Lazarus & org kaya, Pengadilan Khusus vs umum, Roh di En-Dor?

Pertanyaan:

Ibu Ingrid

Setelah kematian bukankah setiap manusia memasuki alam berzakh yang berbeda seperti Lazarus yang duduk dipangkuan Ibrahim dan orang kaya yang menderita dalam penderitaannya (Luk 16:16-31), walaupun itu bukan Surga atau Neraka yang sesungguhnya. Sehingga antara keduanya tidak bersatu sebab dipisahkan oleh suatu batas yang tak terseberangi ?

Tentang Pengadilan Khusus, yaitu pengadilan khusus pribadi orang tersebut oleh Yesus, kok saya belum pernah membacanya yah ?

Tentang Roh-roh yang berkeliaran yang dapat dilihat oleh orang-orang tertentu itu adalah roh setan/iblis. Seperti yang dilihat oleh dukun perempuan yang di Endor sewaktu didatangi oleh Raja Saul yang ingin berbicara dengan Nabi Samuel.

Machmud

Jawaban:

Shalom Machmud,
1) Pada kisah orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31) maka kita ketahui orang kaya tersebut ada di neraka (ay. 23). Neraka yang digambarkan di sana adalah neraka yang sesungguhnya, karena, neraka telah ada sejak sebagian dari para malaikat memisahkan diri dari Allah. Sedangkan ‘pangkuan Abraham/ bosom of Abraham” itu adalah tempat penantian (bukan surga), atau dikatakan sebagai “the limbo of the just“, atau ada yang menyebutnya sebagai ‘hell‘ dalam Credo, yang menjadi tempat penantian jiwa-jiwa orang benar yang meninggal sebelum Kristus. Stef pernah menjelaskannya di jawaban ini (silakan klik). “The bosom of Abraham” itu bukan surga, karena menurut Alkitab, Kristus adalah yang Sulung, yang pertama bangkit dari alam maut, maka Ia-lah yang menjadi paling utama dari segala sesuatu, yang pertama kali dapat memimpin manusia ciptaan-Nya [yaitu orang-orang benar] untuk masuk surga, oleh karena korban salib-Nya yang mendamaikan umat manusia dengan Allah (lihat Kol 1:15-20). Jadi pada saat perikop itu diceritakan, neraka dan surga sudah ada, neraka yang dikisahkan itu memang neraka, namun surga, di mana Tuhan Allah bertahta bersama dengan para malaikat-Nya tidak dikisahkan. Yang dijabarkan di sana adalah tempat penantian/ “the bosom of Abraham“, sebab pada saat itu Yesus belum turun ke sana untuk membebaskan jiwa-jiwa orang yang meninggal sebelum kebangkitan-Nya, untuk membawa mereka ke surga. Namun demikian, sudah ada jurang yang tak terseberangi antara tempat penantian/ the bosom of Abraham tersebut dengan neraka, karena memang jiwa-jiwa yang ada di tempat penantian tersebut akan beralih ke surga.
2) Kata “Pengadilan Khusus memang tidak secara eksplisit tertulis dalam Alkitab (seperti halnya kata ‘Trinitas, inkarnasi’ juga tak tertulis dalam Alkitab), tetapi pengertian prinsipnya diajarkan dengan jelas. Saya pernah menjawabnya di sini (silakan klik), di sini (silakan klik) dan Stef pernah menjawabnya di sini (silakan klik). Pada prinsipnya, Gereja Katolik mengajarkan bahwa setelah manusia wafat, memang ia akan diadili secara pribadi oleh Kristus, dan langsung menerima akibatnya, entah jiwanya masuk surga, neraka atau api penyucian. Pada akhir zaman, setelah kebangkitan badan, akan ada Penghakiman Umum/ Terakhir, yang diadakan di hadapan segala mahluk (jadi bukan antara seorang pribadi dengan Allah saja), dan ini merupakan pengulangan dari pengadilan khusus itu. Namun setelah itu, bukan hanya jiwa saja yang menerima akibatnya, tetapi badan juga, karena semua badan/ tubuh manusia akan dibangkitkan dan bersatu dengan jiwanya. Hal ini diajarkan dalam Alkitab, pengajaran Bapa Gereja dan Katekismus, seperti yang pernah dijawab oleh saya dan Stef pada link-link di atas.Silakan pula membaca kembali artikel di atas: Bersyukurlah ada Api Penyucian.
3) Roh-roh yang berkeliaran adalah roh setan [seperti yang disebutkan dalam 1 Sam 28]?
Pada perikop 1 Sam 28:7 dikatakan bahwa ada seorang perempuan di En-Dor yang dapat memanggil arwah. Wanita ini akhirnya dipakai Allah untuk memanggil arwah Samuel yang kemudian menampakkan diri kepada Saul. Namun Allah mengecam perbuatan ini, dan menghukum Saul karena perbuatannya memanggil arwah ini (lihat 1 Twrkh 10:13).
Jadi yang disebutkan ‘berkeliaran’ di sini adalah para arwah orang yang sudah meninggal, yang berada di tempat penantian [karena waktu itu jiwa orang-orang benar sebelum Kristus belum dapat masuk ke surga]. Jika kita membaca riwayat para orang kudus, maka ada dari mereka yang mempunyai pengalaman mistik, yang dapat melihat/ dikunjungi oleh jiwa-jiwa orang yang masih dimurnikan dalam Api Penyucian, atau bahkan bergulat dengan roh jahat, seperti yang dialami oleh St. Anthonius Agung, dan St. Padre Pio. Maka ya, mungkin saja jika seseorang mempunyai pengalaman mistik, ia dapat ‘melihat’ jiwa-jiwa tersebut, atau roh-roh jahat.
Demikian jawaban saya, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org.

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

8 Komentar to Lazarus & org kaya, Pengadilan Khusus vs umum, Roh di En-Dor?

  1. 1. maaf pertanyaan saya agak kurang nyambung tapi masih terkait bacaan lazarus tersebut, temen saya dari gereja protestan berkata bahwa kita tidak bisa mendoakan arwah orang mati karena di cerita itu jelas ada perikop
    ayat 26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
    temen saya bilang, antara si lazarus dan orang kaya itu dalam 1 dunia ( alam kematian) saja tidak bisa berhubungan, apalagi kita yang masih hidup di dunia yang berbeda,
    2. Temen saya juga bilang bahwa kata-kata orang kudus yang ada di alkitab itu adalah orang yang masih hidup, ciri-ciri orang hidup memiliki badan, jiwa dan roh, oleh karena itu jika kita berdoa bersama orang kudus yang sekarang( santo santa) itu sudah tidak relevan lagi karena mereka itu orang yang sudah meninggal yang tidak memilki badan dan jiwa.
    menurut romo, ibu Ingrid atau Pak stef, bagaimana saya harus menanggapi pernyataan teman saya tersebut?
    terima kasih, Ben
    (Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas oleh Ingrid)

  2. kita percaya bahwa para santo santa telah ada disurga, jadi pada saat Yesus datang kedua kalinya siapakah yang akan dihakimi? siapakah orang2 mati itu? dan siapakah orang2 hidup itu?

  3. Dear Ingrid

    Mohon maaf saya belum jelas dari jawaban anda.

    Waktu itu Saul sedang kebingungan dan ia sudah berusaha ber-tanya2 pada Allah , namun Allah tidak mau menjawabnya.

    Kemudian ia memutuskan untuk mencari dukun yang masih ada di Israel yang mungkin tinggal satu-2nya ,sebab yang lain sudah dibinasakan oleh Saul dan dari sana Saul mendapat jawaban melalui arwah Samuel.

    Anda menulis : Jadi dalam hal ini bukannya Allah bekerja sama dengan wanita itu, tetapi kesempatan Raja Saul menemui wanita itu-lah yang dipakai oleh Allah untuk memanggil/ mendatangkan arwah Samuel, yang lalu menyatakan kepada Saul segala dosanya yang mendatangkan kemalangan baginya.

    Kalau lewat jalan yang lurus saja Allah tidak mau menjawab Saul, masakan lewat dukun Allah mau mengizinkan memanggilkan arwah Samuel. Kok rasanya janggal.

    Saya ragu bahwa yang dipanggil itu rohnya Samuel, sebab bukannya iblis itu juga bisa menyaru menjadi malaikat terang dan pada kesempatan ini ia muncul sebagai rohnya Samuel

    Bukankah Allah sendiri membenci segala jenis occultisme seperti perdukunan dll.

