Apakah Yesus menikah?
Pertanyaan:
Dear stefanus and Inggrid. Terima kasih atas jawabannya. Btw aku mau nanya lg, kemarin aku liat buku tapi lupa judulnya, tulisan di cover bukunya ttg pernikahan yesus dan keturunannya. liat tulisan di covernya jadi nga berani baca. Apa buku itu benar ato tidak ya? Thanks
GBU
Jawaban:
Shalom Mari,
Janganlah terlalu terganggu jika kita melihat buku-buku yang mendiskreditkan iman Kristiani ataupun Gereja Katolik. Mereka yang mengarangnya ataupun yang menerbitkannya tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan. Biarkanlah Allah saja yang menghakimi mereka pada saat Penghakiman Terakhir. Namun ada bagian yang harus kita lakukan dalam hal ini, yaitu kita harus semakin mendalami iman kita sendiri, supaya jika diperlukan, kita dapat memberi pertanggungan jawab akan iman kita, walaupun harus tetap kita lakukan dengan sopan dan hormat, dengan lemah lembut namun juga dengan keyakinan yang teguh. Dengan demikian, kita melaksanakan ajaran Rasul Petrus, “Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” (1Pet 3:15).
Maka, marilah kita melihat bersama, mengapa Yesus tidak mungkin menikah. Jawaban ini sebenarnya pernah disampaikan oleh Stef di bagian bawah artikel Mengapa Orang Kristen percaya bahwa Yesus itu Tuhan?
III. Apakah seorang Yahudi dan Rabbi harus menikah.
- Kita tahu dari beberapa tulisan pakar sejarah, bahwa ada banyak orang yang tidak menikah pada jaman Yesus, sebagai contoh:
- Menurut Philo (filsuf Yahudi yang tinggal di Alexandria, Mesir) dalam bukunya Hypothetica 11.14-17, dikatakan bahwa suku Essenes tidak memiliki istri.
- Menurut Josephus (sejarahwan Yahudi) dalam bukunya Jewish War, 2.8.2 dan juga Antiquities 18.1.5 mengatakan bahwa banyak orang dari suku Essenes yang mempraktekkan kaul kemurnian seumur hidup, yang berarti tidak menikah.
- Jadi, tidaklah aneh kalau orang-orang seperti Yohanes Pembaptis, Rasul Yohanes atau Rasul Paulus tidak menikah. Dan tentu saja tidaklah aneh kalau Yesus sendiri tidak menikah.
Jadi, kenapa Yesus tidak menikah?
- Kita melihat dari percakapan Yesus dengan murid-muridnya di Mat 19:3-12, bahwa Yesus mengajarkan akan kesucian akan pernikahan dan tidak mengijinkan akan perceraian. Namun di ayat 11-12, dikatakan bahwa ada orang-orang yang tidak menikah karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Nah dari sini, kalau ada orang-orang yang untuk kerajaan surga tidak menikah, apalagi Yesus, yang datang dari Sorga, yang adalah Allah sendiri, sungguh menjadi layak untuk tidak menikah di dunia ini. Bukan karena Yesus merendahkan perkawinan, namun menjadi layak (fitting) bahwa Dia tidak menikah, sehingga Dia dapat menyebarkan Kerajaan Allah secara total. Dan ini juga ditegaskan oleh Rasul Paulus yang mengatakan bahwa orang-orang yang tidak menikah lebih memusatkan perhatiannya kepada perkara Tuhan (1 Kor 7:32-33). Dan inilah yang dilakukan oleh para pastor dan suster, yang mau meneladani secara penuh apa yang dicontohkan oleh Yesus.
- Akan menjadi fitting kalau Yesus tidak menikah, karena kedatangan-Nya adalah untuk menebus dosa manusia. Dimana karya penebusan ini jauh lebih tinggi/ infinite (tak terbatas) jika dibandingkan dengan pernikahan. Sebagai contoh, seorang penjual yang mempunyai proyek 900 triliun US$ tidak akan tergoda dengan proyek yang bernilai 100 rupiah. Ini adalah contoh yang sungguh tidak sempurna untuk membandingkan nilai dari karya penebusan (yang sifatnya supernatural/grace) dibandingkan dengan kodrat yang bersifat natural. Perbedaan antara kodrat/nature dan rahmat/grace/supernatural level adalah tidak terbatas, sehingga contoh di atas sesungguhnya tidak dapat menggambarkan perbedaan tersebut.
- Sebenarnya pernikahan adalah suatu gambaran yang sekilas akan Kerajaan Allah yang abadi, dimana sepasang suami istri dapat memberikan diri masing-masing dalam kasih yang tulus. Di sinilah inti dari kasih yang sebenarnya terwujud dalam kesucian perkawinan, dimana suami istri mengatakan satu-sama lain: saya memberikan diriku, dan saya adalah milikmu. Pernikahan adalah suatu cara untuk mengekpresikan kasih seperti ini. Namun di dalam diri Yesus, ada kepenuhan kasih yang paling sempurna, yaitu kasih di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus, sehingga dalam kesatuan dengan Allah ini (karena memang Yesus adalah Allah) tidak diperlukan pernikahan kodrati dengan manusia.
- Pernikahan yang kita kenal di dunia ini bersifat sementara sampai maut memisahkan suami istri. Inilah yang diajarkan oleh Yesus sendiri, bahwa di Surga tidak ada hubungan pernikahan seperti yang kita kenal di dunia ini (Mat 22:23-32). Jadi, kalau Yesus sendiri senantiasa mengalami Kerajaan Surga (karena Yesus mempunyai Beatific Vision secara terus-menerus), maka adalah fitting bahwa Yesus tidak memilih pernikahan seperti yang ada di dunia ini.
- Karya penebusan ini menempatkan Yesus sebagai mempelai laki-laki, dengan Gereja sebagai mempelai perempuan yang dikuduskan-Nya dengan air dan firman, seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus (Ef 5:25-32). Akan tidak fitting kalau Yesus menikah, karena ini berarti ada dua mempelai perempuan. Sedangkan Yesus sendiri mengatakan bahwa perkawinan hanya untuk 1 laki-laki dan 1 perempuan (Mat 19:3-12). Di sini, Gereja sebagai Mempelai Yesus memiliki arti Ilahi, sehingga makna Perkawinan Kristus dengan Gereja jauh melampaui makna perkawinan antar manusia di dunia. Gambaran kasih antara Yesus dan Gereja inilah yang menjadi acuan/ teladan kasih suami istri dalam Sakramen Perkawinan Katolik, yaitu kasih mempelai laki-laki yang sampai menyerahkan nyawa bagi mempelai perempuan-nya dan kasih mempelai perempuan yang tunduk menghormati suaminya. Persatuan antara Yesus dengan GerejaNya di akhir zaman digambarkan sebagai Perjamuan Kawin Anak Domba dalam kitab Wahyu 19:6-10.
Semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan
Ingrid dan Stef- http://www.katolisitas.org
Beberapa artikel di kategori yang sama:
Saya membaca buku berjudul istri Pilatus. Di situ disebutkan klo yang menikah di Kana adalah Yesus dan Maria Magdalena, apakah benar? Mohon penjelasan, apakah buku tersebut menceritakan yang sebenarnya mengenai kehidupan Yesus?
thanks
GBU
[dari katolisitas: silakan membaca tanya jawab ini - silakan klik.]
Beatific Vision, apakah itu?
Shalom Alexander,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang beatific vision. Kalau kita mau mengerti tentang ini, kita harus melihat beberapa tipe pengetahuan (knowledge) di dalam Kristus, yang terbagi menjadi tiga: 1) acquired knowledge, 2) infused knowledge, 3) beatific vision. Yang pertama adalah seperti yang kita alami, dimana kita belajar untuk melakukan abstraksi, memberikan kesimpulan, berfikir secara logis, dll. Kemudian yang kedua (infused knowledge) adalah Tuhan sendiri yang memberikan pengetahuan, seperti yang terjadi pada para nabi. Ini terjadi seperti juga pada St. Padre Pio, dimana Tuhan sendiri memberikan pengetahuan kepada santo ini untuk membaca dosa dari orang yang mengaku dosa kepadanya. Sedangkan yang ketiga, yaitu beatific vision, adalah di atas semua pengetahuan tersebut, yang memungkinkan seseorang melihat Tuhan muka dengan muka. Hal ini dicapai bukan dengan menggunakan intelektulitas kita maupun pengetahuan dari Tuhan yang dibatasi oleh ide-ide kita. Namun, beatific vision memungkinkan kita melihat Tuhan sebagaimana adanya Dia. Rasul Paulus dan rasul Yohanes mengatakan:
Melihat muka dengan muka tanpa penghalang hanya mungkin kalau kita melihat Tuhan bukan lewat pengetahuan kita namun lewat Kristus sendiri (the Word), sehingga kita dapat berpartisipasi dalam misteri Trinitas secara lebih dalam. Kita akan mendapatkan beatific vision kalau kita masuk dalam Kerajaan Sorga. Namun, beberapa orang mungkin dalam kadar terbatas diberikan oleh Tuhan beatific vision pada waktu masih hidup di dunia ini, seperti yang dialami oleh rasul Paulus (lih. 2 Kor 12:1-10). Dan tentu saja, Kristus mempunyai beatific vision selama hidup-Nya. Dan permenungan beatific vision ini menjadi sangat berat ketika Dia berdoa di taman Getsemani, dimana dengan beatific vision, Kristus melihat secara jelas semua perbuatan dosa dan perbuatan kasih dari seluruh umat manusia, dari mulai Adam sampai manusia terakhir di dunia ini. Tentang hal ini, silakan membaca renungan ini (silakan klik). Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Hello, bukunya itu berjudul “PERNIKAHAN YESUS” di cover tertulis “membuktikan kemungkinan bahwa Yesus Beranak Istri” di tulis oleh MAGGY WHITEHOUSE buku ini terjemahan dari judul aslinya ‘THE MARRIAGE OF JESUS” aslinya diterbitkan di UK, harga buku Rp 45 Ribu. di Gramedia banyak……menarik isinya, pencerahan dari dunia luar…..sebaiknya di baca dan diketahui, jangan terus-terusan terperangkap dalam doktrinisasi baku yang seolah-olah benar secara mutlak……………aku sudah borong 25 buku dan dibagikan buat orang-orang yang ingin mencari kebenaran.
Shalom Yulfentri Munaf,
Terima kasih atas kunjungannya ke katolisitas.org dan juga terima kasih atas komentarnya. Memang ada banyak buku yang mencoba membuktikan bahwa Yesus menikah dan mempunyai keturunan. Untuk menjawab pertanyaan ini, silakan membaca jawaban saya disini (silakan klik).
Yulfentri mengatakan bahwa “jangan terus-terusan terperangkap dalam doktrinisasi baku yang seolah-olah benar secara mutlak“. Saya tidak mengerti secara persis pernyataan ini. Apakah salah kalau orang Katolik mendasarkan argumentasinya pada dasar imannya, yaitu Alkitab, Tradisi Suci, dan Magisterium? Bagaimana kalau ada orang yang bertanya hal yang sama kepada Yulfentri?
Kalau dikatakan bahwa Yulfentri membagikan buku tersebut kepada orang yang mau mencari kebenaran, dapatkah saya bertanya: “Apakah yang dimaksud dengan kebenaran? kebenaran yang mana? apa kriteria dari kebenaran?”
Semoga kita bersama-sama dapat menemukan kebenaran. Dan bagi umat Katolik kebenaran hanya dapat ditemukan di dalam Yesus, karena Dia yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Dan Dia yang akan mengadili seluruh umat manusia pada pengadilan terakhir.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Untuk Sdri.Yulfentry Munaf,
Saya hanya ingin menanggapi tindakan yg anda lakukan ” untuk mendapat kebenaran menurut versi anda ” yg sebenarnya anda sendiri hanya mencari dukungan untuk meyakinkan tulisan seseorang yg belum jelas kebenarannya?? Aneh memang, untuk seseorang yg merasa beriman kuat kpd suatu agama/keyakinan spt anda, masih mencari celah untuk menjatuhkan agama/keyakinan orang lain.
Cukup prihatin dan merasa kasihan saja, kenapa masih ada orang yang lebih senang menghakimi agama/kepercayaan pihak lain sementara dia sendiri belum tentu hidup dengan “benar” sesuai dengan yg diyakininya.
Semoga anda dan juga mereka2 yang selama ini dibutakan dalam keimanan yg sempit akan mendapat hidayah dan pencerahan dalam akal,budi, dan hati. Seperti pepatah umum mengatakan ” Janganlah engkau melakukan sesuatu yg tidak ingin orang lakukan kepadamu “.
Syalom,
Ade A.
dari sisi lain- ini saya paste pandangan seorang Yahudi ttg seorang laki2 yang membujang hingga usia 30 tahun
[quote] It took me some years to realise that I was so convinced Jesus was married because it didn’t explicitly say he wasn’t. From my point of view, from the Jewish point of view, to get to 30 and not be married requires comment and explanation! [unquote]
dari : http://www.bbc.co.uk/religion/religions/judaism/beliefs/eyes_1.shtml
mungkin kita tidak akan pernah berjumpa dengan Yesus historis – yang kita temui melulu Yesus Kristologis
salam
Shalom Skywalker,
Gereja Katolik tidak pernah memisahkan Yesus secara historis dan Yesus Kristologis. Kristus yang kita imani adalah Yesus menurut sejarah (silakan baca artikel ini, silakan klik, jika anda belum membacanya).
Inilah prinsip yang diajarkan oleh Bapa Paus Benediktus XVI dalam bukunya, "Jesus of Nazareth" yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Rm. Mardiatmadja SJ, yang juga adalah pembimbing website ini.
Pemisahan Yesus historis dan Kristus Kristologis bersumber dari ajaran the Jesus’ Seminar, yang memang dihadiri oleh golongan Kristen liberal yang pada dasarnya ingin menghapus adanya unsur supernatural/ mukjizat yang ada di kitab Injil. Gerakan ini sebenarnya telah ada pada akhir abad ke-19 di Jerman, yang melahirkan gerakan yang disebut Modernism. Gerakan ini dikecam oleh Bapa Paus Pius X dalam surat ensikliknya, Pascendi Dominici gregis.
Jadi pendapat bahwa Yesus menikah, dst, yang berasal dari kalangan Yahudi seperti yang anda sebutkan, bukanlah sumber yang selayaknya kita pegang. Karena pendapat tersebut mencoret kemungkinan supernatural, yang jelas-jelas ada pada diri Yesus, sebab Ia selain sungguh-sungguh manusia juga sungguh-sungguh Allah. Belum lagi karena fakta juga menunjukkan bahwa pada saat itu banyak pria dari suku Essenes yang juga tidak menikah, contohnya, Yohanes Pembaptis. Jadi pria yang tidak menikah bagi orang Yahudi pada saat itu bukannya tidak mungkin seperti yang dikatakan oleh mereka.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
terima kasih koreksinya –
saya memandang kitab injil sebagai buku teologi – unsur kesejarahan detail2 injil dapat diragukan diantaranya karena ke empat injil kerap tidak bersepakat ttg narasi Yesus (misal kisah kelahiran versi Luk vs. versi Mat, silsilah versi Luk ver versi Mat, hari kematian Yesus versi Yoh vs. versi sinoptis)
tidak hendak mengatakan bahwa yang supernatural itu mustahil – tetapi hanya mau berargumen bahwa Yesus historis sulit ditemukan lewat injil/perjanjian baru yang mungkin tidak terlalu berminat dengan soal-soal historisitas seperti orang yang hidup dizaman ini
bahwa pernah ada lelaki Yahudi bernama Yesus yang disalib dan kemudian ada sekumpulan orang yang beriman padaNya bisa dikonfirmasi oleh dokumen2 non kristen (historisitas soal ini terjamin), tetapi detail hidup Yesus (lahir dimana, bagaimana hidup, dsb) kiranya sudah hilang dalam sejarah
maka saya hendak mengutip anda :
[quote] Pada akhirnya, kita harus mengakui soal menerima ke-Tuhanan Yesus adalah soal iman. Bagi mereka yang percaya, memang bukti sejarah sampai sedetail-detail-nya tidak diperlukan. Tapi bagi mereka yang tidak percaya, bahkan bukti yang sudah nyata dan detail sekalipun tidak dirasa cukup. Akhirnya, kita meyakini bahwa iman adalah karunia. [unquote]
http://katolisitas.org/2008/09/18/kristus-yang-kita-imani-yesus-menurut-sejarah/
saya teringat pada kisah tentang Rasul Didimus – kiranya selalu ada tempat bagi dia didalam gereja Kristus – dia bukan “tidak percaya”, dia hanya ingin melihat dengan cara “nya”, bukan cara “ke-10 rasul lain” – dan itu wajar saja IMHO
Shalom Skywalker,
1) Memang Kitab Injil bukan buku ilmu pengetahuan sejarah, namun isinya tetap dapat dipertanggungjawabkan secara historis. Dalam hal ini kita berpandangan sama. Namun Gereja Katolik tidak pernah ‘memisahkan’ Yesus historis dan Yesus Kristologis seperti yang anda tuliskan. Hal ini ditegaskan kembali oleh Bapa Paus Benediktus XVI dalam buku karangannya, Jesus of Nazareth. Memang, ada periode dalam hidup Yesus yang tidak dituliskan di Injil yaitu antara umur 12-29 tahun, namun itu tidak menjadikannya kita dapat memisahkan Yesus historis dengan Yesus Kristologis. Perihal bahwa periode itu tidak dituliskan adalah karena pada tahun-tahun itu Yesus bekerja sebagai tukang kayu, mengikuti pekerjaan bapa angkatnyanya, St. Yusuf. Karena itulah, orang-orang mengenal Yesus sebagai anak tukang kayu (lih. Mt 13:55). Bapa Paus Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Labor Exercens (On Human Work), 26, mengatakan: "Dan jika kita tidak menemukan dalam perkataan-Nya [Yesus] perintah khusus untuk bekerja…. pada saat yang sama kesaksian hidupnya menunjukkan sesuatu yang tidak diragukan lagi: Ia berasal dari "dunia pekerja". Ia mempunyai penghargaan dan hormat terhadap pekerjaan manusia. Dapat dikatakan bahwa Ia melihat dengan penuh kasih kepada pekerjaan manusia dan segala bentuknya, dan melihat di dalam setiap bentuknya, saluran khusus yang menunjukkan keserupaan manusia dengan Tuhan Sang Pencipta dan Bapa [yang terus berkarya]…"
2) Tentang Rasul Thomas atau Didimus, kita percaya bahwa memang ia mengambil bagian dalam bilangan ke-dua belas Para Rasul (lih. Why 21:14). . Kita pantas berterima kasih kepada Rasul Thomas ini (lih. Yoh 20:24-29), karena melalui kisahnya, kita malah semakin yakin bahwa Yesus memang sungguh-sungguh Tuhan. Sebab pada saat Yesus menampakkan diri lagi dan membiarkan Thomas mencucukkan jarinya ke dalam luka-luka-Nya, Thomas berkata, "Ya Tuhanku dan Allahku." Yesus tidak menyangkalnya, dan semua murid percaya kepada-Nya. Dengan demikian ayat ini merupakan salah satu ayat penting yang menunjukkan ke-Allahan Yesus; dan juga harusnya kita berkata sama setiap kali kita memandang Hosti yang sedang/ sudah dikonsekrasikan, sebab pada saat itu seharusnya kita dapat memandang Hosti itu dengan iman berkata, "Ya Tuhanku, dan Allahku." Maka, kita selayaknya berterima kasih kepada Rasul Thomas, dan seandainya ada di antara kita yang memang selalu ingin menyelidiki terlebih dahulu sebelum percaya, sesungguhnya itu tidaklah keliru. Hanya saja, jangan sampai dalam menyelidiki itu kita hanya membatasi diri kepada penggunaan akal semata-mata. Sebab jangan lupa, Rasul Thomas juga ada bersama-sama para rasul lainnya dalam doa menantikan Roh Kudus pada hari-hari menjelang Pentakosta (Kis 1:13). Suatu permenungan bagi semua orang yang senang mempelajari iman, sudahkah juga kita menyediakan waktu untuk berdoa untuk mengalami komunikasi dengan Tuhan, oleh kuasa Roh Kudus? Karena dengan bimbingan Roh Kudus, maka kita akan dibawa kepada pemahaman iman kita dengan lebih dalam lagi.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
[quote] Dalam hal ini kita berpandangan sama. Namun Gereja Katolik tidak pernah ‘memisahkan’ Yesus historis dan Yesus Kristologis seperti yang anda tuliskan [unquote]
tentu saja iman kita bersumber pada tokoh historis – bukan tokoh mitologis alias khayal – akan tetapi buku sumber iman jelas bukan buku sejarah – karena itu buku iman hence teologis
dan saya menutup dengan berterima kasih satu kali lagi atas ulasan ttg Didimus
[quote] Karena dengan bimbingan Roh Kudus, maka kita akan dibawa kepada pemahaman iman kita dengan lebih dalam lagi.[unquote] – saya yakin Roh Kudus memberikan bimbingan yang unik – fit for purpose – bagi masing2 – sebab bukankah seorang pujangga gereja pernah menulis “aku ingin memahami apa yang aku imani”
terima kasih
[dari Admin: Pertanyaan ini kami pindahkan dari artikel Bunda Maria, tetap perawan, mungkinkah?]
Dear stefanus and Inggrid. Terima kasih atas jawabannya. Btw aku mau nanya lg, kemarin aku liat buku tapi lupa judulnya, tulisan di cover bukunya ttg pernikahan yesus dan keturunannya. liat tulisan di covernya jadi nga berani baca. Apa buku itu benar ato tidak ya?
Thanks
GBU
[dari Admin: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas oleh Stef dan Ingrid]