Gerakan karismatik: sisi positif dan sisi negatif

128

Pertanyaan:

Salam dalam kasih Kristus,
Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak teman2 saya dari berbagai lingkungan dan usia yang terlibat aktif dalam Persekutuan Doa Kharismatik Katolik (PDKK), karena PDKK ini merupakan bagian dari kegiatan yg dianggap resmi oleh Gereja maka awalnya saya anggap biasa saja. Namun setelah beberapa tahun terakhir saya mulai “merasakan ada perbedaan” dalam gaya bicara,teriakan2, gaya berdoa, termasuk dalam penekanan2 pembicaraan tentang konsep anugerah/karunia2, tentang bahasa Roh, saya secara naluri mulai merasakan ada doktrin2 yg “asing” yang tidak cocok di pemahaman doktrin iman Katolik saya. Saat orang2 lain berteriak2 berbahasa roh saya malah jadi takut, saya merasa asing dan tidak nyaman. Gejala apa ini? apakah justru sayanya yang salah??
Saya merasa terganggu saat misa2 lingkungan ada kesaksian2 yang agak bombastis, dengan gaya2 berdoa yang mirip denominasi gereja lain, dengan gaya2 bahasa roh yang kadang2 menyiratkan adanya “kesombongan rohani” bagi mereka yang telah menjalankannya, ..(maaf kalau justru saya yang salah perasaan/persepsi), saya malah bertanya sendiri : mungkin lama2 ikut PDKK dengan ikut kebaktian gereja protestan Karismatik akan sama saja? Memang tetap ada bedanya, tapi itupun kelihatannya hanya kosmetik luar saja supaya identitas Katoliknya tetap terjaga, namun esensi ibadah dan doanya sudah amat mirip. Saya mencoba menghibur diri dengan berpikir : Ah, mungkin ini cuma “oknum” saja yang kebablasan. Namun diluar itu (dan ini merupakan pertanyaan saya) :
1. Bagaimana peran kontrol pemimpin2 gereja Katolik thp praktek2 gerakan ini, tidak cuma dalam bentuk dokumen (buku pedoman) tapi yang saya maksud adalah dalam hal kontrol “pagar2? di level pelaksanaan di tiap Paroki?
2. Saya mengimajinasikan sebuah skenario terburuk : Jika seorg Katolik yang aktivis di gerakan Karismatik dan sangat menikmati dan mendalaminya, pada suatu titik ia telah “kebablasan” mendapat teguran/koreksi dari otoritas gereja, bisa jadi ia akan memilih mencari wadah baru (gereja lain) yang lebih mengakomodasi preferensinya? bukankan secara tidak langsung Gereja telah melakukan “pembiaran” atas gejala ini?
3. Belajar dari sejarah Gereja Katolik berabad2 lalu mengenai ajaran2 yang menyimpang, mulai dari Montanisme di abad ke 3, dan seterusnya,.apakah Gereja sudah memperhitungkan resiko2 yang dapat muncul dari gerakan Karismatik ini sendiri? Saya membaca buku karangan Romo Deshi “apakah Karismatik dapat sungguh Katolik?”, menurut saya buku tersebut cukup baik dan memberi pencerahan. Sekian persen umat Katolik mungkin beruntung jika membaca buku tersebut, namun bagaimana dengan mereka yang tidak membaca atau tidak mengerti sama sekali (karena tidak berkesempatan mendapat pencerahan)? apa sejauh ini keuskupan sudah cukup bertindak memasang pagar2/rambu2 agar umat dalam skala luas tidak terperosok ?
4. Saya beberapa kali mendengar ada umat yang berucap “Oh, itu romo karismatik”, dan sebaliknya “Oh, romo anu anti Karismatik”. Ini sinyal2 gejala apa?
Mohon pencerahan dan bimbingan.Maaf jika ada kata2 atau ungkapan2 saya yang kurang tepat. Terima Kasih.
Shalom. – Antonius

Jawaban:

Shalom Antonius,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang gerakan karismatik. Memang ada dua kubu yang berbeda dalam melihat gerakan ini, dimana yang satu berpendapat bahwa gerakan karismatik adalah sesat dan yang satu berpendapat bahwa gerakan ini adalah untuk membangun gereja dan diakui oleh Gereja Katolik. Atau yang lebih ekstrem lagi, mereka yang berpendapat bahwa gerakan karismatik ini adalah yang paling utama, yang mampu menyelamatkan Gereja.
Dalam jawaban saya berikut ini, saya tidak membahas secara detil tentang gerakan ini, namun lebih kepada menyikapi gerakan ini. Mungkin suatu saat, saya akan menulis artikel tersendiri tentang hal ini, sehingga dapat diulas dengan lebih jauh dan detil.
Beberapa fakta tentang gerakan karismatik dan spiritualitas Katolik.

  1. Beberapa Paus memberikan sambutan dalam konferensi gerakan karismatik Katolik, seperti Paus Paulus VI, dan Paus Yohanes Paulus II kepada para pemimpin gerakan karismatik Katolik, yang dapat dilihat disini (silakan klik, klik ini juga), dimana di salah satu sambutan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 4 April 1998, paragraf 2, dikatakan “You are an ecclesial movement. Therefore, all those criteria of ecclesiality of which I wrote in Christifideles laici (cf. n. 30) must be expressed in your lives, especially faithful adherence to the Church’s Magisterium, filial obedience to the Bishops and a spirit of service towards local Churches and parishes.
  2. Kita melihat ada beberapa efek negatif dari gerakan ini, dimana menimbulkan perpecahan Gereja, juga ada yang mempunyai kesombongan rohani menganggap bahwa yang tidak ikut gerakan karismatik adalah tertutup dan tidak terbuka akan gerakan Roh Kudus.
  3. Namun ada juga efek-efek positif, dimana banyak dari anggota gerakan ini yang mempunyai kerinduan untuk melayani Tuhan, rindu untuk bertekun dalam Sabda Tuhan, dll.
  4. Dalam sejarah perkembangan Gereja, kita melihat ada begitu banyak jenis spiritualitas di Gereja Katolik.

Bagaimana menyikapi gerakan Karismatik?

Dari beberapa kenyataan tersebut di atas, maka saya mempunyai pendapat sebagai berikut: (dalam hal ini, perlu saya sampaikan, bahwa ini adalah pendapat saya pribadi, yang tentu saja mungkin ada yang tidak setuju dan memang dapat didiskusikan lebih lanjut).

  1. Karena gerakan ini masih termasuk baru, namun masuk dalam “ecclesial movement“, seperti yang ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II, maka alangkah baiknya kalau kita terbuka dengan gerakan ini, namun dari pihak hirarki dapat memberikan pengarahan yang baik, sehingga gerakan ini tidak membawa perpecahan, namun turut membangun Gereja Katolik dari dalam. Di satu sisi, kita juga tidak dapat memaksakan semua orang untuk menyukai dan mempraktekkan spiritualitas dari gerakan karismatik, sama seperti spiritualitas Carmelite atau Jesuit tidak dapat dipaksakan kepada semua umat Katolik. Oleh karena itu, kita juga tidak dapat memaksakan semua pastor harus menyukai spiritualitas dari gerakan karismatik. Jadi kalau ada orang yang bilang “oh, itu romo karismatik, atau oh itu romo anti karismatik”, mungkin mengacu kepada hal ini. Namun alangkah bijaksananya kalau kita tidak mengecap romo berdasarkan suka atau tidaknya dia dengan gerakan karismatik, sama seperti kita tidak mengecap seorang romo kalau dia suka atau tidak dengan spiritualitas dari Benediktus.
  2. Namun karena gerakan ini termasuk baru, maka Gereja perlu untuk membimbing gerakan ini, sehingga gerakan ini dapat turut berpartisipasi dalam membangun Gereja Katolik bersama dengan unsur-unsur yang lain. Diharapkan bahwa semua dapat bersatu untuk mewartakan Kristus yang hidup dengan kekuatan Roh Kudus.
    1. Perlu diadakan suatu pendekatan pastoral yang tepat serta training yang baik bagi orang-orang yang terlibat aktif di dalam gerakan karismatik. Termasuk di dalamnya adalah para pewarta perlu diberikan suatu dasar teologi dengan ekklesiologi yang baik. Kembali saya tidak tahu apa yang terjadi di lapangan. Mungkin sudah dilaksanakan, mungkin juga perlu ditingkatkan lagi.
    2. Badan Pelayanan Nasional Pembaharuan Karismatik Katolik Indonesia (BPNPKKI) dapat menjadi sarana untuk membimbing gerakan ini di Indonesia agar mempunyai arah yang benar dan turut serta dalam membangun Gereja Katolik dari dalam, sesuai dengan visi dan misinya (silakan klik), dimana di point ke-5 dikatakan “Untuk memupuk pertumbuhan yang terus menerus dalam kesucian melalui integrasi yang tepat antara penekanan segi karismatik ini dengan kehidupan yang utuh dari Gereja. Hal ini terlaksana melalui partisipasi dalam suatu kehidupan sakramental dan liturgis yang kaya, penghargaan terhadap tradisi doa-doa dan spiritualitas katolik dan pembinaan terus menerus dalam ajaran-ajaran Katolik dibawah bimbingan Magisterium Gereja dan peran serta dalam rencana pastoral Gereja.
      Perlu pemikiran bagaimana menjabarkan lebih detail prinsip di atas dalam skala yang luas maupun dalam skala paroki.
    3. Mungkin BPNPKKI dapat mengadakan suatu program training untuk para pengajar dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, sehingga mereka tidak terlalu menekankan pada karunia-karunia Roh Kudus, namun lebih kepada inti dari pengajaran Kristus dan Gereja Katolik, yaitu kekudusan (holiness). Karunia-karunia Roh Kudus yang tidak mengarah kepada kekudusan dapat membahayakan kehidupan spiritual. Dan tentu saja pengajaran tentang ekklesiologi dapat membantu agar semua pihak dapat membangun Gereja Katolik dengan satu visi. Saya tidak tahu secara persis pelaksanaan tentang hal ini, mungkin saja BPNPKKI telah melakukan pelatihan ini.
    4. Yang jelas, gerakan karismatik tidak dapat terlalu menekankan karunia-karunia Roh Kudus, namun selayaknya memahami bahwa karunia-karunia Roh Kudus secara penuh dicurahkan kepada Gereja Katolik, lewat sakramen-sakramen dan juga lewat hirarki. Bahkan dipertegas di Lumen Gentium, bahwa segala karunia karismatik harus tunduk kepada hirarki Gereja. Karunia karismatik tidak boleh sampai membawa perpecahan. Lumen Gentium, 12 mengatakan ““Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat menyolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang pengalamannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).
  3. Karena gerakan ini dapat membuat orang benar-benar mempunyai keinginan untuk mengasihi Kristus dan mempunyai devosi kepada Roh Kudus, dan disatu sisi yang lain Gereja Katolik adalah Tubuh Mistik Kristus dan Roh Kudus adalah Roh penggerak dari Gereja Katolik, maka perlu diberikan suatu penjelasan tentang hubungan antara Yesus, Roh Kudus, dan Gereja Katolik.
    1. Jika seseorang yang ikut gerakan karismatik mempunyai semangat yang berkobar-kobar, namun  tidak disertai pengajaran yang baik, maka itu dapat membuatnya kehilangan arah. Oleh karena itu, setelah atau dalam LISS (Life in the Spirit Seminar) atau SHBDR (Seminar Hidup Baru Dalam Roh), harus ada pengajaran tentang buah-buah Roh, dan bukan hanya karunia Roh Kudus, serta pengajaran tentang Gereja, sehingga diperoleh pengertian hubungan antara Yesus, Roh Kudus, dan Gereja Katolik.
    2. Pendapat tentang, “Hanya Yesus dan saya” atau “hanya Roh Kudus dan saya” dapat menjadikan seseorang sombong rohani dan dapat salah langkah.
    3. Pengikut gerakan karismatik harus tahu bahwa ada hubungan yang tak perpisahkan antara Yesus, Roh Kudus, dan Gereja Katolik. Oleh karena itu mereka yang tergabung dalam gerakan ini harus mempunyai dasar yang benar tentang ekklesiologi. Tanpa dasar ekklesiologi yang benar, maka seseorang atau suatu gerakan akan dengan mudah memisahkan diri dari Gereja Katolik.
    4. Seperti yang diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II, gerakan ini harus mempunyai ketaatan Magisterium Gereja, kepada uskup setempat, juga semangat melayani di dalam gereja lokal atau paroki. Karena setiap keuskupan dan paroki mempunyai adaptasi dan cara pandang yang berbeda, maka gerakan ini harus tunduk kepada hirarki setempat.
  4. Kita dapat melihat juga buah-buah yang terjadi gerakan ini. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada efek negatif, namun juga ada efek positif. Adalah peran hirarki untuk meminimalisasi efek negatif dan semakin mengembangkan efek-efek yang positif.
  5. Pada saat yang bersamaan, Gereja juga harus semakin aktif untuk memberikan pelatihan kepada kaum awam tentang spiritualitas Katolik yang berakar pada tradisi Katolik (doa meditasi, doa batin), yang terbukti mampu menghasilkan buah-buah yang baik, seperti yang dibuktikan oleh para kudus sepanjang sejarah Gereja. Dari semua cara berdoa yang ada: doa lisan, doa renung, doa batin (KGK 2721), maka doa batin adalah merupakan puncak doa (KGK, 2714). Oleh karena itu, seluruh umat, termasuk yang mengikuti gerakan karismatik juga harus diberikan suatu pengajaran tentang doa meditasi dan doa batin.
  6. Seperti kita ketahui, bahwa banyak spiritualitas Katolik yang ada di dalam sejarah perkembangan Gereja, namun semuanya mempunyai satu tujuan, yaitu mewartakan Kristus dan membangun Gereja Katolik dengan cara hidup kudus. Perlu suatu pemikiran tersendiri, apakah mungkin gerakan karismatik ini dapat menjadi “salah satu dari spiritualitas Katolik” – mungkin waktu yang akan membuktikannya.
  7. Dan mari kita semua kembali kepada prinsip dasar, bahwa semua spiritualitas Katolik – apapun bentuknya – mengarah kepada hidup kudus (holiness), dan juga sakramen-sakramen, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Dan terutama semua spiritualitas Katolik harus belajar dari Bunda Maria, sehingga Bunda Maria dapat mengantar setiap orang dari spiritualitas yang berbeda-beda kepada Kristus. Akhirnya semua spiritualitas Katolik harus taat kepada Magisterium Gereja, Uskup setempat, sehingga dalam perbedaan, setiap orang dapat membangun Gereja dalam ikatan kasih Kristus. Spiritualitas yang terlepas dari hal-hal di atas tidaklah dapat dipertanggungjawabkan dan perlu dipertanyakan keberadaannya.
    1. Mengikuti gerakan karismatik namun terpisah dari sakramen atau menganggap pertemuan doa karismatik lebih utama/ tinggi dibandingkan dengan Sakramen Ekaristi, adalah sikap yang pasti salah arah. Hal ini disebabkan karena Perayaan Ekaristi adalah sumber dan puncak dari kehidupan kristen (KGK, 1324, 1407). Anggota gerakan karismatik yang merasa tidak perlu mengaku dosa setelah mengikuti gerakan ini adalah salah jalan, karena semakin dekat dengan Tuhan, maka akan semakin kita sadar akan dosa-dosa kita, dan semakin kita harus rendah hati di hadapan Allah.
    2. Mengikuti gerakan karismatik namun terlepas dari devosi kepada Bunda Maria juga adalah sikap yang salah, karena Bunda Maria adalah manusia yang mempunyai hubungan paling erat dengan Yesus dan Roh Kudus, sehingga kita semua harus mempunyai kerendahan hati untuk belajar dari teladan Bunda Maria. Bunda Maria juga yang mempunyai karunia dan memanifestasikan buah-buah Roh secara sempurna. Oleh karena itu, ia dapat mengantar kita kepada Yesus dan Roh Kudus.
    3. Mengikuti gerakan karismatik, namun memisahkan diri dari Gereja Katolik adalah sikap yang membahayakan keselamatan sendiri, karena ini menunjukkan suatu kesombongan rohani.

Demikian apa yang dapat saya sampaikan. Mungkin tidak semua uraian di atas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat detail. Kembali saya ingin menegaskan bahwa hal-hal di atas adalah pemikiran saya pribadi, dan mungkin dari umat Katolik sendiri ada yang tidak setuju dengan apa yang saya paparkan.
Semoga keterangan di atas dapat berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

128 Comments

  1. Dear all

    saya merasa diberkati melalui komunitas PDPKK.
    Tidak akan ada ujungnya kalau membahas apakah sesuatu sesat atau tidak sesat.
    jangan samapai kita merenungkan firman Tuhan siang dan malam tapi malah lupa melakukanya.

    Mari berpikir positif untuk komunitas yang ada di GK. Oh indahnya hidup saling menghormati

    • Shalom Cinde,
      Ya, Anda benar bahwa sebagai sesama anggota Gereja Katolik, selayaknya kita saling menghormati dan menghargai semua komunitas yang ada dalam Gereja Katolik. Artikel di atas hanya mau mengungkapkan realita yang ada, bahwa memang terdapat sisi positif dan sisi negatif dari gerakan karismatik dalam Gereja Katolik, sebab nyatanya memang ada. Hal positif dan negatif dari suatu gerakan memang merupakan sesuatu yang umum terjadi, jadi bukan hanya pada gerakan karismatik saja. Adalah baik jika sisi-sisi negatif dan positif tersebut diketahui, terutama oleh semua yang terlibat dalam dalam Persekutuan Doa Karismatik, agar dapat bersama-sama berjuang, agar sisi-sisi negatif tersebut dihindari, agar gerakan PKK dapat semakin membuahkan hal-hal yang positif bagi pertumbuhan Gereja Katolik.

      Jika Anda tertarik dengan topik ini, silakan membaca artikel- artikel berikut ini, semoga dapat memberikan masukan yang lebih seimbang:

      Apakah Gerakan Karismatik Katolik sesat?
      Yang dikatakan Paus tentang Gerakan Karismatik Katolik
      Garis besar arahan Gereja tentang Pembaruan Karismatik Katolik

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Syalom, saya mau menanyakan, saya suka ikut kegiatan healing movement camp yang diadakan oleh gereja protestan, karena saya merasa roh yang semakin hidup dan semakin ingin berbuat baik setiap pulang dari HMC tersebut. Tetapi saya masih rajin dalam kegiatan gereja katolik, saya masih sering misa di gereja katolik.
    Apakah perbuatan saya melanggar ketetapan gereja katolik? Walaupun saya tidak pindah agama, dan hanya mengikuti kegiatan khusus tersebut

    Berkah Dalem

    • Salam, Monita

      Menurut iman Katolik, Allah memang mengikatkan rahmat yang berlimpah secara definitif dalam Gereja. Namun, Allah juga bebas mengalirkan rahmat dan karyaNya dimanapun Ia mau, termasuk dalam kalangan saudara-saudari Kristiani non-Katolik (Lumen Gentium 15). Oleh sebab itu, bisa jadi Roh Kudus berkarya dalam diri Monita dalam salah satu kesempatan camp tersebut. Monita dapat melakukan discernment lebih jauh untuk menguji buah-buah Roh yang dihasilkan setelah perubahan tersebut untuk melihat bahwa Allah benar-benar berkarya dalam diri Monita.

      Perubahan dalam diri Monita ini akan lebih baik lagi bila Monita tumbuh kembangkan. Roh Cinta yang berkobar dalam diri Monita dapat diarahkan untuk tidak hanya berbuat baik, namun juga untuk mencintai Kristus. Mencintai Kristus berarti juga mencintai GerejaNya, karena Kristus adalah Kepala bagi Tubuh, yakni Gereja. Monita dapat menggunakan kekuatan baru tersebut untuk mengenal dan mencintai iman Katolik yang Monita miliki. Dengan demikian, Monita semakin mantab dalam iman Katolik dan dapat mewujudkan cinta Monita secara lebih penuh, baik kepada Kristus maupun kepada sesama.

      Monita dapat melakukan pendalaman iman melalui beragam cara. Ada banyak artikel dalam situs Katolisitas yang dapat menolong anda memperdalam iman Katolik, terutama beberapa pertanyaan iman yang selama ini mungkin tidak terpikirkan dalam benak. Suasana yang anda alami ketika mengikuti HMC dapat anda temukan pula dalam Gereja Katolik. Sebenarnya, Gereja Katolik juga memiliki acara serupa dengan HMC yang anda ikuti, yakni Seminar Hidup Baru Dalam Roh (SHBDR). Seminar ini umumnya diadakan oleh komunitas Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) dibawah naungan BPK-PKK. Monita dapat bergabung dengan komunitas Karismatik Katolik dan mengikuti beragam kegiatan mereka. Dengan demikian, anda dapat bertumbuh dalam nuansa Katolik sekaligus mengalami suasana yang anda alami dalam HMC.

      Pada akhirnya, patut kita pahami bahwa ketaatan iman tidak bergantung dari perasaan, melainkan kepatuhan akal budi dan kehendak pada Allah (Dei Verbum 5). Sebagai anggota Persekutuan Doa Karismatik Katolik, mungkin yang saya alami kurang lebih serupa dengan pengalaman anda. Apa yang kita alami tidak lepas dari perasaan emosional, yang dapat berubah seiring waktu. Kepatuhan iman jauh lebih mendasar dan lebih tahan lama. Selain itu, persekutuan doa tidak menggantikan Misa Kudus. Misa Kudus adalah sumber dan puncak dari iman Kristiani. Ekaristi memampukan kita memuji dan menyembah Allah Tritunggal dengan syukur yang besar dan syukur yang tertinggi kita nyatakan dengan menyatu bersama Allah dalam Komuni Kudus. Semoga tanggapan ini membantu dan semoga iman kita semua semakin mengakar dalam Kristus dan GerejaNya.

      Pax Christi
      Ioannes.

  3. Terus terang saya termasuk suka dengan gerakan karismatik jadi saya hanya ingin berpendapat secara pribadi mengenai karismatik buat saya. Pertama saya ingin membagikan visi dan misi karismatik yang saya tau dr KTM oleh pertapaan Karmel dengan pembimbing Rm. Yohanes. Yang saya tau visi dan misi dari KTM adalah merasakan terlebih dahulu kasih dari Tuhan kemudian baru membagikan kasih itu pada orang lain. Saya rasa tidak ada yang salah kan dengan itu?

    [Dari Katolisitas: Ya, tidak ada yang salah dengan hal tersebut]

    Kami selalu sebisa mungkin ketika hidup dalam persekutuan kami saling mendoakan terbukti dengan rante-rante doa yang slalu kami doakan 1 sama lain. Bukankah dalam persekutuan adalah baik bila saling mendoakan? Kami slalu menganjurkan pula untuk seminggu atau sebulan sekali ikut acara Adorasi/ penyembahan pada Sakramen Mahakudus yang saya yakin kita pun percaya bahwa Monstran dengan adanya Komuni Kudus di dalamnya adalah Kehadiran Tuhan sendiri apakah saya salah? Kalo benar, apakah salah kita?

    [Dari Katolisitas: ini juga benar]

    Dan mungkin buat yang pernah mengikuti acara doa karismatik apakah benar acara doa karismatik selalu menghilangkan liturgi ekaristi itu sendiri?

    [Dari Katolisitas: Tidak ada yang mengatakan demikian. Jika kelompok Karismatik Katolik itu melaksanakan liturgi Ekaristi sesuai dengan ketentuan liturgi, maka acara tersebut tidak menghilangkan liturgi Ekaristi.]

    Mungkin memang ada yang seperti itu ibaratnya sama seperti kita mengatakan semua orang katolik harusnya banyak berbuat kasih tapi kemudian karena ada 1 atau 2 orang saja yang kebetulan melakukan kejahatan kemudian semua katolik dcap sebagai orang jahat. Saya rasa hal itu tidak adil bukan? Saya rasa kita tidak perlu saling menjelekkan atau menghakimi.

    [Dari Katolisitas: Kami di Katolisitas tidak bermaksud menghakimi siapapun. Kami hanya menyampaikan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh pihak otoritas Gereja Katolik tentang gerakan Karismatik Katolik, sebagaimana telah diulas di sini, silakan klik]

    Beberapa persekutuan doa karismatik yang saya ikuti slalu mengadakan pula misa pada jumat pertama atau bahkan menganjurkan untuk ikut misa jumat pertama di gereja dan kami menghadirkan seorang romo pula. Jadi saya rasa sekarang tergantung dari kita sendiri ada yang mungkin merasa uda cukup dibaptis ke gereja 1 kali dlm 1minggu cukup. Ada yang ingin ikut pendalaman dalam legio maria, persekutuan skolastika, ada juga yang ingin ikut karismatik.

    [Dari Katolisitas: Kalau dibaptis memang hanya satu kali. Sedangkan menurut perintah Allah untuk menguduskan hari Tuhan, maka minimal kita wajib mengikuti perayaan Ekaristi sekali seminggu pada hari Minggu, dan juga pada hari-hari Raya wajib lainnya (lih. KGK 2181). Namun kasih kepada Tuhan dapat mendorong kita untuk mengikuti Misa harian atau lebih dari sekali seminggu. Kita dianjurkan oleh Gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari (lih. KGK 2837) asalkan dengan disposisi batin yang baik]

    Kalo emang ada yang berpendapat bahasa Roh itu terlalu dibuat2 saya rasa tinggal dilihat saja dari buah2 roh yang ada pada orang yang mendapat karunia roh itu. Mungkin itu adalah pernyataan saya secara pribadi dan mohon pencerahannya kalau ada yang salah.

    [Dari Katolisitas: Tentang bahasa Roh, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik]

    Yang ingin saya tekankan janganlah sampai kita saling menghakimi dan janganlah ada perpecahan karena yang kami lakukan di karismatik hanyalah salah 1 cara kami untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Jika kami memuji Tuhan dengan nyanyian kami itu karena semata kami hanya benar2 ingin memuji Dia. Kita dibaptis oleh pembaptisan yang sama dan buah2 kami salah 1nya adalah membawa orang lain utk mengenal Yesus atau mengenal Yesus lebih lagi dengan terkadang kami mengajak orang lain untuk bergabung dalam persekutuan doa. Bukankah itu yang juga Yesus inginkan agar kita mewartakan diriNya ke seluruh dunia dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Dan terkadang itulah cara kami bersaksi dan saya yakin Roh Kudus itulah yang memampukan kami. Terima kasih.

    [Dari Katolisitas: Ya, memang terdapat buah-buah yang positif dari gerakan Karismatik Katolik, dan bahwa gerakan ini telah diakui oleh para Paus sebagai salah satu gerakan gerejawi. Oleh karena itu kita tidak dapat mengatakan bahwa gerakan ini adalah sesat. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik]

  4. salam ibu inggrid…. saya jadi bingung mengenai pendapat ibu yg mengatakan kharismatik ada baiknya jg. sedang kan yg saya baca dari nara sumber lain (dari Katolisitas: kami edit) dengan tegas mengatakan bahwa kharismatik sesat. pertimbangan nya krn landasan gerakan ini dan alasan2 yt lainnya. dan mengenai hirarki yg mengijinkan beliau menganalogikan dengan perkembangan gerakan katolik yg awalnya direstui ttp akhirnya tdk direstui. contohnya templar. demikian dari saya ibu. terima kasih.

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca terlebih dahulu artikel ini, silakan klik. Magisterium Gereja Katolik menyatakan bahwa Gerakan Karismatik Katolik sebagai gerakan gerejawi / ecclesial movement, maka kita tidak seharusnya mencap gerakan tersebut sebagai gerakan sesat. Kami di Katolisitas tidak dalam kapasitas menentang pernyataan Magisterium Gereja. Sepanjang Magisterium menerimanya, mari kita juga menerima dan tidak berprasangka negatif tentangnya, sebab jika tidak, kita menempatkan diri di atas Magisterium Gereja. Tentang Templar itu beda, sekilas sudah pernah kami bahas di sini, silakan klik]

  5. Shalom,

    Sebelumnya saya mohon maaf jika apa yang akan saya katakan ini mungkin tidak tepat karena saya hanya manusia biasa, tapi dari apa yang saya lihat saya merasa sejauh ini gerakan karismatik katolik masih dianaktirikan dalam gereja. Hal ini berdasarkan pengamatan saya pada saat misa, diantaranya ada romo yang jika koor sudah melagukan lagu-lagu yang bernuansa karismatik maka ia akan menekankan dengan kata-kata “Bapa kami dinyanyikan secara biasa”. Begitu pula pada saat adorasi setelah misa harian. Romo yang tadinya memimpin misa langsung menghilang dan digantikan oleh romo lain yang hanya bertugas mengeluarkan Sakramen Maha Kudus dan lalu romo tersebut menghilang juga, dan masih banyak lagi hal-hal yang lain.

    Secara pribadi saya merasa gerakan karismatik ini sesuai dengan hati saya, membawa kedamaian dan sukacita bagi hidup saya, tapi dengan banyaknya hal yang terjadi seperti yang telah saya ceritakan di atas, saya menjadi bertanya-tanya apakah karismatik ini adalah hal yang salah sehingga diperlakukan seperti itu dan di mana sebenarnya posisi gerakan karismatik dalam gereja katolik?

    Jika seorang Paus Yohanes Paulus II telah mengakui bahwa gerakan karismatik adalah gerakan gerejawi lalu mengapa masih ada romo-romo yang secara sadar ataupun tidak sadar menunjukkan sikap yang tidak menerima/antipati terhadap gerakan ini? Bukankah kita sebagai umat Katolik harus menghargai dan menghormati orang yang beragama lain, tapi mengapa kita tidak dapat menghargai gerakan karismatik yang ada dalam gereja kita sendiri?

    Saya sangat berharap semoga romo-romo sebagai seorang imam (pemimpin) dapat memberikan sikap dan contoh yang baik bagi umat sehingga tidak ada perpecahan pada umat sebagai akibat dari mencontoh tindakan romo tersebut.

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

    • Shalom Merry,

      Tentang hal ini mari kita mengacu kepada dokumen yang dikeluarkan oleh KWI, yang berjudul: Aneka Karunia, Satu Roh, tentang pembaruan Karismatik. Di sana disebutkan ajakan kepada para Uskup dan imam untuk menerima gerakan Karismatik Katolik dan menggembalakan/ membimbingnya. Silakan membaca dokumen tersebut, khususnya, sub judul berikut ini, silakan klik.

      Khususnya point 35:

      “35. Para Uskup dan imam serta pemuka jemaat kami ajak mengikuti seruan Sri Paus Johannes Paulus II untuk menekankan pembaruan rohani Gereja. [18] Kewajiban imam untuk memberi bimbingan pastoral kepada umatnya perlu tetap kita junjung tinggi, walaupun, misalnya, ia tidak merasa terpanggil untuk bergabung dengan PKK(Pembaruan Karismatik Katolik). Andaikata ada oknum atau kelompok yang agak sulit, itu pun hendaknya tidak menjadi dalih untuk membelakangi saja mereka; sebaliknya, kita sebagai gembala tetap terpanggil untuk menyelamatkan setiap umat. Para imam dan pemuka jemaat yang terpanggil untuk menggabungkan diri dengan PKK kami ajak juga membuka pelayanannya bagi orang dan kelompok lain, sebab kita ditahbiskan menjadi imam untuk seluruh umat….”

      Sebab memang pembaruan dalam Roh Kudus harus mempersatukan dan mendorong semua pihak untuk membarui diri. Tentang hal ini jelas disebut di point 33:

      “Para rekan seimamat dan saudara seiman,

      33. Kita semua sebagai Gereja mengikuti nasihat Paulus “Janganlah padamkan Roh dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” [16] Marilah kita setia kepada Roh. Yang ikut PKK hendaknya terus menerus membarui diri dan seluruh Gereja, sehingga Roh sajalah satu-satunya yang mutlak, bukannya cara doa kita. Praktek pembaruan hendaklah berjuang untuk sungguh mewujudkan cita-cita karismatik yang masih harus terus menerus diusahakan. Yang tidak merasa terpanggil bergabung dengan PKK hendaknya membarui Gereja dengan cara sendiri, sehingga cinta kasih mewarnai seluruh umat. Jangan kita berpendapat, seakan-akan cara pembaruan kita sajalah yang menyelamatkan umat. Tidak seyogyanya kita memiliki kesombongan rohani, yang sering mewarnai pembaruan apa pun. Marilah kita saling merangkul tanpa mengikuti kekeliruan umat Korintus yang ditegur Paulus “Karena jika yang seorang berkata ‘Aku dari golongan Paulus’ dan yang lain berkata ‘Aku dari golongan Apolos’, bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?” (1 Kor 3:4). Kita perlu ingat pesan Paulus untuk mengusahakan persatuan (1 Kor 13). Kalau begitu, “kamu memang berusaha memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari itu hendaklah kamu menggunakannya untuk membangun jemaat.” (1 Kor 14:12)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Virus Rohani
    Sekadar menambahkan info bagi teman kita Fransiscus. Gerakan karismatik katolik di dalam setiap paroki mendapatkan tempatnya di dalam kelompok kategorial. Mudah2an saya tidak salah menginfokan kepada temanku ini.
    Silakan cross check lagi pada struktur organisasi Dewan Paroki.
    Jadi gerakan ini diakui dan dikontrol oleh hirarki gereja katolik sampai di tingkat paroki.
    Biasanya ada kelompok yang menamakan diri atau dinamai Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK). Bahkan di paroki tertentu , PDKK berkembang sampai ke tingkat wilayah dan atau lingkungan.
    Kekuatiran adanya penyimpangan pada masa sekarang ini relatif tidak ada.
    Memang ada periode sekitar awal tahun 1980-an, kelompok karismatik katolik tertentu akhirnya memisahkan diri dari gereja katolik, seperti yang kita ketahui, misalnya Gereja Sungai Jordan yang ada di Perumahan Taman Ratu Indah Daan Mogot Jakarta Barat.
    Pada saat itu memang ada kekurangan di pihak gereja katolik sehingga cukup banyak umat katolik “menyeberang” ke sungai Jordan dan sungai-sungai lainnya.
    Nah, sebenarnya kalau kita berpikir jernih , jujur dan lebih luas, virus yang ada dalam diri kita baik secara pribadi maupun dalam keluarga, lingkungan, paroki, keuskupan, gereja universal adalah sangat banyak dan tidak berhubungan langsung dengan gerakan karismatik.
    Virus virus itu adalah semua pikiran, perasaan, perkataan, tindakan yang BERTENTANGAN dengan kesepuluh perintah Allah, kelima perintah gereja, hukum cinta kasih.
    Itulah virus yang sangat berbahaya yang ada di pelupuk mata kita tetapi tidak kita lihat, sedangkan gajah di seberang lautan kelihatan. Memang kata Yesus, banyak orang punya mata dan telinga, tetapi tidak melihat dan mendengar.
    Kita bersyukur masih ada Thomas Trika dan Thomas-Thomas lainnya yang walau tidak melihat lagi Yesus yang dadaNya ditombak tetapi masih mau berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan melalui PDKK.
    Saya sendiri sama sekali tidak terlibat dalam kegiatan PDKK, tetapi kita sebagai orang katolik perlu mengayomi teman-teman lain yang lebih berjodoh dengan gerakan karismatik.
    Biarlah temanku Fransiscus ini memilih salah satu kegiatan di paroki yang lebih sesuai dengan kepribadian anda dan juga sesuai dengan KehendakNYA.

  7. Shalom,

    Sedih membaca org yg anti karismatik, sy pribadi yg dulunya pemeluk agama lain dan setelah menjadi katolik justru menjadi lebih hidup krn kelompok karismatik ini.
    Bukan krn hingar bingar musik atau lagunya yg membuat sy jd lebih hidup, tapi cara persekutuan ini mengajak utk mendalami kitab suci, sharing kelompok, pelayanan2annya dan juga beberapa kesaksian2 yg menyentuh hati saya.
    Bagaimana komonitas ini orgnya sama tinggi dan rendah, tidak ada golongan kaya atau miskin, perselisihan pasti ada, tapi tidak membuat kelompok ini jd terbelah.
    Setiap sy ada hal yg kurang dimengerti, mereka sangat membantu memberi penjelasan. Saya seperti memiliki keluarga baru disini. Mereka tidak pernah menghakimi anggotanya dan disini tidak ada yg merasa sok pintar.
    Beda dgn doa sektor yg biasa diadakan, tp Puji Tuhan sektor saya mayoritas org karismatik, jd nggak kaku.

    Masalah lagu dlm misa karismatik, sdh sy sampaikan ke kelompok dan mereka open dan mulai belajar utk beberapa lagu sesuai aturan yg ada. Hal ini sy sampaikan juga krn setelah membaca artikel ini. Jadi kl ada misa dan yg melayani adlh org karismatik, mungkin kebanyakan lagu yg digunakan adlh lagu2 yg biasa digunakan saat persekutuan doa. Tapi saat misa dilayani oleh sekolah minggu juga memakai lagu2 yg hampir sama dgn misa yg dilayani oleh PDKK.

    Saat misa yg diadakan diluar gereja, mis pemberkatan rumah, org meninggal dll, ini juga krn kebanyakan org karismatik yg bersedia melayani, mereka tidak pernah melihat atau yg membutuhkan pelayanan itu org yg aktif digereja atau bukan, prinsip org karismatik adlh melayani sepenuh hati, masalah org itu mau aktif atau belum itu juga perlu rahmat Tuhan (contoh hidupnya adlh saya).
    Sekarang ini susah minta bantuan sektor utk melayani, alasannya adlh krn org yg dibantu itu tidak pernah aktif digereja, jadi pasti dipersulit (contoh hidupnya jg saya).

    [Dari Katolisitas: Fakta ini seharusnya menjadi masukan bagi para pengurus lingkungan/ wilayah/ sektor/ paroki, yaitu bahwa pelayanan kepada umat selayaknya dilakukan tanpa memandang bulu, apakah umat tersebut sudah aktif atau belum di paroki, selayaknya tidak menjadi tolok ukurnya. Sebab jika melihat prinsip yang dilakukan oleh Sang Gembala yang Baik, maka yang dicari justru adalah domba yang hilang. Maka umat yang tidak pernah aktif malah mestinya mendapat perhatian yang khusus dari pengurus lingkungan/ wilayah/ sektor/ paroki]

    Kalau romo diparoki saya sangat baik dgn org karismatik, krn hanya kelompok ini yg siap kapan saja saat dibutuhkan. Walaupun terkadang kami dari karismatik sangat dikucilkan dan kurang dihargai dlm tugas2, tapi toh yg konsisten dan setia adlh kelompok karismatik. Bukan utk menyombongkan kelompok ini, tapi ini fakta yg sy alami, sy ditolak sana sini oleh sektor krn sy tidak aktif, kelompok ini yg membantu sy dan juga membimbing saya hingga kini sy juga bisa aktif di sektor. (Bukankah org sakit yg memerlukan dokter?).

    Sektor manapun dan paroki manapun ditempat saya sungguh mengecewakan, Puji Tuhan sektor sy skrg adlh sektor baru dibentuk krn terlalu banyaknya anggota sektor yg lama, jadi pemekaran. Kesempatan ini sy gunakan jg utk merubah tradisi sektor lama yg kurang baik. Mereka hanya mementingkan sikap hanya mau melayani org yg dikenal aktif, ini terjadi di sektor sy yg lama.

    Sebagai org karismatik, bukan popularitas yg di kejar, hal negatif dan pandangan miring sdh biasa menjadi cambukkan mereka. disini mereka berusaha menjalankan yg Tuhan ajarkan sebaik mungkin dan melayani sesama sebisa mungkin. Para Pastor terlalu sedikit utk bisa melayani umat yg banyak yg sangat memerlukan bantuan.

    Ada baiknya kita yg satu tubuh jangan menjelek2kan karismatik hanya krn lagu saat misa, belajarlah melihat pelayanan mereka. Saat awal sy bergabung dikelompok ini, hal ini yg sy lihat, hal positif apa yg mereka lakukan dan bukan mencari hal negatifnya.

    [Dari Katolisitas: Mari melihat dengan seimbang. Yang bukan dari kelompok Karismatik, mari jangan berpandangan negatif terhadap sesama saudara yang dari kelompok karismatik. Saudara/i di karismatik, silakan mengusahakan pelayanan liturgis yang sesuai dengan ketentuannya, sebagai bentuk nyata pelaksanaan kasih dalam kesatuan dengan keluarga besar Gereja Katolik]

    Jadi apa masalahnya dgn karismatik? Masalah jangan dicari2, hanya krn org karismatik sering mengadakan SHBDR (seminar hidup baru dalam roh) dan dlm sesi ada pencurahan roh, sesi luka batin (yg banyak bikin org terganggu saat ada yg histeris teriak) kalau anda suka, ikuti, kl tidak jgn dibenci, jikapun terjadi kesalahan, itu bukan kesalahan PDKKnya tapi hanya faktor manusianya yg tidak ada yg sempurna.

    [Dari Katolisitas: komentar di sini diedit, sudah disampaikan kepada Rm Wanta yang berdomisili di Bali]

    Jadi sekali lagi apa yg salah dengan kelompok karismatik ini?
    Mungkin penjelasan saya akan dilihat kesombongan dan kasar, jikapun anda menilai begitu sy sangat mengerti dan menerimanya. penjelasan diatas hanya murni penjelasan dari saya pribadi yg mengalami, jd tidak ada sangkut pautnya dgn kelompok karismatik. Saya hanya gerah dan kecewa melihat kelompok ini terus dicari kesalahannya, jikapun ada, ampuni saja dan lihatlah pelayanan mereka.

    Saya baru 2 thn dikelompok ini, dan saya merasakan buah yg manis disini.

    Salam Kasih,
    Yindri

    [Dari Katolisitas: Di dalam karya kerasulan, pergumulan ataupun masalah yang ada harus dipandang sebagai proses pemurnian bagi semua yang terlibat di dalamnya. Semoga segala masukan/ kritik yang ditujukan kepada gerakan Karismatik Katolik dapat semakin memurnikan gerakan ini, dan bahkan semakin mendewasakan iman mereka yang terlibat di dalamnya. Kritik ini selayaknya dianggap sebagai sarana mengintrospeksi diri. Namun sebaliknya, bagi yang memberi kritikan/ masukan, juga melihat ke dalam dirinya sendiri, adakah mereka juga telah mengasihi dan melayani Tuhan dengan tulus, sebagaimana yang terlihat dalam diri mereka yang tergabung dalam gerakan Karismatik Katolik? Biarlah melalui pemeriksaan batin, kita dapat memperbaiki diri kita sendiri terlebih dahulu, daripada melancarkan kritik terhadap orang lain].

  8. Alfons C. Novena on

    Salam Damai Kristus,
    Secara pribadi, saya kurang “sreg” dengan pergerakan karismatik ini. Mungkin simpel saja, jika memang kegiatan ini sungguh direstui dan dikehendaki oleh Allah sendiri, mengapa begitu bayak menimbulkan perdebatan? Apakah ini sebuah proses yang baik, melihat eksklusivisme yang muncul dari beberapa persekutuan doa karismatik? Bukankah ini berpotensi ke arah denominasi Gereja?

    Selanjutnya, secara faktual di lapangan, ibadat/Misa versi para karismatik menyimpang dari Missale Romanum dan Magisterium Gereja. Adakah tindakan tegas Hirarki yg sungguh dipatuhi para karismatik? (Paling tidak memahami apa yg pernah dipublikasikan KWI di tahun 1995)

    Jika para karismatik selalu berpegang teguh pada perikop yg ditulis oleh St Paulus, mengapa tidak meneladan spiritualitas St Paulus yang telah diimprimatur oleh Gereja?

    Kiranya para karismatik juga tidak “haus” akan sensasi dalam peribadatan, perlu dilihat latihan pembedaan roh seperti diajarkan beberapa Para Kudus agar tidak terjebak dan dimanfaatkan oleh kuasa-kuasa yang lain.

    Ut omnes unum sint!

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca terlebih dahulu artikel ini, silakan klik]

    • Adi P.Nugroho on

      Respon paragaf pertama, Yesus sewaktu datang ke bumi juga mengundang perdebatan disana-sini…. bahkan penolan dari para ahli agama pada masa itu. Apa maksud anda tentang “denominasi” ?

      Respon Paragaf ke-2, Lihat 16 dokumen hasil Konsili Vatikan II, yaitu Dei Verbum tentang kedudukan Magisterium.

      Respon paragaf ke-3, Kalau meneladani St.Paulus, bacalah Alkitab saudara, pelajari, renungkan dan lakukan, itulah seharusnya yang dilakukan semua umat percaya, kecuali anda tidak haus dan lapar akan Firman Tuhan.

      respon atas paragaf ke-4. Apa maksud “haus” sensasi peribadatan ?
      Supaya bisa Membedakan roh, perlu mengetahui benar dan memiliki yang asli terlebih dahulu, spy bisa tahu yang palsu atau aspal.

      Terima Kasih. Jbu

      • Shalom Adi dan Alfons,

        Sepertinya telah kami tanggapi pertanyaan Adi dalam artikel di link yang telah kami berikan di atas, silakan klik, sehingga tak perlu pertanyaan-pertanyaan yang bersifat tendensius ini dibahas kembali. Magisterium telah jelas menyatakan tidak menolak gerakan Karismatik Katolik, hanya saja memang selanjutnya diperlukan juga bimbingan dari pihak otoritas Gereja (yaitu keuskupan setempat) agar gerakan ini dapat bertumbuh dan berkembang dalam koridor Gereja Katolik. Ketentuan dari KWI tentang gerakan Karismatik, dapat dibaca di sini, silakan klik.

        Mari berfokus untuk mengusahakan kesatuan dalam Gereja Katolik, daripada meributkan hal-hal yang sesungguhnya tak perlu diributkan, sebab ketentuannya sendiri sudah sangat jelas, dan tinggal diikuti.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. shalom
    langsung ke pertanyaan kenapa umat beragama katholik selain wajib mengikuti misa harian di gereja n kenapa tidak diwajibkan mengikuti PDKK ??
    Menurut pendapat saya cara anak muda mengenal katholik dan Yesus melalui PDKK lebih tepat sesuai dengan jiwa anak muda dinamis dan to do point dalam khotbah jauh lebih masuk dan mudah dicerna

    [Dari Katolisitas: PDKK adalah salah satu gerakan gerejawi (ecclesial movement) yang setara dengan Legio Mariae, Marriage Encounter (ME), dan gerakan-gerakan lainnya dalam Gereja Katolik. Maka kedudukan kegiatan itu tidak akan pernah sama dengan Misa Kudus. Sebagaimana umat tidak dapat diharuskan untuk ikut Legio Mariae atau ikut ME, maka demikianlah umat juga tidak dapat diharuskan untuk ikut PDKK. Silakan jika Anda merasa terbantu untuk ikut PDKK, namun silakan menghormati umat lainnya, jika mereka memilih untuk mengikuti kegiatan gerejawi lainnya.]

  10. Simon M.Tulasi on

    Salom katholisitas, saya mau bertanya, apakah seminar hidup baru dlm roh, dpt mengubah sesorang menjadi lebih baik, dan roh yg berada dlm diri seseorang akan keluar dan digantikan oleh Roh Kudus/Roh Kristus/Roh Allah?

    [Dari Katolisitas: ..... edit Pesan ini digabungkan karena masih satu topik]

    Katolisitas dan pengasuhnya yg dikasihi dlm nama Yesus,
    Saya mau bertanya utk menjawab keraguan dan ketidakyakinan saya akan SHBDR dan penyembuhan, yaitu:

    1.Apakah setiap org yg mengikuti SHBDR dpt mempelajari, menerima
    dan berbicara dan dlm bahasa Roh?
    2.Apakah dpt terjadi penyembuhan, pengusiran roh, dan terjadilah org yg
    ber-teriak2, berjatuhan itu karena ROH KUDUS yg menggantikan roh2 yg
    ada dlm diri seseorang?
    3.Apakah org yg tidak jatuh/teriak2 histeris dlm penyembuhan itu
    berarti org itu tlh didiami oleh ROH KUDUS?

    Terimakasih sebelumnya atas jawabannya, salam

    • Shalom Simon Tulasi,

      Nampaknya perlu diketahui, bahwa sejak kita dibaptis, kita telah menerima Roh Kudus di dalam diri kita. Roh Kudus ini tetap tinggal di dalam kita asalkan kita tidak menolak Dia dengan melakukan dosa berat. Maka sesungguhnya, tidak ada istilah roh kita digantikan oleh Roh Kudus; sebab selama kita masih hidup di dunia ini, artinya jiwa rohani kita masih ada bersatu dengan tubuh kita. Jika kita sudah dibaptis, maka yang terjadi dalam SHBDR (Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus)  adalah: adalah pencurahan Roh Kudus; bukan baptisan Roh Kudus (sebab hanya ada satu baptisan (Ef 4:5), juga bukan baru pada saat itu kita menerima Roh Kudus. Walaupun kita sudah menerima Roh Kudus pada saat Pembaptisan, namun selanjutnya, Roh Kudus tetap dapat dicurahkan kembali kepada kita, untuk meningkatkan pertumbuhan rohani kita.

      Berikut ini adalah tanggapan atas pertanyaan Anda:

      1. Apakah SHBDR dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik? Dan roh yang berada dalam diri seseorang akan keluar dan digantikan oleh Roh Kudus?

      Jawaban pertanyaan pertama: Jika melihat kepada faktanya, maka ya, dapat dikatakan bahwa Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik secara rohani. Ada banyak kesaksian orang-orang yang sungguh bertobat dan berubah hidupnya setelah mengikuti SHBDR. Namun agar perubahan ini dapat bertahan, orang yang bersangkutan harus bekerja sama dengan rahmat Allah.

      Jawaban pertanyaan kedua: Perubahan ini bukan disebabkan karena roh di dalam tubuh orang itu keluar dari tubuhnya. Perpisahan antara roh dan tubuh terjadi pada saat kematian jasmani; dan iman kita mengajarkan bahwa di akhir zaman nanti roh kita akan kembali bersatu dengan tubuh kita yang akan dibangkitkan oleh Kristus.

      2. Apakah setiap org yg mengikuti SHBDR dpt mempelajari, menerima dan berbicara dan dalam bahasa Roh?

      Bahasa roh adalah salah satu jenis karunia karismatik Roh Kudus, dan karena merupakan karunia dari Allah, bukan sesuatu yang dapat dipelajari atau dibuat-buat sendiri. Juga, karena merupakan karunia Allah, maka Allah bebas memberikannya kepada orang- orang sesuai dengan kehendak-Nya, seturut dengan apa yang dipandangnya baik bagi kehidupan rohani orang tersebut. Silakan membaca lebih lanjut tentang Bahasa Roh di artikel ini, silakan klik.

      3. Apakah dapat terjadi penyembuhan, pengusiran roh, dan terjadilah orang yang ber-teriak-teriak, berjatuhan itu karena Roh Kudus yg menggantikan roh yang ada dalam diri seseorang?

      Tidak. Roh Kudus tidak menggantikan keberadaan roh/jiwa dalam diri seseorang.

      Jika Tuhan memandangnya baik, sesuai dengan kehendak-Nya, maka dapat terjadi mukjizat penyembuhan, ataupun pengusiran roh jahat dari diri seseorang. Tuhan Yesus tetap sama, dahulu, sekarang dan selama- lamanya, maka kuasa-Nya dapat dinyatakan-Nya juga pada masa ini. Dapat terjadi orang berteriak ataupun jatuh pada saat pencurahan Roh Kudus, namun itu bukan tanda Roh Kudus yang menggantikan roh orang itu, tetapi merupakan manifestasi kuasa Roh Kudus atas orang itu, atau dapat juga merupakan manifestasi kuasa si Jahat yang tidak dapat tahan atas kuasa Roh Kudus yang lebih besar daripadanya. Ada juga kemungkinan lain, yang walaupun tidak betul, yaitu jika orang melakukannya (menjatuhkan diri atau berteriak-teriak) karena kehendaknya sendiri.

      4. Apakah orang yang tidak jatuh/ teriak-teriak histeris dalam penyembuhan itu berarti orang itu telah didiami oleh Roh Kudus yang menggantikan roh yang ada dalam diri seseorang?

      Jatuh atau tidak jatuh, bukan merupakan tolok ukur bahwa seseorang telah menerima pencurahan Roh Kudus, demikian juga tentang hal berteriak. Tanda bahwa seseorang telah menerima pencurahan Roh Kudus adalah jika orang tersebut sungguh bertobat, dan  menunjukkan buah-buah Roh Kudus, sebagaimana disebutkan dalam Gal 5:22-23, yaitu: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

      Selanjutnya, jika Anda ingin membaca tentang Gerakan Karismatik, silakan klik di sini

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Adi P.Nugroho on

      Seseorang akan lebih baik di hadapan Allah jika ia dengan sadar ingin dibangun dan dibentuk oleh Firman Allah yang hidup.

      Roh yang keluar dari seseorang lalu ada roh lain yang mengisi seseorang adalah konsep hindu, cakra, kejawen dan sejenisnya. Disarankan membaca Alkitab dan mempelajarinya, serta merindukan dipenuhi baptisan Roh Suci, sebab hanya Roh Suci yang mampu menerangi seluruh kebenaran dalam diri seseorang.

      Berbicara dalam bahasa Roh adalah tanda awal dibaptis Roh Kudus oleh Allah sendiri, [Dari Katolisitas: Gereja Katolik memakai istilah pencurahan Roh Kudus, dan bukan baptisan Roh Kudus. Sebab Baptisan yang ada hanya satu (Ef 4:5)]

      berbahasa roh tidak bisa diajarkan, Jikalaupun diajarkan, paham ini mengikuti aliran kharismatik sebagai wujud neo Pentakotalisme. Sedangkan Katolik Karismatik sesungguhnya adalah Katolik Pentakosta, hanya saja kemudian beralih nama akibat salah satu isi dari 16 dokumen hasil Konsili Vatikan II. Tips. Pelajarilah Sejarah Konsili Vatikan II.

      [Dari Katolisitas: Sepanjang pengetahuan saya Karismatik Katolik tidak pernah disebutkan dalam dokumen Konsili Vatikan II. Gerakan Karismatik Katolik juga tidak berasal dari suatu denominasi bernama Katolik Pentakosta yang berubah nama. Gerakan ini bermula dari sebuah komunitas mahasiswa Katolik di Amerika, yang menerima karunia karismatik Roh Kudus, saat berdoa di hadapan sakramen Mahakudus.]

      Ada berbagai-bagai manifestasi/pernyataan seseorang yang kerasukan setan, cara yang baik adalah tidak dipamerkan, segeralah iblis di usir tanpa harus berlama-lama menunjukkan manifestasinya, oleh karena akan membuat malu orang yang mengalaminya di hadapan banyak orang. Kalau sampai membuat malu banyak orang, bukan bermotivasi mau memuliakan Allah, tapi mau pamer saja. Itu tak sejalan dengan motivasi roh Kudus.

      [Dari Katolisitas: Diperlukan tim doa dalam setiap acara seminar hidup dalam Roh Kudus, secara khusus dalam acara pencurahan Roh Kudus. Tim bertugas untuk menangani hal-hal seperti ini, dan mendoakan mereka yang secara khusus perlu didoakan doa pelepasan dari kuasa kegelapan.]

      Terima Kasih.

  11. Felix Sugiharto on

    Shalom pak Stef

    Terima kasih pak; Jawaban yang sangat baik dan sempurna.. memang sering kita dapatkan apa yang seperi pak Stef paparkan…

    Mudah2an penjelasan ini bermanfaat bagi pembaca yang ikut dalam pergerakan karismatik katolik.
    Terima kasih.

    Tuhan Yesus memberkati

    Felix Sugiharto

  12. Dear Pak Stef , Bu Ingrid dan Bu Caecilia

    Apakah gerakan Kharismatik ini sperti pedang bermata dua bagi Gereja Katolik. Sebenarnya saya jg terbantu oleh karismatik. Ada peneguhan2 dan ketika saya diberikan karunia menyicipi sedikit bahasa Roh. Saya sukacita, lebih gampang mendengar “Suara Tuhan” dan keesokan hari pas Misa Kudus ketika melihat hosti sampai terharu bgt melihat Kebaikan Tuhan kita. Tapi saya sadari kalau misalnya saya tidak tau ttg arti sebenarnya Ekaristi mgkn saya jg lebi mencari “perasaan-perasaan” di PD.

    Tetap saya tidak tau yah,, kok ada orang sudah sudah terima Komuni tiap minggu yg bisa meraung2 menangis, trus ada pengkhotbah yg bil “saya perintah Roh Putus Asa, dendam ,dsb, lepas”, agak2 mirip ama tetangga sebelah. Maksud saya, bukankah kita sudah ada Ekaristi. Yang adalah puncak Spritualitas. (Dan saran saya sebenarnya kalau ada acara2 pelepasan seperti itu panitia lebih baik bilang ke umat utk tidak membawa anak kecil, karena kasian mereka meliat sesuatu yg menurut saya agak seram.)

    Apa Ekaristi saja tidak cukup? (karena itu bersifat daging)
    Tetapi perlu Sesuatu yg berasal dari Roh Kudus yg Mistik/Supernatural?

    Seakan2 Ekaristi menjadi sebuah Sugesti. Padahal yg selalu ditekankan adalah Ekaristi di GK bukan Sugesti atau karena kita percaya baru berubah tetapi adalah sungguh2 Tubuh dan Darah Tuhan, percaya tidak percaya.

    Adakah kiat2 agar kita tidak terlalu bergantung pada “perasaan2″ yg timbul dr manifestasi Roh Kudus. Maksud saya adalah perasaan damai, sukacita dan peneguhan itu baik, tp kalau itu sampai membuat kita jadi mengandalkan perasaan dalam beriman, buruk ga sih?

    Atau kita memang harus meminta Rahmat ini, utk iman kita. Karena tidak bisa dipungkiri kalau Kharismatik sangat membantu umat dalam hal2 memberikan “perasaan-perasaan” atau kejadian2 seperti Resting in the Spirit, jgn2 ada yg hobi lg Resting in the Spirit yg ujung2nya merasakan betul Kasih Tuhan.

    Terima Kasih atas jawabannya

    Damai Kristus

    • Shalom Leonard,

      Memang bicara tentang karismatik tidak akan pernah habis. Dua kenyataan yang menurut saya terbentang di depan mata kita, bahwa memang ada efek positif dan efek negatif. Salah satu efek positif yang terjadi adalah sentuhan pribadi akan kasih Allah yang membakar hati, sehingga menimbulkan keinginan untuk semakin bertumbuh dan mengasihi Kristus. Namun, sayangnya semangat yang berkobar ini, seringkali tidak dibarengi dengan program pertumbuhan yang memadai. Tanpa program pertumbuhan yang baik, maka banyak orang hanya akan mencari sensasi perasaan, karunia-karunia karismatik, dan lupa akan tujuan utama dari gerakan karismatik sendiri – yaitu untuk hidup di dalam tuntunan Roh Kudus, atau disebut juga kekudusan. Menjadi tugas dari hirarki dan badan pengawas karismatik – baik di tingkat paroki, keuskupan maupun nasional – untuk memberikan rambu-rambu serta program pertumbuhan yang baik, sehingga karismatik Katolik sungguh-sungguh mempunyai spiritualitas katolik, yang berpusat pada Kristus dan sakramen-sakramen.

      Memang ada orang yang menerima Ekaristi kalau didoakan bisa saja berteriak-teriak. Namun, sama benarnya ada orang yang telah ikut karismatik bertahun-tahun, kalau didoakan dapat saja berteriak-teriak, masih menyimpan dendam dan kehidupannya tidak mencerminkan Kristus. Pada dasarnya, hidup kudus adalah satu proses, yang memang tidak mudah untuk dilalui. Namun, orang yang terus setia dalam Ekaristi, mengikutinya dengan partisipasi aktif dan dengan disposisi hati yang baik, maka buah-buah Ekaristi pasti akan tampak dalam kehidupannya, karena memang Kristuslah yang diterimanya dalam setiap perayaan Ekaristi. Jadi, apakah Ekaristi saja tidak cukup? Kalau kita menyadari bahwa yang kita terima adalah Kristus sendiri dalam Ekaristi, maka sebenarnya ekaristi telah memberikan yang kita perlukan untuk dapat hidup kudus. Mengapa masih ada orang yang kurang hidup sesuai dengan apa yang diajarkan Kristus walaupun dia setia dalam mengikuti perayaan ekaristi? Jawabannya adalah sama seperti Yudas yang berkumpul bersama-sama dengan Yesus selama tiga tahun, namun akhirnya dia mengkhianati Yesus. Masalahnya bukan pada Yesusnya, namun pada Yudasnya. Jadi, masalahnya bukan pada Ekaristinya, namun pada orangnya.

      Orang sering salah kaprah untuk menyamakan iman dengan perasaaan. Lihat tanya jawab ini – silakan klik. Walaupun gerakan karismatik dapat memberikan seseorang perasaan-perasaan kedekatan dengan Kristus, namun bukan berarti iman orang tersebut bertumbuh. Dapat saja orang yang mengikuti gerakan karismatik, ada satu titik di mana nyanyian yang dulu mengharubiru perasaan, kemudian terasa tawar. Bukan berarti bahwa iman orang tersebut berhenti. Yang terjadi adalah perasaan yang berubah. Jadi, dalam spiritualitas apapun, perjalanan rohani dan kehidupan doa adalah merupakan satu perjuangan. Spiritualitas dapat menawarkan cara yang berbeda-beda, namun pada akhirnya semua orang akan mengalami jatuh bangun. Namun, satu hal yang perlu disadari, bahwa Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan kristiani, karena di dalamnya terkandung keseluruhan Kristus – tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  13. Syaloom..
    Selamat pagi tim Katolisitas yg terkasih.
    Saya pernah ikut beberapa acara karismatik dimana ada beberapa orang berbahasa dalam bahasa yg saya tidak mengerti.
    Saya diinfokan sesudahnya, bahwa mereka berbahasa roh.
    Yg menjadi pertanyaan saya :
    1. Setahu saya bahasa roh diucapkan seseorang namun dapat dimengerti oleh banyak bangsa berbeda dalam bahasa mereka masing2 yg berbeda pula. Mengapa saya tidak mengerti apa yg mereka ucapkan padahal saya dgn org yg mengucapkan bahasa roh, sama-sama orang Indonesia ?
    2. Saya pernah disampaikan bahwa yg boleh (?) berbahasa roh dalam kesempatan yg sama, maksimum 3 orang saja dan itupun tidak serempak, melainkan harus seorang demi seorang. Mengapa yg terjadi adalah belasan orang yg berbahasa roh secara serempak ?
    3. bahwa janganlah berbahasa roh kalau tidak bisa ditafsirkan (diterjemahkan?) kepada org lain ? Sedangkan pada momentum tersebut tidak ada yg menafsirkannya ?
    4. Bahwa kalau mau mendapat karunia bahasa roh, kita harus berlatih mengucapkan sepotong kalimat dengan SUPER cepat ? Sehingga lama kelamaan, apa yg kita ucapkan tersebut menjadi sesuatu yg tidak dimengerti org lain dan itulah artinya kita sudah bisa berbahasa roh ?
    Sementara sekian pertanyaan saya dan SALUT untuk karya dan pelayanan tim Katolisitas dalam situs ini.
    Tuhan memberkati.

    • Shalom Iwan G,

      Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan anda sudah dibahas di artikel Tentang Bahasa Roh, silakan klik, dan Apakah Gerakan Karismatik Katolik itu Sesat?, klik di sini. Jika anda belum membacanya, saya mengundang anda untuk membaca artikel- artikel tersebut, berikut dengan tanya jawab di bawahnya.

      1. Bahasa roh yang anda dengar itu kemungkinan adalah karunia berdoa di dalam roh/ senandung di dalam roh; yaitu doa- doa pribadi dalam roh yang dilakukan bersama- sama dalam komunitas PDKK.

      2. Sedangkan yang dibatasi maksimum tiga orang untuk berbicara dalam Roh, itu adalah pembicaraan yang dengan keras disampaikan kepada seluruh umat yang hadir, sehingga perlu diartikan, agar dapat dipahami umat.

      3. Speaking in tongue (pembicaraan dalam roh) dapat diinterpretasikan karena merupakan pesan untuk disampaikan kepada jemaat/ umat, namun praying in tongue yang sifatnya doa pribadi, tidak bisa diinterpretasikan, sebab ini adalah doa yang menyangkut pribadi yang berdoa dan Allah itu sendiri.

      4. Bahasa roh adalah suatu karunia, sehingga bukan untuk dilatih sendiri/ dibuat- buat sendiri dengan mengatakan kata- kata dengan super cepat.

      Selanjutnya, silakan membaca artikel- artikel di link tersebut di atas. Terima kasih atas dukungan anda, mohon doa anda untuk kelangsungan karya kerasulan ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Syaloom ..
        Salam damai dalam Kasih Kristus !
        Terima kasih atas tanggapannya bu.
        Dari jawaban ibu, saya simpulkan (mudah2an tidak keliru) ternyata berbahasa roh itu ada 2 macam yaitu :

        a. Speaking In Tongue (SIT) dimana ada 4 kriterianya yakni :
        1. disampaikan secara keras (volume suara?)
        2. ditujukan kepada umat
        3. harus ada yang mampu menginterpretasikannya
        4. harus diucapkan seorang demi seorang (tidak serempak)

        b. Praying In Tongue (PIT) dengan 4 kriteria pula yakni :
        1. diucapkan tidak secara keras, mungkin bisik-bisik ?
        2. untuk konsumsi sendiri, tidak dimaksudkan untuk diperdengarkan kepada orang lain.
        3. tidak perlu diinterpretasikan kpd org lain (karena utk konsumsi pribadi)
        4. dibisikkan boleh serempak (karena utk konsumsi pribadi masing2) ?

        Yang ingin saya tanyakan adalah :
        1. Apakah hal ini ada dijelaskan dalam Kitab Suci / Alkitabiah ? Kalau ada, di Kitab mana ?
        2. Bagaimana menentukan batasan suara “keras” dan “tidak keras” ? Berapa ukuran dbnya ?
        3. Kalau PIT untuk konsumsi pribadi, kenapa harus diperdengarkan kepada orang lain ? Apa faedahnya ? (5 kata yang dimengerti adalah lebih baik dari beribu-ribu kata dalam bahasa roh yg tidak dimengerti, karena tidak sia-sia diucapkan di udara dan mungkin bisa bermanfaat untuk membangun jemaat)
        4. Apakah yang berbahasa PIT tahu/mengerti/sadar apa arti dari kalimat yang barusan diucapkannya ?
        5. Apakah pernah ada yang berbahasa SIT dan ada yang mampu menafsirkannya ? Ataukah selalu semua hanya berbahasa PIT saja, itupun dengan gaduh/ demonstratif (tidak berlangsung dengan sopan dan teratur karena mengganggu orang lain yang berdoa biasa ?)

        Sementara sekian pertanyaan saya bu, mohon maaf bila tutur kata tidak berkenan dan banyak terima kasih atas penjelasannya. Tuhan memberkati !

        • Shalom Iwan,

          1. Memang istilah “Speaking in Tongue” (berkata- kata dalam roh) dan “Praying in Tongue” (berdoa dalam roh) tidak secara literal disebut di dalam Kitab Suci, namun kita dapat menangkap pembedaan ini dari keterangan yang disampaikan dalam ayat- ayat Kitab Suci.

          Tentang berdoa dalam roh, disebutkan dalam Rom 8:26-27, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” Maka di sini berdoa dalam roh adalah berdoa kepada Allah di dalam Roh Kudus dengan ‘keluhan- keluhan yang tidak terucapkan’, dan Allah memahami maksud Roh itu yang berdoa bagi kita. Dengan demikian karunia berdoa dalam Roh Kudus ini adalah komunikasi antara di pendoa dengan Allah.

          Sedangkan tentang berkata- kata dalam Roh Kudus adalah karunia Roh Kudus untuk membangun jemaat dalam bentuk pernyataan Allah, atau pengetahuan atau nubuat, atau pengajaran (lih. 1 Kor 14:6) di mana seseorang (atau dua atau tiga orang secara bergantian) dapat mengucapkan kata- kata dari Roh Kudus untuk ditujukan kepada jemaat, agar tidak menimbulkan kekacauan (lih. 1 Kor 14: 29-33). Nah nubuatan ataupun pengajaran ini gunanya adalah untuk membangun iman orang lain, dan karena itu harus dapat didengar dan dimengerti oleh orang yang hadir. Rasul Paulus mengajarkan agar orang yang berkata- kata dalam bahasa roh berdoa agar ia dapat diberikan karunia untuk meafsirkannya (lih. 1 Kor 14:13), maksudnya agar dapat menyampaikan pesan yang dapat dimengerti kepada jemaat.

          2. Maka memang tidak ada ukuran kuantitatif tentang berapa desibel yang disebut ‘suara keras’ untuk berkata- kata dalam roh tersebut, sebab yang terpenting adalah pada saat seseorang berkata- kata dalam bahasa Roh itu di hadapan jemaat, ia menyampaikan pernyataan Allah kepada umat. Sehingga logisnya, suaranya harus dapat didengar dengan jelas oleh umat -oleh karena itu, minimal harus cukup keras. Sedangkan karunia berdoa dalam Roh Kudus, karena adalah karunia berdoa antara pendoa dengan Allah, maka tidak perlu harus didengar dengan jelas oleh semua umat, jadi bisa berupa senandung.

          3. Dari definisinya, Praying in Tongue (berdoa dalam Roh Kudus) memang bukan pertama- tama untuk diperdengarkan kepada orang lain, sebab tujuan utamanya adalah untuk berdoa kepada Allah. Namun demikian, senandung/ berdoa dalam roh tersebut, jika dilakukan dalam kesatuan jemaat, dapat menjadi paduan suara pujian dan penyembahan kepada Allah; sehingga ini sifatnya menjadi seperti paduan suara. Seseorang yang bernyanyi dalam paduan suara juga tidak pertama- tama bernyanyi untuk memperdengarkan suaranya kepada orang- orang di sekelilingnya, tetapi untuk memuji Allah. Demikian juga dalam kelompok meditasi Katolik, misalnya, orang bersama- sama berdoa meditasi, pertama- tama bukan untuk memperlihatkan kebolehannya berdoa secara khusuk kepada rekan kelompoknya, tetapi untuk berdoa bersama secara meditatif dalam kelompok untuk memuji Allah dalam keheningan. Tentu mereka ini bisa saja berdoa meditasi di rumah saja, tetapi selalu ada gunanya berdoa di dalam kelompok, dalam kesatuan komunitas untuk memuji Tuhan; sebab di mana ada dua orang atau lebih berkumpul dalam nama Tuhan, Tuhan hadir di antara mereka (lih. Mat 18:19). Ini sebenarnya yang terjadi dalam persekutuan doa Karismatik Katolik, jika umat secara bersama- sama menaikkan pujian senandung dalam roh dalam keharmonisan.

          Maka yang dilarang oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 14:19 adalah hal berkata- kata dalam roh yang diucapkan sedemikian sampai menimbulkan kekacauan, sebab misalnya banyak orang bernubuat, tanpa ada yang menginterpretasikan, sehingga tidak dimengerti oleh umat yang hadir, ataupun karunia berkata- kata itu tidak disampaikan dengan senandung, tetapi dengan lantang secara bersamaan. Tentang ini Rasul Paulus mengingatkan bahwa Allah tidak menghendakinya (lih. 1 Kor 14:13) namun pada saat yang bersamaan ia mengajarkan bahwa janganlah kita melarang orang yang berkata- kata dengan bahasa roh (lih. 1 Kor 14:39).

          4. Apakah orang yang melakukan doa dalam bahasa roh (Praying in Tongue) sadar/ tahu/ mengerti arti kalimat/ kata- kata yang barusan diucapkannya?

          Jika mengacu kepada Rom 8:26, maka sesungguhnya jawabannya adalah tidak. Meskipun hati secara umum mengetahui apa yang akan disampaikan kepada Allah, misalnya dorongan hati untuk bersyukur, memuji Tuhan, ataupun memohon pertolongan Tuhan akan suatu hal, namun sesungguhnya hanya Tuhan saja yang mengetahui secara persis apa maksud setiap kata- kata yang keluar dari mulut orang itu.

          5a. Apakah pernah ada orang yang berkata- kata dalam bahasa roh dan ada orang yang mampu menafsirkannya?

          Ada. Walaupun tidak umum terjadi di semua Persekutuan doa, namun saya beberapa kali mengikuti Persekutuan doa Karismatik Katolik di mana ada seseorang yang berkata- kata dalam bahasa roh, dan kemudian diinterpretasikan, dan diteguhkan oleh beberapa orang yang hadir yang merasa tersentuh oleh kata- kata tersebut, karena menerima penghiburan, peneguhan, ataupun teguran yang berkenaan dengan pergumulan yang sedang dihadapinya.

          5b. Ataukah selalu hanya berdoa dalam roh yang gaduh dan demostratif yang tidak berlangsung dengan sopan dan teratur, dan mengganggu orang lain yang berdoa biasa?

          Silakan anda jabarkan apa yang anda definisikan dengan doa “yang tidak sopan dan tidak teratur“. Sebab terus terang saya belum pernah menghadiri persekutuan doa karismatik Katolik di mana orang- orang yang berdoa tidak sopan dan tidak teratur. Jika ada orang yang berteriak- teriak sendiri (tetapi tanpa maksud menyampaikan nubuat) umumnya diajak keluar ruangan oleh panitia yang bertugas untuk didoakan secara terpisah oleh tim. Umumnya orang- orang sedemikian mempunyai beban luka batin yang berat.

          Jika seseorang datang ke persekutuan doa Karismatik, selayaknya ia mempunyai keterbukaan terhadap cara berdoa secara karismatik, sama seperti orang yang mengikuti Legio Mariae mengikuti cara berdoa sebagai seorang legioner. Demikian pula seseorang yang mengikuti Marriage Encounter, baru dapat menarik manfaat gerakan ini, jika hatinya terbuka untuk menuruti cara- cara yang diajarkan di sana. Hal yang sama berlaku jika anda bergabung dalam kelompok meditasi, atau Taize, tentu jika anda mau memperoleh manfaatnya, anda harus membuka hati terhadap cara berdoa yang diterapkan di kelompok itu. Jika anda tidak bisa menerimanya atau terganggu dengan cara tersebut, tidak apa- apa, anda tidak perlu bergabung dengan kelompok tersebut. Carilah komunitas dengan cara berdoa yang sesuai dengan suara hati anda. Yang penting, jangan sampai doa komunitas tersebut menggeserkan makna perayaan Ekaristi bagi anda.

          Demikian semoga tulisan di atas dapat menjadi masukan bagi anda.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

           

  14. [dari Katolisitas: komentar di bawah ini di beberapa bagian telah diedit atas ijin yang bersangkutan]

    Kalau menurut pengamatanku mengenai Karismatik,

    1. Hampir semua umat Katholik yang mendengar Karismatik, selalu menolak dahulu, ini dikarenakan, mereka menganggapnya dari Protestan
    2. Setelah mereka coba mengikuti Karismatik, ada yang bertumbuh imannya, dan ada juga yang lantas tidak setuju dengan Karismatik.
    3. Yang bertumbuh imannya, ada banyak juga yang keblinger, menganggap dirinya lebih bagus dari yang lainnya, tetapi jauh lebih banyak yang tetap rendah hati dan semakin bertumbuh imannya dan menghasilkan banyak buah.

    Biar lebih jelasnya, aku tulis pengalaman pribadi aku saja.

    Sejak kecil aku sekolah di Katholik, sekitar tahun 1990 aku dibaptis secara Katholik, hari minggu ke Gereja karena aku Katolik. Kalau hari hujan, pas mau ke Gereja…sangat senang …punya alasan gak ke Gereja, jadi aku ke Gereja bukannya merasa senang, but lebih sekedar kewajiban karena aku udah Katholik. Masalah Alkitab, hehehe jangan ditanya dahhhh, masih baru terus dan semua halamannya masih lengket krn gak pernah digunakan. Sempat dengar2 masalah Karismatik…pikirku…apa2an orang2 Karismatik itu, ikut2an aja sama Protestan.

    Tahun 1995 aku disuruh ke TUMPANG untuk retret, katanya bagus, dan aku gak tau kalau di sana itu Karismatik (kalau tau ..mungkin gak jadi brangkat). Ketika hampir tiba di Tumpang, pemandu retret memberikan pengarahan, intinya di sana kita membuka hati kita, biar Tuhan berkarya dalam hati kita, jangan pernah mengharapkan bisa BAHASA ROH, yang bisa dapat ..itu bagus…yang tidak dapat bahasa, PASTI dapat dapat sesuatu juga yang tidak kalah pentingnya.

    Setelah tiba di Tumpang, dan mengikuti sekment2 nya, dan ketika ada yang bertepuk tangan dan bergandengan tangan, mengekspresikan lagu itu, sangat canggung dan aneh sekali, spt anak TK aja. Karena aku berkomitmen untuk memperbaiki rohani aku, aku mengikuti pengarahan dari pemandu retrait ketika di bus itu, kubuka hatiku dan menuruti saja apa yang mereka katakan.

    Ketika pencurahan ROH, dan ketika didoakan sama suster2 Tumpang, lidahku bergerak2 dan mengeluarkan suara dan seketika itu juga aku jatuh terlentang sambil mengucapkan kata2 yang aku gak ngerti artinya, sedetik ketika aku terlentang, ada sesuatu yang ingin keluar dari tubuhku, napasku sesak banget seperti tercekik, tanpa sadar aku langsung berteriak sambil bangkit duduk, langsung aku didoakan sama beberapa suster, aku udah tenang dan bisa bernafas lega lagi, sambil terus lidahku mengucapkan kata2 yang aku gak tau artinya. Pagi harinya ketika akan pulang, diadakan Misa, yang datang bukan hanya yang ikut retret saja. Ketika ada DOA, ada orang yang duduk di belakang aku, sangat histeris, dia nangis dengan sangat, aku tergugah untuk ikut mendoakan dia dari tempat aku duduk. Yang keluar dr mulutku, bahasa yang tidak aku pahami itu, beberapa detik aku makin dalam mendoakan dia, dan akhirnya aku malah jatuh terjerembab ke depan, makin kuat dan keras bahasa2 yang aku ucapkan itu. Beberapa saat, langsung aku dipegangin dan didoakan. Rupanya udah dipersiapkan team untuk membantu, bila ada orang yang spt aku itu. Aku lihat ada 6-7 orang yang megangin dan mendoakan aku, dan aku melawan dan berontak, bisa lepas juga tuh 6 orang yang megangin aku dengan keras, tapi akhirnya aku tenang dan duduk lagi sambil berdoa, perasaanku seperti bebas lepas dan damai.

    Ketika dalam perjalanan pulang, aku diberi pengarahan, kalau aku mendapat bahasa Roh, dan setan2 yang ada di hatiku berontak dan akhirnya keluar ketika aku berteriak itu, cuman hati2…sekarang hati kamu bersih….kalau tidak kamu pelihara, setan yang keluar tadi akan membawa teman2nya lagi yang jauh lebih ganas dr yang keluar tadi..

    Setelah beberapa hari di rumah, aku juga mengikuti pengajaran/pengarahan yang harus dilakukan sekembalinya dari Tumpang. Banyak sekali yang aku dapat di sana, dan dikatakan juga kalau orang2 yang berbuah karena mengikuti Karismatik (di situ aku baru sadar kalau yang aku ikuti di Tumpang itu bagian dari karismatik) ialah:
    1.Akan rendah hati
    2.Akan lebih mengimani EKARISTI
    3.Rajin baca ALKITAB
    4.Masih banyak lagi……….

    Setelah itu aku rajin ke GEREJA, bukan krn kewajiban. Baca Alkitab?? tentu…..sampai kumal tuh ALKITAB nya.

    Setelah beberapa lama aku ikut Karismatik…….ternyata….aku kecewa juga terhadap sebagian orang2 yang ada di Karismatik itu. Ada yang berlagak angkuh…sombong, sokk……..(mungkin aku juga dianggap sombong dan sok…sok…). Aku mencoba untuk memahami, kenapa orang2 Karismatik, ada sebagian yang spt itu ????? Padahal yang kutahu persis, pengajarannya bagus, harus lembut dan rendah hati.

    Dan hasil dari pemahamanku:
    1. Ada orang Katolik yang menganggap umat Karismatik jadi sombong dan angkuh, menyalahi aturan, dsb, padahal orang Katolik yang bukan Karismatik pun kadang memiliki sifat sombong seperti itu juga, termasuk aku sendiri (dulu). Yaitu kesombongan dengan menganggap agama lain itu sesat
    2. Beberapa orang yang menjadi sombong itu….ternyata beberapa tahun kemudian…menjadi bagus juga, rendah hati dan gak sombong lagi (mungkin imannya sudah lebih dalam lagi, mungkin juga diingatkan sesama Karismatik).

    GBU

    NOBERT

  15. Stefanus A.T on

    Shalom Aloysius,

    Saudaraku Aloysius yg dikasihi Kristus, dulu sy juga demikian sependapat dengan dogma pemikirin Anda, beriring dengan waktu suatu hari sy ikut pelayanan ke pendalaman Irian, baru aku menyadari banyak hal yg tidak mengerti yaitu TRADISI, ADAT, dan KESADARAN. Saudaraku, Sy ingin belajar dan ingin berbagi sedikit pengalaman, waktu kami di pendalaman Irian yaitu disaat perarakan Misa Ekaristi umat disana dengan bahasa Hu, Ha, Hu, Ha … bukan dengan pujian PS/MB bagaimana pendapatmu apakah itu sesat? kemudian pakaian adat mereka dengan KOTEKA dan tombat yg ada ditangan mereka, apakah itu juga sesat? dan disaat Konsenbrasi umat histeris mengangkat tangan dan meloncat-loncat sambil meneriak JESUS, JESUS, JESUS apakah itu juga sesat? masih banyak hal yang tdk bisa kita mengerti saudaraku?
    Mari kita belajar bersama betapa indahnya beraneka-ragam dalam hidup ini dan mari kita bersyukur kepada Tuhan kita Yesus melalui Dialah kita menjadi saudara dalam satu iman. Saudaraku masih banyak hal yang bisa kita persembahankan dalam hidup ini, mengapa meski kita saling berpandangan negatif tentang PDKK/KARISMATIK kalaupun ada umat entah yang amat menyolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira, namun janganlah dipadamkan begitu saja.
    Dan saudaraku diakhir kata sy mohon maaf bila ada kata-kata yg tdk berkenan tolong dikoreksi, semoga tali persaudaraan kita makin erat dalam satu iman dengan adanya beraneka-ragam ini.
    Terima-kasih untuk tim Katolistas.org. selamat ulang tahun ke 3.

    Salam Kasih dalam Kristus Tuhan,
    Stefanus -KDSST

  16. Caesarandra on

    Yth Stef dan Inggrid,

    Saya ada beberapa pertanyaan menyangkut mengenai bahasa roh yang ada didalam Alkitab, sebenarnya itu bahasa roh yang benar itu seperti apa ? apakah orang berbahasa dalam bahasa lain yang dalam kehidupan sebenarnya dia tidak pernah pelajari, seperti dalam ayat ini :

    Kis 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

    Kis 2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

    Kis 2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?

    Kis 2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:

    Kis 2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,

    menurut ayat diatas, bahasa roh yang diucapkan adalah bahasa daerah lain yang belum pernah si orang tersebut pelajari, jadi misalnya tiba2 saya berbahasa rusia dengan fasih memuji Tuhan.

    Namun diayat lain disebutkan bahwa bahasa roh itu tidak ada orang yang mengerti karena mengucapkan hal yang rahasia :

    1Kor 14:2 Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.

    Tapi diayat yang lain pula disebutkan bahwa dalam berbahasa roh harus teratur dan harus ada orang lain yang menafsirkannya :

    1Kor 14:5 Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.

    1Kor 14:6 Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?

    1Kor 14:9 Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!

    1Kor 14:13 Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya.

    jadi sebenarnya bahasa roh yang benar itu yang bagaimana sih ? apakah berbahasa dengan bahasa daerah lain ? atau tidak ada yg mengerti karena rahasia ? atau harus ada yang menafsirkannya karena kalau tidak akan tidak ada manfaatnya ?

    Sangat di harapkan penjelasannya, saya sangat tidak paham dengan yang satu ini. Terima kasih.

    rgds,
    CaesarAndra

    • Shalom Caesandra,

      Silakan anda membaca kembali artikel ini, silakan klik.

      Menurut Kitab Suci, terdapat 3 perwujudan karunia bahasa Roh, yaitu sebagai ungkapan doa pribadi sebagai keluhan yang tak terucapkan (lih. Rom 8:26), sebagai bahasa dari bangsa lain yang tidak pernah dipelajari (lih. Kis 2:7-11), dan sebagai bahasa lain yang bukan merupakan bahasa di dunia, namun yang diucapkan sebagai nubuat, sehingga perlu diinterpretasikan (lih. 1 Kor 14:5, 13).

      Selanjutnya silakan juga membaca artikel tentang Apakah gerakan Karismatik Katolik itu sesat, silakan klik

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Alexander Pontoh on

        1Kor 14:13 Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya.

        dari ayat ini, ada kalimat “ia harus berdoa”

        apakah ada doa khusus? atau sekedar doa spontan?

        • Shalom Alexander,

          Dalam ayat tersebut memang tidak dikatakan dengan rinci, apakah ada doa khusus tentang hal ini. Prinsipnya di sini sederhana, yaitu bahwa orang tersebut harus berdoa, agar karunia bahasa roh yang diterimanya tersebut dapat berguna untuk membangun jemaat (Gereja).

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

           

  17. shallom Stefanus Tay. Terima kasih atas jawabannya. Saya sependat dengan saudara lewat jawaban anda terhadap pertanyaan saya. Bagi saya gerakan Karismatik telah mengubah hidup saya, karena apa yang saya rasakan dan alami tidak dapat dirasakan dan dialami oleh orang lain. Saya bersyukur karena hal negatif dari gerakan Karismatik yang ditulis oleh saudara Stefanus tidak saya alami, karena tujuan saya bukan hal-hal yang negatif itu. Sekarang saya telah menyadari betapa besar kasih dan cinta Allah Bapa kepada anak-anak-Nya, dan saya menyadari betapa besar pula dosa-dosa yang telah saya perbuat, serta saya menyadari apa yang harus saya lakukan untuk menebus dosa-dosa yang telah saya perbuat. Semuanya itu telah dibukakan oleh Roh Kudus di dalam hati saya. Semoga orang lain juga dapat merasakan seperti yang saya alami, termasuk mereka yang mengikuti gerakan Karismatik. Salam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

    • Daniel Kurniadi on

      Shallom,
      Saya berkecimpung dalam gerakan karismatik mulai 1996, ketika saya mengikuti Camping Rohani Siswa di pertapaan karmel, Tumpang, Malang. dalam perjalanan waktu, saya melihat banyak sekali teman2 saya yang berubah hidupnya, semakin mencintai Gereja, dan Sakramen-sakramen yang ada, namun juga tidak dapat dipungkiri, banyak juga yang berpindah ke gereja lain. namun fenomena yang menarik juga ditemukan, bahwa ada orang2 dari denominasi lain yang justru tertarik dengan gereja katolik, dan memutuskan untuk bergabung dengan gereja kita ini.
      Dalam jatuh-bangun perjalanan iman saya, belum sekalipun saya terpikir untuk pindah ke gereja / keyakinan lain, banyak misteri dalam gereja kita yang bagi saya pribadi, terlalu indah untuk ditinggalkan.

      Saya sangat menganjurkan semua orang, baik yang telah mengenal karismatik atau belum untuk membaca buku2 karangan Dr. Scott Hahn, Rome Sweet Home, The Lamb Supper (Tentang Ekaristi), Hail Holy Queen: The Mother of God in the Word of God (tentang bunda Maria), Lord Have Mercy (tentang sakramen Tobat), dan banyak lagi. Scott Hahn membuat pelajaran teologi menjadi sangat mudah untuk dicerna. Beberapa teman saya yang mulai luntur iman katoliknya dan memutuskan untuk pindah, mengurungkan niatnya setelah membaca buku2 ini, karena mereka menjadi mengerti tentang keindahan Gereja Katolik.

      Saya sangat setuju bahwa Ekaristi harus menjadi yang terutama dalam gerakan karismatik katolik, tanpa Ekaristi, kita tidak bisa menyebut diri kita seorang Katolik, dan darimana kita bisa memperoleh karunia2 ilahi kalau kita menolak tubuh Kristus sendiri? Banyak rahmat tercurah saat kita berlutut di depan sakramen Maha Kudus saat adorasi.

      Sakramen yang sering diremehkan (sepanjang pengetahuan saya) adalah sakramen tobat, dulu saya juga termasuk yang menganggapnya kurang penting, dengan anggapan bahwa kita bisa mengaku langsung ke Tuhan, tak perlu imam untuk perantara, padahal imam diberi kuasa untuk melepaskan dan mengikat dosa di bumi dan di surga (saya lupa ayatnya hehehe). Tetapi setelah melakukan sakramen tobat secara rutin, saya merasakan hidup saya lebih “enteng”. banyak rahmat dan kedamaian yang saya dapatkan,

      Rosario? tentu saja! Saya mencintai Bunda saya, dan saya tau persis Bunda Maria turut serta berdoa buat kita. Rosario mengajarkan saya pengendalian diri. Rpsario banyak menolong saya ketika dalam masa2 sulit.

      Saya menikmati musik2 rohani – kontemporer dalam gerakan karismatik, dan kebetulan saya tergabung dalam tim pujian, menurut pendapat saya, menggunakan sorak sorai dan tari2an dalam memuji Tuhan, hal itu tidak salah, kita dapat melihat bagaimana umat Israel memuji Tuhan di perjanjian lama, mereka menggunakan sorak-sorai, cymbal, rebana, sangkakala, dan tari2an. Saya juga sangat menikmati lagu2 gregorian latin dan klasik, saya memakainya dalam doa hening. yang penting adalah kita dapat menempatkan kapan dan dimana musik2 itu dipakai, agar jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain.

      Kesimpulannya, iman Katolik saya justru bertumbuh dalam gerakan Karismatik Katolik, dan saya tambah cinta dengan gereja kita ini.

      Berkat Tuhan menyertai Anda sekalian.
      mengenai gerakan karismatik, mungkin bisa melihat-lihat di http://www.iccrs.org

      • Shalom Daniel,
        Ya, seharusnya sikap yang anda miliki itulah yang layak dimiliki oleh semua yang tergabung dalam gerakan Karismatik Katolik. Gerakan karismatik harus membawa seseorang menjadi semakin menghayati iman Katoliknya, dan bukan malah menjauhinya. Dan intinya memang adalah perayaan Ekaristi.
        Buku- buku Scott Hahn memang sangat baik dan inspiratif, terutama karena dalam tulisan- tulisannya ia memaparkan ajaran Magisterium Gereja Katolik, dengan bahasa yang mudah dipahami. Silakan, jika anda memang anda pandang membantu, untuk membahas tulisan- tulisannya di dalam kelompok komunitas anda, agar semakin banyak orang Katolik mengenal dan mengasihi iman Katolik; dan hidup sesuai dengan ajaran iman Katolik.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Rudi Yth,

      Saya ingin mengkritisi pernyataan Anda :”Bagi saya gerakan karismatik telah mengubah hidup saya, karena apa yang saya rasakan dan alami tidak dapat dirasakan dan dialami oleh orang lain.” Pernyataan Anda sering diucapkan oleh banyak umat Katolik pengikut gerakan karismatik yang saya jumpai. Saya tidak mengerti bagaimana Anda bisa menyatakan hal itu. Lalu apakah artinya sakramen-sakramen bagi Anda? Apakah sakramen-sakramen(baptis, ekaristi, pengakuan dosa, krisma) yg telah Anda terima tidak mampu mengubah hidup Anda? Kalau demikian, berarti Anda telah merendahkan sakramen-sakramen dan mengagungkan gerakan karismatik. Ini bukanlah apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Lebih baik Anda tidak perlu menerima sakramen baptis, ekaristi,krisma dan pengakuan dosa kalau ternyata gerakan karismatik lebih mampu mengubah hidup Anda.

      Dalam tulisan/artikel Ekaristi Sumber dan Puncak Spritualitas Kristiani yang terapat dalam situs ini(link to katolisitas.org) dituliskan bahwa:
      1. Ekaristi membawa pada pertobatan yang terus menerus
      2. Ekaristi adalah Sakramen Kasih yang mempersatukan
      3. Ekaristi mendorong kita mengasihi sesama
      4. Ekaristi membawa perubahan

      Tentang point ke 4, Ekaristi membawa perubahan, dikatakan bahwa:
      “Akibat dari rahmat Ekaristi adalah ‘perubahan‘. Yesus bukan hanya mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan DarahNya, tetapi Dia melakukan sesuatu yang lebih dashyat lagi: Ia mengubah kita seutuhnya di dalam Dia dan mengisi kita dengan Roh Kudus yang sama yang membuat-Nya hidup. Dia mengubah keinginan kita untuk berbuat dosa menjadi keinginan untuk mengasihi. Dia mengubah kita, yang mempunyai keinginan hidup sendiri-sendiri menjadi keinginan untuk hidup dalam kebersamaan dalam damai. Sungguh, dengan menerima Ekaristi kita menjadi semakin dekat bersatu dengan Kristus,[31] sehingga kita dapat terus menerus bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan dilakukan oleh Yesus, jika Ia ada di tempatku?” [32] Sikap ini akan membawa kita kepada jalan kekudusan, sebab kita terdorong untuk selalu mencari kehendak Tuhan di dalam segala sesuatu dan menyesuaikan diri kita dengan gambaran-Nya. Kita akan berusaha sedapat mungkin untuk mempergunakan segala kemampuan kita untuk memuliakan Tuhan dengan menyediakan diri bagi pelayanan kepada Tuhan dan sesama.[33] Ekaristi mengubah kita ‘dari dalam’ sehingga kita dapat bertumbuh dalam kesempurnaan kasih yang menjadi kesempurnaan hidup rohani. Kepenuhan dan kebahagiaan hidup yang dicita-citakan oleh spiritualitas dicapai melalui pemberian diri kita di dalam Ekaristi, yaitu saat kita, bersama Yesus dan oleh kuasa Roh Kudus, mempersembahkan diri kita kepada Allah Bapa dan mengambil bagian dalam persatuan dengan kehidupan Allah Tritunggal Mahakudus. Di dalam Tuhan inilah kita dikuduskan. ”

      Jadi kalau Anda masih mencari-cari sumber rahmat lain selain Ekaristi, Anda sebenarnya tidak mengerti apa itu Sakramen Ekaristi dan Anda tidak layak menerima Sakramen Ekaristi.
      Maka, jika Anda sudah memahami hakekat Sakramen Ekaristi sebagai sumber dan puncak spritualistas Kristiani, Anda tidak perlu lagi mengikuti gerakan karismatik. Terlebih lagi gerakan karismatik tidak bersumber dari Gereja Katolik.

      Salam,

      • Shalom Aloysius,

        Terima kasih atas tanggapan anda kepada Rudi. Saya ingin memberikan pandangan bahwa tidak ada yang salah dengan mempercayai Ekaristi sebagai puncak dan sumber kehidupan Kristiani dan pada saat yang bersamaan mengalami pengalaman spiritual dalam doa karismatik. Hal ini dapat juga dialami oleh seseorang yang mengalami pengalaman spiritual ketika melakukan doa hening. Bukan berarti bahwa kalau seseorang mengalami pengalaman spiritual dalam doa hening, maka orang tersebut tidak menghargai Ekaristi. Yang terpenting adalah setelah orang mengikuti gerakan Karismatik, dia justru harus semakin bertumbuh dalam sakramen-sakramen, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Untuk itu, pembinaan anggata yang tergabung dalam gerakan karismatik sangat penting, sehingga mereka mempunyai pemahaman yang benar akan iman Katolik. Semoga hal ini dapat diterima.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef -  katolisitas.org

        • Stef Yth,

          Saya setuju pendapat Anda bahwa melalui doa hening seseorang dapat mengalami pengalaman spiritual. Yang saya maksudkan disini adalah bahwa kebanyakan umat Katolik yang mengikuti gerakan karismatik(misalnya PDKK, Seminar Hidup Baru, dll) lebih mengutamakan dan mengagungkan gerakan karismatik daripada sakramen ekaristi. Bagi mereka, sakramen-sakramen adalah kebutuhan sekunder sedangkan gerakan/doa karismatik adalah kebutuhan premier. Hal ini yang saya maksudkan.

          Tuhan Yesus sudah memberikan Gereja dan 7 sakramen. Selain itu dalam Gereja Katolik terdapat berbagai jenis doa dan devosi yg sudah menjadi tradisi dan kekayaan Gereja. Lalu apalagi yang kurang sehingga kita(umat Katolik) harus mengadopsi gerakan/doa/ibadah/kebaktian karismatik yg notabene berasal dari donominasi Protestan Pentakostal dan bertentangan dgn ajaran Gerja Katolik !?

          Memang pada awalnya, gerakan karismatik tampak menghasilkan buah2 yang baik. Namun lama kelamaan, buah-buah yang dihasilkan adalah penyesatan, perpecahan, dan akhirnya berpisah dari Gereja Katolik. Lebih baik mereka membaca dan mendalami Katekismus Gereja Katolik. Sejauh ini, kebanyakan mereka yang ikut PDKK lalu mendalami Katekismus, pada akhirnya tidak lagi memerlukan PDKK sebagai tongkat penopang dirinya alias mereka bebas dari emosi dan sugesti diri dan mayoritas kembali mengakui bahwa sakramen dan devosi lainnya adalah sumber rahmat/kehidupannya.

          Salam,

          • Shalom Aloysius,

            Komentar anda mungkin didasari atas hasil pengamatan anda, dan nampaknya masih perlu dibuktikan apakah secara faktanya memang demikian. Namun jika benar apa yang anda sampaikan, tentu kenyataan ini memprihatinkan, dan harus diwaspadai dan dipikirkan bagaimana mengatasinya.

            Bahwa ada kelompok orang yang akhirnya malah memisahkan diri dari kesatuan dengan Gereja Katolik setelah mengikuti gerakan karismatik, itu nampaknya memang ada, tetapi jangan dilupakan juga adanya buah- buah positif, yang dapat juga anda baca dari komentar- komentar yang masuk ke dalam situs ini. Sebab tidak semua komentar yang masuk adalah yang ‘anti’ karismatik.

            Saya setuju, jika yang sudah ikut karismatik kemudian mempelajari kembali Katekismus dan ajaran Gereja Katolik lainnya sebab dengan demikianlah kita semua bertumbuh dalam pemahaman dan penghayatan akan ajaran iman kita. Selanjutnya, mari kita berikan kebebasan kepada masing- masing orang akankah ia mau terus berada dalam komunitas karismatik, atau mau bergabung dengan kegiatan komunitas lainnya di dalam Gereja.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

            • Salam damai Kristus,

              Para pengasuh Katolisitas.org, terimakasih atas artikel-artikel anda di situs ini yang sangat memberikan kepada saya pribadi pemahaman baru tentang ajaran-ajaran Gereja Katholik. Berkaitan dengan artikel ini, saya mencoba mengajukan beberapa pertanyaan :
              1. Terkait artikel ini saya jadi ingat beberapa saat yang lalu saat di Penang, Malaysia, di perjalanan dari pusat kota Penang menuju bandara, saya melihat di tepi jalan ada gereja besar tertulis Gereja Kharismatik, mungkin Pak Stef atau Bu Inggrid tahu tentang gereja tersebut apakah Katholik atau denominasi Protestan ? Atau mungkin sejarahnya gereja tersebut ?
              2. Apakah boleh dalam Misa Kudus hari Minggu lagu-lagu yang dibawakan seluruhnya atau sebagian menggunakan lagu-lagu kharismatik? Saya pernah sekali mengikuti Misa Hari Minggu di Gereja Keluarga Kudus, Rawamangun, Jakarta dari lagu pembukaan sampai penutup memakai lagu-lagu karismatik atau mirip lagu Protestan, kecuali ordinariumnya tetap Gregorian. Saya merasa aneh nggak nyambung, suasana sakral dalam Misa Kudus menjadi hilang,
              3. Saat ini saya tinggal di Bali, di wilayah yang baru sebagian besar umatnya pengikut kharismatik, sebenarnya tidak masalah, hanya saja dalam semua Misa wilayah baik itu pemberkatan rumah, kematian, misa syukur, ibadat pendalaman iman, lagu-lagu yang digunakan lagu-lagu kharismatik, saya malah merasa menjadi orang asing di tengah komunitas wilayah di mana saya sekarang tinggal. Saya sebagai orang baru dan “minoritas” sungkan untuk menyampaikan rasa keberatan saya (wong pastornya saja tidak keberatan), pertanyaannya apakah otoritas gereja Katholik memperbolehkan hal ini ?

              Demikian pertanyaan-pertanyaan ini saya saya sampaikan, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Salam kasih dalam Yesus Kristus

              • Salam Thomas,

                1. Maaf saya tak tahu gereja kharismatik itu, entah Katolik atau bukan.
                2. Dalam Misa hari Minggu (Misa umat bukan untuk kelompok khusus Kharismatik), dapat dipakai lagu-lagu kharismatik bila lagu-lagu itu memenuhi tuntutan liturgi, atau telah diterima resmi menjadi lagu liturgi: teksnya, waktu/kesempatannya memenuhi syarat-syarat liturgi.
                3. Otoritas Gereja Katolik tidak memperbolehkan hal itu dalam Misa umat pada hari Minggu. Bila ada alasan yang khusus dan dapat dipahami, Misa kelompok khusus kharismatik (yang dihadiri dan diselenggarakan kelompok kharismatik) dapat diperbolehkan oleh otoritas Gereja Katolik, asal saja lagu-lagu itu memenuhi persyaratan liturgi.

                Salam dan doa. Gbu.
                Rm. Bernardus Boli.

      • Dari pengalaman saya karismatik membuat kita lebih menghayati sakramen,saya dari PDKK di Bali,karena semangat karismatik yang kami miliki membuat kami semakin ingin menghayati Firman,pendalaman KS,Sakramen dan lain2.Kalo saya sederhanakan Karismatik dan Sakramen ibarat Bunda Maria dan Yesus,saat kita berdoa Salam Maria,Bunda kita akan membawa kita lebih mencintai Putranya.demikian Karismatik semakin membuat kita menghargai Sakramen…bukan sebaliknya.

        • Shalom Yindri,
          Terima kasih atas sharing Anda. Menjadi satu kenyataan bahwa memang ada hal-hal positif yang terjadi dalam gerakan karismatik Katolik. Namun, menjadi satu kenyataan bahwa memang ada sisi-sisi negatif yang terjadi, karena kurangnya pembinaan dan terlalu menekankan karunia-karunia karismatik, serta kurangnya pembahasan tentang ekklesiologi, sakramen dan kekudusan. Tantangan bagi Anda dan semua orang yang terlibat aktif dalam gerakan ini, serta hirarki, adalah untuk menghilangkan sisi-sisi yang kurang dan terus mengembangkan sisi-sisi positif. Mari, kita bersama-sama membangun Gereja Katolik yang kita kasihi dalam kapasitas kita masing-masing dengan spiritualitas yang berbeda-beda namun tetap terpusat pada Kristus dan terus menjaga persatuan dalam Gereja Katolik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply