Tahukah Yesus akan hari kiamat?

Pertanyaan:

Ingrid, terima kasih banyak, terima kasih sekali untuk penjelasan ini. Uraian ini membawa pemahaman untuk saya.
Kalau bisa saya mau bertanya lagi. Dalam KS kita dikisahkan perkataan Yesus berkaitan dengan akhir zaman bahwa Yesus tidak tahu kapan akhir zaman akan datang sebab hanya Bapa yang tahu. Membaca dan mencoba memahami perikop itu, spontan ada dua hal muncul dalam diri saya. Pertama memang Yesus tidak tahu karena Dia tidak setara dengan Bapa, Yesus bukan Allah. Kedua, ungkapan itu mau menampakkan kerendahan hati Yesus yang tidak mau menonjolkan ke-sehakikat-anNya dengan Bapa.
Bagaimana perikop tersebut harus dipahami? Thanx. Salam damai, Francis.

Jawaban:

Shalom Francis,
Pernyataan Yesus tentang akhir jaman dalam ayat Mrk 13: 32, memang mengundang bermacam interpretasi, namun sebaiknya kita berpegang pada apa yang menjadi pengertian Bapa Gereja, karena demikianlah yang dipegang oleh Gereja Katolik. Ayatnya berbunyi demikian, “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.”
Jika kita hanya membaca sepintas, atau mengambil arti harafiah pernyataan ini, maka kita dapat mengambil kesimpulan yang tidak sesuai dengan arti yang semestinya.
Hal ini yang terjadi, setidaknya yang dimengerti oleh 2 kelompok ini:

  1. Themistius dan para pengikutnya, di abad ke 6, mengartikan ayat tersebut bahwa Yesus benar-benar tidak tahu akan hal saat akhir jaman ini. Heresi ini dikenal dengan nama Agnoetae: Penyangkalan akan kepenuhan pengetahuan manusiawi di dalam diri Kristus.
  2. Para penganut Protestant Kenotic Christology (Kristologi Kenotik menurut Protestan) yang berpendapat bahwa melalui Inkarnasi maka Tuhan Yesus melepaskan kepenuhan sifat-sifat keilahian-Nya, sehingga Sang Sabda menjadi terbatas dalam hal omniscience, omnipresence dan omnipotence. Martin Luther mendasari pendapatnya ini dengan teks dari Flp 2:6-11. Teori ini dikembangkan secara ekstrim oleh teolog Protestan, Wolfgang Friedrich Gess (1819-91) yang menyatakan bahwa melalui Inkarnasi terjadi perubahan besar dalam Trinitas, karena Allah Bapa ‘berhenti’ menghasilkan Sabda, sehingga Roh Kudus hanya bersumber pada Allah Bapa, dan tidak melibatkan Kristus. Secara objektif dapat kita lihat bahwa teori ini dapat mengarah kepada penyangkalan akan kesamaan substantial antara Allah Bapa dan Yesus (Allah Putera), yang hampir sama dengan heresi Arianisme pada awal abad ke 4.

Gereja Katolik TIDAK mengartikan ayat tersebut seperti kedua pendapat di atas. Sebab Gereja Katolik berpegang pada apa yang tertera di banyak ayat di dalam Alkitab yang menyatakan kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa, sebagai Firman yang adalah Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:1, 14), sebagai Pribadi kedua dari Trinitas (lihat kembali artikel ini (silakan klik) dan ini (silakan klik) tentang banyaknya bukti Alkitabiah tentang ke-Allahan Yesus dan kesetaran-Nya dengan Allah Bapa). Kesetaraan ini mencakup segala hal, termasuk dalam hal pengetahuan akan hari dan saat Penghakiman Terakhir.
Pengajaran Gereja Katolik tentang hal ini berdasarkan dari pengajaran Magisterium Gereja yang ditegaskan di dalam:

  1. Konsili Nicea (325), yang menegaskan doktrin Ke-Allah-an Yesus: bahwa Kristus adalah Tuhan, “consubstantial”/ sehakekat dengan Allah Bapa. Konsili ini diadakan untuk menegakkan pengajaran Gereja yang pada waktu itu diserang oleh faham sesat Arianisme.
  2. Konsili Chalcedon (451), yang membacakan “The Tome of Leo”, bunyinya, “Jadi di dalam keutuhan dan kesempurnaan Yesus sebagai manusia, Allah telah menjelma, lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai Allah, lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai manusia, ….. menaikkan derajat manusia, tanpa mengurangi derajat-Nya sebagai Allah: sebab dengan mengosongkan Diri-Nya, Ia yang tidak kelihatan membuat Diri-Nya menjadi kelihatan;Pencipta segala sesuatumenginginkan DiriNya menjadi mahluk yang mortal, bukan karena kegagalan kekuasaan-Nya, namun karena pernyataan belas kasihan-Nya. Oleh karena itu, Ia yang tetap Allah, mengambil rupa manusia, bahkan menjadi seorang hamba. Sebab, kedua sifat itu [ke-Allahan dan kemanusiaan-Nya] tetap mempertahankan karakterkeduanya tanpa menghilangkan satu sama lain: dan ke-AllahanNya tidak menghapuskan karakter hamba, ke-hamba-anNya tidak mengurangi karakter ke-Allahan-Nya.”
  3. Patriarkh Alexandria, bernama Eulogius, bersama dengan uskup-uskup Yerusalem, Stephanus dan Sophronius dan Paus Gregorius Agung menanggapi heresi Agnoetae (abad ke 6) tersebut dengan menyatakan,
    “Allah Putera yang Mahatahu mengatakan bahwa Ia tidak tahu harinya [akhir jaman, sehingga] Ia tidak menyatakannya, bukan disebabkan oleh sebab Ia sendiri tidak tahu, tetapi karena Ia tidak mengizinkan hal tersebut diketahui sama sekali…. Putera Tunggal Allah yang menjelma menjadi manusia yang sempurna untuk kita, pasti mengetahui hari dan saatnya Penghakiman Terakhir di dalam diriNya sebagai manusia, namun demikian Ia tidak mengetahui hal itu dari kapasitasnya sebagai manusia…. Sebab untuk maksud apa bahwa Ia yang menyatakan DiriNya sebagai Kebijaksanaan Allah yang menjelma, jika ada sesuatu yang tidak diketahui olehNya sebagai Kebijaksanaan Allah? … Juga tertulis bahwa, …. Allah Bapa menyerahkan segala sesuatu ke dalam tanganNya [Yesus Kristus di dalam Yoh 13:3]. Jika disebutkan segala sesuatu, tentu termasuk hari dan saat Penghakiman Terakhir. Siapa yang begitu naif untuk mengatakan bahwa Allah Putera menerima di dalam tangan-Nya sesuatu yang tidak diketahui olehNya?”
  4. St. Maximus (580-662):

    Jika para nabi saja dapat mengetahui hal- hal di masa depan yang akan terjadi, betapa lebih lagi Kristus dapat mengetahui semua itu melalui kesatuan-Nya dengan Sang Sabda.[1]

  5. Sedangkan untuk menanggapi Kristologi Kenotik menurut Protestant, Paus Pius XII dalam memperingati Konsili Chalcedon yang ke 1500, menulis surat ensiklik Sempiternus Rex pada tahun 1951, yang mengecam penyalah-artian ayat Filipi 2:7 pada mereka yang berpikir bahwa tidak ada keilahian di dalam Sabda yang menjadi manusia dalam diri Kristus. Menurut Bapa Paus, ini adalah maksud yang keliru, seperti halnya heresi Docetism yang mengklaim sebaliknya. Selanjutnya Bapa Paus menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan di dalam The Tome of Leo, “Ia yang sungguh-sungguh Allah telah lahir, lengkap di dalam ke-Allahan-Nya, dan lengkap di dalam kemanusiaan-Nya.”

Demikian yang dapat saya tuliskan mengenai Mrk 13:32, semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Francis. Di atas semua ini kita perlu dengan rendah hati menerima, bahwa pihak Magisterium Gereja adalah yang paling dapat menginterpretasikan ayat-ayat Alkitab dengan benar, dalam kesatuan dengan ayat-ayat yang lain di dalam Alkitab, dan Tradisi Suci Gereja.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati -http://www.katolisitas.org


CATATAN KAKI:
  1. Lihat Quaestiones et dubia 66 (I, 67), PG 90: 840 []

Beberapa artikel di kategori yang sama:

7 Komentar to Tahukah Yesus akan hari kiamat?

  1. Dear Ibu Inggrid,

    Terima kasih atas penjelasan akan topik apakah Tuhan Yesus tau akan hari kiamat. Saya dapat menerimanya dengan baik dan sangat masuk akal jika Tuhan Yesus tau karena Dia adalah Tuhan, dan atas kebijaksanaanNya utk tdk mengungkapkannya.

    Menurut saya (mohon koreksi jika salah), ada alasan lain melengkapi yg sudah diutarakan oleh Ibu Inggrid kenapa Tuhan Yesus tdk menyampaikan kapan waktunya, yaitu
    1. Tuhan Yesus secara kodrat manusia tdk mengungkapkan hari H-nya karena Tuhan Yesus tidak ingin hari H itu dikaburkan oleh keduniawian, yaitu penanggalan duniawi. Spt diketahui, penanggalan duniawi saat Tuhan Yesus hidup belumlah penanggalan Masehi. Penanggalan Romawi pasti berbeda dgn penanggalan China, penanggalan Jawa, penanggalan Arab, dll. Jadi jika Tuhan Yesus mengatakan mengenai hari H jatuh pada (misal) 29 Februari 2012 maka org Yahudi akan bingung karna penanggalan Masehi belum digunakan. Jika menggunakan penanggalan Romawi, maka Tuhan Yesus secara keAllahanNya tau bahwa penanggalan Romawi di tahun 2000 tdk digunakan lagi sehingga tdk akan terlalu valid. Maka jika Tuhan Yesus mengatakan tanggal tsb, maka akan memicu berbagai penafsiran mengenai kapan sebenarnya hari H berdasarkan suatu penanggalan di masa depan. Maka dgn pemikiran saya (maaf, ini cuma pemikiran saya, jika salah mohon koreksi) bahwa kodrat Tuhan Yesus sebagai manusia yg tdk mengungkapkan hari H akan sangat masuk akal berkaitan dgn sistem2 penanggalan dunia.
    2. Jika ternyata Tuhan Yesus mengatakan hari H-nya, berkaitan dgn poin no 1 saya di atas, maka jika ternyata penafsiran2 yg tdk tepat berkaitan dgn sistem penanggalan, maka kesalahan penafsiran tsb bisa membawa pada “corrupt” thd sabda Yesus yg adalah Tuhan. Padahal yg salah adalah penafsiran tanggal yg tdk bersesuaian.

    Demikian tanggapan saya. Mohon koreksi jika salah.

    Selamat menyambut pesta Paskah
    Glenn

    • Shalom Glenn,

      Kita juga dapat melihat dari sisi yang lain, mengapa Yesus tidak mengungkapkan tanggal persis dari kedatangan-Nya yang kedua, yaitu agar manusia dapat senantiasa berjaga-jaga. Kalau Yesus mengungkapkan bahwa kedatangan-Nya misalnya seribu tahun lagi dalam penanggalan Yahudi, maka orang-orang mungkin cenderung untuk tidak berjaga-jaga dan dapat hidup seenaknya. Padahal, di satu sisi, semua orang harus berjaga-jaga kalau suatu saat Tuhan memanggil kita menghadapnya dalam kematian. Kalau Tuhan mengungkapkan bahwa kedatangan-Nya sudah dekat, misal 10 tahun lagi, maka orang-orang akan tidak berbuat apa-apa, seperti yang terjadi pada jemaat di Tesalonika.

      Dengan demikian, kita dapat melihat kebijaksanaan Kristus, yang tidak ingin mengungkapkan tanggal kedatangan-Nya ke-2 secara persis kepada manusia. Walaupun demikian, Kristus juga telah memberikan tanda-tanda dari kedatangan-Nya. Jadi, mari kita bersama-sama melakukan sikap yang diinginkan oleh Kristus, yaitu senantiasa berjaga-jaga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. SHALOM? Saya mau bertanya ” Yesus adalah ALLAH maha tahu dan maha sempurna, sewktu ada yang bertanya kapankah engkau datang yg ke 2 kalinya? Lalu Yesus menjawab”tidak seorangpun yg tahu malaikat-malaikat tidak dan anakpun tidak, hanya Bapa yg tahu. Jadi pertanyaannya “Kenapa anak tidak tahu sedangkan Yesus adalah ALLAH DAN TUHAN maha tahu dan juga maha sempurna. TERIMAKASIH TUHAN ALLAH MEMBERKATI. AMEN

    [dari Katolisitas: silakan membaca penjelasannya di artikel di atas, "Tahukah Yesus akan hari kiamat?" , silakan klik]

  3. SYALOM ….. IJINKAN SY INGIN BERTANYA 2 HAL TENTANG TINJAUAN THEOLOGI & KATOLIK ;

    1. APAPUN TIDAK MENGUBAH IMAN KEPADA YESUS MESKI SY HARUS BERTANYA DEMIKIAN = ADA AYATNYA TAPI SAYA LUPA, SPT INI ; TUHAN YESUS MENJAWAB MURIDNYA, TIDAK ADA SEORANGPUN YANG TAHU KAPAN DATANGNYA HARI AKHIR, ANAKPUN TIDAK. PERTANYAAN SAYA ; MENGAPA TUHAN YESUS YANG NOTABENE JUGA TUHAN ALLAH MENYATAKAN SEPERTI ITU? SY YAKIN ADA MAKSUD TUHAN BERSABDA DEMIKIAN TETAPI SY SAJA YANG TIDAK TAHU. MOHON PENCERAHAN.

    2. MENGAPA PASTUR TIDAK BOLEH MENIKAH? MENGINGAT MANUSIA ADALAH TETAP MANUSIA BUKAN TUHAN ; BUKAN TUHAN YESUS, YG TENTUNYA SEWAKTU2 BS SAJA MEMPUNYAI NAFSU MANUSIAWI MESKI TERPENDAM. APAKAH HANYA KARENA SEMATA2 PELAYANAN & TANGGUNG JAWABNYA SUPAYA BISA TERFOKUS PENUH? APAKAH MELAYANI TUHAN & SESAMA WALAUPUN ITU SEBAGAI PEMIMPIN JEMAAT/ UMAT HARUS TIDAK MENIKAH, APAKAH “SEMISAL” SEORANG PASTUR MENIKAH & TETAP MENJABAT PASTUR ITU “BERDOSA DIMATA TUHAN?”. AYAT PEMBIMBINGNYA DARI KITAB APA? APAKAH TIDAK LEBIH BAIK BERPASANGAN SEHINGGA “TERUJI” BENAR BAGAIMANA BISA MENYATAKAN KASIH SAYANGNYA KEPADA KELUARGA DALAM HIDUP YANG REAL . APAKAH “SEMISAL SAJA” PAKAI SISTEM PAHALA/ UPAH ; APAKAH PASTUR YANG TIDAK MENIKAH TERSEBUT JELAS2 PAHALANYA LEBIH BANYAK ATAU LEBIH BAIK & BENAR DIBANDINGKAN SESAMANYA, APAKAH TIDAK MENJADI TERJEBAK MENGINGKARI KEDUNIAWIANNYA ( KARENA MEMANG MASIH DIDUNIA ) KEMANUSIANNYA / TDK BISA MENIKMATI BERKAH BERPASANGAN DARI TUHAN ATAU … BAGAIMANA? SY BENAR2 TIDAK MENGERTI?

    • Shalom Andri,

      1. Tentang apakah Tuhan Yesus mengetahui atau tidak tentang akhir dunia, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      2. Tentang mengapa pastor tidak menikah, silakan anda membaca di sini, silakan klik, dan juga di tanya jawab di bawahnya, terutama di jawaban ini, silakan klik, dan jawaban ini, silakan klik. Jangan anda lupakan, mereka yang masuk ke seminari sebenarnya sudah mengetahui bahwa kehidupan selibat tak terpisahkan dalam panggilan hidup mereka. Mereka tidak dipaksa untuk tidak menikah. Maka orang- orang yang merasa panggilan hidupnya adalah menikah/ hidup berkeluarga, tentu tidak apa- apa, namun tidak dapat menjadi imam. Baik menjadi imam ataupun hidup berkeluarga memang sama- sama dapat melayani Tuhan, namun tidak dapat diingkari bahwa mereka yang selibat demi mewartakan Kerajaan Allah, memberikan dirinya secara lebih total kepada Allah.

      Selanjutnya, jika ada topik yang ingin anda ketahui, anda dapat menggunakan fasilitas pencarian di sudut kanan homepage, ketik topik yang ingin anda ketahui, lalu enter. Semoga anda sudah menemukan pembahasannya di sana, silakan klik di judulnya. Jika masih ada pertanyaan tentang topik tersebut, silakan bertanya di bawah artikel tersebut. Atau silakan masuk ke rubrik Arsip, dan temukan di sana berbagai topik tentang iman Katolik. Jika pembahasannya belum ada, silakan anda masuk ke rubrik Buku Tamu, dan ketiklah pertanyaan anda.

      Akhirnya, kami mohon agar anda tidak menulis dengan huruf besar semua, karena dalam bahasa internet, hal itu menunjukkan bahwa yang menulis sedang berteriak/ marah. Kami percaya anda tidak sedang marah kepada kami, dan karenanya mohon janganlah menulis dengan huruf kapital semua.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. syalom,,
    dalam artikel di atas dikatakan : “pasti mengetahui hari dan saatnya Penghakiman Terakhir di dalam diriNya sebagai manusia, namun demikian Ia tidak mengetahui hal itu dari kapasitasnya sebagai manusia….”
    mohon bisa dijelaskan lebih lanjut mengenai pernyataan tersebut karena saya belum mengerti betul…
    “di dalam diriNya sebagai manusia” dan “dari kapasitasnya sebagai manusia”….
    kalau bisa disertakan dengan contoh konkret….
    trima kasih

    [Dari Katolisitas: pertanyaan berikut ini digabungkan karena masih satu topik]

    syalom,,
    maaf, saya mau menambahkan pertanyaan saya,,
    di atas juga dikatakan bahwa Tuhan Yesus tidak mengizinkan hal tersebut (kiamat) untuk diketahui..
    Maksudnya bagaimana..?
    Trima kasih

    Lian

    • Shalom Lian,

      Adanya kedua kodrat dalam diri Yesus, yaitu kemanusiaan dan ke- AllahanNya, itu yang menjadikan adanya dua kehendak dan dua pengetahuan dalam Diri Yesus, ketika Ia menjelma menjadi manusia. Ada dua prinsip kehendak ini kita lihat misalnya pada waktu Ia berdoa di sakrat mautnya, di mana, kehendak-Nya sebagai manusia menginginkan agar piala kesengsaraan itu berlalu daripada-Nya, sedangkan kehendakNya sebagai Allah, tentu sama dengan kehendak Allah Bapa, yaitu menyelesaikan tugas misi- Nya dengan wafat di kayu salib, seperti yang telah berkali- kali diberitahukanNya kepada para murid (sedikitnya tiga kali)- bahwa Ia akan diserahkan ke tangan orang Yahudi untuk disalibkan, demi menyelamatkan umat manusia. Walaupun demikian, kehendak Yesus sebagai manusia pada akhirnya mengikuti kehendak-Nya sebagai Allah, saat Ia berkata, “tetapi bukanlah kehendak-Ku melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Luk 22:42)

      Demikian pula dengan adanya dua pengetahuan dalam diri Yesus, seperti sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Maka, pengetahuan tentang kapan persisnya hari dan saatnya akhir dunia, itu tidak diperoleh dari kodrat-Nya sebagai manusia. Namun demikian, karena Yesus adalah Allah, Ia pasti mengetahui tentang saat dan hari akhir dunia itu dari kodrat-Nya sebagai Allah, karena Ia mempunyai persamaan hakekat dengan Allah Bapa. Jika Allah Bapa mengetahuinya, maka Yesus sebagai Allah Putera juga mengetahuinya.

      Maka walaupun Yesus mengetahui tentang hari dan saat-nya akhir dunia, tetapi di dalam kebijaksanaan-Nya, Ia tidak menyatakan hal itu kepada manusia. Tentu Allah mempunyai pertimbangannya sendiri mengapa demikian, yaitu agar manusia dapat terus berjaga- jaga sambil menantikan saatnya. Prinsip berjaga- jaga inilah yang diajarkan-Nya, dan ini masih berlaku sampai sekarang. Itulah sebabnya maka kita tidak perlu mempercayai jika ada orang memprediksikan secara tepat, hari dan saatnya akhir dunia, karena ini menyalahi Sabda Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” (lih. Mat 25:13, 24:42). Buktinya, sudah banyak orang sepanjang sejarah yang memprediksikan akhir dunia sampai ke hari dan tanggalnya, tetapi faktanya tidak ada satupun perkiraan itu yang terpenuhi, sebab dunia masih eksis sampai sekarang.

      Agaknya sikap “berjaga- jaga” itulah yang harus kita miliki, sambil menantikan saat kedatangan Yesus, entah pada saat kematian kita ataupun pada saat akhir jaman nanti.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: