Paus yang tak dapat bersalah adalah doktrin manusia?
Pertanyaan:
Ada satu doa kaplet, saya lupa kaplet apa, yang di dalamnya ada doa buat Paus yang dikatakan sebagai Bapa Suci yang tidak pernah bersalah. Saya benar2 tambah bingung! Sampai pada akhirnya saya menemukan dalam buku sejarah Katolik, ternyata semua itu hanya doktrin yang dibuat oleh manusia.(Doktrin tahun 1870 “Paus mutlak tak dapat bersalah dalam semua perkara iman dan moral. Vatican 1) Bagaimana mungkin ada manusia yang tidak dapat bersalah? Hanya Yesus yang tak bersalah!
[1 Yoh1:8 “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.”]
[1Yoh1:10 “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.”]
Salam – Anna.
Jawaban:
Shalom Anna, Ini adalah jawaban Point G, dimana Anna mungkin merasa bingung dengan doktrin ini, yaitu dokrin “infallibility of the Pope“. Bagaimana mungkin Paus, yang juga manusia tidak mungkin salah? Namun sebenarnya doktrin ini bukan hanya karangan Gereja saja, yang disebutkan oleh Anna, dibuat sekitar tahun 1870.
Doktrin Katolik tentang Paus tidak mungkin salah hanya dalam kondisi Ex-Catedra, yang harus memenuhi beberapa persyaratan. Mari kita melihatnya satu persatu.
- Ex-Cathedra dalam arti harafiahnya adalah “dari tahta”, namun dalam teologi hal ini merupakan suatu dokrin atau ajaran oleh Paus. Dan kata ini mulai didefinisikan dalalm Konsili Vatikan I (1869-1870), Sess, IV, Const. de Ecclesia Christi, c.iv, yang intinya mengatakan bahwa adalah merupakan suatu dogma yang diwahyukan oleh Tuhan bahwa penerus Rasul Petrus, dalam hal ini adalah Paus, kalau Paus berbicara “ex cathedra”, maka tidak akan pernah salah. Hal ini sering disalahartikan oleh orang-orang yang mungkin tidak tahu secara persis pengajaran ini dan kemudian mengatakan bahwa bagaimana mungkin seorang Paus, yang juga manusia tidak pernah salah. Maka mari kita melihat keberatan-keberatan ini:
- Doktrin ex cathedra ini berdasarkan akan janji Yesus sendiri di Mat 16:16-20 “Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yangkauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Penerus dari Petrus adalah Paus, dan dengan janji yang sama maka kunci kerajaan surga juga diteruskan oleh penerus Rasul Petrus, yaitu para Paus. Oleh karena kita percaya bahwa janji Yesus adalah YA dan AMIN, kita juga harus menyakini bahwa pada saat seorang Paus berbicara ex cathedra, maka Tuhan sendiri yang akan melindunginya dari kesalahan.
- Bayangkan seorang direktur yang akan meeting di luar negeri, dan kemudian dia mendelegasikan wewenangnya dan kekuasaannya kepada seseorang. Semua orang tidak akan bertanya-tanya tentang hal ini kalau orang tersebut menggunakan kekuasaannya sebagai seorang direktur agar perusahaan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Demikian juga dengan Yesus yang tahu bahwa Dia akan meninggalkan dunia ini, Dia memberikan kekuasaan-Nya kepada rasul Petrus, agar Gereja yang mengembara di dunia dapat mencapai tujuan akhir, yaitu surga.
- Dengan demikian Paus juga merupakan tanda kesatuan dari seluruh umat beriman. Tanpa adanya seseorang yang berada di puncak pimpinan, maka gereja akan tercerai berai. Mungkin Anna dapat merefleksikan kejadian seperti ini. Kalau misalkan ada sesuatu ketidaksetujuan tentang suatu ajaran di Alkitab, maka siapa yang akhirnya dapat menentukan mana yang benar? Apakah pendeta di gereja tersebut, sidang gereja lokal, atau siapa? Bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang atau sidang gereja mengajarkan sesuatu yang pasti benar? Nah, di dalam Gereja Katolik, Yesus memberikan kuasa ini kepada Paus, dan juga para uskup terutama dalam konsili dan juga dalam persatuan dengan Paus. Pada saat mereka menentukan pengajaran yang bersifat Ex-Cathedra, seluruh umat Katolik akan berkata Amin, kami semua percaya. Ini adalah suatu misteri iman yang berdasarkan janji Kristus sendiri, untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman. Dan selama dua ribu tahun lebih, tidak ada ajaran Ex-Cathedra yang menyimpang dari pengajaran Kristus.
- Apakah persyaratan seorang Paus dapat memberikan pernyataan Ex-Cathedra? Ada 3 persyaratan: 1) Seorang Paus berbicara di atas kursi Petrus, atau dalam kapasitasnya sebagai seorang Paus.Jadi kalau seorang Paus berbicara dalam kapasitas pribadi, dia tidak berbicara ex- cathedra. 2) Kalau Paus berbicara dalam masalah iman dan moral. Jadi seorang Paus dapat salah kalau dia berbicara tentang science, art, dll. 3) Kalau Paus memberikan doktrin yang berlaku universal atau untuk umat Katolik di seluruh dunia.Jadi kalau Paus hanya memberikan pengajaran di keuskupan atau negara tertentu, maka dia tidak berbicara ex- cathedra. (Lihat: Katekismus Gereja Katolik/KGK, 891, Lumen Gentium/LG, 25).
II. Doktrin ini telah diajarkan dari jemaat awal.
- Mungkin Anna masih tidak setuju, karena kok pernyataannya baru dibuat tahun 1870? Namun kita dapat menelusuri pengajaran ini dari jemaat-jemaat awal. Mari kita melihat beberapa bukti keberadaan doktrin ini.
- Pada tahun 80 Ad, Gereja di Korintus menyingkirkan pemimpin Gereja yang sah. Dan kemudian Paus Clement I, Paus yang ke-4 dipanggil untuk menyelesaikan permasalahan ini, walaupun Yohanes Rasul masih hidup di saat itu dan tinggal di tempat yang lebih dekat ke Korintus daripada Roma ke Korintus. Kemudian Paus Clement I menuliskan “Engkau, dengan demikian meletakkan pondasi pemberontakan, turutilah presbiter dan dimurnikan dengan pertobatan, bertekuk lututlah dalam semangat kerendahan hati.” (First Letter to the Corinthians, 57,1; Jurgens, p.12, #27). Lebih lanjut dia mengatakan “Kalau seseorang tidak menurut dalam segala sesuatu akan apa yang dikatakannya melalui kami, biarlah mereka tahu bahwa mereka akan melibatkan diri dalam dosa dan tidak dalam bahaya yang kecil.” (First Letter to the Corinthians, 59,1; Jurgens, p.12, #28a).
- Sekarang kita melihat St. Irenaeus, uskup Lyons (180-200 AD). Dalam bukunya “Against Heresies”, dia mengatakan “….lihatlah penerus dari para uskup dari yang terbesar dan dari gereja yang paling terdahulu yang diketahui oleh semua orang, didirikan dan diatur di Roma oleh dua rasul yang terbesar, Petrus dan Paulus; Gereja, dimana mempunyai tradisi dan iman yang terus-menerus diturunkan kepada kami setlah diberitahukan kepada semua orang oleh para rasul. Bersama dengan Gereja ini, karena kebesaran asalnya, semua gereja harus setuju, yaitu, semua umat beriman di seluruh dunia; Dan di dalam Gereja inilah, seluruh umat beriman dimanapun berada telah memelihara apostolik tradisi. (2,2,3; jurgens, p.90, #210). Kemudian St. Irenaeus memberikan daftar nama-nama Paus dari St. Petrus sampai ke Paus di waktu itu, yang kesemuanya terdiri dari 12 paus. Sampai sekarang, dari Paus pertama, rasul Petrus, sampai Paus Benediktus XVI, berjumlah 265 paus, dan tidak pernah terputuskan.
- Pada jaman penganiayaan Gereja sampai sekitar tahun 200, semua paus dihukum mati, kecuali satu orang. Hal ini membuktikan bahwa kerajaan Roma tahu siapa pemimpin dari Gereja, yaitu Paus.
Dari uraian di atas, kita melihat bukti-bukti dari sejarah, bahwa infallibility, Ex-Cathedra, bahwa Paus tidak mungkin salah (sejauh memenuhi persyaratan yang disebutkan di atas) adalah doktrin yang bersumber pada ajaran Kristus sendiri dan terbukti juga dari tulisan-tulisan bapa Gereja.
Semoga uraian di atas dapat membuktikan bahwa point G, ajaran tentang infallibility adalah bukan karangan Gereja Katolik semata di tahun 1870. Suatu saat, saya akan menuliskannya dalam artikel tersendiri.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org
Beberapa artikel yang berhubungan:
Beberapa artikel di kategori yang sama: