Mengapa Tuhan menciptakan manusia?

19

Pertanyaan:

Salam damai sejahteraSetelah saya membaca tentang KESEMPURNAAN RANCANGAN KESELAMATAN ALLAH diatas maka timbul suatu pertanyaan dalam diri saya sbb : [dari admin: saya berikan penomoran agar mudah berdiskusi]

I. Untuk apa Allah menciptakan manusia ?
Dan mengapa diberikan tubuh daging yang menyeretnya untuk berbuat dosa ?
Bukankah kalau hanya memiliki roh saja seperti malaikat tentu tidak pernah timbul nafsu2 kedagingan ?
Mengapa harus ditempatkan di dunia yang penuh dengan dosa dan kekerasan ?
Di dunia manusia tidak pernah memandang muka Allah, sedangkan malaikat setiap hari melihatnya, tetapi manusia dituntut untuk mempercayai FirmanNya.

II. Apakah memang manusia di program untuk menjadi allah-allah, seperti yang di ucapkan oleh Yesus : kamulah alah-alah. Maka oleh sebab itu manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan sifat ilahi dan diharapkan akan ada sebagian manusia yang menjadi seperti DIA di dalam kehidupannya yang sia2 di bawah matahari. Memang masih ada sisa-sisa kemuliaan Allah dalam diri manusia yaitu kasih dan itu tidak didapati dalam ciptaan yang lainnya. Dan manusia ditempatkan di dunia bukan di Surga supaya diolah ,ditumbuhkan dan disempurnakan, oleh sebab itu ketika manusia berbuat dosa, Allah masih mengampuni, tetapi malaikat sekali berbuat dosa langsung dibuang.

III. Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah akan ada manusia-manusia yang sempurna seperti yang direncanakan oleh Allah ? Atau mungkinkah rencana Allah terhadap manusia akan gagal ?

IV. Kalau kita membaca kitab Kejadian kita temukan sbb : In the beginning God created the heaven and the earth.And the earth was without form, and void; and darkness [was]upon the face of the deep. And the Spirit of God moved upon the face of the waters. Sangat berbeda dengan penciptaan yang lain : and God saw that [it was]good. Saya tidak berani mengatakan bahwa penciptaan yang pertama tersebut gagal,tetapi begitulah Alkitab menulisnya.

V. Hanya saja Alkitab menulis bahwa akan ada orang2 yang sempurna di akhir zaman yang berjumlah 144.000 orang. Apapun itu saya masih belum mengerti untuk apa saya diciptakan dan ditempatkan dalam dunia ini ?

Terima kasih
Machmud

Jawaban:

Salam damai Machmud,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang keberadaan manusia. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bagus, karena hanya manusia yang dapat mempertanyakan keberadaannya. Untuk itulah Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah seorang filsuf (John Paul II, fides et ratio, 64). Manusia dapat mempertanyakan keberadaannya, karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah (Kej 1:26). Mari kita membahas pertanyaan Machmud satu persatu.

I. Untuk apa Allah menciptakan manusia?

1) Diskusi ini mensyaratkan seseorang untuk percaya bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Kalau Tuhan bukan yang menciptakan segala sesuatu atau segala sesuatu terjadi secara kebetulan, maka percuma saja membahas untuk apakah Tuhan menciptakan segala sesuatu. Syarat yang lain adalah Tuhan adalah Maha Sempurna dan Maha Kasih. Kalau kita belum menerima tentang hakekat Tuhan yang Maha Sempurna dan Maha Kasih, maka kita belum setuju tentang konsep Tuhan, dan oleh karena itu, kita harus berdiskusi terlebih dahulu tentang hakekat Tuhan.

2) Kita tidak dapat mengatakan bahwa manusia diciptakan secara kebetulan. Kalau manusia adalah merupakan produk “kebetulan”, maka sungguh sangat tragis bahwa kita semua adalah produk yang tidak diinginkan, namun hanyalah suatu kebetulan semata. Ini sama seperti anak lahir namun tidak pernah diinginkan oleh orang tuanya, dan terjadi karena suatu kecelakaan. Sesuatu yang kebetulan juga bertentangan dengan hakekat Allah, karena di dalam Allah tidak ada yang bersifat kebetulan. Hal ini disebabkan karena Allah adalah Maha Tahu, dan semuanya adalah transparan di hadapan-Nya.

3) Jadi, semua yang diciptakan oleh Allah adalah merupakan hasil rancangan menurut kebijaksanaan dan kasih-Nya. Karena Allah adalah Maha Sempurna, maka sebetulnya Dia tidak memerlukan siapapun. Namun karena Allah adalah baik dan penuh kasih, maka Dia menginginkan lebih banyak mahluk dari segala macam tingkat untuk dapat berpartisipasi dalam kebaikan tersebut, sehingga semua mahluk dari berbagai tingkatan dapat berbahagia dan memuliakan Allah. Hal ini sama seperti orang tua yang senantiasa ingin membagikan apa yang dipunyainya kepada anak-anaknya, baik dari yang terkecil maupun yang terbesar. Kalau sesuatu yang baik ini benar untuk manusia dalam tingkatan kodrat, maka ini juga benar untuk Tuhan dalam tingkatan adi kodradi (supernatural). Tuhan juga menciptakan mahluk dalam berbagai tingkatan dari 1) para malaikat yang murni spiritual, 2) manusia yang terdiri tubuh dan jiwa, 3) binatang, tumbuhan, dan segala macam yang ada di alam raya. Semuanya diciptakan Allah baik adanya. Dan kebaikan ini hanya terjadi jika semuanya bertindak sesuai dengan kodratnya.

