Yesus Kristus, Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia.Setelah kita melihat pembuktian tentang keberadaan Tuhan yang Satu, maka sekarang kita akan meneliti tentang Tuhan, seperti yang diimani oleh agama-agama yang percaya akan satu Tuhan, yaitu: Kristen, Islam, dan agama Yahudi adalah tiga agama yang percaya akan satu Tuhan. Yang paling membedakan antara kedua agama monotheism yang lain dengan Kristen adalah figur “Yesus”. Dapat dikatakan, bahwa agama Kristen bukanlah agama yang berdasarkan buku, namun berdasarkan sosok Pribadi, yaitu Yesus Kristus.
Untuk menjawab mengapa orang Kristen percaya kepada Yesus Tuhan, kita tidak bisa hanya mendasarkan argumen pada filosofi yang berdasarkan atas pemikiran manusia, sebab pikiran manusia itu terbatas sifatnya. Yesus, Tuhan yang dilahirkan sebagai manusia, tidak dapat diterangkan dengan pemikiran manusia semata, namun harus digabungkan dengan iman.[1] Filosofi dapat membantu untuk menerangkan bahwa iman itu adalah “hal yang sudah selayaknya”. Di sini kita dapat menggunakan “argument of fittingness“, maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang dinyatakan oleh Tuhan adalah memang sudah seharusnya atau selayaknya terjadi.
Yesus Kristus hanya dapat dijelaskan dalam hubungan-Nya dengan Allah, yaitu Allah yang mempunyai tiga Pribadi. Allah adalah Pribadi yang Maha sempurna, sedangkan manusia disebut sempurna karena turut mengambil bagian di dalam kesempurnaan Allah. Kesempurnaan manusia disebabkan karena manusia adalah juga mahluk pribadi atau “personal being,” yang mempunyai kemampuan untuk mengasihi, memberikan dirinya kepada orang lain, dan juga mempunyai kemampuan untuk berkumpul dengan sesama. Kalau hal ini benar untuk manusia di tingkat kodrati, maka di tingkat adikodrati, juga ada kebenaran yang sama di dalam tingkatan yang paling sempurna. Dengan demikian, Tuhan tidak mungkin adalah Tuhan yang sendirian, namun “keluarga Tuhan”, di mana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud dengan sempurna.
Kasih tidak mungkin berdiri sendiri, sebab kasih selalu melibatkan dua pihak, yaitu pihak yang mengasihi dan pihak yang dikasihi. Sebagai contoh, kasih suami istri barulah lengkap jika suami-istri “saling” mengasihi. Karena Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Ia tidak mempunyai seseorang yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun Ia bukan Tuhan yang terisolasi sendirian.
Orang mungkin berargumentasi, bahwa Tuhan bisa saja satu dan Ia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, hal ini tidaklah mungkin; karena Tuhan tidak mungkin tergantung dari manusia yang kasihnya tidaklah berarti dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah logis, kalau Tuhan mempunyai “kehidupan di dalam diri-Nya/ interior life,” di mana Ia dapat memberikan cinta-Nya yang sempurna. Di dalam kehidupan di dalam Diri-Nya inilah ada Yesus Kristus, Allah Putera, yang mempunyai derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Kegiatan dari Allah Bapa dan Allah Putera adalah mengasihi secara kekal, sempurna, dan tak terbatas, dan buah dari kasih timbal balik ini adalah Roh Kudus.[2] Dan dengan kematian Yesus di kayu salib, Allah menunjukkan akan adanya bukti kasih yang sempurna, yaitu pemberian diri kepada orang lain.[3]
Salah satu cara untuk membuktikan ke-Allahan Yesus adalah dengan meninjau empat pilihan pandangan sehingga akhirnya kita dapat menentukan pilihan secara logis. Ketiga pilihan pandangan ini disarikan dari pembuktian menurut C.S. Lewis dalam bukunya “Mere Christianity“,[4]. Maksud pembuktian ini adalah untuk memberikan penjelasan kepada orang-orang – termasuk yang bukan Kristen – yang mungkin berkata, “Saya percaya kepada Yesus hanya sebagai nabi, atau orang yang yang baik, atau sebagai guru moral yang besar, namun saya tidak mau mempercayai Yesus sebagai Tuhan.” Padahal, percaya kepada Yesus tidak bisa setengah-setengah. Mari kita lihat penjabaran CS Lewis berikut ini, yang mungkin terjemahannya dalam bahasa Indonesia terdengar kasar, namun penjabaran ini dibuat agar kita dapat memilih pilihan pandangan yang paling logis: bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Tuhan.
Di dalam sejarah manusia, tidak ada manusia yang pernah mengaku dirinya sebagai Tuhan dan juga mempunyai kemampuan dan kuasa Tuhan. Para nabi dari berbagai agama tidak pernah mengaku bahwa mereka adalah satu (hypostatic union) dengan Tuhan seperti yang dikatakan dan ditunjukkan oleh Yesus sendiri.
Juga dapat dibuktikan bahwa di masa hidupnya, Yesus melakukan sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan, sebagai contoh: 1) Yesus mengampuni dosa manusia, seperti yang ditunjukkan dalam cerita penyembuhan orang yang lumpuh (Mat 9:2-8), 2) Yesus menempatkan diri sebagai Pemberi dan Penentu hukum moral, seperti yang ditunjukkan dalam khotbah di bukit (Mat 5:27-28), 3) Yesus juga memberikan peneguhan bahwa Ia dan Allah adalah satu (Yoh 10:30), 4) Yesus juga mengatakan bahwa segala kuasa di bumi dan di surga diberikan kepada-Nya (Mat 28:18); 5) Yesus melakukan banyak mukjizat, dan mukjizat yang terbesar adalah Ia dapat bangkit dari mati (Kis 10:41; 2 Tim 2:8).
Pilihan ini terdengar ngawur, tetapi C.S Lewis menggunakan istilah demikian untuk menggambarkan keadaan yang bertolak belakang dengan pilihan yang pertama. Kalau yang dikatakan Yesus tidak benar, maka pilihannya adalah Ia tidak waras. Namun di dalam Kitab Suci tidak pernah ada yang mengindikasikan bahwa Yesus adalah seseorang yang tidak dapat menggunakan akal sehat. Adalah sangat tidak mungkin, kalau para rasul, para santa dan santo mau mengorbankan nyawa mereka untuk seseorang yang tidak waras. Jadi pilihan ini sebetulnya sangatlah tidak mungkin.
Kalau Dia mengaku bahwa diri-Nya adalah Tuhan – padahal bukan – maka dapat disimpulkan bahwa Dia adalah seseorang yang jahat. Namun untuk mengambil kesimpulan bahwa Yesus adalah seorang yang jahat juga adalah tidak mungkin, karena semua yang dilakukan Kristus adalah hal- hal yang baik, dan ajaran moral yang disampaikan kepada manusia adalah begitu sempurna dan tidak ada duanya dibandingkan dengan ajaran agama manapun. Mahatma Gandhi-pun begitu mengagumi Yesus, terutama ajaran-Nya tentang khotbah di bukit. Jadi pilihan ini juga tidak mungkin.
Ada beberapa pandangan dari agama lain yang mengatakan bahwa Yesus dijadikan Tuhan oleh manusia – yaitu oleh para murid dan pengikut-Nya dan juga pada zaman Konstantinopel, di Konsili Niceae (325). Pandangan ini sesungguhnya merupakan pandangan di abad- abad ini, yang bermaksud memisahkan antara Yesus menurut sejarah (Jesus of History) dan Kristus menurut iman (Christ of faith), seolah keduanya tidak sama. Namun pernyataan ini sangatlah tidak mendasar, sebab tidak sesuai dengan pernyataan para murid Kristus yang menjadi para saksi langsung akan kehidupan Kristus, penderitaan, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Padahal adalah lebih logis jika kita mempercayai kesaksian mereka yang hidup pada zaman Kristus; daripada perkiraan mereka yang hidup berabad- abad sesudah zaman Yesus. Pernyataan para murid, termasuk St. Paulus, dibuat sekitar beberapa tahun setelah Yesus wafat, sehingga dapatlah diyakini kebenarannya. [Bayangkan kalau misalkan ada banyak tulisan bahwa di Jakarta tidak pernah terjadi banjir. Dan berita ini terus diberitakan di dalam koran, televisi, dll. Tentu saja ini berita yang tidak benar, dan orang-orang yang mengalami kebanjiran akan protes dan membuat surat pernyataan, demo, yang menyatakan bahwa pemberitaan itu tidak benar]. Nyatanya, pernyataan bahwa Yesus adalah Tuhan, yang disaksikan oleh banyak orang – yang mengalami kehidupan Yesus – tidak mengundang protes atau tulisan yang menyanggahnya pada masa itu. Sejarah tidak menemukan tulisan asli abad awal yang menyanggah tentang kebangkitan Kristus. Jadi, kesimpulannya: Yesus sungguh bangkit; dan kebangkitan-Nya adalah sesuatu yang nyata dan bukan karangan para murid-Nya. Jadi kemungkinan bahwa Yesus adalah kebohongan belaka, juga sangatlah tidak mungkin.
Kalau pilihan yang ke- 2,3, dan 4 adalah tidak mungkin, maka hanya pilihan yang pertama saja yang mungkin, yaitu “Yesus adalah sungguh Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia.”
Pembuktian yang indah tentang ke-Tuhan-an Yesus ditulis juga di dalam buku autobiografi Eugenio Zolli, kepala rabi Yahudi pada masa Perang Dunia ke-2. Zolli kemudian menjadi Katolik pada tahun 1945. Di Polandia, dia sering mengunjungi rumah teman sekolahnya yang bernama Stanislaus, yang beragama Katolik. Di dinding rumah itu tergantung salib kayu yang sederhana. Eugenio mengatakan dalam bukunya:
“Sering – aku tidak tahu kenapa – aku akan menatap salib itu dan memandang cukup lama pada “seseorang” yang tergantung di salib itu. Sejujurnya, permenungan ini selalu diikuti oleh gejolak di dalam jiwaku.
Mengapa orang ini disalibkan? Aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah dia orang jahat? …. Mengapa banyak orang mengikuti dia, kalau dia jahat dan mengapa temanku dan ibunya yang juga mengikuti dia adalah orang-orang yang baik? Bagaimana bahwa Stanislaus dan ibunya begitu baik dan mereka menyembah dia yang disalibkan ini? Dia tidak mengeluh, dia tidak melawan. Di wajah-nya tidak ada ekspresi kebencian ataupun kemarahan….Tidak. Dia, Yesus, orang itu – sekarang menjadi “Dia” untukku dengan huruf besar “D.” Dia tidak jahat. Dia tidak mungkin jahat…. Satu hal yang kutahu dengan pasti: “Dia sungguh baik“.[5]
Di Kisah Para Rasul (Kis 5:26-42), Gamaliel, seorang ahli taurat yang sangat dihormati, menasehati orang banyak agar mempertimbangkan perbuatan terhadap pengikut Yesus (Petrus dan rasul-rasul lainnya). Sebab, di waktu yang lalu, setelah kematian Teudas yang mengaku sebagai orang yang istimewa, 400 pengikutnya tercerai berai dan kemudian lenyap. Jadi jika perbuatan para murid Kristus hanya berasal dari manusia, mereka pasti akan lenyap dengan sendirinya. Namun jika dari Allah, semua itu tidak dapat dilawan.
Kenyataan bahwa sampai sekarang, setelah 2000 tahun dari kejadian itu, para pengikut Kristus masih bertahan di dalam Gereja Katolik, membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan ajaran-Nya adalah dari Allah.
Motif pertama adalah nubuat. Artinya kedatangan Kristus telah diberitakan sebelumnya yaitu beribu-ribu tahun sebelum kedatangan-Nya, melalui masa persiapan yang panjang.[6] Adalah sangat logis, kalau kedatangan Yesus untuk misi keselamatan seluruh umat manusia dipersiapkan dengan matang, dan dengan tanda-tanda, sehingga orang tidak sampai salah mengerti. Kita bisa mengambil contoh: Kalau beberapa orang di tingkat direktur pabrik mobil Toyota mengatakan bahwa 20 tahun lagi – semua produk mobil Toyota tidak akan menggunakan bensin, namun menggunakan tenaga surya, dapat bergerak dengan kecepatan 200 km/jam, dan ditambah dengan kemampuan yang lain – maka kita akan percaya, karena yang mengatakan adalah para pembuat mobil tersebut.
Kita dapat menerapkan prinsip ini kepada hal persiapan Yesus datang ke dunia ini, yang sudah diberitakan beribu-ribu tahun sebelumnya. Bahkan kitab Yesaya yang ditulis sekitar 700 tahun sebelum kedatangan Yesus Kristus, dapat secara persis menggambarkan tentang Kristus yang menderita (lih. Yes 53). Nabi Yesaya dapat menggambarkan secara persis apa yang akan dialami oleh Kristus, karena dia mendapatkan pengetahuan dari Tuhan sendiri. Bahwa di dalam sejarah, semua nubuat itu terpenuhi di dalam diri Yesus, menjadi bukti akan kebenaran bahwa yang dinubuatkan adalah benar, yaitu: Yesus sungguh- sungguh datang dari Allah dan Yesus adalah Allah.
Juga, Tuhan ingin memberitahukan kepada manusia tentang Mesias jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga pada saat penggenapannya, manusia dapat mengenali Mesias yang dijanjikan. Inilah yang membedakan antara Yesus dengan tokoh-tokoh dalam agama yang lain. Tokoh-tokoh dalam agama lain tidak pernah dinubuatkan sebelumnya, namun Yesus telah dinubuatkan secara konsisten oleh para nabi dalam kurun waktu lebih dari 1500 tahun.
Motif ke-2 adalah mukjizat. Kita dapat melihat di dalam Alkitab, bahwa Yesus melakukan banyak sekali mukjizat, yang membuktikan bahwa Dia adalah sungguh Putera Allah, sekaligus juga yang memberikan konfirmasi akan kebenaran semua ajaran-Nya. Yesus menyembuhkan orang buta (Mat 9:27-31), orang bisu (Mat 9:32-35), orang tuli (Mk 7:31-37), orang lumpuh (Mat 9:1-8), bahkan membangkitkan orang mati (Yoh 11:1-46).
Yesus juga mengatakan, “ …. tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10:37-38).
Di atas semua itu, mukjizat terpenting adalah kebangkitan Kristus (Mat 28:1-10; Mar 16:1-20; Luk 24:1-53; Yoh 20:1-29, 21:1-19; Kis 1:3; 1 Kor 15:17; 1 Kor 15:5-8). Mungkin ada banyak orang yang dapat melakukan mukjizat dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Namun orang tersebut pada akhirnya wafat dan tidak dapat bangkit dengan kekuatan sendiri. Namun Yesus menunjukkan bahwa Ia mempunyai kuasa di atas segalanya, termasuk kematian. Hanya Tuhanlah yang dapat melakukan hal ini.
Keberadaan Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri, menjadi bukti akan janji-Nya sebagai Allah untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman (lih. Mat 16:18) di bawah kepemimpinan Rasul Petrus dan juga para penerusnya, yaitu para paus. Sudah begitu banyak percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik, baik dari dalam maupun dari luar Gereja. Namun sesuai dengan janji Kristus, Gereja Katolik tetap bertahan dalam mengajarkan kebenaran yang penuh, dan ditandai dengan ciri-ciri: satu, kudus, katolik, dan apostolik. (lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – Bagian 1 – silakan klik).
Dari semua pembuktian tersebut di atas, secara filosofis – yaitu dengan “argument of fittingness,” kita dapat menyimpulkan bahwa adalah sudah sepantasnya bahwa Yesus menjelma menjadi manusia untuk keselamatan seluruh umat manusia. Pembuktian “empat pilihan” membuat kita melihat bahwa kemungkinan yang paling logis adalah Yesus adalah sungguh Putera Allah. Kisah Eugenio Zolli membuktikan bahwa seseorang yang tadinya tidak mengenal Kristus, akan dapat mengenal dan menjadi pengikut Kristus, kalau ia melihat kesaksian hidup dari para pengikut Kristus, dalam hal ini adalah Stanislaus dan ibunya. Gamaliel semakin memperkuat argumen “motive of credibility“, karena fakta menunjukkan bahwa pengikut Kristus ada dan berkembang terus sampai saat ini, sehingga tidak mungkin Kristus dan ajaran-Nya hanya semata dari manusia. Pembuktian dari “motive of credibility” semakin meyakinkan kita bahwa Yesus adalah Putera Allah yang sudah dijanjikan, yang mampu melakukan mukjizat-mukjizat, dan keberadaan Gereja Katolik selama 2000 tahun menjadi tanda mukjizat yang terbesar setelah mukjizat kebangkitan Tuhan Yesus.
Semoga Tuhan sendiri menuntun mereka, yang belum mengenal dan percaya kepada Kristus dan yang sedang mencari kebenaran, agar dapat menemukan kebenaran itu sendiri, yaitu Kristus Yesus (lih. Yoh 14:6). Bagi yang sudah mengenal Kristus, mari kita mencontoh kehidupan para kudus, dan juga Stanislaus dan ibunya. Kekudusan akan membuat kita menjadi saksi Kristus yang hidup dan membawa orang untuk mengenal dan mengasihi Kristus.
Dan di dalam proses pencarian kebenaran untuk mengikuti Kristus, silakan membaca artikel: Mengapa kita memilih Gereja Katolik.
TUHANKU HERMAPRODIT
KEMBALILAH KEPADA YAHWEH
Aku seorang nasrani yang taat, namun belakangan aku ragu akan siapa TUHAN’ku.
Sering aku di berikan pemahaman yang menurutku sebagai nasrani adalah tidak beriman, dan patut aku mencari kebenaran, dimana kau YESUS.
TRINITAS; Tuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga).
Sekarang ini aku menjadi semakin ragu, bagaimana ada satu tapi ada tiga. Dimana-mana orang paling tidak bisa berhitungpun tau kalau 1+1+1=3 bukan 1+1+1=1
Dia BAPAK (seorang laki-laki), dia sekaligus PUTERA (seorang laki-laki) dan dia sekaligus ROH. Dia tuhan yang menyetubuhi BUNDA (seorang wanita) yang mana diakui juga dia adalah TUHAN.
Seorang laki-laki pasti jika menyetubuhi wanita akan melahirkan seorang anak, tapi bagai mana caranya dia menyetubuhi seorang wanita, jika wanita itu adalah dia sendiri yang satu pribadi, apakah dia TUHAN HERMAPRODIT (mahluk yang alat reproduksinya ada 2; dan juga melahirkan dari dirinya sendiri).
Aku heran, jika dia TUHAN adalah PRIA dan dia TUHAN adalah WANITA yang melahirkan TUHAN kembali sebagai anak PRIA, lalu apa bedanya dengan kita ?, apakah aku juga TUHAN, karena aku seorang PRIA ? aku bukan dia, karena aku tidak mau menyetubuhi diriku sendiri.
Apakah TUHANku sehina itu, kenapa aku harus menyembah sesuatu yang sama dengan diriku, aku seorang PRIA dan dia PRIA. TUHAN yang sama dengan ciptaannya, apakah dia pantas disebut tuhan.
Menurutku tuhan itu tidak diketahui bentuknya, dia haruslah tunggal (YAHWEH) dia haruslah sesuatu yang bisa aku mengerti, karena jika tidak untuk apa aku takut akan dia, toh aku tidak tahu siapa dia, apa untungnya aku menyembah sesuatu yang aku tidak ketahui dan tidak aku kenal keagungannya. Semuapun tahu “Jika tak kenal maka tak sayang”
IBRAHIM diakui adalah seorang nasrani, dia adalah pembawa nasrani pertama, lalu kenapa kita jadi penyembah tuhan yang sama dengan orang-orang BADUI ?, sedangkan IBRAHIM hanya menyembah YAHWEH.
Sudah seharusnya aku memiliki identitas pribadi yang hak sebagai penyembah YAHWEH, sodaraku mari kembalilah kita kejalan yang sudah seharusnya IBRAHIM bawa.
Apakah TUHANku bisa disiksa oleh mahluknya sendiri, dia dicambuk dan disalib sampai mati. Apakah TUHANku bisa mati ?, YAHWEH tidak bisa mati, YAHWEH tidak bisa melahirkan karena dia tunggal. Dan dia tidak menyetubuhinya dirinya sendiri (sakitlah mereka yang menyetubuhi dirinya sendiri)
Jika TUHANku memang dicintai, kenapa dagingnya selalu kita makan dan darahnya selalu kita minum ? apakah kita sebiadab BADUI, memakan daging dan meminum darah seseorang dan bahkan TUHAN yang kita cintai. SADARLAH SODARAKU, TUHAN apa yang bisa dimakan daginya dan diminum darahnya. Apa bedanya kita dengan mereka yang telah menyalib TUHAN dimasa lalu, kita sama biadabnya dengan mereka bahkan lebih parah; sampai-sampai memakan daging dan darah tuhan kita sendiri.
YAHWEH tidak bisa kita makan, YAHWEH tidak bisa kita minum, YAHWEH tidak bisa mati, dia TUHAN yang satu, kita memiliki TUHAN (YAHWEH) yang agung.
Jangan kita pernah mau untuk memiliki tuhan yang sama dengan mereka BADUI.
Sudah jelas hanya dia YAHWEH yang agung.
Turunkan SALIB (lambang bahwa kitapun mengakui bahwa TUHAN bisa disiksa dan kita tetap menggantungnya sampai sekarang, seharusnya salib ditiadakan, karena aku tidak mau memiliki TUHAN yang bisa disiksa bahkan didepan mataku sendiri, dan aku tidak bisa menolongnya), YESUS dan MARIA, mereka bukan TUHAN, mereka hanya mahluk yang sama dengan kita. Mereka hanya menambah ajaran IBRAHIM, bukan membawa agama yang baru. IBRAHIM sudah nasrani, maka dialah yang harus kita ikuti, dan hanya TUHAN yang IBRAHIM sembahlah yang pantas kita SEMBAH (YAHWEH).
PERJANJIAN LAMA adalah awal NASRANI, sedangkan PERJANJIAN BARU hanyalah penambah kesempurnaan dari PERJANJIAN LAMA. Jangan kita bikin yang baru lagi kalau sudah ada yang lama dan yang baru.
Kembalikan soradara-sodaraku yang sesat oh YAHWEH.
Shalom Gabriel Haque,
Terima kasih atas tulisannya tentang Trinitas. Untuk menanggapi tentang Trinitas, yaitu Tuhan yang Satu dalam tiga Pribadi, maka anda harus mengerti apa sebenarnya yang diajarkan oleh Gereja Katolik, sehingga anda tidak memberikan tanggapan atau pernyataan tentang sesuatu yang tidak dipecayai oleh umat Katolik, seperti Bunda Maria adalah Tuhan. Berikut ini adalah jawaban singkat yang dapat saya berikan:
1) Silakan anda membaca artikel Trinitas di sini (silakan klik) dan juga artikel tentang Kristologi:
Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.
2) Anda membuat perumpamaan 1+1+1=3 untuk membuktikan bahwa Trinitas adalah tidak benar. Namun, satu hal yang perlu dipikirkan adalah: 1 pisang + 1 jeruk + 1 apel tidak sama dengan 3 apel, karena 1 dan 3 dalam hal ini berbeda bukan hanya dalam jumlah, namun juga berbeda dalam tipe. Agama Katolik mengimani Trinitas sebagai satu hakekat dalam tiga pribadi. Jadi, dalam hal ini, hakekat tidaklah sama dengan pribadi – yang berarti anda tidak dapat menggunakan logika penjumlahan tersebut. Oleh karena itu, kita harus mengerti tentang definisi hakekat dan pribadi, yang dapat didefinisikan sebagai berikut:
Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.
Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut. Dengan demikian, ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya.[14]
Anda mengatakan “Dia BAPAK (seorang laki-laki), dia sekaligus PUTERA (seorang laki-laki) dan dia sekaligus ROH. Dia tuhan yang menyetubuhi BUNDA (seorang wanita) yang mana diakui juga dia adalah TUHAN.” Seseorang dapat saja menjadi seorang bapak, seorang laki-laki, seorang suami, seorang pegawai bank, namun semua atribut ini ada dalam diri Pak Sutrisno. Kemudian anda telah salah mengasumsikan bahwa 1) Tuhan menyetubuhi Bunda Maria, 2) Bunda Maria adalah Tuhan. Asumsi pertama tidaklah diajarkan oleh Gereja Katolik dan saya percaya tidak diajarkan juga dalam Kitab Suci anda, karena Al-Quran sendiri mengakui bahwa Bunda Maria adalah perawan. Gereja Katolik juga tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Tuhan. Saya tidak tahu dari mana anda mendapat kesimpulan ini. Oleh karena itu, saya tidak akan memberikan tanggapan sehubungan dengan hal ini, karena memang Gereja Katolik tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Tuhan.
3) Anda mengatakan “Apakah TUHANku sehina itu, kenapa aku harus menyembah sesuatu yang sama dengan diriku, aku seorang PRIA dan dia PRIA. TUHAN yang sama dengan ciptaannya, apakah dia pantas disebut tuhan.” Untuk itu, silakan membaca tentang artikel-artikel Kristologi di atas. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Jadi, dia sama seperti kita dalam kemanusiaan (kecuali dalam hal dosa), namun juga Dia mempunyai kodrat Allah, yang kita semua tidak punya. Dengan Tuhan mengambil kodrat manusia, maka kodrat manusia diangkat oleh Tuhan, sehingga manusia dapat menjadi anak-anak Allah di dalam Kristus.
4) Anda mengatakan “Menurutku tuhan itu tidak diketahui bentuknya, dia haruslah tunggal (YAHWEH) dia haruslah sesuatu yang bisa aku mengerti, karena jika tidak untuk apa aku takut akan dia, toh aku tidak tahu siapa dia, apa untungnya aku menyembah sesuatu yang aku tidak ketahui dan tidak aku kenal keagungannya. Semuapun tahu “Jika tak kenal maka tak sayang”“
Tentang Tuhan yang satu, kita semua percaya akan hal ini, seperti yang saya tuliskan di sini – silakan klik. Bukankah dengan Tuhan menjadi manusia, maka kita justru akan lebih dapat mengenal Dia, sehingga memungkinkan kita untuk lebih dapat mengasihi Dia? Dengan pengertian anda, di mana Tuhan adalah sesuatu yang besar, suatu zat, maka anda juga mempunyai dilema, Tuhan seperti apakah Dia? Apakah dia sebuah pribadi atau bukan? Justru karena Tuhan menjadi manusia dalam diri Yesus, maka Tuhan telah menyatakan kasih-Nya kepada umat manusia secara nyata. Hal ini dinyatakan secara jelas, karena Dia rela mati untuk menebus dosa umat manusia. Justru dengan Inkarnasi, maka manusia semakin mengerti jalan dan perintah yang dikehendaki oleh Tuhan; mengerti bagaimana untuk dapat mengasihi Tuhan dan sesama; bertumbuh dalam iman, pengharapan, dan kasih; yang semuanya terangkum dalam diri Yesus. Dengan melihat dan mengikuti Yesus, maka manusia dapat memperoleh keselamatan. Menggunakan kata-kata anda sendiri, maka dengan Inkarnasi sebenarnya manusia dapat semakin mengenal Tuhan, yang akhirnya dapat semakin mengasihi Tuhan.
5) Tentang Ibrahim/Abraham. Umat Kristen menghormati Ibrahim sebagai Bapa umat beriman. Namun, Yesus sendiri mengatakan “sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh 8:58). Jadi, Yesus ada sebelum Abraham. Dan ini hanya mungkin kalau Yesus adalah Tuhan, karena Tuhan ada sebelum segala abad. Di dalam Perjanjian Lama, memang Tuhan belum menyatakan secara penuh akan rencana keselamatan-Nya. Namun, akhirnya rencana keselamatan-Nya dipenuhi dalam diri Yesus. Dan kalau kita melihat maka begitu banyak nubuat tentang kedatangan anak manusia, seperti kelahiran-Nya, kehidupan-Nya, kematian-Nya, yang dapat dibaca di sini – silakan klik. Kalau Dia bukan Tuhan, mengapa para nabi dalam kurun waktu 2000 tahun, dengan cara yang berbeda-beda menubuatkan kedatangan Mesias, yang ciri-cirinya adalah persis seperti yang ada dan terjadi dalam diri Yesus?
6) Anda mengatakan “Apakah TUHANku bisa disiksa oleh mahluknya sendiri, dia dicambuk dan disalib sampai mati. Apakah TUHANku bisa mati” Untuk menjawab pernyataan ini, maka silakan membaca artikel ini – silakan klik. Secara prinsip, sebelum kita berdiskusi tentang hal ini, maka kita harus menerima bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia atau satu pribadi (person) dalam dua kodrat (nature). Yang sering membuat orang bingung adalah karena Yesus adalah satu Pribadi yang mempunyai dua kodrat (Allah dan manusia) dan kedua kodrat ini adalah tak terpisahkan dalam persatuan hypostatic (tak terpisahkan). Pada saat seseorang lahir, meninggal, maka yang dibicarakan adalah sebuah pribadi. Kalau mau spesifik, kita tidak dapat mengatakan bahwa yang meninggal adalah seorang laki-laki, karena laki-laki tersebut dapat juga seorang ayah, atau seorang suami, dll. Namun, kita dapat mengatakan bahwa yang meninggal adalah Pak Petrus, yang mempunyai atribut: laki-laki, seorang suami, seorang ayah dari 6 anak, dll. Oleh karena itu, pada waktu Yesus meninggal, yang meninggal bukanlah kodrat-Nya sebagai manusia dan Tuhan, namun pribadi Yesus sendiri.
Di sisi yang lain, siksaan yang dialami oleh Tuhan adalah bukti kasih dari Allah kepada umat-Nya. Kita jangan juga melupakan bahwa kita dapat “menyiksa” (dalam tanda kutip) Tuhan dengan perbuatan dosa kita. Dengan menyadari bahwa setiap kali kita berbuat dosa, maka kita juga menyiksa Yesus, maka kesadaran ini dapat memacu kita untuk menghindari dosa, karena kita ingin mengasihi Tuhan kita.
Pertanyaan anda “Dan dia tidak menyetubuhinya dirinya sendiri (sakitlah mereka yang menyetubuhi dirinya sendiri)” tidak perlu saya tanggapi, karena hal ini tidak diajarkan oleh iman Katolik. Mungkin ada baiknya sebelum memberikan tuduhan, anda dapat bertanya dahulu atau minimal memeriksa apakah pernyataan tersebut adalah merupakan pengajaran dari agama Katolik.
7) Anda mengatakan “Jika TUHANku memang dicintai, kenapa dagingnya selalu kita makan dan darahnya selalu kita minum ?” Jawaban singkatnya adalah karena Yesus sendiri yang memerintahkannya, seperti yang terlihat di Mat 26-28; Mrk 14:22-24; Luk 22:15-20, Yoh 6:35, 51. Untuk lengkapnya, silakan membaca artikel tentang Sakramen Ekaristi (1, 2, 3). Alasan yang lain adalah karena Tuhan begitu mengasihi manusia, sehingga Dia ingin bersatu dengan umat-Nya, bukan hanya secara spiritual namun juga secara tubuh. Hal ini dicapai dengan cara Yesus hadir secara istimewa (tubuh, jiwa dan ke-Allahan-Nya), sehingga umat-Nya dapat menyantap-Nya dan mendapatkan kehidupan yang kekal.
Jadi, dengan demikian, umat Allah tidak dapat makan daging dan darah Yesus, kalau Yesus sendiri – yang adalah Tuhan – tidak memberikan Diri-Nya sendiri dalam setiap perayaan Ekaristi. Kalau cara ini adalah cara yang dipilih Tuhan untuk memberikan kekuatan iman kepada umat Allah, siapakah kita, maka kita dapat menolaknya?
8) Tentang salib, silakan anda membaca renungan ini – silakan klik. Intinya, salib dengan korpus (tubuh Kristus) adalah untuk mengingatkan umat Allah akan besarnya kasih Allah kepada umat manusia dan mengingatkan akan kejelekan dosa yang menyebabkan Yesus mati di kayu salib. Dengan demikian, makna tanda salib begitu dalam.
9) Anda mengatakan “PERJANJIAN LAMA adalah awal NASRANI, sedangkan PERJANJIAN BARU hanyalah penambah kesempurnaan dari PERJANJIAN LAMA. Jangan kita bikin yang baru lagi kalau sudah ada yang lama dan yang baru” Untuk menjawab hal ini, kita harus melihat hubungan antara Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Salah satu dokumen Gereja Katolik (KGK, 129) mengatakan “Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (Bdk. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama (Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11.) Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: “Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet” (Agustinus, Hept. 2,73, Bdk. Dei Verbum 16).”
Dan kalau anda telah membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka anda akan melihat benang merahnya. Justru yang baru dalam Perjanjian Baru adalah Allah yang menjadi manusia, yaitu dalam diri Kristus. Perjanjian Lama memberikan nubuat tentang Kristus, dan Perjanjian Baru menceritakan tentang kelahiran, kehidupan, sengsara, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga, serta bagaimana Roh Kristus senantiasa menyertai umat Allah sampai pada kesudahannya.
Akhirnya, mungkin lebih baik kalau diskusi berfokus pada satu hal saja, sehingga diskusi dapat dilakukan secara lebih mendalam. Semoga dapat dimengerti.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Dear Saudaraku Gabriel Haque’,
Saya rasa saudara harus lebih memberikan waktu utk membaca semua artikel yg berkaitan dgn Kristologi di forum ini.
Anda mengatakan bahwa anda tidak menerima sosok Tuhan yg bisa tersiksa.
Sblmnya, saya yakin dgn mengenal sosok Bapa Abraham, anda telah mengetahui awal dari PL.
Mengapa Tuhan pd pribadi keduaNya harus mati tersiksa ?
Lgsg saja, bagi saya Tuhan ingin mengembalikan jalur/kondisi yg telah terjadi ke rencana/tujuan penciptaan manusia semula. Sehingga Dia ingin memberikan contoh kepada kita dgn cara mjd manusia agar kita pun mau berkorban sampai mati demi Allah (sesuai keinginanNya semula yaitu semua tunduk padaNya), walaupun telah dianiaya dan itu semua dilakukan dgn Kasih (bukan dgn perang/pedang/dendam).
[Dari Katolisitas: Ya, alasan utama mengapa Allah mengutus Putera-Nya ke dunia adalah karena kasih-Nya kepada semua umat manusia yang diciptakan-Nya agar dapat diselamatkan dan memperoleh kehidupan kekal (lih. Yoh 3:16)]
Sehingga dgn mengamalkan kasih kpd Tuhan & sesama seumur hidup, kita akan mendapatkan “Tiket” ke kerajaanNya. IMHO
Bisa dibilang, Tuhan menjelma menjadi manusia untuk mengubah kondisi yg tidak berjalan sesuai rencana awalNya menciptakan manusia. Tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah agar supaya kita dapat hidup bersama dgn Dia untuk memuja Dia, namun karena begitu baiknya Tuhan sehingga Dia memberikan kehendak bebas kpd Adam & Hawa yg akhirnya mengubah rencana awalNya. DatangNya Dia ke dunia adalah agar setiap manusia yg terpilih (yg hidup seperti perintah/permintaanNya) bisa dapat berkumpul kembali dgn Dia di kehidupan kekal selanjutnya. (hanya sedikit yg akan terpilih – itu karena kehendak bebas yg disalahgunakan sblmnya) Sehingga bisa dikatakan Dia lebih memilih meneruskan karya penciptaanNya, menunjukkan LAGI apa keinginanNya dgn cara mjd manusia (kalau Tuhan yg berbicara lgsg dari langit, apalah gunanya ama juga boong/ pasti semua orang akan lgsg menyembah Dia), daripada Dia menghentikannya pd saat itu. PermintaanNya mjd bukan lagi menyembah saja, tapi sebagai kudus Dia menegaskan LAGI bahwa semua hal/tindakan yg terjadi di dunia ciptaanNya haruslah dilakukan dgn KASIH.
Jadi kembali…lah [dari Katolisitas: kami edit] Saudaraku, stlh itu kita tetap SETIA berjaga2 bersama (artinya: terus BERUSAHA utk hidup kudus) s.d pertemuan kita berikut di kerajaanNya ^_^
May God bless us sampai pd waktu kedatanganNya – Pro Ecclesia et Patria !!!,
Antonius Wowor
aku menghormati Isa SA sebagai nabi Allah yang di utus di bumi sama seperti nabi Muhammad SAW.
setiap orang berhak tuk berargumen tasi, tentang Isa, apakah dia Tuhan, Anak Tuhan atau siapa saja, yang menurut orang nasrani itu satu…
tapi apakah terpkir oleh saudara2 ku yang nasrani bahwa 2, 3, 4, atau 5 bukan 1,.
jika engakau yakin 2 itu 2, 3 itu 3, atau 4 itu 4,
tapi kenapa km percaya kalau 1 itu 3.
saya juga yakin dan percaya kalau Isa di lahirkan tampa perantara hubunagn suami istri.
saya juga yakin kalau isa waktu masih bayi sudah bisa berbicara,
saya juga percaya kalau isa bisa menghidupkan orang mati, menyembuh kan orang buta,.
bagi km orang nasri pasti juga percaya tentang iblis, adam, bumi yang di ciptakan, matahari, planet2, proses terjadinya siang dan malam, penciptaan manusia, penciptaanx malaikat2.
tu semau terjadi atas kehendak Allah, Tuhan semesta alam. Jadi apa sulitnya bagi Allah tuk memberikan muhzizat itu semua kepada Isa, karna Isa menjadi orang2 terpilih untuk menyebarkan Agama Allah. Karna Isa memang Nabi Allah.
di kitab perjajian terdahulu juga ada 2 kalimat sahat, Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Nabi Allah.
tetapi kenapa kalian ingakari.
Allah itu sangat baik, walau pun kalain tidak menyembahnya, kalian masi di beri kesehatan, umur panjang, harta yang melimpah, apakah kalian tidak malu??? mengangkap Tuhan sebagai Isa atau Isa sebagai Tuhan.
sudah banayak hal2 yang di tunjukan kepada ita agar kita percaya bahwa Allah itu tuhan semesta alam, seperti nil amstrong yang pergi kebulan dan disana beliau mendengarkan suara azan, dan menceritakan pada halayak ramai, tepat saja oleh ego manusia nil amstrong dianggap sebagai pembohog/pendusta.
yang lebih simple saja, Islam menganjurkan/mewajibkan wanita untuk menutup auratnya menggunakan jilbab atau busana muslim.
jika anda umat non muslim memikirkan dengan hati nurani hal mana yang dapat menimbulkan nafsu, orang yang menggnakan jilbab atau menggunakan pakaian minim???
mengapa kalian malah bilang kalau hal itu munafik, kita tidak munafik itu hal yang diwajibkan oleh Tuhan kita yaitu Allah. karana Dia yang menciptakan kita dan Dia juga tau apa yang pantas bag mahluk ciptaanNya.
seperti mesin2 yang di ciptakan manusia, orang yang menciptakan mesin itu tau apa yang engga dan yang pantas bagi mesin ciptaannya tu.
jadi kenapa kalian selalu mengingkari itu semua???
tuk berbagi pengalaman dengan semua agar kalian bisa berpikir dengan jernh lagi ada salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang membuat aku makin yakin dengan agama ku ini:
yaini:
“Jika ada lalat masuk dalam minuman mu, jangan engkau buang minuman itu, celupkan saja kedalam minman mu lalu buang lalat itu dan minumlah minuman mu itu, karna disayap kiri lalat terdapat virus yang berbahya namun di sayap kanannya menggandung penawar dari virus itu”
dan telah dibuktikan kebenarannya oleh ilmuan asal amerika…
nah kalau kau termasuk dalam orang yang berfikir pasti tau maksut ku,
mana mungkin Muhammad yang buta huruf dan bukan lmuan itu tau tentang itu semua kalau bukan Allah pencipta Alam yang memberikan hidayah pada Nya Tuhan pencipta alam semesta.
belum ada kata terlambat untuk saudara-saudaraku yang non muslim untuk mempelajari Islam dan Al-Quran.
selama nafas ini masih dikandung badan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang d ridhoi Allah.
Amin
Shalom Dani,
Terima kasih atas komentarnya. Saya menghormati pendapat anda yang mengatakan bahwa Yesus Kristus hanyalah nabi, karena itulah yang diajarkan oleh agama Islam, seperti yang disebutkan di dalam Kitab Suci agama anda. Di satu sisi, kami telah menuliskan beberapa artikel Kristologi untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus bukan hanya sekedar nabi, namun sungguh Allah dan sungguh manusia. Kalau anda belum membaca artikel tersebut, saya mengundang anda untuk membacanya:
Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.
1) Dani menuliskan "tapi apakah terpkir oleh saudara2 ku yang nasrani bahwa 2, 3, 4, atau 5 bukan 1,. jika engakau yakin 2 itu 2, 3 itu 3, atau 4 itu 4, tapi kenapa km percaya kalau 1 itu 3."
a) Tentu saja saya mengerti dasar dari argumentasi ini, dimana kita mencoba merasionalisasikan segala konsep Tuhan menurut pemikiran manusia. Kalau ditanya mengapa orang Kristen percaya akan Trinitas, satu Tuhan dalam tiga pribadi, maka jawaban paling utama adalah karena Tuhan sendiri yang mewahyukannya kepada manusia, yang dapat dilihat secara jelas dalam Alkitab. Kebenaran Ilahi ini melebihi segala pemikiran manusia, namun tidak bertentangan dengan pemikiran manusia., karena baik wahyu ilahi maupun akal budi manusia bersumber pada sumber yang sama, yaitu Tuhan. Kepastian akan kebenaran wahyu Ilahi yang tidak bertentangan dengan pemikiran manusia ini membuat umat Kristen dapat menangkap kebenaran akan kehidupan pribadi Allah, yang bukan hanya maha besar, namun juga maha kasih. Allah yang maha kasih, bukan hanya bersabda dan memberikan perintah-perintah, namun Dia menjadi manusia dalam diri Kristus dan rela mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia.
b) Setelah kita menerima bahwa Trinitas adalah kehidupan pribadi Tuhan sendiri, maka kita dapat melihat bahwa hal ini adalah dapat diterima oleh akal sehat (fitting). Untuk itu, kami telah menulis artikel tentang Trinitas, yang dapat dibaca di sini (silakan klik). Kalau anda membaca artikel tersebut, maka Trinitas mempunyai dasar yang kuat, baik dari Wahyu Ilahi, pengajaran Bapa Gereja, dan juga dari filosofi. Trinitas bukanlah suatu konsep yang muncul tiba-tiba. Kita melihat bahwa St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99) mengatakan "Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?[2] Dan beberapa bapa Gereja yang lain: St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.”[4] , St. Athenagoras (133-190), “Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, -Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.”[5]
c) Kalau anda membaca artikel tentang Trinitas, maka kami telah mencoba menjabarkan perbedaan antara substansi (hakekat) dan pribadi. Nah, pada waktu anda mengatakan 3=3 dan 1 =/= 3, maka anda tidak membedakan antara hakekat dan pribadi. Dan dalam artikel tersebut dituliskan:
Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.
Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut. Dengan demikian, ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya.[14]
2) Anda mengatakan "saya juga yakin dan percaya kalau Isa di lahirkan tampa perantara hubunagn suami istri. saya juga yakin kalau isa waktu masih bayi sudah bisa berbicara, saya juga percaya kalau isa bisa menghidupkan orang mati, menyembuh kan orang buta,."
a) Yang anda sebutkan adalah mukjijat-mukjijat yang dilakukan oleh Kristus, walaupun ada beberapa yang tidak sesuai dengan Alkitab. Namun, apakah anda percaya bahwa Yesus Kristus mengampuni dosa? Mungkin anda tidak percaya, karena memang anda mendasarkan kepercayaan anda akan Yesus berdasarkan Kitab Suci anda. Namun dalam Alkitab disebutkan bahwa Yesus mengampuni dosa, yang hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri, dan tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Kalau dosa adalah melawan perintah Allah, maka siapakah Yesus kalau Dia mengatakan "Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–:"Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" (Lk 5:24) dan "Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." (Lk 7:48).? Kalau dosa adalah melawan perintah Allah, maka kata-kata bahwa Yesus mengampuni dosa hanyalah mungkin kalau Dia sendiri adalah Tuhan. Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini, silakan membaca beberapa artikel Kristologi.
b) Benar apa yang anda katakan bahwa "tu semau terjadi atas kehendak Allah, Tuhan semesta alam. Jadi apa sulitnya bagi Allah tuk memberikan muhzizat itu semua kepada Isa, karna Isa menjadi orang2 terpilih untuk menyebarkan Agama Allah. Karna Isa memang Nabi Allah." Namun, tidak pernah Allah memberikan kuasa untuk mengampuni dosa kepada nabi-nabi. Mengampuni dosa adalah hak Allah. Oleh karena itu, kalau Yesus mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, maka kemungkinannya adalah: 1) Dia pembohong, atau 2) Dia sungguh Allah. Kalau Dia bukan Allah, namun mengampuni dosa orang lain, maka Dia telah berbohong dan dapat dikatakan menghujat Allah. Namun, bukankah dari pengajaran yang diberikan Kristus di Alkitab maupun yang disebutkan di dalam Kitab Suci anda, Yesus bukanlah seorang pembohong? Oleh karena itu, kita hanya dapat menerima bahwa Yesus adalah Tuhan.
