harian.

          3) Semua gerakan apapun harus di dalam koridor Gereja. Dan karena sumber dan pusat kehidupan kristiani adalah perayaan Ekaristi, maka semua kegiatan, termasuk gerakan karismatik harus mengikuti apa yang digariskan oleh Gereja. Ini artinya pada saat prapaskah, persekutuan doa karismatik tidak boleh menyanyikan alleluia. Justru sebenarnya pada masa prapaskah, pertemuan PD harus seharusnya membuat tema tentang pertobatan, yang mungkin disusul dengan pengakuan dosa, sehingga mereka dapat menggabungkan doa-doa mereka dengan Sakramen Tobat.

          4) Tentang pemutusan pohon keluarga, saya pernah membahasnya di jawaban ini (silakan klik) dan juga ini (silakan klik).

          Mungkin bagi orang yang tidak terpanggil untuk masuk dalam gerakan karismatik ini tidak usah anti, namun mengikuti apa yang digariskan oleh Gereja. Kita doakan saja, agar Roh Kudus melalui hirarki dapat membimbing gerakan ini.

          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          stef

      • Jus Soekidjo on

        Berkaitan dengan PDKK, mari kita kembali melihat Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus ( 1 Kor 14). Bagaimana St. Paulus mengajak kepada kita tentang pemahaman tentang bahasa roh. Karena menurut pengamatan saya dan pengalaman saya, banyak orang ikut PDKK karena mengejar bahasa roh. Mungkin saya salah, tapi dari omongan sana sini, ini yang menjadi targetnya. Jadi kalau belum bisa berbahasa roh, masih belum naik kelas(belum lulus sebagai anggota PDKK). Harus diakui kesombongan rohani sering terjadi, pada hal Yesus selalu mengajarkan kerendahan hati.
        Ini hanya sekedar sharing.

        • Shalom Jus Soekdjo,

          Memang permasalahan yang ada Korintus pada saat itu adalah permasalah perpecahan, kesombongan rohani, dan kehidupan moral yang tidak baik. Mungkin bagi yang mengikuti persekutuan doa, melihat bahwa karunia bahasa Roh ini penting, karena ini adalah bagian dari spiritualitas mereka. Namun yang salah adalah kalau melihat bahasa Roh adalah segalanya. Di dalam gerakan karismatik, bahasa Roh dapat dilihat sebagai dasar atau gerbang untuk karunia-karunia yang lain. Oleh karena itu, kalau kita mencoba membandingkan dengan spiritualitas tradisional – tahap pemula (purgative), tahap intermediate (illuminative), dan tahap persatuan (unitive) – maka bahasa Roh mungkin masih termasuk dalam tahap awal (purgative).

          Yang menjadi salah adalah jika orang-orang di dalam gerakan karismatik mencoba memaksakan bahasa Roh ini kepada orang lain, atau mengukur spiritualitas seseorang dari bisa atau tidaknya seseorang berbahasa Roh. Menjadi tantangan bagi kita semua untuk menjadi lebih rendah hati (mengakui diri kita berdosa, dan mengakui bahwa Tuhan adalah segalanya). Kerendahan hati inilah yang ditekankan oleh St. Teresa Avilla. di dalam tulisannya "puri batin". Pada tahap apapun, St. Teresa dari Avilla mengatakan bahwa semua orang dapat kembali pada ruangan ini, yaitu ruangan kerendahan hati.

          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          stef

    • Damai Kristus,
      Katolisitas benar-benar website yang sangat bagus. Bahasanya mudah dimengerti. Bapak Stefanus dan Ibu Ingrid sangat mengetahui topik-topik apa yang perlu saya mengerti, agar bisa semakin mencintai dan menghayati ajaran-ajaran Gereja Katolik. Benar, untuk bisa semakin mencintai dan menghayati ajaran-ajaran Gereja Katolik, saya harus mengerti dulu. (Tentu saja saya tidak mengatakan telah sungguh-sungguh mencintai dan menghayati iman Katolik. Saya masih berproses untuk itu, sama seperti saya terus-menerus berjuang untuk hidup semakin kudus.)

      Membaca pengalaman Sdr. Antonius H pada 17 Februari 2009 tentang gerakan karismatik katolik, saya jadi teringat pengalaman saya 12 tahun yang lalu saat mengenal gerakan ini. Kalau begitu, pikir saya, gerakan ini masih belum banyak berubah. Masih ada anggotanya yang merasa ada yang lebih penting dan utama daripada ekaristi.

      Saat itu saya adalah orang yang berani menunjukan bahwa saya antikarismatik. Rasa antipati ini timbul setelah mendengar dan menyaksikan sendiri apa yang mereka katakan dan mereka perbuat.

      Sekitar tahun 1996 – 1997 di kota tempat saya kuliah, saya mengikuti suatu rekoleksi. Seorang bapak setengah baya tampil dan dengan bangganya mengatakan kepada hadirin. Intinya ia mengatakan begini: “Dulu saya selalu pergi ke gereja menghadiri misa, tapi iman saya tidak bertumbuh, kasih saya kepada Kristus tidak bertumbuh – saya tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi sekarang, sejak mengikuti Persekutuan Doa (PD) ini, saya menjadi pede; iman saya bertumbuh, kasih kepada Kristus semakin bertambah hari demi hari, kasih saya kepada sesama semakin bertambah, saya jadi rajin berdoa setiap hari, rajin merenungkan Firman Tuhan, dan sekarang puji Tuhan, saya bisa berbahasa roh.”

      Kebetulan di tahun-tahun itu, saya baru membaca satu artikel pendek di koran yang mengatakan bahwa sejak awal mula perkembangannya, Gereja Katolik selalu mengajarkan: ekaristilah yang paling utama dan paling penting bagi orang katolik (karna isinya pendek, artikel ini tidak mengemukakan alasan mengapa ekaristi yang paling penting dan utama). Nah, mendengar kata-kata bersemangat dari bapak ini, saya jadi bertanya-tanya “Ada apa lagi ini? Berani-beraninya ia mengatakan misa kudus tidak bisa memberikan apa-apa.” (Menurut saya, bapak ini mau mengatakan bahwa sebelum mengikuti gerakan karismatik, ia tidak mendapatkan apa-apa dari misa kudus. Setelah mengikutinya pun, ia tetap tidak mendapatkan apa-apa dari misa kudus. Jadi, menurut saya, gerakan karismatik yang bapak ini ikuti tidak menghantarkan ia menemukan keistimewaan ekaristi, malah ia merasa ada ritual lain yang lebih memuaskan daripada ekaristi. Saat itu saya memang belum menemukan penjelasan mengapa ekaristi yang nomor satu. Saya hanya percaya sejak awal Gereja Katolik sudah mengajarkan demikian.)

      Saya mulai merasa tidak cocok dengan gerakan ini. Gayanya suka mengatakan “Aku mencintai Yesus”, sementara saya lebih suka mengatakan “Tuhan, kasihanilah kami!”. Gayanya berani mengatakan “Kasihku kepada sesama semakin bertumbuh”, sementara saya masih suka menghakimi sesama (seperti saya menghakimi gerakan karismatik di atas). Dibanggakannya, cuma pertama kali ikut pencurahan roh, ia langsung diurapi, langsung bisa berbahasa roh. Sementara saya, berkali-kali ikutpun hanya bisa cengengesan – tak ada roh yang sudi mengurapi saya. Maka, sayapun menolak diajak mengikutinya (merasa tidak cocok), walaupun saya juga merasa renungan yang mereka bawakan mudah dimengerti dan lagu-lagu mereka lebih mudah dinyanyikan.

      Lalu, di tahun 2005 saya ingat sekali waktu itu menjelang hari raya Pentakosta, saya mengikuti Novena Roh Kudus dilanjutkan misa kudus di gereja katedral di kota yang sama. Dalam khotbahnya, seorang pastor mengkritik sikap umat katolik selama ini yang menurutnya telah mengabaikan Roh Kudus. Katanya bahwa banyak umat hanya menyembah Yesus tapi jarang menyembah Roh Kudus, malah lebih suka berdevosi kepada Bunda Maria. Tak mampu mendengarkan lebih lama lagi, saya langsung beranjak dari tempat duduk meninggalkan teman saya yang sanggup mendengarkan sampai usai khotbah ini. Kebetulan saya duduk agak di belakang. Seandainya saya duduk di depanpun, saya tetap akan keluar saat itu, karna saya sangat geram mendengar kata-kata ini. Saya berjalan mondar-mandir di halaman gereja. Pikir saya, “Ini pasti pastor karismatik. Heran, bukankah Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus itu Trinitas yang satu tak terpisahkan dari yang lain? Koq bisa seolah-olah ada pribadi lain yang tidak bisa terima kalau umat selama ini hanya menyembah kepada satu pribadi? Memangnya Roh Kudus akan cemburu kalau umat lebih sering menyembah Yesus? Ada apa lagi ini?” Dan sayapun tidak berani menerima Sakramen Ekaristi karna tidak sungguh-sungguh mengikuti misa kudus waktu itu. Selesai misa, saya hampir mau mencari pastor ini untuk menunjukan ketidaksetujuan saya atas khotbahnya. Tapi teman saya mencegah dengan mengatakan bahwa saya tidak pernah belajar teologi, sedangkan pastor itu S2 – teman saya takut jangan-jangan sayalah yang salah.

      Syukur kepada Yesus, setelah membaca jawaban Bapak Stefanus Tay pada tanggal February 17th, 2009 4:46 pm, saya sadar saya salah. Saya sadar selama ini telah bersikap terlalu reaktif terhadap gerakan karismatik. Sikap saya terlalu berlebihan. Saya salah telah menyamakan semua orang karismatik. Rupanya tidak semua orang karismatik seperti bapak di atas yang mengabaikan keutamaan ekaristi. Kasihan bapak ini!

      Setelah membaca buku-bukunya Scott Hahn dan membaca artikel-artikel di website ini, saya baru mengerti dan menemukan alasan-alasannya mengapa ekaristilah yang paling penting dan utama dalam kehidupan saya. Jadi, kalau saya tidak bisa memahami dan menghayati ekaristi, masalahnya ada di diri saya sendiri. Kalau saya tidak mendapatkan apa-apa dari ekaristi, itu karna saya tidak membuka hati dan jiwa saya untuk itu – bukan karna ekaristi tidak punya apa-apa, sayalah yang tidak berarti apa-apa.

      Jadi, kalau saya ditanya apakah sekarang mau menjadi seorang karismatik katolik? Jawabannya adalah: tentu saja tidak mau! Alasannya: saya merasa cara-cara karismatik tidak bisa membantu saya untuk semakin mencintai dan menghayati ekaristi. Saya tidak mungkin menggunakan dua cara yang berbeda, yaitu cara-cara tradisional katolik dan cara-cara karismatik. Jangan-jangan kalau saya pakai cara-cara karismatik, saya malah akan membuang jauh-jauh ekaristi. (Ya, iyalah! Sangat beda, lho! Lihat saja mereka yang diurapi roh lewat cara-cara karismatik. Mereka jadi histeris-tak sadarkan diri, bukan? Setelah sadar diri, mereka senang bukan kepalang telah diurapi, mereka merasa telah menjadi pribadi yang berbeda daripada sebelumnya. Sedangkan yang mengandalkan ekaristi? Mereka ini tenang, nyaris tak berubah – sama sekali tidak fantastik. Beda, bukan? Yang satu merasakan dimasuki Roh Kudus sampai meraung-raung. Yang satu sikapnya tenang merasakan kehadiran Roh Kudus dalam ekaristi. Yang satu baru bisa merasa diurapi Roh Kudus di luar liturgi ekaristi, sedangkan yang satunya justru merasa di dalam liturgi ekaristilah Roh Kudus sudah hadir secara penuh.)

      Syukur kepada Yesus, menurut Bapak Stef, tidak boleh ada paksaan setiap orang harus ikut karismatik baru dianggap semakin katolik. Sebagaimana yang Bapak tulis, saya merasa justru lewat tradisi katoliklah (doa meditasi, doa batin), yang ternyata bisa menghantar saya menemukan Roh Kudus di dalam ekaristi. Justru lewat cara-cara tradisi katolik yang bisa menghantar saya kepada ekaristi. Kenapa saya harus meniru cara-cara protestan agar diurapi Roh Kudus. Ekaristi telah menyediakan lebih dari sangat cukup untuk hidup saya. Saya percaya, di dalam ekaristi selalu hadir Roh Kudus. Saya tidak perlu menjadi histeris agar diurapi Roh Kudus. Saya harus mau diam mendengarkan, hening agar bisa menghayati misteri agung ekaristi – bukannya bersemangat menuturkan sebanyak mungkin kata-kata menuntut Tuhan mendengarkan doa saya. Justru sayalah yang harus diam mendengarkan Tuhan dalam doa saya.

      Cuma, saya tetap ingin bertanya kepada Bapak Stefanus, apakah boleh saya tidak sependapat dengan khotbah pastor itu di atas? Benarkah menurut ajaran Gereja Katolik porsi sembah kita kepada Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus harus sama-sama besar? Tidak boleh lebih kepada yang satu, kurang kepada yang lain?

      Mohon jawabannya, Bapak. Terima kasih.

      Catatan: kalau Bapak merasa komentar saya ini berguna dibaca oleh umat Katolik yang lain, saya tidak berkeberatan komentar ini ditampilkan di Buku Tamu agar bisa dibaca juga oleh umat kita yang lain. Cuma, saya takut isinya terlalu kasar untuk kelompok karismatik…. Jangan-jangan Bapak juga ikut di karismatik. Maaf, maaf, kalau begitu, hahahaha…

      Bunda Maria memberkati.

      Tanah Air, 28 Maret 2009
      Lukas Cung

      • Shalom Lukas Cung,

        Terima kasih atas komentar dan dukungannya terhadap katolisitas.org.
        Memang berbicara tentang topik gerakan karismatik tidak akan pernah habisnya, karena terdapat efek positif maupun negatif dari gerakan ini.

        I. Efek positif dan negatif dari gerakan karismatik

        Saya mengenal banyak orang yang setelah mengenal karismatik menjadi lebih mengasihi Yesus dan Gereja-Nya, sehingga mereka lebih mengasihi Sakramen, terutama adalah Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Ada banyak juga yang menjadi pastor dan suster. Beberapa teman kuliah teologi di sini juga banyak yang mengikuti Karismatik, namun mereka benar-benar mendalami doktrin dan ajaran Gereja Katolik serta terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

        Namun di satu sisi yang lain, ada banyak juga efek negatif, seperti: kesombongan rohani, menyepelekan Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, serta menganggap karunia-karunia Roh Kudus lebih utama dibandingkan dengan karunia kekudusan. Dan saya sendiri menyaksikan efek-efek negatif ini.

        (1) Jadi bagi anggota gerakan karismatik yang menjauh dari kehidupan Sakramen atau lebih mementingkan persekutuan doa daripada Misa Kudus, maka orang-orang dapat dikatakan salah langkah dan harus segera memperbaikinya.
        (2) Bagi yang mengutamakan bahasa roh, dan seolah-olah bahasa roh adalah segalanya, maka orang ini dalam bahaya terjerumus kesombongan rohani.
        (3) Yang lebih parah adalah kalau disertai dengan perpecahan dan kemudian memisahkan diri dari Gereja Katolik.

        Jadi memang menjadi tantangan tersendiri bagi gerakan karismatik, agar orang-orang yang sedang menggebu-gebu dalam mengasihi Kristus dapat juga mempunyai kasih yang sama kepada Gereja-Nya, Gereja Katolik yang menjadi Tubuh Mistik Kristus. Tidak mungkin kita dapat mengasihi Kristus secara penuh tanpa mengasihi Tubuh-Nya.

        II. Tidak ada yang dapat menggantikan Ekaristi dengan spiritualitas apapun.

        Sebagai umat Katolik, kita harus tetap berakar pada Sakramen Ekaristi, karena Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan kristiani. Dan dengan semakin setia mengikuti Ekaristi yang disertai dengan sikap hati yang benar (sadar, aktif, dan berpartisipasi), maka Roh Kudus dapat lebih aktif bekerja di dalam kehidupan kita. Roh Kudus adalah merupakan buah atau hasil dari kasih antara Allah Bapa dan Yesus, yang terwujud secara sempurna dalam perayaan Ekaristi, karena kasih Kristus yang sempurna untuk melaksanakan kehendak Bapa telah dibuktikan-Nya dengan pengorbanan-Nya di kayu salib, dimana pengorbanan Yesus yang sama dihadirkan kembali dalam setiap perayaan Ekaristi. Dan Roh Kudus yang sama juga yang telah kita terima dalam Sakramen Baptis dan Sakramen Penguatan.

        III. Perbedaan pendapat mengenai devosi kepada Roh Kudus.

        Kemudian tentang perbedaan pendapat dengan pastor tentang devosi kepada Roh Kudus, mungkin maksud pastor tersebut adalah agar umat Katolik semakin menyadari peran Roh Kudus dalam kehidupan kita. Kita jangan terlalu kuatir akan porsi doa mana yang terlalu besar atau terlalu kecil, karena setiap penyembahan kepada salah satu pribadi dari Trinitas adalah penyembahan terhadap Tiga Pribadi. Hal ini disebabkan karena keTiga Pribadi tersebut tidaklah terpisahkan.

        Walaupun Roh Kudus tidak dapat dipisahkan dari Allah Bapa dan Allah Putera, namun memang benar bahwa beberapa hal, seperti: karunia dan kasih, lebih mengedepankan peran Roh Kudus. Jadi ambil dari sisi positifnya, bahwa kita harus semakin menyadari peran Roh Kudus dalam memberikan inspirasi kepada kita untuk hidup kudus. Dan alangkah baiknya kalau sebelum berdoa rosario, dapat juga dimulai dengan doa "Datanglah Roh Kudus" Dan Jangan lupa juga bahwa manusia yang pertama-tama mengalami kepenuhan Roh Kudus adalah Bunda Maria. Jadi, berdoa rosario, dimana kita berdoa bersama-sama dengan Bunda Maria, maka kita akan diajak masuk dalam misteri Trinitas. Di bawah ini adalah doa " Datanglah Roh Kudus"

        Come Holy Spirit
        Come Holy Spirit, fill the hearts of your faithful and kindle in them the fire of your love. Send forth your Spirit and they shall be created. And You shall renew the face of the earth.
        O, God, who by the light of the Holy Spirit, did instruct the hearts of the faithful, grant that by the same Holy Spirit we may be truly wise and ever enjoy His consolations, Through Christ Our Lord, Amen.

        Datanglah Roh kudus
        Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu, dan nyalakanlah di dalamnya api cinta-Mu. Utuslah Roh Kudus-Mu, maka semuanya akan dijadikan lagi. Dan Engkau akan memperbaharui muka bumi.
        O Tuhan, yang dengan terang Roh Kudus, telah mengajarkan kepada hati umat beriman, biarlah dengan Roh Kudus yang sama, kami dapat menjadi bijaksana dan senantiasa menikmati penghiburan-Nya, melalui Kristus Tuhan kami, Amin.

        IV. Semua spiritualitas mempunyai dimensi Kristologi, Tritunggal Maha Kudus dan Ekklesiologi.

        Semua spiritualitas bersumber kepada Kristus, karena berkat yang dibutuhkan untuk mencapai Tuhan hanya didapatkan karena pengorbanan Kristus. Dan pengorbanan Kristus di kayu salib adalah bentuk cinta yang sempurna kepada Allah Bapa dan manusia untuk menjawab kasih Allah Bapa. Dan pertukaran kasih yang sempurna ini menghasilkan Roh Kudus. Jadi dengan demikian ada dimensi Tritunggal Maha Kudus. Dan karena Yesus mendirikan Gereja sebagai Tubuh Mistis Kristus, maka setiap spiritualitas seharusnya tidak memisahkan diri dari Gereja Katolik sebagai Tubuh Kristus.

        Dan semua dimensi Kristologi, Tritunggal Maha Kudus, dan Ekklesiologi dimanifestasikan secara sempurna dalam setiap perayaan Ekaristi Kudus.

        Sebenarnya Gereja memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap doa kontemplasi dan doa hening (KGK 2709). Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi gerakan karismatik untuk dapat juga menuntun anggotanya untuk sampai kepada doa hening/ "mental prayer".  Dan menjadi tantangan bagi semua umat, termasuk saya sendiri, agar dapat bertekun di dalam doa, terutama "mental prayer". Dan terutama adalah berpartisipasi secara aktif dalam Ekaristi Kudus.

        Demikianlah jawaban yang dapat saya sampaikan. Perbedaan dalam spiritualitas adalah sesuatu yang wajar, karena Tuhan menciptakan kita dengan karakter yang berbeda-beda. Namun yang penting, spiritualitas apapun tidak boleh sampai membawa perpecahan, namun harus bersama-sama membangun Gereja.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – http://www.katolisitas.org

        • Shalom Bpk Stef, juga Bpk Lucas Cung,

          Pertengahan febuari lalu saya pernah mengirimkan pertanyaan kepada Katolisitas seputar topik gerakan karismatik ini. Setelah membaca tambahan komentar2 dan pertanyaan dari yang lain2, saya terpanggil lagi untuk ikut share beberapa hal :
          1. Tahukan anda sebenarnya BPK PKK KAJ telah menerbitkan 2 buah surat/buku kecil, yg isinya kira2 semacam surat dari Bpk Uskup ttg Pedoman Gerakan Pambaruan Karismatik Katolik di Jakarta. Buku pertama warna biru terbitan thn 1993, dan buku ke dua warna coklat terbit tahun 1995. Bpk Stef dan staf Katolisitas yang lain boleh coba2 cari buku ini di toko2 suci di paroki atau di toko buku, saya jamin pasti akan kesulitan cari buku ini. Pak Stef jangan terkejut, saya pernah uji coba tanya beberapa teman yg aktivis Karismatik, termasuk Romo yg ditugasi membimbing PDKK di sebuah paroki, jawabannya : Oh, pernah dengar ada, tapi saya belum baca dan belum punya bukunya. Saya beruntung sempat membeli 2 copy terakhir buku ini di Lumen Gentium / Shekinah yang di Duta Merlin, Jkt. Saya dapat info tidak resmi, buku ini sdh tidak akan dicetak lagi.
          (tidak jelas latar belakangnya, buku penting koq tidak dicetak lagi?)
          Jika pak Stef mau saya bisa membantu mengirimkan fotocopy buku ini (via air mail).
          Isi kedua buku jika kita baca sebenarnya lumayan cukup membantu memberi panduan, namun terus terang gaya bahasa BApak Uskup belum terlalu tegas memberi pagar2 soal doktrin2 gereja Katolik mana yg tidak boleh dilanggar, dan doktrin2 “titipan” dari asal gerakan Karismatik (yaitu New Pentacostalism)mana yang sama sekali tidak bisa diterima atau dipraktekkan oleh umat Katolik.
          Saya berharap saat ini, melalui Pastor2 yang juga terlibat di Katolisitas berminat untuk mengevaluasi , mempelajari, dan jika perlu mengusulkan kepada Bapak Uskup melalui BPK PKK KAJ untuk memperbaharui buku pedoman tersebut sesuai kondisi aktual yang ada saat ini, termasuk giat utk medistribusikannya secara luas di seluruh paroki2.

          2. Mengenai “bahasa Roh”, saya baru kebetulan membaca 1 Kor.13:8-12. Mohon pencerahan dari Bpk Stef, apa yang dimaksud oleh rasul Paulus pada ayat 8 “…nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti;…” Kapankah waktunya yg dimaksud oleh Paulus tentang akan berhentinya bahasa Roh?
          Juga ayat 11 : “ketika aku kanak-kanak, aku berkata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu”. Apakah ayat ini dapat ditafsirkan dalam konteks kematangan dan pemahaman Iman, artinya Iman yang dewasa sudah tidak lagi membutuhkan bukti2 mukjizat semacam berbahasa roh, dll? Bandingkan juga hal ini dengan ayat 1 Kor.14:18-20 dan ayat 22-23.? Mohon advice pak Stef.

          Selain itu dalam kaitannya dengan gaya/praktek2 “berbahasa Roh” yang terjadi sekarang, apakah menurut Bpk Stef bahwa sebagian umat kita di Persekutuan Doa Karismatik (PDKK) tanpa sadar telah “mengadopsi” sebagian doktrin “new Pentacostalism” yg berakar mula dari aliran Metodist, dan berkembang (berlipat ganda dengan memecah diri) lewat Parsham di Topeka, Kansas, lalu “Azusa Street”nya William Seymour thn 1906, juga “Toronto Blessing”, “Holiness Church” dan terus berkembang menjadi gereja2 Protestan aliran Karismatik yang ada sekarang ini di Asia, termasuk Indonesia? Jika ya, sepanjang yang saya telah baca dan pelajari, doktrin mereka banyak sekali yang tidak sesuai dgn doktrin Gereja Katolik. Bahkan saya pernah membaca suatu ungkapan kekhawatiran : “Gerakan Karismatik dapat menjadi pintu masuk umat Katolik menuju ajaran doktrin gereja lain”. Ketika saya pernah tanyakan hal ini kepada seorg Pastor, dijawab : ” akh biar saja, tokh nanti mereka akan sadar dan kembali”. Koq jawaban ini terkesan pasrah dan “membiarkan”? atau “malas” (maaf)?

          3. Saya menangkap pesan ada perbedaan misi/visi antara PKK = Pembaruan Karismatik Katolik, dengan kegiatan2 basis umat dalam wujud PDKK = Persekutuan Doa Karismatik Katolik.
          PDKK bukan satu2nya alternatif utk mencapai misi/visi PKK,..bahkan kalau boleh dikatakan lebih ekstrim, PKK dapat berjalan terus dalam bentuk lain, tidak harus dalam bentuk PDKK, apalagi jika persekutuan2 doa ini sudah sulit di kontrol. Apakah pemahaman saya ini salah? Mohon koreksi.

          4. Untuk Bpk Lucas Cung, saya sarankan Bapak memperbanyak membaca buku2 yang tersedia di pasaran saat ini, buku2 Katolik plus juga baca buku2 tentang Pentakostalisme/Gerakan Karismatik. Dalam tayangan2 di CAble TV di Jkt (Family Channel, TBN, dll) terdapat banyak sekali tayangan2 khotbah, kesaksian2, penyembuhan2,dll dari berbagai Ministries yang mayoritas beraliran Karismatik (misal, Benny Hinn, Oral Roberts,Kenneth Copeland, David Yonggi Cho, dll). Aliran semacam ini menurut saya sedang “berjaya” mendapat simpati dan pengikut yang luarbiasa.Beberapa dari mereka bahkan berani bersaksi “saya telah mengunjungi sorga, atau Tuhan telah berbicara langsung kepada saya,dll).Ada penulis yang mengatakan New Pentacostalism saat ini telah menjadi kekuatan terbesar ketiga di dunia dalam Kekristenan setelah Katolik dan Protestan/Gereja Reformasi.
          Dengan mempelajari ajaran doktrin dasar gereja Katolik kita bisa mulai membandingkan dan mempelajari perbedaan2 apa saja dengan Iman kepercayaan yang kita anut dalam Gereja Katolik.
          Saya pribadi menyayangkan belum ada penulis Katolik yang berani menulis dengan lebih terang-terangan mengenai studi perbandingan antara keduanya. Jika Dr Scott Hahn berani menuliskan ziarah dan perbandingannya antara Katolik dengan gereja Evangelis/Presbytarian yang dianutnya sebelumnya (isinya juga cukup membuat merah kuping org Evangelis), kenapa tidak ada yang berani memperbandingkan Katolik dengan Pantecostalism/Karismatik.
          Romo Deshi Ramadhani, dalam bukunya “Karismatik – dapatkah sungguh Katolik” memang sudah mulai membandingkan, tapi Romo Deshi memposisikan dirinya tidak jelas (abu-abu)apakah ia mendukung atau menolak praktek kegiatan PDKK yg ada sekarang. Yg saya maksud adalah aktivitas Persekutuan Doa Karismatik nya, bukan gerakan Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) nya.

          Sementara sekian dulu karena keterbatasan waktu dan tempat. Terima kasih, semoga ada gunanya. Mohon maaf jika pendapat saya ada yang salah, saya tidak bermaksud menjadi “batu sandungan” bagi oranglain.
          Salam dalam Kasih Kristus,
          Antonius H

          • Shalom Antonius, Terima kasih atas sharing dan pertanyaannya. Berikut ini adalah tanggapan dan jawaban yang dapat saya berikan.

            I. Buku panduan untuk gerakan karismatik

            Saya sendiri belum pernah membaca tentang buku panduan ini. Jadi kalau Antonius bersedia untuk mengirimkannya, maka saya sungguh bersyukur, sehingga ulasan tentang gerakan karismatik dapat juga berdasarkan buku panduan dari gereja lokal. Nanti saya akan kirimkan e-mail alamat saya di USA, sehingga Antonius dapat mengirimkannya. Pada dasarnya, gerakan atau spiritualitas apapun di dalam Gereja Katolik tidak boleh melanggar doktrin-doktrin maupun pengajaran dari Gereja Katolik. Mengenai pembahasan tentang buku pedoman tersebut, saat ini saya tidak berani menjanjikan karena kesibukan kuliah yang begitu padat. Mungkin romo Deshi Ramadhani SJ lebih tepat untuk membahas hal ini.

            II. Kidung kasih (1 Kor 13)

            Surat rasul Paulus kepada umat di Korintus ditujukan kepada umat yang mempunyai masalah dengan hidup yang bergelimang dosa, perpecahan, dan kesombongan rohani. Semua berkat-berkat rohani adalah suatu pemberian dari Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma (gratiae gratis datae), yang dipergunakan untuk membangun Gereja. Jadi semua karunia ini adalah salah satu "cara" atau "Means" untuk membawa umat kepada tujuan atau "End". Tujuan dari semuanya adalah persatuan dengan Tuhan untuk selamanya di Surga, dimana manusia dapat mengenal dan mengasihi Tuhan sebagaimana adanya dia (melihat Tuhan muka dengan muka), sehingga manusia dapat berpartisipasi dalam kehidupan Allah Tritunggal Maha Kudus. Jadi kalau kita terapkan pada ayat 1 Kor 13:8-11, yaitu: "8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. 9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. 10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. 11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.", maka kita dapat menyimpulkan bahwa:

            (1) Semua cara, termasuk karunia-karunia Roh Kudus akan lenyap, karena pada saat kita mencapai tujuan atau "End", maka segala cara itu tidak diperlukan lagi. Pada saat kita mencapai tujuan, ketika kita melihat Tuhan muka dengan muka, hanya kasih yang tetap ada, karena kasih adalah tujuan akhir itu sendiri. Dan hal ini dinyatakan di dalam ayat ke 13, yaitu: "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." Untuk hubungan antara iman, pengharapan dan kasih, silakan melhat jawaban ini (silakan klik).

            (2) Untuk ayat ke 11, anak-anak dapat diartikan sebagai kehidupan kita di dunia ini, yang seringkali dipenuhi oleh hal-hal yang tidak penting, seperti: ketergantungan terhadap harta dunia, kepuasan badani, dll. Dan kemudian rasul Paulus membandingkannya dengan kehidupan kita di Surga, dimana kita memperoleh kebahagiaan sejati yang jauh melebihi segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dan apa yang kita pegang erat-erat di dunia ini (seperti harta, kedudukan, dll) menjadi tidak berarti lagi, karena kebahagiaan sejati hanya ada pada Tuhan. Dan kita dapat memulainya di dunia ini, yaitu dengan semakin bertumbuh dalam kasih, karena kasih inilah yang akan terus ada. Kemudian, di dalam kedewasaan iman seseorang, yang menjadi tujuan utama dalam kehidupan spiritualitas adalah Tuhan itu sendiri, bukan karunia-karunia yang Tuhan berikan. Oleh karena itu, rasul Paulus juga memperingatkan "Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." (1 Kor 13:2). Dan karena Tuhan adalah kasih, maka kasihlah yang paling utama. Kedewasaan iman seseorang ditunjukkan oleh kekudusan, yaitu kesempurnaan kasih terhadap Tuhan dan sesama.

            (3) Maka sebaiknya kita sebagai umat Katolik, tidak mengkotak-kotak- an diri apakah Karismatik ataukah non- karismatik. Karena sesungguhnya Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya sudah dicurahkan kepada kita pada saat kita dibaptis dan menerima sakramen Penguatan.  Tantangannya adalah bagaimana kita semua menjaga kesatuan kasih dalam kesatuan Tubuh Kristus, agar kesatuan ini menjadi kesaksian yang hidup tentang bagaimana Allah Bapa telah mengutus Yesus Putera-Nya kepada kita (lihat Yoh 17: 21). Selanjutnya, adalah bagaimana menggunakan karunia-karunia yang diberikan oleh Roh Kudus itu untuk membangun Gereja (lihat 1 Kor 14:12), dan bukan hanya untuk diri sendiri.

            III. Karisma

            (1) Sebenarnya praktek-praktek Bahasa Roh, yang menjadi salah satu karunia Roh Kudus (gratiae gratis datae), bukanlah satu hal yang luar biasa, karena kita tahu bahwa hal ini bukanlah yang utama dalam kehidupan spiritual kita. Bahkan bahasa Roh dimengerti sebagai suatu karunia awal. Kita juga mengenal begitu banyak santa dan santo yang diberikan karunia-karunia yang begitu ajaib oleh Tuhan, namun mereka tahu, bahwa bukan karunia-karunia ini yang terutama dalam memperoleh keselamatan kekal.

            (2) Oleh karena itu, yang terpenting adalah kita mengikuti apa yang dikatakan oleh rasul Paulus untuk mengutamakan kasih (1 Kor 13:13), seperti yang telah dilakukan oleh para santa dan santo. Namun kasih ini tidak dapat terlepas dan bertentangan dengan doktrin yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Jadi pada saat suatu pengikut gerakan tertentu (karismatik, dll) memisahkan diri dari Gereja Katolik, maka hal tersebut bertentangan dengan kasih, karena secara kodrat pemisahan diri adalah manifestasi dari kesombongan rohani dan kebencian akan saudara di dalam Kristus. Jadi disinilah pentingnya pembinaan orang-orang yang mengikuti gerakan karismatik, sehingga mereka mengetahui akan pentingnya untuk terus bersatu di dalam Gereja Katolik dan pada saat yang bersamaan mereka harus juga mengenal doktrin-doktrin dan ajaran-ajaran dari Gereja Katolik. Dan pada akhirnya mereka harus diarahkan untuk membangun Gereja bersama-sama dengan menimba kekuatan dari hubungan pribadi dengan Yesus, terutama lewat Sakramen Ekaristi dan Sakramen Pengakuan Dosa.

            IV. PDKK – Persekutuan Doa Karismatik Katolik

            Umat basis adalah suatu cara yang paling efektif untuk menjangkau umat. Namun, memang menjadi tantangan tersendiri bagaimana PDKK di paroki-paroki dapat tetap berada di jalur seperti yang telah ditetapkan dalam visi dan misi dari Pembaharuan Karismatik Katolik (silakan klik). Semoga romo-romo di paroki dapat mengarahkan PDKK dengan baik. Alangkah baiknya, kalau pastor-pastor di paroki dapat mengarahkan gerakan ini, dan kemudian satu kali dalam sebulan pertemuan PD diwarnai dengan doa adorasi, doa hening, sehingga umat juga diajak untuk masuk dalam bentuk doa yang lebih dalam.

            V. Aliran lain

            Kita harus mengenal terlebih dahulu iman Katolik kita dan kemudian baru kita dapat membandingkannya dengan iman dari gereja lain. Banyak orang mencari suatu kebenaran berdasarkan perasaan tanpa benar-benar mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh. Kita tidak perlu kuatir dengan segala macam gerakan-gerakan tersebut, karena Gereja Katolik mempunyai kepenuhan kebenaran, yang menimba kekuatan dari mukjijat yang terjadi setiap hari, mukjijat Ekaristi. Semoga kita yang dikaruniai mukjijat ini dapat terus bertumbuh di dalam kekudusan, sehingga kita dapat menjadi saksi-saksi yang hidup, yang dapat membawa orang-orang di sekitar kita untuk mengenal Kristus dan Gereja-Nya.

            Demikian tanggapan dan jawaban yang dapat saya berikan, semoga dapat membantu. Mohon maaf, saya belum membaca buku karangan Romo Deshi, sehingga saya tidak dapat memberikan komentar tentang hal ini.

            Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
            stef

            • Antonius H on

              Shalom Bpk Stef,

              Keluarga kami ada yg tinggal di Koppel, TX, kebetulan kakak saya sdg datang ke Jkt, akan kembali ke TX hari Minggu, 8 april besok. Mohon alamat mail pak Stef dan contact no, saya akan titipkan pada kakak saya utk di mail dari TX.

              Ini artikel2 dan buku2 hasil “hunting” saya seminggu terakhir, jika Bpk Stef berminat, akan saya kirimkan juga fotocopynya. Khusus untuk buku “Mungkinkah Karismatik sungguh Katolik” dari Rm. Deshi Ramadhani SJ, saya akan belikan 1 copy baru dan kirim, mudah2an berguna.

              Beberapa artikel dan buku2 lain yg saya miliki yg mungkin berguna utk referensi Bpk Stef :

              1. Surat dari VIKEP KAJ, Rm. BS Mardiatmadja SJ, thn.2003 tentang : DASA PANDUAN PEMBAHARUAN KARISMATIK KATOLIK. (Semacam surat peringatan dan tanggapan thp kecondongan gerakan ini kepada Pentakostalisme).

              2. Surat Gembala Mengenai Pemb Karismatik Katolik. (OBOR 1993). Surat ini ditulis 10 nov.1993 oleh Mgr. Julius Darmaatmadja SJ atas nama para uskup Indonesia yg tergabung dalam KWI.

              3. Pembaruan Hidup Kristiani Sbg Kharisma Roh (Pedoman PKK Indonesia). Ditulis oleh Mgr. Julius Darmaatmadja SJ atas nama KWI, Diterbitkan penerbit OBOR.

              3. Saya juga sedang berusaha juga mendapatkan artikel2 yang pernah dimuat di majalah HIDUP pada thn 1989. Kebetulan saat itu saya masih aktif mengikuti perkembangan PDKK di paroki kami bersama almarhum Rm. Soenarwidjaja SJ.
              HIDUP Ed.20/1989 : “Mereka Hanyut di Sungai Yordan”
              HIDUP Ed.28/1989 : “Arus Sungai Yordan”
              Kebetulan saat itu seorang teman baik saya yang tadinya Katolik, kemudian ganti haluan menjadi pendeta Penatua dan mendirikan Gereja Sungai Yordan, dan saat itu banyak sekali umat Katolik yg ikut menyeberang.

              Pastor Stefan Leks, didalam bukunya “Sabda Tuhan dan Pembacanya”, Lembaga Biblika Indonesia, penerbit Kanisius 1993, sempat mencatat dan menuliskan kutipan majalah Hidup tersebut sbb :
              (wawancara dengan Pendeta Sungai Yordan, Mantan Ketua Wilayah) :
              Melalui wawancara itu terungkap alasan didirikannya Gereja Sungai Yordan, ia mengatakan : “Dulu kami tergabung dalam gerakan Pembaharuan Karismatik Katolik dngan harapan dapat membawa pembaharuan dalam seluruh Gereja Katolik. Tetapi ternyata setelah sepuluh tahun, kami tidak melihat hasil yang memuaskan…Bahkan, orang2 yg telah kami bina atau kami beritakan Injil, kembali lagi pada model yang lama. Padahal di tempat yg lama mereka diberi khotbah2 atau ajaran2 yang bertentangan dengan apa yang kami beritakan.Seolah apa yg kami usahakan selama 10 tahun mungkin hapus dengan mendengar khotbah2 beberapa kali saja dan mereka kembali pada kebiasaan2 lama. Karena itu kami memutuskan utk membentuk satu wadah saja dimana dalam wadah ini umat dapat kami bina sendiri”.
              Ditanyakan lagi, apa yang dimaksud dgn kebiasaan2 lama? Dijawab sbb :
              “Ini sifatnya agak sensitif, seolah-olah kami sbg bekas anggota Gereja yang lama mau menjelek-jelekkan Gereja yang lama. Ini soal iman masing-masing. Kami sudah tidak dapat mengimani ajaran-ajaran yang lama, karena ada kebiasaan2 yang tidak cocok dengan Alkitab, padahal kami ingin sungguh-sungguh hidup secara Alkitabiah”. Dst, dst.

              Dengan latarbelakang pemahaman atas semangat Konsili Vatican II, saya pribadi tidak menentang keputusan hirarki Gereja tentang prinsip keterbukaan dan restu/dorongan atas PKK ini, asal “juklak” dan pagar2 doktrin nya di sosialisasikan secara efektif dan luas.
              Sebagai salah seorang yang pernah menyaksikan “drama” Sungai Yordan thn 1989/90 tersebut (dalam lingkungan keluarga dan teman terdekat), dan mengamati perkembangan praktek2 persekutuan2 Doa Karismatik Katolik maupun Eukumenis yang ada sekarang (yang gaya dan bentuknya sdh lebih di modifikasi dan penuh kosmetik liturgis), saya tetap berpikir perlu ada hal-hal menyangkut ‘pagar-pagar” doktrinal gereja Katolik yang wajib disebar luaskan kepada umat luas sampai ke level umat di lingkungan2 paroki,..justru pada tingkat inilah menurut saya terjadi banyak kelemahan dan celah (loop holes) yang kurang mendapat perhatian dari pimpinan Gereja Katolik.
              Jawaban2 pak Stef saya lihat juga sebenarnya sudah menangkap inti/maksud himbauan dan keresahan saya.
              Silakan Bpk Stef juga melihat perkembangan pesat dan “trend” gerakan Karismatik ini di negara2 Asia lainnya, terutama Korea, India dan Cina. Saya khawatir nantinya ajaran pokok Gereja Katolik hanya akan dipahami oleh generasi2 tua atau para Imam dan teolog/intelektual, umat kebanyakan tanpa disadari sudah menganut pemahaman ajaran/iman yang baru, meskipun kemasan nya masih “Katolik”.

              Silakan pak Stef jangan ragu2 mengkoreksi atau mengkritik pandangan “kekhawatiran” saya ini, saya justru sedang mencari-cari pegangan, dan saya sendiri amat takut diri saya menjadi batu sandungan orglain dan bagi karya-karya Roh Kudus, amat berdosalah saya ini jika demikian.

              Salam dalam Kasih Kristus,
              Antonius H

              • Shalom Antonius,

                Terima kasih atas kesediaan Antonius untuk mengirimkan beberapa buku dan majalah. Saya akan kirim alamat saya di USA lewat e-mail Antonius.

                Saya rasa kita mempunyai suatu keprihatinan yang sama, bahwa jangan sampai ada gerakan apapun di dalam Gereja Katolik yang bertentangan dengan pengajaran Gereja Katolik, yang kita yakini berasal dari Yesus sendiri.

                Namun pada saat ini, saya pribadi tidak dapat dan tidak berani mengatakan bahwa gerakan karismatik adalah gerakan yang sesat, karena Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa gerakan karismatik adalah "ecclesial movement".  Jadi, saya berfikir bahwa daripada mencoba membuktikan bahwa gerakan ini sesat, akan lebih baik kalau kita mencoba untuk membantu dalam kapasitias kita, agar gerakan ini menjadi suatu gerakan yang dapat turut berpartisipasi untuk membangun Gereja dari dalam. Dan kemudian waktu yang akan membuktikannya. Karena kalau memang gerakan ini dari Roh Kudus, maka tidak membawa perpecahan, namun persatuan.

                (1) Dan seperti yang dikemukakan oleh Antonius, maka memang perlu diberikan pagar-pagar agar gerakan karismatik tidak bertentangan dengan pengajaran dari Gereja Katolik. Mungkin sudah ada beberapa dokumen lokal yang telah dibuat untuk mengatur ini, namun kurang disebarluaskan penerapannya ke tingkat paroki.

                (2) Dan pada saat yang bersamaan, sebenarnya diperlukan suatu "kursus pembinaan iman" untuk umat Katolik yang telah dibaptis, agar umat lebih menyadari dan kemudian mengasihi Gereja Katolik.

                (3) Dan bagi katekumen, diperlukan juga suatu program dan pengajaran yang baik, sehingga pada saat mereka dibaptis, mereka mendapatkan suatu pengetahuan yang baik tentang pokok-pokok iman Katolik, dan yang terpenting mereka dapat mengasihi Kristus dan Gereja-Nya.

                (4) Diperlukan juga suatu pembinaan tentang bentuk-bentuk doa yang lebih berakar pada tradisi katolik, seperti doa hening, adorasi sakramen Mahakudus, doa brevier/ divine office/ litirgy of the hour, lectio divina, dst. Dengan demikian maka umat juga mengerti bahwa ada suatu bentuk doa yang begitu indah yang berakar kuat dalam tradisi Katolik, yang membentuk santa dan santo dalam sejarah Gereja.

                Mari kita bersama-sama berdoa, agar Roh Kudus senantiasa memperbaharui hati kita dan memperbaharui Gereja setiap saat, sehingga lebih banyak lagi orang yang terpanggil untuk mengenal dan mengasihi Kristus dan Gereja-Nya.

                Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
                stef

                • Mohon maaf ikut nimbrung untuk topik kharismatik ini. Memang gerakan ini banyak menuai pro dan kontra. Yang pro merasa bahwa mereka telah mendapatkan “restu” dari Paus, namun yang kontra melihat bahwa Gereja/Paus tidak menerima ataupun menolak gerakan ini karena mungkin akan memantau terlebih dahulu gerakan ini, mungkin dasarnya adalah Mat.13:26-20 dimana gandum dan lalang dibiarkan untuk tumbuh bersama dan pada waktunya nanti baru dipisahkan dan diikat untuk dibakar. Jadi Gereja/Paus ingin melihat apakah mereka ‘gandum’ atau ‘lalang’ dan tidak mencabut ‘lalang’ itu terlebih dahulu karena juga kawatir ‘gandum’ juga ikut tercabut.

                  Pak Stef, mungkin bisa memberikan komentar untuk artikel yang ada di http://www.ekaristi.org tentang “kesesatan (heterodoksi) gerakan karismatik (maaf bukannya mengadu domba, tetapi kami ingin mengetahui kebenaran dari gerakan ini, karena Gereja juga belum bersikap tegas dalam hal ini sehingga membuat umat yang awam bingung. Artikel ini memang keras sekali/ekstrim, namun sepertinya dengan argument yang cukup masuk akal). Di artikel tersebut intinya dikatakan bahwa gerakan karismatik adalah sesat, karena beberapa argument yang dijelaskan, diantaranya, dari keberatan berkenaan dengan kilasan sejarah karismatik saja:

                  1. Karismatik berasal dari Pentakosta dan Pentakosta berasal dari Protestantism
                  2. Umat Katolik mendapat karunia “roh” setelah ditumpangi tangan oleh Protestant
                  3. Umat Katolik meminta nasihat theologis dari seorang Pendeta Episkopal dan jemaatnya

                  Dikatakan pula bahwa Pentakosta/Protestan adalah bidat/Skismatik dan murtad tidak mempunyai Roh Kudus dalam diri mereka, nah jika berasal dari Pentakosta / protestan yang bidat, tidak mempunyai Roh Kudus (karena tidak mungkin Roh Kudus ada pada orang yang bidat, kecuali untuk pertobatan kembali ke jalan yang benar) bagaimana mungkin gerakan ini juga tidak sesat apalagi mendapatkan tumpangan tangan dari Pentakosta/Protestan. (Terlepas dari argument tsb diatas memang agak mengherankan mengapa kita harus ikut-ikutan dengan gaya ibadahnya Protestan yg jelas-jelas memisahkan diri dari Tubuh Mistik Kristus?)

                  Doktrin utama dari gerakan ini adalah Baptisan Roh Kudus dan bahasa Roh. Seolah-olah baptisan kita belumlah lengkap dengan baptisan Roh Kudus namun baru baptis dengan air dan jika seseorang belum bisa seolah-olah belum diselamatkan dan mengagungkan bahasa Roh. Pernah saya menghadiri persekutuan ini dan suasananya gegap gempita dan ada kata-kata yang membuat saya tidak nyaman, yaitu dari pemimpin acara tersebut yang mengatakan bahwa “yang bisa berbahasa Roh, silakan berbahasa Roh!” Saya kaget dan heran sekali, koq, sepertinya Roh Kudus itu tunduk dengan kita, yang bisa disuruh-suruh dan kita gunakan sesuai keinginan kita. Amat jauh sekali dengan peristiwa pentakosta pada jaman para rasul, dimana Roh Kudus hinggap atas mereka dan mereka dipimpin oleh Roh Kudus mewartakan Kabar Gembira dengan bermacam-macam bahasa manusia. Saya mempunyai keyakinan jika Roh Kudus hadir pasti Dia mempunyai maksud yang ingin disampaikan kepada kita(misi), sehingga kita bisa mengerti (atau ada yang bisa menterjemahkannya), bukan kita yang memerintah Roh Kudus. Seringkali orang yang sudah pernah ‘berbahasa Roh’ timbul kesombongan rohani dan memandang orang lain yang belum ‘berbahasa Roh’ lebih rendah. Betulkan mereka itu berbahasa Roh? Roh apa yang berkata-kata itu? Mengapa mereka juga tidak pernah mengatakan itu adalah “bahasa Roh Kudus” tetapi selalu mengatakan hanya “bahasa Roh” (tanpa “Kudus”). Mohon tanggapan untuk kami orang awam. (maaf, apa betul Rm. Mardiatmadja juga sering membimbing PDKK? Jika ya mungkin bisa memberikan penjelasan yang benar tentang gerakan ini.)

                  • Shalom Abin,
                    Terima kasih atas pesan dan tanggapannya. Memang kalau kita berdiskusi tentang Karismatik tidak akan pernah kehilangan sisi-sisi yang perlu dikupas. Dalam berdiskusi tentang topik ini, saya juga menyadari ada yang pro dan ada yang kontra. Oleh kerena itu diskusi perlu didasarkan pada kasih, karena semua orang yang pro dan kontra mempunyai alasan tersendiri, yang didasarkan pada kasih terhadap Gereja Katolik, yang juga berarti kasih terhadap Kristus.
                    Saya minta maaf, bahwa saat ini saya belum bisa menanggapi atau memberikan komentar tentang kesesatan gerakan karismatik yang dituliskan di ekaristi.org. Namun saya salut terhadap penulis yang mempunyai kasih begitu besar terhadap Gereja Katolik dengan mencoba melihat penyimpangan-penyimpangan yang ada di dalam gerakan karismatik. Namun bagi saya pribadi, karena Gereja pada saat ini tidak menyatakan bahwa gerakan karismatik ini sesat, namun sebaliknya, merangkul mereka, maka saya juga tidak dalam posisi untuk mengatakan bahwa gerakan ini sesat. Tentu saja secara teologis, kita dapat mendiskusikannya. Dan tentu saja adalah wajar, kalau masing-masing pihak mempunyai cara pandang yang berbeda.
                    Untuk itu, saya telah berkomunikasi dengan Romo Wanta, dan beliau akan menyampaikan permasalahan ini kepada beberapa pastor yang terlibat dalam gerakan ini. Saya juga akan mencoba untuk mengumpulkan bahan-bahan yang berhubungan dengan hal ini. Dan kalau waktu memungkinkan, maka saya akan mencoba untuk mengulasnya lebih jauh.
                    Pada saat ini, usaha yang dapat dilakukan adalah membuat suatu sistem yang baik agar gerakan karismatik tetap menempatkan kehidupan sakramen sebagai spiritualitas yang utama dalam kehidupan masing-masing individu, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi dalam membangun Gereja. Dan memang menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang mengikuti gerakan karismatik agar tidak jatuh dalam kesombongan rohani, namun menempatkan hidup kudus sebagai fokus utama dalam kehidupan mereka.

                    Tentang bahasa Roh, ini juga suatu topik tersendiri yang memerlukan suatu pembahasan yang begitu panjang dan komprehensif. Beberapa orang memcoba untuk membedakan antara “speaking in tongue” dan “prayer in tongue“.  Speaking in tongue mempunyai struktur bahasa, namun prayer in tongue mengacu kepada Rm 8:26 “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Dan tentu saja bagi yang mengikuti gerakan karismatik, maka karunia bahasa Roh ini adalah karunia Roh Kudus. Dan di dalam konteks “prayer in tongue“, maka Roh Kudus membantu roh kita untuk berdoa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
                    Saya pernah mengemukakan bahwa untuk mendapatkan bahasa Roh, maka seseorang tidak harus menerima penumpangan tangan. Ada yang menerima karunia ini dalam doa rosario, atau pada waktu berdoa pribadi di dalam gereja.

                    Yang menjadi masalah di sini adalah apakah “personal experience” yang memang nyata dialami oleh banyak orang tidak bertentangan dengan dokrin Gereja? Inilah yang harus didiskusikan, karena pada akhirnya “love” dan “truth” tidak boleh bertentangan, namun saling mendukung.
                    Semoga waktu akan membantu Gereja untuk mendefinisikan hal ini. Pada saat ini, kita menyadari ada sisi positif dan sisi negatif dari gerakan ini. Jadi, efek-efek negatif harus dicegah dan menjadikan efek-efek positif menjadi suatu energi untuk membangun Gereja.

                    Semoga jawaban ini dapat membantu, walaupun saya tidak mengupasnya secara detil.
                    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
                    stef

                  • Saya sangat sejalan dgn bapak Stefanus menanggapi Karismatik didalam Gereja Katolik kita yang tercinta. Saya adalah ex-Protestan Karismatik yang sangat fanatik oleh karena kesombongan saya dalam berbahasa “roh”, dan hal2 yang lain. Namun saya sekarang adalah seorang Katolik yang sangat taat didalam Ajaran Basis Katolik kita, dan sekarang menjabat sebagai Ketua Lingkungan diwilayah saya. Saya tahu benar apa yang terjadi didalam Karismatik Protestan (maaf bukannya menjelek2an iman mereka). Terus terang saya sangat sedih mengapa Paus memasukkan Karismatik kedalam Gereja kita. Saat ini saya sedang berusaha keras utk membersihkan ‘virus-virus’ didalam Lingkungan Katolik saya, menjawab semua pertanyaan2 mereka khususnya dari kalangan Karismatik Katolik. Mudah2an Paus dgn segala hormat bersudi utk meng-evaluasi ulang keputusan beliau utk memasukkan Karismatik kedalam Gereja kita yang tercinta ini.

                    • Saya agak terperangah mengenai tanggapan Fransiscus. Sebenarnya menurut pandangan pak Fransiscus apa yang membuat jadi tidak simpatik kepada karismatik ? Saya ingin tahu lebih jauh. Thx sebelumnya

                    • Thomas Rizal Trika on

                      Wow.. Saya juga ‘terpelanting’ membaca komentar Sdr Fransciscus yang ‘saat ini sedang berusaha keras utk membersihkan ‘virus-virus’ didalam Lingkungan Katolik’-nya. Virus-virus Karismatik, mksdnya kan pak?

                      Kalau itu benar, maka saya jugan tergelitik menanyakan maksudnya apa ya pak? Bukankah kalau sdr mengikuti semua posting artikel ini dari awal, sdr seharusnya mendapatkan bahwa gerakan Pembaruan Karismatik Katolik (Catholic Charismatic Renewal) adalah sudah merupakan gerakan yang direstui gereja (ecclesial movement/gerakan gereja)? Baca posting Sdr Stef Tay September 21, 2009 at 7:33 pm mengenai gerakan2 apa saja dalam Gereja Katolik yang sdh mendapat restu Gereja.

                      Kemudian ijinkan saya kutip sedikit dari link to ewtn.com

                      “The Charismatic Renewal as a movement within the Catholic Church has been acknowledged by two Popes, Paul VI and John Paul II. ”

                      Dan saya percaya sekali ini sudah melalui proses yang teliti oleh Gereja, karena dikatakan pada artikel yg sama “For his part, Cardinal Joseph Ratzinger, Prefect for the Congregation for the Doctrine of the Faith, has added his voice to the Pope’s in acknowledging the good occurring in the Charismatic Renewal and providing some cautions.”…

                      Nah, kalau bapak terus berkeras seperti itu, sebenarnya bisa dikatakan bapak sendiri-lah yang sedang memisahkan diri dari hirarki Gereja Katolik. Atau dengan kata sederhana “tidak taat” terhadap Magisterium Gereja.

                      Ujilah segala sesuatu. Tapi janganlah kita menghakimi tanpa pemahaman yang cukup.

                      Salam dalam Kasih Kristus

                    • Shalom Thomas,

                      Terima kasih atas tanggapan Anda. Sejujurnya, kami terlewat sehingga tidak menanggapi komentar Franciscus ini. Anda benar bahwa gerakan Karismatik Katolik sudah diterima oleh Gereja Katolik sebagai salah satu gerakan gerejawi, sehingga sebagai umat Katolik, kita sudah selayaknya menganggap gerakan tersebut sebagai bagian dari gerakan-gerakan yang ada di Gereja Katolik.

                      Terus terang, saya juga kurang paham tentang maksud ‘virus-virus’ di lingkungan Katolik, yang disebut oleh Franciscus. Mungkinkah maksudnya adalah adanya paham-paham tertentu, yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik? Sebab sejujurnya ada anggota (atau mungkin lebih tepatnya oknum, karena hanya sebagian kecil dan sungguh, tidak semua) gerakan Karismatik yang mengajarkan paham-paham yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran iman Katolik. Ini menjadi tantangan juga buat para aktivis/ maupun anggota gerakan karismatik Katolik, agar tetap berakar dan bertumbuh dalam ajaran iman Katolik. Agar jangan sampai gerakan ini malah menjadikan kelompok ini eksklusif yang berpotensi memisahkan diri dari kesatuan yang penuh dengan Gereja Katolik.

                      Namun sebaliknya bagi mereka yang tidak tergabung dalam gerakan karismatik Katolik, sudah sepantasnya untuk tidak terlalu curiga ataupun menuduh tanpa bukti dan dasar yang kuat. Ini juga bukan sikap yang mencerminkan kasih yang mempersatukan. Sebab harus diakui, terdapat juga buah-buah yang baik dari gerakan karismatik ini terhadap pertumbuhan iman umat Katolik.

                      Maka, mari mengusahakan kesatuan kasih di antara kita, dengan pertama-tama mengacu kepada apa yang telah diajarkan dan diputuskan oleh Magisterium Gereja Katolik, sebab kita percaya bahwa ajaran ataupun keputusan tersebut telah dibuat atas bimbingan Roh Kudus yang selalu menyertai Gereja.

                      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  19. Dear Stef and Ingrid,

    Kemarin saya mengikuti seminar hidup baru yg diadakan oleh katolik karismatik. Saya sungguh terkejut, karena hampir 95% pengikutnya bisa berbahasa roh.
    Setau gw, bahasa roh itu tidak bisa dipelajarin and itu datangnya tanpa kita ketahui. Bener kah demikian?
    Sedemikian gampangkah org mendapatkan bahasa roh?

    Salah satu moderator di seminar ini bilang kita bisa coba ikut org yg berbahasa roh itu 1kata atau 2 kata, ntar lama2 bahasa roh itu berkembang dengan sendiri nya.

    Dan sungguh aku menemukan persamaan di dalam katolik karismatik dan kristen protestan karismatik, dimana selalu ujung2nya “bahasa roh” yg di tonjolkan. Saya ingat sama seminar yg pernah dibawakan oleh Romo Deshi, katanya bahasa roh itu bknlah bahasa yg diutamakan dlm membangun komunitas, sprti di dlm alkitab yg dikatakan oleh rasul Paulus. Dan juga oleh romo yang mengajariku ajaran rohani katolik, dia pernah mengatakan bahwa tidak perlu mengagungkan bahasa roh.
    Apakah semua romo dan frater bisa berbahasa roh? Kalo mereka tidak bisa, napa orang2 karismatik itu bisa dengan gampangnya memperoleh bahasa roh?

    Thank you.

    Regards,
    felix

    • Shalom Felix,

      Sebenarnya, setiap kita yang telah dibaptis telah menerima Roh Kudus yang mempersatukan kita dengan Kristus. Hanya saja sering oleh kelemahan kita, benih kekudusan itu tidak berkembang (walaupun sudah juga menerima sakramen Penguatan). Maka, Gereja Katolik membuka banyak kesempatan bagi kita anak-anaknya untuk bertumbuh di dalam iman dan mengembangkan ‘benih’ kekudusan yang sudah kita terima. Salah satunya melalui gerakan karismatik Katolik, yang umumnya mengajak umat mengikuti seminar hidup baru dalam Roh Kudus.

      Memang umumnya di akhir seminar itu umat didoakan agar dapat menerima karunia bahasa roh. Karunia bahasa roh ini memang bukan segala-galanya, namun harus diakui bahwa banyak orang dapat terbantu melalui karunia ini untuk mengalami pertumbuhan relasi pribadi dengan Tuhan. Memang, belum tentu semua orang menerima karunia bahasa roh. Karena ini merupakan karunia Tuhan, maka memang tergantung kepada Tuhan, Sang Pemberi. Jika kita bertanya, apakah karunia ini baik? Ya tentu kita menjawab baik, karena Alkitab sendiri mencatat bahwa para rasulpun dulu menerima karunia tersebut (Kis 2:4). Ada orang-orang yang mendapatkan bahasa roh tanpa didoakan, namun berdoa secara pribadi di depan sakramen Maha Kudus atau berdoa Rosario.

      Namun, apakah karunia bahasa roh itu merupakan yang terpenting dan segala-galanya, jawabnya adalah tidak, sebab yang terpenting dan di atas segala-galanya adalah KASIH. Itulah sebabnya, Rasul Paulus meletakkan pengajaran tentang kasih (1 Kor 13), tepat di tengah-tengah pengajaran tentang karunia- karunia Roh Kudus (1 Kor 12 dan 1 Kor 14). Jadi apa yang dikatakan oleh Romo Deshi itu benar, bahwa kita jangan mengagungkan bahasa roh, sebab yang patut kita angungkan adalah Tuhan saja. Mungkin Felix pernah mendengar kesaksian dari Mother Angelica (Pendiri stasiun TV Katolik terbesar di Amerika/ dunia), atau Father Reniero Cantalamessa (Pastor yang ditunjuk sebagai pengkhotbah kepausan Roma) yang menerima karunia bahasa roh itu, yang kemudian menghasilkan pembaharuan dalam hubungan pribadi mereka dengan Tuhan. Doa harian mereka menjadi lebih hidup, sebagai buahnya, mereka sungguh dipakai Tuhan dalam menyampaikan Sabda Tuhan kepada umat.

      Nah, dalam hal ini kita dapat melihat, bahwa karunia bahasa roh itu hanya merupakan awal saja, yang terpenting adalah bagaimana sesudahnya, agar dapat dipakai untuk membangun jemaat dalam kasih. Jadi tentangan bagi mereka yang sudah menerima karunia bahasa roh adalah: bagaimana agar dapat menggunakannya untuk mengembangkan iman jemaat (1 Kor 14:12) dengan pelayanan kasih. Artinya, jangan berhenti dengan bahasa roh saja, tapi terus dilanjutkan misalnya dengan mempelajari dan mendalami kitab suci dan pengajaran Gereja, supaya dapat dibagikan kepada umat/ mereka yang haus akan pengajaran Tuhan. Atau dapat pula karunia itu dipakai dalam doa pribadi untuk mendoakan orang lain, termasuk anggota keluarga, terutama mendoakan pertobatan mereka, ataupun mendoakan mereka yang sakit dst. Singkatnya,yang menerima karunia bahasa roh harus tetap bertumbuh di dalam iman, dan bukannya hanya merasa ‘puas’ karena telah menerima karunia bahasa roh tersebut, dan menjadi tinggi hati. Jika belum diberi karunia bahasa roh, janganlah berkecil hati. Sebab Tuhan mungkin berkehendak lain. Namun, jika di dalam hati selalu timbul keinginan untuk menerima karunia bahasa roh itu, berdoalah dengan sikap merendahkan diri di hadapan-Nya, "Tuhan, jika Engkau pandang baik, aku mau menerima karunia itu yang dahulu pernah Engkau berikan kepada para rasul-Mu." Dan serahkan saja kepada Tuhan, sebab jika itu yang Dia pandang baik untuk pertumbuhan rohani-mu, maka Tuhan akan memberikannya.

      Dengan melihat bahwa bahasa roh ini bukan segala-galanya, maka tidak menjadi masalah apakah semua suster/ romo dapat berbahasa roh atau tidak. Mereka telah mempersembahkan hidup mereka secara total kepada Allah, dan itu merupakan bukti yang lebih kuat dari apapun juga untuk menunjukkan kasih mereka kepada Allah dan kepada umat yaitu kita semua. Maka, kita semua, baik yang belum ataupun yang sudah menerima karunia bahasa roh- harus melihat teladan para suster dan pastor/ romo dalam hal mengasihi, karena kasih merupakan yang terutama di mata Allah.

      Seperti Fr. Cantalamesa dan Mother Angelica, mereka tetap mengedepankan tradisi Gereja Katolik yang kaya. Mereka bertumbuh dalam sakramen (terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat), dalam Adorasi, dan juga dalam doa meditasi. Mental prayer sangat dianjurkan bagi seluruh umat Gereja Katolik, karena mental prayer dapat menghasilkan hubungan yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan bahasa roh. Mental prayer inilah yang dipraktekkan oleh para santa dan santo, seperti: St. Teresa dari Avilla dan Yohanes Salib. Jadi, hal ini juga panggilan bagi seluruh umat untuk juga mau belajar kekayaan Gereja Katolik yang sebenarnya begitu kaya dan indah. Kita perlu menggalakkan doa adorasi, doa di depan Sakramen Maha Kudus, dan mengalami jamahan Yesus sendiri. Di atas semuanya itu, marilah kita bersyukur untuk Pembaptisan yang kita terima, karena melalui Pembaptisan itulah sesungguhnya kita telah menerima Roh Kudus, dan diangkat menjadi anak-anak Kerajaan Allah.

      Salam kasih dari http:// http://www.katolisitas.org
      Stef dan Ing

    • Thomas Trika on

      Sdr Felix

      Izinkan saya men-sharingkan apa yang dituliskan oleh Sr. Maria Skolastika P. Karm. Mengenai “bahasa roh”. Semoga menjadi berkat.

      Bahasa Roh

      User Rating:  / 9
      PoorBest 
      Published on Wednesday, 11 March 2009 17:00
      Written by Sr. Maria Skolastika P.Karm
      Hits: 5243

      1. Sejarah Bahasa Roh

      Banyak orang Katolik yang agak alergi jika mendengar istilah bahasa roh, karena menurut mereka bahasa roh itu bukan milik Gereja Katolik, melainkan milik Gereja lain. Namun sebetulnya, benarkah demikian? Mari kita simak sebentar sejarah bahasa roh ini.

      Jika kita membaca Kitab Suci, akan nyata sekali betapa bahasa roh sebetulnya sudah dikenal dalam Gereja kita sejak zaman Paus kita yang pertama, yaitu St. Petrus sendiri. “Ketika Paulus menumpangkan tangannya atas mereka, Roh Kudus turun atas mereka dan mereka berbicara dalam bahasa roh serta bernubuat.” (Kis. 19:7) Dikisahkan dalam Kitab Suci bahwa setelah Paulus mendoakan orang-orang, Roh Kudus turun atas mereka, dan bahasa roh menjadi salah satu tanda kehadiran Roh Kudus saat itu.

      Nyata sekali bahwa sejak zaman Gereja Awali bahasa roh telah dikenal dalam Gereja, dan bahkan menjadi suatu gejala yang umum pada waktu itu. Contoh lain lagi misalnya dapat kita baca pada Kis. 10:44-46, “Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.” “Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.” (Kis. 19:6)

      Jadi, bahasa roh sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah ada sejak Gereja pertama kali berdiri. Memang dalam perkembangannya kemudian bahasa roh ini sempat menghilang dalam Gereja Katolik, yaitu sejak diberlakukannya penyeragaman dan penertiban liturgi dalam Gereja. Akibatnya, unsur-unsur spontanitas dan manifestasi-manifestasi yang merupakan dorongan Roh pun menghilang.

      [Dari Katolisitas: Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa dorongan/ karya Roh Kudus dapat dimanifestasikan dalam berbagai cara, baik dalam karunia-karunia karismatik Roh Kudus, maupun dalam bentuk liturgi Gereja. Sebab sudah terbukti dalam sejarah Gereja, bahwa penyeragaman liturgi justru melindungi Gereja dari ajaran sesat, seperti ajaran Montanus di abad ke-2 dan Arian di abad ke-4. Maka Roh Kudus yang membimbing Gereja mengetahui cara yang paling tepat untuk melindungi Gereja, salah satu di antaranya adalah melalui liturgi. Sebab doa-doa dalam liturgi merupakan ungkapan iman Gereja, sehingga dengan menyatunya liturgi dalam kehidupan Gereja, membuat Gereja semakin menghayati pengakuan imannya, sehingga Gereja tidak mudah disesatkan oleh berbagai paham yang menyimpang dari ajaran para Rasul, yang terjadi di sepanjang sejarah Gereja. Bahwa kini setelah Konsili Vatikan II, Roh Kudus kembali menyatakan manisfestasi karunia-Nya dalam rupa bahasa Roh seperti pada zaman Gereja awal, ini tidak untuk dipertentangkan dengan liturgi, melainkan untuk dipandang sebagai karunia yang memperkaya Gereja. Setelah sekitar 2000 tahun Gereja telah setia melaksanakan perayaan-perayaan liturgi, terutama Ekaristi, maka adalah kebijaksanaan Allah jika Ia berkehendak untuk memperkaya Gereja dengan karunia-karunia karismatik Roh Kudus sebagaimana yang pernah secara nyata diberikan-Nya di masa Gereja perdana, agar Gereja masa kini diperbaharui dengan semangat yang berkobar sebagaimana dahulu dialami oleh para Rasul, untuk semakin bertumbuh dalam iman, sebagaimana yang telah dilestarikan oleh Gereja dalam liturgi, selama sekitar 2000 tahun ini.]

      Akan tetapi, syukurlah sejak Konsili Vatikan II, musim semi pun mulai tiba. Gereja mulai terbuka terhadap karya dan bimbingan Roh Kudus sehingga kini dalam Gereja Katolik pun mulai merebak manifestasi-manifestasi Roh Kudus, antaranya bahasa roh ini. Jadi tidak benar jika dikatakan kita meniru-niru Gereja lain dalam hal bahasa roh ini, tetapi kita hanyalah kembali ke semangat Gereja Awali, yaitu Gereja zaman para rasul yang merupakan “nenek moyang” Gereja Katolik. Yesus sendiri mengatakan, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka…” (Mrk. 16:17) 

      2. Pengertian Bahasa Roh

      Dari 1 Kor 12:10 tampaklah bagi kita bahwa bahasa roh tak lain merupakan salah satu karunia Roh Kudus. Sebetulnya apakah bahasa roh itu? Bahasa roh tak lain merupakan karunia doa, yang diberikan Roh Kudus kepada seseorang. Umumnya karunia ini diberikan pada tahap permulaan hidup rohani seseorang. Doa dalam bahasa roh ini merupakan sarana untuk bertumbuh dalam kehidupan ilahi, yaitu hidup dalam Roh. Doa dalam bahasa roh ini merupakan karunia adi kodrati (yang melampaui kodrat manusia) yang melampaui perasaan dan akal budi manusia. Jadi, hanya berdasarkan iman semata-mata. Doa dalam bahasa roh ini merupakan suatu bentuk doa yang lebih tinggi dari doa dengan bahasa manusia karena dengan perantaran iman langsung membawa kita kepada Tuhan, tanpa tergantung dengan bantuan gagasan/konsep/ide, yang semuanya terikat dengan akal budi kita yang terbatas.

      Bahasa roh dalam bahasa Yunaninya disebut glosalia, yang artinya kurang lebih adalah bahasa yang tidak dapat dipahami. Namun, inilah justru kelebihannya. Suatu bahasa tanpa subjek, objek, dan predikat! Sama halnya misalnya kita melihat sesuatu yang begitu menakjubkan hingga sulit dilukiskan dengan kata-kata, barangkali yang keluar dari bibir kita hanyalah “Ah” atau “Wah” dan semacamnya, yang sebetulnya tidak ada artinya, tetapi sungguh mewakili isi hati kita yang terdalam. Lain halnya jika kita berdoa dengan bahasa manusia, kita berdoa dengan akal budi kita, sehingga kita belum memasuki hubungan yang mendalam dengan Tuhan, yang melampaui segala kata dan bahasa. Sebaliknya, bila seseorang berdoa dalam bahasa roh, ia bebas dari segala gagasan. Rohnya dapat langsung berhubungan dengan Roh Tuhan dalam iman, sehingga Roh Tuhan dapat bekerja dalam dirinya secara lebih mudah. Karena itu doa dalam bahasa roh ini merupakan semacam kontemplasi. Sebagaimana kontemplasi membawa kita langsung kepada Tuhan dalam iman yang murni, demikian pula halnya dengan bahasa roh. Dan seringkali pula, doa dalam bahasa roh ini bermuara pada kontemplasi.

      Dalam kontemplasi manusia menjadi pasif, dan Roh Allah yang lebih aktif. Artinya, kontemplasi lebih merupakan karya Roh daripada karya manusia. Di sini, manusia membiarkan dirinya dibimbing dan dibentuk Roh dengan cara yang tidak dimengertinya. Lewat doa ini, sedikit demi sedikit kita dimurnikan dan dibangun menurut kehendak Allah.

      Akan tetapi, walau dalam kontemplasi manusia pasif, namun sekaligus kontemplasi ini merupakan aktivitas manusia yang tertinggi, karena aktivitas ini timbul dari kedalam rohnya sendiri yang didorong oleh Roh Allah. Dalam bahasa roh sebetulnya aktivitas manusia hanya menggerakkan bibir saja serta mengarahkan perhatiannya kepada Allah dalam iman. 

      Abbas Lazarus, seorang yang amat suci dari Gereja Yunani Orthodoks mengatakan, bahasa roh merupakan jalan pintas untuk mencapai kontemplasi. Hal ini juga diakui oleh banyak orang, bahkan di antaranya beberapa religius. Banyak yang bersaksi sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam untuk bisa merasakan kontak dengan Allah dan mencapai kontemplasi. Namun, setelah mengalami pencurahan Roh Kudus dan berdoa dengan bahasa roh, kontak ini terjadi seketika itu juga. Hal ini mudah dipahami karena dengan berdoa dalam bahasa roh, yang berdoa adalah roh kita sendiri sehingga lebih dekat dengan Allah yang bersemayam di lubuk hati kita, dibandingkan jika kita berbicara dan berpikir dengan perantaraan bahasa kita yang lamban.

      Dahulu ada seorang pemuda korban narkotik datang ke Ngadireso. Setelah mengalami penyembuhan dan pencurahan Roh Kudus, hidup rohani pemuda ini berkembang pesat. Ia menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya, rajin berdoa setiap hari, dan begitu banyak perubahan baik yang terjadi dalam dirinya. Doanya dalam bahasa roh bermuara dalam kontemplasi, dan hidup rohaninya semakin berkembang dari hari ke hari. Dan kini ia bahkan menjadi salah seorang aktivis yang memerangi merebaknya narkotika di kalangan muda-mudi. Kita lihat di sini, betapa jika seseorang setia menyerahkan diri kepada Allah, membiarkan diri dicintai oleh Tuhan, maka Roh Kudus sendiri yang akan membentuk dan memurnikan jiwa seseorang. Di mata Tuhan kita bagaikan sebalok kayu yang akan dipahat-Nya menjadi patung yang indah. Hanya dengan duduk tenang dalam kontemplasi di hadirat-Nyalah, Roh Kudus dapat lebih leluasa berkarya menjadikan kita semakin indah. Jika kita tidak pernah masuk dalam doa, duduk tenang di hadirat-Nya, kapankah kita memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk berkarya di dalam jiwa kita?

      Perlu dicatat, bahwa bahasa roh terkadang juga bisa diubah menjadi sebuah bahasa yang dikenal untuk membangkitkan iman seseorang. Sebagai contoh, dahulu sempat terjadi seorang suster berkata-kata dalam bahasa roh, yang bunyinya persis bahasa Cina. Padahal suster itu adalah orang Jawa asli yang tidak bisa bahasa Cina sama sekali. Sesudah persekutuan doa seorang ibu mendatangi suster tersebut sambil menangis. Ibu itu mengatakan ia mengerti apa yang dikatakan oleh suster tersebut ketika berkata-kata dalam bahasa roh yang ternyata memang benar bahasa Cina; dan isi kata-kata itu sungguh tepat untuk kondisi ibu itu.

      3. Manfaat Bahasa Roh

      Pertama-tama St. Paulus memandang karunia ini sebagai karunia doa pribadi. “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah… oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.” (1 Kor. 14:2) Selanjutnya dikatakan pula, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri.” (1 Kor. 14:4) Dan pada ayat 14 dikatakan oleh St. Paulus, bahwa dengan bahasa roh kita dapat berdoa lebih baik daripada yang dapat kita lakukan dengan kesanggupan manusiawi, karena kita sudah tidak memakai akal budi lagi yang dapat menghambat doa kita dengan segala pikiran dan gagasan-gagasan.

       

           Secara ringkas berdoa dalam bahasa roh dapat diuraikan sbb:

      Menolong kita untuk memenuhi perintah Tuhan agar kita selalu berdoa
      Menyemangati kehidupan doa kita
      Merupakan pintu masuk bagi karismata-karismata lain karena karunia bahasa roh ini membuat kita semakin peka terhadap karya Roh. (Namun, ada juga orang yang sudah menerima karunia yang lain padahal belum menerima karunia bahasa roh)
      Merupakan senjata melawan godaan setan
      Memberikan perasaan tenang, hening, damai, terutama bila kita sedang sedih atau bingung.
      Merupakan bentuk doa permohonan dan pujian yang efektif apabila kita tidak tahu apa yang harus kita minta atau kita katakan dalam doa.
      Membuahkan kemampuan yang lebih baik untuk berpikir, menulis, atau untuk membuat penemuan karena Roh yang berbicara, berkarya langsung di dalam bawah sadar kita serta menambah daya kreativitas kita.
       

      4. Senandung dalam Roh

      Bila orang mulai memuji Tuhan dalam bahasa roh, mereka merasakan bahwa lebih indah lagi bila pujian itu disenandungkan. Maka satu persatu mulai bernyanyi dalam bahasa roh. Roh Kudus sendirilah yang akan memimpin keserasian paduan senandung roh itu. 

      Ketika kita senandung dalam bahasa roh, kita tidak menguasai melodinya, dan tidak tahu bagaimana nanti melodinya. Melodi itu timbul secara spontan tanpa dipikirkan lebih dahulu. 

      5. Karunia Berkata-kata dalam Bahasa Roh

      Karunia berkata-kata dalam bahasa roh tidak sama dengan berdoa dalam bahasa roh. Karunia doa dalam bahasa roh merupakan suatu kemampuan tetap yang diberikan pada seseorang sebagai manifestasi luar pencurahan Roh Kudus, yang memampukan orang untuk berdoa setiap waktu dalam suatu bahasa yang tidak dia kenali dan yang bukan merupakan hasil kemampuan akal budinya.

      Karunia berkata-kata dalam bahasa roh merupakan suatu manifestasi sesaat dari Roh Kudus yang mendorong seseorang untuk memberikan sebuah pesan dalam bahasa roh dengan berbicara keras, biasanya pada sebuah persekutuan doa. Manifestasi ini seharusnya diikuti oleh karunia tafsiran.

      Karunia doa dalam bahasa roh diberikan kepada hampir semua orang dan umumnya pada tahap awal hidup rohaninya, dan tujuannya untuk kepentingan pribadi. Sedangkan karunia berkata-kata dalam bahasa roh diberikan kepada orang-orang tertentu yang sudah matang rohaninya, dan tujuannya untuk kepentingan orang banyak. “Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.” (1 Kor. 14:27)

      Suatu gejala yang mengesankan ialah, umumnya bila orang bersama-sama berdoa dalam bahasa roh atau senandung roh, mereka akan berhenti pada waktu yang hampir bersamaan. Hal ini adalah karena mereka digerakkan oleh roh yang sama, yaitu Roh Kudus sendiri.

      6. Apa yang Terjadi Saat Berdoa dalam Bahasa Roh?

      Berdoa dalam bahasa roh adalah sesuatu yang amat biasa, sama sekali tidak aneh-aneh seperti yang sering didengungkan orang yang tidak mengertinya. Bila kita berdoa dengan bahasa roh, kita tetap sadar seratus persen. Sekali kita menerima karunia ini, kita dapat menguasainya dengan sempurna, sehingga kita dapat berdoa dengan bahasa roh kapan saja, di mana saja, dan dapat berhenti kapan saja kita mau. Kita dapat mengucapkannya dengan suara lantang, tetapi juga bisa dengan suara pelan sehingga tak terdengar. 

      Sebagaimana karunia nabi takluk kepada nabi-nabi, demikian pula karunia bahasa roh takluk kepada pemiliknya, sehingga orang bisa memakainya setiap saat dan berhenti setiap saat pula. Hanya saja, kita tidak tahu apa yang akan keluar bila kita kita berdoa dalam bahasa roh. Kata-katanya keluar sendiri secara spontan, tanpa dipikirkan lebih dahulu. Kadang-kadang kata-kata yang keluar itu hampir setiap kali sama, tetapi kadang berbeda sekali sehingga tidak dapat diramalkan lebih dahulu.

      Kadang-kadang orang mengira bahwa berdoa dengan bahasa roh itu penuh emosi dan bahkan ada yang mengatakan bahwa itu gejala orang histeris. Jangan lupa bahwa para rasul semuanya berdoa dalam bahasa roh, dan mereka itu orang-orang yang sehat pikirannya. Nyatanya, orang yang berdoa dalam bahasa roh yang sejati justru orang yang stabil hidupnya.

      Ada lagi yang menyangka orang yang berdoa dalam bahasa roh dalam keadaan trans alias tidak sadar. Ini sama sekali tidak benar. Orang yang berdoa dalam bahasa roh tetap sadar seutuhnya. Ia sadar apa yang dilakukannya, mendengar apa yang diucapkannya.

      Jadi, apa sesungguhnya yang terjadi bila kita berdoa dalam bahasa roh? Biasanya kita hanya mengalami suatu rasa tenang, hening, dan damai saja; tanpa emosi, tanpa gambaran, tanpa gagasan atau ide-ide. Kita tidak memikirkan apa-apa, seluruh hati dan perhatian kita terpusat kepada Allah. Yang kita tahu kita sedang berdoa. Bahkan kadang-kadang kita hanya sadar bahwa Allah hadir, sehingga seluruh perhatian kita terserap oleh Allah yang hadir itu.

      Oleh karena itu, berdoa dalam bahasa roh merupakan suatu ungkapan iman yang murni, justru karena tanpa emosi, tanpa gambaran, tanpa gagasan atau ide-ide, melainkan hanya dijiwai oleh iman.

      7. Halangan-halangan Menerima Bahasa Roh

      Untuk memperoleh karunia bahasa roh diperlukan kerja sama antara Roh Kudus dengan manusia. Roh Kudus tidak memaksa kita, tetapi menantikan penyerahan diri kita kepada-Nya. Karena itu sering ada halangan-halangan psikologis yang harus kita atasi, antara lain:

      Rasa takut yang tidak ada dasarnya
      Takut menjadi aneh
      Takut kelihatan bodoh
      Merasa tidak layak
      Untuk menyingkirkan halangan ini, kita dapat melakukan suatu faal iman, yaitu dengan menirukan orang lain. Misalnya kita bisa coba menirukan bahasa roh yang diucapkan frater/suster yang mendoakan kita. Memang awalnya kita hanya meniru, tetapi hasilnya nanti bisa lain sama sekali, sebab setiap orang mempunyai bahasa rohnya sendiri-sendiri. Ibaratnya bak berisi air yang tidak dapat mengalir karena tersumbat, akan langsung mengalir dengan derasnya begitu sumbat dibuka. Memang idealnya bahasa itu keluar dengan sendirinya, namun kadang-kadang terhalang oleh suatu rintangan dan karena itu harus disingkirkan dulu. Salah satu caranya yaitu faal iman tadi.

      Terkadang ketika didoakan pencurahan, orang-orang tertentu merasakan tenggorokannya bergerak-gerak, atau lidahnya, tetapi tidak dapat berdoa dalam bahasa roh. Khususnya bagi mereka yang sudah mengalami gejala ini, penting sekali menjawab isyarat tersebut dengan suatu faal iman, yakni menirukan orang lain.

      8. Penutup 

      Secara teoritis semua orang dapat menerima karunia ini, tetapi kenyataannya cukup banyak pula yang tidak menerimanya walaupun ingin. Mengapa? Semua ini adalah misteri ilahi. Kita tidak dapat menyelami kehendak Allah yang membagi-bagikan karunia-Nya secara bebas kepada masing-masing menurut kehendak-Nya yang suci. Sebagaimana kesimpulan St. Paulus, tidak semua menerima karunia. (1 Kor. 12:30) Yang menerimanya hendaklah bersyukur dan mempergunakannya dengan baik. 

      Perlu dicatat bahwa sebagaimana karismata lainnya, karunia bahasa roh bukanlah tanda kesucian atau keunggulan. Oleh sebab itu mereka yang menerimanya janganlah berbangga dan menganggap diri lebih dari yang lain. Sebaliknya ia harus semakin rendah hati, sebab bila itu sungguh karunia Roh dan ia memakainya dengan tepat, karunia tadi akan menjadikannya semakin rendah hati serta menghasilkan buah-buah yang lain. 

      Di lain pihak, mereka yang tidak menerimanya tidaklah perlu kecewa karena Tuhan punya rencana yang indah bagi kita masing-masing. Kita senantiasa boleh mendambakannya, namun sekaligus sadar bahwa betapapun berharganya karunia ini, kehadiran Roh Kudus sendiri jauh lebih berharga dan penting.