a) Oleh karena itu, pernyataan Machmud bahwa kalau manusia diciptakan tanpa tubuh dan hanya jiwa, maka manusia terbebas dari nafsu-nafsu daging ada benarnya dan ada salahnya. Benar, karena dengan memiliki tubuh dan jiwa, maka manusia – dengan akal budi dan kehendak bebas – mempunyai percobaan yang bersifat daging dan jiwa. Salah, karena seolah-olah kalau manusia terdiri dari hanya Jiwa, maka manusia tidak pernah mengalami percobaan. Padahal, kalau kita melihat, godaan manusia yang pertama bukan masalah kedagingan, namun lebih kepada godaan spiritual, yaitu kesombongan rohani. Dan jangan juga lupa, bahwa malaikat yang hanya mempunyai jiwa dan tidak berbadan, juga mengalami percobaan. Karena malaikat juga mempunyai akal budi, maka mereka juga dapat memilih untuk mengikuti Tuhan atau melawan Tuhan. Dan sayangnya, sebagian memilih berkata “tidak” terhadap Tuhan.

b) Jadi baik malaikat yang tanpa badan dan manusia yang berbadan dan berjiwa, semuanya mengalami godaan masing-masing. Namun keduanya diciptakan baik adanya. Inilah sebabnya, pada awalnya, semua keinginan daging dari manusia pertama sepenuhnya tunduk kepada akal budi (the gift of integrity). Namun karena dosa, maka manusia kehilangan “the gift of integrity” atau tunduknya daging terhadap akal budi (reason). Oleh karena itu, manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa atau disebut “concupiscence“. Dan hal inilah yang membuat manusia mempunyai nafsu-nafsu daging. Rasul Paulus menegaskan “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”(Gal 5:17)

c) Jadi, kembali ke pertanyaan Machmud, maka Allah menciptakan manusia atas dasar kasih, sehingga manusia dapat memperoleh kebahagiaan dan memuliakan Tuhan. Dan karena pada awalnya semuanya baik, maka tubuh yang menjadi bagian dari manusia adalah baik adanya. Dan semua nafsu kedagingan yang ada (concupiscence) adalah merupakan akibat dosa manusia. Namun, keadaan ini dapat menjadi kesempatan bagi manusia untuk bertumbuh dalam kekudusan dengan berjuang agar dengan akal budi, manusia dapat menundukkan nafsu kedagingan, seperti yang terjadi dalam kondisi awal penciptaan. Dan semua kekerasan di dunia ini bukan Tuhan yang membuatnya, karena jika Tuhan yang membuatnya, maka itu bertentangan dengan hakekat Tuhan yang adalah Maha Kasih. Sedangkan dosa dan kekerasan adalah bertentangan dengan kasih.

4) Machmud mengatakan bahwa dunia tidak pernah memandang muka Allah, sedangkan malaikat setiap hari melihatnya, tetapi manusia dituntut untuk mempercayai FIrmanNya. Dunia pernah melihat Allah, yaitu dalam diri Yesus, Putera Allah yang turun ke dunia. Dan sebelum Dia wafat, Dia mengadakan Perjamuan Terakhir, yang diteruskan sampai saat ini dalam setiap perayaan Ekaristi Kudus. Disinilah, dengan kacamata iman, umat Allah dapat memandang Allah. Tidak berarti bahwa seseorang yang memandang Allah secara otomatis akan mempercayai Firman-Nya. Malaikat yang mempunyai pengetahuan lebih sempurna, sebagian jatuh ke dalam dosa. Manusia pertama yang mempunyai hubungan begitu erat dengan Tuhan, melakukan dosa pertama. Orang-orang Yahudi yang bertemu dengan Yesus, bahkan Yudas – salah satu murid Yesus – juga tidak percaya akan Firman-Nya. Jadi dalam hal ini “melihat” bukan menjadi tolak ukur untuk percaya. Keterangan tentang iman dapat dilihat disini (silakan klik).

II. Manusia dijadikan allah-allah?

Machmud bertanya apakah manusia diprogram untuk menjadi allah-allah? Mungkin orang yang mengatakan tentang hal ini mendasarkan argumentasinya dari “Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?” (Yoh 10:34). Juga dapat direferensikan dengan Maz 82:6 “Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.” Namun, dalam konteks ayat-ayat tersebut, Yesus mengambil dari Maz 82:6, yang menggunakan perkataan allah-allah dalam hubungannya dengan hakim-hakim, yang mempresentasikan Allah di dunia. Dan Tuhan memberikan peringatan keras bagi para hakim yang tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Saya tidak akan mengulas secara lebih detail tentang hal ini dalam pembahasan ini.
Namun manusia tidak mungkin menjadi Allah, kecuali pada diri Yesus, sungguh Allah dan sungguh manusia.

Pada saat kita mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, ini berarti bahwa manusia dianugrahi akal budi (reason) yang terdiri dari akal (intellect) dan kehendak (will). Akal budi inilah yang membuat manusia mempunyai kehendak bebas untuk berkata “ya” atau “tidak” terhadap Pencipta. Dengan kodrat manusia sebelum jatuh dalam manusia, maka maka manusia tidak akan mungkin menjadi Allah. Inilah dosa yang pertama, karena manusia ingin menjadi Allah bagi dirinya sendiri. Kodrat manusia dan Allah adalah tak terbatas (infinite) bedanya, dimana manusia adalah mahluk ciptaan dan Allah adalah Sang Pencipta. Jadi pada saat kita mengatakan ada unsur Allah di dalam manusia, sesungguhnya ini berarti manusia berpartisipasi di dalam Allah. Namun manusia tidak akan pernah menjadi Allah, sekalipun dia telah berada di Surga.

Manusia diusir dari taman Eden bukan supaya ditumbuhkan dan disempurnakan, namun karena dosa manusialah yang menjadikan menusia hidup di dunia seperti sekarang ini. Namun, Tuhan dapat mempergunakan sesuatu yang buruk untuk mendatangkan kebaikan. Oleh karena itu, walaupun manusia hidup di dunia yang penuh dengan dosa dan kekerasan. manusia dapat terus berkembang dan berusaha untuk menjadi kudus, yaitu menerapkan kasih terhadap Tuhan dan sesama.

Ketika manusia berbuat dosa, memang Tuhan masih mengampuni manusia, karena memang kodrat manusia terikat di dalam dimensi waktu. Dan dalam dimensi waktu inilah, manusia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertumbuh dalam kekudusan sampai Tuhan memanggilnya. Namun malaikat diciptakan dalam kodrat yang berbeda, karena mereka adalah mahluk spiritual (pure spirit), dimana mempunyai kodrat spiritual dan pengetahuan yang begitu tinggi tentang Tuhan. Oleh karena itu, sekali mereka mengambil keputusan, maka tidak akan pernah berubah. Dan karena tidak mungkin berubah maka sekali mereka berbuat dosa mereka tidak akan mungkin mendapatkan pengampunan. Sebaliknya sekali mereka mengatakan “ya” kepada Tuhan, mereka tidak akan mungkin berbuat dosa.

III. Apakah ada manusia yang sempurna?

Apakah ada manusia-manusia yang sempurna seperti rancangan Allah? Jawabannya ada. Pertama, terjadi dalam sosok Yesus. Salah satu misi dari Yesus datang ke dunia ini adalah untuk menunjukan seperti apakah manusia yang sebenarnya, yang diciptakan menurut gambaran Allah. Dan Yesus telah menunjukannya dengan senantiasa mengikuti dan melaksanakan kehendak Allah. Mungkin ada yang mengatakan, bahwa hal ini terjadi karena Yesus adalah Tuhan. Kita dapat melihat pada sosok ke-dua, yaitu Bunda Maria. Bunda Maria adalah sosok yang tanpa dosa, yang juga senantiasa melaksanakan kehendak Allah, termasuk di dalamnya adalah menjadi ibu dari Sang Penebus. Dan kesetiaan Bunda Maria terus dibuktikannya sampai akhir hayatnya. Namun, mungkin ada yang mengatakan “tentu saja Bunda Maria dapat melakukan hal ini, karena dia lahir tanpa dosa.”

Kita dapat melihat pada figur yang ketiga, yaitu para kudus. Para kudus inilah yang menjadi bukti bagi kita semua bahwa manusia yang penuh kelemahan dapat mengikuti perintah Kristus, karena Kristus memberikan rahmat yang cukup bagi semua orang. Para Kudus mempunyai kodrat yang sama seperti kita. Mereka mempunyai kelemahan sama seperti kita, dan mereka terus berjuang untuk hidup kudus. Namun mereka telah membuktikan bahwa dengan bantuan rahmat Tuhan, maka mereka dapat melaksanakan kehendak Tuhan di dalam kehidupan mereka. Contoh dari para kudus ini, misalkan: Ibu Teresa dari Kalkuta yang melayani orang-orang yang miskin di India, atau St. Damien yang melayani para penderita kusta, sampai dia sendiri meninggal terkena kusta, atau St. Maximillian Kolbe, yang mengorbankan dirinya untuk keselamatan seseorang napi di penjara Auschwitz.
Para santo dan santa dapat melakukan hal tersebut di atas, karena Roh Kristus sendiri yang memberikan kekuatan kepada mereka. Dan dengan kehendak bebas, mereka bekerja dengan rahmat Tuhan.
Jadi, rencana Allah untuk membawa manusia kepada keselamatan tidak akan pernah gagal. Bahkan semua rencana Allah pasti akan terjadi.

IV. Pada awalnya: semuanya diciptakan baik adanya:

Di dalam kitab kejadian dikatakan “1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kej 1:1-2). Saya tidak melihat bahwa ayat ini bertentangan dengan semua penciptaan yang lain, yang diakhiri dengan “itu baik“. Hal ini dikarenakan bahwa di Kej 1:1-2 adalah merupakan suatu persiapan untuk penciptaan selanjutnya yang diakhiri dengan “itu baik”. “langit dan bumi” di ayat 1 adalah “universe” atau alam semesta. Dan kemudian “gelap gulita” disini bukan berarti “chaos” atau kacau balau, namun untuk menceritakan bagaimana Tuhan memang menciptakan semuanya dari tidak ada menjadi ada. Dan ini termasuk bukan saja dunia ini dan segala isinya, namun juga seluruh alam raya. Bandingkan dengan Kis 24:17 “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia.

V. 144,000 orang

Kitab wahyu mengatakan tentang 144,000 orang yang dimateraikan. (lih Why 7:4; 14:1,3). Seperti yang kita tahu, bahwa kitab wahyu berisi begitu banyak simbol. 144 ribu menggambarkan 1000 x 12 x 12, yang berarti begitu banyak jumlahnya dan tak terhitung (great multitude). Dan inilah Israel yang baru, yang dapat diartikan sebagai Gereja.

Demikian jawaban singkat yang dapat saya berikan. Menegaskan kembali mengapa manusia diciptakan, maka kita percaya bahwa manusia diciptakan atas dasar kasih Allah, sehingga manusia dapat memperoleh kebahagiaan dan memuliakan Tuhan. Dan kebahagiaan sejati manusia adalah bersatu dengan Sang Pencipta, Tuhan. Bagaimana untuk sampai kesana, umat Katolik percaya bahwa keselamatan adalah melalui Kristus lewat Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik.
Mari kita bersama-sama percaya kepada Tuhan yang penuh kasih yang menciptakan masing-masing dari kita baik adanya. Dan masing-masing dari kita mempunyai kapasitas untuk mengetahui dan mengasihi Tuhan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

19 Comments

  1. Yulius Fajar Nugroho on

    “karena Allah adalah baik dan penuh kasih, maka Dia menginginkan lebih banyak mahluk dari segala macam tingkat untuk dapat berpartisipasi dalam kebaikan tersebut, sehingga semua mahluk dari berbagai tingkatan dapat berbahagia dan memuliakan Allah”
    Jadi saya agak bingung dengan alasan ini, sebenarnya Tuhan menciptakan makhluk itu karena kebaikan dan kasihNya atau agar Ia dimuliakan?

    • Shalom Yulius,

      Dalam KGK 293-294 dituliskan:

      293.    Kitab Suci dan tradisi selalu mengajar dan memuji kebenaran pokok: “Dunia diciptakan demi kemuliaan Allah” (Konsili Vatikan I: DS 3025). Sebagaimana santo Bonaventura jelaskan, Tuhan menciptakan segala sesuatu “bukan untuk menambah kemuliaan-Nya melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya” (sent. 2,1,2,2, 1). Tuhan tidak mempunyai alasan lain untuk mencipta selain cinta-Nya dan kebaikan-Nya: “Makhluk ciptaan keluar dari tangan Allah yang dibuka dengan kunci cinta” (Tomas Aqu. sent.2, prol.). Dan Konsili Vatikan I menjelaskan:”Satu-satunya Allah yang benar ini telah mencipta dalam kebaikan-Nya dan ‘kekuatan-Nya yang maha kuasa’ – bukan untuk menambah kebahagiaan-Nya, juga bukan untuk mendapatkan (kesempurnaan], melainkan untuk mewahyukan kesempurnaan-Nya melalui segala sesuatu yang Ia berikan kepada makhluk ciptaan – karena keputusan yang sepenuhnya bebas, menciptakan sejak awal waktu dari ketidak-adaan sekaligus kedua ciptaan, yang rohani dan yang jasmani” (DS 3002).

      294.    Adalah kemuliaan Allah bahwa kebaikan-Nya menunjukkan diri dan menyampaikan diri (dalam bahasa Inggris: The glory of God consists in the realization of this manifestation and communication of his goodness = Kemuliaan Tuhan tercapai dalam perwujudan dari manifestasi ini dan penyampaian kebaikan-Nya). Untuk itulah dunia ini diciptakan. “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia” (Ef 1:5-6). “Karena kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup; tetapi kehidupan manusia adalah memandang Allah. Apabila wahyu Allah melalui ciptaan sudah sanggup memberi kehidupan kepada semua orang yang hidup di bumi, betapa lebih lagi pernyataan Bapa melalui Sabda harus memberikan kehidupan kepada mereka yang memandang Allah” (Ireneus, haer. 4,20,7). Tujuan akhir ciptaan ialah bahwa Allah “Pencipta akhirnya menjadi ‘semua di dalam semua’ (1 Kor 15:28) dengan mengerjakan kemuliaan-Nya dan sekaligus kebahagiaan kita” (AG 2).

      Dua artikel dari KGK ini dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang mengapa Allah menciptakan manusia. Memang dunia diciptakan demi kemuliaan Allah. Namun, kemuliaan Allah ini dicapai dengan menciptakan segala sesuatu berdasarkan kasih dan kebaikannya. Dengan demikian, kita tidak perlu mempertentangkan kemuliaan dengan kasih dan kebaikan Allah, karena ketiganya saling berkaitan.

      Semoga dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. Salam damai Kristus,
    mau tanya tentang kejatuhan Manusia :
    1. apakah Tuhan tidak tau sisi lemah akan manusia pertama akan jatuh dalam Godaan Setan, dan tidak memastikan adam dan hawa kuat dalam godaan
    2. penjelasan akan mati bila memakan buah kehidupan belum cukup. karena terbukti setan bisa menipu hawa istri adam, seharusnya memberi penglihatan apabila mati bagaimana kondisinya,( mati rohani) terbukti hawa bingung, maka memutuskan untuk melawan perintah Allah
    3. Mengapa Tuhan melempar Setan ke Bumi, kenapa bukan ke planet lain.
    4. apakah semua ini Rekayasa Tuhan, untuk manusia

    mohon bantuan penjelasannya, trims

    salam
    Erwin

    • Shalom Erwin,

      1. Tuhan itu Maha Tahu. Maka Ia telah mengetahui segala sesuatu sejak awal mula. Ia telah mengetahui bahwa dengan menciptakan manusia menurut rupa dan gambaran-Nya (yaitu sebagai mahluk yang berakal budi dan berkehendak bebas), maka manusia dapat memilih untuk menolak Dia dan memisahkan diri daripada-Nya dengan memilih dosa, dan memang itulah yang terjadi. Namun Allah juga sudah tahu bahwa dengan demikian Ia akan mengutus Yesus Putera-Nya untuk menebus dosa umat manusia dan membawa mereka kembali kepada-Nya.

      Selanjutnya, silakan Anda membaca beberapa artikel ini, yang terkait dengan pertanyaan Anda:

      Apakah tujuan penciptaan?
      Arti manusia diciptakan menurut gambaran Allah
      Mengapa manusia pertama jatuh dalam dosa?
      Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah

      2. Maka, kejatuhan Hawa ke dalam dosa, bukan disebabkan karena ia tidak tahu artinya mati, tetapi karena dosa kesombongan, yaitu ingin menjadi seperti Allah (lih. Kej 3:5). Silakan membaca artikel di atas, Mengapa manusia pertama jatuh dalam dosa?

      Dosa yang sama ini, yaitu dosa kesombongan ingin menyamai Allah, ini juga yang dilakukan oleh sejumlah malaikat, silakan klik.

      3. Mengapa Tuhan melemparkan setan ke bumi, bukan ke planet lain?
      Sejujurnya ini merupakan misteri Allah. Mungkin kita baru dapat mengetahui alasan persisnya kelak jika kita memandang Allah di Surga, saat pengetahuan kita menjadi sempurna.

      4. Apakah semua ini rekayasa Tuhan untuk manusia? Orang yang skeptis terhadap Tuhan, dapat saja menganggapnya demikian. Namun bagi orang yang percaya kepada apa yang diwahyukan Tuhan, kita menyebutnya sebagai rencana keselamatan Allah bagi manusia. Allah merencanakan sedemikian, karena hakekat-Nya yang adalah kasih. Kasih Allah ini menjadi dasar penciptaan dan penyelamatan manusia.

      Silakan, jika Anda tertarik dengan topik ini, untuk membaca artikel-artikel dalam kolom Katekese Dewasa, tentang hakekat Allah yang kita imani, sebagaimana tercantum dalam Kredo/ Syahadat Aku Percaya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Salam damai,
    Terima kasih untuk penjelasan-penjelasan yang membantu ini. Semoga Rahmat Tuhan lewat Roh Kudus menguasai akal budi dan hati saya dan juga sahabat-sahabat pembaca yang lain agar lebih memahami dan beriman pada Kristus.
    Tuhan menyertai kita.

  4. Shalom Katolisitas,
    Menurut pandangan saya,manusia bertindak kasih semata-mata hanya untuk mencapai kebahagiaan abadi di sorga atau hanya untuk menghindari siksa api neraka selamanya atau gabungan keduanya.Bagi para penganut Budha,berbuat kasih supaya di kehidupan berikutnya bisa menjadi orang yang lebih sukses atau tidak ingin terlahir kembali menjadi orang susah,menjadi binatang,dsb.
    Motif2 tsb tidaklah murni benar2 mengasihi Tuhan karena ada ‘reward’ dan ‘punishment’.Manusia menjadi seperti robot,tidak bisa menjadi dirinya sendiri.Kalau Tuhan mau lebih ‘fair’ seharusnya hilangkan saja surga dan nerakanya atau reward dan punishment nya sehingga Tuhan benar2 tahu siapa saja yang sungguh2 mencintai diriNya.
    Ernesto “Che” Guevara sangat menjunjung tinggi kebebasan yang hakiki[kebebasan yang bertanggung jawab] sehingga beliau tidak memikirkan apakah akan masuk surga atau neraka.
    Sangat disayangkan juga bahwa gereja katolik menentang komunisme.Padahal kalau mau jujur banyak kisah atau ayat2 dalam Injil yang mencela orang kaya: Orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah,Orang kaya dan Lazarus yang miskin,berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,dll.Cara hidup jemaat perdana adalah sesuai dengan ajaran komunis atau sosialis yaitu segala sesuatu adalah milik bersama.
    Demikianlah tanggapan saya karena saya merasa ada sesuatu yang mengganjal dlm hati saya kalau tidak disampaikan

    • Shalom Tarsisius,

      Ajaran Kristiani mengajarkan bahwa untuk mencapai kebahagiaan abadi di Surga dibutuhkan kerjasama dari pihak manusia, yaitu antara lain melalui pertobatannya. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa pertobatan dapat disebabkan oleh dua hal. Yang pertama karena penyesalan yang timbul karena mengasihi Tuhan karena itu tidak ingin melukai hati Tuhan, ini disebut sebagai penyesalan sempurna (lih. KGK 1452). Sedangkan penyesalan yang disebabkan karena memikirkan keburukan dosa dan ketakutan akan hukuman yang kekal akibat dosa, ini disebut penyesalan yang tidak sempurna (lih. KGK 1453).

      Maka Anda benar jika mengatakan bahwa takut akan hukuman bukanlah bentuk kasih yang sempurna kepada Allah. Sebab Sabda Allah sendiri mengatakan, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yoh 4:18). Maka kasih yang sempurna yang disyaratkan oleh Allah bagi kita, maksudnya adalah bahwa kita mengasihi Allah, bukan atas dasar kita takut dihukum oleh-Nya, tetapi karena kita mengasihi Allah sedemikian, sehingga kerinduan-Nya menjadi kerinduan kita, kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Maka kita membenci dosa bukan karena takut hukuman dosa, tetapi takut merusak hubungan kasih antara kita dengan Tuhan. Hal kasih yang tulus ini dapat terlihat dalam hubungan antara anak dan orang tua: semakin tulusnya anak mengasihi orang tua, maka motivasinya berbuat baik dan menghindari berbuat jahat adalah bukan semata karena takut dihukum orang tua, tetapi karena tidak ingin melukai hati orang tuanya. Namun seperti halnya terjadi dalam pendidikan anak di usia dini, hukuman (punishment) dan penghargaan (reward) merupakan cara yang baik, yang dipakai oleh orang tua untuk mengajarkan prinsip keadilan kepada anak,  untuk kemudian secara bertahap anak diarahkan kepada pemahaman akan hubungan kasih sejati yang seharusnya terjadi antara anak dan orang tua. Sebab biar bagaimanapun kasih tidak dapat terwujud jika keadilan tidak ada terlebih dahulu.

      Maka tidak masuk akal, jika kita sungguh mengetahui bahwa Allah itu baik dan Allah itu Kasih, dan kita mengatakan bahwa kita mengasihi Dia, namun kita merasa bebas berbuat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kasih dan kebaikan Allah. Mengapa tidak masuk akal? Karena kebebasan yang sejati harus terarah kepada kebenaran. Maka, ‘kebebasan yang bertanggungjawab’ itu mensyaratkan terlebih dahulu suatu kesadaran akan prinsip keadilan dan kebenaran, yaitu mengejar yang baik dan menghindari yang jahat. Maka prinsip kasih tidak pernah dapat dipisahkan dengan keadilan.

      Selanjutnya tentang Komunisme, dan mengapa itu tidak sesuai dengan prinsip ajaran Kristiani, sudah diuraikan di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Shalom Pak Stef,

    Artikel di atas tertulis:
    “Kodrat” manusia
    tingkatan “kodrat”
    Dan kebaikan ini hanya terjadi….sesuai dengan “kodratnya”.
    Mohoh penjelasan agar bisa lebih dimengerti.

    Terima kasih atas perhatiannya,
    salam, Febu

    • Shalom Febu,

      Dalam artikel di atas, saya menuliskan “Dan kebaikan ini hanya terjadi jika semuanya bertindak sesuai dengan kodratnya.” Secara prinsip, seperti yang dijelaskan di atas, maka Tuhan yang adalah kebaikan itu sendiri, menciptakan segala sesuatu dalam tingkatan yang berbeda, mulai dari yang murni spiritual, seperti malaikat, kemudian manusia, dengan binatang di bawah tingkatan manusia, tumbuhan adalah tingkatan berikutnya, dan kemudian segala benda mati. Tentu saja, setiap tingkatan mempunyai kekhususan dan keterbatasan masing-masing, yang semuanya diciptakan Allah baik adanya. Katekismus Gereja Katolik menuliskan hal ini sebagai berikut:

      KGK 339     Tiap makhluk memiliki kebaikan dan kesempurnaannya sendiri. Dari tiap karya selama “enam hari itu”, dikatakan: “Dan Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. “Sebab berdasarkan kenyataannya sebagai ciptaan, segala sesuatu dikaruniai kemandirian, kebenaran dan kebaikannya sendiri, lagi pula menganut hukum-hukum dan mempunyai tata susunannya sendiri” (GS 36,2). Makhluk-makhluk yang berbeda-beda itu mencerminkan dalam kekhususan mereka yang dikehendaki Allah, tiap-tiapnya dengan caranya sendiri, satu sinar kebijaksanaan dan kebaikan Allah yang tidak terbatas. Karena itu manusia harus menghormati kodrat yang baik dari setiap makhluk dan bersikap waspada terhadap penyalah-gunaan benda-benda itu. Kalau tidak, maka Allah dihina dan terjadilah akibat -akibat yang sangat buruk bagi manusia dan alam sekitarnya.

      Adalah baik kalau masing-masing tingkatan menjalankan segala sesuatu sesuai dengan kodratnya. Sebagai contoh, menjadi baik, kalau manusia dapat mencerminkan gambaran Allah, karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah. Kalau manusia hanya hidup untuk mengumbar nafsunya, maka manusia tidak bertindak sebagaimana kodrat manusia, namun dia menurunkan derajatnya seperti kodrat binatang. Dan ini adalah tidak baik dan tidak benar. Sebaliknya, menjadi tidak mungkin untuk menuntut binatang bertindak seperti manusia, yang harus mampu mengendalikan dirinya, mengejar kesempurnaan hidup, dll. Menjadi tidak mungkin juga untuk menuntut tumbuhan agar dapat bergerak seperti binatang. Jadi, segala sesuatunya telah diciptakan Allah dengan kodratnya masing-masing. Semoga dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. Shalom katolisitas,

    Apakah dalam Gereja Katolik ada hukum atau dokumen yang mengatur perlakuan kita terhadap alam? Misalnya, sekarang banyak perburuan liar, pembalakan hutan dsb…manusia semakin jahat dan tidak lagi peduli…Apakah Gereja juga mengatur akan hal itu?

    Terima Kasih,

    Shalom,

    Monica

    • Shalom Monica,

      Beberapa dokumen Gereja Katolik yang membahas tentang lingkungan hidup adalah:

      World Peace Day Message of John Paul II (January 1, 1990)
      Catechism of the Catholic Church (Katekismus Gereja Katolik): 299-301; 307; 339-341; 344
      Encyclical Letter Populorum Progressio, 22,23-24,69
      Encyclical Letter, Centesimus Annus, 37-38
      Encyclical Laborem Exercens, 4
      Mater et Magistra, 196,199
      Octogesima Adveniens, 21
      Dogmatic Constitution, Lumen Gentium,#36 (Dokumen Konsili Vatikan II, tentang Gereja)
      Pastoral Constitution Gaudium et Spes #34 (Dokumen Konsili Vatikan II, tentang Gereja di dunia modern)
      Synod of Bishops: Justice in the World, Chapter 1 #2
      Encyclical, Evangelium Vitae #42
      Apostolic Exhortation, Vita Consecrata # 90
      Apostolic Exhortation, Ecclesia in America #25
      Apostolic Exhortation, Ecclesia in Asia #41
      Apostolic Exhortation, Ecclesia in Oceania #31
      “Water, Fount of Life and a Gift for All”. Bolivian Episcopal Conference, Cochabamba, February 12, 2003 (Spanish).

      Silakan anda ketik kata- kata kunci ini dan mencarinya di google. Mohon maaf, karena terlalu banyak, kami tidak dapat menayangkannya di sini. Prinsipnya Gereja Katolik mengajarkan agar semua orang yang berkehendak baik untuk mengembangkan alam, namun juga harus melestarikan lingkungan hidup, demi kesejahteraan umat manusia, baik di saat ini maupun di generasi mendatang. Namun tentang sangsi bagi pelanggaran pelestarian lingkungan hidup, itu merupakan kewenangan otoritas negara yang bersangkutan, dan bukan merupakan kewenangan Gereja.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. syallom pak stef…

    Kitab perjanjian LAMA dan perjanjian BARU tidak dapat dipisahkan… dimana Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia datang untuk menggenapi/ menyempurnakan..

    Pertanyaan saya…
    Mengapa sifat2 Tuhan di perjanjian lama berbeda dengan sifat2 Tuhan yang ada di perjanjian baru??
    Di perjanjian lama Tuhan digambarkan bisa menghukum manusia saat manusia hidup, terkesan Tuhan mempunyai sifat jahat/kejam. Dan Tuhan bisa menghukum manusia ketika manusia masih hidup.. seperti yang digambarkan oleh cerita2 Islami yang ada di televisi…

    Sedangkan pemahaman saya, sifat sifat Tuhan dibatasi oleh sifat ke Allahannya itu sendiri.

    Mohon penjelasannya, terima kasih.
    Tuhan Yesus memberkati.

    • Shalom Georgius,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang penggambaran Allah yang berbeda di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pertanyaan ini pernah saya ulas di sini (silakan klik). Kalau keterangan tersebut masih kurang, silakan untuk bertanya kembali.

      Dengan Yesus, Tuhan yang menjadi manusia, maka kita dapat melihat secara jelas bahwa Allah bukan hanya Maha Adil dan Maha Besar, namun Dia adalah Maha Kasih dan Maha Pengampun.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  8. Saya ingin bertanya mengapa Tuhan menciptakan anak – anak yang cacat sejak lahir? Seperti cacat mental, buta, tuli dan lain sebagainya. Oleh dunia ada berbagai macam penyakit yg disebabkan kelainan genetik, sebenarnya apa hal tsb dlm konteks alkitab?

    • Shalom Niniek,
      Memang tak mudah untuk mengetahui secara pasti mengapa Tuhan menciptakan anak-anak yang cacat sejak lahir. Yesus pernah ditanya oleh para murid-Nya pertanyaan yang serupa, tentang  seorang yang buta sejak lahirnya. Yoh 9:2-3 mengatakan,
      Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."
      Maka, mungkin kita perlu melihat realitas tersebut dengan kacamata iman, sebab Tuhan tidak mungkin mengizinkan segala sesuatu tanpa maksud untuk mendatangkan kebaikan. Dalam hal ini, kita tidak pernah tahu, bahwa mungkin kelahiran anak yang cacat dapat dipakai oleh Tuhan untuk membawa keluarganya untuk lebih beriman kepada Tuhan, atau jika bukan keluarganya, dapat juga keadaan anak yang cacat itu dapat mendorong orang lain untuk menunjukkan kasih/ belas kasihan. Maka anak itu dipakai oleh Tuhan untuk menguduskan orang lain yang menaruh belas kasihan kepadanya, di samping Tuhan sendiri menjaga/ memelihara anak tersebut lewat uluran tangan mereka yang mengasuhnya. Dan dalam kasih inilah pekerjaan Tuhan dinyatakan, sebab hanya Tuhanlah yang mampu menggerakkan hati seseorang untuk dengan tulus dan tanpa pamrih mengasihi mereka yang cacat dan menderita. Demikianlah kesaksian hidup dari suster-suster dari ordo Missionary of Charity-nya Ibu Teresa dari Kalkuta, atau yang dilakukan oleh suster-suster Alma di tanah air. Kesaksian hidup mereka sungguh mencerminkan ajaran Kristus; dan bagi saya, kesaksian macam ini lebih lantang memperkenalkan kasih Tuhan daripada khotbah yang paling berapi-api sekalipun. Mereka sungguh mengikuti teladan Kristus, untuk memberikan diri tanpa pamrih, dengan mengasihi mereka yang paling lemah dan menderita. Melalui kesaksian hidup mereka, semua orang dapat melihat kesaksian Injil yang hidup, tentang mengasihi sesama [terutama yang terkecil dan tersingkir] demi kasih mereka kepada Tuhan.

      Namun pada akhirnya, realitas penderitaan semacam itu tetaplah merupakan misteri bagi kita. Selama kita masih hidup di dunia ini, kita tak akan pernah memahaminya sampai tuntas. Namun satu hal yang pasti yang dapat kita tanamkan dalam hati, bahwa: " Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Rom 8:28)
      Maka, segala sesuatu yang terjadi, bahkan keadaan yang tersulit sekalipun, dapat dipakai oleh Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Akhirnya memang terpulang kepada kita, apakah kita sungguh mengasihi Dia. Sebab jika kita sungguh mengasihi Allah, maka janji yang disebutkan dalam ayat itu akan digenapi di dalam kita.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  9. Dear Stefanus

    Terima kasih atas penjelasannya, saya jadi mengerti sekarang.

    Sesuai dengan penjelasan anda maka saya berkesimpulan bahwa sebenarnya memang Allah memprogram manusia untuk menjadi sama seperti DIA.
    Menjadi allah-allah (dengan huruf kecil)

    Apakah ada manusia-manusia yang sempurna seperti rancangan Allah? Jawabannya ada.

    Dan itu sudah ada buktinya seperti contoh2 yang telah anda jelaskan, walaupun tingkatnya tetap dibawah Allah. Sehingga satu kali nanti manusia akan mengadili malaikat.

    Pada poin II anda menulis sbb : Namun manusia tidak mungkin menjadi Allah, kecuali pada diri Yesus, sungguh Allah dan sungguh manusia.

    Saya jadi agak bingung , apakah sempurna itu tidak identik dengan Allah ?

    Salam
    Machmud

    • Shalom Machmud,

      1) Allah memang menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya. Dan inilah yang membuat manusia dapat mengetahui dan mengasihi Allah. Hal ini dilakukan dengan jalan kekudusan atau berpartisipasi dalam kehidupan Allah.
      Jadi, apakah manusia direncanakan untuk menjadi allah-allah lain? Iya, kalau kita mengartikan bahwa allah-allah lain adalah bukan Allah, namun berpartisipasi dalam kehidupan Allah. Jadi allah-allah lain dan Allah berbeda secara kodrat, bukan hanya dalam derajat. Hanya dalam diri Yesuslah, maka kita dapat mengatakan bahwa dalam kodrat manusia-Nya, Dia juga mempunyai kodrat Allah, karena Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.
      Gereja tidak percaya bahwa percikan Allah ada di dalam diri manusia seperti yang dipercayai oleh Pantheism. Manusia hanya dapat berpartisipasi dalam Allah, namun tidak akan mungkin menjadi Allah.

      2) Apakah sempurna identik dengan Allah? Tidak. Sempurna yang saya maksud adalah yang bertindak sesuai dengan kodrat (nature) dari sesuatu tersebut. Tumbuhan yang sempurna adalah yang bertumbuh dan berbuah. Binatang yang sempurna adalah yang sehat dan beranak, dll. Dan manusia yang sempurna adalah yang bertindak sebagaimana layaknya manusia, yaitu sebagai mahluk yang berakal budi. Kalau manusia bertindak sebagai binatang dia tidak sempurna.
      Binatang tidak dapat bertindak sebagaimana layaknya manusia. Mungkin dia dapat makan, bergerak, namun dia tidak dapat berfikir, atau bertanya tentang tujuan keberadaannya di dunia. Hal ini dikarenakan kodrat binatang dan manusia adalah berbeda. Kodrat manusia dan kodrat Tuhan adalah berbeda secara tak terbatas, jauh melebihi perbedaan manusia dan binatang.
      3) Machmud mengatakan bahwa satu kali nanti manusia akan mengadili malaikat. Hal ini dikatakan 1Kor 6:3 "Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat?." Maksud dari ayat ini, manusia tidak mengadili malaikat yang baik, namun mengadili malaikat yang jahat.

      Semoga keterangan tambahan ini dapat memperjelas.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  10. Salam damai sejahtera

    Setelah saya membaca tentang KESEMPURNAAN RANCANGAN KESELAMATAN ALLAH diatas maka timbul suatu pertanyaan dalam diri saya sbb :

    Untuk apa Allah menciptakan manusia ?
    Dan mengapa diberikan tubuh daging yang menyeretnya untuk berbuat dosa ?
    Bukankah kalau hanya memiliki roh saja seperti malaikat tentu tidak pernah timbul nafsu2 kedagingan ?
    Mengapa harus ditempatkan di dunia yang penuh dengan dosa dan kekerasan ?
    Di dunia manusia tidak pernah memandang muka Allah, sedangkan malaikat setiap hari melihatnya, tetapi manusia dituntut untuk mempercayai FirmanNya.

    Apakah memang manusia di program untuk menjadi allah-allah, seperti yang di ucapkan oleh Yesus : kamulah alah-alah.
    Maka oleh sebab itu manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan sifat ilahi dan diharapkan akan ada sebagian manusia yang menjadi seperti DIA di dalam kehidupannya yang sia2 di bawah matahari .
    Memang masih ada sisa-sisa kemuliaan Allah dalam diri manusia yaitu kasih dan itu tidak didapati dalam ciptaan yang lainnya.
    Dan manusia ditempatkan di dunia bukan di Surga supaya diolah ,ditumbuhkan dan disempurnakan, oleh sebab itu ketika manusia berbuat dosa, Allah masih mengampuni, tetapi malaikat sekali berbuat dosa langsung dibuang.

    Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah akan ada manusia-manusia yang sempurna seperti yang direncanakan oleh Allah ?
    Atau mungkinkah rencana Allah terhadap manusia akan gagal ?

    Kalau kita membaca kitab Kejadian kita temukan sbb : In the beginning God created the heaven and the earth.And the earth was without form, and void; and darkness [was] upon the face of the deep. And the Spirit of God moved upon the face of the waters. Sangat berbeda dengan penciptaan yang lain : and God saw that [it was] good.
    Saya tidak berani mengatakan bahwa penciptaan yang pertama tersebut gagal,tetapi begitulah Alkitab menulisnya.

    Hanya saja Alkitab menulis bahwa akan ada orang2 yang sempurna di akhir zaman yang berjumlah 144.000 orang.

    Apapun itu saya masih belum mengerti untuk apa saya diciptakan dan ditempatkan dalam dunia ini ?

    Terima kasih
    Machmud

    [Dari admin: telah terjawab di artikel di atas]

    • risko karter napitupulu on

      1 Korintus 13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

      Risko Karter Napitupulu