Kalau Yesus bukan Allah, bagaimana Dia dapat menyatakan Diri-Nya:
Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”[8]
Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
3) Dani menuliskan "di kitab perjajian terdahulu juga ada 2 kalimat sahat, Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Nabi Allah." Di Perjanjian Lama dikatakan "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." (Ul 5:7). Namun tidak pernah dikatakan bahwa Isa adalah Nabi Allah. Rancangan keselamatan Allah dilakukan secara bertahap, seperti yang dapat dibaca di dalam Perjanjian Lama. Oleh karena itu, Perjanjian Lama belum menceritakan rancangan keselamatan Allah secara menyeluruh. Dan rancangan keselamatan Allah mencapai puncaknya dengan kedatangan Yesus Kristus – sungguh Allah dan sungguh manusia – ke dunia. Kalau Yesus adalah Allah (seperti yang coba kami tuliskan di beberapa artikel Kristologi di atas), maka umat Kristen tidaklah menyalahi hukum Tuhan dengan menyembah Tuhan, bahkan umat Kristen menjalankan perintah Tuhan secara menyeluruh. Oleh karena itu tuduhan Dani bahwa umat Kristen mengingkari hukum di Perjanjian Lama tidaklah tepat, karena Yesus adalah Tuhan. Tuduhan ini menjadi nyata kalau Yesus bukan Tuhan.
4) Dani mengatakan "Allah itu sangat baik, walau pun kalain tidak menyembahnya, kalian masi di beri kesehatan, umur panjang, harta yang melimpah, apakah kalian tidak malu??? mengangkap Tuhan sebagai Isa atau Isa sebagai Tuhan." Dalam kalimat ini terdapat banyak sekali tuduhan yang kurang berdasar. Semua tuduhan ini akan benar, kalau anda dapat membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Sebagai umat Kristen, kami justru percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, seperti yang diwahyukan-Nya di dalam Alkitab. Dan justru kebaikan Allah menjadi sungguh nyata dengan Yesus mengorbankan Diri-Nya di kayu salib. Oleh karena itu, umat Kristen justru senantiasa mensyukuri semua rahmat Allah, dan lebih dari semua hal-hal yang bersifat materi, umat Kristen mensyukuri rahmat Allah yang terbesar, yaitu Yesus Kristus. Karena melalui Yesus Kristus, keselamatan terbuka bagi seluruh umat manusia, termasuk anda.
5) Dani mengatakan "sudah banayak hal2 yang di tunjukan kepada ita agar kita percaya bahwa Allah itu tuhan semesta alam, seperti nil amstrong yang pergi kebulan dan disana beliau mendengarkan suara azan, dan menceritakan pada halayak ramai, tepat saja oleh ego manusia nil amstrong dianggap sebagai pembohog/pendusta."
Menurut saya, ada baiknya Dani mencoba menggali kebenaran tentang klaim Neil Amstrong yang mendengar suara azan di bulan. Silakan melihat berita dari the star, koran Malaysia yang bertanya tentang kebenaran berita ini (silakan klik). Di situs tersebut dikatakan: "Armstrong, 75, also denied he had heard the Muslim call to prayer on the moon and had converted to Islam."
6) Dani mengatakan "yang lebih simple saja, Islam menganjurkan/mewajibkan wanita untuk menutup auratnya menggunakan jilbab atau busana muslim. jika anda umat non muslim memikirkan dengan hati nurani hal mana yang dapat menimbulkan nafsu, orang yang menggnakan jilbab atau menggunakan pakaian minim??? mengapa kalian malah bilang kalau hal itu munafik, kita tidak munafik itu hal yang diwajibkan oleh Tuhan kita yaitu Allah. karana Dia yang menciptakan kita dan Dia juga tau apa yang pantas bag mahluk ciptaanNya."
a) Kalau dalam agama anda diharuskan untuk memakai pakaian muslim bagi kaum wanita, maka hal ini adalah sesuatu yang baik. Dan semoga saja akan semakin banyak yang memakainya. Cobalah anda cari di site katolisitas.org, apakah ada yang mengatakan bahwa memakai pakaian muslim adalah sesuatu yang munafik?
b) Argumentasi yang anda berikan di atas, mempunyai asumsi bahwa umat Kristen seolah-olah menganjurkan umatnya untuk berpakaian minim. Sebaliknya, Alkitab mengajarkan "9 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, 10 tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah." (1 Tim 2:9-10).
Oleh karena itu, wanita Kristen justru harus berdandan dengan pantas, sopan dan sederhana.
7) Dani mengatakan "tuk berbagi pengalaman dengan semua agar kalian bisa berpikir dengan jernh lagi ada salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang membuat aku makin yakin dengan agama ku ini: yaini: “Jika ada lalat masuk dalam minuman mu, jangan engkau buang minuman itu, celupkan saja kedalam minman mu lalu buang lalat itu dan minumlah minuman mu itu, karna disayap kiri lalat terdapat virus yang berbahya namun di sayap kanannya menggandung penawar dari virus itu” dan telah dibuktikan kebenarannya oleh ilmuan asal amerika…nah kalau kau termasuk dalam orang yang berfikir pasti tau maksut ku,"
Setahu saya, lalat menyebarkan penyakit terutama dari kakinya dan air ludahnya yang membawa begitu banyak kuman dan bukan dari sayapnya. Silakan lihat site ini (silakan klik). Saya tidak akan berkomentar lebih jauh tentang hal ini. Kalau karena hal ini yang membuat anda semakin yakin dengan agama anda, mungkin ada baiknya anda benar-benar mempelajari hal ini secara lebih mendalam. Terus terang, saya tidak tahu, apakah ada yang benar-benar menjalankan hal ini, dimana seseorang mencelupkan lalat ke dalam minumannya dengan harapan bahwa salah satu sayap dari lalat tersebut dapat memunahkan bakteri-bakteri.
8) Dani mengatakan "belum ada kata terlambat untuk saudara-saudaraku yang non muslim untuk mempelajari Islam dan Al-Quran. selama nafas ini masih dikandung badan. Semoga kita termasuk orang-orang yang d ridhoi Allah."
Terima kasih atas maksud baik dan undangan Dani bagi kami semua untuk mempelajari Islam. Adalah tugas dari kita semua untuk benar-benar mencari kebenaran dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan kita. Dan bagi umat Kristen, kebenaran ini adalah Yesus Kristus sendiri yang mengatakan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh 14:6). Dan Yesus yang sama yang akan mengadili seluruh umat manusia pada akhir zaman. Oleh karena itu, iman akan Yesuslah yang menyelamatkan.
Saya juga mengundang Dani untuk membaca beberapa artikel tentang Kristologi dan juga Trinitas. Semoga artikel-artikel tersebut dapat membantu anda untuk dapat melihat agama Kristen dari sisi yang lain. Kalau masih ada pertanyaan atau keberatan yang lain, silakan menyampaikannya lagi kepada kami.
Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai kita semua.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Percaya atau Tidak. itu tidak akan merubah kebenaran sesungguh-NYa bahwa Yesus adalah Tuhan yang ditunukkan melalui Perbuatan-NYa.
[dari katolisitas: 2 kalimat telah diedit]
syalomm, soli deo gracia , saya mau bertanya:
1. tentang api pencucian , tidak sedikitpun dibahas dalam alkitab namum mengapa gereja katolik mengajarkannya???
2. saya pernah membaca buku MUKENDI dimana menjelaskan tentang malaikat ROSA MISTIKA sebagai malaikat kegelapan pemegang kunci langit dan memiliki kaitan dalam doa rosario????????????? ini sangat membingungkan saya !! bagaimana kebenarannya menurut anda?????
3. tentang penggunaan patung dimana dalam alkitab sangat melarang adanya patung namun dalam tradisi gereja katolik sangat tidak terpisahkan dari PATUNG ????????????
4. bagaimana dengan injil-injil apokris yang sangat bertengtangan dengan k4 injil yang diakui gereja ????????//
Shalom Boni,
Terima kasih atas beberapa pertanyaan yang diajukan. Memang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Boni sering menjadi pertanyaan dari saudara/i Kristen non-Katolik. Untuk itu, saya akan memberikan beberapa artikel yang berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, yaitu:
1) Tentang Api Penyucian – silakan klik.
2) Tentang Rosario – silakan klik. Kalau dikatakan bahwa doa rosario berhubungan dengan malaikat rosa – malaikat kegelapan, saya pikir alasannya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin Mukendi belum mempunyai kesempatan untuk mengadakan kontak dengan umat Katolik yang benar-benar mempunyai iman Katolik yang benar. Kalau memang benar bahwa doa rosario adalah berhubungan dengan malaikat rosa, bagaimana dengan orang-orang kudus sepanjang jaman yang berdoa rosario setiap hari, seperti yang juga dilakukkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta? Apakah menurut Boni, Bunda Teresa yang berdoa kepada malaikat rosa (kalau benar bahwa rosario berhubungan dengan malaikat rosa), dapat menampakkan buah-buah yang berlimpah seperti: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (lih. Gal 5;22-23)? Bagaimana kita dapat begitu yakin akan kebenaran dari kesaksian Mukendi? Apakah kita dapat lebih percaya akan kesaksian Mukendi dibandingkan dengan kesaksian begitu banyak santa-santo yang senantiasa berdoa rosario dan menampakkan buah-buah roh, termasuk bersedia mati demi nama Kristus?
3) Tentang penggunaan patung – silakan klik.
4) Tentang deuterokanonika – silakan klik dan juga ini – silakan klik.
Silakan Boni membaca artikel-artikel tersebut. Kalau masih ada keberatan setelah membacanya, maka silakan menuliskan pesan lagi sehubungan dengan topik tersebut. Semoga setelah membaca artikel-artikel tersebut, Boni dapat melihat bahwa pengajaran yang diberikan oleh Gereja Katolik adalah Alkitabiah.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
sylomm, pak stef
makasih buat penjelasanya, saya ingin bertanya lagi dalam sebuah buku dengan judul perjalan 7 anak kolumbia ke neraka dsitu mereka dengan Yesus bersama-sama melihat neraka dan mereka samapai pada sebuah penjara dan di bukutersebut dikatakan bahwa ada seorang wanita cantik yang bernama “MARIA” ia menangis dan badannya serta mengatakan bahwa “mengapa engkau menyembahku orang-orang dibumi karna yang saharusnya disembah adalah Yesus bukan aku!!!!” dan buku-buku ini beredar dikalangan persekutuan mahasiswa!!!! bagaimana menurut anda????
Shalom Boni Asa,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang Maria. Mari kita berdiskusi tentang iman Katolik bukan berdasarkan pada kesaksian pribadi, yang sungguh sangat sulit dibuktikan kebenarannya. Kita dapat berdiskusi tentang Maria, rosario, atau pokok-pokok iman Katolik yang lain berdasarkan Alkitab maupun Bapa Gereja, namun bukan berdasarkan kesaksian pribadi. Kalau mau saya juga dapat memberikan begitu banyak kesaksian pribadi yang mengalami pengalaman rohani untuk melihat neraka dan Sorga, yang mendukung ajaran tentang Maria, namun hal ini tidak saya lakukan, karena hal ini tidak akan dapat meyakinkan orang-orang lain dari agama yang berbeda.
a) Umat Katolik memang menghormati Bunda Maria, sebagai Ibu umat beriman, karena Yesus sendiri telah memberikan Maria untuk menjadi ibu bagi murid yang dikasihi-Nya, yaitu kita semua (Yoh 19: 25-27). Umat Katolik menghormati Maria, karena pertama-tama Allah-lah yang menghormatinya dan memilih-Nya sebagai Ibu Putera-Nya sendiri. Allah tidak begitu saja hanya ‘meminjam’ rahim Bunda Maria. Bunda Maria telah dipilih oleh Tuhan dari sejak awal mula untuk menjadi Ibu Yesus, dan dikuduskan untuk maksud Allah itu. Jika Tuhan sedemikian spesifik dalam menentukan dan menguduskan tabut perjanjian yang berisi dua loh batu 10 Sabda perintah Allah dan roti manna di PL, maka Allah akan lebih lagi secara khusus menguduskan rahim Bunda Maria yang akan menjadi tabut Perjanjian Baru yang menjadi tempat kediaman Putera-Nya sendiri, yang adalah Sabda yang menjelma menjadi daging (Yoh 1:14) dan Sang Roti Hidup (Yoh 6:35)! Bagi saya, apapun yang dikatakan dalam wahyu pribadi harus kembali kita periksa, apakah itu sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Alkitab dan ajaran Gereja Katolik. Hanya dengan cara demikianlah kita mengetahui ke-otentikan nubuat/ penglihatan.
b) Silakan Boni melihat beberapa artikel dan tanya jawab yang berhubungan dengan Bunda Maria:
Bunda Maria, Co- Redemptrix
Maria, Bunda Allah
Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah?
Maria Dikandung Tanpa Noda: Apa Maksudnya?
Pandangan Vatikan tentang pesan Bunda Maria di Fatima 1917 – Oct 30, 2009
KKR, Luk 15:11-32, Wahyu pribadi – Sep 16, 2009
Tentang Maria diangkat ke Sorga dan Maria adalah Ratu Sorga – Sep 16, 2009
Di manakah sekarang Tabut Perjanjian? – Aug 24, 2009
Sejak kapan Protestan percaya bahwa Bunda Maria adalah orang kudus? – Aug 19, 2009
Tentang Bunda Maria dan St. Yusuf – Jul 30, 2009
Pertanyaan sdr/i Protestan tentang ajaran Katolik mengenai Bunda Maria – Jun 17, 2009
Apa dasar ajaran Gereja Katolik: Bunda Maria diangkat ke surga? – Jun 9, 2009
Apakah ajaran Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja ada dalam Alkitab? – Jun 5, 2009
Bunda Maria sama saja dengan tokoh Alkitab yang lain? – May 30, 2009
Maria adalah perempuan yang disebutkan di dalam Kitab Kejadian – Dec 27, 2008
Bagaimana mungkin Maria dikandung tanpa noda? – Dec 27, 2008
Penghormatan terhadap Maria, Santa dan Santo – Dec 23, 2008
Oleh karena itu, silakan Boni Asa memberikan beberapa keberatan tentang pengajaran Katolik, dan tim katolisitas.org akan mencoba menjawabnya semampu kami. Dari sisi yang lain, saya juga ingin memberikan penekanan bahwa dalam sejarah Gereja, begitu banyak santa-santo, termasuk juga ibu Teresa dari Kalkuta, yang mempunyai hubungan khusus dengan Bunda Maria, yang berdoa setiap hari bersama dengan Bunda Maria, sehingga pada akhirnya mereka dapat mencapai kekudusan. Bunda Maria tidak akan mengambil keagungan Yesus, karena Bunda Maria senantiasa akan membawa segala kemuliaan dan hormat bagi Puteranya, dan akan membawa orang-orang yang berdoa bersamanya untuk dapat mengasihi Puteranya. Kalau Yesus saja menghormati ibu-Nya, mengapa kita, yang adalah murid-murid Yesus tidak menghormatinya ibu-Nya? Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
makasih Pak Stef buat penjelasan serta artikel dan penjelasan mengenai Bunda Maria, saya ingin bertanya lagi mengenai perayaan Maria Diangkat Kesurga. atas dasar apakah sampai perayaan tersebut diadakan oleh gereja katolik dan Maria diangkat ke surga tak tertulis dalam alkitab! mohon penjelasannya!!!
Shalom Boni Asa,
Terima kasih atas pertanyaannya. Mengenai pengajaran Bunda Maria diangkat ke Sorga, silakan melihat tanya jawab ini (silakan klik). Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
terima kasih,,,,,,, Pak Stef atas penjelasanya,,,,,,,,,, saya ingin menceritakn sesuatu pak beberapa mingu lalu ddi depan rumah saya tepatnya dapen SMA NEGERI 1 KEFAMENANU,,,, terjadi kerasukan terhadap 5 corang siswi dan saya juga membantu untuk melepaskan beberapa anak yang terikat roh jahat,,,,,, salah satu roh,,,,, sat ditanya bernama MARIANA SILFIANA yang masuk pada seorang sisiwi yang bernama NOVI,,,,,,, sebelum dilepaskan kami masih bertanya dan dari keterangan Roh tersebut ia mati 5 november 1994 karena gantung diri dan kubranya di pekuburan umum kilo 5 paling ujung kuburan protestan dan yang dia merasuk beberapa anak untuk meminta supaya dibuatkan misa kudus,,,,,,,,,, dan saya terus bertanya ,,,, ternyata waktu marasuki anak tersebut ia sudah dibuatkan misa yang ketiga dan roh nya telah dibawa dari neraka ke api pencucian dan lagi 9 kali misa ia akan selamat dan setarusnya saya bertanya lagi bahwa yang biasanya mengangkat roh yang telah habis waktunya di api pencucian diangkat oleh bunda maria ke surga. makasih
Shalom Boni Asa,
Terima kasih atas sharingnya. Kalau kita membaca sejarah santa-santo, memang diceritakan bagaimana sebagian dari mereka didatangi oleh jiwa-jiwa yang masih berada di Api Penyucian. Dan biasanya jiwa-jiwa tersebut minta didoakan terutama minta didoakan di dalam Misa Kudus. Namun, tidak pernah jiwa-jiwa tersebut datang dari neraka, karena neraka adalah keterpisahan abadi dengan Allah. Dengan demikian, semua doa atau apapun tidak akan dapat merubah kondisi seseorang dari neraka kemudian menjadi tidak berada di neraka, misalnya berpindah ke Api Penyucian atau Sorga. Oleh karena itu, saya pikir perkataan dari orang yang kerasukan, yang mengatakan sebelumnya dia ada di neraka dan setelah didoakan di dalam Misa sebanyak tiga kali jadi berpindah ke Api Penyucian tidaklah mungkin. Akan mungkin kalau yang dimaksudkan adalah dari Api Penyucian ke Sorga, karena orang-orang yang berada di Api Penyucian hanya mempunyai satu jalan, yaitu Sorga. Dan dalam beberapa kesaksian santa-santo, memang dikatakan bahwa Bunda Maria sering mengangkat jiwa-jiwa yang berada di Api Penyucian ke Sorga. Untuk melihat pembahasan lengkap tentang Api Penyucian, silakan melihat artikel ini (silakan klik). Semoga dapat memperjelas.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
ternyata pertanyaan saya tidak hilang…maaf kan saya klo saya jg tadi mempost pertanyaan yg sama…
terkait dgn pertanyaan teman saya itu, mengenai masih ada Yesus bukanlah nabi terakhir dgn merujuk pada ayat Kis 15:32 ..
siapakah Yudas dan Silas yg nabi itu ?? apakah mereka ada sebelum Yesus, saat jama Yesus or setelah Yesus ??
saya jg ada dengar, ada nabi kecil, ada nabi besar, apa ini ada hubungannya dgn tahbisan imamat itu ?? or saya yg awam ini jg bisa dikatakan sbg nabi kecil ???
terima kasih atas jawabannya….
salam damai
Shalom Antonius,
Terima kasih atas pertanyaannya. Saya minta maaf karena begitu banyak pertanyaan yang masuk sehingga cukup lama menjawabnya. Mari kita melihat tentang Yudas dan Silas. Kisah Para Rasul Acts 15:32 mengatakan "32 Yudas dan Silas, yang adalah juga nabi, lama menasihati saudara-saudara itu dan menguatkan hati mereka." Mereka tentu saja ada setelah kematian Yesus. Kisah mereka diceritakan di dalam Kisah Para Rasul, yang menceritakan bagaimana Roh Kudus, Roh Kristus sendiri yang menuntun jemaat perdana untuk menyebarkan kabar gembira. Mari sekarang kita melihat tokoh ini satu persatu.
Yudas:
Yudas Barsabas bersama dengan Silas merupakan delegasi dari para penatua di Yerusalem untuk membawa keputusan Konsili kepada jemaat di Antiok, Siria, Kilikia (Kis 15:30-41). Dia juga menemani Paulus dan Barnabas ke Antiokhia dan karena dia juga seorang nabi, dia juga mengajar dan menguatkan jemaat di Antiokhia. Dia kemudian kembali ke Yerusalem tanpa Silas, yang tetap tinggal di Antiokhia dan menemani Paulus (Kis 15:34). Yudas Barsabas dan Silas adalah orang yang terpandang di antara saudara-saudara di Yerusalem (Kis 15:22).
Silas:
Adalah seorang anggota gereja di Yerusalem yang membantu rasul Paulus. Silas, Silwanus (Sylvanus / Silvanus) disebutkan di dalam pembukaan dari surat kepada umat di Tesalonika (1 Tes 1:1), dan juga pembawa surat pertama rasul Petrus (1 Pet 5:12) merujuk kepada Silas, menurut St. Jerome. Dia dipilih oleh para penatua di Yerusalem untuk membawa surat tentang keputusan konsili di Yerusalem kepada jemaat di Antiokhia. Paul, Barnabas, dan Yudas Barsabas bersama dengannya (Kis 15:22-29). DI Antiok, Silas memberikan kekuatan kepada jemaat Kristen karena dia juga seorang nabi. Rasul Paulus memilih dia sebagai teman seperjalanan menuju ke Siria dan Kilikia untuk menggantikan Barnabas dan Yohanes/Markus (Kis 15:30-41). Dia kemudian membantu Paulus di Korintus (Kis 18:5; 2 Kor 1:19).
Pertanyaan yang lain tentang nabi besar dan nabi kecil adalah merujuk kepada pembagian kitab nabi di Perjanjian Lama. Dan pembagian nabi besar dan nabi kecil ini bukan berarti bahwa nabi besar lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan nabi kecil, namun dibagi berdasarkan banyaknya tulisan. Jadi tulisan empat kitab yang tergolong nabi besar lebih banyak dibandingkan dengan kitab-kitab yang tergolong dalam nabi kecil. Berikut ini adalah pengolompokannya.
1) Nabi besar: Yesaya, Yeremiah, Yehezkiel, Daniel.
2) Nabi kecil: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
Oleh karena itu, kita tidak dapat menghubungkan antara nabi kecil dan nabi besar dengan Sakramen Imamat atau Sakramen Baptis. Tentu saja, dalam kapasitas kenabian (yang merujuk kepada mengajar), maka Paus dan juga para uskup dalam kesatuan dengan Paus mempunyai kewenangan mengajar yang diberikan oleh Kristus.
Semoga uraian ini dapat membantu dan menjawab pertanyaan Antonius.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Sedikit bertanya :
1. Apakah semasa hidup Yesus pernah mengatakan bahwa “Aku adalah Tuhanmu dan sembahlah aku”
2. Apakah tatacara ibadah saat itu sama dengan yg sekarang
3. Apakah Yesus melakukan ibadah seperti sekarang “berarti ada yg disembah”
4.Adakah kesamaan Trimurti pada Hindu dan Trinitas pada Kristen? bukankan sama2 Tuhan menjelma menjadi Tuhan atau Reinkarnasi
5.Bagaimana bisa membuktikan bahwa injil sekarang sama dengan Injil semasa Yesus adakah Penghafal Injil pada umat Katolik? sehingga terjaga keasliannya
terima kasih atas pencerahannya
Shalom Yanto,
Terima kasih atas beberapa pertanyaan tentang kekristenan. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:
1) Tentang ke-Allahan Yesus Kristus, dan pertanyaan yang persis sama sering diajukan oleh umat Islam. Mungkin pertanyaan ini berasal dari Ahmet Deedat. Untuk itu, silakan melihat diskusi tentang topik ini di sini (silakan klik).
2 & 3) Tentang tata cara ibadah pada waktu Yesus hidup dan mengapa Yesus berdoa: Silakan untuk melihat diskusi ini yang menjelaskan alasan mengapa Yesus berdoa (silakan klik).
4) Untuk konsep Trinitas, silakan membaca artikel ini: (silakan klik), dan tanya jawab ini (silakan klik).
5) Tentang kredibilitas Alkitab: silakan melihat tanya jawab ini (silakan klik).
6) Untuk mengenal konsep tentang kodrat Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, silakan Yanto untuk membaca beberapa artikel tentang Kristologi:
Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia.
Dan di dalam arsip tanya jawab di sini (silakan klik), Yanto juga dapat membaca beberapa tanya-jawab di bagian apologetik-non-Kristen. Kalau setelah membaca beberapa link tersebut dan Yanto masih mempunyai pertanyaan atau keberatan, silakan menulis pesan lagi.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Sungguh menarik perbincangan ini dan tidak sedikitpun terbersit untuk merendahkan keyakinan siapapun, saya hanya ingin mengetahui sedikit “Kebenaran” terhadap keyakinan saudara2 kita yg beragama lain.
Karena untuk mencari kebenaran perlu dicarikan pembanding sebagai bahan pertimbangan
Sebagai ilustrasi saya contoh kan cerita berikut :
Suatu ketika 2 orang istri dari 2 keluarga yg pada saat yang sama melakukan persalinan anak2 mereka di tempat yg sama kebetulan 2 keluarga ini berbeda agama yg satu islam dan yg satu katolik atau agama apalah, diluar dugaan anak2 mereka tertukar, setelah beranjak dewasa baru diketahui kalau terjadi kekeliruan terhadap anak2 mereka dan sianak mengetahui kejadian yg memilukan ini, dan masing2 anak mengetahui keberadaan orang tua mereka serta agama yg dipeluk. yg jadi pertanyaan apakah setelah mereka mengetahui bahwa agama yg dianut ortunya berbeda dengan dirinya mereka dengan serta merta mengikuti agama ortu masing2, padahal mereka masing2 di didik dengan fanatik pada agama mereka.
Dari sekelumit cerita diatas kalo kita cermati kita akan melihat bagaimana seseorang untuk membuktikan suatu “Kebenaran”, karena menurut saya kebenaran itu timbul bukan dari keyakinan yg di berikan ortu dari kecil kepada kita tapi bagaimana kita berpikir untuk membuktikan secara logika,sejarah dan bukti2 yg kita hadapi tanpa harus lebih menekankan pada keyakinan kita saat ini.
Orang Hindu mengatakan dia benar
Orang Budha mengatakan dia benar
Orang Katolik mengatakan dia benar
Orang Islam mengatakan dia benar
lalu apa yg bisa dibuktikan dengan Kebenaran mereka?
kita tidak tau akan dilahirkan dimana?
orang tuanya siapa?
dinegara mana? dan beragama apa?
kita sadari atau tidak bahwa apa yg di ajarkan ortu dan lingkungan telah menjadi bagian dari keyakinan dan kebenaran menurut kita
kira2 kebenaran itu adalah :
saat ajaran/agama itu muncul sampai sekarang isi kitab sucinya adalah sama
tatacara ibadah saat ajaran/agama itu muncul sampai sekarang adalah sama
dimanapun kita beribadah baik di negara,kota manapun adalah sama
benar=sama=satu
menurut anda sendiri kebenaran itu apa?
terima kasih, semoga kita semua mendapat pencerahan dari Tuhan Yang Maha Esa
Shalom Yanto,
Terima kasih atas pesannya. Saya juga tidak mempunyai anggapan bahwa Yanto ingin merendahkan keyakinan agama Katolik. Adalah wajar, karena kita mempunyai perbedaan agama, maka pandangan dan kepercayaan yang kita anut juga berbeda. Mari kita masuk dalam diskusi kita tentang kebenaran dan mari kita mendiskusikannya dengan hormat dan lemah lembut (lih. 1 Pet 3:15).
1) Contoh di atas adalah contoh yang bagus. Menjadi kewajiban orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, baik kebutuhan jasmani, dan juga termasuk kebutuhan rohani – dalam hal ini adalah agama. Sudah sewajarnya kalau anak-anak mengikuti agama orang tuanya, apalagi kalau orang tuanya memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Namun, pada waktu anak berangkat dewasa, mulai merasakan kehidupan, mulai berfikir kritis, mulai mempertanyakan keberadaannya, maka menjadi kewajiban anak tersebut untuk terus mencari kebenaran, termasuk kebenaran akan agama yang dianutnya. Silakan membaca pemaparan yang saya berikan dalam tanya jawab di sini (silakan klik).
2) Dari contoh yang Yanto kemukakan, maka anak yang bertumbuh dewasa harus terus menyingkapkan jati dirinya, dari mana dia berasal, tujuan hidup, bagaimana untuk sampai ke tujuan abadi, siapakah Penciptanya, dll. Dan pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat wajar diajukan oleh manusia, karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah, yang dianugrahi akal budi, yang memungkinkan manusia untuk mengenal dan mengasihi Penciptanya. Oleh karena itu, kalau dia dididik dalam agama yang percaya akan banyak tuhan, maka dia harus benar-benar mencari apakah benar bahwa Tuhan itu satu atau banyak. Untuk itu, saya pernah menulis artikel tentang "Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada" – silakan klik. Kalau dia telah menemukan bahwa Tuhan itu satu dan Tuhan itu adalah baik, maha kasih, dan maha besar, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana untuk mencari kebenaran: Tuhan yang seperti apakah? Jawaban ini akan mempengaruhi agama yang dianutnya, apakah agama Islam, agama Yahudi, atau agama Kristen? Di dalam artikel Kristologi saya mencoba untuk membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Artikel-artikel tersebut adalah sebagai berikut:
Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia. untuk menyelamatkan kita.
3) Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan Yanto, maka seseorang harus menjawabnya satu-persatu seperti yang saya uraikan di atas. Sama seperti yang coba saya paparkan dalam artikel-artikel di atas. Masing-masing umat dari agama yang berbeda, keluarga yang berbeda, kebudayaan dan negara yang berbeda, yang mempunyai kapasitas untuk mempelajari secara lebih dalam tentang imannya, mempunyai kewajiban untuk mempelajari ajaran masing-masing. Dan saya percaya bahwa kalau pencarian kebenaran ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan pribadi, maka Tuhan sendiri yang akan membimbing orang tersebut dalam proses pencarian ini. Dan berikut ini adalah beberapa tanggapan saya akan pertanyaan Yanto:
a) Tentang Kitab Suci yang sama: Kita perlu melihat bahwa Kitab Suci agama Katolik adalah di tulis dalam rentang waktu 2,000 tahun atau lebih dari 20 generasi. Kitab Suci merupakan kumpulan buku yang ditulis dengan inspirasi Roh Allah oleh manusia, yang mempunyai kebudayaan dan waktu yang berbeda. Walaupun ditulis dalam waktu yang berbeda, namun buku-buku tersebut saling melengkapi satu sama lain. Dan inilah yang menjadi salah satu alasan kebenaran dari Alkitab. Kedatangan Kristus telah dituliskan secara jelas 700 tahun sebelumnya oleh beberapa nabi Yesaya dan nabi-nabi yang lain dalam waktu yang berbeda-beda, sehingga membuat Alkitab dapat dipercaya. Dan konsep terjadinya kitab suci di dalam agama Islam adalah berbeda, karena diberikan kepada orang yang sama, dalam satu generasi, sehingga memungkinkan terjadinya keseragaman.
b) Ajaran yang sama: Memang, kita harus mengkritisi akan apa yang diajarkan oleh Kitab Suci masing-masing. Kalau kita melihat ajaran-ajaran yang dituliskan di dalam Alkitab, terutama dalam terang Kristus, kita akan melihat bagaimana ajaran tersebut begitu agung. Saya contohkan misalkan tentang kotbah di bukit (Mt 5:3-10)
3. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
4. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
6. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
7. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
8. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
9. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
10. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Gereja Katolik juga mempercayai akan kewenangan mengajar Gereja sampai saat ini, sehingga pengajaran yang diberikan oleh Gereja Katolik di seluruh dunia adalah sama.Saya yakin Yanto juga telah mempelajari apa yang diberikan di dalam agama yang Yanto yakini. Dan menjadi tugas dari Yanto untuk benar-benar yakin akan isi pengajaran yang diajarkan oleh agama yang Yanto anut, baik dalam hal fundamental pengajaran maupun dalam hal pengajaran moral.
c) Tata cara ibadah yang sama: Di dalam Gereja Katolik, tata cara ibadah yang bersifat accidental, seperti: kata-kata, gerak tubuh, dll, mengalami perkembangan, sejak dari para rasul, sampai mengalami bentuk baku yang dikenal saat ini, yaitu Misa Kudus / Ekaristi Kudus. Namun, yang lebih penting dari hal-hal accidental tersebut adalah esensi dari ibadah, yang mempercayai bahwa Yesus sendiri yang hadir dalam rupa roti dan anggur. Kita dapat melihat konsistensi pengajaran ini dalam sejarah perkembangan Sakramen Ekaristi, baik dari Alkitab, tulisan dari Bapa Gereja, sampai konsili-konsili. Oleh karena itu, kalau kita melihat dari sisi esensi, maka tata cara ibadah di dalam Gereja Katolik adalah sama dari awal sampai sekarang, namun hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang bersifat accidental mengalami perkembangan sampai mendapatkan bentuk yang baku. Dan tata cara yang baku ini dilakukan di semua negara.
Demikian apa yang dapat saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan dari Yanto untuk tahap awal ini. Semoga dapat memperjelas tentang apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik. Dan kembali ke topik kebenaran, maka dibalik beberapa pertanyaan yang Yanto ajukan, maka sebenarnya pertanyaan seperti ke-Allahan Yesus adalah menjadi topik yang lebih sentral dan utama.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Saya hanya ingin menambahkan sedikit referensi dari islam tentang:
1. Kitab suci yg sama
Sejak awal kemunculan Alquran sudah dihafal oleh banyak orang hingga sekarang sehingga
tidak se-kata-pun yg dapat di “palsu” kan karena setiap saat terpantau, dan ini merupakan salah
satu mu’jizat atas kebenaranNYA sehingga Alquran bisa dihafal dan rasanya hanya Kitab Suci
Alquran lah yg dapat dihafal
2. Ajaran yg sama
Pada dasarnya manusia di bumi hanya membuat kerusakan, sehingga Tuhan memberikan
aturan2 dan hukum yg jelas agar manusia dapat hidup teratur apabila mengikuti perintahnya,
salah satunya lewat Kitab Suci yg diturunkanNYA dan Rasul sebagai penerjemah atas isi Kitab
Suci tersebut agar dapat di mengerti oleh manusia. Jadi apabila aturan2 yg telah ditetapkan
Tuhan diubah2 maka seakan2 manusia lebih tahu dari Tuhan. Jadi segala aturan,hukum dan
tata cara harus merujuk kedalam kitab suci dan sunah Rasul dan apabila seseorang atau
kelompok sengaja membuat aturan sendiri diluar kitab dan sunah Rasul maka akan ditolak.
3. Tata cara ibadah yang sama
ibadah merupakan cara pengabdian manusia kepada Tuhannya yg nyata, salah satu contoh
ritual ibadah haji, pada waktu dan tempat yg telah ditentukan berbondong2 umat islam
dari penjuru dunia melakukan ibadah ini dengan tatacara yg sama.
Dapat saya simpulkan bahwa islam memiliki kitab suci yg jelas asal usulnya dan dapat dipertanggung jawabkan keaslian dan kebenarannya.
Tuhan membuat aturan dan Rasul yg menjalankan kemudian disampaikan kepada umat.
seperti hukum islam dibawah ini
Haram=segala sesuatu yg bila dilakukan akan berdosa dan bila ditinggalkan berpahala
Wajib=segala sesuatu yg bila dilakukan berpahala dan bila ditinggalkan berdosa
Sunah=segala sesuatu yg bila dilakukan berpahala dan bila ditinggalkan tdk apa2
Makruh=segala sesuatu yg bila ditinggalkan berpahala dan bila dilakukan tdk apa2
Mubah=segala sesuatu yg bila dilakukan dan ditinggalkan tdk apa2
dan semua ini jelas tercantum dalam Alquran dan dijelaskan dalam sunah Rasul
termasuk antara sholat/sembahyang dan Doa merupakan 2 ritual yg berbeda, Sholat=merupakan
tanda tunduknya seorang hamba kepada tuhannya atas segala aturan yg telah ditetapkanNYA dan Doa=merupakan permohonan seorang hamba kepada Tuhannya
Terima kasih semoga kita semua diberikan petunjukNYA amin..
Shalom Yanto,
Terima kasih atas tanggapannya. Mari kita melanjutkan diskusi kita tentang Kitab Suci, ajaran, dll. Saya ingin menegaskan, bahwa saya tidak menganggap diri saya ahli di bidang agama Islam.
1) Kitab Suci yang sama: Kalau Yanto melihat dalam sejarah terbentuknya Kitab Suci agama Islam, maka Yanto pasti tahu bahwa pada masa Utsman Bin Affan ada standarisasi dari Al-Quran. Dalam jawaban saya sebelumnya, saya menekankan bahwa hal ini mungkin terjadi, karena dari pertama kali Muhammad menerima wahyu (pada waktu umurnya 40 tahun, atau sekitar tahun 610), pengumpulan koleksi Quran (tahun 633), standarisasi dari Quran (tahun 653). Standarisasi ini dimaksud karena ada beberapa perbedaan, namun saya tidak tahu sampai seberapa jauh perbedaaannya. Oleh karena itu dari permulaan wahyu – standarisasi terjadi dalam waktu 43 tahun. Silakan memberikan koreksi kalau data yang saya sebutkan salah. Saya mengambilnya dari wikipedia (silakan klik). Dan kalau sampai sekarang Al-Quran mempunyai standarisasi, maka hal ini bukanlah menjadi parameter kebenaran, namun menunjukkan adanya proses standarisasi. Saya tidak akan mengkritisi Al-Quran di forum ini, namun saya hanya ingin menunjukkan fakta ini sebagai perbandingan dengan Alkitab.
Transmisi lewat hafalan adalah hal yang memang jamak dilakukan pada masa-masa awal. Dan Alkitab ditulis dalam rentang waktu 2,000 tahun. Menurut saya, justru karena rentang waktu yang begitu lama, namun menunjukkan keterkaitan antara yang satu dengan yang lain (sebagai contoh adalah nubuat), menjadikan Alkitab dapat dipercaya kebenarannya. Oleh karena itu, di jawaban saya sebelumnya, saya menuliskan:
Kitab Suci merupakan kumpulan buku yang ditulis dengan inspirasi Roh Allah oleh manusia, yang mempunyai kebudayaan dan waktu yang berbeda. Walaupun ditulis dalam waktu yang berbeda, namun buku-buku tersebut saling melengkapi satu sama lain. Dan inilah yang menjadi salah satu alasan kebenaran dari Alkitab. Kedatangan Kristus telah dituliskan secara jelas 700 tahun sebelumnya oleh beberapa nabi Yesaya dan nabi-nabi yang lain dalam waktu yang berbeda-beda, sehingga membuat Alkitab dapat dipercaya. Dan konsep terjadinya kitab suci di dalam agama Islam adalah berbeda, karena diberikan kepada orang yang sama, dalam satu generasi, sehingga memungkinkan terjadinya keseragaman.
Nubuat seperti inilah yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, karena untuk menubuatkan sesuatu berabad-abad sebelumnya, diperlukan wahyu Allah sendiri. Dan inilah yang mendasari motif of credibility dari Alkitab.
2) Ajaran yang sama: Menurut saya, bahwa ajaran yang sama untuk menjadi parameter kebenaran dapat dijawab "ya" maupun "tidak". "Ya", kalau hukum tersebut adalah merupakan hukum moral / moral law, "tidak" kalau hukum tersebut adalah ceremonial maupun judicial. Di dalam agama Kristen, Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dimana Perjanjian Baru senantiasa diartikan dalam terang Perjanjian Baru, yaitu dalam sosok Yesus. Berikut ini adalah penjabaran tentang beberapa jenis hukum yang ada di dalam Perjanjian Lama dan kaitannya dengan Perjanjian Baru:
a) Moral Law: Moral Law atau hukum moral adalah menjadi bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom 2:15). Contoh dari hukum ini adalah yang tertulis di 10 perintah Allah, dimana terdiri dari dua loh batu, yang mencerminkan kasih kepada Allah (perintah 1-3) dan juga kasih kepada sesama (perintah 4-10). Hukum kodrati ini adalah hukum yang tetap mengikat (bahkan sampai sekarang) dan dipenuhi dengan kedatangan Kristus, karena hukum kodrati ini adalah merupakan partisipasi di dalam hukum Tuhan.
b) Ceremonial law atau hukum seremonial: sebagai suatu ekpresi untuk memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi yang juga berdasarkan prinsip hukum kodrat, seperti: hukum persembahan, tentang kesakralan, proses penyucian untuk persembahan, tentang makanan, pakaian, sikap, dll. Hukum ini tidak lagi berlaku dengan kedatangan Kristus, karena Kristus sendiri adalah persembahan yang sempurna; sebab Kristus menjadi Anak Domba Allah yang dikurbankan demi menebus dosa-dosa dunia. Maka kurban sembelihan seperti yang disyaratkan di dalam Perjanjian Lama tidak lagi diperlukan, karena telah disempurnakan di dalam kurban Kristus di dalam Perjanjian Baru. Itulah sebabnya di Gereja Katolik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan juga para rasul (Petrus dan Paulus) tidak mempermasalahkan makanan-makanan persembahan, karena bukan yang masuk yang najis, namun yang keluar. Ulasan ini dapat melihat di jawaban ini (silakan klik ini).
c) Judicial law: Ini adalah merupakan suatu ketentuan yang menetapkan hukuman (sangsi) sehingga peraturan dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, maka peraturan ini sangat rinci, terutama untuk mengatur hubungan dengan sesama, seperti: peraturan untuk penguasa, bagaimana memperlakukan orang asing, dll. Dalam Perjanjian Lama, Judicial law ini ditetapkan sesuai dengan tradisi bangsa Yahudi. Contoh dari judicial law: kalau mencuri domba harus dikembalikan empat kali lipat (Kel 22:1), hukum cambuk tidak boleh lebih dari empat puluh kali (Ul 25:3), memberikan persembahan persepuluhan (Mal 3:6-12). Setelah kedatangan Kristus di Perjanjian Baru, maka judicial law ini tidak berlaku lagi; sebab Kristus membuka pintu keselamatan bagi bangsa-bangsa lain, sehingga ketentuan hukuman (sangsi) diserahkan kepada pemerintahan bangsa-bangsa lain tersebut, dan di dalam konteks umat Kristiani, maka judicial law ditetapkan oleh Gereja Katolik yang memiliki anggota dari seluruh bangsa.
Ajaran yang sama mungkin terjadi di dalam Gereja Katolik, karena kuasa yang diberikan oleh Yesus kepada Gereja untuk mengembalakan umat-Nya. Dengan demikian umat Katolik mempunyai ajaran yang sama seluruh dunia, karena mempunyai otoritas yang sama, yaitu di bawah Paus.
3) Tentang Ibadah: Dalam agama Kristen Katolik, maka ibadah yang dinamakan Ekaristi bersumber pada Paskah Misteri – penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke Sorga. Namun, Yesus sendiri memberikan institusi dari korban Ekaristi, yaitu pada hari Kamis Putih sebelum Dia menderita sengsara. Dan perayaan ini adalah merupakan antisipasi dari Korban Kristus sendiri. Dan perayaan Ekaristi ini, dimana Yesus sendiri yang menjadi Korban, terus dilaksanakan mulai dari jemaat perdana sampai saat ini. Kalau Yanto mau mengerti lebih jauh tentang ibadah Katolik, silakan melihat beberapa artikel tentang Ekaristi (silakan klik).
Saya tentu saja menghargai Yanto yang beragama Islam dan percaya akan kebenaran Islam. Namun, karena saya beragama Katolik, tentu saja saya mempunyai perbedaan iman dengan apa yang dipercayai oleh Yanto. Saya tidak akan membahas tentang keaslian Kitab Suci, ritual, dan ajaran dari agama Islam di katolisitas.org, karena website ini adalah website Katolik, dimana fokusnya adalah mempertanggungjawabkan iman Katolik. Kalau Yanto ingin bertanya tentang iman Katolik, saya akan mencoba menjawabnya. Di bawah ini adalah salah satu alasan, mengapa saya percaya bahwa Gereja Katolik mempunyai kebenaran penuh, yaitu melalui motive of credibility:
Motif 1 – Nubuat
Motif pertama adalah nubuat atau diberitakan sebelumnya. Kedatangan Tuhan sudah dinubuatkan beribu-ribu tahun sebelum Yesus datang, dengan melalui persiapan yang panjang.[6] Adalah sangat logis, kalau kedatangan Yesus untuk misi keselamatan seluruh umat manusia dipersiapkan dengan matang, dengan tanda-tanda, sehingga orang tidak sampai salah mengerti. Kita bisa mengambil contoh: Kalau beberapa orang dalam tingkatan direktur pabrik mobil Toyota mengatakan bahwa 20 tahun lagi – semua produk mobil Toyota tidak akan menggunakan bensin, namun menggunakan tenaga surya, juga dapat bergerak dengan kecepatan 200 km/jam, ditambah dengan kemampuan yang lain – maka kita akan percaya, karena yang mengatakan adalah para pembuat mobil tersebut.