    Salam
    Machmud

    • Shalom Machmud,
      Saya juga setuju bahwa Allah membenci segala jenis okultisme dan perdukunan. Saya rasa itu jelas terlihat dalam Alkitab. Namun kenyataan bahwa Allah mengizinkan arwah Samuel ini menampakkan diri, bukannya suatu tanda bahwa Allah seolah ‘berubah sikap’ dan mengizinkan perdukunan [sebab toh akhirnya Raja Saul tetap dihukum Tuhan karena ulahnya memanggil arwah Samuel] lih. 1 Sam 28: 17 dan 1Sam 31. Kejadian itu hanya mau menunjukkan bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, dan mengambil kontrol pada kondisi yang buruk sekalipun, untuk mendatangkan kebaikan/ kebenaran. Dalam hal ini Allah memakai dosa Saul untuk mendatangkan arwah Samuel yang menunjukkan dosa Raja Saul, demi menyatakan rencana-Nya untuk memberikan tahta kerajaan kepada Daud, dan mendatangkan hukuman kepada Saul atas ketidaktaatannya.
      Mungkin contoh lain dalam Alkitab yang agak serupa dapat membantu. Mari kita lihat kasus Bileam seorang nabi/ paranormal dari Pethor (Bil 22: 5) yang dipanggil oleh Balak- Raja Moab- untuk mengutuki bangsa Israel. Tetapi Allah dengan kuasa-Nya malah memakai Bileam untuk memberkati Israel (lihat kisah Bil 22, 23,24).
      Demikianlah, dengan kuasanya Allah dapat memakai segala sesuatu untuk menyatakan kehendakNya.
      Suatu permenungan adalah, jika itu bukan benar-benar roh Samuel tetapi roh Setan, mengapakah roh itu dapat mengatakan apa yang menjadi kehendak Allah, dan yang benar-benar kemudian dipenuhi oleh Allah? Seringkali nubuat yang palsu, jika tidak berasal dari Allah, biasanya malah tidak terjadi, atau bertentangan sama sekali.

      Saya mohon maaf, jika saya tidak bisa melanjutkan diskusi ini, karena banyaknya pertanyaan yang lain. Di sini saya hanya menyampaikan interpretasi yang berasal dari buku komentar Alkitab yang disetujui oleh Gereja Katolik. Sebenarnya kita memegang prinsip yang sama, yaitu bahwa Allah membenci perdukunan, dan memang terbukti dari hukuman dari Allah yaitu konsekuensi yang ditanggung oleh Raja Saul karena dosanya itu. Anda menganggap bahwa itu bukan roh Samuel, karena menurut pendapat anda, Allah tak mungkin menghadirkan arwah Samuel lewat perempuan itu. Sedangkan saya, mengutip interpretasi pada buku komentar tersebut (ed. Dom Orchard MA, OSB), berpegang bahwa, Allah dapat memakai segala kejadian, untuk menyatakan kehendak-Nya. Dalam kebijaksanaan-Nya, dapat saja Allah melakukan hal ini, agar kita semua belajar dari Raja Saul. Yaitu agar jangan sampai kita ‘mengelabui’ Tuhan seperti ulah Raja Saul yang menyamar ketika menemui wanita itu di En-Dor, sebab Allah sama sekali tidak bisa ditipu. Walaupun seolah-olah Allah mengikuti keinginan Raja Saul (dengan menghadirkan Roh Samuel melalui wanita itu), itu sebenarnya berhubungan dengan kekerasan hati Saul untuk mewujudkan kehendaknya. Namun akhirnya, seberapapun kerasnya keinginan manusia, kehendak Allah lebih berkuasa.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  4. Ibu Ingrid
    Setelah kematian bukankah setiap manusia memasuki alam berzakh yang berbeda seperti Lazarus yang duduk dipangkuan Ibrahim dan orang kaya yang menderita dalam penderitaannya (Luk 16:16-31), walaupun itu bukan Surga atau Neraka yang sesungguhnya. Sehingga antara keduanya tidak bersatu sebab dipisahkan oleh suatu batas yang tak terseberangi ?
    Tentang Pengadilan Khusus, yaitu pengadilan khusus pribadi orang tersebut oleh Yesus, kok saya belum pernah membacanya yah ?
    Tentang Roh-roh yang berkeliaran yang dapat dilihat oleh orang-orang tertentu itu adalah roh setan/iblis. Seperti yang dilihat oleh dukun perempuan yang di Endor sewaktu didatangi oleh Raja Saul yang ingin berbicara dengan Nabi Samuel.

    Machmud
    [Dari Admin: Pertanyaan ini sudah dijawab oleh Ingrid pada tulisan di atas]

  5. Dear Ingrid

    Terima kasih atas penjelasannya, namun masih ada satu hal yang membingungkan saya.
    Ingrid menulis : Wanita ini akhirnya dipakai Allah untuk memanggil arwah Samuel.

    Apakah Allah yang terang adanya bisa bersekutu dengan gelap ?
    Sedangkan Yesus sendiri marah waktu dikatakan bahwa Yesus memakai kuasa Baalzebul untuk mengusir setan.
    Bukankah Samuel sudah berada ditempat dimana Ibrahim berada ? Ataukah Samuel masih berada bersama-sama dengan orang kaya dalam perumpamaan Lazarus & orang kaya tsb ?

    Terima kasih
    Machmud

  6. Shalom Machmud,
    1) Apakah Allah yang adalah Terang dapat bersekutu dalam kegelapan?
    Saya mohon maaf jika jawaban saya sebelumnya kurang jelas. Sebenarnya, maksud saya mengatakan bahwa wanita itu dipakai Allah untuk mendatangkan arwah Samuel pada ayat 1 Sam 28:7, adalah: sesungguhnya Allah-lah yang memanggil arwah Samuel itu, dan bukannya karena wanita itu sendiri yang memanggil arwah Samuel. Jadi dalam hal ini bukannya Allah bekerja sama dengan wanita itu, tetapi kesempatan Raja Saul menemui wanita itu-lah yang dipakai oleh Allah untuk memanggil/ mendatangkan arwah Samuel, yang lalu menyatakan kepada Saul segala dosanya yang mendatangkan kemalangan baginya. Walaupun demikian, Allah menentang Saul karena ia bukannya percaya kepada Tuhan saja, tetapi malah mencari pertolongan dari memanggil arwah, dan karenanya, ia dihukum oleh Allah (lihat 1 Twrkh 10:13). Pengertian ini adalah bukan interpretasi saya sendiri, melainkan interpretasi yang ada dalam "A Catholic Commentary on Holy Scripture", ed. Dom Bernard Orchard, OSB., p. 317.
    Jadi Allah yang adalah Terang memang tidak bersekutu dengan kegelapan. Hanya memang, dalam kasus Raja Saul tersebut, Allah mendatangkan arwah Samuel, sesuai dengan keinginan Raja Saul, pada saat ia mengunjungi wanita itu. Mengapa Allah melakukan ini? Alasannya tidak dapat kita ketahui persis, namun dapat saja Allah memang menginginkan agar Raja Saul belajar dari kesalahannya, ‘learn the hard way‘, seperti yang juga  dapat terjadi dalam kehidupan sekarang ini, di mana Allah dapat ‘membiarkan’ manusia untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya, sampai pada suatu titik di mana Tuhan menyapa lewat akibat buruk yang ditimbulkan oleh ulah manusia tersebut. Sebab di sini, Allah adalah yang memegang kontrol atas segalanya, Allah-lah yang mendatangkan arwah Samuel, Allah-lah yangmengatasi Raja Saul dan wanita pemanggil arwah tersebut. Allah pula yang berkuasa mendatangkan ‘hukuman’ atas dosa yang dilakukan Saul.
    Kasusnya berbeda dengan tuduhan orang Yahudi bahwa Yesus mengusir setan atas kuasa Beelzebul (lihat Luk 11:14-23). Di perikop itu diceritakan bahwa orang-orang ada yang menuduh Yesus melakukan mukjizat dengan kuasa Iblis/ Beelzebul. Tentu saja Yesus tidak membenarkannya, sebab Ia mengusir setan dengan kuasa Allah (ay. 20). Lagipula, kata Yesus,  Iblis yang terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, maka kerajaannya akan runtuh. (ay. 18). Dalam pengajaran-Nya selanjutnya, Yesus mengajarkan kekuasaan Allah yang mengatasi Iblis, dan bahwa orang yang tidak bersatu/ ‘mengumpulkan’ bersama Yesus, artinya ia mencerai-beraikan (ay. 23) dan tidak akan bertahan.
    2) Di mana arwah Samuel waktu itu, bukankah ia sudah ada di surga? Ataukah Samuel masih berada bersama-sama dengan orang kaya dalam perumpamaan Lazarus & orang kaya tsb ?
    Arwah Samuel waktu itu, berada di "pangkuan Abraham/ atau dikenal dengan "the bosom of Abraham/ Limbo of the just", dan karena ia wafat sebelum kebangkitan Yesus. Arwahnya berada bersama-sama dengan jiwa orang-orang benar lainnya yang wafat sebelum Kristus yang bangkit dari mati. Sebab Kristuslah yang dapat ‘membuka’ pintu surga dan memimpin semua jiwa-jiwa ke dalamnya, maka sebelum Yesus ‘menjemput’ mereka, limbo of the just itu masih merupakan tempat penantian.  Tempat penantian ini bukan surga yang sesungguhnya, namun juga bukan neraka. Neraka digambarkan sebagai tempat bagi jiwa orang-orang seperti orang kaya itu dalam kisah Lazarus. Sedangkan semua jiwa orang-orang benar yang meninggal sebelum Kristus memang belum dapat masuk ke surga, sebelum Yesus turun ke tempat penantian [untuk menjemput mereka] setelah kebangkitan-Nya dari kematian. Hal ini kita ucapkan dalam syahadat…. "Aku percaya …akan Yesus Kristus….. yang disalibkan, wafat dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari orang mati, yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa…."

    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
    Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: