Bagaimana hubungan teori Evolusi dengan iman?

Pertanyaan:

Yth Katolisitas,
Saya ingin bertanya mengenai Iman vs Science Knowledge
Dengan iman, kita percaya bahwa manusia langsung dibentuk dari image Allah.

Science bilang kalau berjuta2 tahun yg lalu, kehidupan tercipta dari mahluk2 sederhana, yang kemudian berkembang hingga ke sekarang ini.
Semua dibuktikan (dengan pengetahuan manusia saat ini) dengan berbagai metode ilmiah:
- teori evolusi
- cara hitung usia fosil
- analisa mineral
- eksplorasi outer space
- dan lain-lain

Bagaimana menggabungkan ke dua hal ini? Bisa tidak digabungkan? (tentunya sesuai Iman Katolik bagaimana)
Saya tunggu jawabannya, Tuhan Yesus memberkati. Christianto

Jawaban:

Shalom Christianto,
Pertama-tama kita harus memegang bahwa karena iman dan akal itu sama-sama berasal dari Allah, maka kita percaya bahwa seharusnya tidak ada pertentangan antara iman dan akal (reason) dan science yang menjadi hasil dari akal tersebut untuk mencapai kebenaran, asalkan pencarian kebenaran tersebut dilakukan dengan tulus tanpa memasukkan ide-ide pribadi yang kemudian dianggap sebagai kebenaran.

Teori Evolusi yang kita kenal sebenarnya merupakan suatu hipotesa, yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, agar dapat dikatakan sebagai kebenaran. Sementara ini, bukti ilmiah belum dapat dikatakan mendukung hipotesa tersebut. Berikut ini, saya akan coba menjabarkan mengapa demikian.
Ada dua inti besar teori Evolusi- yang dikenal sebagai “Macroevolution/ evolusi makro”yang dipelopori oleh Darwin:

  1. Semua mahluk hidup berasal dari mahluk sederhana yang terdiri dari satu sel atau lebih, yang terbentuk secara kebetulan.
  2. Species baru terbentuk dari species lain melalui seleksi alam, dengan melibatkan kemungkinan variasi, di mana variasi tersebut dapat bertahan dan berkembang biak. Dalam abad ke-20, hal ini diperjelas dengan memberi penekanan pada kemungkinan mutasi sebagai cara pembentukan variasi. Posisi ini dikenal sebagai Neo- Darwinism.

Sebelum kita membahas lebih lanjut, kita melihat bahwa di sini terdapat 2 jenis evolusi, yaitu Evolusi makro, dan evolusi mikro. Evolusi makro membicarakan evolusi melewati batas-batas species, di mana species secara berangsur-angsur berubah menjadi species yang lain. Sedangkan evolusi mikro adalah evolusi yang berada di dalam batas satu species. Mikro evolution adalah suatu realita yang dapat kita amati secara langsung pada alam, jadi tidak perlu dipermasalahkan. Umumnya, evolusi mikro ini berhubungan dengan adaptasi dengan lingkungan baru, dan berupa pengurangan organ dan bukan penambahan dan penyesuaian.
Teori evolusi yang kita kenal umunya adalah evolusi makro. Ini bertentangan dengan iman, karena definisinya, teori Evolusi makro merujuk pada asumsi bahwa tidak ada campur tangan Tuhan (sebagai Divine Intelligence) sebagai pencipta umat manusia.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa terdapat beberapa problem mengenai teori Evolusi makro, baik dari segi filosofi maupun ilmu pengetahuan, dan akal sehat kita sesungguhnya dapat menilai mana yang benar:

