Pawai Obor Warnai Peringatan 100 Tahun Injil di Tana Toraja

1

injil-masuk-torajaTORAJA – Ribuan warga mengarak obor keliling Kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sejauh lima kilometer untuk memperingati se-abad Injil Masuk Tana Toraja (IMT) tersebut. Pembukaan peringatan 100 tahun IMT diawali dengan pawai dan karnaval para peserta dari berbagai denominasi Gereja di Toraja dan luar Toraja. Pembukaan 100 tahun IMT dimeriahkan dengan penampilan runner-up  Indonesian Idol 2012, Kamasean “Sean” Matthew yang membawakan lagu-lagu pujian.

Iring-iringan warga yang masing-masing memegang satu obor ini dimulai dari pintu gerbang Kota Makale menuju alun-alun di seputaran Kolam Makale. Ribuan orang dari berbagai daerah di Tana Toraja dan Toraja Utara, mulai dari anak-anak hingga orang tua, turut serta merayakan dan memperingati peristiwa 100 tahun IMT.

Menurut data, pada 16 Maret 1913, Injil masuk ke Tana Toraja. Peringatan 100 tahun IMT sendiri dilaksanakan tanggal 16-22 Maret 2013.

Tidak diketahui pasti awal masuknya misionaris dalam mengajarkan agama Kristiani di Tana Toraja. Namun, warga Toraja sepakat, masuknya Injil pertama kali terjadi saat tiga warga Toraja dibabtis pertama kali oleh pendeta asal Belanda, Jonathan Kelling, yang tinggal di Bantaeng, Sulawesi Selatan, pada seratus tahun lalu.

Pesta obor menggambarkan suasana terang, yang menurut warga Kristiani Tana Toraja, seperti terangnya agama Kristen yang dianut sebagian besar warga.

Selain arak-arakan obor, peringatan seabad IMT, juga disambut dengan pesta kembang api di Bukit Manggasa Makale.

Kerukunan beragama di Tana Toraja masih terjalin dan menjadi prioritas. Umat Muslim Tana Toraja ikut berbaur bersama umat Kristiani yang tengah bersuka cita.

Dalam perayaan 100 tahun Injil masuk ke Toraja ini, tampaknya, umat Kristiani Toraja mulai mengolah dan mengelola benih-benih kekuatan Injil dan keberimanan kepada Kristus, antara lain: mensponsori 100 penginjil, menanam 100 pohon, memberi 100 buku, memberi 100 Alkitab, memberi beasiswa 100 orang pendeta/siswa/anak asuh, persembahan memberi 100 babi, 100 kerbau, Rp 100 x 100.000, 100 ayam, 100 ikan.

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu’mang membacakan sambutan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo berharap melalui peringatan 100 tahun IMT di Toraja, peran Gereja makin nyata dalam menyikapi berbagai perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat ke depan. “Kami berharap, peringatan 100 tahun IMT, kehidupan yang aman, damai dan persaudaraan bisa tercipta melalui perkataan, perbuatan dan karya di tengah-tengah masyarakat,” tandas seperti dilansir metrotvnews.com.

Share.

About Author

Pengasuh kolom aktualita dan inside the Vatican. Jan Nabut juga penanggungjawab tabloid Katolik: Catholic Life

1 Comment

  1. Peringatan 100 th IMT dari Barat ke Timur matahari Terbit begitu semarak, adalah suatu moment yang sangat berharga, untuk juga melakukan evaluasi. Karena sebelum itu sudah ada kehidupan di sana dengan ALUK TODOLO. Yang terjadi adalah pandangan dualisme, sehingga terjadi perlawanan tidak secara eksplisit, tanpa disadari terjadi tarik menarik dengan Aluk Todolo / leluhur yang lebih dulu ada, mengatur tatanan kahidupan yang bermartabat. Akibat langsungnya, terjadi benturan antara pemuka agama dan pemuka masyarakat adat, apatis dari pemuka gereja dalam kegiatan budaya. Sejalan dengan perkembangan nilai budaya kegotong-royongan jadi pudar/ bergeser. Apa akibat selanjutnya? Lihat saja. Orang Toraya dulu, sekarang, dan akan datang. Misalnya dalam hal Aluk Rambu Solok, yang dikejar apa sekarang? Mau ke mana? Saya mau katakan begini: 100 th IMT, akan tetapi 50 th lalu orang tua kami sebagai misionaris bidang pendidikan pergi ke Tana Papua. Mengorbankan dirinya untuk Papua.