Patokan bagi Para Katekis

1

Dewasa ini para katekis memainkan peran yang sangat penting dalam hal evangelisasi. Paus Yohanes Paulus II menegaskan tentang hal ini dalam surat ensikliknya Redemptoris Missio, dan dalam pesannya kepada Plenary Assembly, mengatakan bahwa dalam daerah-daerah misi, peran katekis merupakan sesuatu kontribusi yang mutlak dan penting untuk penyebaran iman dan Gereja.[1]

The Congregation for the Evangelization of Peoples (CEP) mempunyai perhatian tentang para katekis, dan mengeluarkan dokumen yang berjudul, Guide for Catechists (GC), 1993, untuk teks selengkapnya dalam bahasa Inggris, klik di sini. Berikut ini adalah ringkasannya:

1. Katekis: mempersiapkan para katekumen dan pertumbuhan iman mereka

CEP mengakui adanya ke-efektifan keberadaan para katekis awam. Mereka berperan untuk mempersiapkan para katekumen untuk menerima Baptisan dan bertumbuh di dalam hidup Kristiani melalui penyampaian ketentuan-ketentuan religius, persiapan sakramen, doa dan perbuatan kasih.

2. Asal usul panggilan sebagai seorang katekis

Asal usul panggilan sebagai seorang katekis adalah panggilan dari Roh Kudus yang mereka terima dalam sakramen Baptis dan Krisma.[2] Atas panggilan ini umat beriman dapat terpanggil untuk turut membangun Gereja dan melibatkan diri dalam kegiatan misi.

3. Katekis: anggota Gereja dengan formasi yang layak dan teladan iman

Melalui pewartaan ajaran Kristiani, pendampingan kepada para katekumen dan mereka yang baru saja dibaptis menuju kedewasaan iman Kristiani, peran para katekis mencakup kehadiran maupun kesaksian hidup, dan keterlibatan mereka dalam perkembangan iman, inkulturasi dan dialog, sehingga nilai-nilai Injil dapat tertanam di daerah misi tersebut.[3]

Paus Yohanes Paulus dalam surat Ensikliknya, Redemptoris Missio, menyebutkan bahwa “para katekis adalah “para pekerja yang khusus, para saksi iman yang langsung, para evangelis yang tak tergantikan, yang mewakili kekuatan dasar komunitas Kristiani ….” Kitab Hukum Kanonik menyebutkan bahwa para katekis adalah “anggota umat beriman yang telah menerima formasi yang layak, dan teladan dalam hal menghidupi kehidupan Kristiani. Di bawah arahan para misionaris, mereka menghadirkan Injil dan terlibat dalam penyembahan liturgi dan karya belas kasih.”[4]

4. Katekis: pendidik iman yang juga adalah saksi iman

Para katekis bertugas untuk mendidik para katekumen untuk menerima sakramen inisiasi, baik kepada orang muda, maupun dewasa; membantu mengadakan retret maupun pertemuan sehubungan dengan katekese. Para katekis dapat terdiri dari orang tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, dan ini berpengaruh kepada penugasan mereka…. Orang-orang dewasa yang menikah yang menjadi katekis memberikan kesaksian tentang nilai-nilai perkawinan Kristiani.[5]

5. Walaupun jumlah katekis tidak banyak, namun tetap kualitas katekis perlu dicapai

Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Untuk pelayanan pengabaran Injil yang mendasar, diperlukan jumlah pekerja. Namun demikian, walau kita berusaha mencapai jumlah katekis, kita tetap harus berusaha untuk mencapai kualitas para katekis.[6]

Paus mengatakan bahwa: “Seorang misionaris yang sejati adalah seorang yang kudus”, dapat diterapkan kepada seorang katekis. Seperti setiap anggota jemaat, para katekis “dipanggil kepada kekudusan dan misi”, yaitu untuk menghidupi panggilan hidup mereka “dengan semangat para santo/a”….Bagi para katekis yang menikah, kehidupan perkawinan mereka merupakan satu kesatuan dengan kehidupan rohani mereka. Para katekis yang menikah diharapkan untuk memberikan kesaksian secara terus menerus terhadap nilai Kristiani tentang perkawinan, menghidupi sakramen dalam kesetiaan penuh dan mendidik anak-anak mereka, dengan penuh tanggung jawab.”[7]

