Apakah Injil Yohanes tidak ditulis oleh Rasul Yohanes?

2

Berikut ini adalah tanggapan terhadap pandangan yang meragukan bahwa Injil Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes.

Hal otentisitas Injil Yohanes -yaitu bahwa Rasul Yohaneslah yang menulis Injil Yohanes-  tidak pernah diragukan oleh Gereja Katolik. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik. Bukti yang meneguhkan otentisitas Injil Yohanes (yaitu bahwa Rasul Yohaneslah yang menulis Injil Yohanes), berasal dari tulisan para Bapa Gereja yang hidup lebih dekat dengan masa kehidupan Rasul Yohanes, sehingga kebenarannya lebih terjamin daripada hipotesa para teolog modern yang hidup terpisah sekian abad dengan Rasul Yohanes itu sendiri.

Kalau kita mau mengetahui informasi yang akurat tentang suatu kecelakaan, misalnya, yang terbaik adalah mendengarkan kesaksian saksi kecelakaan itu sendiri daripada mendengarkan dari tetangga dari  kakak temannya teman dari orang yang mengalami kecelakaan itu. Pointnya adalah semakin dekatnya narasumber terhadap terjadinya peristiwa, semakin akuratlah informasi yang disampaikan, karena jika tidak sesuai, ada para saksi lainnya yang masih hidup yang dapat membantahnya. Nah kesaksian tentang otentisitas Injil Yohanes diperoleh langsung dari tulisan para murid Rasul Yohanes itu sendiri. St. Irenaeus adalah murid dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes.

1. Injil Yohanes ditulis oleh Cerinthus seorang Gnostik?

Sejujurnya pandangan yang mengatakan bahwa Cerinthus (seorang Gnostik) adalah pengarang Injil Yohanes adalah pandangan yang tidak masuk akal. Karena ajaran Cerinthus itu justru bertentangan dengan ajaran yang dituliskan dalam Injil Yohanes. Justru karena bertentangan inilah maka dikatakan bahwa Injil Yohanes ditulis antara lain juga untuk meluruskan ajaran sesat Cerinthus yang memang hidup sezaman dengan Rasul Yohanes. Menurut catatan ahli sejarah Gereja abad awal, Eusebius, dalam bukunya Church History, Buku III, bab 28, disebutkan tentang Cerinthus dan ajarannya (silakan membaca teks selengkapnya di link ini, silakan klik). Penatua/ presbyter Caius menulis demikian:

But Cerinthus also, by means of revelations which he pretends were written by a great apostle, brings before us marvelous things which he falsely claims were shown him by angels; and he says that after the resurrection the kingdom of Christ will be set up on earth, and that the flesh dwelling in Jerusalem will again be subject to desires and pleasures. And being an enemy of the Scriptures of God, he asserts, with the purpose of deceiving men, that there is to be a period of a thousand years for marriage festivals.”

Maka justru menurut catatan sejarah, penatua Caius malah menulis bahwa Cerinthus itu adalah seorang pengajar yang menyimpang, seorang musuh Kitab Suci “an enemy of the Scriptures of God“. Tidak mungkin malah Caius mengatakan bahwa Cerinthuslah yang mengarang Injil Yohanes. Cerinthus itu mengajarkan kenikmatan daging selama seribu tahun setelah kebangkitan Kristus. Hal ini sama sekali tidak diajarkan dalam Injil Yohanes.

2. Injil Yohanes menuliskan ajaran yang terpengaruh ajaran pagan?

Tentang adanya pandangan yang mencurigai adanya pengaruh teori pagan dalam Injil Yohanes, itu adalah sebuah asumsi. Sebab hal bahwa Allah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya itu sejalan dengan pengajaran dalam kitab Perjanjian Lama. Sang Kebijaksanaan itu sudah diajarkan sejak Kitab Perjanjian Lama, jadi bukan inovasi Injil Yohanes.

Dikatakan demikian dalam Kitab Kebijaksanaan:

Pada-Mu adalah kebijaksanaan yang mengenal segala pekerjaan-Mu, yang ada tatkala dunia semesta Kaujadikan, dan mengetahui apa yang diperkenankan oleh-Mu, dan lagi apa yang lurus menurut perintah-Mu. Maka sudilah kiranya mengirimkan dia dari sorga-Mu yang suci, dan mengutusnya dari takhta kemuliaan-Mu, agar ia ada padaku dan berusaha bersama denganku, dan aku mengetahui apa yang berkenan pada-Mu. Sebab kebijaksanaan mengetahui dan memahami segala-galanya, dan dengan bijak dapat memimpin aku dalam segala langkah lakuku serta menjaga aku dengan kemuliaannya.” (Keb 9:9-11)

Sedangkan dalam Injil Yohanes dikatakan:

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan…. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh 1:3, 14)

Di sini terlihat bahwa Injil Yohanes dalam kitab Perjanjian Baru merupakan penggenapan dari apa yang sudah secara samar-samar disampaikan dalam Kitab Kebijaksanaan dalam Perjanjian Lama. Sang Kebijaksanaan yang sudah ada tatkala dunia dijadikan Allah, adalah Sang Firman, dan kini Firman itu telah menjadi manusia, yaitu sebagai Anak Tunggal Bapa.

Berikut ini adalah tanggapan atas beberapa point yang ditanyakan:

1. Akal dan Logos berhubungan dengan dewa dewi Yunani?

Bahwa ada penggambaran tentang Akal dan Logos dalam filosofi Yunani, itu tidak berarti bahwa Allah “meniru-niru” filsafat Yunani. Sebaliknya, Allah dapat mendorong para filsuf Yunani itu untuk mendekati-Nya hanya dengan akal budi, yaitu ilmu fisafat. Namun untuk sampai kepada pemahaman akan apa yang diwahyukan-Nya dalam Kitab Suci diperlukan iman. Dengan demikian, akal budi dan iman memang keduanya diperlukan untuk sampai kepada pemahaman akan Allah. Itulah sebabnya, Gereja mengajarkan bahwa Allah yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya, memang menciptakan manusia dengan akal budi dan kehendak. Itulah sebabnya manusia dapat mencari, mengenali dan mengasihi Allah Penciptanya. Bahwa hanya dengan akal budi saja, seseorang dapat sampai kepada pengertian akan adanya “Sang Penyebab segala sesuatu” dan “Sang Pemikir/Perencana segala sesuatu”, itu benar. Namun dibutuhkan iman untuk dapat mengetahui bahwa Sang Penyebab, Pemikir, Perencana itu adalah Allah. Allah sendiri mewahyukan Diri-Nya demikian, yaitu bahwa Ia, menjadikan segala sesuatunya dengan Firman-Nya. Maka Allah Sang Pemikir, yang menjadi satu kesatuan dengan Pikiran-Nya (Sang Firman), itulah yang menjadi Penyebab/ Pencipta segala sesuatu.

Maka hal bermacam dewa dewi Yunani tentu saja tidak sesuai dengan ajaran iman Kristiani, yang mengajarkan tentang Allah yang satu/ esa. Namun prinsip bahwa dalam keesaan Allah itu, ada Sang Firman Allah, itu sudah diwahyukan Allah dalam kitab Kebijaksanaan (abad-2 sebelum Masehi), dan bahkan jauh sebelumnya, yaitu di Kitab Kejadian (beratus-ratus ataupun beribu tahun sebelum Masehi), di mana dikatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya (lih. Kej 1:1-dst).

2. Inkarnasi berhubungan dengan kultus kesuburan?

Menghubungkan kultus kesuburan dengan Inkarnasi, menurut saya adalah sesuatu yang dipaksakan.  Sebab bukan baru pada saat Inkarnasi Sang Firman itu baru ada. Sang Firman, yang disebut sebagai Putera Allah, sudah ada sejak awal mula, sejak kekekalan, dan bukan dilahirkan dari hubungan perkawinan seperti yang terjadi pada perkembangbiakan manusia. Putera ini berasal dari Bapa sebagaimana Sang Pengetahuan lahir dari Sang Yang Mahatahu. Hal Inkarnasi ada karena rencana Allah untuk membebaskan manusia dari dosa, sebab Allah tahu bahwa dari kekuatannya sendiri, manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Hal rencana Allah mengutus Sang Firman itu untuk menjadi manusia, untuk mengalahkan kuasa dosa/ iblis itu juga sudah dicatat dalam Kitab Kejadian (lih. Kej 3:15), sesaat setelah manusia pertama, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, yang menurunkan dosa kepada segenap umat manusia. Untuk mengalahkan kuasa dosa, maka Sang Firman itu, ketika saatnya telah genap, menjadi manusia, sengsara, wafat dan bangkit dari kematian. Ia menjadi manusia, supaya bisa mewakili manusia, namun Ia tetap adalah Tuhan, sehingga pengorbanan-Nya mempunyai nilai yang tak terbatas untuk menebus dosa segenap umat manusia. Karena ke-Tuhan-an-Nya, Sang Firman itu, yaitu Yesus Kristus dapat bangkit dari kematian, dan inilah yang dirayakan oleh umat Kristen pada hari Raya Paska. Jika perayaan Paska itu kebetulan jatuh berdekatan dengan masa panen, itu adalah dua hal yang berbeda. Sebab Paska yang dirayakan oleh umat Kristiani lebih mengacu kepada penggenapan makna hari Raya Paska Yahudi, dan tidak ada acuan sama sekali kepada dewa dewi kesuburan. Pembahasan tentang hal ini, sudah pernah ditulis di artikel ini, silakan klik.

3. Dualisme Tuhan Kebenaran dan Cahaya dipengaruhi Doktrin Majusi Persia?

Sejujurnya, ada banyak sebutan lain bagi Tuhan Yesus yang tertulis dalam Kitab Suci, bukan hanya Kebenaran dan Cahaya/ Terang. Dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia adalah “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh 14:6), “Terang Dunia” (Yoh 8:12), “Roti Hidup” (Yoh 6:35,48,51), “Pokok Anggur” (Yoh 15:1), “Gembala yang baik” (Yoh 10:11,14), “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat” (Yoh 10:9), “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh 11:25). Maka sebutan untuk Tuhan dalam Kitab Suci bukan hanya bahwa Ia adalah Sang Kebenaran dan Terang, tetapi juga banyak yang lain, terutama juga, Allah adalah Kasih (lih. Yoh 4:8).

Maka jika doktrin majusi Persia menyebut dualisme kebenaran dan terang bagi apa yang mereka kenal sebagai Tuhan, itu tidak membuktikan apapun. Sebab dalam Kitab Suci Kristiani, Tuhan tidak hanya dualisme Kebenaran dan Terang. Sejujurnya malah yang jelas tertulis dalam Kitab Suci adalah kesatuan antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus (lih. Mat 28:19-20), yang umum dikenal dengan sebutan Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus.

3. Karena nama Yohanes bin Zebedeus tidak disebut di Injil Yohanes, maka tidak otentik?

Sejujurnya, kita tidak dapat memaksakan kriteria bahwa setiap penulis Kitab Suci harus menyebutkan namanya sendiri dalam penulisan Injil tersebut. Adalah hak penulis itu apakah ia mau menyatakan nama jelasnya, atau nama samaran, atau bahkan tidak menyatakan sama sekali namanya. (Hal ini juga berlaku sampai sekarang terhadap suatu karya tulis). Adalah hak Rasul Yohanes untuk menuliskan dirinya sebagai “murid yang dikasihi” oleh Tuhan Yesus, sebab memang nyatanya ia adalah salah seorang dari murid-murid yang terdekat dengan Tuhan Yesus (lih. Yoh 13:23).

Dalam Kitab Suci Kristiani, bukan hanya Injil Yohanes yang tidak menyatakan nama jelas penyusunnya. Sejujurnya, mayoritas kitab-kitab dalam Kitab Suci tidak menuliskan dengan jelas, “….(nama) adalah pengarang kitab ini”. Bahkan kelima Kitab Musa dalam Perjanjian Lama tidak secara eksplisit menuliskan bahwa kitab-kitab tersebut ditulis oleh Nabi Musa. Namun demikian Gereja menerima kitab-kitab tersebut sebagai kitab-kitab yang otentik. Demikian juga banyak kitab lainnya, yang tidak mencantumkan dengan jelas nama pengarangnya di dalam kitab itu sendiri, seperti di kitab Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1&2 Raja-raja, 1& Tawarikh, Ayub, dst.

Bahkan otentisitas Injil yang pertama ditulis, yaitu Injil Matius, diketahui dari tulisan-tulisan lain di abad-abad awal, dari para Bapa Gereja yaitu para penerus Rasul, yang memberikan kesaksian bahwa Rasul Matiuslah menuliskan Injil Matius. (Namun perkataan “Matiuslah yang menulis Injil ini”, tidak ada di dalam Injil Matius itu sendiri). Yang memberikan kesaksian ini adalah para Bapa Gereja (penerus Rasul), yang dikenal dengan istilah Tradisi Suci, yaitu Surat St. Klemens dari Roma (1 Ep. ad Cor, 95 AD), Surat Barnabas (100-130), Surat St. Ignatius dari Antiokhia (115), Didache (100), tulisan St. Papias, murid langsung St. Yohanes, (Explanation of the Lord’s Discourses, 125), St. Irenaeus (Adversus Haereses 3:1, 180 AD), Origen (dikutip dalam Eusebius, Church History 6:25, 233 AD). Di sini terlihat kaitan yang tak terpisahkan antara Kitab Suci, Tradisi Suci, dan kuasa mengajar Gereja (Magisterium) yang mengajarkannya.

Dengan demikian, kita tidak dapat mengambil kesimpulan bahwa jika tidak ditulis nama asli pengarangnya dalam Injil, artinya Injil tersebut tidak otentik. Gerejalah yang menentukan atas inspirasi Roh Kudus dan berdasarkan bukti-bukti otentik lainnya, bahwa Injil tersebut sungguh ditulis oleh pengarangnya, dan apa yang dituliskan di sana merupakan Wahyu Ilahi. Nah, walaupun ada banyak kitab injil di abad-abad awal itu, hanya ada empat saja yang memenuhi kriteria tersebut, yaitu Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Pada tahun 387, Paus Damasus I (juga kemudian Konsili Hippo 393 dan Karthago 397, dst) menetapkan daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang kemudian dikenal dengan kanon Kitab Suci. Kitab-kitab yang termasuk dalam kanon inilah yang dikenal sampai sekarang sebagai Kitab Suci.

4. Tentang waktu penulisan Injil Yohanes, baru tahun 40-140?

Menurut perkiraan para ahli sejarah dan Kitab Suci, Injil Yohanes ditulis sekitar tahun 90-100, sekitar tahun 96.

Dasarnya adalah:

1. Menurut kesaksian para Bapa Gereja, Injil Yohanes (Injil ke-empat) ditulis setelah ketiga Injil lainnya (yang disebut Injil Sinoptik) selesai ditulis. Eusebius, dan sejumlah pakar lainnya memperkirakan bahwa Injil Matius ditulis sekitar tahun 38-45, Injil Lukas dan Markus sekitar 62-68 AD. Dengan demikian, tidak mungkin Injil Yohanes ditulis sekitar tahun 40an.

2. Injil Yohanes ditulis setelah kematian Rasul Petrus (sekitar tahun 68), sebab bab terakhir Injil tersebut, secara khusus bab 21:18-19 mengacu kepada kematian Petrus, sang pemimpin para Rasul tersebut.

3. Injil tersebut ditulis setelah kejatuhan Yerusalem dan Bait Allah, sebab apa yang ditulis oleh sang pengarang Injil tentang bangsa Yahudi (secara khusus dalam Yoh 11:18; 18:1; 19:41) nampak mengindikasikan bahwa kejatuhan kota tersebut dan kejatuhan Israel sebagai bangsa telah terjadi.

4. Teks Yoh 21:23 seakan menunjukkan bahwa Rasul Yohanes telah berusia lanjut ketika ia menuliskan Injilnya tersebut.

5. Mereka yang menolak keTuhan-an Yesus- yaitu topik yang secara khusus dibahas oleh Rasul Yohanes di sepanjang Injilnya- mulai menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang menyimpang di sekitar akhir abad ke-1 tersebut.

6. Bukti langsung tentang penyusunan Injil ke-empat ini diperoleh dari tulisan yang disebut “Monarchian Prologue” yang ditulis sekitar tahun 200, tentang waktu penulisan Injil Yohanes: “Ia (Rasul Yohanes) menulis Injil ini di provinsi Asia, setelah ia telah menyusun kitab Wahyu di Pulau Patmos.” Pembuangan Rasul Yohanes ke pulau Patmos terjadi di akhir tahun Kaisar Domitian (sekitar tahun 95). Beberapa bulan sebelum kematiannya (18 September, 96), Kaisar Domitian menghentikan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dan menarik kembali orang-orang yang diasingkan (lih. Eusebius, Church History III.20.5-7). Maka bukti ini menempatkan penyusunan Injil Yohanes di sekitar tahun 96 atau satu atau dua tahun berikutnya.

7. St. Irenaeus, murid dari St. Polycarpus yang adalah murid Rasul Yohanes, menulis bahwa Rasul Yohanes menuliskan Injilnya di Efesus, Asia. (lih. Against Heresies, III.1.2)

8. Eusebius dari Kaisarea -seorang sejarawan abad awal, (313-323) menulis demikian, “Mari mengindikasikan tulisan-tulisan yang tidak diragukan lagi dari Rasul ini [Yohanes]. Dan pertama-tama, Injilnya yang dikenal oleh semua Gereja di bawah kolong langit harus memperoleh pengakuan sebagai tulisan yang asli (otentik).” (Eusebius, Church History III.24.1-2)

Maka bukti-bukti ini menunjukkan kecocokan satu sama lain. Demikian pula, fakta bahwa tahun 1920 ditemukan fragmen papyrus yang disebut dengan PRG 457 di Mesir, yang dipublikasikan oleh C.H Roberts di Manchester University Press tahun 1935. Fragmen tersebut adalah salinan Injil Yohanes, yaitu Yoh 18:31-33, 37-38. Para ahli paleografi memperkirakan bahwa fragmen tersebut berasal dari awal abad ke-2, tak lebih dari tahun 150. Ini memperkuat pandangan bahwa Injil Yohanes memang ditulis di Asia sekitar tahun 100-an, dan dalam waktu sekitar 20-50 tahun, salinannya sampai ke Mesir, untuk juga dibacakan kepada jemaat di sana.

5. Perkataan “Dialah murid” (Yoh 21:24) bukan “Akulah murid” membuktikan penulisnya bukan Rasul Yohanes?

Nampaknya, kita tidak dapat memaksakan kriteria ini. Sebab ini merupakan gaya bahasa penulis, yang memang mempunyai karakter “reserved“, tidak ingin menonjolkan dirinya, dan ini tercermin dalam caranya menuturkan Injilnya. Lagipula ada juga kitab- kitab lainnya dalam Kitab Suci, yang walaupun nama penulisnya jelas tertulis, tetapi penulis itu juga menyebutkan namanya sebagai orang ketiga.

Contohnya dalam kitab Barukh:

“Inilah segala perkataan kitab yang ditulis oleh Barukh bin Neria bin Mahseya bin Zedekia bin Asadia bin Hilkia di negeri Babel….     Segala perkataan kitab ini dibacakan oleh Barukh sendiri di hadapan Yekhonya putera Yoyakim, raja Yehuda, dan di depan seluruh rakyat yang telah datang untuk pembacaan kitab itu….” (Bar 1:1,3)

Di sana dikatakan bukan “dibacakan oleh aku sendiri”, namun dikatakan “dibacakan Barukh [dia]sendiri”, seolah penulis itu melaporkan suatu kejadian sebagai pihak ketiga.

Contoh lainnya juga di Kitab Kejadian, disampaikan bahwa Allah-pun menggunakan kata ganti orang ketiga untuk menyebutkan tentang diri-Nya sendiri kepada Abraham:

“Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (Kej 18:17-19)

Di sini terlihat bahwa umum dalam Kitab Suci, terlihat penyampaian dengan cara sedemikian, di mana pribadi yang menyampaikan pesan ditulis sebagai orang ketiga.

Demikianlah yang terjadi di Injil Yohanes ketika Rasul Yohanes menyebutkan, “Dialah murid, yang memberikan kesaksian tentang semuanya ini”. Murid yang disebutkan di sini mengacu kepada “murid yang dikasihi Tuhan Yesus”, sebagai istilah yang digunakan oleh Rasul Yohanes untuk mengacu kepada dirinya sebagai penulis Injil tersebut. Cara penuturan sebagai orang ketiga, tidaklah aneh untuk karya tulis pada masa itu. Itulah sebabnya para Bapa Gereja abad awal seperti St. Yohanes Krisostomus, St. Sirilus dan St. Agustinus, yang banyak menuliskan penjelasan tentang Injil Yohanes, tidak meragukan keotentikan Injil Yohanes, walaupun ada ayat-ayat yang menuliskan penyampaian seolah dari pihak ketiga, dengan menggunakan kata “ia” (lih. Yoh 19:35).

6. Injil Yohanes tidak otentik karena tidak melaporkan kejadian Transfigurasi?

Perlu diketahui bahwa cara penuturan Injil Yohanes memang tidak sama dengan cara penuturan ketiga Injil lainnya, namun ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menolak otentisitasnya. Jangan lupa bahwa memang Yohanes adalah salah seorang Rasul yang terdekat dengan Yesus, yang bersandar kepada-Nya di saat Perjamuan Terakhir, dan yang setia menyertai Yesus sampai ke kayu salib, sementara murid-murid yang lain meninggalkan Dia. Kepada Rasul Yohaneslah, Tuhan Yesus mempercayakan ibu-Nya, Bunda Maria, sesaat sebalum wafat-Nya (lih. Yoh 19:25-27). Maka tidak mengherankan, keeratan hubungan dengan Kristus ini mewarnai cara penuturan Injil-Nya, sehingga fokusnya lebih kepada Pribadi Kristus sendiri, dan bukan semata menjabarkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Kristus. Penjabaran peristiwa hidup Yesus sudah dengan lebih lengkap disampaikan oleh Injil-Injil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas). Mengingat bahwa Injil ini ditulis terakhir setelah ketiga Injil lainnya dituliskan, maka nampaknya Rasul Yohanes memang sengaja tidak mengulangi apa yang menurutnya sudah disampaikan dengan cukup jelas oleh Injil-injil sinoptik tersebut. Rasul Yohanes hanya menambahkan bebeberapa penekanan, untuk melengkapi pemahaman akan suatu kejadian ataupun ajaran Yesus.

Maka bukan hanya peristiwa Transfigurasi yang tidak diulangi oleh di Injil Yohanes. Peristiwa lainnya yang juga sangat penting, yang tidak diulangi penjabarannya oleh Rasul Yohanes adalah peristiwa Perjamuan Terakhir. Ketiga Injil sinoptik menjabarkan tentang detail perjamuan itu, saat Kristus memecahkan roti mengangkat piala anggur, dan mengubahnya menjadi Tubuh dan Darah-Nya, suatu mukjizat yang kemudian dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus dalam setiap perayaan Ekaristi oleh Gereja-Nya sejak saat itu, sekarang dan sampai akhir zaman. Namun Rasul Yohanes, walaupun ia adalah murid yang bersandar pada Yesus pada peristiwa itu, memilih untuk tidak mengulangi penjabaran peristiwa makan bersama itu. Rasul Yohanes memilih untuk menjabarkan hal pencucian kaki para rasul, yang terjadi pada saat perjamuan terakhir itu, yang memang belum disebutkan dalam ketiga Injil Sinoptik. Demikianlah maka Gereja melihat bahwa apa yang dikisahkan dalam Injil-injil merupakan narasi yang saling melengkapi, dan bukan untuk dipertentangkan satu sama lain, mengingat semua Injil (dan kitab-kitab lainnya) ditulis atas inspirasi Roh Kudus yang sama.

Dengan prinsip ini, Gereja tidak membedakan tingkat kebenaran, apakah suatu kejadian dituliskan hanya di satu Injil atau di keempat Injil. Semuanya yang tertulis dalam Kitab Suci tetap adalah ajaran yang benar (lih. 2 Tim 3:16), sebab diwahyukan oleh Allah sendiri. Justru adanya fakta bahwa kejadian-kejadian dituliskan dari sisi yang berbeda oleh penulis yang berbeda dapat menyampaikan maksud yang sama dan saling melengkapi, itu merupakan suatu bukti yang menyatakan bahwa Roh Kudus yang mengilhami penulisan Injil-injil itu adalah Roh Kudus yang sama, dan bahwa Injil bukan hanya karya tulis manusia semata.

Kenyataannya Injil ditulis oleh Gereja, yaitu oleh para Rasul (Matius dan Yohanes) dan para pembantu mereka (Markus yang adalah penerjemah Rasul Petrus dan Lukas yang adalah rekan pembantu Paulus); dan juga ditujukan kepada Gereja, yaitu jemaat. Maka Gereja-lah pula yang paling mengetahui apakah suatu tulisan itu otentik atau tidak, dan bagaimana mengartikannya. Orang-orang yang terpisah sekian abad dengan Gereja awal, apalagi yang memang sejak awal tidak mengimani apa yang diajarkan oleh Gereja, tidak dapat memaksakan pandangannya tentang Kitab Suci yang diimani oleh Gereja. Sebagai umat Katolik, kami menyadari bahwa ada banyak orang yang tidak meyakini kebenaran Kitab Suci sebagaimana Gereja meyakininya. Hal ini tidak menghalangi kami umat Katolik untuk mengasihi dan menghormati pandangan mereka; namun sebaliknya, tidak juga menggoyahkan iman kami bahwa apa yang disampaikan dalam Kitab Suci adalah kebenaran.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

2 Comments

  1. Dear Katolisitas,

    tentang Injil Yohanes ini ada yg paling unik, yaitu tidak menuliskan cerita saat Perjamuan Kudus (memecah roti, hanya pencucian kaki saja), padahal sebagaimana seorang murid dan rasul, harusnya dia tidak lupa momen itu karena penting.

    Terima kasih.

    [dari katolisitas: Injil Yohanes juga ada yang unik, karena menceritakan tentang Yesus Sang Roti Hidup, di mana orang yang makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya akan mendapatkan kehidupan kekal – lih. Yoh 6]

  2. Shalom,

    Mohon penjelasan adakah penulis Injil Yohanes dan Kitab Wahyu orang yang sama? Saya cuma buat andaian, Injil Yohanes ditulis oleh Yohanes Pembaptis dan Kitab Wahyu ditulis oleh Rasul Yohanes.

    Selama ini saya tidak peduli/tidak ambil tahu siapa penulis yang menulis kandungan Al-kitab. Saya pernah ditanya, adakah orang yang pernah menghafal Al-kitab? Saya menjawab, “Saya kurang pasti tapi apa gunanya kita menghafalnya kalau kita tidak memahami dan tidak mengimani apa yang dibaca?”.

    Terimakasih atas penjelasannya.
    Rita

    [dari katolisitas: Ya, pengarang Injil Yohanes dan kitab Wahyu adalah orang yang sama, yaitu Yohanes rasul, murid yang dikasihi oleh Kristus. Yang menguatkan adalah kesaksian dari para Bapa Gereja seperti: St. Yustinus Martir, St. Irenaeus, St. Klemen dari Aleksandria, Tertulianus, St. Siprianus, St. Athanasius, Eusebius, St. Ambrosius, St. Hieronimus, St. Augustinus]