A. Problem Evolusi makro dari sudut pandang filosofi:

  1. Teori Darwin berpendapat bahwa dari mahluk yang lebih rendah dapat dengan sendirinya naik/ membentuk mahluk yang lebih tinggi, yang disebabkan oleh kebetulan semata-mata, (dan bukan disebabkan karena campur tangan ‘Sesuatu’ yang lebih tinggi derajatnya). Ini bertentangan dengan prinsip utama akal sehat: sesuatu/ seseorang tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak dimilikinya.
  2. Teori Darwin tidak berdasarkan fakta konkrit bahwa species tertentu memiliki ciri khusus yang tidak dipunyai oleh species lain; sebab teori ini beranggapan bahwa semua species seolah-olah tidak punya ciri tertentu dan dapat berubah menjadi species yang lain, seperti tikus menjadi kucing, kucing menjadi anjing, dst. Hal ini tentu tidak terjadi dalam kenyataan.
  3. Teori ini mengajarkan bahwa kemungkinan variasi terjadi karena ‘kesalahan’/ hanya kebetulan; dan ini seperti mengatakan bahwa musik disebabkan oleh ‘keributan’ semata-mata.
  4. Teori Darwin tidak dapat menjelaskan perbandingan paralel antara hasil karya manusia dan satu sel mahluk hidup. Karena akal sehat dapat melihat secara objektif bahwa hasil karya manusia/ teknologi betapapun bagus dan rumitnya tidak memiliki kehidupan sedangkan mahluk satu sel memiliki kerumitan tertentu yang dapat menyebabkan ia hidup dan berkembang. Maka jika teknologi tersebut (yang lebih rendah jika dibandingkan dengan mahluk satu sel) dihasilkan oleh mahluk dengan akal yang tinggi (yaitu manusia), maka betapa hal itu harus lebih nyata dalam hal penciptaan mahluk satu sel tersebut, yang seyogyanya diciptakan oleh mahluk yang jauh lebih tinggi dari manusia.
  5. Evolusi tidak dapat menjelaskan keberadaan keindahan alam di dunia. Jika segala sesuatu adalah hasil kebetulan yang murni, maka hal itu tidak dapat menjelaskan bagaimana kebetulan itu bisa menghasilkan keindahan yang ditimbulkan oleh keteraturan/ ‘order’. Dari pengalaman sehari-hari, kita mengetahui tidak mungkin terdapat kebetulan-kebetulan murni yang bisa menghasilkan keteraturan dan keindahan.
  6. Teori Darwin tidak membuktikan bahwa Tuhan Sang Pencipta tidak ada, melainkan teori ini mengambil asumsi ketidak-adaan Tuhan sebagai titik tolak. Bahwa kemudian dikatakan bahwa pembuktian ‘kebetulan secara ilmiah’ tersebut menunjukkan demikian, itu hanya merupakan demonstrasi untuk mengulangi suatu pernyataan yang diasumsikan sebagai kebenaran.

B. Problem Evolusi makro dari segi Ilmu Pengetahuan:

  1. Kenyataannya, species mahluk hidup sudah jelas memiliki keterbatasan ciri-ciri yang secara genetik tidak dapat berubah. Sampai saat ini tidak ada bukti nyata tentang pembentukan species baru dari species lain menurut seleksi alam.  Jikapun ada, maka mahluk persilangan ini tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang biak. Contoh: ‘mule’ , persilangan antara kuda dan keledai, tidak dapat berkembang biak/ steril.
  2. Hasil penemuan fosil tidak menunjukkan perubahan yang berangsur secara terus menerus pada species yang satu dan yang lain. Yang ditemukan adalah bentuk yang stabil untuk jangka waktu yang lama, dan tidak ditemukan fosil species perantara  yang menghubungkan satu species dengan yang lain. Jika benar ada mahluk antara kera dengan manusia, tentu fosil mahluk antara kera dan manusia harus banyak ditemukan, namun sampai saat ini tidak demikian, sehingga dikatakan bahwa terdapat ‘missing links’ antara fosil kera dan fosil manusia. Betapa ini menunjukkan bahwa mahluk penghubungnya tidak ditemukan karena memang tidak ada!
  3. Mutasi menunjukkan adanya pengurangan organ ataupun modifikasi organ yang sudah ada, karena kebetulan dan tidak essensial, seperti perubahan warna, bentuk, dst. Namun mutasi tidak dapat menjelaskan sesuatu yang tadinya tidak ada jadi ada. Jadi prinsipnya ‘indifferent/regressive’ dan bukan ‘progressive’.
  4. Darwin sendiri mengamati dengan teliti evolusi mikro, namun masalahnya dia menjadikannya sebagai rumusan untuk evolusi makro, walaupun sesungguhnya tidak dapat menjawab bagaimana sesuatu yang lebih sederhana membentuk sesuatu yang lebih rumit. Tidak usah jauh-jauh bicara soal keseluruhan tubuh; sebab bagaimana perkembangan dari satu sel menjadi organ mata atau telinga (yang walaupun kecil tapi kompleksitasnya cukup tinggi) saja belum dapat dibuktikan.
  5. Perhitungan matematika, yaitu teori probabilitas menunjukkan bahwa kemungkinan perubahan dari mahluk sederhana (1 sel atau lebih) menjadi mahluk yang kompleks adalah sangat kecil dan seluruh sejarah manusia tidak cukup untuk merealisasikan perubahan itu. Mungkin alibi ini termasuk yang paling mungkin dari pandangan ilmiah untuk membuktikan bahwa evolusi makro itu tidak mungkin terjadi. Salah satu tokoh evolusi seperti  Jacques Monod (1910-1976) sendiri mengakui bahwa kemungkinan evolusi dari mahluk bersel satu adalah “hampir nol” dan kemungkinan terjadi hanya sekali (Jacques Monod, Chance and Necessity, NY, Alfred A. Knopf, 1971, p.114-145). Monod seorang ahli biologi, menyuarakan pendapat dalam hal biologis, namun hal ini tidak sejalan dengan kemungkinan secara matematika, yaitu bagaimana satu kemungkinan yang langka tersebut dapat terjadi, dan dapat menjadi dasar perkembangan manusia dalam kurun waktu sejarah manusia yang terbatas. Menurut statistik, hal ini tidak mungkin.
  6. Seandainya benar, maka diperlukan waktu yang sangat panjang untuk realisasi kemungkinan mutasi/ ‘kebetulan’ ini. Keterbatasan waktu sejarah manusia yang menunjukkan paling lama sekitar 10.000- 15.000 tahun tidak memberikan jawaban untuk kemungkinan teori ini. George Salet menulis, “…ilmu pengetahuan menemukan fungsi DNA, duplikasinya dan perkembangannya memberi dasar bagi spekulasi matematika bahwa, … periode geologis harus dikalikan dengan 10 diikuti dengan ber-ratus atau ber-ribu-ribu nol, untuk memberikan waktu bagi terbentuknya sebuah organ baru, walaupun organ yang paling sederhana sekalipun.” (diterjemahkan dari George Salet, “Hasard et certitude. Le transformisme devant la biologie actualle, Paris, 1972, p. x)
  7. Ilmu pengetahuan mengakui kompleksitas mahluk hidup ber-sel satu, dan tidak dapat menjelaskan bagaimana asal usul kehidupan. Dalam hal ini tokoh evolusi menawarkan penyelesaian dengan teori ‘blind chance’, tetapi seperti Monod sendiri mengakui, hal ini masih problematik, dan lebih tepat disebut sebagai ‘teka-teki’. (Ibid., p. 143)

Kenyataan di atas sesungguhnya dapat membantu kita untuk melihat hal Evolusi tersebut secara lebih objektif. Kini, mari kita lihat pandangan Gereja mengenai hal evolusi ini, yang dapat saya rumuskan dalam beberapa point:

  1. Kita percaya bahwa jiwa manusia diciptakan secara langsung oleh Allah, dari yang tadinya tidak ada jadi ada. Jiwa ini dihembuskan kedalam embrio manusia yang terbentuk dari hubungan suami istri. Jadi jiwa manusia bukan berasal dari produk evolusi. Dalam surat ensiklik Humani Generis (1950), Paus Pius XII menolak ide evolusi total (yang menyangkut tubuh dan jiwa) manusia dari kera (primate). Dalam Humani Generis 36, Paus Pius XII mengajarkan bahwa meskipun dalam hal asal usul tubuh manusia, masih dapat diselidiki apakah terjadi dari proses evolusi, namun yang harus dipegang adalah: semua jiwa manusia adalah diciptakan langsung oleh Tuhan. Namun demikian mengenai evolusi tubuh manusia itu sendiri, masih harus diadakan penyelidikan yang cermat, dan tidak begitu saja disimpulkan bahwa manusia yang terbentuk dari ‘pre-existing matter’ tersebut sebagai sesuatu yang definitif.
    Jadi ide evolusi total ini sama sekali bukan hipotesa bagi orang katolik. Namun demikian, para ilmuwan dapat terus menyelidiki hipotesa bahwa tubuh manusia dapat diambil dari kehidupan yang sudah ada (ancestral primate), walaupun juga dengan sikap hati-hati, “great moderation and caution”. Tetapi ia harus memegang bahwa semua manusia diturunkan dari satu pasang manusia (monogenism), bukan dari banyak evolusi paralel (polygenism) seperti pada hipotesa tertentu, sebab semua manusia diturunkan dari Adam dan Hawa. Dan hal ini sesuai dengan konsep “dosa asal” yang diturunkan oleh manusia pertama.
  2. Mengenai penciptaan tubuh manusia dari materi yang sudah ada sebenarnya tidak bertentangan dengan sabda Tuhan yang menciptakan tubuh Adam dari tanah/ debu, yang kemudian dihembusi oleh kehidupan, yang menjadi jiwa manusia (Kejadian 2:7). Namun hal ini tidak bertentangan dengan penciptaan manusia seturut gambaran Allah, sebab yang dimaksudkan di sini adalah manusia sebagai mahluk rohani yang berakal dan memiliki kehendak bebas.
  3. Jadi diperbolehkan jika orang berpikir bahwa kemungkinan tubuh kera dapat berkembang mendekati tubuh manusia dan pada titik tertentu (di tengah jalan), Tuhan menghembusi jiwa manusia ke dalam tubuh manusia itu yang kemudian terus berevolusi (evolusi mikro) sampai menjadi manusia yang kita ketahui sekarang. St. Thomas Aquinas I, q.76, a.5, menyebutkan bahwa teori  yang menyebutkan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera (evolusi makro), harus kita tolak. Tubuh Adam haruslah merupakan hasil dari campur tangan Tuhan untuk mengubah materi apapun yang sudah ada (pre-existing matter) dan menjadikannya layak sebagai tubuh yang dapat menerima jiwa manusia. Campur tangan ini mungkin saja luput dari pengamatan ilmiah, seperti yang diakui sendiri oleh Monod, saat mengatakan bahwa asal usul hidup manusia adalah suatu teka-teki.
    Tidak mungkin bahwa dalam satu tubuh dapat terdapat dua macam jiwa, yang satu adalah rational (manusia) dan yang kedua, irrational (kera), sebab terdapat perbedaan yang teramat besar, yang tidak terjembatani antara jiwa kera dan jiwa manusia. Lagipula tubuh kera bersifat spesifik yang diadaptasikan dengan lingkungan hidup yang tertentu. Jadi tidak mungkin bahwa tubuh manusia merupakan hasil dari perubahan-perubahan ‘kebetulan’ dari tubuh kera.
    Kemungkinan yang lebih masuk akal adalah, jika manusia diciptakan melalui ‘pre-existing matter’ seperti dari tubuh kera sekalipun, terdapat campur tangan Tuhan untuk mengubah tubuh tersebut menjadi tubuh manusia, yang tidak merupakan kelanjutan dari tubuh kera tersebut, seperti halnya terdapat campur tangan Tuhan untuk menghembuskan jiwa manusia ke dalam tubuh manusia itu, yang bukan merupakan kelanjutan dari jiwa kera. Inilah yang secara ilmiah dikenal sebagai ‘lompatan genetik’, namun bedanya, ilmuwan mengatakan itu disebabkan karena kebetulan semata, sedangkan oleh Gereja dikatakan sebagai sesuatu yang disebabkan oleh campur tangan Tuhan.
  4. Cardinal Schonborn dalam artikel di New York Times tgl 7 Juli 2005 menjelaskan bahwa pengamatan pada mahluk hidup yang telah menunjukkan ciri-ciri yang final menyebabkan kita terkagum dan mengarahkan pandangan kepada Sang Pencipta.  Membicarakan bahwa alam semesta yang kompleks dan terdiri dari mahluk-mahluk yang ciri-cirinya sudah final ini, sebagai suatu hasil ‘kebetulan’, sama saja dengan ‘menyerah’ untuk menyelidiki dunia lebih lanjut. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa akibat terjadi tanpa sebab. Ini tentu saja seperti membuang pemikiran akal manusia yang selalu mencari solusi dari masalah.”
  5. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa, akal sehat manusia pasti dapat memperoleh jawaban untuk pertanyaan yang menyangkut asal usul manusia. Keberadaan Tuhan Pencipta dapat diketahui secara pasti melalui karya-karya ciptaan-Nya, dengan terang akal budi manusia.. KGK no 295 mengatakan, “Kita percaya bahwa Allah menciptakan dunia menurut kebijaksanaan-Nya. Dunia bukan merupakan hasil dari kebutuhan apapun juga, ataupun takdir yang buta atau kebetulan.”

Uraian di atas adalah merupakan prinsip dasar mengapa kita sebagai orang Katolik tidak dapat menerima teori Evolusi makro ala Darwin, sebab prinsip ajaran Gereja adalah manusia diciptakan bukan sebagai hasil kebetulan, tetapi karena sungguh diinginkan oleh Allah. Sedangkan mengenai evolusi mikro di dalam batas species, kita semua dapat menerimanya, sesuai dengan penjelasan di atas. Prinsipnya, jikapun ada evolusi, tidak mungkin melangkahi batas penyelenggaraan Allah. Allah-lah yang menciptakan manusia, yaitu jiwa dan tubuh. Jiwa manusia diciptakan dari ketiadaan, (out of nothing) dan tubuh dari materi yang sudah ada (pre-existing matter) namun Allah mempersiapkan tubuh itu agar layak menerima jiwa manusia.  Kesatuan tubuh dan jiwa manusia tersebut diciptakan sesuai dengan gambaran Allah.

Selanjutnya, hal analisa mineral dan outer space hanya merupakan metoda ilmiah, yang hasilnya juga tidak dapat menjawab misteri asal-usul kehidupan.

Jadi dalam hal ini kita melihat benang merah antara science dan iman. Di samping pertimbangan akal sehat pada hasil penelitian evolusi, pada akhirnya diperlukan kerendahan hati untuk menerima apa yang diajarkan oleh Gereja. Gereja tidak menentang science, namun juga tidak dapat menyatakan hipotesa ilmiah sebagai kebenaran, karena statusnya masih hipotesa dan belum sepenuhnya dapat dibuktikan.

Demikian penjelasan yang dapat saya tuliskan, semoga dapat menjawab pertanyaan Christianto.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

6 Komentar to Bagaimana hubungan teori Evolusi dengan iman?

  1. Shalom Mba Ingrid,

    Saya mau bertanya. Di artikel di atas diterangkan “Namun demikian, para ilmuwan dapat terus menyelidiki hipotesa bahwa tubuh manusia dapat diambil dari kehidupan yang sudah ada (ancestral primate)”. Menurut para evolutionist, matters ini berkembang dari milyaran tahun yang lalu, sedangkan menurut Injil (kalau diaproksimasi), kita diciptakan 6000 tahun yang lalu. Menurut teori evolusi : tubuh manusia berevolusi dari matter selama jutaan tahun, sedangkan manurut Kitab Suci, manusia pertama diciptakan dalam satu hari.

    Bagaimana juga tentang all matters, apakah dari jutaan tahun yang lalu (misalnya dinosaurus berevolusi dari crustacea menurut evolutionist) atau alam semesta diciptakan dalam 6 hari saja (Kitab Suci dan Creationist theory)?

    Saya kagum dengan perkembangan dua teori (Evolutionist dan Creationist) dan efeknya pada perkembangan ateis.

    Oh ya, pertanyaan terakhir, apakah Humani Generis dan MESSAGE TO THE PONTIFICAL ACADEMY OF SCIENCES:ON EVOLUTION termasuk Papal Infalibility?

    Terima kasih banyak.

    • Shalom Ucha,

      1. Tubuh manusia hasil dari evolusi satu sel?

      Teori makro-evolusi yang mengatakan bahwa tubuh manusia adalah hasil evolusi dari satu sel sederhana, itu masih merupakan hipotesa. Mengapa? Karena hal itu belum dapat dibuktikan dan sesungguhnya malah tidak masuk akal, sebagaimana telah diuraikan di artikel di atas (lihat penjabaran point A dan B), terutama point B 5 dan 6. Berikut ini saya ambil kutipan- nya:

      Perhitungan matematika, yaitu teori probabilitas menunjukkan bahwa kemungkinan perubahan dari mahluk sederhana (1 sel atau lebih) menjadi mahluk yang kompleks adalah sangat kecil dan seluruh sejarah manusia tidak cukup untuk merealisasikan perubahan itu. Mungkin alibi ini termasuk yang paling mungkin dari pandangan ilmiah untuk membuktikan bahwa evolusi makro itu tidak mungkin terjadi. Salah satu tokoh evolusi seperti  Jacques Monod (1910-1976) sendiri mengakui bahwa kemungkinan evolusi dari mahluk bersel satu adalah “hampir nol” dan kemungkinan terjadi hanya sekali (Jacques Monod, Chance and Necessity, NY, Alfred A. Knopf, 1971, p.114-145). Monod seorang ahli biologi, menyuarakan pendapat dalam hal biologis, namun hal ini tidak sejalan dengan kemungkinan secara matematika, yaitu bagaimana satu kemungkinan yang langka tersebut dapat terjadi, dan dapat menjadi dasar perkembangan manusia dalam kurun waktu sejarah manusia yang terbatas. Menurut statistik, hal ini tidak mungkin.

      Seandainya benar, maka diperlukan waktu yang sangat panjang untuk realisasi kemungkinan mutasi/ ‘kebetulan’ ini. Keterbatasan waktu sejarah manusia yang menunjukkan paling lama sekitar 10.000- 15.000 tahun tidak memberikan jawaban untuk kemungkinan teori ini. George Salet menulis, “…ilmu pengetahuan menemukan fungsi DNA, duplikasinya dan perkembangannya memberi dasar bagi spekulasi matematika bahwa, … periode geologis harus dikalikan dengan 10 diikuti dengan ber-ratus atau ber-ribu-ribu nol, untuk memberikan waktu bagi terbentuknya sebuah organ baru, walaupun organ yang paling sederhana sekalipun.” (diterjemahkan dari George Salet, “Hasard et certitude. Le transformisme devant la biologie actualle, Paris, 1972, p. x)

      Sedangkan jika disebutkan bahwa manusia diciptakan pada hari ke-6 dalam Kitab Suci, tidak berarti bahwa manusia diciptakan sebagai evolusi dari satu sel atau ‘matter‘ yang diciptakan di hari pertama. Penjelasan tentang 6 hari Penciptaan sudah diuraikan di sini, silakan klik.

      2. Berkembangnya teori makro-evolusi sejalan dengan Atheism?

      Tidak mengherankan jika demikian. Sebab memang teori makro-evolusi cenderung menyimpulkan bahwa dunia terjadi bukan karena diciptakan oleh Tuhan, namun hanya karena kebetulan saja/ blind chance. Ini sendiri adalah merupakan hipotesa, sebagaimana diakui oleh Jacques Monod sendiri, bahwa hal blind chance ini masih problematik, dan lebih tepat disebut sebagai ‘teka-teki’. (lih. Jacques Monod, Chance and Necessity, NY, Alfred A. Knopf, 1971, p.143).

      Orang- orang yang ber- Tuhan mengakui bahwa ‘teka-teki’ itu terjawab, karena percaya akan adanya Pribadi yang mengatasi segalanya [yaitu Tuhan] yang menciptakan segala sesuatu; sedangkan mereka yang sudah sejak awalnya tidak percaya kepada Tuhan, menyerahkan hal teka-teki itu kepada asumsi bahwa penciptaan itu terjadi dengan sendirinya secara kebetulan.

      3. Dapatkah terjadi bahwa tubuh manusia terbentuk dari ‘pre-existing matters’?

      Dalam surat ensiklik Humani Generis (1950), Paus Pius XII menolak ide evolusi total manusia (yaitu tubuh dan jiwa) dari kera (primate). Dalam dokumen tersebut Paus Pius XII mengajarkan bahwa meskipun dalam hal asal usul tubuh manusia, masih dapat diselidiki apakah terjadi dari proses evolusi, namun yang harus dipegang adalah: semua jiwa manusia adalah diciptakan langsung oleh Tuhan. Namun demikian mengenai evolusi tubuh manusia itu sendiri, masih harus diadakan penyelidikan yang cermat, dan tidak begitu saja dapat disimpulkan bahwa manusia yang terbentuk dari ‘pre-existing matter‘ tersebut sebagai sesuatu yang definitif.

      Berikut ini saya sertakan teks dari Humani Generis yang menjelaskan tentang hal ini:

      36. For these reasons the Teaching Authority of the Church does not forbid that, in conformity with the present state of human sciences and sacred theology, research and discussions, on the part of men experienced in both fields, take place with regard to the doctrine of evolution, in as far as it inquires into the origin of the human body as coming from pre-existent and living matter – for the Catholic faith obliges us to hold that souls are immediately created by God. However, this must be done in such a way that the reasons for both opinions, that is, those favorable and those unfavorable to evolution, be weighed and judged with the necessary seriousness, moderation and measure, and provided that all are prepared to submit to the judgment of the Church, to whom Christ has given the mission of interpreting authentically the Sacred Scriptures and of defending the dogmas of faith. Some however, rashly transgress this liberty of discussion, when they act as if the origin of the human body from pre-existing and living matter were already completely certain and proved by the facts which have been discovered up to now and by reasoning on those facts, and as if there were nothing in the sources of divine revelation which demands the greatest moderation and caution in this question.

      37. When, however, there is question of another conjectural opinion, namely polygenism, the children of the Church by no means enjoy such liberty. For the faithful cannot embrace that opinion which maintains that either after Adam there existed on this earth true men who did not take their origin through natural generation from him as from the first parent of all, or that Adam represents a certain number of first parents. Now it is in no way apparent how such an opinion can be reconciled with that which the sources of revealed truth and the documents of the Teaching Authority of the Church propose with regard to original sin, which proceeds from a sin actually committed by an individual Adam and which, through generation, is passed on to all and is in everyone as his own.

      4. Apakah Humani Generis dan Message to the Pontifical Academy of Sciences: on Evolution termasuk Papal Infalibility?

      Nampaknya perlu diketahui dahulu, apakah sebenarnya yang Anda tanyakan di sini. Sebab yang disampaikan oleh Humani Generis dan Message to the PAS on Evolution itu bukan doktrin yang baru yang diajarkan oleh Paus sehingga mensyaratkan Papal infalibility. Kedua dokumen tersebut hanya menggaris bawahi apa yang sudah disampaikan Sabda Allah dalam Kitab Suci, dan karena Sabda Allah, maka pasti infalibel (tidak mungkin salah), yaitu bahwa kita manusia berasal dari sepasang manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan.

      Demikianlah keterangan yang disarikan dari Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, p. 94-95:

      Artikel Iman yang tidak mungkin salah ini berbunyi:  

      1. Manusia pertama diciptakan oleh Tuhan (de Fide, D 428, 1783). Konsili ke-4 di Lateran (1213/ 1215) telah mendefinisikan hal ini, yang kemudian ditegaskan kembali oleh Konsili Vatikan. Dalam penciptaan, saat Allah menciptakan manusia pertama, harus dimengerti bahwa jiwa adalah creatio prima, dan tubuh adalah creatio secunda.

      Teori evolusi, yang menganggap bahwa manusia secara keseluruhan, tubuh dan jiwanya, merupakan hasil perkembangan mekanik dari binatang, harus ditolak. Jiwa dari manusia pertama diciptakan langsung dari ketiadaan oleh Tuhan. Berkenaan dengan tubuhnya… secara fundamental, ada kemungkinan bahwa Tuhan menghembuskan jiwa spiritual kepada benda mati, yaitu ke dalam sebuah tubuh hewani. Adalah layak disimak, bahkan meskipun belum dapat diputuskan secara absolut, dasar-dasar paleontologis dan biologis nampaknya menemukan hubungan genetik antara tubuh manusia dengan bentuk- bentuk tertinggi tubuh hewani. [Artinya di sini adalah, walaupun masih harus diteliti lebih lanjut, namun jika terbukti, tidaklah bertentangan dengan Kitab Suci jika dikatakan bahwa dapat saja Tuhan menggunakan tubuh hewani yang tertinggi sebagai pre-existing matter (yang dilambangkan sebagai debu tanah dalam Kitab Suci), namun kemudian tubuh itu diubah/ diciptakan Allah sedemikian rupa agar sesuai untuk menerima jiwa manusia, yang langsung diciptakan-Nya dari ketiadaan. Namun sekali lagi, untuk sampai pada kesimpulan ini haruslah ditemukan cukup bukti secara ilmiah. Sebab tidaklah mungkin ada perubahan tubuh hewani menjadi tubuh manusia yang terjadi dengan sendirinya jika tidak ada intervensi dari Allah yang mengatasi segala ciptaan yang menghendakinya demikian].

      Maka surat ensiklik “Humani Generis” dari Paus Pius XII (1950) memaparkan bahwa pertanyaan tentang asal usul tubuh manusia terbuka bagi penelitian bebas oleh para ilmuwan dan teolog. Paus menekankan kepada pertimbangan yang seksama akan dasar- dasar pro dan kontra bagi asal usul dari materi yang sudah ada/ hidup dan memperingatkan para umat beriman agar waspada terhadap asumsi bahwa penemuan- penemuan sampai sekarang ini menentukan dan membuktikan asal usul tubuh manusia dari sebuah tubuh organik, dan Paus mengatakan bahwa di dalam masalah ini, diperlukan acuan dan perhatian yang terbesar yang bersumber dari Wahyu Ilahi. (D 3027, lih. D 2286)

      Bukti Kitab Suci tentang Penciptaan manusia pertama oleh Tuhan adalah:

      “Allah menciptakan manusia itu menurut gambaran-Nya” (Kej 1:27)
      “Tuhan membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup.” (Kej 2:7)

       Tuhan juga membentuk tubuh perempuan dari tubuh manusia laki-laki pertama (lih. Kej 2:21-22, 1 Kor 11:8). Dengan demikian, para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Tuhan secara langsung menciptakan tubuh dan jiwa manusia. [Jiwa manusia langsung diciptakan Allah dari ketiadaan, sedangkan tubuh manusia diciptakan dari sesuatu yang sudah ada, yaitu 'debu tanah' (pre-existing matters); namun demikian, tetap saja diperlukan intervensi penciptaan langsung dari Tuhan untuk menjadikannya sebagai tubuh manusia yang layak menerima jiwa manusia. 'Debu tanah' itu tidak dengan sendirinya berubah menjadi tubuh manusia]

      2. Seluruh umat manusia berasal dari satu pasang manusia (Sent. certa.)

      Memang, ajaran tentang kesatuan seluruh ras umat manusia (monogenisme) bukan merupakan dogma, tetapi merupakan presuposisi (persyaratan awal) dari dogma Dosa Asal dan Penebusan Kristus. …. Kesatuan ras umat manusia merupakan salah satu dari kenyataan-kenyataan yang mempengaruhi pondasi agama Kristiani, yang tentang hal ini harus dimengerti di dalam arti literal dan historis (D 2123). Surat ensiklik Humani Generis dari Paus Pius XII menolak poligenisme karena hal itu tidak kompatibel dengan ajaran tentang dosa asal (D 3028).

      Bukti Kitab Suci diperoleh dari kisah Penciptaan. Secara eksplisit dikatakan demikian:

      “… dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu” (Kej 2:5) 
      “Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.” (Kej 3:20).

      “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi…” (Kis 17:26) Lihat juga Keb 10:1; Rom 5:12- ; 1Kor 15:21-; Ibr 2:11.

      Dengan demikian, mengingat bahwa artikel-artikel iman yang dibahas dalam Humani Generis oleh Paus Pius XII (yang kemudian juga ditegaskan kembali oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Message to the PAS on Evolution) dasarnya adalah dari Kitab Suci yang tidak mungkin salah, maka pernyataan tersebut juga tidak mungkin salah; bukan atas dasar karena penyataan itu dikatakan oleh Paus, tetapi karena sudah secara eksplisit diajarkan dalam Kitab Suci.

      Demikianlah yang dapat saya sampaikan menanggapi pertanyaan/ penyataan Anda. Semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  2. Bisa kasih pendapat para tokoh gereja tentang teori evolusi gak ? Dengan referensinya. Trims.Tuhan Memberkati.

    [Dari Katolisitas: Menurut pengetahuan kami, pihak Gereja Katolik tidak menolak sama sekali hasil penyelidikan ilmu pengetahuan tentang evolusi. Namun demikian Gereja tetap memegang prinsip utama yang diajarkan dalam Kitab Suci yaitu bahwa 1) Tuhanlah yang menciptakan jiwa manusia dan tubuh manusia yang layak untuk menerima jiwa manusia, 2) Seluruh umat manusia diturunkan dari sepasang manusia pertama, Adam dan Hawa (monogenism), dan bukan dari banyak pasang manusia pertama (polygenism). Selanjutnya silakan membaca sekilas di link ini, silakan klik. Mohon maaf karena terbatasnya waktu dan banyaknya pertanyaan lain yang masuk, kami belum dapat menerjemahkannya/ mengulasnya lebih lanjut.]

  3. Yonathan Widodo June 13, 2009 at 11:27 pm

    Saya sangat terkesan dengan tulisan Katolisitas mengenai evolusi. Saya pribadi berpendapat bahwa evolusi tidak disebabkan aspek kebetulan, melainkan kebenaran (diciptakan oleh Yang Maha Pencipta). Menurut saya Tuhan Sang Pencipta menciptakan segala sesuatu melalui suatu mekanisme sistem yang saling terkait dan dan rasional, dan akal manusia belum dapat memahami (dan tidak akan sampai) pada rasio Ketuhanan.

  4. Yth Katolisitas,
    Saya ingin bertanya mengenai Iman vs Science Knowledge
    Dengan iman, kita percaya bahwa manusia langsung dibentuk dari image Allah.

    Science bilang kalau berjuta2 tahun yg lalu, kehidupan tercipta dari mahluk2 sederhana, yang kemudian berkembang hingga ke sekarang ini.
    Semua dibuktikan (dengan pengetahuan manusia saat ini) dengan berbagai metode ilmiah:
    - teori evolusi
    - cara hitung usia fosil
    - analisa mineral
    - eksplorasi outer space
    - dan lain-lain

    Bagaimana menggabungkan ke dua hal ini? Bisa tidak digabungkan? (tentunya sesuai Iman Katolik bagaimana)

    Saya tunggu jawabannya, Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: