Sudahkah Kita Pahami Pengertian Ekaristi?

80

Pendahuluan

Karena Ekaristi adalah Yesus Kristus sendiri, Ekaristi menjadi ‘jantung’ dari iman Katolik. Katekismus Gerja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani” (KGK 1324) dan “hakikat dan rangkuman iman kita” (KGK 1327). Tentu idealnya semua orang Katolik mengetahui hal ini, tetapi sayangnya, kenyataan berbicara lain. Di Amerika, menurut polling pendapat yang diadakan oleh Gallup poll pada tahun 1992, pengertian ini tidak dimiliki oleh sebagian besar umat Katolik.[1] Hal yang serupa mungkin pula terjadi di Indonesia.

Hasil yang diperoleh cukup menggambarkan bahwa banyak orang Katolik yang tidak tahu dengan persis bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dalam Ekaristi:

  • 30% percaya bahwa mereka sungguh-sungguh dan benar-benar menerima Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan Yesus Kristus dalam rupa roti dan anggur.
  • 29% percaya bahwa mereka menerima roti dan anggur yang melambangkan Tubuh dan Darah Kristus.
  • 10% percaya mereka menerima roti dan anggur di mana di dalamnya Yesus juga hadir.
  • 24% percaya mereka menerima Tubuh dan Darah Yesus karena iman mereka sendiri mengatakan demikian.

Orang yang benar-benar mengerti akan pengajaran Gereja Katolik akan mengetahui bahwa pilihan yang benar itu hanya pilihan pertama, sedangkan pilihan yang lain itu keliru. Sayangnya, hanya 30% umat Katolik yang mengerti akan kebenaran ini; sedangkan 70% yang lain sepertinya ‘bingung’ atau memegang kepercayaan gereja lain yang bukan Katolik. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, termasuk golongan mana kita ini?

Apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Ekaristi?

1. Kehadiran Yesus Kristus yang real dan substansial di dalam Ekaristi

Selama kira-kira 2000 tahun, Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa Yesus Kristus sungguh hadir, real dan substansial, di dalam Ekaristi, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya di dalam rupa roti dan anggur (KGK 1374). Pada saat imam selesai mengucapkan doa konsekrasi – “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku”, Tuhan secara ajaib mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Kejadian ini disebut sebagai “transubstansiasi“, yang mengakibatkan substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (lih. KGK 1376). Jadi yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur, tetapi substansi roti dan anggur sudah lenyap, digantikan dengan kehadiran Yesus.

Yesus hadir seutuhnya di dalam roti itu, bahkan sampai di partikel yang terkecil dan di dalam setiap tetes anggur. Pemecahan roti bukan berarti pemecahan Kristus, sebab kehadiran Kristus utuh, tak berubah dan tak berkurang di dalam setiap partikel. Dengan demikian kita dapat menerima Kristus di dalam rupa roti saja, atau anggur saja, atau kedua bersama-sama (lih. KGK 1390). Dalam setiap hal ini, kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen.

Karena Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, maka kita memberi hormat di depan tabernakel, kita berlutut dan menundukkan diri sebagai tanda penyembahan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Gereja memperlakukan Hosti Kudus dengan hormat, dan melakukan prosesi untuk menghormati Hosti suci yang disebut Sakramen Maha Kudus, dan mengadakan adorasi di hadapan-Nya dengan meriah (lih. KGK 1378).

Kehadiran Kristus di dalam Ekaristi bermula pada waktu konsekrasi dan berlangsung selama rupa roti dan anggur masih ada (KGK 1377), maksudnya pada saat roti dan anggur itu dicerna di dalam tubuh kita dan sudah tidak lagi berbentuk roti, maka itu sudah bukan Yesus. Jadi kira-kira Yesus bertahan dalam diri kita [dalam rupa hosti]selama 15 menit. Sudah selayaknya kita menggunakan waktu itu untuk berdoa menyembah-Nya, karena untuk sesaat itu kita sungguh-sungguh menjadi tabernakel Allah yang hidup!

Kristus sendiri yang mengundang kita untuk menyambut Dia dalam Ekaristi (KGK 1384), dan karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang agung dan kudus ini, dengan melakukan pemeriksaan batin. Karena Ekaristi itu sungguh-sungguh Allah, maka kita tidak boleh menyambutNya dalam keadaan berdosa berat. Untuk menyambut-Nya dengan layak kita harus berada dalam keadaan berdamai dengan Allah. Jika kita sedang dalam keadaan berdosa berat, kita harus menerima pengampunan melalui Sakramen Tobat sebelum kita dapat menyambut Komuni Kudus (KGK 1385).

2. Keutamaan Ekaristi disebabkan karena di dalamnya terkandung Kristus sendiri

Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG 11) karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri (KGK 1324). Pada perjamuan terakhir, pada malam sebelum sengsara-Nya, Kristus menetapkan Ekaristi sebagai tanda kenangan yang dipercayakan oleh Kristus kepada mempelai-Nya yaitu Gereja (KGK 1324). Kenangan ini berupa kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus yang disebut sebagai Misteri Paska, yang menjadi puncak kasih Allah yang membawa kita kepada keselamatan (KGK 1067). Keutamaan Misteri Paska dalam rencana Keselamatan Allah mengakibatkan keutamaan Ekaristi, yang menghadirkan Misteri Paska tersebut, di dalam kehidupan Gereja (KGK 1085).

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kurban salib Kristus terjadi hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr 9:28). Kristus tidak disalibkan kembali di dalam setiap Misa Kudus, tetapi kurban yang satu dan sama itu dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus (KGK 1366). Hal itu dimungkinkan karena Yesus yang mengurbankan Diri adalah Tuhan yang tidak terbatas oleh waktu dan kematian. Kristus telah mengalahkan maut, karenanya Misteri Paska-Nya tidak hanya terbenam sebagai masa lampau, tetapi dapat dihadirkan di masa sekarang (KGK 1085). Karena bagi Tuhan, segala waktu adalah ‘saat ini’, sehingga masa lampau maupun yang akan datang terjadi sebagai ‘saat ini’. Dan kejadian Misteri Paska sebagai ‘saat ini’ itulah yang dihadirkan kembali di dalam Ekaristi, dengan cara yang berbeda, yaitu secara sakramental. Dengan demikian, Ekaristi menjadi kenangan hidup akan Misteri Paska dan akan segala karya agung yang telah dilakukan oleh Tuhan kepada umat-Nya, dan sekaligus harapan nyata untuk Perjamuan surgawi di kehidupan kekal (lih. KGK 1362,1364,1340,1402,1405).

3. Beberapa nama Ekaristi dan artinya

Ekaristi berasal dari kata ‘eucharistein‘ yang artinya ucapan terima kasih kepada Allah (KGK 1328). Ekaristi adalah kurban pujian dan syukur kepada Allah Bapa, di mana Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah Bapa untuk segala kebaikan-Nya di dalam segala sesuatu: untuk penciptaan, penebusan oleh Kristus, dan pengudusan. Kurban pujian ini dinaikkan oleh Gereja kepada Bapa melalui Kristus: oleh Kristus, bersama Dia dan untuk diterima di dalam Dia. (KGK 1359-1361)

Ekaristi adalah Perjamuan Tuhan, yang memperingati perjamuan malam yang diadakan oleh Kristus bersama dengan murid-murid-Nya. Perjamuan ini juga merupakan antisipasi perjamuan pernikahan Anak Domba di surga (KGK 1329).

Ekaristi adalah kenangan akan kesengsaraan dan kebangkitan Tuhan (KGK 1330). Ekaristi diadakan untuk memenuhi perintah Yesus untuk merayakan kenangan akan hidup-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan akan pembelaan-Nya bagi kita di depan Allah Bapa (KGK 1341).

Ekaristi adalah Kurban kudus, karena ia menghadirkan kurban tunggal Yesus, dan juga kurban penyerahan diri Gereja yang mengambil bagian dalam kurban Yesus, Kepalanya (KGK 1330, 1368). Sebagai kenangan Paska Kristus, Ekaristi menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban Kristus satu-satunya dalam liturgi Gereja (KGK 1362, 1365). Ekaristi menghadirkan kurban salib dan memberikan buah-buahnya yaitu pengampunan dosa (KGK 1366).

Ekaristi adalah Komuni kudus, karena di dalam sakramen ini kita menerima Kristus sendiri (KGK 1382) dan dengan demikian kita menyatukan diri dengan Kristus, yang mengundang kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya, supaya kita membentuk satu Tubuh dengan-Nya (KGK 1331).

Ekaristi dikenal juga dengan Misa kudus, karena perayaan misteri keselamatan ini berakhir dengan pengutusan umat beriman (missio) supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari.

4. Buah-buah Ekaristi/ Komuni kudus

  • Komuni memperdalam persatuan kita dengan Yesus, hal ini berdasarkan atas perkataan Yesus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia” (KGK 1391).
  • Komuni memisahkan kita dari dosa, karena dengan mempersatukan kita dengan Kristus kita sekaligus dibersihkan dari dosa yang telah kita lakukan dan melindungi kita dari dosa-dosa yang baru (KGK 1393).
  • Ekaristi membangun Gereja di dalam kesatuan. Oleh Ekaristi Kristus mempersatukan kita dengan semua umat beriman menjadi satu Tubuh, yaitu Gereja. Ekaristi memperkuat kesatuan dengan Gereja yang telah dimulai pada saat pembaptisan (KGK 1396). Kesatuan dengan Gereja ini mencakup Gereja yang masih berziarah di dunia, Gereja yang sudah jaya di Surga, dan Gereja yang masih dimurnikan di dalam Api Penyucia (lih. KGK 954)
  • Ekaristi mewajibkan kita terhadap kaum miskin, sebab dengan bersatu dengan Kristus dalam Ekaristi, kita juga mengakui Kristus yang hadir di dalam orang-orang termiskin yang juga menjadi saudara-saudara-Nya (KGK 1397), yang di dalam Dia, menjadi saudara-saudara kita juga.
  • Ekaristi mendorong kita ke persatuan umat beriman, sebab Ekaristi, menurut perkataan Santo Agustinus adalah ‘sakramen kasih sayang, tanda kesatuan dan ikatan cinta,’ (KGK 1398) yang seharusnya secara penuh dialami bersama oleh semua orang yang beriman di dalam Kristus.

Dasar pengajaran tentang Ekaristi dari Alkitab

1. Perjanjian Lama:

  • Imam Agung Melkisedek mempersembahkan roti dan anggur (Kej 14:18) yang menggambarkan Perjamuan Yesus pada Perjamuan Terakhir. Yesus sendiri dikatakan sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek (Ibr 6:20).
  • Kurban anak domba Paska yang menyelamatkan umat Israel merupakan kurban yang dimakan sebagai makanan untuk menguatkan mereka menempuh perjalanan ke Tanah Terjanji (Kej 12:1-20). Hal ini menggambarkan Ekaristi yang merupakan kurban Anak Domba Allah, yaitu Yesus, yang dimakan sebagai makanan untuk menjadi bekal perjalanan kita ke Tanah Terjanji, yaitu surga.
  • Roti Manna yang menjadi simbol Ekaristi pada Perjanjian Lama. Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia adalah Roti manna yang turun dari surga (lih. Yoh 6:32-51). Seperti halnya bahwa manna menguatkan bangsa Israel sepanjang perjalanan di gurun dan berhenti dicurahkan setelah mereka sampai di Tanah Terjanji; Ekaristi juga diberikan untuk menguatkan kita di perjalanan hidup di dunia, dan berhenti setelah kita sampai di surga.
  • Pada Tabut Perjanjian Lama menggambarkan tabernakel pada gereja Katolik di manapun, yang merujuk pada Ekaristi. Dua loh batu (Kel 25:16) menggambarkan sabda kehidupan yang terkandung dalam Ekaristi. Manna (Kel 16:34) menggambarkan Ekaristi sebagai roti hidup yang turun dari surga (Yoh 6:51). Tongkat Harun (Bil 17: 5) yang menandai imamatnya, menggambarkan peran Imamat kudus dalam Kristus, yaitu tubuhNya. Seperti tongkat Harun yang bertunas, tubuh Yesus yang ditembus oleh tombak mengeluarkan air dan darah yang melambangkan sakramen Pembaptisan dan Ekaristi.[2]

2. Perjanjian Baru:

Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi, seperti dinyatakan:

  • Pada Perjamuan Terakhir Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk mengenangkan Dia dengan merayakan perjamuan tersebut. Yesus berkata, “Inilah Tubuh-Ku… (bukan ini melambangkan Tubuh-Ku)… (lih Mat 26:26-28; Mrk 14:22-24; Luk 22:15-20).”
  • Yesus mengatakan sendiri bahwa Ia adalah “Roti hidup yang turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, dia akan hidup selama-lamanya; dan roti yang Ku-berikan itu ialah daging-Ku yang Kuberikan untuk hidup dunia (Yoh 6:35, 51).
  • Pengajaran ini diberikan setelah Yesus mengadakan mukjizat pergandaan roti, yaitu mukjizat yang ditulis di dalam ke-empat Injil (Mat 14:13-21; Mrk 6:32-44; Luk 9:10-17; Yoh 6:1-15). Lima roti yang sama yang dibagikan oleh para rasul dapat memberi makan 5000 orang, dengan sisa 12 keranjang. Ini menggambarkan Yesus yang satu dan sama hadir dalam Ekaristi, dapat dibagikan kepada semua orang, tanpa Dia sendiri menjadi terbagi-bagi atau berkurang/ hilang.
  • Yesus berkata bahwa Ia lebih tinggi nilainya dari pada manna yang diberikan kepada orang Israel di gurun. Padahal mukjizat manna adalah suatu mukjizat yang besar, setiap harinya berjuta orang Israel menerima 1 omer (1.1 liter) roti manna per orang, sehingga tiap harinya ada beberapa ratus ton roti manna tercurah dari langit, selama 40 tahun.[3] Yesus mengatakan bahwa mukjizat-Nya lebih hebat daripada mukjizat manna ini, sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa di dalam Ekaristi, roti dapat sungguh-sungguh diubah Yesus menjadi diri-Nya sendiri, seperti yang dikatakan-Nya.
  • Orang-orang yang mendengarkan pengajaran ‘Roti Hidup’ ini memahami bahwa Yesus mengajarkan sesuatu yang literal (tidak figuratif/ simbolis), sehingga mereka meninggalkan Yesus sambil berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya untuk dimakan” (Yoh 6:52)
  • Yesus menggunakan gaya bahasa yang kuat untuk menjelaskan arti literal pengajaran ini dengan mengulangi pengajaran ini sampai 6 kali di dalam 6 ayat (ay. 53-58),… jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu (Yoh 6:53); Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman (Yoh 6:55). Ini adalah gaya bahasa yang bukan kiasan/ simbolis!
  • Banyak murid tidak dapat menerima pengajaran ini, dan meninggalkan Yesus (ay.66), tetapi Yesus tidak menarik kembali pengajaran-Nya tentang diri-Nya sebagai “Roti Hidup”. Dia tidak mengatakan bahwa Dia hanya berkata secara figuratif/simbolis. Pada beberapa kesempatan, jika Ia berbicara secara figuratif, Yesus menerangkan kembali maksud perkataan-Nya pada para murid-Nya yang mengartikannya secara literal. (Contohnya pada Yoh 4:31-34, Yesus menjelaskan bahwa ‘makanan-Nya yang tidak mereka kenal’ adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Atau pada Mat 16:5-12; tentang ragi orang-orang Farisi dan Saduki, maksudnya adalah bukan ragi secara literal, tetapi pengajaran mereka)[4]
  • Setelah banyak yang meninggalkan Dia karena pengajaran ini, Yesus bahkan bertanya kepada ke dua-belas rasulNya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”(Yoh 6:67). Namun Petrus menjawab, “Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh 6:69). Pertanyaan yang sama ditujukan pada kita, apakah kita mau percaya akan pengajaran ini seperti Petrus, ataukah kita seperti murid-murid lain yang meninggalkan Dia?
  • Rasul Paulus mengingatkan jemaat agar tidak menerima Ekaristi secara tidak layak, supaya tidak berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan (1 Kor 11:27). Rasul Paulus juga menambahkan, jika seseorang makan dan minum tanpa mengakui Tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri (1 Kor 11:28-29). Pengajaran ini tidak masuk di akal, jika kehadiran Yesus dalam Ekaristi hanya simbolis belaka. Kesimpulannya, St. Paulus jelas mengajarkan bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi.

3. Bukti dari para Bapa Gereja di abad awal

Tulisan para Bapa Gereja di abad awal merupakan bukti yang sangat penting tentang ‘keaslian’ pengajaran tentang Ekaristi. Para Bapa Gereja merupakan saksi yang menjamin keaslian pengajaran Alkitab, karena mereka sungguh-sungguh menyaksikan para rasul mengajar dan menuliskan Injil, seperti Rasul Matius, Yohanes dan St. Paulus menuliskan surat-suratnya. Melalui tulisan-tulisan mereka, kita mengetahui Tradisi Suci para Rasul, seperti Kehadiran Yesus dalam Ekaristi, Misa Kudus, kepemimpinan Rasul Petrus, devosi kepada Maria, Api penyucian, dll. Semua pengajaran ini adalah pengajaran yang diteruskan oleh Gereja Katolik. Berikut ini adalah para Bapa Gereja yang mengajarkan tentang kehadiran Yesus di dalam Ekaristi:

  1. Ignatius dari Antiokhia, murid dan pembantu Rasul Yohanes, uskup ke-3 di Antiokhia. Tahun 110 ia menulis 7 surat kepada gereja-gereja sebelum kematiannya sebagai martir di Roma. Pada suratnya ke gereja di Smyrna, St. Ignatius menyebutkan bahwa mereka yang tidak percaya kepada ‘Kehadiran Yesus di dalam Ekaristi’ adalah sesat (‘heretics‘).[5] Kepada gereja di Roma, St. Ignatius menuliskan imannya tentang Ekaristi yang sungguh-sungguh adalah Tubuh dan Darah Yesus.[6]
  2. St. Yustinus Martir, pengikut Kristus pada tahun 130, yang mendapat pengajaran dari Rasul Yohanes, seorang Apologist yang terkenal di abad ke-2. Pada tulisannya kepada Emperor di Roma, yaitu “Apology” pada tahun 150, St. Yustinus juga menjelaskan kebenaran pengajaran tentang kehadiran Yesus di dalam Ekaristi.[7]
  3. St. Irenaeus, uskup Lyons, hidup tahun 140-202. Ia murid St. Polycarpus yang adalah murid Rasul Yohanes. Dengan menuliskan bukunya yang terkenal, “Against Heresies” (195), ia menghancurkan pandangan sesat yang bertentangan dengan kepercayaan Gereja yang dipegang oleh para rasul.[8]
  4. St. Cyril dari Yerusalem, pada tahun 350 mengajarkan agar kita sebagai pengikut Kristus percaya sepenuhnya akan kehadiran Yesus di dalam Ekaristi, sebab Yesus sendiri yang mengatakannya[9]
  5. St. Hilary, uskup Poitiers, Perancis, tahun 315-367. Dengan karyanya, “On the Trinity” (356), St. Hilary mengajarkan kehadiran Kristus dalam Ekaristi yang kita terima menjadikan kita tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita.[10]

Para Bapa Gereja ini membuktikan bahwa jemaat Kristen awal percaya akan Kehadiran Yesus di dalam Ekaristi. Perhatikanlah bahwa St. Ignatius adalah murid Rasul Yohanes, sedangkan St. Yustinus Martir dan St. Irenaeus belajar langsung dari murid-murid Rasul Yohanes. Mereka semua mendapat pengajaran dari Rasul Yohanes yang menulis tentang Yesus sebagai “Roti Hidup” (Yoh 6). Siapa yang dapat mengatakan bahwa ia lebih memahami pengajaran Yesus tentang ‘Roti Hidup’ ini dari pada mereka yang mendengar langsung/ murid dari Rasul Yohanes?

Kesimpulan

Jika kita dengan hati terbuka mempelajari Alkitab, dan tulisan para Bapa Gereja, kita akan melihat bahwa kenyataan menunjukkan bukti yang kuat yang mendasari pengajaran Gereja Katolik tentang Kehadiran Yesus secara real dan substansial di dalam Ekaristi. Yesus sendiri hadir di dalam Ekaristi, di dalam rupa roti dan anggur, dan sudah menjadi kehendak-Nya agar kita mengenangkan Dia melalui perjamuan ini, agar kita dapat mengambil bagian di dalam Misteri Paska-Nya yang mendatangkan keselamatan bagi dunia. Ekaristi adalah cara yang dipilih Yesus agar kita dapat tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Percaya penuh akan kehadiran-Nya di dalam Ekaristi dan menerima Ekaristi dengan sikap yang benar merupakan bentuk perwujudan iman dan kasih kita kepada Tuhan yang terlebih dahulu mengasihi kita sampai wafat di salib. Mari kita menerima dengan hati terbuka, cara Yesus mengasihi kita di dalam Ekaristi. Mari kita berdoa, agar makin hari kita makin dapat menghayati kasih-Nya yang tak terbatas, yang tercurah pada kita melalui Sakramen yang Maha Kudus ini…


CATATAN KAKI:
  1. Father Frank Chacon, Jim Burnham, Beginning Apologetics 3, How to Explain and Defend the Real Presence of Christ in the Eucharist, (San Juan Catholic Seminars, NM), p. 4. []
  2. Lihat Father Frank Chacon, Ibid., p. 9. []
  3. Lihat Father Frank Chacon, Ibid., p. 10. []
  4. Lihat Father Frank Chacon, Ibid., p. 11. []
  5. Terjemahan dari Letter to Smynaeans 6, 2; Jurgens, p.25, #64, “Perhatikanlah mereka yang memegang pendapat yang bermacam-macam tentang rahmat Yesus Kristus yang diberikan kepada kita, dan lihatlah bagaimana pendapat mereka bertentangan dengan pikiran Tuhan… Mereka menolak Ekaristi dan doa, karena mereka tidak mengakui bahwa Ekaristi adalah sungguh Tubuh Yesus Kristus Penebus kita. Tubuh yang sudah menderita demi dosa-dosa kita, dan yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa dengan kebaikan-Nya.” []
  6. Terjemahan dari Letter to the Romans 7,3, Jurgens, p.22, # 54a., “Aku tidak menginginkan makanan sementara maupun kesenangan untuk hidup ini. Aku menginginkan Roti dari Tuhan, yaitu Tubuh (Flesh) Yesus Kristus, yang adalah keturunan Daud, dan untuk minum, aku menginginkan Darah-Nya, yang adalah kasih yang abadi.” []
  7. Terjemahan dari First Apology 66, 20; Jurgens, p. 55, # 128, “Kami menamakan makanan ini Ekaristi; dan tidak ada seorangpun yang diizinkan untuk mengambil bagian di dalamnya, kecuali bagi yang percaya bahwa pengajaran kami adalah benar … Sebab bukan sebagai roti biasa atau minuman biasa kami mempercayai ini; tetapi karena Yesus Kristus telah dilahirkan melalui Sabda Tuhan dan memiliki tubuh dan darah untuk keselamatan kita, demikian pula, seperti kami diajarkan, makanan yang telah dijadikan sebagai Ekaristi dengan doa Ekaristi sebagaimana diajarkan oleh-Nya, dan dengan perubahannya yang menguatkan tubuh dan darah kami, adalah Tubuh dan Darah dari Yesus, Sabda yang menjadi manusia.” []
  8. Terjemahan dari Against Heresies 5,2,2; Jurgens, p.99, #249, “Ia(Yesus) telah menyatakan piala itu, sebagai bagian dari ciptaan, sebagai Darah-Nya sendiri, daripadanya Ia menyebabkan darah kita mengalir; dan roti itu, sebagai bagian dari ciptaan, Dia telah menjadikannya sebagai Tubuh-Nya sendiri, daripadanya Ia memberikan pertumbuhan pada tubuh kita.” []
  9. Terjemahan dari Catechetical Lectures: 22 (Mystagogic 4),1; Jurgens, p. 360, #843, “Dia (Yesus), dengan demikian, menyatakan dan mengatakan tentang Roti itu, “Ini adalah Tubuh-Ku,” siapa yang akan berani untuk terus meragukan? Dan ketika Ia sendiri mengatakan, “Ini adalah Darah-Ku,” siapa yang dapat ragu dan mengatakan bahwa itu bukan Darah-Nya?”
    Terjemahan dari Catechetical Lectures: 22 (Mystagogic 6),1; Jurgens, p. 361, #846, “Karena itu, jangan menganggap bahwa roti dan anggur itu hanya semata-mata roti dan anggur, sebab mereka adalah, menurut perkataan Tuhan kita, Tubuh dan Darah Kristus. Walaupun perasaan mengatakan kepadamu sesuatu yang lain, biarlah iman membuat kamu teguh percaya. Jangan melihat berdasarkan rasa, tetapi percayalah penuh dengan iman, jangan meragukan, bahwa kamu telah dianggap layak untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus.” []
  10. Terjemahan dari On the Trinity, Bk 8, Ch 14: dikutip oleh John Willis, S.J., dalam The Teachings of the Church Fathers, (Ignatius Press, San Francisco, 2002), p. 405, ” Dia (Yesus) sendiri berkata: ‘Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku tinggal dalam Aku dan Aku di dalam Dia’ (Yoh 6:55,56). Kita tidak boleh meragukan rupa tubuh dan darah itu, sebab sesuai dengan pernyataan dari Tuhan sendiri, dan sesuai dengan iman kita, ini adalah daging dan darah (Kristus). Dan kedua rupa ini yang kita terima menjadikan kita tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita….” []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

80 Comments

  1. Jika pihak mempelai perempuan dibaptis secara Kristen Katolik sedang mempelai laki secara Kristen Protestan, apakah pengesahan perkawinannya di gereja itu hanya upacara pemberkatan saja atau bisa Sakramen Perkawinan. Jika sakramen perkawinan, apakah boleh dengan Misa yang konsekuensinya adalah liturgi Ekaristi dengan penerimaan komuni padahal setahu saya penerimaan komuni hanya bagi umat Katolik yang sudah dibaptis secara Katolik. Bagaimana solusinya?

    • RD. Bagus Kusumawanta on

      Andryhat yth

      Perayaaan perkawinan antara orang-orang yang terbaptis adalah sakramen. Baptisan Kristen jika mengikuti forma dan materi yang diakui Gereja Katolik adalah sah dan keduanya sakramental. Bisa dilakukan dengan perayaan Ekaristi pun pula jika baptisannya tidak diakui Gereja Katolik dengan izin ordinaris bisa dengan Ekaristi sebagai puncak dan perayaan iman Gereja. Tentu tidak komuni, yang komuni hanya katolik, pihak yang Katolik saja dan umat. Tidak menjadi suatu hal yang bermasalah, perayaan ekumene pun dianjurkan oleh Gereja Katolik sesuatu yang baik.

      salam
      Rm Wanta

  2. Herman Jay on

    Sejarah Pembuatan Hosti dan Anggur Ekaristi
    1. Kapan dimulai pembuatan hosti seperti dalam bentuk sekarang ini.
    2.Di beberapa toko benda-benda rohani, dijual juga hosti. Bahkan anak-anak membelinya dan mengunyah-ngunyah sambil jalan di sebuah mal. Apakah hosti yang dijual di toko tersebut berasal dari biara katolik atau dibuat oleh pihak non katolik?
    3.Kapan dimulai pembuatan anggur seperti dalam bentuk yang sekarang ini?
    4.Apakah Keuskupan-keuskupan di Indonesia mendapatkan anggur tersebut dari satu sumber saja? Apakah anggur itu sudah produksi lokal asli Indonesia?
    5. Bagimana komposisi anggur ekaristi dibanding anggur yang diperdagangkan?
    6. Kalau di suatu daerah terpencil, terjadi kehabisan anggur, apa alternatif anggur yang dapat digunakan Pastor?
    7.Info dari tetangga sebelah: roti perjamuan kudus di gereja non katolik dapat dibawa pulang dan disimpan di lemari es. Dapat dimakankapan saja jika dibutuhkan. Rasanya tubuh Yesus menjadi lebih dekat dan menyatu di rumah tangga, apa demikian?

    • Shalom Herman Jay,

      1. Menurut keterangan yang kami peroleh dari Catholic Encyclopedia, bentuk hosti seperti sekarang telah ada sejak abad ke-9, (menurut Abbé Corblet), atau sebelumnya, menurut penemuan di Karthago, ditemukan alat pencetak hosti yang berasal dari abad ke 6-7. Selanjutnya tentang sejarah pembuatan hosti, silakan membaca di link ini, silakan klik.

      2. Nampaknya roti berbentuk hosti yang dijual di mall-mall bukan hosti yang dibuat oleh biara Katolik.

      3. Ketika Yesus menentukan anggur untuk diubah-Nya menjadi Darah-Nya, itu adalah anggur (wine) yang terbuat dari buah anggur asli (lih KHK 924 § 3) yang terfermentasi, (jadi bukan jus anggur) karena wine itulah yang digunakan oleh Kristus saat menginstitusikan Ekaristi pada Perjamuan Terakhir.  Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Nomor 4 s/d 6 ini dijawab oleh Rm Santo, demikian:

      4. Sampai saat ini anggur untuk Ekaristi diimpor dari Australia. Sedang ada upaya membuat pabrik anggur Ekaristi Indonesia dengan tanaman anggur yang ditanam di Indonesia pula.

      5. Anggur Ekaristi sesuai yang ketentuan Yesus Kristus Tuhan kita ialah asli dari buah anggur yang difermentasi, tanpa tambahan zat lain. Hal ini berbeda dari anggur yang diproduksi untuk keperluan lain.

      6. Satu-satunya pemecahan masalah ini ialah dengan  mendatangkan anggur misa dari tempat lain. Jika gagal, maka tidak ada misa, demi dan sesuai perintah Tuhan kita. Acara bisa diganti pengajaran, doa bersama, ibadat sabda tanpa misa.

      7. Gereja Katolik tidak memperbolehkan orang membawa pulang hosti yang sudah dikonsekrasikan untuk disimpan di rumah, apalagi ditaruh di dalam lemari es. Tubuh dan Darah Kristus harus dimakan pada saat perayaan Ekaristi, dalam kesatuan dengan perayaan liturgi Gereja, karena itulah yang diperintahkan oleh Kristus, “Terimalah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku… (lih. Mat 26:26; Mrk 14:22) … perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19)… barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” (1Kor 11:27). Maka hal memakan Tubuh Kristus dan minum Darah Kristus itu adalah suatu tindakan yang sakral, yang tidak dapat disamakan dengan memakan makanan biasa lainnya; demikian pula, tidak selayaknya menyimpan Tubuh dan Darah Tuhan di dalam lemari es, bersamaan dengan segala makanan biasa lainnya. Ini merupakan pencampuradukkan antara hal yang profan dan sakral, dan menurut Kitab Suci, ini dikecam oleh Allah (lih. Dan 5). Maka mari memperhatikan apa yang menjadi kehendak Allah dan bukannya memaksakan kehendak manusia, yang menginginkan untuk memakan Tubuh Kristus kapan saja, seturut cara dan keinginan manusia.

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa jika Tubuh dan Darah Kristus tidak diperlakukan dengan hormat, itu adalah tindakan dosa sakrilegi:

      KGK 2120    Sakrilegi dilakukan seorang yang menajiskan atau tidak menghormati Sakramen-sakramen atau tindakan liturgi yang lain, pribadi, benda, atau tempat yang telah ditahbiskan kepada Allah. Sakrilegi itu lalu merupakan dosa berat khusus, apabila itu ditujukan kepada Ekaristi, karena di dalam Sakramen ini, Tubuh Kristus hadir secara substansial (Bdk. KHK, Kann. 1367; 1376)

      Mari kita menghormati Ekaristi sebagaimana Gereja menghormatinya, dan melaksanakan perayaannya dengan pantas, sebagaimana dikehendaki oleh Kristus.

      Demikian tanggapan kami atas pertanyaan Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      RD Yohanes Dwiharsanto,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Dear Ingrid Listiati,

    saya ingin bertanya mengenai perintah Yesus “….perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

    apakah ini dapat diartikan bahwa Yesus memberi kuasa kepada muridNya untuk mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darahNya?

    saya tdk bermaksud untuk meragukan, saya hanya ingin mengerti, mengapa kedengarannya bagi saya Yesus hanya menyuruh para murid untuk mengenangNya, dan bukan memebri mereka kuasa untuk konsekrasi? saya perecaya bahwa Yesus sendiri tentu bisa mengubah kodrat roti itu menjaid tubuhNya, tetapi yg saya tanyakan apakah para murid juga memiliki kuasa itu?

    karena ketika Yesus memberi kuasa kepada Petrus untuk mengampuni dosa ia jelas2 berkata” kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan sorga…..”

    nah sya tdk melihat adanya penyerahan kuasa yang konkrit seumpama “kepadamu kuberikan kuasa untuk mengkonsekrasi roti dan anggir ini menjadi…”

    Demikian apakah bisa kita yakini bahwa roti yang dikonsekrasi oleh imam sama dengan roti yang dikonsekrasi oleh Yesus pada malam perjamuan terakhir?

    Salam sejahtera

    [dari katolisitas: Silakan melihat diskusi ini - silakan klik]

  4. Salam Damai Sejahtera dalam Kristus,
    Halo tim Katolisitas,salam kenal sy sangat berterimakasih dengan adanya artikel ini krn sy gunakan sbg bahan renungan di lingkungan dan umat sangat terharu dan mjd diteguhkantentang pemahaman Ekaristi krn walaupun sy br berumur 33thn ttp sy sudah dipercaya mjd PIU lingkungan,dan sekali lagi terimakasih “Tuhan adalah satu dan sama dan tak pernah berkesudahan”.salam kenal sy dari paroki Mlati,Sleman.St.Aloysius Gonzaga.Tuhan Memberkati.

    [Dari Katolisitas: Kami turut bersyukur jika ternyata apa yang ada di situs ini dapat membantu Anda dan umat di lingkungan Anda untuk semakin mengenali iman Katolik. Semoga dengan semakin mengenali iman kita, kita semakin dapat menghayatinya. Salam hangat kami kepada Anda sekeluarga dan umat lingkungan Anda. Tak ada kata terlalu muda untuk menjadi pemandu lingkungan. Semoga justru teladan hidup dan semangat Anda yang masih muda, dapat memberi inspirasi kepada banyak orang, baik yang sudah lebih senior, maupun juga kepada sesama orang muda.]

  5. F.X. Indra Hewmawan on

    Saya ada pertanyaan mengenai ibadah/misa secara Katolik.
    Pada waktu malam Natal, dikarenakan jauh dari Gereja Katolik (2 jam perjalanan) dan tidak mendukungnya situasi jika melakukan perjalanan malam (daerah hutan sawit) saya awalnya memutuskan untuk misa pada waktu Misa Keluarga Kudus yaitu tgl 30 Desember 2013, namun puji Tuhan saya menemukan Gereja Katolik (stasi) dekat dengan rumah (Desa Andala, Kab. Luwuk, Sulteng). Namun ketika saya mengikuti misa di sana, ternyata yang ‘melayani’ misa bukan romo atau pastor dari Paroki Luwuk Banggai (Paroki St. Maria Bintang Kejora), seperti yang biasa saya ketahui di Surabaya bahwa stasi akan dilayani oleh romo paroki terdekat, misal stasi Lamongan dilayani oleh romo paroki Gresik-Santa Perawan Maria. Dan yang mengejutkan, bapak tersebut melakukan ‘ritual’ misa hampir mirip dengan yang dilakukan oleh romo, meskipun tidak mengadakan sakramen ekaristi, dengan melagukan doa-doa dan mengikuti tata cara misa seperti pada TPE.
    Yang mau saya tanyakan :
    1. Bolehkan bapak tersebut melakukan hal itu?Apalagi untuk perayaan malam Natal.
    2. Apakah tidak ada romo yang mau atau melayani stasi tersebut hingga umat disana memilih melakukan hal demikian?
    3. Saat mengikuti ‘misa’ tersebut perasaan saya takut sekaligus sedih, “Takut” apakah ‘misa’ tersebut menyesatkan saya dan membuat saya berdosa?
    “Sedih” karena dalam stasi tersebut banyak murid2 Yesus yang mau secara Katolik beriman namun tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya, terutama tidak bisa menerima ekaristi sebagaimana mestinya.

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Indra Hewmawan,

      1. Boleh. Seorang awam yang diangkat untuk sementara sebagai Asisten Imam atau prodiakon paroki mendapat tugas dari imam. Salah satunya ialah untuk memimpin ibadat sabda, bukan Ekaristi.

      2. Bukan karena imam tidak mau, namun jumlah imam yang terbatas. Tidak cukup jumlah imam di berbagai kawasan di luar pulau Jawa untuk melayani semua stasi. Maka prioritas untuk pas Hari Raya (Natal dan Paskah, misa hari Minggu) ialah di gereja Paroki. Sedangkan misa hari raya biasanya menunggu imam datang ke stasi tersebut, walaupun sudah beberapa hari atau beberapa minggu setelah hari raya.

      3. Yang dirayakan itu ialah “Ibadat Sabda Tanpa Imam”. Ada bukunya keluaran Komisi Liturgi KWI. Ada “Ibadat Sabda Tanpa Imam Tanpa Komuni”, ada pula “Ibadat Sabda Tanpa Imam dengan komuni. Untuk ibadat sabda yang dengan komuni, maka hal ini sudah dengan keputusan uskup. Komuni diterimakan dari Sakramen Mahakudus yang dikirim dari paroki, atau dari tabernakel di mana disimpan Sakramen Mahakudus. Sakramen mahakudus itu dikonsakrir pada saat misa beberapa waktu sebelumnya ketika imam datang ke stasi tersebut untuk misa. Ibadat sabda dengan komuni ini memang tidak ideal. Namun hal ini merupakan pemecahan akan kerinduan umat stasi yang jauh dari paroki akan Ekaristi yang dipimpin imam. Sekarang setelah ada kesadaran mengenai hakikat Ekaristi, beberapa paroki dengan stasi yang banyak dan terpencil tidak lagi membuat ibadat sabda dengan komuni. Mereka tetap berkumpul dan beribadat dipimpin seorang bapak atau ibu asisten imam /prodiakon namun tanpa komuni. Karena, yang ideal, komuni kudus hanya diterimakan dalam kesatuan dengan perayaan Ekaristi. Komuni yang diterimakan di luar perayaan Ekaristi hanyalah untuk orang yang sakit di rumah maupun di rumah sakit, serta dalam orang dalam penjara.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  6. yusup sumarno on

    Dear katolisitas,
    Tertulis: Kejadian ini disebut sebagai “transubstansiasi“, yang mengakibatkan substansi dari roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (lih. KGK 1376). Jadi yang tinggal hanyalah rupa roti dan anggur, tetapi substansi roti dan anggur sudah lenyap, digantikan dengan kehadiran Yesus.

    Saya mengimani 100% transubstansiasi.
    Saya hanya perlu penjelasan yang lebih mudah untuk memahami perbedaan antara: Substansi adalah Tubuh Kristus dan yang tinggal hanyalah rupa roti.

    dengan kata lain apakah perbedaan antara substansi dengan rupa?
    mungkin ada ilustrasi yang bisa diberikan untuk mempermudah pemahaman saya.
    Bagi saya sendiri sebenarnya tidak penting karena saya percaya bahwa hosti yang sudah dikonsekrasi adalah Tubuh Kristus.
    Saya perlu penjelasan untuk jaga jaga dari “serangan” pihak tertentu.
    Mohon penjelasan. Terima kasih

    [dari Katolisitas : setelah konsekrasi, hanya substansi roti dan anggur-nya saja yang berubah, sedangkan "accidents"/rupa/penampilan luarnya tetap. Untuk mengerti konsep ini memang diperlukan pengertian filosofis, yaitu bahwa pada setiap benda, kita mengenal adanya substansi dan "accidents". Misalnya, hakekat kita manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang terdiri tubuh dan jiwa, yang punya ratio dan kehendak bebas, sedangkan "accidents" / rupa-nya adalah warna kulit, bangsa, tinggi/ berat badan, dst. Jika kita mencampuradukkan kedua hal ini (substansi dan "accidents") maka akan sulit bagi kita untuk memahami konsep Transubstansiasi ini. Sebab setelah transubsansiasi, maka yang nampak sebagai hosti sudah bukan hosti lagi, karena substansinya telah berubah menjadi Tubuh Kristus, sedangkan "accidents" (rupa) nya tetap sama, yaitu dalam rupa roti dan anggur.]

  7. Halo Mbak/Mas…Maaf,aku pernah dengar istilah Misa Hitam semasa sekolah menengah dulu.Apakah benar ada upacara atau Misa Hitam dalam Gereja Katolik dan bagaimana sejarahnya..?Makasih buat jawabannya..

    [dari katolisitas: Tidak ada black mass di dalam Gereja Katolik. Misa hitam ini adalah adalah merupakan ejekan bagi Misa di dalam Gereja Katolik. Pelaku dari misa hitam ini biasanya adalah pemuja setan. Silakan melihatnya di sini - silakan klik.]

  8. Yth. Ibu Ingrid,

    Terima kasih banyak untuk artikel tentang ekaristi yang memuat banyak aspek yang memperbaharui hal-hal yang sudah selayaknya saya ketahui maupun aspek yang menyegarkan kembali dan melengkapi apa yang perlu diketahui.

    Mengingat bahwa mestinya di seluruh dunia dengan jumlah umat Katolik yang beberapa milyar ini, tentunya diperlukan pengadaan sejumlah amat besar hosti untuk keperluan puluhan ribu misa di berbagai bagian dunia ini setiap hari. Dengan demikian dibutuhkan sejumlah amat besar hosti dan anggur yang tentunya disiapkan di amat banyak tempat berbeda di seluruh dunia ini. Adakah rambu-rambu baku yang perlu dipenuhi dalam pembuaan roti untuk komuni, entah bahan mentahnya, cara pembuatannya dsb. sehingga hosti yang tersedia layak digunakan untuk misa? Demikian pula untuk anggur yang digunakan. Kita tahu bahwa cukup banyak misa diselenggarakan di tempat-tempat yang terpencil jauh dari tempat-tempat yang “lumrah”. Singkatnya hanya roti dan anggur yang bagaimana dapat digunakan untuk dikorbankan di misa kudus? Di beberapa tempat (di luar Indonesia) seingat saya, saya pernah mengikuti misa di mana hosti kudusnya berupa roti biasa yang tidak sama dengan hosti yang biasa digunakan di Indonesia.

    Mengenai penerimaan komuni dalam rupa roti dan anggur atau roti saja, kalau saya pikir-pikir agak membingungkan memahaminya. Kalau sama saja mengapa mesti dua bentuk ya? Saya belum dapat merumuskan pertanyaan yang ingin saya ajukan. Mungkin dalam hal ini sebaiknya saya gunakan saja patokan (saya): Kalo bingung, pasrah dan percaya saja dulu. Tidak segalanya harus di(per)tanyakan.

    Soenardi

    • Shalom P. Soenardi,

      1. Bahan Ekaristi MahaKudus

      Menurut  Redemptoris Sacramentum, ketentuan bahan untuk roti dan anggur untuk dipergunakan dalam liturgi Ekaristi adalah:

      48. Roti yang dipergunakan dalam perayaan Kurban Ekaristi Mahakudus harus tidak beragi, seluruhnya dari gandum, dan baru dibuat sehingga dihindari bahaya menjadi basi. Karena itu roti yang dibuat dari bahan lain, sekalipun dari butir padi atau yang dicampur dengan suatu bahan lain yang bukan gandum sedemikian rupa sehingga orang tidak lagi memandang itu sebagai roti, tidak merupakan bahan sah untuk dipergunakan pada Kurban dan Sakramen Ekaristi. Adalah pelanggaran berat untuk memasukkan bahan lain ke dalam roti untuk Ekaristi itu, misalnya buah-buahan atau gula atau madu. Tentu saja hendaknya hosti-hosti dikerjakan oleh orang yang bukan hanya menyolok karena kesalehannya, tetapi juga trampil dalam hal mengerjakannya seraya diperlengkapi dengan peralatan yang sesuai.

      50. Anggur yang dipergunakan dalam perayaan Kurban Ekaristi Mahakudus itu harus alamiah, berasal dari buah anggur, murni dan tidak masam dan tidak tercampur dengan bahan lain. Dalam perayaan ini, sedikit air akan dicampur dengannya. Perlu diperhatikan dengan seksama agar anggur yang hendak dimanfaatkan untuk perayaan Ekaristi itu tersimpan baik dan tidak menjadi masam. Sama sekali tidak diizinkan untuk mempergunakan anggur yang keasliannya atau asalnya diragukan, karena sebagai persyaratan yang harus dipenuhi demi sahnya sakramen-sakramen, Gereja menuntut kepastian. Tidak juga diperbolehkan minuman jenis lain apa pun dan demi alasan apa pun, karena minuman itu bukanlah bahan sah.

      Penentuan ini sesuai juga dengan KHK kan. 924 1,3, Missale Romanum, Institutio Generalis, no.323.

      2. Tentang Komuni dua rupa dan satu rupa.

      Katekismus Gereja Katolik mengatakan demikian:

      KGK 1377    …… Di dalam setiap rupa [baik rupa roti maupun anggur] dan di dalam setiap bagiannya tercakup seluruh Kristus, sehingga pemecahan roti tidak membagi Kristus (Bdk. Konsili Trente: DS 1641).

      KGK 1390        Karena Kristus hadir secara sakramental dalam setiap rupa itu [baik dalam rupa roti maupun anggur], maka seluruh buah rahmat Ekaristi dapat diterima, walaupun komuni hanya diterima dalam rupa Roti saja. Karena alasan-alasan pastoral, maka cara menerima komuni inilah yang paling biasa di dalam ritus Latin. Tetapi “arti perlambangan komuni dinyatakan secara lebih penuh, apabila ia diberikan dalam dua rupa. Dalam bentuk ini lambang perjamuan Ekaristi dinyatakan atas cara yang lebih sempurna” (IGMR 240). Di dalam ritus Gereja-gereja Timur cara menerima komuni macam inilah yang biasa dipergunakan.

      Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. Salam damai dalam Yesus….
    Beberapa bulan yg lalu sy pernah membaca artikel tentang manfaat dr perayaan Ekaristi, yg mana
    dapat membantu jiwa2 naik ke surga.
    Dalam penglihatan Santo (?) jiwa2 diangkat Ke surga pada saat konsekrasi ?
    Mohon penjelasan yg lebih terperinci ….
    Terima kasih….GBU..
    Hormat saya…arif..

    • Shalom Arifianto,

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian tentang kurban Ekaristi:

      KGK 1371 Kurban Ekaristi juga dipersembahkan untuk umat beriman yang mati di dalam Kristus, “yang belum disucikan seluruhnya” (Konsili Trente: DS 1743), supaya mereka dapat masuk ke dalam Kerajaan Kristus, Kerajaan terang dan damai:
      “Kuburkanlah badan ini di mana saja ia berada: kamu tidak perlu peduli dengannya. Hanya satu yang saya minta kepada kamu: Di mana pun kamu berada, kenangkan saya pada altar Tuhan” (Santa Monika sebelum wafatnya, kepada Santo Augustinus dan saudaranya: Agustinus, conf. 9,11,27).
      “Lalu kita berdoa [dalam anaforal untuk Paus dan Uskup yang telah meninggal, dan untuk semua orang yang telah meninggal pada umumnya. Karena kita percaya bahwa jiwa-jiwa yang didoakan dalam kurban yang kudus dan agung ini, akan mendapat keuntungan yang besar darinya… Kita menyampaikan kepada Allah doa-doa kita untuk orang-orang yang telah meninggal, walaupun mereka adalah orang-orang berdosa… Kita mengurbankan Kristus yang dikurbankan untuk dosa kita. Olehnya kita mendamaikan Allah yang penuh kasih sayang kepada manusia dengan mereka dan dengan kita” (Sirilus dari Yerusalem, catech. myst. 5,9,10).

      Dengan demikian dapat saja terjadi seperti yang dikatakan oleh orang kudus tersebut, jika ia memperoleh penglihatan bahwa jiwa-jiwa yang berada di Api Penyucian dapat beralih ke dalam Kerajaan Surga, atas jasa kurban Kristus yang oleh kuasa Roh Kudus dihadirkan kembali di dalam Ekaristi, secara khusus melalui konsekrasi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Mohon ijin, memperbanyak materi ini untuk dibagikan kepada Bapak Ibu Prodiakon Katedral Semarang. Terima kasih.

    [dari katolisitas: Silakan untuk mengambil artikel dan tanya jawab dari situs ini, namun bukan untuk kepentingan komersial dan harus menyebutkan sumbernya, yaitu http://www.katolisitas.org, sehingga bagi yang ingin bertanya atau menyampaikan usulan, dapat menyampaikannya kepada kami.]

  11. Shalom para Romo dan rekan-rekan di katolisitas..

    [Sebelumnya mohon maaf, saya salah mengetikkan pertanyaan saya ini di bagian kontak, seharusnya di bagian buku tamu ini, karena tidak ada hal yang bersifat pribadi, dan dapat ditampilkan untuk umum.. Mohon maaf dan terima kasih..]

    Ini pertanyaan saya:

    Saya mau bertanya tentang Gereja Katolik di RRC.. Setahu saya, Vatikan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan RRC, dan Gereja Katolik di RRC, karena pengaruh tekanan dari Pemerintah, tidak berada di bawah naungan Bapa Suci..

    Lalu saya pernah dengar juga, bahwa ada dua jenis Gereja Katolik di sana, yang resmi yang berada di bawah Pemerintah, dan yang “ilegal” atau “bawah tanah” yang bersekutu penuh dengan Bapa Suci.. Mohon penjelasan dan konfirmasi mengenai hal ini..

    Lalu, seandainya saya tinggal di RRC untuk beberapa saat, ke Gereja manakah saya harus mengikuti misa?? Lalu, bagaimana membedakan apakah Gereja tersebut dalam persekutuan dengan Bapa Suci atau tidak?? Lalu, seandainya saya (bisa saja tahu, ataupun tidak tahu) menghadiri misa di Gereja yang konon tidak dalam persekutuan dengan Bapa Suci tersebut, bagaimana dengan keabsahan Sakramen Ekaristi-nya?? Dan apakah hal tersebut dapat dikategorikan sebagai dosa??

    Sekian pertanyaan saya.. Terima kasih atas jawaban dan informasinya.. Berkah Dalem..

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Henry,

      Tidak ada perbedaan mencolok secara fisik – liturgis antara Gereja Katolik Roma di bawah tanah dan gereja katolik patriotik yang diririkan Pemerintah RRC. Namun tetaplah perbedaan itu ada dan mengganjal. Sejarah singkat konflik politik keagamaan antara Pemerintah RRC dan Vatikan serta perkembangannya sekarang bisa dilihat di link to slate.com
      Perkembangan sampai saat ini menurut artikel tersebut menyatakan bahwa ketegangan di antara keduanya menurun antara Gereja bawah tanah (Katolik yang mengakui Paus sebagai pemimpin Gereja) dan Katolik Patriotik (yang ada di bawah tekanan Pemerintah RRC). Perbedaan secara fisik itu hampir tidak tampak. Namun perbedaan tersebut tetap ada. Misalnya dalam ranah politis terjadi perbedaan perlakuan (diskriminasi) terhadap keduanya oleh Pemerintah Komunis RRC. Gereja bawah tanah tetap teraniaya dan tidak mendapatkan kemudahan untuk beribadat. Gedung gereja yang mencolok biasanya milik pemerintah (Katolik Patriotik). Paus Benediktus menyerukan agar kita mendoakan mereka dalakm berita ini link to cathnewsindonesia.com
      Pada masa kepausan Bapa Suci Benediktus XVI ini, pendekatan-pendekatan kepada pemerintah RRC dilakukan. Namun belum berhasil. Anda bisa bertanya-tanya kepada orang-orang Katolik di sana, apakah suatu gereja itu patriotik.
      Karena menghadiri misa di gereja bawah tanah (Katolik Roma) dinyatakan ilegal oleh pemerintah dan karenanya berbahaya bagi Anda , maka Anda tidak wajib mengikutinya dan jika Anda mengikutinya harus waspada. Namun, jika situasi mendesak,Anda bisa menghadiri misa gereja patriotik atau gereja Katolik Roma ritus timur buatan pemerintah RRC, dengan dasar KHK Kanon 844 paragraf 2. “Setiap kali keadaan mendesak atau manfaat rohani benar-benar menganjurkan, dan asal tercegah bahaya kesesatan atau indiferentisme, orang beriman kristiani yang secara fisik atau moril tidak mungkin menghadap pelayan katolik, diperbolehkan menerima sakramen tobat, Ekaristi serta pengurapan orang sakit dari pelayan-pelayan tidak katolik, jika dalam Gereja mereka sakramen-sakramen tersebut adalah sah”. Dasar kedua ialah Surat Paus Benediktus XVI 27 Mei 2007 kepada Gereja China: “Concerning bishops whose consecrations took place without the pontifical mandate yet respecting the Catholic rite of episcopal ordination, the resulting problems must always be resolved in the light of the principles of Catholic doctrine. Their ordination as I have already said (cf. section 8 above, paragraph 12) is illegitimate but valid, just as priestly ordinations conferred by them are valid, and sacraments administered by such bishops and priests are likewise valid. Therefore the faithful, taking this into account, where the eucharistic celebration and the other sacraments are concerned, must, within the limits of the possible, seek bishops and priests who are in communion with the pope: Nevertheless, where this cannot be achieved without grave inconvenience, they may, for the sake of their spiritual good, turn also to those who are not in communion with the pope.”

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

  12. salam

    saat ke gereja kita dituntut mengikuti Misa dengan khidmat karena kita mempersiapkan diri kita menerima tubuh Yesus saat Ekaristi. Bagaimana dg orangtua yg punya anak2 yang masih batita khususnya anak yang masih di bawah 1 thn ato 2th yang masih aktif-aktifnya. Saya pernah dititipi anak saudara utk diajak ke gereja, anaknya kalem ngga banyak gerak tapi yang namanya anak 1th yang sedang belajar ngomong, anaknya ngoceh terus karena ngga enak sama umat lainnya, takut mengganggu maka saya ajak ponakan saya keluar tapi saya jadi kurang khidmat ato kurang bisa mengikuti Misa dg baik apalagi pas Doa Syukur Agung ponakan saya malah rewel minta tidur jadi saya tidak bisa mengikuti Doa Syukur Agung dengan baik. Atau pas saat saya berdoa setelah komuni saya persingkat karena mw minta berkat romo utk ponakan saya. Bagaimana posisi saya di hadapan gereja maupun di hadapan Yesus karena tenaga dan pikiran terbagi 2 saat Misa, apakah saya ato para ibu-ibu yang dalam posisi yang sama seperti saya berdosa karena tidak bisa fokus ato mempersiapkan diri saat Ekaristi atau tidak dapat mengikuti Misa dg baik? Karena yang saya ketahui perayaan Misa khususnya Ekaristi juga dihadiri oleh anggota Gereja yang lainnya baik yg ada di surga atau di api penyucian, jadi saya harus mempersiapkan diri dg baik.
    trima kasih

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Maria,

      Terima kasih atas pertanyaan Anda yang menarik dan memang merupakan tantangan yang aktual bagi para orang tua yang merayakan Misa bersama anak-anak mereka yang masih kecil. Menurut hemat saya, “kesibukan” Anda dan para ibu dalam menangani si kecil selama perayaan Misa tidak membuat Anda berdosa, karena Tuhan tentu mengerti kesulitan itu dan tetap menghargai usaha dan ketulusan Anda untuk merayakan Ekaristi bersama anak-anak demi kemuliaan nama-Nya.

      Saya pribadi sangat menghargai niat banyak orangtua untuk memperkenalkan perayaan Ekaristi pada anak-anak sejak usia mereka masih sangat muda, walaupun tantangannya cukup banyak, karena selain belum mengerti, pada usia dini anak-anak juga masih sukar untuk diajak duduk diam dan berkonsentrasi dalam waktu yang cukup panjang, dalam hal ini sekitar satu jam atau satu setengah jam merayakan Ekaristi. Memang bila sarananya tersedia, mengikuti kegiatan Sekolah Minggu juga baik, supaya anak-anak mengenal pengajaran Kitab Suci dan bertumbuh dalam pemahamannya akan kasih Tuhan. Namun keikutsertaan mereka di dalam perayaan Ekaristi tidak tergantikan oleh kegiatan Sekolah Minggu, dan bagaimanapun juga kegiatan mengikuti Misa sangat baik untuk dibiasakan sejak mereka sudah mulai dapat diajak bekerja sama selama mengikutinya. Dalam hal ini orangtua diajak untuk aktif dan kreatif mencari sarana yang memungkinkan anak-anak turut berpartisipasi dalam Misa tanpa menjadi bosan yang kemudian juga berpotensi mengganggu konsentrasi umat yang lain.

      Membawakan berbagai jenis mainan pengalih perhatian atau makanan, tidak terlalu disarankan, karena selain hal itu tidak membuat anak-anak belajar untuk mengenal apa yang terjadi dalam Misa, orangtua pun dapat teralihkan perhatiannya kepada hal-hal yang tidak berhubungan dengan pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Sebagai gantinya, di sela-sela mereka mulai jenuh atau kehilangan konsentrasi, supaya mereka tetap dapat mengikuti Misa tanpa menjadi rewel namun tetap mendapatkan situasi rohani, orangtua dapat memberikan berbagai buku rohani anak-anak yang mempunyai cerita yang menarik dan gambar-gambar yang juga menarik, buku-buku bergambar mengenai kisah santo santa, rosario dari plastik, dan benda-benda bersifat rohani lainnya. Usaha ini diberikan hanya pada saat mereka mulai jenuh. Namun dengan berbagai pengajaran yang sering diterapkan di rumah, anak-anak yang sudah lebih besar, misalnya 4 tahun ke atas, bisa diajak memperhatikan apa yang terjadi di sekitar altar, dan diajak tetap menghargai Tuhan Yesus yang ada di tengah-tengah umat-Nya sekalipun tidak kelihatan. Usaha ini berkesinambungan, misalnya, di rumah, di antara kegiatan bermain bersama anak-anak, orangtua dapat meluangkan waktu untuk bermain merayakan Misa bersama mereka. Anak-anak biasanya sangat senang menirukan kegiatan orang dewasa yang sering mereka lihat. Dengan peralatan sederhana untuk memberikan suasana seperti di gereja, orangtua bisa mengajarkan anak-anak untuk menirukan semua gerakan liturgis pada saat yang tepat, misalnya berdiri, berlutut, membuat tanda salib, ikut bernyanyi (sambil mengajarkan beberapa nyanyian liturgi yang bisa mereka ikuti), memberikan salam damai, gerakan menyembah pada saat konsekrasi, dan seterusnya, sambil memberikan penjelasan sederhana tentang makna di balik gerakan-gerakan tersebut. Termasuk mengajarkan pentingnya bersikap hormat dan hikmat pada saat Doa Syukur Agung. Keterlibatan orangtua dan penanaman bahwa semua itu adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan bagi Tuhan, akan membuat anak-anak juga menghargai Ekaristi dan lama kelamaan dapat memahami dan mencintainya seiring pertambahan usia dan pertumbuhan mereka.

      Salam kasih,
      Triastuti – katolisitas.org

      Tambahan dari Ingrid:

      Mungkin juga baik untuk dicoba, jika anak sudah disiapkan dari rumah, untuk berjanji akan berlaku baik di gereja/ mengikuti Misa, lalu orang tua mengajak anak duduk justru di bangku depan, sehingga anak dengan leluasa dapat melihat ke altar, dan tidak terhalang oleh umat yang lain. Menurut banyak kesaksian orang tua, hal ini malah membantu orang tua, karena perhatian anak akan tertuju ke altar. Sedangkan kalau anak dan orang tua duduk di belakang, akan sulit bagi anak untuk memperhatikan apa yang terjadi di altar, sehingga mereka cenderung ‘main’/ asyik dengan ulahnya sendiri. Inilah yang kami lakukan terhadap anak baptis kami sejak dia berusia 2 tahun saat kami mulai membawanya mengikuti Misa harian. Sejak saat itu dia terbiasa untuk “behave” (berlaku sopan) pada saat Misa Kudus, dan mengetahui bahwa di altar itulah Tuhan Yesus hadir di dalam rupa Ekaristi.

      Selanjutnya, adalah baik jika sehabis Misa anak diajak untuk berdoa dan menyalakan lilin di hadapan patung Tuhan Yesus atau Bunda Maria. Ajarilah anak berdoa di sana, cukup doa yang sederhana. Contoh: orang tua mengucapkan beberapa kata, dan anak mengulanginya. Yang penting dengan pengalaman itu anak memahami makna doa, dan bahwa gereja adalah rumah Tuhan, tempat jemaat-Nya berkumpul, berdoa dan mengucap syukur.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati – katolisitas.org

      • m. herman-wib on

        Salam dlm kasih Tuhan Jesus bagi pengasuh katolisitas serta Bu Maria.

        Ini tambahan saja. Dari pengalaman kami, bapak-ibu 2 anak yg sekarang sudah remaja, membawah bayi/balita ke perayaan ekaristi adlh perkara mudah jika mengerti kebutuhan bayi/anak2. Mereka harus dibuat nyaman sebelum pergi ke gereja; artinya: mereka sudah cukup tidur, makan/minum susu, sudah puas mandi/main air dan buang air besar dgn demikian mereka tdk terganggu rasa lapar atau perasaan tdk nyaman pada pencernaannya. Tentunya kami hanya bisa ikut misa siang yg terakhir. Di gereja, bayi (sampai umur 1 thn) akan tenang sekali jika digendong dlm kantung bayi yg terletak di dada ibunya, barangkali krn mereka dapat mendengar detak jantung kita. Sayapun sbg bapaknya, tidak pernah sungkan/malu menggendong bayi kami jika ibunya sedang memerlukan sesuatu. Bayi tdk akan rewel jika tidak lapar, namun selalu sediakan sebuah botol dot berisi susu bubuk/formula yg belum dicairkan untuk berjaga-jaga.

        Bayi satu thn pun sudah mampu memperhatikan sekitarnya; dan seperti yg ibu Ingrid ceritakan, sebaiknya kita memilih tempat di barisan depan agar bayi/balita bisa mengamati altar dan pastor. Ketika berumur 2 thn ke atas, anak2 sudah mengerti untuk duduk sendiri dgn manis jika kita selalu mengingatkan dan memberi contoh yg baik (misalnya tdk mengobrol atau sering menggerakkan anggota badan maupun menoleh kiri-kanan).

        Syukurlah, sejak kecil anak2 kami tdk pernah rewel ataupun berjalan-jalan di gereja. Kami sering mengingatkan bhw ini adlh gereja; ada waktunya nanti untuk berlari-lari sepuasnya.

        Sekian dahulu, mudah2an dapat membantu bapak-ibu yg masih punya bayi/balita.

  13. Syaloom Pengurus Katolisitas

    Saya mao tanya,

    1.Kalau komuni di luar gereja Katolik apakah roti dan anggurnya diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus? Karena saya tidak tahu dulu, saya belom dibaptis saya makan dan minum saja karena pengen tahu rasanya. Dan saya menyesalinya apakah itu berubah atau tidak. Apakah saya akan diampuni?

    2.Misalnya tidak berubah menurut anda? Misalnya gereja di luar Katolik melakukan Ekaristi dengan cara dan doa dan pemahaman yg bulat dan iman kalau sungguh Tubuh dan Darah yg Kristus yang dimakan. Tp mereka tidak bergabung ke Gereja katolik. Apakah itu “sah”? Saya melihat kalau St.Petrus yang diberikan kunci Kerajaan Sorga? Jadi ada kemungkinan Ekaristi di luar gereja Katolik tidak berubah jadi daging dan darah Kristus, tp kalau menurut saya kembali ke kehendak Tuhan ( maksudnya terserah Tuhan). Menurut anda bagaimana? Maaf saya tidak bermaksud mengadu domba atau semacamnya. Karena ini pertanyaan yg agak2 menjurus. Tp saya penasaran dan ingin tahu. Kalau misalnya tidak berkenan untuk tampil di web ini, bolehkah jawabannya dikirim ke email saya saja.

    Terima kasih

    • Shalom Leonard,

      Pertama-tama, nampaknya yang perlu kita sadari bersama adalah, Gereja merupakan ‘pemberian’ Kristus, dan kuasa yang diberikan kepada Kristus kepada para rasul merupakan juga ‘pemberian’ Kristus. Jika kita memahami hal ini, maka kita tidak dengan serta merta menganggap bahwa siapapun berhak untuk mendirikan gereja dan mengubah roti dan anggur itu menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Sebab Kristus juga tidak memberikan kuasa itu kepada semua pengikut-Nya, tetapi hanya kepada para rasul-Nya. Para rasul kemudian bertugas untuk melaksanakan amanat Kristus untuk melakukan perjamuan tersebut untuk mengenang kurban Kristus di tengah-tengah Gereja-Nya; dan membagikan Tubuh dan Darah Kristus itu kepada anggota- anggotaNya untuk menjadi santapan rohani mereka. Dan karena Kristus menghendaki agar Gereja-Nya terus ada sampai akhir jaman, maka kuasa yang diberikan Kristus kepada para rasul itu diteruskan pula kepada para penerus mereka (yaitu para imam yang ditahbiskan secara sah) sampai sekarang. Melalui merekalah, yang mengucapkan konsekrasi -yaitu Sabda Kristus atas roti dan anggur itu- maka kurban Kristus yang satu dan sama itu dihadirkan kembali di tengah- tengah kita oleh kuasa Roh Kudus. Dengan demikian ada dua hal yang menjadikan roti dan anggur itu menjadi Tubuh dan Darah Kristus: 1) perkataan Sabda Tuhan dalam Konsekrasi; 2) jalur apostolik (apostolic succession), artinya tahbisan yang sah berasal mula dari para rasul. Hal inilah yang membedakan antara perjamuan kudus dalam gereja Kristen non Katolik dengan perjamuan Ekaristi dalam Gereja Katolik. Hal ini sudah pernah ditulis dalam artikel ini, silakan klik.

      Katelismus Gereja Katolik, mengajarkan demikian:

      KGK 1410    Kristus sendiri, Imam Agung abadi Perjanjian Baru, mempersembahkan kurban Ekaristi melalui pelayanan imam. Demikian juga Kristus sendirilah menjadi bahan persembahan dalam kurban Ekaristi. Ia sendiri sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur.

      KGK 1411    Hanya para imam yang ditahbiskan secara sah, dapat memimpin upacara Ekaristi dan mengkonsekrir roti dan anggur supaya menjadi tubuh dan darah Kristus.

      KGK 1412    Tanda-tanda hakiki Sakramen Ekaristi adalah roti dari gandum dan anggur dari buah anggur. Berkat Roh Kudus dimohonkan ke atasnya dan imam mengucapkan kata-kata konsekrasi, yang Yesus ucapkan dalam perjamuan malam terakhir “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu…. Inilah piala darah-Ku. …”

      KGK 1413    Oleh konsekrasi terjadilah perubahan [transsubstansiasi] roti dan anggur ke dalam tubuh dan darah Kristus. Di dalam rupa roti dan anggur yang telah dikonsekrir itu Kristus sendiri, Dia yang hidup dan dimuliakan, hadir sungguh, nyata, dan secara substansial dengan tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya, dan kodrat ilahi-Nya (Bdk. Konsili Trente: DS 1640; 1651).

      Dengan pemahaman ini saya menanggapi pertanyaan anda:

      1. Komuni di luar gereja Katolik apakah Roti dan anggur nya diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus?

      Suatu komunitas gerejawi yang tidak memiliki jalur apostolik (apostolic succession) sesungguhnya tidak dapat mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Jika anda menyambutnya dalam komunitas tersebut, sesungguhnya anda tidak menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Namun bisa terjadi komunitas tersebut menganggap itu adalah Tubuh dan Darah Kristus, dan mensyaratkan orang yang menyambut harus sudah dibaptis/ menjadi anggota jemaat mereka. Maka, jika waktu anda menyambut itu anda belum dibaptis dan bukan menjadi anggota jemaat mereka, inilah kemungkinan yang menyebabkan mengapa hati nurani anda ‘menuduh’ anda sekarang, sebab motivasi anda menyambut bukan untuk menyambut Kristus ataupun mengenangkan Dia, tetapi hanya untuk sekedar ingin tahu rasanya saja. Nanti jika anda memutuskan untuk dibaptis secara Katolik, anda dapat mengaku dosa anda dalam Sakramen Pengakuan Dosa, dan anda akan dapat memperoleh pengampunan dari Tuhan.

      2. Apakah iman yang bulat kalau itu sungguh Tubuh dan Darah Kristus maka menjadikan roti dan anggur itu sungguh Tubuh dan Darah Kristus, dan “sah”?

      Telah diuraikan di atas, bahwa yang menjadikan roti dan anggur itu berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus adalah perkataan konsekrasi dan jalur apostolik. Maka perubahan substansi (Transubstansiasi) tidak tergantung dari kondisi iman/ batin si penerima ataupun kondisi batin imam yang mempersembahkannya. Dengan perkataan lain, meskipun jemaat itu yakin seyakin- yakinnya bahwa roti itu Tubuh dan Darah Kristus, namun jika yang mempersembahkannya adalah orang yang tidak mempunyai tahbisan yang sah (mempunyai jalur apostolik), maka transubstansiasi tidak terjadi. Sebaliknya, meskipun seorang imam yang mempersembahkan Misa sedang galau batinnya, namun oleh kuasa Sabda Tuhan dalam konsekrasi dan karena kuasa tahbisannya yang sah, maka transubstansiasi tetap terjadi. Konsekrasi yang diucapkan oleh imam yang sah tahbisannya akan mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Demikian juga, transubstansiasi terjadi tidak tergantung oleh disposisi batin orang yang menerima. Oleh karena itu, siapa yang menyambut Tubuh dan Darah itu dengan disposisi batin yang tidak baik, entah karena tidak percaya/ tidak mengimaninya, ataupun karena dosa berat, maka ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri, sebab ia berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan Yesus yang disambutnya. Ini dikatakan dalam 1 Kor 11:27-30.

      Namun demikian, disposisi batin yang baik diperlukan untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus, sebab rahmat Allah yang kita peroleh dalam Ekaristi sebanding dengan disposisi batin kita pada saat menyambutnya. Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci mengajarkan demikian:

      11. Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya, Umat beriman perlu datang menghadiri liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang layak. Hendaklah mereka menyesuaikan hati dengan apa yang mereka ucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat surgawi, supaya mereka jangan sia-sia saja menerimanya (lih. 2 Kor 6:1).

      Demikian tanggapan saya atas pertanyaan anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Syalom Saudari Ingrid

        Terima kasih untuk jawabannya. Waktu itu saya sudah ditegur sama guru agama saya. Dan kami berdoa bersama untuk meminta ampun kepada Tuhan Yesus. Dan sekarang tiba2 saja saya teringat akan dosa saya di masa lalu. Walaupun skrg saya sudah dibaptis ( non-Katolik ) dan komuni itu dari luar jalur apolistik. Saya menyesal dan berharap bisa terima Komuni di gereja Katolik. Apakah harus baptis lagi?

        Ketika saya ikut Misa kemarin, saya berpikir “Tuhan aku ingin sekali makan Tubuh dan darahMu melebihi Karunia Roh Kudus. ( tujuh karunia yang ada di Yesaya 11 dan karunia Karismatik)

        Apakah cara berpikir saya itu salah? Karena setelah itu saya tidak tenang? Karena saya jadi seperti tidak mementingkan Roh Kudus. Menganggap Roh Kudus tidak sepenting Tubuh dan Darah Kristus.

        Mohon bimbingannya

        Terima kasih

        • Shalom Leonard,

          Jika anda sudah pernah dibaptis dan baptisan itu sah (dengan materia dan forma yang benar, yaitu dengan air bersih dan diberikan atas nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, serta diberikan sesuai dengan maksud Pembaptisan seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik) maka anda tidak perlu dibaptis ulang. Sebab Gereja Katolik memegang prinsip bahwa Baptisan hanya boleh diberikan satu kali saja seumur hidup, karena menghormati otoritas Tuhan Yesus yang menginstitusikannya, hanya ada satu Baptisan (lih. Ef 4:5). Silakan anda menemui Pastor paroki anda, untuk mengetahui apakah gereja yang membaptis anda dulu itu termasuk dalam daftar PGI. Jika ya, maka baptisan anda sah diberikan, maka jika anda ingin menjadi Katolik, maka anda tidak perlu dibaptis ulang, hanya perlu diteguhkan. Namun anda tetap perlu mengikuti proses katekumenat, silakan tanyakan kepada pastor paroki bagaimana detailnya.

          Jika anda sudah dibaptis dengan sah, sebetulnya anda sudah menerima Roh Kudus dan ketujuh karunia Roh Kudus, seperti yang disebutkan dalam Yesaya 11. Setelah seseorang dibaptis ia perlu bertumbuh di dalam iman, harapan dan kasih, dan Ekaristi merupakan jalan yang terbaik untuk membentuk kita bertumbuh di dalam hidup yang baru di dalam Roh Kudus tersebut.

          Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

          KGK 1324    Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh hidup kristiani” (LG 11). “Sakramen-sakramen lainnya, begitu pula semua pelayanan gerejani serta karya kerasulan, berhubungan erat dengan Ekaristi suci dan terarahkan kepadanya. Sebab dalam Ekaristi suci tercakuplah seluruh kekayaan rohani Gereja, yakni Kristus sendiri, Paska kita” (PO 5).

          KGK 1325    “Keikutsertaan dalam kehidupan ilahi dan kesatuan umat Allah membuat Gereja menjadi Gereja; keduanya ditandai dengan penuh arti dan dihasilkan secara mengagumkan oleh Ekaristi. Di dalamnya memuncak tindakan, yang olehnya Allah telah menguduskan dunia di dalam Kristus, demikian pula penghormatan, yang manusia sampaikan kepada Kristus dan bersama Dia kepada Bapa dalam Roh Kudus” (Kongregasi untuk Ibadat, Instr. “Eucharisticum mysterium” 6).

          KGK 1326    Oleh perayaan Ekaristi kita sudah menyatukan diri sekarang ini dengan liturgi surgawi dan mengenyam lebih dahulu kehidupan abadi, di mana Allah akan menjadi semua untuk semua (Bdk. 1 Kor 15:28).

          KGK 1327    Jadi, Ekaristi adalah hakikat dan rangkuman iman kita: “Cara pikir kita sesuai dengan Ekaristi, dan sebaliknya Ekaristi memperkuat cara pikir kita” (Ireneus haer. 4,18,5).

          Jadi tidak salah jika kita menempatkan Ekaristi sebagai yang utama dalam kehidupan kita, sebab memang di dalam Ekaristi kita menyambut seluruh kepenuhan Kristus, yang merupakan seluruh kekayaan rohani Gereja. Bersamaan dengan kita menyambut Kristus, kita menerima pula rahmat dan karunia-Nya, untuk bertumbuh di dalam karunia- karunia Roh Kudus yang telah kita terima di dalam Pembaptisan.

          Demikianlah tanggapan saya, semoga mencerahkan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply