Yth Katolisitas,
Saya ingin menanyakan pandangan Gereja Katolik mengenai new age, meditasi (semacam yoga, reiki) apakah boleh diikuti oleh umat Katolik? Bertentangan tidak dengan ajaran Gereja?
Terima kasih,
Tuhan memberkati.:)
Shalom Chris,
Pertama-tama perlu kita ketahui terlebih dahulu apa sebenarnya yang disebut sebagai New Age Movement (NAM), baru setelah itu kita bahas mengenai yoga dan reiki. Menurut Paus Yohanes Paulus II dalam bukunya “Crossing the Treshold of Hope“, NAM sebetulnya memiliki kemiripan dengan heresi/ ajaran sesat di abad pertama yaitu Gnosticism. Gnosticism kuno sebenarnya telah ada sebelum Kristus. Gnosticism tidak secara khusus mempunyai hirarki dan lembaga yang jelas, tetapi ia ‘menyusup’ pada agama-agama yang sudah ada, menggunakan struktur agama tersebut sambil mengaburkan apa yang menjadi kepercayaan agama tersebut dan ajaran aliran Gnosticism sendiri. Hal serupa terjadi pada NAM. Ciri-ciri Gnosticsm yang mencoba merasuki iman Kristiani:
Pada jaman para rasul, sudah ada pengaruh Gnosticism yang ingin ‘mengaburkan’ kebenaran Injil. Maka pada surat kepada jemaat di Kolose Rasul Paulus memperingati mereka untuk tidak mengikuti ‘roh-roh dunia’/ cosmic powers (Kol 2:8), dan Rasul Yohanes juga memperingatkan jemaat terhadap ajaran sesat yang tidak mengakui bahwa Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (1Yoh 4:2).
Sekarang ini prinsip Gnosticism terdapat dalam NAM, yang sesungguhnya berakar dari agama-agama Timur, terutama Hindu Pantheism dan Buddha. Kepercayaan NAM adalah bahwa segala sesuatu adalah Satu (Brahman) dan Satu adalah Tuhan. Dunia yang kita ketahui sekarang adalah ilusi. Jadi tujuan hidup bagi penganut NAM adalah untuk menemukan kesatuan dan keilahian di dalam segala sesuatu. Maka tujuan dari latihan rohani NAM adalah untuk menemukan keilahian dalam setiap orang, bahwa setiap kita adalah Tuhan! Maka setiap kita akan kehilangan jati diri sebagai individu, dan terserap di dalam kesatuan yang disebut Nirwana. Kesatuan tersebut bukan pribadi, namun suatu Energi universal. Jadi Allah di sini digambarkan sebagai Energi.
Bagaimana mengatur/ mengarahkan ‘energi’ inilah yang diajarkan oleh reiki, dan juga sesungguhnya oleh yoga, dengan aneka gerakan. Pada tahap awal, mempelajari gerakan-gerakan ini sepertinya tidak berbahaya, namun pada tahap lanjut mengarah kepada suatu meditasi pengosongan diri dan mantra-mantra tertentu. Praktek seperti demikian tidak sesuai dengan ajaran Kristiani, dan karenanya sesungguhnya tidak boleh diikuti oleh umat Katolik. Sesungguhnya mengikuti gerakan yoga sebatas olah raga tidak menjadi masalah, asalkan jangan sampai mendalami ke tahap yang lebih dalam. Namun jika dapat dihindari, tentunya hal itu lebih baik; sebab sesungguhnya dapat saja dipilih bentuk olah raga yang lain yang tidak mengarah kepada NAM. Karena semakin yoga/ reiki dituruti, semakin ada tingkatan tertentu yang jika diikuti terus tidak sesuai dengan iman Katolik, sebab:
Saya menganjurkan, jika ada orang Katolik yang tertarik melakukan meditasi, silakan mempelajari meditasi yang diajarkan oleh Para Orang Kudus yang sesuai dengan tradisi iman Katolik, seperti meditasi ala St. Theresia dari Avila, St. Franciskus de Sales, atau St. Ignatius dari Loyola, dan St. Yohanes Salib. Fokus meditasi tersebut adalah Allah dan bukan “mengosongkan diri”. Meditasi yang dianjurkan Gereja adalah meditasi dengan merenungkan Sabda Allah, yang disebut “Lectio divina”, atau sering juga dikenal dengan sebutan ‘berdoa dengan Sabda Tuhan’. Meditasi ini jelas berbeda dengan meditasi ala NAM.
Pihak Vatikan pernah mengeluarkan dokumen mengenai tanggaan Gereja terhadap New Age Movement, yang pada dasarnya menolak paham NAM tersebut, dan aneka bentuk penggabungan antara NAM dan iman Kristiani. Silakan membaca dokumen-nya di sini: Pontifical Council for Culture, Pontifical Council for Inter-religious Dialogue, Jesus Christ the Bearer of the Water of Life: A Christian reflection on the “New Age”(silakan klik) dan Presentations of Holy See’s document on “New Age”. (silakan klik)
Salam kasih dalam Kristus Tuhan
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org
Salam dalam kasih Yesus Kristus
Saya telah membaca tulisan Anda tentang Reiki dan gerakan movement. Terima kasih atas informasinya yang sangat mencerahkan. Saya ingin bertanya, suatu ketika saya memiliki kenalan orang Katolik yang memperdalam Reiki.
Orang ini bahkan bisa menebak karakter dan perilaku orang lain dengan menyebutkan namanya, padahal orang ini tidak mengenal orang yang bersangkutan. Misalnya saja:
“Siapa nama kawanmu” ucapnya
“Ignasia Kimi” (bukan nama sebenarnya), sahutku
Dia kemudian berkomentar, “wah, si Ignasia orangnya bla bla bla”
Kadang diikuti dengan nasihat, “hati-hati sebaiknya jangan temenan saja dia, karena orangnya bla bla bla”
Mohon maaf, dialog di atas hanyalah contoh saja. Namun kira-kira kejadian seperti itulah yang pernah saya alami ketika bertemu dengan orang yang memperdalam reiki ini.
Pertanyaan saya, apakah hal-hal seperti ini pantas kita percayai? Dan bagaimana menurut pandangan iman Katolik? Mohon penjelasannya! Terima kasih
Shalom Doni,
Tentang hal ramalan Katekimus Gereja Katolik mengajarkan:
KGK 2116 Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8.). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.
Jadi kita tidak boleh percaya kepada segala bentuk ramalan, apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam proses attunement dalam Reiki juga membuka kesempatan keterlibatann roh-roh tertentu, dan karena itu bertentangan dengan kepercayaan dan penghormatan kita yang penuh, yang harus diberikan kepada Allah saja.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Mohon penjelasan mengenai pro-kontra ajaran Anthony de Mello? apakah dengan mengambil perumpamaan dari ajaran lain termasuk NAM dan bertentangan dengan ajaran Katolik? Referensi dari catatan Paus Benediktus XVI: http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_19980624_demello_en.html
[Dari Katolisitas: Kami sudah pernah menanggapi pertanyaan serupa di sini, silakan klik. Gereja Katolik menentang ajaran NAM, sehingga memang seharusnya para pengajar iman Katolik tidak mengambil contoh- contoh yang dapat mengacu kepada prinsip- prinsip ajaran NAM.]
Dear Bu Inggrid dan tim Katolisitas..
Mungkin agak terlambat untuk ikut serta dalam topik pembahasan ini, karena saya baru saja menemukan dan memperhatikan artikel2 dalam website Katolisitas :)
Saya ingat beberapa tahun lalu waktu “The Secret” baru dipublish dan (seolah2) langsung booming. Ada yang meminjamkan kepada kakak saya, dvd dan bukunya sekaligus. Saya mencoba menonton dvd The Secret itu.
Dari pembukaan sampai pertengahan isi video tersebut disusun dengan sangat indah, persis seperti video2 kesaksian Kristiani, maka orang tidak akan curiga bahwa inti pengajarannya akan menarik menuju arah yang berlawanan sama sekali dengan iman Katolik. Saat video sudah mulai memasuki pengajaran yg mengatakan bahwa kita manusia dapat memperoleh apapun yg kita inginkan dengan memproyeksikan keinginan kita pada alam semesta, baru terasa ada yg mengusik hati. Sungguh syukur kepada Tuhan karena Dia melindungi saya dan kakak dari pengajaran2 new age tsb..
Tapi dari pengalaman ngobrol dengan teman2 mudika saya melihat beberapa teman cenderung untuk tertarik dengan ide2 dlm “The Secret” ini. Ide2 yg menawarkan hasil “keberhasilan/kesuksesan” yg pasti, yang bisa dicapai dengan “memproyeksikan” keinginan2 tsb ke alam semesta yg entah berasal dari mana..
Jadi gimana ya bu.. sepertinya memang sasaran dari ajaran2 new age ini adlh orang2 muda yang masih/merasa berpikiran terbuka terhadap segala perubahan?
Saya ingin berdoa, semoga Tuhan senantiasa melindungi anak2Nya dari penyusup2 yang sangat halus ini..
Tuhan memberkati..
[Dari Katolisitas: Ya, Anda benar bahwa kita harus waspada tentang ajaran- ajaran yang menyusup secara halus ini. Tentang "the Secret" sudah pernah sekilas dibahas di sini, silakan klik]
Bagiamana tanggapan Katolisitas.org mengenai pengajaran2 spiritual yang populer saat ini seperti “Hati Nurani”, “Membuka Hati” (dan berbagai pengajaran penggunaan hati lainnya), ESQ, “Pendalaman Spiritual”, “Quantum Psikoterapi” dsb? Sebagai informasi, lokakarya2 yang mengajarkan tentang hati diselenggarakan oleh organisasi yang juga mengajarkan reiki dan yoga..
apalah aliran2 semacam ini boleh diikuti ataukah dikategorikan juga sebagai NAM?
Saya juga menemukan buku berjudul Peziarahan Hati yang ditulis oleh Romo Thomas Hidya Tjaya, SJ, PhD terbitan Kanisius yang dalam sinopsisnya antara lain :
Buku ini menawarkan kepada anda sebuah pandangan integral mengenai tujuan hidup yang sebenarnya dan cara untuk mencapainya dalam peziarahan di dunia ini. Oleh karena hidup ini adalah anugerah dari Tuhan, anda diajak untuk menjalaninya dengan menggunakan ‘alat’ (tool) yang juga telah dianugerahkan oleh Tuhan untuk menjalin relasi dengan-Nya, yaitu hati. Hati adalah kunci relasi manusia dengan Tuhan, dan hanya melalui hatilah anda akan mengalami kebahagiaan sejati. Dengan menggunakan hati sebaik-baiknya, anda menghayati hidup ini sesuai dengan tujuannya.
(http://www.kanisiusmedia.com/product/detail/013833/Peziarahan-Hati)
Saya ingin bertanya apakah penjelasan tentang hati ini sesuai dengan ajaran agama Katolik. terima kasih.
Salam kasih :-)
poppy L.A.
Shalom Poppy,
Sesungguhnya, ajaran NAM itu berbahaya justru karena sekilas terkesan tidak berbahaya. Dan karena kelihatan tidak berbahaya ini, maka pengaruhnyapun dapat masuk perlahan- lahan ke dalam kegiatan- kegiatan yang diikuti oleh umat Katolik. Terus terang, saya tidak mendalami apa itu latihan spiritual “Membuka hati”, “Hati Nurani” dan lain- lain yang Anda sebutkan, sehingga tidak dapat memberi komentar yang mendetail. Namun mari kenali prinsipnya saja, bahwa latihan spiritualitas Katolik itu fokusnya adalah pengenalan akan Tuhan dan pengenalan akan diri kita sendiri. Jadi apapun bentuk meditasi yang ditawarkan, kalau tidak mengarah ke fokus tersebut, atau jika hanya menekankan pengenalan ke hati diri sendiri, maka sesungguhnya tidak sesuai dengan tradisi Kristiani. Demikian juga, kalau dalam meditasi itu yang ditekankan adalah energi, juga tidak sesuai dengan iman Kristiani, karena Tuhan yang kita imani bukan energi tetapi Pribadi. Meditasi yang diperkenalkan oleh Reiki dan sejenisnya memusatkan pikiran kepada suatu energi tertentu yang seolah menentukan keseimbangan (dan kesehatan) di dalam tubuh manusia, dan kemudian dalam meditasi ini dapat dimasukkan unsur doa. Namun latihan ini sesungguhnya tidak terarah kepada Tuhan, karena pada prinsipnya pengaturan energilah yang ditekankan di sini. Maka di sini terlihat suatu kerancuan, dan karena itulah Magisterium Gereja Katolik melarang praktek Reiki.
Maka, silakan dilihat tentang apa yang diajarkan dalam segala bentuk latihan spiritual yang anda sebutkan itu. Apakah yang menjadi fokus di sana, apakah permenungan firman Tuhan dan kehadiran Tuhan? Apakah pengosongan diri semata? Sebab jangan dilupakan bahwa spiritualitas Katolik tidak mengajarkan pengosongan diri secara total sampai seseorang kehilangan jati dirinya. Melalui meditasi dan kontemplasi menurut tradisi Katolik, seseorang dibawa kepada pengalaman persatuan dengan Tuhan, dan bukan pengalaman pengosongan ataupun pengisian energi tertentu.
St. Teresia dari Avila, St. Yohanes Salib, St. Ignatius Loyola, St. Fransiskus dari Sales adalah para orang kudus yang dikenal dalam meditasi Katolik. Silakan jika Anda berminat, silakan membaca karya- karya mereka. Lihatlah bahwa dari tulisan- tulisan mereka, fokus mereka adalah kepada persatuan dengan Tuhan dan perhatian kepada Tuhan itu mengarahkan seseorang untuk semakin mengenali diri sendiri dan misi yang diembannya dalam rencana keselamatan Allah. Buah- buah dari latihan rohani itu harusnya menjadikan orang yang mengikutinya menjadi lebih mencintai Sabda Tuhan dan sakramen- sakramen-Nya, dan menjadi lebih rendah hati, karena kerendahan hati pada dasarnya adalah pengenalan dan pengakuan akan Allah yang Maha besar, Maha segalanya, dan akan diri kita sendiri yang kecil dan serba lemah. Kerendahan hati ini juga tercermin dalam kesiapsediaannya untuk tunduk kepada ajaran dan otoritas Gereja. Jika memang buah- buah ini yang nampak dalam latihan rohani yang anda sebutkan, maka latihan rohani itu baik dan sesuai dengan ajaran iman Katolik. Jika tidak, atau anda sendiri ragu karena fokusnya tidak ke sana, maka lebih baik tidak usah diikuti.
Selanjutnya, sekilas excerpt dari buku Rm. Thomas Hidya SJ, nampaknya baik, silakan saja jika anda tertarik untuk membacanya. Komunikasi kita dengan Tuhan memang melibatkan hati kita. Di atas semua itu, peganglah prinsip utamanya, yaitu bahwa Tuhanlah yang menjadi fokus utama dalam meditasi Kristiani. Itulah sebabnya meditasi Jalan Salib, ataupun meditasi peristiwa- peristiwa hidup Yesus dalam doa Rosario merupakan salah satu bentuk meditasi yang sangat baik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Shalom bu Ingrid dan terima kasih atas tanggapannya,
Mengenai latihan hati dan hati nurani saya pertanyakan berhubung waktu itu dipromosiin lokakarya Membuka Hati yang setahu saya link ke lokakarya masteryoga, dimana alumni membuka hati dapat mempelajari berbagai materi dan teknik lanjutan pada lokakarya masteryoga (diselenggarakan oleh organisasi yang sama).
[Dari Katolisitas: link kami edit]
Orang yang mempromosikan lokakarya juga menunjukkan buku Peziarahan Hati ketika mengetahui saya beragama Katolik. Melihat buku yang ditulis oleh seorang Romo, orang tentunya akan berpikir bahwa lokakarya maupun pengajaran yang diberikan telah mendapat acknowledge dari Gereja. Namun saya merasa perlu untuk bertanya berhubung sudah pernah punya pengalaman dengan NAM sebelumnya sehingga lebih berhati2.
Terima kasih kepada Katolisitas yang menjelaskan tentang meditasi dan spiritualitas Katolik yang sesungguhnya. Dari jawaban ibu Ingrid juga saya memahami poin-poin yang dijelaskan. Dan saya juga sudah mencoba latihan meditasi Katolik yaitu Doa Yesus dan Lectio Divina. Rasanya memang berbeda dengan jenis2 meditasi lainnya. Suatu hal yang membahagiakan adalah, didalam melakukan meditasi Katolik saya merasakan damai sejahtera lantaran berada pada koridor yang benar diterangi oleh Roh Kudus melalui GerejaNya.
Lebih lanjut, setelah searching topik mengenai praktek hati dan hati nurani di internet ada masukan dari forum ekaristi dot org yang ingin saya share kiranya bermanfaat bagi saudara2 se-iman yang mempertanyakan hal serupa.
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=49245
Salam kasih,
Poppy L.A.
Dear Monica dan teman2 katolisitas,
Saya ingin menyampaikan pengalaman (dari membaca, melihat video maupun latihan meditasi / taichi) dan pemikiran saya pada topik New Age, Reiki, spiritualitas universal, Meditasi; Budhism, Tao Te Ching, karena saya sangat ingin mengenalnya. Juga sudah 5 tahun saya menjalani latihan Tai chi bersama teman2 lingkungan dan tetangga yang Kristen, Budha, bahkan ada yang Muslim. Sampai hari ini saya tidak merasa kehilangan kekatolikan saya, malahan saya merasa begitu indahnya latihan itu bagi diri saya dan teman2. Seperti halnya meditasi, taichi juga satu bentuk meditasi yang bertujuan mendapatkan inner peace.
New age jelas lahir di dunia barat yang katakanlah bosan dengan kekristenan, saya mencoba merenungkannya, apakah di Indonesia akan terjadi seperti ini juga, karena kehidupan modern yang jelas mengutamakan kesuksesan, kepintaran, popularitas, dan jelas melanda umat Katolik juga, apalagi mereka yang makmur. Apalagi dunia barat sejak zaman Nietzche juga lebih mengutamakan kehidupan yang bebas, lebih menyukai kehidupan zaman Yunani dengan dewa dewinya, yang utama adalah kebahagiaan dunia.
Seperti kita lihat dunia barat sudah jadi atheist, dan belakangan ini sedang juga runtuh karena “cinta akan uang” ;di Indonesia juga tampaknya seperti itu, kita pastilah akan menuju ke sana juga.
Nah saya rasa New age, Reiki dsb menjadi pilihan buat mereka yang merasa gelisah kuatir dan banyak kesusahan. Banyak orang Kristen Katolik tidak sadar akan artinya mengikuti Kristus, lalu menjadikan Tuhan sebagai pusat hiburan.
Kalau saja kita sadar bahwa Tuhan menginginkan kita melakukan pekerjaanNya semata-mata agar kita jadi manusia baik (manusia wu wei menurut laotse) dan mendapatkan damai sejahteraNya, saya rasa dunia akan jadi baik seperti semula waktu diciptakan Allah.
Paulus
Shalom Paulus,
Terima kasih atas tanggapan anda tentang NAM. Secara tidak sadar, orang-orang Katolik yang ikut NAM cenderung untuk mempunyai pandangan yang menyamaratakan agama, kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang relatif, sehingga lama-kelamaan relativisme menjadi ajaran yang dipegang. Dan inilah yang perlu dikritisi. Silakan anda melihat diskusi tentang hal ini di sini- silakan klik. New Age tidak lahir dari kebosanan dunia barat akan kekristenan, karena aliran serupa (seperti: gnosticism) sudah ada di masa-masa awal kekristenan. Relativisme dan individualisme mempunyai tempat yang nyaman di NAM. Dunia barat dan dunia modern yang dipenuhi dengan paham individualisme dan relativisme menyukai NAM karena memperoleh pembenaran di dalamnya, yaitu dapat merasakan diri sebagai manusia yang spiritual tanpa perlu dogma dan doktrin untuk ditaati. Dengan kata lain, NAM dipandang sebagai satu penyelesaian untuk membentuk manusia spiritual yang bebas dari semua aturan. Bahkan secara tidak sadar, setiap individu akhirnya menjadi tuhan, karena semua kebenaran akhirnya merujuk pada pandangan pribadi.
Di sisi yang positif, popularitas NAM menunjukkan kehausan manusia akan hal-hal yang bersifat spiritual. Hal ini semakin membuktikan kepada kita bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan menurut gambar Tuhan (lih. Kej 1:27), yaitu menjadi makhluk spiritual. Dengan demikian, manusia tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan sejati di tingkat material, namun harus masuk ke tingkat spiritual. Dan dalam tingkat inilah, Kristus sendiri menunjukkan jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6), sehingga dengan mengikuti Kristus, manusia dapat memperoleh kebahagiaan sejati. Namun, mengikuti Kristus bukanlah sekedar demi kenyamanan pribadi, namun mempunyai konsekuensi, yaitu memikul salib, menyangkal diri dan mengikuti semua perintah Kristus. Dengan demikian, bagi yang benar-benar ingin mendapatkan kebahagiaan sejati, ikutilah Kristus, karena Kristuslah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Mengikuti NAM hanya akan membawa pada spiritualitas yang semu, karena tidak mempunyai akar yang kuat. Jadi, sebagai umat Katolik, janganlah mengikuti NAM.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Pembahasan mengenai NAM makin hari kok makin ramai ya… Nampaknya makin banyak orang yang mengenalnya atau mempelajarinya. Kalau meninjau dari ajaran gereja Katolik bahwa ada kebenaran di luar gereja, apakah benar kalau gereja mengatakan bahwa New Age itu sesat karena tidak sesuai dengan doktrin agama Katolik. Kalau demikian halnya semua ideologi atau agama yang tidak sesuai dengan doktrin agama Katolik juga bisa dikatakan sesat dong…
Satu hal yang membuat saya bingung, Tuhan pencipta alam semesta ini ada berapa sih. Apakah Tuhannya orang Katolik sama dengan orang lain baik dari Kristen, Islam, Hindu, Budha, atau Kong Hu Cu. Ataukah tiap agama punya Tuhannya masing-masing. Lalu jika demikian pencipta orang Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha, berarti beda-beda dong… Aneh ya. Seandainya penciptanya beda tapi kok secara biologis dan kimiawi bisa sama ya. Yang lebih aneh lagi kenapa bumi dan mataharinya cuma ada satu. Kenapa Tuhan tidak menciptakan satu bumi dan matahari untuk tiap agama. Apa Tuhannya tiap agama sebenarnya saling bekerja sama dalam menciptakan manusia di dunia ini. Apa sebenarnya di surga sana Tuhannya orang Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha, dll hidup dengan damai, rukun, bekerja sama, hidup sebagai satu saudara ya…
Tuhan memang penuh misteri…
Shalom Yohanes Baptis,
Terima kasih atas komentar anda. Memang diskusi tentang NAM tidak akan ada habisnya. Namun, satu hal yang mungkin kita perlu renungkan adalah Tuhan tidak mungkin mengkontradiksi Diri-Nya sendiri atau dengan kata lain, kebenaran tidak dapat mengkontradiksi dirinya sendiri. Tidak mungkin dua hal yang saling bertentangan dalam kondisi dan cara yang sama, dapat dianggap benar keduanya. Dengan demikian, kebenaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu satu dan mempunyai pribadi tidak mungkin sama benarnya dengan kepercayaan yang mengatakan bahwa Tuhan itu dapat banyak dan adalah energi. Menjadi tugas bagi setiap penganut agama Katolik dan NAM dan bahkan setiap agama untuk benar-benar mendalami iman dan kepercayaannya, meneliti apa yang dipercayainya dan bahkan mempertanyakan dan mendiskusikannya.
Kalau anda bertanya tentang ada berapa Tuhan, maka tentu saja kita menjawab ada satu Tuhan, karena Tuhan itu harus satu. Mengatakan Tuhan lebih dari satu adalah bertentangan dengan hakekat Tuhan sendiri yang adalah ‘maha’ dalam segalanya. Yang menjadi permasalahan adalah Tuhan yang seperti apa? Walaupun dengan akal budi, kita dapat membuktikan akan keberadaan Tuhan yang satu, pribadi, benar, baik dan indah, namun untuk mengetahui Tuhan secara mendalam, maka kita memerlukan wahyu dari Tuhan. Dalam konteks agama Kristen, maka Tuhan sendiri yang telah mewahyukan Diri-Nya, seperti yang dinyatakan-Nya dalam Kitab Suci. Ini berarti Tuhan sendiri memberikan kesaksian tentang Diri-Nya, termasuk kesaksian tentang Inkarnasi, yang menyadarkan kita bahwa Tuhan bukan hanya maha besar, namun juga Tuhan yang bersama kita atau imanuel. Dan Tuhan yang imanuel ini kemudian mendirikan Gereja, yaitu Gereja Katolik, yang senantiasa menjaga agar wahyu Allah dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi yang lain secara murni. Inilah sebabnya Gereja Katolik mengatakan bahwa kepenuhan kebenaran ada padanya, karena Allah sendiri mewahyukan Diri-Nya dan menjaga kebenaran itu lewat Gereja-Nya.
Keyakinan bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik seharusnya tidak membuat umat Gereja Katolik menjadi sombong, bahkan seharusnya menimbulkan rasa tanggung jawab yang besar. Saya pikir untuk meyakini bahwa iman yang dipegang seseorang adalah yang sungguh benar sebenarnya adalah hal yang wajar, karena memang sudah seharusnya kita memilih iman yang sungguh benar. Bagi saya dan umat Katolik yang lain, maka iman yang sungguh benar ini ada di dalam Gereja Katolik. Namun, apakah dengan memilih iman yang sungguh benar kemudian kita harus memaksa orang lain? Tentu saja tidak, karena dalam masalah agama, orang harus memilihnya secara bebas. Apakah dengan memilih iman yang sungguh benar membuat kita harus mewartakannya kepada orang lain? Tentu saja, karena kita ingin orang lain juga memperoleh kebenaran iman. Namun, hal ini harus dilakukan dengan cara yang tulus dan bijaksana, sehingga tidak ada nilai-nilai paksaan. Orang sering mengaburkan bahwa kalau kita tidak mengakui perbedaan antar keyakinan, maka kita tidak mempunyai toleransi. Namun sebenarnya, kalau kita mengakui adanya perbedaan, menyikapinya dengan bijaksana, melakukan pewartaan dengan tulus dan tanpa paksaan adalah merupakan bentuk toleransi yang lebih dewasa. Sama seperti dua orang dewasa dapat membentuk perkawinan, walaupun masing-masing mempunyai pribadi yang berbeda, maka adalah mungkin untuk hidup bersama dengan damai walaupun mempunyai perbedaan agama dan kepercayaan. Semoga jawaban ini dapat diterima.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Bagaimana tanggapan gereja terhadap imam/biarawan-biarawati yang ikut reiki?
Shalom Jeany,
Terus terang, sayapun sungguh prihatin mendengarnya. Namun saya menduga, semua itu dilakukan karena mereka tidak sungguh- sungguh mengetahui bahwa hal itu dilarang oleh Gereja Katolik, seperti telah dipaparkan di atas.
Maka jika dipandang baik dan dapat membantu, silakan anda meng-copykan tulisan- tulisan di Katolisitas tentang topik ini untuk disampaikan kepada mereka. Semoga maksud baik kita semua mendapat tanggapan positif, mengingat bahwa mereka seharusnya menjadi teladan iman bagi umat.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Shalom Ibu Ingrid,
Terima kasih atas tanggapannya, iya saya juga prihatin & sedih … Saya usul kalau bisa Ibu Ingrid/team Katolitas bantu untuk menyampaikan ke keuskupan supaya dari keuskupan secara formal memberitahukan lewat mimbar Gereja tentang hal ini kepada umat Katolik, dan kepada para imam… mungkin bisa dengan diadakan pertemuan khusus atau tergantung pada kebijakan Bapa Uskup nantinya.
Salam kasih,
Jeany
[dari Katolisitas: keprihatinan Anda sudah kami sampaikan juga kepada Rm Wanta dan Rm Santo di KWI, semoga dapat juga menjadi perhatian mereka dan dapat ditindaklanjuti bila perlu. Terima kasih atas kepedulian Anda.]
Syalom Katolisitas.
Termia Kasih atas artikel yang sangat jelas ini.
Tetapi saya memiliki beberapa masalah yang ingin saya tanyakan.
Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk tidak membeda-bedakan sesama kita yang berbeda keyakinan, lalu apakah Gereja Katolik menganggap Hindu dan Buddha itu ajaran yang salah? Terus terang saya sering melihat dan mendengar ajaran kedua agama itu dari media, dan mulai sedikit terpengaruh pikiran bahwa kebenaran itu relatif, terletak di mana-mana, berarti karena dewa-dewi itu belum tentu ada, Apa berarti keyakinan kita akan adanya Kristus dan Tuhan yang Esa juga relatif?
Lalu, perbedaan konsep tentang reinkarnasi. Umat hindu dan Buddha percaya bahwa manusia yangn mati akan lahir kembali dalam wujud lain, apakah Gereja Katolik juga memiliki konsep seperti itu?
Apakah dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keyakinan kita adalah benar? Sebab saya sendiri sering goyah dengan pemaparan agama lain yang sekilas pandang juga sepertinya benar, apalagi dengan kesan bahwa Katolik itu dari Barat alias orang Eropa, Hindu Buddha dari Timur (Cina, India), Islam dari Arab.
Apa yang harus saya lakukan? Terkadang saya meragukan keberadaan Yesus sendiri. Sungguh amat mengganggu pikiran saya yang sedang berusaha menanamkan iman katolik yang kuat, apalagi saya tidak mendapatkan asupan bimbingan iman yang memadai semasa kecil saya hingga saat ini dari keluarga.
Mohon bantuannya.
Salam Kasih.
Monica
Shalom Monica,
1. Relativisme
Memang dewasa ini ada banyak ideologi- ideologi yang mencuat ke permukaan, yang nampaknya baru, seperti NAM itu, walaupun sebenarnya akarnya sudah ada sejak lama. Bermacam ideologi ini begitu ‘membombardir’ kita seolah semua paham itu benar, dan segalanya menjadi relatif, seperti yang juga diajarkan oleh NAM tersebut. Tentu ini keliru. Iman yang menganggap semua adalah relatif sesungguhnya bukan iman yang berdasarkan kebenaran yang dari Tuhan, tetapi berdasarkan atas ego dan keinginan manusia, yang ingin dianggap benar. Sedangkan iman yang sejati itu harus bersumber dari Tuhan sendiri yang mewahyukan Diri-Nya, dan ini kita temukan di dalam Kristus.
Gereja Katolik di bawah Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI mengajarkan bahwa Relativisme adalah salah satu problem terbesar tentang hal iman dan moral dewasa ini. Paus Benediktus XVI dalam homilinya pada Misa pemilihan Paus, tanggal 18 April 2005, antara lain mengatakan demikian:
“How many winds of doctrine have we known in recent decades, how many ideological currents, how many ways of thinking. The small boat of the thought of many Christians has often been tossed about by these waves – flung from one extreme to another: from Marxism to liberalism, even to libertinism; from collectivism to radical individualism; from atheism to a vague religious mysticism; from agnosticism to syncretism and so forth. Every day new sects spring up, and what St Paul says about human deception and the trickery that strives to entice people into error (cf. Eph 4: 14) comes true.
Today, having a clear faith based on the Creed of the Church is often labeled as fundamentalism. Whereas relativism, that is, letting oneself be “tossed here and there, carried about by every wind of doctrine”, seems the only attitude that can cope with modern times. We are building a dictatorship of relativism that does not recognize anything as definitive and whose ultimate goal consists solely of one’s own ego and desires.
We, however, have a different goal: the Son of God, the true man. He is the measure of true humanism. An “adult” faith is not a faith that follows the trends of fashion and the latest novelty; a mature adult faith is deeply rooted in friendship with Christ. It is this friendship that opens us up to all that is good and gives us a criterion by which to distinguish the true from the false, and deceipt from truth.
We must develop this adult faith; we must guide the flock of Christ to this faith. And it is this faith – only faith – that creates unity and is fulfilled in love.
On this theme, St Paul offers us as a fundamental formula for Christian existence some beautiful words, in contrast to the continual vicissitudes of those who, like children, are tossed about by the waves: make truth in love. Truth and love coincide in Christ. To the extent that we draw close to Christ, in our own lives too, truth and love are blended. Love without truth would be blind; truth without love would be like “a clanging cymbal” (I Cor 13: 1).
Dewa dan dewi adalah semacam legenda, dan tidak memasuki sejarah manusia. Namun Kristus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, dan masuk dalam sejarah manusia ; dan Kristus inilah yang kita imani sebagai kepenuhan Kebenaran, puncak dari seluruh Wahyu Allah (lih. KGK 75). Wahyu Allah ini disampaikan secara tertulis dan lisan, dan keduanya dilestarikan sepenuhnya di dalam Gereja Katolik, sehingga kita dapat mengetahui bahwa Kebenaran itu sifatnya tidak relatif, namun definitif dan tidak berubah, seperti yang telah dibuktikan oleh ajaran Gereja Katolik yang tetap sama selama 2000 tahun lebih.
2. Tentang reinkarnasi
Gereja Katolik tidak mempercayai reinkarnasi. Kalau kita mengetahui perbedaan antara tumbuhan, binatang dan manusia, seperti yang dipaparkan di sini – silakan klik, maka sangat sulit untuk dapat menerima reinkarnasi. Bagaimana mungkin, manusia yang mempunyai jiwa yang bersifat spiritual dan bersifat kekal, kemudian dapat menjadi binatang, yang mempunyai jiwa yang tidak bersifat spiritual dan tidak kekal?
Gereja Katolik mengajarkan bahwa kontemplasi tentang Allah dan Kebenaran-Nya dapat didekati dengan iman dan akal budi. Artinya adalah kebenaran yang sejati itu harus juga masuk akal, dan bukan hanya sesuatu yang hanya diimani, tanpa ada penjelasannya yang dapat diterima oleh akal sehat.
3. Iman mudah goyah?
Pada akhirnya, pencarian akan Tuhan akan juga memerlukan keterbukaan hati kita untuk tidak mengandalkan semata- mata kepada pemahaman dan ‘selera’ kita sendiri, namun kepada Wahyu Allah itu sendiri yang telah disampaikan seutuhnya oleh Gereja Katolik. Maka adalah langkah yang baik, jika kita terlebih dahulu mempelajari ajaran Gereja Katolik, daripada membuang waktu untuk mempelajari banyak paham- paham yang tidak jarang saling bertentangan satu sama lain dan malah membuat bingung. Jika kita berpegang pada Kristus yang adalah Kebenaran itu sendiri, maka kita tidak mudah terombang- ambing. Tak kenal maka tak sayang, namun jika kita sudah mengenal namun kita tidak sayang, maka problemnya ada pada diri kita sendiri. Untuk itu yang terpenting adalah mohon rahmat Tuhan agar kita dapat mengenal Dia, namun juga agar kita dapat mengasihi-Nya, yaitu dengan melaksanakan perintah- perintah-Nya (lih. 1 Yoh 2:4; 5:2-3).
Akhirnya, selain berakar di dalam doa, firman Tuhan dam sakramen- sakramen Gereja (terutama Ekaristi dan Tobat), silakan anda bergabung juga dengan komunitas gerejawi di paroki anda, sebab iman anda dapat juga bertumbuh melalui persekutuan bersama umat seiman. Semoga dengan demikian iman anda tidak lekas goyah, dan anda dapat terus bertumbuh dalam pengharapan dan kasih.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Dear Bu Ingrid,
Hanya sekedar rasa ingin tahu saja.
Tentang reinkarnasi, bukankah Katolik juga ada ? yaitu kebangkitan badan dan kehidupan kekal.
Saya mengartikan konteks reinkarnasi di ajaran Budha sama dengan kebangkitan badan dan kehidupan kekal dalam ajaran Katolik. Bukan seperti pemahaman reinkarnasi yang terlahir sebagai binatang, tumbuhan dll, saya juga tidak percaya. Seperti tertulis, Ibrani 9:27 “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.”
Terimakasih
Shalom Hendrik,
Kebangkitan badan dan kehidupan kekal yang diajarkan oleh Kristus, tidak sama dengan reinkarnasi seperti dalam ajaran Budha. Karena pengertian reinkarnasi yang umum dimengerti (menurut ajaran Budha) adalah seseorang yang sudah mati dapat ‘lahir kembali’ dalam rupa yang berbeda dalam kehidupan ini (bukan kehidupan kekal); dan rantai ‘kelahiran kembali’ ini dapat berlangsung sampai berkali- kali sampai banyak generasi. Ajaran macam ini tidak sesuai dengan ajaran Kristiani. Menurut ajaran Kristus seperti yang kita ketahui secara jelas dalam Kitab Suci adalah manusia itu hidup dan mati hanya satu kali saja (lih. Ibr 9:27) lalu setelah kebangkitan di akhir jaman, manusia (tubuh dan jiwa)nya masuk dalam kehidupan kekal di surga (bagi orang- orang benar) atau masuk dalam kebinasaan kekal di neraka (bagi orang- orang yang jahat/ menolak Allah).
Semoga Tuhan mendapatkan kita layak untuk digabungkan dalam kelompok manusia yang masuk ke dalam kehidupan kekal bersama-Nya di surga.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Shalom Tim Katolisitas,
Sekilas membaca “Jesus Christ The Bearer of The Water of Life” Saya mau bertanya mengenai Medieval Alchemy dan Renaissance Hermeticism, ajaran new age seperti apa?
Mengapa Celtic Christianity juga merupakan new age?
Terima kasih.
Shalom Arief,
1. Medieval Alchemy
Dalam sejarah ilmu pengetahuan, alchemy mengacu kepada bentuk penyelidikan tentang alam dan awal disiplin filosofi dan spiritual yang menggabungkan elemen- elemen kimia, metalurgi, obat- obatan, astrologi, semiotik, mistis, spiritualism, dan seni sebagai bagian- bagian kekuatan tunggal yang lebih besar. Maka alchemy menurut pemikiran kuno adalah jalan pemurnian dan transformasi spiritual; ekspansi kesadaran dan perkembangan intuisi melalui gambar- gambar. Alchemy berkaitan dengan mistis dan misteri, yang diyakini mempunyai kekuatan untuk mengubah kesadaran dan menghubungkan jiwa manusia dengan Allah.
Pada jaman Abad Pertengahan (medieval) alchemy tersebar di dunia barat, seperti halnya astrologi dan okultism. Alchemy ini berfungsi di dua tingkatan yaitu tingkatan duniawi dan rohani. Di tingkatan duniawi para alchemis mengacu pada proses pengubahan besi dasar menjadi emas. Dalam tingkatan rohani, alchemis bekerja untuk memurnikan diri mereka sendiri dengan mengeliminasi material ‘dasar’ diri sendiri untuk mencapai ‘emas’ pencerahan.
Alchemy memperoleh namanya di Eropa Latin di abad ke -12, sebagai bentuk pemikiran spekulatif yang berhubungan dengan astrologi; yang berusaha menemukan hubungan antara manusia dengan kosmos dan untuk mempergunakan hubungan itu demi keuntungan manusia.
Medieval alchemy, yang berhubungan astrologi ini ditolak oleh Gereja Katolik, sebab ini merupakan bentuk pelecehan terhadap kemahakuasaan Tuhan.
KGK 2116 Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (Bdk. Ul 18:10; Yer 29:8). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan menanyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah.
2. Renaissance Hermeticism
Hermeticism adalah seperangkat kepercayaan filosofis dan religius yang berdasarkan atas tulisan- tulisan pseudepigrafikal Mesir Helenistik (Yunani) oleh Hermes Trismegistus yang merupakan wakil dari peleburan antara dewa Mesir Thoth dan dewa Yunani, Hermes.
Kepercayaan akan dewa- dewa ini tentu berlawanan dengan iman akan Tuhan yang Esa, yang diajarkan oleh iman Kristiani.
3. Ajaran tentang New Age
Kami sudah berusaha menjabarkan tentang prinsip ajaran New Age, yang mengambil prinsip ajaran Gnosticism, di artikel di atas, silakan klik. Atau silakan membaca di point 2.3.3 tentang Central Themes of the New Age, dalam dokumen “Jesus Christ, the Bearer of the Water of Life“. Silakan anda membaca di sana, dan jika masih ada yang kurang jelas silakan bertanya kembali.
4. Celtic Christianity
Celtic Christianity umumnya dihubungkan dengan aliran Kristen sekelompok orang di Bristish Isles (sekelompok pulau di barat laut benua Eropa, termasuk Inggris dan Irlandia) di jaman awal Abad Pertengahan. Aliran Celtic Christianity berbeda dengan iman Kristiani secara umum, karena aliran ini menolak prinsip ajaran tentang dosa asal dan akibatnya pada manusia. Menurut aliran ini, manusia tidak mempunyai kecenderungan berbuat dosa, dan karena itu manusia dapat, dengan mengandalkan kemampuannya sendiri, untuk bersatu dengan Tuhan. Pandangan ini secara khusus diajarkan oleh Pelagius (sekitar abad 4), dengan menekankan cara hidup kudus dengan melaksanakan praktek ascestism, agar seseorang dapat selamat.
Namun ajarannya ini tidak sesuai dengan ajaran para rasul dan Bapa Gereja, yang mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh karena kasih karunia Allah (yang memampukan manusia untuk melakukan kebaikan) dan iman akan Yesus Kristus (yang tidak terpisahkan dari perbuatan baik/ kasih); jadi bukan semata- mata hanya karena perbuatan baik saja. Ajaran Pelagius ini dikecam oleh St. Agustinus, dan juga oleh Konsili Carthage di tahun 416 dan Konsili di Afrika tahun 418.
Prinsip dasar Celtic Christianity ini, yang menolak akan akibat dosa asal, dan karenanya tidak mengakui pentingnya rahmat Allah (grace) bagi keselamatan manusia inilah yang membuatnya mirip dengan ajaran New Age. Sebab kedua aliran ini menganggap bahwa manusia dengan mengandalkan kemampuannya sendiri dapat selamat, sehingga bagi mereka Inkarnasi Kristus bukan merupakan jalan yang absolut untuk menghantar manusia kepada keselamatan kekal. Padahal Sabda Allah yang tercatat dalam Kitab Suci maupun dalam Tradisi Suci para rasul yang diteruskan oleh para Bapa Gereja justru mengajarkan sebaliknya, bahwa keselamatan kekal kita peroleh karena kasih karunia Allah, oleh iman (lih. Ef 2:8-9) yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6); jadi bukan karena semata usaha perbuatan baik manusia saja.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Terima kasih atas tanggapan, bu Inggrid. Sehingga bisa menambah pengetahuan saya.
Bu Ingrid, terimakasih atas keterangan Anda yang begitu jelas. Apakah dokumen yang dikeluarkan oleh Vatican ini pernah disosialisasikan oleh Gereja pada umat?
Saya berpendapat hal ini penting sekali disosialisasikan, tetapi seingat saya, saya belum pernah mendapati/mendengar tanggapan Gereja Katolik terhadap NAM ini secara resmi disosialisasikan pada umat.
Demikian pula mungkin perlu disosialisasikan aplikasi2 NAM ini dalam masayarakat mengambil nama apa saja selain Reiki dan yoga, sehingga umat dapat mengenalinya. Terutama awam Katolik, sangat rentan terhadap NAM ini, contohnya melalui buku/film The Secret mengutip beberapa ayat Kitab Suci, maka dengan mudah mereka menilai ini sesuai dengan Kekristenan ( ini terjadi pada teman saya,” lho kan ada ayatnya masa bertentangan dengan iman Kristen?” dia mengatakan begitu dengan heran dan tidak mengerti)
Yang pernah saya dengar hanya komentar singkat dan sangat halus yang diselipkan oleh seorang Imam dalam khotbahnya tentang NAM ini, karena kurang tegas, saya rasa banyak orang yang tidak menerima pesan ini. Teman saya sendiri banyak yang terlibat dalam pelayanan baik Paroki maupun kelompok2 doa tapi tidak mengerti apa itu NAM.
Mungkin bisa diinfokan Bu, bila pernah disosialisasikan lewat mana saja, terutama untuk saudara-saudara seiman yang tidak familiar dengan internet.
Terima kasih,
Yashinta
Shalom Yashinta,
Dokumen Jesus the Bearer of the Water of Life sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Yesus Pembawa Air Hidup, yang dapat anda peroleh di:
Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI
Jl Cut Mutiah 10 Menteng, Jakarta Pusat 10340 telpon 021 319 2 5757
Email: dokpen@kawali.org
Pembayaran melalui: Rekening KWI
atau pesan ke
Penerbit dan Toko Rohani OBOR
Jl. Gunung Sahari no. 91
Jakarta Pusat 10610
Telp. (021) 422 2396 Fax. (021) 421 9054
Email: tokorohani@obormedia.com
Website: http://www.obormedia.com
Memang mungkin perlu disosialisasikan lebih lanjut, maka anda dapat juga turut menyebarkan informasi ini, kepada mereka yang membutuhkannya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Terimakasih infonya Bu, tentu ini sangat membantu. Saya memang terbeban untuk membagikan info ini pada teman-teman saya.
Akhir-akhir ini semakin sering saya mendengar tentang anak muda Katolik yang goncang dan meninggalkan imannya karena kurang mengerti dasar iman keKatolikan sehingga mudah dipengaruhi dengan ajaran iman lain maupun paham NAM ini.
Sedapat mungkin saya berusaha membagikan apa yang sudah saya dapat dari web ini dan buku-buku Katolik yang saya baca, pada teman-teman di sekitar saya.
Tuhan memberkati
Syalom, Mba Ingrid dan Om Stef, saya mau minta tolong! bisa ga katolisitas mengupload dokumen “Yesus Kristus Pembawa Air Hidup” dalam bahasa Indonesia? setahu saya link yang diberikan masih dalam bahasa Inggris. dokumen ini Dokpen KWI pun sepertinya sudah sulit di cari. Jika memungkinkan bisa diuplaod bagi kami yang bertugas di tempat yang jauh dari Jakarta dan toko Buku Rohani yang ada di kota-kota mungkin akan memudahkan kami untuk memberi dan berbagi informasi kapada umat mengenai New Age kepada mereka yang membutuhkan. Trims, Tuhan memberkati!
Salam Aris O.Carm,
Silakan memesan langsung ke:
Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI
Jl Cut Mutiah 10 Menteng, Jakarta Pusat 10340 telpon 021 319 2 5757
Email: dokpen@kawali.org
Pembayaran melalui: Rekening KWI
atau pesan ke
Penerbit dan Toko Rohani OBOR
Jl. Gunung Sahari no. 91
Jakarta Pusat 10610
Telp. (021) 422 2396 Fax. (021) 421 9054
Email: tokorohani@obormedia.com
Website: http://www.obormedia.com
Salam
YDHpr