Mengapa Yesus naik ke Surga?

10

Pertanyaan:

Pak Stefanus
Kemarin tgl 21.May.2009 umat Kristiani memperingati hari kenaikan Isa Almasih (YESUS) .
Yang ingin saya tanyakan : Mengapa YESUS harus naik ke Sorga ?
Bukankah lebih baik kalau DIA tetap tinggal di dunia untuk memimpin umatnya yang waktu itu sangat membutuhkan seorang pemimpin ?
Kalau jawabannya seperti yang tertulis di Kitab Injil : AKU akan menyediakan tempat bagimu di Surga, maka pertanyaannya apa tidak bisa di akses dari dunia ?
Atau mungkin juga tugasNYA sudah selesai seperti yang terucap ketika DIA disalib, dan tugas tersebut di delegasikan kepada Allah Tritunggal yang lain yaitu Roh Penolong (Roh Kudus). Seperti yang diucapkannya: Jika AKU tidak pergi maka Roh Penolong itu tidak datang.
Kalau Yesus bertugas untuk penebusan manusia , lalu apa tugas dari Roh Penolong tsb ?
Dan apakah setiap umat Kristiani di meteraikan oleh Roh Penolong (Roh Kudus) yang ditandai dengan ber-bahasa Roh ?
Terima kasih – Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang mengapa Yesus naik ke Surga. Kenaikan Yesus ke Surga (Ascension) adalah naiknya Yesus ke Surga dengan kekuatan-Nya sendiri di hadapan para muridnya, empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya. Hal ini diceritakan di Mk 16:19, Lk 24:51, dan Kis 1.
Ada dua alasan mengapa Yesus naik ke Surga:
I. Untuk mengirimkan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya.
Di dalam Yoh 16:7 dikatakan “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Pertanyaannya, mengapa Yesus harus naik ke Surga terlebih dahulu sebelum mengirimkan Roh Kudus?

1) Kalau kita mau melihat keseluruhan Alkitab, maka kita juga mencoba melihat Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru. Dalam studi “typology“, kita melihat sesuatu yang ada di dalam Perjanjian Lama dan kemudian dikaitkan dengan Perjanjian Baru untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap. Dalam hal ini ada kaitan antara Musa dan Yesus. Yesus disebut Musa yang Baru.
2) Sebelum Musa mendapatkan Sepuluh Perintah Allah (decalogue), Musa harus naik terlebih dahulu ke gunung Sinai, dan tinggal bersama dengan Allah selama empat puluh hari. (Lih. Kel 34). Dan oleh karena itu, Yesus, Musa yang Baru, naik – bukan ke gunung yang bersifat fisik, namun naik ke Surga. Rasul Paulus mengatakan “Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.“(Ef 4:10). Dan pada waktu Dia telah duduk di sisi kanan Allah Bapa, maka Dia dapat menuliskan hukum Allah di dalam hati manusia, bukan di dalam dua loh batu seperti di dalam Perjanjian Lama. Penulisan hukum Allah ini dimanifestasikan dengan turunnya Roh Kudus kepada para rasul dan kemudian kepada umat Allah, sehingga Tubuh Kristus (Gereja) dapat dibangun.

II. Untuk membawa jiwa-jiwa yang berada di limbo of the just atau bosom of Abraham atau tempat penantian, ke Surga.
Rasul Paulus mengatakan bahwa “8 Itulah sebabnya kata nas: “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.” 9 Bukankah “Ia telah naik” berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? 10 Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. 11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, 12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, 13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,” (Ef 4:8-13)

1) Dari ayat-ayat tersebut di atas, maka sebenarnya cukup jelas bahwa ketika Yesus naik ke tempat tinggi (Surga), maka Yesus membawa jiwa-jiwa yang berada di bosom of Abraham dengan cara Yesus turun sendiri ke tempat penantian selama tiga hari (dari wafat sampai kebangkitan).
2) “Pemenuhan segala sesuatu” yang disebutkan di ayat 10 adalah pemenuhan dari janji Yesus, yaitu untuk mengutus Roh Kudus, Roh Penghibur (Yoh 14:26, 15:26, dan 16:7) yang akan memenuhkan segala sesuatu, yang memperlengkapi umat Allah dalam membangun Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Rasul Paulus menegaskan bahwa Roh Kudus inilah yang akan memberikan kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Jadi dapat dikatakan bahwa Roh Kudus membantu umat Allah untuk menjadi mirip seperti Kristus.