6. Katekis: menunjukkan kesesuaian dan kesejatian hidup

Karya para katekis melibatkan keseluruhan diri mereka. Sebelum mereka mengajarkan Sabda Allah, mereka harus memilikinya sendiri dan hidup sesuai dengan Sabda-Nya. Kebenaran hidup mereka meneguhkan pesan yang mereka ajarkan. Adalah sesuatu yang menyedihkan, jika mereka tidak “melaksanakan apa yang mereka ajarkan” dan mereka mewartakan Tuhan yang mereka ketahui secara teoritis, tetapi yang dengan-Nya mereka tidak mempunyai kontak sama sekali.[8]

7. Katekis: mempunyai semangat misioner

Para katekis diharapkan juga untuk mempunyai semangat misioner untuk memperkenalkan Kristus kepada mereka yang belum mengenal-Nya. Dengan demikian mereka menjadi perpanjangan tangan Kristus yang berkehendak menjangkau mereka ke dalam kawanan domba-Nya (lih. Yoh 10:16); dan dengan demikian melaksanakan kehendak Yesus agar Injil diwartakan kepada segenap mahluk (lih. Mrk 16:15). Para katekis diundang untuk mempunyai semangat seperti Rasul Petrus dan Paulus, yang tak dapat berbuat lain kecuali mewartakan Kristus (lih. Kis 4:20), sebab “kasih-Nya menguasai kami” (2 Kor 5:14). Maka para katekis harus mempunyai semangat misionaris yang tinggi, yaitu semangat yang lebih efektif jika mereka yakin tentang apa yang mereka wartakan, mereka antusias dan berani, tanpa malu mewartakan Injil (lih. Rm 1:16). Sebab dari pengenalan akan Kristus muncullah hasrat untuk mewartakan Dia, agar semakin banyak orang menerima Kristus dan mengimani-Nya.

Para katekis dipanggil untuk menjadi gembala yang mencari dombanya yang sesat sampai menemukannya (lih. Luk 15:4), atau seorang wanita yang mencari koinnya yang hilang sampai menemukannya kembali (Luk 15:8). Atau seperti Rasul Paulus, mau mengusahakan berbagai cara untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus (lih. 1Kor 9:22-23; 2Kor 12:15), dan menganggap bahwa pewartaan Injil merupakan suatu keharusan (lih. 2Kor 9:16).

Akhirnya, otentisitas dari semangat misioner adalah semangat salib. Sebab Kristus yang diwartakan, adalah Kristus yang disalibkan (1Kor 2:2), yang menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang Yunani (1Kor 1:23), tetapi juga adalah Kristus yang bangkit pada hari ketiga (lih. Kis 10:40); sehingga Kristus yang tersalib ini menunjukkan hikmat dan kekuatan Tuhan (lih. 1Kor 1:24). Maka misteri kematian dan kebangkitan Kristus ini yang harus diwartakan agar menjiwai kehidupan umat beriman, menjadi kekuatan di saat menghadapi kesulitan, penderitaan, masalah keluarga, hambatan-hambatan dalam karya kerasulan tatkala mereka berjuang untuk mengikuti Kristus. Dengan demikian para katekis mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, demi Tubuh-Nya, yaitu Gereja (lih. Kol 1:24).[9]

8. Kriteria dasar katekis: iman yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari

Ketentuan umum untuk kriteria dasar sebagaiĀ  seorang katekis adalah bahwa ia mempunyai motivasi yang positif, bukan sekedar melakukan pekerjaan itu karena tidak ada lagi pekerjaan lain. Kualitas positif yang harus dimilikinya adalah bahwa mereka mewujudkan iman dalam kesalehan dan kehidupan mereka sehari-hari; dalam kasih kepada Gereja dan persekutuan dengan para imam, mempunyai semangat kerasulan dan misionaris, kasih kepada sesama saudara dan keinginan untuk melayani dengan murah hati, mempunyai pendidikan yang cukup; menghormati komunitas, dan memiliki kualitas yang disyaratkan sebagi seorang katekis: dalam hal kemanusiaan, moral dan teknis, seperti pribadi yang dinamis, mampu berelasi yang baik dengan sesama, dst.[10]

9. Formasi umum dan khusus bagi para katekis

Dokumen Magisterium mensyaratkan formasi secara umum maupun khusus bagi para katekis. Secara umum: mempunyai karakter dan kepribadian yang sesuai, yang perlu terus dikembangkan; dan secara khusus, formasi untuk tugas-tugas tertentu yang perlu ditambahkan, seperti mewarta baik kepada sesama umat Kristiani ataupun yang non-Kristiani, kemampuan untuk memimpin komunitas, memimpin doa-doa liturgis, membantu di berbagai hal dalam hal rohani maupun jasmani. Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Mencanangkan standar yang tinggi maksudnya adalah menyediakan pelatihan mendasar dan menjadikannya terus ‘updated’. Ini adalah tugas mendasar, agar menjamin orang-orang yang berkualitas bagi misi Gereja, dengan pelatihan yang baik, mencakup formasi manusiawi, rohani, doktrin, kerasulan dan profesional.”[11]

10. Dasar formasi katekis yang terpenting: kehidupan rohani yang mendalam

Untuk dapat mendidik orang lain tentang iman, para katekis sendiri harus mempunyai kehidupan rohani yang mendalam. Ini adalah aspek yang terpenting dari kepribadian para katekis, dan karena itumerupakan hal yang terpenting dalam formasi katekis (baik katekis full-time/ purna waktu maupun katekis paruh waktu). Katekis yang sejati adalah seorang yang kudus.[12]

Cara yang terbaik untuk mencapai kedewasaan rohani adalah kehidupan sakramental dan kehidupan doa yang mendalam, yang diperoleh melalui:

1. penerimaan Ekaristi yang regular, bahkan setiap hari, untuk meimba kekuatan dari Kristus Sang Roti Hidup (Yoh 6:34), untuk membentuk satu tubuh dengan komunitas (lih. 1 Kor 10:17) dan untuk menawarkan dirinya kepada Allah Bapa bersama dengan Tubuh dan Darah Kristus.

2. menghidupi liturgi dalam dimensinya yang beragam bagi pertumbuhan pribadi dan untuk membantu komunitas.

3. mendaraskan sebagian dari Doa Ibadat Harian (doa the Divine Office/ doa brevier), terutama Doa pagi/ Lauds dan Dosa sore/ Vespers dalam kesatuan dengan pujian Gereja setiap hari kepada Allah Bapa, “dari terbitnya matahari sampai terbenamnya” (Mzm 113:3).

4. melakukan meditasi harian, terutama tentang sabda Tuhan, dalam sikap kontemplatif dan responsif. Pengalaman menunjukkan bahwa bagi kaum awam, meditasi yang teratur dan lectio divina memberikan keteraturan hidup dan menjamin pertumbuhan rohani.

5. berdoa pribadi, menjamin hubungan dengan Tuhan di sepanjang pekerjaan sehari-hari, dengan perhatian khusus kepada doa-doa devosi kepada Bunda Maria.

6. penerimaan sakramen Pengkuan dosa secara sering, dan teratur, meminta ampun untuk segala kesalahan dan memperbaharui semangat.

7. mengikuti retret rohani untuk pembaruan pribadi maupun komunitas.

Melalui kehidupan doa, para katekis memperkaya kehidupan rohani dan mencapai kedewasaan rohani yang disyaratkan bagi peran mereka. Doa sangat diperlukan agar pelayanan mereka berbuah, sebab penyampaian iman Kristiani lebih bergantung kepada rahmat Tuhan yang bekerja di dalam hati para pendengarnya daripada kepada kemampuan sang katekis itu sendiri.

11. Formasi doktrinal: pelatihan tentang doktrin Gereja.

Perlunya pelatihan tentang doktrin bagitu nyata, sebab para katekis harus pertama-tama memahami hakekat ajaran Kristiani dengan jelas -tanpa kesalahan maupun pengurangan- sebelum mereka menyampaikannya kepada orang lain.

Penting disebut di sini bahwa pemahaman akan Katekismus Gereja Katolik merupakan persiapan katekis secara doktrinal. Sebab dalam Katekismus terdapat sintesis yang sistematik tentang Wahyu Allah dan iman Katolik yang diimani Gereja di sepanjang sejarahnya, sebagaimana yang diajarkan oleh Gereja.[13]

12. Formasi misioner: bagaimana mempersembahkan diri bagi karya kerasulan awam

Para katekis harus diajarkan, baik secara teoretis maupun praktek, tentang bagaimana mempersembahkan diri mereka sebagai kaum awam Kristiani bagi karya kerasulan:[14]

1. Aktif dalam kemasyarakatan, menawarkan kesaksian hidup sebagai seorang Kristiani yang sejati, berdialog dengan orang lain, terlibat dalam karya cinta kasih.

2. Mewartakan dengan berani kebenaran tentang Kristus dan Putera-Nya Yesus Kristus (lih. Kis 4:13; 28:31), yang diutus ke dunia bagi keselamatan semua umat manusia (lih.2Tim 1:9-10), sehingga semua orang dapat terbuka kepada Roh Kudus (lih. Kis 16:14), dan mereka dapat menjadi percaya.

3. Berdialog dengan mereka yang berbeda agama, dengan semangat keterbukaan dan dialog.

4. Memperkenalkan para katekumen misteri keselamatan dan pelaksanaan norma-norma kebajikan Injil, dan kehidupan religius, liturgis dan komunitas Umat Tuhan.

5. Membangun komunitas dan membantu para kandidat (katekumen) untuk penerimaan Baptisan dan sakramen lainnya untuk inisiasi Kristen.

6. Dalam arahan para imam dan dalam kerjasama dengan semua umat beriman, memenuhi tugas-tugas itu, demi kemajuan Gereja.

Maka para katekis yang misioner akan menjadi penggerak di komunitas mereka, dan mau bekerja bahkan keluar daerahnya, jika diutus oleh imam gembala mereka.

13. Sikap ketaatan kepada Gereja

Tidak boleh dilupakan adalah sikap ketaan kepada Gereja, artinya ketaatan kepada imam/ gembala mereka, dengan semangat iman, seperti yang ditunjukkan oleh Kristus yang, “mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba… dan taat sampai mati (lih. Flp 2:7-8;lih. Ibr 5:8; Rm 5:19). Ketaatan diikuti oleh tanggungjawab, sebab katekis dalam pelayanan mereka dipanggil untuk menanggapi rahmat Roh Kudus yang mempersatukan. Maka kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain di berbagai tingkatan, dalam kesatuan, adalah sangat penting.[15]

14. Formasi katekis: senantiasa seterusnya (ongoing-formation)

Para katekis perlu menyadari bahwa proses formasi/ pembentukannya untuk menjadi seorang katekis tidak pernah berakhir. Sebab selalu diperlukan pembaruan semangat secara terus menerus, yang diperoleh melalui pembelajaran, doa, dan relasi dengan sesama.

Mengingat pentingnya (dan juga besarnya) tugas katekis ini, mari kita memohon kepada Tuhan agar jika Tuhan telah memanggil kita untuk tugas ini, Ia juga akan menopang kita dengan rahmat-Nya, agar kita mampu melaksanakan apa yang disyaratkan untuk menjadi seorang katekis. Mari kita berpegang kepada janji Tuhan bahwa Ia akan menyertai kita, Gereja-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20) dan bahwa segala perkara yang dipercayakan-Nya kepada kita, akan dapat kita lakukan di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepada kita (lih. Flp 4:13).


CATATAN KAKI:
  1. lih. Ad Gentes 17 []
  2. lih KGK 900 []
  3. lih. GC, 3 []
  4. GC 3 []
  5. lih. GC 4 []
  6. lih. GC 5, 17 []
  7. lih. GC 6 []
  8. lih. GC 8 []
  9. lih. GC 9 []
  10. lih. GC 18 []
  11. GC 19 []
  12. GC 22 []
  13. lih. GC 23 []
  14. GC 25 []
  15. lih. GC 26 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

1 Comment

  1. andi suryono,FX on

    Sebagai awam saya sangat terbantu dengan artikel dan dokumen tentang Katekese ini. Pendidikan iman bagaimana pun menjadi tanggung jawab seluruh umat khususnya awam yang secara kemampuan dan kesempatan dapat menjadi katekis. Jika peran awam dalam liturgi dan peribadatan diperlukan hal itu berarti kehadiran gereja sebagai persekutuan umat Allah lebih terjamin karena dihidupi dari dalam oleh peran mereka para katekis dan juga para prodiakon serta segenap pengurus lingkungan. Reksa pastoral memang menjadi tugas penggembalaan pastor paroki tetapi kehadiran awam perlu terus menerus dikuatkan dan dilakukan pencerahan secara periodik.

Add Comment Register



Leave A Reply