Kita dapat menerapkan prinsip ini pada hal persiapan Yesus datang ke dunia ini, yang sudah diberitakan beribu-ribu tahun sebelumnya. Bahkan Nabi Yesaya yang menulis kitab Yesaya sekitar 700 tahun sebelum kedatangan Yesus Kristus, dapat secara persis menggambarkan tentang Kristus yang menderita (Lih. Yes 53). Yesaya dapat menggambarkan secara persis apa yang akan dialami oleh Kristus, karena dia mendapatkan pengetahuan dari Tuhan sendiri. Dan bahwa di dalam sejarah, semua itu terpenuhi dalam diri Yesus, maka ini menjadi bukti akan kebenaran bahwa yang dinubuatkan adalah benar, yaitu Yesus sungguh- sungguh datang dari Tuhan dan Yesus adalah Tuhan.
Hal yang lain adalah Tuhan ingin memberitahu manusia tentang Mesias jauh hari sebelumnya, sehingga pada saatnya tiba, manusia akan dapat mengenali Mesias yang dijanjikan. Dan inilah yang membedakan antara Yesus dengan tokoh-tokoh dalam agama yang lain. Tokoh-tokoh dalam agama lain tidak pernah diberitakan sebelumnya, sebaliknya Yesus diberitakan secara konsisten dalam rangkaian waktu lebih dari 1500 tahun.
Motif 2 – Mukjizat
Motif ke-2 adalah mukjizat. Kita bisa melihat di dalam Alkitab, bahwa Yesus melakukan banyak sekali mukjizat, yang membuktikan bahwa Dia adalah Putera Allah, yang juga menjadi konfirmasi akan kebenaran semua pengajaran-Nya. Kita bisa menemukan bahwa Yesus menyembuhkan orang buta (Mat 9:27-31), orang bisu (Mat 9:32-35), orang tuli (Mk 7:31-37), orang lumpuh (Mat 9:1-8), bahkan membangkitkan orang mati (Yoh 11:1-46).
Yesus juga mengatakan bahwa “ …. tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10:37-38).
Di atas semua itu, mukjizat terpenting adalah kebangkitan Kristus (Mat 28:1-10; Mar 16:1-20; Luk 24:1-53; Yoh 20:1-29, 21:1-19; Kis 1:3; 1 Kor 15:17; 1 Kor 15:5-8). Mungkin ada banyak orang yang dapat melakukan mukjizat dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Namun orang tersebut pada akhirnya meninggal dan tidak dapat bangkit dengan kekuatan sendiri. Namun Yesus menunjukkan bahwa Ia mempunyai kuasa di atas segalanya, termasuk kematian. Hanya Tuhan yang dapat melakukan hal ini.
Motif 3 – Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus
Keberadaan Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri menjadi bukti akan janji-Nya sebagai Allah untuk melidungi Gereja-Nya sampai akhir jaman (lih. Mat 16:18) di bawah kepemimpinan rasul Petrus dan juga penerusnya, yaitu para paus. Sudah begitu banyak percobaan yang dialami oleh Gereja Katolik, baik dari dalam Gereja maupun dari luar Gereja. Namun sesuai dengan janji Kristus, Gereja Katolik tetap bertahan dengan mengajarkan kebenaran yang penuh, ditandai dengan sifat: satu, kudus, katolik, dan apostolik. (lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan – Bagian 1 – silakan klik).
Semoga informasi di atas dapat menjadi masukan bagi Yanto. Agama Kristen bukanlah agama yang menjalankan peraturan semata, namun lebih daripada itu, agama Kristen adalah agama yang bergantung pada rahmat Allah untuk dapat hidup kudus, yaitu dengan cara mengikuti sosok Yesus Kristus (yang dipercaya sebagai Tuhan), dengan terus hidup dalam terang Roh Kudus, yang mensyaratkan agar setiap umat Kristen terus bekerjasama dengan rahmat Allah setiap hari. Semoga Tuhan senantiasa menerangi hati kita, sehingga kita dapat sampai kepada kebenaran.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
dear katolisitas…
saya ada pertanyaan tentang nabi…
dulu guru agama saya pernah bilang, tidak ada nabi lagi setelah Yesus…
tapi, beberapa teman protestan saya mengatakan ada, dgn merujuk kebeberapa ayat alkitab, antara lain :
Kis 15:32 Yudas dan Silas, yang adalah juga nabi, lama menasihati saudara-saudara itu dan menguatkan hati mereka.
bagaimana menurut pandangan GK ???
salam damai
Shalom Antonius,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang apakah nabi masih berlangsung sampai saat ini. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus mengerti bahwa tiga "messianic office" dari Kristus adalah sebagai: 1) imam, 2) nabi, 3) raja.
Melalui Sakramen Imamat, maka seorang (uskup, imam, diakon) berpartisipasi secara khusus dalam triple mission of Christ. KGK, 1581 mengatakan "Oleh rahmat khusus dari Roh Kudus Sakramen ini membuat penerima serupa dengan Kristus, supaya ia sebagai alat Kristus melayani Gereja-Nya. Tahbisan memberi kuasa kepadanya, agar bertindak sebagai wakil Kristus, Kepala, dalam ketiga fungsi-Nya sebagai Imam, Nabi, dan Raja."
Dan melalui Sakramen Baptis, maka semua orang yang dibaptis berpartisipasi dalam "triple mission of Christ" secara umum. KGK, 1268 mengatakan "Orang yang sudah dibaptis menjadi "batu hidup" yang dipergunakan untuk membangun "rumah rohani" dan "imamat kudus" (1 Ptr 2:5). Oleh Pembaptisan mereka mengambil bagian dalam imamat Kristus, dalam perutusan-Nya sebagai nabi dan raja. Mereka adalah "bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya [mereka] memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil [mereka] keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Ptr 2:9). Pembaptisan memberi bagian dalam imamat bersama umat beriman."
Dari keterangan di atas, maka kita tahu bahwa imam, nabi, dan raja agung adalah Yesus Kristus. Namun melalui Sakramen Imamat, maka uskup, imam, berpartisipasi secara istimewa, karena mereka mereka bertindak "in persona Christi" (dalam diri Kristus). Dan melalui Sakramen Baptis, semua orang yang dibaptis berpartisipasi dalam tiga misi Kristus. Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kalau maksudnya berpartisipasi, maka semua yang menerima Sakramen Imamat dan Baptis dipanggil juga menjadi nabi.
Mungkin yang dimaksud oleh guru agama Antonius adalah tidak ada wahyu umum lagi setelah kematian rasul Yohanes. KGK, 66 menyatakan "Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus" (DV 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya." Gereja Katolik percaya bahwa wahyu umum telah selesai dan tidak mungkin ada lagi sampai kedatangan Kristus yang kedua. Dan wahyu umum ini selesai pada waktu rasul Yohanes meninggal, karena Wahyu Ilahi terakhir yang ditulis adalah kitab Wahyu. Oleh karena itu, Gereja Katolik melalui Paus atau uskup tidak mempunyai wewenang untuk menambahkan wahyu umum. Semua doktrin yang diberikan oleh Gereja adalah untuk memperjelas dan menggali dari wahyu umum yang telah ada dan bukan membuat sesuatu yang baru.
Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Antonius,
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Shalom Bu Ingrid
Saya mau bertanya tentang ajaran pengikut Nikolaus (Why 2:6,15)
sekian trimakasih,
Salam Damai Kristus
Shalom Ario,
Menurut A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard, (Thomas Nelson and Sons, NY,1953), p. 1197: Pengikut ajaran Nikolaus yang disebut dalam Why 2:6, 15, adalah mereka yang mengkompromikan ajaran Kristiani dengan orang-orang pagan/ kafir. Ada pula yang menghubungkan Nikolaus ini dengan yang disebutkan dalam Kis 6:5. Nikolaus disejajarkan dengan figur Bileam (Bil 25:1-3, 31:16) yang melambangkan tokoh Israel yang ‘mengkompromikan’ ajaran Tuhan dengan kebiasaan pagan, dengan mengizinkan orang-orang Israel menikah dengan perempuan-perempuan yang tak berTuhan, dan ikut melaksanakan kebiasaan makan makanan sembahyangan berhala mereka. Maka, dengan demikian, mereka menyalahgunakan ajaran Rasul Paulus yang mengajarkan kebebasan umat Kristen, yang disebutkan dalam 1 Kor 9:19-23. Lebih lanjut mengenai makanan sembahyangan, silakan klik di sini.
Untuk lebih lanjut silakan membaca interpretasi perikop Wahyu 2 ini pada link ini (silakan klik).
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolitas.org
Hii ms Ing,
kali ini saya mau memberi kesaksian kepada semua pembaca http://www.katolisitas.org. Ceritanya yach, mama saya mendapat sakit 3minggu yang lalu,tiba2 perutnya kembung dan tidak bisa apa,setelah di x-ray and scan,dr memberitahukan kepada kami bahwa ada sesuatu barang di usus mama saya,tetapi sesuatu itu masih tidak jelas dan dr menyarankan harus dioperasi baru akan bisa tahu apa yg ada di usus mama saya tsb,otomatis kita semua sebagai anak2nya kaget bukan main,kog bisa ya,belum tahu dg jelas trus harus dioperasi.
Setelah saya mendapat kabar yg tidak bagus itu,saya benar2 bingung,apa yg harus saya perbuat,karena saya tidak tinggal di ind,dan pada saat itu saya ingat dengan teman gereja saya,dan saya minta saran dari mereka dan mereka menyarankan agar mama saya dibawa ke hongkong,dan saya pun berunding dg kakak2 saya yg ada di ind,setelah runding merunding kami udah sepakat untuk membawa mama saya ke hongkong tetapi pada saat kakak saya memberitahukan kepada dr tentang rencana kita,tp dr bilang kalo mama saya tidak boleh naik pesawat,karena ada selang infus,selang ditenggorokan dan selang untuk saluran buang air kecil,kita semua kebingungan lagi,akhirnya satu2nya jalan yg saya ambil hanyalah berdoa dan berdoa terus kepada Yesus-Tuhan kita,saya berdoa setiap waktu,tidak pagi tidak siang,dan jg saya sangat berterimakasih kepada romo dan suster dan semua teman2 gereja yg ikut mendoakan mama saya,sehingga pada hari H nya dr bilang harus dioperasi tiba2 mama saya bisa buang air besar dan perutnya mengecil(setelah satu mingguan perut kembung),setelah beberapa hari kemudian mama saya diperbolehkan untuk pulang kerumah(berobat jalan),setelah dr periksa lagi kondisi mama saya sudah benar2 baik untuk sekarang ini.benar2 puji Tuhan,walaupun kami sempat dibikin bingung,ttp rencana-Nya indah pada waktunya.Saya mau memberi saran kepada teman2 yg lain agar jangan putus asa untuk berdoa,berdoalah dg iman maka Tuhan akan memenuhi permintaan kita.cobaan akan datang dg tiba2 ttp pasti ada jalan keluarnya.Tuhan memberkati kita semua.Amin.
Tuhan itu adil dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Peganglah Firman Tuhan, maka hidup kita tetap dituntun dan dibimbing hingga akhir hidup.
Pikul salib, menyangkal diri, dan ikut Tuhan Yesus setiap saat.
Jangan kalah terhadap kejahatan, tapi balaslah kejahatan dengan kebaikan.
Semoga hidup kita diberkati dan dilindungi Tuhan Yesus Kristus. Amin
1. apakah anak – anak yang dilahirkan di luar nikah dan korban perkosaan atau hasil incest adalah juga dari Tuhan?
kalo iya…jadi?? dan kalo tidak..jadi??
2.mengapa masturbasi itu tergolong dosa berat? padahal tak ada pengaruhnya pada orang lain…juga dari pada berbuat dosa mending cukup dengan melakukan itu.
3. saya melihat saat ini ada begitu banyak para iman yang berjenis kelamin membingungkan alias gay…apakah saat mereka memimpin misa itu juga valid?
terimakasih.
Shalom Chmel,
1. Anak yang lahir dari hubungan di luar nikah atau hasil perkosaan ataupun incest tidak dipandang rendah oleh Gereja. Mereka juga dikasihi oleh Allah sebab Allah sendiri yang menciptakan jiwa mereka. Kenyataan bahwa mereka dapat lahir dan hidup, adalah suatu bukti nyata bahwa Allah yang menginginkan keberadaan mereka, terpisah dari bagaimana sampai mereka dapat terbentuk sebagai janin.
(Berikut ini adalah masukan dari Romo Wanta): Tentang anak dan perwaliannya, Gereja mengacu pada hukum sipil. Artinya kekuatan yuridis hubungan anak dengan Orang tua/wali dilandaskan pada hukum sipil. Gereja tidak membuat aturan sendiri. Untuk hukum sipil bisa dibaca dalam II no. 23/2000 ttg perlindungan anak misalnya bila hendak mengangkan anak. KItab Hukum Kanonik Kan 22 menegaskan kalau hukum Gereja merujuk kepada UU sipil maka UU sipil itu harus ditepati dengan efek-efek yang sama dalam hukum kanonik. Beberapa kanon tentang status perwalian anak adalah:
Kan. 98 – § 2. Persona yang belum dewasa dalam melaksanakan haknya tetap di bawah kuasa orangtua atau wali, kecuali dalam hal-hal persona yang belum dewasa menurut hukum ilahi atau hukum kanonik bebas dari kuasa mereka; mengenai pengangkatan para wali dan kewenangan mereka hendaknya ditepati ketentuan hukum sipil, kecuali dalam hukum kanonik ditentukan lain, atau Uskup diosesan dalam kasus-kasus tertentu atas alasan yang wajar berpendapat bahwa harus ditunjuk seorang wali lain.
Kan. 105 – § 1. Persona yang belum dewasa dengan sendirinya mempunyai domisili dan kuasi-domisili orang yang berkuasa atas dirinya. Kalau sudah melewati usia kanak-kanak, ia dapat juga memperoleh kuasi-domisili sendiri; malahan domisili, kalau ia secara legitim telah berdiri sendiri menurut norma hukum sipil.
Kan. 110 – Anak yang diadopsi menurut norma hukum sipil, dianggap sebagai anak dari orang atau orang-orang yang meng-adopsinya.
2. Masturbasi adalah dosa melanggar perintah ke-6 dari kesepuluh perintah Allah. Masturbasi tergolong sebagai dosa berat, karena pada saat orang melakukan dosa tersebut, ia berdosa terhadap Tuhan dan dirinya sendiri. Tuhan memberikan seksualitas untuk tujuan yang mulia, sebagai tanda kasih antara suami istri tanpa syarat yang dapat terbuka terhadap penciptaan kehidupan baru. Masturbasi adalah penyalahgunaan karunia seksualitas yang diberikan oleh Allah. Mereka yang melakukannya, apalagi yang sampai ‘ketagihan’, sebenarnya telah menempatkan ‘kenikmatan seksual’ sebagai tuhan mereka, karena mereka tidak lagi mau mengikuti apa yang menjadi kehendak Allah dalam menyalurkan dorongan seksual tersebut. Selain itu yang melakukan masturbasi juga melakukan perbuatan yang melanggar kesucian jiwanya sendiri, yang diciptakan Allah sesuai dengan gambaran-Nya.
Katekismus mengatakan:
KGK 2352 Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. "Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban", karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apa pun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya". Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai "tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang sebenarnya" (CDF, Perny. "Persona humana" 9).
3. Saya belum pernah bertemu dengan pastor yang sepertinya ‘gay’. Tetapi jika-pun ada, mari kita melihatnya dari 2 sisi. Pertama dari pengertian imamat-nya, dan kedua dari segi ‘gay’-nya.
Pertama, seorang yang menerima sakramen imamat adalah seorang yang sungguh dipilih oleh Kristus sendiri. Allah memanggilnya, walaupun juga melibatkan kesediaan dari orang itu untuk menanggapi panggilan itu. Melalui tahbisan itu, Kristus mengangkatnya menjadi seorang imam-Nya, sebagai anggota dari persekutuan penerus para rasul-Nya yang terus berkarya sampai akhir jaman (lihat KGK 1577). Selanjutnya, Katekismus dengan jelas mengatakan,
KGK 1584 Pada dasarnya Kristus sendiri yang mendatangkan keselamatan dengan perantaraan pelayan yang ditahbis dan bekerja melalui dia. Ketidak-layakannya tidak dapat menghalang-halangi Kristus untuk bertindak (Bdk. Konsili Trente: DS 1612; 1154). Santo Agustinus mengatakan ini dengan kata-kata yang sangat tegas: "….. Kekuatan rohani Sakramen adalah serupa dengan terang; siapa yang harus disinari, menerimanya dalam kejernihannya, dan apabila ia harus melewati yang kotor, ia sendiri tidak menjadi kotor" (ev. Jo 5,15).
Kedua, mari kita lihat dari arti ‘gay‘. ‘Gay‘ adalah merupakan suatu kecenderungan, sama seperti ada orang yang punya kecenderungan untuk menjadi pemarah, pembohong, sombong, dst. Kecenderungan ini baru akan berbuah menjadi dosa, jika terus dituruti keinginannya, dalam hal ini, adalah jika mereka yang ‘gay’ terus bergaul dalam lingkungan ‘gay’ dan mempraktekkan kehidupan seksual gaya gay ini. Namun, jika tidak, maka kecenderungan tersebut tidak berbuah dosa. Hal ini dapat kita ketahui dari kesaksian para ‘gay‘ tersebut, saat mereka sungguh-sungguh bertobat dan meninggalkan gaya hidup mereka yang lama untuk kemudian sepenuhnya mengikuti perintah Kristus.
Maka kesimpulannya, dalam hal ini saya ingin menyampaikan, jikapun ada pastor yang sepertinya ‘gay‘, maka itu tidak menjadikan Misa yang dipimpinnya tidak sah/ tidak valid. Sebab yang bertindak melalui dia adalah Kristus, dan kuasa Kristus yang tercurah lewat sakramen itu lebih besar daripada kelemahan pastor itu sebagai manusia. Namun demikian, pastor itu harus tetap hidup dalam kemurniannya, dan jika tidak, dia secara pribadi berdosa di hadapan Tuhan. Jika sampai ia melakukan dosa yang melibatkan orang lain dan menimbulkan skandal, maka pemimpin Gereja berhak untuk melakukan tindakan suspensi, jika itu terbukti dan pastor itu tidak bertobat (lihat Kann. 1311, 1312, 1326). KHK secara jelas mensyaratkan para imam untuk memelihara kaul/ tarak untuk hidup selibat dalam kemurnian, dan ketentuannya adalah sebagai berikut:
Kan. 277 – § 1. Para klerikus terikat kewajiban untuk memelihara tarak sempurna dan selamanya demi Kerajaan surga, dan karena itu terikat selibat yang merupakan anugerah istimewa Allah; dengan itu para pelayan suci dapat lebih mudah bersatu dengan Kristus dengan hati tak terbagi dan membaktikan diri lebih bebas untuk pelayanan kepada Allah dan kepada manusia.
§ 2. Para klerikus hendaknya dengan cukup hati-hati bergaul dengan orang-orang tertentu, jika pergaulan dengan mereka dapat membahayakan kewajibannya untuk memelihara tarak atau dapat menimbulkan batu sandungan bagi kaum beriman.
§ 3. Uskup diosesan berwenang menetapkan norma-norma yang lebih rinci dalam hal itu dan untuk mengambil keputusan mengenai ditaatinya kewajiban itu dalam kasus-kasus khusus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
terima kasih atas jawabanya..tapi maaf kalo sedikit berargument tentang anak2 yang dilahirkan tanpa melalui pernikahan sah…saya berpikir bahwa dengan begitu orang akan berpikir untuk berbuat dosa terus, anyway khan anak anak yang lahir toh juga dari Tuhan,,,,???
saya pernah tinggal di filipina dan saya alami sendiri ada anak2 yang lahir diluar nikah di baptis seperti biasanya,,dan saya melihat dengan mata kepala sendiri karena kebetulan tetngga dan juga saya kenal pastornya…bisa kah itu?
Shalom Chmel,
Sebenarnya, persyaratan pembaptisan bayi/ anak-anak adalah iman orang tua dari anak tersebut, dan janji dari orang tua bahwa akan mendidik anak tersebut secara Katolik. Jika hal ini dapat dipenuhi oleh minimal satu pihak dari orang tua atau walinya, dan juga oleh bapa/ ibu baptis dari anak itu, maka sang anak dapat dibaptis. Karena anak itu sendiri tidak bersalah, jadi tidak ada halangan baginya untuk dibaptis (yang bersalah adalah orang tuanya).
Mengenai Baptisan bayi/ anak, ditetapkan dalam Kitab Hukum Kanonik, yaitu:
Kan. 868 – § 1. Agar bayi dibaptis secara licit, haruslah:
1* orangtuanya, sekurang-kurangnya satu dari mereka atau yang secara legitim menggantikan orangtuanya, menyetujuinya;
2* ada harapan cukup beralasan bahwa anak itu akan dididik dalam agama Katolik; bila harapan itu tidak ada, baptis hendaknya ditunda menurut ketentuan hukum partikular, dengan memperingatkan orangtuanya mengenai alasan itu.
Sebenarnya sikap Gereja terhadap anak di luar nikah merupakan konsekuensi dari hukum Kasih dan bagaimana Gereja selalu menjunjung tinggi kehidupan. Allah yang menciptakan jiwa manusia, maka Allah pula yang mempunyai kuasa atas jiwa seseorang. Oleh karena itu, Gereja menentang aborsi, apapun alasannya (misal karena janin terbentuk dari hubungan di luar nikah). Konsekuensinya, Gereja menerima semua kelahiran anak-anak, sebab mereka sendiri tidak berdosa. Mereka tidak dapat memilih kondisi bagaimana mereka dapat dilahirkan dan memilih sendiri orang tua mereka. Bayangkan saja jika kita yang menjadi anak-anak itu. Tentu akan menjadi tidak adil jika kita tidak dapat dibaptis untuk memperoleh karunia keselamatan, karena dosa orang tua kita.
Perihal apakah dengan demikian, maka orang tuanya akan terus berbuat dosa, karena menganggap ‘toh Tuhan tetap menerima anak-anaknya dan anak-anak tetap dari Tuhan’, maka saya rasa ini asumsi yang belum tentu benar. Seseorang yang mempunyai hati nurani akan tahu bahwa ia telah berdosa, dan jika ia diberi kesempatan lagi, tentu ia berisaha untuk tidak melakukannya kembali. Namun, seandainya ia terus memilih untuk hidup dalam dosa,maka sesungguhnya ia mempertaruhkan keselamatan jiwanya sendiri.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga menjawab pertanyaan Chmel.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
Terpujilah Yesus Kristus, Allah Tritunggal, Allah dan Bapa orang Katolik, Bapa Orang Kristen di luar Katolik, Bapa bagi orang di luar Kristen, dan Bapa orang yang tidak mengenalNya.
Amin
1.Artikel/Sharing iman Katolik yang sangat menarik,saya sangat terharu dengan artikel ini beserta dengan jawapan2 yang anda beri untuk menjawap segala pertanyaan2 yang para pembaca/pengunjung ajukan.
2.Untuk pengetahuan saudara ada sebahagian2 daripada artikel2 serta soal jawap dalam web ini telah saya cetak/print(termasuk artikel ini)sebagai panduan dan pelajaran peribadi buat saya sebagai seorang umat Katolik.
Tahniah! dan Terima kasih.
Mengapa yesus d anggap sbg tuhan? apa alasan kalian tuk menjamin dia tuhan? Pahal kt tau ciri tuhan itu apa.. Maha esa,tidak beranak n d peranakkan,maha mengetahui n banyak lg. Yesus pun manusia sm seperti kita n bs mati jg. Klu dosa kt d tanggung oleh yesus kenapa kalian g’ b’buat kerusakan n kehancuran d bumi ini kan dah dah da yg nanggung dosa kalian.. Biar dunia cepat kiamat.. Yg aq tau dosa itu d tanggung cendiri. Klu g’ percaya baca al-qur’an n pahami artinya insya allah kalian akat tobat.. Amiin…
Salam damai Bapak G (maaf saya tidak mau memanggil nama anda seperti yang diberikan, karena saya pikir akan menjadi tidak sopan). Mari kita bersama-sama berdiskusi dengan hormat dan lemah lembut tanpa menghilangkan kebenaran, sebagai tanda bahwa kita adalah umat beriman.
Argumentasi Bapak G:
1) Pertama Bapak G mempertanyakan kepada umat Kristen, mengapa umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Apakah dasar dari kepercayaan ini? Bukankah mempercayai Yesus Tuhan bertentangan dengan hakikat Allah yang tidak diperanakkan, Maha tahu, dll
2) Kalau Yesus Kristus adalah Tuhan, mengapa Yesus mati di kayu salib? Kalau memang alasannya adalah karena Tuhan Yesus menebus dosa dunia, bukankah umat Kristen dapat berbuat sesukanya di dunia ini, karena dosanya telah ditebus? Saya berpendapat bahwa setiap manusia harus menanggung dosa masing-masing.
3) Oleh karena itu, silakan membaca Al-Qur’an, sehingga dapat mengalami pertobatan.
Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya sampaikan.
I. Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.
1) Untuk membahas topik ini lebih lanjut, silakan untuk membaca beberapa artikel Kristologi yang membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan:
Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia.
2) Jadi secara prinsip, mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Tuhan adalah melalui "motives of credibility":
a) Kedatangan Yesus telah dinubuatkan oleh para nabi. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali dalam kurun waktu 20 generasi. Hal ini membuktikan bahwa Allah mempersiapkan kedatangan-Nya sehingga kalau Dia datang, maka manusia akan mengenalinya. Untuk lengkapnya, silakan membaca artikel: Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Tuhan, dan juga Yesus yang dinubuatkan oleh para nabi.
b) Yesus melakukan banyak sekali Mukjijat, yang hanya Tuhan sendiri yang mampu melakukannya.
Semasa hidup Kristus di dunia, kuasa Allah ditunjukkan di dalamNya dengan Ia melakukan banyak mukjizat-mukjizat, dari meredakan angin ribut, mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit, sampai membangkitkan orang mati, termasuk juga kebangkitanNya sendiri dari kematian-Nya (Silakan membaca: Kristus yang kita imani= Yesus yang menurut sejarah).
c) Yesus mempercayakan umat-Nya kepada Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik.
Selanjutnya, kami meyakini bahwa Kristus datang untuk mendirikan Gereja yang dibentukNya sendiri untuk terus bertahan sampai akhir jaman, dan itu berada di dalam Gereja Katolik. Paus pemimpin Gereja ini dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Petrus, Rasul Yesus Kristus. Hal ini juga merupakan sesuatu mukjizat tersendiri, sebab jika Gereja hanya ‘organisasi’ manusia, maka sudah sejak lama ia bubar/ tak bertahan. Untuk lengkapnya, silakan membaca: mengapa kita memilih Gereja Katolik.
3) Apakah dengan Tuhan menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, tidak bertentangan dengan hakikat Allah?
a) Sesuatu dikatakan bertentangan kalau melanggar prinsip "non-contradiction", yaitu: "sesuatu tidak dapat menjadi dan tidak menjadi dengan cara yang sama dan dalam waktu yang sama". Maka dengan Tuhan menjadi manusia, dalam diri Yesus, tidaklah bertentangan dengan Tuhan yang bersifat kekal. Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa dengan menjadi manusia, Tuhan berhenti menjadi Tuhan. Kalau Tuhan berhenti menjadi Tuhan, barulah itu bertentangan dengan Tuhan yang mempunyai sifat kekal.
b) Bahkan Tuhan menjadi manusia sungguh-sungguh menjadi suatu manifestasi sempurna dari hakekat Tuhan, yaitu kasih. Keterangan tentang ini dapat dilihat di artikel ini (silakan klik), dimana pada awal artikel saya mengatakan:
1) Argumen dari prinsip kesempurnaan mahluk berakal budi.
Yesus Kristus hanya dapat dijelaskan dalam relasinya dengan Allah, yaitu Allah yang mempunyai tiga kepribadian. Sesuatu yang dapat disetujui bersama tentang Tuhan, yaitu Tuhan adalah Maha sempurna. Kesempurnaan manusia dikarenakan oleh keberadaan manusia sebagai mahluk personal atau “personal being,” yang mempunyai kemampuan untuk mengasihi, memberikan dirinya kepada orang lain, dan juga mempunyai kemampuan untuk berkumpul dengan sesama. Kalau ini benar untuk manusia (tingkat natural), maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud.
2) Argumen dari definisi kasih.
Kasih tidak mungkin dapat berdiri sendiri. Kasih senantiasa melibatkan dua pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, masing-masing dapat mengasihi secara lengkap, karena suami-istri “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih, kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak mempunyai seseorang yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan yang terisolasi sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin untuk menyalurkan kasih-Nya yang sejati.
Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, kalau kita pikir secara logis, hal ini tidaklah mungkin karena Tuhan tidak mungkin tergantung dari manusia yang kasihnya tidaklah berarti dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikin, sangatlah logis, kalau Tuhan mempunyai “kehidupan interior/ interior life,” di dalam Diri-Nya sehingga Dia dapat memberikan cinta sempurna yang rela berkorban. Dan dalam kehidupan interior inilah ada Yesus Kristus, Allah Putera, yang mempunyai derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Operasi dari Allah Bapa dan Allah Putera adalah mengasihi secara kekal, sempurna, dan tak terbatas. Dan buah dari kasih ini adalah Roh Kudus.[2] Dan dengan kematian Yesus di kayu salib, Tuhan menunjukkan akan bukti adanya kasih yang sempurna, yaitu dengan memberikan diri sendiri kepada orang lain.[3] Untuk pembahasan lebih lanjut tentang Trinitas, silakan klik di sini.
II. Dosa asal dan penebusan dosa.
1) Memang Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, dan sebagai perwujudan kasih Tuhan yang sempurna kepada umat manusia. Kalau kita mengatakan bahwa Tuhan maha kasih, maka buktinya adalah kematian Yesus di kayu salib.
2) Pembuktian dosa asal pernah saya jawab di sini (silakan klik).
3) Setelah umat Katolik tahu bahwa dirinya telah ditebus dosanya oleh Kristus, umat Katolik tidak boleh hanya berpangku tangan atau malah berbuat dosa, sebaliknya justru harus melihat pengorbanan Kristus yang didasari kasih sebagai teladan, dan menjalankan hukum kasih (kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama) dengan segenap hati, segenap pikiran dan segenap kekuatan.
Kalau Bapak G pernah mendengar tentang Ibu Teresa dari Kalkuta, maka kita dapat melihat bahwa kesadaran bahwa Yesus mengorbankan diri-Nya untuk keselamatan umat manusia, menimbulkan suatu kekuatan untuk berkorban bagi sesama sebagai manifestasi dari kasih kepada Tuhan.
4) Bahkan di dalam dokumen resmi Gereja Katolik dan menurut Alkitab, umat Katolik yang tidak mengamalkan kasih tidak dapat diselamatkan. Untuk keterangan lebih lanjut, silakan melihat jawaban ini (silakan klik).
Dari keterangan dan jawaban di atas, saya berharap bahwa Bapak G dapat melihat adanya alasan yang kuat dari agama Katolik untuk mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Mari kita bersama-sama berjuang untuk menuju kepada kebenaran. Umat Katolik percaya bahwa kebenaran ada di dalam Yesus Kristus. Dialah Yesus yang sama yang akan mengadili seluruh umat manusia pada Pengadilan Terakhir.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Dear Saudaraku G’,
Banyak orang yg mengatakan “Tuhan menebus dosa kita”, apakah orang2 itu mengetahui dgn jelas apa latar belakang sblm dan tindakan selanjutnya setelah peristiwa itu ?
Mengapa sy berkata seperti itu bukan maksud saya meng-under estimate mereka, tetapi rata2 setiap pernyataan yg sy dapati tsb tidak menjelaskan lebih mendetail lagi alasan2nya. (sehingga muncullah komentar2 sperti yg saudara katakan).
Untuk saya, istilah ‘Penebusan” dalam konteks kematian Yesus sy rasa kurang tepat (karena ada yg mengatakan mengapa Tuhan menebus dosa yg tidak dibuatNya), yg tepat adalah “Rekonsiliasi”, IMHO.
Tuhan ingin mengembalikan jalur/kondisi yg terjadi saat itu ke rencana/tujuan penciptaan manusia semula. Sehingga Dia ingin memberikan contoh kepada kita dgn cara mjd manusia agar kita pun mau berkorban sampai mati demi Allah (sesuai keinginanNya semula yaitu semua tunduk padaNya), walaupun telah dianiaya dan itu semua dilakukan dgn Kasih (bukan dgn perang/pedang/dendam).
Sehingga dgn mengamalkan kasih kpd Tuhan & sesama seumur hidup, kita akan mendapatkan “Tiket” ke kerajaan surga.
Bisa dibilang, Tuhan menjelma menjadi manusia untuk mengubah kondisi yg tidak berjalan sesuai rencana awalNya menciptakan manusia. Tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah agar supaya kita dapat hidup bersama dgn Dia untuk memuja Dia, namun karena begitu baiknya Tuhan sehingga Dia memberikan kehendak bebas kpd Adam & Hawa yg akhirnya mengubah rencana awalNya. DatangNya Dia ke dunia adalah agar setiap manusia yg terpilih (yg hidup seperti perintah/permintaanNya) bisa dapat berkumpul kembali dgn Dia di kehidupan kekal selanjutnya. (hanya sedikit yg akan terpilih – itu karena kehendak bebas yg disalahgunakan sblmnya) Sehingga bisa dikatakan Dia lebih memilih meneruskan karya penciptaanNya, menunjukkan LAGI apa keinginanNya dgn cara mjd manusia (kalau Tuhan yg berbicara lgsg dari langit, apalah gunanya ama juga boong/ pasti semua orang akan lgsg menyembah Dia), daripada Dia menghentikannya pd saat itu. PermintaanNya mjd bukan lagi menyembah saja, tapi sebagai kudus Dia menegaskan LAGI bahwa semua hal di dunia ciptaanNya haruslah dilakukan dgn KASIH.
Sekaligus sy ingin berpendapat disini sbg tanggapn beberapa artikel terkait (Kristologi).
Jawaban dari : Kenapa Tuhan tidak lgsg membuat manusia yg suci ? Karena Tuhan menciptakan manusia sesuai gambaranNya; bukan hanya secara fisik ttpi juga sifat. Karena Tuhan [dari Katolisitas: kami edit], ga mau maksa2 ^_^
N’ knpa ga lgsg disurga ? Ya karena sbnrnya bumi inilah yg direncanakan sbg Surga “kedua”, ttpi karena kehendak bebas itu akhirnya bumi hanya mjd tempat pencobaan/ujian sblm ke Surga yg sbnrnya. Gitu lho ; ) kasarnya sprti itu hehehehe CMIIW
Jadi berSEGERAlah, stlh itu tetap SETIA berjaga2 (artinya: terus BERUSAHA utk hidup kudus) s.d kedatanganNya.
Tim Katolisitas.org emang top markotop ; )
May God bless us sampai pd waktu kedatanganNya – Pro Ecclesia et Patria !!!,
Antonius Wowor
Shalom Antonius Wowor,
Jika kita berpegang kepada Kitab Suci, maka kita akan mengetahui bahwa pengorbanan Kristus dan darah-Nya yang tertumpah di kayu salib memang ditujukan untuk menebus dosa kita, dan untuk mendamaikan kita dengan Allah dan dengan segala sesuatu:
“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Gal 3:13)
“dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.” (Kol 1:20)
“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.” (Rm 3:25)
Jadi memang Kristus tidak berdosa, namun Ia menanggung dosa umat manusia, agar dapat mendamaikan kembali Allah dan manusia. Sebab keadilan Tuhan mensyaratkan adanya kurban bagi pengampunan/ pemulihan dari dosa, dan dengan demikian Kristus menyerahkan Diri-Nya sendiri menjadi Kurban itu, agar dapat menebus dosa manusia.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Syaloom,
Apa yang dipikirkan Antonius Wowor mirip dengan yang saya pikirkan,
karena konteks menanggung dosa kita sering disalahartikan dosa2 kita udah diambil ama dia trus ditaruh di Kayu Salib. Tp saya rasa arti menanggung di sini adalah bukan seperti itu jadi bukan kita ngasi semua utang dosa yg di masa lalu, masa kini dan depan ke tubuh Di, jadi Dia yang nanggung tp kita dibayarin utang karena kita terbelenggu dosa tp setelah kita dibayarin utang kita kan kita masi bisa utang lagi. Tp itulah sebabnya Dia mao mati menderita untuk kita dan memberikan daging-Nya supaya kita tidak utang lagi dan hidup dalam Kerajaan Allah di dunia ini
Dan ada Api penyucian yang lahir dari misteri Paskah untuk mereka yang tidak sempurna dalam perjuangannya di dunia ini.
Mohon tanggapannya kalau ada yang salah dalam pengertian saya.
Terima Kasih
Shalom Leo,
Terima kasih atas tanggapannya. Kalau kita memakai perumpamaan hutang, maka dengan penebusan Kristus hutang kita memang telah dibayar semuanya, sehingga kita tidak terbelenggu lagi dengan hutang kita dan kita mempunyai harapan. Lebih lanjut, kita juga dikasih modal, yaitu modal yang mengalir dalam Sakramen Permandian: rahmat pengudusan, tujuh karunia Roh Kudus, diampuni dari dosa asal dan dosa pribadi sampai pada saat dibaptis, tiga kebajikan ilahi, disatukan dengan Gereja dan menjadi anak- anak Allah di dalam Kristus. Namun, modal ini harus dikembangkan, karena kalau tidak dikembangkan kita akan rugi dan dapat mengakibatkan kehilangan keselamatan kekal, seperti yang ditunjukkan dalam perumpamaan tentang talenta. Setiap kali kita rugi (kalau jatuh dalam dosa), kita dapat kembali kepada Tuhan, melalui Sakramen Tobat. Dan kalau kita butuh modal tambahan, kita diberikan modal tambahan (rahmat) dalam Sakramen Ekaristi, perbuatan kasih, doa dan Firman. Dengan modal tambahan dan kalau rugi kita dapat meminta modal lagi kepada Tuhan dan kalau kita setia menjalankan talenta kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak dapat mengembangkan talenta yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Namun, kita jangan melupakan, bahwa modal awal, modal untuk menjalankan, dan modal tambahan berasal dari Tuhan. Dengan demikian, kalau kita dapat menjalankan, kita tidak dapat mengklaim bahwa kita yang berhasil, karena semua modal diberikan oleh Kristus. Dalam konteks ini, maka rahmat Allah memegang peranan utama. Namun, Allah menginginkan agar kita dapat turut bekerjasama secara bebas dengan rahmat-Nya, sehingga talenta yang telah diberikan oleh Allah dapat berkembang. Semoga ilustrasi ini dapat memberikan kejelasan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Syaloom Pak Stef
Terima kasih pak Stef, saya sudah mengerti sedikit, tp saya akan menanggapi lagi setelah apa yang saya paparkan di artikel “sekali selamat pasti selamat?”
Sehingga bisa sekalian tidak usah bertanya bolak balik hehehe
Terima Kasih
Tuhan Berkati
Shalom Ibu Ingrid/ Pak Stef,
We thank you for ur concise conception so clearly defined as what God want it should be.
Best,
Antonius Wowor
Oh iya, sejujurnya saya sangat menghargai keberadaan Web ini, karena jujur saja, saya baru pertama kali menemukan Web punya orang katolik, yg memaparkan agamanya secara bijak, serta berpendidikan dalam menyampaikan gagasannya, dan tidak memakai bahasa2 kotor, kasar, dan tidak mencacimaki dan menghina agama lain,, saya juga sangat menghargai keterbukaan Pak Stef dalam menerima komentar orang lain, orang seperti anda sangat jarang Pak, saya menghargai keyakinan anda,, walaupun saya seorang muslim,,,
Salam damai HambaAllah,
Terima kasih atas komentar HambaAllah terhadap website ini. Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh umat beriman, yang mengakui adanya perbedaan-perbedaan, namun juga harus menyampaikannya dengan hormat dan lemah lembut tanpa menghilangkan kebenaran.
Kami juga berterima kasih atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Hamba Tuhan dan kami akan menjawabnya satu persatu. Dan kami sebagai umat Katolik juga menghargai kaum Muslim, terutama akan kepercayaan umat Muslim akan satu Tuhan, juga ketekunan umat Muslim untuk berdoa lima waktu, serta mengamalkan perbuatan baik.
Semoga semangat kita untuk mencari kebenaran akan semakin menuntun kita kepada Tuhan.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef & ingrid
Ya. Saya juga sangat bersyukur bisa bertemu dengan situs katolisitas ini. Melihat hasil googling diinternet yang begitu menyeramkan dan ” berdarah-darah” sungguh membuat situs katolisitas ini begitu berbeda.
seingat saya, saya pernah menemukan 1 orang lagi yang bisa memaparkan agamanya dengan cukup baik.
dia ada di situs ini
http://www.sarapanpagi.org/
lebih tepatnya mungkin disini
http://www.sarapanpagi.org/gereja-katolik-vf66.html
dia menggunakan nama Valkyrie
Iman tidak bisa diperdebatkan atau dipertentangkan. Biarlah setiap orang memegang imannya masing-masing tanpa memaksakannya kepada orang lain yang berbeda iman. Sebagai contoh, orang Katolik beriman bahwa Yesus merupakan pribadi Allah yang menebus dosa manusia melalui penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya tetapi sebaliknya orang non-Kristen mungkin tidak percaya dan hanya menganggap Yesus sebagai nabi. Kedua iman yang berbeda ini tidak dapat dipertentangkan dan tidak ada gunanya untuk dipertentangkan.
Akan tetapi, berbeda dengan iman, akal budi dapat disharingkan. Orang yang berbeda iman tetapi mampu berpikir sehat dan menggunakan perasaannya dengan benar mampu mensharingkan akal budinya. Sebagai contoh, orang-orang yang imannya berbeda tetapi memiliki akal budi tentunya memiliki pendapat yang sama bahwa penyerangan Israel yang sangat berlebihan di jalur Gaza sehingga menimbulkan kematian begitu banyak anak dan manusia yang tidak bersalah sungguh merupakan tindakan di luar perikemanusiaan.
Pak Stef/ Bu Ingrid, bagaimanakah hubungan agama (Gereja) dan negara menurut ajaran Gereja Katolik? Saya pernah mendengar ceramah dari seorang pastor begini: Menurut Islam, agama dan negara menjadi satu (united); menurut kaum Protestan, agama dipisahkan sepenuhnya dari negara (totally separated), dan menurut Katolik, agama (Gereja) dan negara berdiri sendiri namun harus bekerja sama (distingtif-correlative). Sayangnya saya tak sempat mengejar pastor tersebut untuk menjelaskan lebih lanjut karena konteksnya pendidikan politik menjelang pemilu dan ia segera kembali ke tempat tugasnya. Terima kasih atas penjelasan Pak Stef.
Shalom
Isa Inigo
Shalom Isa,
Terima kasih atas masukkannya tentang hubungan antara negara dan Gereja. Saya terus terang belum terlalu mendalami hal ini lebih jauh, karena hal ini baru akan diajarkan semester ini. Nanti kalau saya telah mendalami hal ini, saya akan dapat membagikannya dengan lebih detil.
Namun ada beberapa hal prinsip yang dapat kita lihat:
1) Yesus berkata "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mt 22:21; Mk 12:17; Lk 20:25).
Dari sini kita melihat bahwa dua hal, yaitu negara dan Gereja dapat berjalan bersama-sama.
2) Masing-masing pihak, baik Gereja maupun negara harus mengakui hak masing-masing. Negara mempunyai tugas untuk membawa warganya kepada kepentingan bersama dan tujuan bersama yang merupakan kebahagiaan di dunia ini (temporal happiness), sedangkan Gereja bertujuan untuk mengantar umat-Nya kepada kebahagiaan abadi di Surga (eternal happiness).
Karena eternal happiness tingkatannya lebih tinggi daripada temporal happiness, maka negara tidak dapat membuat peraturan yang menghalangi Gereja untuk mengantar umat-Nya kepada Tuhan.
3) Negara juga harus melindungi Gereja, karena salah satu tugas dari negara adalah untuk melindungi warganya.
Untuk sementara, itu adalah jawaban yang dapat saya berikan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
[Dari admin: tanpa merubah isi, tanggal penulisan saya ubah, sehingga masih dapat terlihat di kolom kanan - "pesan atau komentar terbaru", dan 3 pesan saya jadikan satu]
salah satu kelemahan setiap pemeluk agama manapun didunia adalah takut untuk melakukan perbandingan agama secara mendalam, tidak berani membaca kitab-kitab semua agama, tidak berani bertanya kepada ahli agama yang bersangkutan, tidak berani berdiri diluar untuk melihat kedalam semua agama ( termasuk agama yang dianutnya ) untuk kemudian melakukan pencarian dengan hati, fikiran, PERASAAN DAN PENALARAN YANG MERDEKA. KALAU MAU JUJUR DALAM BERAGAMA, MAKA SIKAP INI HARUS DIAMBIL DAN DITERAPKAN, BARULAH KITA DAPT MEMPEROLEH IMAN YANG SEBENARNYA
10 TAHUN MELANGLANG BUANA, MENCARI KEBENARAN HAKIKI, DARI PAPUA SAMPAI SUMATRA, PULUHAN PENDETA, PASTOR, GURU AGAMA, KIYAI, USTADZ, DAN ROHANIAWAN DARI AGAMA HINDU, BUDHA DAN KONGHUCU YANG SAYA TEMUI,
RATUSAN BUKU, KITAB, MAJALAH, BULETIN, SERTA BEBERAPA VERSI KITAB SUCI YANG SAYA BACA, MENGANTARKAN SAYA PADA KEYAKINAN BAHWA SESUNGGUHNYA TIDAK ADA TUHAN YANG BERHAK DISEMBAH KECUALI ALLAH, YESUS ADALAH UTUSANNYA, MUHAMMAD ADALAH UTUSANNYA, AL-QOR’AN ADALAH KEBENARAN MUTLAK DAN ABADI. TIDAK PERCAYA??? BERANILAH BACA AL-QUR’AN.
SESUNGGUHNYA YESUS TIDAK SEKALIPUN DIA BERKATA BAHWA DIRINYA ADALAH TUHAN’ KARENA MEMANG DIA BUKAN TUHAN. APAKAH DIA PERNAH BERKATA BAHWA DIRINYALAH YANG MENCIPTAKAN SELURUH ALAM??? MENCIPTAKAN MANUSIA??? MENURUNKAN HUJAN, MEMBERI REZEKI, MENGHIDUPKAN DAN MEMATIKAN??? MENGETAHUI SEGALA YANG TAMPAK DAN TERSEMBUNYI???
TAPI ALLAH, TUHANKU BERBUAT ITU SEMUA. TIDAK PERCAYA??? BERANILAH BACA AL-QUR’AN.
Salam damai Roman,
Terima kasih atas tanggapannya tentang artikel "Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan." Dengan hormat, saya ingin menyarankan, bahwa sebaiknya dalam memberikan pesan jangan memakai huruf besar semua, karena di dalam internet, itu berarti seseorang menyampaikan pendapat sambil berteriak. Dan saya yakin tidak mungkin Roman yang ingin berdiskusi tapi melakukannya sambil berteriak. Hal tersebut mungkin karena salah pencet keyboard. Mari kita bersama-sama berdiskusi dengan hormat dan lemah-lembut.
Mari sekarang kita melihat beberapa keberatan Roman.
I. Tentang perbandingan agama
1) Saya ingin berterus terang, bahwa saya belum pernah membaca "secara langsung" beberapa Kitab Suci dari agama lain, seperti kitab suci dari agama Islam, Hindu, Budha, Konghucu, dll. Saya hanya membaca sedikit tentang perbandingan agama-agama tersebut. Karena Roman berkata bahwa Roman telah sepuluh tahun belajar begitu banyak dari buku, dari para cendikiawan, dan orang-orang terpelajar yang lain dalam pencarian kebenaran, dan pada akhirnya menemukan bahwa Al-Quran adalah yang terbaik, maka saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan berikut ini:
a) Karena dalam pencarian kebenaran, keselamatan kekal adalah begitu penting, maka saya ingin menanyakan kepada Roman tentang konsep keselamatan dari beberapa agama, seperti: Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Islam, sehingga Roman pada akhirnya menyimpulkan bahwa Al-Quran mempunyai kebenaran mutlak. Dari pemaparan Roman, maka nanti kita dapat mendiskusikan tentang satu topik ini.
b) Menurut Roman setelah mengadakan perbandingan agama, siapakah yang dapat masuk surga? Apakah penganut agama-agama lain dapat masuk surga? Jadi apakah penganut agama Kristen dapat masuk surga? Mungkinkah orang-orang seperti Mahatma Gandhi, Ibu Teresa dari Kalkuta dapat masuk surga?
c) Menurut Roman, apakah orang-orang baik yang telah meninggal, misalnya di Irian Jaya atau di pedalaman Kalimantan, namun mereka tidak sempat mengenal agama Islam, dapat masuk surga? dan apakah alasannya?
2) Mungkin Roman dapat menerangkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas dari pandangan beberapa agama, yang pada akhirnya Roman mengambil kesimpulan bahwa Al-Quran adalah yang mempunyai kebenaran mutlak. Saya berharap dari pertanyaan-pertanyaan di atas, maka kita dapat berdiskusi tentang konsep keselamatan ditinjau dari beberapa agama.
3) Namun saya menghargai akan saran dari Roman untuk membaca Al-Qur’an dan saya akan mencoba melakukannya di kemudian hari. Terimakasih atas sarannya.
II. Apakah Yesus adalah Tuhan?
Saya juga sedang berdiskusi dengan saudara J1lan tentang hal yang sama. Kalau mau silakan Roman memberikan tanggapan di sini (silakan klik). Namun sebelum memberikan tanggapan, silakan untuk membaca beberapa artikel tentang Kristologi:
"Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia."
Di dalam beberapa artikel tersebut, kami mencoba menjelaskan mengapa kami percaya akan Yesus sebagai Tuhan.
Mari kita bersama-sama berdialog dengan penuh hormat dan lemah lembut untuk bersama-sama mencari kebenaran. Mungkin pada akhirnya kita tetap pada pendirian kita masing-masing. Namun masing-masing pihak tahu, bahwa agama yang lain juga mempunyai alasan tentang kepercayaan masing-masing.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Setuju dengan pak Stef. Sdr Roman, saya pernah mempelajari Al Qur’an. Tidak hanya teks bukunya, namun juga sejarah terbentuknya. Saya pun masih menyimpannya baik-baik Al Qur’an saya. Namun saya menjadi Katolik karena menemukan kebenaran dan damai dalam ajarannya tentang Allah yang peduli pada manusia melalui Isa Al Masih dalam Rohul Kudus. Saya bernama Isa karena memang Isa Al Masih adalah kekuatan saya, dan Inigo (Ignatius Loyola) karena ia pendiri Ordo yang dinamai “Jesus”. Namun, saya tetap menghormati kaum muslimin dan menghargai Al Qur’an. Gereja Katolik pun mengakui bahwa ada percikan-percikan kebenaran dalam agama-agama lain termasuk Islam dan kitab sucinya Al Qur’an. Nah, pertanyaan saya, apakah Islam dan agama-agama lain pernah merumuskan seperti Konsili Vatikan II, mengenai pahamnya tentang agama-agama lain di era modern ini? Jika pernah, saya pun ingin tahu agar bisa menemukan kebenaran dengan lebih kaafah (menyeluruh). Saya menjadi Katolik justeru karena hanya Gereja Katolik-lah yang dengan rendah hati mengakui bahwa ada kebenaran di dalam agama-agama lain pula. Saya tidak menemukan dokumen dari agama-agama non Katolik, bahkan dari aliran-aliran Protestan tentang pandangan agama-agama itu terhadap agama lain. Terima kasih.
Salam
Isa Inigo
oh iya klo boleh saya berkomentar,, justru pernyataan sodara Isa Inigo, tentang pengakuan Gereja bahwa ada kebenaran dalam islam malah menguatkan keyakinan saya pada islam, saya heran sodara kenapa malah menjadikan itu alasan untuk masuk agama Katolik,,, maaf klo ada kesalahan, saya sangat senang hati klo anda juga ikut meluruskan,,,
Shalom Hamba Allah,
Gereja Katolik mengakui kebaikan dan kebenaran yang diajarkan oleh agama-agama lain, sebagai persiapan Injil. Selengkapnya, ajaran Gereja Katolik tentang keselamatan yang berkenaan dengan agama non-Kristen, tercantum dalam:
1) Lumen Gentium 16 (Konstitusi Dogmatik tentang Gereja- Vatikan II), sebagai berikut: "Akhirnya mereka yang belum menerima Injil dengan berbagai alasan diarahkan kepada Umat Allah[32]. Terutama bangsa yang telah dianugerahi perjanjian dan janji-janji, serta merupakan asal kelahiran Kristus menurut daging (lih. Rom 9:4-5), bangsa terpilih yang amat disayangi karena para leluhur; sebab Allah tidak menyesali kurnia-kurnia serta panggilan-Nya (lih. Rom 11:28-29). Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; diantara mereka terdapat terutama kaum muslimin, yang menyatakan bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat. Pun dari umat lain, yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran, tidak jauhlah Allah, karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (lih. Kis 17:25-28), dan sebagai Penyelamat menhendaki keselamatan semua orang (lih. 1Tim 2:4). Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal[33]. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, dipandang Gereja sebagai persiapan Injil[34], dan sebagai karunia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan. Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada Sang Pencipta (lih. Rom 1:21 dan 25). Atau mereka hidup dan mati tanpa Allah di dunia ini dan menghadapi bahaya putus asa yang amat berat. Maka dari itu, dengan mengingat perintah Tuhan: “Wartakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15), Gereja dengan sungguh-sungguh berusaha mendukung misi-misi, untuk memajukan kemuliaan Allah dan keselamatan semua orang itu."
2) Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 842: Hubungan Gereja dengan agama-agama bukan Kristen, terletak pertama kali dalam asal dan tujuan bersama umat manusia: "Semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir, yakni Allah, yang penyelenggaraan-Nya, bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan-Nya meliputi semua orang, sampai para terpilih dipersatukan dalam Kota suci" (Nostra Aetate, 1/ Deklarasi tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama Non- Kristen).
3) KGK 843: Gereja mengakui bahwa agama-agama lainpun mencari Allah, walaupun baru "dalam bayang-bayang dan gambaran". Ia memang belum dikenal oleh mereka, namun toh sudah dekat, karena Ia memberi kepada semua orang kehidupan, napas, dan segala sesuatu, dan Ia menghendaki agar semua manusia diselamatkan.
Maka, Gereja Katolik mengakui adanya kebenaran dalam agama lain, namun tidak mengaburkan ajaran Gereja bahwa kebenaran dalam agama lain itu dipandang sebagai ‘bayang-bayang atau gambaran’, sedangkan dalam agama Kristiani, kebenaran itu lebih jelas dan lengkap, dengan adanya iman kepercayaan kepada Sang "Kebenaran" yang menjelma menjadi manusia, yaitu Kristus Yesus. Karena di dalam Yesus Kristus, Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1: 14), kita dapat melihat gambaran nyata dari Allah yang tak kelihatan (lih. Kol 1:15), dengan seluruh kepenuhan-Nya (Kol 1:19), dan segala ajaran-Nya yang diterapkan sempurna di dalam kehidupan-Nya. Umat Kristiani percaya bahwa di dalam Kristuslah rencana keselamatan Allah digenapi, dan kita dapat memperoleh rahmat tersebut dengan Pembaptisan yang mempersatukan kita dengan Dia, dan dengan kesetiaan melaksanakan segala perintah-Nya.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan tentang ajaran Gereja Katolik tentang hubungannya dengan agama-agama bukan Kristiani.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati – http://www.katolisitas.org
Salam Saudaraku Hamba Allah. Saya bersyukur jika Anda mantap menjadi Islam yang baik. Namun saya menjadi Katolik karena di sini saya menemukan kepenuhan kebenaran. Gereja Katolik mengakui ada kebenaran pada agama-agama lain, namun Gereja Katolik mengakui imannya, bahwa kepenuhan kebenaran itu ada dalam iman Katolik. Sebenarnya, jika Islam mau mengakui hal yang sama seperti itu, akan sangat baik bagi dialog antar-agama dan usaha saling memahami demi perdamaian dunia. Namun, swampai saat ini hanya Gereja Katolik yang saya tahu melakukan itu. Saya akui bahwa memang dalam pengakuan iman Gereja Katolik-lah saya merasa paling tenteram. Jika Firman Allah menurut Islam, turun berupa kitab Al Quran, maka menurut iman Katolik, Firman itu turun menjadi manusia (Yoh 1) seperti saya dalam segala hal, selain dalam hal dosa. Seorang pastor pernah mengatakan Allahu Akbar , Ar Rahman Ar Rahim, Ia mau tinggal dalam rahim perempuan Siti Maryam. Saya jadi makin fokus menemukan jalan menuju Allah dengan berpola pada manusia Yesus itu. Praktek doa berkala, puasa, ziarah, korban dalam Islam sudah dibuat oleh Gereja sejak 6 abad sebelum Islam, sampai kini dan seterusnya. Maka Gereja mengakui hal yang baik dan kudus ada pula dalam agama Islam dan agama-agama lain (tak hanya Islam), namun Katolik memiliki semua praktek itu karena iman akan Kristus dalam Gereja yang didirikan dan dijaga oleh Kristus pula sang Kalimah Ilahi. Saudaraku Hamba Allah, dengan demikian saya mantap menjadi Katolik dengan tetap menghormati ajaran Islam. Wassalamu’alaikum: Isa Inigo
Kalo wujud pisiknya manusia yah manusia bukan TUHAN seperti yang dipersepsi oleh cerita Yohanes itu ? dan siapa yang bisa menjamin bahwa YESUS itu betul-2 TUHAN yang asli, karena YESUS tidak pernah menyatakan dan mengatakan bahwa dirinya itu TUHAN satu-2-nya, coba renungkan kembali hal ini ?
trims saudara saya
Salam damai saudari Ridhawati,
Terima kasih atas pesannya. Saya juga menerima pesan yang lain, namun tidak saya tampilkan, karena dulu pernah saya tampilkan disini (silakan klik) dan saya telah menjawabnya disini (silakan klik).
Dengan segala kerendahan hati, saya ingin menyarankan Ridhawati untuk membaca artikel-artikel tentang Kristologi disini: "Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia."
Setelah membaca artikel tersebut, maka kita dapat melanjutkan dialog kita.
Untuk pertanyaan yang baru ini, maka saya ingin menjawabnya:
I. Tuhan menjadi manusia adalah mungkin dan tidak bertentangan dengan sifat Tuhan yang Esa dan Kekal.
1) Ridhawati mengatakan "Kalo wujud pisiknya manusia yah manusia bukan TUHAN". Pertama, yang harus kita terima adalah Tuhan mampu untuk melakukan apa saja. Kalau Dia mampu untuk menciptakan alam semesta dan segala isinya, maka Dia juga mampu untuk menjadi manusia, kalau Dia menginginkannya.
Namun Tuhan tidak dapat mempertentangkan Diri-Nya sendiri, sebagai contoh, Dia tidak mungkin berdosa, karena Tuhan adalah kudus. Nah, sesuai dengan prinsip non-contradiction yang mengatakan "sesuatu tidak dapat ‘menjadi’ dan ‘tidak menjadi’ pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama", maka dengan Tuhan menjadi manusia, dalam diri Yesus, tidaklah bertentangan dengan Tuhan yang bersifat kekal. Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa dengan menjadi manusia, Tuhan berhenti menjadi Tuhan. Kalau Tuhan berhenti menjadi Tuhan, barulah itu bertentangan dengan Tuhan yang mempunyai sifat kekal.
2) Jadi sampai tahap ini, saya berharap minimal Ridhawati dapat menerima bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk menjadi manusia, kalau Dia mau, dan dengan menjadi manusia, maka Tuhan tidak mempertentangkan Diri-Nya sendiri. Pertanyaannya adalah mengapa Tuhan mau menjadi manusia?
II. Kenapa Tuhan mau menjadi manusia?
Saya telah menjawabnya dalam pertanyaan Ridhawati sebelumnya (silakan klik), dimana saya mengatakan:
Untuk menjawab keberatan Azwardini yang mengatakan bahwa Tuhan, Sang Pencipta tidak mungkin menjadi manusia, maka kami telah menulis dua artikel. Disinilah, dengan segala kerendahan hati, kami menyadari bahwa hanya dengan menggunakan akal budi, kami tidak dapat mengetahui bahwa Tuhan menjadi manusia kalau Tuhan sendiri tidak menyatakannya. Seperti yang Azwardini katakan, bahwa kita tidak dapat hanya menggunakan logika saja dalam menemukan Tuhan yang benar. Dalam hal ini, kami juga berpendapat sama. Jadi Sabda Allah atau "revelation"/wahyu memegang peranan yang begitu penting dalam pembuktiaan ini. Namun filosofi juga digunakan untuk membantu bahwa apa yang dilakukan Allah memang sungguh-sungguh ajaib dan membuka mata kami, bahwa Inkarnasi adalah perbuatan Tuhan yang begitu agung, besar, dan penuh kasih kepada umat manusia. Dengan inkarnasi ini, kami malah mengasihi Tuhan dengan lebih lagi, karena Dia yang terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya kepada kami dengan tak terbatas. Artikel tersebut dapat dibaca di:
Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.
Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi.
III. Yesus tidak pernah menyatakan bahwa dirinya Tuhan?
Saya telah menjawab pertanyaan ini disini (silakan klik), dimana intinya adalah sebagai berikut:
1) Yang menjadi permasalah di sini adalah pertanyaan yang diajukan mencoba memaksakan suatu bukti dengan cara yang kriteria yang dibuat sendiri, tanpa melihat bukti-bukti lain yang mendukung suatu pernyataan. Ini dapat digambarkan seperti seseorang berkata:
a) "Tunjukkan kepada saya, bahwa Bill Gates adalah orang kaya. Kalau dia tidak pernah mengatakan bahwa dia orang kaya, saya tidak akan percaya bahwa dia orang kaya." Pernyataan seperti ini tidak mendasar, karena kita dapat melihat buktinya bahwa Bill Gates mempunyai uang 58 milyar US$, yang kurang lebih sekitar 60% dari budget negara Indonesia tahun 2008. Organisasi amalnya mempunyai uang sekitar 32% dari total budget negara indonesia selama satu tahun. Kalau kita tetap bersikeras bahwa Bill Gates tidak kaya, karena Bill Gates tidak pernah mengatakan bahwa dia kaya walaupun bukti-bukti di atas sudah menunjukkan bahwa Bill Gates orang yang sangat kaya, rasanya keberatan seperti itu kurang dapat dipertanggungjawabkan.
b) Atau contoh yang lain, seorang anak mengatakan "saya tidak percaya bahwa orang tua saya mencintai saya, karena mereka tidak pernah mengatakan bahwa mereka mencintai saya." Namun orang tua dari anak itu, sebenarnya begitu memperhatikan, berlaku lemah lembut, selalu ada di samping anak itu kalau anak itu mengalami kesulitan, mencukupi semua kebutuhan anak itu, meluangkan waktu untuk bercanda, bercerita, dll.
c) Contoh yang mungkin lebih gamblang adalah seseorang yang bertanya kepada seorang suami dan mengatakan "Saya tidak akan percaya bahwa istri kamu adalah seorang wanita, karena dia tidak pernah mengatakan bahwa dia seorang wanita." Tentu saja sang suami tidak terpengaruh, karena sang suami tahu persis bahwa istrinya adalah seorang wanita, karena istrinya telah melahirkan beberapa anak, dll.
d) Begitu mudah orang untuk mengatakan bahwa "saya kaya, saya mengasihi engkau", namun belum tentu terbukti. Nah dalam hal ini, Tuhan kita yang menjelma menjadi manusia, telah menunjukkannya dalam segala perkataan dan juga dalam perbuatan, bahwa dia adalah Allah yang benar-benar mengasihi umat-Nya. Mana yang lebih besar tanda kasihnya "perkataan saya mengasihi engkau" atau "mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia"?
2) Namun Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan?
a) Ini adalah contoh bagaimana seseorang ingin memaksakan bahwa Bill Gates kaya hanya kalau dia pernah mengatakan bahwa dia kaya. Ini merupakan suatu argumen yang menurut saya kurang masuk diakal. Dengan mudah sekali orang berkata, bahwa saya adalah yang paling pintar di kelas, namun belum tentu dia benar-benar paling pintar di kelas. Namun kalau dia dapat membuktikan bahwa dia benar-benar mendapatkan nilai A dalam setiap ujian, dan nilainya paling tinggi di kelas itu, maka tanpa dia pernah mengucapkan bahwa dia paling pintar, orang akan mengakui bahwa dia paling pintar di kelas.
b) Inilah yang dilakukan Yesus, tanpa Dia berkata "Akulah Tuhanmu, dan sembahlah Aku saja," orang percaya kepada-Nya bahwa Dia Tuhan. Kenapa? Karena para nabi di Perjanjian Lama telah memberitakannya melalui ratusan nubuat. Kalau memang Tuhan tidak datang ke dunia ini, kenapa para nabi memberikan ratusan nubuat? Dan nubuat ini dipenuhi secara persis dalam diri Yesus. Tentang hal ini dapat dibaca di artikel ini. Tidak ada tokoh-tokoh agama lain yang kedatangannya diberitakan sebelumnya dengan ratusan nubuat.
c) Dan, di dalam kehidupannya, Yesus dalam beberapa kesempatan menyatakan ke-Allahan-Nya, baik dengan perkataan maupun dari mukjijat yang Dia lakukan. Tentang hal ini, dapat dibaca di artikel ini.
d) Jadi dapat disimpulkan bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa "Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja," namun dia menyatakannya dalam kesempatan yang berbeda-beda dan dalam perbuatan nyata. Orang mengatakan "Action speaks lauder than words."
Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Ridhawati. Mari kita bersama-sama mencari kebenaran, sehingga kita dapat sampai kepada kebenaran itu sendiri. Bagi orang Katolik, kebenaran ditemukan di dalam diri Yesus, yang mengatakan "Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup." (Yoh 14:6).
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Saudaraku Ridhawati, assalamualaikum. Menurut saya, pada Allah tak ada yang mustahil. Jika Islam mengakui Al Quran sebagai abda ALlah (Kalam Ilahi) Sabdanya jadi kitab Al Quran, maka bagi kami, Ia jadi manusia (Yohanes 1). Maka Ia adalah sungguh Tuhan (dalam bahasa Jawa “Gusti” atau “Pangeran”). Namun tidak seperti “Gusti” atau “Pangeran” seperti gelar kebangsawanan di kraton Yogya dan Solo, Kristus adalah bersifat insani dan ilahi sekaligus. Ia tetap Tuhan, Gusti, Pangeran dalam arti ilahi karena kebangkitanNya dari alam maut. Bahkan maaf kalau salah minta diluruskan, Al Quran mengakui bahwa Ia tidak mati disalibkan (walaupun ini tidak sama dengan iman Katolik, dan akan datang lagi menghakimi bumi. Kelahirannya yg istimewa dicatat pula dlm Quran. Wassalam: Isa Inigo
Shalom Stef & Ingrid.
Terima kasih atas responnya.
Tadi pagi sebelum berangkat kerja saya baca Alkitab, khususnya Kisah Para Rasul.
Dari bacaan Kis. 2: 36. Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
Pertanyaan saya : Kenapa Allah membuat Yesus menjadi Tuhan, padahal kita mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan. Mohon pencerahannya.
Saya juga akan berdoa agar website ini dapat membawa kemuliaan bagi nama Tuhan’. GBU
[Dari katolisitas.org - kami memindahkan pertanyaan ini dari "Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah?" ke artikel "Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?, sehingga diskusi dapat terkoordinasi sesuai dengan tema]
Shalom Singodimejo,
Kis 2:14-36 merupakan kotbah Petrus yang pertama dan menjadi suatu kesaksian yang begitu indah dan sekaligus mempunyai kekuatan yang begitu besar, yang mampu untuk membaptis tiga ribu orang pada saat itu juga. Dan hal ini disebabkan karena Roh Kudus, yang berkarya setelah kematian Tuhan Yesus di Salib. Dan Yesus merupakan kepenuhan dari janji Allah, seperti yang telah diberitakan di dalam Perjanjian Lama. Oleh karena itu, dalam perikop ini, kita melihat dimensi Tritunggal Maha Kudus atau Trinitas.
Jadi pada waktu Kis 2:36 mengatakan bahwa "Allah membuat Yesus menjadi Tuhan", ada dua hal penting yang dapat kita simpulkan:
1) Petrus mengingat perkataan Yesus sendiri di Matius 28:18, yang mengatakan "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." Dan dengan Petrus mengatakan "Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus," ini berarti segala kekuasaan berada pada Yesus, atau Yesus sendiri adalah Tuhan. Jadi dalam pengertian ini, menjadikan bukan merujuk kepada hakekat dari Yesus, namun ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang mempunyai segala kuasa di surga dan di bumi (Lih Yoh 3:35). Ini juga ditegaskan oleh rasul Paulus yang mengatakan bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan dan diletakkan di bawah kaki-Nya (Lih 1 Kor 15:27; Ef 1:22; Ibr 2:28).
2) Kalau kita mau melihat perikop ini secara keseluruhan, yaitu dari Kis 2:14-36, maka kita dapat mendiskusikannya dalam konteks Trinitas. Kepercayaan akan Trinitas ini, secara jelas dikatakan dalam syahadat panjang atau syahadat Nicea, "…Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang. Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa." (Lihat KGK, 242). Dalam perikop ini dijelaskan, bagaimana Petrus mengatakan bahwa Allah sendiri yang telah berbicara dengan perantaraan para nabi di Perjanjian Lama akan adanya Mesias, yang terpenuhi dalam diri Yesus. Setelah Yesus menjalankan misi-Nya di dunia ini dengan menebus dosa manusia dengan kematian-Nya di kayu salib, maka Dia mencurahkan Roh Kudusnya kepada manusia, yang terwujud secara nyata pada hari Pentakosta. (Pembahasan Trinitas akan ditulis dalam artikel tersendiri, sehingga penjelasannya dapat lebih lengkap).
Semoga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan Bapak. Dan mari kita semakin percaya kepada Yesus, Putera Allah, yang mempunyai segala kuasa di bumi dan di surga, karena memang Yesus adalah Tuhan.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
aku hanya percaya sama satu orang yaitu tuhan yesus kristus yang telah menebus segala dosaku aku telah berutang budi padanya jadi aku gak akan menyiayiaka kebaikannya. hanya kepadamu tuhan aku mengucap syukur dan permohonan maaf.
Hi mawarni,
Terimakasih untuk komentarnya. Memang yang menebus seluruh umat manusia adalah Tuhan Yesus. Oleh karena itu doa dan permintaan maaf hanya ditujukan kepada Yesus. Dan untuk membalas kasih-Nya yang tak terhingga, kita bersama-sama harus mengasihi Yesus dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan kita yang diwukudkan dalam kasih kepada sesama (1 Yoh 4:21).
Untuk membuktikan bahwa kita mengasihi Yesus, kita harus menjalankan perintah-perintah-Nya. (1 Yoh 5:2-3) Dan perintah-perintah-Nya adalah termasuk Sakramen Permandian untuk menerima rahmat kekudusan dan keselamatan, cara pujian dan penyembahan tertinggi dalam Ekaristi, pengampunan Tuhan yang tercurah dalam Sakramen Pengampunan Dosa, dan juga menerima berkat-berkat selanjutnya dalam sakramen-sakramen yang lain. Kita juga harus mengasihi Gereja-Nya. Jika Gereja adalah tubuh Kristus dan dan Kristus adalah Kepalanya (Ef 5:23), maka kita hanya dapat mengasihi Kristus secara penuh dengan juga mengasihi tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dan Gereja ini adalah Gereja Katolik (silakan membaca: Mengapa kita memilih Gereja Katolik dan juga rangkaian tulisan tentang Gereja).
Dan mari kita bersama-sama mengasihi Yesus.
Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
stef
Mawarni,
Jika saudara percaya dengan Kristus yang menebus dosa manusia yang adalah Kepala Gereja, mengapa tidak percaya dengan Tubuh Mistik Kristus – dalam hal ini adalah Gereja Katolik ?
sangat aneh jika anda mengakui Kepala tp tidak mengakui Tubuh nya. bukankah kepala itu menjadi satu dengan tubuh? tanpa kepala tubuh akan mati. dan satu2 nya tubuh kristus adalah Gereja Katolik
Saya bisa mengatakan dengan JELAS bahwa Gereja yang adalah Tubuh Mistik Kristus yang adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas Petrus. dan di teruskan oleh penerus st. Petrus yang adalah bapa Paus. selain itu adalah gereja buatan tangan manusia.
Dan Tuhan Yesus sudah berjanji bahwa akan menyertai hingga akhir jaman. bukankah sudah terbukti? Betapapun byk rintangan dan halangan, sampai saat ini – selama 2000 tahun. gereja Katolik tetap berdiri kokoh dan tetap dengan pengajarannya yang sama tidak pernah berubah dengan kepimpinan yang tidak pernah putus oleh Bapa Suci.
apakah ada yang bisa mengklaim gereja di luar Katolik yang bs bertahan sedemikian lama dengan pengajaran yang tetap sama,konsisten ?
mintalah kepada Roh Kudus supaya anda terus di bimbing dalam mencari Kebenaran yang sejati.
Salam,
Rein
Salam damai Total_revolt,
Terima kasih atas kunjungannya ke website ini, dan memberikan komentar dari artikel yang diambil dari liberation youth. Terus terang saya tidak tahu maksud dari Total_revolt untuk memberikan artikel ini, karena tidak disertai dengan maksud dari pengambilan tulisan ini. Namun, karena tulisan ini di copy and paste di dalam website ini, maka saya akan mencoba menanggapinya.
1) Dari website ini (silakan klik), saya mencoba melihat arti apakah sebenarnya kufur, dan didefinisikan sebagai "tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya". Jadi dari judul dari artikel tersebut adalah "ketidakberimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, memodernisasi dirinya menjadi sesuatu yang ilmiah di atas fikiran yang rational". Dimana dikatakan bahwa Kalangan pelajar umat Muslim adalah potensi terbesar untuk membangun peradaban ilmiah, namun kalangan ini terpuruk karena pengaruh dari dunia Barat. Dan sebenarnya Islam mempunyai jawaban, dan Islam tidak pernah mati, dan suatu saat Islam akan mendominasi dunia. Dan Islam juga melingkupi seluh aspek kehidupan, termasuk kehidupan di dalam kampus, kehidupan bernegara, dll.
2) Sebenarnya ketidakberimanan memodernisasikan dirinya dengan mengambil beberapa bentuk, seperti: rationalism (yang percaya bahwa akal budi lebih tinggi daripada iman), subjectivism (yang percaya bahwa tidak ada suatu kebenaran yang mutlak), dll. Pada tahap ini , saya tidak terlalu jelas akan maksud penulis dengan definisi kufur/tidak beriman. Apakah dalam kategori termasuk semua orang yang di luar agama Islam, yang berarti agama-agama yang percaya akan satu Tuhan, seperti agama Kristen dan agama Yahudi? Apakah tidak beriman maksudnya adalah orang-orang yang hanya mengandalkan pikiran manusia (rational) tanpa sampai kepada Tuhan? karena kalau maksudnya yang terakhir berarti maksud dari tulisan ini adalah "rationalism", yang menempatkan akal budi di atas iman, memodernisasikan dirinya menjadi sesuatu yang ilmiah namun tidak rasional lagi (di atas pikiran yang rasional).
Tentu saja karena saya mempunyai iman yang berbeda dengan iman yang dianut oleh agama Islam, maka ada beberapa hal yang saya tidak setuju dengan pendapat tersebut. Namun saya setuju bahwa umat beriman yang menganut agama tertentu tidaklah terbatas hanya beragama pada hari Jumat/Minggu, namun lebih dari pada itu harus masuk di dalam kehidupan sehari-hari dari umat beriman, baik di dalam kantor, kampus, dll. Di dalam iman Katolik, ini ditunjukkan dengan hidup kudus, yaitu kasih kepada Tuhan dan kasih terhadap sesama yang didasarkan kasih kepada Tuhan. Apakah ada umat Katolik yang tidak menjalankan hal ini? tentu saja ada, sama seperti umat dari agama lain yang sebagian umatnya tidak menjalankan apa yang diperintahkan oleh agamanya masing-masing. Tentu saja saya setuju bahwa sebagai umat beriman kita tidak boleh mengumbar nafsu, bahkan di dalam iman Katolik dikatakan bahwa kita juga berdosa kalau kita gagal berbuat baik kepada sesama padahal kita mampu untuk melakukannya.
3) Dikatakan bahwa Islam adalah agama yang praktis dan aplikatif, tidak seperti dari peradaban Barat, dimana tidak ada kesatuan antara yang ada di kepala (pikiran) dan badan, bahkan dikatakan bahwa pikiran dapat melayang ke surga atau neraka walaupun badan ada di gereja.
a) Dari kalimat tersebut di atas, maka saya menarik kesimpulan bahwa penulis mencoba mengungkapkan bahwa ada yang tidak terjembatani antara apa yang ada di pikiran dengan badan dari pemeluk agama Kristen. Namun pertanyaan ini tidaklah mendasar, karena agama Katolik tidak pernah mengajarkan seperti itu. Di dalam ajaran Katolik, kita percaya bahwa apa yang kita ketahui, kita imani, harus kita jalankan. Dikatakan bahwa umat Kristen percaya dan mengasihi Kristus kalau kita menjalankan semua perintah-Nya. Di dalam iman Katolik, kita mengetahui bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan, dimana jiwa adalah lebih utama (superior) dibandingkan dengan badan, karena jiwa adalah "the first principle of life" dan karena jiwa adalah bersifat selamanya (eternal) sedang badan kita bersifat sementara. Dari dari sini kita tahu bahwa badan kita harus tunduk kepada jiwa kita, sama seperti yang "inferior" (lemah) tunduk kepada "superior" (utama). Kita mempunyai jiwa yang bersifat spiritual, karena manusia mempunyai akal budi (intellect) dan keinginan (will), dimana menjadi kodrat dari intellect dan will untuk mengetahui dan mengasihi penciptanya, atau Tuhan.
b) Tentu saja tidak ada yang dapat membantah bahwa apa yang menjadi aktivitas tubuh diakibatkan oleh apa yang ada di dalam atau jiwa. Jadi ke duanya berhubungan. Namun mengambil contoh orang yang ke Gereja, namun pikirannnya melayang-layang dan mengatakan bahwa ini adalah konsep dari kekristenan, saya rasa tidak dapat dipertanggungjawabkan, karena semua umat beragama dari manapun dapat melakukan hal yang sama: pada saat berdoa, pikiran dapat melayang ke mana-mana.
c) Tentang Surga: dimana dikatakan, di dalam kehidupan Surga, maka seseorang merasakan kenikmatan kepala (spiritual) dan juga badani. Dan Surga seperti ini menjadi tempat tinggal orang-orang yang menerima Islam secara keseluruhan.
Untuk konsep keselamatan menurut Gereja Katolik, silakan melihat jawaban disini (silakan klik).
Di dalam iman Katolik, Surga adalah suatu kebahagiaan abadi, dimana kita dapat mengenal (operasi akal) dan mengasihi (operasi keinginan) Tuhan sebagaimana adanya Dia. Karena spiritual (intellect and will) lebih tinggi dari pada badan, maka kebahagian yang bersifat spiritual lebih tinggi derajatnya daripada yang bersifat badani. Oleh karena itu, kebahagiaan di Surga bukanlah kenikmatan badani (" senses"), namun adalah kebahagiaan yang bersifat spiritual. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada saat seseorang telah menerima kebahagiaan yang lebih tinggi, maka seseorang tidak perlu kembali kepada kenikmatan sementara.
Kita mengalami hal ini di dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat kita merasakan lapar, maka badan dipuaskan dengan adanya makanan yang disantap. Namun kemudian akan lapar lagi, dan akan mendapatkan kebahagiaan lagi kalau dipuaskan. Jadi kenikmatan badani bersifat sementara.
Berbeda dengan kebahagiaan spiritual yang bersifat selamanya. Sebagai contoh dalam kadar yang sangat sederhana: kalau kita mempunyai kenangan yang indah dengan ibu kita, dan ibu kita telah meninggal, kenangan itu akan terus berbekas di dalam hati kita. Kita tetap terikat di dalam kasih antara seorang anak dan seorang ibu. Contoh yang lain: ikatan antara manusia dengan Tuhan, dimana kita masih dapat tersenyum dalam kesulitan kita, karena mengingat Tuhan yang begitu mengasihi kita. Oleh karena itu sangat jelas, bahwa kenikmatan badan bersifat sementara dan derajatnya lebih rendah daripada kebahagiaan yang bersifat spiritual.
Karena Surga adalah suatu kebahagiaan yang abadi dan selamanya dan tidak terputus, maka tidak mungkin terpenuhi oleh kenikmatan badani yang bersifat sementara. Hanya kebahagiaan spiritual yang dapat memenuhinya. Pada saat kita melihat Tuhan muka dengan muka, maka yang lain tidak diperlukan lagi.
Dalam Gereja Katolik, Surga sering digambarkan sebagai suatu perjamuan. Namun kita tahu bahwa ini hanyalah suatu gambaran dari suatu kebahagiaan yang sempurna. Jadi bukan seperti gambaran kita di dunia ini, dimana perjamuan dipenuhi dengan makan dan minum. Jadi mungkinkah dapat direnungkankembali konsep surga menurut agama Islam? Yang digambarkan sebagai suatu kebahagiaan badani dapat dilihat sebagai suatu analogi yang menggambarkan akan kebahagiaan yang lebih tinggi, jauh lebih tinggi daripada kebahagiaan badan yang kita kenal di dunia ini, yang akhirnya akan mengarah kepada kebahagiaan spiritual?
4) Obyektifitas dan perjuangan menggapainya:
Saya terus terang tidak terlalu menangkap apa yang diinginkan penulis pada tahap ini dan saya tidak dapat menangkap hubungannnya dengan argumentasi sebelumnya. Saya tidak melihat pemaparan tentang bagaimana ketidakberimanan dapat disajikan secara ilmiah dan rational, seperti judul tulisan tersebut. Kalau yang dimaksudkan adalah hubungan antara iman dan akal budi, maka Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman dan akal budi tidaklah bertentangan, karena keduanya penting untuk membawa manusia kepada kebenaran yang sejati, yaitu Tuhan. Aristoteles menunjukkan kepada kita, bahwa hanya dengan akal budi, maka manusia dapat mencapai pengetahuan bahwa Tuhan adalah Esa. Iman dan akal budi tidak bertentangan, karena keduanya bersumber pada Tuhan. Pembuktian akan keberadaan Tuhan yang satu dapat dibaca di tulisan ini (silakan klik). Beriman atau tidak beriman diberi kemudahan, sehingga mereka memperoleh apa yang mereka inginkan.
Dalam iman Katolik, Tuhan mencoba dengan segala cara untuk memberikan berkat-berkat-Nya, sehingga manusia dapat menjawab panggilan Tuhan. Tuhan begitu mengasihi kita, sehingga Dia tidak membiarkan kita sebagaimana adanya kita, namun Tuhan ingin mengangkat derajat kita. Dan inilah hakikat dari Inkarnasi, dimana kasih dan belas kasih Tuhan dinyatakan dengan sempurna dalam pengorbanan Yesus di kayu salib, sehingga manusia mendapatkan keselamatan. Melalui Inkarnasi Kristus, maka Allah menjelma menjadi manusia, agar ‘mengangkat’ manusia kepada Allah. Lebih jauh tentang Inkarnasi, dapat dibaca pada artikel ini (silakan klik)
Dan Gereja Katolik mempercayai bahwa Tuhan telah memberikan rahmat yang cukup bagi setiap orang, termasuk bagi semua orang dari agama lain, sehingga kalau seseorang tidak menjawab panggilan Tuhan, maka itu adalah kesalahan manusia, karena dengan kehendak bebasnya, manusia menolak Tuhan.
Demikian tanggapan singkat yang dapat saya berikan. Kita tahu dari awal, bahwa kita mempunyai pandangan dan iman yang berbeda. Mari dalam perbedaan ini, kita sama-sama berjuang untuk hidup berdasarkan kasih dan kebenaran, sehingga kita dapat menyenangkan Tuhan, yang pada akhirnya akan menuntun kita kepada kebahagiaan sejati.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
[Dari admin: saya pindahkan pesan ini ke artikel: Mengapa Oang Kristen Percaya bahwa Kristus adalah Tuhan).
Pengantar Imanologi
by. liberation youth
“Kekufuran memodernisasi dirinya menjadi sesuatu yang ilmiah diatas fikiran yang rasional”
Kalangan terpelajar dari umat ini adalah harapan terbesar bagi peradaban Islam untuk bangkit kembali. Ruang akademik sebagai basis intelektual dan core competancy ilmu-ilmu Islam merupakan tempat yang paling potensial untuk memulai membangun peradaban ilmiah. Sebab kadar kemajuan sebuah masyarakat di ukur oleh intelektualitas kaum terpelajarnya.
Kaum muslimin yang kini tengah terpuruk, terjelembab dalam lubang kegelapan seolah merindukan renaissance yang pernah dialami oleh Barat. Apa yang sebenarnya di butuhkan, dan apa yang sebenarnya terjadi? Padahal Islam tidak pernah mengalami kematian, sehingga tak perlu di lahirkan kembali. Karena“Akan senantiasa ada segolongan dari ummat-ku yang berperang di atas al-haq...” maka permasalahannya adalah bagaimana men-dzohirkan golongan (minoritas) tersebut.
Al-Islam ya`lu wala yu`la alaihi. Islam itu agung dan tetap agung, dari awal mulanya, hingga kini. Tapi bagaimana dengan umat-nya? Bagaimana dengan generasi mudanya dan kalangan terpelajarnya. Kita yakin akan sunnah kauny yang menyatakan bahwa peradaban itu dipergilirkan. Kita juga yakin bahwa Islam akan kembali mendominasi dunia (Idzharudien).
Kenyataan bahwa pengusung al-haq (baca : islamic standard) adalah minoritas pada saat ini telah di kabarkan oleh Rosululloh. Banyak dalil-dalil yang menegaskan, baik dalil naql maupun aql.
Akademisi bebas hukum
Sudah maklum bagi sistem hukum negara ini, bahwa kampus merupakan basis intelektual, kebebasan berfikir, berpendapat dan bersuara. Karenanya siapapun boleh berkata apa pun. Siapa pun boleh berpendapat apapun, tanpa harus takut terkena sangsi represif dari rezim. Ini aksioma yang disepakati secara umum. Bahwa sistem politik dan hukum tak berlaku di dalam kampus.
Lantas bagaimana dengan sistem agama (hukum agama, sangsi agama, dll)? Apa masih berlaku aksioma kebebasan diatas? Mari kita lihat Undang-undang agama kita.
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu k edalam Islam secara kafah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaiton [Al-Baqoroh:208]
Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam, tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”. [Al An' aam: 162-163]
Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah (Subhanahu wa Taala), maka Allah (Subhanahu wa Taala) menghapuskan segala amal perbuatan mereka. [Muhammad : 9].
Sesungguhnya, Islam melingkupi seluruh aspek kehidupan. Tidak ada rukhsoh kecuali untuk kebodohan dan kelemahan. Apa yang tertera dalam transaksi dan perjanjian Islam, akan tetap memberikan konsekuensi pada siapa yang berada dalam naungan transaksi tersebut.
Jika dalam framework negara, kampus bebas nilai maka dalam framework agama tidaklah demikian. Seorang muslim tidak di perkenankan untuk melakukan diskusi tanpa implementasi, atau untuk berpendapat secara bebas atau berkata sekehendak nafsunya. Hawa nafsu tidak boleh ada di kampus, sebab ia hanya pantas ada di neraka.
Ilmu Iman versus Ilmu Kufur
Sudah mafhum dalam khazanah Islam, bahwa setiap ilmu menuntut pengamalan. Karenanya ilmu-ilmu Islam hampir seluruhnya bersifat praksis dan aplikatif. Tidak ada tradisi olah fikir (semata), atau onani intelektual yang biasa kita lakukan. Tidak ada diskusi, kecuali untuk implementasi. Karena apa yang diterima al-qalb, diterima oleh badan. Apa yang ada pada qoul akan ada pada `amal.
Berbeda dengan ilmu yang lahir di peradaban ‘tempat tenggelamnya matahari’. Apa yang ada di (dalam) kepala adalah untuk kepuasan kepala. Tidak berkaitan sama sekali dengan gerak tangan dan badan. Badan boleh di gereja, tapi kepala tidak mesti. Karena kepala punya kebebasan yang tak terbatas. (Isi) Kepala boleh saja pergi ke surga atau ke neraka, saat badan dan tangan ada di dalam tempat ibadah.
Islam menyeru manusia menuju Taman Firdaus secara keseluruhan. Taman kenikmatan yang dapat di rasakan kepala, tangan dan badan secara bersamaan. Taman yang akan menjadi tempat tinggal orang-orang yang menerima Islam secara keseluruhan. Taman yang memiliki segala kenikmatan, berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh manusia modern tentang surga.
Objektifitas dan perjuangan menggapainya
Sampai disini jelas, bahwa tidak hanya dengan berilmu kita menjadi beriman. Tidak sedikit orang yang ingkar justru setelah mendapat ilmu. Sekali lagi perlu di ingat bukan hanya ketidaktahuan yang membuat seseorang menjadi ingkar. Karena sebagaimana kita maklumi, iman dan kufr tidak di ukur dari sejauh mana pengetahuan yang di miliki.
Kita bisa melihat betapa ilmiah dan rasionalnya kekufuran pada hari ini. Secara empirik, setiap pihak yang mengusung peradaban akan mewujudkan tradisi ilmiah. Disisi lain, ada kisah tentang orang-orang beriman yang hampir kehilangan tradisi ilmiahnya. Jadi, bukan hanya iman yang menuntut tradisi ilmiah dan objektifitas.
Pada akhirnya, baik iman atau kufur, kedua pengusunganya akan diberi kemudahan untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah ia kuasainya itu”. Namun demikian, kita harus sadar bahwa hidup ini adalah perjuangan, dan menjadi kafir pun butuh perjuangan. Sebab hidup adalah pilihan, maka tentukan pilihan Anda sekarang juga. Mau bagimana lagi; iman atau kufur. Hanya itu!