Roh Kudus menuntun perkembangan Gereja

Roh Kudus yang dijanjikan Yesus dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta, seperti yang diceritakan di dalam Kisah Para Rasul 2. Dari sinilah lahir Gereja atau Tubuh Mistik Kristus, yang berkembang dengan pesat. Dan penganiayaan jemaat Kristen perdana tidak menyurutkan para murid untuk senantiasa mewartakan Kristus.
Dengan Roh Kudus atau Roh Kristus, maka manifestasi dari kekuatan dan kasih Kristus tidak dibatasi lagi oleh tempat, melainkan Dia bebas berkarya di dalam setiap hati manusia dimanapun berada. Penerimaan Roh Kudus ini diwujudkan dalam Sakramen Permandian, seperti yang dikatakan oleh Rasul Petrus “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38).

Jadi, dari beberapa prinsip, seperti yang disebutkan di atas, maka:
1) Yesus naik ke Surga bertujuan untuk mengirimkan Roh Kudus yang telah dijanjikannya dan juga membawa jiwa-jiwa umat Allah yang berada di tempat penantian. Dan Roh Kudus yang dijanjikan inilah yang memberikan inspirasi dan kekuatan kepada umat Allah di dalam perkembangan Gereja sampai saat ini.
2) Yesus datang ke dunia bukan untuk mendirikan kerajaan dunia, seperti yang diinginkan oleh bangsa Yahudi, namun Dia ingin meraja di dalam hati setiap umat manusia, yang dicapai dengan mengirimkan Roh Kudus.
3) Apakah Roh Kudus tidak dapat diakses ketika Yesus berada di dunia? Keterangan di point I, saya kira telah menjawab hal ini. Dan berikut ini adalah tambahan keterangan untuk menjawab hal ini.

Kita mengetahui Trinitas dari Wahyu Allah. Namun kita juga dapat melihat hal ini dari “argument of fittingness“.
Pertama, kita perlu mengerti akan definisi dari Trinitas sendiri, yang merupakan satu Allah dalam tiga pribadi, dimana masing-masing pribadi hanyalah berbeda dalam hubungan asalnya “relation of origin“. KGK 254 menyatakan “Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah “Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan“. Oleh karena itu adalah “fitting” kalau Yesus, pribadi ke-2 dari Trinitas dimuliakan terlebih dahulu, dan bersama-sama dengan Allah Bapa memberikan Roh Kudus (Yoh 14:26; 15:26; 16:14).
Kalau Roh Kudus memanifesikan diri-Nya sebelum Kristus dimuliakan, maka seolah-olah Roh Kudus hanya berasal dari Bapa. Kalau Roh Kudus hanya berasal dari Bapa, maka Roh Kudus tidak berbeda dengan Allah Putera. Oleh karena itu menjadi “fitting” bahwa Roh Kudus turun kepada para rasul pada hari Pentakosta, yaitu setelah Yesus dipermuliakan, sehingga Roh Kudus ini dapat dikatakan berasal dari Allah Bapa dan Allah Putera.

4) Tugas Roh Kudus, telah dijawab di point II, dimana saya mengatakan: Roh Kudus yang akan memenuhkan segala sesuatu, yang memperlengkapi umat Allah dalam membangun Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Rasul Paulus menegaskan bahwa Roh Kudus inilah yang akan memberikan kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Jadi dapat dikatakan bahwa Roh Kudus membantu umat Allah untuk menjadi mirip seperti Kristus.
5) Saya tidak tahu mengapa Machmud mempunyai anggapan bahwa umat Kristen dimateraikan dengan bahasa Roh. Saya telah menjawab sebelumnya, bahwa materai kekristenan adalah Sakramen Baptis, seperti yang ditegaskan oleh rasul Petrus “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38).
Untuk jawaban lengkap tentang hal ini, silakan melihat di jawaban ini (silakan klik).
Semoga jawaban singkat ini dapat menjawab pertanyaan dari Machmud.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

10 Comments

  1. Shalom Katolisitas.

    Sebagaimana sudah disampaikan bahwa Yesus naik ke surga dengan kuasa-Nya sendiri. Yang ingin saya tanyakan:

    1. Bagaimana dengan gaya bahasa yang ditulis dalam Markus 16:19 dan Lukas 24:51 mengenai penggunaan bentuk kata pasif “terangkat” dalam terjemahan LAI?
    2. Jika terjemahan yang digunakan adalah “terangkat”, bagaimana perbandingannya dengan ketika Maria “diangkat” ke surga? (Mengingat keduanya adalah bentuk pasif)

    Terima kasih dan salam damai dalam Kristus.

    • Shalom Alexander,

      Kitab Suci menjelaskan kenaikan Kristus dengan kata “terangkatlah/ terangkat” ke surga (Mrk 16:19, Luk 24:51), dan “naik” ke sorga (Kis 1:11; 1 Pet 3:22, Yoh 3:13). Tidaklah menjadi masalah akan adanya dua ekspresi ini, sebab memang Tuhan Yesus mempunyai dua kodrat yaitu sebagai manusia dan sebagai Allah. Maka sebagaimana ayat-ayat dalam Kitab Suci juga menjabarkan bahwa Yesus “dibangkitkan” (1 Kor 15:12-14; 1Tes 1:10- mengacu kepada kodrat kemanusiaan-Nya) dan “bangkit” (Luk 24:6; Kis 10:41; 2Tim 2:8; 2Tes 4:14; mengacu kepada kodrat keAllahan-Nya). Namun demikian, walaupun mirip (mengacu kepada arti ‘dibawa ke atas’), kata yang digunakan untuk menjelaskan terangkatnya Yesus (was taken up/ was carried up) tidak sama dengan diangkatnya Bunda Maria (was assumed) sebagaimana tertulis di bawah ini:

      Mrk 16:19: And the Lord Jesus, after he had spoken to them, was taken up into heaven and sitteth on the right hand of God.
      (et Dominus quidem postquam locutus est eis adsumptus est in caelum et sedit a dextris Dei).
      Terjemahan dalam bahasa Indonesia: “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.”

      Luk 24:51 And it came to pass, whilst he blessed them, he departed from them and was carried up to heaven.
      (et factum est dum benediceret illis recessit ab eis et ferebatur in caelum).
      Terjemahan dalam bahasa Indonesia: “Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.”

      Munificentissimus Deus, 44: …. that the Immaculate Mother of God, the ever Virgin Mary, having completed the course of her earthly life, was assumed body and soul into heavenly glory. (…. Immaculatam Deiparam semper Virginem Mariam, expleto terrestris vitae cursu, fuisse corpore et anima ad caelestem gloriam assumptam)
      Terjemahan dalam bahasa Indonesia: “…. bahwa Bunda Allah yang tak bernoda, Maria yang tetap Perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Panji Christian Cesiora on

    saya ingin bertanya. siapa yang membawa yesus ke surga ?
    dan siapa yg membuat surga ?

    [dari katolisitas: Yesus naik ke Sorga dengan kekuatan-Nya sendiri, karena Dia adalah Allah. Yang menciptakan Sorga adalah Allah Bapa bersama dengan Allah Putera dan Allah Roh Kudus]

  3. Pertanyaan pak Machmud, sebenarnya juga jadi pertanyaan saya…
    seandainya Yesus bangkit lalu tidak naik Surga, mungkin Dia sudah menjadi kepala negara superpower sekarang. Tapi bukankah itu gambaran zaman akhir, ketika Kerajaan Allah terwujud nyata di dunia?

    setelah saya renungkan pertanyaan saya sendiri, saya berpendapat:
    Jadi Allah masih ingin sejarah (keselamatan) manusia berlanjut. Sejarah belum berakhir, manusia masih harus melanjutkan sejarahnya, karena itu Yesus naik ke Surga.
    Catechsim mengatakan: -nyatanya- Allah menciptakan manusia “sedang berada dalam perjalanan” menuju ke persatuan sejati dengan Allah. (saya lupa no brp :( )
    Jadi perjalanan ini belum berakhir, masih harus dilanjutkan, dan Yesus datang untuk menjadi “jalan” itu sendiri yang harus dilewati manusia (dgn bimbingan Roh Kudus)
    Dengan kenaikan, maka Dia menjadi jalan yang jelas ujungnya / arahnya , jalan yang terjamin dan pasti sampai ke tujuan.
    Seandainya Yesus bangkit tapi tidak naik ke surga , tetapi menghilang begitu saja… kita mungkin ragu kemana “jalan” ini berakhir?

    Dan Dia menunggu manusia di akhir perjalanan manusia itu sendiri… di akhir zaman, saat itu Kerajaan Allah terwujud.

    pak Stef & bu Ingrid, apakah pemahaman ini ada kesalahan?

    • Shalom Fxe,

      Terima kasih atas tanggapannya. Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menjadi kepala negara atau membentuk kerajaan di dunia ini yang bersifat sementara, namun Dia datang untuk menebus dosa manusia dan membawa umat-Nya untuk bergabung dalam Kerajaan Sorga untuk selamanya. Dan pada kedatangan Yesus yang kedua, Dia akan datang dalam kemuliaan-Nya. Kerajaan Allah dapat kita alami di dunia ini secara samar dan tidak sepenuhnya. Kepenuhan dari Kerajaan Allah adalah di Sorga. Inilah sebabnya Gereja di dunia ini adalah Gereja yang mengembara, yang nantinya akan bersatu dengan Gereja yang Jaya, di Surga.

      Jadi memang benar, bahwa dengan kenaikan Tuhan Yesus, maka Dia sendiri membawa seluruh umat beriman yang telah meninggal sebelum kedatangan Kristus untuk masuk dalam kerajaan Sorga. Dan kerajaan Sorga ini juga diperuntukkan bagi umat Allah yang telah meninggal setelah kedatangan-Nya.  Yesus mengatakan bahwa "Akulah Jalan, dan kebenaran, dan Hidup" (Yoh 14:6), karena melalui Yesus, umat manusia dapat bersatu dengan Allah di Sorga. Dan kenaikan Tuhan Yesus memang memberikan iman dan pengharapan yang besar, karena para murid tahu, bahwa suatu saat mereka akan bersatu dengan Kristus di dalam Kerajaan Allah.

      Namun pernyataan bahwa "Yesus menunggu manusia di akhir perjalanan manusia itu sendiri" kurang tepat, karena Yesus bukan menungu, namun mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk terus-menerus bekerja di dalam Gereja dan di dalam hati seluruh umat beriman. Dia secara aktif, melalui Roh Kudus-Nya dan Tubuh Mistik Kristus – Gereja, membimbing umat beriman untuk mencapai Kerajaan Surga.

      Semoga dapat memperjelas.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  4. Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid,
    Bapak mengatakan bahwa Tujuan Yesus naik ke Surga salah satunya adalah untuk membawa jiwa-jiwa yang berada di limbo of the just atau bosom of Abraham atau tempat penantian, ke Surga. Pertanyaan saya :
    “Bagaimana dengan Para Nabi yang sudah lebih dahulu meninggal jauh sebelum kedatangan dan kenaikan Yesus seperti Nabi Abraham, Musa, Elia, Daud dll? Apakah mereka masih belum masuk ke Surga?” Dan berkumpul dengan jiwa-jiwa orang baik yang baik maupun yang JAHAT di tempat penantian itu? Kalau ya, rasanya kurang adil yach? Masa Nabi Besar harus ditempatkan dengan para Penjahat? Mohon Penjelasannya. Thank You, GBU.

    • Shalom Simon,
      Terima kasih atas pertanyaannya. Memang benar bahwa semua nabi dan orang benar sebelum kedatangan Kristus masih berada di tempat penantian sampai Yesus mengambil mereka. Yesus yang turun (descent) sendiri ke tempat penantian dan membawa mereka naik (ascent) ke surga pada saat kenaikan Yesus ke Surga (ascension).
      Semua yang berada di tempat penantian adalah orang-orang yang pasti akan masuk Surga. Sedangkan orang-orang yang “jahat” yang meninggal sebelum kedatangan Kristus atau setelah kedatangan Kristus akan langsung masuk neraka. Ingat bahwa neraka telah ada pada saat kejatuhan malaikat, yang terjadi sebelum penciptaan manusia. Sedangkan pintu surga hanya terbuka pada saat Yesus naik ke Surga, karena pada saat itulah Yesus membukakan kembali pintu Surga bagi manusia. Oleh karena itu kita dapat mengatakan bahwa Surga terbuka karena misteri Paskah (penderitaan, kematian, kebangkitan, kenaikan Yesus).
      Semoga dapat menjawab pertanyaan Simon.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  5. Dear Stefanus

    Terima kasih atas jawabannya,

    Saya sebenarnya tidak tahu apa2 tentang Alkitab, tetapi saya hidup dilingkungan dan bertangga dengan banyak orang yang beragama Kristiani.
    Karena saya sering mendengar percakapan2 mereka tentang Alkitab jadi saya tahu sedikit dari apa yang mereka omongkan kalau kita lagi kumpul2.
    Dari mereka saya diberi hadiah sebuah Alkitab dan saya coba untuk membacanya walaupun saya tidak begitu menegrti terutama didalam Kitab Bilangan yang menulis begitu banyak angka2 ukuran pembuatan bait Allah.
    Waktu itu saya pikir buat apa ukuran2 itu ditulis begitu detail, tetapi menurut mereka bahwa ukuran2 itu ada artinya secara rohani.
    Oleh sebab itu saya sangat tergelitik untuk kalau bisa juga mengetahui apa yang tersembunyi dari angka2 tersebut.
    Dari teman2 tetangga itulah saya diberi penjelasan , namun karena saya kurang puas maka saya mencoba untuk belajar sendiri, dan saya mulai bisa mengerti walaupun teramat sedikit .
    Sayangnya diantara tetangga saya yang beragama Katholik kelihatannya kurang mengerti (memahami) akan isi Alkitab, jadi mereka hanya menjadi pendengar saja sama seperti saya.
    Oleh sebab itu saya tulis beberapa pertanyaan ke situs ini dengan harapan saya mendapat keterangan yang berimbang .
    Jadi tentang meterai itu bukan anggapan saya, tapi saya dapatkan dari teman2 saya dan saya tanyakan kepada anda.
    Memang tidak gampang untuk menafsirkan Alkitab sehingga timbul perbedaan tafsir antara Khatolik dan Protestan, sama seperti Syiah dan Sunni
    Saya mohon maaf kalau beberapa pertanyaan saya atau sanggahan saya mengganggu Stefanus maupun Ingrid.
    Tetapi kalau nanti ada yang tidak saya mengerti, bolehkan bertanya lagi.

    Salam
    Machmud

    • Shalom Machmud,

      Terima kasih atas komentarnya. Sungguh baik mempunyai lingkungan yang dapat berdiskusi dengan bebas mengenai iman.

      1) Mengenai pertanyaan tentang arti dari ukuran-ukuran tentang tabernakel, kemah Allah seperti yang disebutkan di Kel 25-31, saya belum riset secara mendalam. Jadi saya belum dapat menjawabnya saat ini. Beberapa gambar tentang tabut perjanjian dan juga kemah Allah dapat dilihat di sini (silakan klik). Namun ada hal-hal yang lebih penting dari simbol-simbol tersebut. Kalau kita melihat secara typology (melihat apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama yang dapat mempresentasikan apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama), maka kita dapat menghubungkan antara Hukum di dalam Perjanjian Lama yang tersimpan di dalam tabut perjanjian, dengan Yesus yang merupakan hukum dalam Perjanjian Baru. Hukum Tuhan yang tertulis di dalam PL menjadi Firman yang menjadi manusia, yaitu Yesus. Kalau Allah sendiri mempersiapkan segala sesuatunya secara mendetil segala sesuatu yang berhubungan dengan tabut perjanjian, maka pasti Allah juga akan melakukan hal yang sama (bahkan lebih lagi) untuk tabut perjanjian yang baru. Dan hukum Allah yang baru, yang menjadi manusia – dalam diri Yesus- berdiam di dalam tabut PB, yaitu rahim Bunda Maria. Inilah salah satu alasan mengapa umat Katolik mengakui bahwa Bunda Maria adalah manusia yang tak bernoda. Untuk lengkapnya silakan membaca artikel Maria dikandung tanpa noda (silakan klik).

      2) Memang ada perbedaan penafsiran Alkitab antara Katolik dan Protestan. Perbedaan terbesar adalah umat Katolik mempunyai 73 buku, sedangkan protestan mempunyai 66 buku. Keterangan hal ini dapat dilihat di sini (silakan klik). Dan bagi umat Katolik, penafsiran Alkitab tidak boleh terlepas dari Magisterium (kewenangan mengajar) Gereja. Inilah yang membuat ajaran Katolik tetap konsisten, yang dapat ditelusuri perkembangannya secara organik (perkembangan doktrin tidak dapat muncul secara tiba-tiba tanpa ada dasar yang sudah ada sejak awal).

      Tentu saja kalau ada yang mau didiskusikan, silakan meninggalkan pesan atau pertanyaan lagi. Kami dari tim katolisitas.org akan menjawab semampu kami. Semoga Tuhan memberkati perjalanan Machmud dalam menemukan kebenaran.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  6. Pak Stefanus
    Kemarin tgl 21.May.2009 umat Kristiani memperingati hari kenaikan Isa Almasih (YESUS) .
    Yang ingin saya tanyakan : Mengapa YESUS harus naik ke Sorga ?
    Bukankah lebih baik kalau DIA tetap tinggal di dunia untuk memimpin umatnya yang waktu itu sangat membutuhkan seorang pemimpin ?
    Kalau jawabannya seperti yang tertulis di Kitab Injil : AKU akan menyediakan tempat bagimu di Surga, maka pertanyaannya apa tidak bisa di akses dari dunia ?
    Atau mungkin juga tugasNYA sudah selesai seperti yang terucap ketika DIA disalib, dan tugas tersebut di delegasikan kepada Allah Tritunggal yang lain yaitu Roh Penolong (Roh Kudus). Seperti yang diucapkannya: Jika AKU tidak pergi maka Roh Penolong itu tidak datang.
    Kalau Yesus bertugas untuk penebusan manusia , lalu apa tugas dari Roh Penolong tsb ?
    Dan apakah setiap umat Kristiani di meteraikan oleh Roh Penolong (Roh Kudus) yang ditandai dengan ber-bahasa Roh ?
    Terima kasih – Machmud

    [Dari admin: telah dijawab di jawaban di atas]

Add Comment Register



Leave A Reply